10
JANGAN MENIPU ALLAH !
Mereka bertiga iktikaf di Masjid Pusat Edinburgh atau Edinburgh Central Mosque sejak sebelum shubuh.
Fahri masih duduk memuraja'ah hafalan Qur'annya. Tak jauh di belakangnya Misbah duduk membaca Al-Qur'an dengan mushaf ditangannya. Sementara Paman Hulusi tampak tertidur bersandar di dinding.
Di luar masjid temaram sinar matahari mulai menguningkan kota Edinburgh. Kota pelajar dan festival itu mulai menggeliat. Fahri melihat jam tangannya.Waktu dhuha telah masuk beberapa menit yang lalu. Ia menuntaskan surah yang ia baca lalu berdiri uutuk shalat dhuha. Melihat Fahri shalat, Misbah segera sadar untuk menyudahi tilawahnya dan ikut shalat dhuha.
Selesai shalat dhuha delapan rakaat, Fahri membangunkan Paman Hulusi agar berwudhu dan shalat dhuha dulu sebelum pulang ke rumah. Dengan langkah berat Paman Hulusi mengikuti perintah Fahri.
Fahri lalu mendekati Misbah yang baru saja selesai shalat.
"Bah, tolong nasehati aku!"
"Nasehat apa Mas? Mas Fahri yang harus menasehati Misbah. Mas Fahri adalah sahabat, kakak, sekaligus guru bagi Misbah."
"Aku serius Bah, nasehati aku! Pagi ini aku ingin sekali mendengar nasehat. Aku minta darimu. Nasehati aku Bah! Jika saudaramu meminta nasehat, maka nasehatilah! Bukankah begitu perintah Rasulullah?"
Misbah menghela nafas dan memandang lekat wajah Fahri. Wajah itu tampak bersungguh-sungguh.
"Baik Mas. Nasehatku kepadamu, dan tentu sebelumnya adalah kepada diriku sendiri,
"JANGAN MENIPU ALLAH!"
Air mata Fahri meleleh mendengar nasehat Misbah. Kedua matanya terpejam.
"Jangan menipu Allah", lirih Fahri mengulang perkataan Misbah, seolah menekan dirinya, menghardik dirinya, menghardik jiwanya.
"Jangan menipu Allah... jangan menipu Allah!"
"Iya Mas, jangan menipu Allah...!"
"Lanjutkan nasehatmu Bah...!"
"Jangan menipu Allah! Begitu makna sebuah nasehat Rasulullah saw. Seorang sahabat menanyakan bagaimana manusia bisa menipu Allah? Rasulullah menjelaskan,
"Kau mengerjakan amal yang diperintahkan oleh Allah dan rasul-Nya namun kau menginginkan selain Allah. Takutlah dari riya'! Sesungguhnya riya' adalah syirik kecil. Dan sesungguhnya orang yang riya' akan dipanggil di hari kiamat di hadapan para makhluk dengan empat nama:
-Hai orang yang riya'!
-Hai orang yang mengkhianati janji!
-Hai orang yang larut dalam kemaksiatan!
-Hai orang yang merugi!
Telah rusak amalmu dan hilang pahalamu. Tidak ada pahala kamu di sisi Kami. Pergilah, lalu ambillah upahmu dari orang yang kau beramal karena dia, hai penipu!"
Mendengar hadits yang dibacakan oleh Misbah, jiwa Fahri ciut, air matanya meleleh.Tiba-tiba ia didera rasa cemas luar biasa. Rasa takut luar biasa. Ia takut jika termasuk orang yang kelak di akhirat akan
dipanggil oleh Allah sebagai 'penipu‘.
Oh betapa menderitanya orang yang riya'. Oh alangkah mudahnya orang tergelincir jadi 'penipu‘. Namun Allah tidak bisa ditipu.
"Dalam sebuah hadits qudsi, Rasulullah saw. berkata, Allah SWT berfirman, 'Siapa yang melakukan suatu amal dan ia menyekutukan bersama-Ku dalam amal tersebut dengan yang selain-Ku, maka amal itu milik yang disekutukan, sedang aku berlepas dari-Nya!‘ " Lanjut Misbah.
Air mata Fahri mengalir dipipinya.
"Allahumma inna na'udzubika an nusyrika bika syaian na'lamuhu aw la na'lamuhu." (1)
Lirih Fahri berulang-ulang kali.
Misbah mengikuti doa yang dibaca Fahri dengan mata juga berkaca-kaca.
Di pojok masjid, Paman Hulusi sudah selesai shalat. Fahri bangkit diikuti Misbah. Mereka bertiga masuk ke dalam mobil lalu bergerak ke arah kampus The University of Edinburgh. Kali ini Fahri tidak balik ke rumah, ia langsung ke tempat kerjanya. Ia memang telah berpakaian rapi, laptop dan tas kerjanya juga telah ia bawa di dalam mobil. Fahri turun di plataran George Square. Sementara Misbah ikut Paman
Hulusi kembali ke Stoneyhill Grove.
Kampus The University of Edinburgh belum begitu ramai ketika Fahri memasuki ruang kerjanya. Namun beberapa staf telah datang. la sempat berpapasan dengan Miss Rachel, dan sempat menanyakan apakah mahasiswa yang dibimbingnya akan datang? Miss Rachel manyampaikan bahwa mahasiswa itu memberi konfirmasi positif akan datang.
Fahri sedikit berkerut ketika Miss Rachel memakai kata ganti "she" ketika menjelaskan tentang mahasiswa itu. Jadi dia perempuan, bukan lelaki?
Jadi "Ju Se" itu nama perempuan.
Sedikit ada penyesalan ketika ia tidak memeriksa dengan detail biodata mahasiswa itu. Ia hanya membaca proposal tesisnya saja. Ketika ia baca sudah masuk kriteria akademik dan ia rasa bisa membimbingnya maka ia terima. Dan sejak awal ia beranggapan bahwa "Ju Se" itu nama lelaki. Maka ia terima.
Ya meskipun ia tidak bisa pilah-pilih, laki-laki atau perempuan yang akan dibimbingnya. Tapi
ia merasa lebih nyaman jika yang ia bimbing adalah mahasiswa laki-laki.
Begitu memasuki ruang kerjanya, Fahri langsung menyalakan laptopnya dan membaca berita terbaru hari itu. Berita tentang Indonesia tercinta. Berita Timur Tengah. Juga berita dunia.
Palestina selalu menjadi perhatiannya setelah Indonesia. Sebab di Palestinalah Aisha hilang, dan tidak diketahui kabarnya sampai sekarang.
Hal yang selalu manbuatnya sedih ketika membaca Palestina adalah kenapa faksi-faksi yang ada di Palestina tidak juga bisa bersatu. Padahal musuh mereka jelas ada di depan mata. Setiap hari ada saja korban yang menderita akibat ulah zionis Israel. Yang anak kecil ditembaklah, yang rumah digusur, yang perempuan dipukul pakai popor senjata, yang tahanan mati dalam penyiksaan, dan lain
sebagainya. Namun penderitaan yang pedih itu tidak juga membuat faksi-faksi yang ada di Palestina bersatu padu melawan musuh bersama mereka.
Ia juga sedih menyaksikan dunia Arab yang retak-retak dan nyaris pecah. Al-Quran dan hadits mereka hafal tapi persatuan sepertinya telah mereka jadikan musuh. Mereka seperti kembali ke zaman jahiliyyah ketika suku-suku dan kabilah-kabilah tidak bisa bersatu. Apalah gunanya Al-Qur'an dihafal, hadits ditakhrij sampai detil ketahuan shahih dhoifnya tapi ruh dan jiwa hadits itu tidak dihayati dan
diamalkan?
Ia jadi teringat saat dulu ia pernah berdialog dengan seorang syaikh yang juga seorang Guru Besar Ilmu Ushul Fiqh sebuah universitas terkemuka dikawasan teluk. Ketika itu syaikh itu diundang memberikan ceramah di masjid Freiburg Jerman. Sang syaikh menyampaikan masalah-masalah sosial yang dihadapi
dunia Islam kontemporer.
Seorang jama'ah berwajah Arab dengan sangat menggebu-gebu memberikan tanggapan apa yang disampaikan syaikh dan dengan sangat simpel ia mengatakan, 'Semua itu solusinya
adalah dengan menegakkan khilafah‘. Sang syaikh hanya tersenyum dan berkata,
"Tanpa bermaksud meremehkan apa yang engkau katakan. Tolong renungkan baik-baik! Bagaimana kalian akan menegakkan khilafah, sedangkan kalian menyatukan hari raya ldul Fitri saja tidak bisa!''
Kata-kata syaikh itu tampak sederhana namun mengandung fiqh realitas dan fiqh sosial yang dalam dan Iuas.
"Kalian menyatukan Hari Raya Idul Fitri saja tidak bisa!" Padahal Idul Fitri itu terjadi setelah
umat ini digembleng selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan. Digembleng lahir dan batin. Digembleng untuk bersatu. Shalat jama‘ah bersama, buka puasa bersama, tarawih bersama, i‘tikaf bersama. Alangkah indahnya. Namun begitu selesai Ramadhan untuk syiar bersama dalam hari raya
bersama ternyata gagal."
"Kalian menyatukan Hari Raya Idul Fitri saja tidak bisa!"
Puasa adalah ibadah yang paling dijauhkan dari riya'. Hanya Allah yang tahu. Semestinya keluar dari ramadhan, semua yang berpuasa rendah diri, tawadhu, mudah bertemu hati dengan saudaranya, mudah mengalah demi saudara. Namun yang terjadi justru seringkali ego untuk merasa lebih benar dan lebih tepat membaca dalil yang dimajukan. Maka persatuan yang utuh dalam Hari Raya yang paling fitri itu gagal tercipta.
"Kalian menyatukan Hari Raya Idul Fitri saja tidak bisa!"
Ketika hari raya Idul Fitri gagal bersatu, Ialu muncul ungkapan yang dibijak-bijakkan dan saling menghibur, 'hormatilah perbedaan, dalam perbedaan pendapat itu ada rahmat. Menurutnya, itu adalah kalimat yang tidak pada tempatnya. Seorang faqih sejati harus mengerti di titik mana perbedaan pendapat itu rahmat dan dititik mana persatuan harus diutamakan.
Seorang faqih sejati harus tahu adakalanya pendapatnya harus rela ia tinggalkan dan ia ikuti pendapat yang Iain demi persatuan umat.
Kata-kata itu masih terngiang,
"Kalian menyatukan Hari Raya Idul Fitri saja tidak bisa!"
Apakah mereka lupa tujuan utama, atau maqashidusy syari'ah adanya Idul Fitri dan Idul Adha? Adalah agar ummat ini kokoh persatuannya. Agar umat ini bergembira, optimis dan kokoh persatuan jiwa raganya.
Takbir menggema berwibawa tanpa ada 'ghil‘, tanpa ada ganjalan perbedaan dalam hati.
Persatuan sejati, luar dalam, lahir batin. Itu fiqh maqashidnya.
Kenapa para ulama, pakar fiqih dan cerdik cendekia muslirn itu tidak menjadikan ijtihad sebagai ijtihad yang menyatukan umat, kenapa lebih sering memakai ijtihad untuk membela ego kubu kelompoknya?
"Kalian menyatukan Hari raya Idul Fitri saja tidak bisa!"
Jika menyatukan hari raya Idul Fitri saja tidak bisa, bagaimana mau menciptakan persatuan ekonomi, persatuan politik dan lain sebagainya yang lebih luas?
Ia jadi rindu pada sosok Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu'anhu, seorang sahabat nabi yang juga seorang faqih sejati. Dalam hadits, semua riwayat menjelaskan bahwa Rasulullah saw. ketika haji beliau shalat di Mina dengan mengqashar shalat dhuhur dan ashar menjadi dua raka‘at. Itulah yang Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhum.
Imam Abu Daud meriwayatkan, bahwa Utsman bin 'Affan ra. shalat di Mina empat rakaat. Artinya tidak seperti Rasulullah saw., Abu Bakar, dan Umar. Ketika kabar itu sampai kepada Abdullah bin Mas'ud, seketika beliau mengingkari apa yang dilakukan Utsman tersebut seraya berkata, ‘Aku shalat di belakang Rasulullah saw, serta di belakang Abu Bakar dan Umar (mereka semua mengqashar menjadi dua rakaat), lalu muncul dizaman khalifah Utsman disempurnakan jadi
empat rakaat (di Mina). Sehingga kalian terpecah belah. Sungguh aku berharap diterimanya dua rakaat dari empat rakaat yang aku lakukan bersama Utsman. Setelah itu Abdullah bin Mas'ud shalat empat
rakaat di belakang Utsman. Beliau diprotes, ‘Anda mengkritik Utsman, sedangkan anda sendiri tetap shalat empat rakaat (makmum di belakang Utsman)?‘ Ibnu Mas'ud menjawab,
‘Perselisihan itu buruk! '
Aduhai di manakah pakar-pakar fikih, ulama pemimpin umat yang bisa lapang dada seperti Abdullah bin Mas'ud sekarang ini?
Kedua mata Fahri berkaca-kaca. Betapa besar jiwa Abdullah bin Mas‘ud ra.. Ia tahu persis dalilnya. la tahu persis Rasulullah, Abu Bakar dan Umar shalat dua rakaat di Mina. Namun ketika Utsman yang jadi imam saat itu shalat dengan menyempurnakan empat rakaat ia tetap ikut sang imam. Perselisihan dan
perpecahan tidak boleh terjadi. Persatuan harus dijaga.
Bisa saja Ibnu Mas‘ud adu dalil dengan Ustman. Dan kemungkinan besar dia menang secara dalil. Tetapi saat itu imamnya adalah Utsman bin Affan ra. Salah satu dari khulafaur rasyidin yang harus dihormati, yang kebersihan jiwanya dalam memperjuangkan Islam tidak diragukan.
Dan jika Ibnu Mas‘ud mengedepankan egonya karena menang dalil, ia berarti keluar dari barisan imam. Dan itu akan memprovokasi yang lain juga keluar dari barisan imam. Umat akan terbelah dalam dua kubu. Dan
perpecahan otomatis tercipta. Dan Abdullah bin Mas'ud ra. tidak mau itu terjadi. Ia lebih memilih tidak memakai dalil yang sangat kuat dalam keyakinannya demi persatuan umat.
Persatuan umat adalah maslahat besar yang harus dijaga seluruh individu umat. Itulah pemahaman generasi terbaik umat ini. Mereka telah menorehkan keteladanan dengan tinta emas bagaimana menyikapi perbedaan yang akan menyebabkan retaknya persatuan.
Mereka sangat memahami fiqhul maqashid, bukan sekedar faham dalil ini kuat dan itu tidak kuat.
Lirih Fahri berdoa, "Allahumma wahhid shufufa ummati habibika Muhammadin shallallahu'alaihi wa sallam. Allahumma allif baina qulubihin wahdihim subulassalam... Amin." (2)
Pagi itu meski udara masih terasa dingin, matahari bersinar lebih cerah dari hari-hari sebelumnya.
Suasana kampus tampak sedikit lebih hangat. Rerumputan dan pepohonan seperti bernyanyi bergoyang-goyang diterpa semilir angin pagi. Mereka seperti bergembira musim semi telah menjelang. Tunas-tunas baru mulai tumbuh.
Fahri bangkit dari duduknya,tiba-tiba ia ingin membaca salah satu kitab penyucian jiwa yang ada di ruangan itu. Ia mengambil kitab Sirrul Asrar yang ditulis Syaikh Abdul Qadir Al Jilani. Meskipun ia telah mengkhatamkan beberapa kali kitab itu, tetapi ia seperti tidak pernah bosan mendengar nasehat sangat berharga Syaikh Abdul Qadir Al Jilani dalam salah satu karyanya itu. Ia lebih menikmati membaca nasehat Syaikh Abdul Qadir Al Jilani ketimbang sekedar membaca manaqibnya.
Fahri mulai membaca kitab Sirrul Asrar itu. Kata demi kata ia baca dengan seksama. Syaikh Abdul Qadir Al Jilani seperti masih hidup dan memberikan wejangan kepadanya.
------------------------------------------------------------
"Masuklah menjadi bagian dari orang yang berjalan kembali menuju Allah. Segera! Jangan menunggu hingga jalan itu tidak dapat dilalui, atau tidak ada lagi orang yang bisa memberi petunjuk ke jalan itu.
Tujuan itu datang ke bumi yang sempit dan pasti musnah ini bukan sekedar untuk makan, minum, bersetubuh, atau berfoya-foya semata. Perilaku seperti itu bukan yang dikehendaki oleh Allah dan diajarkan oleh Nabi-Nya yang paling mulia Muhammad saw. ! " Kata-kata itu seperti meresap kedalam dadanya.
Kata-kata ulama besar yang 'arif billah itu seumpama gerimis yang menyirami ladang yang mengharapkan curahan hujan. Setiap tetesnya sangat berarti. Setiap katanya sangat bermakna.
Fahri bersyukur kepada Allah yang telah memberi taufiq kepada para ulama terdahulu untuk menulis karya. Warisan mereka sangat berharga untuk generasi sekarang. Ia tidak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi sekiranya para ulama dulu itu tidak menggerakkan penanya menuliskan ilmu yang mereka fahami, mereka hafal dan mereka amalkan. Karena mereka menulislah maka ilmu itu tidak hilang, bahkan terus berkembang.
Karena karya-karya mereka yang masih dibaca jutaan umat saat ini mereka seolah tidak pernah mati. Mereka seolah terus hidup memberikan pengajaran dan pencerahan kepada jutaan orang.
Syaikh Abdul Qadir Al Jilani, kembali berkata kepada Fahri,
"Seandainya kita tidak mengenal Allah, lantas bagaimana kita dapat menyembah-Nya, memuji-Nya, dan minta perlolongan kepada-Nya?"
Kata-kata itu menetes ke dalam jiwa.
Dengan membaca kitab itu, ia seperti mengaji dan talaqqi kepada Syaikh Abdul Qadir Al Jilani meskipun berada di kampus The University of Edinburgh. Ia tetap menempatkan ulama sebagai ulama.
Dan karya-karya ulama itu sama dengan perkataan para ulama yang ia dengarkan dengan seksama.
Apalagi jika yang ia baca adalah kitab tafsir atau hadiis. la membaca dengan penuh takzim kepada para pengarangnya. Meskipun sebagai akademisi ia juga tetap kritis. Jika sebuah tafsir ada israiliyyatnya maka ia buang israiliyyat itu.
Demikian juga ketika membaca kitab Sirrul Asrar, ia tidak kehilangan daya kritisnya sebagai akademisi yang memiliki bekal ilmu hadits. Dalam kitab itu, tidak ia tampik ada beberapa hadits yang tidak jelas asalnya.
Tentu saja bagian itu ia catat. Namun kebaikan yang terkandung dalam kitab itu jauh lebih
besar dari kekurangannya yang sama sekali tidak mengurangi takzimnya kepada sang penulisnya.
Fahri begitu asyik membaca kitab itu. Ia seperti masuk kedalam relung-relung jiwa kitab itu. la atersadar ketika pintu ruang kerjanya diketuk. Ia melihat jam tangannya. Sudah tiba waktunya menerima mahasiswa yang akan dibimbingnya. Ia menutup kitab itu dan meletakkan kembali ke tempatnya. Ia lalu melangkah ke pintu dan membukanya. Ia sedikit terkejut ketika mendapati orang
yang berdiri di depan pintunya adalah gadis China itu.
"Kamu?"
"Iya. Saya. Juu Suh, Doktor. Boleh saya masuk? "
Fahri agak canggung. Jika ia persilakan masuk, lalu ia tutup pintu itu berarti ia cuma berdua dengan gadis itu. Meskipun status gadis itu adalah mahasiswa yang ia bimbing.
"Silakan." Jawab Fahri tanpa menutup pintu ruang kerjanya. Gadis itu masuk.
"Silakan duduk." Kata Fahri sambil duduk di kursi kerjanya. Sementara gadis china itu duduk di kursi di depan Fahri. Keduanya terpisah oleh meja kerja Fahri yang agak besar.
"Pintunya tidak ditutup. Doktor? Mau saya tutupkan?"
"Tidak usah. Biar sedikit segar."
"Saya sama sekali tidak menyangka, bahwa mahasiswa yang saya bimbing itu kamu."
"Oh ya?"
"Iya. Sungguh."
"Bagaimana itu bisa terjadi?"
"Di proposal itu tertulis Ju Se. Lihat ini J-U-S-E. Ju Se. Dan Professor Stevens juga mengatakan Ju Se. Bukan Juu Suh. Saya kira yang saya bimbing mahasiswa laki-laki. Saya hanya fokus pada isi proposal. Tidak sampai meneliti biodata pemilik proposal."
"Iya. Tulisannya memang begitu Ju Se. Tapi bacanya Juu Suh." Fahri mengangguk.
Fahri lebih banyak melihat proposal tesis yang ada di tangannya. Hanya sesekali saja ia memandang sekilas wajah Ju Se. Sesungguhnya Fahri agak terganggu dengan cara berpakaian Ju Se pagi itu yang
menurutnya kurang tertutup. Meskipun memakai jaket, tetapi jaket itu dibiarkan terbuka bagian depan. Dan leher kaos yang dipakai gadis china itu agak terbuka bagian dadanya. Untuk bawahan gadis itu memakai rok mini dan stocking hitam. Bagi orang Barat yang seperti itu sudah dianggap sopan, namun dalam timbangan Fahri masih mengumbar aurat. Disitulah letak ujiannya.
"Langsung saja. Saya sudah baca dengan seksama proposal tesismu. Secara umum okay, tapi masih banyak yang harus diperbaiki."
"Iya Doktor. Saya mohon bimbingannya."
"Proposal itu akan didiskusikan secara ilmiah dalam seminar, sebelum diresmikan menjadi judul tesismu. Ini saya sudah kasih banyak masukan. Langsung saya tulis dan saya corat coret dalam lembaran proposal ini. Silakan dibaca!"
Fahri menyodorkan proposal yang ia pegang pada Ju Se. Gadis itu menerima lantas membacanya.
"Akan segera saya perbaiki sesuai masukan Doktor."
"Pekan depan silakan maju dengan perbaikan."
"Baik Doktor."
"Dan ini daftar buku-buku yang harus kamu baca tuntas sebelum mengerjakan tesismu itu. Ada tujuh buku. Harus dibaca semua. Pekan depan, ketika kamu maju ke sini, minimal dua buku harus sudah selesai kau baca."
"Baik Doktor."
"Kalau begitu. Pertemuan ini cukup."
"Iya Doktor. Oh ya, apakah mungkin saya menghubungi Doktor lewat email jika ada yang harus saya tanyakan?"
"Silakan. Itu lebih praktis. Silakan buka profil saya di website IMES."
"Baik Doktor. Saya pergi. Bye."
"Sebentar."
"Ada apa Doktor."
"Maaf, kamu pernah lihat film Jet Li yang memerankan Wong Fei-hung?"
"One Upon a Time in China?"
"Ya."
"Itu termasuk film kesukaan saya." Wajah Ju Se tampak berbinar.
"Bagus. Ingat tokoh perempuan yang suka sama Wong Fei-hung?"
"Ingat sekali. Itu Aunt Yi. Diperankan oleh Rosamund Kwan dengan pas sekali. Ada apa Doktor?"
"Tolong kau tonton lagi. Coba kamu lihat cara Aunt Yi itu berpakaian. Maaf, saya lebih suka jika kamu berpakaian lebih tertutup seperti Aunt Yi itu. Saya akan merasa lebih nyaman. Tapi, terserah kamu. Ini sifatnya saran. Bukan paksaan."
"Oh, itu maksudnya. Saya mengerti. Terima kasih. Ada yang lain, Doktor?"
"Tidak." Ju Se pergi, Fahri menutup pintu office-nya. Setengah jam lagi jadwalnya adalah rapat dengan Prof. Ted Stevens, Prof.Charlotte, dan beberapa dosen senior IMES yang termasuk dalam tim peneliti CASAW atau The Centre for the Advanced Study of the Arab World.
Fahri telah menyiapkan satu proposal penelitian jika diminta. Ia membuka file proposalnya dan membaca dengan seksama untuk memastikan tidak ada kesalahan tulis. Masih ada waktu cukup untuk memeriksa ulang. Ia ingin beberapa langkah lebih siap dibandingkan anggota yang lain. Ia ingin membuktikan bahwa orang Indonesia tidak kalah dengan bangsa manapun
Setelah rapat jadwalnya adalah meluncur ke Queen Street untuk melihat perkembangan AFO Boutique, lalu melihat resto dan minimarket Agnina di Musselburgh. Ia memang harus bekerja keras. Ia ingin buktikan bahwa sukses karir akademik bisa berbarengan dengan sukses bisnis. Lebih dari itu, semuanya adalah untuk ibadah di jalan Allah SWT.
*****
Sore itu mendung datang begitu saja. Langit abu-abu kehitaman. Matahari seolah menyelesaikan tugasnya lebih awal. Gerimis turun perlahan. Angin dari utara meniupkan hawa dingin ke seantero Musselburgh. Fahri baru saja selesai memimpin evaluasi karyawannya sekaligus memotivasi mereka.
Misbah yang diajak Fahri untuk ikut serta dalam hati harus mengakui bahwa seniornya itu telah melakukan lompatan yang besar.
"Hoca, ba'da maghrib ada undangan dengan Tuan Taher untuk makan malam di rumahnya. Tadi Heba menyampaikan kepada saya. Apa kita mau ke sana?" Kata Paman Hulusi setelah seluruh karyawan meninggalkan ruang rapat.
"Apa Tuan Taher ada pesan penekanan khusus untuk harus hadir?"
"Tidak ada penekanan khusus. Heba hanya bilang, kalau sempat."
"Begini Paman, saya harus menulis. Nanti kita pulang dulu ke Stoneyhill, shalat maghrib di rumah. Paman dan Misbah saja nanti yang hadir biar mereka tidak kecewa."
"Yang diundang itu kan sebenarnya Mas Fahri. Sebaiknya Mas Fahri hadir meskipun sebentar." Tukas Misbah.
"Tenang saja Bah, Paman Hulusi bisa menyelesaikannya dengan baik. Saya harus nulis, malam ini tulisan saya ditunggu Professor Stevans."
"Hoca mau makan di sini atau dibungkuskan untuk makan malam? Atau nanti minta dibungkuskan dari rumah Tuan Taher."
"Bungkus dari sini saja Paman. Biryani ayam saja. Jangan lupa bungkuskan juga untuk nenek Catarina. "
"Baik Hoca."
"Oh ya Paman, tolong panggilkan Madam Barbara. Ada hal kecil yang ingin aku tanyakan padanya."
"Baik Hoca."
Paman Hulusi meninggalkan ruangan itu untuk menjalankan semua perintah Fahri. Tak lama kemudian Madam Barbara datang.
"Ada apa Tuan?"
"Madam, bagaimana perkembangan anak itu? Si Jason itu. Apa dia masih suka mengunjungi tempat kita dan mencuri cokelat?"
"Masih Tuan. Kemarin dan kemarinnya. Dua kali." Fahri mengangguk.
"Jangan diapa-apakan ya. Dan bersikap biasa saja.Biar dia saya yang urus ya?"
"Baik Tuan."
"Itu saja yang ingin saya tanyakan. Madam Barbara boleh kembali ke tempat kerja."
"Iya Tuan."
*****
SUV BMW putih itu menerobos gerimis meninggalkan minimarket dan resto Agnina. Jalanan Musselburgh basah, namun ramai oleh kendaraan orang-orang yang pulang kerja. Beberapa orang berjalan di trotoar sambil berteduh di bawah payung. Paman Hulusi mengendarai mobil itu dengan santai. Tiba-tiba Fahri meminta Paman Hulusi berhenti.
"Ada apa Hoca?"
"Mundur pelan-pelan Paman. Lihat di belakang itu, di halte itu! Bukannya itu Nyonya Janet tetangga kita?"
Paman Hulusi melihat ke spion.
"Benar Hoca. Itu Nyonya Janet tetangga kita sedang menunggu bis." Paman Hoca melihat jam di dasbord mobil.
"Dua menit lagi juga bis datang Hoca."
"Kita tawari bareng saja Paman. Kalau tidak mau ya nggak apa-apa."
"Baik Hoca."
Mobil berhenti tepat di depan Nyonya Janet berdiri. Fahri keluar menyapa Nyonya Janet dan menawarinya untuk naik mobil. Nyonya Janet menerima tawaran Fahri dan masuk mobil. Nyonya Janet duduk di samping Misbah. Selama di perjalanan mereka tidak banyak bicara. Nyonya Janet cenderung
diam. Fahri dan Paman Hulusi juga memilih diam dan hanya bicara seperlunya.
Pengalaman Fahri mencoba ramah kepada Keira namun ditanggapi dingin membuatnya tidak ingin mengulang kepada Nyonya Janet.
Mendekati kawasan Stoneyhill, mobil itu berpapasan dengan mobil VW tua. Mobil itu dikendarai seorang anak muda, dan tampak Keira duduk di sampingnya dengan muka berseri. Nyonya Janet melihat hal itu
dan mengucapkan sumpah serapah.
"Dasar wanila jalang pemalas. Tidak mau kerja maunya senang-senang! Awas kalau pulang nanti, aku buat perhitungan!"
Nyonya Janet mengucapkan hal itu begitu saja.
"Sebaiknya Nyonya tidak mengucapkan kata-kata serapah seperti itu. Dan sebaiknya Nyonya lebih halus dalam mendidik anak remaja seperti Keira." Gumam Paman Hulusi.
"Tolong diam! Tidak usah mengurusi urusan orang lain! Aku lebih tahu Cara mendidik anak-anakku!"
"Maafkan kata-kata teman saya ini Nyonya kalau menyinggung perasaan Nyonya. Tapi percayalah dia orangnya baik dan maksudnya baik." Tukas Fahri pelan.
Beberapa jurus kemudian mobil itu sudah sampai di Stoneyhill Grove dan berhenti didepan garasi rumah Fahri. Jason berada di beranda rumahnya dan sangat kaget ketika melihat mamanya keluar dari mobil Fahri.
Nyonya Janet menyampaikan terima kasih atas tumpangannya. Fahri, Paman Hulusi dan
Misbah melangkah menuju pintu rumah.
Namun mereka bisa mendengar kata-kata yang diucapkan Jason kepada mamanya,
"Apa yang mama lakukan? Bagaimana mungkin mama bisa satu mobil dengan para penjahat itu !?"
"Anak itu betul-betul kurang ajar Hoca!"
"Sudah biarkan saja Paman. Ayo masuk dan shalat maghrib. Ini sudah maghrib. Kita doakan saja tetangga kita terbuka hatinya dan bisa bersikap lebih baik."
"lya Hoca."
*****
______________________________________________
1. Ya Allah. kami belindung kapada-Mu dari menyekutukan Engkau dengan sesuatu.baik kami tanu atau pun tidak tahu.
2. Ya Alloh satukan barisan ummat kekasih Mu Ann Muhammad saw. Ya Allah Iunakkan hati-hati mereka dan tunjukkanlah mereka jalan-jalan keselamatan. Amiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar