PANASNYA BUNGA MEKAR : 25-01
Pangeran Indrasunu menggeleng.
“Sungguh terlalu,” desis Akuwu Suwelatama, “dengan demikian maka adalah salah para bangsawan itu sendiri bahwa mereka tidak lagi dihormati orang.”
“Sementara itu, di Kediri pun berlaku hal yang sama,” desis Pangeran bertubuh kecil itu, “apakah kakangmas sudah mendengar persoalan yang timbul di istana Pangeran Kuda Padmadata?”
“Aku sudah tahu. Ia memilih perempuan pidak pedarakan itu daripada isterinya yang sepadan.” jawab Akuwu Suwelatama, “Seharusnya Pangeran Kuda Padmadata tidak berbuat demikian. Ia dapat saja mengambil anak padesan itu sebagai selirnya.”
“Nah, ternyata aku justru dihinakan di Singasari.” berkata Pangeran Indrasunu kemudian.
“Hal serupa itu tidak akan terjadi di sini,” berkata Akuwu Suwelatama, “apa saja yang kalian kehendaki akan terjadi. Jangan pikirkan lagi apa yang terjadi di Singasari itu. Besok adimas Indrasunu dapat berjalan-jalan dan melihat-lihat. Perempuan-perempuan cantik di padesan akan merasa sangat bangga, belum lagi diambil sebagai selir, bahkan dipandang pun rasa-rasanya mereka harus mendapat wahyu.”
Pangeran Indrasunu mengangguk-angguk. Tetapi sebenarnya bukan itu yang dikehendakinya. Ia ingin membalas sakit hatinya dengan menebus kekalahannya. Bahkan jika mungkin dengan peristiwa yang jauh lebih besar dari yang pernah terjadi di Singasari itu. Bukan sekedar mengalahkan Mahisa Agni, Mahisa Bungalan, Mahendra dan Witantra di arena perang tanding, tetapi Singasari dalam keseluruhan memang harus dirombak sama sekali. Seluruh tatanan kehidupannya. Bahkan jika mungkin hubungan antara Kediri dan Singasari itu sendiri. Meskipun persoalan itu sudah jauh melampaui persoalan pokoknya.
Tetapi Pangeran Indrasunu cukup cerdik untuk tidak dengan tergesa-gesa menyampaikan maksudnya. Karena itu, maka ia pun mengangguk-angguk sambil menahan segala gejolak hatinya untuk pada suatu saat yang paling baik, menyampaikannya kepada Akuwu Suwelatama.
Bersama tiga orang Pangeran lainnya, Pangeran Indrasunu tinggal di Pakuwon yang dipimpin oleh Pangeran Suwelatama. Rasa-rasanya mereka memang dapat melupakan gejolak hati mereka dengan melihat-lihat sawah yang hijau. Sungai yang bening mengalir di tengah-tengah bulak yang panjang. Bendungan yang panjang yang mengangkat air ke sawah lewat parit yang bercabang-cabang.
Namun demikian, Pangeran Indrasunu tidak pernah melupakan maksud kedatangannya yang sebenarnya. Di Pakuwon itu ia memang melihat gadis-gadis yang tersipu-sipu jika Pangeran-Pangeran muda itu memandangi mereka. Bahkan mereka menjadi ketakutan jika salah seorang dari Pangeran itu mendekatinya. Namun dalam pada itu, hati mereka pun rasa-rasanya menjadi kembang sebesar Gunung.
Baru setelah Pangeran-Pangeran muda itu berada di Pakuwon itu beberapa hari, maka mereka mulai menyinggung masalah-masalah yang mereka kehendaki, sedikit demi sedikit.
“Harus ada perubahan dalam tatanan kehidupan di Kediri.” berkata Pangeran Indrasunu.
Pangeran Suwelatama itu pun termangu-mangu. Namun agaknya adiknya yang bertubuh kecil itu pun meyakinkannya, bahwa yang dikatakan itu sebenarnyalah demikian.
Akuwu Suwelatama yang semula ragu-ragu menanggapi sikap anak-anak muda itu, akhirnya telah terbuka pula. Pangeran yang lebih senang tinggal di luar Kota Raja itu pun mengerti, apa yang sebenarnya dikehendaki oleh Pangeran-Pangeran muda itu.
“Kenapa kalian datang kemari?” tiba-tiba saja Pangeran Suwelatama itu bertanya kepada adiknya, “Apakah kau melihat kemungkinan yang paling kecil sekalipun, bahwa aku akan sependapat dengan kalian?”
“Aku mengerti sikap kakangmas,” jawab adiknya, Pangeran yang bertubuh kecil, “kakangmas lebih senang tinggal di tempat ini, karena kakangmas tidak sependapat dengan perkembangan keadaan. Namun agaknya kakangmas terlalu baik hati, atau kakangmas memang tidak ingin melihat orang-orang gila itu kehilangan tempatnya.”
“Tetapi itu belum berarti bahwa, aku telah menentukan satu sikap.” jawab Akuwu Suwelatama.
“Yang kakangmas lakukan sudah satu sikap. Namun terserahlah kepada kakangmas untuk mengembangkan sikap itu. Kami hanya ingin menyampaikan kepada kakangmas, bahwa kami mulai merintis jalan untuk mengambil langkah yang panjang. Yang terjadi atas kakangmas Indrasunu dan ketidakmampuan kakangmas Wirapaksi untuk mengambil langkah yang paling baik, hanyalah satu persoalan di antara banyak persoalan yang harus kita tanggapi.”
Akuwu Suwelatama tertawa. Katanya, “Kalian masih terlalu muda untuk menentukan langkah. Kalian hanya terburu oleh perasaan tidak puas dan gelisah. Meskipun aku percaya bahwa kalian mempunyai kekuatan, bahkan juga kalian mempunyai latar belakang perguruan kalian masing-masing, tetapi kalian hanyalah debu bagi Kediri dan apalagi Singasari.”
“Kami menyadari,” sahut Pangeran Indrasunu, “karena itu kami tidak berbuat apa-apa sekarang ini. Yang ada di dalam diri kami barulah angan-angan, keinginan dan gambaran dari satu masa yang menurut penilaian kami cukup baik dan berarti. Justru karena kami merasa kekecilan kami, maka kami telah datang kemari. Karena sebenarnyalah kami tahu, Pakuwon ini adalah Pakuwon yang besar dan tidak lebih buruk keadaannya dengan Tumapel.”
