11
ADA APA DENGAN KEIRA?
Kebahagiaan itu hadir begitu saja menyusup ke dalam hatinya tatkala ia merasa Allah masih terus menyelimutinya dengan taufiq-Nya. Mampu melakukan amal baik sekecil apapun itu adalah taufiq dari Allah. Tanpa taufiq-Nya bahkan membaca basmalah pun ia tak akan mampu. Ia merasa lega, malam itu ia telah menyelesaikan revisi proposal penelitian yang akan ia kerjakan bersama Prof. Stevens. Janjinya adalah mengirimkan revisi itu besok pagi jam sepuluh. Tapi malam itu, tepat jam sebelas kurang sepuluh menit telah ia kirim ke alamat email Prof.Stevens dan ia kirimkan
juga ke Prof. Charlotte.
Paman Hulusi dan Misbah sudah pulang dari rumah Tuan Taher, dan tampaknya mereka belum tidur.
Namun ia tidak ingin turun ke bawah. Sebab turun kebawah berarti akan ikut ngobrol dengan mereka. Ia sedang tidak ingin ngobrol.
Tubuhnya lelah. Namun rasa lega dan bahagia setelah menyelesaikan sebuah aktivitas positif membuatnya seperti kecanduan ingin melakukan aktivitas positif lainnya. Ia jadi teringat ajaran Pak Kyai di pesantren dulu. Kenapa kalau khataman Al Qur‘an begitu selesai membaca surat An-Nas langsung membaca Al Fatihah dan awal surat Al-Baqarah? Itu karena begitu khatam, langsung memulai aktivitas membaca Al Qur‘an lagi.
Tidak menunda-nunda. Selesai amal shaleh, langsung disusul amal shaleh berikutnya.
Kopi yang dibuatkan Paman Hulusi sepuluh menit yang Ialu masih mengepul. Ia menyeruputnya dengan penuh kenikmatan.
"Alhamdulillahi bi ni‟matihi tatimmush shalihat. (Segala puji milik Alloh dengan nikmat-Nya kebaikan-kebaikan itu terkerjakan dengan sempurna)." Gumamnya.
Masih ada waktu satu jam, sebelum ia istirahat untuk tdur. Ia memandang ke luar dari jendela tempat kerjanya. Sepi. Aspal basah. Rumah nenek Catarina sudah gelap. Kaca-kaca jendelanya gelap. Hanya lampu beranda yang menyala. Nenek itu telah tidur. Rumah Brenda masih gelap gulita. Bahkan lampu berandanya juga tidak menyala. Mungkin dia belum pulang dari kerja, atau tidak pulang kerja.
Fahri kembali menyeruput kopinya. Ia teringat buku yang ia pinjam dari perpustakaan The University of Edinburgh tadi siang. Ia beranjak mengambil buku itu dari tas kerjanya. Principles of Strategic Management ditulis oleh Tony Morden. Buku hard cover berwarna hijau dan biru setebal enam ratus empat puluh halaman itu mulai ia nikmati. Ia merasa perlu lebih mendalami manajemen strategi untuk
mengembangkan usahanya. Ia harus mampu mengimbangi Ozan dan keluarga besar Aisha lainnya yang telah sangat matang dalam dunia usaha. Tahun depan ia harus membuka satu usaha baru yang prospektif di Indonesia.
Buku itu seumpama makanan yang sangat lezat dan menggairahkan baginya. Tak terasa sudah pukul dua belas dan ia masih asyik membaca buku tebal itu. Ia tersadar ketika mendengar bunyi mobil. Ia melihat jam tangannya. Sudah setengah satu dini hari. Dari jendela ia melihat taksi Black Cabberhenti
di halaman rumah Brenda. Sopir gemuk keluar dari taksi. Fahri masih ingat itu adalah sopir yang mengantar Brenda beberapa waktu yang lalu itu. Brenda juga keluar dari taksi. Pria gemuk itu mendekati Brenda. Keduanya langsung berciuman. Fahri memejamkan mata sambil membaca istighfar. Ia tahu persis Brenda dan sopir itu bukan siapa-siapanya. Untung itu di Edinburgh, kalau seperti itu
terjadi dikampungnya bisa dihajar warga mereka berdua. Adat dan budaya serta norma sangat berbeda antara orang Skotlandia dan orang Indonesia.
Fahri menutup buku itu dan meletakkan di meja. Sudah saatnya istirahat. Ia berwudhu lalu shalat witir. Selesai shalat witir ia mendengar suara taksi itu meninggalkan Stoneyhill Grove. Fahri memasang jam
bekernya lalu rebah. Bayangan Aisha dan suaranya membacakan puisi spesial itu terdengar dalam pikirannya. Ia melawannya dengan konsentrasi membaca istighfar berulang-ulang sampai tertidur.
*****
"Hoca lihat!" Fahri membaca tulisan dikaca depan mobilnya. 'MUSLIM = TERORIST! GO HELL!' Fahri istighfar dalam hati.
"Kali ini akan ketahuan siapa pelakunya. Tapi aku sangat yakin pasti pelakunya bocah nakal itu. Tak ada yang lain." Gumam Paman Hulusi geram sambil menghapus tulisan itu dengan tissu.
"Mau kita periksa sekarang Mas rekaman CCTV-nya?" tanya Misbah.
"Tidak usah nanti saja. Ayo kita ke masjid. Jangan sampai kita ketinggalan jama'ah karena meributkan hal kecil seperti itu."
Mereka bertiga lalu masuk kedalam mobil dan meluncur ke Masjid Pusat Edinburgh. Dimasjid mereka berjumpa dengan Tuan Taher. Usai shalat shubuh, Fahri minta maaf tidak bisa memenuhi undangan makan malam. Tuan Taher yang justru merasa bersalah karena undangannya terlalu mendadak.
Mereka bertiga pagi itu tidak iktikaf. Selesai shalat dan dzikir mereka kembali ke Stoneyhill Grove.
Paman Hulusi sangat penasaran ingin tahu siapa pelakunya. Meskipun ia sangat yakin pelakunya adalah Jason, tetapi ia ingin mendapatkan bukti nyatanya.
Paman Hulusi langsung menuju kamarnya diikuti Fahri dan Misbah. Mereka memutar ulang rekaman CCTV dan melihatnya di layar monitor yang ada di kamar Paman Hulusi.
Mereka terhenyak kaget ketika melihat pelaku vandalisme yang terus menghina mereka sebagai muslim. Ternyata bukan Jason.
Pelakunya justru adalah Keira.
"Tidak bisa dipercaya kalau pelakunya adalah gadis itu. Kenapa bukan Jason?" Komentar Paman Hulusi.
"Tolong putar sekali lagi Paman."
Paman Hulusi memutar ulang bagian Keira membuat tulisan dikaca depan mobil Fahri dengan spidol whiteboard. Gadis itu sama sekali tidak menyadari ada tiga kamera yang menangkap aksinya. Salah satunya adalah kamera yang terpasang di dalam mobil. Gadis itu masih memakai tas saat melakukan
aksinya itu. Kemungkinan adalah saat dia pulang setelah kencan dengan James. CCTV menunjukkan waktu aksi itu dilakukan. Pukul setengah dua, dini hari.
"Wajahnya cantik, tapi hatinya penuh kebencian. Dasar gadis celaka!" Desis Paman Hulusi.
"Jangan mengumpat begitu Paman! Kita belum tahu apa yang menjadi sebab Keira sampai sedemikian membenci kita. Apakah kita punya salah kepadanya? Apakah karena informasi tidak benar yang ia terima tentang Islam dan umat Islam? Kebencian itu tidak perlu kita sikapi dengan kebencian yang sama. Kita harus tunjukkan dengan bukti nyata bahwa kita jauh dari yang dia sangka."
"Iya Hoca. Saya sepakat kita tidak membalasnya dengan kebencian. Tapi tidak salah juga jika kita laporkan secara hukum, kita pakai jalur hukum. Kita punya bukti kuat. ltu agar dijadikan pelajaran bagi gadis itu, juga bagi siapa saja agar tidak seenaknya melakukan tindakan yang menyakiti orang lain."
"Itu tidak salah paman. Tapi saya punya cara lain. Sudahlah, untuk urusan Jason dan Keira biar saya yang urus. Paman bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. lkuti dan patuhi apa yang saya perintahkan. Jika saya tidak memerintahkan apa-apa, Paman jangan bertindak sendiri."
"Baik Hoca. Terserah Hoca bagaimana baiknya saya ikut."
"Pagi ini rasanya enak sekali kalau kita makan roti bakar dan Spinach Omelet Brunch Roll bualan Paman."
"Dengan senang hati saya siapkan Hoca. Minumnya apa Hoca?"
"Teh Twinings saja Paman."
"Baik Hoca."
"Saya bantu membuat roti bakarnya, Paman Hulusi yang buat omeletnya ya?" Misbah menawarkan diri.
"Dengan senang hati. Ayo."
Paman Hulusi diikuti Misbah bergegas ke dapur untuk membuat sarapan. Sembari menunggu sarapan jadi, Fahri memuraja‘ah hafalan Al-Qur‘an-nya di ruang tamu. Dua puluh menit kemudian sarapan itu sudah siap. Fahri menyudahi wiridnya. Ia bergabung dengan Paman Hulusi dan Misbah di meja makan.
Fahri langsung menyeruput teh Twinings yang masih mengepul.
"Ada yang istimewa dari teh Twinings ini. Kira-kira apa Bah?" Tanya Fahri pada Misbah.
"Hmm, pasti rasanya." Jawab Misbah.
"Ah kalau rasa masih kalah sama teh Turki." Sahut Paman Hulusi.
"Teh Poci asli Indonesia juga menurutku lebih sedap, kalau soal rasa. Artinya kalau soal rasa itu sangat subyektif pada lidah masing-masing orang. Ditambah unsur fanatisme kebangsaan kadang ikut masuk menentukan rasa. Jujurnya begitu. Sebab nanti orang Sudan seperti Brother Mosa juga akan bilang teh asli Sudan lebih enak. Jadi keistimewaan teh Twinnings ini bukan berletak pada rasanya." Tukas Fahri
panjang lebar.
"Terus pada apanya Mas?"
"Pada sejarahnya. Sejarah panjangnya yang mampu bertahan ratusan tahun bagiku sangat istimewa."
"Bagaimana itu Mas? Bisa sedikit lebih detail?"
"Teh ini diracik dan dikemas oleh Thomas Twinings. Diproduksi dan dipasarkan pertama kali pada tahun 1706. Bayangkan Bah sejak 1706. Itu berarti 82 tahun sebelum meletusnya revolusi Perancis. Itu juga berarti 239 tahun sebelum Republik Indonesia diproklamirkan.
Atau itu, ketika Thomas Twinings membuka usaha teh Twinings itu, kalau di Jawa pas zaman Susuhunan Amangkurat III bertahta di
Mataram. Karena Susuhunan Amangkurat III sangat anti VOC Belanda. Maka VOC mengangkat Pangeran Puger menjadi raja tandingan dengan gelar Susuhunam Pakubuwono I. Terjadilah Perang Tahta dari
tahun 1704 - 1708. Ketika Mataram bergolak itu di London, Thomas Twinings mulai merintis bisnis tehnya. Pada tahun 1706 itu ia bisa membeli Tom Coffee House di 216 Strand London. Awalnya ia jualan coffee ditambah teh racikannya. Ternyata tehnya laris. Lalu ia fokus jualan teh. Dan perusahaan itu bertahan sampai sekarang. Bisa bertahan selama 300 tahun lebih Bah. Dan toko teh Twinings di
Strand London itu masih ada dan bertahan sampai sekarang. Itu istimewanya. Sejarahnya Teh Twinings bisa bertahan ratusan tahun itu yang luar biasa. Setiap kali saya menyeruput teh ini, jujur saya belajar bagaimana sebuah merk bisa bertahan selama ini. Imperium Bani Umayyah di Damaskus saja hanya bertahan 90 tahun, Bah. Ini imperium teh Twinnings dari tahun 1706 sampai sekarang masih bertahan.
Kini Twinnings telah memiliki cabang pemasaran di lebih dari 100 negara. Twinings ini sedikit dari perusahaan kelas dunia yang bertahan ratusan tahun. Begitu Bah."
"Saya yang kandidat PhD bidang Ekonomi Islam ternyata harus banyak belajar sama Mas Fahri. Saya tidak sampai sedetil itu membuat analisis sebuah merk. Sama sekali tidak mengira ada sejarah unik dalam sebuah merk."
"Kita mesti tahu sejarah itu, agar bisa mengambil manfaat bagaimana merk-merk besar bisa bertahan melintasi puluhan bahkan ratusan tahun."
"Selain Twinings apalagi yang umurnya telah ratusan tahun Mas?"
"Misalnya, sebut saja London Gazette."
"Surat kabar?"
"Iya. London Gazette pertama kali terbit tahun 1655. Tepatnya 7 Nopember 1655. Itu adalah koran tertua di Inggris. Dan masih hidup dan terbit sampai sekarang. Itu artinya koran ini telah terbit kira-kira sepuluh tahun setelah wafatnya Sultan Agung, Sultan Mataram yang agung itu. Bayangkan tahun 1655 itu di London sudah ada koran, sementara kita di Jawa saat itu masih sangat banyak yang buta huruf, Bah. Dan koran itu masih bertahan sampai sekarang. Bahkan Kerajaan Mataram sudah tidak ada, koran London Gazette itu masih ada."
Misbah mengangguk-angguk. Mereka menikmati sarapan sambil berdiskusi hangat tentang dunia wirausaha. Fahri menyampaikan rencananya yang ingin membuka usaha di Indonesia.
Misbah sangat antusias menyambut rencana Fahri. Ia siap membantu sekuat yang ia mampu. Bahkan kalau terpaksa ia harus keluar dari pegawai negri untuk berwirausaha akan ia lakukan. Fahri tersenyum dan meminta
Misbah tetap istiqamah mengajar di kampus. Ilmu yang telah ia dapatkan adalah amanah untuk disampaikan kepada generasi yang akan datang. Fahri minta Misbah memikirkan satu bisnis yang tidak menganggu profesi utamanya sebagai dosen.
Untuk modal ia akan membantunya. Wajah Misbah berbinar bahagia. Pagi itu ia merasa sangat optimis untuk berjuang mati-matian ditanah air tercinta. Di ujung sarapan Misbah menyampaikan bahwa besok ia harus kembali ke Bangor untuk mengurus segala administrasi kepindahannya ke Edinburgh.
"Mau pakai apa ke Bangor Bah?"
"Inginnya kereta Mas, lebih cepat dan nyaman. Tapi mahal."
"Biar saya yang bayar. Kau sudah lihat-lihat harganya berapa?"
"Sudah Mas. Naik Virgin Trains dari stasiun Waverly Edinburgh jam 10.51 sampai di stasiun Gwynedd Bangor jam 16.42 diharga 112 Pounsterling Mas."
"Ambil. Segera bereskan urusanmu. Fokus selesaikan disertasimu. Dan segera kembali ke tanah air membangun paradaban mulia."
"Do‘anya Mas."
"Kita saling mendoakan."
Tiba-tiba bel berbunyi. Paman Hulusi sedang menikmati omeletnya. Fahri yang posisinya paling dekat dengan pintu langsung bangkit dan bergegas membuka pintu. Ternyata Brenda.
"Hai, Good morning.'' Sapa Brenda dengan senyum mengembang. Parfum wanginya menyusup ke hidung Fahri. Pagi itu Brenda tampak sudah siap pergi kerja. Pakaiannya rapi. Dan ia tampak lebih anggun dari sebelumnya.
"Good morning. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih. Boleh saya masuk?"
"Oh silakan." Fahri membuka pintu lebih lebar dan mempersilakan Brenda masuk. Brenda menyapa Paman Hulusi dan Misbah. Brenda masuk sambil menenteng tas plastik agak besar. Ketika Fahri hendak menutup pintu di jalan ia melihat Nyonya Janet berangkat kerja dengan berjalan kaki. Selain membawa tas cangklong, Nyonya Janet tampak menenteng dua biola. Nyonya Janet sempat menengok
dan memandang Fahri sesaat. Fahri menyapa dengan mengangguk. Nyonya Janet dingin saja dan terus berjalan.
"Tea or coffee?" Tanya PamanHulusi.
"Oh thank you very much, coffee Please." Jawab Brenda.
"Fahri, lihat ini!" Kata Brenda sambil menunjukkan jari tangan kanannya.
"Cincin ini telah kembali. Dan lebih dari itu, kini saya sudah jadian dengan sopir taksi itu. Namanya Josh. Oh dia orangnya romantis sekali. Aku merasakan hidup ini kini lebih bergairah. Terima kasih, ini semua karena
kebaikanmu."
"Jadi kalian akan menikah?" Tanya Fahri seketika.
"Menikah? Oh,tidak. Aku belum berpikir ke sana." Brenda agak kaget mendengar pertanyaan Fahri itu.
"Kalau kau merasa bersama Josh itu membahagiakan dan hidupmu lebih bergairah, kenapa tidak menikah saja. Hubungan itu akan menjadi baik di mata Tuhan."
"Menikah... hm menikah, boleh juga. Akan saya pikirkan. Meskipun rasanya agak aneh kalau saya menikah dengan Josh. Baru beberapa waktu lalu ketemu, lalu menikah."
"Saya rasa itu masalah sudut pandang saja. Saya rasa bukan aneh, tapi justru itu spesial. Hubungan yang sangat spesial. Tidak banyak terjadi di UK ini. Tidak banyak orang bertemu, jatuh cinta, langsung segera menikah. Jadi itu spesial."
"Wow saya suka dengan pendapatmu itu. Itu spesial. Ya, itu spesial. Saya jadi memikirkannya."
Misbah hanya mendengarkan percakapan Fahri dengan Brenda. Paman Hulusi datang membawa secangkir kopi untuk Brenda.
"Mau dibuatkan Omelet?" Tanya Fahri pada Brenda.
"Oh tidak usah. Ini saya bawakan hadiah untuk kalian sebagai tanda terima kasihku." Brenda
mengulurkan tas plastik kepada Fahri.
"Apa itu?"
"Ini saya bawakan Chivas Regal edisi premium. Whisky terbaik buatan Skotlandia menurut saya. Dan saya bawakan Amarone Monte, red wine spesial buatan ltalia tahun 1999. Jenis ini jarang ada di Edinburgh. Semoga ini bisa membuat hidup kalian sedikit lebih bergairah seperti yang aku rasakan."
Dengan bibir menyungging senyum Brenda mengeluarkan dua botol wine itu. Fahri dan Misbah agak kaget. Namun Fahri dengan cepat menyembunyikan kekagetannya.
"Botol dan kemasannya bagus." Puji Fahri.
"Ya tentu. Red wine dari Italia ini benan-benar istimewa. Saya jamin. Kalian akan merasakan suasana yang sangat berbeda begitu menikmatinya dalam tegukan pertama. Tegukan berikutnya semakin hangat dan luar biasa." Jelas Brenda penuh antusias.
Fahri mengangguk mendengar penjelasan perempuan berambut pirang itu.
"Sebenarnya saya ingin menghadiahi kalian red wine yang lebih hebat lagi. Pingus Dominio de
Pingus buatan Ribera del Duero, Spanyol. Itu minuman luar biasa. Sayang saya tidak punya cukup uang untuk membayarnya."
"Anda tidak perlu repot-repot membawakan kami hadiah seperti ini."
"Sama sekali tidak repot. Saya senang bisa memberi sedikit hadiah untuk kalian."
"Nona Brenda."
"Iya."
Fahri berusaha tersenyum.
"Dari hati paling dalam kami menyampaikan terima kasih atas perhatianmu ini. Kami sangat mengapresiasi kebaikan hatimu ini. Namun mohon maaf. Kami tidak bisa menerima hadiah ini."
"Kenapa? Ada yang salah?"
"Maaf, kami tidak bisa minum segala jenis wine. Kami muslim. Kami tidak minum segala minuman yang mengandung alkohol. Mohon maaf. Kami tidak bermaksud menolak. Sungguh kami sangat mengapresiasi. Hanya kami tidak akan meminumnya. Lebih baik Nona Brenda bawa pulaug untuk nona
nikmati bersama teman-teman Nona. Jika tetap mau ditinggal di sini, silakan saja. Hanya tidak akan kami minum. Atau nona kembalikan ke tokonya. Pasti mahal. Uangnya nona belikan hadiah yang lain buat kami."
"Okay, okay, saya berusaha memahaminya. Sayang sekali, ini wine terbaik yang bisa saya dapatkan. Tapi tidak apa. Saya akan pikirkan untuk mengganti dengan hadiah yang lain."
"Jangan merepotkan."
"Sama sekali tidak."
Brenda melihat jam. Ia lalu menyeruput kopinya dan bangkit.
"Okay saya harus berangkat kerja. Saya tidak mau ketinggalan bis. Okay sebaiknya Chivas Regal dan Amarone Monte ini saya bawa saja. Bye."
Perempuan muda bule yang supel dan grapyak itu meninggalkan rumah Fahri dengan tetap tersenyum.
"Kenapa nggak Hoca terima saja. Toh bisa diberikan kepada karyawan-karyawan kita yang bukan muslim. Ada Nyonya Suzan Brent, Ruth, Madam Barbara. Mereka pasti senang." Ucap Paman Hulusi seolah menyayangkan sikap Fahri.
"Saya tidak mau memberi mereka sesuatu yang menurut saya dilarang oleh Allah. Kalau mereka mau membeli itu dengan uang mereka terserah mereka. Saya akan beri mereka bonus dan hadiah atas prestasi dan dedikasi mereka. Tapi sesuatu yang baik menurut mereka dan baik menurut Allah. InsyaAllah."
"Kenapa nggak diterima saja, terus kita jual. Uangnya diberikan kepada yang membutuhkan."
"Tidak bisa Bah. Kau lupa. Fiqh-nya tidak membolehkan. Ah kau lupa ya, padahal kau belajar ekonomi Islam. Kalau kita buka kitab Al Muhadzdzab misalnya, dan kitab-kitab fiqh lainnya. Jual beli khamr itu dilarang oleh Rasulullah saw. Para pakar fiqh kemudian mengqiyaskan bahwa jual beli semua benda
yang najis itu haram. Kalau kita terima hadiah Brenda terus kita menjualnya. Berarti kita menjual sesuatu yang dilarang Rasulullah saw."
"Tapi kita menjualnya kan tidak kepada orang muslim Mas. Kita menjual kepada mereka yang menganggap benda atau sesuatu itu bernilai bagi mereka. Sesuatu yang bagi mereka tidak najis."
"Jumhur ulama Syafi‘i mengharamkan menjual khamr baik kepada orang islam maupun bukan. Dasarnya jelas hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad Abu Daud, 'Allah telah melaknat khamar dan melaknat peminumnya, orang yang menuangkannya, pemerasnya, yang minta diperaskan, penjualnya, pembelinya, pembawanya, yang dibawakan kepadanya, dan pemakan hasilnya.‟ Tegas Fahri.
Misbah menata duduknya dan menanggapi dengan lebih serius,
"Mas, kalau dalam fiqh mu‘amalah ada baiknya kita juga menyimak dengan seksama Madzhab Hanafi, bukan membatasi pada madzhab Syafi‘i, Mas. Imam Abu Hanifah dan Imam Muhammad bin Hasan berpendapat seorang muslim ketika berada di negeri yang nonmuslim boleh mendapatkan harta dari
nonmuslim dengan cara transaksi jenis apapun, selama ada kerelaan diantara mereka. Walaupun itu transaksi yang tidak sah atau al 'aqd al fasid jika itu dilakukan di negeri muslim, seperti riba, berjudi, menjual minuman keras dan lain sebagainya. Harus dicatat, pembolehan di situ ada batasannya, yaitu
terjadi di negeri nonmuslim dan transaksinya dengan nonmuslim dan transaksi itu atas dasar saling rela.
Dalil yang digunakan kedua imam besar itu juga banyak dan kuat. Bukan asal-asalan. Diantaranya hadits riwayat Makhul yang mursal. Meskipun mursal tapi Makhul adalah seorang faqih yang terpercaya atau tsiqqah.
Dasar lainnya adalah Abu Bakar ra. pernah taruhan dengan orang-orang kafir Makkah sebelum hijrah.
Yaitu ketika turun Ar-Ruum ayat 1-5 yang mengabarkan Romawi akan mengalahkan Persia. Orang-orang kafir Quraisy berkata,
"Apakah menurutmu Romawi benar-benar akan menang melawan Persia?" Abu Bakar menjawab, "Ya". Orang-orang kafir Quraisy berkata, "Apakah kamu berani taruhan akan hal itu dengan kami?" Abu Bakar menjawab dengan penuh keyakinan. "Ya." Jadilah Abu Bakar bertaruh dengan mereka. Abu Bakar lalu menceritakan hal itu kepada Rasulullah saw, dan seketika Rasulullah saw berkata.
"Kembalilah kepada mereka dan tambahilah uang taruhanmu!" Akhir ceritanya jelas, Abu
Bakar menang dan mengambil uang hasil kemenangan taruhannya. Dari peristiwa itu kita melihat Rasulullah saw. tidak melarang Abu Bakar bahkan menyuruhnya agar menambahi uang taruhannya.
Padahal itu nyata-nyata bentuk perjudian. Karena saat itu Makkah belum menjadi daerah muslim."
Fahri mendengarkan dengan seksama penjelasan Misbah. Setelah Misbah berhenti bicara, Fahri menjawab,
"Kalau pun misalnya pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Muhammad bin Hasan kuat dalilnya. Saya memilih hati-hati Bah. Saya tidak akan melakukan al 'aqd al fasid meskipun dengan non-muslim dan di negara non-muslim yang menurut undang-undang mereka legal. Saya tidak akan menjual minuman keras kepada mereka. Lebih baik hati-hati."
"Kita harus memperjelas masalah ini. Ada perbedaan antara sikap hati-hati atau wirai dengan hukum fiqh. Sebab ini terkait muamalah yang memiliki dimensi sosial yang luas. Apalagi kita memiliki banyak saudara seiman yang kini hidup di negara-negara non-muslim. Mereka bahkan menjadi minoritas.
Dan tidak semua diantara mereka seberuntung Mas Fahri yang punya usaha sendiri dan bisa manentukan kebijakan. Ada diantara mereka yang terpaksa harus kerja di restoran milik non-muslim yang jualan wine, khamr. Mereka melakukan hal itu karena terpaksa."
"Kalau terpaksa lain soal, Bah."
"Bukan sesederhana itu Mas. Bagaimana kalau mereka melihat peluang besar jualan daging babi misalnya bukan untuk muslim tapi untuk non-muslim? ltu untuk dipasok ke resto-resto non muslim. Yang mengkonsumsinya non-muslim. Keuntungannya besar. Kalau keuntungan itu tidak diambil, maka akan
direbut non-muslim yang mungkin sebagian dananya akan dikirim untuk membiayai misionaris di seluruh dunia. Bagaimana?"
Fahri diam.
"Masih banyak bisnis yang bisa dilakukan selain jualan daging babi atau jualan minuman keras Bah."
"Saya tahu itu Mas. Dan saya juga tidak akan melakukan bisnis itu. Tapi ini adalah wacana fiqh yang perlu serius kita kaji. Intinya begini, hati-hati dan wirai itu sangat baik. Tapi kita meski ingat juga perkataan Imam Suyuthi misalnya, dia mengatakan,
"Perbuatan yang masih diperselisihkan tidak bolehdiingkari. Yang boleh diingkari adalah perbuatan yang telah disepakati; keharamannya!" Seluruh ulama sepakat mengkonsumsi minuman keras bagi muslim itu haram.
Maka kita mengingkari perbuatan orang
yang mengkonsumsi minuman keras. Ulama sepakat menjual minuman keras kepada orang Islam tidak boleh alias haram. Demikian juga berjualan minuman keras di negara yang mayoritas penduduknya memeluk tidak boleh.
Dasarnya jelas ,hadits Imam Ahmad itu. Namun ulama masih berselisih tentang
menjual minuman keras di negara non-muslim kepada non-muslim. Banyak ulama tetap mengharamkan.
Namun Imam Abu Hanifah dan Imam Muhammad bin Hasan membolehkan dengan batasan diatas tadi.
Jika ada saudara kita membuka toko minuman keras di Edinburgh yang memang untuk warga Edinburgh yang non muslim, kita tidak boleh serta merta mengingkarinya dan menghukuminya fasik misalnya. Bisa jadi dalam bisnisnya itu ia memakai pendapat Imam Abu Hanifah."
"Wah, terima kasih diskusinya Bah. Senang sekali pagi ini kita berdiskusi sangat hangat. Aku berpikir suatu kali kau akan aku undang berbicara di kampus membedah masalah fiqh transaksi seorang muslim di negara non-muslim."
"Dengan senang hati Mas."
"Allahumma alhimna rusydana wa a‟idna bi syarri nufusina." (Ya Alloh ilhamkan kepada kami kebenaran bagi kami dan jauhkan dari kami keburukan nafsu-nafsu kami.)
"Amin."
"Sudah saatnya mandi dan bersiap-siap ke tempat kerja. Kita tutup majlis sarapan dan diskusi kita dengan do‘a kafaratul majlis."
Fahri lalu lirih membaca doa kafaratul majlis diikuti Misbah dan Paman Hulusi.
Pagi itu, sinar matahari seolah mengusir kabut dari kawasan Stoneyhill, dan menyepuh kawasan itu dengan sedikit kehangatan.
Ketika Fahri menaiki tangga hendak ke lantai dua, ia mendengar suara Keira menjerit-jerit dengan suara tidak jelas. Ia lalu mendengar suara kaca pecah!
"Paman tolong dilihat, semoga yang pecah bukan kaca mobil kita! Saya harus ke kamar kecil." Seru Fahri.
Paman Hulusi keluar rumah menuju garasi di samping rumah. Misbah mengikuti dari belakang. Tampak Keira mengamuk dan memecahi kaca jendela rumahnya sendiri.
Paman Hulusi hanya diam di tempat. Ia
hanya berdiri berjaga, jika sampai gadis itu hendak merusak mobil tuannya maka ia tidak akan membiarkannya.
Beberapa tetangga yang belum berangkat kerja ikut melihat kejadian itu. Mereka keluar rumah melihat ke arah suara Keira yang mengamuk. Madam Tilda yang rumahnya berada satu deret dengan rumah Brenda namun berada paling pojok meminta Keira menghentikan aksinya atau ia akan telpon polisi jikatidak mendengarkan kata-katanya. Keira ciut nyalinya ketika diancam akan dipanggilkan polisi. Gadis itu lalu duduk dan menangis tersedu-sedu di beranda rumahnya.
"Mama jahat! Aku benci mama!" Katanya sambil terisak-isak.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar