02
Suatu Malam di Musselburg
Kawasan Stoneyhill yang berbukit-bukit itu berada di bagian selatan Kota Musselburgh. Terletak di sebelah barat Sungai Esk yang terkenal. Adapun Musselburgh adalah kota kuno yang didirikan di hilir sungai Esk itu oleh bangsa Romawi tatkala menginjakkan kaki di Tanah Skotlandia pada tahun 80-an Masehi.
Kota kecil yang mendapat. julukan "The Honest Town" atau "Kota Jujur" ini menghampar tepat disebelah timur Edinburgh. Jaraknya tak lebih dari enam mil atau sepuluh kilometer.
Waktu yang diperlukan Fahri sejak membuka pintu mobil di depan rumahnya, hingga tiba di pelataran kampus The University of Edinburgh tak lebih dari dua puluh lima menit, Itu dalam kondisi normal, tidak macet. Secara umum kawasan Stoneyhill mencerminkan kerapian, ketenangan dan kenyamanan. Daerah itu bukan tempatnya para elite Edinburgh atau elite Musselburgh tinggal. Namun itu juga bukan tempat yang bisa dikatakan sangat sederhana untuk ditinggali.
Ada banyak kompleks di kawasan Stoneyhill, dan Fahri memilih membeli rumah di Stoneyhill Grove, karena ia merasa bahwa sebuah kompleks yang hanya berisi sebelas rumah itu lebih tenang.
Kompleks itu berbentuk L. sehingga hanya ada satu pintu masuk dan keluar, meskipun tidak ada pagar gerbangnya. Pintu masuk kompleks itu ada di selatan. Jalan kompleks memanjang dari selatan ke utara lalu belok ke barat.
Posisi rumah Fahri berada dipojok tepat di tekukan huruf L. Rumah itu menghadap ke selatan. Itu adalah rumah paling besar untuk tipe dan ukuran tanahnya. Sebagian rumahnya menghadap ke gerbang masuk kompleks itu. Sebelah kanannya adalah rumah Keira dan keluarganya.
Rumah Keira bercat cokelat muda. Sebuah rumah mungil berada di pojok tekukan L tepat di depan rumah Keira adalah rumah yang ditempati seorang perempuan muda bernama Brenda. Itu satu-satunya rumah yang berada
dalam posisi hook.
Tetangga terdekat Fahri lainnya ada Nenek Catarina yang menempati rumah persis di depan rumah Fahri, di sebelah timur jalan kompleks berhadapan dengan rumah Brenda.
Dua rumah di bibir pintu masuk kompleks adalah rumah keluarga Danson dan Macnee. Lima keluarga lainnya penghuni kompleks
itu adalah keluarga Swinson, Foster, Harlow, Smith dan Ferguson.
Bentuk rumah itu nyaris seirama, meskipun tidak sama persis karena sudah ada yang direnovasi dan dimodifikasi. Namun untuk sebuah keindahan, seolah-olah masing-masing rumah bisa menjaga diri untuk menyesuaikan bentuk dan warna. Warna yang cenderung dipilih adalah cokelat dan putih. Itu adalah warna awal rumah-rumah di situ saat berdiri.
Setiap rumah memiliki atas segitiga dan cerobong asap berbentuk kotak. Dan semuanya berlantai dua. Hanya tipenya ada yang besar, sedang, dan kecil.
Rumah Fahri adalah satu -satunya tipe paling besar di kompleks itu. Garasinya juga paling besar. Taman di belakang dan samping rumahnya paling lebar.
Kompleks itu berada diatas bukit. Di belakang rumah Fahri adalah lembah. Dan lembah itu telah juga menjadi perumahan yang teratur indah. Maka dari lantai dua rumah Fahri, selain bisa menikmati taman pribadi dibelakang rumah, juga bisa melihat panorama lembah Stoneyhill yang sedap dipandang.
Panoramanya adalah desain arsitek yang tampak modern dan simpel. Sangat jauh dibandingkan panorama Kota Edinburgh dilihat dari atas Edinburgh Castle yang terasa kuno, sangat artistik dan tampak rumit ukiran-ukiran bangunannya.
Dari rumah Fahri tampak dua lantai. Namun sesungguhnya tiga lantai. Sebab di bawah lantai pertama ada basement selebar bangunan rumah itu. Basement itu memiliki pintu dan jendela ketaman belakang. Jika dari taman belakang, tampak betul itu rumah tiga lantai. Di lantai satu ada ruang tamu yang menyatu dengan ruang makan dan dapur. Ada satu kamar mandi. Serta dua kamar tidur berukuran sedang. Paman Hulusi menempati salah satu kamar itu.
Di lantai atas ada kamar utama dengan kamar mandi di dalam. Kamar tidur anak. Dan ruang santai yang dilengkapi toilet. Lantai atas itu sepenuhnya digunakan oleh Fahri. Ruang santai ia gunakan juga sebagai ruang kerja dan perpustakaan pribadi. Lantai paling bawah adalah basement yang untuk sementara hanya
difungsikan sebagai gudang, tempat mesin cuci dan mesin pemanas ruangan.
Sebenarnya di gudang itu ada kamar yang tidak dipakai, juga ada toilet lebih sederhana yang juga tidak dipakai.
Malam itu, Stoneyhill sempat kembali diguyur hujan. Walau hanya sebentar. Pukul sepuluh malam, hujan sudah reda. Jalan-jalan tampak basah. Udara dingin berhembus dari utara.
Stoneyhill Grove sangat lengang. Sebagian penduduknya telah terlelap dalam kamarnya yang berpenghangat. Fahri masih bekerja merampungkan editing hasil riset untuk postdoc-nya. Ia menargetkan malam itu harus
selesai. Sebenarnya ia masih memiliki waktu lima bulan untuk menyelesaikan risetnya.
Tetapi ia ingin segera selesai lebih cepat tanpa mengurangi kualitas dan bobotnya. Prinsipnya, jika bisa cepat berkualitas kenapa harus berlama-lama dan mengulur-ulur waktu.
Paman Hulusi naik ke tempat kerja Fahri.
"Hoca, sudah hampir jam dua belas. Sebaiknya Hoca istirahat, jaga kesehatan."
Fahri menghela nafasnya. Ia mengalihkan perhatiannya dari layar laptopnya ke wajah Paman Hulusi yang berdiri di dekat tangga.
Fahri memutar kursi kerjanya dan mengisyaratkan agar Paman Hulusi
mendekat dan duduk disofa dekat meja kerjanya. Paman Hulusi mendekat dan duduk.
"Paman, di Eropa, termasuk di Inggris ini, kita adalah minoritas. Undang-undang di sini memang tidak membeda-bedakan ras dan agama. Namun tetap saja bahwa penduduk asli sini yang berkulit putih dan yang beragama mayoritas mendapatkan kemudahan dan prioritas dalam banyak hal. Perempuan
Muslimah yang berjilbab bisa mencari kerja dan bekerja di Britania Raya ini. Tetapi, perempuan yang asli sini dan beragama mayoritas, lebih mudah diterima bekerja di sini.
Namun tetap masih ada kasus-kasus Muslim pendatang yang tidak semudah orang asli sini, meskipun sudah dapat permanent resident
atau pun warga negara sini."
"Maksud Hoca, apa menjelaskan hal itu? Apa hubungannya dengan Saran saya agar Hoca beristirahat?" Fahri tersenyum.
"Saya ingin paman dan seluruh saudara Muslim di sini memahami kondisi ini. Pekan lalu di Edinburgh Central Mosque, saya mendengar dua orang berbincang, satu orang bercerita anak perempuannya yang berjilbab tidak diterima kerja disebuah toko elektronik di Glasgow, sementara dua orang teman
perempuannya yang bule diterima. Padahal mereka sama-sama lulusan Glasgow University. Dari jurusan yang sama. Bahkan nilai akademis anak berjilbab itu lebih baik.
Ketika bagian HRD toko elekronik itu ditanya mengenai hal itu, ia hanya menjawab ada banyak pertimbangan dalam menerima karyawan."
"Kemarin saya menemukan data di internet yang diberitakan oleh BBC pada tanggal 16 Juni 2008, seorang gadis Muslimah berjilbab bernama Bushra Noah memenangkan gugatan sebesar 524,000 atas Sarah Dasrosiers yang melakukan diskriminasi agama, sebab menolak Bushra bekerja disalonnya di
King's Cross, Central London, hanya karena Bushra berjilbab."
"Secara undang-undang negara tidak boleh diskriminasi. Tetapi praktiknya tetap ada perlakuan diskriminasi bahkan intimidasi terhadap orang Islam, terutama setelah peristiwa 11 September 2001 dan bom London pada 7 Juli 2005."
"Paman, sekarang ini kita berada di dunia global. Ibaratnya, jarum yang jatuh di pinggir Kota Adana, kota kelahiran paman yang jauh di Turki sana, dalam hitungan beberapa detik telah terdengar sampai di London, Musselburgh ini, New York, bahkan terdengar sampai Jakarta, Indonesia. Hal-hal positif atau
negatif sekecil apa pun bisa tersebar ke mana-mana."
"Dan kita berada di tempat dimana profesionalitas dan kapabilitas masih cukup dihargai. Sarah Desrosiers itu tidak profesional, maka dia kalah di pengadilan. Titik ini yang seharusnya setiap Muslim memahaminya, sehingga tidak akan mudah berkeluh-kesah karena diskriminiasi, konspirasi dan sejenisnya."
"Cara melawan itu semua adalah dengan menunjukkan bahwa kita, umat Islam ini berkualitas. Bahkan harus lebih berkualitas dan lebih profesional dibanding orang-orang asli penduduk. Sudah menjadi naluri bahwa penduduk asli mandapatkan prioritas. Itu yang harus kita sadari. Maka kita harus
menunjukkan nilai lebih yang tidak dimiliki penduduk asli."
"Paman, inilah yang sedang saya lakukan. Sudah saya lakukan sejak saya mengambil doktor di Jerman.
Jika orang Jerman melakukan penelitian empat jam sehari, maka saya harus delapan jam. Di sini, jika riset untuk postdoc biasanya selesai dalam waktu dua tahun, maka saya harus bisa lebih cepat dari orang-orang pada umumnya, dengan kualitas yang lebih baik atau minimal sama. Masih ada waktu setengah tahun lagi bagi saya menyelesaikan riset, paman. Tetapi saya ingin malam ini selesai
dan besok sudah saya print dan saya serahkan kepada pihak kampus."
"Saya tidak muluk-muluk bisa menyampaikan keindahan Islam pada semua orang di Britania Raya yang salah paham kepada Islam. Tidak, paman. Saya tidak muluk-muluk. Cukuplah bahwa saya bisa menyampaikan akhlak Islam dan kualitas saya sebagai orang Islam kepada orang-orang yang sering berinteraksi dengan saya, jika saya bisa, itu saya sudah bahagia."
"Insya Allah dua jam lagi, kerja saya selesai, paman. Dan paman boleh istirahat, menunggui saya sampai selesai."
Paman Hulusi mengangguk dan memahami dengan apa yang disampaikan oleh majikan-nya itu.
"Mau kan Hoca saya buatkan teh, atau kopi sebelum saya istirahat?"
"Secangkir kopi boleh, paman."
"Kopi apa? Kopi Turki, Arab, atau Brasil?"
"Kopi Indonesia saja, paman. Itu Kopi Luwak yang bungkusnya kaleng hitam dari Indonesia."
"Baik, Hoca."
Paman Hulusi beranjak turun ke dapur. Fahri kembali tenggelam dalam kerjanya. Sepuluh menit kemudian Paman Hulusi mengantar secangkit kopi dan sepiring Oatcakes.
"Terima kasih paman" kata Fahri ketika Paman Hulusi meletakkan kopi dan Oatcakes itu diujung meja kerja Fahri.
"Kalau Hoca memerlukan saya, tidak apa saya dibangunkan saja."
"Iya, paman. Jangan lupa, baca doa dan Ayat Kursi sebelum tidur."
"Iya, Hoca."
Fahri menyeruput kopinya dan kembali bekerja. Setengah jam kemudian Fahri mendengar suara mobil menderu pelan di halaman. Fahri menyibak gorden jendela disebelah kirinya dan melihat keluar.
Itu mobil Tuan Ferguson lewat. Rumahnya ada di ujung barat Stoneyhill Grove. Tuan Ferguson kerja sebagai chef di sebuah restoran di hotel berbintang empat, The Scotsman Hotel Edinburgh. Mungkin giliran kerjanya sore hingga malam, sehingga ia sering pulang menjelang tengah malam.
Fahri kembali bekerja. Meneliti Maj-mu' Washaya karya Al-Allamah Habib Hasan bin Shaleh Al-Bahr, baginya adalah satu keberkahan. Ia merasa berada dihadapan ulama besar itu dan terus disirami nasihat dan dibersihkan hati dan jiwanya.
“Ketahuilah, himmah adalah wadah taufik. Kendarailah kuda himmah, niscaya kamu akan mencapai puncak cita-citamu. Mintalah pertolongan Allah dalam setiap langkahmu, maju maupun mundur.
Niscaya tidak akan sia-sia jerih payahmu dan akan tercapai cita-citamu. Lazim-kan sikap shidiq dan ikhlas, karena keduanya harus dimiliki oleh orang-orang yang memiliki keberhasilan dan keuntungan dalam perdagangan.”
Wasiat Habib Hasan Al-Bahr itu menggetarkan jiwanya. Sudah ia baca banyak buku-buku motivasi, tapi motivasi dari seorang ulama yang ikhlas hatinya dan arif billah terasa berbeda.
Wasiat dan motivasi ulama yang arif billah mengajak untuk menjangkau kesuksesan sejati yang resonansinya menjangkau akhirat.
Fahri lalu memberikan ta'liq, ia mengurai kata himmah, taufik, shidiq dan ikhlas secara panjang lebar dan detail. Fahri begitu menikmati risetnya itu. Mengeluarkan mutiara terpendam para ulama berupa manuskrip ke dalam karya yang akan diterbitkan dan dibaca serta dimanfaatkan oleh ribuan bahkan
jutaan umat manusia adalah sebuah kebahagiaan.
Jam setengah dua dini hari. Kedua mata Fahri sudah terasa berat. Secangkir kopi itu telah lama habis.
Masih tersisa tiga halaman. Ia nyaris menyerah. Tapi kembali teringat cambuk Wasiat Habib Hasan AlBahr, "Kendarailah kuda himmah, niscaya kamu akan mencapai puncak cita-citamu.!"
"Tidak boleh menyerah, harus dituntaskan malam ini! " Gumamnya sambil bangkit dari duduknya menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Terasa lebih segar. Ia lalu kembali ke laptopnya untuk menyelesaikan karya ilmiahnya.
Jam dua kurang lima menit, ia mengucapkan hamdalah. Selesai sudah editing itu. Ia memastikan file-nya telah tersimpan dengan baik, lalu mematikan laptopnya. Ia lalu shalat dua rakaat dan shalat witir sebelum bersiap tidur.
Ketika ia salam dari shalat witirnya, ia mendengar deru mobil di halaman. Lalu suara pintu mobil dibanting agak keras. Sejurus kemudian terdengar suara laki-laki mengumpat-umpat dengan aksen Skotlandia yang terdengar seperti orang berkumur-kumur.
Fahri bangkit menyibak gorden jendela, ingin tahu apa yang terjadi. Tenyata lelaki gendut sopir taksi tampak membangunkan penumpangnya yang teler dijok belakang.
Lelaki gendut itu marah-marah. sebab penumpangnya tidak juga bangun. Mungkin mabuk berat. Fahri jadi penasaran siapa
penumpangnya itu. Sopir taksi itu lalu menyeret paksa dan mengeluarkan penumpangnya dengan susah payah dari taksinya.
Innalillah, itu adalah Brenda. Perempuan muda yang tinggal di rumah hook itu. Brenda masih
mengenakan celana kerjanya, tapi pakaian bagian atas awut-awutan. Sopir taksi menggeletakkan begitu saja Brenda di halaman rumahnya. Sopir taksi itu kembali memeriksa jok belakangnya, dan memegang dompet biru muda. Itu pasti dompet Brenda.
Sopir taksi itu mengumpat ketika ia hanya
menemukan selembar uang senilai 5 pounds. Ia mengambil uang itu dan membanting dompet itu ke tanah. Sopir itu menggeragapi saku celana Brenda dan tidak mendapati apa-apa. Ia lalu menendang ban belakang taksi Black Cab-nya, karena jengkel tidak menemukan apa-apa.
Sopir gendut itu mengumpat sambil melihat tubuh Brenda yang terkulai lemah diatas tanah. Tiba-tiba sopir itu jongkok dan meraih tangan kiri Brenda. Sopir itu melepas cincin emas di jari manis Brenda lalu masuk ke dalam taksinya.
Sopir itu menyalakan taksinya dan pergi. Fahri mengamati dengan saksama nomor taksi itu.
Fahri mengamati Brenda yang terkulai di halaman rumahnya yang basah. Menurutnya, kondisinya sangat mengenaskan. Mungkin ia baru berpesta dengan teman-temannya dan banyak menenggak minuman keras hingga teler seperti itu. Tiba-tiba Fahri menangkap titik gerimis satu dua turun. Fahri langsung bergerak turun membangunkan Paman Hulusi.
"Ada apa Hoca?" ujar Paman Hulusi sambil mengucek ke-dua matanya.
"Ambil selimut yang tidak dipakai dan bantu saya menolong tetangga kita yang terkapar didepan. Cepat paman. Hujan mau turun lagi."
Dengan sigap Paman Hulusi bangkit, dengan agak terpincang ia berjalan ke kamar sebelah mengambil selimut lalu mengejar Fahri yang telah lebih duluan keluar. Fahri telah berada dihalaman, berdiri di dekat Brenda. Paman Hulusi mendekat.
"Astaghfirullah. kenapa bisa terkapar di sini?" heran Paman Hulusi.
"Dasar orang mabuk! "
"Jangan mengumpat, kayak paman tidak pernah mabuk saja! "
"Ah. jadi malu. Itu masa jahiliyah saya. Hoca. Semoga tidak pernah kembali lagi."
"Ayo, paman, bantu angkat dia. Kita letakkan di teras rurnahnya supaya kalau hujan tidak kehujanan."
Paman Hulusi meletakkan selimut di beranda rumah Brenda terlebih dulu, lalu membantu Fahri mengangkat Brenda. Fahri memegang kedua lengannya dan Paman Hulusi memegang dua kakinya.
Mereka menggotong Brenda ke beranda. Fahri lalu menutupi tubuh Brenda dengan selimut.
"Kenapa tidak dimasukkan ke dalam rumahnya sekalian, Hoca?"
"Kita jangan masuk rumah orang tanpa izin. Ini batas yang bisa kita lakukan. Bisa saja kita cari kunci rumahnya di sakunya atau di dompetnya, tapi saya tidak mau lakukan itu. Cukup bahwa tetangga kita ini tidak terlalu kedinginan dan tidak kehujanan ketika hujan turun. Sehingga ia tidak jauh sakit."
Paman Hulusi mengangguk.
"Itu dompetnya ketinggalan."
"Tolong, paman ambil dan letakkan di dekatnya."
"Iya, Hoca."
Fahri melangkah kembali kerumah. Paman Hulusi menyusul. Fahri mematikan lampu ruang kerjanya, lalu memasuki kamar tidurnya dan merebahkan badannya menyusup di bawah selimut wool. Sambil membaca doa, Fahri melirik jam dinding.
Angkanya menunjukkan 02.15 dini hari. Fahri memejamkan kedua matanya. Ketika ia akan terlelap, ia terbangun begitu mendengar suara biola digesek. Bukan suara biolanya yang membuat zat kimiawi otaknya membangunkan kesadarannya, tapi alunan nadanya itu yang menggerakkan. Itu nada yang sering dimainkan Aisha, bahkan Aisha mengajarinya nada itu. Itu adalah nada yang diaransemen oleh Tchaikovsky.
Nada-nada sedih. Meditation yang sangat terkenal. Bayangan- bayangan Aisha kembali
hadir. Itu akan membuatnya tidak bisa tidur hingga Shubuh. Dan ia harus mengembalikan kesegaran badannya yang sudah ia peras habis -habisan.
Alunan biola itu semakin menyayat. Fahri mengambil smartphone-nya dan menyalakan murattal. Ia mencoba berkonsentrasi pada bacaan indah Syaikh Abdurrahman Sudais, hingga akhirnya ia terlelap.
Kesadarannya seperti telah terprogram, setengah jam menjelang Shubuh ia bangun, langsung berwudhu, shalat dua rakaat dan turun ke bawah. Paman Hulusi ternyata juga telah bangun. Ia sedang di kamar mandi berwudhu. Sejurus kemudian keduanya sudah keluar rumah menuju mobil, untuk shalat
shubuh berjamaah di Edinburgh Central Mosque yang berdiri di samping kampus utama The University of Edinburgh.
"Astaghfirullaah.."
"Ada apa Hoca?"
Fahri mengisyaratkan agar melihat coretan di kaca depan mobil SUV. Paman Hulusi tersentak.
Coretan itu berbunyi: ISLAM = SATANIC!
"Bu haddi asan bir hadise izin verilmemeli (Perbuatan ini sudah melampaui batas, tidak bisa dibiarkan)".
Kata Paman Hulusi sangat geram setengah berteriak. Jika ia telah menggunakan bahasa
Turki-nya itu tanda Paman Hulusi sudah sangat marah.
"Sabret, heyecanlanma Am-ca.(Sabar, jangan emosi, paman)". Fahri menenangkan.
Dalam satu bulan ini, itu adalah kali ketiga kaca depan Fahri dicoret-coret dengan kata yang merendahkah Islam dan Muslim. Dan selama ini Fahri bersabar saja, ia tidak mengadukan peristiwa itu kepada organisasi-organisasi yang menangani kasus-kasus terkait Islam-ofobia atau anti-Muslim seperti
The Islamic Human Rights Commission, atau Tell Mama yang dijalankan oleh Faith Matters.
Fahri khawatir yang melakukan tindakan tidak bertanggung jawab itu ternyata adalah salah satu tetangganya yang akan membuat tetangganya itu semakin jauh darinya jika ia melibatkan organisasi formal atau lembaga hukum formal. Sedikit hal yang membuatnya lega adalah bahwa coretan itu tidak
menggunakan tinta atau cat permanen, kelihatannya menggunakan spidol white board yang sangat mudah dihapus. Fahri menghapus tulisan itu dengan tangannya.
"Kita sedikit ngebut supaya tidak terlambat jamaah" gumam Fahri ketika sudah masuk mobil.
Mobil itu bergerak meninggalkan garasi. Tanpa disadari oleh Fahri, sepasang mata dari balik jendela sebuah kamar yang gelap memerhatikan mobil itu dengan saksama. Wajah pemilik mata itu tampak dingin, namun menyiratkan kepuasan.
*****
Edinburgh Central Mosque atau orang-orang Arab menyebutnya Masjid Edinbrah Al-Markazi adalah Masjid utama umat Islam di Kota Edinburgh. Masjid itu terletak di jantung kota Edinburgh. Tepat di sisi timur kampus utama The University of Edinburgh. Dari Princes Street Gardens atau dari The Royal Mile, dua jalan paling legendaris di Kota Edinburgh, Masjid itu bisa dijangkau beberapa menit dengan jalan kaki.
Masjid itu gagah. Arsitekturnya bergaya Scots Baronial. Begitu serasi dengan bangunan kuno di sekitarnya. Berdiri dengan satu menara tinggi di satu sudutnya, dan tiga kubah runcing segitiga pada tiga sisi lainnya, serta pintu utama yang besar dengan melengkung khas masjid. Warna masjid itu cokelat muda. Ada tulisan "Allah" dengan huruf Arab pada dua sudut bagian depan.
Masjid itu mampu menampung tak kurang seribu jamaah saat shalat. Tempat shalat untuk lelaki dan perempuan terpisah oleh lantai yang berbeda. Perempuan shalat di balkon yang bisa melihat ketempat shalat utama.
Tempat wudhu dan kamar mandi Ielaki dan perernpuan juga dipisah. Masjid yang dibangun oleh Raja Fahd itu juga memiliki perpustakaan, dapur dan ruang serbaguna.
Fahri sangat betah berada dimasjid itu.
Seringkali ia shalat Subuh lalu i‘ftikaf sampai waktu Dhuha.
Sepanjang i'tikaf itu ia gunakan untuk berdzikir dan muraj‘aah hafalan Al-Qur‘an-nya. Biasanya ia duduk di pojok belakang tempat shalat.
Sudah setahun setengah Fahri di Edinburgh, tetapi ia tidak mengenalkan dirinya sebagai lulusan Universitas Al-Azhar kepada para jamaah.
Paman Hulusi sangat ingin mengenalkan hal itu, tapi Fahri melarangnya. Orang-orang hanya tahu bahwa ia orang Indonesia yang sedang riset di The University of Edinburgh, bidang filologi. Fahri ditemani Hulusi malah sering membantu bersih-bersih masjid.
Pagi itu usai shalat shubuh, Fahri berdzikir pagi secara singkat lalu mengulang hafalan Al-Qur'an- nya dengan cepat. Ia tidak menunggu waktu Dhuha terbit. Fahri mengajak Paman Hulusi pulang ke Stoneyhill Groove, sebab ia teringat belum menge-print basil pekerjaannya semalam.
“La haula wa la quwwata illabillah..... La haula wa la quwwata illabillah”
Mobil itu meluncur ke timur, menyibak udara pagi Kota Edinburgh.
"Kalau nanti Hoca benar-benar pulang ke Indonesia, negeri Hoca berasal, saya mau ikut Hoca. Kalau Hoca membuat masjid biar saya yang menjaga dan menjadi tukang bersih-bersihnya. Atau Hoca membuat sekolah dikota Hoca, biarlah saya tetap menjadi sopir Hoca, atau menjadi tukang bersih -bersih sekolah Hoca."
Fahri tersenyum mendengarkata-kata Paman Hulusi itu.
“La haula wa la quwwata illabillah..... La haula wa la quwwata illabillah”
Pagi itu tampak sedikit lebih cerah. Langit lebih cerah meskipun tetap ditutupi semburat awan abu-abu. Pendar sinar matahari terhalang kabut tipis mulai mengintip di ufuk timur ketika mobil Fahri memasuki kompleks Stoneyhill Groove. Paman Hulusi langsung membawa mobil memasuki garasi.
Ketika Fahri keluar dari mobil, Jason adik lelaki Keira keluar dari pintu rumahnya dengan mencangklong tas. Tampaknya ia akan berangkat sekolah. Jason melihat Fahri. Pandangan keduanya bertumbukan. Jason memasang muka tidak suka, bibirnya memberikan isyarat berbicara pada Fahri tanpa suara : FuckYou!
Fahri kaget. Ia tetap membalas dengan senyum dan beristighfar didalam hati, Ia tidak mau meladeni anak remaja berambut pirang itu. Paman Hulusi melihat semua itu. ia juga melihat apa yang diisyaratkan Jason yang penuh penghinaan. Paman Hulusi geram, Fahri menahan Paman Hulusi agar tetap tenang. Jason mengeloyor pergi penuh kemenangan.
"Hoca terlalu sabar!"
"Tidak tepat kalau klta meladeni anak remaja itu, paman. Kita akan cari cara yang tepat untuk membuatnya sadar bahwa apa yang dilakukannya itu tidak terpuji."
"Saya sangat yakin, pasti yang mencorat-coret kaca depan mobil kita itu Si Jason itu. Pasti dia, siapa lagi kalau bukan dia?"
"Jangan gegabah menuduh Paman?"
"Dia sudah kena racun Islamofobia. Lihat bagaimana bencinya dia memandangi Hoca!"
"Sudahlah paman, kebencian jangan kita balas dengan kebencian. Ayo masuk, siapkan teh panas dan sarapan sementara saya ngeprint kerjaan saya." Paman Hulusi tersadar akan tugas utamanya.
"Baik, Hoca."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar