Selasa, 23 Februari 2021

AYAT-AYAT CINTA 2 JILID 27

27


DENYAR-DENYAR KERINDUAN


Dengan sigap Fahri melarikan Nenek Catarina ke Musselburgh Primary Care Centre yang terletak di Inveresk Road. Nenek Catarina yang masih pingsan itu langsung mendapatkan tindakan medis dengan sangat cepat. 

Nenek Catarina masuk ke kamar gawat darurat. Fahri, Paman Hulusi, Misbah dan Brenda menunggu di ruang tunggu.

"Sebelum pingsan kelihatannya nenek Catarina sempat muntah-muntah." Gumam Brenda dengan wajah cemas.

"Apa mungkin keracunan?" Sahut Fahri dengan wajah menunduk.

"Entahlah, tapi makanan yang kalian kirim juga sup hangat yang aku berikan kepada nenek Catarina kulihat masih utuh, belum disentuhnya sama sekali."

"Kenapa tidak disentuhnya ya? Apa tidak enak?? "

"Entahlah."

"Kita doakan, Nenek Catarina selamat." Ujar Fahri. Nenek Catarina sudah tua, jalannya juga sudah susah. Meskipun demikian Fahri tetap mendoakan agar nenek Catarina selamat dan dapat disembuhkan.

"Amin." Lirih Brenda, Misbah dan Paman Hulusi
Satu jam kemudian seorang dokter perempuan dengan muka tersenyum datang menghampiri Fahri.

"Tuan Fahri, Anda membawa nenek itu kemari tepat pada waktunya. Terlambat sepuluh menit saja mungkin nyawanya tidak tertolong. Sekarang dia sudah melewati masa kritis." Jelas dokter itu, Fahri mengucapkan hamdalah dalam hati.

"Sebenarnya nenek Catarina sakit apa Dokter kalau boleh tahu? Nona Brenda itu menemukan dia pingsan dirumahnya."

"Nenek Catarina mengalami dehidrasi akut. Sangat akut. Jika terlambat mendapatkan perawatan medis nyawanya bisa melayang. Dehidrasi 2 persen menyebabkan seseorang merasa lelah, lemas, mulut kering, kulit memerah. 

Kalau dehidrasi sampai 5 persen jantung akan berdetak kencang, otot kram dan kesemutan. Pada dehidrasi 10 persen orang bisa kejang, muntah-muntah dan bisa pingsan."

Brenda dan Fahri mendengarkan penjelasan dokter itu dengan seksama. Fahri sungguh sangat penasaran bagaimana mungkin nenek Catarina bisa kekurangan cairan. 

Rasanya sebagai tetangga ia sudah berusaha memperhatikan betul tetangganya itu.Makanan dan minuman pagi dan sore selalu ia perhatikan. Bagaimana mungkin nenek Catarina bisa terkena dehidrasi akut yang mengancam nyawanya?

"Jadi nenek itu tidak perlu dikhawatirkan lagi kondisinya. Ia akan mendapatkan perawatan terbaik."

"Terima kasih Dokter."

Dokter itu lalu berjalan keluar gedung Musselburgh Primary Care Centre. Fahri masih merenung apa sesungguhnya yang terjadi pada nenek Catarina? Diam-diam ia merasa berdosa, tetangga depan rumahnya sampai dehidrasi sedemikian akut. Bagaimana jika kelak ditanya oleh Allah di hari akhir. 

Kenapa ia tidak memperhatikan nenek tua yang tidak berdaya itu? Fahri menarik nafas sambil istighfar dalam hati minta ampunan kepada Allah jika ia masih kurang baik dalam memperlakukan tetangga-tetangganya.

"Brenda apakah kamu tahu kira-kira kenapa nenek Catarina terkena dehidrasi?"

"Saya tidak tahu pasti kenapa. Yang jelas seperti yang saya lihat, sup yang saya kirim dan makanan yang kalian kirim juga untuknya tidak disentuh sama sekali. Kalau air, sama sekali tidak kekurangan air.

Kran dirumah itu mengalirkan air yang langsung bisa diminum, sama seperti rumah-rumah lainnya di Musselburgh ini. Nenek Catarina tampaknya kehilangan selera makan." Jelas Brenda.

"Sejak kapan kira-kira?"

"Mungkin sejak Sabina pergi. Nenek Catarina tampak begitu terhibur dengan kehadiran Sabina. Bahkan sering aku lihat Sabina menyuapi nenek Catarina makan. Nenek itu merasa punya teman yang baik dan 
tulus sehingga ia bersemangat untuk hidup. Kepergian Sabina, entah kenapa, seperti memukul nenek Catarina. Ia tidak bergairah makan dan minum sampai dehidrasi akut. Saya khawatir kalau .."

"Kalau apa Brenda?"

"Kalau nenek Catarina sudah tidak punya semangat hidup lagi."

"Jangan bicara begitu. Semoga kekhawatiranmu tidak terjadi."

Fahri kembali menghela nafas. Misbah tiba-tiba buka suara, 

"Sungguh saya tidak menduga, perempuan 
seperti Sabina bisa sedemikian dalam mengesan dihati nenek Catarina. Sungguh tidak terduga."

"Dan kau tidak menduga bahwa Sabina juga mengesan dihatiku, tidak hanya nenek Catarina. Jika dilihat wajahnya Sabina tidak menarik. Suaranya serak kurang enak didengar. Tapi jika sudah dekat dengannya, jika pagar-pagar pembatas telah tersingkirkan, maka Sabina adalah ketulusan, kepolosan, kebaikan dan kesetiaan. Dia tempat yang nyaman untuk berbagi. 

Dia pendengar yang baik, sekaligus 
pemberi nasehat yang baik. Orang yang kesepian seperti nenek Catarina pasti sangat beruntung punya teman sesabar Sabrina."

Fahri tidak percaya bahwa kepergian Sabina sampai membuat nenek Catarina sakit. Mungkin saja kepergian Sabina membuat nenek Catarina tidak nyaman, tapi ia berharap sakitnya nenek Catarina bukan karena kepergian Sabina. Ia menunggu sampai nenek Catarina sadar sepenuhnya dan diperbolehkan diajak bicara. Ia ingin tahu apa sesungguhnya yang terjadi.

Setelah dua jam menunggu, seorang perawat memberitahu bahwa nenek Catarina sudah biasa dijenguk dan diajak berbicara. Hanya dua orang yang dibolehkan memasuki kamar dimana nenek Catarina dirawat. Fahri mengajak Brenda untuk menjenguk.

"Tolong nenek itu dihibur. Tampaknya ia sedang sedih sekali. Sejak ia sadar apa yang terjadi, is terus menangis." Kata perawat.

Fahri mengangguk dan melangkah ke kamar di mana nenek Catarina dirawat diikuti Brenda. Dengan pelan dan hati hati Fahri membuka pintu. 

Nenek Catarina terbaring di atas kasur. Kedua matanya lulus memandang langit-langit kamar itu. Air mata tampak meleleh dari kedua matanya. Cairan infus mengalir lewat tangan kirinya. Nenek Catarina tampak pucat, namun kondisinya lebih segar dibandingkan saat pingsan.

Fahri melangkah pelan mendekat diikuti Brenda.

"Hei nenek yang baik, apa kabar?" Sapa Fahri pelan ketika sudah berada tepat di samping ranjang nenek Catarina. Fahri menyungging senyum. Nenek Catarina tersadar mendengar sapaan Fahri. Ia menoleh ke arah Fahri. 

Dengan tangan kanannya yang telah keriput ia menyeka airmatanya. Melihat Fahri tersenyum, nenek Catarina berusaha tersenyum.

"Ah kau Fahri."

'Iya, ini bersama Brenda. Diluar sana ada Paman Hulusi dan Misbah."

Nenek Catarina memandang Fahri, ia tidak kuasa menahan airmatanya. Nenek itu terisak. Fahri agak sedikit bingung harus bersikap bagaimana.

"Ada apa Nek, apa ada sikap saya yang salah? Kenapa nenek menangis?"

Nenek Catarina menggelengkan kepala sambil terisak. Tangan kanannya menarik tangan Fahri. Brenda hanya diam dan melihat dengan seksama. Fahri mendekat dan membiarkan tangan kanannya dipegang nenek Catarina lalu diciumi oleh nenek Yahudi itu sambil menangis.

"Aku terharu, kau baik sekali, kalian semua tetangga-tetangga yang baik dan perhatian. Perawat sudah cerita kalau aku terlambat dibawa ke sini beberapa menit saja maka nyawaku mungkin tak tertolong lagi."

"Dalam hal ini nenek harus sungguh-sungguh berterimakasih pada Brenda. Dialah yang menemukan nenek pingsan dan memaksa saya pulang membawa nenek kemari."

"Oh Brenda, terima kasih Brenda."

"Yang penting nenek selamat dan semoga segera pulih kembali. Tapi kenapa nenek tampak sedih. Saya lihat tidak hanya haru, tapi ada gurat kesedihan dalam wajah nenek. Guratan itu tidak bisa berbohong."

Nenek Catarina menutup kedua matanya seraya melepaskan pegangannya pada tangan Fahri. Pelan-pelan isak tangisnya mereda tapi air matanya terus meleleh keluar.

"Ada banyak hal yang membuatku sedih ketika aku bangun di tempat ini dan aku menyadari apa yang terjadi."

"Berapa kali saya bilang ke nenek, agar nenek tidak banyak mikir macam-macam. Nikmatilah masa tua nenek. Nikmati anugerah hidup dari Tuhan. Kalau ada apa-apa nenek bilang ke saya, saya akan bantu semampu saya. 

Saya tetangga paling dekat nenek. Nenek boleh anggap saya teman, boleh anggap saya keluarga bahkan anak kalau mau. Setiap melihat nenek, saya seperti melihat nenek saya sendiri. Jadi nenek jangan sedih."

"Terima kasih Fahri. Kalau aku suatu ketika nanti mati dan berjumpa dengan Tuhan, aku akan meminta kepada Tuhan agar kau diberi segala kebaikan dan disayang Tuhan. Aku sudah berusaha tidak mikir yang tidak perlu. 

Tapi begitu bangun diruangan ini dengan selang infus tertancap di tangan kiri, pikiran 
yang mengantarkan kepada kesedihan ini datang begitu saja."

"Apa itu Nek, mungkin kami bisa meringankan kesedihan nenek?"

"Jujur aku sedih meratapi nasib diriku. Di penghujung usiaku aku tidak punya keluarga yang menyayangiku. 

Anak angkatku sedemikian tega. Aku dalam kondisi sakit tidak ada keluarga di dekatku. 
Ini sungguh mengenaskan dan menyedihkan. Beruntung Tuhan Maha Baik, Dia kirim malaikat-malaikat seperti kalian sebagai pengganti keluargaku. Ketika aku ingat kebaikanmu Fahri, termasuk kebaikanmu 
mengantarkan aku ke sini. 

Aku tahu kau punya kesibukan bermacam-macam, tapi kau tetap mempedulikan aku, yang sesungguhnya bukan siapa-siapamu. Juga bukan satu bangsa dan satu agama denganmu. Tapi kau begitu peduli. 

Padahal semestinya kau boleh dendam kepadaku. Tapi kau tidak dendam, kau begitu baik. Aku percaya kalau kau menganggap aku seperti nenek atau ibumu sendiri. Aku percaya itu. Ini membuatku haru bercampur sedih."

"Nenek bilang semestinya aku boleh dendam pada nenek. Dendam apa Nek? Saya tidak ngerti maksudnya?"

"Aku dapat cerita banyak dari Sabina. Katanya Sabina dapat cerita dari Paman Hulusi. Sabina cerita istrimu itu hilang saat berkunjung ke Palestina bersama temannya seorang wartawan. 

Dan wartawan itu sudah ditemukan dalam kondisi mati mengenaskan di daratan Israel. Mati dibunuh tentara Israel dengan sadis. Dan istrimu hilang tak tentu rimbanya, mungkin juga mengalami nasib yang sama dengan 
temannya si wartawan itu hanya tidak diketahui jasad dan kuburnya. 

Sabina bercerita dengan sangat logis bahwa pelaku kejahatan itu orang Israel yang tak lain zionis Yahudi. Anak angkatku sendiri itu 
juga tentara Zionis Yahudi. Dan kau tahu itu. 

Semestinya kau boleh dendam kepada nenek Yahudi tua yang mengasuh dan membesarkan anak angkat tentara zionis. Bahkan setiap hari aku terus berdoa agar negara Israel raya jaya di alas muka bumi ini. 

Semestinya kau boleh dendam kepadaku, tapi itu tidak kau lakukan. Kau memperlakukan aku seolah-olah kau tidak memandang sama sekali aku ada hubungan dengan bangsa Yahudi seluruh dunia. Ini yang membuat aku tambah sedih. 

Sedih meratapi diriku sendiri. Kenapa aku harus mendapatkan curahan kebaikan darimu, orang Islam."

"Jadi apa yang saya lakukan selama ini malah membuat nenek sedih? Terus saya harus bagaimana agar nenek bahagia?"

Nenek Catarina terisak-isak. Nenek itu kembali meraih tangan Fahri dan menciuminya. Tangan itu basah oleh air mata nenek Yahudi itu.

"Ini sudah takdir Tuhan. Apa yang kau lakukan sudah benar. Kau baik. Bahkan kalau aku jadi kau, aku mungkin tidak bisa melakukan seperti yang kau lakukan. 

Aku sedih karena mengingat, seharusnya yang melakukan apa yang kau lakukan itu adalah anak-anak yang dulu aku rawat dan aku besarkan. Tapi sudahlah. Sekali lagi itu sudah takdir. Kesedihanku yang kedua adalah kesedihan yang berlapis-lapis yang hanya bisa dirasakan oleh orang Yahudi."

"Kesedihan apa itu Nek, kalau kami boleh tahu? " Tanya Brenda.

"Hari ini memang hari sedih bagi kami orang-orang Yahudi. Jadi selain kesedihan-kesedihan yang muncul dari dalam diriku sendiri, ada kesedihan yang memang harus aku rasakan hari ini sebagai Yahudi yang taat."

Mendengar hal itu Fahri langsung berpikir, hari apakah yang dimaksud nenek Catarina itu? Referensi yang ia baca tentang perbandingan agama langsung berputar dalam otaknya. Dengan cepat Fahri menemukannya.

"Tisha B‘Av, maksud Nenek?"

"Benar sekali. Bagaimana kau bisa tahu Fahri?"

"Nenek lupa ya, saya pengajar di The University of Edinburgh. Saya pernah mempelajari ajaran agama Yahudi, dulu, dalam mata kuliah perbandingan agama. Jadi saya tahu."

"Ya dan kau tahu kan arti Tisha B‘Av bagi orang Yahudi?"

"Ya saya tahu, dalam keyakinan orang Yahudi itu adalah hari bagi umat Yahudi untuk berpuasa meratapi tragedi yang menimpa mereka. Utamanya adalah meratapi tragedi kehancuran Sinagog Suci umat Yahudi di Yerusalem dan bencana-bencana lain yang menimpa mereka. 

Pada hari Tisha B‘Av orang Yahudi wajib berpuasa. Itu salah satu puasa wajib selain Yom Kippur."

"Iya yang kau sampaikan benar. Begitulah keyakinan kami. Ini adalah hari ke 9 bulan Av, bulan kelima dalam hitungan kami. Kami wajib berpuasa."

"Karena memaksakan puasa itulah nenek sampai terkena dehidrasi berat."

"Tahun lalu meskipun lemas aku masih kuat. Tahun ini ternyata sampai terjadi seperti ini. Sungguh menyedihkan."

"Pasti itu sangat berat. Puasa sampai 25 jam kira-kira. Mulai dari tenggelam matahari sampai tenggelamnya matahari hari berikutnya, tidak boleh makan, minum dan larangan-larangan lainnya."

"Apalagi hari-hari sebelumnya saya tidak selera makan karena kehilangan Sabina. Saya tidak menduga sama sekali bahwa males makan dan minum bisa berakibat fatal dan bisa mengganggu ibadah saya. 

Yang membuat saya paling sedih adalah bahwa puasa saya telah batal pada hari ini. Saya seperti melakukan sebuah dosa besar."

"Nenek tidak usah mikir terlalu berlebihan. Tuhan Maha Tahu dan Maha Penyayang. Nenek tidak salah sama sekali, yang membawa ke sini sehingga nenek mendapatkan perawatan adalah saya, kalau 
perawatan ini menyebabkan batalnya puasa nenek, berarti yang berdosa adalah saya. 

Biarlah yang bedosa adalah saya Nek. Dan dalam keyakinan agama saya, minta ampunan kepada Allah itu mudah. 

Tuhan Maha Pengampun. Semoga dia mengampuni dosa-dosa saya."

"Kau tidak berdosa Fahri, akulah yang bersalah. Jika hari-hari sebelum Tisha B‘Av aku makan dan minum dengan teratur, mungkin saat harus puasa Tisha B‘Av aku akan tetap baik-baik saja."

"Kalau dalam ajaran agama saya, juga ada puasa wajib. Tapi tidak satu hari satu malam penuh seperti dalam ajaran Yahudi. Dalam agama saya puasa dimulai terbit fajar sampai terbenam matahari. 

Dan sebelum puasa sangat disarankan untuk makan dan minum dulu, namanya makan sahur. Puasa itu juga untuk yang kuat berpuasa. Yang tidak kuat berpuasa seperti yang sedang sakit, orang yang sudah tua, boleh tidak berpuasa. Nanti mengganti di hari yang lain yang dia mampu berpuasa, misal ketika sakitnya sudah sembuh. Kalau orang yang sudah tua renta yang tidak mungkin lagi berpuasa boleh mengganti dengan memberi makan orang miskin. Ibu yang sedang hamil atau sedang menyusui yang mengkhawatirkan kesehatannya dan kesehatan bayinya boleh tidak berpuasa. Boleh mengganti di hari 
lain. Bahkan yang sedang bepergian karena repot dan beratnya perjalanan juga boleh berbuka, alias tidak berpuasa. Nanti mengganti di hari lain."

Nenek Catarina mengangguk-angguk. Sementara Brenda menyimak dialog itu dengan seksama. Perawat datang dan dengan sangat ramah memberitahu bahwa nenek Catarina perlu istirahat agar cepat pulih. 

Fahri memberi pengertian minta waktu sebentar lagi.

"Oh ya nek, sekedar memberitahu besok saya akan berdiskusi tentang Amalek dengan seorang Rabi Yahudi dan pembicara lainnya."

"Saya ingin menyaksikan diskusi itu."

"Tapi nenek masih sakit."

"Semoga besok bisa lebih baik. Tolonglah Fahri, saya mau lihat. Sebab saya ingin lebih tahu tentang Amalek. Jujur saja selama ini saya tahunya, selain orang keturunan Yahudi maka yang lain adalah Amalek. 

Setelah saya mengenalmu lebih dalam, orang lain yang selama ini saya curigai sebagai Amalek ternyata baik-baik. Tolong saya ingin tahu lebih tentang Amalek."

"Kita lihat kondisi nenek besok. Jika dokter mengizinkan nanti bisa saya atur bagaimana nenek bisa sampai ke ruang diskusi. Jika tidak, saya usahakan ada rekamannya yang nanti bisa nenek nikmati."

"Terima kasih, Fahri."

"Kami harus meninggalkan nenek agar nenek bisa istirahat."

"Sekali lagi terima kasih Fahri, Brenda."

Brenda mencium pipi nenek Catarina. Fahri hanya tersenyum pada nenek Catarina lalu melangkah keluar meninggalkan ruangan itu. 

Air mata nenek Yahudi itu kembali meleleh ketika Fahri dan Brenda hilang dari pandangannya. Kali ini perasaan haru kembali memenuhi dadanya. Masih ada yang begitu tulus memperhatikannya. 

Dan ia sesungguhnya ingin Fahri dan Brenda terus ada di sampingnya. Keberadaan Fahri di dekatnya, kini ia rasakan membawa kebahagiaan dalam hatinya.


                                 *****


Gedung kuno School of Divinity, The University of Edinburgh itu berdiri menjulang megah diantara derelan gedung-gedung tua di sebelah selatan agak barat Stasiun Waverley. Gedung itu agak terpisah dari pusat kampus yang ada dikawasan George Square. Gedung itu tampak kehitaman. Sekilas seperti bangunan dari bebatuan yang terbakar. Karena berwarna kehitaman. 

Sejatinya itu adalah semacam kastil yang dibangun tahun 1846. Namun jurusan teologi yang ada dibawah School of Divinity sudah ada dan diajarkan sejak awal mula The University of Edinburgh didirikan yaitu tahun 1583.

Di sebuah ruangan seminar digedung kuno School of Divinity itu sekitar dua ratus orang penuh sesak memenuhi ruangan. Kursi yang tersedia sudah penuh, sebagian orang berdiri hingga nyaris menutupi pintu masuk. 

Dibagian depan tampak para pembicara duduk berjejer di kursi. Dibagian paling tengah Fahri duduk dengan kemeja Burberry Prorsum yang sangat elegan. Di samping kanannya duduk Prof Thomas, seorang pakar sejarah gereja, sejarah diaspora bangsa Yahudi. 

Lalu disebelah kanan Prof Thomas duduk Prof. Charlotte.Sementara di sebelah kiri duduk seorang Rabi Yahudi bernama Benyamin Bokser. Fahri sedikit terkejut Rabi itu adalah orang yang bersama Baruch menyindirnya dengan ejekan yang melecehkan di Royal Pub 
& Cafe beberapa waktu yang lalu. Dan lebih membuat Fahri terkejut adalah kedatangan Baruch yang ikut sebagai pembicara. 

Baruch duduk di ujung paling kiri. Prof. Charlotte mulai berbicara. Guru besar yang mempromosikan Fahri agar jadi dosen di IMES, The University of Edinburgh itu menjadi moderator pada diskusi tentang salah satu pandangan orang-orang Yahudi tentang Amalek. 

Dua pembicara dari kalangan Yahudi akan berdiskusi dengan Fahri dan Prof.Thomas.
Fahri masih melihat ke arah hadirin, ia mencari-cari nenek Catarina. Dokter mengizinkan nenek Catarina ikut diskusi siang itu, karena nenek Catarina terus memaksa dokter. 

Paman Hulusi dan Misbah bertugas membawa nenek Catarina sampai ke ruang diskusi dengan kursi roda. Prof. Charlotte menyampaikan arti penting diskusi siang hari itu. Menurutnya adalah agar bertemu titik 
temu antara para pemeluk agama yang berbeda.

Jika belum bisa bertemu di titik temu paling tidak bertemu titik-titik yang mendekatkan. Prof. Charlotte lalu memperkenalkan para pembicara satu persatu. Dari paling dekat dengannya, Prof Charlotte memperkenalkan Prof. Thomas dan kepakarannya. Lalu Fahri yang dipuji sebagai pakar filologi Arab, pakar sejarah Islam Asia Tenggara dan pakar Islamic Studies khususnya tafsir Al Qur‘an. Lalu Rabi Benyamin Bokser diperkenalkan sebagai 
seorang rabi yang baru beberapa bulan ini bertugas di Edinburgh, sebelumnya ia bertugas di Tel Aviv. 

Dan Baruch diperkenalkan sebagai perwira aktif tentara Israel yang taat beragama, yang juga berkewarganegaraan Inggris.

Pada saat itu nenek Catarina menyeruak dengan kursi roda didorong oleh Misbah. Paman Hulusi mengiring dibelakang. Mereka menyeruak kerumunan orang yang berdiri nyaris menutupi pintu. 

Nenek Catarina dengan lantang memprotes apa yang disampaikan Prof. Charlotte.

"Dia tidak layak disebut Yahudi yang taat! Dia anak durhaka yang tidak layak berbicara ditempat terhormat seperti ini! Dia tentara Israel yang layak disebut kriminal! Saya tahu persis siapa dia!" 

Teriak nenek Catarina sambil menunjuk ke arab Baruch. Terang saja muka Baruch merah padam menahan malu dan amarah yang meluap. Prof. Charlotte dan semua yang ada di ruangan itu terkesima dan kaget. Mereka sama sekali tidak menduga akan ada insiden seperti itu.Baruch berdiri dan menatap nenek Catarina dengan penuh amarah.

"Keluarkan perempuan gila dari ruangan ini!"

Prof. Charlotte yang sudah tahu bahwa nenek Catarina adalah tetangga Fahri, agak sedikit salah tingkah. Ia ingin agar nenek Catarina keluar dari ruangan itu agar diskusi siang itu berjalan kondusif, tetapi mengusir seorang nenek-nenek yang bersusah payah datang dengan kursi roda membuatnya 
berpikir dua kali.

"Justru kau yang harus meninggalkan tempat ini, anak durhaka!" balas nenek Catarina dengan suara parau dan wajah agak pucat.

Melihat apa yang terjadi, Fahri merasa harus turun tangan. Fahri minta Baruch agar duduk kembali. 

Fahri lalu mendekati nenek Catarina, dan berjongkok di hadapan nenek Catarina. Fahri minta dengan sangat agar nenek Catarina diam dan mendengarkan diskusi dengan tenang.

"Nenek tidak boleh bicara kecuali telah dipersilakan oleh Prof. Charlotte. Nanti ada waktunya nenek bertanya atau menyanggah pendapat para pembicara. Jika mau bicara nenek angkat tangan dan baru bicara jika telah diijinkan oleh Prof.Charlotte. Urusan pribadi jangan dibawa ke sini dan membuat 
keributan di sini. Tolong ya Nek."

Nenek Catarina mengangguk.

"Maaf saya mengganggu. Saya hanya tidak bisa menahan emosi lihat Baruch." Lirih nenek Catarina pada Fahri.

Fahri lalu mendekati Prof.Charlotte dan menjelaskan bahwa diskusi bisa dilanjutkan dan nenek Catarina akan mengikuti diskusi dengan baik. Prof Charlotte kembali memimpin diskusi. Saat Prof.Charlotte memberikan sedikit pengantar tentang tema diskusi, Baruch angkat tangan.

"Ya Tuan Baruch, ada apa?"

"Dengan hormat saya minta perempuan tua yang lancang itu diminta meninggalkan forum ini!"

"Tuan Fahri telah mengajaknya bicara seperti yang Anda lihat tadi dan nenek itu berjanji akan menjadi pendengar yang baik. Jadi tidak perlu mengusirnya." Jawab Prof. Charlotte.

"Professor Charlotte, saya mohon maaf sedikit membuat kekacauan. Maafkan saya." Kata nenek Catarina tanpa melihat Baruch.

"Anda dengar Tuan Baruch, dia minta maaf."

"Saya tidak peduli. Dia telah sangat lancang menghujat saya. Dia harus keluar dari sini!"

Baruch bersikeras. Wajah Prof.Charlotte tampak tegang. Seumur-umur ia memimpin ribuan diskusi, baik tingkat universitas sampai tingkat internasional, belum pernah mengalami hal setegang ini. Para peserta diskusi yang memenuhi ruangan itu ikut tegang.

"Tak perlu mengusir nenek itu keluar dari sini. Dia sudah minta maaf." Teriak seorang mahasiswi berambut blonde. Fahri angkat tangan.

"Iya Tuan Fahri, silakan bicara !"

"Jika nenek Catarina ini, yang tak lain adalah ibu angkat Tuan Baruch dikeluarkan dari ruangan ini, maka dengan senang hati saya akan mengikutinya meninggalkan ruang diskusi ini. 
Saya yang akan menjadi penjamin bahwa nenek Catarina ini tidak akan membuat kegaduhan lagi." Ucap Fahri tenang.

Baruch melihat Fahri dengan pandangan tidak suka.Prof. Charlotte akhirnya memutuskan nenek Catarina bisa tetap ikut diskusi. 

Dan Baruch tidak bisa berbuat apa-apa. Lelaki berwajah keras itu duduk dengan tidak tenang dan nyaman. Diskusi , dilanjutkan. Kesempatan pertama diberikan kepada Rabi Benyamin Bokser untuk menjelaskan tentang konsep 'Bangsa yang Terpilih' dan 'Amalek' menurut ajaran Yahudi.

Rabi Benyamin Bokser menata letak Kippahnya dan mengelus jenggotnya sebelum mulai berbicara. 

Diantara audiens peserta seminar tampak belasan lelaki memakai Kippah, meskipun tidak memakai jubah hitam seperti Rabi Benyamin. Muka mereka tampak gembira menatap Rabi Benyamin. 

Sedikit berbeda dengan nenek Catarina, mukanya tampak kurang suka pada Rabi Benyamin. Audien diskusi siang itu tampaknya dari berbagai agama. Beberapa orang China termasuk Ju Se tampak hadir. Heba, Brenda, dan Nyonya Janet juga ada dalam barisan audien. Beberapa wartawan tampak sibuk merekam dan memotret. 

Setelah sedikit berbasa basi dan menyapa audien, Rabi Benyamin mulai menyampaikan 
doktrin bangsa Yahudi sebagai bangsa terpilih,

"Saya akan berterang saja sesuai ajaran agama yang saya yakini benarnya. Dan saya akan langsung ke intinya. Yahudi adalah bangsa sekaligus agama. 

Dan orang-orang Yahudi sejati adalah mereka yang darahnya masih bertalian dengan nenek moyang aslinya. Darah Abraham. Mereka, termasuk saya, dan teman baik saya ini Baruch, seorang perwira menengah Israel adalah bangsa pilihan Tuhan. 

Ya jujur, tanpa perlu saya sombong, kami anak-anak keturunan Israel adalah bangsa pilihan Tuhan. Manusia-manusia lain di atas muka bumi ini tidak bisa iri dan tidak boleh protes sama sekali. Sebab seperti itulah kehendak Tuhan. Dan Tuhan sudah menjelaskannya didalam kitab suci. Kitab suci kami, yang 
juga jadi perjanjian lama bagi umat Kristiani seperti Tuan Thomas ini."

Meskipun mengatakan tidak perlu sombong, tetapi Rabi Benyamin menyampaikan kata-katanya dengan nada angkuh. Beberapa wajah audien tampak tidak nyaman. Ada sedikit perubahan warna wajah Prof. Thomas mendengar kata-kata Rabi Yahudi itu.

"Di kitab suci dijelaskan. Saya tidak perlu jelaskan letak detilnya. Tuan Thomas ini profesor teologi pasti tahu tempatnya. Sekali lagi dalam kitab suci di jelaskan sebuah kisah yang terjadi di zaman kuno sekali. Sekarang mungkin terasa sedikit purba.

Sepasang suami istri yang tidak punya anak yang tinggal di kota Ur, diperintahkan oleh Tuhan untuk pergi menuju tempat yang berlimpah susu dan madu. Tuhan menjanjikan kepada Abraham, bahwa dia dan anak turunnya adalah manusia-manusia yang diberkati, manusia-manusia yang dipilih. Kepada Abraham, Tuhan berkata:

'Aku akan membuat engkau menjadi bangsa besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur, dan engkau akan menjadi berkat... dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.‘ 

(Kejadian 12:2,3). 

Yang dimaksud keturunan Abraham adalah Isac yang disembelih. Isac melahirkan Yacob. Secara spesifik keturunan Yacob inilah keturunan Abraham yang dipilih itu. Sebab 
Yacob ini yang diberi nama Israel. Di dalam kitab suci dijelaskan, yang ini saya katakan tempatnya ada kitab suci yang diyakini Tuan Thomas tepatnya di Kejadian 32:24-28. Saya hafal betul sebab saya paling suka bagian ini. Ini menggambarkan Israel yang selalu menang. Kalimatnya begini,

"Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing. Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu. Lalu kata orang itu: 

"Biarkanlah aku pergi, karana fajar telah menyingsing." 

Sahut Yakub: 'Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku. Bertanyalah orang itu kepadanya: 

"Siapakah namamu?" 

Sahutnya: "Yakub." Lalu kata orang itu: 

"Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang." 

Rabi Yahudi itu mengucapkan kalimat-kalimatnya dengan sangat meyakinkan dan mantab. Fahri menyimak dengan seksama, ia tersenyum dalam hati, bagaimana mungkin Yakub atau Israel yang adalah hamba Allah bergumul dengan Allah dan menang."

Lalu, singkat saja ya, dari Yacob lahir manusia-manusia pilihan yang luar biasa. Ada David, Solomon, dan Moses. David berulang kali menyerukan kepada rakyatnya bahwa rakyatnya, anak-anak Israel adalah bangsa pilihan. Kepada Moses, Tuhan berkata, tolong dengarkan baik-baik, Tuhan berkata kepada Moses,

"Sebab engkaulah umat yang kudus bagi Tuhan, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh Tuhan, Allahmu, dari segala bangsa diatas muka bumi untuk menjadi umat  kesayanganNYA. Bukan karena lebih banyak 
jumlahmu dari bangsa mana pun juga, maka hati Tuhan terpikat olehmu dan memilih kamu -- bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? 

Tetapi karena Tuhan mengasihi kamu dan memegang sumpahNYA yang telah diikrarkanNYA kepada nenek moyangmu, maka Tuhan telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, Raja 
Mesir. Sebab itu haruslah kau ketahui, bahwa Tuhan, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setiaNYA terhadap orang yang kasih kepadaNYA dan berpegang pada perintahNYA, sampai kepada beribu-ribu keturunan.‘

"Jadi jelas,kami bangsa Israel, bangsa Yahudi adalah bangsa pilihan Tuhan. Umat yang kudus bagi Tuhan. Kami dipilih oleh Tuhan dari segala bangsa diatas muka bumi untuk menjadi umat 
kesayanganNya. "

"Dan sekali lagi, kalian tidak boleh protes sama sekali. Ini kehendak yang kudus dari Tuhan, untuk kebaikan umat manusia seluruhnya. Kami dipilih ini untuk kebaikan seluruh umat manusia. Benarkan Tuan Thomas?"

Prof. Thomas tergagap, dan hanya tersenyum kecut. Rabbi Benyamin melanjutkan.

"Sungguh, kecelakaan besar bagi siapa saja yang menentang kehendak Tuhan ini, dan keberkatan bagi yang tunduk dan menerimanya. Tuhan menjelaskan hal itu jelas sekali,

"Bangsa-bangsa akan takluk kepadamu, dan suku-suku bangsa akan sujud kepadamu; jadilah tuan atas saudara-saudaramu, dan anak-anak ibumu akan sujud kepadamu. Siapa yang mengutuk engkau, terkutuklah ia, dan siapa yang memberkati engkau, diberkatilah ia.‘Hadirin, inilah yang bisa saya jelaskan. Sengaja redaksi kitab suci yang saya pakai adalah kitab sucinya tuan Thomas, sebab saya kira sebagian besar yang hadir disini adalah umat kristiani seperti Tuan Thomas dan Prof. Charlotte. Untuk konsep Amalek, saya minta saudara saya, Baruch menjelaskannya. 

Sebab ia tidak saja sangat mendarah daging memahami ajaran ini sebab ayahnya adalah seorang Rabi terkemuka, dan dia sendiri telah menjadi penjaga setia ajaran Yahudi, tidak hanya di tanah suci Israel tapi juga di seluruh dunia. Jadi biar dia yang menjelaskan konsep Amalek. Waktu saya kembalikan kepada moderator."

Beberapa pria memakai Kippah bertepuk tangan. Namun tepuk tangan itu terasa sumbang karena tidak disambut tepuk tangan oleh yang hadir di ruangan itu. Sementara wajah Rabbi Benyamin tampak puas sekali. Ia merasa telah menyampaikan hal suci yang harus ia sampaikan kepada seluruh manusia di dunia ini.

"Baik, sebagaimana yang diminta Rabbi Benyamin, kesempatan berikutnya saya berikan kepada Tuan Baruch untuk menjelaskan konsep Amalek dalam ajaran Yahudi. 

Apa hubungan konsep Amalek dengan 
konsep Bangsa Terpilih menurut ajaran Yahudi? Mohon dijelaskan secara singkat dan padat. Silakan !"

Ucap Prof. Charlotte memberikan waktu kepada Baruch.

"Terima kasih Moderator. Rabbi Benyamin telah menjelaskan dengan sangat jelas dan akurat bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa pilihan Tuhan. Karena pilihan tentu saja adalah bangsa yang sangat diistimewakan oleh Tuhan. 

Meski demikian ada saja manusia-manusia dungu yang tidak suka dengan keputusan Tuhan ini. Ada saja manusia-manusia kerdil yang memusuhi bangsa terpilih ini. Diantara 
manusia rendahan itu, sejarah menuliskannya adalah bernama Haman.

Di dalam Tanakh, tepatnya dalam Kitab Ester, diterangkan Haman ini adalah keturunan Amalek, sebuah bangsa yang sangat membenci dan sangat ingin memusnahkan Bani Israel. Itu terjadi setelah peristiwa 
eksodus Bani Israel dan Mesir. Itu adalah dosa besar yang tidak bisa diampuni. 

Bahkan Tuhan yang Maha Pengampun tidak mengampuni dosa besar bangsa yang memusuhi Bani Israel itu. Di dalam Taurat, Anda boleh baca, Tuhan memerintahkan untuk memusnahkan semua orang Amalek. Perintah itu berlaku sepanjang sejarah umat manusia. Dan tidak boleh ada yang selamat.

Silakan dibaca misalnya dalam Ulangan 25: 17,

"Ingatlah apa yang dilakukan orang Amalek kepadamu pada waktu perjalananmu keluar dari Mesir, bahwa engkau didatangi mereka di jalan, sedangkan engkau semua lemah dan lesu, lalu membunuh semua orang-orangmu yang dengan susah payah berjalan di belakang. Mereka tidak takut kepada Allah. 

Maka, apabila Tuhan, Allahmu, sudah mengaruniakan keamanan kepadamu dari pada segala musuhmu disekeliling, di negari yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu untuk dimiliki sebagai pusaka, haruslah engkau menghapuskan ingatan akan Amalek dari kolong langit, janganlah engkau lupa.‘

Selanjutnya, Tuhan berfirman dalam Samuel 15 : 23,

"Beginilah firman Tuhan semesta alam: Aku akan membalas apa yang dilakukan oleh orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka ketika orang Israel pergi dari Mesir. Jadi pergilah sekarang, kalahkan orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya. Dan janganada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki dan perempuan, dan kanak-kanak, lembu maupun domba, unta maupun keledai!‘

Saya rasa jelas sekali yang dimaksud Amalek itu. Siapa saja, selain Yahudi yang menjadi penghalang bagi bangsa Yahudi, yang membenci bangsa Yahudi, yang bermusuhan dengan Yahudi adalah termasuk golongan Amalek yang wajib ditumpas. 

Bagi saya yang bertugas di negara Israel, semua orang Arab, orang muslim, orang Palestina adalah Amalek! Ini saja, saya rasa sudah sangat jelas. Terima kasih!"

Fahri tidak bisa menyembunyikan kekagetannya mendengar kalimat penegasan Baruch itu. Saat itu Fahri bisa menyimpulkan bahwa Baruch dan mungkin juga Rabbi Benyamin termasuk dalam kelompok 
Yahudi radikal semisal Baruch Goldstein. 

Kebetulan nama keduanya sama-sama Baruch. Goldstein adalah seorang Yahudi pembunuh massal yang menembaki dua puluh sembilan muslim Palestina yang sedang shalat di masjid pada tahun 1994. 

Tidak hanya Fahri, Prof.Charlotte tampaknya juga terkejut namun berusaha menguasai dirinya.

"Tuan Baruch, maaf, sebelum waktu saya berikan kepada Profesor Thomas, saya mau bertanya kepada Anda. Mendengar uraian Anda tadi, menurut Anda apakah saya termasuk golongan Amalek?" Prof. Charlotte bertanya dengan tenang. 

Baruch agak kaget mendengar pertanyaan yang polos tapi sesungguhnya menyerang itu. Ia melirik Rabi Benyamin dan beberapa lelaki Yahudi yang ada dibarisan hadirin.

Fanatismenya hadir memenuhi rongga dadanya. Ia ingin menunjukkan kepada teman-temannya bahwa ia adalah seorang yahudi tulen yang teguh pada ajarannya. Ajaran dalam pengertian dan penafsiran kelompoknya. 

Maka dengan tanpa sungkan dan ragu Baruch menjawab,

"Bisa saja Anda termasuk Amalek."
Professor Charlotte dan sebagian besar hadirin terhenyak dengan jawaban itu, Tanpa diplomasi sama sekali.

"Kalau begitu apakah saya akan ditumpas? Akan dimusnahkan?"

"Jika Anda masuk dalam kriteria yang mesti dimusnahkan ya perintah kitab suci begitu. Ingat, saya bilang jika Anda masuk kriteria yang mesti dimusnahkan.

Bahkan lembu maupun domba, unta maupun keledainya bangsa Amalek harus juga dimusnahkan. Itu amanat dalam Samuel: 15:23 yang tadi sudah saya sampaikan!"

Baruch menyampaikan dengan penuh percaya diri, Profesor Charlotte merasa belum pernah 
menemukan pembicara yang keangkuhannya melebihi Baruch. Profesor Charlotte menahan emosinya. Baruch melanjutkan kata-katanya,

"Tapi Anda punya pilihan untuk tidak jadi Amalek dengan cara apa? Dengan cara mendukung kami, bangsa pilihan Tuhan. Seperti yang tadi dijelaskan oleh Rabi Benyamin, Tuhan berfirman, Siapa yang 
mengutuk engkau, terkutuklah ia, dan siapa yang memberkati engkau, diberkatilah ia. 

Bangsa besar yang sangat sadar masalah ini adalah bangsa Amerika. Mereka bangsa cerdas, maka mereka mendukung kami. Sebab hanya dengan masuk barisan kami maka manusia diberkati! Lihatlah sejarah Amerika, 
sekarang jadi negara nomor satu di atas muka bumi ini, karena apa? Karena mereka memilih berada dalam barisan kami. Maka mereka diberkati!"

Baruch menyudahi jawabannya, Rabi Benyamin memberikan apresiasi dengan bertepuk tangan lirih diikuti beberapa pria Yahudi di barisan hadirin. Seorang perempuan muda berambut pirang berdiri dari tempat duduknya dan angkat tangan.

"Moderator perkenankan saya bicara!"

"Maaf, belum saatnya membuka ruang tanggapan atau pertanyaan dari hadirin!"
Tegas Prof. Charlotte.

"Satu menit saja, saya orang Yahudi, tapi pemahaman saya tidak seperti Tuan Baruch itu. Saya harus luruskan itu pemahaman yang picik!"

"Maaf, silakan Anda duduk kembali, nanti akan ada waktu untuk tanggapan. Sekarang kita lanjutkan dengan pemaparan atau penjelasan dari Prof. Thomas. Mungkin ada yang ditanggapi atau dikritisi dari pemaparan dua pembicara sebelumnya. Silakan Profesor."

"Terima kasih Profesor Charlotte." Kata Prof. Thomas memulai kalimatnya. 

"Saya harus menyampaikan bahwa apa yang dijelaskan Rabi Benyamin benar adanya. Dalam perjanjian lama jelas termaktub bahwa Tuhan memilih Bani Israel. Selain menjadi keyakinan kaum Yahudi, itu juga menjadi kebenaran yang 
dipercayai oleh kaum Kristiani. Mungkin yang perlu ditanyakan kira-kira adalah kenapa Tuhan memilih Bani Israel?

Ada hikmat yang luar biasa agung dalam setiap kehendak Tuhan. Demikian juga dalam kehendakNya memilih Israel dan keturunannya sebagai bangsa terpilih. Di sana ada hikmat, kuasa, visi dan misi bagi dunia seisinya ini. 

Dari keturunan Israel yang terpilih inilah Allah melahirkan Sang Juru Selamat dunia yaitu Yesus Kristus. Itulah hikmah dan misi terbesar Tuhan dalam memilih Bani Israel.

Setelah manusia berlumur dosa, dimulai dari Adam dan Hawa. Tuhan ingin membersihkan dosa-dosa manusia itu. Tuhan melahirkan Sang Mesias. Dan Mesias itu lahir dari keturunan Abraham Ishak Yakub.

Karena Yesus Kristus lah, maka Tuhan memilih Israel. Inilah kehendakNya yang agung dan seperti kata Rabi Benyamin, kita tidak bisa protes berhadapan dengan kehendak Tuhan yang agung.

Dan jika simak dengan seksama isi Bibel, bahwa dipilihnya bangsa Israel memang memuat banyak pelajaran penting bagi umat manusia. Lewat perantara Bani Israel, Tuhan menetapkan, bahwa mereka akan pergi dan mengajar bangsa-bangsa lain untuk mengenal Tuhan Allah. Bani Israel ditahbiskan menjadi imam, nabi dan penyeru misi bagi bangsa-bangsa lain di dunia ini. 

Bangsa Israel boleh dikata belum sempurna membawa misinya,akan tetapi melalui Bani Israel, karya Allah melalui Yesus Kristus 
telah digenapi.

Di dalam Yesus Kristuslah, kasih Tuhan yang sangat besar hadir untuk seluruh bangsa, untuk dunia ini. 

Maka dengan dipilihnya Israel, sebagai bangsa pilihanNya, memang sejalan dengan rencana Tuhan ini. 

Namun tolong jangan dilupakan, rencana Tuhan tidak hanya berhenti pada bangsa Israel namun kepada bangsa-bangsa di seluruh dunia, melalui pemilihan bangsa Israel. 

Demikian termaktub dalam Perjanjian 
Lama. Dan kini bangsa pilihan Allah yang baru adalah Gereja, yaitu yang terdiri dari mereka yang mengimani Kristus di seluruh dunia. 

Demikian termaktub dalam Perjanjian Baru.
Adapun tentang Amalek saya rasa masih perlu penjelasan lebih lanjut. Rasanya ada yang belum tuntas dalam konsep yang dijelaskan Tuan Baruch tadi. Ini saja, terima kasih."

Seorang wanita setengah baya berbaju cokelat muda memberikan tepuk tangan diikuti beberapa orang. 

Profesor Thomas mengangguk-angguk memberi isyarat menyampaikan terima kasih. Wajah Rabi Benyamin dan Baruch agak kurang simpati mendengar pemaparan Prof.Thomas. Sementara wajah Prof.Charlotte tampak sedikit cerah. Fahri kini sangat memahami kenapa kalangan Nasrani mendukung 
argumentasi Bani Israel sebagai bangsa pilihan Tuhan. Sebuah dukungan yang bermuara pada sebuah tujuan.

Suara Prof. Charlotte lalu terdengar nyaring,

"Selanjutnya kita beri kesempatan kepada pembicara terakhir kita yaitu Dr. Fahri Abdullah, dia seorang sarjana yang telah belajar di Timur dan di Barat, pakar filologi yang disegani. 

Menyelesaikan pendidikan tingginya di Al Azhar Cairo dan Ph.D nya di Freiburgh University, Jerman. Dan juga boleh dikata cukup mendalami kitab-kitab suci tiga agama yaitu Islam, Kristen, dan Yahudi. 

Mungkin Dr. Fahri Abdullah punya pandangan menarik tentang Amalek, kepadanya waktu secukupnya saya berikan."

Fahri menghela nafas, terlebih dulu ia membaca basmalah, hamdalah dan shalawat di dalam hati sebelum menyapa hadirin yang ada di ruangan itu. Barulah Fahri menyampaikan pendapatnya,

"Abraham atau kalau di Islam disebut Ibrahim adalah sungguh manusia istimewa yang dipilih Tuhan. Kami umat Islam sangat mencintai Abraham. 

Bahkan,saya berkeyakinan diantara para pemeluk agama di atas muka bumi ini tidak ada yang mencintai Abraham melebihi umat Islam. 

Dalam Islam, ibadah paling utama adalah shalat wajib lima kali sehari. Dan shalat itu tidak dianggap sah jika tidak membaca 
shalawat yang di dalamnya ada menyebut nama Abraham sebanyak empat kali dalam satu shalawat. 

Jadi minimal umat Islam menyebut nama Abraham sebanyak dua puluh kali. Itu minimal. 

Belum lagi jika ditambah shalat sunnah yang lain. Episode penting dalam sejarah hidup Abraham dan contoh cara ibadah Abraham juga diabadikan dalam praktik ibadah paling akbar umat Islam, yaitu ibadah haji. 

Maka tidak berbeda dengan yang disampaikan oleh Rabi Benyamin, bahwa Abraham adalah hamba pilihan Allah. Dia adalah salah satu 
dari lima nabi dan rasul yang mendapat julukan 

''Ulul 'azmi‟.

Dan benar, anak-anak dan keturunannya hampir semuanya menjadi orang-orang shalih, menjadi nabi-nabi Allah. Semua nabi dari Bani Israel adalah keturunan Abraham dari keturunan Sarah. 

Sedangkan Nabi Muhammad adalah keturunan Abraham dari keturunan Ismail yang lahir dari rahim Hajar, istri yang satunya. Karena itu dalam Islam, Abraham mendapat julukan 

"Abul Anbiya" , atau bapaknya para nabi. Adapun Ya‘kub, Daud, Sulaiman, Musa, Isa dan nabi-nabi yang lainnya, mereka sangat dimuliakan dalam Islam. Salah satu syarat kesempurnaan iman dalam Islam adalah mengimani nabi-nabi Allah. Mengimani bahwa mereka itu diutus oleh Allah kepada kaumnya untuk mengajak hanya menyembah kepada Allah. 

Misi mereka semua sama yaitu mengajak kepada umat manusia untuk mengimani bahwa tidak ada Tuhan yang layak disembah kecuali hanya Allah.

Bahkan, boleh saya katakan, jika kita jujur membaca dan menelaah Taurat, Bible dan Al Qur‘an, kita akan menemukan Al Qur‘anlah yang memiliki diskripsi paling menjaga kemuliaan para nabi itu. 

Berdasarkan Al Qur‘an dan petunjuk Nabi Muhammad Saw, umat Islam mempercayai bahwa semua nabi dan rasul itu ma‘shum. Artinya, para nabi terjaga dari dosa dan perbuatan keji. Tidak ada penggambaran di dalam Al Qur‘an seorang nabi berbuat mesum dan cabul seperti digambarkan dalam 
kitab suci yang bukan Al Qur‘an.

Karena itu boleh saya katakan umat Islam lebih memuliakan Ya‘kub, Daud, Sulaiman, Musa, Isa dan nabi-nabi yang lain daripada umat lainnya.
Kemudian tentang Bani Israel sebagai bangsa pilihan, bagaimana?"

Fahri sejenak menghentikan penjelasannya. Seluruh hadirin diruangan itu diam. Hening tercipta sesaat. 

Semua yang ada di ruangan itu seperti tersihir oleh kata-kata Fahri yang tenang dan enak didengar.

"Benar Bani Israel pernah dimuliakan oleh Tuhan sebagai bangsa pilihan, dimuliakan melebihi bangsa-bangsa yang lain. Al Qur‘an juga menjelaskan hal itu. Al Qur‘an mengingatkan kepada Bani Israel yang pernah dimuliakan melebih bangsa yang lain agar mengingat nikmat itu. Di dalam Al Qur‘an, Tuhan berfirman,

“Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmatKu yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan ingatlah bahwasanya Aku telah melebihkan kamu dari semua umat yang lain di alam ini (pada masa itu).” [1]

Saya tidak mengingkari itu. Saya percaya seratus persen bahwa Bani Israel pernah dimuliakan Allah menjadi bangsa pilihan melebihi seluruh umat dialam semesta ini ketika itu. Dan saya sepakat, bahwa diantara sebab dimuliakannya Bani Israel adalah karena mereka keturunan Abraham. Al Qur‘an juga 
mengabadikan janji Tuhan kepada Abraham,

“Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. 

Dia (Allah) berfirman, "Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin 
bagi seluruh manusia.‟

 Dia (Ibrahim) menjawab, "Dan (juga) dari anak cucuku?‟

 Allah berfirman, 
“(Benar, tetapi) janjiKu tidak berlaku bagi orang-orang yang zalim.” [2]

Kalau kita baca teks-teks Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Bani Israel dipilih oleh Tuhan karena janji Tuhan kepada Abraham. Mari kita simak lagi firman Tuhan kepada Musa yang tadi dibacakan oleh Rabi Benyamin,

“Sebab engkaulah umat yang kudus bagi Tuhan, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh Tuhan, Allahmu, dari segala bangsa diatas muka bumi untuk menjadi umat kesayanganNya. 

Bukan karena lebih banyak 
jumlahmu dari bangsa mana pun juga, maka hati Tuhan terpikat olehmu dan memilih kamu,
'bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? ' Tetapi karena Tuhan mengasihi kamu dan memegang sumpahNya yang telah diikrarkanNya kepada nenek moyangmu.”

'Nenek moyangmu‘ itu maksudnya adalah Abraham. Mari kita lihat bagaimana sumpah atau janji Tuhan kepada Abraham.

“Aka akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.” [3]

Jika kita perhatikan dengan seksama teks-teks tersebut, juga teks-teks lain yang menjelaskan masalah keterpilihan Bani Israel, kita akan mendapati bahwa keutamaan yang diberikan kepada keturunan Abraham, termasuk di dalamnya adalah Bani Israel, ternyata tidak bersifat mutlak. Akan tetapi bersyarat dan terbatas.

Syarat paling utama dan paling mendasar atau paling asal, yang jika syarat ini tidak dipenuhi maka perjanjian Tuhan itu batal adalah keturunan Ibrahim, termasuk Bani Israel, agar menjadi bangsa paling utama, haruslah beriman kepada Allah.

 Kalimatnya jelas sekali, ”Supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu”. Jadi yang dijadikan sesembahan, dijadikan Tuhan hanya Allah saja, tidak boleh disekutukan oleh yang lain. Selanjutnya harus mentaati semua hukum dan peraturan Allah, berpegang pada tali perjanjian Allah, jika bermaksiat dan tidak taat kepada Allah, maka perjanjian itu batal. 

Firman Allah kepada Musa jelas sekali,

“Jadi, sekarang jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firmanKu dan berpegang pada 
perjanjianKu, maka kamu akan menjadi harta kesayanganKu sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kamu katakan kepada orang Israel.” [4]

Lebih jelas lagi di dalam Ulangan, jika Bani Israel itu tidak mendengar suara Tuhan, melanggar aturan Tuhan, maka mereka dapat bukan keutamaan dan keistimewaan dari Tuhan tetapi murka dan kutukan, dengarkan firman Tuhan dalam Ulangan berikut ini,

“Tetapi jika engkau tidak mendengar suara Allah, Tuhanmu, dan tidak melakukan dengan setia segala perintah dan laranganNya, yang kusampaikan kepadamu padn hari ini, maka segala kutuk itu akan datang kepadamu dan mencapai engkau.Terkutuklah engkau di kota dan terkutuklah engkau di ladang.

Terkutuklah bakulmu dan tempat adonanmu. Terkutuklah buah kandunganmu, hasil bumimu, anak lembu sapimu dan kandungan kambing dombamu. Terkutuklah engkau pada waktu masuk dan terkutuklah engkau pada waktu keluar.”[5]

Kemudian marilah kita lihat sejarah. Seperti apa sejarah Bani Israel itu? Apakah selamanya mereka diistimewakan Allah? Ternyata tidak. Ketika mereka taat dan berpegang teguh pada janjinya dengan Allah, maka mereka diistimewakan oleh Allah. 

Banyak orang-orang shaleh, nabi-nabi dan manusia-manusia hebat yang istimewa sehingga layak dijadikan teladan oleh umat manusia sepanjang sejarah lahir dari keturunan Ibrahim, khususnya Bani Israel. 

Ulama Islam mempercayai ada puluhan ribu Nabi dari kalangan Bani Israel. Selain nabi-nabi yang tersebut di dalam kitab suci Al Qur‘an, ada banyak nabi yang tidak tersebutkan di dalam Al Qur'an, dan juga tidak disebut didalam kitab-kitab suci sebelum Al Qur‘an. 

Dan mereka banyak berasal dari kalangan anak keturunan Ya'kub yang disebut Bani Israel. 

Mereka diistimewakan oleh Allah, dimuliakan oleh Allah melebihi manusia yang lain pada masa itu, karena keimanan mereka kepada Allah, ketaatan mereka kepada Allah.

Akan tetapi ketika mereka berpaling dari Allah. Ketika mereka menyekutukan Allah, mereka tidak lagi taat kepada Allah, maka Bani Israel itu mendapatkan murka, laknat dan azab dari Allah. 

Kalau kita boleh jujur, di dalam kitab suci kalian sendiri, antara pujian Tuhan kepada Bani Israel dengan laknat Tuhan kepada Bani Israel, akan lebih banyak laknat Tuhan kepada Bani Israel. 

Saya tidak akan memakai redaksi Al Qur‘an, nanti Rabi Benyamin akan bilang itukan menurut kitab sucimu yang memang tidak 
suka dengan Bani Israel. Saya akan memakai redaksi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Dengarkan baik-baik, di dalam Ulangan 9: 12, Tuhan mengatakan orang-orang Bani Israel itu berlaku busuk, Lalu berfirmanlah TUHAN kepadaku: Bangunlah, turunlah dengan segera dari sini, sebab bangsamu, yang kaubawa keluar dari Mesir, telah berlaku busuk; mereka segera menyimpang dari jalan yang 
Kuperintahkan kepada mereka; mereka telah membuat patung tuangan.

Perilaku busuk itu adalah mereka membuat sesembahan baru berupa patung tuangan. Mereka tidak setia untuk hanya menyembah Allah saja. Sampai-sampai Musa juga sangat jengkel kepada Bani Israel itu, dengarkan apa kata Musa di dalam Ulangan 31:27,

“Sebab aku mengenal kedegilan dan tegar tengkukmu. Sedangkan sekarang, selagi aku hidup bersama-sama dengan kamu, kamu sudah menunjukkan kedegilanmu terhadap Tuhan, terlebih lagi nanti sesudah aku mati.”

Lihat, Musa masih hidup dan ada di tengah-tengah mereka, tapi mereka, Bani Israel itu sudah berlaku lalim kepada Tuhan. Padahal mereka baru saja diselamatkan oleh Tuhan melalui mukjizat tongkat Musa. 

Tuhan menyelamatkan mereka menyeberangi lautan sehingga selamat dari kejaran Fir‘aun.
Bukannya mereka bersyukur dan tambah khusyuk patuh dan taat kepada Tuhan mereka malah bermaksiat kepada Tuhan. Layakkah manusia-manusia seperti itu disebut sebagai manusia pilihan Tuhan? 

Kalau Anda mengatakan layak, itu sama saja Anda menganggap Tuhan sebagai barang yang tolol dan pandir Dalam Bilangan 14:27, Tuhan mensifati Bani Israel sebagai umat yang jahat. Firman Tuhan kepada Musa dan Harun, 

”Berapa lama lagi umat yang jahat ini akan bersungut-sungut kepadaKu ? Segala sesuatu 
yang disungutkan orang Israel kepadaku telah Kudengar.”

Sekali lagi layakkah umat yang jahat itu dipilih sebagai yang terbaik di antara sesama manusia? 

Kalau umat pilihan Tuhan adalah umat yang jahat, terus bagaimana yang lain? Apakah kalian akan mengatakan Tuhan suka kejahatan? Tentu umat yang jahat tidak layak dipilih sebagai umat terbaik. 

Sekali lagi, Tuhan melaknat orang-orang yang jahat. Yang disebut umat yang jahat itu adalah Bani Israel yang bersungut-sungut kepada Tuhan, yang berbuat tidak terpuji kepada Tuhan. 

Adapun Bani Israel yang beriman dan taat kepada Tuhan tidak termasuk dalam sebutan umat yang jahat itu. Sebab Musa dan Harun adalah bagian dari Bani Israel dan keduanya tentu tidak termasuk yang dimaksud umat 
yang jahat. 

Sekarang, coba kita lihat, apa kata Al Masih tentang Bani Israel? Dalam Matius 12:34 Al Masih berkata kepada mereka begini,

“Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kalian akan dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat ?”

Al Masih juga mensifati Bani Israel itu seperti ini,

 ”Karena sekalipun melihat, mereka tidak akan 
melihat, dan sekalipun mereka mendengar; mereka tidak akan mendengar, mereka tidak mau mengerti.”[6]

Apakah orang-orang yang disifati Al Masih sedemikian buruk itu layak disebut umat pilihan Tuhan? 

Sejarah juga menulis Bani Israel itu adalah kaum yang membunuhi para nabi. Matius 23:27 mengabadikan tindakan terkutuk itu. Silakan disimak, 

”Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu!”. Itu kejahatan Bani Israel yang diabadikan dalam Matius 23 : 37. 

Apakah bangsa pembunuh para Nabi layak disebut bangsa pilihan?"

Muka Rabi Benyamin dan Baruch tampak merah padam menahan amarah mendengar pemaparan Fahri. 

Baruch tidak bisa menahan diri, ia angkat tangan dan langsung angkat suara,

"Moderator, pembicara ini berbicara seenaknya dan yang dibicarakan semuanya omong kosong! Jelas sekali semua pemaparannya menunjukkan dia anti Yahudi, otak orang ini antisemit! Dia tidak layak berbicara di forum ini!"

"Tuan Baruch, tolong Anda tenang jangan memotong penjelasan Dr. Fahri. Biarkan dia menuntaskan pemaparannya. Jika Anda tidak sepakat nanti ada waktunya Anda mengeluarkan argumentasi Anda. Silakan teruskan Dr. Fahri!"

"Tuan Baruch, sepertinya Anda tidak pernah berdiskusi di forum ilmiah sehingga begitu mudah memberi stempel yang tidak sepakat dengan pendapat Anda sebagai antisemit. 

Anda kayaknya juga jarang membaca kitab suci. Apa yang saya sampaikan ada di Perjanjian Lama yang itu adalah isi kitab suci 
Anda, dan ada di perjanjian Baru. Jadi saya tidak omong kosong. Baik, yang saya paparkan tadi itu baru sebagian kecil sifat-sifat buruk Bani Israel yang dijelaskan dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Yang jelas, Bani Israel terbukti banyak melakukan dosa, kejahatan dan melanggar aturan Allah. 

Maka janji Allah memuliakan mereka otomatis batal dengan sendirinya. Bahkan karena dosa-dosa mereka, Allah menghajar mereka sampai hancur lebur. Coba simak,

“Kemudian Tuhan akan menghajar orang Israel sehingga tergoyah-goyah seperti gelagah di air dan ia akan menyentakkan mereka dari tanah yang baik ini yang telah diberikan kepada nenek moyang mereka, ia akan menyerakkan mereka ke seberang sungai Efrat sana, karena mereka telah membuat tiang-tiang berhala mereka yang dengan demikian menyakiti hati Tuhan. Ia akan lepas tangan terhadap orang Israel karena dosa Yerobeam dan yang mengakibatkan orang Israel berdosa pula.[7]

Firman Tuhan itu benar menjadi kenyataan, kira-kira tahun 720 SM kerajaan Bani Israel diserang Kerajaan Asyiria dan mereka terusir. Karena dosa-dosa Bani Israel itu Tuhan murka dan hanya menyisakan Yehuda. Coba simak,

“Sebab itu Tuhan sangat murka kepada Israel dan ia menjauhkan mereka dari hadapannya tidak yang tinggal kecuali suku Yehuda saja. [8]

Kemudian sejarah mencatat, ternyata Yehuda pun melanggar aturan Tuhan. Yehuda berbuat dosa yang membuat Tuhan juga murka kepadanya. Tuhan pun membatalkan janjiNya 

“ Lalu berfirmanlah TUHAN: “Juga orang Yehuda akan Kujauhkan dari hadapanKu seperti Aku menjauhkan orang Israel, dan Aku akan membuang kota yang Kupilih ini, yakni Yerusalem, dan rumah ini, walaupun Aku telah berfirman tentangnya; NamaKu akan tinggal disana!”[9]

Karena dosa-dosa dan kejahatan-kejahatan itu maka Tuhan mencabut segala keutamaan yang pernah dijanjikan kepada Bani Israel. Tuhan mencabut damai sejahtera, rahmat, kasih setia, dan belas kasihan dari umat Yahudi atau Bani Israel itu. Dalam Yeremia 16:5 dijelaskan,

“Sungguh, beginilah firman Tuhan: Janganlah masuk kerumah perkabungan, dan janganlah pergi meratap dan janganlah turut berdukacita dengan mereka, sebab Aku telah menarik damai sejahtera pemberianKu dari pada bangsa ini, demikianlah firman Tuhan, juga kasih setia dan belas kasihanKu.”

Ini hanya sebagian kecil penggambaran sifat-sifat buruk Bani Israel dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian baru. Sifat-sifat yang sungguh tidak layak disebut sebagai bangsa pilihan Tuhan.

Karenanya, penyebutan sebagai bangsa pilihan Tuhan jelas bukan mutlak tapi bersyarat. Selama syarat yang diberikan Tuhan dipenuhi maka predikat itu layak disandang. Bahkan siapapun yang beriman kepada Tuhan, mentaati aturan-aturan Tuhan, menjauhi berbuat maksiat dan aniaya, berbuat baik 
kepada Tuhan dan sesama manusia ia layak menyandang predikat sebagai manusia atau bangsa pilihan Tuhan.

Dalam Islam, konsep sebaik-baik umat juga ada. Di dalam Al Qur‘an, Tuhan berfirman,

"Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah."[10]

"Ummat Islam mendapat predikat khaira ummah, ummat terbaik. Itu bukan predikat mutlak tanpa syarat. Ada syaratnya untuk bisa menjadi umat terbaik. 

Ada tiga syarat, pertama menyuruh berbuat 
yang makruf, menyuruh berbuat baik. Ini tidak berarti hanya menyuruh, tetapi sebelum menyuruh ia harus terlebih dulu berbuat baik. Terbiasa mengamalkan kebaikan. 

Dan ia tidak mencukupkan baik sediri, ia ingin lingkungannya baik, masyarakatnya baik, maka ia menyuruh sesamanya berbuat baik.

Syarat kedua, harus berani mencegah kemungkaran. Tentu ia sendiri harus terlebih dulu menjauhi segala bentuk kemungkaran, kejahatan, dan dosa. Dan ia berani mencegah orang lain dari yang munkar. Ini tidak semua orang berani. 

Sifat ini, biasanya dimiliki oleh para nabi dan rasul. Yang menjalankan sifat seperti ini sesungguhnya dia meneladani para nabi dan rasul. 

Dan syarat ketiga, yang sesungguhnya adalah paling asas dari semua syarat itu yaitu beriman kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam. 

Itu adalah syarat yang sama yang diminta oleh Allah kepada Nabi Ibrahim dan keturunannya.
Sedikit catatan, bahwa janji Allah kepada Nabi Ibrahim itu mencakup semua keturunan Ibrahim. 

Di awal mula janji Allah kepada Ibrahim tidak ada pengkhususan pada keturunan tertentu. Artinya semua keturunan Ibrahim baik dari jalur Sarah maupun Hajar jika setia pada janji Allah maka berhak mendapatkan predikat bangsa pilihan. 

Dan itu terbukti, di kemudian hari, salah satu keturunan Ibrahim menjadi manusia paling mulia di atas muka bumi ini. Dan itu adalah Muhammad Saw."

Tiba-tiba Rabi Benyamin berdiri dan angkat tangan, dan langsung memotong,

"ltu tidak benar! Itu tidak benar! Janji Tuhan hanya untuk keturunan Ishak dan Yakub!"

Fahri hanya tersenyum. Profesor Charlotte menegur Rabi Benyamin, 

"Mohon Rabi Benyamin diam dulu. Nanti ada kesempatan untuk diskusi. Biarkan Dr.Fahri menyelesaikan uraiannya. Mohon Dr. Fahri 
dipersingkat, tentang Amalek bagaimana?"

"Baik Profesor Charlotte. Sebelum masuk Amalek perkenankan saya sedikit memperjelas apa yang baru saya sampaikan sekaligus menjawab apa yang baru saja dikatakan Rabi Benyamin. 

Dalam Perjanjian Lama dijelaskan kenapa Tuhan sampai bersumpah kepada Abraham akan memberkati Abraham dan anak turun Abraham adalah karena totalitas Abraham dalam taat kepada Tuhan. 

Bahkan ketika diminta menyembelih anaknya sekali pun. Demi cinta dan taat kepada Tuhan, cinta kepada anak tersayang ia kalahkan.
Dalam Kejadian 22:15 – 18 dijelaskan,

“Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham. kataNya: 

“Aku bersumpah demi diriKu sendiri demikianlah Firman Tuhannya : Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepadaKu, maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di 
langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. Olehketurunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firmanKu.”

Menurut versi kalian, Yahudi dan Nasrani, anak Abraham yang disembelih untuk diserahkan kepada Tuhan itu adalah Ishak. Sedangkan menurut Islam, itu adalah Ismail. 

Paling tidak ada dua hal minimal menurut saya yang bisa menjadi semacam bukti kuat bahwa anak itu adalah Ismail bukau Ishak. 

Pertama, bukti sejarah. Singkat saja, Abraham dan Sarah ke Mesir dan kembali membawa hadiah dari Raja Mesir berupa seorang pembantu bernama Hajar. Sampai usia lanjut Abraham dan Sarah belum juga mendapat keturunan. Sarah kemudian tahu diri. Ia sudah tua. Ia mengijinkan Abraham menikahi Hajar. 
Setelah menikahi Hajar, ternyata Hajar hamil, dan lahirlah Ismail. Abraham tentu sangat bahagia punya anak lelaki. Hal itu membuat Sarah cemburu. Sarah minta kepada Abraham agar membawa pergi Hajar dan anaknya. 

Tuhan meminta agar Abraham membawa mereka ke sebuah lembah yang tidak ada 
tanamannya. Itulah Makkah.

Teks di dalam Perjanjian Lama itu berbunyi "menyerahkan anakmu yang tunggal". 

Karena Ismail lahir duluan, anakmu yang tunggal berarti adalah Ismail. Ketika itu belum lahir Ishak. Jadi Ismail masih anak tunggal. 

Anak satu-satunya. Jika yang dimaksud adalah Ishak, maka kalimatnya bukan anakmu yang 
tunggal, sebab Ishak sudah punya saudara. 

Barulah ketika nanti Ibrahim kembali lagi ke Yerusalem, Tuhan memberi kabar gembira kepada Sarah, akan diberi anak lelaki. Dan itu adalah Ishak.

Jika ada teks yang membedakan antara Sarah yang merdeka dan Hajar yang budak, maka teks itu perlu dilihat ulang. 

Hukum menjelaskan seorang budak yang dinikahi tuannya dan melahirkan seorang anak 
lelaki maka statusnya bukan budak lagi. Jadi dilihat dari sejarah yang dimaksud anakmu yang tunggal yang diserahkan kepada Tuhan adalah Ismail.

Kedua, peristiwa penyembelihan itu, yang menjadi lambang ketaatan luar biasa kepada Tuhan bukanlah peristiwa biasa. Itu adalah peristiwa sangat istimewa yang tidak boleh dilupakan begitu saja. 

Islam merayakan peristiwa itu menjadi hari raya Idul Adha. Bahkan disebut juga hari raya Idul Akbar. 

Hari raya yang sangat agung. Perayaan itu berdasarkan riwayat yang mutawatir dari generasi ke generasi sampai ke zaman Nabi Muhammad Saw, bahwa yang disembelih itu adalah Ismail. 

Mutawatir itu diriwayatkan oleh banyak orang sampai taraf mustahil bersepakat bohong. Contoh kabar mutawatir, menara Eiffel ada di Paris. Itu dikabarkan banyak orang yang tidak mungkin bersepakat dusta sehingga dijamin kebenaran beritanya.

Ketaatan anak itu menjadi penyebab seluruh keturunan Abraham diberkahi. 

"Dr. Fahri, saya kira sudah cukup jelas. Sekarang tentang Amalek, Anda punya pendapat?" Prof. Charlotte memotong.

"Baik Prof. Tentang Amalek. Apa yang disampaikan oleh Tuan Baruch itu sangat berbahaya sekali.

Pemahaman itu sangat membahayakan kemanusiaan. Memahami teks-teks kitab suci tidak boleh sepotong-sepotong. 

Ketika pemahaman tentang bangsa pilihan sudah saya jelaskan dengan cukup detil, maka pemahaman tentang Amalek seperti yang disampaikan Tuan Baruch sesungguhnya secara otomatis sudah runtuh.

Apa yang disampaikan Tuan Baruch siapa saja, selain Yahudi yang menjadi penghalang bagi bangsa Yahudi, yang membenci bangsa Yahudi, yang bermusuhan dengan Yahudi adalah termasuk golongan Amalek yang wajib ditumpas. 

Bahkan semua orang Arab, orang muslim, orang Palestina adalah Amalek. 

Berarti saya juga Amalek dimata Tuan Baruch. Sebab saya seorang muslim. Benar Tuan Baruch?" tanya Fahri kepada Baruch.
Baruch gelagapan.

"Tuan Baruch, Dr. Fahri menanyakan, apakah dia dalam definisi Anda termasuk Amalek? Sebab dia seorang muslim?" Prof.Charlotte mempertajam pertanyaan Fahri.

"Hmm... bisa jadi." Gumam Baruch.

Fahri, Prof. Charlotte dan sebagian besar hadirin terhenyak mendengar jawaban Baruch.

"Okay, tidak masalah kalau Anda menganggap saya termasuk Amalek. Pertanyaannya, apakah berarti Anda akan membunuh saya, menumpas saya, Tuan Baruch?"
Baruch diam. Semua diam menunggu jawaban Baruch. 

"Seharusnya hal itu tidak perlu ditanyakan. Dari apa yang sudah saya sampaikan sebenarnya sudah sangat jelas." Jawab Baruch.

"Oh begitu. Berarti saya harus dibinasakan. Bahkan kalau saya punya domba, domba saya pun harus dibinasakan. Pertanyaan saya, apa salah saya kepada Anda, dan kepada bangsa Yahudi? 

Apakah hanya karena diskusi ilmiah ini, yang di dalam diskusi ini saya tidak sepakat dengan pendapat Anda lantas Anda memvonis saya sebagai Amalek yang harus dibinasakan? 

Apakah karena saya memeluk Islam, yang 
berbeda dengan Anda, terus saya dicap Amalek yang harus dibinasakan sampai akhir zaman?

Sungguh, itu konsep yang sangat berbahaya bagi kemanusiaan. Tuan Baruch, silakan Anda baca literatur yang ditulis kalangan rabinik Yahudi yang lebih bijak. 

Banyak saya jumpai kalangan rabinik yang lebih bijak mengatakan bahwa bangsa Amaleknya wazir Haman yang jahat itu sudah punah ribuan tahun yang lalu. 

Saat ini sudah tidak ada lagi garis keturunan bangsa Amalek itu. Karena itu perintah di dalam Tamat untuk memusnahkan Amalek tidak bisa lagi dianggap mengikat. 

Sebab membunuh manusia yang tidak bisa dibuktikan secara yakin sebagai keturunan Amalek adalah tindakan ceroboh. Termasuk 
membunuh orang-orang Arab dan lainnya di zaman modern itu, dengan alasan dianggap Amalek, jelas sebuah kesalahan yang nyata. Saya misalnya, asli keturunan Jawa. Dari mana saya punya garis keturunan Amalek.

Kalangan rabinik Yahudi yang lebih bijak juga menyeru agar dalam membaca teks kitab suci Taurat sebaiknya disertai dengan menggali komentar-komentar lisan yang membantu menafsirkannya. 

Perintah untuk memusnahkan Amalek, menurut filsuf Yahudi yang disegani yaitu Maimonides, tidak boleh serta merta ditafsirkan secara harfiah sebagai panggilan untuk membinasakan suatu bangsa musuh secara fisik. Tetapi sebagai seruan agar menghilangkan perilaku jahat seperti Amalek di dunia ini.

Jangan dilupakan, di dalam kitab suci Tuan Baruch ada perintah mengasihi orang asing. Dan orang asing itu tentu bukan yang sebangsa atau sekeyakinan dengan Tuan Baruch. Di dalam lmamat 19:34, tertulis 
disana,

“Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu,seperti orang Israel asli di antaramu, dan kasihilah dia seperti dirimu sendiri. Karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir. Akulah Tuhan, Allahmu.”

Konsep Amalek seperti yang disampaikan oleh Tuan Baruch tidak bisa diterima dengan logika yang sehat. Bahkan kalangan Yahudi yang modern dan mau berpikir terbuka menolak konsep Amalek yang sangat rasis itu. Mereka bahkan menolak konsep zionis yang mendirikan negara Israel.

Tentara-tentara zionis Israel yang tidak berperikemanusiaan di Palestina. Mereka menggusur dan merobohkan rumah penduduk aslinya. Mereka mengusir paksa warga asli Palestina. Mereka membunuhi perempuan dan anak-anak Palestine yang tidak berdosa. 

Tindakan itu sangat bertentangan dengan 
nilai-nilai kemanusiaan secara umum, juga bertentangan dengan perintah Tuhan untuk mengasihi sesama dan orang asing itu. 

Zionis Israel seperti itu boleh dikatakan lebih kejam dari Nazi. Bisa jadi mereka salah dalam memahami konsep Amalek, sama seperti kesalahan yang terjadi pada Tuan Baruch. 

Yahudi melakukan tindakan jahat seperti zionis Israel itu tidak layak disebut sebagai bangsa pilihan Tuhan, ia layak disebut sebagai penjahat keturunan ular, seperti dikatakan oleh Al Masih. Ini saja terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf jika ada yang tidak berkenan!"

Begitu Fahri mengakhiri penjelasannya, Brenda dan Heba berdiri memberikan aplaus diikuti nenek Catarina dan Prof.Charlotte. Tak ayal sebagian besar peserta diskusi di ruangan itu. Mereka berdiri dan memberikan tepuk tangan panjang. 

Fahri tidak mengira akan mendapatkan penghormatan seperti itu. Sesi tanggapan dibuka. Belasan orang angkat tangan. Prof.Charlotte memberikan kesempatan kepada empat orang untuk menanggapi atau bertanya atas uraian yang telah disampaikan para pembicara. 

Diskusi berjalan seru. Dari para penanggap, ada yang tidak setuju dengan apa yang disampaikan oleh Fahri, namun lebih banyak yang sepakat. Bahwa predikat bangsa pilihan itu bersyarat dari Tuhan. 

Untuk masalah Amalek hampir semua penanggap mengecam konsep yang disampaikan Baruch dan memuji pandangan Fahri.

Rabi Benyamin, Baruch dan Prof. Thomas tentu saja membela pendapatnya dengan tambahan 
argumentasi, namun Fahri mampu menghadirkan argumentasi lanjutan yang tidak kalah rasional dan ilmiah. Diskusi itu terpaksa disudahi oleh Profesor Charlotte ketika waktu sudah habis. 

Kubu Rabi Benyamin dan Baruch tampak belum puas dengan hasil diskusi itu. Sementara Fahri, yang boleh dikatakan menjadi bintang pada acara itu, langsung diserbu banyak orang untuk meminta alamat, bahkan sebagian hendak mengundangnya untuk diskusi lanjutan. 

Fahri menanggapi satu persatu permintaan orang-orang itu dengan sabar. Prof. Charlotte duduk menunggu sampai Fahri selesai melayani orang-orang itu satu persatu. Begitu 
selesai Prof. Charlotte mendekati Fahri dan menyampaikan terima kasih yang mendalam.

"Saya merasa tidak salah memintamu untuk mengajar di universitas ini. Diskusi tadi benar-benar hangat. Meskipun ada bagian-bagian yang saya tidak sependapat denganmu, tetapi konsep bangsa pilihan Tuhan yang kau sampaikan lebih rasional. 

Juga pemahaman tentang bangsa Amalek yang kau kemukakan bisa membuka cakrawala baru bagi para Yahudi ekstrim. Oh ya, tentang debat di Oxford kau sudah siap? 

Saya mendapat tembusan dari pihak Oxford Union bahwa waktunya sudah dekat."

'Insya Allah Profesor."

Diskusi dan debat siang itu juga dihadiri beberapa perempuan bercadar. Perempuan-perempuan bercadar itu tidak semuanya orang muslim, ada juga yang bercadar itu adalah perempuan-perempuan Yahudi. 

Salah satu perempuan bercadar itu begitu detail menyimak diskusi itu dari awal hingga akhir. 

Bahkan ketika Fahri berbincang berdua dengan Prof. Charlotte, sepasang mata perempuan bercadar itu mengamati Fahri dari kejauhan. Sayangnya, Fahri sama sekali tidak menyadarinya.

Ketika Fahri berjalan meninggalkan ruangan itu perempuan bercadar itu tetap diam duduk di sebuah kursi yang terletak agak di pojok ruangan. Perempuan bercadar itu terus memperhatikan Fahri dengan kedua mata berkaca-kaca. Fahri sama sekali tidak menengok dan memperhatikannya. Yang diingat Fahri adalah nenek Catarina, apakah harus kembali dibawa ke klinik ataukah sudah boleh dibawa ke rumahnya.

Ternyata nenek Catarina menunggu di luar dan memaksa Fahri untuk membawanya pulang ke rumahnya di Stoneyhill Grove. Nenek itu benar-benar tidak mau lagi dikembalikan ke Musselburgh Primary Care Center. 

Fahri sama sekali tidak bisa membujuk nenek itu agar kembali dirawat. 

"Jangan paksa aku, apapun yang terjadi pada diriku akulah yang menanggungnya. Aku ingin kembali ke rumah." Kata nenek Catarina kukuh.

Fahri mau tidak mau harus menuruti keinginan nenek itu.



                      *****




______________________________________________

[1] Qs. Al Baqarah : 47 dan 122
[2] Qs. Al Baqarah : 124
[3] Kejadian 17 :7
[4] Keluaran 19: 5-6
[5] Ulangan 28 : 15-19
[6] Matius 13 : 13
[7] I Rajaraja 14 : 15
[8] II Rajaraja 17 : 18
[9] II Rajaraja 23 : 27
[10] Qs.Ali Imran : 110


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...