Minggu, 14 Februari 2021

AYAT-AYAT CINTA 2 JILID 3

03


Pengemis Bersuara Serak


Pagi itu kembali gaduh. Pertengkaran itu terjadi lagi. Sudah beberapa kali Fahri mendengar pertengkaran sengit antara ibu dengan anak gadisnya itu. Tak lain dan tak bukan adalah antara Nyonya Janet dan Keira. 

Cekcok mulut itu tendengar sampai ruang kerja Fahri. Suara benda pecah juga terdengar. Tiba-tiba suara pertengkaran itu semakin keras diiringi isak tangis. Pertengkaran itu rupanya 
kini terjadi di beranda rumah. Keira menangis. Hidungnya berdarah.

"Aku akan Iapor polisi! Mama menyakitiku! Aku akan lapor polisi"

"Sana cepat lapor! Penjarakan mamamu ini. dengan begitu kau akan benar-benar hidup cari makan sendiri! Dan aku malah enak. di penjara aku bisa santai tidak ngurusi kamu yang tak bisa diatur dan Jason yang selalu membuat masalah!"

Keira memandangi ibunya sambil terisak-isak, 

"Aku akan pergi. aku bosan hidup seperti ini!"

"Sana pergi. kemasi barangmu dan pergi! Ayo! Kenapa hanya berdiri di situ?"

Keira malah duduk menggelosor sambil sesenggukan menangis. Gadis ilu ternyata tidak punya nyali untuk melaksanakan ancamannya. Nyonya Janet masuk ke dalam rumah, sejurus kemudian ia sudah keluar lagi membawa tas kerjanya.

"Kau harus ganti uang untuk beli biola barumu itu! lngat, rumah ini belum lunas! Mama tidak mau tahu dari mana uang itu! Kau bisa mengamen di Princess Street atau The Royal Mile!" ucap Nyonya Janet kepada Keira sebelum melangkah meninggalkan rumahnya.

Nyonya Janet melangkah tegap menuju halte bis terdekat yang terletak di Clayknowes. Kira-kira lima ratus meter jalan kaki dari Stoneyhill Grove.


                            *****


Fahri telah selesai nge-print. Paman Hulusi mengajaknya makan pagi. Fahri sarapan ala Italia yang simpel, yaitu roti croissants yang ia makan dengan olesan madu, satu gulung Spinach Omelet Brunch, dan secangkir coffe latte. Fahri begitu menikmati Spinach Omelet Brunch Roll buatan Paman Hulusi. Ia memang spesialis membuat telur dadar dicampur bayam cara Italia. Meskipun cita rasanya telah 
disesuaikan dengan lidah Turki. Justru karena itu Fahri menyukainya. 

Dulu saat di Freiburg, Aisha juga sangat menyukai Spinach Omelet Brunch Roll buatan Paman Hulusi itu.

Pukul delapan lebih, Fahri dan Paman Hulusi keluar dari rumah melangkah ke garasi. Keira masih di beranda rumahnya. Duduk dan diam memeluk kakinya sendiri. Sebelum masuk ke dalam mobil, Fahri berusaha menyapa gadis itu.

"Hai!"

Keira mengangkat mukanya melihat Fahri dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Sekilas Fahri melihat muka Keira yang cantik. namun pucat karena baru saja selesai menangis. Keira tidak menjawab.

"Are you OK ?"

Keramahan Fahri itu tampaknya tidak menyenangkan Keira. Gadis itu mendengus lalu masuk rumahnya tanpa menjawab pertanyaan Fahri. Keira menutup pintu rumahnya dengan sedikit keras. Fahri masuk 
kedalam mobilnya sambil menyabarkan dirinya. Paman Hulusi menyalakan mesin mobil itu dan siap berangkat ke tengah Kota Edinburgh seperti biasa.

Pada saat itu, Brenda yang tadi malam teler dan tidur diberanda rumahnya bangun. Ia kaget tidur di tempat itu dan berselimut. Ia melihat hari telah benar-benar terang. Brenda langsung cepat bangkit, sebab ia harus berangkat kerja. 

Brenda menggagapi saku jaketnya. Ia menemukan ponselnya. Ia melihat jam. Brenda kaget. Melihat mobil Fahri siap berangkat Brenda nekad menghadang. Paman Hulusi menghentikan mobilnya. Fahri menurunkan kaca pintu depan. Brenda mendekat.

"Maaf, darurat, apa kalian mau ke tengah Kota Edinburgh?" Fahri mengangguk.

"Boleh saya numpang. Jika mengejar bis saya akan sangat terlambat sampai di kantor saya."

Fahri mencium bau minuman keras dari mulut Brenda.

"Boleh."

Brenda ingin langsung naik kedalam mobil.

"Jangan, silakan Anda cuci muka dan ganti baju. Kami menunggu. Lima menit!" Wajah Brenda sedikit berbinar.

"Baik."

"Oh ya, jangan lupa sikat gigi. Saya tidak tahan bau minuman keras, maaf."

"Baik."

Perempuan itu langsung melangkah cepat ke rumahnya untuk menjalankan saran Fahri itu. 

Lima menit kemudian Brenda sudah keluar dengan muka yang lebih cerah, bau minuman keras yang sudah hilang serta pakaiannya lebih rapi dan elegan.

Brenda menaiki mobil dan duduk di jok kedua.

"Jadi tujuan Anda kemana?"

"Colinton Road. Kalian kemana?"

"Kampus The University of Edinburgh."

"Saya turun di halte dekat kampus. nanti saya nyambung dengan bus"

"Nanti biar Paman Hulusi mengantar Anda sampai Colinton Road."

"Terima kasih."

"Saya lihat Anda tidur di luar rumah, kenapa bisa begitu?" tanya Fahri.

"Ah, saya terlalu banyak minum semalam Saya tak ingat pastinya bagaimana bisa sampai rumah. Saya hanya ingat tadi malam saya pesta bersama teman-teman di rumah Jane, teman saya, di daerah Corstorphine. Mungkin ada teman saya yang mengantar saya ketika saya sedang teler. atau ada teman yang menaikkan saya kedalam taksi untuk diantar kesini saya kehilangan cincin. Tidak tahu di mana hilangnya." Fahri mengangguk-angguk.

"Terima kasih atas tumpangannya."

"Kita bertetangga, harus saling membantu. Jangan sungkan jika memerlukan bantuan kami."

"Kalian baik sekali."

"Segala kebaikan kembalinya kepada Tuhan."

Mobil itu terus meluncur kebarat menuju tengah Kata Edinburgh. Sepanjang jalan Fahri tiada henti berdzikir dalam hati sambil sesekali menjawab pertanyaan Brenda.

"La haula wa la quwwata illabillah..... La haula wa la quwwata illabillah ..."

Matahari bersinar lebih cerah ketika Fahri turun di George Square 19, di mana office-nya berada dikampus utama The University of Edinburgh. Paman Hulusi langsung mengantar Brenda ke tempat kerjanya. Begitu Fahri duduk di office-nya. Miss Rachel, staf administrasi menelepon dan mengabarkan kalau Profesor Charlotte masih dirawat di rumah sakit. Juga mengabarkan Profesor Ted Stevens ingin 
bertemu dengannya.

"Prof. Ted Stevens berpesan. jika Doktor Fahri bisa ke office-nya ditunggu sekarang. Jika Doktor Fahri sedang sibuk, beliau minta dikabari kapan bisa menjumpai Doktor Fahri di ruang Doktor Fahri." kata Miss Rachel di telepon.

"Sampaikan ke Prof Stevens, lima belas menit lagi saya keruangan beliau."

"Baik, Doktor."

Fahri bertanya-tanya dalam hati, ada apa kira-kira pakar sosiolinguistik Arab dan Persia itu sangat ingin berjumpa dengannya. 

Kelihatannya sangat mendesak. Prof. Stevens masih muda namun karir akademiknya sangat cemerlang. Umurnya hanya lima tahun di atas Fahri, namun ia telah meraih gelar profesor penuh sejak dua tahun yang lalu. Prof. Stevens dikenal memiliki standar penilaian ilmiah yang 
tinggi untuk beberapa jurnal ilmiah di mana ia menjadi redakturnya. Fahri melihat jam tangannya, lalu menggelar sajadahnya untuk shalat Dhuha. Selesai Dhuha empat rakaat, Fahri meninggalkan ruang kerjanya menuju ruang Prof. Stevens.

Dua menit melangkah Fahri sampai di depan pintu bertuliskan "Dr. Ted Stevens, Professor Arab and Persian Studies". Fahri mengetuk pelan. 

Terdengar langkah kaki mendekat lalu pintu terbuka. Seorang pria bule berambut pirang keriting dan berkacamata tersenyum dan menyambut Fahri dengan kedua mata berbinar."

"Hello, Doktor Fahri." Profesor Stevens menjabat tangan Fahri hangat.

"Hello, Professor Stevens."

"Thank you so much for coming to my office."

"You‘re welcome."

Profesor Stevens mempersilakan Fahri duduk di sofa yang ada di sudut ruang kerja itu. Perbincangan itu Fahri rasakan terlalu formal. Mungkin Profesor Stevens merasa masih belum terlalu akrab dengan Fahri memakai bahasa formal. Fahri menginginkan yang lebih cair.

"You alright pal, Profesor?" tanya Fahri santai basa basi dengan susunan Inggris cara skotlandia. 

Professor sedikit terkejut, namun melihat Fahri tersenyum ia jadi tersenyum.

"Yea, I‘m OK. How about you?"

"I‘m no bad."

Lagi-lagi Fahri menjawab dengan eksen Skotlandia tapi dibuat lucu. Profesor Stevens menunjukkan tangannya ke Fahri dan tertawa.

"I like you, Doktor Fahri" kata Profesor Stevens sambil terkekeh.

"Sorry Prof, I'm not a gay! It‘s a big sin!" Jawab Fahri melucu. Profesor Stevens semakin terkekeh.

"Hahaha. Damn you! You are so fucking smart!" jawab Profésor Stevens sambil tertawa. 

Suasana telah menjadi cair.

"Jadi apa yang akan kita perbincangkan, Prof?" tanya Fahri setelah Profesor Stevens reda tertawanya. 

"Ada dua hal penting yang ingin saya sampaikan kepada Doktor Fahri."

"Apa itu?"

"Pertama, seperti yang Anda ketahui, saya baru saja diminta menjadi direktur CASAW, The Centre for the Advanced Study of the Arab World. Saya ingin menambah dua orang peneliti. Saya berharap Anda salah satunya. Saya sangat percaya kualitas Anda. Apakah Anda berkenan?"

"Dengan senang hati. Semoga saya tidak mengecewakan Profesor."

"Saya senang mendengarnya. Yang kedua, ada mahasiswa Cina namanya Ju Se Zhang. Dia mengambil master studi Arab, sudah mengajukan proposal tesis mengkaji gaya bahasa kitab Siraj At-Tholibin karya Ihsan Jampes. Professor Charlotte meminta saya sebagai pembimbing mahasiswa tapi saya melihat Anda lebih tepat, apalagi Ihsan Jampes adalah ulama dari Indonesia. Bagaimana?"

"Tapi saya kan bukan pengajar resmi di sini?"

"Tentang masalah itu nanti saya yang urus. Yang penting Anda sendiri bagaimana?"

"Proposal mahasiswa itu ada?"

"Ada."

Profesor Stevens bangkit dari duduknya dan melihat meja kerjanya. Ia seperti tidak mendapati apa yang dicarinya. Ia melihat ditumpukan kertas juga tidak melihatnya. Sementara Fahri mengamati dengan saksama ruangan pakar kajian Arab dan Persia Ruangan itu penuh nuansa Arab dan Persia. 

Beberapa kaligrafi dalam bahasa Arab dan Persia tergantung. Ada juga foto yang menunjukkan pemilik ruangan itu pernah ke Kairo, Damaskus, Baghdad, dan Teheran. Ada kaligrafi indah berbentuk khat tsulusi berbunyi 

"Rabbi zidni ilma."

Siapa yang masuk ruangan itu bisa saja akan mengira Profesor Stevens seorang Muslim, padahal tidak. 
Ia lahir di Blackburn, sebuah kota kecil di utara Manchester. Menyelesaikan B.A.-nya dalam Sastra Arab di Manchester. Lalu mengambil master kajian Persia di Cambridge, doctoralnya ia selesaikan di SOAS London. Sebelum menyelesaikan masternya, ia pernah belajar bahasa Persia selama setengah tahun di 
Teheran. Dan ketika melakukan penelitian doktornya ia pernah tinggal di Damaskus selama delapanbulan. Ia menguasai enam bahasa penting selain Inggris sebagai bahasa ibunya yaitu Prancis, Jerman, Arab, Persia, Yunani Kuno, dan Ibrani.

Profesor Stevens menelepon seseorang. Sejurus kemudian pintu ruangan itu diketuk. Profesor Stevens membukakan pintu dan tampaklah Miss Rachel menyerahkan map dan langsung pergi lagi. Profesor Stevens menutup pintunya dan menyerahkan map itu kepada Fahri.

"Ini proposalnya. Silakan dilihat."

Fahri menerima dan melihat sekilas. Ia merasa kajiannya akan cukup menarik.

"Saya akan pelajari dengan saksama, Prof. Maaf. saya harus merampungkan sedikit pekerjaan, lalu bersiap ke masjid. Ini hari ibadah saya. hari Jum‘at."

"Ya, saya mengerti. Saya berharap ada jawaban secepatnya."

"Hari Senin yang akan datang saya sampaikan jawabannya."

"Jika Anda setuju, saya akan usulkan Anda untuk menjadi pengajar resmi di sini. Apalagi saya sangat memerlukan kerjasama Anda di CASAW. Terimakasih atas waktunya."

"Sama-sama."

Fahri langsung menuju ruangannya. ia lupa belum mengirim email terima kasih kepada Profesor Turgut Dikinciler dari Jerman atas kiriman bukunya. Dan kepada Prof. Omar Sandler dari SOAS London atas kiriman jurnalnya. Ia membuka komputernya dan mengirim email ucapan terima kasih kepada mereka berdua. Khusus kepada Profesor Turgut Dikinciler yang tak lain adalah supervisor doctornya saat di Uni-Freiburg ia rnengirimkan hasil riset dan kajiannya untuk postdoc. Ia berharap Profesor Turgut Dikinciler berkenan memberikan pengantar jika diterbitkan menjadi buku.

Setelah itu Fahri jalan kaki menuju Edinburgh Central Mosque. Ia telah berpesan kepada Paman Hulusi agar setelah mengantar Brenda langsung parkir dimasjid dan iktikaf di masjid saja sambil menunggu shalat Jum'at. Belum banyak jamaah yang hadir ketika Fahri shalat tahiyyatul masjid. Sambil menunggu jamaah berdatangan sampai khatib naik mimbar, Fahri berusaha mengkhatamkan wirid hari Jum'atnya, yaitu membaca Surat Al-Kahfi, dan membaca shalawat minimal seribu kali.


                          *****


Seorang imam muda berjenggot tebal dan berjubah putih naik kemimbar dan mengucapkan salam. 

Fahri menghentikan bacaan shalawatnya. Muadzin dari Pakistan mengumandangkan adzan dengan suara cukup bagus. Masjid itu penuh Hati Fahri selalu bergetar melihat sebuah masjid penuh oleh jamaah dari 
berbagai bangsa dari seantero penjuru dunia seperti siang itu. Wajah Afrika, Asia Tenggara, Asia Timur, Arab, Asia Selatan, Turki, Eropa Timur, Eropa Barat. dan Mongol, tampak memenuhi masjid itu, meskipun wajah Asia Selatan lebih dominan dari yang lain. Semua menunduk khusyuk mendengarkan khutbah dari imam muda itu. Logat lnggrisnya belum fasih benar tapi sangat bisa dipahami oleh 
jamaah. Pronounciation-nya masih sangat terasa lidah Arab-nya. Fahri yang bertahun-tahun hidup bersama orang Arab langsung menangkap itu. 

Imam itu menyampaikan pesan-pesan yang terkandung dalam Surat Az-Zumar ayat delapan hingga sepuluh. Setelah dua khutbah selesai dalam tiga puluh menit. shalat Jum'atpun didirikan. Fahri berdiri di shaf pertama. sedikit di sebelah kanan imam. Rakaat pertama sang imam membaca Surat Az-Zumar dari ayat pertama hingga ayat sepuluh. Agak sedikit panjang. Rakaat ke-dua membaca Surat Az-Zumar mulai ayat sebelas. Sang imam membacanya dengan indah. Sampai ayat dua puluh satu. Sang imam membaca:

"Alam tara ilal Ladzina utunashibam minal kitabi..."

Fahri langsung tahu itu salah. Yang dibaca sang imam adalah Ali Imran ayat dua puluh empat (23 kalo saya liat di Al-Quran). Fahri langsung meluruskan :

"Alam tara annallaha anzalaminassamai ma-an".

Sang imam mengulang ayat sebelumnya dan kembali membaca "alam taro ilal ladzinauutuu nashibam. minal kitabi". Fahri langsung mengingatkan. 

"Alam tara annallaha anzala minassamai ma-an..." Awal ayat itu sama-sama "Alam tara" namun lanjutannya berbeda. 

Sang imam rupanya memorinya menyasar secara otomatis ke Surat Ali Imran. Imam itu berhenti sesaat. Ia lalu membaca basmalah dan membaca Surat "Sabbihis".

Selesai salam, imam muda itu menghadap shaf belakangnya dan bertanya dengan nada agak marah. 

"Siapa tadi yang mengganggu bacaan saya?"

"Maaf, tadi itu sama sekali tidak bermaksud menganggu, tapi meluruskan. Saya yang melakukan," jawab Fahri tenang.

"Tadi itu menganggu. merusak bacaan yang sudah saya baca dengan benar."

"Yang imam baca tadi tidak tepat. Imam nyasar ke Ali Imran.Tadi imam membaca "alam tara ilalladziina uutuu nashibamminal kitabi..."

"Itu benar."

"Silakan dibuka mushafnya."

Seorang jamaah mengambil mushaf.

"Seharusnya yang dibaca adalah: "Alam tara annallaha anzalaminassamai ma-an", seterusnya. 

Sementara yang tadi imam baca Surat Ali Imran dua puluh empat (23) . Dari Az-Zumar nyasar ke Ali Imran. Silakan dicek."

Seorang jamaah berjenggot berwajah Asia Selatan tampak membuka mushaf dan mengecek dengan saksama. Sejurus kemudian ia mendekati imam sambil menunjukkan ke mushaf memberitahukan bahwa yang disampaikan Fahri benar. Imam itu istighfar, namun memandangi Fahri dengan sedikit kurang suka. Imam itu lalu membalikkan tubuhnya dan berdzikir. Ia sama sekali tidak berterima kasih kepada Fahri yang telah meluruskan bacaannya.

Fahri sangat memaklumi dirinya agak diremehkan. Sebab ia berwajah Asia Tenggara dan tidak berjenggot. Imam itu dari Arab, terkadang ada kesombongan dari kalangan Arab bahwa karena dari Arab dan sejak lahir berbahasa Arab, Al-Qur‘an juga diturunkan di Arab dan dalam bahasa Arab, mereka merasa lebih mengerti Islam dan meremehkan yang lain. 

Orang-orang Asia Selatan sebagian juga ada yang rnerasa lebih rnemahami Islam dibanding bangsa lain, termasuk Arab. Orang-orang Asia 
Selatan sering sinis memandang orang-orang Arab terutama orang-orang Teluk sebagai kakitangan Amerika dan Eropa. Maka wajah seperti Fahri sama sekali tidak masuk perhitungan mereka. 

Fahri sudah terbiasa diremehkan seperti itu. Dulu saat masih di Mesir, ketika ia membela Aisha yang memberi tempat duduk didalam Metro kepada turis Amerika, ia awalnya juga diremehkan oleh orang Mesir.

Ketika Fahri melangkah keluar masjid seorang lelaki setengah baya dari India yang tadi duduk bersebelahan dengannya menjejerinya dan berkata.

"Tampaknya imam kurang suka. Tadi seharusnya tidak usah kau ingatkan seperti itu. Itu membuat malu. Biarkan saja. Toh yang ia baca juga ayat Al-Qur‘an. Jadi tidak ada yang salah. Sama saja." Fahri tersenyum,

"Tidak bisa, tuan. Susunan Al-Qur‘an, susunan surat dan ayatnya itu sudah ditentukan oleh Allah. Allah melalui Malaikat Jibril menyampaikan kepada Nabi Muhammad, dengan susunan yang sudah ditetapkan. 

Nabi Muhammad menyampaikan kepada para sahabatnya. Para sahabatnya ribuan yang hafal Al-Qur‘an menyampaikan kepada para tabiin dan seterusnya hingga sampai kepada kita. Sebagian terpahat di dalam hati para penghafal Al-Qur‘an yang jumlahnya ribuan. Sebagian sudah tercetak dalam mushaf. 

Tidak bisa satu ayat dari Ali Imran dimasukkan ke Az-Zumar. Tidak bisa, misalnya, Yasin susunannya diletakkan setelah Al-Fatihah sebelum Al-Baqarah. Harus sama seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Dan kalau ada yang keliru akan diingatkan dan dikoreksi oleh jutaan umat Islam yang halal Al-Qur‘an."

"Subhanallah. Saya baru memahaminya. Kamu dulu belajar di mana?"

"Tidak terlalu penting saya siapa, dari mana, belajar di mana.Yang lebih panting, jika apa yang saya sampaikan ada benarnya, tolong didengarkan. Nanti kita bisa bincang lebih jauh."

Orang India itu mengangguk sambil meraih saku jasnya dan mengambil kartu nama lalu memberikan kepada Fahri.

"Saya Taher Khan, saya mengajar physiotherapy di Queen Margaret University. Saya senang jika suatu saat nanti bisa berbincang lebih panjang."

"Insya Allah. kebetulan saya tinggal tidak begitu jauh dari kampus QMU."

"Di mana?"

"Di Stoneyhill Grove, Musselburgh."

"Oh ya itu memang dekat. Saya di Musselburgh juga, dikawasan Inveresk."

Di pintu masjid keduanya berpisah, Paman Hulusi telah menunggu di halaman masjid. Ketika ia dan Paman Hulusi menghampiri mobil di parkiran. dua orang gadis mendekatinya. Satu berwajah Arab 
berjilbab modis dan satunya bermata sipit. Fahri terhenyak. itu adalah mahasiswi yang sempat ia keluarkan dari kelasnya. Dua gadis itu tersenyum.

"Assalamu‘alaikum," sapa gadis Arab.

"Wa‘alaikumussalam," jawab Fahri.

"Anda, Suu..." kata Fahri mengingat.

"Ya. bukan Suu tapi Juu Suh."

"Ya, Juu Suh. Pendek tapi sering tertukar. Saya sejak di lndonesia sering bingung dengan nama-nama Cina. Pendek-pendek, mirip, dan sering susunannya terbolak-balik bagi saya."

"Terhadap sesuatu yang kurang biasa memang kadang terasa aneh dan rumit. Tapi kalau terbiasa, bagi kami, misalnya, ya mudah saja," sahut gadis berlogat Inggris-Cina.

"Hmm, maaf apa Anda ada waktu untuk makan siang bersarna kita. Sebentar saja, setengah jam kira-kira. Teman saya ini penasaran tentang debat Anda dengan imam tadi. Kami melihat dan mendengarkan dari tempat shalat perempuan." Kata gadis berjilbab.

"Oh boleh. Mau makan dimama?"

"Bagaimana kalau The Kitchin?"

"Itu restoran mahal" tukas Fahri.

"Tidak masalah, saya yang traktir."

"Baik. Kita jumpa disana."

Fahri masuk ke dalam mobilnya. Dua gadis itu melangkah ke jalan raya.

"Kalau mereka tidak punya mobil, kenapa tidak kita ajak satu mobil saja, Hoca." gumam Paman Hulusi.

"Biarkan saja. paman. Mungkin dia parkir mobil di tempat lain. Atau dia mau naik taksi."

"Gadis Arab kaya itu kayaknya mau buang-buang uang. Makan siang saja di The Kitchin, kenapa tidak di kantin masjid saja?"

"Jangan selalu sinis sama orang Arab, paman. Kita lihat diskusi apa yang mereka inginkan."

Ketika mobil mau jalan. Kaca pintu mobil di samping Fahri terasa diketuk-ketuk. Fahri melihat ke kiri.

"Berhenti, paman! Buka kacanya!"

Seorang perempuan berjilbab hitam, berjubah cokelat tua meminta sedekah. Didadanya ia 
mencangklong kertas ukuran empat puluh senti bertuliskan: "Homeless. Help! ". Fahri menatap wajah perempuan itu sekilas, dia ingin tahu berasal dari mana. Kalau di Jerman dan Francis. kebanyakan pengemis berasal dari Muslim Eropa Timur.

Namun wajah perempuan berjilbab hitam itu menurutnya tidak bisa dikenali berasal dari mana. Itu wajah yang agak buruk untuk tidak menyebut rusak. Seperti luka bakar yang parah. Fahri merasa iba. 

Perempuan itu diam saja tidak berkata sepatah katapun. Tangannya tidak juga menengadah meminta. 

Kedua matanya memerhatikan Fahri dan Paman Hulusi dengan saksama.

"Kira-kira kalau kita makan berdua di The Kitchin. habis berapa. paman?"

"Yang pasti mahal."

"Sampai seratus pounds?"

"Bahkan mungkin bisa lebih. Tergantung menu yang dimakan." Fahri mengambil dompetnya dan mengeluarkan seratus pounds dan memberikannya kepada perempuan itu. 

Menerima uang sebanyak itu, perempuan berwajah agak buruk itu berkaca-kaca kedua matanya.

"Thank you very much," ucap perempuan itu dengan suara serak.

"Semoga Allah menolongmu sister," jawab Fahri.

"Amiin... arniin amiin ya Rabbal'alamiin." Kedua mata perempuan itu memejam. Ia mengucapkan dengan suara serak terisak.

Fahri jadi haru. Ia sedikit membayangkan tampaknya beban hidup perempuan berwajah agak buruk itu sangat berat. Ia sempat bertanya, wajah yang seperti terbakar itu mungkin menyimpan cerita yang tidak sederhana.

Paman Hulusi menjalankan mobil itu meninggalkan parkiran dan meluncur ke jalan Commercial Quay, tempat di mana restoran The Kitchin berada.

"Hoca, seratus pounds itu terlalu banyak buat pengemis seperti itu?"

"Jangan berkata begitu, paman. Sebentar lagi kita akan makan di restoran mewah yang mungkin menghabiskan lebih seratus pounds. Dia tampaknya benar-benar kesusahan. Semoga itu sedikit membantu."

"Hoca terlalu baik dan terlalu pemurah."

"Jangan berkata begitu Paman, tidak ada yang terlalu baik dan terlalu pemurah dibandingkan dengan kebaikan dan kemurahan Allah."

Paman Hulusi mengangguk sambil terus memacu laju mobil menembus udara Edinburgh yang masih dingin.

"La haula wa la quwwata illabillah, La haula wa la quwwata illa billah..." lirih Fahri menghayati 
dzikirnya.



                         *****


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...