PANASNYA BUNGA MEKAR : 30-03
“Pangeran berdua,” Witantra melanjutkan, “bukan maksud kami menyombongkan diri. Tetapi Pangeran tentu mengerti, bahwa dua orang iblis itu mempunyai ilmu yang lebih tinggi dari Pangeran. Ternyata bahwa kami berdua dapat mengimbangi ilmu mereka. Nah, berdasarkan atas perhitungan nalar, apakah Pangeran berdua akan dapat melawan kami yang bukan saja berdua, tetapi bertiga dengan gadis itu?”
Kedua Pangeran itu menjadi semakin ragu-ragu. Sementara itu sekali lagi Pangeran Indrasunu berteriak, “Jangan menjadi pengecut.”
“Maaf, Pangeran Indrasunu,” sahut Mahendra, “jangan terlalu banyak memperhatikan kedua saudara Pangeran ini. Mereka tidak akan mengalami apapun juga. Sebaiknya Pangeran menjaga diri Pangeran sendiri. Kedua anak-anak itu akan dapat berbahaya bagi Pangeran.”
“Persetan!” geram Pangeran Indrasunu.
Namun ketika Pangeran Indrasunu akan membuka mulutnya lagi, Mahisa Murti telah menyerangnya dengan cepat, sehingga Pangeran itu tidak sempat mengucapkan sepatah kata pun. Dengan tergesa-gesa Pangeran Indrasunu menghindar dengan loncatan panjang.
Mahisa Murti tidak mengejarnya, sementara Mahisa Pukat justru tertawa sambil berkata, “Hampir saja kau tidak dapat diam Pangeran. Jika senjata Mahisa Murti menyentuh mulutmu, maka kau akan selalu tersenyum.”
“Gila!” kemarahan Pangeran Indrasunu semakin memuncak. Namun kedua anak muda itu justru tertawa. Ketegangan di jantung mereka sudah menjadi jauh berkurang.
Kecemasannya bukan karena dari mereka sendiri. Tetapi justru karena mereka melihat keadaan Ken Padmi. Namun setelah Ken Padmi mendapat perlindungan dari Mahendra dan Witantra, maka mereka pun tidak lagi dicengkam oleh kecemasan.
Karena itu, maka mereka pun kemudian sempat membuat Pangeran Indrasunu menjadi semakin marah. Tetapi ia tidak dapat berbuat banyak menghadapi kedua anak muda itu.
Sementara itu, kedua Pangeran yang menghadapi Ken Padmi, benar-benar sudah tidak mempunyai harapan apapun juga. Mereka harus melihat satu kenyataan, bahwa Mahendra dan Witantra adalah orang-orang yang tidak terlawan.
Namun dalam pada itu, Witantra yang sempat memperhatikan pertempuran antara Pangeran Indrasunu melawan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi cemas. Jika Pangeran Indrasunu menjadi sangat marah, sehingga ia tidak lagi menghiraukan apapun juga, maka hal itu akan dapat memancing kemarahan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pula. Jika kedua anak muda itu kehilangan pengamatan diri, maka keduanya akan sangat berbahaya bagi Pangeran Indrasunu.
Karena itu, maka Witantra itu pun kemudian berkata kepada kedua Pangeran yang bertempur melawan Ken Padmi, ”Pangeran, aku kira Pangeran masih sempat berpikir bening. Coba perhitungkan keadaan sebaik-baiknya. Apa yang Pangeran hadapi sekarang. Pangeran berdua tidak segera dapat mengalahkan Ken Padmi seorang diri. Apalagi jika ada di antara kalian, kami berdua.”
Kedua Pangeran itu masih termangu-mangu. Namun kemudian Witantra berkata, “Tetapi kami tidak dapat hanya memperhatikan keadaan Pangeran berdua saja. Kami melihat, Pangeran Indrasunu itu pun dalam keadaan bahaya. Jika kedua anak muda yang bertempur melawannya itu kehilangan pengekangan diri, maka keadaan Pangeran Indrasunu akan menjadi sangat sulit.”
Kedua Pangeran itu tidak menyahut. Sementara itu Witantra berkata kepada Mahendra, “Kau di sini. Aku akan melihat keadaan Pangeran Indrasunu dari dekat.”
Sebenarnyalah Witantra telah meninggalkan Mahendra. Dengan berdebar-debar Witantra mendekati arena pertempuran antara Pangeran Indrasunu melawan kedua anak-anak Mahendra. Sementara Mahendra masih berada di dekat Ken Padmi.
Sepeninggal Witantra, Mahendra pun bertanya kepada kedua orang Pangeran itu, “Apakah Pangeran telah menemukan keputusan yang paling baik? Menyerah, atau Pangeran memilih mengalami nasib lebih buruk dari itu?”
Kedua Pangeran itu masih saja termangu-mangu. Yang menjawab adalah Pangeran Indrasunu, “Kami adalah laki-laki. Akhir dari pertempuran adalah kematian.”
“Sebenarnya kami juga tidak keberatan untuk melakukannya,” berkata Mahendra pula, “besok kami akan membawa mayat Pangeran bertiga ke Singasari. Menunjukkan kepada Sri Maharaja, bahwa tiga orang Pangeran dari Kediri telah melawan kekuasaan Kediri dan juga Singasari. Mereka telah merampok rumah seorang pedagang mas intan dan wasi aji.”
“Persetan,” teriak Pangeran Indrasunu, “kau kira kami akan merampok?”
“Ya. Kalian akan merampok. Meskipun kami tahu bahwa kalian akan mengambil anak gadis itu, tetapi kami dapat saja mengatakan menurut selera kami. Kami dapat mengatakan apa saja yang paling buruk bagi Pangeran, karena Pangeran sudah mati, sehingga Pangeran tidak akan dapat membantah atau menjelaskan niat Pangeran yang sebenarnya. Apalagi yang datang bersama Pangeran adalah dua orang liar dan kasar, yang pantas disebut perampok itu.”
“Licik,” teriak Pangeran Indrasunu, “itu perbuatan gila dan tidak jujur.”
“Tidak ada orang yang akan mengatakan demikian.” jawab Mahendra, “Pangeran bertiga sudah terbunuh. Mungkin jiwa Pangeran bertiga sempat menyaksikan kebohongan kami. Mungkin dapat pula melihat bagaimana orang-orang Singasari mencibirkan bibirnya menyaksikan mayat lima orang perampok.”
“Gila. Itu perbuatan yang paling gila.” geram PangeranIndrasunu.
Tetapi Mahendra tertawa. Katanya, “Tetapi sangat menyenangkan bagi kami.”
Pangeran Indrasunu menggertakkan giginya. Tetapi sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mendesaknya. Namun dalam pada itu, Witantra telah berada di dekat arena itu.
“Pangeran,” berkata Witantra, “yang paling baik, Pangeran menyerah dalam keadaan hidup. Pangeran masih akan dapat menjelaskan, apa yang sebenarnya ingin Pangeran lakukan di sini, sehingga nama Pangeran tidak akan tercemar.”
“Aku tidak peduli. Seandainya nama kami tercemar sekalipun, aku tidak akan merasakan apapun juga.” jawab Pangeran Indrasunu.
“Mungkin tidak, jika jiwa Pangeran dapat menghindarkan diri dari segala macam perasaan mungkin tidak akan menghambat langkah Pangeran meninggalkan dunia fana ini. Tetapi jika tidak, maka Pangeran akan merasakan, betapa sakitnya jiwa yang tersia-sia. Roh yang disakiti tanpa dapat mempertahankan diri.” berkata Witantra, “Tetapi jika Pangeran beranggapan bahwa setelah mati, Pangeran tidak akan tahu apa-apa lagi, juga tentang nama Pangeran yang tercemar, maka yang akan merasakan segala duka dan cela adalah keluarga Pangeran. Apakah Pangeran dapat mengerti?”
Pangeran Indrasunu menggeram. Tetapi kata-kata itu memang sangat berpengaruh di hatinya.
Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru mendesaknya semakin garang. Bahkan Mahisa Pukat pun berkata, “Paman Witantra jangan mengganggu kesenangan kami. Kami berdua telah sampai pada kemungkinan terakhir dari pertempuran ini.”
“Mahisa Pukat,” berkata Witantra, “apakah kita sudah terpengaruh oleh orang-orang yang bernafsu untuk membunuh tanpa menghiraukan sasaran terakhir? Bertanyalah kepada ayahmu, manakah yang paling baik kita lakukan dalam keadaan seperti ini.”
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya, sehingga ia justru telah tertegun sejenak. Namun Mahisa Murti masih bertempur dengan garangnya. Serangannya justru datang membadai melanda Pangeran Indrasunu yang sudah menjadi ragu-ragu.
Dalam pada itu, Mahisa Pukat pun kemudian berkata, “Paman benar. Memang sebaiknya kita tidak usah membunuh. Tetapi jika Pangeran itu menjadi gila dan tidak tahu diri, apa boleh buat.”
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu ia melihat Mahisa Murti yang bertempur seorang diri.
Pangeran Indrasunu mendengar pembicaraan itu. Bagaimanapun juga ia tidak dapat mengabaikan kenyataan yang sedang dihadapinya. Jika ia berkeras, bahwa sampai pada ilmu puncaknya sekalipun, ia tidak akan dapat memenangkan pertempuran itu meskipun Witantra tidak mencampurinya.
Bahkan jika ia memancing kekerasan yang lebih tajam, maka hal itu akan memancing kesulitan saja baginya.
Meskipun demikian ia masih tetap meragukan sikap Witantra. Apakah yang dikatakan oleh Witantra benar seperti yang akan dilakukannya. Apakah Witantra tidak akan membiarkannya kedua adik Mahisa Bungalan itu berbuat sesuka hatinya atas dirinya apabila ia mengakhiri perlawanannya yang sudah disadarinya akan sia-sia.
Dalam pada itu, maka Mahendra yang berada di arena yang lain ternyata telah berhasil menghentikan perlawanan kedua orang Pangeran yang bertempur melawan Ken Padmi. Kedua Pangeran itu merasa, bahwa sebenarnyalah mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi. Mahendra adalah seorang yang terlalu besar bagi mereka. Bahkan bagi gurunya. Mahendra tidak akan dapat dikalahkannya.
Akhirnya Pangeran Indrasunu pun menyadari apa yang terjadi. Karena itu, maka akhirnya ia pun telah kehilangan gairahnya untuk bertempur lebih lama lagi.
Dalam pada itu, maka sekali lagi Witantra berkata, “Pangeran, aku berharap bahwa Pangeran akan menyerah.”
Pangeran Indrasunu yang masih dibayangi oleh harga dirinya itu tidak segera menjawab. Tetapi ia sudah tidak lagi berusaha untuk melawan, selain berloncatan mundur menghindari desakan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Namun kedua anak muda itu pun segera memaklumi, bahwa Pangeran Indrasunu sudah tidak melawan lagi dengan sungguh-sungguh.
Karena itu, maka akhirnya keduanya pun berhenti ketika Witantra berkata, “Sudahlah, anak-anak. Tidak ada gunanya lagi kalian bertempur terus.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian perlahan-lahan menghentikan serangan-serangannya. Meskipun demikian keduanya masih tetap berhati-hati menghadapi Pangeran yang licik itu.
Tetapi agaknya Pangeran Indrasunu benar-benar telah menyerah. Bahkan ketika Witantra mendekatinya untuk meminta senjatanya, Pangeran Indrasunu telah menyerahkannya.
“Segalanya sudah berakhir,” berkata Witantra, “marilah kita akan masuk ke dalam.”
Mahendra pun telah membawa kedua Pangeran yang lain mengikuti Witantra masuk ke ruang dalam. Ketika Pangeran itu dipersilahkan duduk di sebuah amben yang besar. Di sudut lain Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tengah mengawasinya.
“Ken Padmi,” berkata Mahendra kemudian, “agaknya semua orang di dapur sedang tidur. Jika mungkin bangunkan mereka. Tetapi jika tidak, kau sajalah yang merebus air. Kita akan menjamu tamu kita malam ini.”
Ken Padmi mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun bangkit pula dan melangkah pergi ke dapur.
“Aku akan menemaninya.” desis Mahisa Pukat.
Ken Padmi tertegun. Tetapi Mahendra kemudian menyahut, “Kau mempunyai tugas tersendiri. Kau dan Mahisa Murti masih harus membawa kedua sosok mayat itu dan membaringkannya di pendapa. Besok kita akan menguburkannya. Tetapi kita harus memberikan laporan kepada Ki Buyut dan tetangga-tetangga kita agar tidak terjadi salah paham.”
Mahisa Pukat dan Mahisa Murti saling berpandangan sejenak. Namun akhirnya mereka pun bangkit dengan segan dan pergi keluar rumah untuk mengambil dua sosok mayat di halaman dan meletakkannya di pendapa. Kemudian kedua sosok mayat itu telah ditutup dengan dua helai kain panjang.
Yang berada di ruang dalam kemudian adalah ketiga orang Pangeran ditunggui oleh Mahendra dan Witantra. Tidak banyak yang mereka bicarakan. Namun terasa oleh ketiga orang Pangeran itu perlakuan yang asing dari Mahendra dan Witantra, justru karena keduanya tidak berbuat apa-apa.
Menurut jalan pikiran mereka serta apa yang mungkin mereka lakukan dalam keadaan yang serupa, maka mereka bertiga tentu akan mengalami nasib yang sangat buruk. Namun ternyata Mahendra dan Witantra tidak berbuat apa-apa.
“Hanya satu permainan saja,” berkata para Pangeran itu di dalam hatinya, “tetapi besok mereka akan menghinakan kami di hadapan orang-orang padukuhan ini. Bahkan mungkin mereka akan mengarak kami menuju ke Singasari.”
Tetapi mereka tidak dapat berbuat apapun juga. Mahendra dan Witantra akan dapat memperlakukan mereka seperti yang mereka kehendaki.
Terbesit juga ingatan kedua orang saudara Pangeran Indrasunu itu kepada guru mereka dan padepokan mereka. Tetapi mereka pun sadar, bahwa guru mereka pun tidak akan dapat menolongnya.
“Aku tidak menyangka bahwa Witantra itu berada di sini pula.” berkata Pangeran Indrasunu di dalam hatinya. Tetapi semuanya sudah terlanjur terjadi.
Malam itu Pangeran Indrasunu dan kedua saudaranya masih mendapat waktu untuk merenung sejenak sebelum pagi. Meskipun mereka dipersilahkan untuk tidur barang sejenak, tetapi mata mereka tidak dapat terpejam. Mereka sadar, bahwa Mahendra dan Witantra yang duduk di bibir amben bersandar tiang itu bergantian meninggalkan mereka, pergi ke pakiwan membersihkan diri. Tetapi ketiga orang Pangeran itu tidak berani berbuat apapun juga, karena mereka sadar, bahwa mereka bertiga tidak akan dapat berbuat apa-apa terhadap Mahendra atau Witantra seorang diri. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ternyata lebih senang berada di pendapa meskipun mereka harus menunggui mayat yang terbaring diam. Sementara Ken Padmi sibuk di dapur karena orang-orang yang terkena sirep itu masih saja belum dapat dibangunkan. Jika salah seorang sempat membuka matanya, namun sekejap kemudian orang itu telah kembali menjatuhkan dirinya di manapun juga.
Ketika air masak, maka Ken Padmi pun menghidangkannya untuk Mahendra, Witantra dan kedua adik Mahisa Bungalan. Tetapi Mahendra berkata, “Kau harus menjamu tamu-tamu kita ini.”
Ken Padmi menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Mahendra bersungguh-sungguh, bahwa ia harus menjamu ketiga orang Pangeran itu.
Perasaan Ken Padmi meronta. Tetapi ia tidak dapat menolak perintah Mahendra yang baginya tidak masuk akal itu.
Karena itulah, maka sejenak kemudian Ken Padmi pun telah menyiapkan minuman bagi ketiga Pangeran itu.
Menjelang pagi, maka minuman yang diperuntukkan bagi ketiga orang Pangeran itu sudah dihidangkannya pula betapapun terasa berat di hati. Diletakkannya minuman itu di amben, kemudian tanpa mengatakan apapun juga ia meninggalkan ruangan itu kembali ke dapur.
Hampir di luar sadarnya, tiba-tiba saja air matanya menitik di pipinya. Sambil duduk di sudut ruangan yang sepi ia berusaha untuk menjinakkan perasaannya sendiri. Namun ia merasa sangat dihinakan oleh para Pangeran itu. yang dengan niat yang sangat keji telah datang ke rumah itu.
“Kemudian aku harus menghidangkan minuman bagi mereka.” berkata Ken Padmi di dalam hatinya.
Bagi Ken Padmi Pangeran Indrasunu bukannya pertama kalinya menyakiti hatinya, menghinakannya, seolah-olah ia adalah benda mati yang dapat diperlakukan sekehendak hatinya. Niatnya yang keji dan cara yang licik, membuat Ken Padmi membencinya sampai ke ubun-ubun.
Ken Padmi terkejut ketika ia mendengar langkah memasuki ruangan. Dengan cepat ia mengusap matanya yang basah. Kemudian ia bangkit berdiri menghadap ke pintu.
Yang berdiri di depan pintu adalah Mahendra. Dipandanginya Ken Padmi dengan tatapan mata lembut kebapaan.
“Ken Padmi,” berkata Mahendra kemudian, “aku mengerti, bahwa perasaanmu terasa sangat pedih.”
“Tidak, paman. Aku tidak apa-apa.” Ken Padmi mencoba tersenyum.
“Jangan berpura-pura. Apa yang kau rasakan itu adalah perasaan sewajarnya. Kau memang merasa pedih mengalami perlakuan yang tidak pantas. Kau tentu merasa terhina dan mungkin merasa diri tidak berharga,” berkata Mahendra kemudian, “tetapi aku dapat mengerti. Karena itu, aku anggap perasaan yang demikian itu adalah wajar.”
Ken Padmi tidak menjawab. Tetapi kepalanya pun kemudian tertunduk lesu.
“Tetapi sesudah kita berpijak kepada kewajaran, maka baiklah kita belajar berjiwa besar.” berkata Mahendra kemudian, “Kita belajar memaafkan kesalahan orang lain terhadap diri kita, karena sebenarnyalah memang tidak ada orang yang tidak mempunyai kesalahan apapun juga. Jika kita dapat memaafkan kesalahan orang lain, maka kita mempunyai penghargaan bahwa kesalahan-kesalahan yang pernah kita perbuat pun akan dimaafkannya pula. Terutama kesalahan-kesalahan kita yang harus kita pertanggung-jawabkan kepada Yang Maha Agung.”
Ken Padmi masih menunduk.
“Ken Padmi,” berkata Mahendra pula, “menurut perhitunganku masih ada harapan bagi anak-anak muda itu untuk mengerti tentang diri mereka. Untuk menyadari bahwa mereka telah melakukan kesalahan. Guru Pangeran Indrasunu itu pun dapat mengerti bahwa muridnya telah berbuat salah. Sedangkan Pangeran Indrasunu itu sendiri masih cukup muda dan masih mempunyai waktu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya.”
Ken Padmi mengangkat Wajahnya. Tetapi ketika terpandang olehnya tatapan mata Mahendra, maka ia pun telah menunduk kembali.
“Apakah kau dapat mengerti, Ken Padmi?” bertanya Mahendra.
Sejenak Ken Padmi mematung. Namun kemudian ia pun menganggukkan kepalanya.
“Sukurlah, meskipun pertama-tama terasa aneh dan asing.” Mahendra meneruskan, “Kita akan memberi kesempatan kepada Pangeran Indrasunu. Jika ia gagal mempergunakan kesempatan itu, kita sudah dapat mengetahui arah padepokannya. Jika kesempatan itu dilewatkannya, maka kita akan melaporkannya kepada para pemimpin di Kediri dan Singasari. Ia sudah berbuat banyak kesalahan bagi Kediri dan Singasari. Tetapi agaknya Akuwu Suwelatama masih juga berusaha untuk memberi kesempatan kepadanya melihat ke dalam dirinya sendiri. Memang berbeda dengan kedua orang itu. Agaknya kedua orang upahan itu memang tidak mempunyai tempat berpijak lagi bagi masa depannya. Karena itu, aku tidak berkeberatan jika keduanya terpaksa harus mengalami nasib yang buruk di padukuhan ini.”
Ken Padmi menjadi semakin tunduk. Tetapi ia semakin dapat memahami keterangan Mahendra. Meskipun demikian, ia tidak menjawab sama sekali.
Namun Mahendra yang memiliki pengalaman lahir dan batin yang luas itu seolah-olah dapat membaca perasaan gadis itu. Karena itu, maka katanya, ”Baiklah, Ken Padmi. Kau masih mempunyai waktu untuk merenungkan hal itu. Tetapi aku yakin, bahwa kau pun akan dapat dan bersedia mengatasi perasaanmu.”
Ken Padmi masih tetap tidak menjawab. Kepalanya masih saja tertunduk diam.
Baru kemudian, ketika Mahendra bergeser ia mengangkat wajahnya. Dilihatnya Mahendra melangkah surut sambil berkata, “Sebaiknya kau beristirahat. Masih ada sisa waktu meskipun tinggal sekejap. Sementara kau dapat membangunkan orang-orang yang tertidur nyenyak itu. Agaknya kekuatan sirep itu sudah jauh berkurang.”
“Baik, paman.” desis Ken Padmi hampir tidak terdengar.
Mahendra pun kemudian meninggalkan Ken Padmi merenungi keadaannya. Namun Mahendra yakin, bahwa Ken Padmi akan dapat menerima keadaan itu dengan lapang dada.
Ketika kemudian wajah pagi mulai membayang, Mahendra pun telah memerintahkan kepada kedua anaknya untuk ke rumah Ki Buyut. Mereka harus melaporkan, bahwa rumah mereka telah didatangi oleh dua orang perampok.
“Dua orang?” bertanya Mahisa Pukat.
Pangeran Indrasunu yang mendengar pertanyaan itu menjadi berdebar-debar. Namun sekali lagi Mahendra berkata, “Dua orang.”
Mahisa Pukat memandang Pangeran Indrasunu dan kedua orang Pangeran yang lain sekilas. Namun kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Ya. Baiklah.”
Kedua orang adik Mahisa Bungalan itu pun kemudian pergi dengan tergesa-gesa ke rumah Ki Buyut. Seperti yang dikatakan oleh ayahnya, bahwa rumah mereka telah didatangi oleh dua orang perampok.
“Lalu, apa saja yang telah mereka bawa?” bertanya Ki Buyut.
“Tidak ada, Ki Buyut.” jawab Mahisa Murti.
”Lalu, bagaimana dengan perampok-perampok itu? Apa yang telah mereka lakukan?” bertanya Ki Buyut heran.
“Keduanya telah terbunuh.” jawab Mahisa Pukat.
“Terbunuh?” Ki Buyut mengerutkan keningnya, “Siapa yang membunuh?”
“Kami, seisi rumah beramai-ramai. Sebenarnya kami tidak ingin membunuh. Tetapi kami harus mempertahankan diri. Dan kami dengan terpaksa sekali telah membunuh keduanya yang ternyata sangat berbahaya itu.” jawab Mahisa Pukat.
“Baiklah. Aku akan datang ke rumah kalian.” berkata Ki Buyut kemudian.
“Kita bersama-sama.” sahut Mahisa Murti.
Ki Buyut tertegun sejenak. Namun akhirnya ia mengangguk-angguk sambil berkata, “Baiklah. Kita pergi bersama-sama.”
Sejenak kemudian, maka Ki Buyut diiringi oleh dua orang pengawalnya telah pergi bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk melihat apa yang telah terjadi.
Ketika mereka sampai ke rumah anak-anak muda itu, beberapa orang telah berada di halaman.
“Marilah, Ki Buyut.” Mahendra mempersilahkan. Orang-orang pun menyibak. Ketika Ki Buyut naik ke pendapa, maka dilihatnya dua sosok mayat terbujur membeku.
Ternyata Mahendra telah meminta Pangeran Indrasunu dan kedua Pangeran yang lain duduk pula di pendapa.
Kehadiran Ki Buyut membuat para Pangeran itu berdebar-debar. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa, karena Witantra selalu duduk di dekat mereka.
“Silahkan duduk, Ki Buyut.” Mahendra kemudian mempersilahkan.
Ki Buyut pun kemudian duduk bersama kedua pengawalnya. Di sebelahnya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun duduk pula. Setiap kali mereka memperhatikan sikap dan wajah ketiga Pangeran yang duduk di sebelah Witantra.
“Orang-orang gila,” geram Pangeran Indrasunu di dalam hatinya, “ternyata kebaikan hati orang ini hanyalah sekedar pura-pura. Mereka akan mempermainkan kami di depan orang banyak.”
Tetapi Pangeran Indrasunu sadar jika ia berbuat sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Mahendra dan Witantra, maka nasib mereka akan menjadi semakin buruk.
Demikian Ki Buyut duduk, maka ia pun segera bertanya, “Apakah dua orang mayat ini yang kau maksud dengan dua orang perampok itu?”
“Ya, Ki Buyut.” jawab Mahendra.
”Apa yang telah mereka lakukan?” bertanya Ki Buyut pula.
“Mereka akan merampok seisi rumah ini, Ki Buyut. Mula-mula mereka mempergunakan ilmu sirep, serangga hampir saja kami seisi rumah tertidur. Untung bahwa kami masih menyadari diri. Tetapi tetangga-tetangga kami tidak seorang pun yang mendengar keributan yang telah terjadi di rumah ini. Baru pagi ini mereka mendengar, bahwa kami telah didatangi oleh dua orang perampok.”
“Dan kalian berhasil membunuhnya?” bertanya Ki Buyut.
“Ya, Ki Buyut. Tetapi itu karena satu kebetulan. Kebetulan di rumah kami terdapat tiga orang tamu.” jawab Mahendra.
Wajah Pangeran Indrasunu dan kedua orang Pangeran yang lain menjadi tegang. Apalagi ketika Ki Buyut berpaling terhadap mereka dengan sorot mata yang memancarkan kecurigaan. Sementara itu ketiga orang Pangeran itu tidak tahu, apa yang akan dikatakan oleh Mahendra tentang diri mereka.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun menjadi tegang pula. Mereka pun tidak tahu, apa yang hendak dikatakan oleh ayahnya tentang ketiga Pangeran yang telah datang ke rumahnya bersama kedua orang yang terbunuh itu.
Ki Buyut memandang ketiga orang Pengeran itu berganti-ganti. Tetapi karena Mahendra belum menyebutnya, maka Ki Buyut masih belum mengerti, siapakah ketiganya itu.
“Bagaimana dengan ketiga orang tamu ini?” bertanya Ki Buyut kemudian.
Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Ketiga anak-anak muda ini adalah tiga orang Pangeran dari Kediri.”
“O,” Ki Buyut terkejut. Kemudian ia mengangguk dengan hormatnya sambil berkata, “Maaf Pangeran. Aku tidak tahu sebelumnya, sehingga barangkali sikapku agak kurang mapan dan deksura.”
Ketiga orang Pangeran itu termangu-mangu. Mereka justru menjadi bingung menanggapi sikap Ki Buyut itu.
Dalam pada itu Mahendra pun berkata selanjutnya, “Ki Buyut. Seandainya di rumah ini tidak ada tamu tiga orang Pangeran ini, mungkin sekali kami tidak akan dapat berbuat banyak terhadap para perampok. Aku memang serba sedikit dapat melawan mereka. Tetapi yang datang ke rumah ini adalah dua orang yang memiliki ilmu yang luar biasa, yang tidak banyak dikenal orang. Karena itu hampir saja aku kehilangan kesempatan untuk mempertahankan diri bersama kedua anak-anakku. Namun ternyata ketiga orang Pangeran ini telah bersedia turun tangan. Karena itu maka kami sekeluarga telah berhasil diselamatkan.”
“O.” Ki Buyut mengangguk-angguk. Sementara itu ketiga orang Pangeran itu terkejut bukan kepalang. Mereka tidak menyangka bahwa Mahendra akan bersikap demikian. Bahkan mereka pun hampir tidak percaya kepada pendengarannya.
Bukan saja ketiga orang Pangeran itu, tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun terkejut bukan buatan. Hampir saja mereka membantah pernyataan ayahnya. Namun ketika tatapan mata mereka membentur tatapan mata ayahnya, maka mereka pun kemudian menundukkan kepala mereka.
“Jadi, ketiga Pangeran ini yang telah menolongmu?” bertanya Ki Buyut.
“Ya, Ki Buyut.” jawab Mahendra.
Ki Buyut masih saja mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Terima kasih, Pangeran. Aku pun wajib mengucapkan terima kasih. Pangeran telah menyelamatkan satu keluarga di dalam lingkungan kabuyutan ini.”
Ketiga orang Pangeran itu menjadi semakin bingung. Wajah mereka menjadi merah padam. Namun justru karena itu, mereka sama sekali tidak menjawab.
Namun dalam pada itu, Mahendralah yang kemudian berkata, “Yang penting kemudian Ki Buyut, Jika Ki Buyut sudah mengetahui persoalannya, maka kami akan minta ijin untuk menyelenggarakan mayat itu agar tidak terlalu lama berada di pendapa ini.”
Ki Buyut mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Baiklah. Aku sudah menyaksikannya dan aku sudah mengetahui persoalannya. Terserah kepadamu dan tetangga-tetanggamu. Mudah-mudahan peristiwa ini akan dapat menjadi peringatan bagi setiap kejahatan.”
Setelah melihat kedua sosok mayat itu, maka Ki Buyut pun kemudian turun ke halaman. Diserahkannya kedua sosok mayat itu kepada tetangga-tetangga Mahendra yang berada di halaman itu.
“Apakah kau mengetahui, siapakah kedua orang ini, Mahendra?” bertanya Ki Buyut, “Mungkin mereka menyebut tentang diri mereka, nama mereka atau sebutan mereka.”
Mahendra memandang Pangeran Indrasunu yang juga ikut turun ke halaman, seolah-olah minta agar ia menjawabnya.
Pangeran itu termangu-mangu. Namun kemudian dengan suara sendat ia berkata, “Menurut pendengaranku, Ki Buyut, mereka menyebut nama mereka. Sepasang Serigala dari Padang Geneng.”
Ki Buyut mengangguk-angguk. Ia belum pernah mendengar nama itu, tetapi sebutan itu benar-benar telah menggetarkan jantungnya. Sehingga justru karena itu, maka ia merasa semakin berterima kasih kepada ketiga orang Pangeran yang kebetulan sedang bertemu di rumah Mahendra.
Namun yang bergejolak kemudian adalah jantung Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Rasa keadilan mereka benar-benar telah tersinggung.
Karena itu, hampir di luar sadar mereka telah berkisar meninggalkan orang banyak yang berkerumun di halaman. Mereka tidak mengerti, kenapa tiba-tiba mereka ingin menemui Ken Padmi.
Ketika mereka memasuki ruang dalam, mereka menemukan Ken Padmi duduk di sudut amben sambil menangis. Hatinya benar-benar bagaikan tergores oleh tajamnya sembilu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru tertegun melihat Ken Padmi menangis. Tetapi keduanya mengerti betapa sakitnya hati gadis itu.
Namun demikian, Mahisa Murti masih juga bertanya, “Kenapa kau menangis?”
Ken Padmi mengangkat wajahnya sejenak. Namun wajah itu pun telah tertunduk lagi. Di antara isak tangisnya ia menjawab, “Aku mendengar jawaban paman Mahendra atas pertanyaan Ki Buyut tentang ketiga orang Pangeran itu.”
Mahisa menarik nafas dalam-dalam. Kedua anak muda itu pun kemudian duduk pula di amben itu. Keduanya mengerti, betapa sakitnya hati Ken Padmi. Mereka berdua sudah merasa bahwa ayahnya telah berbuat tidak adil. Apa lagi Ken Padmi yang merasa langsung dihinakannya.
Dalam pada itu, di halaman, Ki Buyut pun kemudian telah minta diri. Para tetangga Mahendralah yang kemudian menyelenggarakan kedua sosok mayat itu sebagaimana diminta oleh Ki Buyut.
“Ki Mahendra adalah orang pilih tanding,” berkata salah seorang tetangganya, “namun agaknya kedua orang ini memiliki ilmu yang lebih tinggi. Untunglah bahwa di rumah ini sedang ada tiga orang tamu, sehingga mereka bersama-sama akhirnya dapat membunuh kedua orang yang nampaknya sangat ganas itu. Juga nampak bagaimana mereka membuat sebutan bagi diri mereka sendiri.”
Kawannya mengangguk-angguk. Mereka sependapat dengan tetangganya itu. Bahkan mereka telah membayangkan, betapa garangnya kedua orang yang terbunuh itu, karena menurut pengertian mereka, Mahendra adalah orang yang mempunyai kelebihan dari tetangga-tetangga mereka. Sebagai seorang pedagang yang berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu kota ke kota yang lain, Mahendra harus membekali dirinya dengan ilmu yang cukup. Tetapi untuk melawan kedua orang itu, agaknya ia mengalami kesulitan tanpa ketiga orang tamu yang kebetulan berada di rumah itu.
Ketika kesibukan itu kemudian lampau, karena kedua sosok mayat itu sudah dibawa ke tempat pekuburan, maka Mahendra mulai mengamati keadaan anak-anaknya dan Ken Padmi. Ketika ia masuk ke ruang dalam, Ken Padmi telah tidak ada di ruang itu. Yang ada tinggal Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
“Kenapa kau tidak ikut membawa kedua sosok mayat itu ke pekuburan?” bertanya Mahendra.
Mahisa Pukat memandang ayahnya sejenak. Kemudian katanya dengan suara datar, “Kami tidak mengerti sikap ayah.”
Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku sudah menduga. Di mana Ken Padmi sekarang?”
“Ia berada di dalam biliknya.” Jawab Mahisa Murti.
“Biarlah ia berada di dalam biliknya.” jawab Mahendra, “Mudah-mudahan Ken Padmi dan kalian berdua akhirnya dapat mengerti juga maksudku.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hanya menundukkan kepalanya saja. Ketika mereka mendengar langkah mendekat, baru mereka mengangkat wajah mereka. Ternyata Witantra telah berdiri di samping ayah mereka.
“Mereka kurang mengerti.” berkata Mahendra.
“Baiklah. Biarkan ketiga orang Pangeran itu masuk.” desis Witantra.
Mahendra menganggukkan kepalanya. Namun sebelum Witantra memanggil ketiga orang Pangeran itu, Mahisa Murti berkata, “Ayah, apakah aku diperkenankan meninggalkan ruang ini?”
”Kenapa?” bertanya Mahendra.
“Jika ketiga Pangeran itu berada di ruang ini pula, jantungku rasa-rasanya akan meledak.”
“Mungkin kami tidak akan dapat bertahan, ayah.” sambung Mahisa Pukat.
Tetapi Mahendra menggeleng. Katanya, “Aku minta kalian tetap berada di sini. Kita sedang menguji hati ketiga orang Pangeran itu. Kita masih dapat mengambil sikap apapun juga sesuai dengan sikap mereka sendiri.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam Mahisa Murti berkata, “Terserahlah kepada ayah.”
Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada Witantra, “Biarlah mereka kemari, kakang.”
Witantra pun memanggil ketiga orang Pangeran itu memasuki ruang dalam. Mereka dipersilahkan duduk di amben yang besar bersama Mahendra, Witantra dan kedua adik Mahisa Bungalan itu.
Namun sejak memasuki ruangan ternyata, sikap ketiga orang Pangeran itu sudah berubah sama sekali.
Setelah ketiganya duduk, maka Mahendra pun kemudian bertanya, “Pangeran. Kami telah berusaha berbuat sebaik-baiknya. Kemudian terserah, apakah yang akan Pangeran lakukan.”
Pangeran Indrasunu mengangkat wajahnya. Dipandanginya wajah Mahendra sejenak. Kemudian dipandanginya kedua anak muda yang menundukkan kepalanya. Mahisa Murti yang berusaha menahan gejolak hatinya setiap kali bergeser setapak. Sementara Mahisa Pukat meremas-remas jari-jarinya sendiri.
Namun kedua anak muda itu terkejut ketika mereka mendengar isak tertahan. Ketika mereka mengangkat wajah mereka, mereka seolah-olah tidak percaya akan penglihatannya. Pangeran Indrasunu itu ternyata menangis.
“Paman,” terdengar suara yang bergetar, “paman telah berbuat sesuatu yang tidak pernah aku duga sama sekali. Paman telah menghadapkan wajahku ke muka cermin. Dan paman telah memaksa kami bertiga untuk memandang ke wajah-wajah kami.”
“Maksud Pangeran?” bertanya Mahendra.
“Paman telah memaksa kami melihat, betapa kotor hati kami,” jawab Pangeran Indrasunu, “Karena itu, betapa penyesalan yang tidak terkatakan telah menyiksa perasaan kami.”
“Maksud Pangeran, bahwa Pangeran telah menyesali perbuatan Pangeran?” bertanya Witantra.
“Ternyata hati kami adalah hati batu,” jawab Pangeran Indrasunu, “baru sekarang aku melihat, betapa kakangmas Suwelatama berusaha menjaga nama kami. Kakangmas Suwelatama, tidak pernah melaporkan sikap kami kepada para penguasa di Kediri dan apalagi secara resmi kepada Maharaja di Singasari. Tetapi hati kami masih belum terbuka. Baru saat ini, setelah kami dibenturkan kepada kenyataan yang sangat pedih tergores di hati kami, maka kami harus menyesali sikap kami. Kami yang sudah menduga bahwa kami akan dihukum picis, ternyata sama sekali jauh dari kenyataan itu.”
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat bahwa usaha Mahendra untuk membuat penyelesaian yang sebaik-baiknya sebagian telah dapat dicapainya, meskipun ia harus mengorbankan kepahitan kedua anak laki-lakinya dan calon menantunya.
Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat dan Mahisa Murti mulai mengerti arti dari sikap ayahnya. Sikap yang tidak diperhitungkannya sama sekali. Namun yang agaknya sikap itu mempunyai nilai yang lebih tinggi dari sikap yang keras dan kasar. Bahkan dengan membunuh mereka bertiga.
Karena itu, maka hati mereka pun mulai mencair. Kemarahan, kegelisahan dan perasaan tidak adil yang meronta di dalam dadanya telah mulai melunak.
Mahendra sempat memandang wajah anak-anaknya. Ia melihat perubahan pada wajah-wajah itu.
“Mudah-mudahan mereka dapat mengerti.” berkata Mahendra di dalam hatinya.
“Pangeran,” berkata Witantra kemudian, “aku mengucap sokur jika Pangeran benar-benar telah merasa bersalah. Dengan demikian Pangeran akan berjanji di dalam diri, bahwa Pangeran tidak akan melakukan kesalahan itu lagi untuk selanjutnya.”
Pangeran Indrasunu mengangguk. Sambil mengusap matanya yang basah ia berkata, “Aku menyesal sekali. Penyesalan ini akan menyiksa kami untuk waktu yang tidak terbatas. Mudah-mudahan aku selalu mendapat petunjuk dari Yang Maha Agung di dalam hati, sehingga aku tidak akan melakukan kesalahan lagi.”
“Kami akan selalu ikut berdoa, Pangeran.” jawab Witantra.
“Nah,” berkata Mahendra kemudian, “jika Pangeran benar-benar menyesali perbuatan Pangeran, sebaiknya Pangeran menyatakannya kepada orang-orang yang terkait dalam sikap dan perbuatan Pangeran. Mungkin kepada kami berdua yang tua-tua ini Pangeran tidak perlu menyatakan penyesalan dan minta maaf, karena kami sudah dapat mengerti perasaan Pangeran. Tetapi kepada anak-anak muda itu, cobalah Pangeran mengatakannya.”
Pangeran Indrasunu memandang Mahisa Pukat dan Mahisa Murti yang duduk berdampingan. Namun, ia telah memaksa hatinya untuk menahan segala gejolak dan perasaan. Ia benar-benar telah menyesal, sehingga ia pun tidak berkeberatan untuk menyatakannya.
Karena itu, maka ia pun kemudian berpaling kepada kedua orang saudaranya. Dengan nada berat ia berkata, “Marilah. Kita akan minta maaf kepada mereka.”
Pangeran Indrasunu dan kedua Pangeran itu pun beringsut setapak menghadap kepada kedua orang anak muda yang justru menunduk. Dengan nada dalam Pangeran Indrasunu berkata, “Kami harus menyesali segala tingkah laku kami. Bukan saja yang baru kami lakukan, tetapi serangkaian perbuatan kami yang sesat selama ini.”
Mahisa Pukat dan Mahisa Murti masih saja menunduk. Sehingga dengan demikian, maka ayahnya pun telah menegurnya, “Kau dengar kata-kata Pangeran Indrasunu?”
Kedua anak muda itu berbareng mengangguk.
“Nah. Kau dapat menjawabnya.” desak ayahnya.
Mahisa Pukatlah yang kemudian beringsut sedikit. Katanya dengan sendat, “Baiklah.”
Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Mereka tidak berkeberatan, Pangeran. Tetapi masih ada seorang lagi yang tersangkut oleh tingkah laku Pangeran. Justru pada sikap Pangeran sekarang ini, telah menjadi sasaran Pangeran bertiga.”
Jantung ketiga orang Pangeran itu menjadi semakin berdebar-debar. Mereka sudah menduga, bahwa orang itu adalah seorang gadis yang bernama Ken Padmi.
Sebenarnyalah maka Mahendra berkata, “Pangeran. Jika sekarang ada di sini, Pangeran juga harus minta maaf kepada Mahisa Bungalan dan kepada pamannya, kakang Mahisa Agni. Tetapi mereka tidak ada sekarang ini. Sedang yang ada di sini hanyalah Ken Padmi. Karena itu, maka Pangeran pun harus minta maaf kepadanya.”
Pangeran Indrasunu dan kedua orang saudaranya menundukkan wajahnya. Keringat yang dingin telah membasahi kening dan punggung. Tetapi mereka tidak akan dapat ingkar.
Dalam pada itu, maka Mahendra pun kemudian berkata kepada Mahisa Pukat dan Mahisa Murti, “Panggilah Ken Padmi kemari.”
Kedua anak muda itu termangu-mangu. Namun akhirnya keduanya pun bangkit dari tempat duduknya dan melangkah mendekati bilik Ken Padmi yang tertutup.
Tetapi pintu bilik itu ternyata tidak terselarak. Ketika Mahisa Murti mendorong pintu itu, maka pintu itu pun telah terbuka.
Mahisa Murti tertegun ketika ia melihat Ken Padmi duduk di bibir pembaringannya. Dengan sehelai kain panjang gadis itu mengusap wajahnya yang basah.
Dengan ragu-ragu Mahisa Murti itu pun berkata, “Ayah memanggilmu.”
Ken Padmi memandang kedua anak muda yang berdiri di pintu itu. Kemudian desisnya lirih, “Aku sudah mendengar, apa yang kalian percakapkan.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk.
“Marilah.” berkata Ken Padmi kemudian.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun mempersilahkan Ken Padmi mendahului mereka. Namun nampaknya Ken Padmi itu sudah tidak ragu-ragu lagi melangkah ke amben di ruang dalam.
Meskipun demikian, ketika ia sudah duduk, maka wajahnya pun masih juga tertunduk dalam-dalam.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah duduk pula di samping gadis itu. Tetapi mereka tidak lagi menundukkan wajah mereka.
Sejenak ruangan itu dicengkam oleh kesepian. Masing-masing seolah-olah hanya mendengar jantung mereka sendiri. Kegelisahan yang sangat telah menerpa perasaan Pangeran Indrasunu dengan kedua saudaranya.
Tetapi seperti yang dikatakan oleh Mahendra, mereka harus minta maaf kepada gadis itu. Gadis yang akan dijadikan korban dendam mereka kepada Mahisa Bungalan.
“Raden,” terdengar suara Mahendra menyayat kesepian itu, “aku persilahkan Raden minta maaf kepadanya. Karena sebenarnyalah kesalahan Raden terbesar adalah kepada gadis itu.”
Pangeran Indrasunu menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu, maka ia pun kemudian berkata, “Baiklah, paman. Aku sudah siap untuk minta maaf dan mengakui segala kesalahan.”
“Lakukanlah.” sahut Mahendra.
Pangeran Indrasunu itu pun kemudian memandang wajah Ken Padmi yang tunduk. Sekilas ia masih melihat kecantikan gadis itu. Namun kemudian betapapun beratnya ia pun berkata, “Ken Padmi. Paman Mahendra telah membenturkan aku dan kedua saudaraku ini kepada satu kenyataan tentang diri kami masing-masing. Karena itulah, maka aku akan minta maaf kepadamu atas segala kesalahan yang pernah aku lakukan. Kesalahan yang pada saat-saat aku menyadarinya kemudian, telah aku sesali sedalam-dalamnya.”
Ken Padmi mengangkat wajahnya. Hanya sekejap. Wajah itu pun kemudian menunduk lagi.
Karena Ken Padmi tidak menjawab, maka Mahendra pun kemudian berkata, “Kau harus menjawab, Ken Padmi. Apakah kau bersedia memaafkan atau tidak?”
Sejenak Mahendra menunggu. Namun kemudian gadis itu telah menganggukkan kepalanya.
“Terima kasih,” desis Pangeran Indrasunu, “sebenarnyalah bahwa kesalahan kami sudah terlalu besar. Jika kau memaafkannya, maka aku akan merasa, betapa kerdil jiwaku di hadapan jiwa-jiwa besar seisi rumah ini.”
Ken Padmi tidak menjawab. Kepalanya tertunduk semakin dalam. Namun dalam pada itu, Mahendralah yang berkata, “Pangeran. Penyesalan yang paling berarti adalah apabila kesalahan itu tidak akan terulang lagi. Sebaiknya Pangeran berjanji kepada diri sendiri. Kemudian Pangeran masih harus menghubungi Pangeran Suwelatama dari Kabanaran. Pangeran harus memperbaiki hubungan Pangeran dengan Akuwu Kabanaran, karena Pangeran telah pernah melakukan satu perbuatan yang menyakiti hati orang-orang Kabanaran.”
Pangeran Indrasunu mengangguk. Katanya, “Aku tidak berkeberatan, paman. Aku akan pergi ke Kabanaran. Aku akan menemui kakangmas Suwelatama untuk mohon maaf atas segala kesalahan yang pernah aku perbuat, langsung atau tidak langsung.”
“Itu adalah sikap kesatria.” desis Witantra, “Dengan demikian maka Pangeran bukan saja telah dibersihkan dari kesalahan, tetapi Pangeran akan kembali kepada sikap seorang kesatria.”
Ketiga orang Pangeran itu tidak menjawab.
Untuk sesaat kembali ruang itu menjadi sepi. Baru kemudian Mahendra berkata, “Kami masih akan menjamu Pangeran sebelum Pangeran meninggalkan rumah ini.”
Tetapi rasa-rasanya ketiga orang Pangeran itu tidak betah lagi untuk tinggal di rumah itu. Meskipun kesalahan mereka sudah dimaafkan, tetapi rasa-rasanya masih saja jantungnya bergejolak apabila mereka melihat Ken Padmi.
Namun demikian mereka tidak dapat memaksa karena Mahendra benar-benar menahannya.
Tetapi setelah mereka benar-benar dijamu sekali lagi maka mereka pun segera minta diri meninggalkan rumah yang telah memaksa mereka untuk melihat ke dalam diri mereka sendiri.
Ternyata bahwa penyerahan yang dikatakan oleh Pangeran Indrasunu bukannya sekedar untuk berlindung mencari keselamatan. Mereka ternyata benar-benar menyesali segala perbuatan yang telah mereka lakukan.
Karena itulah, maka di perjalanan kembali, Pangeran Indrasunu telah minta kedua orang Pangeran yang lain untuk singgah di Kabanaran.
“Kami tidak berkeberatan,” berkata salah seorang dari kedua Pangeran itu, “tetapi apakah tidak mungkin terjadi salah paham? Begitu kita memasuki Pakuwon Kabanaran, maka sepasukan pengawal Pakuwon itu siap menangkap kita.”
“Kita harus memberikan kesan, bahwa kita datang dengan maksud baik. Kita harus melepaskan segala senjata dan mungkin sikap yang dapat memancing pertentangan.” berkata Pangeran Indrasunu.
“Tidak ada orang yang mempercayai kita lagi,” jawab Pangeran yang lain, “jika kakangmas Pangeran sependapat, kita akan kembali dahulu ke padepokan. Kita menyampaikan segala persoalan ini kepada guru. Biarlah guru memberikan petunjuk apakah yang sebaiknya kita lakukan. Jika guru tidak berkeberatan, biarlah guru menyampaikan maksud kita kepada kakangmas Akuwu Suwelatama.”
Pangeran Indrasunu mengangguk-angguk. Ia pun sadar, bahwa sulit bagi mereka untuk mendapatkan kepercayaan. Apalagi di Pakuwon Kabanaran. Mungkin mereka justru mengira bahwa kedatangannya adalah karena kelicikan sifatnya, sehingga segala pernyataannya dianggap oleh orang-orang Kabanaran sebagai satu jebakan.
Karena itu, maka Pangeran itu pun berkata, “Baiklah. Kita akan mohon petunjuk kepada mereka yang mempunyai wawasan yang lebih luas, tetapi dengan satu pengertian, bahwa kita sudah menyesali perbuatan kita.”
Demikianlah ketiga orang Pangeran itu pun telah dengan tergesa-gesa pergi ke padepokan tempat mereka berguru. Pangeran Indrasunu pun telah telah pergi bersama kedua orang saudaranya. Mereka akan datang kepada guru mereka masing-masing untuk melaporkan perkembangan yang telah terjadi di dalam jiwa mereka. “Kita pergi bersama-sama,” berkata Pangeran Indrasunu, “kita datang kepada kedua orang guru kalian berganti-ganti. Kita akan bersama-sama mendengarkan pendapat mereka.”
Dalam pada itu, di rumah Mahendra, Mahisa Pukat, Mahisa Murti dan Ken Padmi duduk menghadap Witantra dan Mahendra. Ternyata pada saat terakhir, mereka dapat mengerti, apa yang dikehendaki oleh orang tua mereka. Dengan demikian maka mereka telah menundukkan kejahatan tanpa mengotori tangan mereka dengan kekerasan yang dapat merenggut jiwa ketiga orang Pangeran itu.
“Mereka masih muda,” berkata Mahendra, “mungkin hari depan mereka masih cukup cerah.”
Mahisa Pukat, Mahisa Murti dan Ken Padmi menundukkan wajah-wajah mereka.
“Karena itu, kita memberi kesempatan kepada mereka,” berkata Mahendra kemudian, “kecuali jika kesempatan yang kita berikan itu tidak mereka pergunakan sebaik-baiknya, itu adalah salah mereka sendiri.”
Ketiga anak muda itu mengangguk-angguk. Sementara itu Witantra berkata, “Tetapi menilik sikap mereka, aku mempunyai keyakinan bahwa mereka benar-benar telah menyesali perbuatan mereka. Dengan tulus mereka menyatakan penyesalan dan pertaubatan. Memang mungkin sekali, mereka masih dapat dipengaruhi oleh orang lain sehingga mereka akan melakukan kesalahan yang sama. Tetapi mudah-mudahan mereka benar-benar telah menemukan kembali diri mereka yang hilang, sehingga tidak akan diombang-ambingkan lagi oleh sikap dan perbuatan yang salah.”
“Tetapi apakah mungkin mereka akan dapat mempertahankan penyesalan itu untuk waktu yang lama, ayah?” bertanya Mahisa Pukat.
“Memang masih akan terjadi banyak kemungkinan,” jawab ayahnya, “tetapi aku berharap bahwa mereka tidak terperosok lagi ke dalam hubungan yang dapat mempengaruhi jiwa mereka. Jika mereka kemudian kembali ke lingkungan hidup mereka sebagai cantrik, maka mereka akan banyak tergantung kepada sikap guru mereka. Namun nampaknya justru karena mereka adalah Pangeran yang mempunyai segala-galanya dari segi lahiriah, maka justru guru mereka berada di bawah pengaruh para Pangeran muda itu. Guru mereka hanyalah orang-orang mumpuni yang diupah untuk menurunkan ilmu kanuragan. Tetapi sama sekali tidak dapat membekali mereka dengan pesan-pesan kejiwan.”
Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Mereka justru mendapat kesempatan untuk menilai diri sendiri. Ketiga orang Pangeran itu juga anak-anak muda meskipun lebih tua dari mereka, namun tentu tidak terpaut banyak.
Dengan demikian mereka masih merasa beruntung, bahwa mereka sejak semula dapat memilih jalan yang lebih baik dari ketiga orang Pangeran itu, sehingga mereka tidak perlu menyesali tingkah laku mereka dan mencari sandaran tatanan hidup yang baru.
Meskipun demikian, ketika kembali ke dalam biliknya, Ken Padmi sempat mengurai keadaannya sendiri. Tiba-tiba saja ia merasa demikian sepinya. Ia berada di rumah orang lain, bukan rumahnya sendiri, justru karena hubungannya dengan Mahisa Bungalan. Sementara itu Mahisa Bungalan sendiri tidak berada di rumah.
Terpercik kerinduannya kepada padepokannya yang sepi. Kepada orang tuanya dan kepada lingkungannya. Rasa-rasanya ada satu keinginan untuk melihat semuanya itu.
Tetapi ia tidak akan pergi meninggalkan rumah itu sebelum Mahisa Bungalan kembali.
Karena itu, maka kemudian Ken Padmi pun telah terbenam ke dalam perasaannya. Ia mengharap dengan sungguh-sungguh, agar Mahisa Bungalan segera kembali. Bahkan dalam gejolak pengharapannya itu terselip kekhawatiran, bahwa mungkin Mahisa Bungalan telah mengalami sesuatu. Ia tahu bahwa Mahisa Bungalan berada di satu tempat justru karena tempat itu mengalami pergolakan.....
Bersambung...!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar