PANASNYA BUNGA MEKAR : 20-03
Dalam pada itu, Senapati yang memerintahkan ketiga orang itu untuk mengikutinya menghadap Akuwu masih tetap duduk di atas punggung kudanya. Ia merasa yakin bahwa kedua orang pengawalnya yang terpilih itu akan sanggup mengatasi keadaan, meskipun seandainya ketiga orang itu bersama-sama akan bertempur melawan para pengawalnya itu.
Sejenak kemudian Mahisa Bungalan sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Ia berdiri di pinggir jalan, sementara kedua lawannya datang dari arah yang berbeda.
“Jangan hiraukan kedua orang pamannya” berkata Senapati yang masih di punggung kudanya, “jika mereka berusaha melarikan diri, aku sendiri yang akan menangkap mereka”
“Gila” Mahisa Bungalan menggeram. Ia menjadi jengkel karena kedua orang pamannya itu sama sekali tidak berbuat apa-apa meskipun mereka mendengar betapa Senapati itu telah merendahkan mereka.
Karena itu, maka Mahisa Bungalan telah menumpahkan kejengkelannya kepada kedua orang pengawal itu. Ia berniat untuk menunjukkan bahwa ia benar-benar seseorang yang tidak dapat diperlakukan demikian menyakitkan hati.
Ketika kedua pengawal itu menjadi semakin dekat, maka Mahisa Bungalan pun telah bergeser. Ia menjulurkan tangannya menyerang seorang di antaranya. Hanya sekedar untuk memancing agar lawannya pun mulai bergerak menyerangnya.
Lawannya bergeser. Namun seperti yang diharap, dengan garangnya ia menyerang dengan kakinya yang mendatar mengarah ke lambung.
Mahisa Bungalan yang jengkel itu tidak melepaskan kesempatan itu. Pada langkah-langkah pertama ia ingin membuktikan bahwa kedua pengawal itu tidak akan mampu berbuat apa-apa sama sekali.
Karena itu, maka Mahisa Bungalan telah berbuat sesuatu yang mengejutkan. Bukan saja bagi pengawal yang sedang menyerang itu, tetapi juga kedua orang yang lain.
Sementara kaki pengawal itu terjulur, maka Mahisa Bungalan telah bergeser setapak. Dengan kecepatan yang tinggi, Mahisa Bungalan telah menangkap kaki pengawal itu. Kemudian dengan kekuatan yang menghentak ia melemparkan pengawal itu menghamtam kawannya.
Kedua pengawai itu sama sekati tidak menyangka, bahwa hal itu dapat dilakukan oleh Mahisa Bungalan. Karena itu, maka mereka tidak dapat mengelak sama sekali ketika keduanya harus berbenturan satu sama lain.
Senapati yang masih duduk di punggung kudanya itu pun terkejut. Bahwa hal itu dapat dilakukan oleh Mahisa Bungalan, telah menghentak jantungnya, sehingga darahnya pun bagaikan berhenti mengalir. Apalagi ketika kemudian ia melihat Mahisa Bungalan itu berdiri saja sambil bertolak pinggang menunggui kudua orang pengawal yang sedang berusaha untuk bangkit.
“Cepat” bentak Mahisa Bungalan, “berdiri dan lawan aku lagi”
Kedua pengawal itu pun kemudian meloncat berdiri. Dengan wajah yang merah membara mereka memandangi Mahisa Bungalan yang berdiri tegak.
“Kalian sudah mendapat bukit perlawanannya” berkata Senapati yang masih berada dipunggung kuda itu, “jangan ragu-ragu lagi. Kesalahan kalian adalah, bahwa kalian terlalu baik hati dan ragu-ragu. Mungkin kalian menganggap anak itu terlalu lemah sehingga kalian menjadi lengah, atau kalian masih mempunyai belas kasihan untuk bertindak dengan sungguh-sungguh”
“Ya. Ternyata anak itu benar-benar anak gila yang harus di selesaikan dengan cara yang keras” geram salah seorang pengawal itu.
“Kalian hanya dapat berbicara tanpa ujung pangkal” berkata Mahisa Bungalan, “sudah aku katakan, bahwa aku akan melawan perintah kalian. Kami mengikuti kalian sampai di bulak ini sekedar menolong agar kalian tidak kehilangan wibawa di hadapan rakyat padukuhan yang sedang berguncang itu. Setelah kita semuanya berada di tempat yang cukup jauh, dan di bulak panjang yang tidak banyak dilihat orang, maka kalian harus melihat satu kenyataan, bahwa kalian bagi kami memang tidak berarti apa-apa”
Kata-kata Mahisa Bungalan itu benar-benar menyakitkan hati. Karena itu kedua orang pengawal itu pun segera bersiap. Mereka maju selangkah demi selangkah mendekati Mahisa Bungalan.
Mahisa Bungalan bergeser. Ia sudah bersiap sepenuhnya ketika kedua orang itu mengambil arah. Bahkan kemudian Keduanya siap menyerang beruntun dari arah yang berbeda.
Namun sikap mereka terlalu lugu bagi Mahisa Bungalan. Apa yang akan mereka lakukan dengan mudah dapat dilihat pada langkah-langkah mereka. Meskipun mereka nampak garang bagi orang lain, namun bagi Mahisa Bungalan, mereka adalah orang-orang yang terlalu sederhana.
Mereka terlalu percaya kepada kemampuan mereka bertempur sesuai dengan latihan-latihan yang mereka lakukan di dalam lingkungan para pengawal Akuwu. Bagi orang kebanyakan, bahkan bagi mereka yang baru mulai mengenal ilmu kanuragan, para pengawal itu adalah orang-orang yang ditakuti. Tetapi tidak ada artinya bagi Mahisa Bungalan.
Karena itu, ketika orang-orang itu mulai menyerang, maka niat Mahisa Bungalan untuk memperlakukan mereka dengan garang pun menjadi susut. Bahkan kemudian Mahisa Bungalan menganggap bahwa mereka adalah orang-orang yang sama sekali tidak mengerti, apa yang telah mereka lakukan.
“Aku tidak yakin, bahwa seorang demi seorang pengawal ini lebih baik dari pemimpin perampok yang tertangkap itu” berkata Mahisa Bungalan di dalam hatinya.
Sebenarnyalah, bahwa kedua pengawal itu masih belum memiliki kemampuan setingkat dengan pemimpin perampok yang telah tertangkap kembali. Bahkan mungkin kedua pengawal ini akan kehilangan kepribadian mereka sendiri, jika mereka berhadapan dengan Ki Buyut yang memiliki kemampuan mempengarui orang lain lewat sorot matanya.
“Apakah Akuwu itu memiliki kewibawaan yang cukup dengan pengawal-pengawalnya yang terpilih seperti ini” bertanya Mahisa Bungalan kepada diri sendiri.
Tanpa sesadarnya, ia memandang sekilas kepada pamannya. Witantra. Pada mulanya Witantra itu pun seorang Senapati pada sebuah Pakuwon yang besar, Tumapel Yang kemudian berkembang dan bahkan Ken Arok telah menjadikan Pakuwon itu pusar dari sebuah pusat pemerintahan yang baru.
“Tetapi bagaimana dengan Pakuwon ini” desis Mahisa Bungalan.
Sejenak kemudian, maka pertempuran pun segera terjadi lagi. Kedua orang pengawal itu bertempur dengan tangkasnya. Mereka menyerang sambil berloncatan dengan senjata di dalam genggaman. Mereka mengacu-acukan pedang mereka. Dengan sungguh-sungguh mereka berusaha untuk mengenai lawannya. Bahkan nampaknya keduanya tidak lagi berusaha untuk mengekang diri dengan pedang mereka.
Tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang dapat mengenai Mahisa Bungalan. Bahkan menyentuh pakaiannya pun tidak. Keduanya tidak mampu mengimbangi kecepatan gerak anak muda itu. Tanpa senjata Mahisa Bungalan berhasil menghindari serangan-serangan kedua pengawal yang menurut mereka, adalah serangan-serangan yang sangat berbahaya.
Senapati yang duduk di punggung kuda itu akhirnya tidak dapat tinggal diam. Kedua orang pengawalnya sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa terhadap seorang saja di antara ketiga orang yang dianggapnya telah memberontak itu.
Karena itu, maka Senapati itu pun menggeram sambil meloncat turun dari kudanya. Sambil mengikat kudanya pada sebatang pohon perdu. Senapati itu berkata, “Kalian memang tidak dapat dibelas kasihani. Bersiaplah untuk mati, karena jika aku sendiri sudah turun tangan, maka nasib kalian sulit untuk diramalkan”
“Benar Ki Sanak” jawab Mahisa Agni, “seperti nasib kami yang sulit diramalkan, nasib Ki Sanak pun sulit untuk diramalkan. Karena itu, sebaliknya Ki Sanak tidak usah mulai dengan kerja yang sia-sia. Dua orang pengawalmu yang terpecaya sama sekali tidak dapat mengalahkan seorang di antara kami, justru yang paling muda. Lalu, apakah yang kira-kira dapat kau lakukan menghadapi kami berdua?”
“Persetan” geram Senapati itu, “kau ternyata salah sangka. Kedua pengawalku itu memang tidak dapat mengalahkan seorang kawanmu. Tetapi jangan kau kira bahwa kalian berdua akan dapat mengalahkan aku seorang diri, karena sebenarnyalah kemampuanku berlipat sepuluh dari kedua orang pengawal itu”
“O” Mahisa Agni mengangguk-angguk, “benarkah Senapati dari satu Pakuwon memiliki kemampuan lipat sepuluh dari pengawalnya? Itukah agaknya maka Akuwu dari Tumapel yang kecil itu berhasil mengalahkan Kediri dan kemudian mengangkat dirinya menjadi seorang Maharaja yang Perkasa. He, apakah Pakuwon Ki Sanak yang memiliki Senapati yang tangguh akan berusaha juga untuk melatah Singasari”
Witantra yang tertawa berkata, “Jangan bermimpi Ki Sanak. Sudahlah. Marilah kita akhiri persoalan kita sampai di sini. Biarlah kami meneruskan perjalanan kami. Jangan ganggu kami, dan kami pun tidak akan mengganggu tugas Ki Sanak. Bukankah tugas Ki Sanak sudah Ki Sanak lakukan di Kabuyutan itu? Laporkan sajalah hasil tugas kalian kepada Akuwu”
“Gila” geram Senapati itu, “kenapa kau mengigau tentang Kediri, Tumapel dan Singasari” ia berhenti sejenak, lalu, “yang penting sekarang, aku akan menangkap kalian bertiga”
“Dan kalian akan dengan leluasa melakukan pekerjaan kalian dengan menghasut dan menimbulkan benturan benturan di Kabuyutan-Kabuyutan yang lain?” bertanya Senapati itu, “bukankah hanya kebetulan saja bahwa kau berdiri dipihak yang benar di kabuyutan itu. Tetapi mungkin di Kabuyutan yang lain kau tidak menghiraukan lagi, siapakah yang benar dan yang salah. Bagimu, benturan dan geseran yang terjadi, akan dapat memberikan keuntungan bagi kalian”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dipandangnya wajah Senapati yang tegang itu. Bahkan Senapati telah melangkah maju dengan tangan di hulu pedang.
“Menyerahlah” geramnya. Namun dalam pada itu Senapati itu terkejut karena ia melihat salah seorang pengawalnya yang bertempur melawan Mahisa Bungalan telah terpelanting jatuh meskipun senjatanya masih belum terlepas dari tangannya.
Mahisa Agni menarik nafas panjang, sementara Witantra tersenyum sambil berkata, “Ki Sanak. Apakah Ki Sanak tidak dapat melihat kanyataan itu? Apakah Ki Sanak sekedar berpegang kepada harga diri dan kewibawaan. Dengarlah, kami sudah menolong mempertahankan kewibawaan Ki Sanak dihadapan orang-orang Kabuyutan itu. Bagaimanakah kira-kira yang akan dikatakan oleh orang Kabuyutan itu jika mereka melihat seorang pengawalmu terpelanting jatuh justru dua orang sekaligus Bertempur melawan seorang di antara kami”
“Itu bukan ukuran” geram Senapati itu, “karena aku sendiri belum terlibat. Marilah, jangan banyak bicara. Jangan salahkan aku jika kalian akan mati. Aku mulai meskipun kalian tidak melawan”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dipandanginya wajah Witantra yang menegang. Bahkan kemudian ia pun berkata kepada Witantra, “Marilah. Jika Senapati ini memang ingin menyakinkan dirinya tentang kita. Kita akan melayaninya dan menyakinkannya bahwa ia tidak dapat berbuat sesuatu atas kami. Ia harus melihat kenyataan, bahwa kami akan dapat melepaskan diri kapan saja kami kehendaki”
Senapati itu benar-benar tidak berbicara lagi. Namun nampaknya ia pun masih belum mempergunakan senjatanya. Dengan serta merta ia telah meloncat menyerang Mahisa Agni dengan tangannya yang terjulur lurus ke depan.
Mahisa Agni bergeser ke samping, sementara serangan itu tidak mengenai sasarannya. Namun ternyata Senapati itu mampu bergerak cepat. Demikian kakinya menjejak tanah, maka ia telah meloncat lagi menyerang. Bukan Mahisa Agni, tetapi Senapati itu telah menyerang Witantra.
Witantra agak terkejut juga. Tetapi ia pun sempat mengelak pula, sehingga serangan Senapati itu tidak mengenainya.
Dalam pada itu, Mahisa Agni dan Witantra sama sekali tidak mempunyai minat untuk bermain-main terlalu lama. Karena itu, maka mereka seolah-olah telah bersepakat untuk segera mengakhiri pertempuran itu.
Karena itu, ketika Senapati itu menyerang sekali lagi, Mahisa Agni pun telah menghindarinya dan sekaligus menyerangnya. Dengan cepat dan keras. Senapati itu telah didorong ke arah Witantra dengan telapak tangannya.
Witantra pun mengerti, apa yang dimaksud oleh Mahisa Agni. Ia pun telah siap untuk menerima Senapati itu dengan telapak tangannya pula. Namun ternyata Senapati itu memiliki kecepatan bergerak pula. Ia sadar bahwa ia akan dipermainkan kedua lawannya. Karena itu. maka iapun menggeliat dan meloncat kesamping, sehingga ia tidak lagi terdorong kearah Witantra.
Mahisa Agni menarik nalas dalam-dalam. Ternyata Senapati itu tidak selemah yang diduganya. Bahkan kemudian mereka melihat Senapati itu telah bersiap menyerangnya kembali sambil berkata, “Kau telah menghina aku”
Mahisa Agni dan Witantra saling berpandangan. Nampaknya Senapati itu mengerti, bahwa Mahisa Agni dan Witantra ingin menyelesaikan pertempuran itu dengan cepat dan dengan cara yang sangat sederhana. Karena itu, maka Senapati itu pun menjadi sangat marah dan terhina.
Karena itulah, maka ia pun segera mempersiapkan dirinya. Betapapun juga ia merasa bahwa ia akan dapat melawan kedua orang itu. Meskipun ia merasa betapa kuatnya dorongan Mahisa Agni, namun ia masih belum melihat kekuatan yang sesungguhnya yang ada di dalam diri kedua orang lawannya yang sudah tua itu.
Sejenak kemudian dengan garangnya Senapati itu menyerang pula. Tetapi Mahisa Agni dan Witantra benar-benar menjadi jemu. Sementara Mahisa Agni bergeser setapak, maka Mahisa Bungalan telah melemparkan kedua lawannya, sehingga keduanya jatuh berguling di tanah.
Senapati itu tidak sempat berbuat sesuatu, karena Mahisa Agni justru telah meloncat menyerangnya.
Demikian cepatnya, seningga Senapati itu tidak dapat berbuat sesuatu. Yang dapat dilakukannya adalah mencoba menangkis serangan Mahisa Agni itu. Sehingga dengan demikian telah terjadi benturan diantara keduanya.
Barulah Senapati itu merasa, betapa dahsyatnya tenaga lawan. Meskipun Mahisa Agni hanya mempergunakan sebagian kecil saja dari tenaganya, namun Senapati itu tidak mampu untuk mengimbanginya sehingga, ia telah terdorong beberapa langkah surut, dan bahkan telah kehilangan keseimbangannya.
Tetapi sebelum ia terjatuh, Witantra terah meloncat menangkapnya dan membantunya untuk berdiri tegak.
“Setan alas” Senapati itu mengumpat. Sekaligus ia telah menyerang Witantra yang dirasanya terlalu sombong itu.
Witantra tidak menghindar. Tetapi Witantra menangkis serangan itu sehingga sekali lagi terjadi benturan.
Sekali lagi Senapati itu dihentakkan oleh kekuatan yang tidak diduganya. Oleh kekuatannya sendiri yang seolah-olah telah membentur dinding baja, maka Senapati itu terdorong surut. Tangannya menjadi sakit, bahkan terasa tulang-tulangnya akan retak. Oleh dorongan kekuatan Witantra yang tidak terlalu besar, maka sekali lagi Senapati itu terhuyung-huyung. Namun Mahisa Agnilah yang telah menangkapnya, sehingga Senapati itu tidak terbanting jatuh.
Sekali lagi Senapati itu menhentakkan diri meloncat sambil mengumpat. Namun bagaimana juga, ia tidak dapat mengingkari kenyataan. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia menggeram sambil mencabut pedangnya, “Apaboleh buat. Kalian harus menebus kesombongan kalian dengan kematian. Tidak ada pilihan lain kecuali dengan ujung pedang”
“Sudahlah Ki Sanak” berkata Mahisa Agni, “kau harus melihat kenyataan ini. Bukan maksudku untuk menyombongkan diri, tetapi kau sama sekali tidak akan dapat melawan kami, Permainan senjata hanya akan berbahaya bagi Ki Sanak sendiri”
Senapati itu mengumpat semakin keras. Dengan senjata teracung ia berkata, “Jangan mencoba melawan. Mungkin kau memiliki kelebihan. Tetapi aku adalah seorang yang menguasai ilmu pedang sebaik-baiknya”
Witantra menjadi jengkel juga akhirnya. Tetapi ia masih berusaha mengekang diri. Bahkan kemudian ia masih mencoba berkata dengan nada rendah, “Ki Sanak. Lihat. Anak muda itu akan segera mengakhiri perkelahiannya. Kedua lawannya benar-benar sudah tidak berdaya. Apa kah kau akan melawan kami bertiga?”
Senapati itu menjadi ragu-ragu, sementara Witantra melanjutkan, “Jangan sekedar berpegang pada harga diri. Kau harus melihat kenyataan ini”
Namun Senapati itu menggertakan giginya, “Aku tidak peduli. Aku akan membunuhmu”
Namun belum lagi ia berbuat sesuatu, ia melihat kedua kedua senjata pengawalnya sudah terlempar ke tanah, dan mereka telah terpelanting jatuh, sementara nafas mereka bagaikan berdesakan di lubang hidungnya.
Meskipun demikian, sambil menghentakkan kakinya ia berkata, “Bersiaplah. Bersenjata atau tidak bersenjata, aku akan tetap membunuh kalian. Bertempurlah bersama-sama. Aku akan melawan kalian bertiga”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau bukan seorang prajurit lagi. Tetapi kau sekedar seorang yang keras kepala tanpa dapat mempertimbangkan peristiwa dengan nalar. Baiklah. Anak muda itu akan melawanmu”
Mahisa Agni pun kemudian berpaling kepada Mahisa Bungalan sambil berkata, “Kau dapat memungut sebuah dari senjata lawan-lawanmu yang terlempar itu. Lawanlah Senapati ini”
Mahisa Bungalan menarik nafas panjang. Dengan segan ia memungut sebilah pedang. Kemudian dengan langkah berat ia mendekat sambil berkata, “Kenapa harus aku?”
Mahisa Agni tersenyum. Cepat, aku dan pamanmu akan bersiap di punggung kuda. Setelah kau selesaikan Senapati ini, susul kami berdua. Biarlah mereka bertiga kembali menghadap Akuwu dan berceritera tentang kita”
Senapati itu menjadi sangat marah. Sambil berteriak ia menyerang Mahisa Bungalan. Tetapi Mahisa Bungalan pun telah siap. Karena itu, maka ia mampu mengelakkan serangan itu dan membalas dengan serangan pula.
Dalam waktu sesaat. Senapati itu sudah berada dalam kesulitan, sementara Mahisa Agni dan Witantra benar-benar telah meloncat ke punggung kudanya. Katanya kepada Mahisa Bungalan, “Aku mendahuluimu. Tetapi aku tidak akan berpacu terlalu cepat”
Mahisa Bungalan tidak menjawab. Tetapi ia melihat lawannya semakin cepat. Bahkan ia masih berkata, “Tunggu paman. Aku hanya sebentar”
Senanapati itu benar-benar merasa terhina. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu selain mengumpat-umpat.
Sebenarnyalah bahwa Mahisa Bungalan tidak merasa terlalu sulit untuk menyelesaikan pertempuran itu. Ketika ia menghentakkan serangannya, maka Senapati itu telah terdesak surut.
Karena Mahisa Bungalan memang ingin menyelesaikan pertempuran itu dengan segera, maka ia pun segera memburunya dan dengan kekuatan yang tidak terlawan oleh Senapati itu, iapun telah berhasil merenggut senjata lawannya sehingga terjatuh beberapa langkah dari padanya. Sementara itu, ia pun telah siap menyelesaikan pertempuran itu. Karena itu, maka demikian lawannya kehilangan senjatanya Mahisa Bungalan telah menyerangnya. Tidak dengan pedangnya, tetapi dengan kakinya.
Dalam kebingungan Senapati itu benar-benar tidak berdaya. Serangan Mahisa Bungalan yang cepat itu sama sekali tidak dapat dihindarinya. Karena itu, maka ia telah berusaha untuk menangkisnya.
Namun kekuatan Mahisa Bungalan ternyata jauh melampaui kekuatannya. Dengan demikian, maka serangan Mahisa Bungalan itu telah membenturnya dan melontarkannya beberapa langkah. Kemudian tanpa dapat mempertahan kan lagi keseimbangannya, Senapati itu pun jatuh terbanting.
Demikian kerasnya dorongan kekuatan Mahisa Bungalan, sehingga terasa seakan-akan tulang belakangnya telah patah. Ketika ia berusaha untuk segera bangkit, punggungnya terasa sakit sekali. Sehingga dengan demikian, maka sambil menyeringai ia sekali lagi mengumpat. Namun ia tidak berhasil untuk berdiri, seperti kedua pengawalnya, maka ia tidak dapat berbuat apa-apa ketika Mahisa Bungalan kemudian pergi ke kudanya sambil berkata, “jangan ganggu aku lagi. Aku akan menyusul kedua pamanku itu”
“Anak gila” geram Senapati itu “seluruh pengawal Pakuwon akan mencari kalian bertiga. Kalian akan dibunuh di alun-alun dan kepala kalian akan ditanjir dipintu gerbang kota pakuwon di tiga penjuru”
Mahisa Bungalan memandang Senapati yang masih menyeringai sambil duduk di tanah. Katanya kemudian, “Segeralah bangkit dan tinggalkan tempat ini. Jika ada satu dua orang petani menyaksikan kalian duduk di pinggir parit itu, mereka tentu akan bertanya”
“Anak setan” geram Senapati itu.
Mahisa Bungalan tidak menghiraukannya lagi. Namun ia pun segera meninggalkan tempat itu. Ketika sekali ia berpaling, maka ia. masih melihat Senapati itu mencoba untuk berdiri. Tetapi ia tidak mempedulikannya lagi. Dipacu kudanya menyusul Mahisa Agni dan Witantra yang masih belum terlalu jauh.
Sepeninggal ketiga orang itu. Senapati itu pun masih mengumpat-umpat. Dengan susah payah ia berusaha untuk bangkit. Betapapun perasaan sakit mencengkam punggungnya, namun akhirnya iapun berdiri juga terbungkuk-bungkuk. Tetapi dalam pada itu, ia pun dengan serta merta mengumpati kedua orang pengawalnya, “Bangkit, cepat tikus-tikus dungu. Kedua pengawalnya masih menyeringai kasakitan. Bahkan seorang di antara keduanya rasa-rasanya tidak memiliki kesadaran sepenuhnya, meskipun ia tidak pingsan. Baru kemudian perlahan-lahan ia menyadari keadaannya. Namun perasaan sakitpun bagaikan menggigit-gigit tulang.
Ketika sekali lagi Senapatinya yang marah itu mengumpat, maka barulah ia sadar sepenuhnya, apakah yang sudah terjadi.
Karena itu, dengan menahan rasa sakit, kedua orang pengawal itu pun mencoba untuk bangkit pula. Mula-mula mereka duduk di atas rerumputan di pinggir jalan bertelekan tangannya. Baru kemudian mereka mencoba untuk berdiri betapapun tubuhnya merasa sakit.
Akhirnya kedua pengawal itu pun dapat berdiri tegak seperti Senapati itu pula.
“Kita akan menghadap Akuwu” berkata Senapati itu “kecuali melaporkan keadaan Kabuyutan itu, kita harus melaporkan tentang ketiga orang yang tentu akan sangat berbahaya bagi kita semuanya”
“Ya” sahut seorang pengawalnya “ketiga orang ini akan lebih berbahaya dari sekalompok perampok”
“Para Senapati dan para pengawal akan mencari di seluruh daerah Pakuwon. Aku akan mengusulkan untuk mencari ketiga orang itu dan menangkapnya hidup-hidup” berkata Senapati itu.
“Ya. Orang itu harus ditangkap hidup-hidup” berkata pengawal itu, namun kemudian, “tetapi siapakah yang sanggup menangkapnya. Para Senapati tentu tidak akan dapat mengimbangi kemampuannya”
“Omong kosong” teriak Senapati itu. Namun kemudian suaranya merendah, “orang-orang itu memang memiliki ilmu iblis. Mungkin Akuwu sendiri harus turun tangan. Jika Akuwu sendiri bersedia untuk menangkapnya, maka ketiga orang itu tidak akan mampu menghindar lagi”
“Tetapi apakah Akuwu bersedia melakukannya?” bertanya salah seorang pengawalnya.
Senapati itu menggeleng. Katanya, “Aku tidak tahu. Tetapi adalah kewajiban kita untuk menyampaikannya. Keputusan terakhir terserah kepada Akuwu”
“Ya, segalanya terserah kepada Akuwu” desis pengawalnya.
“Jangan terlalu lama. Jika mungkin, kita jangan kehilangan waktu. Masih ada kesempatan untuk mengejarnya” berkata Senapati itu “semua jalan keluar Pakuwon akan ditutup”
“Akan diperdengarkan isyarat tanda?” bertanya pengawalnya.
“Aku akan mengusulkan” jawab Senapati itu. Kedua pengawal itu tidak menjawab. Namun ketiga Senapati itu pergi mengambil kudanya, keduanya pun segera melakukannya pula. Sambil menyeringai kesakitan mereka naik kepunggung kuda masing-masing. Dan sejenak kemudian kuda merekapun telah berpacu, meskipun perasaan sakit masih mencangkam. Ketiganya ingin segera menghadap Akuwu dan melaporkan apa yang terjadi.
Dengan kemarahan yang masih menghentak-hentak di dada, maka Senapati itu pun melaporkan apa yang dilihat, didengar dan dialaminya.
Akuwu yang masih muda itu pun mendengarkannya dengan penuh perhatian. Namun semakin lama terasa telinganya pun menjadi semakin panas. Senapati yang tidak berdaya menghadapi Mahisa Bungalan itu telah menceriterakan apa yang dialaminya dengan maksud tertentu, sehingga ada beberapa hal yang sengaja atau tidak sengaja tersisip di dalam ceriteranya.
Dengan marah Akuwu itupun kemudian berkata “Lepas dari salah atau tidak bersalah, tetapi menolak perintahmu, itu sudah merupakan satu tindak yang pantas mendapat hukuman”
“Ampun Sang Akuwu. Maksud hamba, bukan untuk menghukum mereka. Tetapi sekedar membawa mereka menghadap” berkata Senapati itu.
“Aku mengerti. Karena itu, maka aku menganggap mereka bersalah. Meskipun aku merasa heran bahwa kalian bertiga tidak mampu menangkap tiga orang yang meskipun mereka disebut orang yang luar biasa karena mereka berhasil menangkap pemimpin perampok yang melarikan diri itu” geram Akuwu yang muda itu.
“Satu kelengahan Sang Akuwu” desis Senapati itu, “hamba memang tidak menyangka sama sekali bahwa mereka akan melawan. Karena itu, maka mereka berhasil mendahului menyerang hamba dan kawan-kawan hamba. Kemudian mereka pun sempat melarikan diri”
“Perintahkan. Tangkap mereka” perintah Akuwu “bawa mereka menghadap kepadaku”
Senapati itu dengan serta merta menyahut “Apakah hamba harus memerintahkan untuk membunyikan isyarat? Bahkan isyarat tunda agar dengan cepat dapat diketahui oleh para penjaga di semua jalur jalan keluar dari Pakuwon ini”
Akuwu itu berpikir sejenak. Kemudian katanya, “Baiklah. Isyarat itu tentu menjalar jauh lebih cepat dari derap kuda yang manapun juga. Seluruh Pakuwon harus ikut serta menangkap mereka”
Senapati itu pun kemudian mohon diri dari hadapan Akuwu. Sejenak kemudian, maka kenthongan yang menjadi pusat isyarat dari Pukuwon itu telah berbunyi. Isyarat yang berbunyi dengan irama dua ganda, kemudian disusul dengan tiga ganda. Setiap pengawal dan bahkan setiap orang di Pakuwon itu mengetahui, bahwa Akuwu menjatuhkan perintah untuk menutup semua perbatasan. Tidak seorang pun yang boleh keluar dari Pakuwon. Sehingga dengan demikian setiap orang mengetahui bahwa ada buruan yang gawat yang harus ditangkap.
Orang-orang yang mendengar isyarat itu terkejut. Namun setiap banjar padukuhan dan banjar kabuyutan telah menyahut isyarat itu dan menyambungnya, sehingga isyarat itu memang menjalar dengan cepat ke seluruh daerah Pakuwon.
Padukuhan yang baru saja dijamah oleh perampok itu pun mendengar pula isyarat itu. Ki Demung dan Ki Perapat serta para pengikutnya pun mendengar pula, dan bahkan mereka yang berada di banjar teluh memukul isyarat itu pula.
Para pengawal yang tersebar di jalur jalan yang keluar dan masuk daerah Pakuwon itupun mendengar pula. Mereka pun segera bersiaga di pintu-pintu gerbang, untuk menutup sehingga tidak seorang pun dapat keluar dari Pakuwon.
Sementara itu, jalan-jalan padukuhan yang paling kecil pun terutama di perbatasan telah dijaga pula oleh anak-anak muda di padukuhan itu. Mereka justru lebih garang dari para pengawal. Mereka tidak hanya mencegah orang-orang yang keluar dari daerah Pakuwon. Tetapi mereka menangkap siapapun yang mereka curigai.
“Kami sekedar lewat” tangis seorang laki-laki tua.
“Jangan menangis seperti bayi. Tunggu sajalah di sini. Jika keadaan sudah baik, dan ternyata bukan kau yang diperlukan, maka kau akan kami lepaskan” jawab anak-anak muda.
“Kapan keadaan akan menjadi baik?” bertanya orang tua itu.
“Jika orang yang dicari sudah tertangkap, maka akan terdengar isyarat. Isyarat yang menyebutkan bahwa keadaan sudah menjadi baik dan buruan itu sudah tertangkap” jawab anak-anak muda.
Orang tua itu tidak berhasil melepaskan diri. Ia harus tunduk kepada anak-anak muda yang menjadi lebih garang dari para pengawal itu sendiri.
Dalam pada itu, selain para pangawal, anak-anak muda dan orang-orang di perbatasan yang menutup semua jalan keluar, maka beberapa kelompok pengawal terpilih pun telah meninggalkan pusat pemerintahan Pakuwon menjelajahi padukuhan. Setiap kelompok yang terdiri dari lima orang terpilih itu pun berusaha untuk menemukan tiga orang berkuda dan menangkapnya untuk membawa mereka menghadap Akuwu.
“Betapapun tinggi ilmunya, mereka tidak akan dapat menghadapi para pengawal terpilih” berkata Akuwu muda itu.
Namun Senapati yang melaporkan itu memperingatkan “Mereka memiliki ilmu iblis”
“Bukankah mereka menyerangmu dengan tiba-tiba di saat kalian lengah?” bertanya Akuwu itu, “itu tidak berarti apa-apa. Namun demikian jika perlu, maka para pengawal itu akan dapat minta bantuan para pengawal di perbatasan atau anak-anak muda di setiap padukuhan yang tentu telah bersiap-siap pula”
Senapati itu tidak membantah pula. Bahkan ia pun kemudian telah mendapat perintah-perintah pula untuk berkeliling daerah Selatan dari Kabuyutan itu.
Sementara itu, Ki Demung dan Ki Perapat menjadi gelisah. Ia mengetahui suasana yang kurang baik di saat-saat Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan dibawa oleh Senapati itu. Bahkan mereka pun menduga jauh melampaui peristiwa yang sebenarnya terjadi. Seolah-olah telah terjadi satu peristiwa berdarah, sehingga ketiga orang yang telah menolongnya itu menjadi buronan.
“Jika Akuwu sendiri bertindak, betapapun tinggi ilmu orang-orang itu, namun mereka tidak akan berdaya” desis Ki Demung.
“Kita sudah berhutang budi” sahut Ki Perapat.
Ki Demung menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak mengerti, apa yang sebaiknya dilakukan. Jika benar terjadi perselisihan antara orang-orang yang telah menolongnya itu dengan Akuwu, sudah barang tentu bahwa ia tidak akan dapat berpihak. Jika ia berusaha untuk membalas budi kepada ketiga orang yang tidak mereka kenal dengan pasti itu, maka akibatnya akan sangat pahit bagi mereka. Bukan saja mereka dan beberapa orang yang mengetahui dengan pasti pertolongan yang telah diberikan oleh ketiga orang itu, namun seluruh Kabuyutan itu akan mengalami perlakukan yang kurang baik dari Akuwu.
Karena itu, maka tidak ada pilihan lain dari Ki Demung dan Ki Perapat selain tidak ikut campur dalam persoalan yang terjadi itu.
“Mudah-mudahan isyarat ini tidak ada hubungannya dengan ketiga orang itu” berkata Ki Demung.
“Mudah-mudahan” sahut Ki Perapat, “namun seandainya benar-benar ketiga orang itu harus ditangkap, beruntunglah kita, bahwa Kabuyutan ini tidak terletak di perbatasan.
“Tetapi bagaimana sikap kita jika ketiga orang itu datang kembali ke Kabuyutan ini dan minta perlindungan kepada kita, sementara persoalan Ki Buyut dan para perampok itu masih belum selesai. Bukankah Senapati yang datang kemari melihat keadaan itu akan dapat mengkaitkan segala peristiwa yang terjadi ini dengan ketiga orang yang dicurigainya itu? Memang masuk akal, agaknya sulit dimengerti bahwa seseorang telah mempertaruhkan nyawanya tanpa pamrih sama sekali” bertanya Ki Demung, seolah-olah ditujukan kepada diri sendiri.
Tidak seorang pun yang menjawab. Mereka pun menjadi bingung, apakah yang harus mereka lakukan.
Dalam pada itu, Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan pun terkejut mendengar isyarat itu. Meskipun mereka tidak tahu pasti, arti dari suara kentongan yang bersahutan dan merambat dengan cepatnya itu, namun terasa bahwa mereka adalah sasaran dari suara isyarat itu.
“Senapati itu memang gila” geram Mahisa Bungalan “jika aku membuatnya pingsan, maka isyarat itu tentu tidak akan secepat ini menjalar keseluruh wilayah Pakuwon yang luas ini”
“Terlambat” desis Mahisa Agni “semua jalan tentu sudah ditutup”
“Tetapi jika maksud isyarat ini justru membuka semua jalan kaluar?” bertanya Witantra.
Mahisa Agni tersenyum. Ia mengerti, bahwa Witantra pun sebenarnya mempunyai dugaan yang sama. Isyarat itu ditujukan kepada mereka bertiga yang tentu dianggap telahi melawan kekuasaan Sang Akuwu”
“Apakah Akuwu ini juga memiliki jiwa yang bergejolak seperti Ken Arok?” desis Mahisa Agni.
“Mungkin” sahut Witantra “kadang-kadang seorang Akuwu memang memiliki kelebihan. Bahkan mungkin Akuwu itu tidak berdiri sendiri. Ia mungkin memiliki seorang guru yang akan dapat membantunya dalam keadaan yang paling sulit”
“Mudah-mudahan kita akan berhadapan dengan orang-orang yang mengerti tentang kita, agar kita tidak terpaksa membela diri” berkata Mahisa Agni, “karena kitapun sadar, bahwa kita tidak akan mungkin dapat melawan seisi Pakuwon ini. Setidak-tidaknya pengawal di seluruh Pakuwon ini.
“Jika demikian” berkata Mahisa Bungalan, “kita masih mempunyai waktu. Kita dapat berpacu menuju keperbatasan dimana pun juga, karena arah yang manapun akan dapat kita tempuh. Dengan demikian, kita hanya akan berhadapan dengan para pengawal di perbatasan yang jumlahnya tentu terbatas”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mungkin kita dapat melakukannya. Tetapi mungkin dengan demikian kita harus membunuh para pengawal yang tidak tahu menahu persoalannya itu”
“Jadi bagaimana?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Kita bertemu dengan Akuwu” desis Mahisa Agni, “kita akan menyelesaikan persoalan ini dengan Akuwu. Kita berharap bahwa Akuwu adalah seorang laki-laki. Bahkan seandainya ada seseorang di belakangnya, gurunya misalnya. Atau orang lain sekalipun”
Mahisa Bungalan menarik nafas panjang. Ia mengerti, bahwa kedua orang pamannya itu adalah orang-orang yang jarang ada bandingnya. Mahisa Agni dan Witantra rasa-rasanya adalah dua orang yang mumpuni dalam ilmu kanuragan. Bahkan mereka memiliki kekuatan diluar batas jangkauan nalar manusia, seperti juga ayahnya, saudara seperguruan Witantra.
Karena itu, maka Mahisa Bungalan pun kemudian menyambut, “Aku sependapat paman. Kita menemui Akuwu”
“Baiklah” sahut Witantra, “katakan kita akan menemui Akuwu. Tetapi apakah kita akan mencari Akuwu, atau kita membiarkan diri kita ditangkap dan dibawa menghadap?”
“Sama saja” jawab Mahisa Agni, “karena itu. Kita akan menuju ke Pakuwon. Seandainya di perjalanan kita bertemu dengan para pengawal yang mendapat tugas untuk menangkap kita, maka kita akan menyerah”
“Kita akan menyerah, sehingga kita akan dibawa sebagai tawanan?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Untuk sementara demikian” jawab Mahisa Agni, “apa salahnya jika kita akan digiring dengan tangan terikat. He, apakah ada tali pengikat yang tidak dapat diputuskan dengan ilmu bahkan seandainya kau diikat dengan janget sekalipun?”
Mahisa Bungalan menarik nafas panjang. Bagaimanapun juga, memang tidak menyenangkan jika ia akan digiring sebagai tawanan. Tangannya akan diikat bahkan mungkin ia akan diperlakukan dengan buruk sekali.
Tetapi ia tidak membantah. Ia sadar, bahwa kedua orang tua itu nampaknya terlalu biasa mengalami perlakuan kasar dari kadang-kadang lebih condong disebut membiarkan dirinya tersiksa, bahkan justru menyiksa diri dengan perlakukan yang sangat tidak menyenangkan.
Dalam pada itu, maka Mahisa Agni diikuti oleh Witantra dan Mahisa Bungalan telah memutar haluan perjalanan mereka. Mereka justru menuju ke istana Akuwu yang menurut perhitungan mereka, justru sedang berusaha menangkap mereka bertiga, yang tentu karena laporan Senapati yang gagal membawa mereka menghadap itu.
Untuk beberapa lamanya, mereka menelusuri jalan mendakati pusat pemerintahan Pakuwon yang sedang dibayangi oleh isyarat yang mendebarkan itu. Namun mereka sama sekali tidak bertemu dengan pengawal yang sedang memburu mereka.
Tetapi akhirnya yang mereka tunggu itupun datang. Ketika Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan sampai di tikungan, maka mereka pun melihat debu yang mengepul kelabu.
“Itulah agaknya mereka. Satu di antara beberapa kelompok pengawal yang sedang memburu kita” berkata Mahisa Agni.
“Sebenarnya aku segan menyerah begitu saja paman” desis Mahisa Bungalan.
Mahisa Agni tersenyum. Katanya “Apa salahnya”
“Kita masih belum mengetahui keadaan Pakuwon ini sedalam-dalamnya. Kita baru mengetahui kemampuan seorang saja dari Senapatinya yang tentu banyak jumlahnya. Mungkin Senapati yang lebih tua, bukan umurnya, tetapi jabatannya, memiliki kemampuan yang jauh lebih tinggi, sehingga kita benar-benar tidak akan dapat berbuat apa-apa”
“Jika ada di antara mereka yang berilmu tinggi” sahut Mahisa Agni, “pada umumnya mereka akan dapat berpikir bening. Meskipun ada juga perkecualiannya”
“Bukan sakedar perkecualian paman. Orang-orang berilmu hitam adalah orang-orang berilmu tinggi. Sementara itu Ki Dukut pun adalah orang yang berilmu tinggi pula. Apakah mereka orang-orang yang dapat berpikir bening?”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Jawabnya, “Kau benar Mahisa Bungalan. Tetapi sebaiknya kita melihat, apa yang akan terjadi. Bahkan kita akan dapat mengambil Keuntungan. Jika mungkin Akuwu akan dapat membantu kita dalam persoalan Ki Dukut yang sampai sekarang belum dapat kita ketemukan. Bukan saja Akuwu di sini, tetapi atas pengaruhnya, mungkin Akuwu di daerah tetangga pun akan dapat membantu pula”
Mahisa Bungalan tidak menjawab. Tetapi ia merasa bahwa yang mereka lakukan itu sama sekali tidak menyenangkan.
Dalam pada itu, sekelompok pengawal di hadapan mereka itu pun telah melihat ketiga orang itu pula. Senapati yang memimpin kelompok pengawal itu langsung menjadi curiga, ketika ia melihat ketiga orang itu. Seperti ciri-ciri yang didengarnya tentang tiga orang yang harus diburu dan ditangkap.
“Berhati-hatilah” berkata Senapati itu kepada para pengawalnya “mereka adalah orang-orang yang berbahaya”
Para pengawal itu pun segera bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Bahkan sebagian dari mereka telah memegang hulu pedangnya dan bersiap untuk menyerang.
Tetapi Senapati yang memimpin para pengawal itu menjadi heran. Ketiga orang itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda yang mencurigakan. Bahkan sampai beberapa langkah di hadapan Senapati yang memimpin para pengawal itu, ketiganya masih tetap bersikap wajar.
Karena itu, maka Senapati yang memimpin para pengawal itu pun telah terpengaruh oleh sikap itu pula. Jika semula ia mendapat gambaran yang garang tentang ketiga orang itu, maka yang mereka jumpai ternyata agak berbeda.
Mahisa Agni yang berada di paling depan di antara ketiga orang yang bersamanya mengangguk hormat sambil bertanya, “Apakah aku bertemu dengan pasukan pengawal Pakuwon?”
“Ya Ki Sanak” jawab Senapati itu. Meskipun ia tersenyum tetapi sama sekali tidak melepaskan kewaspadaan. Apabila perlu ia dapat bertindak dengan cepat untuk mengatasi persoalan.
Namun Mahisa Agni ternyata bersikap wajar saja. Dengan nada datar ia bertanya, “Apakah kehadiran Ki Sanak ini ada hubungannya dengan isyarat yang bergema di seluruh padukuhan dan Kabuyutan?”
“Ya Ki Sanak” jawab Senapati itu yang kemudian iapun bertanya, “siapakah sebenarnya Ki Sanak bertiga ini?”
“Aku adalah perantau yang menjelajahi desa demi desa, padukuhan demi padukuhan dan Kabuyutan demi Kabuyutan sekedar untuk melihat, betapa luasnya bumi ciptaan Tuhan Yang Maha Agung ini, dan betapa aneka ragamnya isi dan warnanya”
“O” Senapati itu mangangguk-angguk, “sungguh menyenangkan jika mendapat kesempatan untuk melakukannya. Tetapi siapakah kalian bertiga. Maksudku, dari mana kalian datang, dan apakah kerja kalian sehari-hari? Tentu kalian bukan perantau seumur hidup yang tidak mempunyai lambaran penghidupan apapun juga”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kami adalah penghuni padepokan kecil di tempat terpencil. Kami hidup dalam lingkungan sawah dan pategalan. Namun juga dalam olah kajiwan sebagaimana kebiasaan orang-orang padepokan. Betapa rindunya kami mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Agung. Sehingga, kami pun telah memutuskan untuk melihat isi dari ciptaannya lebih banyak lagi”
Senapati itu mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun bertanya, “Ki Sanak. Apakah dalam perjalanan perantauan Ki Sanak yang dibayangi oleh kerinduan itu, Ki Sanak benar-benar telah memuji nama Tuhan Yang Maha Agung atau justru yang terjadi adalah sebaliknya, misalnya benturan antara sesama titah Tuhan Yang Maha Agung sehingga sama sekali tidak membayangkan kerinduan itu sendiri”
“Maaf Ki Sanak” sahut Mahisa Agni “itulah kelemahan kami. Bahwa kami adalah manusia yang lemah hati. Betapa kerdilnya jiwa ini. sehingga bayangan kecemasan akan nasib buruk loluli memaksa kami untuk berusaha melindungi diri pada setiap kesempatan, seperti kamipun makan di setiap hari untuk mempertahankan hidup kami dan tidak menyerah semata-mata kepada nasib”
Senapati yang memimpin sekelompok pengawal itu pun mengerutkan keningnya. Dengan wajah berkerut ia berkata, “Jadi maksud Ki Sanak, apa yang telah Ki Sanak lakukan itu semata-mata karena Ki Sanak berusaha untuk melindungi diri sendiri. Juga barangkali jika Ki Sanak terpaksa melakukan kekerasan”
“Begitulah kira-kira Ki Sanak” jawab Mahisa Agni, “tetapi sepanjang masih dapat ditempuh cara lain, aku akan selalu mempergunakan cara lain”
“Jadi kau hanya melakukan kekerasan jika terpaksa?” bertanya Senapati itu pula.
“Benar Ki Sanak” jawab Mahisa Agni.
“Juga apa yang pernah kau lakukan terhadap utusan Akuwu? Aku mendapat laporan bahwa kalian telah melawan kehendak Akuwu lewat utusannya” berkata Senapati itu.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak akan mengingkarinya. Namun barangkali laporan yang sampai kepada Akuwu itu. tidak seperti apa yang terjadi”
“Katakan apa yang telah terjadi” berkata Senapati itu.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam Namun kemudian iapun mengatakan seperti apa yang pernah dialami.
Senapati itu mengangguk-angguk, Katanya, “Jadi kau memang dengan sengaja ingin menghindari kekuasaan Akuwu?”
“Kami hanya ingin menyatakan bahwa kami tidak berbuat sesuatu yang pantas dipergunakan sebagai alasan untuk membawa kami menghadap Akuwu” sahut Mahisa Agni.
“Ki Sanak” berkata Senapati itu, “sekarang kami juga mendapat tugas untuk menangkap Ki Sanak dan membawa menghadap Akuwu. Apakah Ki Sanak juga akan melawan?”
Mahisa Agni menggeleng. Jawabnya, “Tidak Ki Sanak. Aku sekarang tidak akan melawan. Aku akan bersedia menghadap Akuwu dan memberikan penjelasan, sehingga salah paham ini tidak akan berkepanjangan lagi”
Senapati itu mengangguk-angguk. Jawabnya, “Terima kasih Ki Sanak Ki Sanak telah memperingan tugasku dengan kesediaan itu. Sehingga dengan demikian aku tidak perlu mengambil satu tindakan apapun juga terhadap Ki Sanak”
“Mudah-mudahan niat kami untuk memberikan penjelasan itu dapat dimengerti” berkata Mahisa Agni.
“Marilah. Jika Ki Sanak sudah berniat untuk mengikut kami, marilah. Tetapi apa yang Ki Sanak lakukan ini, jangan sekedar satu pancingan kelengahan kami semata-mata” berkata Senapati itu.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar