Kamis, 04 Februari 2021

PANASNYA BUNGA MEKAR JILID 23-03

PANASNYA BUNGA MEKAR : 23-03
Meskipun demikian, ia memang memerlukan waktu-waktu untuk beristirahat. Sehingga karena itu, maka Mahisa Bungalan tidak dapat memaksanya.

Sekali-sekali Ken Padmi ingin berteduh di bawah sebatang pohon yang rindang, ketika wajahnya menjadi merah terbakar teriknya matahari. Bahkan sekali-sekali Ken Padmi ingin meneguk air kelapa yang bergayutan di pelepahnya.

Ketika langit mulai dibayangi warna merah, mereka telah berada di antara hutan yang tidak terlalu pepat. Mereka bersepakat untuk melanjutkan perjalanan mereka melintasi hutan itu.

Bagi Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan, perjalanan itu sama sekali bukannya sesuatu yang asing. Apalagi hutan yang mereka lalui adalah hutan yang terlalu sering di sentuh oleh orang-orang yang memiliki kegemaran berburu, tetapi tidak berani memasuki hutan yang lebat dan pepat, yang justru masih menyimpan binatang-binatang buas yang tidak terhitung jumlahnya.

Namun bagi Ken Padmi, perjalanan itu terasa sangat berat. Sekali-sekali mereka harus merunduk karena pepohonan yang berdaun lebat bergayutan rendah. Namun sekali-sekali terdapat sebatang pohon tua yang patah dan melintang di tengah jalan.

Justru karena itu, maka Mahisa Agni dan Witantra telah berpendapat bahwa sebaiknya mereka menghentikan perjalanan mereka dan menunggu sampai fajar di esok hari.

Ken Padmi sendiri sependapat. Meskipun ia tidak pernah bertualang, tetapi ia merasa lebih baik berhenti daripada melakukan perjalanan yang sangat berat di malam hari.

“Kita akan mencari tempat yang paling baik” berkata Mahisa Bungalan.

Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan sendiri mengenal tempat itu dengan baik. Karena itu, maka mereka pun mengetahui bahwa tidak terlalu jauh dari tempat itu, terdapat sebatang pohon yang besar dan sebuah mata air di bawahnya.

“Kita akan berhenti di tempat yang tidak terlalu jauh dari air itu” berkata Mahisa Agni.

“Ada tempat yang barangkali cukup baik di dekat mata air itu” desis Mahisa Bungalan.

Perlahan-lahan mereka pun maju terus, mendekati mata air. Ternyata, bahwa tidak terlalu jauh dari sebatang pohon yang besar, berdaun lebat yang bagaikan bukit hitam di gelapnya malam, terdapat beberapa langkah tempat terbuka yang dapat mereka pergunakan untuk berhenti.

“Tempat ini cukup baik” berkata Mahisa Agni.

“Ya. Dan tidak terlalu dekat dengan jalan yang menghubungi daerah ini dengan kota raja” sahut Witantra.

Namun dalam pada itu, terasa kekhawatiran Ken Padmi terhadap binatang merayap yang tidak dapat dilihatnya. Karena itu, maka Mahisa Bungalan pun bertanya kepada kedua pamannya, “Apakah kita diperkenankan menyalakan api?”

Mahisa Agni termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Asal kita cukup berhati-hati. Api yang tidak terkendali akan dapat menimbulkan ancaman bagi hutan ini”

Dengan demikian, maka Mahisa Bungalan pun kemudian membuat sebuah perapian di tengah-tengah tempat terbuka yang tidak terlalu luas itu. Namun ia harus membatasi agar api tidak menjilat dan membakar hutan itu.

Ken Padmi duduk ditepi perapian sambil memeluk lututnya. Jika sekali-sekali ia melayangkan pandangannya, maka terasa juga kengerian melihat pohon-pohon raksasa disekitarnya. Ia terbiasa hidup di sebuah padepokan kecil yang juga di penuhi oleh pepohonan. Tetapi pohon buah-buahan yang tidak terlalu rapat dan tumbuh di atas kebun yang selalu dibersihkan. Namun hutan itu rasa-rasanya menyesakkan nafasnya.

Mahisa Agni dan Witantra duduk beberapa langkah dari Keri Padmi, sementara Mahisa Bungalan yang gelisah, berada dihadapan gadis itu, berseberangan perapian.

Meskipun demikian, baik Mahisa Bungalan maupun Ken Padmi hanya duduk sambil berdiam diri.

Mahisa Agni lah yang kemudian berbicara dari tempatnya memecah keheningan, “Jika kau letih, beristirahatlah Ken Padmi. Mungkin kau tidak terbiasa tidur di tempat seperti ini. Tetapi mungkin kau sekali sekali pernah juga tidur sambil memeluk lutut seperti itu”

Ken Padmi berpaling. Ia mencoba untuk tersenyum sambil menjawab, “Satu pengalaman baru bagiku paman”

“Bagus. Jika kau anggap hal ini sebagai satu pengalaman, maka kau tidak akan menganggapnya sebagai satu siksaan” sahut Witantra.

Ken Padmi tidak menjawab lagi, meskipun ia masih saja tersenyum. Namun dengan demikian Mahisa Bungalan mendapat kesempatan untuk ikut berbicara, “Apakah kau memerlukan tempat untuk berbaring?”

Ken Padmi termangu-mangu. Tetapi setelah ia memandang berkeliling, yang terdapat hanya rerumputan kering dan reruntuhan dedaunan, maka ia pun menggeleng, “Tidak. Aku dapat tidur sambil duduk seperti ini”

“Baiklah” sahut Mahisa Bungalan, “cobalah untuk tidur. Aku akan berjaga-jaga bersama kedua paman itu”

Ken Padmi mengangguk. Namun ia tidak segera berusaha untuk memejamkan matanya. Meskipun ia meletakkan dagunya pada lututnya, tetapi matanya masih tetap memandangi api yang menyala.

Namun dalam pada itu, keempat orang yang sedang beristirahat itu terkejut ketika mereka mendengar desir langkah beberapa orang mendekati.

Hampir diluar sadarnya, Mahisa Bungalan pun telah bangkit berdiri dan bersiap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

Ternyata kemudian Ken Padmi, Mahisa Agni dan Witantra pun telah bangkit pula ketika suara langkah itu semakin dekat.

Ketika gerumbul perdu terkuak, maka mereka melihat beberapa orang muncul dari balik dedaunan yang gelap. Cahaya perapian yang menjangkau wajah-wajah itu membayangkan cahaya kemerahan yang samar.

Namun salah seorang dari orang-orang yang datang itu tiba-tiba telah berdesis, “Paman Mahisa Agni dan paman Witantra”

Mahisa Agni dan Witantra menarik nafas dalam-dalam. Yang datang itu adalah seorang Pangeran di Singasari yang menurut kelengkapan yang dibawanya, agaknya Pangeran itu sedang berburu.

“Pangeran Wirapaksi” desis Mahisa Agni.

“Ya paman. Agaknya paman juga sedang berburu?” jawab Pangeran itu.

Mahisa Agni menggeleng. Jawabnya, “Tidak Pangeran. Kami dalam perjalanan kembali ke Singasari. Kami baru saja mengunjungi saudara kami di Kediri”

Pangeran Wirapaksi memandang Mahisa Bungalan sejenak. Kemudian katanya, “Kau juga baru kembali bersama paman Mahisa Agni, Mahisa Bungalan?”

“Ya Pangeran” jawab Mahisa Bungalan, “aku sedang mengikuti paman Mahisa Agni dan paman Witantra. Apakah Pangeran sedang berburu?”

“Ya. Aku mengantar adimas Pangeran Indrasunu dari Kediri. Adimas Pangeran yang sedang berada di Singasari ingin berburu di malam hari. Karena itu, kami telah mengantarnya” jawab Pangeran Wirapaksi.

“O, jadi diantara iring-iringan ini terdapat seorang Pangeran dari Kediri?” bertanya Mahisa Agni.

Belum lagi Pangeran Wirapaksi menjawab, seorang yang masih berusia muda maju selangkah. Melihat sikap yang tengadah, maka Mahisa Agni dapat meraba sifat dan watak Pangeran yang masih muda itu.

“Siapakah mereka itu kakangmas?” bertanya anak muda itu.

“Mereka adalah para Senopati di Singasari. Tetapi yang seorang ini, agaknya sudah mendapat tempat pula dilingkungan keprajuritan meskipun belum secara resmi diterima sebagai prajurit” jawab Pangeran Wirapaksi, yang kemudian memperkenalkan Pangeran itu, “Pangeran Indrasunu adalah adik iparku. Ia adalah saudara muda isteriku yang aku ambil dari lingkungan para bangsawan di Kediri, yang sebenarnya masih juga bertalian darah dengan keluargaku”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Selamat datang di Singasari Pangeran”

Pangeran yang masih muda itu tidak mengacuhkannya. Bahkan seolah-olah tidak mendengarnya. Yang dipandanginya kemudian adalah Ken Padmi yang berdiri di sebelah perapian.

“Siapakah anak itu?” tiba-tiba Pangeran itu bertanya, “nampaknya seperti seorang perempuan, tetapi ia mengenakan pakaian yang aneh”

“Ia adalah kemenakanku Pangeran” jawab Mahisa Agni, “ia memang seorang gadis. Tetapi karena perjalanan kami berkuda, maka ia terpaksa mengenakan pakaian seorang laki-laki” jawab Mahisa Agni.

“Kenapa berkuda?” bertanya Pangeran Indrasunu.

“Perjalanan yang, paling memungkinkan kami tempuh. Jika kami berjalan kaki, maka kami akan memerlukan waktu yang terlalu lama” jawab Mahisa Agni.

Pangeran Indrasunu itu mengangguk-angguk. Namun tatapan matanya kemudian seolah-olah tidak lepas dari Ken Padmi. yang wajahnya menjadi kemerah-merahan oleh cahaya api.

“Jadi kalian bukan pemburu di sini?” tiba-tiba saja Pangeran Indrasunu bertanya.

“Bukan Pangeran” jawab Mahisa Agni, “kami hanya singgah sebentar”

“Kenapa kalian tidak meneruskan perjalanan saja” berkata Pangeran Wirapaksi, “bukankah Singasari tidak-terlalu jauh lagi?”

“Kami sudah terlalu letih Pangeran” jawab Mahisa Agni, “agaknya kami lebih senang untuk beristirahat barang sebentar. Besok menjelang dini hari, kami akan berangkat lagi”

“Baiklah” berkata Pangeran Wirapaksi, “kami akan pergi ke belik itu. Mungkin ada seekor binatang buas yang ingin minum di malam hari”

“Silahkan Pangeran” jawab Mahisa Agni, “mudah-mudahan Pangeran berhasil. Tetapi agaknya hutan ini sudah menjadi semakin rindang, sehingga binatang tidak lagi banyak tinggal di sini, tetapi mereka telah berpindah ke hutan sebelah yang masih lebat dan pepat”

Pangeran Wirapaksi tersenyum. Sekilas ia berpaling kepada Pangeran yang masih muda itu sambil berdesis, “Berburu di hutan rimba memerlukan pengalaman yang cukup. Mungkin aku dapat melakukannya. Agaknya hutan rimba di sebelah memang dapat memberikan kegembiraan tersendiri betapapun gawatnya. Tetapi adimas Indrasunu masih memerlukan waktu untuk melakukannya”

“Aku pun dapat melakukannya” sahut Pangeran yang masih muda itu, “tetapi tidak hanya satu dua malam. Sementara ini aku tidak mempunyai banyak waktu”

Pangeran Wirapaksi mengangguk-angguk, “Ya. Adimas benar”

Pangeran Indrasunu tidak segera menyahut. Tetapi kembali tatapan matanya tertuju kepada gadis yang berpakaian seperti laki-laki. dan berdiri di sebelah perapian itu.

Tiba-tiba saja ia bertanya, “Siapa namanya?”

Mahisa Agni terkejut. Tergagap ia menjawab, “Namanya Ken Padmi”

“Nama yang manis” desis Pangeran Indrasunu.

Pujian itu benar-benar tidak menyenangkan hati Mahisa Bungalan. Namun ia masih tetap berdiam diri.

“Jadi kalian akan pergi ke Singasari?” bertanya Indrasunu kemudian.

“Ya Pangeran. Tetapi kami akan singgah di rumah saudara kami yang tidak berada di Kota Raja meskipun tidak terlalu jauh letaknya. Baru kemudian kami akan kembali ke barak kami masing-masing. Sementara Mahisa Bungalan pun akan mulai memasuki lingkungan keprajuritan”

“Ia akan melalui pendadaran jika ia ingin menjadi seorang prajurit” sahut Indrasunu. Lalu, “He, apa kau kira, karena kalian adalah Senopati prajurit, begitu saja dengan mudah dapat membawa kemanakan, anak atau tetangga-tetangga dekat memasuki tugas keprajuritan?”

“Tentu tidak Pangeran. Tentu anak itu pun akan melalui pendadaran” jawab Mahisa Agni, “dan pendadaran itu memang sudah disiapkan. Bukan oleh kami berdua, tetapi oleh orang lain yang bertugas”

Pangeran Indrasunu mengangguk-angguk. Namun ia-pun kemudian bertanya, “Tetapi kenapa kalian tidak mengenakan tanda-tanda keprajuritan sekarang ini”

“Perjalanan kami adalah perjalanan keluarga” jawab Mahisa Agni.

“Tetapi apa salahnya kalian tetap mengenakan pakaian keprajuritan” bantah Pangeran yang masih muda itu.

“Mereka memiliki ketentuan khusus” sahut Pangeran Wirapaksi, “bagi keduanya ketentuan tidak terlalu mengikat. Selain karena tugas-tugas khusus yang sering mereka lakukan, juga karena mereka telah cukup tua sehingga seolah-olah kepada mereka Maharaja di Singasari memberikan banyak kebebasan untuk berbuat sesuai dengan keinginan hati mereka”

“Ah tentu tidak” sahut Pangeran Indrasunu, “ketentuan keprajuritan berlaku bagi siapa saja yang masih disebut prajurit. Kecuali jika ia sudah mengundurkan diri”

Dalam pada itu, Witantra lah yang menyahut, “Kami sudah mengundurkan diri. Tetapi kami kadang-kadang masih menerima tugas tertentu”

Pangeran Indrasunu mengerutkan keningnya. Namun kemudian berkata, “Ah, segalanya itu bukan urusanku. Aku akan berburu malam ini. He, bukankah nama perempuan itu Ken Padmi?”

“Ya Pangeran” jawab Mahisa Agni.

Pangeran Indrasunu tidak menjawab lagi. Ia pun kemudian berkisar dari tempatnya dan berkata kepada Pangeran Wirapaksi, “Marilah. Kita melanjutkan perburuan ini”

Pangeran Wirapaksipuri kemudian melangkah surut sambil minta diri kepada Mahisa Agni, Witantra, Mahisa Bungalan dan gadis yang tidak dikenalnya sebelumnya.

“Aku akan melanjutkan perburuan ini” berkata Pangeran Wirapaksi.

“Silahkan Pangeran” jawab Mahisa Agni, “mudah-mudahan Pangeran berhasil”

Pangeran Wirapaksi tertawa. Ia sendiri sudah mengerti, bahwa berburu di hutan yang sudah menjadi semakin jarang itu, tidak akan banyak memberikan hasil. Namun Pangeran Wirapaksi juga tidak dapat membawa Pangeran muda itu berburu di hutan rimba yang masih pepat dan liar meskipun Pangeran Wirapaksi sendiri sering melakukannya dengan para pengawalnya.

Dalam pada itu, sepeninggal pemburu itu, Mahisa Bungalan berdesis, “Apakah paman pernah melihat Pangeran muda itu sebelumnya?”

Mahisa Agni dan Witantra menggeleng.

“Belum” jawab Mahisa Agni, “nampaknya ia seorang Pangeran yang manja”

“Mungkin. Sikapnya kurang wajar dan memberikan kesan yang kurang baik” desis Mahisa Bungalan.

Mahisa Agni dan Witantra tidak menyahut. Mereka mengerti bahwa Mahisa Bungalan tentu tidak senang melihat sikap Pangeran yang beberapa kali bertanya tentang Ken Padmi itu.

Karena itu, maka kedua orang tua itu pun telah kembali ketempatnya. Sambil duduk Mahisa Agni berkata”Kita akan beristirahat”

“Jika kau sempat, tidurlah Ken Padmi” berkata Witantra, “kau tentu letih. Besok, sebelum dini hari, kita akan melanjutkanper jalanan”

“Aku akan mencoba tidur sambil duduk saja paman” jawab Ken Padmi.

“Jika demikian, beringsutlah sedikit. Jangan menghadap ke perapian” berkata Witantra selanjutnya.

Ken Padmi pun kemudian beringsut. Tetapi ia tidak terlalu jauh dari perapian. Setiap kali ia selalu melihat rerumputan disekelilingnya. Nampaknya ia selalu mencemaskan bila binatang melata mengganggunya. Ken Padmi mengerti, gigitan ular dapat berakibat jauh lebih gawat dari patukan senjata.

Namun ia merasa heran, bahwa Witantra, Mahisa Agni dan Mahisa Bungalan sama sekali tidak menghiraukannya, seandainya seekor ular merambat dikakinya dan mematuk tumitnya.

Namun oleh kelelahan, Ken Padmi dapat juga tidur sambil duduk dengan meletakkan kepalanya dilututnya. Namun setiap kali ia terbangun apabila tubuhnya mulai condong ke samping.

Namun dalam pada itu, ternyata istirahat yang dilakukan oleh Ken Padmi dengan caranya itu, dapat juga sekedar mengurangi keletihannya. Ketika menjelang dini hari mereka bersiap-siap, maka tubuhnya telah menjadi sedikit segar. Apalagi ketika kemudian ia telah mencuci muka dan tangannya di belik sebelah.

“Semalam Pangeran itu tentu menunggui belik ini” berkata Mahisa Agni.
“Tetapi agaknya tidak ada seekor binatang pun yang mendekat, sehingga mereka beringsut semakin ke tengah. Mungkin mereka menemukan seekor kijang atau seekor rusa” desis Witantra.

“Jika mereka gagal dengan cara ini, mungkin Pangeran muda itu akan membawa sepasukan prajurit” sahut Mahisa Agni.

“Binatang yang tersisa akan dikeroyak dengan sepasukan berkuda. Mereka akan menggiring binatang yang ada di hutan ini ke satu tujuan” desis Witantra.

Orang-orang yang sedang berburu itu tinggal menunggu. Mereka akan melemparkan anak panah dan lembing kepada binatang-binatang yang sedang melarikan diri” sahut Mahisa Bungalan.

“Tidak selalu Mahisa Bungalan” jawab Mahisa Agni, “kadang-kadang, ada juga pemburu-pemburu yang ikut mengejar binatang buruan itu dan memanahnya dari atas punggung kuda”

Mahisa Bungalan tidak menjawab. Ia pun kemudian membenahi dirinya sebagaimana dilakukan oleh Ken Padmi. Sejenak kemudian mereka pun telah bersiap untuk melakukan perjalanan.

Sebelum matahari terbit, mereka berempat telah meninggalkan perapian yang telah dipadamkan sehingga sisa-sisa apinya tidak akan berbahaya lagi bagi hutan itu. Perlahan-lahan mereka menuju keluar hutan dan turun ke jalan. Sejenak kemudian, maka kuda-kuda mereka pun telan berlari menuju ke Singasari.

Sebenarnyalah seperti yang dikatakan oleh Mahisa Agni dan Witantra, mereka tidak langsung menuju ke kota raja. Tetapi mereka akan singgah di rumah Mahendra, untuk menitipkan Ken Padmi di rumah itu.

Ken Padmi merasa gelisah juga ketika ia menjadi semakin dekat dengan rumah yang dituju. Ia merasa seolah-olah ia telah merendahkan dirinya mengikuti seorang laki-laki yang belum mempunyai ikatan apapun juga.

Namun ia selalu berusaha untuk menenangkan hatinya bahwa kepergiannya itu sepenuhnya disetujui oleh orang tuanya, sehingga ia akan dapat membagi tanggung jawab jika ada orang lain yang membicarakannya.

Ketika matahari terbit, terasa perjalanan itu semakin segar. Embun yang bergayutan didedaunan pun mulai susut dan akhirnya lenyap sama sekali.

Ternyata bahwa tujuan mereka memang sudah tidak terlalu jauh lagi. Mereka menempuh jalan samping, sehingga mereka sama sekali tidak memasuki kota raja. Namun dari jalan yang mereka lalui mereka dapat melihat gerbang kota yang megah.

Ketika matahari mulai terasa menggatali kulit, maka iring-iringan itu pun memasuki sebuah padukuhan yang besar. Mereka menyelusuri jalan padukuhan, menuju ke sebuah rumah yang berhalaman cukup luas.

Kedatangan iring-iringan itu telah mengejutkan seisi rumah. Mahendra yang kebetulan tidak sedang bepergian, telah dengan tergopoh-gopoh menyambut mereka. Namun ia pun terkejut ketika ia melihat seorang perempuan ikut pula bersama Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan.

“Aku akan menjelaskannya nanti” berkata Mahisa Agni.

Mahendra pun kemudian mempersilahkan tamunya naik. Sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah ikut menyambut pula.

Setelah duduk sejenak, serta setelah hidangan di suguhkan, maka mulailah Mahisa Agni menceriterakan segala sesuatunya yang telah terjadi dalam perjalanan mereka. Mahisa Agni telah menceriterakan tentang peristiwa yang terjadi di padepokan Kenanga. Selengkapnya.

Mahendra menarik natas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Jadi Ki Dukut Pakering yang diburu dengan sia-sia itu akhirnya telah datang menyerahkan diri”

“Demikianlah yang telah terjadi” jawab Mahisa Agni.

Namun kemudian sambil mengangguk-angguk Mahendra berkata, “Dan gadis ini adalah Ken Padmi, dari padepokan Kenanga.”

Ken Padmi menundukkan kepalanya. Yang bertanya itu adalah Mahendra, ayah Mahisa Bungalan. Karena itu, rasa-rasanya wajahnya menjadi panas.

“Baiklah” berkata Mahendra, “aku terima kau di rumah ini .seperti anakku sendiri. Kau akan mempunyai dua orang adik yang nakal. Tetapi aku kira ia akan dapat membantumu”

Ken Padmi hanya dapat menunduk saja. Rasa-rasanya ia berada di dunia yang masih sangat asing. Namun agaknya sikap orang-orang di rumah itu akan cukup baik terhadapnya.

Demikianlah, maka Ken Padmi mulai dengan satu kehidupan baru. Apa yang berlaku di rumah Mahendra agak berbeda dengan apa yang berlaku di rumahnya, di padepokan kecil yang jauh dari kota raja itu.

Namun sebagaimana yang telah dilakukannya, mengikuti orang-orang yang masih belum mempunyai ikatan tertentu itu, maka ia telah berusaha untuk menyesuaikan dirinya.

Sebenarnyalah, ia kemudian menganggap Mahisa Pukat dan Mahisa Murti sebagai adik-adiknya. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Mahendra, kedua anak itu memang agak nakal. Tetapi keduanya tidak pernah mengganggunya dengan sungguh-sungguh. Bahkan semakin lama, hubungan mereka pun menjadi semakin akrab.

Namun dalam pada itu, Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan tidak dapat tinggal terlalu lama. Mereka harus menghadap dan menyatakan diri, bahwa mereka telah kembali. Sehingga karena itu, maka setelah berada di rumah dua tiga hari, Mahisa Bungalan pun bersiap-siap untuk pergi ke Kota Raja.

Dengan demikian, maka Ken Padmi pun harus ditinggalkannya di rumahnya. Ia tidak akan dapat mengajaknya ke Kota Raja dalam keadaan yang belum menentu itu.

“Tentu ia akan tinggal di sini” berkata Mahendra, “setelah kau selesai mengurus dirimu sendiri dalam hubungannya dengan rencanamu untuk memasuki tugas keprajuritan, maka kau harus segera kembali untuk menyelesaikan hubungan dengan Ken Padmi. Kita masjh harus pergi ke padepokan Kenanga untuk mengurus segala-galanya. Baru kemudian kau akan dapat membawanya ke Kota Raja”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Ia pun sadar bahwa persoalannya dengan Ken Padmi masih memerlukan waktu dan penyelesaian. Namun seperti yang dikatakan oleh avahnva. ia akan menyelesaikan persoalannya lebih dahulu. Dan hal itu pun telah dikatakannya pula kepada Ken Padmi.

Dengan demikian, maka setelah segala persiapan selesai, maka Mahisa Bungalan pun telah mengikuti Mahisa Agni dan Witantra ke Kota Raja. Mereka akan menghadap Maharaja Singasari untuk melepaskan hasil perjalanan mereka terakhir dan kematian seseorang yang menamakan dirinya Ki Dukut Pakering, yang pernah menjadi guru dalam olah kanuragan dari Pangeran Kuda Padmadata di Kediri.

Namun dalam pada itu, telah terjadi yang sama sekali tidak diduga-duga. Sepeninggal Mahisa Bungalan, maka telah datang ke rumah Mahendra sebuah iring-iringan kecil. Di antara mereka terdapat seorang Pangeran muda dari Kediri yang bernama Pangeran Indrasunu.

Dengan tergopoh-gopoh Mahendra telah menerima iring-iringan itu. Tidak ada orang yang telah dikenalnya di antara mereka yang ada di dalam iring-iringan itu. Namun menilik pakaian yang dikenakan, maka mereka adalah para bangsawan dan pengiringnya.

“Aku mengetahui tempat ini atas petunjuk Pangeran Wirapaksi” berkata Pangeran Indrasunu.

“O” Mahendra mengangguk-angguk. Jawabnya, “Pangeran Wirapaksi memang sudah mengenal tempat ini”

Mahendra kemudian mempersilahkan tamu-tamunya untuk duduk di pendapa.

“Tentu kau terkejut, kenapa tiba-tiba saja aku datang kemari” berkata Pangeran Indrasunu.

“Ya. Aku menjadi sangat terkejut, karena aku belum mengenal tamu-tamuku” sahut Mahendra.

“Aku Pangeran Indrasunu dari Kediri” jawab Pangeran yang masih muda itu.

“O” Mahendra mengangguk-angguk, “jadi Pangeran berasal dari Kediri”

“Ya. Dan kakak perempuanku adalah isteri Pangeran Wirapaksi” berkata Pangeran Indrasunu pula.

Mahendra mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi Pangeran ini adalah adik ipar Pangeran Wirapaksi”

“Ya. Bukankah kau sudah mengenal kakangmas Wirapaksi?” bertanya Pangeran Indrasunu.

“Tentu. Tentu aku sudah mengenalnya” jawab Mahendra.

“Baiklah. Dan kau tentu tahu, bahwa Pangeran Wirapaksi adalah seorang bangsawan yang berpengaruh di Singasari” berkata Pangeran muda itu pula.

Mehendra mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu maksud Pangeran itu. Tetapi ia tidak membantahnya. Pangeran Wirapaksi memang seorang yang berpengaruh. Ia seorang Senopati yang baik diantara Senopati-senopati yang lain dari kalangan para bangsawan. Umurnya masih tergolong muda, tetapi ia memang lebih tua dari Pangeran Indrasunu. Sebenarnyalah Pangeran Wirapaksi pun mempunyai darah Kediri meskipun ia juga berdarah Singasari.

Sejenak Pangeran Indrasunu terdiam. Namun kemudian ia berkata, “Ki Mahendra, apakah benar bahwa Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan berada di rumah ini?”

Mahendra menjadi semakin heran mendengar pertanyaan itu. Namun ia pun menjawab, “Ya Pangeran. Mereka memang berada di sini. Tetapi mereka baru saja kembali ke Kota Raja. Mereka sudah terlalu lama meninggalkan kewajiban mereka”

“Jadi mereka telah pergi ke Kota Raja?” Pangeran Indrasunu terkejut”kapan mereka berangkat?”

“Hari ini” jawab Mahendra, “jika Pangeran mengambil jalan yang juga dilalui oleh mereka, tentu Pangeran akan berpapasan”

“Tetapi aku tidak bertemu dengan mereka” desis Pangeran itu.

“Apakah Pangeran mempunyai keperluan dengan mereka?” bertanya Mahendra.

Pangeran Indrasunu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan suara sendat ia berkata, “Ki Mahendra. Aku hanya ingin bertanya, apakah mereka kembali ke rumah ini bersama seorang gadis kemenakan Ki Mahisa Agni”

Wajah Mehendra menegang sejenak. Namun kemudian ia menjawab dengan hati-hati, “Ya Pangeran. Mereka memang kembali dengan seorang gadis kemenakan kakang Mahisa Agni, yang juga kemenakanku”

“O” Pangeran Indrasunu mengangguk-angguk. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ia berkata, “dari manakah sebenarnya gadis itu? Aku bertemu dengan gadis itu di hutan perburuan, menjelang gadis itu datang ke rumah ini. Aku saat itu sedang berburu. Sementara gadis itu sedang beristirahat bersama Ki Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan sambil menghangatkan diri di depan perapian”

Mahendra tidak segera menjawab. Ia mencoba mencari sasaran dan arah pertanyaan Pangeran Indrasunu itu.

Untuk sesaat Pangeran Indrasunu terdiam. Dipandanginya wajah Mahendra yang memancarkan pertanyaan itu.

Namun kemudian Pangeran yang masih muda itu pun bertanya pula, “Apakah gadis itu ada di rumah sekarang?”

Mahendra benar-benar menjadi bingung. Tetapi ia menjawab sebagaimana adanya, “Ya Pangeran. Gadis itu ada di rumah”

“Apakah ia tidak turut ke Kota Raja” bertanya Pangeran muda itu.

“Tidak. Ia berada di rumah, karena perjalanan ke Kota Raja bukannya satu tamasya” jawab Mahendra.

“Baiklah. Jika demikian aku akan berterus terang kepadamu Ki Mahendra, karena gadis itu sebagaimana pengakuanmu, adalah kemenakan Mahisa Agni dan itu berarti kemanakanmu juga” Pangeran Indrasunu itu pun berhenti sejenak, lalu katanya pula, “karena itu, aku dapat mengatakannya kepada Mahisa Agni, tetapi aku dapat juga mengatakannya kepadamu”

Mahendra menjadi semakin berdebar-debar. Sementara itu Pangeran yang masih muda itu berkata, selanjutmu, “Ki Mahendra. Aku baru melihat sekilas gadis itu. Tetapi aku merasa tertarik kepadanya. Sekarang aku datang untuk melihat, apakah aku benar-benar memang tertarik. Jika aku benar-benar tertarik kepadanya, aku akan membawanya ke Kediri”

Jantung Mahendra bagaikan dihentak oleh sebongkah batu padas. Ditahankannya gejolak perasaan itu di dadanya. Namun bagaimanapun juga, nampak pada wajahnya betapa ia menahan diri.

Tetapi Pangeran yang masih muda itu menangkap kesan itu lain. Ia tahu bahwa Mahendra terkejut mendengar keterangannya. Namun ia menganggap bahwa kemudian Mahendra itu merasa dirinya sangat beruntung, karena kemanakannya akan diambil oleh seorang Pangeran.
Karena itu maka katanya, “Ki Mahendra. Aku baru akan melihatnya. Jika aku tertarik seperti sentuhan perasaanku pada malam itu, aku baru akan mengambilnya. Jika ternyata aku tidak tertarik, kau jangan menjadi kecewa karenanya”

Dada Mahendra bagaikan menjadi pecah karenanya. Namun bagaimanapun juga ia berusaha untuk menahan diri. Pangeran itu adalah Pangeran dari Kediri yang kedatangannya di Singasari merupakan tamu seorang bangsawan Singasari yang masih berdarah Kediri pula. Namun yang merasa dirinya sudah menjadi bagian dari Singasari dalam keseluruhan.

Baru setelah gejolak di dadanya itu mereda, Mahendra menjawab, “Pangeran. Sebenarnyalah kemanakanku itu masih terlalu kanak-kanak untuk mempersoalkan hubungan dengan seorang laki-laki. Aku merasa berbahagia sekali karena Pangeran telah berkenan untuk datang dan merasa tertarik kepadanya, meskipun mungkin hal itu tidak akan berkelanjutan. Tetapi aku mohon maaf, bahwa aku kira kemanakanku itu masih memerlukan waktu untuk mengerti perasaan seorang laki-laki”

Pangeran Indrasunu mengerutkan keningnya. Ia agak heran mendengar jawaban Mahendra, yang dikiranya akan menerima permintaannya itu dengan gembira sekali.

Namun ternyata Pangeran yang masih muda itu kemudian menganggap bahwa Mahendra hanya sekedar berbasa basi saja. Karena itu maka katanya, “Jangan berbelit-belit Ki Mahendra. Sebaiknya kau panggil kemanakanmu dan aku akan menilainya sekali lagi. Mungkin aku memerlukannya dan aku akan membawanya ke Kediri. Bahkan mungkin aku akan dapat mengambilnya sebagai isteri yang sebenarnya, karena ternyata ada juga seorang Pangeran di Kediri yang mempunyai seorang isteri gadis pedesan”

Mahendra masih saja menahan diri. Tetapi ia berkata di dalam hati, “Jika anak ini tidak segera pergi, mungkin aku akan kehilangan kesabaran”

Tetapi sementara itu Pangeran itu masih berkata, “Ki Mehendra, jika kau pernah mendengar nama Pangeran Kuda Padmadata dari Kediri, maka kau akan mengetahui bahwa gadis padepokan yang dibawanya ke istananya itu ternyata dapat juga berusaha menyesuaikan diri. Karena itu, jika kemanakanmu itu memang mempunyai keberuntung an yang baik, mungkin ia akan dapat aku angkat menjadi isteriku yang sebenarnya”

Mahendra menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah ia ingin melepaskan segala kesal didalam hatinya bersama dengan pelepasan nafasnya yang panjang.

Katanya kemudian dengan hati-hati, “Aku mohon maaf sekali lagi Pangeran. Aku harap Pangeran mempertimbangkan masak-masak bersama Pangeran Wirapaksi. Mungkin Pangeran Wirapaksi akan dapat memberikan beberapa pendapat tentang hal ini kepada Pangeran”

“Kenapa aku harus minta pendapatnya?” bertanya Pangeran Indrasunu, “aku sudah dewasa. Aku sudah dapat membuat pertimbangan-pertimbangan tersendiri. Karena itu, aku kira aku tidak perlu mendapat nasehat dari orang lain. Sebenarnyalah aku juga telah mengatakannya bahwa aku akan datang kemari. Yang menunjukkan rumah ini kepadaku juga Pangeran Wirapaksi meskipun ia tidak tahu pasti maksud kedatanganku. Tetapi ia tentu dapat menduga-duga karenanya”

“Meskipun demikian, aku mohon Pangeran mempertimbangkannya sekali lagi. Sebaiknya Pangeran memang berbicara dengan Pangeran Wirapaksi, apakah yang sebaiknya Pangeran lakukan. Segalanya bagi kebaikan segala pihak, agar tidak ada yang menyesal di kemudian hari” berkata Mahendra sambil menahan dadanya yang akan meledak.

Tetapi Pangeran itu tertawa, katanya, “Karena itu aku ingin bertemu sekali lagi dengan kemanakanmu itu agar aku tidak kecewa dan menyesal. He, apakah aku perlu menemui orang tuanya jika ternyata aku menyukainya dan akan membawanya ke Kediri?”

Mahendra hampir saja kehabisan akal dan bertindak kasar terhadap Pangeran dari Kediri itu. Namun dengan susah payah ia berusaha mengekang diri. Jika ia bertindak, langkah Pangeran Indrasunu masih belum jelas. Mungkin Pangeran itu tidak benar-benar akan membawa Ken Padmi setelah Pangeran itu melihatnya sekali lagi.

Karena itu, maka Mahendra akhirnya mengambil keputusan untuk mempertemukannya sekali lagi dengan Ken Padmi. Namun demikian ia berpesan, “Pangeran. Aku akan memanggil gadis itu. Ia akan membawa hidangan kemari. Tetapi Pangeran jangan memberikan keputusan dihadapan gadis itu. Biarlah ia berlalu tanpa mengetahui maksud kehadiran Pangeran. Baru kemudian Pangeran mengatakannya segala sesuatunya kepadaku. Apakah Pangeran bersedia?”

Sejenak Pangeran Indrasunu itu termangu-mangu. Namun akhirnya ia berkata, “Baiklah. Tetapi aku tidak biasa dibatasi dengan ketentuan-ketentuan seperti itu”

“Mungkin Pangeran tidak terbiasa. Tetapi hal ini penting sekali bagiku” sahut Mahendra.

Pangeran Indrasunu tidak menolak lagi. Sementara ia menunggu dengan para pengawalnya, maka Mahendra pun pergi ke belakang untuk menemui Ken Padmi agar gadis itu menyuguhkan hidangan kepada tamu-tamunya.

“Minuman panas dan makanan apa saja yang ada” desis Mehendra.

Ken Padmi sama sekali tidak memikirkan maksud-maksud lain dari tamu-tamunya. Karena itu, makaia sama sekali tidak membenahi dirinya. Pakaiannya dan bahkan ia sama sekali tidak menyeka keringat di wajahnya.

Justru Mahendra dengan sengaja membiarkannya, agar ada kesan yang sederhana bahkan agak kotor atas gadis yang bernama Ken Padmi itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun sama sekali tidak menyangka bahwa tamu-tamunya itu mempunyai kepentingan tertentu terhadap Ken Padmi, yang mereka ketahui, seorang gadis yang mempunyai ikatan khusus dengan kakak mereka, Mahisa Bungalan.

Sebenarnyalah, sejenak kemudian Ken Padmi telah menghidangkan minuman dan makanan kepada tamu-tamunya. Namun gadis itu terkejut ketika ia melihat bahwa tamu itu adalah Pangeran yang dijumpainya di hutan perburuan.

Meskipun demikian Ken Padmi berusaha untuk tidak memberikan kesan apapun juga. Ia meletakkan hidangannya dihadapan para tamunya. Kemudian ia pun beringsut surut. Sejenak Ken Padmi bergeser menjauh, namun ia pun segera meninggalkan pendapa.

Dalam pada itu, Pangeran Indrasunu sengaja memperhatikan gadis itu baik-baik. Memang ada kesan bahwa gadis itu sangat sederhana dan bahkan agak kotor. Karena itu, maka kesan yang didapatkannya jauh berbeda dengan isteri Pangeran Kuda Padmadata. Perempuan yang kemudian menjadi isteri Pangeran Kuda Padmadata itu pun seorang perempuan padepokan. Namun ketika ia bertemu, maka perempuan itu sama sekali tidak lagi dapat dibedakan dengan perempuan-perempuan berdarah bangsawan. Baik cara berpakaian, cara berbicara dan sikapnya dalam keseluruhan.

Sedangkan perempuan yang dihadapinya itu benar-benar seorang perempuan yang sederhana dan sikapnya pun masih dapat dilihat jelas, sikap seorang gadis padepokan.

Namun ketika Pangeran Indrasunu memandang wajah gadis itu, maka darahnya tersirap. Gadis yang sederhana itu adalah gadis yang sangat cantik. Justru keringat di kening dan wajah yang kemerah-merahan, membuat gadis itu seolah-olah semakin cantik.

Karena itu, maka ketika gadis itu telah meninggalkan pendapa, Pangeran Indrasunu menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Mahendra sejenak. Kemudian katanya, “Ki Mahendra. Ternyata kemanakanmu memang seorang gadis yang cantik. Aku benar-benar tertarik kepadanya. Karena itu, maka aku beritahukan kepadamu bahwa kemanakanmu itu aku kehendaki dan akan aku bawa ke Kediri. Kau dapat mengucap sukur atas karunia yang kau terima karena satu diantara keluargamu telah dikehendaki oleh seorang Pangeran dari Kediri, meskipun untuk sementara ia akan menjadi isteri peminggir. Tetapi jika ia berhasil menyesuaikan diri, maka ada kemungkinan ia akan menjadi isteriku yang sebenarnya”

Betapa panasnya telinga Mahendra mendengar kata-kata Pangeran yang masih muda itu. Hampir saja ia berteriak mengusirnya. Namun sekali lagi ia berusaha untuk menahan dirinya.

Dengan tersendat-sendat ia berkata, “Pangeran. Aku berterima kasih atas perhatian Pangeran terhadap kemanakanku itu. Tetapi sudah barang tentu bahwa aku tidak akan dapat menyerahkannya segera. Meskipun ia kemanakanku, tetapi yang membawanya kemari bukannya aku, tetapi kakang Mahisa Agni dan Witantra. Karena itu, maka segala sesuatunya tergantung sekali kepada keduanya. Jika kedua sependapat, maka aku pun tidak akan dapat mencegahnya. Sebaliknya jika keduanya berkeberatan, maka aku tidak akan dapat memaksanya.

Wajah Pangeran Indrasunu menjadi merah padam. Dengan suara lantang ia berkata, “Ki Mahendra. Apakah kau sadar, dengan siapa kau berhadapan?”

“Aku sadar sepenuhnya Pangeran” jawab Mahendra.

“Aku bukan saja seorang Pangeran terpenting di Kediri. Tetapi aku adalah adik ipar Pangeran Wirapaksi dari Singasari” geram Pangeran itu.

“Aku mengerti sepenuhnya Pangeran” jawab Mahendra, “ aku pun mengenal Pangeran Wirapaksi sebaik-baiknya”

“Nah, jika demikian, kenapa kau masih ngelantur untuk menunggu Mahisa Agni dan Witantra?” bertanya Pangeran itu.

Jantung Mahendra benar-benar bagaikan membara. Dipandanginya Pangeran Indrasunu yang masih muda itu. Meskipun demikian Mahendra masih menahan diri dan berkata, “Pangeran. Justru aku mengenal Pangeran Wirapaksi dengan baik, maka aku telah bertindak sesuai dengan cara yang paling baik bagi segala pihak. Pangeran Wirapaksi bukan seseorang yang akan memaksakan kehendaknya terhadap orang lain”

Pangeran Indrasunu menegang sejenak. Katanya, “Kau jangan memutar balikkan keteranganmu. Bagaimana pun juga aku mempunyai hak untuk mengambil kemanakanmu itu”

“Kau bukan orang Singasari” bantah Mahendra yang hampir kehabisan kesabaran, “hak apa yang dapat kau sebut untuk memaksakan kehendakmu itu. Pangeran, kembalilah. Laporkan semuanya ini kepada Pangeran Wirapaksi. Maka kaulah yang akan mendapat nasehatnya, bahwa sebenarnya kau telah bersalah. Tidak seorang pun bangsawan Singasari yang akan bertindak sekasar Pangeran”

Wajah Pangeran Indrasunu menjadi merah padam. Dengan garang ia berkata, “Mahendra. Kau tahu betapa besarnya kekuasaanku di Kediri”

“Berapapun besarnya kekuasaanmu di Kediri, maka kekuasaan itu tidak akan dapat melimpah sampai ke Singasari. Apalagi Kediri termasuk daerah Singasari pula” jawab Mehendra.

Kemarahan Pangeran Indrasunu tidak dapat dibendung lagi. Dengan demikian maka ia pun telah memberikan isyarat kepada para pengawalnya. Sehingga dalam pada itu, seorang pengawal yang bertubuh tinggi, tegap berdada bidang telah melangkah maju sambil berkata, “Sudahlah Ki Mahendra. Jangan memaksa aku untuk bertindak. Lakukan apa yang dikehendaki oleh Pangeran Indrasunu. Kau tidak akan mempunyai kesempatan lagi. Seandainya hal ini kau anggap salah dan kau laporkan kepada para penguasa di Singasari, maka Pangeran Wirapaksi akan dapat mencegah segala tindakan yang akan diambil oleh para penguasa di Singasari”

“Kalian salah mengerti tentang Singasari” berkata Mahendra, “di Singasari para penguasa berusaha untuk bertindak adil. Bahkan Pangeran Wirapaksi pun akan berusaha untuk bertindak adil”

Tetapi orang bertubuh tinggi, tegap dan berdada bidang itu berkata mantap, “Mungkin aku memang tidak banyak mengetahuinya. Tetapi serahkan saja gadis itu. Dan kau akan luput dari tindak kekerasan”

“Ki Sanak” berkata Mahendra, “kau pun salah hitung atas kami. Kekerasan adalah warna hidupku sejak aku muda. Aku adalah salah seorang, hamba di Singasari yang dikenal sebagai seorang petualang yang dalam pengembaraan selalu dibayangi oleh tindakan kekerasan. Tetapi sudah tentu bahwa tidak semua kekerasan dapat dibenarkan. Dalam persoalan ini aku mohon agar kalian tidak mempergunakan kekerasan. Aku mohon sekali lagi, agar kalian menghubungi Pangeran Wirapaksi lebih dulu, sementara aku menunggu kakang Mahisa Agni dan Witantra”

“Aku tidak pernah bekerja dengan lamban” jawab orang bertubuh raksasa itu, “aku adalah pengawal Pangeran Indrasunu yang hanya tunduk kepada perintah Pangeran Indrasunu”

“O” Mahendra mengangguk-angguk, “kau memang aneh Ki Sanak. Tetapi baiklah. Jika Pangeran Indrasunu memaksa, maka aku akan mempertahankannya, Aku bertanggung jawab atas keselamatan kemanakanku itu. Karena itu, maka aku pun akan mempertahankannya”

“Kau mencari perkara Ki Sanak” berkata orang bertubuh raksasa itu, “ kau hanya seorang diri. Kau lihat, kami datang bersama beberapa orang”

“Kau boleh membawanya jika kau sudah tidak melihatnya lagi Ki Sanak” berkata Mahendra, “karena itu, maka aku tidak peduli berapa orang yang datang ke halaman rumahku”

Wajah orang itu menegang. Tiba-tiba saja ia berpaling kepada Pangeran Indrasunu. Dengan suara ragu ia berkata, “Tetapi sudah tentu bahwa kami tidak akan melakukan pembunuhan di tlatah Singasari atau orang Singasari”

“Lakukan perintahku” bentak Pangeran Indrasunu, “tetapi sebaiknya jangan kau bunuh orang itu. Lumpuhkan saja. Biarlah ia menyaksikan betapa kemanakannya merasa bahagia karena ia dikehendaki oleh seorang Pangeran”

Orang bertubuh raksasa itu mengangguk sambil menjawab, “Baiklah Pangeran. Aku akan melumpuhkannya. Mungkin ia akan cacat seumur hidupnya. Tetapi ia akan merasa bahagia kelak, jika kemanakannya itu datang menengoknya dan membawa oleh-oleh yang terlalu baik baginya”

Mahendra tidak menyahut. Namun kemudian orang bertubuh tinggi tegap itu bertanya, “Apakah kau akan melawan aku?”

Mahendra menjawab, “Ya. Aku akan mempertahankan hakku diatas tanahku”

“Baiklah. Aku mohon Ki Sanak turun ke halaman” berkata orang bertubuh raksasa itu.

Mahendra tidak menunggu lagi. Ia benar-benar telah kehilangan kesabaran. Karena itu, maka ia pun segera bangkit dan melangkah turun ke halaman tanpa menghiraukan tamunya”

Orang-orang Kediri itu memang merasa heran melihat sikap Mahendra yang terlalu yakin akan dirinya. Namun dalam pada itu mereka pun segera mengikutinya turun ke halaman pula.

Di halaman Mahendra berdiri tegak sambil berkata, “Marilah. Apa yang kalian kehendaki? Memukuli aku sampai pingsan atau membuat tubuhku cacat? Tentu satu tantangan bagi Singasari. Kakang Mahisa Agni dan Witantra adalah prajurit-prajurit Singasari. Aku menjadi cacat karena aku mempertahankan kemanakan yang mereka bawa kepadaku”

Orang bertubuh raksasa itu mengkerutkan keningnya. Namun Pangeran Indrasunu berkata, “Jangan kau harapkan bahwa Senopati Singasari itu akan dapat menuntut apapun juga karena sikap sekarang ini. Kakangmas Wirapaksi akan dapat bertindak atas mereka. Bahkan saudara-saudaramu itu akan dapat dilepas dari jabatannya”

“Demikian mudahnya?” bertanya Mahendra.

“Apakah kesulitannya? Kakangmas Wirapaksi mempunyai kekuasaan dan wewenang untuk berbuat demikian” jawab Pangeran Indrasunu.

“Jika demikian, aku akan menentangnya sekaligus. Bukan hanya karena Pangeran Indrasunu akan mengambil kemanakanku, tetapi juga karena Pangeran Wirapaksi akan mengganggu kedudukan saudara-saudaraku”

Sikap Mahendra memang sangat menjengkelkan Pangeran yang masih muda itu sehingga ia pun kemudian hampir berteriak, “He, kau menunggu apa lagi”

Orang bertubuh raksasa itu memang menjadi ragu-ragu. Tetapi ketika Pangeran Indrasunu membentaknya, maka ia pun segera mempersiapkan diri. Katanya, “Nah kau dengar, bahwa Pangeran Indrasunu telah memerintahkan kepadaku untuk segera bertindak”

“Lakukanlah, apa yang harus kau lakukan” sahut Mahendra.

Orang bertubuh raksasa itu pun kemudian beringsut maju. Namun ia masih berusaha untuk memperingatkan Mahendra. Katanya, “Ki Sanak, apakah kau benar-benar tidak dapat mengambil jalan lain?”

“Aku tidak mempunyai jalan apapun yang dapat aku pergunakan untuk mempertahankan kemanakanku itu” jawab Mahendra.

Namun dalam pada itu Pangeran Indrasunu telah membentak sekali lagi, “Cepat. Jangan menunggu aku kehabisan kesabaran, sehingga aku sendiri yang akan bertindak”

Orang bertubuh raksasa itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sudah bersiap untuk bertindak. Ketika ia melangkah maju, ia pun berkata, “Nampaknya kau tidak mempunyai kesempatan. Sebetulnya aku segan melakukan hal ini. Aku lebih senang berhadapan dengan Senopati yang manapun juga, meskipun ia Senopati Singasari”

“Lakukan tugasmu. Tetapi jika kau mengalami kesulitan, hal itu terpaksa aku lakukan untuk membela diri” jawab Mahendra.

Orang bertubuh raksasa itu tidak menjawab lagi. Ia mulai berkisar, dan tangannya pun mulai bergerak.

Mahendra pun telah mempersiapkan diri. Ia akan menghadapi apapun juga yang terjadi. Bahkan seandainya Pangeran Indrasunu dan semua pengawalnya akan turun ke arena”

Bersambung...!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...