Kamis, 04 Februari 2021

PANASNYA BUNGA MEKAR JILID 26-02

PANASNYA BUNGA MEKAR : 26-02
“Goresan demi goresan telah melukai pasukanmu, Resi Damar Pamali,” berkata Wasi Sambuja, ”pada suatu saat, maka pasukanmu akan pecah tidak karuan.”

“Jangan meramal sesuatu yang tidak akan terjadi,” berkata Resi Damar Pamali, “kita akan melihat dari pertempuran ini. Seandainya aku sampai hati membunuhmu, maka aku ingin membiarkan kau tetap hidup sampai suatu saat kau melihat keseluruhan dari hasil pertempuran ini. Aku ingin membiarkan kau melihat orang terakhir mati di medan, sebelum kau sendiri akan mati.”

Tetapi, Wasi Sambuja justru tertawa. Katanya, ”Baiklah. Mudah-mudahan kita masing-masing sempat menyaksikan apa yang bakal terjadi. Tetapi jika Akuwu Suwelatama ini menjadi jemu, maka ia pun akan segera memasuki arena. Jika ia mulai dengan satu sikap yang tidak menguntungkan bagimu, maka kau akan menyesal, meskipun sesaat kemudian kau akan mati.”

Resi Damar Pamali itu menggeram. Kemarahannya benar-benar telah membakar kepalanya, tetapi ia tidak dapat berbuat banyak atas lawannya, Wasi Sambuja.

Di bagian lain dari pertempuran itu, Witantra telah banyak berbuat dengan pasukannya. Bahkan ia telah berhasil mendesak lawan meskipun jumlahnya lebih banyak. Tetapi Witantra tidak dapat melepaskan diri dari gelar, sehingga karena itu maka ia tidak mendesaknya lebih jauh.

Namun dalam pada itu, lawannya kurang berpengalaman, menganggap bahwa Witantra tidak mempunyai kesempatan. Karena itu ia tetap dalam lingkungan pasukannya.

Dalam pada itu, seorang yang kira-kira sebaya dengan Witantra berada pula di antara pasukan lawan. Ternyata ia adalah seorang pemimpin padepokan, guru dari salah seorang Pangeran yang bersama dengan Pangeran Indrasunu telah mengusai Pakuwon Kabanaran.

Dengan nada dalam yang menghadapi Witantra itu berkata, “Kaulah orang yang telah mencerai-beraikan anak-anak di sayap ini.”

“O,” witantra mengangguk-angguk, “nampaknya memang demikian, tetapi sebenarnya aku tidak ingin sekedar menakuti mereka.”

“Baiklah kita selesaikan persoalan ini di antara orang-orang tua.” berkata orang itu.

Witantra tidak menjawab. Orang itu pun kemudian menyerang dengan garangnya, sehingga pertempuran menjadi semakin seru. Namun demikian, para prajurit Singasari telah berhasil membingungkan lawan-lawannya yang sebagian besar kurang berpengalaman dalam perang gelar, meskipun mereka mengusai gelar gelar itu sendiri. Seorang Pangeran yang berada di sapit itu, dalam gelar Sapit Urang yang hampir sempurna, sama sekali tidak berdaya. Setiap kali pasukannya melanda gerigi-gerigi dalam gelar Cakra Byuha, maka mereka bagaikan tertusuk oleh ujung-ujung gerigi, sehingga luka di dalam gelar mereka menjadi semakin parah.

Meskipun demikian, pasukan Singasari itu tidak melepaskan keterikatan mereka di dalam gelar sehingga gelar Cakra Byuha itu masih nampak utuh dan mapan.

Meskipun demikian bukan berarti bahwa tidak ada korban yang jatuh di antara para prajurit Singasari, para pengawal Pangeran Wirapaksi dan para Pengawal Pakuwon Kabanaran. Namun dibanding dengan lawan mereka, maka seakan-akan Cakra Byuha itu benar-benar masih utuh.

Dalam pada itu, yang paling garang di antara pasukan dalam gelar Cakra Byuha itu adalah para pengawal Pakuwon Kabanaran sendiri. Para pengawal yang datang dari padang Padiangan merasa ditikam dari belakang, sehingga Akuwu Suwelatama harus menyingkir. Kemarahan mereka nampaknya semakin membakar jantung ketika mereka melihat lawan yang jumlahnya lebih banyak menghadapi mereka di luar kota Pakuwon mereka.

Demikianlah, maka dua gelar itu mengalami akibat yang semakin jauh berbeda. Gelar Sapit Urang yang besar itu benar-benar telah menjadi jauh susut, sementara gelar Cakra Byuha yang meskipun lebih kecil, namun masih nampak utuh dan segar.

Dengan demikian, maka keseimbangan pun kemudian menjadi semakin cepat berubah. Jika keduanya dalam keadaan yang sama-sama segar, dapat menumbuhkan geseran keseimbangan, maka selagi gelar Sapit Urang itu sudah hampir pecah, maka akhir dari pertempuran itu sudah dapat membayang.

Perlahan-lahan gelar Cakra Byuha itu dalam kebulatan telah mendesak gelar Sapit Urang yang sudah susut kekuatannya itu. Semakin lama semakin jauh mendekati gerbang kota Pakuwon Kabanaran. Bahkan beberapa orang penghubung telah masuk ke dalam kota untuk memanggil pasukan cadangan yang ditinggalkan oleh Resi Damar Pamali.

Meskipun Pasukan cadangan yang keluar dari kota itu sudah menggabungkan diri dengan pasukan induk gelar Sapit Urang itu, namun mereka sama sekali tidak berhasil mempengaruhi pertempuran. Gelar Cakra Byuha itu benar-benar berhasil mendesak maju.

Sementara itu, Wasi Sambuja dan Resi Damar Pamali terlibat dalam pertempuran yang semakin lama semakin sengit. Keduanya adalah orang yang memiliki ilmu yang tinggi, memiliki pengalaman yang luas dan keyakinannya masing-masing. Latar belakang kehidupan dan pandangan hidup Resi Damar Pamali memang dapat mendorongnya untuk memaksa diri bertempur melawan pasukan Pakuwon Kabanaran, pasukan Kediri dan apalagi dari Singasari.

Namun yang kemudian dihadapinya adalah Wasi Sambuja, betapapun ia merasa kecewa bahwa pasukannya justru telah terdesak. Namun betapa dendam dan kemarahan menyala di hatinya, sehingga ia bertekad untuk bertempur melawan Wasi Sambuja sampai kesempatan yang terakhir.

Karena itu, maka Resi Damar Pamali itu seolah-olah tidak menghiraukan lagi pertempuran itu dalam keseluruhan. Yang ada di hadapannya itu seakan-akan seseorang yang berdiri dalam perang tanding. Ia tidak mau tahu apa yang terjadi di seluruh medan, karena perhatiannya seluruhnya telah tertumpah kepada Wasi Sambuja.

Dengan demikian maka gelar Sapit Urang itu semakin lama menjadi semakin berserakkan. Setiap orang yang menjadi Senopati dari segala tataran telah berusaha menyelamatkan diri mereka sendiri.

Dalam pada itu, maka pertempuran antara Resi Damar Pamali dan Wasi Sambuja itu telah sampai ke puncaknya. Masing-masing telah mengerahkan segenap kemampuan yang mereka miliki. Tidak ada pikiran lain kecuali menghancurkan lawan secepat-cepatnya dengan cara apapun juga.

Karena itulah, maka akhirnya Resi Damar Pamali pun sampai pada ilmu pamungkasnya. Tanpa menghiraukan apapun lagi, maka ia pun segera mengambil ancang-ancang untuk melepaskan puncak ilmunya.

Namun Wasi Sambuja menyadari arti dari sikap lawannya. Karena itu, ia pun justru telah bersikap pula. Dengan segenap kekuatan lahir batinnya, maka Wasi Sambuja telah siap membentur kekuatan puncak dari Resi Damar Pamali.

Demikianlah, maka sejenak kemudian Resi Damar Pamali itu telah meloncat mengayunkan ilmunya lewat telapak tangannya, sementara Wasi Sambuja pun telah siap menerimanya dengan kedua tangannya yang bersilang.

Yang terjadi kemudian adalah benturan yang dahsyat sekali. Keduanya telah terlempar dan jatuh di tanah. Wasi Sambuja dengan cepat telah disambar oleh Akuwu Suwelatama, sementara Resi Damar Pamali yang sempat jatuh terbanting di tanah, segera dikerumuni oleh beberapa orang muridnya.

Namun agaknya keadaan Resi Damar Pamali tidak kalah parahnya dari Wasi Sambuja. Namun justru karena Wasi Sambuja menjadi pingsan, maka ia tidak terlalu banyak berbuat sesuatu.

Resi Damar Pamali ternyata tidak menjadi pingsan. Namun luka di dalam dadanya agaknya menjadi sangat parah.

Apalagi ia tidak mau melihat kenyataan tentang dirinya itu, sehingga ia pun telah meronta-ronta untuk bangkit dan berteriak-teriak meskipun dari mulutnya mengalir darah, “Lepaskan, lepaskan Aku. Akan aku bunuh kelinci gila itu.”

Bagaimanapun murid-muridnya berusaha untuk menahannya, tetapi nampaknya Resi Damar Pamali sudah tidak menghiraukannya lagi.

Dalam pada itu, Pangeran yang bertubuh kecil, murid Resi Damar Pamali itu, tiba-tiba saja telah meninggalkan lawannya dan menyerahkannya kepada seorang Putut yang kemudian bertempur bersama beberapa orang melawan Pangeran Wirapaksi.

Tetapi agaknya Pangeran Wirapaksi memang tidak bersungguh-sungguh untuk berusaha membinasakan lawannya. Karena itu, maka ia dengan sengaja membiarkan Pangeran bertubuh kecil itu meninggalkannya untuk melihat keadaan gurunya.

Justru karena Resi Damar Pamali selalu meronta-ronta dan tidak dapat mengendalikan diri itulah, maka keadaannya menjadi semakin parah. Bahkan akhirnya tenaganya seolah-olah telah lenyap sama sekali. Matanya yang menjadi redup memandang muridnya yang bersimpuh di hadapannya.

“Pangeran,” suaranya menjadi parau, “aku tidak berhasil kali ini. Tetapi ini bukan akhir dari segalanya. Aku harap Pangeran akan melanjutkan dendam yang menyala di dalam hati ini. Pangeran dapat bekerja bersama Pangeran Indrasunu, murid si iblis itu sendiri. Bawalah pesanku, agar kau lepaskan dendamku kepadanya.”

Pangeran bertubuh kecil itu tidak sempat menjawab. Sekali lagi Damar Pamali mengumpat. Namun kemudian matanya pun telah selama-selamanya.

Murid-muridnya yang melihat gurunya telah meninggal itu, hatinya menjadi kecut. Mereka seolah-olah sudah tidak mempunyai sandaran lagi. Itulah sebabnya, maka nafsu mereka untuk bertempur telah larut sama sekali.

Dengan hati yang patah, maka murid-muridnya berusaha untuk membawa tubuh Resi Damar Pamali ke belakang garis perang. Bahkan terlalu banyak murid-murid dan pengikutnya yang mengikutinya sehingga medan pun telah berubah sama sekali.

Kekuatan di induk pasukan itu pun telah susut dengan cepat. Akuwu Suwelatama, Pangeran Wirapaksi dan Mahisa Bungalan melihat keadaan itu. Namun sebenarnyalah mereka bukan orang-orang yang bertempur dengan nafsu membunuh yang tidak terkendali. Itulah sebabnya, maka mereka tidak banyak berbuat ketika lawan mereka menjadi semakin terpecah-pecah. Hanya pasukan yang marah yang ditarik dari padang Padiangan sajalah yang agaknya bertindak lebih keras dari kesatuan-kesatuan yang lain.

Mahisa Agni dan Witantra pun nampaknya sekedar berusaha untuk mendesak lawan. Mereka memiliki cara yang mapan untuk membuat lawan mereka menjadi bingung. Guru dari para Pangeran yang berada di dalam sapit gelar itu pun tidak banyak berarti menghadapi Mahisa Agni dan Witantra.

Dalam keadaan yang pahit itulah, maka Pangeran Suwelatama mengurai gelarnya. Di rubahnya gelarnya yang melingkar dan bergerigi itu menjadi gelar yang lebih besar. Gelar Wulan Tumanggal.

Perubahan itu semakin membingungkan lawannya. Gelar itu ternyata telah mencakup arena yang panjang, karena kekuatan lawan tidak lagi berbahaya. Karena itu gelar yang tipis dan melebar itu tidak lagi dicemaskan akan pecah.

Perlahan-lahan gelar Wulan Punanggal itu pun mendesak maju. Gelar Sapit Urang dari pasukan Pangeran Indrasunu benar-benar telah kehilangan kekuatannya. Mereka terdesak menuju ke gerbang kota.

Sepeninggal Resi Damar Pamali serta murid-muridnya yang terpercaya karena menyingkirkan tubuhnya, kekuatan gelar Sapit Urang itu sebenarnyalah telah pecah. Karena itu, ketika pasukan itu semakin dekat dengan gerbang kota, maka sebagian dari mereka tidak dapat menahan diri lagi. Dengan serta merta sebagian dari mereka pun telah berlari-larian memasuki pintu gerbang. Bahkan Pangeran Indrasunu pun tidak lagi berharap untuk dapat memenangkan pertempuran itu, sehingga ia pun telah berusaha meninggalkan lawannya dan berlari masuk ke dalam pintu gerbang.

Demikian Pangeran Indrasunu memasuki gerbang, ternyata bahwa kedua Pangeran yang lain bersama guru mereka pun telah berlari-lari memasuki pintu itu pula. Bahkan mereka menjadi berjejal-jejal dan saling mendesak di antara mereka sendiri.

“Tutup pintu gerbang!” teriak Pangeran Indrasunu.

Perintah itu tidak perlu diulang. Karena kedua orang Pangeran yang lain bersama guru mereka yang semula berada di sapit dalam gelar sapit urang telah memasuki gerbang pula, sementara Pangeran yang bertubuh kecil telah bersama-sama dengan tubuh Resi Damar Pamali masuk lebih dahulu, maka orang-orang yang berada di dalam pintu gerbang itu pun telah berusaha menutup pintu itu.

“Tunggu! Tunggu!” teriak orang-orang yang masih ada di luar. Tetapi orang-orang yang di dalam tidak menghiraukannya lagi. Jika mereka menunggu, maka yang kemudian akan masuk bukan lagi kawan-kawannya, tetapi mungkin sekali adalah justru pasukan lawan.

Karena itu, maka pintu gerbang itu pun kemudian telah ditutup rapat. Sebuah selarak yang besar telah menyilang pintu gerbang itu. Dengan demikian, maka tidak seorang pun lagi yang akan dapat masuk lewat pintu gerbang itu.

“Jika mereka akan memaksa memasuki kota lewat pintu gerbang yang lain, mereka tentu memerlukan waktu. Selama itu kita sudah dapat menerobos keluar lewat pintu gerbang yang lain atau bersembunyi di dalam kota, di rumah-rumah penduduk yang tidak tahu menahu tentang peperangan ini.” berkata salah seorang di antara mereka.

Sebenarnyalah, keempat Pangeran itu pun segera saling mencari dan berbincang. Atas petunjuk beberapa orang tua termasuk dua orang guru dari dua orang Pangeran di antara mereka, menasehatkan agar mereka segera meninggalkan kota.

Ternyata keempat Pangeran itu pun sepakat. Mereka segera berusaha mengumpulkan pengawal-pengawal mereka yang paling setia. Dengan mengerahkan kuda yang ada di dalam kota sekitar jalan yang mereka lalui, maka akhirnya mereka pun melarikan diri melalui pintu gerbang yang lain, setelah para pengawal mereka berusaha menahan setiap gerakan untuk menahan mereka yang berusaha melarikan diri itu. Namun akhirnya para pengawal itu sendiri tidak sempat berbuat sesuatu, karena pasukan Pangeran Suwelatama telah berada di dalam kota itu pula. Mereka tidak perlu memecah pintu gerbang, meskipun mereka harus melingkari jalan yang agak panjang, memasuki kota lewat jalan-jalan butulan.

Namun sebenarnyalah mereka datang terlambat. Keempat Pangeran itu telah melarikan diri dari kota Pakuwon Kabanaran yang telah mereka rebut beberapa saat yang lewat.

Sementara itu, selebihnya dari sisa pasukan Pangeran Indrasunu ternyata telah menyerah. Beberapa bagian kecil di antara mereka telah melarikan diri bercerai-berai.

Dengan demikian, maka Akuwu Suwelatama telah berhasil merebut kembali tempat kedudukannya, meskipun ia harus mendapat bantuan dari Singasari. Bukan karena Akuwu itu terlalu lemah, tetapi ia tidak sampai hati menarik pasukannya dari daerah yang mulai menjadi gawat oleh kelompok-kelompok penjahat.

Dalam pada itu Pangeran indrasunu telah meninggalkan Pakuwon Kabanaran dengan tergesa-gesa. Tidak banyak pengawalnya yang menyertainya. Bahkan yang sedikit itu pun nampaknya bukan pengawal yang setia. Sebagian dari mereka telah dengan diam-diam memisahkan diri untuk mencari hidup masing-masing.

Bahkan, Pangeran yang bertubuh kecil yang telah kehilangan gurunya itu pun telah menemui Pangeran Indrasunu. Dengan nada menyesal ia berkata, “Aku sudah kehilangan segala-galanya. Karena itu, untuk sementara aku ingin menyendiri sambil membawa tubuh guruku kembali ke padepokannya.”

“Perjuangan kita masih panjang.” berkata Pangeran Indrasunu.

“Aku tahu. Tetapi aku perlu beristirahat sepeninggal guru. Jika hatiku telah pulih kembali, aku akan menentukan sikap.” berkata Pangeran bertubuh kecil, murid Resi Damar Pamali yang terbunuh di peperangan.

Pangeran Indrasunu tidak dapat mencegahnya. Katanya, “Baiklah. Beristirahatlah. Pada saatnya aku akan dapat menjemputmu.”

Pangeran bertubuh kecil itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab.

Demikianlah Pangeran bertubuh kecil itu telah memisahkan diri. Sementara itu ketiga Pangeran yang lain pun akhirnya merasa bahwa mereka memang harus beristirahat untuk menyusun rencana yang lebih baik. Kegagalan mereka itu, harus mereka jadikan dasar pengalaman untuk melakukan tindakan-tindakan selanjutnya.

Tetapi para Pangeran itu tidak mau kembali ke Kediri. Jika persoalan mereka sudah didengar oleh para petugas di Kediri, maka kedatangan mereka ke Kediri hanya akan mengundang bencana.

Karena itu, maka para Pangeran itu telah memilih untuk kembali ke padepokan, ke tempat mereka berguru. Tetapi karena Pangeran Indrasunu tidak akan dapat kembali kepada gurunya, maka ia pun telah memilih salah satu dari kedua padepokan tempat saudaranya berguru.

“Kita memang tidak boleh tergesa-gesa.” berkata guru salah seorang dari kedua Pangeran itu, “Kali ini kita telah gagal. Tetapi pada kesempatan lain, kita akan memenangkan pertempuran seperti ini.”

Para Pangeran itu hanya mengangguk-angguk saja. Namun gambaran mereka tentang masa depan mereka, tiba-tiba telah menjadi buram.

Sementara itu, dendam Pangeran Indrasunu justru tertuju paling banyak kepada seorang gadis yang bernama Ken Padmi. Bagi Pangeran Indrasunu, gadis itu menjadi sumber dari malapetaka yang telah dialaminya. Jika ia pada suatu malam tidak melihat gadis itu di perapian dalam perjalanannya ke Singasari, serta kemudian gadis itu tidak menolaknya dengan seribu macam alasan dan cara, maka agaknya ia tidak terlempar ke dalam keadaan seperti yang dialaminya saat ini.

Namun selebihnya ia pun telah mendendam kepada Akuwu Suwelatama yang dianggapnya menipu serta mengkhianatinya.

Dendam selanjutnya ditujukan kepada gurunya sendiri, Wasi Sambuja.

“Mudah-mudahan ia pun mati dalam benturan itu.” geramnya.

Namun dalam pada itu, ternyata Wasi Sambuja yang justru menjadi pingsan, tidak terlalu banyak menghambur-hamburkan sisa kekuatannya. Ia justru telah terbaring tenang, juga pada saat ia telah sadar kembali.

“Apa yang terjadi?” bertanya Wasi Sambuja.

Akuwu Suwelatama yang berdiri di samping pembaringannya pun kemudian mendekat. Perlahan-lahan ia menyahut, “Kau pingsan ketika terjadi benturan dengan Resi Damar Pamali.”

“O,” Wasi Sambuja menganguk-angguk, “ternyata ilmunya bertambah maju di hari-hari tuanya. “Apakah ia kemudian telah merusak gelar Akuwu?”

”Tidak. Tentu tidak. Sebab ketika Wasi Sambuja membentur ilmu Resi Damar Pamali, Wasi Sambuja menjadi pingsan. Tetapi Resi Damar Pamali telah terbunuh dalam benturan itu.” jawab Akuwu.

“O.” Wasi Sambuja menarik nafas dalam-dalam. Desisnya, “Bukan maksudku membunuhnya. Tetapi ia mati karena pokalnya sendiri. Jika aku ikut dalam arus kekecewaan muridku, aku pun akan mati seperti Resi Damar Pamali.” Wasi Sambuja berhenti sejenak, lalu, “Tetapi di mana aku sekarang?”

“Kita sudah merebut kembali kota Pakuwon Kabanaran.” jawab Pangeran Suwelatama.

“Syukur. Syukurlah.” Wasi Sambuja itu menyahut. Meskipun ia masih nampak sangat lemah, tetapi sorot matanya membayangkan kegembiraannya.

“Tetapi di mana para Pangeran itu sekarang?” bertanya Wasi Sambuja.

“Mereka melarikan diri. Kami belum berhasil menemukan jejaknya. Nampaknya pasukan mereka menjadi bercerai-berai meskipun ada juga sekelompok kecil yang tetap berada dalam satu ikatan. Yang lain telah terkepung dan menyerah kepada pasukan kami.”

“Syukurlah,” jawab Wasi Sambuja, “jika demikian maka perang ini sudah selesai.”

“Mudah-mudahan para Pangeran itu tidak membuat onar lagi dengan cara lain. Namun agaknya jika mereka akan bertindak lagi, mereka harus mempertimbangkan pengalaman ini, sehingga mereka tidak akan terperosok lagi ke dalam kesulitan yang semakin parah.”

“Mudah-mudahan mereka mengerti arti dari pengalamannya,” sahut Wasi Sambuja, “bukan berakibat sebaliknya. Dendam yang tidak berkesudahan.”

Akuwu Suwelatama mengerutkan keningnya. Dicobanya untuk melihat tabiat saudara-saudaranya itu seorang demi seorang. Namun sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Mudah-mudahan. Pengalaman mereka kali ini cukup pahit bagi mereka. Tetapi kadang-kadang aku masih dibayangi oleh keragu-raguan justru aku mengenal sifal-sifat mereka. Kali ini aku berusaha untuk mengalasi kekalutan ini sebagaimana kita mengatasi kekacauan biasa. Bukan satu pemberontakan. Karena akibatnya akan berbeda. Tetapi jika ia mengulangi lagi, mungkin aku sudah tidak dapat lagi membatasi tuduhan, bahwa yang mereka lakukan benar-benar satu pemberontakan.”

“Adalah bodoh sekali jika mereka tidak mengetahui akan hal itu.” sahut Wasi Sambuja, ”Akuwu sudah berbuat lembut terhadap mereka.” Wasi Sambuja berhenti sejenak, lalu, “Tetapi agaknya memang sulit untuk menjajagi perasaan seseorang.”

Demikianlah maka Akuwu Suwelatama pun berusaha untuk menegakkan kembali pemerintah di Pakuwonnya.

Orang-orang yang terlibat dalam pertempuran itu pun mendapat perhatiannya sepenuhnya. Mereka yang dengan sadar memihak Pangeran-pangeran yang melawannya, diperlakukan berbeda dengan mereka yang kurang mengerti persoalannya meskipun mereka ikut berperang. Tetapi untuk membedakan sikap itu pada setiap orang tentu akan banyak mengalami kesulitan.

Meskipun demikian Akuwu Suwelatama pun telah memerintahkannya demikian. Ia membuat beberapa ketentuan yang akan dapat menjadi petunjuk para pembantunya untuk melakukan pengusutan.

Namun dalam pada itu, tidak dapat diingkari bahwa sikap pribadi setiap orang akan berbeda, sehingga tanggapan mereka terhadap orang-orang yang akan menglami pengusutan itu pun akan berbeda pula.

Dalam pada itu, untuk beberapa saat pasukan Singasari masih tetap berada di Pakuwon Kabanaran. Bahkan Akuwu minta agar mereka sempat mengikuti perkembangan keadaan di Pakuwon itu untuk beberapa lama. Bukan saja pulihnya tata pemerintahan, tetapi juga perkembangan keadaan di daerah yang gawat. Di daerah hutan perbatasan dan di Kedung Sertu yang masih selalu dibayangi oleh kejahatan yang belum dapat diatasi.

“Apakah mereka terlalu kuat?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Tidak karena mereka terlalu kuat,” jawab Akuwu Suwelatama, “tetapi juga bukan berarti mereka dapat diabaikan kekuatannya. Yang paling menyulitkan adalah kedudukan mereka. Bagi mereka yang berada di hutan perbatasan, maka mereka bersarang di daerah seberang perbatasan. Sementara di daerah rawa-rawa Kedung Sertu, mereka mempunyai cara yang sulit untuk ditiru bagaimana mereka menyusup di antara pepohonan air dan menghilang. Kedung Serta adalah daerah rawa-rawa yang hampir setiap saat di selubungi oleh kabut yang tebal, sehingga sulit untuk dapat mengejar para perampok yang sudah lebih menguasai medan di daerah yang berawa-rawa itu.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk, daerah itu nampaknya memang daerah yang sulit untuk di jamah. Meskipun Mahisa Bungalan belum pernah melihat daerah itu, tetapi ia dapat membayangkan kesulitan-kesulitan yang dialami oleh pasukan Akuwu di daerah itu.

“Sebenarnyalah korban yang kita berikan sudah cukup mahal untuk mengatasinya. Tetapi kita masih belum dapat dengan pasti menghancurkan mereka. Selama pasukan kita berada di daerah itu, seolah-olah segala kegiatannya sudah dihentikan. Namun pada saat-saat pasukan itu lengah maka tiba-tiba saja mereka menyergap dan merampok orang-orang yang sebenarnya tidak terlalu berkecukupan di daerah rawa-rawa Kedung Sertu. Namun bahwa di antara rakyat di daerah rawa-rawa itu semula dengan berhasil, mengusahakan kulit ular dan kulit buaya bagi perhiasan dan perlengkapan khusus, maka mereka sempat menabung barang sedikit.” Akuwu Suwelatama menjelaskan.

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Memang sulit untuk mengatasi mereka yang mempunyai daerah perlindungan yang mapan.

“Tetapi Akuwu,” bertanya Mahisa Bungalan, “apakah Akuwu pernah berbicara dengan Pakuwon di seberang hutan perbatasan, untuk mendapat ijin memasuki daerah itu dan langsung menghancurkan pasukan perampok itu di sarangnya?”

“Pemimpin pasukan pengawal di hutan perbatasan itu pernah mencoba melakukannya. Tetapi pemimpin pasukan pengawal Pakuwon sebelah, menganggap bahwa pernyataan itu terlalu dibuat-buat.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Namun ia pun tidak berkeberatan untuk menunda barang beberapa hari untuk kembali ke Singasari. Namun Mahisa Bungalan telah mengirimkan penghubungnya untuk melaporkan perkembangan keadaan dengan para pemimpin prajurit di Singasari. Bahkan ketika Pangeran Wirapaksi kemudian terpaksa mendahului bersama para pengawalnya, maka pesan Mahisa Bungalan itu pun telah diulangi.

Memang ada juga beberapa orang prajurit Singasari yang mengeluh. Calon perwira mereka itu adalah seorang petualangan dan pengembara yang tidak akan pernah pulang, desis seorang prajurit.

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, “Tetapi menarik juga. Jika aku tidak terlalu rindu pada anakku yang bungsu, maka aku kira senang juga mengembara ke tempat-tempat yang belum pernah di ambah.”

Ternyata bahwa keluh-kesah itu telah didengar oleh Mahisa Bungalan. Karena itu, maka ia pun segera menemui Mahisa Agni dan Witantra untuk membicarakannya.

“Aku tidak sampai hati untuk meninggalkan Pakuwon ini begitu saja,” berkata Mahisa Bungalan, “tetapi aku pun mengerti, prajurit-prajurit itu sudah terlalu lama meninggalkan keluarganya dalam hubungannya dengan tugasnya kali ini.”

Mahisa Agni dan Witantra saling berpandangan sejenak. Kemudian Mahisa Agni pun berkata, “Seorang prajurit kadang-kadang harus meninggalkan keluarganya sampai berbulan-bulan. Yang mereka lakukan belum apa apa. Mereka seolah-olah baru kemarin sampai di daerah ini. Kau sudah memikirkan keluh-kesah mereka. Prajurit-prajurit yang masih muda memang memerlukan pengalaman.”

“Untuk peperangan yang besar, mungkin mereka memang harus berbulan-bulan meninggalkan keluarga mereka. Namun yang mereka hadapi sekarang bukan persoalan yang terlalu besar. Dan mereka pun merasa bahwa tugas yang dibebankan kepada mereka telah selesai.” jawab Mahisa Bungalan.

“Jadi bagaimana maksudmu yang sebenarnya?” bertanya Witantra.

“Biarlah mereka kembali ke kesatuan mereka. Biarlah mereka melaporkan bahwa ada beberapa orang yang terpaksa tidak dapat kembali pulang. Selain yang masih harus dirawat.” berkata Mahisa Bungalan, “Sementara itu, aku masih akan melanjutkan tugas yang masih belum diselesaikan oleh Akuwu Suwelatama. Para perampok yang menghantui daerah hutan perbatasan, serta daerah rawa-rawa di Kedung Sertu itu memerlukan pemecahan.”

Mahisa Agni mwngangguk-angguk kecil, katanya, ”Aku mengerti maksudmu, Mahisa Bungalan. Ternyata kau masih belum dapat melepaskan diri dari jiwa pengembaraanmu. Tetapi bahwa kau tidak dapat mendengarkan keluhan seseorang tanpa berbuat sesuatu adalah satu sikap yang sesuai dengan sikap seorang kesatria.”

“Jadi paman sependapat dengan rencanaku?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Aku akan memberi pertanda kepada mereka, bahwa mereka kembali atas perintah. Bukan karena mereka meninggalkan tugas.” berkata Mahisa Agni.

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Jika pasukan itu sudah kembali, maka ia akan dapat membantu Akuwu Suwelatama untuk menjebak para perampok itu.

Demikianlah, maka Mahisa Agni pun kemudian memberikan pertanda kepada para prajurit Singasari. Senapa tertua di antara mereka telah membawa rontal dari Mahisa Agni, yang menyebutkan bahwa prajurit-prajurit itu memang sudah selesai bertugas dan diperintahkan kembali ke dalam pasukan induknya, sementara Mahisa Bungalan, Mahisa Agni dan Witantra masih akan tinggal di Pakuwon Kabanaran untuk menyelesaikan persoalan kekisruhan di Pakuwon itu sampai tuntas.

Sepeninggal para prajurit, maka Mahisa Bungalan pun telah mengusulkan kepada Akuwu Suwelatama untuk menjebak para perampok itu. Pasukan yang berada di hutan perbatasan itu, agar diperintahkan untuk menarik kembali. Demikian pula bergantian akan dilakukan bagi pasukan di daerah rawa-rawa Kedung Sertu.

Akuwu Suwelatama menjadi heran. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Kenapa justru ditarik kembali?”

“Hanya sebagian dari mereka harus meninggalkan tempat itu. Tetapi pada kesempatan yang tidak mudah diketahui oleh para perampok itu, sebagian pengawal yang tersisa, akan tinggal bersama rakyat di padukuhan-padukuhan yang terpencil itu. Dengan demikian, jika para perampok itu datang kepada mereka, maka yang akan melawan mereka adalah para pengawal yang tersembunyi. Aku akan berada di antara mereka.” sahut Mahisa Bungalan.

“Menarik sekali!” desis Akuwu Suwelatama, “Baiklah. Kita akan mulai dengan daerah rawa-rawa Kedung Sertu. Aku akan ikut pula dalam rencana itu. Aku kira, kita untuk sementara tidak usah mencemaskan keadaan kota Pakuwon ini. Adimas Pangeran berempat itu tentu memerlukan waktu yang lama untuk membuat pertimbangan-pertimbangan.”

Demikianlah rencana itu disusun sebaik-baiknya. Akuwu Suwelatama, Mahisa Bungalan, Mahisa Agni dan Witantra akan ikut bersama mereka. Bersama para pengawal yang akan membaurkan diri dengan rakyat di daerah yang sering menjadi sasaran perampokan apabila ditinggalkan oleh para pengawal.

Setelah rencana itu disusun sebaik-baiknya, maka Akuwu telah memanggil Senopati yang memimpin pasukan di daerah rawa-rawa Kedung Sertu untuk mendengar penjelasannya.
Senopati yang kemudian datang menghadap itu mengangguk-angguk. Ia mengerti sepenuhnya apa yang dimaksud oleh Akuwu Suwelatama.

“Kembalilah, dan aturlah seperti yang kita rencanakan. Jika kami kemudian dengan diam-diam tiba, maka sebagian dari para pengawal yang telah kau sisihkan, akan meninggalkan tempat itu.”

Dalam pada itu, sebelum Senopati itu kembali ke tugasnya ia masih sempat melihat akibat dari perebutan kekuasaan yang berlangsung hanya dalam waktu singkat itu. Sayang ia tidak dapat ikut serta mempertahankan kota Pakuwon. Namun ternyata ia pun menyadari, bahwa tugasnya tidak kalah pentingnya dengan tugas untuk merebut kembali kota Pakuwon itu.

Ketika beberapa hari kemudian, segalanya sudah siap, serta dengan diam-diam orang-orang terpenting dari Pakuwon Kabanaran dan Singasari telah ada di antara rakyat Kedung Sertu, maka Senopati itu pun telah memerintahkan sebagian dari para pengawal untuk berbaur pula di antara rakyat. Sedangkan sebagian lagi dari mereka telah diperintahkan untuk meninggalkan daerah itu. Upacara melepaskan para pengawal itu dilakukan dengan meriah. Hampir semalam suntuk mereka bersuka-ria. Dengan demikian maka yang terjadi itu telah memancing perhatian para perampok yang tersembunyi. Berita pelepasan itu akhirnya telah sampai pula ke telinga mereka. Sehingga mereka mengira bahwa para pengawal memang telah jemu berada di Kedung Sertu.

Orang-orang yang dengan ikhlas atau tidak, sering memberikan keterangan tentang keadaan para pengawal, telah mengatakan kepada para perampok yang tersembunyi, bahwa para pengawal telah ditarik.

“Kau yakin?” bertanya salah seorang perampok yang dengan sandi memasuki padukuhan.

“Lihat saja sendiri.” jawab orang yang memberikan keterangan itu.

Untuk beberapa hari perampok-perampok itu berusaha untuk meyakinkan diri. Dua tiga orang di antara mereka yang dengan tidak menarik perhatian melintasi padukuhan-padukuhan yang menjadi daerah sasaran mereka, memang sudah tidak melihat lagi adanya para pengawal yang sering berkeliaran di padukuhan itu.

Bahkan di pasar-pasar, mereka mendengar bahwa pelepasan para pengawal itu telah dilakukan dengan meriah. Mereka mengadakan kembul bujana dengan rakyat yang akan mereka tinggalkan, sebagai ucapan terima kasih atas sikap dan bantuan rakyat terhadap mereka. Sebaliknya rakyat pun mengucapkan terima kasih atas perlindungan mereka selama mereka berada di padukuhan itu.

“Bodoh sekali.” desis salah seorang di antara mereka yang mendengar ceritera itu dari seorang penjual nasi di sudut pasar. Lalu katanya, “Ternyata merekalah yang jemu lebih dahulu. Mungkin mereka mengira bahwa kita sudah kehilangan kekuatan, atau bahkan mereka mengira bahwa kita sudah musnah karena kelaparan.”

“Ya. Bodoh sekali,” sahut kawannya, “dengan mengadakan keramaian itu, mereka telah memberikan tanda kepada kita, agar kita mulai melakukan tugas kita kembali.”

Dalam pada itu, para perampok itu sama sekali tidak menyadari, bahwa masih ada sebagian dari para pengawal yang berada di padukuhan itu dengan membaurkan diri bersama rakyat. Mereka tinggal di rumah-rumah rakyat dan tersebar di berbagai tempat.

Namun mereka telah melakukan satu usaha untuk mengajari rakyat di daerah Kedung Sertu itu untuk berusaha menjaga diri mereka sendiri. Para pengawal yang tinggal telah mengajak anak-anak muda dan orang-orang yang lebih tua tetapi masih mampu melakukannya, untuk meronda di malam hari. Mereka membuat gardu-gardu dan kentongan-kentongan yang mereka pasang tidak hanya di gardu-gardu. Tetapi juga di setiap rumah.

Perkembangan baru itu ternyata mendapat sambutan yang baik dari rakyat di daerah Kedung Sertu. Anak-anak mudanya telah berbuat lebih banyak dari masa-masa yang lewat. Mereka mulai berusaha untuk mengenal senjata dan mempergunakannya sebaik-baiknya.

Gardu-gardu dan kentongan-kentongan itu telah menarik perhatian para perampok yang bersembunyi di seberang rawa. Namun setiap orang di padukuhan-padukuhan itu telah mendapat pesan, terutama yang di rumahnya tinggal pengawal yang membaurkan diri di antara rakyat, agar mereka mengatakan bahwa yang tinggal di rumah itu adalah saudaranya yang datang dari jauh. Saudaranya yang sudah lama tidak saling berkunjung.

Tidak banyak yang menghiraukan, bahwa di padukuhan-padukuhan di sekitar Kedung Sertu itu banyak menerima tamu. Namun karena mereka tinggal pada rumah yang berpencar, maka kehadiran mereka tidak begitu menarik perhatian.

Ternyata usaha Mahisa Bungalan untuk memancing para perampok mulai nampak akan berhasil. Para perampok itu tidak senang melihat gardu-gardu yang mulai terisi oleh anak-anak muda dan laki-laki yang meskipun sudah lebih tua, tetapi masih sanggup melakukannya.

Karena itu, maka mereka pun memutuskan untuk segera bertindak untuk menakut-nakuti rakyat di padukuhan itu. Bahkan sekaligus merampok orang-orang yang mereka anggap cukup berada.

Demikianlah, pada hari yang sudah ditentukan, sekelompok perampok mulai merayap mendekati padukuhan yang paling besar di antara beberapa padukuhan di sekitar daerah rawa-rawa Kedung Sertu. Mereka mengenal seorang saudagar kulit yang cukup mampu, sehingga para perampok itu menduga bahwa di dalam rumah itu terdapat perhiasan emas dan permata simpanan saudagar yang mereka anggap cukup mampu itu.

“Kita sekaligus menunjukan kepada rakyat yang sombong itu, bahwa usaha mereka sia-sia. Para pengawal yang telah meninggalkan tempat itu agaknya telah berpesan, agar mereka mulai dengan menjaga ketentraman daerah mereka sendiri.”

“Mereka akan menyesali kesombongan mereka. Mungkin kesombongan mereka itu pulalah yang menyebabkan para pengawal meninggalkan tempat itu. Rakyat yang sombong itu merasa dirinya sudah cukup kuat, hanya oleh latihan-latihan sekedarnya.” sahut seorang kawannya.

Kawan-kawannya yang lain tertawa. Mereka menganggap bahwa permainan yang akan mereka lakukan tentu akan menggembirakan.

“Sebenarnya kita tidak perlu membawa pasukan sebesar ini.” desis salah seorang di antara mereka.

“Kita akan mengajari rakyat di padukuhan-padukuhan itu untuk mengenal diri mereka sendiri,” berkata pemimpin perampok itu, “meskipun demikian, kita tidak boleh lengah. Siapa tahu ada perubahan yang memang telah terjadi di padukuhan-padukuhan itu, sehingga jika demikian kita tidak akan terjebak karenanya.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Sementara itu mereka sudah mendekati padukuhan yang mereka pilih sebagai sasaran mereka malam itu.

Dalam pada itu, malam yang turun pun menjadi semakin dalam. Meskipun di langit terdapat bintang-bintang yang berkeredipan, tetapi malam terasa sangat gelap.

Namun demikian, di padukuhan-padukuhan di sekitar Kedung Sertu, gardu-gardu pun mulai diterangi dengan obor-obor. Anak-anak muda mulai turun dari rumahnya dan sebagian dari mereka telah berkumpul di gardu-gardu untuk berkelakar.

Namun di antara mereka terdapat orang-orang yang sedang mengunjungi sanak kadang mereka di padukuhan itu. Tiga ampat orang tamu itu pun telah bertemu dan berkumpul di gardu-gardu itu, sedangkan beberapa orang lainnya, berkumpul di gardu yang lain.

Tetapi tidak semua pengawal yang membaurkan diri di antara rakyat itu keluar di gardu-gardu. Agar tidak segera mudah menimbulkan kecurigaan, maka mereka telah membuat giliran dengan diam-diam di antara mereka sendiri.

Gardu yang berada di mulut lorong, tiba-tiba telah dikejutkan oleh seseorang yang berlari-lari dari sawah.

Dengan terengah-engah orang itu berusaha berbicara kepada orang-orang yang berada di dalam gardu itu.

“Tenangkan sedikit hatimu.” berkata orang yang sudah separo baya yang juga berada di gardu itu.

“Di sawah. Mereka menuju kemari.” katanya gugup.

“Apa yang di sawah? Dan sipakah yang menuju kemari?” bertanya yang lain.

“Sekelompok orang yang tidak aku kenal.” berkata orang itu. “Cepat menyingkir. Mereka terlalu kuat.”

“Siapa?” desak kawannya yang duduk terkantuk-kantuk di gardu, namun yang tiba-tiba matanya menjadi terbelalak.

“Aku kira sepasukan perampok,” berkata orang itu, “cepat berbuatlah sesuatu. Mereka berada dekat di belakangku. Untunglah mereka tidak melihat aku berlari-lari mendahului lewat pematang.”

Seorang yang bukan penduduk Kedung Sertu itu tiba-tiba meloncat turun dari gardu, “Kau tidak berbohong?”

“Tentu tidak. Biar apa aku harus berbohong?” jawabnya. Karena itu, orang yang meloncat dari gardu itu pun berkata, “Cepat bersiaga. Aku akan melihat ke luar regol.”

“Aku ikut bersamamu.” desis seorang yang lain, yang juga bukan orang padukuhan itu.

Dua orang itu pun segera meninggalkan gardu itu. Dengan hati-hati mereka pun telah keluar dari gerbang padukuhan. Namun jatung mereka menjadi berdebar-debar. Ternyata bahwa sekelompok orang-orang yang berjalan dalam gelap benar-benar telah mendekati padukuhan itu.

Karena itu, maka orang itu pun tidak telaten lagi, sementara orang-orang yang datang itu telah mencapai regol padukuhan.

Dengan tangkasnya orang itu pun segera meloncat menyambat pemukul kentongan. Sekejap kemudian, telah terdengar isyarat bunyi kentongan itu mengumandang seluruh padukuhan.

Sambil memukul kentongan orang itu berkata, “Cepat menyingkir. Jangan main-main. Taruhannya adalah lehermu. Jika kalian diketemukan di gardu ini, maka kalian akan dicincang sampai lumat.”

Barulah orang-orang yang berada di gardu itu sadar, bahwa mereka benar-benar menghadapi bahaya. Karena itu, maka mereka pun dengan serta-merta telah berloncatan dan hilang di dalam gelap.

Sementara itu, sekelompok orang yang memasuki regol itu pun mendengar suara kentongan. Tetapi mereka sama sekali tidak menjadi gentar, biar pun orang seluruh padukuhan atau dari padukuhan di sekitar tempat itu datang seluruhnya, mereka tidak akan cemas.

Orang yang memukul kentongan itu pun menjadi gelisah. Belum ada satu pun kentongan di tempat lain yang menyahut. Sementara itu ia pun yakin bahwa sekelompok orang-orang yang datang ke padukuhan itu telah sampai ke pintu gerbang.

“Gila!” geramnya, “Apakah orang padukuhan ini telah tertidur semua?”

Karena itulah maka ia telah memukul kentongan semakin lama semakin keras.

“Mereka sudah terlalu dekat.” desis seorang.

“Hampir tidak ada waktu. Kita harus mengundang kawan-kawan kita yang tersebar. Di padukuhan ini hanya ada enam orang di antara kita dan orang yang bernama Mahisa Bungalan itu, yang dikirim oleh Akuwu Suwelatama untuk bergabung dengan kita.”

“Apakah orang itu benar-benar mempunyai kemampuan sebagaimana seorang pengawal seperti kita?” bertanya yang seorang.

“Kita akan membuktikannya malam ini.” jawab yang lain, “Tetapi kita harus bertindak cepat sekarang. Pergilah ke gardu. Segalanya harus dilakukan dengan cepat. Termasuk isyarat. Karena yang datang berjumlah begitu banyak.”

Waktu memang hanya sedikit sekali. Orang-orang itu sudah menjadi semakin dekat. Sedangkan jumlah mereka cukup mendebarkan.

Sementara itu, seorang dari kedua orang yang keluar dari gerbang itu pun telah kembali ke gardu dengan nafas yang terengah-engah. Dengan sendat, seperti orang yang terdahulu, ia berkata, “Mereka hampir memasuki gerbang. Tidak ada waktu. Menyingkirlah dan bersiaplah. Kita akan membunyikan isyarat.”

“Apakah kau tidak bermimpi?” bertanya salah seorang di antara mereka yang berada di gardu itu.

“Cepatlah, tidak ada waktu untuk berbincang dalam keadaan seperti ini.” geram orang itu.

Ternyata orang-orang yang masih berada di gardu itu tidak dapat mengikuti kehendak orang itu. Mereka terlalu lamban dan membuat seribu macam pertimbangan.

Tetapi ia bertekad untuk tidak berhenti memukul kentongan sehingga ada meskipun hanya satu, suara kentongan yang menyahut dan yang akan memanggil orang lain untuk membunyikannya pula.

Dalam pada itu, orang-orang yang datang ke padukuhan itu benar-benar sudah berada di dalam regol. Untunglah, tepat pada waktunya, terdengar suara kentongan meskipun agak jauh, menyahut suara kentongan pertama.

Demikian suara kentongan yang lain itu berbunyi, maka suara ketongan yang pertama itu pun terdiam, karena penabuhnya dengan tergesa-gesa telah menyusup menghilang di dalam gelap, tepat pada saat orang-orang yang memasuki regol itu mendekatinya gardunya.

“Kosong,” desis orang-orang itu, “mereka telah pergi. Baru saja. Lihat, kentongan itu masih terayun.”

Kawannya tertawa. Jawabnya, “Orang-orang yang sombong. Ternyata mereka tidak berbuat apa-apa ketika kami datang.”

“Belum tentu.” berkata yang lain lagi. Lalu, “Dengar suara kentongan yang lain telah menyahut.”

Tetapi yang tertawa itu masih juga tertawa. Katanya, “Mereka pun akan segera melarikan diri, demikian kita mendekati.”

Demikianlah maka orang-orang itu telah memasuki padukuhan itu semakin dalam. Mereka sama sekali tidak menghiraukan rumah-rumah dengan pintu tertutup rapat. Yang ingin mereka datangi, kecuali gardu-gardu adalah rumah seorang saudagar kulit buaya yang cukup kaya. Yang mereka duga menyimpan barang-barang berharga yang pantas untuk mereka ambil.

Dalam pada itu, suara kentongan di kejauhan masih terdengar. Tetapi seperti suara kentongan yang pertama, maka suara yang lain pun tidak segera menyahut.

Baru kemudian terdengar suara kentongan yang lain, agak lebih dekat dari suara kentongan yang jauh itu.

Ternyata bahwa pemukul kentongan yang pada waktunya berhasil menyelinap itu telah menemukan sebuah kentongan tergantung di serambi sebuah rumah. Tanpa minta ijin dahulu, maka ia pun telah memukul kentongan itu sekeras-kerasnya.

Sebenarnyalah, orang-orang padukuhan itu menjadi ngeri mendengar suara kentongan itu. Sebagian besar dari mereka, justru telah kehilangan keberanian mereka untuk berbuat sesuatu. Bahkan untuk memukul kentongan pun rasa-rasanya mereka menjadi ketakutan.

Namun akhirnya, selain dua buah kentongan itu, ada juga kentongan di ujung padukuhan yang lain telah menyambut. Suaranya cukup lantang sehingga terdengar dari padukuhan di seberang bulak yang tidak terlalu panjang.....

Bersambung... !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...