*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 34-03*
Karya. : SH Mintardja
Semula kehadiran mereka tidak begitu menarik perhatian, karena mereka adalah anak-anak muda dalam pakaian orang kebanyakan, yang dikira tidak memiliki kemampuan seorang prajurit. Tetapi selelah anak-anak muda itu bertempur beberapa saat. maka ternyata kemampuan mereka telah benar-benar mengejutkan.
Dengan demikian, maka kekuatan lawan kemudian sebagian lelah terhisap dengan kehadiran anak-anak muda itu, apalagi Mahisa Agni dan Mahendra membayangi mereka pula, sehingga tekanan di sudut yang lain pun menjadi agak berkurang.
Witantra yang masih bertempur seperti burung elang, banyak pula menumbuhkan persoalan di pihak lawan.
Para cantrik yang semula yakin akan dapat mengalahkan para prajurit, dan bahkan sudah membayangkan bagiamana mereka akan menghinakan mereka, tiba-tiba saja telah terbentur pada kenyataan lain. Prajurit-prajurit Singasari seakan-akan lelah menemukan kekuatannya yang baru dengan hadirnya beberapa orang anak muda itu.
Semakin lama semakin ternyata bahwa para prajurit Singasari akan berhasil menguasai keadaan. Mahisa Agni yang berada di dalam satu kelompok bersama Mahendra dan anak-anak muda itu, seakan-akan merupakan kelompok hantu yang lapar, yang menyebarkan maut di segenap penjuru. Setiap sudut yang mereka dekati, maka nafas kematian bagaikan dihembuskan di udara di atas arena pertempuran itu.
Empu Purung yang bertempur di bagian lain melawan Mahisa Bungalan pun menjadi gelisah. Perhitungannya atas kekuatan Singasari ternyata lelah keliru. Usahanya memecah pasukannya yang akan menyerang barak dari bagian depan dan bagian belakang, ternyata telah menjebak pasukannya sendiri. Pasukan yang dipimpin Putut Sanggawerdi telah dihancurkan oleh prajurit Singasari yang jumlahnya ternyata lebih banyak dari dua puluh orang saja, karena Empu Purung tidak mengetahui adanya pasukan cadangan yang tersembunyi. Selebihnya Empu Purung tidak memperhitungkan orang-orang yang memiliki kemampuan lebih dari sekelompok kecil prajurit Singasari seperti lawan yang sedang dihadapinya, Mahisa Agni dan kelompok mautnya, Witantra dan kemampuan prajurit Singasari yang seorang demi seorang jauh berada di atas kemampuan anak-anak muda yang sedang belajar olah kanuragan di padepokanan Empu Purung.
Namun Empu Purung masih mempunyai harapan. Ia ingin membinasakan Mahisa Bungalan, sehingga dengan demikian, maka ia akan dapat mengitari seluruh arena, karena Empu Purung pun masih belum mendapatkan ukuran kemampuan lawannya yang sebenarnya.
Tetapi Mahisa Bungalan ternyata tidak segera dapat di kalahkan. Bahkan ketika pertempuran itu menjadi semakin sengit, tandang Mahisa Bungalan pun menjadi semakin mantap.
Tangannya yang basah oleh keringat, bagaikan mendapatkan kekuatan baru yang dahsyat untuk mengayunkan senjatanya.
Namun Empu Purung pun memiliki kemampuan yang tinggi. Sudah beberapa kali ia mengatakan kepada para cantrik, bahwa ia mampu menggugurkan gunung dan mengeringkan lautan dengan jari-jarinya.
Meskipun tidak sebenarnya demikian yang dimaksudkan nya, namun Empu Purung memang mempunyai ilmu yang maha dahsyat- Ia mampu memecahkan jantung lawan dengan suara tertawanya. Tetapi di hadapan Mahisa Bungalan ia tidak mendapat kesempatan untuk memusatkan kemampuan ilmunya itu.
Namun Empu Purung tidak berkecil hati. Ia harus menghancurkan Mahisa Bungalan, kemudian ia akan dapat mengacaukan pertahanan lawan dengan ilmunya itu, dan dengan kemampuan wadag yang sukar dimengerti oleh orang-orang yang tidak berilmu tinggi.
Menghadapi Mahisa Bungalan Empu Purung menjadi sangat berhati-hati. Ia sadar, bahwa Mahisa Bungalan adalah seorang anak muda yang tuntas kawruh lahir dan batin. Namun Empu Purung masih ingin mencoba, apakah Mahisa Bungalan mampu bertahan terhadap sentuhan ilmu puncaknya, Aji Bajraketi. Aji yang memiliki kekuatan yang dahsyat sekali, seolah-olah merupakan semburan lidah api yang dapat membakar lawannya sampai hangus.
Ketika Empu Purung sudah tidak melihat jalan lain, maka ia pun segera meloncat surut. Dengan kekuatan yang tersimpan di dalam dirinya atas lambaran ilmunya, maka Empu Purung pun telah membangunkan kemampuannya yang terdahsyat itu pada telapak tanganya.
Wajah Empu Purung menjadi merah, sementara tangannya telah berubah bagaikan bara. Empu Purung justru memindahkan senjatanya di tangan kirinya, sementara tangan kanannya telah siap diayunkannya dengan kekuatan ilmu puncaknya.
Mahisa Bungalan terkejut melihai sikap itu. Ia sadar, bahwa ia akan berhadapan dengan kemampuan aji yang dahsyat. Apalagi ketika terlihat olehnya wajah Empu Purung yang merah dan tangannya yang bagaikan bara api.
Tidak ada kemungkinan lain bagi Mahisa Bungalan dari pada mempersiapkan diri dengan sepenuh kemampuannya. Ia sudah mempelajari berbagai macam ilmu dan menguasai kemampuan beberapa macam aji. Dari ayahnya, dari pamannya dan bahkan dari Mahisa Agni ia telah mempelajari berbagai macam unsur kekuatan.
Menghadapi kekuatan lawan yang nampaknya tidak dapat diabaikan, Mahisa Bungalan telah mengerahkan daya tahannya. ia masih belum mempergunakan ilmunya untuk menyerang. Tetapi ia sekedar membangunkan kekuatan getaran ilmu di seputar dirinya sehingga seolah-olah Mahisa Bungalan telah dikelilingi oleh selapis baja yang tebalnya sejengkal.
Meskipun masih ada juga keragu-raguan apakah daya tahannya akan dapat bertahan atas kekuatan Empu Purung, namun kemudian ia menemukan keyakinan bahwa seandainya lawannya dapat menembus ilmunya, maka kekuatan yang berhasil menerobos daya tahannya itu, tentu tinggal kekuatan yang tidak akan dapat berpengaruh lagi atas dirinya, dalam keadaan wajar sekalipun.
Karena itu, ketika ia melihat Empu Purung bersikap, Mahisa Bungalan justru berdiri diam dengan tangan bersilang di dada.
Saat-saat yang tegang itu pun telah mencengkam arena peperangan. Beberapa orang yang melihat kedua pemimpin dari kedua belah pihak itu bersikap seolah-olah berusaha untuk men hindarkan diri dari pertempuran barang sejenak. Karena kedua belah pihak bersikap serupa, maka perkelahian di arena itu pun seakan-akan telah mereda. Masing-masing ingin menyaksikan apakah yang bakal terjadi, jika Empu Purung telah melepaskan kemampuan ilmu pamungkasnya.
“Gunung akan runtuh dan lautan akan kering,” desis beberapa orang cantrik, “apalagi tubuh manusia yang terdiri dari tulang dan daging yang lunak. Tentu tubuh itu akan hancur menjadi debu.”
Sejenak kemudian, maka arena itu benar-benar telah dicengkam oleh ketegangan. Saat-saat Empu Purung bersiap untuk meloncat.
Para cantrik yang menyaksikan bagaikan membeku. Seandainya pada saat-saat itu lawan mereka menyerang, mereka tidak akan sempat melawan karena mereka ingin menyaksikan ayunan tangan Empu Purung yang bagaikan membara itu.
Mahisa Bungala pun telah siap pula membentengi diri nya. Ia sama sekali tidak berusaha untuk menghindar atau membenturkan serangan kemampuan ilmu puncaknya. Namun dengan demikian, Empu Purung benar-benar telah dibakar oleh kemarahan, karena ia menganggap sikap Mahisa Bungalan adalah sikap yang sangat sombong.
Sekejap kemudian, maka setiap orang telah menahan nafasnya. Para cantrik dan bahkan para prajurit Singasari. Mereka dengan tegang menunggu, apakah yang akan terjadi.
Yang terdengar kemudian adalah teriakan nyaring. Empu Purung, telah meloncat sambil mengayunkan tangannya menghantam dahi Mahisa Bungalan.
Setiap orang merasa seolah-olah arus darah di tubuhnya telah berhenti. Dengan tatapan mata yang tidak berkedip mereka menyaksikan, hantaman tangan Empu Purung yang langsung mengenai dahi Mahisa Bungalan.
Ternyata kemudian telah terjadi benturan yang dahsyat. Mahisa Bungalan yang telah menjajagi ilmu lawannya, dan yang meyakinkan dirinya akan mampu bertahan atas serangan ilmu tertinggi lawannya, telah terkejut. Ternyata ilmu Empu Purung telah melontarkannya sehingga Mahisa Bungalan jatuh terguling di tanah, meskipun ia sadar, bahwa yang terjadi adalah sekedar kekuatan dorongan yang besar. Tetapi sama sekali tidak melukainya-
Dengan serta merta Mahisa Bungalan meloncat berdiri dan bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Namun demikian, karena serangan lawan langsung menghantam dahinya, terasa juga kepalanya menjadi pening. Matanya bagaikan melihat beribu bintang yang berputaran.
Dengan mengerahkan daya lahir dan batinya, Mahisa Bungalan telah berdiri tegak untuk menghadapi setiap serangan yang bakal datang.
Tetapi ternyata bahwa Empu Purung tidak dapat menyerangnya dengan serta merta. Benturan serangan kekuatan puncaknya atas perlindungan kekuatan yang melindungi tubuh Mahisa Bungalan telah menghentakkannya. Tangannya yang memukul dahi Mahisa Bungalan rasa-rasanya bagaikan menghantam besi baja, sehingga justru karena itu, ia pun telah terpental beberapa langkah surut.
Namun perasaan sakit yang tidak terhingga telah menyengat tangannya yang membara. Ternyata bahwa kekuatan puncaknya tidak berhasil menembus daya tahan Mahisa Bungalan, meskipun ia berhasil melemparkan Mahisa Bungalan sehingga jatuh terguling.
Meskipun demikian, Empu Purung itu pun sadar, bahwa ia telah berhasil mendorong kekuatan Mahisa Bungalan. Itulah sebabnya, maka ia pun segera berusaha memusatkan kemampuannya pada ilmunya kembali. Ia ingin melepaskan aji puncaknya itu sekali lagi, pada saat ketahanan ilmu Mahisa Bungalan belum sepenuhnya dapat dibangunkan kembali.
Namun agaknya Mahisa Bungalan pun menyadari. Ia tidak mau dilemparkan sekali lagi oleh lawannya. Jika pemusatan daya tahannya belum sampai kepuncaknya, maka serangan yang sama akan dapat meretakkan tulang kepalanya.
Itulah sebabnya, maka Mahisa Bungalan tidak mau lagi sekedar bertahan saja menghadapi Empu Purung. Pada saat Empu Purung mempersiapkan serangannya yang kedua, maka Mahisa Bungalan pun telah bersiap pula.
Sementara itu, orang-orang yang menyaksikan benturan kekuatan itu pun rasa-rasanya lelah membeku. Kepala mereka menjadi pening, seolah-olah kepala merekalah yang telah membentur kekuatan tangan Empu Purung.
Namun dalam pada itu, para cantrik pun telah dihinggapi oleh keheranan yang tajam, melihat Mahisa Bungalan yang masih mampu bangkit dan bersiap untuk bertempur. Mereka mengira bahwa kepalanya tentu akan pecah, seperti pecahnya pintu gerbang barak para prajurit Singasari. Apalagi serangan itu telah dilambari oleh kekuatan yang tentu lebih dipersiapkan.
“Agaknya Empu Purung menganggap lawannya terlampau lemah” berkata para cantrik, “sehingga ia tidak mengerahkan seluruh kemampuannya.”
“Ya. Dan agaknya Empu Purung akan mengulanginya. Yang kedua itulah yang akan menentukan. Anak itu tentu tidak hanya sekedar terlempar dan terbanting jatuh. Tetapi ia akan pecah menjadi potongan tulang, dan seonggok daging yang akan menjadi makanan binatang buas di malam hari.”
Sekali lagi ketegangan telah memuncak. Para prajurit Singasari pun menjadi ragu-ragu terhadap kemampuan daya tahan Mahisa Bungalan.
Sejenak kemudian arena pertempuran itu telah dicengkam oleh suasana yang tegang. Kedua orang yang berhadapan itu telah memusatkan segenap ilmunya. Ternyata bahwa Empu Purung tidak berbasil menyerang saat-saat Mahisa Bungalan masih belum siap melawannya. Justru nampaknya Mahisa Bungalan telah mendahului lawannya, bersiap untuk bukan saja bertahan, tetapi bahkan menyerang.
Sesaat kemudian, maka setiap jantung rasa-rasanya telah berhenti berdetak. Mahisa Bungalan sengaja menunggu saat Empu Purung yang disebut memiliki kemampuan yang dapat menggugurkan gunung dan mengeringkan lautan itu meloncat menyerangnya dengan segenap kemampuan yang dimilikinya.
Pada saat itu pulalah Mahisa Bungalan telah meloncat pula.
Sekejap kemudian, maka terjadilah benturan yang dahsyat antara dua kekuatan puncak dari dua orang yang memiliki kemampuan jauh di atas orang kebanyakan. Benturan yang bagaikan guruh bersabung di udara.
Mahisa Bungalan yang membentur kekuatan Empu Purung dengan kekuatan yang dipersiapkan untuk menyerang, nampaknya masih terdorong pula beberapa langkah surut. Tetapi ia tidak lagi jatuh dan berguling di tanah. Bahkan ia masih dapat mempertahankan keseimbangannya, sehingga ia masih tetap berdiri tegak meskipun terasa tubuhnya tiba-tiba saja menjadi gemetar. Kekuatan yang kurang dikenalnya, tetapi sebagai bara yang menjalar dari titik sentuhan kekuatannya dengan kekuatan Empu Purung menelusur di sepanjang urat-urat darahnya.
Mahisa Bungalan sadar, bahwa kekuatan itu tentu kekuatan yang berbahaya, yang akan dapat menghanguskan jantung, Cepat atau lambat. Karena itu, maka ia pun kemudian justru meloncat surut. Dikerahkannyalah daya tahan tubuhnya untuk melawan arus yang akan dapat mencelakakannya, bahkan mungkin nyawanya.
Terasa bahwa dengan mengerahkan daya lahannya, getaran panas itu menjadi semakin lambat, dan bahkan kemudian berhenti. Perlahan-lahan Mahisa Bungalan berusaha untuk mendorong kekuatan yang memanasi jalur darahnya itu kembali ke tempatnya untuk kemudian dilontarkannya keluar.
Dalam pada itu, ketika Mahisa Bungalan dengan cemas berusaha menguasai getaran panas di daiam dirinya, maka Empu Purung sedang berjuang untuk mempertahankan hidupnya. Benturan itu ternyata telah melemparkannya beberapa langkah surut. Bukan saja tangannya yang menjadi sakit karena daya tahan Mahisa Bungalan, tetapi hentakan kekuatan Mahisa Bungalan yang menyerangnya telah menghantam tubuhnya, menggetarkan isi dadanya. Rasa-rasanya jantungnya telah rontok dan tulang-tulang iganya berpatahan.
Beberapa saat ia masih dapat bertahan berdiri di atas kedua kakinya. Tetapi rasa-rasanya kakinya sudah tidak bertulang lagi. Perlahan-lahan ia terjatuh pada lututnya, sementara itu, dan mulutnya telah meleleh darah yang merah menitik di atas tanah.
Empu Purung terbatuk beberapa kali. Ternyata bahwa ia tidak lagi dapat melawan hadirnya maut yang merenggut nyawanya. Ia tidak berhasil menghancurkan lawannya, tetapi justru sebaliknya. Mahisa Bungalan yang masih muda itu ternyata memiliki kemampuan yang tidak dapat dilawannya. Kekuatan ilmunya, yang diharapkan akan dapat menggugurkan gunung dan mengeringkan lautan, ternyata hancur luluh terbentur kekuatan ilmu anak muda itu.
Empu Purung itu pun kemudian bersandar pada kedua tangannya. Namun hanya beberapa saat. Ia masih sempat memandang Mahisa Bungalan dengan sorot mata kemarahan dan dendam. Namun mata itu pun kemudian redup dan padam.
Empu Purung jatuh terbaring di atas tanah. Ia tidak lagi dapat berbuat sesuatu. Mati.
Sejenak para cantriknya bagaikan dicekik oleh kejutan yang tidak disangka-sangkanya sama sekali.
Empu Purung, orang yang mereka anggap tidak akan dapat dikalahkan oleh siapapun juga itu, kini terkapar di tanah tanpa dapat bergerak lagi.
Mahisa Bungalan masih berdiri sesaat memperbaiki keadaan tubuhnya. Perlahan-lahan ia pun kemudian berhasil melontarkan getaran panas dari dalam dirinya, sehingga tubuhnya terasa menjadi segar kembali meskipun di beberapa bagian masih terasa sakit-sakit yang menyengat.
Sejenak kemudian, maka para prajurit yang melihat kenyataan itu pun segera menyadari keadaan. Dengan sigapnya mereka kembali mengacukan senjatanya.
Namun dalam pada itu, para cantrik serta anak-anak muda yang berada di bawah pengaruh Empu Purung, rasa-rasanya tidak lagi mempunyai kekuatan. Sandaran mereka seolah-olah telah patah, sehingga karena itu, maka mereka masih saja berdiri termangu-mangu. Dibagian lain mereka melihat Putut Snggawerdi yang tersandar pada sebatang pohon tanpa dapat berbuat sesuatu lagi, sementara Putut yang masih muda, Kuda Widarba telah kehilangan kesempatan untuk menang.
Kekalahan Empu Purung ternyata telah menentukan akhir dari pertempuran itu. Dibagian lain dari arena itu, Putut Kuda Widarba pun melihat dan mendengar sorak prajurit Singasari yang meneriakkan kematian Empu Purung, sengaja untuk mempengaruhi perlawanan para cantrik.
“Apakah kau akan melawan terus?” bertanya Senapati prajurit Singasari yang bertempur melawan Putut yang muda itu.
Putut Kuda Widarba termangu-mangu. Ia benar-benar sudah kehilangan harapan. Di arena pertempuran yang lain, tidak ada kekuatan lagi sementara ia serdiri harus menghadapi tekanan Senapati prajurit Singasari yang tidak dapat dilawannya. Apa lagi jika ia melihat anak-anak muda yang aneh yang bertempur melawan para cantrik di dalam lingkaran perkelahiannya.
“Mereka tentu memiliki kemampuan yang tidak terhingga, sehingga mereka dengan mudah bertahan dan bahkan menghalau lawan yang jumlahnya jauh lebih banyak” berkata Putut Muda Widarba itu di dalam hatinya.
“He, kenapa kau menjadi bingung?” bertanya Senapati prajurit Singasari, “pemimpinmu, Empu Purung telah terbunuh dalam pertempurannya melawan Mahisa Bungalan, pembunuh orang berilmu hitam. Nah, apakah kau akan tetap berkeras untuk bertempur terus, sehingga kau akan mengalami nasib seperti kawanmu yang tersandar sebatang pohon tidak berdaya lagi itu? Atau barangkali kau ingin menyusul Empu Purung?”
Putut Kuda Widarba menarik nafas dalam-dalam Kemudian sambil memberikan isyarat kepada orang-orangnya ia melepaskan senjatanya. Katanya “Aku menyerah. Aku sudah kehilangan semua kesempatan.”
Senapati prajurit Singasari itu mengangguk-angguk. Katanya
“Perintahkan setiap orang di dalam pasukanmu meletakkan senjatanya. Perintahkan mereka berkumpul dan tidak berbuat sesuatu yang dapat menimbulkan salah paham.”
Putut Kuda Widarba pun kemudian memanggil semua orang-orangnya yang tersisa, memerintahkan mereka meletakkan senjata dan berkumpul di tempat terbuka.
Sejenak para prajurit mengumpulkan senjata mereka dan kemudian dengan senjata telanjang berdiri melingkari orang-orang yang sudah menyerah dan dikumpulkan di tempat terbuka. Para tawanan itu harus duduk beradu punggung dalam dua baris melingkar bersusun semakin kecil kedalam.
Ranggawuni dan Mahisa Cempaka mengamati mereka dengan kerut merut di kening. Sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu di sebelahnya.
“Aku belum berbuat apa-apa” bisik Mahisa Pukat di telinga Mahisa Murti, “tiba-tiba saja mereka sudah menyerah.”
Ternyata Ranggawuni yang juga masih muda itu mendengarnya. Sambil tersenyum ia berkata perlahan-lahan, “Lain kali kau akan mendapat kesempatan. Tetapi di tempat yang lain.”
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun wajahnya yang kemerah-merahan itu pun tertunduk dalam-dalam.
Mahisa Agni yang kemudian berdiri di sebelah para tawanan itu pun memberikan sedikit keterangan tentang peristiwa yang baru saja terjadi, ia berusaha untuk menyentuh perasaan tawanan-tawanannya, bahwa yang mereka lakukan selama itu adalah langkah yang keliru.
Ternyata sebagian besar dari mereka tidak tahu pasti apakah yang sebenarnya mereka lakukan. Namun dengan demikian mereka menyadari, bahwa langkah mereka adalah langkah yang sebenarnya sangat berbahaya.
“Tugas kami sudah selesai di tempat ini. Tetapi belum di tempat lain” berkata Mahisa Agni, “karena Empu Baladatu telah mempersiapkan tindakan-tindakan serupa dengan banyak tempat”
Para tawanan itu mengangguk-angguk.
“Nah, kita akan bersama-sama pergi ke Kota Raja. Perjalanan yang agak jauh, tetapi mungkin akan sangat menarik. Tidak semua dari kalian akan pergi. Anak-anak muda yang sesat langkah akan kami serahkan kembali kepada Ki Buyut untuk mendapat kesempatan memperbaiki kesesatannya. Kami akan meninggalkan lima enam orang prajurit untuk ikut mengatur kalian.” berkata Mahisa Agni, “tetapi kalian harus sadar, bahwa kalian harus membantu para prajurit itu di dalam usahanya. Karena prajurit-prajurit itu adalah kekuatan Singasari sendiri. Setiap sentuhan terhadap mereka dengan kekerasan, akan menghadapkan kekuatan itu kepada kekuatan prajurit Singasari.”
Para tawanan itu mengangguk-angguk.
“Kami akan berada di sini untuk satu dua hari. Kami akan bersama-sama dengan Ki Buyut, memilih di antara kalian, siapakah yang harus mempertanggung jawabkan peristiwa yang baru saja terjadi. Sementara yang lain akan mendapat perlakuan yang khusus” Mahisa Agni meneruskan.
Sementara itu, selagi para cantrik dan anak-anak muda yang berada di bawah pengaruh mereka mendapat penyelesaian sesuai dengan tingkat perbuatan masing-masing, maka di beberapa tempat lain, orang-orang yang menghubungi Empu Baladatu telah menyampaikan persoalannya, bahwa di Alas Pandan benturan kekuatan tidak mungkin dapat ditunda lagi.
Empu Baladatu memandang penghubung itu dengan wajah yang tegang. Dengan suara yang bernada dalam ia berkata, “Kesalahan itu akan berpengaruh besar sekali. Aku harus bertindak tergesa-gesa. Jika tidak, maka semuanya akan hancur sama sekali.”
Penghubung itu sama sekali tidak menyahut. Mereka menyadari keadaan sepenuhnya. Apalagi ketika kemudian Empu Baladatu memberikan alasan-alasan yang masuk akal atas rencana yang besar.
“Tetapi itu sudah terjadi” geram Empu Baladatu, “kekasaran sifat Empu Purung dan cantrik-cantriknya telah menyeret aku kedalam kesulitan. Aku sekarang harus menyesuaikan diri. Semua persiapan harus dipercepat, dan gerakan dalam keseluruhan harus mulai mengguncang Singasari meskipun rencana di dalam keseluruhan belum masak. Aku dengan tergesa-gesa harus mengatur hubunganku dengan Linggapati, orang Mahibit itu.”
Penghubung itu masih tetap berdiam diri. Ia tidak tahu apa yang sebaiknya dikatakan, karena ia hanya sekedar membawa pesan dari Empu Purung untuk Empu Baladatu.
Penghubung itu mengerutkan keningnya ketika Empu Baladatu kemudian berkata, “Kembalilah secepatnya. Jika kau sudah tidak lelah lagi dan kudamu sudah cukup beristirahat. Katakan kepada Empu Purung, bahwa kami tidak dapat berbuat lain daripada mengikuti ketergesa-gesaan itu. Tetapi jaga sebaik-baiknya agar Empu Purung dapat menyelesaikah tugas sampai tuntas di daerahnya. Tidak seorang, prajurit Singasari pun yang boleh tetap hidup. Dengan demikian maka waktu akan bertambah panjang satu dua hari.”
Demikianlah penghubung yang membawa pesan Empu Purung itu pun kemudian minta diri setelah beristirahat secukup nya. Ia tidak menghitung kelelahan yang akan mencengkamnya, karena ia sadar, bahwa tugas yang dibawanya adalah tugas yang penting.
“Kita dapat beristirahat di jalan apabila kuda-kuda kita menjadi sangat lelah” berkata salah seorang dari para penghubung itu.
Yang lain tidak membantah, sehingga mereka pun tidak menunggu terlampau lama. Setelah semua pesan diberikan oleh Empu Baladatu, maka para penghubung itu pun segera kembali kepadepokan Empu Purung.
Namun sementara itu, padepokan Empu Purung telah kosong. Ketika mereka mendekati padepokan itu dari perjalanan jauh yang ditempuh dalam waktu yang cukup panjang, dengan melalui malam-malam di perjalanan, ternyata mereka tidak menemukan lagi kekuatan yang mereka banggakan saat mereka berangkat. Prajurit Singasari telah membawa sebagian dari kawan-kawan mereka ke Singasari, justru orang-orang terpenting. Sedang yang lain, setelah melalui beberapa pilihan, mereka ditinggalkan dengan pengawasan yang saksama.
“Jadi, apakah yang sebaiknya kita lakukan?” bertanya penghubung itu kepada seorang cantrik yang tetap ting gal di padukuhan.
“Kita tidak dapat berbuat apa-apa lagi.” jawab cantrik itu, “ada beberapa orang prajurit tinggal di banjar”
“Beberapa orang?”
“Lima orang.” jawab cantrik itu.
“Hanya lima orang. Kita akan dapat membinasakannya.”
Tetapi cantrik itu menggeleng. Jawabnya, “Bukan semudah itu. Lima orang itu adalah lima orang yang tinggal di sini. Jika terjadi sesuatu, maka kita semua akan binasa, karena Singasari akan mengirimkan kekuatan yang berlipat seratus kali”
“Bodoh kau. Kita bunuh mereka, sementara itu kita meninggalkan padepokan ini dan bergabung dengan kekuatan Empu Baladatu.”
Cantrik itu berpikir sejenak. Namun kemudian katanya, “Kita sama sekali tidak mempunyai kekuatan apapun lagi di sini.”
“Ada beberapa orang masih tinggal di padepokan. Dan apakah semua pengikut kita yang lain dibunuh?”
“Tidak. Ada di antara kita yang terbunuh dalam peperangan. Diantara yang tidak tertolong lagi adalah Empu Purung sendiri. Ada pula di antara kita yang terlawan dan di bawa ke Kota Raja. Putut Sanggawerdi yang terluka parah dan Putut Kuda Widarba termasuk di antara mereka.”
“Jadi tentu ada yang tinggal bersamamu di sini selain yang ada di padepokan. Anak-anak muda padukuhan dapat kita gerakkan.”
Cantrik itu menggeleng. Katanya, “Jangan ganggu mereka lagi. Mereka masih terlalu muda. Biarlah mereka menemukan jalan hidup yang wajar. Peristiwa ini agaknya telah memberikan kesadaran baru bagi mereka.”
“O” desis salah seorang dari penghubung itu, “kau sangka kau sekarang sudah menjadi seorang pendeta yang menekuni tingkah laku seseorang dan membedakan baik dan buruk?”
“Aku tidak. Aku masih tetap seorang yang berlumuran dengan noda. karena aku sudah terlampau sulit uniuk membersihkan diri. Tetapi anak-anak muda itu masih mempunyai kesempatan.”
“Apa peduliku dengan kesempatan-kesempatan itu. Itu adalah omong kosong. Kau mengira bahwa dengan demikian kau akan menjadi pahlawan yang tegak membela kebaikan melawan keburukan.”
“Tidak. Sudah aku katakan, tidak berlaku bagiku sendiri.”
“Persetan. Aku akan menemui mereka seorang demi seorang. Aku akan mengajak mereka membunuh kelima orang prajurit itu. Kemudian kami semuanya akan melarikan diri dan berpihak di satu medan dengan Empu Baladatu yang mulai menggerakkan semua pengikutnya di seluruh Singasari.”
“Tidak ada gunanya. Beberapa kali prajurit-prajurit itu sudah memberikan pengertian yang mendasar kepada mereka. Kau akan datang ke sasaran yang salah, karena mereka segera akan melaporkan kau kepada para prajurit.”
Wajah penghubung itu menjadi merah padam. Dengan marah salah seorang dari mereka menggeram, “Kau mencoba menakut-nakuti aku pengkhianat. Kenapa kau sendiri tidak membantuku, justru berusaha mencegahku?”
“Kau jangan salah paham. Jika kau melakukannya, maka kau akan kehilangan waktu dan tenaga sia-sia, bahkan akan dapat membahayakan jiwamu dan yang masih tersisa di padepokan ini.”
Ketegangan di wajah para penghubung itu menjadi semakin memuncak. Dengan kasar salah seorang berkata, “Aku tidak peduli. Aku akan membunuh kelima orang prajurit yang teiah menghancurkan padepokan ini.”
Kawan-kawannya menjadi termangu-mangu. Para penghubung yang baru datang dari padepokan Empu Baladatu itu tidak melihat sendiri apa yang telah terjadi. Karena itu agaknya sulit bagi mereka untuk membayangkan, bagaimana mungkin prajurit Singasari yang jumlahnya hanya sedikit di barak itu dapat menghancurkan seluruh kekuatannya. Dan dalam waktu yang sangat dekat sudah berubah sikap para cantrik dan anak-anak muda di Alas Pandan.
“Aku akan bertindak segera” berkata salah seorang penghubung itu, “jika kita bertindak cepat, mungkin kita masih dapat menyelematkan kawan-kawan kita yang, mereka bawa ke Singasari.”
“Jangan bermimpi” jawab cantrik itu.
“Kau memang pengecut. Lihat, jejak orang-orang Singasari itu tentu masih jelas. Mereka belum terlalu jauh. Jika kita mampu mengatur diri, kita tentu akan dapat berbuat banyak.”
“Kau mengigau.”
“Kaulah yang pengecut” bentak penghubung itu.
“Apakah kau tidak mempercayai kami, bahwa kami telah bertempur sebaik-baiknya melawan prajurit Singasari? Apa kah kau tidak mempercayai lagi Empu Purung yang terbunuh di peperangan itu? Ia sendirilah yang memimpin kami dan mengatur gelar yang kami pergunakan untuk menyergap prajurit-prajurit Singasari. Tetapi justru kamilah yang telah masuk kedalam suatu keadaan yang tidak menguntungkan.”
Para penghubung itu termangu-mangu.
“Nah, aku peringatkan, kau harus menyadari, bahwa Empu Purung sendiri tidak mampu berbuat apa-apa. Pasukan Singasari itu aku kira memang belum terlalu jauh. Jika kau memaksa diri untuk menyusul mereka, sebentar saja kau tentu sudah berhasil. Tetapi jika kau mencoba berbuat sesuatu, maka nyawamu akan segera tercabut dari tubuhmu.”
Penghubung itu berpikir sejenak. Namun kemudian ia menggeram, “Aku memang tidak dapat menyusul mereka. Tentu jumlahnya terlalu banyak. Aku akan membunuh yang lima orang, yang mereka tinggalkan di banjar.”
“Itu pun tidak ada gunanya. Kau tidak akan berhasil.”
“Aku akan berhasil. Lihatlah. Jika kau benar-benar berhati kerdil, jangan ikut campur. Tetapi jangan pula berkhianat dengan menyampaikan rencanaku kepada mereka”
Cantrik itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Daerah ini baru saja ditinggalkan oleh prajurit-prajurit Singasari. Setiap orang mulai berpengharapan, bahwa mereka akan dapat menempuh kehidupan baru, termasuk anak-anak muda itu.”
“Termasuk kau” potong salah seorang penghubung itu.
“Ya. Termasuk kami di sini., “jawab cantrik itu, “karena itu jangan kau guncang lagi daerah ini dengan tingkah lakumu yang tidak menentu itu.”
Para penghubung itu menegang sejenak. Namun kemudian katanya, “Jika kau tidak berani berbuat sesuatu, tidur sajalah. Tetapi jangan memperkecil arti kedatanganku sekarang ini. Aku akan membangunkan yang rasaanya telah pingsan.”
Baiklah. Aku akan berdiam diri di padepokan bersama beberapa orang yang telah melihat sendiri peristiwa yang telah terjadi tanpa memperkecil arti Empu Purung yang telah terbunuh di pertempuran.”
Kedua orang yang baru datang dari padepokan Empu Baladatu setelah menempuh perjalanan yang panjang itu menggeram. Ternyata cantrik itu sama sekali tidak dapat diharapkan nya lagi.
“Kita menunggu saat yang sebaik-baiknya” berkata salah seorang dari penghubung itu.
“Jika malam mulai gelap, kita akan menghubungi anak-anak muda yang masih tersisa. Jumlah mereka tentu masih cukup banyak untuk melawan lima orang prajurit itu”
Dendam yang membara agaknya telah membakar jantung para penghubung itu, sehingga mereka tidak dapat memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain daripada membunuh kelima orang prajurit yang tinggal di banjar.
Demkianlah, ketika malam tiba, maka kedua orang penghubung itu meninggalkan padepokannya Mereka pergi ke padukuhan untuk menghubungi anak-anak muda yang masih tinggal. Yang terlepas dari maut di medan pertempuran, namun yang tidak ikut dibawa oleh prajurit-prajurit Singasari.
Hanya nama-nama mereka sajalah yang dapat diberikan oleh cantrik yang tinggal di padepokan. Selebihnya, para cantrik itu tidak mau ikut campur lagi.
Tetapi nama-nama yang didapatkan oleh kedua penghubung itu adalah nama-nama mereka yang tidak memiliki kemampuan cukup untuk ikut serta dalam gerakannya membunuh kelima orang prajurit itu. Meskipun demikian, mungkin anak-anak muda itu dapat membantunya menemukan orang-orang yang dibutuhkan nya.
“Mungkin cantrik itu telah menyembunyikan sesuatu agar usaha kita gagal” berkata salah seorang penghubung itu.
Kawannya mengangguk-angguk. Namun mereka berpengharapan bahwa jika mereka sempat menemui salah seorang, dari anak-anak muda di padukuhan, mungkin mereka akan mendapat jalan yang lebih baik.
Dengan ragu-ragu mereka mendatangi salah seorang anak muda yang namanya disebut oleh cantrik yang tinggal di padepokan. Anak muda yang lolos dari maut, dan tidak ikut serta dibawa oleh prajurit Singasari.
Tetapi ternyata cantrik itu menjadi heran ketika ia bertemu dengan anak muda itu. Jauh dari harapannya yang semula masih tersimpan di dalam dadanya.
Ketika para penghubung itu mengetuk pintu, mereka masih berpengharapan bahwa rencananya akan berjalan lancar. Tetapi ternyata, ketika pintu itu terbuka, ia melihat seorang anak nuda yang berwajah pucat dan lesu. Matanya redup penuh tekanan batin.
“Kau Laleyan “ bertanya salah seorang penghubung itu Anak muda itu mengangguk. Jawabnya dengan suara yang dalam, “Ya. Aku Laleyan.”
“Apakah kau masih mengenal aku?” bertanya penghubung itu.
“Ya. Aku masih mengenalmu. Kau adalah cantrik peng hubung yang mendapat tugas pergi kepadepokan Empu Baladatu”
Penghubung itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Bagus-Kau masih ingat. Karena itu agaknya kesadaranmu masih utuh.”
“Ya. Aku tidak gila” sahut anak muda yang bernama Laleyan itu.
“Maksudku, kau tentu masih seorang anak muda yang perkasa.”
“Maksudmu?”
“Aku sudah mendengar semuanya tentang peristiwa pedih yang terjadi atas padepokan Empu Purung. Bahkan Empu Purung sendiri telah terbunuh.”
“Ya. Empu Purung telah terbunuh.”
“Benar. Dan sekarang, apakah yang akan kita perbuat justru saat Empu Purung sudah terbunuh?” bertanya salah seorang penghubung itu.
Anak muda itu menjadi heran. Dengan ragu-ragu ia bertanya
“Apa yang harus kita lakukan? Justru Empu Purung sudah tidak ada lagi, maka kita tidak akan dapat berbuat apa-apa.”“
“Tidak” sahut salah seorang penghubung itu, “kita masih mempunyai kesempatan untuk melepaskan dendam kita. Bukankah kelima prajurit itu ditinggalkan.”
“Ya. Prajurit-prajurit Singasari baru saja meninggalkan padukuhan dan padepokan kita. Lima orang di antara mereka tetap tinggal untuk membantu kita semuanya memulihkan keadaan di daerah ini.”
“Memulihkan keadaan?” bertanya penghubung itu.
“Ya. Memulihkan keadaan. Selama ini keadaan kita di sini tidak menentu. Kami tidak pernah melakukan tugas kami selaku anak-anak muda di padukuhan. Kami seolah-olah telah melupakan diri kami sendiri dan terbenam kedalam sikap dan tingkah laku yang tidak kami mengerti”
“Laleyan,” potong salah seorang dari penghubung itu, “ternyata dugaanku salah. Aku kira kau benar-benar masih menyadari dirimu sebagai seorang murid Empu Purung. Tetapi ternyata kau tidak lebih dari seorang pengecut, yang licik. Kau sama sekali tidak merasa kehilangan atas gugurnya Empu Purung yang selama ini menjadi tumpuan kita semuanya.”
Anak muda yang bernama Laleyan itu termangu-mangu. Tetapi ketika di dalam samarnya sinar lampu minyak ia melihat sorot mata kedua penghubung itu bagaikan menyala, maka hatinya menjadi kecut.
“Laleyan” berkata salah seorang penghubung ilu, “aku tidak mau melihat salah seorang murid Empu Purung bersikap seperti perempuan cengeng. Kau harus berani membalas dendam atas kematian maha gurumu. Kelima prajurit itu harus kita binasakan. Kita adalah murid-murid dari seorang maha guru yang perkasa Karena itu, kita tidak boleh takut dan cemas menghadapi siapapun juga.”
“Laleyan” berkata salah seorang penghubung itu, “akan tetapi ternyata bahwa maha guru kita telah terbunuh. Ternyata bahwa kemampuan maha guru kita tidak dapat menyamai kemampuan prajurit Singasari. Apalagi kita, mungkin kalian masih memiliki kelebihan. Tetapi aku?”
Wajah kedua penghubung itu menegang. Mereka, memang tidak dapat ingkar, bahwa Empu Purung telah terbunuh. Empu Purung yang semula mereka anggap dapat meruntuhkan gunung dan mengeringkan lautan dengan kekuatan jari-jarinya, ternyata telah mati di bunuh oleh prajurit Singasari. Jika benar Empu Purung memiliki kemampuan yang sedahsyat itu, maka betapa besar kemampuan prajurit Singasari yang berhasil membunuhnya.
Kedua penghubung itu menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian yang seorang menggeram, “Itu hanya suatu kebetulan. Mungkin Empu Purung lengah, atau menganggap lawannya terlampau lemah, sehingga ia tidak mempergunakan semua kekuatan dan aji serta ilmunya.”
“Pertarungan itu dahsyat sekali” jawab Laleyan, “adalah kebetulan bahwa aku dapat menyaksikannya. Kedua telah mempergunakan segenap kemampuan yang ada. Benturan ilmu yang berulang, kali, membuat Empu Purung menjadi semakin lemah sehingga akhirnya ia terjatuh tidak berdaya.“
“Gila. Kau mengigau.” bentak salah seorang dari ke dua penghubung itu.
“Aku berkata sebenarnya. Aku tidak dapat mengatakan, apakah ilmu prajurit-prajurit yang tinggal di banjar itu sedikitnya menyamai ilmu prajurit yang telah membunuh Empu Purung itu.”
“Tetapi tidak. Orang itu tentu Senapati tertinggi dari Singasari.”
“Bukan. Senapati pasukan kecil prajurit Singasari itu telah bertempur dan melumpuhkan Putut Sanggawerdi, kemudian langsung melawan Putut Kuda Widarba.”
“Gila, gila. Kau bermimpi buruk anak muda” penghubung itu membentak. Baiklah. Aku tidak akan dapat bekerja bersama dengan seorang pengecut. Nah, sebut sajalah beberapa nama orang-orang yang berani berbuat sesuatu.”
Laleyan memandang kedua penghubung itu dengan hati yang berdebaran. Rasa-rasanya, sepeninggal pasukan Singasari setelah padepokan Empu Purung dilumpuhkan, padukuhan itu mulai merasakan sejuknya ketenangan dan kedamaian hati. Namun kedatangan kedua orang penghubung itu agaknya mulai memanaskan suasana lagi.
Tetapi, Laleyan tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak berani mencegah rencana kedua penghubung itu untuk membunuh prajurit Singasari yang ada di banjar.
Selanjutnya Laleyan hanya dapat memandang kedua penghubung itu pergi meninggalkan rumahnya. Dengan nada geram salah seorang dari keduanya berkata, “Aku akan pergi kerumah Sempati.”
Laleyan tidak menjawab. Dibiarkannya saja keduanya menuju kerumah Sempati meskipun hatinya menjadi berdebar-debar.
Menurut pengenalannya Sempati anak muda yang berani. Tetapi agak kurang perhitungan. Ia termasuk salah seorang dari anak-anak muda yang masih hidup.
Laleyan yang kemudian menutup dan menyelarak pintu itu pun kembali kepembaringannya Namun ia tidak dapat segera tidur. Rasa-rasanya ada sesuatu yang memberati perasaannya. Seakan-akan ada yang mendorongnya untuk pergi kerumah Sempati.
“Jika aku pergi, mungkin akan terjadi salah paham” berkata Laleyan, “kedua penghubung itu dapat menyangka bahwa aku akan membujuk Sempati untuk menolak ajakan ke duanya. Biar sajalah apa yang akan dilakukan oleh Sempati. Ia cukup dewasa untuk menentukan sikapnya sendiri”
Betapapun kegelisahan membelit hatinya, namun akhirnya Laleyan tertidur juga dengan nyenyaknya.
Tetapi di pagi hari ia terkejut ketika terjadi keributan di muka rumahnya. Ia mendengar beberapa anak-anak muda berdatangan dan berbicara dengan riuhnya.
Dengan tergesa-gesa, bahkan tanpa mencuci muka Laleyan turun kehalaman menjumpai kawan-kawannya yang nampak kebigungan.
“Ada apa?” bertanya Laleyan terbata-bata.
Kawan-kawannya yang melihatnya turun dari rumahnya bekata, “Sempati terbunuh”
“Sempati?” bertanya Laleyan.
“Ya. Ia diketemukan mati di luar dinding halaman ramahnya. Agaknya lelah terjadi perkelahian yang sengit. Tetapi beberapa tusukan terdapat di tubuhnya, sehingga ia tidak dapat diselamatkan.”
“Siapakah yang membunuhnya?” bertanya Laleyan
“Tidak seorang pun yang mengetahuinya.” Laleyan menarik nafas dalam-dalam. Ia teringat akan kedua orang penghubung yang datang kepadanya. Mereka tentu langsung menemui Sempati.
Karena Laleyan termenung untuk beberapa saat, maka kawan-kawannya pun bertanya, “Apakah kau mengetahui sesuatu tentang Sempati “
“Tidak, aku tidak mengetahui apa-apa.”
Kawannya termangu-mangu- Namun salah seorang dari mereka berkata, “Marilah. Kita memberitahukan kepada yang lain.”
“Aku akan mandi dulu. Pergilah. Aku akan langsung pergi kerumah Sempati.”
Sepeninggal kawan-kawannya Laleyan segera mempersiapkan diri. Setelah mandi dan berpakaian, maka ia pun segera berangkat kerumah Sempati.
Dimuka pintu biliknya ia termangu-mangu. Namun kemudian ia meraih pisau belati yang tergantung di dinding, dan menyisipkan di bawah kain panjangnya.
Dengan tergesa-gesa Laleyan pergi kerumah Sempati. Beberapa orang telah sibuk menyelenggarakan tubuhnya yang membeku. Beberapa buah luka terdapat menganga di tubuh yang diam itu.
Laleyan menggeretakkan giginya, la sadar, tidak ada orang lain yang telah melakukannya, kecuali kedua penghubung yang tidak senang melihat ketenangan di padukuhan yang terletak di sekitar padepokan Empu Purung yang telah tidak lagi memancarkan pengaruh apapun sepeninggal Empu Purung sendiri.
Tetapi Laleyan tidak dapat segera berbuat sesuatu, la harus berhati-hati karena ia telah melihat akibatnya. Agaknya Sempati yang kurang perhitungan itu langsung melawan kedua penghubung yang pada masa hidupnya Empu Purung, merupakan cantrik yang termasuk dekat dan memiliki ilmu yang cukup.
“Tetapi apakah anak-anak muda padukuhan ini akan berdiam diri dan membiarkan seorang demi seorang terbunuh?” berkata Laleyan kepada diri sendiri.
Semakin lama rumah Semepati menjadi semakin ramai. Anak-anak muda mulai berdatangan. Baik mereka pernah berada dalam pengaruh Empu Purung, maupun yang tidak. Tetapi anak-anak muda itu sudah mengetahui, bahwa Sempati sudah berjanji untuk merubah tata hidupnya.
Tetapi ia tidak sempat menjalani hidupnya yang sudah dilandasi dengan kesadaran, karena ia telah mendahului kawan-kawannya.
Ibunya menangis meraung-raung. Sempati masih terlalu muda untuk mati. Jika Yang Maha Agung masih niembiarkannya hidup, maka Sempati masih mempunyai banyak kesempatan di hari mendatang.
Tetapi ia sudah mati. Dan ia tidak akan dapat bangkit kembali.
Pada saat-saat penyelenggaraan mayat Sempati, maka Laleyan mencari kesempatan untuk dapat berbicara dengan beberapa orang kawan-kawannya. Bahkan kemudian Laleyan tidak dapat menyembunyikan keadaan yang diketahuinya, bahwa dua orang penghubung telah datang kepadanya untuk mencari dukungan atas sikapnya.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar