Kamis, 18 Februari 2021

AYAT-AYAT CINTA 2 JILID 19

19


KEPUTUSAN YANG BERAT


Wajah itu bersih. Kedua matanya tajam dan cemerlang. Bibirnya tipis. Suaranya jernih dan fasih. Maha suci Tuhan yang mengukir wajah sedemikian anggun mempesona. 
Wajah itu sedemikian segar dan menebarkan kebahagiaan bagi yang melihatnya. Argumentasinya yang terwadahi dalam suara yang indah, berwibawa dan fasih cukup menjelaskan pemiliknya adalah seorang perempuan yang cerdas.

Di ujung sidang, sang ketua sidang munaqosah menjelaskan hasilnya, bahwa perempuan pemilik wajah yang bersih bernama Yasmin itu berhak meraih gelar magister dalam bidang Fiqh Perbandingan dengan yudisium mumtaz ma'a martabatisy syaraf atau summa cumlaude. Takbir, tepuk tangan dan siulan 
zaghrudah kebahagiaan membahana diruangan itu.

Fahri berpikir, bagaimana bisa ada lelaki yang bersikap kasar pada perempuan seanggun itu? Bagaimana suaminya bisa berlaku kasar sampai Yasmin minta cerai?

Fahri menarik nafas begitu rekaman munaqosah Yasmin itu selesai. Fahri mendesah. Di layar kaca tampak wajah Yasmin yang tersenyum berfoto bersama Syaikh Utsman dan keluarga besarnya. Dan kini, kakek Yasmin yang berwajah bersih itu yang tak lain adalah Syaikh Utsman, guru yang sangat ia 
sayangi, meminta dirinya untuk menikahinya. Satu suara dari relung hatinya memintanya untuk menerima tawaran itu.

"Dari sekian tawaran setelah Aisha hilang, sebut saja Aisha hilang, tak jelas lagi di mana 
keberadaannya, ini adalah tawaran terbaik. Tawaran terbaik dari sosok yang tidak diragukan baiknya. 
Menawarkan untuk menikahi perempuan baik, bahkan istimewa. Hafal Al Qur'an sejak kecil. Terdidik dalam keluarga yang sangat menjaga agama. Cerdas. Kecerdasannya terbukti sudah. 

Bisa menyelesaikan master di Al Azhar dengan yudisium yang sangat prestisius ditambah telah diterima sebagai kandidat Ph.D di Durham University. Jarang menemukan perempuan seperti itu. Durham University adalah salah satu universitas papan atas di Inggris Raya. Levelnya hanya sedikit dibawah 
Oxford dan Cambridge. Ditambah lagi, Yasmin tidak kalah sama Aisha, keanggunannya dan pancaran cahaya pesonanya. Aisha dengan keanggunan khas blesteran Turki-Jerman. 

Sementara Yasmin dengan keanggunan khas gadis Mesir yang sangat menjaga diri. Belum tentu kau akan mendapatkan tawaran serupa itu lagi. Ini kesempatan langka. Tidak boleh ditolak!" Suara itu begitu membara mendorongnya untuk menerima tawaran Syaikh Utsman.

"Tapi dia sudah janda. Bagaimana nanti kalau dia membanding-bandingkan dengan suami sebelumnya. 
Membandingkan fisik suami sebelumnya yang mungkin lebih gagah, lebih tinggi besar, lebih jantan, dan lain sebagainya?" Bantahnya.

"Kalau dia sudah janda, bukankah kau juga boleh disebut sudah duda! Berarti sama, alias kufu. Kau khawatir dia membandingkan dengan suami sebelumnya? Apa yang kau khawatirkan? Kalau dia masih bisa hidup dengan suami sebelumnya tentu dia tidak akan bercerai. Percayalah, dia akan sangat 
mencintaimu jika kau memperlakukan dia seperti kau memperlakukan Aisha! Jangan khawatir, Fahri!"

Debat suara itu dengan penuh optimis.

"Bagaimana dengan Aisha? Aku masih sangat mencintai Aisha!"

"Coba kau ingat-ingat lagi, kata-kata Syaikh Utsman, ‘... Justru karena itu aku memilihmu. Karena kau setia pada istrimu. Dulu, Rasulullah saw. juga begitu tidak bisa melupakan Khadijah. Bahkan ketika sudah menikah dengan Aishah pun beliau tetap memuji-muji kebaikan Khadijah sehingga Aishah cemburu. 

Namun begitu Rasulullah saw. tetap bisa membangun rumah tangga dengan sangat harmonis bersama Aishah dan istri-istrinya yang lain. Aku sangat yakin, meskipun kau sangat mencintai Aisha dan tidak bisa melupakannya, nanti kau akan bisa mencintai Yasmin.‘... Kau menikah lagi itu tidak berarti 
kau mengkhianati Aisha, atau menistakan Aisha. Tidak sama sekali tidak. Apakah ketika Baginda Nabi menikah lagi setelah wafatnya Khadijah berarti beliau mengkhianati Khadijah? Sama sekali tidak! 
Bahkan Allah lah yang memerintahkan Baginda Nabi menikahi Aisyah binti Abu Bakar. Kau sudah sangat setia. Segala cara sudah kau lakukan untuk menemukan Aisha tapi tidak juga kau temukan. Dan kau sudah mendapatkan bukti bahwa Alicia wartawati Amerika yang berangkat bersama Aisha itu telah ditemukan dalam kondisi tewas di Israel. 

Kemungkinan Aisha mengalami nasib seperti 
itu. Meskipun kau tidak mau itu terjadi. Tapi itu mungkin saja terjadi. Kau harus meneruskan hidupmu! 

Kau tidak boleh berhenti! Kau harus juga melahirkan generasi penerus. Dan Yasmin adalah calon ibu yang baik untuk anak-anakmu! Ingat, dia cucu ulama besar. Syaikh Utsman. Bukan sekedar itu, dia telah membuktikan dirinya adalah perempuan berkualitas."

Suara itu kembali berusaha meyakinkannya agar menerima Yasmin.

"Aku harus istikharah lagi!"

"Percayalah memilih Yasmin adalah baik. Dan kau tidak akan salah pilih. Kau sudah lima kali istikharah. 
Dan kau harus jujur pada dirimu, bahwa sejatinya kau cukup tertarik pada Yasmin. Maksudnya, kau bisa mencintai Yasmin untuk jadi istrimu."

"Jujur aku akui itu, tapi aku harus istikharah lagi." Tegas Fahri berusaha mengusir bujukan suara dari dirinya sendiri. Pergulatan batin itu terjadi dengan sengit selama tiga hari sejak Syaikh Utsman menawarkan cucu putrinya yang bernama Yasmin itu.

"Tuan, ini tehnya!"

Fahri terhenyak mendengar suara serak Sabina yang meletakkan teh hangat di meja yang ada di depannya. Sabina melirik layar kaca. Gambar Yasmin yang tersenyum manis berfoto bersama Syaikh Utsman dan keluarga besarnya masih terpampang.

"Perempuan itu siapa Tuan?!"

Fahri agak kaget mendengar pertanyaan itu. Ia spontan memandang wajah Sabina. Seketika Sabina kaget dan menyadari kelancangannya.

"Maafkan saya, Tuan! Maaf!"

"ltu namanya Yasmin. Gadis dari Mesir. Cucunya Syaikh Utsman. Itu Syaikh berjenggot putih memakai torbus Al Azhar itu namanya Syaikh Utsman." Dari arah belakang Paman Hulusi menyahut.

"Syaikh Utsman meminta Hoca Fahri agar berkenan menikahinya. Menurutku itu tawaran yang tidak boleh ditolak! Tawaran ulama yang shalih tidak semestinya di tolak. Dan Syaikh Utsman bukan sembarang memberikan tawaran. Hanya yang terbaik yang ditawarkan untuk Hoca Fahri. Itu yang aku pahami dari cerita Hoca Fahri kemarin. Itu sama seperti saat Syaikh Utsman memberi tawaran kepada 
Hoca Fahri apakah mau menikah dengan seorang gadis Turki, yang tak lain adalah Aisha Hanem.

Menurutku sudah waktunya Hoca Fahri menikah lagi. Dan Yasmin itu adalah calon istri pengganti Aisha Hanem yang tepat. Menurutmu bagaimana Sabina?" 

Tanya Paman Hulusi pada Sabina. Sabina menunduk.

"Yasmin itu cantik kan Sabina? Cocok menikah dengan Hoca Fahri kan? Keluarganya juga keluarga yang baik. Kau setuju dengan pendapatku kan?" Desak Paman Hulusi.

"Sa ..saya tidak tahu.." Serak Sabina. 

"Maaf.. saya tu... turun ke bawah."

"Sabina!" Panggil Fahri. Sabina menghentikan langkahnya.

"Sebentar, saya tidak mendengar suara nenek Catarina. Apa dia tidur di kamarnya?"

"Nenek Catarina duduk-duduk di halaman belakang, Tuan. Tadi saya bantu berjalan kesana. Katanya ingin melihat cerahnya langit musim semi."

"Oh ya sudah, tolong diperhatikan benar-benar nenek Catarina!"

"Iya, Tuan."

Sabina lalu melangkah menuju tangga ke bawah yang ada didekat dapur. Paman Hulusi duduk di sofa di depan Fahri. Lelaki Turki setengah baya itu memperhatikan wajah Fahri yang sedang menyeruput teh hangat itu dengan seksama. Fahri tampak memejamkan mata dan menikmati betul teh itu.

"Teh buatan Sabina ini enak sekali, Paman. Mirip teh buatan Aisha." Gumam Fahri sambil meletakkan gelas itu ke meja.

"Hoca, selalu begitu. Selalu mencari-cari alasan untuk mengingat Aisha Hanem. Hoca jangan terus terbawa perasaan, Hoca harus juga bersikap rasional. Ah, kok malah saya menasehati Hoca. Tidak pantas rasanya."

'Teruskan Paman."

'Lepaskan beban masa lalu Hoca. Sudahlah, yang lalu biarkan berlalu. Yang penting Hoca terus mendoakan Aisha Hanem. Bangunlah rumah tangga yang baru. Jika Hoca menikah lagi, saya tiba-tiba terbayang untuk menikah lagi."

"Paman Hulusi mau menikah lagi?"

"Kalau Hoca mau menikah lagi."

"Saya menghadapi pilihan yang tidak mudah. Dua pilihan yang berat. Menerima tawaran Syaikh Utsman dengan menikahi Yasmin, rasanya berat sekali Paman. Saya belum bisa melupakan Aisha. Saya khawatir nanti menikahi Yasmin tapi saya memandang Yasmin sebagai Aisha. Saya jadi tidak adil Paman. 
Menolak tawaran Syaikh Utsman juga terasa berat Paman. Syaikh Utsman adalah guru yang seperti orang tua sendiri. Sangat saya cintai Paman. Saya tidak ingin beliau kecewa. Dan Yasmin, melihat sosok dan kepribadian yang diceritakan Syaikh Utsman, dia perempuan yang tidak semestinya ditolak Paman. Saya benar-benar tidak bisa memutuskan Paman."

"Dibuat mudah saja Hoca. Menikahlah dengan Yasmin. Titik. Dulu Hoca pernah menceramahi saya, kata Hoca bahwa hidup beribadah dengan adanya istri dalam hidup itu berlipat ganda pahalanya dibandingkan hidup beribadah tanpa memiliki istri. Hoca harus mengamalkan nasehat Hoca itu pada diri 
Hoca sendiri."

"Sungguh celaka diriku Paman. Diriku ini banyak dosa, banyak memberi nasehat tapi tidak bisa mengamalkan nasehat itu. Astaghfirullahal 'adhim."

"Kalau Hoca merasa banyak dosa, bagaimana dengan orang seperti saya Hoca?"

Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel berderit-derit.

"Ada panggilan Hoca."

"Ponselku di atas, di kamar Paman. Biarkan saja Paman. Nanti saya telpon balik."

"Biar saya ambil Hoca."

Paman Hulusi bergegas naik ke atas mengambil ponsel yang berderit-derit itu lalu memberikan kepada Fahri beberapa detik sebelum panggilan itu berhenti.

"Iya Paman Eqbal. Posisi di mana sekarang?"

"Kami masih di Manchester. Syaikh Utsman menanyakan apa hasil istikharahmu?"

"Saya harus istikharah lagi, Paman. Belum bisa memutuskan menerima atau menolak."

"Jangan kau persusah, Fahri. Sudah terima saja. Saya sudah menyampaikan kepada seluruh keluarga besar di Turki dan mereka mendukung jika kau terima tawaran Syaikh Utsman."

"Saya masih bergulat dengan diri saya sendiri Paman. Mohon dimengerti?"

"Baik, semoga Allah menunjukkan yang terbaik. Saya dan Syaikh Utsman menunggu keputusanmu. 
Beliau berharap sekali kau menerimanya, dan beliau berharap sebelum meninggalkan Inggris Raya ini kau sudah memberikan keputusan."

"Insya Allah, Paman."

Fahri menutup ponselnya setelah menjawab salam Eqbal. Fahri merasa semua orang mendesaknya untuk menerima tawaran Syaikh Utsman itu. Ada bagian dari dirinya yang juga mendorong untuk menerima Yasmin. Tapi entah kenapa ia tidak merasa semantap dulu saat menerima Aisha sebagai calon istrinya. Ia ingin mendapatkan kemantapan yang sama. 

Fahri menghela nafas, ia kembali menyeruput teh yang ada di hadapannya. Ponselnya kembali bendencit. Sebuah pesan masuk. Fahri membuka dan membacanya.

"Seperti janji saya kemarin. Siang ini saya menunggu Anda di St. Giles Cafe, Royal Mile. Kita jumpa 13.30."

Fahri melihat jam dinding. Sudah pukul 12.50.

"Paman tolong panaskan mobil. Sepuluh menit lagi kita shalat dhuhur berjama'ah dirumah setelah itu kita langsung meluncur ke Royal Mile."

"Baik Hoca."

Paman Hulusi langsung bergegas keluar untuk memanasi mobil, sementara Fahri naik kekamarnya untuk berkemas. Lima belas menit kemudian keduanya sudah meluncur menuju pusat kota Edinburgh. Paman Hulusi mengendari mobil itu dengan kecepatan tinggi.

"Di St. Gilles kita mau jumpa siapa Hoca?"

"Orang yang telah membeli rumah nenek Catarina dari Barukh. Namanya Gary."

"Jadi Hoca tetap akan membeli rumah itu?"

"Itu jalan paling cepat mengembalikan nenek Catarina kerumahnya. Dan juga jalan paling damai dan mudah ditempuh. Kalau menempuh jalan hukum mengembalikan kepemilikan rumah itu kepada nenek Catarina dari Barukh tampaknya susah dan akan banyak menghabiskan waktu dan biaya. Dokumen 
wasiat yang dipegang Barukh sangat kuat."

"Kalau nenek Catarina bisa tinggal bersama kita, sebenarnya tidak perlu membeli lagi rumah itu Hoca? Sayang, uangnya."

"Saya sudah janji sama nenek Catarina, Paman. Dan saya tidak mau ada masalah ke depan kalau ada apa-apa dengan nenek Catarina jika dia tetap ditempat kita."

Paman Hulusi mengangguk.

Tepat pukul 13.25 mereka berdua sudah memasuki St. Gilles Cafe. Mereka datang lima menit lebih awal dari yang dijanjikan. Fahri mengedarkan pandangan ke ruang cafe itu. Ia mencari-cari kira-kira yang mana yang bernama Gary. Fahri tidak bisa memastikan. Fahri mengambil ponselnya dari saku 
jasnya dan menelpon Gary. Seorang lelaki setengah baya berkaos polo biru muda duduk sendirian dimeja dekat jendela tampak mengangkat ponselnya. Lelaki itu baru saja menyeruput jus apelnya. 

Fahri melihat lelaki itu. Fahri menanyakan apakah Gary memakai kaos biru muda? Lelaki itu tampak menyadari bahwa Fahri sudah sampai. Lelaki itu melihat Fahri dan melambaikan tangannya. Fahri dan Paman Hulusi segera mendatangi tempat dimana Gary duduk.
Pegawai cafe datang, Fahri memesan jus mangga, paman Hulusi memesan jus strowbery. Setelah berkenalan singkat, Fahri menjelaskan kenapa ia ingin membeli rumah itu. Ia menceritakan masalah nenek Catarina cukup detil.

"Kalau tahu seperti itu ceritanya, mungkin saya tidak akan beli rumah itu. Tapi sudah terlanjur." Gumam Gary.

"Kalau pun Anda tidak membelinya, mungkin akan dibeli yang lain. Dan masalah nenek Catarina tetap sama. Maka ijinkanlah saya membeli rumah itu dari Anda. Silakan Anda mengambil keuntungan, tapi mohon sewajarnya. Jujur, rumah itu saya beli untuk ditempati oleh nenek Catarina. Sampai dia 
menghembuskan nafasnya. Biarlah dia bahagia di hari tuanya." Tukas Fahri.

"Saya punya ibu yang sudah tua dan dia ikut saya saat ini. Saya sangat mengapresiasi kebaikan Anda. Baiklah, saya sepakat menjual rumah itu kepada Anda. Saya tidak mengambil untung. Yang penting uang saya kembali utuh seperti sedia kala. Biar nanti saya cari yang lain. Saya hanya minta seluruh biaya administrasi semuanya Anda yang tanggung."

"Baik."

"Kapan bisa saya eksekusi."

"Besok kita sama-sama menghadap notaris. Ini kunci rumah itu, silakan Anda pegang. Nenek Catarina bisa kembali ke rumah itu hari ini juga. Saya percaya pada Anda. Apalagi rumah Anda ada di samping rumah itu. Saya tidak khawatir." Gary mengulurkan kunci rumah pada Fahri. Dan dengan mantab Fahri menerimanya.

"Terima kasih atas kepercayaannya."

"Besok bawalah seorang saksi."

"Baik."

"Apakah ada hal lain yang ingin Anda bicarakan?"

"Tidak. Semua yang saya inginkan telah tercapai."

"Kebetulan saya ada janji menjemput kolega di stasiun Waverly. Maaf saya harus meninggalkan Anda. Kita bayar minumnya sendiri-sendiri."

"Biar saya yang membayar minuman Anda."

"Terima kasih, Tuan Fahri. Kita jumpa lagi besok."

"Ya. Sama-sama."

Gary bangkit dan melangkah meninggalkan Fahri dan Paman Hulusi. Fahri bersyukur kepada Allah, urusannya ternyata mulus dan mudah. Tidak sesukar yang ia bayangkan. Tuan Gary sangat bekerja sama dan penuh pengertian. Di mana-mana masih banyak orang-orang baik yang memiliki perasaan dan 
nurani.

Siang itu juga Fahri dan Paman Hulusi kembali ke StoneyHill. Fahri memberikan kunci rumah itu kepada nenek Catarina.

"Seperti yang Fahri janjikan, nenek bisa kembali menempati rumah nenek. Ini kuncinya. Hari ini kalau nenek mau nenek sudah bisa kembali ke rumah nenek."

Tangan nenek Catarina dengan gemetar menerima kunci itu. Perempuan bule tua yang telah berkeriput itu meneteskan air mata kegembiraan dan keharuannya. Ia menciumi kunci itu lalu meraih tangan Fahri. Fahri mendekat nenek Catarina memeluk Fahri sambil menangis.

"Terima kasih. Fahri, terima kasih."

Dengan dibantu Fahri, Paman Hulusi dan Sabina, nenek Catarina membersihkan dan menata kembali rumahnya. Dan sore itu nenek Catarina sudah kembali menempati rumahnya. Brenda yang mengetahui hal itu ikut mengucapkan selamat kepada nenek Catarina. 

Malam hari ketika Misbah pulang dari 
kampusnya, ia sudah bisa menempati kembali kamarnya. Misbah langsung menemui nenek Catarina dan minta maaf tidak bisa ikut membantu membersihkan rumahnya sebab ia seharian penuh harus mengerjakan tesis PhD nya di kampus.

"Kalian semua baik-baik. Kini aku tahu, orang-orang Islam tidak seperti yang kukira selama ini."

"Jadi selama ini nenek mengira kami seperti apa?"

"Kami mengira kalian adalah musuh kemanusiaan. Ternyata tidak. Justru, anak angkatku sendiri yang Yahudi totok itu kurasakan sebagai manusia yang tidak punya hati layaknya manusia. Aku hampir tidak 
percaya dengan kenyataan. Bagaimana Baruch bisa begitu tega padaku?"

"Sudahlah nek. Sekarang nenek sudah kembali menempati rumah nenek. Kalau ada apa-apa nenek tinggal bilang kepada Fahri, atau kami semua. Kami akan membantu nenek semampu kami."

"Terima kasih."


                              *****


Hari berikutnya Fahri bersema Tuan Gary menghadap notaris untuk mengurus surat menyurat rumah itu. Fahri mengajak Brenda menjadi saksinya. Ia minta gadis tetangganya itu karena Brenda tahu dengan detil yang terjadi dan karena Brenda warga asli Skotlandia. 

Brenda jadi mengetahui bahwa sedemikian besar pengorbanan Fahri untuk mengembalikan nenek Catarina ke rumahnya.

Hari itu juga Fahri mendapat laporan dari Nyonya Suzan tentang perkembangan Keira. Bahwa Keira sudah menemukan gairahnya untuk berprestasi. Bakatnya memainkan biola sangat dipuji Madam Varenka. Nyonya Suzan tampak bersemangat sekali memberikan laporannya.

"Yang unik, Madam Varenka mengajak Keira mengamen di Royal Miles. Dan Keira sudah tidak gengsi lagi." Lapor Nyonya Suzan.

"Bagus. Kebelulan sekali, saya ada ide." Jawab Fahri.

"Ide apa Tuan?"

"Saya ingin menggalang dana kemanusiaan untuk anak-anak Palestina. Saya akan bermain biola di Royal Miles. Semoga Keira mau menemani."

"Pasti mau."

"Jangan dipaksa."

"Tidak akan saya paksa. Nanti saya pastikan Madam Varenka yang mengajak. Tapi ngomong-ngomong Tuan bisa bermain biola."

"Sedikit dan tidak bagus. Karena itulah kalau Keira dan Madam Varenka bisa bergabung akan jadi bagus."

"Nanti Tuan pastikan, mau dimana dan waktunya kapan? Saya akan mengaturnya."

"Baik Nyonya Suzan terima kasih. Oh ya kemajuan butik ini bagaimana?"

"Keuntungan bulan ini naik delapan puluh persen. Puji Tuhan."

"Alhamdulillah."

Fahri langsung teringat bagaimana dia dulu diajari Aisha main biola. Masih sangat dasar, tapi ia bisa memainkan beberapa lagu bersama Aisha, la berniat memainkan biola untuk anak-anak Palestina, dan untuk Aisha yang sangat dicintainya. Tapi kalau Aisha tahu ia bermain biola dengan Keira apakah Aisha 
tidak cemburu?
Ia yakin Aisha hanya akan tersenyum, bahkan Aisha akan bergabung memainkan biolanya untuk anak-anak Palestine.



                                *****



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...