PANASNYA BUNGA MEKAR : 29-02
Ketika kerja para perampok itu telah selesai, maka mulailah Akuwu Kabanaran bertanya kepada pemimpin perampok itu, di mana mereka menyimpan harta benda hasil rampokan mereka yang selalu mereka lakukan di daerah Kabanaran.
“Aku dapat mengembalikan kepada yang berhak.” berkata Akuwu di Kabanaran, “Jika hal itu tidak mungkin lagi, maka aku akan dapat mempergunakan harta benda dari Kabanaran itu untuk kepentingan kesejahteraan rakyat di Kabanaran.”
“Apakah benar begitu?” bertanya perampok itu.
“Jika tidak demikian, apakah kau mempunyai dugaan lain?” bertanya Akuwu Kabanaran.
“Jangan ragu-ragu. Katakan.” desak Akuwu.
Pemimpin perampok itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Memang mungkin terjadi tidak seperti yang Akuwu katakan. Mungkin harta benda itu justru akan jatuh ke tangan sebagian kecil saja dari para pemimpin di Kabanaran untuk kepentingan diri mereka sendiri.”
“Apakah hal seperti itu berlaku di Watu Mas?” bertanya Akuwu di Kabanaran.
Pemimpin perampok itu termangu-mangu. Namun katanya kemudian, “Kami mendapat perlindungan dari beberapa orang pemimpin pengawal. Tetapi kami harus menyerahkan sebagian dari hasil rampokan kami kepada mereka.”
“Aku tahu. Itulah sebabnya kami tidak dapat mengejar kalian sampai ke sarang. Dan persoalan itu pulalah antara lain sebab dari kemelut yang terjadi sekarang ini.” jawab Akuwu. Lalu, “Namun setelah pertempuran benar-benar pecah, kami tidak perlu lagi menghormati daerah kekuasaan Watu Mas yang dapat kalian pergunakan untuk berlindung selama ini.”
Pemimpin perampok itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Akuwu pun mendesak, “Sekarang, katakanlah. Di mana kau simpan barang-barangmu.”
“Aku tidak akan mengatakannya.” berkata pemimpin perampok itu.
“Jangan keras kepala!” geram Akuwu, “Jangan menunggu sampai aku kehilangan kesabaran.”
“Aku sudah bertekad untuk menutup mulutku.” jawab pemimpin perampok itu.
Wajah Akuwu menjadi tegang. Tiba-tiba saja Akuwu itu pun berdiri tegak sambil berkata lantang, “Bawalah semua orang berurutan lewat di hadapanku. Aku akan bertanya kepada mereka seorang demi seorang. Jika orang itu tidak mau mengatakan, di mana barang-barang mereka simpan, maka aku akan membunuh mereka. Satu demi satu. Biarlah aku membunuh sampai orang terakhir. Aku tidak memerlukan mereka lagi. Yang penting dendam ini telah terlepaskan.”
Wajah pemimpin perampok itu pun menjadi merah. Dengan nada dalam ia berkata, “Apakah kau dapat berbuat sekejam itu?”
”Aku tidak akan berbuat demikian terhadap rakyat Kabanaran. Tetapi terhadap musuh Kabanaran, aku dapat berbuat apa saja. Para pengawalku akan dengan suka rela melakukannya, karena mereka pun telah mendendam terhadap kalian sejak waktu yang sangat lama. Mereka menunggu kesempatan, sampai kapan, mereka dapat melepaskan dendam mereka terhadap kalian.”
“Itu bukan sifat seorang kesatria. Seorang kesatria tidak akan membunuh lawan yang menyerah.” jawab pemimpin perampok itu.
“Hanya lawan yang seimbang dalam ilmu dan derajadnya. Kalian adalah perampok-perampok yang memiliki martabat jauh lebih rendah dari seorang Akuwu dan pengawal-pengawalnya. Karena itu, seorang kesatria tidak terikat oleh kewajibannya untuk berbuat sebagaimana kau katakan.” jawab Akuwu, “Kecuali jika kalian benar-benar menunjukkan martabat kalian sebagai seorang laki-laki jantan yang berani bertanggung jawab atas segala perbuatan kalian.” geram Akuwu.
“Aku akan bertanggung jawab.” sahut pemimpin perampok itu.
“Jika demikian, katakan, di mana benda orang-orang Kabanaran yang kalian rampok? Kami wajib mengembalikannya atau mempergunakan bagi kesejahteraan rakyat Kabanaran.” jawab Akuwu, “Jika tidak, kami akan mendapat cukup kepuasan dengan membunuh kalian semua, atau justru dengan cara lain melepaskan kalian seorang demi seorang di padukuhan-padukuhan yang pernah mengalami perampokan.”
“Itu sangat keji.” jawab pemimpin perampok itu.
“Apa artinya kekejian seperti itu jika memang dapat mendatangkan kepuasan?” bertanya Akuwu.
“Itu tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang beradab.” pemimpin perampok itu hampir berteriak.
“Jangan berteriak. Aku dapat menjatuhkah hukum picis terhadapmu,” sahut Akuwu, “kecuali jika kau bersikap jantan.”
Tidak ada pilihan lain. Akhirnya pemimpin perampok itu pun berkata, ”Kau berhasil memeras kami. Aku tahu, yang kau katakan itu tidak akan kau lakukan. Tetapi biarlah aku mengatakan di mana barang-barang itu kami simpan, karena barang-barang itu tidak akan bermanfaat apapun juga bagi kami.”
Akuwu di Kabanaran mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Jika kau berpendirian seperti itu, cepat katakan, di mana harta benda itu.”
Pemimpin perampok yang tidak dapat ingkar lagi itu pun kemudian membawa Akuwu dan dua orang pengawal ke tempat harta benda mereka sembunyikan, di dalam goa di bawah tanah.
“Kau memang iblis!” geram Akuwu ketika dilihatnya harta benda yang tidak ternilai harganya, ”Kau sudah merampok harta benda milik rakyatku di Kabanaran.”
Pemimpin perampok itu tidak menjawab. Tetapi dalam cahaya obor ia melihat, betapa wajah Akuwu memancarkan kemarahannya. Harta benda yang tersimpan itu adalah harta benda yang memang telah dirampoknya dari orang-orang Kabanaran.
“Biarlah harta benda itu kembali kepada orang-orang Kabanaran,” geram Akuwu, “meskipun sulit untuk mengembalikan seorang demi seorang, karena perampokan itu sudah berlangsung sejak lama sekali, namun aku dapat mempergunakannya untuk kepentingan yang lain bagi Kabanaran.”
Pemimpin perampok itu tidak menjawab.
Dalam pada itu, maka Akuwu di Kabanaran itu pun kemudian memerintahkan pemimpin perampok itu memanggil kawan-kawannya untuk mengambil harta benda yang tersembunyi di dalam goa itu. Mereka pulalah yang harus membawa harta benda itu ke Pakuwon Kabanaran di bawah pengawalan yang kuat.
Segalanya itu dilakukan dengan cepat. Akuwu tidak menunggu persoalan itu berkembang. Meskipun perhatian orang-orang Watu Mas sebagian tertuju kepada peperangan yang terjadi di daerah lain dalam urutan perbatasan, namun tentu masih ada kelompok-kelompok pengawal yang tersisa di perbatasan itu.
Karena itulah, maka ketika segalanya sudah siap, Akuwu di Kabanaran tidak menunggu lebih lama lagi.
Demikianlah maka sebuah iring-iringan telah meninggalkan hutan perbatasan. Yang dibawa oleh para perampok itu selain harta bendanya, juga kawan-kawan mereka yang terluka parah, dengan anyaman tali pada dua batang kayu di sebelah menyebelah.
Dalam pada itu, di bagian lain dari perbatasan antara Watu Mas dan Kabanaran, telah terjadi pertempuran yang jauh lebih besar dari pertempuran yang terjadi antara para pengawal yang dipimpin oleh Akuwu melawan para perampok. Pertempuran yang telah melibatkan kekuatan puncak dari Pakuwon Watu Mas dan Pakuwon Kabanaran.
Yang terjadi adalah benturan dua gelar pasukan segelar sepapan dengan segala kelengkapan dan kebesarannya. Umbul-umbul, rontek, panji dan tunggul. Namun pada kedua pasukan itu tidak terdapat kelebet pertanda kehadiran Akuwu masing-masing.
Akuwu Watu Mas dengan berdebar-debar menunggu setiap berita yang datang dari medan perang. Sedangkan Akuwu di Kabanaran justru telah melakukan tugas yang penting, yang sebenarnya merupakan sumber dari segala pertentangan antara Pakuwon Kabanaran dan Pakuwon Watu Mas.
Dalam pada itu, ternyata bahwa benturan dua kekuatan yang besar itu telah menimbulkan pertempuran yang besar pula. Tidak dapat dihindari, bahwa dari kedua belah pihak telah jatuh korban. Kematian disusul dengan kematian. Yang terluka parah telah diangkut dan disingkirkan oleh kawan-kawan mereka. Sementara yang berada di belakang garis perang telah sibuk dengan perawatan dan juga menyediakan makan dan minum bagi mereka.
Dalam pada itu, ternyata pada hari yang pertama, pasukan dari Kabanaran telah terdesak mundur. Gelar Sapit Urang yang memberikan tekanan kekuatan kepada ujung-ujung sayap pasukan, telah mengalami kesulitan untuk melawan gelar Garuda Nglayang dari pasukan Watu Mas. Kekuatan pasukan Watu Mas memang berada pada induk pasukan mereka. Karena itulah, maka ketika induk pasukan Pasukan Kabanaran terdesak mundur, sayap-sayapnya pun ikut mundur pula, agar gelar mereka tidak terputus dan jika demikian, maka para pengawal Watu Mas akan berhasil memecahkan gelar para pengawal dari Kabanaran. Dalam keadaan yang demikian, maka keadaan pasukan Kabanaran akan menjadi lebih parah.
Karena itu, maka seluruh gelar telah ditarik meskipun perlahan-lahan. Sementara pasukan Kabanaran berusaha untuk menghimpun kekuatannya agar mereka tidak terdesak terus.
Dengan menarik beberapa bagian dari pasukannya yang berada di sayap, di bawah pimpinan Senopati pengapitnya, maka pasukan Kabanaran akhirnya dapat bertahan. Tetapi pasukan Kabanaran masih belum dapat mendesak maju.
Garis perang itu bertahan sampai matahari turun ke ujung Barat, sehingga akhirnya, ketika malam menjadi gelap, telah terdengar isyarat dari kedua belah pihak, bahwa pertempuran telah dihentikan.
Yang kemudian nampak di arena itu adalah beberapa orang sambil membawa obor berusaha untuk menemukan kawan-kawan mereka yang terluka parah. Yang sudah gugur, mereka memang harus mengikhlaskannya. Namun yang terluka memang wajib untuk mendapat pertolongan.
Kedua belah pihak sama sekali tidak saling mengganggu dalam tugas kemanusiaan itu. Meskipun kadang-kadang dua tiga pengawal berobor itu berpapasan. Namun mereka hanya saling memandang dengan penuh kebencian tanpa berbuat sesuatu.
Sementara itu, di padukuhan yang menjadi pusat kepemimpinan pasukan Kabanaran, telah terjadi kesibukan yang luar biasa. Para petugas telah dengan sigapnya melayani para pengawal. Mereka yang tergores senjata segera mendapat perawatan. Mereka yang lapar telah disediakan makan, sementara yang haus telah disediakan minuman.
Beberapa orang telah pergi ke tempat persediaan senjata, karena senjata yang mereka pergunakan telah cacat. Bahkan ada di antara mereka yang memilih senjata yang lain, yang menurut pertimbangannya lebih sesuai dipergunakan dalam perang yang besar itu.
Di seberang arena, orang-orang Watu Mas pun telah sibuk pula sebagaimana orang-orang Kabanaran. Mereka telah membuat perapian di pinggir hutan untuk menyiapkan makan dan minum bagi pasukan Watu Mas. Yang terluka pun telah mendapat perawatan. Ada di antara mereka yang harus segera kembali ke Watu Mas karena lukanya terlalu parah.
Dua buah pedati malam itu juga telah meninggalkan medan membawa orang-orang yang terluka terlalu parah.
Namun mendahului pedati yang kembali ke Watu Mas, empat orang penghubung dengan tergesa-gesa membawa laporan tentang keadaan medan.
Akuwu di Watu Mas menerima laporan itu pada larut malam. Namun pada saat yang hampir bersamaan, Akuwu di Watu Mas itu pun telah menerima laporan, bahwa pasukan Kabanaran telah memasuki wilayah Watu Mas di bagian lain di perbatasan, dan telah menghancurkan sarang perampok yang sejak semula menjadi masalah antara kedua Pakuwon itu.
“Gila,” geram Akuwu di Watu Mas, “orang-orang Kabanaran memang licik. Mereka mengambil kesempatan dari pertempuran itu untuk merampas harta benda yang telah berada di Watu Mas. Jika harta benda yang disimpan oleh para perampok itu kita ambil lebih dahulu, maka harta benda itu akan sangat bermanfaat bagi kita, khususnya bagi peperangan ini.”
Tidak seorang pun yang menjawab. Tetapi seorang Senopati tidak dapat mengerti, bahwa kelincahan sikap Akuwu di Kabanaran itu disebutnya sebagai satu sikap yang licik.
“Akuwu Kabanaran justru telah berbuat sesuatu berdasarkan perhitungan yang cermat.” berkata Senopati itu di dalam hatinya. “Justru kamilah yang lengah. Sama sekali bukan satu kelicikan.”
Tetapi Senopati itu sama sekali tidak berani mengatakannya kepada Akuwu. Ia sadar, bahwa Akuwu tentu akan menjadi sangat marah.
Apalagi hampir bersamaan waktunya, telah datang pula para penghubung di medan perang yang menyatakan, bahwa pasukan Watu Mas masih bertahan.
”Kami dapat mendesak maju,” berkata penghubung itu, ”tetapi hampir tidak berarti, karena kami tidak dapat mencapai sebuah padukuhan pun. Ketika senja turun, pasukan Kabanaran masih berada di luar padukuhan yang menjadi induk kekuatan pengawal perbatasan.”
“Besok kalian harus memasuki padukuhan itu,” berkata Akuwu, “kalian harus menghancurkan segala isi padukuhan itu dan membuatnya karang abang. Tugas kalian adalah mencerai-beraikan pertahanan di perbatasan itu. Baru kemudian kalian akan kembali ke Watu Mas, sebelum kita menyiapkan sergapan yang sebenarnya langsung ke pusat pemerintahan Pakuwon Kabanaran.”
”Kenapa kita tidak mengambil keuntungan dari pertempuran ini?” berkata senopati yang hadir, “Jika Pasukan Kabanaran sudah berhasil dipecahkan, maka alangkah mudahnya untuk memasuki pusat pemerintahannya. Jika kita tarik kembali pasukan kita, dan kemudian berangkat lagi memasuki arena pertempuran, agaknya orang-orang Kabanaran telah dapat mempersiapkan diri mereka lagi.”
“Aku akan mempertimbangkannya,” berkata Akuwu, “tetapi perbekalan yang ada tidak akan mencukupi jika kita akan langsung memasuki pusat pemerintahan di Kabanaran.”
“Kenapa Akuwu mencemaskannya?” bertanya senopatinya, “Bukankah di Kabanaran, di sepanjang padukuhan tersedia perbekalan yang dapat mendukung gerak laju pasukan kita?”
Akuwu di Watu Mas itu pun mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Beri aku bahan-bahan keterangan secukupnya. Aku akan mempertimbangkan, setelah aku mendapat laporan pada hari yang kedua.”
Para penghubung itu pun segera kembali ke medan setelah mereka menukar kuda-kuda mereka dengan yang masih segar, serta setelah Akuwu memberikan pesan-pesan secukupnya.
Sementara itu, di Kabanaran, Akuwu Suwelatama tidak dapat menunggu laporan dari medan, karena ia sendiri berada dalam perjalanan kembali dari sarang para perampok. Namun ketika ia memasuki Kabuyutan yang masih utuh dengan para penghuninya, karena tidak berada terlalu dekat dengan perbatasan, maka Akuwu telah membagi tugas dengan pengiringnya.
“Bawa para perampok ini ke pusat pemerintahan malam ini juga. Simpan semua harta benda yang kita bawa. Aku akan langsung menuju ke medan perang.” berkata Akuwu Suwelatama.
Tugas yang sangat berat bagi para pengiringnya. Namun mereka akan melakukannya dengan penuh tanggung jawab. Justru karena mereka membawa harta benda yang tidak ternilai harganya.
Bersama tiga pengiringnya, maka Akuwu Suwelatama memisahkan diri menuju ke medan perang. Dengan kuda yang tegar mereka menempuh perjalanan yang cukup panjang menyusuri daerah perbatasan. Namun orang-orang yang sempat melihatnya tentu tidak akan mengatakan bahwa salah seorang dari keempat orang itu adalah Akuwu sendiri. Karena mereka berempat telah mengenakan pakaian sebagaimana para pengawal biasa. Tidak seorang pun yang mengenakan pakaian yang berbeda di antara mereka.
Perjalanan Akuwu cukup melelahkan. Baru saja ia bertempur melawan para perampok. Kemudian memisahkan diri dan menempuh perjalanan panjang setelah beristirahat untuk beberapa saat saja.
Lewat tengah malam, barulah Akuwu sampai ke daerah peperangan. Namun Akuwu menyadari, bahwa ia harus berhati-hati. Ia tidak tahu pasti, sampai di manakah gerak dari garis pertempuran.
Karena itu, maka Akuwu harus melingkar menjauhi medan dan mencari keterangan tentang gerak pasukan dari kedua belah pihak.
Ketika mereka mendekati sebuah padukuhan, maka mereka telah berhenti beberapa puluh langkah dan seorang di antara para pengawal telah dengan hati-hati mendekati gardu di ujung padukuhan. Namun ternyata yang berada di gardu itu adalah para pengawal dari Kabanaran.
Meskipun demikian, pengawal yang menyertai Akuwu itu tidak langsung membawa kawan-kawannya dan Akuwu ke gardu itu, karena beberapa hal akan dapat terjadi. Mungkin salah paham, mungkin satu jebakan.
Namun ketika pengawal itu mendekat, ternyata ada di antara para pengawal di gardu itu yang dikenalnya.
“Kau?” bertanya pengawal di gardu itu.
Yang baru datang itu pun kemudian mendekat sambil bertanya, “Apakah yang kalian lakukan di sini?”
“Apakah kau bermimpi? Bukankah kita berada di medan. Kami berjaga-jaga bergantian.” jawab kawannya yang di gardu itu.
“Di sini? Di manakah lawan malam ini berkemah?” bertanya pengawal yang menyertai Akuwu.
“Di hadapan padukuhan induk pertahanan,” jawab pengawal itu, “sudah ada pengawasan khusus. Meskipun demikian, di setiap padukuhan, meskipun tidak berada di garis pertama, harus mendapat pengawalan sebaik-baiknya. He, apakah kerjamu di sini? Bukankah kau tidak ikut dengan pasukan di perbatasan ini?”
“Aku juga bertugas di perbatasan. Tapi di bagian lain.” jawab pengawal itu.
“Jadi, apa kerjamu di sini?” bertanya kawannya.
”Aku mendapat tugas menghadap Senopati di induk pasukan. Apakah seseorang dapat mengantarkan aku? Aku membawa pesan dari Akuwu. Tetapi karena aku tidak mengetahui keadaan medan dengan pasti, maka aku telah dengan sangat berhati-hati mencari jalan menuju ke induk pasukan.” jawab pengawal itu.
“Kau sendiri?” bertanya yang berada di gardu.
“Aku bersama dengan tiga orang kawanku. Mungkin ada juga yang sudah kalian kenal di antara mereka.” jawab pengawal itu.
“Ajak mereka kemari. Aku akan mengantar kalian menghadap Senopati di induk pasukan atau orang yang sedang bertugas malam ini jika Senopati sedang beristirahat.”
Pengawal itu pun kemudian menemui Akuwu dan kedua orang pengawal yang lain. Berempat mereka mendekati gardu itu. Karena cahaya obor yang redup, maka tidak seorang pun para pengawal yang menyangka, bahwa seorang di antara para pengawal, dan yang justru berada di paling belakang dalam bayangan gelap itu adalah Akuwu sendiri.
Diantar oleh seorang pengawal, maka mereka telah pergi ke induk pasukan. Ketika mereka memasuki padukuhan yang menjadi induk pertahanan pasukan Kabanaran, maka mereka harus berhenti beberapa kali untuk menjawab beberapa macam pertanyaan. Namun karena mereka diantar oleh seorang pengawal dari pasukan yang berada di perbatasan itu pula, maka mereka tidak banyak mengalami kesulitan untuk pergi ke sebuah rumah yang cukup besar di padukuhan induk pertahanan itu.
Ketika seorang pengawal menyampaikan permintaan menghadap dari seorang pengawal yang mendapat pesan dari Akuwu, maka Senapati yang bertugas mengatakan, bahwa Senopati yang memimpin seluruh pasukan itu sedang beristirahat.
”Pengawal itu mengatakan, bahwa pesan itu penting sekali.” berkata pengawal yang menyampaikan pesan itu.
“Suruhlah orang itu menunggu barang sejenak. Baru saja Senopati itu tertidur. Besok tenaganya akan dipergunakan sepenuhnya. Jika pesan itu tidak menyangkut satu tindakan yang harus dilakukan sekarang, katakan, biarlah ia menunggu sampai menjelang fajar. Ia akan bangun dan mengatur pasukan ini seluruhnya.” berkata Senopati itu.
Ketika hal itu disampaikan kepada pengawal yang datang bersama Akuwu, hampir saja pengawal itu memaksa untuk dapat menghadap. Namun Akuwulah yang menggamitnya sambil berdesis, ”Kita akan menunggu.”
Pengawal itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Kita akan menunggu. Tetapi kami memohon waktu barang sekejap besok sebelum Senopati sibuk dengan pasukannya.”
Tiga orang pengawal bersama Akuwu Suwelatama itu pun kemudian dipersilahkan untuk beristirahat. Karena mereka berada di medan, maka mereka berada di sembarang tempat. Berempat mereka duduk di bawah sebatang pohon manggis yang besar. Namun ternyata bahwa Akuwu sempat tidur sambil duduk bersandar pohon itu.
Pengawalnya menggelengkan kepalanya. Salah seorang berdesis, “Akuwu memang seorang prajurit.”
Para pengawalnya pun kemudian berusaha untuk dapat beristirahat pula. Namun yang seorang telah memisahkan diri dan mengamatinya dari sebatang pohon yang lain, beberapa langkah dari tempat Akuwu tertidur.
Dua orang pengawal yang lain pun beristirahat pula barang sekejap, sementara yang memisahkan diri mendapat tugas untuk mengamati keadaan Akuwu. Meskipun mereka berada di antara pasukan sendiri, namun sesuatu memang dapat terjadi.
Dalam pada itu, yang seorang itu pun sempat mendapat giliran untuk memejamkan matanya barang sekejap, ketika seorang dari dua orang kawannya terbangun dan menggantikan kedudukannya.
Menjelang fajar, ternyata di padukuhan yang dipergunakan sebagai induk pertahanan itu telah mulai sibuk. Mereka yang menyiapkan perbekalan telah bangun lebih dahulu dari para prajurit yang benar-benar harus menghemat tenaga menghadapi masa pertempuran yang panjang.
Seperti yang dikatakan oleh Senopati yang bertugas, maka Senopati yang memimpin pasukan itu pun telah bangun menjelang fajar. Namun ia pun segera menjadi sibuk mengatur segala persiapan menghadapi pertempuran yang akan sangat melelahkan.
Seorang pengawal yang datang bersama Akuwu pun telah berusaha untuk menghadap. Namun agaknya kesibukannya telah membuat pengawal itu kehilangan kesempatan.
Senopati itu telah memberikan perintah-perintah. Petunjuk-petunjuk dan pesan-pesan kepada Senopati-senopati pembantunya. Mereka telah membicarakan gelar yang paling tepat untuk menghadapi lawan dan menunjuk siapakah yang akan menjadi Senopati pengapit dalam tugas yang akan menjadi semakin berat.
Pengawal yang datang bersama Akuwu itu pun berusaha untuk memohon waktu barang sejenak, sebagaimana disanggupkan oleh pengawal yang sebelumnya mendapat janji dari senopati yang bertugas semalam.
“Senopati sibuk sekali.” berkata pengawal yang menghubungi Senopati yang bertugas semalam.
“Tetapi pesan ini perlu sekali. Kami ingin menghadap barang sekejap. Justru sebelum pasukan ini berangkat ke medan.” berkata pengawal itu.
Pengawal itu mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa pesan Akuwu tentu penting sekali. Karena itu, sekali lagi ia berusaha untuk mendapat waktu. Sekali ia berkata kepada senopati yang bertugas semalam, “ Pesan itu adalah pesan Akuwu.”
Senopati itu mengangguk-angguk. Sejenak ia menunggu. Ketika ia melihat kesempatan maka ia pun mengatakan kepada Senopati yang memimpin pasukan di perbatasan itu, “Ada pesan dari Akuwu.”
“Siapakah yang membawa pesan itu?” bertanya Senopati itu.
“Beberapa orang pengawal. Mereka ingin menyampaikan pesan itu sebelum kita berangkat ke medan.” berkata Senopati yang bertugas semalam.
“Kapan mereka datang?” bertanya Senopati yang memimpin seluruh pasukan.
“Semalam. Ketika aku sedang bertugas. Tetapi waktu itu Senopati baru saja tidur untuk beristirahat, sehingga aku memutuskan untuk mempersilahan mereka menunggu.”
“Bawa mereka kemari.” berkata Senopati itu.
Seorang pengawal kemudian telah memanggil pengawal yang datang berempat bersama Akuwu. Ketika mereka mendekat mula-mula tidak seorang pun yang menduga bahwa seorang di antara mereka dalam pakaian yang sama itu adalah Akuwu Suwelatama sendiri. Namun akhirnya Senopati yang memimpin seluruh pasukan di medan itu mengerutkan keningnya. Bahkan kemudian ia mulai tegang.
“Akuwu.” tiba-tiba ia berdesis.
Para Senopati yang berada di ruang itu terkejut. Mereka mulai memperhatikan keempat orang pengawal yang datang itu. Sebenarnyalah, seorang di antara mereka adalah Akuwu Suwelatama sendiri.
Dengan tergopoh-gopoh Senopati besar yang memimpin seluruh pasukan itu pun kemudian mempersilahkan Akuwu duduk di antara para Senopati. Bahkan dengan nada dalam ia berkata, “Kami mohon ampun, bahwa kami telah mengabaikan kedatangan Akuwu di tempat ini.”
Akuwu yang tersenyum di antara para Senopati itu menjawab, “Aku melihat pelaksanaan tugas yang sebaik-baiknya di sini.”
Sementara itu, Senopati yang semalam menolak pengawal yang ingin bertemu dengan Senopati yang memimpin seluruh pasukan itu pun merasa bersalah pula. Tetapi sebelum ia mohon maaf, Akuwu berkata, “Kau sudah bertindak benar. Senopati yang sedang tidur itu memang memerlukan beristirahat. Jika ia tidak beristirahat sama sekali, maka di hari berikutnya, ia tidak akan dapat mempergunakan tenaganya sebaik-baiknya, justru menghadapi tugas yang sangat berat.”
Para Senopati itu pun mengangguk-angguk. Namun sementara itu, Akuwu berkata, “Waktu sudah semakin mendesak. Selesaikan tugas kalian. Sebentar lagi kalian akan turun ke medan.”
“Tetapi apakah ada perintah yang akan Akuwu berikan kepada kami?” bertanya Senopati itu.
“Tidak. Aku hanya ingin melihat medan.” jawab Akuwu, “Tetapi aku belum akan turun ke dalam gelar. Aku hanya akan menyaksikan. Tetapi sementara itu aku akan memberitahukan, bahwa aku telah melakukan sesuatu.”
Para Senopati itu pun memperhatikannya dengan sungguh-sungguh ketika Akuwu menceriterakan dengan singkat, apa yang telah dilakukannya di hutan perbatasan di bagian yang lain.
“Jadi sarang perampok itu sudah dihancurkan?” bertanya Senopati di daerah peperangan itu.
“Ya. Tetapi ini tidak terlalu penting bagi kalian. Yang penting lakukan tugas kalian sebaik-baiknya. Aku akan mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan baru untuk mendatangkan pasukan lebih besar lagi di tempat ini, jika tempat ini benar-benar akan menjadi penentu bagi masa depan hubungan antara Kabanaran dan Watu Mas.”
“Nampaknya memang demikian, Akuwu. Tetapi kita akan melihat setelah hari kedua.” jawab Senopati yang memimpin seluruh pasukan Kabanaran.
Dalam pada itu, Akuwu pun kemudian memberi kesempatan kepada Senopati itu untuk melaksanakan tugasnya. Karena itu, maka Akuwu itu pun berkata, “Aku akan beristirahat di tempat ini. Di rumah ini. Mungkin aku akan pergi ke medan hari ini. Tetapi mungkin esok pagi. Biarlah kalian tidak berpikir tentang aku. Aku akan tetap dalam pakaian pengawal seperti ini.”
Senopati yang memimpin seluruh pasukan itu pun kemudian mempersilahkan Akuwu beristirahat, meskipun sebenarnya Akuwu hanya bergeser beberapa langkah dan duduk di tempat yang lain dalam ruang itu. Namun dengan demikian maka Senopati yang memimpin seluruh pasukan itu pun melanjutkan tugasnya mengatur pasukannya.
Ternyata bahwa pasukan itu masih mendapat kesempatan untuk makan. Mereka dipersilahkan untuk secukupnya. Pertempuran akan berlangsung sehari seperti yang terjadi kemarin. Ketika kemudian saatnya tiba, maka seluruh pasukan pun telah disiapkan. Para Senopati segera berada di dalam pasukan masing-masing. Meskipun Gelar Sapit Urang di hari pertama nampak kurang menguntungkan, namun pada hari itu, pasukan Kabanaran tetap mempergunakan gelar yang sama.
Dalam induk pasukan dalam gelar Sapit Urang itu terdapat pula Mahisa Bungalan dan Senopati yang langsung memimpin seluruh pasukan Kabanaran itu.
Sejenak sebelum pasukan itu maju ke medan, Akuwu masih sempat menemui Mahisa Bungalan sambil berkata, “Kau dapat membantu kami. Kau dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan kepada Senopati yang aku tugaskan memimpin seluruh pasukan ini.”
Mahisa Bungalan mengangguk sambil tersenyum. Katanya, “Di hari pertama, Senopati Akuwu itu tidak berbuat kesalahan sama sekali. Mudah-mudahan di hari ini pun ia tidak melakukan kesalahan pula.”
Ketika tiba saatnya pasukan itu maju ke medan, setelah langit menjadi terang, maka terdengar sangkakala berbunyi di induk pasukan.
Sejenak kemudian maka pasukan itu pun mulai bergerak. Dengan segala macam tanda kebesaran seperti pada hari pertama, pasukan Kabanaran telah maju ke medan, untuk menghadapi pasukan dari Watu Mas yang telah siap pula. Sebagaimana juga pasukan Kabanaran, maka pasukan Watu Mas pun telah mempergunakan segala macam ciri dan tanda kebesaran pasukan segelar sepapan. Namun keduanya masih belum memperlihatkan panji-panji kebesaran Akuwu dari Pakuwon masing-masing.
Sebenarnyalah meskipun Akuwu Kabanaran telah berada di medan, tetapi ia tidak tampil sebagaimana seorang Akuwu. Ia masih akan tetap berada di padukuhan induk pertahanan. Seandainya ia akan pergi juga ke medan, maka ia tidak akan turun ke gelanggang sebagai seorang Akuwu.
Demikianlah kedua pasukan itu semakin lama menjadi semakin dekat. Ketika para Senopati memberikan aba-aba untuk menyerang, maka terdengarlah sorak yang bergemuruh dari kedua belah pihak.
Kedua pasukan itu masih mempergunakan gelar yang sama. Namun Kabanaran yang terdesak pada hari pertama, telah memperkuat induk pasukannya dengan beberapa kelompok pengawal yang terpilih. Sementara pada kedua sayap pasukan, diperintahkan oleh Senopati yang memimpin seluruh pasukan itu, untuk menyesuaikan diri dengan gerak induk pasukan.
Sejenak kemudian, maka kedua pasukan itu mulai berbenturan. Seperti pada hari pertama, kedua belah pihak telah bertempur dengan gigihnya. Desak-mendesak. Dorong-mendorong dan serang-menyerang.
Pertempuran itu berlangsung dengan sengitnya. Matahari yang memanjat langit semakin tinggi dan melontarkan panasnya yang terik sama sekali tidak dihiraukannya.
Berbeda dengan hari pertama, pasukan Watu Mas tidak berhasil mendesak pasukan Kabanaran. Mereka sebenarnya merencanakan untuk mendesak pasukan Kabanaran sampai ke padukuhan yang mereka pergunakan sebagai tempat induk pertahanan dan menghancurkannya. Dengan demikian maka pasukan Kabanaran akan terpaksa menggeser induk pertahanannya. Jika Akuwu memerintahkan, maka pasukan Watu Mas akan mendesak pasukan Kabanaran selanjutnya. Bahkan apabila perlu, Watu Mas tidak perlu menarik pasukannya lagi, tetapi dengan bantuan pasukan baru, mereka akan terus menuju ke pusat pemerintahan Pakuwon Kabanaran dan mendudukinya.
Tetapi ternyata bahwa pasukan Kabanaran pada hari kedua mampu bertahan. Justru karena induk pasukannya telah diperkuat, maka pasukan Watu Mas tidak lagi dapat mendesak mereka. Meskipun pasukan Kabanaran juga tidak dapat mendesak pasukan Watu Mas, tetapi keadaannya sudah menjadi lebih baik dari hari yang pertama.
Sementara itu, Mahisa Bungalan yang berada di induk pasukan telah bertempur dengan sengitnya. Lawan-lawannya harus mengakui bahwa anak muda yang berada di induk pasukan itu mempunyai ilmu yang sulit diimbangi. Karena itulah, maka untuk melawan Mahisa Bungalan, para pengawal dari Watu Mas harus bertempur berpasangan.
Dalam pada itu, sebenarnyalah Akuwu Suwelatama telah berniat untuk melihat medan pertempuran dari dekat. Tetapi ia tidak ingin hadir sebagai Akuwu di Kabanaran. Ia akan hadir di pertempuran itu sebagai seorang pengawal kebanyakan.
Karena itulah, maka dengan dikawal oleh tiga orang pengawal kepercayaannya, maka ketika matahari mencapai puncak langit, Akuwu telah mendekati medan pertempuran. Meskipun Akuwu tidak langsung terjun dalam arena, namun ia dapat melihat betapa kerasnya benturan kekuatan antara pasukan Watu Mas dan pasukan Kabanaran itu.
Akuwu di Kabanaran itu melihat, betapa senjata yang beradu dengan dahsyatnya. Betapa desah kesakitan dan keluhan tertahan karena goresan senjata. Ia melihat betapa orang-orang yang terluka harus digeser dari medan.
Namun Akuwu pun melihat betapa para pengawal di Kabanaran dengan sepenuh hati telah mempertahankan tanah kelahirannya tanpa menghiraukan nilai diri sendiri.
Sentuhan kebanggaan telah melonjak di hati Akuwu di Kabanaran melihat pasukannya yang bertempur dengan beraninya. Meskipun demikian, maka Akuwu melihat, jumlah pengawal yang turun ke medan akan dapat diperbesar, sehingga dengan demikian maka kekuatan Kabanaran akan mampu mendesak pasukan Watu Mas sampai ke seberang hutan perbatasan. Karena menurut perhitungan Akuwu, tujuan pokok dan pangkal dari segala sengketa itu telah dapat diatasinya. Pasukan perampok itu sudah dikalahkan.
Karena itu, maka pada saat itu pula, tanpa menunggu akhir dari pertempuran di hari kedua, Akuwu yang kembali ke padukuhan induk pertahanan, telah memerintahkan dua orang penghubung untuk kembali ke kota Pakuwon. Pasukan yang baru saja kembali dari hutan perbatasan dan memasuki sarang perampok itu dipanggil ke medan bersama beberapa kelompok pasukan yang lain yang dapat ditarik dari daerah-daerah yang tidak terlalu rawan. Namun diawasi sebaik-baiknya.
“Malam nanti mereka harus sudah berada di medan,” berkata Akuwu, “besok mereka harus sudah dapat menggantikan pasukan cadangan, karena semua pasukan cadangan turun ke medan.”
Dengan berkuda para penghubung itu berpacu menuju ke kota Pakuwon. Mereka harus melaksanakan tugas itu sebaik-baiknya dan secepat-cepatnya.
Dalam pada itu, Akuwu di Watu Mas pun telah mendengar laporan bahwa pasukan Kabanaran telah memasuki daerah perbatasan dan langsung menyerang sarang para perampok. Mereka telah merampas harta benda yang tidak ternilai harganya yang terdapat di sarang perampok itu.
Kemarahan yang tidak tertahan telah mendorong Akuwu memerintahkan kepada para pengawalnya yang terpercaya untuk bersiap.
“Aku akan pergi ke medan. Orang-orang Kabanaran bukan saja telah memasuki daerah Watu Mas. tetapi mereka telah mengambil harta benda yang berada di Watu Mas. Tidak peduli harta benda milik siapa pun juga, tetapi harta benda itu sudah berada di Pakuwon Watu Mas.” berkata Akuwu di Watu Mas, “Karena itu, orang-orang Kabanaran memang harus dihukum.”
Dengan tergesa-gesa Akuwu di Watu Mas telah menyiapkan para pengawalnya yang terpilih. Bahkan kelompok pengawal yang sedang bertugas di luar Kota Pakuwon pun telah dipanggil. Mereka akan pergi ke medan dan dengan kekuatan yang bertambah, mereka akan menghukum orang-orang Kabanaran.
”Aku tidak perlu menunggu laporan berikutnya,” berkata Akuwu, “beberapa orang yang terluka dari medan itu sudah cukup memberikan gambaran apa yang terjadi. Pertempuran itu tentu merupakan pertempuran yang cukup besar.”
Demikianlah maka dengan pengawal yang kuat dan beberapa kelompok pengawal yang berhasil ditarik, Akuwu di Watu Mas telah menuju ke medan. Mereka dengan tergesa-gesa menyusup hutan. Meskipun Akuwu sendiri berkuda, tetapi karena tidak semua orang di dalam pasukan itu berkuda, maka laju pasukan itu pun menjadi tidak terlalu cepat.
Tetapi akhirnya Akuwu tidak telaten. Maka katanya kepada Senopati yang memimpin pasukannya, “Aku akan mendahului bersama kelompok pasukan berkuda. Yang lain agar berjalan lebih cepat menyusul kami.”
Demikianlah, maka Akuwu itu pun telah mendahului bersama beberapa orang pengawal berkuda. Di antara mereka adalah penghubung yang sudah mengetahui keadaan medan.
Karena itu, maka ketika Akuwu sampai ke medan, maka Akuwu itu pun segera berada di antara para pedati di perkemahan pasukan Watu Mas.
Kedatangan Akuwu di Watu Mas membuat orang-orang yang berasa di perkemahan menjadi berdebar hati. Sekelompok pengawal yang ditugaskan untuk menjaga perbekalan dan termasuk pasukan cadangan, menerima Akuwu dengan berbagai macam harapan.
“Pasukan yang lain akan menyusul,” berkata Akuwu, “besok, pada pertempuran di hari berikutnya, kita akan menghancurkan pasukan Kabanaran.”
“Ya,” jawab pemimpin kelompok dari pasukan cadangan, “besok kita akan menghancurkan mereka.”
Akuwu itu pun kemudian berbicara dengan beberapa orang kepercayaannya. Akhirnya Akuwu mengambil kesimpulan, “Aku tidak akan bertempur lagi dalam gelar yang utuh. Meskipun besok pasukan Watu Mas akan keluar lagi dengan gelar, tetapi gelar yang lebih kecil. Beberapa kelompok pasukan akan menerobos lewat jalan lain memasuki padukuhan induk pertahanan. Sebagian lagi akan menghantam gelar pasukan lawan dari arah belakang. Perhatian mereka akan terpecah, dan kita akan mencerai beraikan mereka.”
“Bagus,” desis seorang kepercayaannya, “jika kita dapat mencapai induk pertahanan, maka pasukan yang ada tentu tinggal pasukan pengawal yang kecil, karena agaknya Kabanaran telah menempatkan seluruh kekuatannya pada gelar Sapit Urangnya yang besar dan megah.”
“Aku akan mempergunakan cara yang tidak sewajarnya dalam perang beradu gelar,” berkata Akuwu di Watu Mas, “kita harus mempunyai akal agar kita dapat lebih cepat menghancurkan mereka.”
Namun Akuwu dari Watu Mas itu harus menunggu. Ketika matahari turun, maka pertempuran pun telah berhenti ketika terdengar sangkakala tertiup dari kedua belah pihak. Dengan letih kedua pasukan itu menarik diri, kembali ke induk pertahanan masing-masing. Yang luka pun segera mendapat perawatan, dan yang gugur pun harus dikumpulkan untuk dibawa ke belakang garis perang.
Pada saat yang demikian, kedua orang Akuwu itu melihat kerugian yang besar di pihak masing-masing. Seolah-olah berjanji maka kedua Akuwu itu mencari akal, bagaimana mereka dapat mempercepat menyelesaikan dari perang yang tengah berkobar antara dua Pakuwon yang bertentangan itu.
Namun dalam gejolak pertempuran yang membara itu, ternyata Pangeran Indrasunu sempat memperhatikan kehadiran Mahisa Bungalan di medan pertempuran itu.
Selagi Akuwu di Kabanaran dan Akuwu di Watu Mas mencari jalan untuk memenangkan perang, maka Pangeran Indrasunu telah menganyam sendiri.
Ketika ia melihat Mahisa Bungalan berada di medan, maka ia menduga, bahwa orang-orang yang pernah berada di Pakuwon Kabanaran pada saat Pakuwon itu didudukinya berada di medan itu pula.
Meskipun demikian, Pangeran Indrasunu masih bertahan berada di medan untuk melihat akhir dari benturan kekuatan antara Kabanaran dan Watu Mas, karena sebenarnyalah dendamnya kepada Akuwu Suwelatama menjadi sebesar dendamnya kepada Mahisa Bungalan karena kegagalannya merampas seorang gadis yang bernama Ken Padmi.
Dalam pada itu, di induk pertahanan pasukan Kabanaran dan di perkemahan pasukan Watu Mas telah terjadi kesibukan. Para tabib telah bekerja keras sementara orang-orang yang menyiapkan makan dan minuman bagi para prajurit yang sedang beristirahat.
Beberapa orang prajurit telah berendam di belik-belik kecil yang terdapat di hutan perbatasan dan di sungai-sungai yang mengalirkan air yang bening dari mata air di bawah pepohonan yang besar dan rimbun. Air yang segar di udara malam yang dingin membuat tubuh mereka menjadi segar. Keringat dan debu yang melekat di tubuh mereka rasa-rasanya telah larut ke dalam air yang menjadi keruh. Noda-noda darah yang kehitam-hitaman pun telah menjadi bersih dari tubuh mereka.
Meskipun goresan-goresan senjata di kulit mereka terasa sedikit pedih, namun kesegaran air itu rasa-rasanya telah memulihkan kekuatan mereka. Apalagi ketika kemudian mereka setelah berendam, makan nasi hangat dan minum minuman panas.
Sementara itu, Akuwu Watu Mas telah memanggil para pemimpin pasukannya untuk membicarakan kemungkinan yang akan mereka lakukan di hari kemudian.
Seperti yang sudah dikatakan, Akuwu di Watu Mas ingin memecah perhatian pasukan Kabanaran. Karena itu, maka disamping pasukan yang akan maju dalam gelar yang utuh, lengkap dengan tanda-tanda kebesaran seperti biasanya, namun jumlahnya yang menjadi lebih kecil, maka Akuwu telah memerintahkan untuk menyusun pasukan yang akan melingkari gelar lawan dan menghantam lawan dari arah belakang. Bahkan apabila mungkin, sekelompok yang lain akan langsung menuju ke induk pertahanan untuk menghancurkan perbekalan dan menjadikan padukuhan yang menjadi pusat pertahanan itu jadi lautan api.
“Mereka akan menjadi kecut dan kehilangan gairah perjuangan.” berkata Akuwu.
“Sebenarnya pasukan Kabanaran berhati kecil,” berkata Pangeran Indrasunu, “ketika aku memasuki kota Pakuwon, aku tidak banyak menemui kesulitan.”
“Pangeran memilih saat yang tepat. Saat pasukan Kabanaran sebagian besar berada di Kedung Sertu dan hutan perbatasan. Apalagi kedatangan Pangeran bersama pasukan yang kuat dari beberapa padepokan begitu tiba-tiba seperti banjir yang tidak terbendung.” jawab Akuwu di Watu Mas.
“Maksudku,” berkata Indrasunu, “jika mereka mengalami sedikit saja kekalahan, maka mereka akan kehilangan kemantapan bertempur,” jawab Pangeran Indrasunu, “karena itu, aku sependapat, bahwa sebagian dari pasukan Watu Mas menerobos melingkari gelar. Dan aku pun sependapat, bahwa pasukan ini selanjutnya akan terus menerobos memasuki kota Pakuwon. Kita tidak perlu mengulangi serangan yang akan memberikan peluang kepada orang-orang Kabanaran untuk bersiap-siap lagi. Sementara perbekalan dan perlengkapan kita, akan dapat menyusul.”
“Malam nanti sepasukan pengawal akan datang dengan beberapa perlengkapan dan perbekalan baru,” berkata Akuwu, “aku telah mendahului mereka untuk mempersiapkan satu rencana yang matang di sini.”
Sebenarnyalah malam itu, pasukan yang berangkat bersama Akuwu di Watu Mas, tetapi kemudian ditinggalkannya telah sampai ke medan. Mereka pun segera menempatkan diri dalam perkemahan yang segera mereka dirikan. Para pemimpinnya segera berkumpul untuk menyesuaikan diri dengan rencana yang telah disusun sebelumnya.
“Kalian masih sempat beristirahat,” berkata Akuwu, “besok pagi sebagian dari kalian akan memasuki arena. Karena itu, kalian harus menyiapkan diri lahir dan batin.”
Setelah makan dan minum, maka para pengawal yang datang kemudian itu pun segera beristirahat, karena besok mereka akan turun ke peperangan.
Dalam pada itu, di induk pertahanan pengawal dari Kabanaran, Akuwu Suwelatama pun sibuk memberikan perintah-perintah. Sebagaimana diharapkan, maka malam itu juga para penghubung telah kembali bersama sepasukan pengawal. Mereka adalah para pengawal yang telah memasuki sarang perampok di hutan perbatasan, sementara yang lain adalah para pengawal yang sempat ditarik dari beberapa tempat di sekitar Kota Pakuwon. Sedangkan sebagian yang lain adalah para pengawal yang semula berada di Kedung Sertu yang untuk sementara ditempatkan sebagai pengawal kota Pakuwon, sementara sebagian yang lain telah mendahului berada di medan. Tetapi ternyata bahwa Akuwu di Kabanaran telah mengambil satu kebijaksanaan lain dari yang pernah dipikirkannya sebelumnya. Karena pasukan yang datang itu masih belum mendapat kesempatan beristirahat secukupnya, maka sebagian saja dari pasukan cadangan yang di keesokan harinya akan turun ke medan.
“Jangan semua pasukan cadangan,” berkata Akuwu, “sebagian harus tetap berada di induk perbatasan ini, karena pasukan yang datang ini ternyata terlalu lambat, sehingga mereka belum mendapat kesempatan beristirahat secukupnya.”
Demikianlah, ketika fajar menyingsing, pasukan Kabanaran telah bersikap dengan gelar perangnya. Mereka menurunkan sebagian dari pasukan cadangannya untuk menggantikan para pengawal yang telah gugur dan terluka parah.
Sebagaimana hari-hari sebelumnya, maka pasukan Kabanaran berada dalam gelar yang utuh. Dengan tanda-tanda kebesaran pasukan Kabanaran telah siap maju ke medan.
Pasukan Kabanaran itu sama sekali tidak menduga, bahwa pasukan Watu Mas telah mengadakan perubahan cara menghadapi pasukan Kabanaran. Meskipun pasukan Watu Mas turun dengan gelar penuh dan tanda-tanda kebesaran seperti biasanya, namun mereka telah menerima perintah-perintah tertentu dari para Senopati mereka.
“Jika pasukan mulai berbenturan, maka sebagian dari mereka akan meninggalkan gelar, melingkari arena dan menyerang langsung ke belakang pertahanan lawan.” pesan Senopati yang mengatur peperangan di pihak Kabuyutan Watu Mas, “Orang-orang Kabanaran akan menjadi bingung, sehingga apabila mereka tidak bersiap-siap menghadapi cara yang kami tempuh, gelar mereka akan koyak pada pangkal sayapnya.”
Demikianlah, maka pada saatnya, kedua pasukan dalam gelar itu telah maju ke medan. Meskipun Akuwu di kedua belah pihak sudah berada di induk pertahanan masing-masing, tetapi gelar yang mereka lepaskan masih belum mempergunakan panji-panji kebesaran Akuwu di Pakuwon masing-masing.
Meskipun pasukan Watu Mas masih tetap mempergunakan gelar Garuda Nglayang, namun para Senopati yang berpengalaman dari pasukan Kabanaran melihat perbedaan pada susunan gelar itu. Mereka melihat sayap gelar Garuda Nglayang itu terlalu besar dan tidak seimbang dengan induk pasukannya.
“Mereka akan mematahkan sayap gelar Sapit Urang ini.” berkata Senopati yang memimpin seluruh pasukan Kabanaran kepada Mahisa Bungalan.
Mahisa Bungalan adalah seorang anak muda yang berilmu tinggi. Tetapi ia terbiasa melakukan petualangan secara pribadi. Pengalamannya dalam olah kanuragan lebih banyak ditentukan pada kemampuan seorang, meskipun bukan berarti bahwa ia tidak dapat menyesuaikan diri dengan perang gelar. Namun karena itu, maka pengenalannya atas gelar lawan tidak setajam Senopati yang berada di induk pasukan itu.
Karena itu, maka kesan yang pertama dilihat oleh Mahisa Bungalan adalah sebagaimana dikatakan oleh Senopati itu. Kekuatan gelar lawan, justru di letakkan kepada sayap-sayap gelarnya.
Senopati yang memimpin pasukan Kabanaran itu pun segera mengirimkan penghubung-penghubungnya kepada para Senopati pengapit dan Senopati yang memimpin ujung sayap. Penghubung itu menyampaikan kesan yang di berikan oleh Senopati tertinggi dari pasukan Kabanaran itu.
Dalam pada itu, ternyata para Senopati pun melihat kelainan pada gelar lawan. Karena itu, maka Senopati pengapit telah melepaskan beberapa kelompok pengawal dari Kabanaran untuk berada di sayap pasukan. Sehingga dengan demikian mereka akan mengimbangi kelainan gelar lawan.
Sejenak kemudian, maka kedua pasukan itu pun telah menjadi semakin dekat. Ketika saat benturan terjadi, maka terdengarlah sorak gemuruh dari kedua belah pihak.
Seperti hari-hari sebelumnya maka kedua pasukan itu pun segera terlibat dalam satu pertempuran sengit. Masing-masing pihak telah berusaha untuk mendesak lawannya. Pedang beradu pedang, tombak membentur perisai dan bindi pun terayun-ayun di udara.
Dalam pada itu, ketika pertempuran itu menjadi semakin sengit, maka mulailah terjadi perubahan pada pasukan Watu Mas. Gelar Garuda Nglayang itu pun mulai menunjukkan kelainannya.
Sebenarnyalah beberapa kelompok pengawal di ujung sayap pasukan Watu Mas mulai bergerak. Mereka seolah-olah telah meninggalkan pasukan mereka, bergeser menebar.
Senopati yang berada di sayap gelar pasukan Kabanaran menjadi bimbang menanggapi gerak lawan. Namun sebelum mendapat gambaran yang pasti dari tujuan gerak lawan yang berbeda dengan hari-hari sebelumnya, ternyata Senopati di ujung sayap itu berpikir cukup cepat.
“Pergunakan kesempatan,” perintahnya, “sebelum kita menemukan pola perlawanan yang baru. Pasukan lawan menjadi semakin tipis.”
Sebenarnyalah pasukan Kabanaran berhasil menekan lawannya yang menebar. Namun kemudian mereka pun memaklumi bahwa beberapa kelompok pasukan Watu Mas dengan sengaja sudah melampaui ujung sayap gelar lawannya langsung melingkar ke belakang garis perang gelar.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar