31
BIOLA PATAH
Denyut kehidupan begitu terasa di Stasiun Waverley Edinburgh. Ribuan kaki melangkah. Ada yang berjalan cepat ada yang pelan. Ada yang sangat tergesa-gesa. Ada yang keluar, dan ada yang masuk stasiun. Ribuan manusia dengan ribuan tujuan melewati stasiun legendaris itu.
Keira bergegas memasuki stasiun. Langkahnya tegap, penampilannya modis dan segar. Rambut pirangnya ia kucir kuda. Bagian atas ia memakai kaos biru tua dirangkap kemeja biru muda lengan panjang yang ia lipat lengannya. Bawahan ia memakai celana jeans dan sepatu jenis wedges sneakers yang casual, sporty dan trendy.
Keira mencangklong tas ransel dan tas biola. Gadis itu melihat jam di tangannya. Masih ada waktu seperempat jam sebelum kereta ke York berangkat. Keira melangkahkan kakinya ke sebuah kios mini market dan membeli sebungkus kacang almond dan sebuah novel.
Keira melihat ke papan informasi, kereta yang akan ke York ada Plat 2. Ia bergegas ke sana. Keretanya baru saja datang, ratusan orang keluar dari kereta itu dengan tertib dan ratusan penumpang yang menunggu naik satu persatu dengan teratur. Keira mencari gerbong yang sesuai dalam tiket lalu naik dan mencari tempat duduknya.
Setelah ketemu, dengan hati-hati ia letakkan tas biolanya ke tempat bagasi tepat diatas kepalanya.
Sementara tas ranselnya ia letakkan dibawah meja dekat kakinya. Gadis itu merasa lega. Ada gurat kebahagiaan dimukanya. Ia sudah membayangkan akan tampil di sebuah acara musik paling bergengsi di York yang diadakan di Sir Jack Lyons Concert Hall yang berada di dalam University of York.
Keira mengeluarkan novel dan air minumnya dari tas ranselnya. Ia letakkan air minumnya di atas meja dan ia mulai membaca novelnya. Penumpang terus naik satu persatu, namun gerbong yang ditempati Keira itu tidak begitu penuh, sebab itu adalah gerbong First Class.
Keira duduk sendirian. Kursi di sampingnya kosong, dua kursi dihadapannya juga kosong.
Halaman pertama novel itu sudah menarik perhatian Keira. Sudah lama sekali ia tidak naik First Class.
Dulu ketika ayahnya masih hidup ia pernah naik beberapa kali. Dan kini ia kembali naik kelas paling mahal itu. Pergi antar kota dengan duduk di First Class sambil membaca novel adalah kenikmatan yang membuatnya bahagia.
Setengah menit sebelum petugas membunyikan peluitnya, Fahri naik dan masuk gerbong First Class itu. Ia mencari nomor tempat duduknya. Dan deg, ia melihat Keira. Tempat duduknya tepat di hadapan Keira. Gadis itu menunduk menekuri novel yang dibacanya.
Fahri ingin duduk dikursi lain yang kosong, ia tidak ingin mengganggu Keira. Ia sendiri juga perlu ketenangan, ia perlu mengerjakan suntingan buku yang akan diterbitkan bersama Profesor Charlotte. Tetapi nomor kursinya ada di hadapan Keira, dan nomor kursi lain telah dipesan. Mungkin di stasiun berikutnya pemiliknya akan naik. Fahri tidak mau beresiko diusir pemilik kursi lain, maka ia tetap harus duduk di kursinya sendiri.
Fahri duduk dan menyapa Keira. Gadis itu kaget bukan main. Ia menjawab sapaan Fahri dengan dingin dan kembali membaca novelnya.
Fahri meletakkan tas laptopnya di bawah meja, mepet dengan tas ransel Keira. Ia mengeluarkan laptopnya dan sebungkus kacang almond. Kacang itu ia letakkan di atas
meja berdekatan dengan air mineral Keira. Fahri mulai bekerja begitu kereta mulai berjalan.
Pagi itu Fahri harus ke Manchester untuk mengisi pengajian KIBAR Manchester. Ia sudah terlanjur menyanggupinya. Sebenarnya jika boleh memilih, ia memilih untuk tetap di rumah merampungkan semua pekerjaannya. Tetapi janji harus ditepati. Misbah tidak bisa menemani sebab mendadak ia diminta pembimbingnya menghadap.
Dari Edinburgh, Fahri memilih kereta cepat ke Manchester yang sekali ganti kereta. Ia akan turun York untuk ganti kereta ke Manchester. Kereta itu berangkat dari Edinburgh Waverley pukul 09.00 dan akan tiba di York pukul 11.32. Waktu dua jam setengah tidak boleh disia-siakan. Gerbong First Class benar-benar nyaman dan menjamin bisa bekerja dengan tenang.
Begitu sampai stasiun York ia akan pindah ke
Plat 4 dan naik kereta jurusan Manchester Oxford Road yang akan berangkat pukul 12.05. Paling lambat pukul 13.35, ia akan sampai Manchester. Pengajian dimulai ba‘da Ashar jadi ia punya sedikit waktu istirahat ditempat pengajian.
Lima belas menit kereta berjalan, petugas pemeriksa tiket datang. Fahri menyerahkan tiketnya, demikian juga Keira. Setelah itu Fahri kembali ke layar laptopnya dan Keira ke halaman novelnya.
Tidak ada perbincangan antara mereka berdua. Tiba-tiba Keira merasa sedikit haus, ia mengambil air mineralnya dan meminumnya. Usai minum, Keira meraih bungkusan kacang almond dan membukanya. Ia mengambil beberapa biji dan memakannya dengan santai sambil membaca novelnya. Fahri agak terkejut melihat Keira memakan kacang almondnya. Fahri mengamati wajah Keira sesaat. Wajah gadis itu tampak santai tanpa beban sedikitpun.
Sepertinya Keira merasa dirinya diamati, ia melihat ke arah Fahri. Pada saat itu Fahri menurunkan pandangannya ke layer laptop. Fahri tidak mempedulikan kacang almondnya yang dimakan Keira. Ia kembali fokus pada kerjaannya.
Kereta terus melaju. Fahri mengedit tulisan seorang Profesor dari Amerika. Tulisannya tentang sejarah Al Qur‘an sangat kacau. Pendapat dan riwayat yang syad, menyimpang dan tidak dianggap oleh para ulama justru dikedepankan dan dijadikan dalil utama. Kalau bukan karena amanah ingin rasanya Fahri
menghapus dan mencoret tulisan itu. Tetapi ia harus menunaikan amanah ilmiah, tugasnya adalah mengedit. Adapun tidak sepakat dengan isi tulisan itu maka ia nanti akan menulis bantahannya secara ilmiah.
Suara tangan Keira mengambil kacang almond dari bungkusnya terdengar. Fahri melirik sesaat ke tangan yang putih bersih itu dan tidak menegur sama sekali. Ia biarkan saja Keira menikmati kacang almondnya. Penjual makanan dan minuman di kereta itu sudah dua kali lewat. Kereta terus melaju.
Fahri menengok keluar jendela. Kereta melewati kota Newcastle dan menyeberangi sungai Tyne. Fahri melepas lelah, ia ke restoran kereta membeli air mineral dan kembali duduk di kursinya. Keira masih asyik membaca. Tangan Keira kembali mengambil kacang. Suara mulut Keira mengunyah kacang itu terdengar. Tampaknya gurih.
Fahri mengulurkan tangannya mengambil kacang. Dan Keira melihatnya. Keira berhenti mengunyah. Ia memandangi wajah Fahri dengan penuh amarah.
"Lancang! Siapa yang mengizinkan kamu memakan kacangku, hah!? Dasar kriminil!"
"Apa maksudmu?!" Fahri kaget.
"Dungu! Tolol! Orang tak punya otak sepertimu tidak layak hidup, bagusnya mati saja dalam peristiwa itu!"
Fahri sama sekali tidak mengerti kenapa Keira seperti itu. Sedemikian besarnyakah kebencian Keira padanya? Bukankah seharusnya dia yang marah Keira memakan kacang almondnya tanpa seizinnya, kenapa justru Keira yang marah padanya?
Keira langsung berdiri mengambil tas biolanya, menenteng tas ranselnya dan menyambar botol air mineralnya yang telah ia minum setengah. Ia meninggalkan tempat duduknya dengan muka marah.
Keira pergi ke restoran dan duduk disana. Tas biola dan tas ranselnya ia letakkan disamping tempat duduknya. Tetangga yang sok merasa akrab, ikut makan kacang almondnya tanpa seizinnya.
"Dia pikir dirinya siapa!?" Gumam Keira dalam hati dengan dada sesak oleh amarah..
Fahri tidak mau larut dalam rasa penasaran. Ia kembali fokus pada pekerjaannya. Kalau Keira nanti mau bicara padanya baik-baik, ia akan menyambutnya dengan baik-baik. Jika tidak maka ia anggap bahwa Keira masih seperti kambing sedang tumbuh tanduknya. Ia merasa kuat, merasa hebat, bahkan kambing yang baru tumbuh tanduknya itu merasa bisa menanduk gunung.
Waktu dan pengalaman berinteraksi dengan banyak orang yang lebih dewasa semoga nanti bisa mendewasakannya.
Ponselnya berdering. Ia angkat dari Ozan. Saudara sepupu Aisha, putra sulung Paman Akbar Ali itu memberitahu bahwa ia dan keluarga besarnya akan ke Edinburgh dan menginap di Edinburgh tiga malam.
Fahri menjelaskan dirinya sedang dalam perjalanan ke Manchester dan akan balik lagi ke Edinburgh agak malam. Fahri minta dengan sangat agar Ozan dan keluarga besarnya tidak menginap di hotel.
"Rumah tetangga depan rumahku sudah aku beli dan sudah aku renovasi. Kalian insya Allah nyaman di sana. Biar Paman Hulusi jemput kalian di bandara."
"Oh baik kalau begitu, Hoca. Sampai ketemu di Edinburgh."
Kereta terus berjalan. Fahri melihat jam tangannya. Beberapa menit lagi sampai kota York.
Dan benar, speaker kereta mengumumkan stasiun di hadapan adalah York. Bagi yang turun di York agar bersiap-siap.
Fahri mematikan laptopnya dan memasukkan ke dalam tas. Ia lalu menghabiskan air mineralnya dan bersiap menuju pintu keluar.
Kereta berjalan melambat. Kereta itu berhenti dengan sempurna tepat pukul 11.32. Sangat presisi. Tepat seperti tertera dalam jadwal.
Sementara Keira yang sedang asyik membaca novel diingatkan oleh petugas restoran bahwa kereta sudah sampai York. Keira agak kaget dan gelagapan. Ia menutup novelnya dan memasukkan novelnya ke dalam tas ranselnya.
Dan deg, Keira kaget bukan kepalang! Ia melihat sebungkus kacang almond yang tadi dibelinya di stasiun Waverly. Kacang itu masih ada di dalam tasnya. Masih utuh.
Berarti kacang yang ia makan bukan kacang miliknya.
"Oh my God!" Pekiknya pada dirinya sendiri.
Berarti kacang itu milik Fahri. Ia sudah sedemikian marah dan berprasangka sangat buruk pada Fahri. Ia bahkan mengumpat Fahri. Wajah Fahri saat mengucapkau kalimat, "Apa maksudmu?" terbayang di benaknya.
Jadi siapa sebenarnya yang lancang? Siapa sebenarnya yang kriminil? Siapa sebenarnya yang dungu? Siapa sebenarnya yang tolol? Siapa yang sebenarnya tidak punya otak?
Bukan Fahri, sama sekali bukan Fahri justru dirinya.
Ia malu luar biasa pada dirinya sendiri. Ia tidak bisa membayangkan kalau posisinya ditukar, ia yang berada dalam posisi Fahri. Mungkin kemarahannya pada orang yang lancang akan berlipat-lipat. Tapi Fahri sangat tenang kelika ia damprat, tetangganya itu hanya mengatakan,
"Apa maksudmu?"
Suara peluit terdengar nyaring. Keira kaget, kereta siap berangkat. Keira tergopoh-gopoh lari. Pintu pelan-pelan ditutup. Keira melakukan tindakan konyol, ia mengganjal pintu yang mau menutup itu dengan tas biolanya. Petugas yang tahu itu mendekat dan membuka pintu.
"Dasar gadis bodoh! Tolol! Tidak punya otak! Tindakanmu sangat berbahaya! Dungu!"
Keira keluar dan diam dimarahi habis-habisan oleh petugas stasiun York itu. Ia memang salah. Tindakannya memang bodoh. Keira melangkah lesu. Didekat pintu keluar Keira menunduk dan merenungi apa yang terjadi.
Dalam hitungan jam, tindakannya yang semena-mena mendamprat Fahri telah mendapat balasannya. Keira mengangkat tas biolanya hendak keluar dari stasiun. Ia merasa ada yang aneh dengan biola yang ia bawa. Ia buka tas itu, dan ia terkesiap. Ia shock seketika itu juga. Biola itu patah!
Tiba-tiba tulang-tulangnya seperti dilolosi satu persatu. Ia seperti tidak memiliki tulang. Ia
menggelosor berduduk sambil memeluk biola yang patah itu.
Bagaimana ia akan mempertanggung jawabkannya? Biola itu adalah biola milik Madam Varenka. Biola kesayangan Madam
Varenka. Baru beberapa hari ini dipinjamkan kepadanya untuk persiapan kompetisi di London. Madam Varenka berharap dengan biola yang kualitasnya bagus, Keira bisa bersaing dengan siapapun.
Dengan biola itu Madam Varenka pernah memenangkan kompetisi tingkat dunia di Praha, dua puluh satu tahun yang silam.
Bagaimana Keira bisa mengganti biola itu? Bagi Madam Varenka biola itu tiada ternilai harganya. Itu adalah biola penuh kenangan.
"Biola ini seperti nyawa bagiku!" Begitu kata Madam Varenka saat menceritakan ihwal biola itu sebelum dipinjamkan kepada Keira.
Kedua mata Keira berkaca-kaca. Ia sungguh menyesal hari itu melakukan banyak tindakan bodoh dan konyol yang tidak perlu dilakukan. Kenapa ia mesti membawa biola itu untuk tampil di York?
Bukankah Madam Varenka telah berpesan, bahwa biola itu hanya boleh digunakan untuk latihan dan untuk bertanding dalam kompetisi di London nanti? Kenapa ia melanggarnya?
Dan kenapa ia melanggar sebuah aturan penting bahwa jika pintu kereta mau menutup tidak boleh dipaksa dibuka?
Seorang ibu-ibu muda berjongkok di dekat Keira dan bertanya,
"Apakah kau baik-baik saja?"
Keira menyeka air matanya dan berkata,
"Oh terima kasih, saya baik-baik saja. Saya tidak apa-apa."
"Oh baguslah kalau begitu."
Ibu itu lalu melangkah menuju pintu keluar stasiun. Keira tiba-tiba merasa hari itu ia adalah manusia paling bernasib sial di atas muka bumi ini. Padahal beberapa pekan yang lalu, ketika ia pulang dari Italia membawa prestasi gemilang, ia merasa menjadi manusia paling berjaya di atas muka bumi ini.
Fahri sudah duduk di kursi gerbong First Class kereta yang akan meluncur ke Manchester. Fahri duduk di pinggir jendela. Suatu ketika ia melihat ke arah luar. Ia melihat Keira yang terduduk menyeka air matanya. Berkelebatlah beberapa pertanyaan kenapa gadis itu menangis?
Fahri ingin turun menyapa tetangganya itu, mungkin dia memerlukan pertolongan. Tetapi waktu tidak memungkinkan.
Peluit panjang ditiup. Pintu kereta ditutup. Dan pelan-pelan roda-roda kereta itu bergerak. Kereta cepat itu pun meninggalkan stasiun York. Fahri hanya berdoa semoga gadis tetangganya itu baik-baik saja. Fahri kembali menyalakan laptopnya dan melanjutkan kerjanya.
Nyaris selama perjalanan dari York ke Manchester Oxford Road Fahri tidak melihat keluar jendela kereta. Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada paragraf demi paragraf naskah buku yang akan diterbirkan bersama Prof. Charlotte. Fahri seringkali mengerutkan keningnya ketika menjumpai paragraf yang musykil. Apakah itu salah tulis?
Ataukah memang sudah benar seperti itu tulisan Prof. Charlotte namun ia yang kurang mengerti maksudnya? Atau bagaimana yang sebenarnya? Sesekali Fahri harus menelepon Prof. Charlotte untuk kroscek.
Kereta cepat itu sampai di stasiun Manchester Oxford Road hanya terlambat satu menit dari jadwal yang seharusnya. Pak Zen, ketua pengajian KIBAR Manchester telah menjemputnya didepan pintu kedatangan di dalam stasiun.
"Bagaimana perjalanannya Ustadz?" Tanya Pak Zen.
"Lancar, alhamdulillah."
"Yang sakit sudah sembuh Ustadz?"
"Alhamdulillah. Hanya tulang di dada sesekali masih terasa nyeri."
"Syafakallah Ustadz."
"Aamiin. Jazakallah khair atas doanya Pak Zen. Ini stasiunnya bagus ya."
"Iya Ustadz. Dari luar sana bangunan gedung stasiun ini agak mirip keong. Stasiun ini mendapat julukan One of the most dramatic stations in England."
Fahri mengangguk-angguk sambil terus berjalan menuju pintu keluar.
"Kita langsung ke tempat pengajian saja ya Ustadz. Waktunya agak mepet. Kita minum teh disana saja."
"Iya Pak Zen."
Pak Zen langsung membawa Fahri meluncur ke kampus The University of Manchester, dengan mobil sedan merahnya. Fahri dan Pak Zen sampai di depan auditorium mini The University of Manchester lima belas menit sebelum acara dimulai.
Serombongan mahasiswa dan mahasiswi Indonesia tampak berjalan beriringan memasuki gedung. Begitu melihat Fahri mereka langsung mengenalinya dan menyapa dengan hangat. Sejak peristiwa perkelahiannya dengan Baruch itu Fahri sangat terkenal. Khususnya di kalangan Muslim di UK. Lebih khusus lagi dikalangan orang-orang Indonesia di Britania Raya.
Masyarakat KIBAR Manchester menyambut Fahri dengan hangat. Ketika Fahri sedang minum teh bersama Pak Zen dan beberapa pengurus KIBAR, tiba-tiba Pak Zen yang memandang ke arah pintu masuk auditorium berseru,
"Hah, itu mereka datang!"
Fahri menengok ke arah pintu kedatangan. Dua orang pria berwajah Indonesia berjalan kearahnya sambil tersenyum. Keduanya memakai baju koko dan kopiah putih. Fahri seperti kenal, tetapi tidak yakin. Keduanya semakin dekat, dan Fahri semakin mengenali mereka. Kini Fahri sudah yakin pada apa
yang dilihatnya.
"Masya Allah, yang datang itu Ustadz Jalal, dan Basuki." Ucap Fahri dalam hati. Fahri langsung bangkit menyongsong mereka.
Fahri tersenyum sambil berjalan dan merentangkan kedua tangannya. Ustadz Jalal dan Basuki tersenyum lebar melihat Fahri yang menyambut dengan sinar mata berbinar-binar.
"Ahlan wa sahlan ya Habaibna." Ujar Fahri lalu memeluk Ustadz Jalal dan Basuki secara bergantian.
Meskipun Ustadz Jalal kini tampak mulai sepuh. Rambutnya sebagian besar sudah memutih. Tapi Fahri sama sekali tidak pangling. Ustadz Jalal adalah paman Nurul, mahasiswi Ketua Wihdah yang dulu jatuh cinta kepadanya saat di Mesir. Nurul adalah putri kyainya saat di pesantren. Ustadz Jalal berarti adalah adik kyainya di pesantren.
Kalau dulu Ustadz Jalal tidak terlambat menyampaikan pesan Nurul, mungkin jalan hidupnya akan lain. Ustadz Jalal memang harus terlambat dan sibuk dengan disertasi
doktornya sehingga ia bisa berjodoh dengan Aisha.
Kini Ustadz Jalal, tiba-tiba ada di Manchester. Ada urusan apa beliau ke Manchester?
Sedangkan Basuki adalah kawan yang cukup akrab. Di Cairo banyak bisnisnya, mulai dari jualan tempe sampai jualan tiket. Basuki kini tinggal di Huddersfield menemani istrinya yang sedang menyelesaikan doktornya di sana.
Di Indonesia Basuki sudah memiliki kerajaan bisnis lumayan bagus. Sementara ia tinggal, ia pasrahkan ke adiknya, ia mengalah menemani istrinya belajar. Tiga anaknya diajak serta.
"Menginap di Huddersfield, Ustadz?" Tanya Fahri pada Ustadz Jalal.
"Iya, selama di UK ini aku menginap di tempat Mas Basuki."
"Dalam rangka apa Ustadz disini?"
"Semacam postdoc. Utusan kampus. Cuma dua bulan."
"Aku dengar kau mengajar di Edinburgh?"
"Iya Ustadz, doanya."
"Nurul juga ada disini."
"Nurul?"
"Iya, Nurul Azkia. Kami satu rombongan ada delapan orang, termasuk aku dan Nurul. Sebentar lagi dia masuk, dia masih ngobrol dengan beberapa mahasiswi di luar."
Dan benar, tidak lama kemudian serombongan ibu-ibu dan mahasiswi masuk. Seorang ibu-ibu muda agak gemuk memberi hormat dan menyapanya dengan sangat ramah. Fahri hampir-hampir tidak percaya bahwa yang ada di hadapannya itu adalah Nurul.
Benar-benar berbeda dari saat beberapa tahun lalu di Cairo, saat Nurul masih jadi Ketua Wihdah. Dulu tampak langsing, anggun, ayu dan segar. Kini Nurul tampak gemuk, tubuhnya telah mekar, khas wajah ibu-ibu. Keanggunan di wajahnya telah hilang, berganti wajah yang berwibawa.
Dari pembicaraan singkat, Fahri mendapat informasi bahwa selain mengajar di pesantren ayahnya, kini Nurul juga menjadi dosen di IAIN Kediri. Sementara Ustadz Khalid, suami Nurul bekerja di kantor kementrian agama Kediri dan tentu juga mengajar di pesantren.
Anaknya sudah lima. Fahri jadi ingat seperti apa surat cinta Nurul kepadanya dulu. Dan benarlah apa yang ia katakan ketika menulis
jawaban untuk Nurul. Ia masih ingat betul penggalan surat Nurul yang dikirimkan kepadanya setelah ia menikahi Aisha.,
“Kak Fahri,
Sungguh maaf aku sampai-sampai hati menulis surat ini. Namun jika tidak maka aku akan semakin menyesal dan menyesal.
Bagi seorang perempuan, jika ia telah mencintai seorang pria, maka pria itu adalah segalanya. Susah melupakan cinta pertama apalagi yang telah menyumsum dalam tulangnya. Dan cintaku kepadamu seperti itu adanya, telah mendarah daging dan menyumsum dalam diriku.
Jika masih ada kesempatan mohon bukakanlah untukku untuk sedikit menghirup manisnya hidup bersamamu. Aku tak ingin
melanggar syariat. Aku ingin yang seiring dengan syariat.”[1]
Dan ia menjawab surat Nurul itu dengan tegas,
“Nurul,
Cinta sejati dua insan berbeda jenis adalah cinta yang terjalin setelah akad nikah. Yaitu cinta kita pada pasangan hidup kita yang sah.
Cinta sebelum menikah adalah cinta semu yang tidak perlu disakralkan dan diagung-agungkan.
Nurul,
Dunia tidak selebar daun anggur. Masih ada jutaan orang saleh di dunia ini yang belum
menikah. Pilihlah salah satu, menikahlah dengan dia dan kau akan mendapatkan cinta yang lebih indah dari yang pernah kau rasakan.”[2]
Ia ingat betul, sepertinya Nurul menghayati betul pesannya. Beberapa bulan setelah itu, Nurul menikah dengan seorang mahasiswa Cairo yang lebih senior darinya, yaitu Ustadz Khalid. Dia sering memanggilnya, Mas Khalid.
Dan ia sangat yakin, kini Nurul telah merasakan manisnya cinta jauh lebih indah dari yang dulu pernah ia rasakan sebelum menikah. Buktinya adalah tubuhnya bertambah makmur dan anaknya sudah lima.
Auditorium mini itu penuh. Tidak hanya masyarakat Indonesia yang hadir, mahasiswa dari Malaysia dan Brunei juga banyak yang hadir. Acara dimulai.
Fahri sangat menghormati Ustadz Jalal, karena itu ia berkata kepada Ustadz Jalal dan Pak Zen,
"Jika ada air maka tayammum batal. Begitulah kaidahnya. Jika ada Ustadz Jalal adalah samudera ilmu dan Fahri hanyalah debu. Jadi jika ada Ustadz Jalal, maka Fahri otomatis batal. Begitu seharusnya."
Ustadz Jalal sangat mengerti ucapan Fahri yang secara halus minta agar dirinya yang mengisi pengajian menggantikan Fahri. Tentu saja Ustadz Jalal tidak mau.
"Fahri adalah mata air yang jernih, bening dan tawar. Itu lebih dirindukan daripada air samudera yang asin rasanya yang jika diminum justru tidak menawarkan dahaga." Jawab Ustadz Jalal tidak mau kalah.
Pak Zen dan beberapa mahasiswa yang mendengar perbincangan dua cendekiawan itu tersenyum.
Terpaksa tetap Fahri yang mengisi pengajian KIBAR sore itu. Selama hampir dua jam Fahri
menyampaikan fiqh peradaban dibalik perang Badar, ruangan itu hening. Kata demi kata, kalimat demi kalimat yang diucapkan Fahri bagai mantra yang menyihir.
Kefasihan Fahri menyampaikan isi kitab Sirah Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam diperdalam dengan penghayatan surat Al Anfal membuat isi kajian yang disampaikan Fahri seperti memberikan nyawa baru pada para pendengarnya.
Usai pengajian, dilanjutkan acara makan-makan. Ada bermacam-macam menu khas Indonesia disediakan. Karena hampir semua keluarga Indonesia di Manchester membawa makanan. Pak Zen dan keluarganya yang asli Jogja membawa lontong dan opor ayam. Pak Wawan yang sedang menempuh S3 di Salford membawa rendang dan bakwan.
Pak Ridwan yang sudah lama tinggal di Manchester dan sudah mendapat permanent residence membawa nasi kuning, kering tempe, dan ayam goreng.
Selain mereka, banyak yang datang dengan membawa menu istimewa. Tampak juga terhidang lele goreng, tahu bacem, sayur lodeh, tempe goreng, sambal terasi, kerupuk udang dan lain sebagainya.
Acara makan-makan itulah yang sering membuat kangen masyarakat Indonesia untuk hadir di pengajian. Ceramah dan kajian adalah acara inti pengajian, dan makan-makan adalah acara yang tidak kalah intinya.
Selesai semua acara, Fahri harus balik ke Edinburgh. Sebenarnya Fahri ditawari Pak Zen untuk menginap di rumahnya yang terletak di kompleks Maine Place, Rusholme. Itu bisa disebut kompleks baru di tengah kota Manchester.
Sebab kompleks itu dulunya adalah stadion Manchester City sebelum pindah ke Etihad Stadion yang sekarang. Dan sebenarnya Fahri ingin sekali menginap di rumah Pak Zen yang rendah hati itu. Tetapi Ozan dan Paman Ali Akbar beserta keluarganya akan datang ke Edinburgh.
Ustadz Jalal ikut mengantar Fahri ke stasiun. Sambil menunggu kereta ke Edinburgh, Fahri sempat berbincang dengan Ustadz Jalal dan Pak Zen. Fahri menceritakan kondisi dirinya, ia minta pendapat Ustadz Jalal apakah ia memang harus segera menikah lagi? Terus sebaiknya menikah dengan siapa? Mencari gadis Indonesia ataukah menyambung kekerabatan dengan keluarga besar Aisha?
Fahri juga minta pendapat, apakah sebaiknya ia pulang saja ke tanah air, ataukah berkarir secara akademik dan berdakwah di Britania Raya dan Eropa.
Untuk masalah menikah, Ustadz Jalal kasih masukan, sudah saatnya Fahri menikah. Fahri sudah sangat setia mencari Aisha dengan berbagai cara dan sekian lama menunggu. Adapun dengan siapa, Fahri lah yang paling tahu.
Tentang apakah Fahri sebaiknya pulang saja ke tanah air atau bagaimana? Ustadz Jalal memberi pertimbangan bahwa yang mendapatkan kesempatan untuk mengajar di universitas terkemuka dunia seperti Fahri itu jarang.
Tidak masalah Fahri berkarier secara akademik dan berdakwah di Eropa. Ada banyak kebaikan disitu jika ikhlas karena Allah. Dan itu tidak lantas menghilangkan nasionalisme dan
kecintaan kepada Indonesia. Bahkan bisa mengharumkan nama Indonesia.
"Jujur saya katakan, negara kita Indonesia tercinta adalah negara yang belum jadi. Al Mukarram Gus Mus menyebutnya sebagai
"Negeri Haha Hihi." Bisa kau lihat di youtube isi puisi Gus Mus berjudul
"Negeri Haha Hihi" itu. Saya khawatir Indonesia belum bisa menghargai cendekiawan muda terkemuka yang disini sangat diperhitungkan sepertimu.
Kau tahu kan, aku dulu pulang dengan membawa gelar doktor ushul fiqh dari Cairo University. Pulang ke Indonesia, aku harus memulai hidup dengan menjadi tukang ketik di kampus tempatku mengajar sekarang ini. Serius, tukang ketik bagian kemahasiswaan.
Padahal aku punya SK sebagai pengajar pascasarjana. Tapi aku tidak diberi meja dan kursi sebagai dosen, dan tidak diberi jam mengajar di pascasarjana. Setelah melakukan perjuangan keras sekian lama barulah aku mendapatkan hak-hakku. Itu harus benar-benar berjuang dan disertai setengah mengemis.
Pada saat yang sama aku ditawari mengajar di Brunei dengan segala fasilitasnya. Kalau aku
tidak mengingat punya amanah tanah wakaf almarhum ayah istri, mungkin aku memilih mengajar di Brunei.
Bukan hanya aku yang mengalami hal seperti itu. Yang lebih tragis banyak. Aku masih mending, punya SK. Saat awal masuk program doktor alhamdulillah diterima CPNS. Ada teman kita yang selesai doktor dari Perancis, pulang ke Indonesia tidak punya SK, dan umurnya sudah lewat 35 tahun. Ia lontang
lantung kerjaannya. Ia mengajukan lamaran ke sana ke mari. Universitas swasta yang mapan sekarang juga tidak mudah menerima dosen.
"Ada lagi kisah tragis. Aku tahu persis, sebab aku pernah berjumpa dengan orangnya. Dia lulus S3 dari Jepang. Termasuk yang terbaik di angkatannya S1 sampai S3 di Jepang. Lalu dia pulang ke daerahnya. Ia mengajukan lamaran ke universitas negeri yang ada di daerahnya. Ditolak, dengan alasan jurusan seperti keilmuan dia tidak ada. Disarankan untuk melamar ke universitas yang ada di ibu kota. la juga datang melamar ke universitas negeri di Jakarta. Juga ditolak dengan alasan sama.
Jurusan yang sesuai keilmuan dia katanya tidak ada. Temannya yang sudah jadi dosen di Malaysia tahu ceritanya. Dia langsung diminta datang ke Malaysia dan ditemukan dengan dekannya. Ia langsung diminta jadi dosen
tetap, dan dekannya itu bilang, 'Universitas kami memang belum ada jurusan sesuai keilmuan Saudara. tetapi keilmuan Saudara ini langka, maka kami minta Saudara yang mengarsiteki membuka jurusan sesuai keilmuan Saudara. Kurikulum terserah Saudara, dana dan fasilitas kami siapkan.‘
Aku tidak tega kau yang sudah mengajar di University of Edinburgh, nanti lontang-lantung di Indonesia."
"Cerita Ustadz Jalal itu benar. Menurut saya, Ustadz Fahri berdakwah dan mengajar di sini dulu saja, sampai Profesor, sampai keilmuannya didengar oleh dunia. Lha barulah nanti pulang ke tanah air. Mudahnya, bisa meniru model kesuksesan B.J. Habibie. Meskipun saat pulang ke tanah air B.J. Habibie belum Profesor, tetapi beliau telah berkarir bagus sekali di Jerman, keilmuannya juga diakui dunia. Itu menjadi model yang bagus sekali untuk berkiprah secara lebih luas di tanah air dan tingkat dunia."
Sahut Pak Zen menguatkan pendapat Ustadz Jalal.
"Aku dengar kau membantu Hamdi mendirikan pesantren di Tegal, Jawa Tengah ? Kau juga banyak mengirim bantuan dana ke pesantren modernnya Ali di Serang, Banten?" Tanya Ustadz JalaL
"Doakan barakah Ustadz."
"Barakah insya Allah. Amin. Apa yang kau lakukan juga menunjukkan kau tidak lupa Indonesia, dan tidak kehilangan nasionalisme. Sudah teruskan mengajar di sini. Aku doakan setelah di Edinburgh, nanti kau semoga bisa ngajar di Oxford." Ucap Ustadz Jalal tulus.
"Aamin."
"Itu kereta ke Edinburgh sudah datang."
"Kalau begitu saya pamit dulu. Ilal liqa'."[3]
"Ma‘as salamah." [4]
"Allahu yusallimak."[5]
"Assalamu ' alaikum."
Kata Fahri sambil melangkah ke arah kereta.
"Wa'alaikum salam."
Jawab Ustadz Jalal dan Pak Zen hampir bersamaan.
******
______________________________________________
[1] Baca Ayat Ayat Cinta 1, hal.288
[2] Baca Ayat Ayat Cinta 1, hal.291
[3] Sampai jumpa lagi.
[4] Semoga selamat.
[5] Allah memberi keselamatan untukmu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar