PANASNYA BUNGA MEKAR : 23-02
“Bagaimana perasaannya yang sebenarnya ketika ia melihat aku bertempur melawan Marwantaka dan kemudian Wiranata?” bertanya Ken Padmi ke dalam dirinya sendiri. Tersirat perasaan malu dan menyesal atas ke sombongannya, sehingga ia pun telah menantang Mahisa Bungalan untuk memasuki arena.
Dalam pada itu, Ki Dukut benar-benar telah sampai kepuncak ilmunya. Tangannya telah berubah seakan-akan menjadi bara yang menyala di dalam gelapnya malam. Setiap sentuhan akan berarti hangus ditubuh lawannya.
Namun tangan Ki Dukut tidak pernah dapat menyentuh Mahisa Agni yang bertempur dangan kecepatan angin pusaran. Jika ia melihat lawannya, maka tangan Ki Dukut yang seolah-olah membara itu bagaikan kemamang yang terbang berputaran mengitari Mahisa Agni. Namun dalam kecepatan geraknya, tubuh Mahisa Agni bagaikan tinggal sebuah bayangan yang nampak tetapi tidak teraba karena. Sehingga dengan demikian maka Mahisa Agni lah yang kemudian lebih banyak mengenai tubuh Ki Dukut dengan sentuhan-sentuhan kekuatan raksasa. Betapa kuat daya tahan tubuh Ki Dukut, namun sentuhan-sentuhan itu akhirnya terasa juga sakit.
Dalam pada itu, kemarahan Ki Dukut semakin memuncak pula. Dengan demikian, maka ia pun telah mengerahkan segenap kemampuan dan ilmunya. Yang kemudian bagaikan membara bukan saja tangannya, tetapi hampir seluruh tubuhnya, sehingga dengan demikian, Ki Dukut mengharap bahwa lawannya tidak akan berani lagi menyentuh tubuhnya, agar tangannya tidak terbakar oleh panasnya ilmu yang terpancar dari tubuhnya itu.
Tetapi ternyata bahwa tangan Mahisa Agni, seolah-olah telah menjadi kebal. Ilmu Ki Dukut itu sama sekali tidak mempengaruhinya. Serangan Mahisa Agni masih beruntun mengenai tubuhnya sehingga sekali-sekali Ki Dukut itu menyeringai menahan sakit.
Karena itulah maka Ki Dukut tidak lagi memusatkan perlawanannya kepada ilmunya yang dahsyat itu, karena seolah-olah tidak banyak bermanfaat untuk menghadapi Mahisa Agni. Sehingga dengan demikian maka Ki Dukut pun kemudian memusatkan segenap tenaga dan ilmunya untuk mengatasi kecepatan geraknya.
Nampaknya Ki Dukut berhasil dengan usahanya. Sejenak kemudian, seolah-olah ia mampu mengimbangi kecepatan gerak Mahisa Agni. Ia pun seolah-olah tidak lagi berjejak di atas tanah. Tubuhnya melayang-layang dengan cepatnya susul menyusul dengan tubuh Mahisa Agni, sehingga keduanya seolah-olah hanyalah dua bayangan yang saling berkejaran.
Mereka yang menyaksikan pertempuran itu tidak lagi dapat mengerti apa yang telah terjadi, kecuali Witantra dan Mahisa Bungalan. Dengan berdebar-debar Witantra menyaksikan dua kemampuan raksasa sedang bertempur dengan garangnya. Keduanya adalah orang-orang berilmu yang memiliki pengalaman yang sangat luas dan dalam. Setiap kesalahan, betapa pun kecilnya, akan dapat berakibat gawat.
Sementara itu, Ki Watu Kendeng dan Ki Selabajra, Ken Padmi dan orang-orang yang menyaksikannya, tidak lagi dapat menyebutkan apa yang sedang terjadi itu. Sebenarnyalah pertempuran itu sudah melampaui benturan tenaga wajar dalam lambaran ilmu yang tinggi. Masing-masing memiliki kemampuan menggerakkan tenaga cadangan dan bahkan menyerap kekuatan yang terselubung pada diri masing-masing.
Karena itu, maka pertempuran itu pun merupakan benturan dua ilmu yang sudah sampai pada tataran hampir sempurna.
Ki Dukut yang marah itu akhirnya tidak telaten lagi dengan pertempuran yang seakan-akan tidak lagi akan tarakhir. Apalagi dalam tahap-tahap berikutnya, masih juga nampak bahwa Mahisa Agni memiliki kelebihan kecepatan selapis tipis dari Ki Dukut Pakering.
Karena itu, maka dalam kejemuannya, bukan saja dalam pertempuran itu. tetapi juga ungkapan dari endapan perasaannya dalam keadaan yang paling kalut itu, kejemuannya pada petualangan yang dilakukannya untuk waktu yang sudah terlalu lama tanpa menghasilkan sesuatu, bahkan yang dialaminya adalah kegagalan-kegagalan yang paling memuakkan, maka Ki Dukut mengambil satu keputusan untuk menentukan akhir dari pertempuran itu. Apapun yang akan terjadi, hancur atau menghancurkan, ia akan melepaskan ilmu pamungkasnya yang hampir tidak pernah dipergunakan dalam petualangannya.
Namun menghadapi orang yang menyebut dirinya prajurit Singasari itu, ia bertekad untuk menentukan, apakah petualangannya itu akan berakhir atau berhasil.
Karena itu, maka pada saat-saat terakhir, Ki Dukut telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk berusaha mengimbangi lawannya. Kemudian dengan tiba-tiba saja Ki Dukut telah meloncat menjauhi Mahisa Agni.
Ketika Mahisa Agni akan memburunya, maka ia pun terkejut melihat sikap Ki Dukut. Ki Dukut telah berdiri miring sambil merendahkan tubuhnya, tangannya bagaikan bergetar bersilang di depan wajahnya.
Mahisa Agni pun tidak sempat berpikir panjang. Ia pun telah melompat menjauhi lawannya. Dengan sikap mapan ia menyilangkan tangannya di depan dadanya. Dengan segenap daya kemampuannya lahir dan batin, ia telah mengerahkan ilmu pamungkasnya, Gundala Sasra.
Dalam pada itu, Ki Dukut yang sudah memusatkan segenap ilmu puncaknya, tiba-tiba telah berteriak nyaring. Suaranya manggeletar bagaikan mengguncang langit. Dengan loncatan yang panjang ia mengayunkan tangannya langsung menghantam ke arah kepala Mahisa Agni.
Tetapi Mahisa Agni pun telah bersiap sebaik-baiknya. Ia telah mengetrapkah ilmunya pula untuk melawan ilmu puncak Ki Dukut Pakering.
Ketegangan yang memuncak telah mencengkam jantung Witantra dan Mahisa Bungalan, sementara orang-orang lain sudah tidak mampu lagi menilai apa yang bakal terjadi.
Ketika Ki Dukut mengayunkan tangannya, terasa seolah-olah jantung Witantra dan Mahisa Bungalan berhenti berdetak.
Sesaat kemudian telah terjadi benturan yang sangat dahsyat dari dua kekuatan yang hampir tidak dapat dinilai. Benturan yang seakan-akan telah menggetarkan seluruh padepokan Kenanga. Daun-daun telah berguguran dari tangkainya. Bahkan rumah-rumah yang berdiri tegak di lingkungan padepokan itu pun bagaikan telah diguncang oleh gempa.
Demikianlah benturan itu ternyata telah melemparkan Mahisa Agni beberapa langkah surut. Bahkan ia pun telah terbanting jatuh dan berguling beberapa kali. Terasa tulang-tulangnya bagaikan berpatahan, sementara dadanya pun menjadi sesak. Malam rasa-rasanya menjadi semakin gelap pekat dan bintang di langit pun rasa-rasanya telah berputaran.
Namun Mahisa Agni masih mampu bangkit dan duduk di tanah. Sesaat ia memusatkan segenap daya tahan tubuhnya untuk mengalasi goncangan yang terjadi pada dirinya.
Pada saat yang bersamaan, ternyata Ki Dukut Pakering yang pernah menjadi guru dari Pangeran Kuda Padma Data itu, telah terlempar pula. Kekuatan yang luar biasa, yang tersalur pada hentakan pukulan tangannya, telah membentur kekuatan yang tidak terduga pula. Karena itu, maka kekuatan yang membentur kekuatan yang justru melampaui kekuatannya itu seolah-olah lelah memental dan memukul dirinya sendiri.
Bahkan kekuatan Mahisa Agni bukan saja kekuatan yang bertahan, namun Mahisa Agni lelah menghentakkan tangannya pula tepat pada saat benturan itu terjadi.
Dengan demikian, maka kekuatan yang ganda itu telah menghantam bagian dalam tubuh Ki Dukut Pakering. Demikian dahsyatnya hentakan kekuatan itu sehingga betapapun tinggi daya tahan tubuh Ki Dukut Pakering, namun ternyata ia tidak mampu melawan kekuatan ganda yang memukul jantungnya.
Rasa-rasanya jantung Ki Dukut itu telah terbakar di dalam dadanya, sehingga detaknya pun telah terganggu karenanya. Ki Dukut yang terjatuh beberapa langkah dari benturan itu, sempat menggeliat. Dadanya serasa telah pecah, dan tulang-tulangnya berpatahan.
Ketika Mahisa Agni perlahan-lahan dapat menguasai perasaan sakitnya, maka Ki Dukut justru menjadi semakin parah. Bahkan kemudian, dari mulutnya lelah lerdengar desah tertahan-tahan.
Witantra yang dengan serta merta berlari-lari mendekati Mahisa Agni pada saat benturan terjadi, menjadi tenang ketika ia melihat Mahisa Agni masih sempat bangkit dan mengatur pernafasannya dan memusatkan daya. tahannya. Justru karena itu, maka ia pun berkata kepada Ki Watu Kendeng dan Ki Selabajra yang juga mendekati Mahisa Agni bersama Mahisa Bungalan dan Ken Padmi, “Awasilah. Jangan diganggu”
Ki Selabajra mengangguk kecil. Sementara Witantra pun lelah meninggalkan Mahisa Agni dan mendekati Ki Dukut yang terbaring.
“Ki Dukut” desis Wilanlra.
Terdengar nafas orang itu terengah-engah. Namun sejenak kemudian, betapapun lirihnya, terdengar Ki Dukut berkata, “Bagaimana dengan prajurit itu?”
Witantra menjadi ragu-ragu. Tetapi kemudian ia men-jawabjapa adanya, “Ia berhasil bertahan”
Ki Dukut mengerang menahan-sakit-di selaruh tubuhnya. Sementara beberapa orang telah mendekatinya. Marwantaka dan Wiranata yang terluka pun berusaha untuk mendekat. Sementara beberapa orang cantrik telah datang sambil membawa obor-obor minyak.
Kesan Ki Dukut pada saat terakhir itu sangat mengejutkan. Ternyata Ki Dukut yang sudah menjadi sangat lemah itu berdesis, “Jadi ia tidak mati?”
Witantra menggeleng sambil menjawab, “Tidak Ki Diikut”
Witantra menjadi berdebar-debar. Tetapi ia pun kemudian mendengar Ki Dukut itu berdesis, “Orang itu memang luar biasa. Ilmunya melampaui segala ilmu yang pernah aku pelajari. Syukurlah bahwa aku tidak membunuhnya. Ia tidak boleh mati. Akulah yang seharusnya mati” Ki Dukut berdesis. Nampak betapa sakit tubuhnya. ketika Witantra berusaha membantunya, ia berkata, “Tidak ada gunanya. Biar sajalah aku mati. Aku kira kematian adalah jalan yang paling baik. Aku sudah jemu bertualang. Aku sudah jemu dengan segala macam kegagalan yang aku alami. Lebih dari itu, aku menyesali justru pada saat yang sudah terlambat”
“Tidak” jawab Witantra, “belum terlambat. Kau dapat menyatakan diri bahwa kau menyesali segala tingkah Lakumu. Jika kau masih menyadari apa yang telah kau lakukan, maka kau dapat bertaubat sekarang”
Nafas Ki Dukut semakin memburu. Tetapi ia masih berusaha untuk berbicara, “ Apa itu mungkin?”
“Mungkin, mungkin sekali Ki Dukut” jawab Witantra.
Ki Dukut terdiam sejenak. Kemudian perlahan sekali ia berdesis, “Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa mengampuni segala kesalahan yang pernah aku lakukan. Dosaku sudah tidak terhitung lagi dan apakah masih ada ruang pengampunan yang dapat menerima aku”
“Tentu” jawab Witantra, “Tuhan Yang Maha Agung adalah Yang Maha Pengampun”
“Aku mohon ampun kepada Tuhan Yang Maha Agung” ia berhenti sejenak. lalu, “aku minta maaf kepada muridku. Pangeran Kuda Padmadata. Apakah kau mau mengatakannya”
“Ya. Ya. Aku akan mengatakan” jawab Witantra.
“Apakah kau mau juga menyampaikan kepada Ki Kasang Jati?” bertanya Ki Dukut.
“Akan aku sampaikan” jawab Witantra.
“Kami lelah bermusuhan sejak lama sekali. Sampaikan kepadanya, aku sudah menghentikan sikap bermusuhan itu” berkata Ki Dukut.
“Ya. ya. akan aku sampaikan” jawab Witantra.
“Kepada Ki Selabajra. kepada Watu Kendeng dan kepada siapa saja. Aku minta maaf” tetapi suaranya menjadi semakin lambat.
“Semuanya akan memaafkanmu Ki Dukut”
Di bawah cahaya obor nampak Ki Dukut tersenyum. Kemudian terdengar ia berdesis, “Terima kasih Ki Sanak. Apakah kau salah seorang dari prajurit Singasari itu?”
“Ya, Ki Dikit” jawab Witantra.
“Kepergianku akan mengurangi gejolak. Terima kasih atas perhatianmu pada saat terakhir” desis Ki Dikut.
Perasaan Witantra ternyata telah tersentuh juga. Pada saat-saat Ki Dukut sampai ke Sang Penciptanya, maka ia telah mengenali kembali dirinya sendiri dan bahkan ia telah mengakui segala kesalahannya.
Dalam pada itu. justru pada saat terakhir itu, nafas Ki Dukut bagaikan menjadi semakin teratur. Ia menggerakkan kaki dan dan kemudian menyilangkan tangannya di dadanya. Ia masih berusaha untuk berbicara. Sementara Witantra telah melekatkan telinganya di mulut Ki Dukut yang lemah, “Ki Sanak. Aku juga minta maaf kepadamu. kepada kawanmu yang telah membebaskan aku dari tekanan penderitaan batin selama ini. Selamat tinggal”
“Ki Dukut, Ki Dukut” desis Witantra.
Tetapi Ki Dukut tidak mendengarnya lagi. ia telah pergi untuk selamanya.
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia kemudian berdiri, ia melihat Ki Selabajra dan Ki Watu Kendeng telah berdiri di belakangnya.
“Ia telah pergi” berkata Witantra.
Ki Selabajra menarik nafas dalam-dalam. Sementara Witantra berkata selanjutnya, “Namun dengan demikian ia merasa dirinya terbebas dari segala tekanan batin atas kegagalan-kegagalan yang pernah dialaminya. Lebih dari itu, di saat terakhir ia telah bertaubat dengan sungguh-sungguh.
Ki Selabajra mengangguk-angguk. Sementara Witantra meneruskan, “Ia sempat minta maaf kepada Ki Selabajra kepada Ki Watu Kendeng, kepada semuanya saja”
Ki Watu Kendeng melangkah mendekatinya. Ketika ia berjongkok dan mengamati wajah Ki Dukut, katanya, “Ya. Nampaknya ia pergi dengan tenang, meskipun ia telah dihantam oleh ilmu yang dahsyat sekali. Tentu isi dadanya telah rontok karena hentakan ganda. Karena tenaganya sendiri dan karena dorongan kekuatan ilmu Mahisa Agni. Namun sama sekali tidak terbayang rasa sakit di wajahnya”
“Justru ia telah pasrah” desis Ki Selabajra, “mudah-mudahan pengakuan dan penyesalannya di saat terakhir dapat didengar oleh Sang Pencipta”
Dalam pada itu, Mahisa Agni yang masih ditunggu oleh Mahisa Bungalan dan Ken Padmi pun menjadi semakin baik. Bahkan kemudian Mahisa Agni telah menggeliat sambil menarik nafas dalam-dalam.
Ketika Mahisa Agni kemudian bangkit perlahan-lahan, maka Mahisa Bungalan segera membantunya sambil bertanya, “Bagaimana keadaan paman?”
“Sudah semakin baik Mahisa Bungalan. Aku sudah dapat mengatasi kesulitan pernafasanku” jawab Mahisa Agni, “mudah-mudahan untuk selanjutnya aku tidak terganggu karenanya”
Mahisa Bungalan memang melihat keadaan Mahisa Agni menjadi semakin baik. Bahkan ketika ia kemudian melepaskannya, Mahisa Agni sudah dapat berdiri tegak.
Selangkah-selangkah Mahisa Agni mencoba berjalan. Ternyata sudah terbebas dari segala macam akibat karena benturan ilmu dengan Ki Dukut, selain perasaan nyeri pada tulang-tulangnya.
Karena itu, maka Mahisa Agni pun kemudian melangkah menuju Witantra yang duduk di samping tubuh Ki Dukut yang terbujur.
“Ia sudah meninggal” berkata Witantra ketika Mahisa Agni berdiri di sampingnya. Dalam pada itu Witantra pun sempat menceriterakan kepada Mahisa Agni, apa yang telah terjadi pada saat-saat terakhir dari hidup Ki Dukut.
“Syukurlah” desis Mahisa Agni sambil memandang tubuh yang terbujur diam, “adalah tugas kita untuk menyelenggarakan korban-korban yang jatuh dalam pertempuran ini, termasuk Ki Dukut itu sendiri”
Demikianlah, maka padepokan itu telah mendapat satu kesibukan baru. Orang-orang yang terluka dan menyerah telah dikumpulkan di pendapa padepokan, sementara yang lain telah mengumpulkan pula korban yang jatuh dari kedua belah pihak.
Marwantaka dan Wiranata sendiri, yang juga terluka, tidak dapat berbuat apa-apa selain minta maaf atas segala tingkah lakunya. Mereka merasa diri mereka terlalu kecil berhadapan dengan Mahisa Bungalan yang memiliki ilmu yang dahsyat. Apalagi dihadapan Mahisa Agni dan Witantra.
“Kalian telah menjadi korban perasaan kalian yang tidak terkendali” berkata Mahisa Agni kepada kedua anak muda itu, “sementara tenaga kalian masih sangat dibutuhkan oleh lingkungan kalian. Mungkin bagi padepokan kalian atau bagi padukuhan. Jika kalian mampu menyalurkan gejolak perasaan muda kalian bagi yang bermanfaat, maka alangkah besar sumbangan kalian kepada sesama di sekitar kalian”
Marwantaka dan Wiranata hanya dapat menunduk, sementara luka mereka telah mendapatkan pengobatan sementara.
“Kita akan mengakhiri segala permusuhan” berkata Ki Selabajra kepada kedua anak muda itu, “pertengkaran diantara kita, hanya akan menghasilkan bencana seperti yang telah terjadi hari ini. Kematian, luka parah dan korban harta benda. Apakah kita tidak dapat berbuat lain dari pertentangan-pertentangan yang berkepanjangan?”
Kedua anak muda itu masih saja menduduk. Namun kemudian terdengar Marwantaka berdesis, “Kami telah melakukan kesalahan yang besar sekali. Meskipun demikian, aku memberanikan diri untuk mohon kesempatan memperbaiki kesalahan itu”
“Kami bukan pendendam” desis Ki Watu Kendeng, “kalian tentu akan mendapat kesempatan untuk mencobanya dengan satu kehidupan baru. Kalian harus mengubur sifat dan cara hidup kalian yang lama untuk memasuki satu masa kehidupan baru”
Namun Jawaban Ki Watu Kendeng itu agaknya belum memberikan kepuasan kepada anak-anak muda itu. Hampir di luar sadar, mereka memandang Ki Selabajra dan Mahisa Bungalan berganti-ganti.
Ki Selabajra yang berdiri di sebelah Ki Watu Kendeng itu pun mengangguk kecil sambil berkata, “Aku sependapat anak-anak muda. Yang dikatakan oleh Ki Watu Kendeng itu, juga yang akan aku katakan kepada kalian”
Marwantaka dan Wiranata tidak dapat menjawab lagi. Terasa perasaannya benar-benar telah tersentuh. Justru karena itu mereka semakin merasa bersalah atas segala tingkah laku mereka.
Dalam pada itu, maka Marwantaka dan Wiranata pun kemudian minta diri. Namun mereka harus membawa kawan-kawan mereka yang telah menjadi korban gejolak kemurkaan mereka.
Namun ternyata korban yang terbunuh tidak terlalu banyak. Mahisa Agni dan Witantra memang tidak membunuh lawan-lawan mereka. Meskipun sebagian besar dari mereka terluka, dan ada di antara mereka yang kehilangan kemampuan untuk bertempur tanpa luka di kulit, tetapi ternyata tulang-tulang mereka rasanya bagaikan berpatahan.
Sementara itu, maka Marwantaka dan Wiranata lelah minta kepada Ki Selabajra dan Ki Watu Kendeng untuk membawa Ki Dukut bersama mereka, karena Ki Dukut itu pun datang ke padepokan itu bersama mereka pula.
Yang kemudian ditinggalkan di padepokan itu adalah korban-korban yang jatuh dari padepokan Kenanga sendiri. Namun korban itu pun tidak banyak. Ternyata Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan telah berhasil melindungi para cantrik dengan sebaik-baiknya.
Malam itu juga padepokan Kenanga berusaha membersihkan segala sesuatu bekas pertempuran yang mendebarkan jantung itu. Mereka, para penghuni padepokan itu telah mempersiapkan pula alat-alat penyelenggaraan korban yang terbunuh itu di keesokan harinya.
Demikianlah, maka padepokan kecil itu telah diliputi oleh perasaan duka, karena ada di antara para cantrik yang menjadi korban. Sementara itu, Ken Padmi seolah-olah tidak berani menampakkan dirinya di luar biliknya. Ki Selabajra dan Ki Watu Kendeng telah berusaha untuk memenangkan hatinya. Namun setiap kali Ken Padmi berkata, “Akulah yang bersalah. Aku telah menyebabkan kematian para cantrik yang tidak berdosa itu”
“Bukan salahmu Ken Padmi” berkata Ki Watu Kendeng, “mereka gugur untuk mempertahankan padepokan mereka yang diserang oleh sekelompok orang-orang yang ingin merusak padepokan ini apapun sebabnya”
“Tetapi sebab itu sudah jelas” isak Ken Padmi.
“Jangan menyalahkan diri sendiri” berkata ayahnya, “kita semuanya berada di dalam kekuasaan Sang Pencipta. Kita tidak dapat mengelakkan diri dari apa yang sudah digariskanNya”
“Tetapi kenapa akulah yang kali ini menjadi alat” keluh Ken Padimi.
“Jangan mengeluh seperti itu Ken Padmi, seolah-olah kau telah mencela keharusan yang berlaku. Kita semua harus menerima segalanya dengan ikhlas, karena kita memang hanya pantas untuk menerimanya. Jika diperlakukan sesuatu atas diri kita, tentu hal itu bukannya tanpa maksud. Hanya kepicikan pengetahuan dan kedunguan kita sajalah yang menyebabkan kita tidak mengetahui, apakah sebenarnya maksud yang tersembunyi dari peristiwa-peristiwa ini” kata Ki Selabajra.
Ken Padmi tidak menjawab lagi. Tetapi ia masih terisak-isak. Rasa-rasanya ia adalah penyebab dari setiap kematian. Dan ia tidak akan dapat membebaskan diri dari tanggung jawab itu.
Namun dalam pada itu, ketika akhirnya Mahisa Agni dan Witantra memberikan beberapa nasehat pula, akhirnya hati Ken Padmi dapat sedikit menjadi tenang.
Demikianlah untuk beberapa saat lamanya, Ken Padmi masih diliputi oleh perasaan gelisah. Tetapi kehadiran Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan di padepokan itu untuk hari-hari berikutnya, dapat menjadi landasan dan pegangan perasaannya menghadapi masa-masa mendatang yang masih panjang.
Untuk beberapa lama Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan tetap berada di padepokan itu. Mereka masih menganggap perlu untuk tetap mengawasi keadaan. Mungkin masih ada persoalan-persoalan yang tumbuh akibat dari pertempuran yang telah menjatuhkan beberapa orang korban, termasuk Ki Dukut Pakering itu.
Sementara itu, dalam kesempatan selama berada di padepokan Kenanga dan selagi Ki Watu Kendeng berada di padepokan itu pula, maka Mahisa Agni dan Witantra, atas nama Mahendra telah berbicara pula tentang Ken Padmi. Sementara Ki Watu Kendeng yang telah menganggap Mahisa Bungalan sebagai pengganti anaknya telah menyaksikan pula setiap pembicaraan tentang kedua orang anak muda itu.
Namun dalam pada itu, Ken Padmi telah menjadi sangat malu jika ia teringat akan kesombongannya, bahwa ia telah menantang Mahisa Bungalan untuk memasuki arena, selagi ia mengetahui bahwa Mahisa Agni dan Witantra datang ke padepokan itu justru atas pengetahuan Mahisa Bungalan, dan kedua orang itu adalah orang-orang yang telah membimbing Mahisa Bungalan pula dalam olah kanuragan.
Tetapi segalanya itu telah terjadi, dan gadis itu tidak akan bertahan lagi pada harga dirinya yang berlebihan agar tidak terjadi lagi bencana yang mengerikan bagi padepokannya.
Dalam pada itu, di hati kecilnya, Ken Padmi pun merasa kurang mapan atas segala pembicaraan yang dilakukan oleh ayahnya dengan Mahisa Agni dan Witantra. Tetapi ia tidak ingin mengulangi kesulitan yang pernah terjadi. Ia tidak mau lagi menolak segala pembicaraan itu karena bukan ayah Mahisa Bungalan sendiri yang datang. Jika sebelumnya Mahisa Bungalan pernah menolak pembicaraan tentang dirinya oleh Ki Watu Kendeng dan memberikan alasan untuk menyampaikan persoalannya kepada ayahnya sendiri, maka kini ternyata yang membicarakannya bukan ayah Mahisa Bungalan sendiri.
Dengan demikian, maka segala pembicaraan pun telah berjalan dengan lancar. Tidak ada lagi jarak yang membatasi kedua anak muda itu. Masing-masing telah membuka hatinya, sementara orang-orang tua pun telah merestuinya.
Meskipun demikian, rasa-rasanya kegelapan pada padepokan itu masih saja membayang. Karena itu, maka orang-orang tua pun mempertimbangkan, sebaiknya Ken Padmi untuk sementara meninggalkan padepokan Kenanga.
“Biarlah ia pergi ke Singasari bersama kami” berkata Mahisa Agni.
Ki Selabajra menarik nafas dalam-dalam. Adalah berat sekali untuk melepaskan seorang anak gadis meninggalkan rumahnya mengikuti seseorang yang kelak akan menjadi suaminya.
Namun untuk membiarkan Ken Padmi tetap berada di padepokan rasa-rasanya Ki Selabajra pun mencemaskannya. Seolah-olah yang telah terjadi itu akan terulang kembali.
“Kami. yang tua-tua ini akan menjaganya, “ berkala Witantra kemudian.
Ki Selabajra menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, “Aku titipkan Ken Padmi kepada Ki Mahisa Agni dan Ki Witantra. Biarlah anak itu ikut dengan kalian berdua”
Witantra mengangguk kecil, la mengerti maksud Ki Selabajra. Maka katanya, “Baiklah Ki Selabajra. Ken Padmi akan pergi bersama kami untuk sementara. Maksudku, aku dan Mahisa Agni. Bukan Mahisa Bungalan”
Ki Selabajra menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Segalanya terserah kepada kalian berdua. Jika datang saatnya kedua anak itu akan mengikat hubungan mereka dalam perkawinan, aku mohon untuk mendapat berita”
“O, tentu” jawab Mahisa Agni, “mana mungkin hal itu terjadi di luar pengetahuan Ki Selabajra sebagai ayah Ken Padmi”
Ki Selabajra tersenyum. Jawabnya, “Aku merasa cemas. Jika kalian sudah berada di Singasari, maka kalian adalah orang-orang penting. Kalian akan melupakan kami, orang-orang padukuhan kecil yang tidak berarti apa-apa”
“Berarti atau tidak berarti, tetapi Ki Selabajra adalah ayah Ken Padmi” ulang Mahisa Agni.
Ki Selabajra mengangguk-angguk. Katanya seolah-olah bergumam kepada diri sendiri, “Aku memang ayahnya”
“Karena itu, maka segalanya akan bertumpu kepada Ki Selabajra” desis Witantra.
Ki Selabajra masih mengangguk-angguk. Kemudian katanya”Baiklah. Aku akan mencoba melepaskan kegelisahanku. Biarlah Ken Padmi ikut bersama kalian”
Demikianlah, maka dihari berikutnya Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan pun telah berkemas-kemas. Akan pergi bersama mereka Ken Padmi yang jarang sekali meninggalkan padepokannya, sehingga karena itu, ia pun menjadi sangat gelisah.
Namun sudah menjadi keputusan, bahwa sebaiknya ia meninggalkan padepokannya untuk, sementara, karena di padepokan itu, ia tidak mendapat perlindungan yang cukup.
Sementara itu, Ki Watu Kendeng masih berada di padepokan itu pula. Ia pun akan meninggalkan padepokan itu bersama dengan Mahisa Agni. Bahkan ia telah minta Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan singgah barang satu dua hari di padepokannya.
Mahisa Agni tidak dapat menolak. Karena itu, ketika segalanya sudah siap, maka mereka pun meninggalkan padepokan Kenanga menuju ke padepokan Watu Kendeng.
Ken Padmi yang berada di dalam iring-iringan itu, tidak dapat menahan air matanya. Ia akan meninggalkan padepokan dan keluarganya untuk waktu yang tidak ditentukan. Satu hal yang belum pernah dilakukannya sebelumnya.
Perjalanan ke Watu Kendeng bukannya satu perjalanan yang terlalu panjang. Mereka melalui jalan bulak di antara tanah persawahan yang digarap oleh para cantrik dan rakyat dipadukuhan di sekitar padepokan. Namun mereka pun melalui jalan yang menjelujur di pinggir hutan yang tidak terlalu lebat.
Sementara itu, Ken Padmi yang berkuda pula seperti orang-orang lain dalam iring-iringan itu, telah mengenakan pakaian khususnya, seperti yang selalu dipakainya dalam olah kanuragan.
Dalam perjalanan itu, Mahisa Agni telah bersepakat dengan Witantra untuk sekaligus singgah di Kediri. Bagaimanapun juga, mereka merasa perlu untuk memberitahukan kepada Pangeran Kuda Padmadata bahwa Ki Dukut Pakering telah terbunuh dalam satu perang tanding dengan Mahisa Agni.
“Tidak ada jalan keluar untuk menghindari benturan ilmu itu” berkata Mahisa Agni, “karena itu, nampaknya hal itu memang harus terjadi. Mau tidak mau”
Witantra mengangguk-angguk. Katanya, “Pangeran Kuda Padmadata tentu mengetahui watak dan sifat gurunya. Karena itu, ia akan menerimanya dengan hati terbuka. Tidak ada pilihan lain kecuali jalan satu-satunya itu”
Demikianlah, mereka telah sepakat. Dari Watu Kendeng mereka akan singgah di Kediri.
Mahisa Agni, Witantra, Mahisa Bungalan dan Ken Padmi berada di Watu Kendeng tidak terlalu lama. Mereka pun segera minta diri untuk meneruskan perjalanan. Seperti yang direncanakan, maka mereka akan singgah di Kediri, untuk memberi tahukan kepada Pangeran Kuda Padmadata bahwa gurunya telah tiada lagi.
Perjalanan ke Kediri memang cukup panjang. Namun mereka tidak mengalami gangguan sesuatu di perjalanan.
Ketika mereka memasuki regol istana Pangeran Kuda Padmadata maka Pangeran itu pun telah terkejut karenanya. Ketika seorang pengawal memberitahukan kepadanya bahwa diluar ada beberapa orang tamu, maka dengan tergesa-gesa ia pun telah menyongsongnya. Apalagi ketika kemudian diketahuinya bahwa tamu-tamunya itu adalah orang-orang yang sudah dikenalnya baik-baik.
“Marilah, silahkan” Pangeran itu mempersilahkan mereka naik ke pendapa.
Ken Padmi memandangi istana itu dengan heran. Lantainya yang halus licin di bentangi tikar yang putih. Tiang-tiang kayu yang berukir dan bersungging halus berdiri tegak dengan agungnya.
Ternyata Pangeran Kuda Padmadata telah menyambut kedatangan mereka dengan ramah sekali. Karena itulah, maka Ken Padmi pun merasa dirinya semakin kecil. Apa yang pernah dilakukannya atas Mahisa Bungalan membuatnya semakin segan terhadap anak muda itu.
“Seorang Pangeran pun bersikap sangat baik kepadanya. Sementara di padepokan kecil, aku memperlakukannya kurang wajar” berkata Ken Padmi menyesali diri di dalam hatinya.
Sejenak kemudian, maka mereka pun telah diterima oleh Pangeran Kuda Padmadata di pendapa. Ken Padmi rasa-rasanya menjadi sangat canggung. Jika ia duduk di pendapa rumahnya, padepokan Kenanga, rasa-rasanya ia adalah orang yang paling terhormat. Namun di pendapa yang besar dan megah itu, ia telah susut menjadi terlalu kecil.
Apalagi ketika Mahisa Agni memperkenalkannya sebagai seorang gadis padepokan. Mahisa Agni telah menyebutnya dengan terus terang, bahwa Ken Padmi berasal dari padepokan Kenanga. Sebuah padepokan kecil dan terpencil.
Wajah Ken Padmi rasa-rasanya menjadi panas. Kepalanya telah tertunduk dalam-dalam. Terasa bahwa dalam perjalanan hidupnya, ia telah merambah jalan yang memang tidak sepantasnya dilaluinya.
“Aku hanya seorang gadis padepokan. Seorang gadis yang tidak berharga. Dan itu sudah dikatakan oleh paman Mahisa Agni kepada Pangeran itu” berkata Ken Padmi didalam dirinya. Hampir saja mulutnya meneriakkannya. Tetapi untunglah bahwa ia menyadarinya, bahwa ia berada di sebuah pendapa yang agung.
Namun demikian, ia mulai merasa kecewa bahwa ia telah berada di antara orang-orang besar dari Singasari. Ternyata bahwa Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan adalah orang-orang terhormat, sebagaimana dinyatakan oleh Pangeran Kuda Padmadata terhadap mereka.
“Mereka tentu dengan sengaja menyakiti hatiku” berkata Ken Padmi di dalam hatinya, “mereka tentu pernah mendengar laporan Mahisa Bungalan. bahwa ia telah diperlakukan tidak pada tempatnya di padepokan Kenanga. Karena itu, kini pamannya itu tentu ingin menunjukkan, betapa kecilnya aku dan padepokan Kenanga itu sebenarnya”
Tetapi Ken Padmi itu menjadi heran ketika ia mendengar Pangeran Kuda Padmadata itu berkata, “Jika demikian, gadis ini berasal dari tempat yang sama seperti isteriku. Ia juga berasal dari sebuah padepokan kecil”
Ken Padmi mengerutkan keningnya. Apakah maksud Pangeran Kuda Padmadata sebenarnya.
Namun demikian Pangeran itu berkata, “Marilah Ken Padmi. Aku perkenalkan kau dengan isteriku. yang juga seseorang yang berasal dari sebuah padepokan seperti kau”
Ken Padmi memandang Pangeran itu dengan bimbang. Namun nampaknya Pangeran itu bersungguh-sungguh. Bahkan Mahisa Bungalan pun berkata, “Pergilah ke serambi. Yang dikatakan oleh Pangeran Kuda Padmadata memang sebenarnya. Puteri memang berasal dari padepokan seperti yang dikatakannya tanpa menyembunyikannya, karena aku mengenal sifat yang berterus terang dan terbuka dari Pangeran Kuda Padmadata”
Ken Padmi masih termangu-mangu. Namun Pangeran Kuda Padmadata menjelaskan, “Jangan ragu-ragu. Sebenarnyalah seperti yang aku katakan. Ia adalah anak padepokan. Mungkin padepokan yang lebih kecil dari padepokan Kenanga. Padepokan isteriku itu adalah padepokan yang terletak di pinggir hutan. Aku menemukannya pada saat aku berburu di hutan itu”
Ken Padmi masih tetap termangu-mangu. Namun ketika Pangeran Kuda Padmadata beringsut dan turun ke serambi samping, ia pun dengan ragu-ragu mengikutinya. Bahkan sekali-sekali ia berpaling ke arah mereka yang masih tetap duduk di pendapa.
“Duduklah” Pangeran Kuda Padmadata pun mempersilahkannya, “Aku akan memanggil isteriku”
Sejenak kemudian, maka Pangeran Kuda Padmadata telah masuk ke ruang dalam dan sejenak kemudian ia telah kembali ke serambi bersama seorang puteri dalam pakaian yang indah dan agung. Sulit bagi Ken Padmi untuk percaya bahwa puteri itu adalah seorang gadis padepokan seperti yang dikatakan oleh Pangeran Kuda Padmadata.
“Mereka telah memperolok-olokkan aku” berkata Ken Padmi di dalam hatinya. Rasa-rasanya ia ingin berteriak dan menangis sejadi-jadinya oleh perasaan malu dan gelisah.
Namun justru karena itu, maka dadanya rasa-rasanya menjadi sesak oleh himpitan perasaan yang tidak terlontarkan.
Dalam pada itu, Pangeran Kuda Padmadata itu pun membimbing. isterinya dan memperkenalkannya kepada Ken Padmi, “Ken Padmi. Inilah isteriku yang aku katakan kepadamu. Ia juga berasal dari padepokan seperti kau. Tetapi kau masih mempunyai kelebihan seperti yang dikatakan oleh paman Mahisa Agni ketika ia memperkenalkanmu. Sementara isteriku sama sekali tidak memiliki kelebihan apapun. Namun aku mencintainya dan ia juga mencintai aku. Dengan bekal itulah aku membangun rumah tangga ini”
Ken Padmi kebingungan untuk menanggapinya. Justru karena itu ia tetap berdiam diri. Namun wajahnya menjadi kemerah-merahan oleh kegelisahan.
“Temuilah gadis ini” berkata Pangeran Kuda Padmadata kepada isterinya, “nampaknya ada hubungan khusus antara gadis ini dengan Mahisa Bungalan”
Terasa jantung Ken Padmi semakin cepat berdetak. Tetapi ia masih tetap berdiam diri.
Dalam pada itu, maka Pangeran Kuda Padmadata pun segera kembali ke pendapa, sementara isterinya duduk bersama Ken Padmi di serambi. Baru kemudian Ken Padmi percaya bahwa isteri Pangeran Kuda Padmadata itu seorang perempuan yang berasal dari padepokan setelah puteri itu sendiri menceriterakannya.
“Karena itu, jangan merasa asing di rumah ini” berkata isteri Pangeran Kuda Padmadata itu, “rumah ini adalah rumahku. Seorang perempuan dari lingkungan rendah pula. Mula-mula aku pun merasa aneh berada di rumah ini. Tetapi akhirnya aku terbiasa pula. Dan aku menganggap rumah ini tidak lebih dari rumahku seperti rumahku di padepokan kecil itu”
Ken Padmi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Terima kasih puteri, bahwa aku diperkenankan tinggal barang sesaat di istana ini”
“Kau boleh tinggal di sini untuk waktu yang tidak terbatas, sebagaimana kau berada di padepokan yang akan dapat memberikan tempat kepada siapapun yang kemalaman dan dapat memberikan makan kepada siapa pun yang kelaparan dalam perjalanan” berkata isteri Pangeran Kuda Padmadata. Lalu, “justru kehadiranmu memberikan kesegaran dalam kehidupanku yang terasa gersang dan tandus. Sehari-hari aku dibatasi oleh paugeran yang berlaku bagi seorang puteri. Apalagi jika dalam kewajiban tertentu aku harus berada di tengah-tengah isteri para Pangeran yang lain. Rasa-rasanya aku sedang menjalani hukuman yang sangat berat. Kadang-kadang aku memang merindukan untuk berada kembali di tangah-tengah alam padepokan. Di sawah dan pategalan. Di antara dendang gadis-gadis yang sedang memetik hasil sawah dan dalam alunan suara seruling gembala di lereng-lereng bukit dan padang rerumputan”
Ken Padmi menundukkan kepalanya. Ternyata bahwa kehidupan yang dilihatnya, sangat indah itu terasa juga gersang dan tandus bagi puteri, isteri Pangeran Kuda Padmadata itu.
Namun dalam pada itu, puteri itu pun berkata, “Tetapi untunglah bahwa Pangeran Kuda Padmadata dapat mengerti perasaanku. Sekali-sekali Pangeran telah mengajak aku bertamasya ke tanah persawahan dan hijaunya pategalan. Kadang-kadang aku telah dibawanya berburu, sebagaimana Pangeran pernah menemukan aku. Namun betapapun juga, masih juga terasa kegersangan itu, karena dalam perburuan, kami selalu dikelilingi oleh sepasukan pengawal yang seharusnya memang mengawal keselamatan kami. Apalagi pada saat-saat yang menegangkan, dimana keselamatan kami selalu dibayangi oleh guru Pangeran Kuda Padmadata sendiri. Ki Dukut Pakering”
“Ki Dukut” desis Ken Padmi.
“Ya”
Ken Padmi pun kemudian menceriterakan serba sedikit tentang peristiwa yang telah terjadi di padepokannya, sehingga Ki Dukut itu telah terpancing untuk mencampurinya. Namun agaknya ia bernasib buruk, sehingga Mahisa Agni ternyata telah berperang tanding dan berhasil membunuhnya.
“O” puteri itu mengangguk-angguk, “apakah dengan demikian berarti, bahwa Pangeran Kuda Padmadata tidak selalu dibayangi oleh kekejamannya”
Dalam pada itu, ternyata Mahisa Agni dipendapa sedang menceriterakan apa yang telah terjadi, sehingga Pangeran Kuda Padmadata mendapat keterangan tentang kematian Ki Dukut Pakering.
Pangeran itu menundukkan kepalanya. Bagaimanapun juga Ki Dukut adalah gurunya. Meskipun Pangeran Kuda Padmadata sendiri pernah berniat untuk memburu dan membunuhnya, namun berita kematiannya telah menggetarkan jantungnya pula.
“Namun dengan demikian penderitaannya telah berakhir” desis Witantra, “selama ini ia selalu disiksa oleh satu keinginan yang tidak pernah dapat dicapainya. Kematian baginya adalah jalan terbaik untuk mengurangi dosa-dosa yang masih akan dilakukannya. Pangeran tidak perlu mencemaskan masa langgengnya, karena justru pada saat terakhir ia masih sempat mengucapkan lontaran perasaannya dalam pertaubatan, ia masih sempat melihat kepada diri sendiri dan mengakui segala dosa-dosanya”
Pangeran Kuda Padmadata menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sukurlah jika ia tidak terjerumus sampai batas terakhir. Mudah-mudahan pengakuan segala dosa-dosanya pada saat terakhir itu akan didengar oleh Sang Maha Agung”
“Apapun juga yang terjadi dengan Ki Dukut Pakering, namun itu adalah yang terbaik baginya”, desis Witantra kemudian.
“Ya. Memang tidak ada jalan pelepasan yang lebih baik baginya, “ulang Pangeran Kuda Padmadata.
Dengan demikian, maka Pangeran Kuda Padmadata harus mengikhlaskan gurunya pergi sebagaimana ia harus mengikhlaskan adiknya. Bahkan hilangnya Ki Dukut, agaknya akan dapat memberikan ketenangan kepada keluarganya.
Sementara itu, Ki Wastu yang sedang pergi bersama cucu laki-lakinya, terkejut juga ketika ia kembali dan menemukan tamu-tamunya di pendapa. Dengan gembira ia menemui mereka yang sudah duduk di pendapa dan membawanya cucunya bersamanya.
Putera Pangeran Kuda Padmadata itu sudah mengenal tamu-tamunya, terutama Mahisa Bungalan. Karena itu, maka ia pun segera menjadi akrab dan tidak segan-segan untuk ikut serta berceritera.
Ki Wastu pun mengangguk-angguk pula ketika Pangeran Kuda Padmadata pun kemudian memberitahukan kepadanya, apa yang telah terjadi dengan Ki Dukut Pakering.
Ki Wastu menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara berat ia bergumam, “Orang itu adalah musuh bebuyutan kakang Kasang Jati. Ternyata ia justru terbunuh di tangan Ki Mahisa Agni”
“Aku hanya lantaran untuk menutup segala tingkah lakunya. Tetapi ia menyesali segala perbuatannya di saat-saat yang paling menentukan” jawab Mahisa Agni.
“Syukurlah” desis Ki Wastu, “mudah-mudahan ia masih mendapat jalan”
Dalam pada itu, maka Pangeran Kuda Padmadata pun telah mempersilahkan tamu-tamunya untuk tinggal beberapa hari. Namun agaknya Mahisa Bungalan telah menjadi lain. Ia tiba-tiba saja ingin segera pulang ke rumahnya. Ia rasa-rasanya bukan lagi seorang petualang yang berada di segala tempat pada segala waktu tanpa teringat untuk pulang.
Meskipun demikian, mereka telah bermalam pula di istana Pangeran Kuda Padmadata untuk semalam. Ken Padmi yang mendapat tempat sebuah ruangan yang luas dan dihiasi dengan perkakas yang lengkap serta tirai kain halus dan mengkilap, justru menjadi tidak dapat tidur nyenyak. Rasa-rasanya ia tidak berada di dunianya.
Namun karena lelah dan letih, akhirnya Ken Padmi pun telah tertidur juga di atas pembaringan kayu berukir dan disungging dengan warna-warna cerah.
Ternyata Ken Padmi pun tidak dapat menghindarkan diri dari mimpi yang indah tentang sebuah dunia yang sangat asing baginya. Bunga-bunga yang besar dan berbau harum semerbak memenuhi taman.
Ketika ayam jantan berkokok menjelang fajar, Ken Padmi terbangun. Ia masih mencium harumnya bau sedap malam yang sudah menjadi semakin susut menjelang dini hari.
Pagi-pagi sekali tamu-tamu di istana Pangeran Kuda Padmadata itu pun sudah terbangun. Mereka segera membersihkan diri dan berbenah. Mereka sudah mengatakan kepada Pangeran Kuda Padmadata, bahwa mereka akan kembali ke Singasari.
Pangeran Kuda Padmadata tidak dapat menahan mereka terlalu lama di Kediri. Dengan mengucap terima kasih, maka Pangeran itu telah melepas mereka.
“Meskipun kita tidak perlu lagi berburu kejahatan bersama-sama, tetapi aku harap kalian masih akan sering datang mengunjungi kami” minta Pangeran Kuda Padmadata.
“Terima kasih” jawab Mahisa Agni, “kami akan selalu datang pada saat-saat mendatang”
Demikianlah, maka iring-iringan kecil itu pun telah meninggalkan Kediri. Mereka menuju ke Singasari dan langsung menuju ke rumah Ki Mahendra.
Perjalanan ke Singasari memang cukup panjang. Mereka akan sampai setelah malam. Namun mereka adalah petualang-petualang, yang sudah terlalu sering berada di tempat terbuka. Namun di antara mereka ternyata terdapat Ken Padmi yang tidak mempunyai kebiasaan seperti ketiga orang yang bersamanya.
Karena itu, maka setiap kali, mereka pun harus beristirahat dan berhenti. Namun hal itu penting juga bagi kuda mereka yang lelah. Sekali-sekali mereka berhenti di pinggir sebuah sungai yang jernih. Mereka memberi kesempatan kuda mereka makan rerumputan segar, sementara mereka sendiri dapat mencuci kaki mereka dalam arus yang jernih itu.
Tetapi kadang-kadang mereka pun berhenti di warung-warung. Meskipun mereka juga memberi kesempatan kepada kuda-kuda mereka untuk makan rerumputan, namun yang penting adalah bagi para penunggangnya sendiri.
Dalam pada itu, maka menjelang kota raja, mereka telah melalui sebuah hutan yang tidak terlalu lebat. Hutan yang merupakan daerah perburuan bagi para bangsawan. Meskipun ada beberapa orang yang lebih senang berburu di hutan yang lebat dan pepat, yang jarang disentuh kaki manusia, namun ada juga yang lebih senang berburu di hutan yang memang menjadi tempat yang disiapkan untuk perburuan itu. Dengan demikian maka perburuan itu tidak terlalu berbahaya, sebagaimana jika mereka berada di hutan yang lebat dan pepat.
Tetapi hutan itu sama sekali tidak menarik. Mahisa Bungalan lah yang seolah-olah menjadi sangat tergesa-gesa. Namun ia mempunyai alasan yang dapat disampaikan kepada paman-pamannya.
“Jika kita cepat sampai, maka Ken Padmi akan cepat dapat beristirahat” berkata Mahisa Bungalan.
Namun Witantra menjawab, “Tetapi jangan kau paksa ia sekarang menjadi sangat letih dalam perjalanan. Sekali-sekali ia memang memerlukan beristirahat. Ketahanannya memang agak berbeda dengan kita yang selalu bertualang”
Mahisa Bungalan hanya dapat mengangguk-angguk. Tetapi ia masih saja nampak tergesa-gesa betapapun ia berusaha menahan diri”
Namun dalam pada itu, Ken Padmi sendiri memang merasa sangat letih. Untunglah, meskipun Ken Padmi bukan seorang yang terbiasa bertualang, namun ia sudah membiasakan diri berlatih olah kanuragan. Latihan-latihan yang berat, telah membantunya mengatasi kelelahan.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar