Kamis, 04 Februari 2021

PANASNYA BUNGA MEKAR JILID 18-02

PANASNYA BUNGA MEKAR : 18-02
Agaknya tiga orang itu berhasil memasuki padukuhan tanpa diketahui oleh sekelompok perampok yang siap melakukan pekerjaan mereka di padukuhan yang justru sudah siap menyambut kedatangan mereka. Namun penghuni padukuhan itu ternyata tidak cukup berpengalaman untuk melawan orang-orang yang sudah terbiasa melakukan pekerjaan itu.

Ternyata Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan yang memasuki padukuhan itu, tidak kehilangan jejak. Mereka masih tetap dapat mengamati orang-orang yang kemudian berada di sebuah halaman luas yang ditumbuhi rumpun-rumpun bambu yang lebat dan tidak terpelihara.

“Kita akan pergi kemana?” bertanya pemimpin sekelompok perampok itu.

“Kita akan langsung menuju ke rumah orang itu” berkata yang lain, “aku sudah memahami keadaan lingkungannya. Orang yang malam ini akan kita jadikan korban, bukannya orang yang paling kaya di padukuhan ini. Tetapi memadahilah, sehingga kita akan mendapat barang-barang yang cukup, sebelum pada suatu saat kita akan datang ke rumah yang paling baik di padukuhan ini”

“Kenapa tidak sekarang?” bertanya yang lain.

“Kesiagaan orang-orang padukuhan ini tentu berpusar pada rumah dari orang yang paling kaya itu. Kita akan melihat keadaan. Jika keadaan memungkinkan, memang tidak ada salahnya. Tetapi menilik kesiagaan orang-orang di padukuhan ini, agaknya lebih baik kita akan kembali pada kesempatan lain” jawab kawannya yang telah menyelidiki keadaan padukuhan itu.

“Kau takut?” bertanya kawannya.

Yang terdengar adalah jawaban yang kasar, “Kau pernah melihat aku ketakutan? Yang aku perhitungkan adalah kemungkinan-kemungkinan. Bukan ketakutan”

“Aku yang akan menentukan” potong pemimpin sekelompok perampok itu. Lalu, “Aku setuju, bahwa kita mula-mula akan pergi ke sasaran pertama. Baru kemudian kita akan melihat keadaan”

Tidak ada lagi yang mempersoalkan rencana itu. Mereka hanya tinggal melakukannya, karena pimpinan mereka telah mengambil keputusan.

Demikianlah, maka mereka pun mulai bergerak dengan hati-hati. Bagaimanapun juga, agaknya mereka masih menghindarkan diri dari kemungkinan yang akan dapat menyulitkan mereka. Mereka lebih senang melakukan pekerjaan itu dengan tanpa meninggalkan korban apapun juga.

Sementara itu, Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan berusaha untuk tidak melepaskan pengamatan mereka atas para perampok yang kemudian menuju ke sasaran.

Ternyata para perampok itu berhasil menyusup di antara para peronda. Apalagi para peronda yang selalu lewat di jalan-jalan padukuhan dalam jumlah yang terhitung besar. Lima atau enam orang sambil berbicara dengan kerasnya. Dengan demikian, maka para perampok itu selalu dapat mencari kesempatan sebaik-baiknya untuk melintasi jalan-jalan padukuhan, meloncat dari satu halaman ke halaman yang lain.

Meskipun padukuhan itu benar-benar telah disibukkan oleh setiap laki-laki yang keluar dari rumah dan berada di regol dan di gardu-gardu, namun para perampok itu seakan-akan tidak menemui kesulitan sama sekali. Perlahan-lahan tetapi pasti, mereka pun mendekati rumah yang akan mereka jadikan korban perampokan pada malam itu.

Sebenarnyalah, seperti yang mereka perhitungkan, karena setiap laki-laki telah keluar dari rumah mereka, maka yang berada di rumah tinggallah perempuan dan anak-anak. tetapi agaknya perempuan dan anak-anak itu pun sudah merasa terlalu aman, karena laki-laki di padukuhan mereka tersebar di setiap sudut dan jalan-jalan padukuhan, sehingga menurut dugaan mereka, tidak seorang penjahat pun yang akan dapat mengganggu mereka.

Karena itulah, maka justru mereka telah tidur dengan nyenyaknya. Hanya satu dua rumah para bebahu padukuhan sajalah yang masih disibukkan oleh beberapa orang perempuan yang merebus air dan menyiapkan makanan bagi para peronda yang akan berjaga-jaga semalam suntuk dan yang agaknya tidak hanya semalam itu saja.

Tetapi, beberapa orang perampok itu tidak akan menuju ke rumah yang masih sibuk itu. Mereka sudah menentukan, rumah yang mana yang akan menjadi sasaran mereka malam itu.

Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan pun kemudian tertegun ketika mereka melihat para perampok itu mendekati sebuah rumah joglo yang besar. Rumah yang berhalaman luas dan mempunyai sebuah regol yang menarik.

“Itulah sasarannya” desis Mahisa Bungalan.

Sambil mengangguk Witantra pun berbisik, ”Agaknya memang demikian”

Untuk beberapa saat lamanya mereka menunggu. Para perampok itu pun agaknya sedang menunggu kesempatan sebaik-baiknya. Mereka bersembunyi rapat-rapat di halaman di depan rumah itu ketika empat orang peronda berjalan lewat lorong dimuka rumah itu pula. Seorang di antara mereka itu berkata, ”Agaknya penghuninya sudah tidur nyenyak”

“Ya” jawab yang lain, “tiga orang penghuni laki-laki di rumah itu berada di gardu-gardu”

“Mereka pun selalu mengelilingi padukuhan ini. Setiap kali mereka tentu lewat jalan ini pula sambil mengamati rumahnya” berkata orang yang pertama.

“Seperti kita juga” jawab yang lain, ”setiap kali kita meronda lewat lorong di depan rumah kita masing-masing.

Empat orang peronda itu berjalan terus. Namun agaknya setiap kali ada saja yang lewat melalui lorong-lorong di dalam padukuhan itu, seperti yang dikatakan oleh salah seorang peronda yang lewat, bahwa setiap orang berusaha untuk melihat-lihat halaman rumah masing-masing.

Demikian keempat orang itu lewat, maka para perampok itu pun segera bertindak. Pemimpinnya berkata, “Kita harus memasuki rumah itu dan menutup pintunya, jika peronda berikutnya lewat, mereka tidak akan tahu, apa yang terjadi di dalamnya”

“Jika penghuninya berteriak?” bertanya kawannya

“Tidak seorang pun yang akan berbuat demikian” berkata pemimpinnya, “kecuali jika orang-orang itu sudah jemu hidup”

Tidak seorang pun lagi yang mengatakan sesuatu. Yang kemudian mereka lakukan adalah mendekati pintu samping rumah itu.

“Ketuk, perlahan-lahan” desis pemimpinnya.

Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan pun telah berusaha mendekat lagi. Mereka harus mengetahui, apa yang sedang dilakukan oleh para perampok itu, sehingga mereka akan dapat mengambil satu sikap jika keadaan memaksa.

Salah seorang perampok itupun kemudian mengetuk pintu samping perlahan-lahan. Seolah-olah mereka sama sekali tidak tergesa-gesa dan tidak mempunyai kepentingan yang mendesak.

Sejenak kemudian terdengar desah di dalam rumah itu. Lalu terdengar pula suara seorang perempuan.”Siapa?”

“Aku. Ada pesan dari suamimu” jawab orang yang berada di luar.

Jawaban itu ternyata telah mengejutkan perempuan di dalam rumah itu. Dengan tergesa-gesa terdengar langkah mendekati pintu sambil bertanya.”Pesan apa?”

“Tidak penting” jawab yang diluar, “tetapi karena keadaan nampaknya menjadi semakin gawat, ia tetap berada di gerbang padukuhan sebelah Barat”

“Pesan apa?” bertanya perempuan itu.

“Aku membawa kerisnya. Keris itu tidak penting. Malahan pendoknya akan dapat dirampas oleh orang jahat. Ia sudah membawa tombak panjang” jawab suara diluar.

Perempuan itu tidak berpikir panjang. Suaminya kebetulan memang membawa keris seperti kebanyakan laki-laki di padukuhan itu. Meskipun mereka membawa pedang dan tombak, namun pada umumnya mereka telah membawa keris pula. Apalagi keris yang mempunyai nilai dan tuah.

Namun betapa terkejutnya perempuan itu. Demikian ia membuka selarak pintu, dengan tidak diduga-duga itu telah terdorong keras sehingga perempuan itu hampir saja jatuh terlentang.

Belum lagi ia sempat membenahi diri, beberapa orang laki-laki garang telah berloncatan memasuki rumahnya sambil mendorongnya ke sudut. Seorang di antara mereka mengacukan goloknya sambil berkata, “Jangan berteriak”

Yang terjadi itu sama sekali tidak terduga-duga. Perempuan itu menganggap bahwa padukuhan itu tentu tidak akan diganggu selama setiap laki-laki berada di gardu-gardu dan di jalan-jalan. Tidak mungkin ada seorang penjahat pun yang akan dapat lolos dari penjagaan mereka, sehingga tanpa curiga, ia telah membuka pintu. Namun ternyata ia sudah berhadapan dengan beberapa orang yang nampaknya adalah para penjahat.

Salah seorang dari mereka yang memasuki rumah itu pun kemudian menutup pintu. Dengan demikian, maka jika sekelompok peronda lewat, maka tidak akan timbul kesan apapun juga dari dalam rumah itu.

“Jangan berbuat sesuatu yang dapat memperpendek nyawamu ancam salah seorang laki-laki yang berjambang lebat.

Perempuan itu menjadi gemetar. Seandainya ia ingin berteriakan, suaranya tidak lagi dapat meloncat dari kerongkongannya.

“Siapa saja yang berada di rumah ini” bertanya pamimpin sekelompok perampok itu.

Perempuan itu tergagap. Tetapi pemimpin perampok itu bertanya lebih garang lagi, meskipun tidak terlalu keras, “Siapa lagi yang berada di rumah”

“Anakku” desis perempuan itu ketakutan.

“Dimana?” bertanya pemimpin perampok itu.

“Tidur” jawab perempuan itu.

“Berapa orang?” bertanya perampok itu pula.

Perempuan itu termangu-mangu sejenak. Anakku laki-laki tidak ada di rumah sekarang”

Pemimpin perampok itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku tahu, bahwa samua laki-laki di rumah ini sudah keluar.

Perempuan itu menjadi semakin pucat. ubuhnya yang gemetar menjadi basah oleh keringat.

“Dimana mereka tidur?” bentak salah seorang dari perampok-perampok itu.

“Di dalam bilik sebelah” jawab perempuan itu gemetar.

Seorang perampok berusaha untuk menjenguknya. Ternyata di dalam bilik itu memang terdapat dua orang gadis yang sedang tidur nyenyak.

Sejenak perampok itu memandanginya dengan mata tanpa berkedip. Namun kemudian iapun meninggalkan pintu bilik itu kembali kepada pemimpinnya, “Ya. Dua orang gadis. Aku tidak tahu pasti, apakah keduanya cantik atau tidak. Tetapi keduanya nampak tidur dengan nyenyaknya. Agaknya keduanya sudah cukup besar untuk kawin”

Beberapa orang perampok tertawa tertahan. Namun dengan demikian, hati perempuan itu menjadi semakin bergetar.

“Nah” berkata pemimpin perampok itu, “sekarang serahkan semua harta milikmu. Aku tahu, kau cukup kaya. Kau mempunyai perhiasan intan berlian. Kau mempunyai perhiasan emas dan perak”

“Aku tidak mempunyai apa-apa” desis perempuan itu hampir menangis.

“Jangan menghambat tugas-tugasku” berkata pemimpin perampok itu, “aku tidak mempunyai banyak waktu. Setiap saat, jalan di depan rumah ini dilewati para peronda. Meskipun aku akan dapat mambunuh siapa saja yang berusaha menangkap aku, tetapi agaknya itu tidak perlu aku lakukan, jika kau tidak membuat onar disini”

Perempuan itu masih ragu-ragu.

“Cepat, jika kami tidak menemukan apa-apa disini, maka yang paling berharga akan kami ambil dari rumah ini” geram pemimpin perampok itu.

“Apa?” bertanya perempuan itu.

“Kedua anak gadismu. Harganya akan sama dengan emas, perak dan berlian” jawab pemimpin perampok itu.

Beberapa orang kasar itu tertawa meskipun tidak terlalu keras. Bahkan salah seorang dari mereka bergumam, “Aku memilih perempuan itu saja. Aku dapat membawanya pulang dan menjadikannya seorang perempuan yang bahagia”

Karena itulah, maka perempuan itu pun menjadi semakin gemetar. Tentu saja ia tidak akan membiarkan anaknya mengalami perlakuan yang dapat membuat anaknya menderita sepanjang umurnya.

“Cepat” tiba-tiba saja pemimpin perampok itu membentak, “jangan menunggu kami kehilangan kesabaran”

Perempuan itu tidak dapat berbuat lain. Katanya, “Tunggulah Aku akan mengambil apa yang aku punya”

“Jangan tipu kami” berkata pemimpin perampok itu, “aku ikut bersamamu. Dimanapun kau simpan barang-barang itu”

Perempuan itu sama sekali tidak mempunyai kesempatan lagi. Ia pun kemudian pergi kedalam biliknya, di sebelah bilik anak-anaknya untuk mengambil perhiasannya yang disimpan di dalam geledeg kayu. Lebih baik baginya kehilangan perhiasan itu daripada anak gadis mengalami perlakuan yang gila dari orang-orang kasar itu.

Pemimpin perampok itu menerima perhiasan perempuan itu dengan hati yang berdebar-debar. Namun demikian, nampaknya masih ada yang kurang. Sekali lagi ia membentak, “Dimana kamus dan timang suaminya?”

“Dipakai” jawab perempuan itu.

“Bohong” jawab pemimpin perampok itu, “tentu tidak. Jika ia pergi kedalam satu perjamuan mungkin ia memakainya. Tetapi tentu tidak jika ia sekedar pergi meronda”

“Tetapi ia memakainya. Ia memakai kamus dan timangnya yang terbuat dari emas. Kerisnya pun dibawanya, sehingga jika kau kehendaki, aku tidak akan dapat memberikannya”

“Jangan bohong” pemimpin perampok itu menggeram, “aku dapat memerintahkan orang-orangku untuk dalam sekejap membuat kedua anak perempuanmu itu menjadi manusia yang tidak berharga lagi dalam pergaulan hidupnya sehari-hari”

“Jangan, jangan berbuat demikian. Aku sudah memberikan apa saja” jawab perempuan itu, “yang lain tidak ada di rumah. Lihatlah seluruh rumahku. Aku memang masih mempunyai beberapa keping uang simpanan jika kau kehendaki. Tetapi nilainya tentu tidak seberapa dibanding dengan perhiasan-perhiasanku itu”

“Ambil uang itu” bentak pemimpin perampok itu.

Perempuan itupun kemudian mengambil simpanan uangnya dan menyerahkannya kepada pemimpin perampok itu.

“Yang lain, aku minta yang lain” geram pemimpin perampok itu pula.

“Aku tidak punya apa-apa lagi, “ tangis perempuan yang menjadi putus asa itu.

Pemimpin perampok itupun kemudian memanggil beberapa orang-orangnya dan diperintahkannya untuk mencari apa saja yang dapat dibawanya di seluruh rumah itu.

Ternyata dua orang laki-laki yang kasar itu telah memasuki bilik kedua anak gadis perempuan yang menjadi kehilangan akal itu. Nampaknya keduanya justru berusaha untuk membangunkan kedua gadis yang sedang tidur nyenyak itu.

Demikian kedua gadis itu terbangun, maka mereka pun telah terkejut karena dua ujung golok berada di dada masing-masing.

“Jangan ribut anak-anak manis” desis laki-laki itu, “aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku akan berbuat baik atas kalian berdua”

Kedua gadis itu menjadi gemetar. Namun keduanya tidak dapat berbuat apa-apa.

“Dimana perhiasan kalian simpan” desis salah seorang dari dua orang laki-laki yang menggenggam golok itu.

Kedua orang gadis itu menjadi gemetar. Mereka tidak segera mengerti, apakah yang sedang mereka hadapi. Tetapi dua ujung golok itu telah membuat mereka menjadi gemetar.

“Bangunlah” desis laki-laki kasar itu, “bangkitlah dan tunjukkan kepadaku- dimanakah perhiasan kalian, kalian simpan”. Dengan tubuh gemetar keduanya bangkit dan turun dari pembaringan. Samentara kedua orang laki-laki itu tersenyum memandangi mereka.

“Cepat anak-anak manis” berkata salah seorang dari laki-laki kasar itu, “semakin lama aku menatap kalian berdua, maka semakin berdebar jantung di dadaku. Cepat, sebelum aku berubah sikap sehingga yang aku minta bukannya perhiasan.

“Aku tidak punya perhiasan” desis yang seorang dengan suara patah-patah.

“Apa?” geram laki-laki kasar itu, “jangan membuat kami kehilangan kesabaran. Jika kalian tidak segera menunjukkan, maka kalian akan menyesal, sebab kalian akan kehilangan milik kalian yang jauh lebih berharga”

Kedua gadis itu menjadi semakin ketakutan. Sementara mereka pun mendengar suara lain yang membentak-bentak di luar bilik.

“Ibumu telah menyerahkan perhiasannya” berkata salah seorang dari laki-laki kasar itu, “sekarang giliran kalian”

“Semua perhiasan kami, sudah kami serahkan untuk disimpan kepada ibu” berkata salah seorang dari gadis gadis itu.

Wajah kedua orang laki-laki kasar itu menegang. Namun kemudian wajah itu telah berubah lagi. Sambil tersenyum laki-laki itu berkata, “Jangan bohong anak-anak manis. Marilah, berikan perhiasan-perhiasan itu”

Belum lagi gadis-gadis itu menjawab, tiba-tiba ibunya telah berlarian masuk kedalam bilik itu. Dengan serta merta kedua anak gadisnya itu pun telah dipeluknya. Betapa gemetar tangan ibunya, namun ia masih berusaha untuk melindungi anak-anaknya.

Kedua laki-laki itu tertawa. Seorang laki-laki lain telah memasuki bilik itu pula, sementara di depan pintu pemimpin perampok itu menggeram, “Aku masih menuntut yang lain. Apapun juga. Waktuku tidak terlalu banyak”

“Tidak ada lagi yang dapat aku berikan” desis perempuan yang ketakutan itu.

Perampok-perampok itu menjadi tegang. Nampaknya mereka sudah kehabisan kesabaran, sementara di antara mereka yang mencari sesuatu yang lain di rumah itu tidak berhasil.

“Aku benar-benar tidak mempunyai apapun lagi yang dapat aku serahkan kepada kalian” berkata perempuan itu dengan suara tersendat-sendat, “semua sudah ada pada kalian. Karena itu, pergilah. Tinggalkan kami bertiga”

Pemimpin perampok yang berdiri di pintu itu berdiri termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Jika kalian tidak dapat memberi apapun lagi, maka rumah ini akan aku bakar. Aku tidak tahu apakah kalian akan dapat melepaskan diri atau tidak, karena kami akan menyelarak pintu dari luar”

“Jangan” teriak perempuan yang sedang memeluk kedua anak perempuannya itu.

“Diam” bentak pemimpin perampok itu, karena ia mendengar suara orang tertawa di lorong di depan rumah itu. Agaknya dua atau tiga orang peronda sedang berjalan menyusuri lorong-lorong di dalam padukuhannya.

Perempuan itu menjadi tegang. Namun pemimpin perampok itu berdesis, “Jangan ganggu mereka yang sedang bergurau di sepanjang jalan itu. Biarlah mereka lewat. Kita mempunyai urusan dan kepentingan sendiri”

Perempuan itu kian menegang. Namun pemimpin perampok itupun berdesis, “Kami dapat berbuat apa saja jika kau berusaha untuk menarik perhatian mereka. Bukan karena kami takut, tetapi sebenarnyalah kami masih segan untuk membunuh. Tetapi jika kau berbuat sesuatu yang dapat mencelakaimu sendiri, maka bukan hanya kau sajalah yang akan menjadi korban. Tetapi setiap laki-laki yang ingin menangkap kami, akan mati diujung senjata kami. Mungkin laki-laki itu adalah suamimu, atau anakmu laki-laki”

Perempuan itu terbungkam oleh kecemasan yang menghimpit dadanya. Karena itu, maka dengan gemetar ia memeluk anak-anaknya semakin erat.

Dalam pada itu, empat orang peronda telah berjalan lewat lorong di depan rumah itu. Untuk mengusir kantuk dan barangkali juga sedikit kecemasan, mereka telah bergurau dengan riuhnya, sehingga suara mereka terdengar dari jarak yang cukup panjang.

Pemimpin perampok yang berada di rumah itu pun segera memberi isyarat kepada orang-orangnya untuk tidak menarik perhatian. Mungkin dengan suara atau bahkan dengan perbuatan.

“Biarlah mereka lewat” desis pemimpin perampok itu.

Orang-orang yang bergurau di sepanjang lorong itu pun akhirnya sampai di depan rumah yang sedang dicengkam oleh kecemasan itu. Tetapi karena tidak ada kesan apapun yang mereka lihat, maka mereka sama sekali tidak memperhatikan apa yang telah terjadi di rumah itu.

Namun orang-orang yang lewai di lorong itu terkejut ketika mereka mendengar seolah-olah sebuah batu yang jatuh di dekat mereka. Tidak hanya satu, tetapi dua, tiga bahkan empat.

“He, siapakah yang talah melempar batu” yang seorang bertanya dengan jantung yang berdebaran.

Orang-orang itu tiba-tiba saja telah merapat dan berdiri saling berdesakan.

“Hantu” bisik salah seorang dari mereka.

Yang terjadi benar-benar tidak seperti yang dikehendaki oleh Mahisa Agni. Witantra dan Mahendra. Merekalah yang melempari orang-orang itu dengan batu, agar mereka tertarik untuk melihat-lihat halaman rumah itu. Tetapi yang dilakukan oleh orang-orang itu justru berlawanan, karena mereka kemudian dengan tergesa-gesa lari sipat kuping.

Mahisa Agni dan Witantra berdesah. Mahisa Bungalan bahkan hampir saja kehilangan pengamatan diri karena kejengkelan yang tidak tertahankan. Untunglah bahwa Witantra sempat menggamitnya dan memberi isyarat agar ia tidak berbuat sesuatu.

Namun dalam pada itu, para perampok di dalam rumah itupun terkejut karenanya. Jika orang-orang yang meronda di lorong-lorong itu tiba-tiba saja berlari-larian, tentu ada sebabnya.

“Aku mendengar beberapa butir batu berjatuhan. Agaknya itulah yang membuat mereka ketakutan” desis salah seorang perampok.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” bertanya yang lain.

Pemimpin perampok itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian bertanya, “Bukankah semua orang ada di dalam?”

“Ya. Semua orang ada di dalam” jawab seorang anak buahnya.

Namun iapun kemudian berkata pula, “Ada sesuatu yang kurang wajar. Karena itu, kita jangan terlalu lama berada di sini”

“Bagaimana dengan barang-barang yang lain?” bertanya salah seorang pengikutnya.

Pemimpin perampok itu memandang perempuan yang sedang memeluk anaknya itu dengan wajah yang menakutkan. Apalagi ketika ia menggeram, “Kau membuat kami marah. Kau tidak menyerahkan semua kekayaanmu”

“Aku sudah menyerahkannya semua yang aku miliki. Perhiasan itu bernilai sangat tinggi. Kami sekeluarga mengumpulkannya selama dua puluh tahun. Dan kini semuanya kau bawa seperti kau mengambil milikmu sendiri”

“Persetan” geramnya. Lalu katanya kepada orang-orangnya, “bersiap-siaplah. Kita akan meninggalkan tempat ini”

Para perampok itu pun kemudian bersiap-siap untuk pergi. Meskipun mereka masih belum puas, tetapi yang terjadi di lorong di hadapan rumah itu memang perlu mendapat perhatian. Orang yang berlari-lari itu tentu akan pergi ke gardu dan melaporkannya, jika kawan-kawannya tidak percaya, maka mereka tentu akan berdatgenuangan.

Karena itu, maka pemimpin perampok itupun segera memerintahkan orang-orangnya untuk dengan hati-hati meninggalkan rumah itu.

“Gadis itu” tiba-tiba seorang laki-laki kasar berdesis.

“Kenapa dengan gadis itu?” bertanya pemimpin perampok.

“Aku akan membawanya” jawab laki-laki kasar itu.

“Gila. Apakah kau akan mempertaruhkan gadis itu dengan seluruh nyawa kawan-kawanmu. Cepat, tinggalkan rumah ini. Atau kau ingin tinggal di sini?” bertanya pemimpin perampok itu.

Laki-laki kasar itu tidak menjawab. Ketika ia berpaling terhadap gadis-gadis itu, maka terasa tubuh gadis-gadis itu meremang. Namun laki-laki itu tidak dapat berbuat apa-apa, karena kawan-kawannya segera bersiap-siap untuk meninggalkan rumah itu.

Namun mereka masih sempat mengancam, “Kami akan kembali lagi pada satu kesempatan”

Ketiga perempuan itu masih gemetar, mereka berharap bahwa orang-orang itu akan segera pergi meninggalkan mereka. Meskipun semua perhiasan yang ada pada mereka telah dibawa, tetapi mereka tetap selamat dan tidak mengalami perlakuan yang lebih buruk lagi.

Dalam pada itu, orang-orang yang berlari-larian karena ketakutan itu telah sampai ke gardu yang terdekat. Seperti yang diperhitungkan oleh para perampok, maka mereka pun segera berceritera-tentang beberapa buah batu yang berjatuhan tanpa diketahui asalnya.

“Hantu” desis salah seorang dari keempat orang itu.

“Omong kosong” jawab kawannya, “kalian memang penakut”

“Lihatlah sendiri, jika kau tidak percaya” jawab seorang yang lain.

“Aku akan melihat” geram orang yang merasa dirinya mempunyai keberanian lebih dari kawan-kawannya.

Namun dalam pada itu, lima orang telah meninggalkan gardu itu. Tiga dari empat orang yang merasa dirinya dilempari batu itupun mengikut pula untuk menunjukkan tempat di mana mereka mendapat lemparan-lemparan itu, sehingga jumlah mereka menjadi delapan orang.

Demikian delapan orang itu dengan tergesa-gesa mandekati regol rumah yang sedang mengalami perampokan itu, para perampok telah turun ke halaman.

“Mereka benar-benar datang” desis salah seorang perampok.

“Jangan bodoh” geram pemimpinnya, “mereka datang dari depan. Kita akan meninggalkan tempat ini dari belakang”

“Tetapi mereka akan segera mengetahui bahws kita baru saja memasuki halaman rumah ini. Perempuan-Perempuan itu tentu akan berceritera, sehingga sejenak kemudian akan terdengar suara titir” sahut yang lain.

“Aku bawa seorang dari perempuan-perempuan itu” berkata laki-laki kasar yang sejak semula ingin membawa salah seorang gadis itu, “jika mereka berteriak, kita akan mengancam nyawa perempuan yang kita bawa”

Pemimpin perampok itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun mengangguk. Katanya, “bawa perempuan itu. Tetapi hati-hati”

Laki-laki kasar itu kembali memasuki rumah dari pintu butulan. Dengan senjata teracu ia memaksa salan seorang gadis itupun mengikutinya. Ketika gadis itu akan berteriak, maka ujung pedangnya telah menyentuh dadanya sambil berdesis, “Dadamu terlalu muda untuk ujung pedangku ini. Tetapi apa boleh buat. Jika kau berteriak, maka kau akan mati Ibumu akan mati dan saudaramu itupun akan mati. Ayah dan kedua saudaramupun akan mati pula apabila mereka mendengar suaramu dan berusaha untuk menolongmu”

Suasana menjadi tegang. Tetapi tidak seorang pun dapat mencegahnya ketika laki-laki kasar itu menarik gadis itu keluar dengan ancaman, “Jangan bunuh diri. Gadis ini akan selamat iika kalian berbuat baik”

Ibu dan saudara perempuan gadis itu menahan gejolak hatinya di dada yang hampir retak. Tetapi mereka benar-benar tidak berani berbuat apa-apa, karena senjata laki-laki kasar itu selaku melekat di tubuh gadis itu.

“Jika peronda itu datang, katakan, tidak terjadi sesuatu, Nanti, jika keadaan sudah tenang, aku akan mengembalikan anak perempuanmu. Jika nanti keadaan masih berbahaya bagiku, besok pagi aku akan mengembalikannya” pesan laki-laki kasar itu.

“Jangan besok pagi” minta perempuan itu.

“Apaboleh buat” jawab laki-laki kasar itu.

Demikianlah, laki-laki kasar itu telah menarik gadis itu lewat pintu butulan menyusul kawan-kawannya. Mereka tidak melalui regol depan dari halaman rumah itu. Tetapi mereka keluar lewat regol belakang.

Ternyata para perampok itu tidak meninggalkan kebun belakang yang rimbun dari rumah yang besar itu. Kebun yang berada diluar dinding halaman, sehingga kebun itu seolah-olah sama sekali tidak terpelihara.

“Kita tidak perlu lari” berkata pemimpin perampok itu.

“Ya” jawab laki-laki kasar itu, “aku sudah berpesan agar ia tidak mengatakan sesuatu tentang anak gadis ini”

Tetapi salah seorang dari mereka itupun bertanya, “Tetapi jika yang datang itu adalah ayahnya atau saudara-saudaranya, maka mereka tentu mengerti, bahwa penghuni rumah itu sudah berkurang seorang”

Pemimpin perampok itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Kita meninggalkan tempat ini” Lalu katanya kepada laki-laki kasar itu, “Urus perempuan itu agar tidak mengganggu diperjalanan”

Para perampok itu sudah siap untuk meninggalkan kebun yang tidak terpelihara itu. Mereka mulai beringsut dengan hati-hati, agar mereka tidak terperosok ke dalam lingkungan para peronda.

Karena itu, maka dua orang yang di siang harinya sudah menjelajahi tempat itu oleh pemimpinnya diperintahkan untuk berada dipaling depan.

Dalam pada itu, Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan menjadi berdebar-debar. Mereka tidak menyangka, bahwa orang-orang pedukuhan itu sebagian ternyata sangat penakut, sehingga usahanya untuk menarik perhatian mereka justru berakibat sebaliknya, sehingga ada kesempatan bagi para perampok itu untuk meninggalkan tempatnya. Dan yang juga tidak mereka duga-duga, adalah bahwa perampok-perampok itu telah membawa seorang, gadis untuk memastikan keselamatan mereka. Namun menilik pembicaraan dan sikap laki-laki kasar itu. maka gadis itu akan dapat mengalami perlakuan yang sangat pahit.

“Apa yang harus kita lakukan?” bisik Mahisa Bungalan. Mahisa Agni masih ragu-ragu. Namun akhirnya ia berkata, “Kita harus menarik perhatian para peronda yang datang itu. Sementara dua orang di antara kita mengawasi nasib gadis itu”

Mahisa Bungalan mengangguk. Lalu katanya, “Aku akan mengawasi gadis itu”

“Bersama dengan pamanmu Witantra” berkata Mahisa Agni, “aku akan berada di sini untuk memancing para peronda itu”

Mahisa Bungalan mengangguk, sementara Witantrapun kemudian berdesis, “Marilah, jangan kehilangan jejak”

Keduanya pun segera menyusul para perampok itu dengan sangat berhati-hati. Jika para peronda tidak menemukan mereka, maka mereka tentu akan lepas dengan bebas. Adalah tidak mungkin bagi laki-laki kasar itu untuk datang kembali menyerahkan gadis yang dibawanya.

Demikianlah, ketika para peronda yang datang kemudian itu sibuk membicarakan batu-batu yang dilemparkan oleh hantu dari halaman rumah itu maka seorang dari mereka yang agaknya memiliki keberanian telah memasuki halaman sambil berkata, “Aku akan melihat, dimana hantu itu bersembunyi”

Mahisa Agni melihat kemungkinan untuk menarik perhatian mereka lebih lanjut. Karena itu, maka iapun telah melemparkan sebutir batu keatas atap yang kemudian bergilir jatuh dihalaman.

“Batu. Batu” desis peronda yang sudah ketakutan.

Yang memiliki keberanian itu pun kemudian mendekat lagi. Ketika sekali lagi sebutir batu jatuh, maka ia melangkah surut.

“Penakut” geram Mahisa Agni di dalam hatinya. Ia mulai gelisah, bahwa ia tidak berhasil menarik perhatian orang-orang itu memasuki rumah atau menemukan tanda-tanda perampokan yang lain. Apalagi perempuan di rumah itu tentu tidak akan berani berterus terang bahwa anak gadisnya telah dibawa.

Sementara itu, maka orang-orang yang berada di halaman itu sudah berkumpul merapat. Namun orang yang paling berani itu masih mencoba berteriak, “He, siapa yang melempari batu”

Suara itu terdengar jelas dari dalam rumah. Tetapi seperti yang dipesankan, perempuan penghuni rumah itu sama sekali tidak berani berbuat sesuatu.

Namun dalam pada itu, anak gadisnya yang seoranglah yang menangis terisak sambil berkata, “Biyung, bagaimana dengan Genuk. Apakah biyung rela, Genuk dibawa oleh perampok”

“Demi keselamatannya ngger” jawab ibunya.

“Tetapi biyung dapat minta tolong kepada para peronda. Mereka tentu akan bersedia membantu kita mengejar para perampok itu” tangis anaknya.

“Tetapi bagaimana nasib Genuk kemudian” ibunya menjadi semakin gemetar.

Anaknya menangis semakin keras, sehingga orang-orang yang berada diluar itupun akhirnya mendengarnya pula.

“Siapa menangis?” bertanya salah seorang dari para peronda itu.

“Kuntilanak” yang lain berdesis.

Mahisa Agni yang mendengar pembicaraan itu mengeluh di dalam hatinya. Namun dalam pada itu, maka ia tidak mempunyai cara lain untuk menarik perhatian para peronda itu. Karena itu, maka setelah berpikir sejenak, Mahisa Agni itu pun kemudian berlari melintasi halaman samping. Kakinya yang menghentak-hentak di atas tanah terdengar oleh para peronda itu. Sementara Mahisa Agni dengan sengaja berlari di tempat terbuka.

“He, orang lari. Kau melihat orang berlari?” tiba-tiba saja seorang di antara para peronda itu berteriak.

“Ya. Seorang yang lari kedalam gelap” sahut yang lain

“Jika demikian, nampaknya orang itulah yang telah melempari kita dengan batu” geram yang lain.

“Ya, ya. Orang itu. Marilah kita lihat” geram orang yang paling berani.

Orang-orang itu pun kemudian berlari-larian menuju ke halaman samping. Sementara itu, orang-orang itu pun mendengar suara tangis di dalam rumah.

“Lihat kedalam. Dua di antara kalian” berkata orang yang paling berani.

Dua di antara para peronda itu pun kemudian mengetuk pintu samping yang diselarak dari luar. Dalam pada itu, maka perempuan yang kehilangan anak perempuannya itu termangu-mangu.

“Bukalah biyung” desis anak gadisnya yang masih dalam pelukannya.

“Bagaimana dengan Genuk” isak ibunya yang tidak dapat menahan gejolak perasaannya lagi.

“Biyung harus minta tolong sebelum Genuk menjadi semakin jauh” jawab anaknya, “itu akan lebih baik dan pada Genuk berada di antara para penjahat yang kasar itu Selagi ibunya ragu-ragu, anak gadis itulah yang menjawab, “Tolong buka dari luar”

Para peronda itu melihat, bahwa pintu telah diselarak dari luar. Karena itu, maka mereka pun segera membukanya dan dengan tergesa-gesa masuk.

“Apa yang terjadi?” bertanya salah seorang dari kedua peronda itu.

Ketika perempuan yang kehilangan anaknya itu masih ragu-ragu, anak perempuanyalah yang menyahut dengan nafas terengah-engah perampok”

“Perampok?” keduanya terkejut.

Gadis itupun segera menceriterakan apa yang telah terjadi di dalam rumah itu. Dan apa yang telah dialami sau daranya yang disebut Genuk itu.

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian yeng seorang berkata, “Aku akan membunyikan tanda bahaya sebelum mereka sempat keluar dari padukuhan ini”

“Tetapi bagaimana dengan Genuk, “ tangis perempuan itu.

“Kita akan mencari jalan untuk membebaskannya. Tetapi kita memang harus berhati-hati”

“Tetapi cepat, lakukanlah” Minta gadis yang menjadi sangat cemas atas nasib saudaranya.

“Aku akan mengatakan kepada ayah dan saudara-saudaramu. Kita akan membicarakannya” berkata salah seorang dari kedua peronda itu.

“Ya. Tetapi capat lakukan” gadis itu tidak sabar lagi.

“Baiklah. Baiklah” jawab keduanya hampir bersamaan beberapa orang kawanku sedang mengejar seseorang yang berlari dihalaman samping. Kami berdua akan kembali ke gardu dan mencari ayahmu”

“Cepat, cepat” gadis itu hampir berteriak.

“Kedua orang peronda itu pun kemudian berlari meninggalkan rumah itu. Mereka tidak menunggu kawan-kawannya yang menurut anggapannya sedang mengejar seorang dari para perampok itu. Bahkan salah seorang dari keduanya berkata, “Tidak ada kesempatan lagi untuk membuat pertimbangan-pertimbangan. Mungkin mereka sudah mendekati dinding padukuhan yang lepas dari pengamatan”

“Tetapi yang seorang itu masih ada di dalam. Bahkan masih di halaman ini” berkata yang lain.

“Mungkin ia justru orang terbaik yang membikin perhatian, sementara kawan-kawannya sudah berlari semakin jauh. Karena itu, kau sajalah yang memberitahukan kepada kawan-kawan dan mencari ayah serta saudara saudara Genuk yang dibawa lari itu. Aku akan memukul tanda bahaya”

“Juga digardu bukan?” bertanya kawannya.

“Ya. Sementara kau berceritera, aku sudah kentongan”

Keduanya pun telah sepakat melakukannya. Karena itu, maka demikian mereka sampai ke gardu, maka seorang di antara mereka langsung memukul kentongan, memberikan isyarat bahaya kepada semua orang di padukuhan itu, sementara yang lain menceriterakan apa yang telah mereka ketahui.

Suara kentongan itu benar-benar telah mengejutkan seisi padukuhan itu. justru pada saal setiap laki-laki keluar dari rumahnya dan berada di gardu-gardu, di regol dan di lorong-lorong. Karena itulah, maka dengan cepatnya suara kentongan itu telah menjalar ke segenap sudut padukuhan.

Dalam pada itu, selagi dua orang dari gardu itu mencari ayah dan saudara-saudara Genuk yang berada di regol, maka ibu Genuk lelah menangis terisak semakin keras, ia benar-benar mencemaskan nasib anak perempuannya.

Jika para perampok itu menjadi putus asa dan kehilangan kesempatan, maka mereka akan dapat berbuat diluar peri kemanusiaan dengan membunuh Genuk.

Tetapi suara kentongan itu sudah memenuhui padukuhan. Bahkan dari pedukuhan tetangga yang terdekat pun telah terdengar pula suara kentongan menyahut, sehingga dengan demikian peronda di padukuhan tetangga itu pun telah mendengarnya pula.

Karena itu, maka setiap laki-laki yang memang sudah berada di luar rumah itu pun segera bersiaga. Mereka segera memancar ke segenap penjuru padukuhan. Regol-regol dijaga seketatnya, sementara yang lain dengan senjata di tangan, mengamati setiap jengkal tanah di padukuhan itu.

“Gila” geram pemimpin perampok, “mereka telah memukul kentongan. Nampaknya usaha kita membawa gadis itu tidak ada gunanya”

“Anak setan” geram laki-laki kasar yang membawa gadis yang hampir mati beku itu, “biyungmu tidak menempati janjinya. Nampaknya ia sudah tidak lagi memerlukan kau. Karena itu, malanglah nasibmu anak manis”

Gadis itu sama sekali tidak dapat mengucapkan kata-kata lagi. Wajahnya yang tegang dan jantungnya yang bagaikan telah kejang itu, membuatnya bagaikan patung yang mati.

“He, apa katamu” bentak laki-laki kasar itu.

Tetapi gadis itu seolah-olah telah menjadi gagu. Ia tidak dapat berbicara apapun juga betapapun hatinya bergejolak. Bahkan rasa-rasanya, kulitnya sudah tidak merasakan sesuatu meskipun tangan laki-laki kasar itu mengenggam lengannya erat-erat.

“Bukan hanya nasibnya yang malang” berkata pemimpin perampok itu kemudian, “tetapi setiap orang yang berusaha membebaskanmu, akan mengalami nasib malang. Baiklah. Kita akan menunggu Kita tidak akan lari. Jika mereka datang, kita akan membunuh setiap orang.

“Apakah kita tidak berusaha keluar?” bertanya salah seorang di antara mereka.

“Tidak ada gunanya” jawab pemimpin perampok itu, “semuanya tentu sudah diawasi. Tetapi kita akan melihat keadaan. Jika ada rasa belas kasihan dihati kita, maka kita akan meninggalkan tempat ini tanpa menumpas setiap laki-laki. Aku akan menentukan kemudian. Tetapi suara kentongan itu membuat hatiku menjadi sakit”

“Bagaimana dengan gadis ini” bertanya laki-laki kasar itu.

“Terserah kepadamu. Tetapi ia akan dapat kita pergunakan sebagai perisai jika diperlukan. Namun agaknya pedang kita akan lebih berharga dari gadis itu” jawab pemimpin perampok itu.

“Aku akan memberinya sedikit pelajaran. Juga kepada orang tuanya sebelum kita mengambil keputusan lain. Jika ayah dan saudara-saudara laki-lakinya akan mati, biarlah ibunya menyesali kesalahannya sedalam-dalamnya” geram laki-laki kasar itu.

“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya kawannya.

“Masih ada waktu untuk berbuat apa saja. Tetapi agaknya aku akan dapat menahan setiap orang yang akan menangkap kita dengan mempergunakannya sebagai perisai jika kita berniat untuk lari” berkata laki-laki kasar itu.

“Sudah aku katakan, kita tidak akan lari. Kecuali setelah aku melihat kemungkinan yang dapat menumbuhkan belas kasihan kita kepada mereka”

Para perampok itu tidak membantah lagi. Apalagi ketika pemimpin perampok itu berkata, “Kita akan dapat membunuh siapapun yang ingin kita bunuh”

Nampaknya pemimpin perampok itu benar-benar tersinggung mendengar suara kentongan yang memenuhi padukuhan itu. Karena itu, maka ia tidak lagi bersikap lebih lunak. Ia tidak lagi ingin melawan sambil menarik diri. Tetapi nampaknya kemarahannya akan ditumpahkan kepada setiap orang yang berusaha menangkapnya.

Dalam pada itu, Witantra dan Mahisa Bungalan yang mengawasi mereka menjadi ragu-ragu. Bagaimana mereka dapat menyelamatkan gadis itu. Dalam keadaan yang demikian, nasib gadis itu tentu akan menjadi buruk sekali. Jika para perampok itu benar-benar berhasil membunuh setiap orang yang berani mendekat, sehingga kemudian tidak ada lagi orang yang berani melawan mereka, maka gadis itu tentu akan dibawanya. Bahkan mungkin kemarahan orang-orang itu masih akan meluap kepada keluarga gadis itu. Kepada saudara perempuannya dan kepada ibunya.

Karena itu, untuk beberapa saat, keduanya masih harus menunggu perkembangan keadaan., Mungkin pada salu saat mereka akan mendapat kesempatan.

Dalam pada itu, Mahisa Agni yang berhasil menarik perhatian beberapa orang peronda, tidak segera menarik mereka kepada para perampok yang telah meninggalkan halaman itu. Mahisa Agni pun memperhitungkan kecuali keselamatan gadis yang telah dibawa oleh para perampok itu, ia pun harus memperhitungkan orang-orang yang mengejarnya itu. Mereka hanya beberapa orang saja yang tentu tidak akan dapat melawan para perampok yang jumlahnya cukup banyak.

Karena itu, maka dengan kemampuan yang ada padanya. Mahisa Agni telah berhasil melepaskan diri dari pengamatan orang-orang itu, sehingga kemudian ia pun telah berusaha untuk menelusuri jejak para perampok.

Ternyata para perampok itu pun tidak bersembunyi terlalu jauh. Mereka berada di halaman kosong yang sudah menjadi belukar. Banyak rumpun bambu yang liar tumbuh disela-sela gerumbul-gerumbul perdu. Sehingga dengan demikian tempat itu dapat dipergunakan sebagai tempat persembunyian yang baik.

Tetapi Mahisa Agni tidak segera dapat menemukan Witantra dan Mahisa Bungalan. Meskipun demikian, ia tidak tergesa-gesa. Pada suatu saat, ia tentu akan dapat menemukan mereka.

Sementara itu, orang-orang di padukuhan itu pun telah bergerak. Dengan hati-hati mereka mengelilingi setiap sudut dan persimpangan jalan. Sementara itu, ayah dan saudara laki-laki gadis yang hilang itu telah diberitahukan pula, sehingga berlari-lari mereka pulang ke rumahnya.

Yang mereka ketemukan adalah ibu dan gadisnya yang seorang yang sedang menangis.

“Bagaimana dengan Genuk?” bertanya ayahnya.

Ibunya hanya dapat terisak-isak. Sementara anak gadisnyalah yang berceritera tentang orang-orang kasar yang telah memasuki rumahnya dan membawa saudara perempuannya

“Gila” geram ayah dan kedua saudara laki-lakinya, “aku harus menemukannya. Mereka tentu belum dapat keluar dari padukuhan ini. Dengan suara kentongan ini, maka semua jalan keluar sudah ditutup”

Namun ternyata gadis yang kehilangan saudaranya itu bertanya, “Tetapi bagaimana mereka dapat masuk? Bukankah padukuhan ini sudah dijaga baik-baik”

Ayahnya termangu-mangu sejenak. Namun ia pun ke mudian berdesis, “Ya. Kenapa dapat memasuki padukuhan ini tanpa kami ketahui”

“Tentu mereka bukan perampok seperti kebanyakan perampok” berkata salah seorang anaknya.

“Tetapi kita tidak dapat berbicara saja tentang Genuk. Aku akan mencarinya” berkata ayahnya.

“Kita semua akan mencarinya” geram saudara laki-lakinya.

“Tinggallah di rumah” berkata ayah Genuk kepada isterinya, “berhati-hatilah. Aku akan minta dua orang untuk menunggui kalian. Mungkin masih ada satu dua orang perampok yang berada di sekitar rumah ini”

Demikianlah, ketiga orang laki-laki yang kehilangan Genuk itu dengan tergesa-gesa turun dari pintu butulan. Di luar beberapa orang telah menunggunya. Bahkan orang-orang yang mengejar bayangan yang telah menarik perhatian mereka, tetapi tidak dapat mereka ketemukan telah berada dihalaman itu pula.

“Orang itu seperti hilang dalam kabut” berkata salah seorang diantara mereka.

Orang-orang yang berada dihalaman rumah itu termangu. Nampaknya mereka memang berhadapan dengan sekelompok perampok yang tangguh dan berbahaya.....

Bersambung.... !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...