Akuwu Suwelatama tertawa semakin keras. Katanya, “Seolah-olah kalian pernah melihat Pakuwon Tumapel pada masa Akuwu Tunggul Ametung yang dibunuh oleh Ken Arok yang kemudian memperisterikan Ken Dedes setelah ia berhasil mengelabui para Senopati dengan menuduh Kebo Ijo sebagai pembunuhnya.”
“Tetapi kami mempunyai kemampuan berangan-angan.” jawab Pangeran Indrasunu.
Akuwu Suwelatama mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Aku memang tidak dapat menyembunyikan sikapku, sehingga adikku dapat mengetahui. Namun aku sudah berusaha untuk menyingkir sehingga ketidakpuasan itu tidak akan berkembang. Tetapi ternyata bahwa keadaan tidak menjadi semakin baik, tetapi justru menjadi semakin buruk. Tentu saja bagi Kediri dan tatanan kehidupannya. Mungkin dalam hubungan lahiriah keadaan bertambah baik. Banyak orang yang sudah mulai merasa betapa mereka hidup tenang dan sejahtera. Namun ada segi-segi yang perlahan-lahan akan runtuh di Kediri dan di Singasari sendiri. Namun sejarah pertumbuhan Kediri berbeda dengan pertumbuhan Singasari.”
“Jadi bagaimana menurut kakangmas?” bertanya Pangeran bertubuh kecil.
“Jangan menyudutkan aku mengambil sikap dengan tergesa-gesa seperti anak-anak yang masih muda. Aku harus berpikir dan membuat perhitungan. Meskipun pada dasarnya kau tahu sikap hatiku, tetapi aku tidak akan dapat mengorbankan banyak hal yang ada di sekitarku, terutama yang berujud kewadagan.” berkata akuwu itu. Lalu, “Karena itu, aku akan mendengarkan keluhanmu, sikap hatimu dan angan-anganmu bagi masa depan. Aku akan membuat pertimbangan-pertimbangan tertentu sesuai dengan keadaanku sekarang.”
“Kami sudah melihat betapa besar dan kuatnya Pakuwon ini.” jawab adiknya.
Akuwu Suwelatama tersenyum. Ditepuknya bahu adiknya sambil berkata, “Kau puji aku seperti kau memuji anak-anak. Tetapi aku berterima kasih juga kepadamu.”
Adiknya yang bertubuh kecil itu pun tersenyum. Namun dalam pada itu Pangeran Indrasunu berkata, “Segalanya tergantung kepada kebijaksanaan Akuwu Suwelatama. Kami tidak akan berarti apa-apa. Betapapun kami berusaha, semuanya itu tidak lebih dari sebuah permainan yang buruk.”
“Kalian memang aneh-aneh,” sahut Akuwu Suwelatama, “belajarlah pada pengalaman. Pujian-pujian tidak akan mendorong seseorang yang cukup dewasa untuk membenarkan sikap yang kalian kehendaki. Kecuali kalian dapat meyakinkan kebenaran dari jalan pikiran kalian. Itu saja.”
Pangeran Indrasunu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian menundukkan kepalanya.
“Baiklah.” berkata Akuwu Suwelatama, “Kita masih akan berbicara lagi. Tetapi ketahuilah, bahwa kemenangan Ken Arok atas Kediri pada waktu itu, adalah karena ketidakmampuan orang-orang Kediri sendiri mengurus pemerintahan. Perbedaan pendapat antara kaum Brahmana dan Kesatria adalah sumber dari keruntuhannya. Ken Arok yang cerdik dan licik itu berhasil memanfaatkan keadaan ini. Jangan kau kira, bahwa karena kebesaran Akuwu Tumapel itu sajalah unsur kemenangan Tumapel atas Kediri.”
Keempat Pangeran yang masih muda itu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata yang di bayangkan tidak semudah itu untuk dilaksanakannya.
Namun demikian, Pangeran Suwelatama tidak mengecewakan keempat Pangeran itu. Meskipun tidak jelas, Akuwu itu bersedia untuk membantu mereka, agar tata kehidupan di Kediri dan Singasari dapat berubah sebagaimana seharusnya.
“Di samping itu aku akan membina Pakuwon ini,” berkata Akuwu Suwelatama, “tetapi aku tentu tidak akan dapat berbuat tergesa-gesa seperti kalian. Aku akan membuat perhitungan yang cermat. Aku akan melangkah jika kau sudah yakin.”
Keempat Pangeran itu mengangguk-angguk. Namun adiknya yang bertubuh kecil itu masih sempat bertanya, “Kapan kita akan mendapat ketetapan, apa yang akan kakangmas lakukan? Dan barangkali kapan kakangmas akan mulai?”
“Aku akan memberitahukan semuanya kepada kalian,” jawab Akuwu Suwelatama, “tetapi sementara ini kalian jangan berbuat apa-apa. Jika kalian salah langkah, maka kalian akan terjerumus ke dalam kesulitan.”
“Baiklah,” jawab Pangeran Indrasunu, “kami tidak akan berbuat apa-apa selain bersiap-siap menghadapi masa itu. Masa yang akan memutar kembali jalannya sejarah Kediri yang buram ini.”
“Ah,” desah Pangeran Suwelatama, “kita tidak tergesa-gesa. Kita harus berpikir masak-masak. Dengan demikian kita akan mampu mencapai cita-cita itu.”
Keempat Pangeran yang masih muda itu sama sekali tidak dapat memaksa Akuwu Suwelatama. Ternyata bahwa Akuwu Suwelatama tidak secepat mereka mengambil keputusan.
“Orang-orang tua selalu lamban.” desis Pangeran yang bertubuh kecil itu ketika mereka duduk berempat di serambi istana Akuwu Suwelatama.
“Akuwu Suwelatama belum termasuk tua. Ia masih termasuk muda dalam usia.” jawab Pangeran Indrasunu.
“Tetapi kita harus menghargai pikirannya,” berkata Pangeran yang seorang lagi, “kita memang tidak boleh tergesa-gesa.”
“Tetapi juga tidak tanpa batas.” sahut yang lain.
“Kita akan menunggu,” berkata Pangeran indrasunu, “mungkin sampai kita menjadi tua. Tetapi mungkin juga Akuwu Suwelatama bekerja lebih cepat dari yang kita duga.”
Dalam pada itu, keempat Pangeran itu pun merasa tidak perlu lagi berada di Pakuwon itu lebih lama lagi. Mereka pun segera minta diri, sehingga di Kediri mereka akan dapat mempersiapkan para pengikut masing-masing.
“Kalian dapat tinggal di sini lebih lama lagi.” Akuwu Suwelatama berusaha mencegah mereka.
Tetapi keempat Pangeran itu tidak betah lagi tinggal di Pakuwon itu oleh gejolak darah mereka. Seolah-olah mereka terpanggil untuk segera pulang kembali dan dengan pengorbanan apapun juga, berusaha menyelamatkan Kediri dari kehancuran yang lebih dalam.
Sepeninggal keempat Pangeran itu, Akuwu Suwelatama justru menjadi sangat prihatin. Ia menjadi bingung menanggapi sikap anak-anak muda itu. Rasa-rasanya mereka sajalah yang mempunyai pandangan dan sikap yang paling benar dan tepat. Adalah wajar bahwa jiwa anak-anak muda itu masih saja meledak-ledak. Tetapi tentu harus pada sasaran yang tepat dan menguntungkan.
Dalam kegelisahan itu, maka Akuwu Suwelatama berniat untuk mendapatkan keterangan lebih lengkap dari yang didengarnya dari keempat Pangeran itu. Maka yang paling baik dilakukan menurut pertimbangannya adalah menghubungi guru Pangeran Indrasunu sebelum Pangeran Indrasunu sendiri melakukannya, dan barangkali Indrasunu akan menyebut-nyebut dirinya dengan sikap yang keliru.
Karena itu, maka Akuwu Suwelatama pun memutuskan untuk segera berangkat di keesokan harinya. Bersama beberapa orang pengawalnya, ia pun telah pergi ke padepokan Wasi Sambuja yang menurut Pangeran Indrasunu telah mengalami cidera pula di Singasari karena ia harus berhadapan dengan seorang yang bernama Witantra.
Jarak yang harus ditempuh oleh Akuwu Suwelatama bukan jarak yang dekat. Tetapi karena persoalan yang akan dibicarakannya pun merupakan persoalan yang penting dan akan dapat berpengaruh bukan saja bagi Kediri, tetapi juga ketenangan pemerintahan Singasari, maka Akuwu Suwelatama menganggap perlu untuk pergi sendiri menemuinya. Ia merasa segan untuk memerintahkan para Senopatinya datang memanggil Wasi Sambuja.
Namun sebenarnyalah Akuwu Suwelatama adalah seorang yang memiliki banyak kelebihan. Perjalanan yang betapapun beratnya pernah dilakukannya. Apalagi pada masa mudanya. Ia adalah seorang petualang yang menjelajahi lembah dan pegunungan.
Kedatangannya di padepokan Wasi Sambuja telah mengejutkan orang tua itu. Wasi Sambuja masih selalu berada di sanggarnya untuk memulihkan tubuhnya. Benturan Ilmu yang terjadi antara dirinya dengan Witantra, telah melukai bagian dalam tubuhnya, sehingga ia harus berbuat sebaik-baiknya untuk menyembuhkannya.
Dengan hati yang berdebar-debar, maka Wasi Sambuja yang mendapat kabar kedatangan Akuwu Suwelatama dari seorang cantriknya menjadi heran. Adalah satu hal yang aneh, bahwa Akuwu Suwelatama dan sebuah Pakuwon yang jauh telah datang menemuinya di padepokannya.
“Dalam hubungan apa maka ia datang kemari?” bertanya Wasi Sambuja di dalam hatinya.
Bahkan ia pun kemudian merasa cemas, bahwa kedatangan Akuwu Suwelatama telah mengemban perintah, apakah dari Kediri atau dari Singasari untuk menangkapnya, karena Pangeran Wirapaksi dapat menarik kesimpulan, bahwa ia sudah memberontak melawan kekuasaan Singasari di Kediri.
Namun akhirnya Wasi Sambuja berhasil menenangkan dirinya. Ia sudah mengenal Akuwu Suwelatama meskipun belum terlalu akrab.
Demikianlah, setelah membenahi diri, maka Wasi Sambuja yang masih belum pulih itu pun keluar dari sanggarnya. Keadaan tubuhnya itu pun menjadi pertimbangannya. Jika ia terpaksa melindungi dirinya, maka ia tidak sedang berada pada puncak kekuatannya. Apalagi ia tahu benar, bahwa Akuwu Suwelatama termasuk seorang Akuwu yang luar biasa yang telah meninggalkan Kota Raja Kediri untuk tinggal di sebuah Pakuwon.
Dengan berdebar-debar Wasi Sambuja kemudian menerima Akuwu Suwelatama yang telah menempuh perjalanan yang sangat jauh itu. Dengan tergesa-gesa para cantrik pun telah menyiapkan jamuan sekedarnya. Air hangat dan beberapa potong makanan.
Setelah saling bertanya tentang keselamatan masing-masing, serta setelah Akuwu Suwelatama minum beberapa teguk, maka Wasi Sambuja pun kemudian bertanya dengan nada rendah, “Kedatangan Pangeran telah mengejutkan kami yang tinggal di padepokan ini.”
Pangeran Suwelatama tersenyum. Kemudian katanya, “Paman Wasi Sambuja, sebenarnyalah kedatanganku ini membawa masalah yang aku anggap penting.”
Wasi Sambuja mengerutkan keningnya. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia bertanya, “Pangeran membuat aku menjadi berdebar-debar.”
Pangeran Suwelatama pun mulai menyentuh kepentingannya datang ke padepokan itu. Namun demikian ia berusaha untuk menyampaikannya dengan hati-hati, “ Paman. Bukankah adimas Pangeran Indrasunu itu murid dari perguruan ini?”
Wasi Sambuja mengangguk-angguk. Jawabnya, “Benar, Pangeran. Pangeran Indrasunu adalah salah seorang dari muridku di padepokan ini.”
Pangeran Suwelatama mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Pangeran Indrasunu telah datang ke Pakuwon. Ia sudah mengatakan segala yang dialaminya di Singasari. Adimas Indrasunu juga berceritera tentang perang tanding terbatas di halaman Pangeran Wirapaksi.”
Wasi Sambuja mengangguk-angguk. Kemudian dengan nada dalam ia berkata, “Aku memang sudah merasa, bahwa dengan tindakanku itu aku akan dapat dikenakan tuduhan, bahwa aku sudah melawan pemerintahan Singasari.”
“Tidak,” Pangeran Suwelatama menyahut, “masalahnya bukan itu. Tetapi yang kemudian berkembang benar-benar mengarah ke sikap itu.”
Wasi Sambuja menjadi bingung. Kemudian dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah maksud Pangeran?”
Pangeran Suwelatama pun kemudian mengatakan maksud kedatangan Pangeran Indrasunu dengan ketiga orang Pangeran yang lain, termasuk adiknya sendiri.
Wasi Sambuja termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Pangeran Indrasunu memang seorang yang keras hati. Aku pun telah ikut bersalah, bahwa selama ini aku selalu membesarkan hatinya. Aku telah dicengkam oleh satu kebanggaan bahwa aku telah diangkat menjadi seorang guru bagi seorang Pangeran.”
“Kedatanganku ini paman,” berkata Pangeran Suwelatama, “aku ingin mendapat penjelasan langsung dari paman Wasi Sambuja, guru adimas Pangeran Indrasunu, bagaimanakah pendapat paman tentang niat adimas Indrasunu dan saudara-saudara sepupunya itu.”
“Pangeran,” jawab Wasi Sambuja, “sebenarnyalah bahwa Pangeran Wirapaksi pun menjadi sangat kecewa atas tingkah laku adik iparnya. Bahkan aku sendiri pun telah mendapat tanggapan yang kurang baik dari Pangeran Wirapaksi. Aku menyangka, bahwa kedatangan Pangeran kali ini adalah karena Pangeran menjalankan tugas untuk menangkap aku.”
“Aku ingin pendapatmu, paman,” berkata Pangeran Suwelatama, “katakan dengan jujur, bagaimana pertimbanganmu.”
Wasi Sambuja menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Sudah aku katakan Pangeran, bahwa aku telah memanjakannya, justru karena aku menganggap bahwa kedudukanku memberikan nilai yang tinggi bagi padepokan ini. Baru pada saat terakhir aku menyadari, bahwa langkahku telah keliru. Dan aku menyesal karenanya.”
“Jadi paman dapat mengerti jalan pikiran Pangeran Wirapaksi?” bertanya Akuwu Suwelatama.
“Aku mengerti,” jawab Wasi Sambuja, “aku justru menjadi menyesal, bahwa aku telah berbuat aneh-aneh di Singasari.”
Pangeran Suwelatama mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, kita sependapat. Aku yakin bahwa pada suatu saat, adimas Pangeran Indrasunu tentu akan dapat kemari untuk menyampaikan niatnya dan sudah barang tentu akan minta kepada gurunya untuk membantunya. Tentu demikian pula dengan Pangeran-pangeran yang lain. Tetapi menurut perhitunganku, Pangeran Indrasunu-lah yang akan menjadi penggeraknya, karena ialah yang telah dikecewakan oleh sikap orang-orang Singasari. Karena itulah, maka aku telah datang kemari.”
“Apakah maksud Pangeran yang sebenarnya? Aku ingin Pangeran mengatakan dengan bahasa yang jelas dan pasti.” bertanya Wasi Sambuja.
“Aku menolak pikiran anak-anak muda cupet budinya itu,” jawab Akuwu Suwelatama, “menurut pikiranku, jika ada hal yang tidak memenuhi selera mereka, sebaiknya dikaji lebih dahulu, apakah yang terjadi itu akan merusak nilai-nilai kehidupan dalam arti sebenarnya. Sebab perubahan-perubahan lahiriah belum tentu berarti pula perubahan-perubahan yang mendalam sampai kepada sikap jiwani. Sebaliknya, unsur-unsur lahiriah yang nampak masih tetap pada ujudnya, belum tentu tidak membawa perubahan yang justru mendasar. Apalagi bahwa yang sebenarnya dilakukannya adalah sekedar kekecewaan pribadi semata-mata.” Akuwu Suwelatama berhenti sejenak, lalu, “Tetapi sebaliknya, aku menghargai sikap anak-anak muda yang tidak gentar melihat pembaharuan namun yang masih tetap berakar kepada alas jiwa kita.”
Wasi Sambuja mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat dengan Pangeran. Aku menyesali, apa yang selama ini telah aku lakukan. Aku akan mencoba memberikan nasehat kepada Pangeran Indrasunu apabila ia datang kepadaku. Tetapi Pangeran itu pun tentu menjadi kecewa, justru karena aku tidak berhasil memenuhi keinginannya ketika ia berada di Singasari.”
“Terima kasih.” berkata Pangeran Suwelatama. Namun kemudian katanya, “Tetapi paman, kita tidak akan dapat dengan sertamerta menolak. Aku pun tidak berani mengatakan kepada anak-anak itu langsung pada saat jiwa mereka sedang bergejolak. Aku mencoba mencari sandaran yang kemudian dengan perlahan-lahan dapat mengarahkan pikiran mereka. Aku sadar, jika mereka kecewa, maka mereka akan dapat melakukan sesuatu yang sangat mengejutkan. Karena itu, aku ingin mencari jalan yang paling baik untuk memperingatkan agar mereka tidak melakukan sesuatu yang tidak akan bermanfaat. Baik bagi mereka sendiri, apalagi bagi orang banyak.”
Wasi Sambuja mengangguk-angguk. Katanya, “Aku merasa semakin bersalah. Baiklah. Aku akan berusaha, Pangeran.”
“Ketika anak-anak itu menyampaikan maksudnya kepadaku, maka aku menunjukkan sikap yang nampak ragu, justru untuk mencegah agar mereka tidak segera mengambil sikap.” berkata Pangeran Suwelatama, “Dengan demikian, aku sempat memikirkan apa yang sebaiknya aku lakukan.”
“Ya, Pangeran.” desis Wasi Sambuja.
“Seolah-olah kita sedang menghadapi anak-anak yang bermain-main dengan pisau. Kita tahu, bahwa hal itu berbahaya. Tetapi jika kami memaksa untuk mengambil pisau itu, anak itu tentu akan menangis.”
“Jadi?” bertanya Wasi Sambuja.
“Kita akan mengambilnya, namun sementara itu kita harus mempersiapkan permainan yang lain, yang dapat memberinya kepuasan seperti mereka bermain-main dengan pisau, namun yang dapat memberikan manfaat kepada mereka.”
Wasi Sambuja menarik nafas dalam-dalam. Namun sebelum ia berkata sesuatu, Pangeran Suwelatama telah mendahuluinya, “Mengucapkannya memang jauh lebih mudah daripada melakukannya.”
Wasi Sambuja mengangguk-angguk. Namun katanya, “Tetapi kita harus mencobanya. Dan aku juga akan mencobanya.”
“Terima kasih,” sahut Pangeran Suwelatama, “agaknya kedatanganku ke padepokan ini tidak sia-sia.”
Ternyata keduanya mendapat kesepakatan sikap. Karena itu, maka mereka berharap, bahwa Pangeran Indrasunu dengan ketiga orang saudaranya itu tidak akan terperosok ke dalam sikap yang kurang sewajarnya.
Dalam pada itu, setelah bermalam semalam di padepokan itu, maka di keesokan harinya Akuwu Suwelatama-pun minta diri. Diiringi oleh para pengawalnya, ia pun kembali ke Pakuwonnya. Namun ia sudah mendapatkan bekal yang lebih mantap atas sikapnya.
Namun Akuwu Suwelatama masih belum berniat menyampaikan persoalan itu kepada para pemimpin di Kediri. Ia masih berusaha untuk mencari jalan keluar. Jika hal itu didengar oleh para pemimpin di Kediri, apalagi Singasari, maka mereka akan mengambil sikap yang lebih keras, yang belum tentu akan dapat menyelesaikan persoalan dengan baik dan tanpa mengorbankan pihak yang manapun juga.
Yang dapat dilakukan oleh Akuwu Suwelatama justru menunggu, bahwa pada suatu saat, Pangeran-pangeran muda itu akan datang kepadanya, dengan pikiran-pikiran yang tentu sudah berkembang.
Dalam pada itu, ternyata keempat Pangeran itu menganggap bahwa Akuwu Suwelatama tentu akan membantu mereka. Jika masih ada persoalan yang terasa belum mapan, segera akan dapat mereka bicarakan sehingga segalanya akan berjalan dengan rancak.
“Kita harus bersiap-siap,” berkata Pangeran Indrasunu, “kita tidak dapat menunda terlalu lama. Kita harus bertindak cepat pada saat peradaban Kediri masih belum runtuh sama sekali.”
“Ya,” jawab Pangeran bertubuh kecil, “ternyata bahwa kakangmas Suwelatama dapat mengerti pikiran kita.”
“Ia masih muda seperti kita. Umurnya hanya terpaut beberapa tahun saja. Tugasnya sebagai Akuwu membuatnya seperti orang yang sudah jauh lebih tua dari umurnya yang sebenarnya.” berkata Pangeran yang lain.
Anggapan itu telah menjadi alas sikap dan tindakan para Pangeran yang masih belum sempat melihat dunia dengan dewasa. Sementara itu, mereka telah mulai dengan latihan-latihan atas para pengikut mereka masing-masing. Beberapa orang pengawal yang setia dan janji-janji yang mempesona.
“Aku akan menemui guru.” berkata Pangeran Indrasunu pada suatu saat.
“Aku juga.” desis Pangeran yang bertubuh kecil.
Demikian pula saudara-saudaranya. Mereka menganggap bahwa guru mereka masing-masing tentu akan bersedia membantu mereka dalam keadaan yang menurut mereka, sangat gawat.
Di hari berikutnya, Pangeran Indrasunu telah pergi kepadepokan Wasi Sambuja. Dengan penuh harapan ia berniat untuk menghimpun kekuatan di padepokannya bersama para pengawalnya yang sudah lebih dahulu disiapkan.
Kedatangan Pangeran Indrasunu ke padepokan itu memang sudah diperhitungkan oleh Wasi Sambuja seperti yang sebelumnya telah disebut-sebut oleh Akuwu Suwelatama. Namun dalam pada itu, Wasi Sambuja menerimanya seolah-olah ia masih belum mengetahui alasan kedatangan Pangeran Indrasunu.
“Guru,” berkata Pangeran Indrasunu, “tidak ada orang yang akan mendengarkan keluhanku selain guru.”
“Apa yang terjadi, Pangeran?” bertanya Wasi Sambuja, “Aku akan berusaha untuk membantu segalanya kesulitan yang terjadi atas Pangeran.”
“Terima kasih, guru.” jawab Pangeran Indrasunu, “Selama ini aku memang merasa bahwa guru selalu memenuhi keinginanku. Sampai pada persoalan yang terakhir yang terjadi di rumah kakangmas Wirapaksi, guru telah menunjukan betapa guru benar-benar berusaha untuk mengangkat martabatku.”
“Ya, ya, Pangeran. Pangeran adalah muridku. Adalah kewajibanku untuk berbuat apa saja bagi kebaikan Pangeran.” jawab Wasi Sambuja.
“Terima kasih, guru.” desis Pangeran Indrasunu.
Wasi Sambuja mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Tetapi Pangeran belum mengatakan, apa yang Pangeran inginkan.”
Pangeran Indrasunu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Guru. Agaknya memang sudah saatnya untuk berbuat sesuatu bagi Kediri.”
“Apa yang baik kita lakukan?” bertanya Wasi Sambuja.
Pangeran Indrasunu pun kemudian menceriterakan rencananya bersama ketiga Pangeran yang lain. Mereka bahkan telah menemui Pangeran Suwelatama yang lebih senang hidup di luar lingkungan istana dan Kota Raja.
Wasi Sambuja menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Pangeran Indrasunu berkata lebih lanjut, “Kakangmas Pangeran Suwelatama telah bersedia membantu kami. Sebagaimana telah terjadi, Tumapel mampu mengalahkan Kediri. Padahal kakangmas Suwelatama memiliki kelebihan dalam segala segi dari Ken Arok pada waktu itu.”
Wasi Sambuja memandang Pangeran Indrasunu sejenak. Kemudian katanya, “Tetapi yang perlu Pangeran ketahui, bahwa Singasari sekarang pun memiliki banyak kelebihan dari Kediri pada waktu itu. Apalagi Kediri pada waktu itu telah dilanda oleh perselisihan ke dalam yang tidak ada habisnya dari golongan-golongan yang ada. Masing-masing menganggap diri mereka, maksudku golongan mereka adalah golongan yang paling baik. Akhirnya benturan-benturan sikap yang tidak terkendali, telah membuat Kediri ringkih.”
“Sekarang kita menghadapi masalah yang serupa,” berkata Pangeran Indrasunu, “beberapa golongan di Singasari sedang berusaha untuk meruntuhkan peradaban. Bahkan juga di Kediri. Jika kakangmas Suwelatama bangkit untuk menegakkannya, maka rakyat Kediri dan Singasari tentu akan mendukungnya.”
“Pangeran,” berkata Wasi Sambuja, “segala tindakan, apalagi sesuatu yang besar dan mempunyai jangkauan yang luas dan panjang, harus dipikirkan masak-masak.”
“Tetapi aku sudah memikirkannya,” jawab Pangeran Indrasunu, “dan bukankah guru sudah berjanji untuk membantuku?”
“Benar, Pangeran,” jawab Wasi Sambuja, “aku akan selalu membantu Pangeran. Aku akan berbuat apa saja bagi kebaikan Pangeran seperti yang sudah aku katakan.”
“Jika demikian, kita akan segera dapat mulai, guru.” berkata Pangeran Indrasunu, “Kakangmas Suwelatama pun sudah siap.”
“Pangeran,” berkata Wasi Sambuja, “sebenarnyalah aku memang harus berbuat apa saja bagi kebaikan Pangeran. Jika perlu aku harus menunjukkan jalan yang harus Pangeran tempuh.”
“Bagus,” Pangeran Indrasunu hampir berteriak, “aku memang memerlukannya.”
“Bahkan aku harus berani mengatakan kepada Pangeran apa yang sebenarnya menurut pikiranku,” desis Wasi Sambuja, lalu, “aku mohon maaf, Pangeran, bahwa untuk kebaikan Pangeran, mungkin aku akan mengatakan yang lain dari keinginan Pangeran.”
Wajah Pangeran Indrasunu menjadi tegang. Namun ia masih menahan diri dan menunggu apa yang dikatakan oleh Wasi Sambuja selanjutnya.
“Pangeran,” berkata Wasi Sambuja, “aku sudah berusaha untuk menebus kekalahan Pangeran. Bahkan hampir saja merenggut nyawaku sendiri. Namun demikian, aku tidak berhasil. Adalah menjadi kewajiban kita, orang-orang yang mengembara di dunia olah kanuragan, untuk mengakui dengan jantan, kenyataan yang dihadapinya. Ternyata aku dapat dikalahkan oleh seseorang yang bernama Witantra itu.”
“Tetapi guru,” sahut Pangeran Indrasunu, “kita tidak akan turun lagi ke arena perang tanding. Kita akan turun ke dalam satu perjuangan untuk menegakkan kewibawaan Kediri. Dengan demikian kita tidak akan dituntut untuk maju ke arena perang tanding seperti yang sudah kita lakukan. Dalam hal yang demikian, maka di samping kemampuan seorang demi seorang, maka kekuatan pasukan pun akan ikut menentukan. Aku dan empat orang saudaraku, bahkan salah seorang di antara kami adalah Akuwu Suwelatama, telah bersepakat untuk bertempur. Bukan saja untuk melepaskan belenggu yang telah dipasang oleh Singasari sejak masa Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwa Bhumi, tetapi kami pun harus membersihkan Kediri dari orang-orang yang sudah kehilangan dirinya sendiri.”
“Tetapi, Pangeran,” berkata Wasi Sambuja, “apakah cara yang angger pilih itu sesuai untuk saat seperti sekarang ini?”
“Apakah ada cara yang lain?” bertanya Pangeran Indrasunu.
“Pangeran,” berkata Wasi Sambuja, “aku mohon maaf. Aku sudah berjanji untuk mengatakan yang paling baik bagi Pangeran. Karena itu, cobalah Pangeran menimbang, bahwa jika Pangeran melakukannya sekarang, maka orang-orang Singasari dan orang-orang Kediri itu akan mengatakan, bahwa yang Pangeran lakukan itu tidak lebih dari kekecewaan pribadi. Dengan demikian, maka yang akan Pangeran lakukan tidak akan mendapat dukungan rakyat Kediri apalagi Singasari.”
“Omong kosong,” jawab Pangeran Indrasunu, “yang terjadi itu hanyalah salah satu sebab. Tetapi sebab yang utama telah aku katakan.”
“Meskipun demikian, Pangeran, jika Pangeran sudi mendengarkan nasehatku, baik sebagai orang yang telah berumur lanjut, maupun sebagai guru Pangeran sendiri, sebaiknya Pangeran merenungkan niat Pangeran itu dua tiga kali lagi.”
“Sementara itu, peradaban yang ingin aku tegakkan sudah musna sama sekali.” potong Pangeran Indrasunu dengan sertamerta.
“Tidak, Pangeran. Pangeran tidak perlu tergesa-gesa mengambil keputusan. Sejak aku memasuki arena, aku sudah menolak untuk disebut memberontak terhadap kekuasaan Kediri dan apalagi Singasari.”
“Sedangkan yang akan kita lakukan sebenarnyalah, memberontak terhadap orang-orang yang sekarang berkuasa di Kediri dan Singasari.” potong Pangeran Indrasunu.
“Pangeran,” suara Wasi Sambuja merendah, “itulah yang aku cemaskan. Masalahnya sebenarnya dapat dibatasi. Tetapi Raden telah mengembangkannya sehingga masalahnya telah merambat ke masalah yang sangat besar.”
“Guru,” suara Pangeran Indrasunu meninggi, “kenapa tiba-tiba guru sudah berubah?”
“Maaf, Pangeran. Aku mulai menilai sikapku sendiri terhadap Pangeran,” jawab Wasi Sambuja, “nampaknya selama ini tindakanku keliru. Sekarang, meskipun sudah agak terlambat, aku merasa perlu untuk memperbaiki.”
“Jadi tegasnya guru menolak permintaanku?” bertanya Pangeran Indrasunu dengan nada keras.
“Permintaan yang sebenarnya telah aku penuhi. Yaitu mengatakan apa yang sebaiknya bagi Pangeran.” jawab Wasi Sambuja.
Wajah Pangeran Indrasunu menjadi semakin tegang. Dengan keras ia menegaskan, “Jadi guru tidak mau memberontak bersama kami, termasuk kakangmas Suwelatama?”
“Aku mohon maaf, Pangeran. Langkah itu adalah langkah yang keliru untuk saat ini.” jawab Wasi Sambuja.
“Baiklah,” Pangeran Indrasunu menggeram, “kakangmas Suwelatama tentu akan membuat perhitungan dengan guru. Guru sudah terlanjur mengetahui rencana kami sementara guru tidak sependapat dengan kami.”
“Jangan mengancam begitu, Pangeran,” jawab Wasi Sambuja, “meskipun aku mempunyai pendirian dan sikap tersendiri, tetapi aku bukan pengkhianat yang akan menimbulkan kekisruhan justru sebelum persoalan yang sebenarnya mulai.”
“Sekarang guru berkata demikian, tetapi siapa tahu, apa yang akan guru katakan besok.” geram Pangeran Indrasunu. “Baiklah. Aku akan menghadap Pangeran Suwelatama.”
“Pangeran,” desis Wasi Sambuja, “jika aku ingin berkhianat, maka alangkah mudahnya untuk melakuannya sekarang. Menangkap Pangeran dan melemparkan Pangeran ke hadapan Sri Maha Raja di Singasari. Apakah Pangeran menyangka bahwa aku tidak dapat menangkap Pangeran sekarang ini?”
Wajah Pangeran Indrasunu menjadi merah seperti bara. Tetapi ia tidak berani berbuat sesuatu. Jika gurunya benar-benar marah, maka ia akan dapat melakukan satu tindakan yang gawat baginya.
Karena itu, maka tiba-tiba saja ia pun telah minta diri untuk meninggalkan padepokan itu. Ternyata gurunya tidak menahannya dan apalagi menangkapnya.
Sejenak kemudian maka kudanya pun telah berderap. Kaki Pangeran Indrasunu menghentak-hentak perut kudanya, seakan-akan ia ingin melepaskan kemarahannya.
Sepeninggal Pangeran Indrasunu, Wasi Sambuja menarik nafas panjang. Ia pun turut merasa bersalah. Ia telah memanjakan anak muda itu, segala yang dikehendakinya, seakan-akan selalu dipenuhinya.
Tetapi permintaannya kali ini ternyata terlalu banyak.
Wasi Sambuja tidak dapat tinggal diam. Ia tahu, bahwa Pangeran Indrasunu tentu akan pergi ke Akuwu Suwelatama. Meskipun demikian, Wasi Sambuja tidak perlu mencemaskan lagi. Akuwu Suwelatama sudah menetukan sikapnya.
Dalam pada itu, Pangeran Indrasunu yang kembali ke Kediri telah menjumpai saudara-saudaranya. Dengan menyesal ia mengatakan kepada saudara-saudaranya, bahwa gurunya untuk sementara tidak dapat berbuat apa-apa. Keadaannya justru mengkhawatirkan.
“Guru luka di dalam.” berkata Pangeran Indrasunu.
“Tetapi apakah luka itu tidak akan sembuh?” bertanya Pangeran yang bertubuh kecil. .
“Tetapi kapan? Apalagi jika guru menjadi cacat.” jawab Pangeran Indrasunu.
Saudara-saudaranya mengangguk-angguk. Mereka percaya kepada keterangan Pangeran Indrasunu.
Sebenarnyalah bahwa Pangeran Indrasunu tidak dapat mengatakan bahwa gurunya telah menolak permintaannya. Dengan demikian maka para Pangeran itu akan menjadi kendor dan patah sehingga niatnya tidak akan terpenuhi.
“Tetapi jangan cemas,” berkata Pangeran yang bertubuh kecil, “bukankah kakangmas Suwelatama sudah menyatakan diri untuk melakukannya? Kita akan pergi kepadanya dan mengatakan segalanya.”
“Bagaimana dengan persiapan kita sendiri?” bertanya Pangeran yang lain.
“Pengawal-pengawalku sudah siap.” berkata Pangeran Indrasunu.
“Pengawal-pengawalku juga sudah siap meskipun tidak terlalu banyak.” berkata Pangeran yg lain. Namun katanya kemudian, “ Tetapi aku akan bertemu dengan guru. Jika guru bersedia membantuku, dengan mempersiapkan para cantrik dari padepokannya maka kekuatan kita akan berlipat.”
“Aku juga,” berkata Pangeran yang bertubuh kecil, “kecuali kakangmas Suwelatama, aku akan minta bantuan guru.”
Ternyata ketiga Pangeran yang lain itu pun masih akan menjumpai guru mereka masing-masing. Mereka akan merasa kuat untuk mulai dengan satu sikap yang akan dapat merubah keadaan Kediri untuk selanjutnya.”
Sebagaimana Wasi Sambuja, pada umumnya guru-guru para Pangeran muda itu juga memanjakan murid-muridnya.
Kecuali mereka berbangga bahwa mereka mempunyai murid seorang Pangeran, bukan saja karena derajad, tetapi pada umumnya mereka memberikan dana yang cukup banyak bagi guru-guru mereka. Uang, bahkan kadang-kadang barang-barang berharga, atau seekor kuda yang tegar.
Karena itu, maka ketiga orang guru dari ketiga orang Pangeran yang bersama Pangeran Indrasunu telah menentukan sikapnya itu dengan senang hati berusaha untuk membantu mereka apapun yang akan mereka lakukan.
“Kita harus bersiap, guru,” berkata Pangeran yang bertubuh kecil, “pada waktu dekat kita akan mulai. Kakangmas Suwelatama sudah siap untuk bertindak kapan saja kita kehendaki.”
“Baiklah. Kita akan mempersiapkan diri dalam waktu dekat. Pada umumnya para cantrik sudah mengusai ilmu kanuragan, sehingga kita akan dapat bergerak kapan saja.” berkata gurunya seorang yang telah melampaui umur pertengahan abad.
Namun dalam pada itu, keempat Pangeran itu masih merasa perlu untuk sekali lagi pergi kepada Pangeran Suwelatama di Pakuwonnya. Mereka berniat untuk merencanakan saat yang paling baik untuk mulai dengan satu tindakan yang nyata untuk merubah keadaan.
“Kita tidak perlu berkumpul di Pakuwon kakangmas Suwelatama.” berkata Pangeran yang bertubuh kecil, “Kita bergerak dari padepokan kita masing-masing. Sementara gerakan yang paling besar akan dimulai dan Pakuwon kakangmas Suwelatama.”
“Ya. Dengan demikian maka gerakan itu akan nampak terjadi di segara arah. Rakyat Kediri pun akan segera bangkit untuk mendukungnya terutama para bangsawan yang masih setia kepada leluhurnya. Pengaruh para bangsawan itu akan segera menjalar di kalangan para pengikut masing-masing. Para pengawal mereka dan orang-orang yang berhubungan dengan mereka. Dengan demikian maka api yang kita nyalakan, akan segera membakar seluruh Kediri. Jika rakyat Kediri sudah bertekad bulat, maka kekuatan apapun tidak akan dapat mencegahnya.”
“Bukan saja rakyat Kediri. Beberapa orang pemimpin Singasari yang setia akan peradaban kita pun akan membantu. Nah, di Singasari juga akan timbul perpecahan. Dengan demikian maka Singasari akan menjadi ringkih.”
Keempat Pangeran itu tertawa. Seolah-olah segalanya sudah berlangsung. Namun demikian, mereka tidak kehilangan kewaspadaan.
Dalam perjalanan ke Pakuwon Pangeran Suwelatama, mereka sudah merencanakan, selain gerakan nyata dengan kekuatan, mereka pun harus meyakinkan beberapa pihak, bahwa perjuangan mereka adalah benar. Kediri pada dasarnya bukan bagian dari Singasari. Selebihnya, mereka harus merombak tata kehidupan yang goyah di Kediri dan Singasari.
Dalam pada itu, mereka pun menjadi semakin lama semakin dekat dengan Pakuwon yang mereka tuju. Pakuwon Kabanaran yang dipimpin oleh Akuwu Suwelatama.
Demikian keempat Pangeran itu memasuki Pakuwon Kabanaran, maka jantung mereka menjadi berdebar-debar. Mereka melihat di beberapa tempat para pengawal sedang berlatih perang. Bahkan di alun-alun anak-anak bersorak-sorak di seputar gawar yang telah dipasang. Beberapa orang pengawal sedang mengadakan sodoran. Mereka menunggang kuda sambil membawa tongkat panjang yang berujung bulat dan diperlunak dengan kain. Dengan senjata tongkat itu mereka saling menyerang dan berusaha menjatuhkan lawannya dari punggung kudanya.
Keempat Pangeran itu berhenti sejenak. Pangeran Indrasunu yang turun dari kudanya telah mendekati seorang anak muda yang sedang menonton sodoran itu.
“Apakah mereka melakukannya setiap hari?” bertanya Pangeran Indrasunu.
“Tidak setiap hari. Tetapi setiap tiga hari sekali sejak beberapa saat yang lampau.” jawab anak muda itu.
“Dan pengawal yang berlatih di beberapa tempat itu?” bertanya Pangeran Indrasunu pula.
“Ya. Sebagaimana dilakukan oleh para pengawal yang sedang mengadakan sodoran itu.” jawab anak muda itu.
Pangeran Indrasunu mengangguk-angguk. Ketika ia kembali kepada ketiga Pangeran yang lain, maka ia berdesis, “Ternyata kakangmas Suwelatama sudah memulainya. Para pengawal sudah digerakkan untuk berlatih perang.”
Pangeran yang bertubuh kecil tertawa. Katanya, “Kakangmas memang seorang yang bertindak cepat. Tidak ragu-ragu dan memperhitungkan waktu sebaik-baiknya.”
Keempat orang Pangeran itu pun kemudian dengan tergesa-gesa melanjutkan perjalanan, menuju ke istana Akuwu Suwelatama. Hati mereka rasa-rasanya menjadi mekar melihat persiapan di Pakuwon itu.
Demikian mereka memasuki regol istana Akuwu Suwelatama, mereka pun segera disambut oleh pengawal yang bertugas di halaman. Para pengawal itu menerima kuda-kuda mereka dan mempersilahkan mereka naik ke pendapa, sementara yang lain telah memberitahukan kehadiran keempat Pangeran itu.
Keempat Pangeran itu pun kemudian telah dipersilahkan untuk masuk ke bangsal dalam. Akuwu Suwelatama telah menerima mereka di bangsal dalam, sebagaimana Akuwu sering mengadakan pembicaraan dengan orang-orang terpenting di Pakuwonnya.
Setelah mengucapkan selamat datang, dan bertanya tentang keselamatan keluarga di Kediri, maka Akuwu itu pun mempersilahkan tamu-tamunya makan dan minum hidangan yang disuguhkan bagi mereka.
“Aku merasa senang kalian datang lagi ke Pakuwon yang sepi ini.” berkata Akuwu Suwelatama, “Aku ingin mempersilahkan kalian berada di sini lagi beberapa hari.”
“Kakangmas sudah mengadakan persiapan-persiapan sebaik-baiknya.” berkata adiknya, Pangeran yang bertubuh kecil.
Pangeran Suwelatama mengangguk-angguk. Katanya, “Kami memang sudah mengadakan latihan-latihan sekedarnya.”
“Terima kasih, kakangmas,” Pangeran Indrasunulah yang menyahut, “tetapi apakah kakangmas sudah mempunyai rencana waktu yang paling baik memulainya?”
“Mulai apa?” bertanya Pangeran Suwelatama.
Pangeran Indrasunu mengerutkan keningnya. Namun disangkanya Akuwu itu sedang bergurau. Karena itu, maka Pangeran Indrasunu justru bertanya, “Jadi apakah yang sedang kakangmas persiapkan?”
Pangeran Suwelatama tersenyum. Katanya, “Aku sedang mempersiapkan satu pameran kesiagaan para pengawal di Pakuwon ini. Aku ingin memperingati genap sepuluh tahun aku berkuasa di sini sebagai seorang Akuwu. Aku mulai pada saat aku masih sangat muda. Pada umur duapuluh tahun aku sudah menjadi Akuwu.”
Pangeran Indrasunu mengerutkan keningnya. Namun Pangeran Suwelatama meneruskan, “Daerah ini semula adalah daerah yang terkutuk. Tidak ada seorang pun yang bersedia memerintah daerah ini dengan cara apapun juga, karena daerah ini dikuasai oleh beberapa kelompok penjahat yang kuat.” Akuwu itu berhenti sejenak. Lalu katanya kepada adiknya, “He, bukankah kau masih ingat apa yang pernah terjadi sepuluh tahun yang lalu? Aku membawa sepasukan pengawal dari Kediri. Aku telah memilih sekelompok pengawal yang menyatakan itu, aku berhasil membersihkan daerah ini. Aku menangkap tiga orang gegedugnya dan membunuh dua di antara mereka. Akhirnya daerah ini menjadi aman, dan aku diberi wewenang untuk mendirikan Pakuwon di sini.”
Pangeran Indrasunu dan ketiga orang Pangeran yang lain termangu-mangu sejenak. Dengan nada rendah Pangeran Indrasunu bertanya, “Apakah maksud kakangmas, latihan-latihan itu diselenggarakan sekedar untuk menunjukkan ketrampilan dalam peringatan tahun kesepuluh itu?”
“Ya. Kami, para pemimpin di Pakuwon ini ingin mengenang kembali hari-hari yang penuh dengan ketegangan itu. Tetapi dengan kebanggaan di hati, bahwa kami masih tetap kuat sampai saat ini. Apalagi pada akhir-akhir ini mulai terdengar lagi kelompok-kelompok penjahat yang mencoba menjamah Pakuwon ini, meskipun asalnya dari daerah di luar Pakuwon ini.” jawab Akuwu Suwelatama, “Karena itu, kami wajib memperingatkan agar mereka menyadari bahwa Pakuwon ini adalah Pakuwon yang kuat.”
Keempat Pangeran itu saling berpandangan. Dalam pada itu Pangeran Indrasunu pun bertanya dengan ragu-ragu, “Jadi, bukankah kakangmas juga sekaligus mempersiapkan diri menghadapi rencana yang sudah kita susun?”
“Rencana yang mana?” bertanya Akuwu Suwelatama.
Keempat Pangeran itu menjadi bingung. Apalagi ketika mereka mendapat kesan bahwa Akuwu itu benar-benar tidak tahu rencana yang mereka maksudkan.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar