PANASNYA BUNGA MEKAR : 27-01
Namun dalam pada itu, ternyata saudagar kulit itu sendiri tidak mau berdiam diri. Ketika ia melihat arena, dan menganggap bahwa tidak akan ada seorang pun yang akan masuk ke dalam rumahnya dan mengganggui keluarganya, maka ia pun telah keluar pintu pringgitan dengan senjata di tangannya.
Dengan serta merta ia telah menggabungkan diri dengan dua orang penjaga rumahnya melawan seorang perampok yang sudah siap memasuki rumahnya itu.
Meskipun saudagar itu bukan seorang berilmu tinggi, tetapi kehadirannya dapat membantu kedua orang penjaga rumahnya melawan perampok yang garang itu. Bahkan dengan kehadirannya maka perampok itu mulai terdesak. Bagaimanapun juga, ujung tombak orang itu harus diperhitungkan oleh perampok itu.
Demikianlah, halaman rumah saudagar kulit itu, benar-benar telah terbakar oleh api pertempuran yang sengit. Tubuh yang berlumuran darah mulai terbaring berserakan. Bahkan ada di antara mereka yang sudah tidak bernyawa lagi.
Dalam pada itu, Mahisa Bungalan akhirnya telah sampai di tempat yang semakin tinggi. Karena itulah, maka ia mulai mendesak lawannya. Bagaimanapun juga pemimpin perampok itu harus mengakui bahwa Mahisa Bungalan memiliki ilmu yang tidak dapat diimbanginya.
Karena itulah, maka pemimpin perampok itu telah bergeser menepi pendapa. Ia sadar, bahwa jumlah orang-orangnya lebih banyak dari jumlah lawan mereka. Karena itu, maka ia ingin berada di antara mereka, sehingga ia akan mendapat satu dua orang kawan untuk melawan Mahisa Bungalan.
Sebenarnyalah Mahisa Bungalan mendesaknya terus. Namun jumlah yang banyak di halaman masih belum teratasi. Pertempuran itu masih berlangsung dengan sengitnya, meskipun Mahisa Agni dan Witantra berusaha mengurangi jumlah lawan sebanyak-banyaknya.
Sementara itu, dalam hiruk-pikuk pertempuran itu, tiba-tiba telah terdengar sorak yang gegap gempita. Sejenak kemudian, udara di luar dinding halaman rumah itu bagaikan terbakar oleh beberapa puluh obor yang menyala.
Pemimpin perampok itu terkejut. Dengan serta merta ia meloncat panjang mengambil jarak dari Mahisa Bungalan. Ia berusaha untuk melihat apa yang telah terjadi di luar halaman.
Ternyata Mahisa Bungalan sengaja memberi kesempatan kepada lawannya itu untuk menilai keadaan. Mahisa Bungalan sendiri tidak tahu, apakah yang sebenarnya terjadi. Tetapi menilik suasananya, maka agaknya anak-anak muda padukuhan itu telah mulai bergerak.
Witantra lah yang mengerti dengan pasti apa yang telah terjadi, sehingga karena itu, maka ia pun berteriak nyaring mengatasi dentang senjata beradu, “He, para perampok yang malang. Lihatlah, kawan-kawan kami dalam jumlah yang tidak terhitung telah mengepung halaman rumah ini. Kami yang berada di halaman ini dalam jumlah yang lebih kecil dari kalian, tentulah dapat menahan dan bahkan lambat laun akan mengalahkan kalian. Apalagi jika pemimpin padukuhan ini memerintahkan kepada semua orang untuk memasuki halaman ini.”
Sejenak suasana menjadi hening. Baik pada perampok maupun para pengawal berusaha mendengarkan kata-kata Witantra. Karena itu, pertempuran itu pun seolah-olah telah dihentikan.
Sementara itu, Witantra yang mengerti, bahwa kata-katanya masih kurang dimengerti telah mengulanginya, lebih keras dari semula.
Dalam pada itu, maka Mahisa Agni dan Mahisa Bungalan pun segera mengetahui, bahwa agaknya Witantra telah mengatur mereka. Setidak-tidaknya Witantra telah menyetujui atas apa yang telah terjadi. Karena itu, maka Mahisa Bungalan pun telah berkata pula kepada pemimpin perampok itu, “Nah, kau dengar keterangan kawanku itu?”
“Persetan,” geram pemimpin perampok, “yang kalian suruh membawa obor itu adalah perempuan dan anak-anak. Kalian menyangka bahwa kami akan menjadi ketakutan karenanya.”
“Bukankah kalian tidak cacat telinga? Jika demikian kalian akan dapat mendengar, bahwa suara yang cukup gempita itu bukan suara perempuan dan anak-anak.” sahut Mahisa Bungalan.
“Tetapi mereka pengecut seperti perempuan dan anak-anak.” teriak pemimpin perampok itu.
“Bagus. Bukankah dengan demikian kalian telah menantang, agar kawan-kawan kami itu memasuki regol ini?” jawab Witantra.
“Bagus,” sahut pemimpin perampok itu, “biarlah mereka masuk, agar pekerjaan akan lebih cepat selesai.”
“Omong kosong!” geram Witantra. Lalu, “Baiklah. Aku akan membawa mereka masuk dan kita akan menghancurkan mereka sampai lumat.”
Witantra tidak menunggu jawaban. Ia pun kemudian beringsut. Ketika seorang pengawal sudah mengambil alih tempatnya, maka ia pun segera meninggalkan arena, pergi keluar regol halaman.
Kepada kedua orang pengawal yang berada di luar regol ia berkata, “Mintalah obor kepada anak-anak muda itu. Kita bertiga akan memasuki halaman. Kemudian suruhlah sepuluh anak muda yang paling berani memasuki halaman itu. Tetapi tugas kita untuk melindungi mereka.”
Kedua pengawal itu pun kemudian menemui anak-anak muda itu. Keduanyalah yang kemudian membawa obor bersama Witantra memasuki halaman. Namun mereka pun telah berpesan, bahwa sesaat kemudian, sepuluh orang di antara anak-anak muda itu, yang dipilih berdasarkan suka rela, agar memasuki halaman dengan senjata di tangan. Mungkin mereka harus bertempur. Tetapi para pengawal akan berusaha melindungi mereka.
Demikianlah, maka tiga orang pembawa obor telah memasuki halaman itu, sehingga halaman itu menjadi sedikit terang. Tetapi cahaya tiga buah obor itu tidak dapat menjangkau terlalu jauh.
Sementara itu, para perampok itupun dengan serta merta telah berusaha menyerang mereka bertiga. Tetapi mereka telah terbentur oleh kemampuan ketiga orang itu. Dengan obor di tangan kiri, mereka mampu bertempur dengan tangan kanannya. Bahkan sekali-sekali api obor mereka itu pun dapat mereka pergunakan sebagai senjata.
“Itulah mereka,” desis Mahisa Bungalan, “mereka bukan perempuan dan anak-anak. Dan ternyata mereka pun mampu bertempur menghadapi anak buahmu.”
Pemimpin perampok itu menjadi bimbang. Ia benar-benar melihat dari pendapa, tiga orang pemegang obor itu mampu bertempur dengan kemampuan yang tinggi.
Dalam keragu-raguan itu, tiba-tiba sepuluh anak muda telah memasuki halaman itu pula sambil membawa obor di tangan kiri dan senjata di tangan kanan. Namun agaknya para perampok itu pun menjadi semakin berhati-hati. Apalagi para pengawal yang lain pun telah berusaha untuk melihat setiap orang yang ingin menyerang anak-anak muda yang membawa obor itu.
Di luar halaman masih terdengar sorak yang gegap gempita. Ternyata sorak itu telah mempengaruhi tekad para perampok itu untuk bertempur terus. Dengan obor yang kemudian berada di halaman rumah itu, maka halaman itu pun menjadi semakin terang. Sebenarnyalah bahwa kemudian ternyata bahwa kekuatan para pengawal seolah-olah menjadi lebih besar dari kekuatan para perampok yang dengan cepat susut di sebelah menyebelah Mahisa Agni dan Witantra.
Dalam pada itu, sebenarnyalah kehadiran anak-anak muda itu sangat mempengaruhi keadaan. Tiga belas obor di halaman itu, rasa-rasanya bagaikan berpuluh-puluh orang yang datang untuk ikut melibatkan diri ke dalam pertempuran.
“Menyerahlah,” berkata Akuwu Suwelatama mengatasi segala hiruk-pikuk, “aku adalah pemimpin dari anak-anak muda yang datang memasuki halaman ini. Jika kalian menyerah, aku berjanji, untuk memerlakukan kalian dengan baik. Tetapi jika tidak, maka aku akan memerintahkan semua orang untuk masuk halaman ini.”
Perampok-perampok itu menjadi ragu-ragu. Ternyata mereka telah berhadapan dengan orang-orang yang benar-benar memiliki kemampuan untuk bertempur. Mereka bukan orang-orang dungu yang hanya sekedar mengenal hulu pedang dan tangkai tombak, tetapi mereka benar-benar mampu mempergunakannya di medan.
Namun dalam pada itu, pemimpin perampok itu pun berteriak, “Jangan diperbodoh. Hanya satu dua orang saja di antara mereka yang mampu bertempur. Yang lain mereka sama sekali tidak berarti. Karena itu, hancurkan mereka.”
Para perampok yang semula ragu-ragu itu tiba-tiba telah dijalari oleh kemarahannya kembali. Teriakan pemimpinnya seolah-olah telah memanaskan kembali darah mereka yang hampir membeku.
Karena itu, maka senjata yang sudah mulai merunduk pun telah terangkat kembali. Sehingga dengan demikian, maka pertempuran pun telah berkobar lagi dengan dahsyatnya.
Dalam pada itu, Mahisa Agni dan Witantra lah yang kemudian menempatkan diri di antara anak-anak muda yang membawa obor itu. Karena mereka mengerti, bahwa anak-anak muda itu akan mengalami kesulitan jika para perampok itu benar-benar menyerang mereka.
Sementara itu, beberapa orang pengawal pun telah berada pula di antara anak-anak muda itu. Bersama Mahisa Agni dan Witantra maka mereka telah siap menghadapi para perampok yang akan menyerang anak-anak muda yang membawa obor itu.
“Lawanlah setiap orang menyerangmu,” berkata Mahisa Agni kepada mereka, “kami akan selalu dekat bersama kalian.”
Anak-anak muda menjadi tenang, meskipun mereka merasa bahwa kemampuan mereka bertempur masih jauh dari tataran kemampuan para pengawal. Tetapi dengan senjata di tangan, mereka harus berusaha melindungi diri mereka sendiri bersama para pengawal yang berada di sekitar mereka.
Demikianlah ketika pertempuran telah berkobar lagi, maka Mahisa Agni dan Witantra telah bekerja lebih keras. Ternyata mereka berharap bahwa dengan mengurangi lawan sebanyak-banyaknya pertempuran pun akan segera dapat dihentikan.
Karena itulah, maka setiap orang yang mendekati kedua orang itu telah terlempar dengan luka di tubuh. Bahkan luka-luka itu kadang-kadang benar-benar telah melumpuhkan kemampuan mereka dan membahayakan jiwa mereka.
Tetapi seperti kebiasaan para pengawal, para perampok pun selalu membawa obat-obat yang dapat mereka pergunakan untuk sementara. Setidak-tidaknya untuk mengurangi darah yang mengalir dari luka.
Sekali lagi para perampok itu merasa, bahwa mereka benar-benar berhadapan dengan orang-orang yang berkemampuan. Sehingga mereka pun telah meragukan kata-kata pemimpin mereka, bahwa di antara lawan mereka hanya satu dua orang sajalah yang memiliki kemampuan olah kanuragan.
Dalam pada itu, pemimpin mereka sendiri itu pun telah mengalami kesulitan pula. Mahisa Bungalan semakin lama telah menekan pemimpin perampok itu semakin berat, sehingga akhirnya pemimpin perampok itu tidak dapat lagi lari dari kenyataan bahwa ia tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi. Dengan susah payah ia telah berusaha menggeser diri dan kemudian bergabung di antara kawan-kawannya dengan harapan, bahwa satu atau dua orang kawannya akan dapat membantunya.
Tetapi jumlah perampok yang banyak itu ternyata telah jauh susut. Sebagian dari mereka telah terkapar di pinggir halaman dalam keadaan luka. Bahkan ada yang terlalu parah dan bahkan ada satu dua yang tidak akan tertolong lagi jiwanya.
“Kau tidak akan mampu lagi berbuat apa-apa.” desis Mahisa Bungalan yang memburunya.
“Persetan!” geram pemimpin perampok itu.
Namun Mahisa Bungalan pun telah memaksanya untuk mengakui satu kenyataan baru, tiba-tiba saja lengannya telah tergores senjata.
“Gila!” geram pemimpin perampok itu.
“Jangan mengumpat-umpat,” desis Mahisa Bungalan, “kau harus mengakui kenyataan itu. Kau pun akan melihat, sebentar lagi pemimpin kami akan memerintahkan kawan-kawan kami yang berada di luar untuk masuk.”
“Omong kosong!” jawab pemimpin perampok itu. Tetapi kata-katanya telah patah, karena sekali lagi senjata Mahisa Bungalan telah mematuk pundaknya.
“Sebentar lagi kau akan terluka arang kranjang!” geram Mahisa Bungalan.
Tetapi pemimpin perampok itu masih mengumpat-umpat.
Dalam pada itu, Mahisa Agni dan Witantra pun mendengar kata-kata Mahisa Bungalan tentang anak-anak muda yang membawa obor di luar. Karena itu, maka Mahisa Agni pun berbisik kepada salah searang pembawa obor, ”Suruh kawan-kawanmu masuk. Tetapi hati-hati. Kalian harus membawa senjata siap untuk dipergunakan. Jumlah kalian yang banyak, akan sangat berpengaruh. Sementara api obor kalian pun merupakan senjata yang dapat kalian pergunakan pula jika perlu.”
Demikianlah seorang anak muda telah meninggalkan halaman untuk memanggil kawan-kawan mereka. Yang sejenak kemudian, sambil berteriak gegap gempita, mereka telah memasuki halaman dan langsung berdiri memutari arena sambil mengacungkan senjata mereka di tangan kanan. Senjata apa saja yang dapat mereka bawa. Pedang, tombak, parang dan bahkan kapak dan dandang.
Namun dalam pada itu, kehadiran anak-anak muda itu benar-benar telah membuat hati para perampok yang garang itu menjadi kecut. Betapapun lemahnya mereka orang per orang, namun bersama-sama mereka akan merupakan kekuatan yang sulit untuk dilawan. Apalagi di antara mereka benar-benar terdapat kemampuan yang melampaui kemampuan para perampok itu sendiri.
Pemimpin para perampok itu termangu-mangu. Orang itu tidak banyak ambil peranan. Tetapi ternyata lawannya yang masih muda, yang memiliki ilmu yang melampaui kemampuannya itu tidak banyak membantah.
Dalam pada itu, pemimpin perampok itu pun terkejut. Ia sama sekali tidak mengira, bahwa di padukuhan itu terdapat kekuatan yang seimbang dengan kekuatan orang-orangnya, ditambah dengan sejumlah anak-anak muda. Seandainya anak-anak muda itu tidak berkemampuan apa pun juga, namun bersama-sama dengan kekuatan yang terdahulu, maka mereka memang tidak akan terlawan.
Selagi pemimpin perampok itu termangu-mangu, maka Mahisa Bungalan pun berkata, “Pikirkan masak-masak. Kau dapat membunuh diri dalam pertempuran ini. Tetapi jangan semua pengikutmu kau paksa untuk membunuh diri juga.”
“Persetan!” geram pemimpin perampok itu.
“Kau lihat keseimbangan pertempuran ini?” bertanya Mahisa Bungalan.
Pemimpin perampok itu terpaksa merenung. Dalam saat-saat yang demikian, ternyata Mahisa Bungalan tidak menyerangnya. Ia sengaja memberi kesempatan kepada pemimpin perampok itu untuk menilai keadaan.
Ternyata bahwa pemimpin perampok itu tidak dapat mengingkari kenyataan itu. Para perampok itu tidak akan dapat melawan sejumlah orang yang memiliki ilmu yang cukup untuk melawan para perampok itu, selebihnya sejumlah anak-anak muda yang membawa obor di sekitar arena yang jumlahnya cukup banyak itu.
Karena itu, maka akhirnya ia pun harus mengakui kenyataan yang dihadapinya itu. Dengan berat hati, maka ia pun kemudian memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk menghentikan perlawanan.
“Tidak ada gunanya lagi kita bertempur.” berkata pemimpin perampok itu.
“Tegaskan, bahwa kalian telah menyerah.” desak Mahisa Bungalan.
Pemimpin perampok itu tidak dapat ingkar. Maka katanya kemudian, “Kita menyerah.”
Pertempuran di halaman itu pun segera berhenti. Para perampok itu pun kemudian bergeser berkumpul di tengah-tengah halaman. Pemimpin perampok itu pun telah berada di antara mereka pula.
Tiba-tiba dalam pada itu terdengar perintah Pangeran Suwelatama, “Letakkan senjatamu.”
“Siapa kau?” bertanya pemimpin perampok itu.
“Aku pemimpin orang-orang padukuhan dan anak-anak muda ini.” jawab Akuwu Suwelatama.
Karena itu, maka pemimpin perampok itu pun kemudian melemparkan senjatanya diikuti oleh para perampok yang lain.
“Kalian menjadi tawananku.” berkata Akuwu Suwelatama.
Orang-orang yang sudah melemparkan senjatanya itu sama sekali tidak menjawab. Namun mereka pun sadar, bahwa mereka akan diikat tangannya dan dipaksa duduk di pendapa itu sampai saatnya mereka akan dihadapkan kepada Akuwu.
“Tetapi jika terdapat orang-orang gila di padukuhan ini, kita akan dibantai besok.” berkata para perampok itu di dalam hatinya. Namun justru karena kawan mereka cukup banyak, maka mereka masih berpengharapan bahwa mereka tidak akan diperlakukan demikian.
Sebenarnyalah seperti yang mereka duga, maka para perampok itu pun telah diikat tangannya di belakang tubuhnya. Hanya beberapa orang saja yang dibiarkan lepas dari ikatan, namun mereka mempunyai kewajiban untuk menyelenggarakan kawan-kawannya yang terbunuh di peperangan itu, sementara yang terluka harus mereka kumpulkan di pendapa.
Demikianlah, hampir semalam suntuk mereka membersihkan halaman rumah saudagar kulit itu. Sementara saudagar kulit itu pun telah menemui Akuwu Swelatama untuk mengucapkan terima kasih.
“Aku belum pernah mengenal Ki Sanak.” berkata Saudagar kulit itu. “Tetapi bahwa Ki Sanak telah datang dan memimpin sekelompok orang yang mampu mengalahkan para perampok ini tentu akan sangat membesarkan hati kita semuanya.”
Akuwu Suwelatama itu tersenyum. Katanya, “Apakah kau sudah mengenal kawan-kawanku yang lain?”
“Ada satu dua orang yang dapat aku kenal,” berkata saudagar itu, “mereka adalah orang-orang dari padukuhan lain yang sedang berkunjung kepada sanak keluarganya di sini. Atau?”
“Atau?” ulang Akuwu Suwelatama.
Saudagar itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kepergian para pengawal dari padukuhan ini telah meninggalkan beberapa orang di antara mereka secara tersembunyi.”
“Ya.” jawab Akuwu Suwelatama.
“Itukah kalian?” bertanya saudagar itu.
Akuwu Suwelatama tersenyum. Akhirnya ia berkata kepada anak-anak muda yang ada di halaman, kepada para perampok yang telah menyerah dan kepada saudagar itu, “Kami adalah para pengawal yang memang bertugas di daerah ini sepeninggal para pengawal yang dengan wajar tinggal di sini sebelumnya.”
“Gila!” geram para perampok. Baru mereka sadar, bahwa mereka telah dijebak oleh para pengawal itu.
Bagaimanapun juga para perampok itu harus membuat perhitungan. Sebelum anak-anak muda yang membawa obor itu memasuki halaman, mereka sudah mengalami kesulitan. Karena itu, kehadiran anak-anak muda yang membawa obor itu, tentu akan sangat besar pengaruhnya karena jumlah mereka cukup banyak.
Para perampok itu pun kemudian mengerti, bahwa kepergian para pengawal dengan mengadakan pertemuan pelepasan yang sengaja dibuat cukup meriah itu adalah untuk memancing agar mereka datang ke padukuhan itu, karena mereka tentu menganggap bahwa mereka tidak akan dihalangi lagi oleh para pengawal.
Namun ternyata bahwa secara tersembunyi, para pengawal itu masih tinggal di padukuhan di sekitar Kedung Sertu itu, sehingga pada saatnya para perampok itu datang, maka mereka telah benar-benar masuk ke dalam jebakan, dan tidak dapat lagi melepaskan diri.
Dalam pada itu, Akuwu Suwelatama berkata selanjutnya, “Nampaknya kalian memang belum pernah mengenal aku dengan baik meskipun namaku mungkin sudah kalian kenal.”
“Siapakah Ki Sanak sebenarnya?” saudagar itulah yang bertanya, sementara para perampok pun segera ingin tahu, dengan siapa ia berhadapan.
“Aku adalah Suwelatama. Akuwu Suwelatama.” jawab Akuwu itu.
“Akuwu Suwelatama.” hampir setiap mulut berdesis. Bahkan saudagar itu pun tiba-tiba telah berjongkok di hadapan Akuwu sambil berkata sendat, “Ampun, Akuwu. Sebenarnyalah hamba tidak tahu, bahwa hamba berhadapan dengan Akuwu Pangeran Suwelatama.”
Akuwu Suwelatama menarik bahu saudagar itu sambil berkata, “Berdirilah. Adalah menjadi kewajibanku untuk melakukan tugas seperti ini. Namun selain aku, di antara kami terdapat tiga orang prajurit Singasari. Mereka justru para Senopati yang mempunyai kegemaran khusus, menangani sendiri persoalan seperti yang terjadi di sini. Mereka adalah Mahisa Bungalan, Mahisa Agni dan Witantra.”
Ketika Akuwu menunjuk ketiga orang itu, maka pemimpin perampok itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kepada orang yang berada di dekatnya, “Karena itu ia memiliki ilmu iblis yang tidak dapat aku atasi.”
Tetapi justru karena itu, maka para perampok itu dapat menempatkan dirinya. Mereka menyesal bahwa mereka terlalu bodoh sehingga terjebak. Namun bahwa mereka harus kalah dari para pengawal dan bahkan di antara mereka terdapat Senopati dari Singasari, adalah wajar sekali.
Karena itu, maka kemudian sama sekali tidak ada niat sepercik pun untuk berusaha melepaskan diri, karena yang demikian itu tentu hanya akan sia-sia. Dan bahkan akan dapat membuat mereka semakin sulit.
Dalam pada itu, maka Akuwu Suwelatama pun segera membenahi pasukannya. Di hari berikutnya, ia telah memeriksa pemimpin perampok itu dan beberapa orang di antara mereka. Akuwu ingin meyakinkan, apakah yang datang itu merupakan bagian kecil saja dari gerombolan perampok yang berada di daerah Kedung Sertu, atau merupakan sebagian besar sehingga yang tersisa tidak lagi berbahaya bagi padukuhan itu.
Seorang perampok yang masih muda ketika dihadapkan kepada Pangeran Suwelatama telah menjawab segala pertanyaan dengan jujur, karena ia sama sekali tidak mempunyai harapan apa pun lagi. Sementara itu, pemimpin perampok itu sendiri telah mengatakan sebagian besar sesuai dengan kenyataan, meskipun masih terasa bahwa ia berusaha untuk melindungi sarang mereka yang sebenarnya.
Tetapi perampok muda dalam pemeriksaan terpisah mengatakan, “Tempat itu dapat dicapai dengan jalan darat. Jika kami setiap kali menghilang di dalam rawa-rawa dengan rakit-rakit khusus itu sebenarnya hanya sekedar untuk mengelabui para pengawal. Namun ternyata bahwa kini kami telah terjebak dan tidak mungkin untuk dapat bangkit lagi. Kawan-kawan kami yang tersisa tinggal sedikit. Di antara mereka tidak ada seorang pun yang akan mampu memimpin kelompok kecil yang tinggal itu.”
“Apakah kau dapat menunjukkan jalan darat itu?” bertanya Akuwu Suwelatama.
“Tentu.” jawab perampok yang masih muda itu. Sebenarnyalah Akuwu Suwelatama berniat untuk menghancurkan gerombolan perampok itu sampai tuntas. Meskipun yang tersisa itu hanya kecil, tetapi yang kecil itu akan dapat menjadi benih yang tumbuh, sehingga akan menjadi sebatang pohon yang besar dan yang akar-akarnya akan menghisap makanan di sekitarnya.
Karena itu, berdasarkan beberapa keterangan dari para perampok itu, maka Akuwu Suwelatama pun telah menyusun sepasukan pengawal yang ada padanya untuk datang langsung ke sarang para perampok yang tersisa itu, sekaligus untuk mengetahui apa saja yang telah tersimpan di dalam sarang itu.
“Kita harus bekerja cepat, sebelum berita tertangkapnya para perampok ini sampai ke telinga mereka.” berkata Akuwu Suwelatama.
Dengan demikian, maka Akuwu Suwelatama telah menyerahkan para perampok yang sudah tidak berdaya itu untuk di simpan di dalam tempat-tempat khusus dengan tangan terikat kepada anak-anak muda di padukuhan itu. Ia sendiri akan memimpin para pengawal untuk langsung datang ke sarang para perampok itu, meskipun ada beberapa orang yang diperintahkannya untuk tinggal bersama anak-anak muda padukuhan itu mengawasi para perampok yang telah menyerah.
“Kita akan segera berangkat,” berkata Akuwu, “sebenarnya jarak yang akan kita tempuh tidak terlalu jauh, meskipun jalan memang agak sulit.”
Dengan petunjuk seorang perampok yang masih muda itu, maka pasukan pengawal itu pun telah berangkat menuju ke sarang para perampok yang masih tersisa.
Ternyata perjalanan menuju ke tempat tujuan memang sangat sulit. Mereka melalui hutan yang lebat dan tanah yang berair. Meskipun mereka dapat menempuhnya tanpa rakit, tetapi langkah mereka tersendat-sendat oleh alam yang masih sangat buas.
“Kenapa kalian memilih tinggal di tempat seperti ini?” bertanya Mahisa Bungalan kepada perampok muda itu.
“Tentu kami memilih tempat yang sulit dijangkau oleh orang lain.” jawab perampok itu.
“Lalu, apakah arti dari hidupmu? Kau merampok harta benda dengan taruhan nyawa. Kemudian kau sembunyikan harta benda itu di tempat yang sulit dicapai. Kau pun tinggal di tempat itu pula. Apakah dengan demikian harta benda yang kau rampok dengan taruhan nyawa itu dapat berarti bagi hidupmu? Apakah harta benda itu cukup kau taruh di alas pembaringanmu tanpa dipergunakan untuk apapun?” bertanya Mahisa Bungalan.
Perampok itu termangu-mangu. Pertanyaan itu memang terdengar aneh di telinganya.
“Jadi untuk apa sebenarnya harta benda yang kau rampok itu?” desak Mahisa Bungalan.
“Bukankah harta benda itu sangat tinggi nilainya?” bertanya perampok itu.
“Sesuatu akan menjadi tinggi nilainya jika sesuatu itu berarti bagi kehidupan,” jawab Mahisa Bungalan, “harta benda yang tertimbun tanpa dipergunakan untuk apa pun juga, nilainya tidak lebih dari setumpuk jerami bagi alas tidur. Atau nilainya sama dengan seonggok batu padas di pinggir rawa-rawa itu. Renungkan.”
Perampok itu termangu-mangu. Namun kepalanya terangguk-angguk kecil. Ia mulai mengerti, bahwa harta benda yang tertumpuk itu memang tidak mempunyai nilai apa pun juga selama harta benda itu tidak dipergunakan. Emas dan perak memang tidak lebih dari batu dan padas yang berserakkan jika emas dan perak itu hanya disembunyikan di dalam goa.
“Sementara itu hidupmu terlantar, kau makan apa yang dapat kau tangkap di hutan-hutan dan air di rawa-rawa.” berkata Mahisa Bungalan kemudian, “Sementara itu orang lain yang mempunyai harta benda yang tidak berarti dapat menikmati makanan yang jarang pernah kau makan dan tidur dengan hangat bersama sanak keluarga di rumahnya yang tidak jauh dari rumah sesamanya, sehingga mereka dapat hidup dalam satu lingkungan yang menyenangkan.”
Perampok itu mengangguk-angguk. Baru kemudian ia merasakan arti dari kata-kata Mahisa Bungalan itu.
Tetapi ia tidak dapat menjawabnya. Ia hidup dalam satu lingkungan tanpa banyak mempersoalkan kehidupan itu sendiri.
Dalam pada itu, maka kelompok pengawal yang dipimpin langsung Akuwu Suwelatama itu pun semakin lama menjadi semakin dalam memasuki daerah yang lebat, liar dan basah. Setiap kali perampok muda itu memperingatkan, agar mereka berhati-hati terhadap ular air. Ular yang hidup di daerah rawa-rawa dan mempunyai bisa yang sangat tajam.
“Ular itu mirip dengan ranting-ranting kering,” berkata perampok muda itu, “kadang-kadang kita tidak dapat membedakannya dengan ranting-ranting yang melentang di hadapan kita. Tetapi jika kaki menginjak, maka ular itu pun segera mematuk. Jika ular itu berhasil menggigit kulit kita, maka harapan untuk dapat hidup kecil sekali.”
Akuwu pun selalu meneruskan peringatan itu kepada para pengawal. Dengan demikian, maka mereka selalu berhati-hati. Setiap langkah selalu diperhitungkan dengan waspada. Karena banyak kemungkinan dapat terjadi. Tergelincir jatuh membentur batang pepohonan, batu-batu padas, atau menginjak kaki ular air dan binatang air yang lain.
Dalam pada itu, Mahisa Agni yang berada di belakang bersama Witantra, berjalan dengan hati-hati pula. Namun rasa-rasanya ia pernah hidup di daerah berawa-rawa seperti itu. Daerah yang di kelilingi oleh binatang-binatang air yang berbahaya. Buaya kerdil dan ular air yang ganas.
Jarak tidak terlalu jauh itu ternyata telah ditempuh untuk waktu yang sangat lama. Bahkan hampir sehari penuh. Sehingga karena itu, maka mereka pun harus bermalam semalam di daerah yang garang itu, karena baru pagi harinya mereka dapat mendatangi sarang perampok itu. Mereka tidak akan dapat bertindak di malam hari, karena para perampok itu mengenal daerah mereka jauh lebih baik dari para pengawal.
Untuk menemukan tempat yang dapat mereka pergunakan untuk bermalam, maka mereka harus memasuki hutan lebih dalam. Mereka memanjat pepohonan dan mencari cabang-cabang yang dapat mereka pergunakan untuk beristirahat dan tidur. Meskipun mereka tidak perlu mencari cabang yang terlalu tinggi, tetapi juga tidak terlalu rendah, karena kadang-kadang air di rawa-rawa itu sempat naik dan mengangkat binatang-binatang di dalamnya pada permukaannya.
Untunglah bahwa para pengawal itu telah mendapat tempaan yang luar biasa lahir dan batin, sehingga meskipun mereka mengeluh di dalam hati, tetapi mereka tetap tabah menghadapinya.
Dengan bekal yang ada pada mereka, maka mereka sempat menahan lapar. Namun seekor kijang yang sempat mereka tangkap menjelang senja, dapat membantu mereka untuk bertahan terhadap lembabnya udara.
Dengan perapian yang tidak begitu besar, mereka mematangkan kijang itu. Baru kemudian, maka mereka mulai memanjat pepohonan ketika malam menjadi sangat gelap.
Pagi-pagi benar mereka telah bersiap. Setelah mereka menghitung jumlah mereka dan ternyata tidak ada yang kurang dan mengalami kesulitan, barulah mereka melanjutkan perjalanan.
Ternyata perjalanan itu pun menjadi semakin berat. Meskipun mereka adalah orang-orang yang terlatih, namun satu dua orang di antara mereka telah mulai mengeluh.
“Apakah anak itu tidak sengaja menyesatkan kita?” desis salah seorang pengawal.
“Menilik keadaannya, ia tidak akan berbuat demikian,” jawab kawannya, “tetapi siapa tahu. Kadang-kadang yang kita lihat agak berbeda dari kenyataan yang sebenarnya.”
“Jika ia menipu kami,” sahut yang lain, “kita ikat dan kita lemparkan saja ke rawa-rawa itu.”
Namun dalam pada itu mereka berjalan terus. Akuwu Suwelatama yang berada di belakang anak muda itu pun bertanya, “Apakah tujuan masih jauh?”
“Tidak. Kita sudah dekat,” jawab perampok muda itu, “memang lebih mudah lewat jalan air. Dengan rakit kita akan dapat mengambil jalan yang tidak terlalu banyak hambatan.”
“Binatang air? Buaya misalnya?” bertanya Akuwu Suwelatama.
Namun dalam pada itu, iring-iringan itu pun tiba-tiba telah berhenti. Mereka melihat di hadapan mereka, seekor ular berwarna hijau coklat sebesar pohon pucang melintas dengan tenangnya. Sekali binatang itu berhenti, mengangkat kepalanya untuk melihat ke sebelah menyebelah.
Rasa-rasanya tengkuk para pengawal itu meremang, jika ular itu menyerang mereka, maka mereka akan mengalami kesulitan. Meskipun mereka bersenjata, tetapi melawan seekor ular raksasa yang muncul dari dalam kabut di atas rawa-rawa adalah pekerjaan yang sangat berat. Dengan ekornya saja ular itu akan dapat menyapu mereka. Ketika ular itu telah berlalu, maka perampok muda itu berkata, “Ada tiga ekor ular raksasa di daerah rawa-rawa itu menurut penglihatan kami.”
“Tiga ekor?” bertanya Akuwu Suwelatama.
“Ya. Seekor yang hijau kecoklatan itu,” jawab perampok muda itu, “yang lain sering muncul dari dalam air. Kepalanya sebesar kepala kerbau. Bertanduk meskipun tidak sepanjang tanduk kerbau.”
”Warnanya?” bertanya salah seorang pengawal.
“Hitam kelam,” jawab perampok muda itu, “aku pernah melihatnya sekali. Ketika rakit kami melintasi sebatang pohon air yang mirip dengan sebatang pohon beringin, dengan akar-akar yang bagaikan mecengkam jauh ke dalam tanah dibawah air, tiba-tiba di sebelah pohon itu muncul sebuah kepala binatang air yang kami kira adalah seekor ular.”
“Mengerikan,” desis seorang pengawal, “dan kalian masih juga berkeliaran di daerah itu?”
“Binatang itu tidak mengganggu.” jawab perampok muda itu.
“Dan yang seekor lagi?” bertanya pengawal yang lain.
“Itulah yang nampaknya mengerikan, meskipun yang seekor itu pun tidak pernah mengganggu pula.” jawab perampok muda itu, “Yang seekor itu kepalanya warna kemerah-merahan. Tubuhnya bergelang-gelang merah dan kuning. Besarnya hampir sama dengan ular melintas itu. Tetapi matanya seakan-akan memancarkan api. Di telinganya seolah-olah terdapat gambar sumping, sehingga menurut dugaan kami, ular yang berwarna kemerah-merahan itu adalah raja dari segala jenis ular di daerah ini, meskipun bukan ular itulah yang terbesar, karena ular bertanduk yang berwarna hitam itu agaknya lebih besar.”
Para pengawal itu memang merasa ngeri mendengarkan keterangan perampok muda itu. Perampok itu tentu tidak berbohong atau sengaja menakut-nakutinya, karena mereka telah melihat salah seekor dari ular yang disebutkannya. Ular yang berwarna hijau kecoklatan, yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Namun demikian, iring-iringan itu berjalan terus. Rawa-rawa itu nampaknya menjadi semakin liar. Tetapi perampok muda itu mengatakan, bahwa mereka sudah dekat dengan sarang yang mereka tuju.
Beberapa puluh tonggak kemudian, mereka memasuki sebuah hutan yang semakin lama semakin kering. Agaknya mereka telah menjauhi daerah rawa-rawa.
“Jika kami mempergunakan rakit, maka kami berhenti di daerah yang berair di bawah pohon raksasa itu,” berkata perampok muda itu, “di sekitar pohon itu terdapat sarang buaya yang ganas. Tetapi kami sudah mengusai medan, sehingga kami dapat menempuh jalur yang paling aman.”
Akuwu Suwelatama mengangguk-angguk. Sementara itu mereka telah berada di atas tanah yang kering. Bahkan kemudian mereka sampai ke daerah yang berbatu padas.
Perampok muda itu tiba-tiba memberikan isyarat agar mereka berhenti. Kemudian katanya kepada Pangeran Suwelatama, “Kami tinggal di belakang batu karang itu. Di sana masih ada beberapa orang kawan yang menjaga harta benda yang kami simpan.”
“Hasil rampokan?” bertanya Akuwu.
“Ya.” jawab perampok muda itu.
“Kalian menyimpan harta benda yang tidak terkira banyaknya. Tetapi kalian hidup di dalam lingkungan yang buas dan penuh dengan ancaman maut.” desis Akuwu Suwelatama.
Perampok muda itu sama sekali tidak menjawab. Sementara itu para pengawal pun telah berkumpul dan bersiap-siap menghadapi tugas mereka yang sebenarnya. Memasuki sarang para perampok yang selalu mengganggu rakyat di sekitar daerah rawa-rawa Kedung Sertu yang buas itu.
“Kita beristirahat sejenak,” berkata Akuwu, “kita siapkan diri kita untuk memasuki sarang itu. Meskipun menurut keterangan yang kita dapatkan, orang-orang yang tinggal bukan orang yang berbahaya, tetapi kita harus berhati-hati.”
Demikianlah maka Akuwu Suwelatama itu pun menyusun pasukannya sebaik-baiknya. Setelah mereka beristirahat, maka atas petunjuk perampok yang masih muda itu, mereka telah bergerak.
Dengan hati-hati Akuwu Suwelatama membawa pasukannya melintasi daerah berbatu-batu padas. Mereka melingkari sebuah onggokan batu barang berwarna keputih-putihan dan mengandung kapur. Menurut perampok yang muda itu, maka di belakang batu karang berkapur itulah, kawan-kawannya yang tersisa tinggal.
Demikianlah mereka sampai ke sebelah batu karang itu, mereka telah melihat satu daerah yang tidak terlalu liar. Semacam sebuah halaman yang tidak terlalu luas membentang di hadapan mereka.
“Itukah?” desis Akuwu Suwelatama.
“Ya.” jawab perampok muda itu.
Akuwu Suwelatama memberi isyarat kepada para pengawalnya. Sementara itu Mahisa Bungalan berada di belakangnya dan Mahisa Agni serta Witantra justru berada di belakang.
Dengan isyarat, maka pasukan itu telah menebar. Mereka akan mendekati sarang perampok itu yang dibuat di antara dua bongkah batu karang berkapur. Di dalam batu berkapur itu terdapat sebuah goa, sementara di hadapan goa itu, mereka telah membuat sebuah barak memanjang, yang mereka pergunakan sebagai tempat tinggal.
“Kita akan menyergap dari depan.” berkata Akuwu Suwelatama.
Mahisa Agni dan Witantra pun kemudian dibagi untuk berada di kedua ujung pasukan itu, sementara Akuwu Suwelatama dan Mahisa Bungalan berada di tengah-tengah.
“Jika isyarat aku berikan, kalian harus segera menempati tempat masing-masing.” berkata Akuwu, ”Sekali lagi, kita akan menyergap dari depan.”
Sejenak kemudian mereka menunggu. Demikian Akuwu itu memberikan isyarat, maka para pengawal itu pun segera berlari-larian menebar dan menyusun sebuah gelar kecil menghadap ke arah batu karang. Sementara itu, dua orang pengawal mendapat tugas khusus untuk mengamati perampok muda yang mereka bawa dalam pasukan itu.
Kehadiran para pengawal itu telah mengejutkan para perampok yang tinggal di celah-celah dua bongkah batu karang berkapur itu. Dengan serta merta, seorang di antara mereka yang kebetulan berada di depan baraknya telah memberikan isyarat.
Isyarat itu telah mengejutkan kawan-kawannya. Dengan tergesa-gesa para perampok yang berada di dalam barak itu telah berlari-larian keluar dengan senjata di tangan.
Pada saat yang bersamaan, pasukan Akuwu Suwelatama telah maju mendekati barak itu. Yang berdiri di paling depan adalah Akuwu Suwelatama sendiri. Kemudian di belakangnya adalah Mahisa Bungalan.
“Gila!” geram orang yang tertua diantara para perampok itu. “Siapakah kalian he?”
Akuwu Suwelatama yang berdiri dipaling depan itu menjawab, “Kami adalah para pengawal dari Pakuwon Kabanaran. Kau kenal Pakuwon Kabanaran?”
“Persetan dengan Pakuwon Kabanaran,” jawab orang tertua diantara para perampok itu, “aku tidak terikat pada Pakuwon manapun juga.”
“Kau berada di dalam daerah kekuasaan Pakuwon Kabanaran meskipun daerah ini belum pernah kami datangi karena alam yang masih terlalu buas.” jawab Akuwu Suwelatama.
“Aku tidak perduli!” jawab orang itu.
“Aku pun tidak peduli,” berkata Akuwu, “mengakui atau tidak mengakui, kami datang untuk menangkap kalian, karena kalian selalu mengganggu padukuhan-padukuhan di sekitar Kedung Sertu ini.”
“Kau kira kalian mempunyai kekuasaan untuk melakukan hal itu?” bertanya perampok itu.
“Aku adalah Akuwu Kabanaran!” jawab Akuwu Suwelatama.
Tetapi jawab perampok itu mendebarkan, “Sudah aku katakan. Aku tidak peduli dengan Pakuwon Kabanaran. Pergilah, atau kalian akan menjadi mangsa buaya-buaya di rawa-rawa itu.”
“Kami akan menangkap kalian. Kawan-kawan kalian yang mendatangi padukuhan-padukuhan di sebelah rawa-rawa itu telah kami tangkap semuanya.” jawab akuwu.
“Omong kosong!” teriak perampok itu.
“Jangan menyangkal. Tanpa menangkap kawan-kawanmu itu, kami tidak akan dapat sampai ke tempat ini.” berkata Akuwu Suwelatama. Lalu, “Karena itu menyerah sajalah. Kami akan menangkap kalian dan mengambil semua harta benda yang ada di sini. Adalah tugas kami untuk menghapuskan segala macam kejahatan.”
Orang tertua di antara para perampok itu melihat, bahwa orang-orang yang datang dan menyebut pengawal Pakuwon Kabanaran dan dipimpin oleh Akuwu Kabanaran itu, berjumlah lebih banyak dari sisa kawan-kawannya yang tinggal. Tetapi orang itu terlalu percaya akan kemampuan mereka, serta tanggung jawab yang dibebankan kepada mereka oleh pemimpin mereka. Karena itu, maka jawabnya, “Kalian telah datang melalui jalan yang sangat berbahaya sekedar untuk mengantar nyawa kalian. Baiklah. Kita bertempur di sini.”
“Tidak ada gunanya,” berkata Akuwu Suwelatama, “menyerah sajalah. Jumlah kami lebih banyak. Sementara kemampuan kami secara pribadi adalah jauh lebih besar dari kalian.”
“Pembual yang bodoh,” teriak orang tertua itu, “kami hidup dari ujung senjata kami. Kami akan membunuh kalian dalam sekejap. Kemudian melemparkan mayat kalian ke daerah rawa-rawa yang penuh dengan buaya itu. Mereka akan bersantap dengan mengucap terima kasih kepada kami.”
“Bagaimana jika terjadi sebaliknya?” bertanya Akuwu, “Mayat kalianlah yang kami lempar ke rawa-rawa itu?”
Orang tertua di antara para perampok itu menggeram. Kemarahan yang menghentak di dadanya, membuat matanya bagaikan menyalakan api.
Namun dalam pada itu, Akuwu Suwelatama itu pun berkata, “Semua kawan-kawanmu yang menyerang padukuhan, dan akan merampok saudagar kulit itu telah kami kalahkan dan kami tawan semuanya. Seorang di antara merekalah yang membawa kami kemari.”
“Persetan!” geram orang tertua itu, “Jangan membual.”
“Jadi kalian tidak ingin menyerah?” bertanya Akuwu Suwelatama.
“Jangan gila. Aku sudah mengatakan, jangan gila membayangkan bahwa kami akan menyerah. Kami akan membunuh kalian dan seperti yang sudah kami katakan, kami melempar mayat kalian ke rawa-rawa.” berkata pemimpin perampok itu.
Sementara itu, Mahisa Bungalan telah berbisik, “Biarlah perampok muda itu membujuk kawan-kawannya.”
“Apakah kita akan melepaskannya?” bertanya Akuwu, ”Jika ia lari, maka kami akan mendapat kesulitan untuk keluar dari daerah ini.”
“Kita tidak akan melepaskannya.” jawab Mahisa Mahisa Bungalan, “Biarlah ia berbicara pada jarak ini.”
Akuwu Suwelatama mengangguk-angguk. Kemudian ia pun berkata kepada dua orang pengawalnya yang menjaga perampok muda itu di belakang jajaran para pengawalnya, “Bawa anak itu kemari.”
Kedua pengawal itu pun membawa anak muda itu kepada Akuwu Suwelatama. Kemudian Akuwu itu pun berkata, “Beritahukan kepada kawan-kawanmu dari tempat ini, apa yang sudah terjadi sebenarnya pada gerombolanmu yang terperangkap di padukuhan itu.”
Perampok muda itu ragu-ragu. Namun ketika kedua pengawal itu membawanya ke dekat Akuwu Suwelatama, maka ia pun tidak dapat berbuat lain.
“Kawan-kawan,” teriak perampok muda itu, “sebenarnyalah bahwa pemimpin kami telah tertangkap. Kawan-kawan kami sebagian telah tertawan pula, sementara ada beberapa di antara mereka yang terluka parah dan bahkan terbunuh.”
“Suruh mereka menyerah.” desis Akuwu.
“Karena itu,” lanjut anak muda itu, “menyerah sajalah. Mereka akan memperlakukan kita dengan baik.”
Para perampok itu terdiam sejenak. Agaknya mereka masih mencoba memperhatikan, siapakah yang sedang berbicara itu. Namun akhirnya, setelah mereka mengenalinya, orang tertua di antara mereka itu pun berkata, “Pengkhianat. Apa keuntunganmu membawa mereka kemari? Mereka akan mati, dan kau akan aku lempar hidup-hidup ke mulut buaya.”
“Aku tidak berkhianat,” jawab anak muda itu, “tetapi karena pemimpin kami menyerah, maka kami semuaknya telah menyerah. Karena itu, menyerah sajalah. Mereka terlalu kuat buat kita. Apalagi jumlah kalian sedikit. Kami yang berjumlah lebih banyak pada waktu itu tidak dapat melawan mereka.”
“Jangan banyak berbicara. Kau akan mengalami nasib yang paling buruk dari para pengkhianat yang lain dan orang-orang yang datang untuk membunuh diri itu.” jawab seorang perampok yang datang berjambang panjang, “Kau kira bahwa kau begitu mudah menipu kami, he?”
Perampok muda itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian sambil berpaling ia berkata, “Mereka tidak mau mendengarkan lagi. Terserah kepada kalian.”
Akuwu Suwelatama maju selangkah dan berkata kepada para perampok, “Baiklah. Jika kalian tidak mau menyerah, kami terpaksa mempergunakan kekerasan. Aku kira kekuatan kalian sama sekali tidak memadai. Karena itu, tugas kami pun akan segera dapat kami selesaikan. Yang menjadi persoalan adalah, jika ada di antara kalian atau kami yang terluka parah. Sementara kami berjalan membawa tubuh kami masing-masing, kami sudah mengalami kesulitan. Apalagi jika kami harus membawa orang-orang yang terluka.”
“Tidak ada yang terluka,” teriak orang tertua di antara para perampok itu, “tetapi kalian akan kami tumpas habis.”
Akuwu Suwelatama tidak sabar lagi. Karena itu, maka ia pun telah meneriakkan perintah, “Bersiaplah.”
Para pengawal pun segera bersiap. Dua orang pengawal yang bertugas telah menarik perampok muda itu dan membawanya ke belakang garis pasukan para pengawal.....
Bersambung...!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar