30
NYAWAKU UNTUK RASULULLAH
Fahri masih terus memikirkan mimpinya. Kata-kata ibunya dan wajah Aisha terus muncul silih berganti.
Dan keinginan membara itu, yang membuatnya harus mandi dengan sempurna. Itu semua membuatnya merenung dalam-dalam. Catatan sejarah hidup para ulama yang teruji amal shalihnya berkelebatan.
Imam Sa‘ad bin Musayyib langsung menikahkan putri kesayangannya kepada muridnya yang baru ditinggal mati istrinya. Padahal putri kesayangannya itu dilamar putra Khalifah di Damaskus tidak ia berikan. Ia bahkan harus dihukum cambuk karena menolak lamaran itu.Tapi begitu tahu salah satu muridnya ditinggal mati istrinya, serta merta putrinya itu ia nikahkan dengan muridnya. Itu agar muridnya terjaga dari fitnah, dan agar putrinya mendapatkan suami yang shalih.
Imam Ahmad bin Hanbal, ulama Ahlus Sunnah Wal Jama‘ah, yang namanya harum ditulis tinta sejarah. Imam madzab yang sangat zuhud dan menjaga sunnah. Tokoh ummat yang menjadi simbol ketegaran menyampaikan kebenaran meski didera hukuman berat.
Wali Allah, yang salah satu keramatnya di hari
wafatnya ratusan ribu ahlul kitab dan majusi masuk Islam. Imam besar ini tidak mau bermalam dalam kondisi tidak ber istri atau lajang. Maka di hari istrinya wafat, sorenya ia menikah lagi. Bukan karena nafsu ia menikah.
Sama sekali bukan. Juga bukan karena tidak setia pada pasangan. Alasan ia cepat-cepat menikah lagi adalah mengamalkan sunnah, mengamalkan hadits yang ia tulis dalam Musnadnya.
Bahwa orang yang meninggal dalam keadaan membujang sementara ia mampu menikah itu kurang disukai Rasulullah Saw. Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dalam Musnadnya, Bahwa seorang laki-laki bernama 'Ikaf datang sowan kepada Rasulullah Saw.
"Hai 'lkaf, apakah kau punya istri?" Tanya Rasulullah.
"Tidak," Jawab 'Ikaf.
"Kan punya jariyah[1]?"
"Tidak."
"Padahal, bukankah engkau ini paling dermawannya orang kaya?"
"Benar. Saya paling dermawannya orang kaya."
"Kau ini termasuk teman-temannya setan. Jika kau nasrani maka kau adalah pendeta mereka.
Sesungguhnya menikah termasuk sunnahku. Paling jeleknya kalian adalah orang yang membujang.
Paling hinanya orang-orang yang mati adalah kalian yang membujang."
Dan Imam Ahmad kalau ia mati, ia tidak mau mati dalam kondisi hina. Maka demi mengamalkan hadits itu, ia bersegera menikah. Tiba-tiba Fahri teringat kata-kata Ibnu Abbas,
"Tidak sempurna ibadah seorang ahli ibadah sampai ia menikah."
Fahri meneteskan air matanya. Kata-kata ibundanya yang lembut seperti menghampir di telinganya,
"Hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna. Istri itu pakaian bagi suami dan suami pakaian bagi istri. Maka kau harus tetap memiliki pakaian!" Dan tiba-tiba ia teringat pesan yang pernah disampaikan Hulya melalui sms, saat ia di London. Sebuah pesan yang sampai saat ini tidak ia balas.
"Kenapa sunnah Nabi terhalang oleh sebuah kerinduan tak jelas yang berlebihan? Bukankah berlebih-lebihan itu tidak baik dalam ajaran agama kita?"
Fahri menghela nafasnya. Ia bangkit dari sajadahnya dan duduk di meja kerjanya.
Matahari cukup terang menyinari Stoneyhill Grove. Waktu Dhuha adalah waktu paling produktif bagi umat manusia untuk urusan dunianya. Sedangkan waktu sahur adalah waktu paling mustajab bagi umat manusia untuk akhiratnya.
Fahri mengemasi laptopnya dan lembaran-lembaran artikel yang baru ia koreksi untuk
dikirim ke jurnal ilmiah UIN Jakarta. Hari ini ia terjadwal rapat dengan Prof. Charlotte dan pengurus CASAW, The Centre for the Advanced Study of the Arab World. Sorenya ia terjadwal ikut menguji pra-viva tesis PhD mahasiswa dari Yordania.
Setelah siap, ia menyambar jasnya lalu bersiap turun ke bawah. Tiba-tiba ia mendengar pintu ruang tamu di gedor dengan keras. Ia kaget. Ia mendengar suara Paman Hulusi dan Misbah menuju pintu.
Lalu ia mendengar suara perempuan marah-marah menyebut namanya.
"Mana Fahri !? Mana manusia munafik itu!?"
Fahri kaget. Itu suara Keira. Ada apa dengan Keira? Apakah Keira kini sudah tahu bahwa yang menolongnya selama ini adalah dirinya, dan Keira marah besar karena itu? Kalau Keira tahu, dari mana ia tahu? Siapa yang membocorkannya? Fahri cepat-cepat turun.
"Ini saya Keira, ada apa?"
Keira langsung menyerbu ke arah Fahri. Mukanya merah marah. Keira langsung menyengkeram kerah dan dasi Fahri.
"Dasar munafik!"
Tindakan kurang ajar Keira itu membuat Paman Hulusi tersinggung. Fahri memberi isyarat dengan tangannya agar Paman Hulusi diam.
"Ada apa Keira, apa tidak bisa bicara baik-baik?"
"Munafik! Muslim jahat! Kelihatan baik, tapi menyembunyikan niat jahat! Serigala berbulu domba! Dengar ya, jauhi adik saya, Jason! Jangan kau racuni pikiran dia! Saya baru tahu, ternyata kau selama ini membantu Jason dan ibuku demi sebuah niat jahat! Kau ingin meracuni pikiran adikku sehingga bisa pindah ke agama kalian! Dengar ya, itu tidak akan aku biarkan!"
"Tolong lepaskan Keira! Dengarkan aku bicara! Please!" Keira melepaskan cengkeramannya.
"Kau salah faham. Sama sekali aku dan teman-temanku tidak ada niat seperti itu. Tolong bicaralah dengan adikmu baik-baik. Minta dia bicara jujur, apakah pernah aku membicarakan tentang agama kepadanya.
Dia kemarin memang bicara padaku ingin masuk Islam. Dan aku minta kepadanya untuk
membicarakannya baik-baik dengan keluarganya. Dengan kamu, dengan ibumu.
Kalau aku mau, dia sudah masuk Islam sejak kemarin-kemarin. Aku ingin dia berpikiran jernih dalam menentukan langkah hidupnya."
"Tidak usah banyak bicara. Aku dan keluargaku tidak sudi berhutang budi padamu! Iya, Jason dan mamaku berhutang budi padamu. Tapi akan aku lunasi hutang-hutang mereka itu.
Tolong kau total saja, berapa uang yang sudah kau keluarkan untuk membantu Jason dan ibuku. Dalam waktu tiga hari ini akan aku bayar lunas! Bahkan aku beri tambahan sebagai tanda terima kasih! Dan jangan sekali-kali kau dekati adikku lagi! Jika tidak, aku akan melakukan tindakan yang membuatmu menyesal!"
"Kau tak perlu mengembalikan apapun. Kau hanya salah faham. Sungguh. Kita sudah bertetangga baik-baik. Kenapa ribut untuk masalah yang tidak perlu?"
"Camkan ucapanku tadi baik-baik! Awas jika meracuni pikiran Jason lagi!"
Keira lalu pergi sambil menutup pintu rumah Fahri dengan kasar. Fahri beristighfar di dalam hati.
Paman Hulusi minta agar Fahri jangan terlalu lembut pada orang-orang yang kurang ajar. Fahri minta Paman Hulusi tidak melakukan tindakan apa-apa. Urusan Keira dan Jason biar dia yang menangani.
Fahri minta paman Hulusi segera memanaskan mobil untuk mengantarnya ke kampus. Misbah bilang dirinya mau ikut sampai Stasiun Waverley. Dia mau ke Glasgow, ia akan menjadi pembicara dalam sebuah seminar ekonomi Islam di University of Glasgow.
Hari itu adalah hari yang berat secara batin bagi Fahri. Selain pagi-pagi didamprat oleh Keira. Fahri mendapat berita dari Prof. Charlotte bahwa dirinya sudah pasti akan dicoret sebagai staf pengajar The University of Edinburgh.
"Lobi mereka sangat kuat! Diskusi kemarin itu membuat marah mereka!" Kata Prof. Charlotte.
Namun Profesor Charlotte telah memastikan beberapa proyek bersama harus diselesaikan. Utamanya penerbitan jurnal ilmiah dibawah CASAW, The Centre for the Advanced Study
of the Arab World. Dalam jurnal itu Fahri duduk dalam jajaran Editorial Advisors.
Selain itu juga sebuah buku tentang Filology yang dikumpulkan dari tulisan para pakar di bidang itu yang dieditoriali oleh Fahri dan Professor Charlotte.
"Semuanya sudah harus masuk ke percetakan sebelum kau pergi dari sini!" Kata Professor Charlotte.
Fahri sangat faham bahwa tujuan Professor Charlotte mengejar hal itu adalah juga demi mengorbitkan nama Fahri.
"Kau tidak usah khawatir, aku akan rekomendasikan kamu ke beberapa kampus terkemuka di UK ini. Aku punya banyak sahabat."
"Terima kasih Prof."
"Tidak usah pilih-pilih. Nanti mana yang duluan menerimamu, kau ambil ya?"
"Iya Prof."
"Demi kebaikanmu, tolong buku yang akan terbit itu kau kejar dua hari lagi selesai editingnya. Setelah itu aku masukkan ke penerbit. Begitu penerbit sudah bilang naik cetak, kau langsung buat surat pengunduran dirimu dari kampus ini."
"Surat pengunduran diri?"
"Itu lebih terhormat daripada kau diberhentikan. Sudah ikuti saja saranku! Dengan mengundurkan diri secara baik-baik hubunganmu juga akan tetap baik dengan kampus ini. Sebab sesungguhnya kampus ini
tidak salah. Hanya sekali lagi lobi mereka sangat kuat."
"Baik Prof."
"Seperti pernah kukatakan beberapa waktu yang lalu. Jika kau pergi aku juga akan pergi."
"Saya rasa itu tidak perlu Prof."
"Itu sudah keputusanku. Selain itu aku juga sudah bosan mengajar di sini, aku mau suasana baru."
"Professor Charlotte mau pindah ke mana?"
"Ke utara, ke St. Andrews. Itu kota kelahiranku. Aku mau menghabiskan sisa umur disana."
"Terima kasih atas kebaikannya Prof,"
"Kembali kasih. Ingat, yang kita bicarakan ini rahasia kita berdua!"
"Iya Prof."
*****
Jason marah besar kepada Keira, begitu ia tahu bahwa kakaknya itu telah melabrak Fahri. Jasonhampir-hampir tidak pernah marah atau melawan kakaknya.
Selama ini Jason cenderung membela dan menyayangi kakaknya itu. Bahkan ketika dulu, ketika Keira terus bertengkar dengan ibunya, Jason cenderung menghibur dan menguatkan Keira. Jasonlah yang punya perhatian besar, ketika kakaknya putus asa dan mau menjual diri. Jason yang bergerak ke sana kemari mencari cara agar kakaknya itu
terselamatkan.
Tapi kali ini Jason benar-benar marah besar pada Keira. Dan Keira sungguh tidak menduga adiknya akan sedemikian murka. Keira belum pernah melihat Jason marah sedemikian hebat kepadanya.
"Kau sudah sangat keterlaluan Keira! Kau sudah melampaui batas! Fahri tidak salah sedikitpun! Dia tidak pernah meracuni sedikitpun otakku! Kau masih saja tidak bisa menjaga mulut dan tingkah lakumu! Dasar manusia primitif! Pelacur!"
Keira bagai tersengat listrik Jason menyebutnya sebagai pelacur. Emosinya langsung naik seketika.
"Apa? Apa yang kau katakan? Kau sebut aku pelacur!"
"Iya, kenapa? Kau marah? Bukankah itu kenyataannya? Bukankah kau sudah mengiklankan di media online sehingga tersebar kemana-mana bahwa kau menjual keperawananmu? Apa kau lupa itu? Apakah
itu bukan perbuatan seorang pelacur?"
"Tapi aku tidak jadi menjualnya. Itu semua tidak terjadi. Kau tahu itu."
"Iya aku tahu itu. Dan itu karena ada orang baik yang dermawan yang menolongmu. Kalau tidak, cobalah kau bayangkan di mana tempatmu sekarang, hah? Apa kau akan memenangkan kompetisi tingkat dunia seperti sekarang yang membuatmu jadi sangat pongah dan sombong! Dengar Keira, kau
tidak boleh mencampuri urusanku! Aku merdeka menentukan pilihan hidupku.
Aku juga merdeka menentukan keyakinanku. Mau Islam, Kristen, Yahudi, Budha, Hindu, atau tidak beragama sekalipun, itu terserah aku.
Kau tidak berhak mengaturku sama sekali! Dengar, aku tidak akan memaafkanmu
sebelum kau minta maaf kepada Fahri atas kelakuanmu!"
"Aku tidak akan minta maaf kepadanya, dia yang harus minta maaf kepada keluarga kita. Kebaikannya hanya jadi kedok untuk semua kejahatannya! Dia munafik!"
"Cabut kata-katamu itu!"
"Tidak. Aku bahkan akan kembalikan semua yang telah Fahri berikan untukmu dan untuk mama, Aku mampu untuk itu!"
"Dengar, dari sepakbola aku banyak belajar fair play, kejujuran, sportivitas. Tingkah lakumu sangat tidak fair Keira. Dan kelak kau akan menyesali sikap primitif dan kekanak-kanakanmu itu.
Jika kau tidak mencabut kata-katamu, aku akan tinggalkan rumah ini! Aku tidak perlu bantuan seorang pelacur!"
Dan hari itu Jason benar-benar pergi meninggalkan rumah itu. Nyonya Janet telah membujuk Keira agar minta maaf kepada Fahri, namun Keira tetap berkepala batu. Nyonya Janet membujuk Jason agar tetap tinggal di situ biar dia yang minta maaf kepada Fahri. Jason tidak mau. Keira yang berbuat maka Keira yang harus minta maaf.
Menjelang malam Jason pergi dengan membawa barang-barangnya. Nyonya Janet tidak bisa menahan kepergian Jason. Meskipun memintanya tidak pergi dengan menangis Jason tetap pergi. Keira yang sangat marah pada Jason karena disebut pelacur semakin marah kepada Fahri. Keira merasa bahwa biang ini semua adalah Fahri. Bahwa Fahri dan teman-temannya itulah yang
membuat keluarganya jadi retak.
"Lihat saja Ma, Jason tidak akan lama pergi. Ia akan kembali pulang. Bisa apa dia di luar sana? Aku pernah merasakan sendiri, tidak mudah hidup tidak jelas diluar sana!"
*****
Usai berbincang panjang lebar dengan Prof. Charlotte dan rapat dengan seluruh staf CASAW, Fahri langsung ke AFO Boutique untuk mendengar laporan perkembangan bisnisnya dari Nyonya Suzan.
Meskipun tidak banyak, tapi marjin keuntungan bulan itu naik dari bulan sebelumnya. Nyonya Suzan juga melaporkan perkembangan persiapan Keira untuk maju berkompetisi di London.
Fahri berpesan kepada Nyonya Suzan agar Keira diberi pengertian untuk fokus pada prestasinya dahulu.
Fahri juga berpesan kepada Nyonya Suzan agar mengoreksi rencana Keira yang mau mengambil mobil Ferrari. Fahri sama sekali tidak membicarakan kelakuan Keira yang mendampratnya.
Nyonya Suzan juga melaporkan bahwa Keira baru saja menelpon mau meminjam uang sebesar lima puluh ribu poundsterling.
"Untuk apa?" Tanya Fahri.
"Katanya untuk keperluan yang sangat mendesak. Terkait harga diri. Dia bilang begitu. Katanya satu bulan lagi akan ia kembalikan, sebab seminggu yang akan datang ia akan teken kontrak untuk sebuah iklan." Jelas Nyonya Suzan.
"Baik, bilang bahwa orang yang selama ini membiayai dia akan meminjami tapi harus komitmen satu bulan dikembalikan. Siapkan legal hukumnya secara profesional."
"Baik Tuan. "
Setelah itu Fahri meluncur ke tengah kota Musselburgh untuk melihat mini market Agnina. Ternyata Jason sudah ada disana. Jason sedang berbincang dengan Brother Mosa Abdul Kerim. Jason minta waktu
berbincang berdua dengan Fahri.
Jason menjelaskan semuanya, kenapa ia meninggalkan rumah. Fahri minta agar Jason memaafkan Keira dan kembali ke rumah.
"Tapi dia sudah keterlaluan, Fahri."
"Perlu proses agar seseorang bisa menghargai dirinya sendiri dan orang lain. Dia nanti akan belajar.
Tidak ada gunanya kau kabur. Kau harus konsentrasi meraih prestasimu. Kau harus tenang dan fokus memberikan permainan yang terbaik di lapangan, agar cita-cita besarmu terwujud."
Mendengar nasehat Fahri Jason akhirnya luluh. Ia minta ijin malam itu tidur di kantor Agnina, besok baru akan pulang.
Fahri sampai ke rumahnya ketika hari sudah malam. Di halaman, Fahri mendapati Keira sedang bertengkar dengan James, pacarnya. Fahri tidak mempedulikan. Ia hanya mendengar sekilas kata-kata Keira bahwa dirinya tidak mau lagi berteman dengan James. Keira juga mengusir James dengan kalimat yang pedas.
Begitu masuk rumah, Fahri langsung mandi dengan air hangat, shalat dan meminta Paman Hulusi memijatnya. Setelah itu ia membuka laptopnya dan membereskan pekerjaan yang diminta Prof. Charlotte untuk diselesaikan.
Bekerja keras dalam deadline dan tekanan sudah bukan hal baru baginya. Sejak masih kuliah di Mesir ia terbiasa dengan hal itu. Ia teringat dirinya pernah sampai muntah-muntah karena beberapa hari tidak tidur demi merampungkan terjemahan kitab klasik karya Ibnu Qayyim Al Jauziyyah.
Menjelang shubuh Fahri tidur sejenak. Ketika masuk waktu shubuh jam bekernya berbunyi. Ia bangun dan membangunkan Paman Hulusi dan Misbah untuk shalat berjama‘ah di rumah.
Kemudian ia kembali mengedit bahan-bahan untuk jurnal.Pukul sepuluh pagi, Fahri mendengar ketukan pintu yang keras. Ia mendengar suara Keira berbincang dengan Paman Hulusi. Nada Keira ketus.
Keira memaksa berjumpa dengannya, sementara Paman Hulusi menjawab bahwa majikannya sedang tidak bisa diganggu. Keira marah-marah. Fahri terpaksa turun menemui Keira.
"Sudah aku hitung dengan detail bersama Mama. Yang kau berikan kepada Jason dan Mama kurang lebih empat puluh lima ribu poundsterling. Ini aku tambahi lima ribu. Jadi lima puluh ribu. Dengan ini berarti hutang sudah kami lunasi dan kau jangan coba-coba sok jadi pahlawan dan mempengaruhi Jason
lagi!"
Fahri diam sesaat dan menjawab dengan tenang,
"Sekali lagi kau salah faham Keira. Aku sama sekali tidak mempengaruhi Jason!"
"Aku tidak mau lagi mendengar alasanmu. Kami sudah berbaik budi menerimamu, orang asing, di kota kami. Sekali lagi kau macam-macam, awas! Ini terima, ingat sudah aku kembalikan!"
Keira melempar segepok uang ke atas meja sofa lalu keluar dengan tidak ramah. Paman Hulusi diam menahan amarah. Fahri menghela nafas dan meminta Paman Hulusi menyimpan uang itu.
"Orang Skotlandia yang aku temui itu biasanya ramah-ramah. Lebih ramah dari yang di dataran Inggris. Ini Keira kasar sekali ya?" Gumam Misbah keluar dari kamarnya.
"Suatu saat nanti dia akan menyadari bahwa semua prasangka dia yang buruk kepada kita adalah salah. Biarlah waktu yang mendewasakannya."
"Mas, dua hari lagi aku pra-viva. Doakan ya?"
"Alhamdulillah. Pasti aku doakan."
Sekonyong-konyong terdengar pintu diketuk. Semua menengok ke pintu. Ternyata Nyonya Janet. Dengan penuh penyesalan ia meminta maaf atas kelakuan Keira, anaknya. Fahri minta Paman Hulusi mengambil uang yang tadi diberikan Keira. Fahri menyerahkan kepada Nyonya Janet.
"Kalau Keira tahu nanti marah. Aku tidak mau lagi bertengkar dengan anak-anakku. Aku sudah lelah."
"Ini aku berikan bukan untuk dikembalikan kepada Keira. Bukan. Ini aku hibahkan kepada Nyonya Janet agar dijadikan modal untuk membuat semacam lembaga sosial. Dengan uang ini dan nanti sumbangan orang lain, lembaga itu bisa membantu anak-anak yang punya bakat dan prestasi tapi tidak punya
biaya. Katakanlah yang nasibnya seperti Keira dan Jason."
Nyonya Janet memahami maksud Fahri, ia mengulurkan tangannya dan menerima uang itu dengan mata berkaca-kaca.
"Nyonya harus sabar dan terus mendampingi Keira. Aku tahu dia sangat berbakat dan cerdas. Tapi sekaligus keras kepala dan besar kepala. Keras kepala jika disertai akal sehat akan menjadi tindakan yang tajam dan besar pengaruhnya. Adapun besar kepala hampir tak ada kebaikan di dalamnya. Nyonya harus menyadarkannya."
Nyonya Janet mengangguk-angguk. Setelah Nyonya Janet pergi, Paman Hulusi memprotes sikap Fahri.
Seharusnya uang itu tidak diberikan kepada Nyonya Janet. Diterima saja dan diserahkan kepada masjid untuk memakmurkan kegiatan
masjid.
Fahri menjawab, ia telah siapkan dua kali lipat untuk masjid. Uang itu harus ia serahkan kepada Nyonya Janet, supaya Keira tidak bisa besar kepala jika suatu saat mengetahuinya.
Selain itu, jika uang itu ia terima lagi, ia merasa seperti menjilat ludah sendiri. Setelah mendapat penjelasan seperti itu barulah Paman Hulusi merasa lega dan tenang hati.
Hari berikutnya Fahri melihat Jason pulang ke rumahnya. Fahri senang Jason menuruti kata-katanya. Fahri tidak tahu bahwa begitu sampai di rumah Jason disindir Keira habis-habisan.
"Benar kan Ma kataku. Anak ingusan yang belum bisa apa-apa seperti itu tidak akan kuat tinggal di luar sana. Mau makan pakai apa dia? Tidur dimana dia?"
Jason hanya menjawab dingin,
"Diam kau pelacur! Semakin kau banyak bicara, itu membuatmu semakin memalukan !"
Sejak itu hubungan Jason dan Keira menjadi dingin. Nyonya Janet berusaha mendamaikan keduanya, namun cekcok mulut kakak beradik sama ibu beda ayah itu terus terjadi setiap kali ketemu.
Perseteruan Jason dan Keira itu membuatnya letih. Sebagai ibu kandung dari keduanya, meskipun keduanya berbeda ayah, ia berusaha bersikap tidak memihak. Ia berusaha adil. Dan itu tidak mudah, sebab Keira sekuat tenaga membujuknya agar ia berada di pihaknya.
Demikian juga Jason, ia merasa ibunya harus berada di pihaknya. Sebuah perseteruan kecil kakak beradik itu saja telah membuat hidupnya tidak nyaman. Apalagi perseteruan yang lebih besar dan bersifat terbuka, tentu itu sangat menyengsarakan pihak-pihak yang berseteru.
Bahkan seringkali pihak lain pun bisa jadi korban kena getah perseteruan itu.
*****
Setelah dua hari bekerja keras, sore itu pekerjaannya mengedit tulisan-tulisan ilmiah untuk jurnal sudah selesai. Siang itu juga ia langsung mengirimnya ke Professor Charlotte lewat email. Rupanya Professor Charlotte sedang online. Satu menit kemudian ia mendapat balasan bahwa file telah diterima
dan terima kasih.
Masih ada satu lagi pekerjaan, yaitu mengedit buku tentang filologi. Rencananya ia akan mulai mengerjakannya besok pagi. Sore itu ia ingin sedikit rehat dan menyegarkan pikiran.
Tetapi urusan dengan pihak kampus ingin ia selesaikan secepatnya. Maka sore itu juga ia membuat surat pengunduran dirinya sebagai pengajar di The University of Edinburgh. Ia kirimkan via email kepada para pengambil
kebijakan di universitas tersebut. Ia juga mencetak suratnya itu lalu ia tandatangani dan sore itu juga ia antar ke kampus untuk
disampaikan kepada pihak universitas.
Professor Charlotte terkejut mengetahui Fahri telah mengirimkan surat pengunduran diri.
"Terlalu cepat pengunduran dirimu, seharusnya seperti yang aku arahkan. Setelah naskah buku itu sudah masuk ke penerbit kampus." Kata Prof. Charlotte menelponnya.
"Jangan khawatir buku itu tidak terbit Prof. Jika ditolak penerbit di sini, masih ada ratusan penerbit bergengsi yang mau menerbitkan. Percayakan itu pada Fahri, Prof." Jawab Fahri mantab.
Fahri shalat maghrib di Edinburgh Central Mosque. Ia lalu mengendarai mobilnya jalan-jalan keliling kota Edinburgh. Tidak seperti biasanya yang disopiri Paman Hulusi, kali ini ia mengendarai mobilnya sendirian. Ia ingin menyegarkan pikiran. Ia ingin santai, maka pakaian yang ia kenakan juga pakaian santai. Atas kaos panjang, bawah celana casual denim cokelat muda dan topi. Setelah puas muter-muter Edinburgh, Fahri mengarahkan mobilnya ke Musselburgh. Ia ingin lebih tahu kehidupan malam kota kecil di timur Edinburgh itu.
Pelan-pelan Fahri mengendarai mobilnya melewati jalanan depan Brunton Theatre Musselburgh. Tiba-tiba ia melihat perempuan memakai abaya dan bercadar berjalan sendirian. Ia memperlambat mobilnya.
Perempuan itu memasuki Stadds Bar & Cafe. Sekilas itu mirip Sabina, tetapi memakai jilbab.
Yang agak aneh, kenapa perempuan itu memasuki Stadds Bar & Cafe? Itu adalah cafe yang juga bar.
Memang di Brittania Raya pergi ke bar tidak selalu berkonotasi jelek. Bar seringkali menjadi tempat bersosialisasi dan bertemu relasi.
Tidak selalu identik dengan hal-hal yang mesum. Meskipun ada juga bar dan pub malam yang penuh maksiat. Namun cafe yang secara spesifik juga bar biasanya banyak
menyediakan minuman keras. Bahkan banyak yang jualan spesialnya adalah minuman keras. Karenanya, mungkin bagi masyarakat Britania Raya adalah hal yang biasa keluar masuk bar, tetapi bagi seorang muslim yang taat akan terasa aneh.
Wajar jika Fahri merasa ada yang terasa aneh ada perempuan berabaya dan bercadar malam-malam masuk bar. Fahri jadi penasaran. Ia mencari parkir untuk mobilnya. Setelah memarkir mobilnya, ia keluar dan berjalan kaki menuju Stadds Bar & Cafe. Udara malam mulai terasa dingin. Tampaknya musim gugur mulai datang.
Sambil berjalan Fahri memperhatikan suasana jalan. Sepi dan lengang. Hanya satu dua mobil lewat. Sebagian besar toko telah tutup.
Minimarket di ujung jalan juga sudah tutup. Yang masih buka sampai malam biasanya adalah cafe, bar dan pub. Stadds Bar & Cafe berada di lantai dasar sebuah bangunan tua berlantai tiga. Letaknya tak jauh dari Brunton Theatre Musselburgh. Fahri memasuki Stadds Bar. Kehidupan masih hangat disitu.
Seorang lelaki gemuk dan botak duduk di meja bartender. Tampak sedang asyik berbicara dengan bartender muda yang modis. Beberapa kali lelaki itu meneguk minuman kerasnya.
Tiga orang kakek-kakek asyik berbincang di pojok kanan bar itu. Sepasang muda mudi duduk di kursi sofa. Di hadapan mereka ada
sebotol red wine, dan dua gelas terisi minuman merah tua.
Perempuan bercadar itu duduk di pojok kanan dan menghadap dinding. Tubuhnya memunggungi area utama bar itu. Fahri berjalan menuju kursi kosong tak jauh dari perempuan bercadar itu.
Bartender mendatangi perempuan bercadar itu sambil membawa minuman. Fahri melirik. Minuman seperti itu pernah ia lihat. Ia mengingat-ingat. Itu seperti minuman koktail di Mesir. Fahri penasaran, setelah bartender meletakkan minuman itu Fahri memanggilnya. Fahri minta daftar menu. Bartender
menyodorkannya.
Fahri melihat menu-menu yang ada di cafe itu. Secara singkat di dalam daftar menu ada keterangan bahwa Stadds Bar & Cafe menyediakan berbagai macam minuman keras terbaik dunia.
Ada bermacam-macam wine: Red Wine, White Wine, Sparkling Wine, Rose Wine. Ada Brendy, Whiskey, Vodka, Abshinthe, Champagne, Rhum, Sake, dan Jagermeister. Cafe itu juga memiliki koktail klasik : Old Fashioned, Manhattan, Cosmopolitan.
Fahri beristighfar dalam hati. Betapa hebat setan menghiasi barang-barang yang haram agar menjadi menarik umat manusia. Fahri mengamati, bahwa kemasan minuman paling menarik diatas muka bumi ini, mungkin adalah kemasan minuman keras. Di hampir semua bandara terkemuka dunia dijual minuman keras itu dengan kemasan botol yang indah dan menarik.
Minuman yang paling mahal, mungkin juga adalah minuman keras. Ada sebotol anggur yang harganya sampai ratusan juta rupiah. Dan manusia memburunya, bangga mengkonsumsinya.
Fahri menekuri lagi daftar menu itu. Ia sedikit lega Stadds Bar & Cafe juga menyediakan bermacam-macam juice buah-buahan segar. Dalam daftar itu tertera Apple Lady Juice, Carrot Romaine Juice, Classic Green Juice, Veggy Ginger Juice dan Egypt Coctail Juice.
Minuman terakhir itu yang menarik baginya. Berarti benar, yang dipesan perempuan bercadar itu adalah Egypt Coctail Juice. Fahri
memesan itu. Ia ingin tahu, apa rasanya sama dengan yang di Mesir!?
Fahri melihat jam tangannya. Sudah jam sepuluh malam lebih dua puluh menit. Dua orang memasuki cafe itu. Fahri agak kaget. Itu adalah Baruch dan seorang lelaki yang tidak ia kenal. Fahri menunduk dan menutupi mukanya dengan topinya. Baruch melihat suasana cafe itu sekilas.
Begitu melihat seorang perempuan bercadar sendirian, Baruch berjalan ke arah meja perempuan bercadar itu diikuti temannya.
Baruch duduk tepat di depan perempuan itu demikian juga temannya. Baruch menatap
perempuan itu dan menggoda.
"Tolong jangan ganggu saya. Biarkan saya sendiri!" Kata perempuan itu dengan suara serak.
Fahri yang juga mendengar suara perempuan itu agak kaget. Itu suara Sabina. Benarkah itu Sabina?
Perempuan itu meraih gelas minumannya dan pindah ke meja sebelahnya. Baruch mengikutinya. Juga diikuti temannya.
"Jangan sok suci perempuan murahan !"
"Jaga mulut Anda!"
"Aku tahu kau muslim. Dipinggir kota Beirut, aku punya langganan perempuan seperti kamu. Bercadar, tubuh ditutupi tapi sebenarnya perempuan murahan! Kau juga begitu kan?"
"Lancang! Mulut busuk!" Perempuan itu marah. Ia bangkit dan menuju bartender. Ia menyerahkan uang kertas lima poundsterling dan mengatakan kepada bartender sisanya untuk tips.
Perempuan bercadar itu lalu keluar dari cafe itu. Ia tidak mau berbuat keributan di situ. Baruch rupanya belum puas. Lelaki bertubuh tegap itu bangkit dan menyeringai keluar.
Temannya memintanya untuk membiarkan
perempuan itu dan mengajaknya minum.
"Kau duduk disini, biar kuurus pelacur itu!" Kata Baruch pada temannya.
Dada Fahri membara mendengar kata-kata Baruch yang sangat melecehkan perempuan bercadar itu.
Fahri punya firasat Baruch akan melakukan sesuatu yang buruk pada perempuan itu. Begitu Baruch keluar, Fahri bangkit dan menyusul keluar.
Baruch mengejar perempuan bercadar yang berjalan cepat menyusuri trotoar. Fahri menjaga jarak, ia hanya akan bertindak jika Baruch berlaku kurang ajar pada perempuan itu. Baruch dengan mudah bisa menyusul perempuan itu. Lelaki kekar itu memegang lengan kanan perempuan bercadar itu. Seketika perempuan itu berteriak marah,
"Jangan kurang ajar! Jangan sentuh saya !"
"Tidak usah sok suci! Aku tahu kalian seperti apa. Bahkan istri nabi kalian, istri Muhammad itu seorang pelacur, pezina! Iya kan!?"
"Tutup mulutmu! Jangan hina Nabi saya, jangan hina istri nabi saya, jangan hina keluarga nabi saya!"
"Saya tidak menghina. Apa yang saya ucapkan itu kenyataan. Bahkan saya mengatakan ini berdasarkan apa yang dikatakan saudaramu sendiri, kalangan umat Islam! Saya sudah baca, ada tulisan-tulisan 1ulama-ulama Iran, saya juga dengarkan pidato-pidato mereka yang mengatakan istri Muhammad yang
bernama Aisyah itu pezina!"
"Yang mengatakan seperti itu orang-orang bodoh yang pikirannya busuk! Dia bukan ulama, dan jangan dipercaya!"
"Tapi aku percaya! Nabimu itu setan yang berlagak sok suci, istri nabimu itu pezina! Dan kalian semua mengikuti ..."
"Plak!"
Baruch belum menyelesaikan ucapannya, sebuah tamparan keras mengenai mulutnya. Perempuan itu marah besar nabi dan istrinya di hina.
"Kau berani menamparku! Kau cari mati, anak pelacur!"
"Kau yang anak pelacur! Anak kera! Dengar, aku siap mempertaruhkan nyawaku demi membela kehormatan nabiku dan keluarganya !"
Tanpa banyak bicara Baruch langsung menempeleng perempuan bercadar itu dengan sangat keras. Tak ayal perempuan itu langsung jatuh terpelanting. Dibalik cadarnya, darah mengalir dari lubang hidungnya. Perempuan itu menahan sakit tapi ia berusaha untuk bangkit.
Fahri kaget luar biasa. Ia terlambat. Ia tidak bisa mencegah Baruch melukai perempuan bercadar itu.
Baruch berjalan mendekat hendak menendang perempuan itu. Pada saat itu Fahri berlari dan ketika kaki Baruch terayun hendak menendang kepala perempuan bercadar itu, tendangan Fahri yang keras mengenai kaki Baruch.
Seketika Baruch terjengkang jatuh. Lelaki kekar itu sama sekali tidak menduga akan ada yang menendangnya sekuat itu. Ia tidak sedang siap dengan kuda-kuda yang kokoh. Baruch ambruk dengan kepala membentur pojok trotoar.
Kepalanya berasa sakit dan pusing. Tetapi ia sesungguhnya adalah seorang tentara. Daya tahan tubuhnya di atas manusia rata-rata. Jika orang biasa, Baruch mungkin sudah pingsan.
Tetapi ia tidak pingsan. Ia merasa kepalanya sangat sakit tapi masih sadar. Hanya pandangannya jadi sedikit bermasalah. Ia melihat kearah sosok yang menendangnya. Ia agak sedikit kesulitan mengidentifikasi. Sebab sosok itu seperti blur dan jadi dua. Ia menggelengkan kepalanya untuk konsentrasi dan mempertajam penglihatannya. Akhirnya ia bisa melihat sosok itu.
"Fahri !"
Amarahnya langsung memuncak di ubun-ubun kepala. Kini yang ada dalam benaknya cuma satu, yaitu menghabisi Fahri. Lelaki itu sudah keterlaluan mempermalukan dirinya. Ditambah kini lelaki itu juga mencampuri urusannya.
"Bagus, rupanya kau bisa juga menendang, aku kira kau cuma bisa bicara di mimbar diskusi !"
"Kau ternyata seorang pengecut Baruch, beraninya cuma sama perempuan!"
"Tidak usah banyak bicara!"
Baruch melancarkan pukulan ke Fahri dengan tangan kanannya. Fahri sempat menghindar. Namun Baruch sudah terbiasa dilatih berkelahi.
Lelaki kekar itu dengan cepat menyusul dengan tendangan keras ke arah perut lawannya. Fahri tidak bisa menghindar, maka tendangan itu ia tangkis dengan tangan kanannya. Fahri merasakan engsel telapak kanannya sakit sekali beradu dengan kekuatan
tendangan Baruch. Tidak hanya telapak tangan yang sakit, lengan tangan kanannya juga terasa sakit.
Tendangan Baruch benar-benar keras. Baruch tahu persis lawannya kesakitan. Ia tidak banyak memberikan kesempatan kepada Fahri untuk memulihkan kondisi. Baruch langsung menyerang dengan gencar dan dengan kekuatan penuh.
Fahri bukanlah lawan tanding Baruch dalam hal duel fisik. Meskipun Fahri pernah belajar silat saat di pesantren dulu. Itu adalah dulu sekali, sudah lama Fahri tidak melatih bela dirinya. Olah raganya juga bisa dibilang kurang.
Tak ayal pukulan dan tendangan Baruch beberapa kali mendarat telak di tubuh Fahri. Terakhir sebuah pukulan yang telak mengenai pundak kanan Fahri. Murid Syaikh Utsman itu terjengkang.
Baruch langsung memburu dan menindih tubuh Fahri. Pukulan Baruch bertubi-tubi dilancarkan ke muka Fahri.
Fahri hanya bisa melindungi mukanya dengan kedua tangannya. Darah telah mengalir dari mulutnya. Bibirnya pecah. Sebagian kulit mukanya mengelupas.
Baruch lalu mencekik leher Fahri. Posisi Fahri benar-benar sudah terkunci. Ia meronta tapi tidak berpengaruh apa-apa. Fahri memukulkan tangannya ke tubuh Baruch. Tapi pukulan itu terlalu lemah untuk mengubah keadaan.
Cekikan Baruch benar-benar kuat. Fahri mulai kesusahan bernafas. Fahri pasrah. Sakaratul maut sepertinya akan menghampirinya. Ia menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah.
"Jika ini memang ajalku, aku ikhlas ya Allah. Namun kematianku ini terimalah sebagai kematian orang yang berjuang dijalan-Mu. Terimalah diriku dalam barisan orang-orang yang mati syahid." Doa Fahri dalam hati.
Fahri merasakan dadanya sangat sesak. Kepalanya seperti mau pecah. Ia ingin bernafas tapi tidak bisa.
Tenggorokannya sangat sakit dicekik Baruch. Lelaki bertubuh kekar itu tampaknya benar-benar akan menghabisinya.
Fahri merasa ajalnya akan segera tiba. Ia terus banyak menyebut nama Allah dalam hatinya. Tiba-tiba Fahri melihat mata Baruch mendelik beberapa kali, dan perlahan cekikannya mengendor. Baruch melepaskan cekikan tangannya dari lehernya. Meski lehernya masih sakit Fahri bisa bernafas.
Baruch berteriak marah. Ia balik kanan dan berdiri. Di punggungnya sebuah pisau lipat menancap.
Darah segar mengalir dari daging yang tertancap pisau dan dari dua tempat lainnya. Tangan kanan Baruch meraih pisau itu dan mencabutnya. Pisau itu kini ada dalam gengamannya.
Perempuan bercadar itu melangkah mundur. Baruch menyeringai bersiap hendak menghabisi perempuan bercadar yang telah menusuk punggungnya tiga kali. Fahri melihat bahaya besar berada di depan perempuan bercadar itu. Ia ingin menahan Baruch, tapi ia sudah tidak berdaya.
"Sister, lari! Cepat lari !" Teriak Fahri.
Perempuan bercadar itu seperti mendengar teriakan berkekuatan sihir yang mampu mengarahkannya.
Dengan cepat perempuan itu lari. Baruch mengejar. Perempuan itu berlari secepat-cepatnya. Fahri melihat sosok Baruch yang terus menjauh mengejar perempuan itu.
Pelan-pelan kedua matanya terasa berkunang-kunang.
Dan semua gelap. Fahri pingsan.
*****
Ketika bangun, Fahri menyadari dirinya ada di rumah sakit. Berarti ada yang menyelamatkan dirinya dan membawanya ke rumah sakit. Ia bersyukur kepada Allah masih diberi umur panjang, tetapi ia langsung didera rasa cemas luar biasa. Nasib perempuan bercadar itu bagaimana?
Fahri menoleh ke kiri. Ia tidak sendirian. Misbah tertidur sambil duduk di kursi. Fahri memanggil-manggil Misbah. Teman satu rumahnya ketika di Hadayek Helwan, Cairo, itu bangun.
"Alhamdulillah, Mas Fahri sudah bangun. Saya panggil dokter ya!"
"Sebentar."
"Apa mas?"
"Nasib perempuan bercadar itu bagaimana?"
"Sabina maksud Mas Fahri?"
"Perempuan bercadar yang dikejar Baruch."
"Ternyata itu Sabina."
"Oh itu Sabina. Bagaimana nasibnya?"
"Dia masih kritis. Kondisinya lebih parah dari Mas Fahri. Ada empat tusukan di tubuhnya."
"Inna lillahi wa inna ilaihiraji'un. Semoga dia selamat. Kalau Baruch?"
"Dia sudah mati."
"Mati?"
"Iya. Ditembak polisi. Dari keterangan seorang saksi, Sabina lari dikejar Baruch yang membawa pisau.
Ada polisi yang sedang patroli. Sabina lari ke arah polisi. Tapi keburu tertangkap Baruch. Penjahat itu menusuk Sabina. Perempuan itu berteriak keras minta tolong. Polisi mendengar.
Baruch menusuk lagi. Sabina jatuh. Baruch menghujamkan tusukannya lagi ke tubuh Sabina. Polisi memerintahkan Baruch angkat tangan. Baruch nekad hendak menghujamkan lagi pisaunya. Saat itu polisi menembak bahunya.
Baruch tersungkur. Polisi lalu membawa keduanya ke rumah sakit. Tapi Baruch meninggal di jalan kehabisan darah. Darah banyak mengalir dari luka di punggungnya."
Ada perasaan lega yang dirasakan Fahri ketika penjahat seperti Baruch itu mati. Mungkin perasaan lega seperti itu dirasakan oleh Musa ketika mengetahui Fir‘aun dan tentaranya mati tenggelam di laut. Juga ketika Nabi Muhammad saw. mengetahui Abu Jahal mati dalam perang Badar.
Fahri merasa berhutang nyawa pada Sabina. Walau bagaimana pun, jika Sabina tidak menusuk Baruch dengan pisau itu, mungkin ia telah mati karena dicekik Baruch. Nyawa memang ada di tangan Allah, ajal seseorang Allah yang menentukan, tetapi seringkali bersamaan dengan ajal itu datang, Allah juga
menyiapkan sebabnya. Seseorang panjang umur, Allah juga menyiapkan sebabnya. Dan salah satu sebab, ia masih selamat adalah Allah menggerakkan tangan Sabina untuk menyerang Baruch.
Fahri memejamkan kedua matanya. Air matanya meleleh. Dengan sungguh-sungguh ia mengucapkan puji syukur kepada Allah atas kesempatan hidup, dan sungguh-sungguh ia berdoa agar Sabina juga masih diberi kesempatan hidup.
Setelah diperiksa dengan seksama oleh dokter, kondisi Fahri tidak parah. Ia hanya mengalami
keretakan tulang dada, beberapa luka di wajah, satu gigi bawah tanggal, dan gegar otak ringan.
Dokter memperkirakan, Fahri hanya perlu dirawat satu minggu saja dirumah sakit setelah itu boleh dibawa ke rumah.
Peristiwa yang menimpa Fahri dan Sabina menjadi berita di surat kabar dan media. Pihak kepolisian Muselburgh, dua kali menemui Fahri untuk diambil keterangannya. Fahri dan Sabina dibebaskan dari segala jerat hukum. Pihak kepolisian menyimpulkan keduanya adalah korban. Hal itu ditambah keterangan jujur bartender dan rekaman CCTV milik Stadds Bar & Cafe yang memperlihatkan Baruchlah
yang berbuat salah sejak awal.
Berita penyerangan yang menimpa Fahri dan Sabina menyebar di kalangan muslim. Misbah juga menuliskan apa yang ia tahu dengan detil di Facebook dengan bahasa Inggris. Dalam waktu singkat apa yang ditulis Misbah menyebar luas. Terutama adalah pelecehan yang dilakukan Baruch kepada Sabina dan penghinaannya kepada Nabi, istri Nabi dan keluarga Nabi. Gelombang demonstrasi sebagian kaum muslim yang tidak terima atas hal itu terjadi. Di Edinburgh ratusan anak muda muslim merencanakan protes dan demo ke Edinburgh Hebrew Congregation. Fahri mendengar itu dari Tuan Taher yang
menjenguknya.
Pada hari H protes itu berlangsung, Fahri memaksakan diri untuk datang ke tengah-tengah para pendemo. Dengan perban masih melekat di sebagian wajahnya Fahri menenangkan massa. Fahri tidak ingin protes itu menjadi tindakan anarkis.
Fahri menjelaskan bahwa Baruch adalah penjahat kemanusiaan. Orang seperti Baruch bisa datang dari mana saja. Tidak hanya dari Yahudi. Tindakan dan keyakinan Baruch, ia sangat yakin tidak disetujui oleh para rabinik Yahudi yang moderat. Seorang gadis berambut pirang tiba-tiba menyeruak dari kerumunan dan berdiri di samping Fahri.
"Saya Yahudi, dan saya sangat tidak suka dengan sikap kejam Baruch yang ternyata dia juga tentara Israel. Saya dan keluarga saya termasuk Yahudi yang menentang zionis Israel!
Tidak ada alasan sejarah apapun mendirikan sebuah negara tapi mengusir penduduk aslinya!"
Demo itu berlangsung dengan damai dan tertib. Tindakan Fahri mendapat pujian dari banyak media.
Hari berikutnya fotonya menghiasi banyak media. Profesor Charlotte bahkan secara khusus menjenguknya dan mengabarkan, bahwa pihak kampus telah rapat dan menolak pengunduran dirinya.
Fahri menjawab akan memikirkannya, sebab Professor Charlotte akan tetap pindah ke St. Andrews.
Fahri banyak mendapat pujian. Namun pada saat yang sama, sebagian anak muda Islam mengecam tindakan Fahri habis-habisan.
Mereka menganggap Fahri sebagai pembela Yahudi, bahkan Fahri bisa jadi adalah antek Yahudi atau agen Yahudi yang disusupkan. Orang seperti Fahri justru lebih berbahaya
dari Baruch, yang terang-terangan mengaku Yahudi.
Mengetahui dirinya dicaci maki seperti itu, Fahri hanya mendoakan semoga saudara-saudaranya seiman selalu dilimpahi rahmat, taufiq dan kejernihan berpikir oleh Allah SWT.
Kondisi Fahri semakin membaik. Semua tetangganya di Stoneyhill Grove telah menjenguknya, kecuali Keira. Fahri sama sekali tidak mempedulikannya. Masyarakat dan mahasiswa Indonesia di Britania Raya silih berganti mengunjunginya, termasuk Duta Besar lndonesia dan para staf kedutaan.
Ozan dan keluarga besarnya juga menjenguknya meski sebentar. Sebab mereka sudah terjadwal memiliki agenda ke Belfast. Ozan berjanji akan cari waktu untuk menginap di Edinburgh.
Hal berbeda terjadi pada Sabina. Perempuan itu dapat diselamatkan dan kondisinya berangsur-angsur membaik. Namun ia sepi dari pengunjung. Hanya Brenda yang setiap hari menjenguknya. Juga Paman Hulusi yang memang diminta Fahri untuk memantau kondisinya.
Ketika kondisi Sabina sudah sangat stabil dan bisa diajak berbicara, Fahri menjenguknya. Sabina tampak kaget, namun binar-binar matanya memancarkan kebahagiaan. Itu adalah hari terakhir Fahri di rumah sakit itu. Setelah menjenguk Sabina ia akan pulang ke rumah.
"Paman, saya mau bicara berdua saja dengan Sabina." Gumam Fahri.
Paman Hulusi dan Misbah yang saat itu mendampingi Fahri langsung tahu diri. Mereka meninggalkan kamar itu.
"Ternyata perempuan bercadar yang pemberani itu kau, Sabina."
"Saya justru merasa bukan pemberani. Saya merasa diri saya adalah pengecut karena lari meninggalkan orang yang menyelamatkan nyawa saya."
"Justru kau yang menyelamatkan nyawaku Sabina."
"Kalau kau tidak datang menendang penjahat yang siap mengeksekusi diriku pasti aku sudah tidak bernyawa lagi."
"Dan kalau kau tidak menyerang Baruch dengan pisau itu saat aku sedang sekarat, pasti aku tinggal nama saja."
"Kalau kau tidak meneriaki supaya aku lari. Mungkin aku juga tinggal nama. Tetapi saat itu aku lari sambil merasa berdosa meninggalkanmu."
"Di atas itu semua yang menyelamatkan kita adalah Allah."
"Benar."
"Sabina, kau dapat pisau itu dari mana?"
"Saya selalu membawa pisau kecil di tas. Pisau lipat. Banyak perlunya. Untuk mengupas apel atau yang lainnya."
"Sabina, aku harap kau mau tinggal kembali di Stoneyhill Grove."
"Tidak mungkin."
"Kenapa?"
"Saya tidak mungkin tinggal disana lagi, kecuali kalau Anda telah menikah." Fahri terhenyak sesaat.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan menikahi kamu!" Sabina kaget bukan kepalang. Kedua matanya membelalak seperti tidak percaya.
"Apa aku tidak salah dengar?"
"Tidak Sabina. Kalau kau mensyaratkan aku harus menikah, maka aku akan menikahimu."
Sabina menggeleng dengan air mata meleleh.
"Kenapa tidak Sabina?"
"Tidak mungkin."
"Kenapa tidak mungkin? Asal kau mau dan setuju, besok juga bisa kita langsungkan akad nikahnya."
"Anda tidak boleh menikahi perempuan seperti aku, Tuan Fahri."
"Kenapa?"
"Tidak sepadan! Tidak kufu! Aku ini siapa? Gelandangan tidak jelas! Dan apa Anda tidak lihat wajahku?
Wajah yang jelek ini. Anak kecil saja takut dan tidak suka dengan wajah ini? Carilah perempuan lain yang lebih pas dan pantas."
"Siapa bilang tidak kufu? Ketika aku mendengar kalimatmu itu hatiku bergetar. Sebuah kalimat yang lahir dari keimanan yang dalam seorang muslimah. Kufu itu letaknya bukan di bentuk fisik. Kufu itu ada pada agama, akhlak dan iman."
"Kalimat apa itu? Saya tidak mengerti maksud Tuan."
"Kalimatmu yang terus terngiang-ngiang di telingaku. Kau katakan dengan lantang, 'Dengar, aku siap mempertaruhkan nyawaku demi membela kehormatan nabiku dan keluarganya!‘"
"Apakah aku boleh mendapatkan kehormatan menikahi perempuan yang siap mempertaruhkan nyawanya demi membela kehormatan nabinya dan keluarga nabinya?"
Sabina menangis terisak-isak. Keheningan tercipta dalam ruangan itu. Hanya isak tangis Sabina yang terdengar.
******
______________________________________________
[1] Budak perempuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar