PANASNYA BUNGA MEKAR : 22-01
Sementara itu, mendekati saat-saat yang dijanjikan oleh Ki Selabajra, maka rasa-rasanya Marwantaka dan Wiranata tidak sabar lagi menunggu. Mereka mengisi kegelisahan yang mencengkam dengan persiapan-persiapan menghadapi segala kemungkinan.
“Ki Selabajra hanya menunda kehancuran padepokannya saja” geram salah seorang kawan Marwantaka.
“Apakah ia mencari bantuan?” bertanya yang lain.
“Kita selalu mengawasinya. Wiranata juga melakukannya,” kata Marwantaka, “tampaknya ia tidak pergi kemanapun juga. Seandainya ada hubungan, maka padepokan yang dihubunginya itu hanyalah padepokan Watu Kendeng yang tidak mempunyai kekuatan sama sekali”
“Mungkin Ki Watu Kendeng yang mencari hubungan dengan pihak lain lagi” berkata yang lain.
“Aku tidak melihat, tetapi padepokan itu juga diawasi” jawab Marwantaka.
Dalam pada itu, Wiranata justru menjadi curiga. Tetapi kesadarannya baru datang kemudian. Kepada seorang yang telah diupahnya untuk bekerja padanya ia berkata, “Mungkin Ki Selabajra akan menentukan satu cara yang licik. Mungkin ia akan mempergunakan cara yang dapat menolongnya menentukan pilihan”
“Cara apa?” bertanya orang itu.
“Mungkin ia akan minta aku dan Marwantaka untuk bertanding di arena” jawab Wiranata.
Orang yang diupahnya itu tertawa. Katanya, “Jika demikian kau akan menang”
“Aku belum yakin” jawab Wiranata.
“Aku akan membantumu. Sisa waktu yang pendek ini akan dapat kita pergunakan sebaik-baiknya” jawab orang upahan itu.
Hari-hari terakhir itu pun telah dipergunakan oleh Wiranata untuk meningkatkan ilmunya. Tetapi kesadarannya untuk melakukannya terlalu sempit. Meskipun demikian, ia merasa sudah siap menghadapi Marwantaka jika benar-benar itu dikehendaki oleh Ki Selabajra.
“Mungkin cara itu lebih baik daripada kita harus bertempur dalam jumlah banyak, sehingga korban pun akan berjatuhan semakin banyak. Sayembara tanding akan dapat menentukan pilihan dengan cara yang baik dan sikap Jantan bagi pelamarnya. Aku berharap Ki Selabajra menentukan demikian” berkata Wiranata di dalam hatinya, justru setelah ia berusaha meningkatkan ilmunya meskipun hanya di pekan terakhir. Tetapi ia merasa sudah siap berhadapan dengan Marwantaka.
Namun, sebelum akhir dari waktu yang diminta oleh Ki Selabajra habis, Marwantaka telah datang ke padepokan Kenanga. Ia minta agar Ki Selabajra segera menjawab pertanyaannya.
“Masih ada waktu tiga hari lagi ngger” jawab Ki Selabajra, “tiga hari lagi, aku akan memberikan jawaban”
“Kau hanya membuang-buang waktu saja. Tetapi baiklah. Aku akan menunggu tiga hari lagi. Tetapi jika kau licik dan mengabaikan aku, maka padepokan ini akan lebur menjadi debu” geram Marwantaka.
“Kau hanya dapat mengancam” jawab Ki Selabajra, “kenapa kau tidak berbicara sebagaimana sebaiknya berbicara”
“AKU tahu” jawab Marwantaka, “kau menunggu anak muda yang kau bangga-banggakan itu. Ha, apakah ia sudah datang? Seandainya ia datang” maka ia tidak akan-mampu menghadapi kekuatanku. Tentu saja dalam keseluruhan. Kecuali jika ia membawa pasukan segelar sepapan”
“Tidak, tidak sama sekali” jawab Ki Selabajra, “aku tidak menunggu siapa pun”
Marwantaka hampir tidak sabar lagi. Kecurigaannya pun menjadi semakin tajam. Meskipun ia mengawasi padepokan itu dengan ketat, namun kemungkinan-kemungkinan lain memang dapat terjadi.
Menjelang hari terakhir dari saat yang dijanjikan, maka Ki Selabajra telah memanggil Ken Padmi serta kedua orang cantrik tua itu untuk menghadap. Betapapun juga, ada semacam kecemasan dihatinya, bahwa yang akan terjadi, justru akan membuat Ken Padmi menjadi kecewa dan menyesal.
Tetapi dengan mantap Ken Padmi itu menjawab, “Aku sudah siap ayah”
“Baiklah” berkata Ki Selabajra, “jika demikian, maka segalanya akan berjalan seperti yang kita rencanakan”
Demikianlah, di hari berikutnya, baru saja matahari mulai naik, telah datang utusan dari kedua belah pihak. Mereka nampaknya sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Bahkan seandainya mereka harus melakukan kekerasan sekalipun.
“Kami tidak mempunyai banyak waktu” berkata utusan Marwantaka.
“Aku mengerti” jawab Ki Selabajra, “tetapi biarlah aku memberikan keterangan dengan terperinci”
“Cepat, katakan” desak utusan Wiranata.
Ki Selabajra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sikap kalian berdua sama sekali tidak menguntungkan anak gadisku. Ia tidak mempunyai kesempatan untuk melihat kemungkinan lain dari salah satu di antara kedua anak muda yang memiliki kemampuan bertindak dengan kekerasan”
“Cepati sebut keputusanmu” utusan Marwantaka mulai membentak.
Utusan dari kedua belah pihak itu rasa-rasanya tidak sabar lagi menunggu, ketika kepada mereka dihidangkan minuman dan makanan. Seolah-olah Ki Selabajra dengan sengaja telah memperpanjang waktu untuk satu tujuan tertentu.
Dalam kegelisahan itu, mereka yang berada di pendapa itu telah dikejutkan oleh kehadiran sebuah iring-iringan kecil yang terdiri dari lima orang. Diantaranya adalah Ki Watu Kendeng.
“Nah, agaknya orang itulah yang kau tunggu” berkata utusan yang sudah berada di pendapa.
“Tentu tidak. Apakah artinya lima orang itu jika aku sengaja menghendaki benturan kekerasan” jawab Ki Selabajra yang kemudian mempersilahkan Ki Watu Kendeng naik ke pendapa.
“Aku dihentikan oleh sekelompok orang yang mengaku sebadai kawan-kawan anakmas Marwantaka” berkata Ki Watu Kendeng setelah mereka duduk, “tetapi karena kami hanya berlima, maka kami telah diperkenankan terus. Agaknya menurut perhitungan mereka, kami berlima tidak akan berpengaruh apa-apa”
“Apakah kau sudah memberikan isyarat kepada sepasukan yang kuat untuk menyusulmu hari ini Ki Watu Kendeng?” bertanya utusan Wiranata.
“Tidak. Aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku tidak ingin terlibat terlalu jauh dalam persoalan ini. Jika hari ini aku datang, sebenarnya aku terdorong oleh satu keinginan untuk mendengar, keputusan apakah yang akan diambil oleh Ki Selabajra. Aku pernah mendengar bahwa Ki Selabajra telah menunda keputusannya tentang anak gadisnya sepanjang satu bulan penuh” berkata Ki Watu Kendeng.
Utusan dari kedua belah pihak itu pun kemudian mendesak, agar Ki Selabajra segera memberikan keputusannya.
“Ki Sanak” berkata Ki Selabajra sesudah satu bulan aku berpikir, ternyata aku masih belum dapat menemukan jalan yang paling baik yang dapat aku tempuh”
“Jangan mempermainkan kami” geram utusan Wiranata, “kami sudah bersabar satu bulan. Kau tahu, apakah artinya satu bulan bagi kami dan bagi Wiranata”
“Ya. Aku tahu” desis Ki Selabajra, “itulah sebabnya aku ingin menentukan satu cara yang paling baik”
“Cepat. Kenapa kau sengaja memperlambat persoalan? Kau menunggu sepasukan prajurit dari Singasari?” utusan Marwantaka hampir berteriak.
“Ki Sanak” berkata Ki Selabajra kemudian, “akhirnya aku memang memilih satu jalan yang paling” baik. Meskipun agak deksura, seolah-olah aku menganggap anakku terlalu penting, tetapi cara itulah yang aku kira, paling jujur”
“Sayembara tanding” utusan Wiranata berteriak.
“Ya. Sayembara tanding” jawab Ki Selabajra.
“Gila” geram utusan Marwantaka, “permainan apalagi yang sedang kau lalukan? He, apakah kau kira Wiranata pernah berlatih ilmu kanuragan?”
Tetapi utusan Wiranata yang sudah mengetahui persiapan Wiranata pun menyahut, “Jangan kau sangka, bahwa karena Wiranata bukan anak padepokan, maka ia tidak memiliki kemampuan olah kanuragan. Tetapi bukan karena kami merasa cemas untuk mempertahankan tekad Wiranata untuk mengambil Ken Padmi, namun cara sayembara tanding adalah cara yang jantan. Namun jika dikehendaki, maka kami pun tidak segan melakukan perang terbuka berhadapan dengan siapapun. Dengan padepokan Marwantaka atau dengan padepokan Kenanga sekaligus”
“Tunggu” potong Ki Selabajra, “jika aku mengatakan sayembara tanding bukan maksudku bahwa angger Marwantaka harus bertanding melawan angger Wiranata di arena”
“Jadi bagaimana” desak utusan Marwantaka, “kedua belah pihak harus memilih seseorang untuk mewakilinya?”
“Juga tidak” jawab Ki Selabajra, “karena itu dengarlah baik-baik. Aku tidak akan pernah sampai kepada penjelasan yang terinci. Bukan salahku jika waktunya selalu tertunda-tunda.
“Katakan, cepat” utusan Wiranata membentak.
“Baiklah. Dengarlah. Yang aku maksudkan dengan Sayembara tanding adalah siapa yang dapat mengalahkan Ken Padmi di arena, maka ia akan menjadi suaminya”
“Gila” hampir berbareng orang-orang yang berada di pendapa itu berdesis. Sementara itu utusan Marwantaka menyahut, “Jadi waktu yang sebulan ini dipergunakan oleh Ken Padmi untuk memperdalam ilmunya?”
Ki Selabajra termangu-mangu sejenak. Ternyata ada juga orang yang dapat langsung meraba kenyataan itu. Namun orang itu berkata selanjutnya, “Tetapi kau keliru Ki Selabajra. Apakah artinya waktu satu bulan bagi seorang gadis seperti Ken Padmi. Meskipun ia memang memiliki dasar olah kanuragan, tetapi yang satu bulan itu tentu tidak akan berarti apa-apa. Sebaiknya bukan Ken Padmi yang harus masuk arena, tetapi Ke Selabajra sendiri. Siapa yang dapat mengalahkan Ki Selabajra, ialah yang dapat mengambil anak gadisnya, karena jika Ki Selabajra saja tidak mampu mempertahankan diri, apakah artinya Ken Padmi bagi anak-anak muda yang sudah siap melakukan apa saja”
“Tetapi karena Ken Padmi yang akan menjalani, biarlah ia yang memasuki arena” jawab Ki Selabajra.
“Pengecut” desis utusan Marwantaka, “kenapa tidak Ki Selabajra saja mengumumkan sayembara tanding sampai mati. Siapa yang dapat membunuh Ki Selabajra, ia adalah orang yang berhak mengambil Ken Padmi”
“Ah, kenapa kau sebut-sebut sampai mati. Soalnya bukan karena dendam atau berhutang pati. Soalnya adalah justru menjelang satu masa yang berbahagia dalam kehidupan seseorang” jawab Ki Selabajra.
“Tetapi permainan ini adalah permainan yang gila” geram utusan Wiranata, “kenapa tidak perang tanding antara kedua orang yang sedang berebut gadis itu saja. Perang tanding sampai mati”
Dalam pada itu, utusan Marwantaka pun telah tersinggung pula, sehingga hampir berteriak ia berkata, “Bagus. Kedua orang anak muda itu dapat bertanding sampai salah seorang diantara mereka mati diarena”
Ki Selabajra menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Jangan menyebut-nyebut kematian. Justru kita sedang memilih seseorang bagi tujuan yang mangandung kegembiraan dan seperti yang sudah aku katakan menjelang satu masa yang berbahagia bagi seseorang.
“Tetapi usaha ini sia-sia” berkata utusan Marwantaka, “bagaimana jika orang yang pertama memasuki arena dapat mengalahkannya? Apakah dengan demikian hak orang kedua hilang begitu saja, sehingga orang yang pertama saja yang berhak?”
“Tidak. Keduanya harus mendapat kesempatan yang sama” jawab Ki Selabajra.
“Jadi kalau orang pertama itu menang?” desak utusan Marwantaka.
“Ya kedua tetap dilangsungkan. Jika menang pula, maka akan diambil kebijaksanaan menurut Ken Padmi sendiri” jawab Ki Selabajra.
“Padepokan ini memang pantas dihancurkan menjadi debu. Tetapi biarlah Ki Selabajra mencoba permainan gilanya ini” geram utusan Wiranata.
“Jika sudah jelas tagi kalian” berkata Ki Selabajra tanpa menanggapi kata-kata utusan Wiranata itu, “hari ini lewat tengah hari sayembara itu dapat diselenggarakan. Kalian dapat kembali dan menyampaikan keputusan ini kepada-kedua anak muda itu. Sementara aku dan para cantrik akan menyiapkan arena”
Para utusan itu tidak perlu mendengar keterangan ulangan. Mereka pun segera meninggalkan padepokan itu. kembali untuk menyampaikan keputusan Ki Selabajra.
Dalam para itu, Ki Selabajra pun telah menyiapkan arena untuk perang tanding. Waktunya masih cukup panjang sampai lewat tengah hari, sementara para utusan itu berpacu kembali ke rumah masing-masing.
“Tetapi Ki Selabajra harus bersiap menghadapi segala kemungkinan” berkata Ki Watu Kendeng, “nampaknya persiapannya tidak terlalu sederhana. Soalnya tidak akan terhenti sampai salah seorang atau keduanya dapat dikalahkan oleh Ken Padmi”
Ki Selabajra mengangguk-angguk. Katanya dengan nada berat, “Perang tanding itu nampaknya memang tidak akan menyelesaikan persoalannya. Tetapi dengan demikian. Ken Padmi akan dapat membuat kejutan bagi keduanya. Nampaknya keduanya harus berpikir ulang jika mereka akan melakukan kekerasan. Jika Ken Padmi dapat memiliki ilmu yang cukup tinggi, bukankah padepokan ini akan dapat mereka anggap sebuah padepokan yang kuat?”
Ki Watu Kendeng mengangguk-angguk. Desisnya, “Disini ada-dua orang cantrik tua dari Watu Kendeng”
Mahisa Agni dan Witantra tersenyum. Meskipun demikian, mereka pun menjadi berdebar-debar. Bukan karena mereka cemas menghadapi kemarahan orang-orang yang kecewa, tetapi justru sebaliknya. Apakah keduanya harus berbuat sesuatu terhadap mereka itu.
Sementara itu, arena pun telah siap dihalaman depan padepokan Kenanga. Sebuah gawar serat nanas sudah dipasang mengitarinya. Sayembara tanding akan dilakukan di dalam gawar serat.
Menjelang tengah hari, iring-iringan pertama telah memasuki padepokan. Mereka adalah Wiranata dengan para pengikutnya, lengkap dengan segala macam senjata yang ada pada mereka.
Ki Selabajra menjadi berdebar-debar. Ia mengerti bahwa orang-orang itu adalah orang-orang upahan. Jika mereka mendapat upah yang cukup, maka tingkah laku mereka akan sangat berbahaya.
Karena itulah, maka Ki Selabajra pun diam-diam telah menyiapkan kekuatan yang ada di padepokan Kenanga Meskipun tidak semata-mata, tetapi para cantrik telah menyiapkan senjata mereka dijumpai yang mudah mereka cepat. Sementara itu, mereka harus menjadi tuan rumah yang ramah dan tidak menimbulkan prasangka buruk”
Beberapa saat kemudian, maka iring-iringan kedua pun memasuki padepokan itu pula. Ternyata iring-iringan kedua inipun tidak kalah garangnya dengan iring-iringan pertama. Marwantaka telah datang dengan beberapa, orang kawannya dan kawan-kawan lain yang sekedar ingin melibatkan diri ke dalam keributan justru karena mereka merasa berilmu. Mereka adalah anak-anak padepokan yang berbeda, tetapi mereka merasa bahwa ilmu yang mereka miliki perlu sekali-sekali diasah agar menjadi semakin tajam tanpa menghiraukan taruhannya, karena dalam hal yang demikian, mungkin satu dua diantara mereka terpaksa menanggalkan nyawa dari tubuhnya.
Dalam pada itu, Ken Padmi yang berada di ruang dalam, tiba-tiba saja menjadi gelisah. Ketika saat perang tanding itu tiba, maka rasa-rasanya hatinya berdebaran, dan jantungnya berdegup semakin cepat.
“Tenanglah” berkata Mahisa Agni, “kau sudah memiliki bekal yang cukup. Kau jangan menghiraukan apa yang bakal terjadi sesudah itu. Ayahmu sudah mempersiapkan segala-galanya. Mudah-mudahan mereka bersikap jantan, dan tidak berbuat sesuatu yang akan dapat menimbulkan persoalan-persoalan yang gawat”
Ken Padmi mengangguk. Namun diluar sadarnya, terbayang seorang anak muda yang lain, yang pernah berada di padepokan itu, meskipun hanya sekedar singgah. Namun yang ternyata telah meninggalkan kesan yang tidak dapat disisihkannya dari sudut hatinya.
“Aku tidak peduli lagi” tiba-tiba saja Ken Padmi menggeram.
Dalam pada itu. maka semua persiapanpun telah selesai. Marwantaka sendiri tampil sambil berkata lantang, “Apakah kita menunggu matahari tenggelam. Ayo, siapa yang akan memasuki arena. Aku tidak sabar lagi”
Tetapi ternyata kedua anak muda itu masing-masing ingin memasuki arena lebih dahulu. Baik Marwantaka maupun Wiranata ingin tampil di arena untuk yang pertama.
Namun justru karena itu, maka Ki Selabajra telah mengambil suatu kebijaksanaan. Sambil melemparkan sehelai daun ke udara ia berkata, “Jika daun itu jatuh tertelungkup, maka angger Marwantakalah yang akan tampil lebih dahulu. Jika sebaliknya, maka angger Wiranata akan turun lebih dahulu ke arena”
Ternyata selembar daun itu jatuh menelentang, sehingga karena itu, maka Wiranata lah yang akan tampil lebih dahulu di arena.
Sambil tertawa Wiranata berkata, “Terima kasih kesempatan ini. Sebenarnya aku ingin bentuk sayembara tanding yang lain, yang barangkali lebih menarik. Tetapi jika hal inilah yang dikehendaki, maka. aku tidak berkeberatan.
“Baiklah” sahut Ki Selabajra, “aku minta dari masing-masing pihak satu orang yang akan menjadi saksi di arena ini. Sementara dari padepokan ini akan turun tiga orang saksi bersama aku sendiri”
“Baik. Tetapi jangan terlalu banyak bicara. Aku akan mulai dengan sayembara tanding ini” geram Wiranata.
“Kita akan menentukan aturan dari permainan ini” berkata Ki Selabajra, “yang dimaksudkan dengan kekalahan adalah apabila salah satu pihak sudah berada dalam keadaan tidak dapat melawan. Mungkin karena kelelahan. Mungkin karena tangkapan tangan lawan”
“Kalau Ken Padmi sudah kehabisan tenaga dan dikalahkan pada putaran sayembara pertama, apa yang dapat aku lakukan?” bertanya Marwantaka.
“Ia akan tetap tampil pada putaran sayembara kedua. Jika ia juga dikalahkan, maka akan diambil satu kebijaksanaan” jawab Ki Selabajra.
“Permainan gila” geram Marwantaka, “agaknya Ki Selabajra memang ingin mempermainkan kita.. Tetapi jika terjadi satu sikap yang berakibat lain dari yang aku inginkan, aku tidak peduli”
Ki Selabajra mengerutkan keningnya, sementara para pengikut Wiranata memandanginya dengan tatapan mata kemarahan.
Tetapi bagaimanapun juga, sayembara tanding itu akan dilaksanakan juga.
Sesaat kemudian, maka lima orang saksi telah berada di arena. Dua orang dari kedua pihak yang mengikuti sayembara itu, sementara tiga orang lainnya adalah-para. penghuni padepokan Kenanga. Dua diantara mereka ada lah cantrik-cantrik tua yang telah menempa Ken Padmi. menjadi seorang gadis yang pilih tanding, sementara yang seorang adalah Ki Selabajra sendiri.
Namun dalam pada itu, Ki Selabajra telah minta kepada Ki Watu Kendeng yang ada di sekitar arena itu mengamati keadaan. Jika nampak gejala-gejala yang gawat, makan ia harus segera memberikan isyarat kepada para cantrik untuk bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.
“Jika benar Ken Padmi dapat mengalahkan mereka, mudah-mudahan mereka mengerti, bahwa tingkat kemampuan mereka masih belum memadai sehingga tidak akan terjadi persoalan-persoalan berikutnya” berkata Ki Selabajra di dalam hatinya. Namun kemudian, “Atau mereka akan menjadi gila dan kehilangan akal”
Demikianlah, maka sejenak kemudian segala persiapan sudah siap. Lima orang saksi sudah berada di tengah-tengah arena. Wiranata yang mendapat kesempatan pertama pun telah berdiri bertolak pinggang sambil tersenyum. Bahkan katanya kemudian, “Apakah gadis itu sedang berhias?”
Suara Wiranata yang keras itu terdengar oleh Ken Padmi yang masih berada di dalam. Hampir saja ia meloncat keluar, jika saja ia tidak teringat oleh pesan ayahnya, bahwa ia harus menunggu sehingga seseorang memanggilnya.
Dalam pada itu, ketika Ki Selabajra menganggap bahwa keadaan sudah memungkinkan, Mahisa Agni dan Witantra sudah berada di arena, sementara Ki Watu Kendeng telah siap mengawasi keadaan, maka ia pun menyuruh seorang cantrik untuk memanggil Ken Padmi.
Ken Padmi memang agak gemetar. Bagaimanapun juga, ia akan bertanding di arena, sedangkan taruhannya adalah dirinya sendiri. Namun setiap kali ia sadar, justru taruhannya adalah dirinya sendiri, ia harus berbuat sebaik-baiknya.
Ketika gadis itu turun dari pendapa dan kemudian melangkah mendekati arenanya, suasana jadi tercengkam oleh ketegangan. Semua orang memandanginya. Dengan pakaian seorang laki-laki Ken Padmi mendekati arena, sehingga orang-orang yang sudah berdiri melingkar itu pun menyibak.
Wiranata. membeku untuk beberapa saat ketika ia melihat gadis itu. Seorang gadis yang cantik. Namun dalam pakaiannya itu, ia memang nampak seorang gadis yang garang.
Namun sejenak kemudian, terdengar suara tertawanya meledak. Katanya, “Kau semakin cantik Ken Padmi”
Ken Padmi mengerutkan keningnya. Ketika ia lewat di hadapan Ki Watu Kendeng yang beringsut setapak, ia mendengar Ki Watu Kendeng berdesis, “jangan hiraukan. Ia sekedar berteriak untuk mengatasi kegelisahannya”
Ken Padmi memandang Ki Watu Kendeng sejenak. Namun ia pun mengangguk kecil. Iapun sependapat, bahwa bagaimanapun juga seperti dirinya sendiri, Wiranata tentu juga menjadi berdebar-debar.
Sejenak kemudian, dua orang sudah berada di arena. Wiranata dan Ken Padmi. Dua orang yang sudah dap untuk berkelahi dengan taruhan diri mereka.
Sejenak kemudian Ki Selabajra berkata, “Semua ketentuan sudah diumumkan. Kita akan segera mulai. Kami para saksi berharap semuanya dapat berlangsung dengan jujur”
Wiranata bergeser setapak. Ia memandang Ken Padmi dengan tatapan mata yang tajam. Seolah-olah ia tidak yakin, bahwa ia memang harus berhadapan dengan-gadis itu dalam sayembara tanding. Namun, ia tidak dapat mengelakkan kenyataan, bahwa Ken Padmi benar-benar sudah siap menghadapinya.
“Aku akan menyelesaikannya dengan cepat” berkata Wiranata di dalam hatinya, “jika aku dapat mengalahkannya, kemudian Ken Padmi masih harus berkelahi melawan Marwantaka dan dapat dikalahkannya pula” agaknya soal wakt akan diperhatikan pula”
Demikianlah, maka kedua orang yang sudah berada di arena itu pun segera mempersiapkan diri. Lima orang saksi berdiri melingkar di dalam gawar serat yang dibuat sebagai-batas arena.
Sejenak keduanya bergeser selangkah demi selangkah. Namun kemudian Wiranata pun mulai mengayunkan tangannya sambil berkata, “Kita akan mulai bermain-main Ken Padmi. Kita akan berlatih, bagaimana kita akan mengajari anak kita kelak”
Karena itu, maka Ken Padmi pun sama sekali tidak menghiraukannya. Tetapi ia bergeser surut ketika tangan Wiranata berusaha menyentuhnya.
Ken Padmi menjadi berdebar-debar mendengar kata-kata Wiranata itu. Namun ia pun segera teringat pesan Ki Watu Kendeng, pada saat ia memasuki arena, bahwa Wiranatapun berusaha untuk menenangkan hatinya.
Ternyata Wiranata tidak mau menunda-nunda lagi. Ketika Ken Padmi bergeser, ia pun segera melangkah memburunya. Sekali lagi tangannya terayun. Cepat, tetapi tidak terlalu keras. Ia memang tidak ingin memukul Ken Padmi. Tetapi ia hanya ingin menyentuhnya.
Tetapi sekali lagi ia tidak berhasil. Bahkan nampaknya Ken Padmi menjadi acuh tidak acuh. Ia hanya menggeliat saja untuk menghindarinya.
Sebenarnyalah Ken Padmi pun tidak sabar lagi. Karena itu sengaja ia memancing, agar Wiranata mulai dengan bersungguh-sungguh.
Sikap Ken Padrni itu memang membuat dahi Wiranata berkerut. Gadis itu bergerak seenaknya saja. Namun tangannya benar-benar tidak dapat menyentuhnya.
Karena itu, maka Wiranata pun mulai tertarik untuk bergerak lebih cepat. Sekali lagi ia berusaha menyentuh lengan Ken Padmi. Bukan saja tangannya yang terjulur kedepan, kemudian disusul tangannya yang lain terayun. Namun ia sudah mulai melangkah panjang dan cepat.
Namun sekali lagi. Ken Padmi berkisar dengan sikap yang menjengkelkan.
“Gadis ini benar-benar harus mendapat pelajaran menghormati orang lain” berkata Wiranata di dalam hatinya, “meskipun agak sayang jika kulitnya kesakitan, tetapi seolah-olah ia dengan sengaja mengejekku”
Dengan demikian, maka Wiranata mulai bersungguh-sungguh. Ia mulai bergerak dengan cepat untuk memotong langkah Ken Padmi. Tetapi ternyata Ken Padmi pun bergerak semakin cepat pula. Tangan Wiranata yang terayun-ayun sama sekali tidak berhasil menyentuhnya, meskipun Wiranata kemudian berusaha untuk benar-benar mengenainya.
“Bukan main” desis Wiranata di dalam hatinya, “apakah ia memaksa aku untuk bersungguh-sungguh sebagaimana aku berkelahi sebenarnya?”
Tetapi lambat laun, memang tidak ada pilihan lain bagi Wiranata. Ketika tangannya terayun kepundak Ken Padmi, gadis itu sempat mengelak. Bahkan dengan sisi telapak tangannya Ken Padmi telah memukul tangan Wiranata yang tidak menyentuhnya.itu.
Wiranata terkejut. Kecepatan gerak Ken Padmi tidak terlalu mengherankannya. Gadis itu dapat saja dengan tiba-tiba memukul tangannya yang sedang terjulur. Apalagi Wiranata sendiri kurang berhati-hati dengan tangannya itu. Tetapi yang mengejutkannya adalah kekuatan tangan Ken Padmi. Nampaknya gadis itu hanya sekedar menyentuhnya. Namun terasa sakit telah menyengat sampai ke tulang.
“Aneh” guman Wiranata di dalam hatinya. Namun kemudian ia berkata kepada dirinya sendiri”
“Nampaknya gadis ini benar-benar gadis liar yang perlu dibuat jera”
Dengan demikian, langkah-langkah Wiranata selanjutnya menjadi semakin cepat. Tangannya menjadi semakin garang pula. Namun dengan demikian jantungnya menjadi semakin berdebar-debar juga. Ia sama sekali tidak dapat menyentuh gadis itu. Bahkan beberapa kali Ken Padmi lelah mengenainya sehingga beberapa kali ia harus menyeringai menahan sakit.
“Bukankah aku tidak bermimpi” geram Wiranata, “betapapun juga gadis ini bukan anak iblis. Ia adalah anak Selabajra. Bahkan melawan Selabajra pun aku tidak gentar”
Namun pada perkelahian berikutnya, bukan tangannya yang mengenai gadis itu. tetapi justru tangan Ken Padmi menjadi semakin sering mengenainya. Dan bahkan menyakitinya.
Akhirnya Wiranata itu menggeram. Ia tidak mau bermain-main lagi. Sentuhan ujung jari-jari Ken Padmi yang merapat telah membuat dadanya menjadi sesak. Bahkan kemudian sisi telapak tangan gadis itu telah membuat lengannya bagaikan membengkak.
Perkelahian di arena itu, semakin lama menjadi semakin cepat Pancingan-pancingan Ken Padmi, akhirnya berhasil membuat Wiranata marah dan bertempur dengan bersungguh-sungguh. Langkahnya menjadi cepat dan mantap, sementara tangannyapun justru menjadi semakin jarang bergerak. Tetapi setiap gerakan, langsung mengarah ke tempat yang berbahaya di tubuh Ken Padmi.
Tetapi ternyata Ken Padmi benar-benar lincah. Latihan-latihan yang dilakukannya di atas amben bambu dan di atas batang-batang bambu petung yang ditanam setinggi tubuhnya, membuat kakinya menjadi sangat ringan, bagaikan tidak menyentuh tanah.
“Anak iblis” geram Wiranata. Ia merasa bahwa ia sudah bersungguh-sungguh. Ken Padmi sudah berhasil membuat Wiranata menghadapinya sebagaimana mereka berhadapan di arena. Agaknya Wiranata benar-benar sudah menjadi marah.
Namun dengan demikian. Ken Padmi pun menjadi lebih leluasa menghadapinya. Ia tidak sekedar berhadapan dengan seseorang yang nampaknya seperti sedang bermain-main saja. Seolah-olah dengan jiwa yang besar dan penuh maaf Wiranata tidak melawannya dengan sungguh-sungguh.
Tetapi yang terjadi kemudian, kedua orang itu lelah bertempur dengan sungguh-sungguh. Wiranata pun telah mengerahkan segenap kemampuannya. Untuk beberapa hari terakhir ia sempat meningkatkan ilmunya. Bahkan seandainya untuk menghadapi Marwantaka atau Ki Selabajra sendiri. Namun dalam pada itu, ia harus berhadapan dengan Ken Padmi. Dan ia pun sudah memeras segenap kemampuannya, namun ia belum berhasil.
Karena itu, maka kegelisahan mulai merayapi jantungnya. Dengan sepenuh kemampuannyaia berusaha. Bahkan akhirnya ia tidak lagi mengingat siapakah yang dilawannya. Yang terbersit di hatinya adalah niatnya untuk mengalahkannya.
Yang melihat pertempuran itu mula-mula merasa kecewa. Perkelahian itu nampaknya hanya sekedar permainan yang tidak berarti Wiranata hanya sekedar mengayunkan tangannya. Kemudian malangkah maju dan mundur.
Namun semakin lama perkelahian itu menjadi semakin seru. Masing-masing mulai meningkatkan ilmunya, sehingga akhirnya Wiranata telah mengerahkan segenap kemampuannya.
Marwantaka mula-mula tersenyum melihat tingkah laku Wiranata. Seolah-olah Wiranata tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Namun semakin lama kening Marwantaka pun berkerut semakin dalam. Ia melihat Wiranata semakin bersungguh-sungguh. Namun Wiranata itu sama sekadi tidak dapat mengatasi, kemampuan Ken Padmi.
Dengan sungguh-sungguh ia memperhatikan apa yang telah terjadi. Ia mulai menilai setiap gerak dan perlawanan Ken Padmi. Ia pernah berada di padepokan itu. Iapun pernah justru menggurui gadis itu. Namuu tiba-tiba gadis itu menjadi seorang gadis yang garang.
Wiranata ternyata tidak mampu mengimbangi kecepatan gerak Ken Padmi. Beberapa kali justru ia menjadi bingung. Geraknyalah yang telah dipotong oleh langkah-langkah Ken Padmi yang ringan dan cepat.
“Gila” geram Wiranata di dalam arena. Dan Marwantaka diluar arena mengumpat pula.
“Iblis manakah yang telah meningkatkan ilmu gadis itu” bertanya Marwantaka di dalam hatinya. Namun dalam pengamatannya, ia melihat dengan jelas, ciri-ciri perguruan Kenanga, sehingga menurut dugaannya, dalam waktu sebulan itu Ki Selabajra telah menempa anaknya sehingga ilmunya telah maju dengan pesat.
“Tetapi apakah Ki Selabajra sendiri mampu berbuat seperti itu?” bertanya Marwantaka di dalam hatinya.
Namun Marwantaka terkejut ketika ia melihat Wiranata menghentakkan tenaganya. Ia meloncat dengan kecepatan yang luar biasa, melampaui kecepatan yang pernah dilihat sebelumnya.
Namun sekali lagi Marwantaka menarik nafas dalam-dalam. Serangan Wiranata itu meluncur setapak dihadapan Ken Padmi yang memiringkan tubuhnya sambil bergeser ke samping. Bahkan kemudian dengan kecepatan yang lebih tinggi. Ken Padmi itu telah memukul pundak lawannya dengan sisi telapak tangannya.
Terdengar Wiranata mengeluh tertahan. Pundaknya terasa betapa sakitnya. Dengan tangkasnya ia segera meloncat surut sambil bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Tetapi Ken Padmi tidak memburunya. Ia justru menunggu Wiranata mempersiapkan diri. Baru kemudian ia malangkah maju dengan tangan Bersilang di dada.
Wiranata yang merah itu bertambah marah. Dengan hati-hati ia pun bergeser maju, Kamudian ia mulai menggerakkan tangan mengarah ke kening. Namun, ketika Ken Padmi mengelak, tiba-tiba saja ia telah meloncat meluncur dengan cepatnya. Dengan kakinya yang mendatar ia menyerang dada gadis padepokan Kenanga itu.
Ken Padmi ternyata tidak saja ingin menunjukkan kecepatannya bergerak. Meskipun tidak secepat peningkatan ketrampilannya. namun ia yakin akan dapat mengimbangi kekuatan lawannya.
Karena itu, dengan mengerahkan tenaga cadangannya, “Ken Padmi justru tetap menyilangkan tangannya di dadanya. Ia tidak berusaha menghindari serangan, kaki Wiranata yang diluncurkan dengari segenap kekuatannya.
Yang terjadi kemudian adalah sebuah benturan yang dahsyat. Ken Padmi terdorong beberapa langkah surut. Bahkan ia pun telah jatuh terduduk. Namun demikian tangannya bertelekan tanah, maka ia pun segera meloncat berdiri dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Tetapi ternyata Wiranata masih terbaring di tanah. Ketika serangannya membentur tangan Ken Padmi yang bersilang, rasa-rasanya ia justru telah membentur tebing batu. Kekuatan yang dihentakkan telah memukul dirinya sendiri, sehingga ia telah terlempar beberapa langkah dan jatuh di tanah.
Terdengar ia mengeluh. Perlahan-lahan ia mencoba bangkit. Dengan tangannya yang bertelekan ia berusaha untuk berdiri pada lututnya. Namun Wiranata telah menjadi semangat lemah. Tulang-tulangnya bagaikan berpatahan.
“Gila” ia mengumpat. Dipandanginya wajah Ken Padmi yang kemerah-merahan oleh keringat. Namun nampaknya nafasnya masih mengalir teratur, dan tenaganya masih nampak segar seperti saat perkeiaian itu dimulai.
“Kau akan menyesal” geram Wiranata.
Ken Padmi tidak menjawab sama sekali. Ia berdiri tegak sambil rnemandang Wiranata yang tertatih-tatih berdiri dibantu oleh seorang pengikutnya yang menjadi saksi di arena.
Sementara itu Ki Selabajra melangkah maju sambil berkata, “Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, bahwa salah seorang dinyatakan kalah apabila ia sudah tidak dapat melawan lagi”
“Aku belum kalah” teriak Wiranata.
“Apakah perkelahian masih dapat diteruskan” bertanya Ki Selabajra kepada Wiranata.
Wiranata menjadi ragu-ragu. Tetapi ia tidak dapat ingkar dari kenyataan itu. bahwa ia memang sudah tidak berdaya.
Oleh pengikutnya Wiranata dipapah keluar arena dan diserahkan kepada kawan-kawannya. Kemudian, pengikutnya, yang menjadi saksi itu kembali memasuki arena untuk menunggui perkelahian yang masih akan berlangsung antara Ken Padmi melawan Marwantaka.
Dalam pada itu, Marwantaka yang telah menyaksikan apa yang terjadi di arena menjadi berdebar-debar. Jika semula ia menganggap bahwa sayembara itu adalah permainan gila semata-mata, maka ia harus melihat satu kenyataan pula. Wiranata telah dikalahkan. Benar-benar dikalahkan. Bukan sekedar permainan dan bukan karena kelengahan Wiranata, karena pada saat-saat terakhir Wiranata telah benar-benar mengerahkan kemampuannya.
Tetapi Marwantaka masih mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri, ia merasa bahwa ia memiliki kelebihan dari Wiranata, meskipun ia tidak begitu yakin, kelebihan apakah sebenarnya yang ada padanya itu.
Sejenak kemudian, maka Ki Selabajra pun telah memanggil orang kedua yang akan memasuki arena.
“Silahkan” berkata Ki Selabajra, “masih ada seorang lagi yang akan memasuki arena perkelahian”
Marwantaka melangkah maju. Meskipun jantungnya menjadi berdebar-debar, tetapi ia berusaha untuk bersikap tenang. Katanya kemudian ketika ia sudah berdiri di pinggir arena, “Beri kesempatan gadis itu beristirahat”
“Tidak perlu” tiba-tiba saja Ken Padmi menjawab.
Marwantaka memandanginya sejenak. Kemudian ia pun tersenyum sambil berkata, “Aku pernah tinggal di padepokan ini. Aku tahu kemampuanmu, dan kau pun mengetahui kemampuanku. Apakah kita masih akan bertempur di arena?”
“Mungkin waktu itu kita saling mengetahui. Tetapi waktu itu sudah berlalu. Dan aku sudah melupakannya. Akupun sudah lupa, betapa tingkat kemampuanmu” jawab Ken Padmi.
Wajah Marwantaka menjadi merah. Nampaknya Ken Padmi sudah yakin benar akan dirinya. Sehingga karena itu, maka Marwantaka pun telah merasa tersinggung karenanya.
Tetapi ia masih tetap menyadari keadaannya. Bahkan ia masih menjawab sambil tertawa, “Kau membuat aku marah anak manis. Kemarahan memang dapat membaurkan perhitungan. Dan kau berusaha berbuat demikian, sehingga aku tidak akan dapat melawanmu dengan perhitungan yang bening”
Tetapi, tanggapan Ken Padmipun cukup mendebarkan. Seolah-olah ia tidak menghiraukan jawaban Marwantaka. Katanya, “Aku sudah letih menunggu. Silahkan jika niat itu masih dilanjutkan”
Rasa-rasanya telinga Marwantaka tersentuh bara. Namun ia masih tetap tersenyum sambil berkata, “Baiklah. Seorang gadis yang manis kadang-kadang tidak dapat ditunda lagi jika sudah timbul niatnya untuk berbuat sesuatu. Marilah. Aku sudah siap”
Wajah Ken Padmi lah yang kemudian menjadi merah Tetapi ia berusaha untuk tetap tenang. Ia selalu teringat kepada pesan Ki Walu Kendeng saat ia memasuki arena, bahwa lawan-lawannya itupun tentu berusaha untuk meng atasi gejolak perasaannya.
Sejenak kemudian, keduanya lelah bersiap di arena. Marwantaka tidak mau mengulangi kesalahan Wiranata, bahwa ia menganggap gadis itu tidak memiliki kemampuan untuk mengimbangi ilmunya.
Karena itu, sejak langkahnya yang pertama, Marwantaka telah berhati-hati. Ia berusaha untuk mempergunakan pengamatannya sebagai bahan untuk mempersiapkan perlawanannya. Karena itu, maka ia pun merasa beruntung bahwa ia memasuki arena pada giliran yang kemudian.
Sejenak kemudian, Ken Padmi sudah bergeser. Setapak ia mendekat. Namun tangannya sudah bersiaga untuk menghadapi setiap kemungkinan.
Nampaknya Marwantaka tidak sabar lagi. Ia mulai dengan serangannya meskipun belum menentukan. Namun dengan demikian ia sudah memancing gerakan-gerakan selanjutnya, sehingga perkelahian itupun segera meningkat menjadi semakin seru.
Keduanya tidak banyak membuang waktu untuk menjajagi kemampuan lawannya. Sebenarnyalah Ken Padmi sudah dapat mengetahui tingkat ilmu lawannya ketika anak muda itu berada di padepokan Kenanga. Waktu itu, kekosongan hatinya membuatnya agak dekat dengan Marwantaka. Ia tidak menolak ketika Marwantaka menawarkan diri untuk memberikan tuntunan kepadanya untuk meningkatkan ilmunya.
Namun akhirnya Ken Padmi sadar, bahwa anak muda itu tidak sesuai di hatinya. Apalagi setelah Marwantaka dan ayahnya, Ki Selabajra bersentuhan dengan orang yang bernama Ki Dukut Pakering. Demikian ayahnya kembali ke padepokan, setelah Ki Dukut gagal mempergunakan tenaga para pemimpin beberapa padepokan, maka ia mendapat lebih banyak penjelasan tentang sikap anak muda yang bernama Marwantaka itu.
Dalam pada itu, Marwantaka pun benar-benar menjadi heran, bahwa tingkat kemampuan Ken Padmi benar sudah menjadi jauh lebih tinggi. Gadis itu mampu bergerak cepat sekali, seolah-olah ia sudah berhasil mengatasi berat tubuhnya Sendiri. Bahkan dalam pertempuran yang cepat, gadis itu nampaknya bagaikan melayang-layang tanpa menyentuh tanah.
Pertempuran itu pun semaian lama menjadi semakin sengit. Namun ternyata bahwa Mawantaka harus menghadapi kenyataan, bahwa kemampuan Ken Padmi sudah jauh di atas kemampuannya. Kecepatan geraknya, kekuatannya, ketahanan tubuhnya, tidak lagi dapat diimbanginya.
Meskipun sekali-sekali tangannya berhasil mengenai tubuh gadis itu, tetapi seolah-olah Ken Padmi sama sekali tidak merasanya. Tetapi jika tangan gadis itu yang mengenainya, maka ia harus menyeringai menahan sakit.
“Gadis ini sudah kerasukan iblis” geram Marwanata di dalam hatinya. Namun betapapun ia mengerahkan kemampuannya, namun ia sama sekali tidak mampu menahan serangan-serangan Ken Padmi.
Tetapi, Marwantaka tidak dapat dengan serta merta mengaku kalah di hadapan sekian banyak pengikutnya dan penonton lain-lainnya. Bagaimanapun juga ia masih mempunyai harga diri. Sehingga karena itu, maka ia telah mengerahkan kemampuan yang tersisa.
Namun dengan demikian, maka kekuatannya bagaikan terkuras habis. Serangan-serangannya sudah tidak mengarah lagi, dan setiap benturan telah mendorongnya sehingga beberapa kali ia telah jatuh berguling di tanah.
Meskipun demikian Marwantaka tidak mau mengakui kemenangan lawannya. Ia berpegang, bahwa kekalahan ditandai oleh kenyataan bahwa salah satu pihak sudah tidak mampu melawan lagi.
Karena itu, maka selama ia masih sempat dan mampu bergerak, ia masih berusaha untuk menunjukkan sikap bahwa ia masih dapat melawan. Tetapi, kemarnpuannya akhirnya sampai kepada batasnya. Ken Padmi yang menjadi jemu itu akhirnya memutuskan untuk menghentikan perlawanan Marwantaka. Sebagaimana juga Wiranata, maka akhirnya, Ken Padmi pun terpaksa menghentikan perlawanan Marwantaka dengan satu hentakan, sehingga Marwantaka yang sudah lemah sekali, sama sekali tidak mampu lagi bertahan ketika sebuah pukulan yang dilontarkan oleh Ken Padmi, meskipun tidak dengan sekuat tenaganya, mengenai dadanya.
Marwantaka terdorong surut. Kemudian ia pun terhuyung-huyung bebetaa saat. Tetapi ia tidak berhasil mempertahankan keseimbangannya, sehingga akhirnya ia jatuh terlentang.
Marwantaka tidak berhasil untuk bangkit. Ia mencoba menggeliat. Namun matanya menjadi berkunang-kunang. Tetapi ia tidak menjadi pingsan. Meskipun demikian, ia benar-benar tidak mampu lagi untuk bangkit dan melawan.
Karena itu, maka Ki Selabajra pun kemudian berkata, “Kali ini pun ternyata, bahwa orang kedua yang memasuki arena tidak mampu mengalahkan Ken Padmi. Karena itu maka masalahnya sudah pasti. Apa yang selama ini merupakan teka-teki, hari ini agaknya sudah terjawab.
Marwantaka yang ditolong oleh beberapa orang kawannya dan kemudian membawa menepi, menggeretakkan giginya. Tetapi rasa-rasanya tulangnya bagaikan berpatahan.
Dalam pada itu, Ki Selabajra pun berkata, “Ternyata bahwa kita semuanya adalah laki-laki jantan yang berpegang pada watak seorang laki-laki. Kita menghormati perjanjian dan ketentuan yang sudah dibuat. Sayembara ini merupakan jawaban dari kemelut yang terjadi selama ini. Marilah kita akhiri segalanya yang membuat kita selalu dibakar oleh api kebencian, dendam dan cemburu”
Tidak ada jawaban. Namun tiba-tiba saja Wiranata yang sudah sempat beristirahat dan mencoba memperbaiki pernafasannya itu pun bangkit. Tanpa berkata sepatahpun ia telah membawa para pengikutnya meninggalkan halaman padepokan itu.
Wajah Ki Selabajra menjadi tegang. Nampaknya, sayembara yang diselenggarakan itu bukan akhir dari ketegangan yang pada saat terakhir telah membakar pa depokan itu. Namun nampaknya sayembara itu masih akan mempunyai ekor peristiwa-peristiwa yang kurang menyenangkan.
Sepeninggal Wiranata dengan kawan-kawannya, ternyata Marwantaka yang masih sangat lemah pun berkata, “Jangan menyangka kemenangan ini akan memberikan kebanggaan kepada kalian”
Ki Selabajra tidak menyahut. Dipandanginya saja Marwantaka yang meninggalkan halaman itu pula bersama para pengikutnya.
Sepeninggal mereka, Ki Selabajra berdiri tegak di-tangan arena. Di sebelahnya berdiri Mahisa Agni dan Witantra. Sementara Ki Watu Kendeng pun mendekatinya sambil berdesis, “Nampaknya mereka tidak ikhlas menerima kekalahan mereka”
Ki Selabajra mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin mereka masih akan memberikan tekanan-tekanan kepada padepokan ini”
Namun dalam pada itu, Ken Padmi pun berkata, “Tetapi mereka tidak akan menganggap kita sebagai anak-anak lagi ayah. Anak-anak yang dapat ditakut-takuti dengan seekor tikus kecil. Tetapi kini mereka harus memperhitungkan segala-galanya dengan cermat”
Ki Selabajra mengangguk-angguk. Jawabnya, “Mudah-mudahan. Mudah-mudahan mereka tidak akan membuat kesulitan-kesulitan baru”
“Tetapi kita tidak boleh melepaskan kewaspadaan” berkata Ki Watu Kendeng, “Bahkan aku pun telah ikut diancam pula oleh kedua belah pihak”
“Mereka memang terlalu kasar” jawab Ki Selabajra, “seharusnya mereka mengerti, bahwa mereka tidak berhak untuk memaksakan kehendaknya. Tetapi karena mereka merasa kuat, apakah karena mereka mendapat dukungan dari kawan-kawannya, atau karena mereka merasa mampu mengupah orang untuk kepentingannya, maka mereka mencoba untuk memaksakan keinginannya dengan kekerasan dan ancaman-ancaman”
Tetapi satu kenyataan telah terjadi. Kedua orang anak muda yang ingin mengambil Ken Padmi menjadi isterinya itu tidak dapat mengalahkannya. Sehingga dengan demikian mereka harus berpikir berulang kali untuk meneruskan niatnya.
Seandainya dengan segala macam usaha, kekerasan, ancaman dan lain-lainnya sehingga salah seorang akan berhasil memaksakan kehendaknya, namun apakah yang akan dialaminya dalam hidupnya sehari-hari. Seorang laki-laki yang tidak akan mampu berbuat apapun terhadap isterinya yang memiliki ilmu dan kemampuan melampauinya.
“Dendam itu akan membakar hubungan kami sehari-hari” berkata Marwantaka di dalam hatinya.
Namun demikian kekalahan itu membakar dendam diliatinya pula. Meskipun ia tidak ingin lagi memperisteri Ken Padmi, namun padepokan Kenanga dan Watu Kendeng bagi mereka, merupakan neraka yang harus dimusnahkan.
Ternyata perkembangan berikutnya adalah justru mengarah kepada suatu keadaan yang lebih gawat bagi padepokan Kenanga. Agaknya Marwantaka dan Wiranata justru saling mendekatkan hati mereka untuk bersama-sama melepaskan dendam dan kebencian mereka terhadap padepokan Kenanga.....
Bersambung.... !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar