Rabu, 24 Februari 2021

AYAT-AYAT CINTA 2 JILID 29

29


HUNNA LIBASUN LAKUM


Ada saat-saat manusia dihadapkan dua pilihan yang tampaknya sederhana namun sesungguhnya tidak sederhana. Bahkan, jika mau ia bisa tidak memilih keduanya dan justru memilih yang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. 

Ada banyak pilihan langkah dan amal. Ada yang baik dan utama sekali, ada yang utama, ada yang biasa saja, ada yang dosa, ada yang dosa berlipat ganda.

Pagi itu Fahri dihadapkan pada dua pilihan sederhana namun sesungguhnya tidak sederhana. Fahri sarapan pagi di rumah Ozan bersama keluarga besar Paman Akbar Ali. Ada Ozan dengan istri dan anaknya. Ada istri Paman Akbar Ali, dan ada Hulya.

Itu adalah Sabtu pagi yang cerah. Paman Akbar Ali ingin mengajak keluarga besarnya jalan-jalan ke Oxford dan berakhir pekan di Oxford.

"Saya ingin merasakan menginap di salah satu college di Oxford. Saya ingin tahu seperti apa senja disana, malam disana, pagi disana, dan suasana kesibukan para pelajar dari seluruh dunia disana. Pasti disana juga ada restoran yang enak. Kita makan-makan disana. Pasti ada juga taman-taman dengan rumput menghampar luas. Kita bisa duduk-duduk dan berbincang bincang di taman Oxford. Pasti asyik. Laila pasti suka!" Kata Paman Akbar Ali.

Hulya sangat antusias mendengar keinginan ayahnya. Dan tentu saja semuanya sepakat dan antusias. 

Ozan langsung menyiapkan segalanya. Jarak London - Oxford tidak terlalu jauh. Mereka akan menggunakan dua mobil. Ozan bahkan langsung menghubungi salah satu temannya yang kini mengambil Ph.D. di Oxford untuk memesankan empat kamar di college paling indah di Oxford. 

Bagi Fahri ini sebuah rizki yang tidak akan ia lewatkan. Ini kesempatan penting untuk melihat ruangan debat Oxford Union.

Apalagi jika bertepatan ada acara debat dan ia bisa melihat langsung, sungguh suatu keberuntungan.

Ketika semua sudah disiapkan. Kamar di Oxford sudah dipesan. Semuanya sudah siap untuk berangkat ke Oxford dengan terlebih dulu akan mampir ke hotel tempat Fahri menginap untuk mengambil barang-barang Fahri. Tiba-tiba sebuah kabar datang untuk Fahri. Brenda menelponnya, 

"Fahri cepat datang, nenek Catarina kritis. Namamu terus disebut-sebut."

"Bawa ke rumah sakit segera !" Kata Fahri.

"Sudah. Aku dibantu Heba membawanya ke rumah sakit. Rumahmu tidak ada orang. Cepat kau datang kemari!"

Itulah dua pilihan yang tampaknya sederhana bagi sebagian orang, tapi sungguh tidak sederhana bagi Fahri. Bagi sebagian orang tentu mudah menentukan pilihan. Ke Oxford tentu adalah pilihan tepat. 

Selain demi menemani keluarga besar Aisha, itu adalah kesempatan penting bagi Fahri melihat panggung Oxford Union, tempat dimana ia akan berdebat. Apalagi nenek Catarina sudah di rumah sakit. Sudah ada yang mengurus.

Tetapi nurani Fahri berbicara lain. Secara kemanusiaan menemui nenek Catarina yang sedang kritis itu penting. Apalagi kata Brenda namanya terus disebut-sebut nenek Catarina. 

Bisa jadi kedatangannya akan membuat gembira nenek itu dan menjadi salah satu sebab sembuhnya nenek itu. Atau, kalau itu 
adalah pertemuan terakhir dengan nenek Catarina, maka bisa jadi itu bisa membuat nenek itu tersenyum sebelum ajal mendekapnya. 

Syukur jika itu menjadi wasilah, nenek itu mendapatkan hidayahnya. Fahri tidak bisa langsung memutuskan pilihan. Semua sudah masuk ke dalam mobil dan siap berangkat. 

Hulya dan ibunya ikut mobil Claire. Fahri ikut mobil Ozan. Fahri duduk di depan disamping Ozan. Di tengah Paman Akbar Ali duduk di dampingi Laila. Kakek dan cucunya itu asyik bercengkrama.

Ketika Ozan sudah menyalakan mesin mobil barulah Fahri dengan mantab mengambil keputusan bahwa dia tidak bisa ikut ke Oxford, ia harus ke bandara untuk terbang ke Edinburgh. Fahri menyampaikan hal 
itu ke Ozan dan menjelaskan dengan detail alasannya. Meskipun tampak kecewa Ozan dan Paman Akbar mengijinkan Fahri tidak ikut.

"Saya antar ke hotel dulu." Ucap Ozan.

"Terima kasih."


                       *****


Brenda dan Heba duduk berdekatan dalam diam. Masing-masing asyik menekuri layar smartphone di tangan. Sesekali Brenda tersenyum sendiri membaca tulisan di layar ponselnya. Demikian juga Heba. Mereka berdua duduk di ruang tunggu Musselburgh Primary Care Centre tempat dimana nenek Catarina kembali dirawat. Mereka berdua sepakat untuk menunggu di situ sampai Fahri datang.

Seorang perawat datang dan memberitahu bahwa nenek Catarina sudah sadar dan ingin bicara. Brenda dan Heba bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah perawat itu menuju kamar di mana nenek Catarina dirawat.

"Kemarilah, mendekat... sini!" lirih nenek Catarina dengan nafas sedikit tersengal.

Wajah nenek itu benar-benar pucat. Sebuah selang untuk membantu pernafasan dipasang dihidungnya. 

Brenda dan Heba mendekat. Brenda duduk dan mencondongkan kepalanya dekat wajah nenek Catarina.

"Fahri mana?"

"Sedang terbang dari London ke sini, Nek." Jawab Brenda.

"Rasanya umurku tidak akan panjang lagi."

"Dokter akan mengusahakan yang terbaik agar nenek sehat kembali."

"Tapi aku ini sudah tua, kematian tidak ada obatnya. Tolong kalian dengarkan baik-baik! Ada hal penting yang ingin aku sampaikan."

"Iya Nek."

"Seandainya ajalku tiba sebelum Fahri datang. Tolong kalian jadi saksi. Aku wariskan rumahku itu untuk Fahri. Dia begitu baik, dia aku anggap ahli warisku. Tolong kalian berdua jadi saksi. Kalau bisa datangkanlah notaris agar ini diproses secara hukum!" 

Nenek Catarina mengucapkan hal itu dengan pelan-pelan, sesekali nafasnya tersengal. Namun Brenda dan Heba bisa mendengarnya dengan jelas.

Tak terasa kedua mata Brenda berkaca-kaca mendengar apa yang diucapkan nenek Catarina.

"Maaf Nek, nenek tidak perlu berwasiat seperti itu!" Kata Brenda sambil menyeka air matanya.

"Kenapa? ltu rumahku terserah aku kepada siapa aku wariskan!"

"Begini nek, saya terpaksa harus jelaskan. Sebenarnya rumah itu sudah menjadi milik Fahri."

"Rumah yang aku tempati itu milik Fahri?"

"Iya."

"Bagaimana bisa?"

"Rumah nenek itu sebenarnya sudah dijual oleh Baruch. Dokumen wasiat yang dipegang Baruch dari ayah kandungnya, yang tak lain adalah suami nenek itu sangat kuat. Rumah itu bahkan sudah atas nama Baruch. Anak tiri nenek itu sudah menjual kepada lelaki bernama Gary. Fahri mempelajari situasi itu 
dengan teliti, sudah tidak mungkin lagi menggugat Baruch untuk menolong nenek. Hanya akan menghabiskan tenaga, waktu dan dana. 

Tetapi Fahri sangat ingin nenek merasakan kebahagiaan disisa-sisa umur nenek. Fahri ingin nenek tetap hidup tenang di rumah nenek. Fahri lalu menemui orang yang membeli rumah nenek itu. Fahri berbicara baik-baik dengannya, agar orang itu mau menjual rumah itu kepadanya. Fahri bahkan mempersilakan lelaki itu mengambil keuntungan yang sepantasnya. 

Jadilah akad jual beli itu. Saat proses hukum di notaris saya yang diminta Fahri untuk jadi saksinya. Dan saya diminta untuk tidak menceritakan kepada nenek. Yang penting, kata Fahri, nenek bisa tetap tinggal di 
rumah yang nenek cintai itu. Begitu ceritanya."

Nenek Catarina tidak kuasa menahan tangisnya. Nenek Yahudi itu menangis terharu mendengar penjelasan Brenda. Heba yang jadi pendengar ikut meneteskan air mata. Selaksa doa untuk Fahri keluar dari mulut nenek Catarina untuk Fahri.

"...Oh Tuhan, berkati Fahri sebagaimana kau memberkati Abraham dan keluarganya." 

Itulah diantara penggalan doa yang diucapkan nenek Catarina sambil terisak. 

"Oh Tuhan, jangan kau cabut nyawaku 
sebelum aku bertemu Fahri untuk terakhir kalinya. Beri aku kesempatan mengucapkan terima kasih dan mencium tangannya."

Ponsel Brenda bergetar. Ada pesan masuk. Brenda membuka ponselnya. Ternyata pesan dari Fahri, 

"Saya sudah mendarat di Edinburgh, bagaimana keadaan nenek Catarina? Saya langsung meluncur ke sana!"

"Segera kemari. Ditunggu!" Jawab Brenda.

"Tak lama lagi Fahri akan sampai Nek."

"Berapa lama lagi?"

"Setengah jam lagi kira-kira."

"Lama sekali."

"Sabar Nek."

"Kalau umurku tidak sampai untuk berjumpa Fahri. Sampaikan rasa terima kasihku kepadanya, dan sampaikan permohonan maafku kepadanya. 
Aku pernah menganggapnya sebagai manusia rendahan, sebagai Amalek. Aku juga minta maaf kepadamu Heba. Aku pernah menganggapmu sebagai Amalek rendahan. Tapi Fahri sudah menjelaskan pandangan yang benar tentang Amalek."

"Iya Nek. Nenek harus optimis, nenek akan sehat lagi."

Tiba-tiba nafas nenek Catarina tersengal-sengal agak hebat. Heba langsung lari minta tolong kepada petugas medis. Dua petugas medis datang dan meminta Heba dan Brenda meninggalkan ruangan itu.

Di ruang tunggu Brenda khusyuk berdoa agar nenek Catarina selamat. Demikian juga Heba. Berhadapan dengan suasana ketika sakaratul maut telah dekat pada seseorang membuat hati basah dalam pasrah mengingat Tuhan. Itu yang dirasakan Heba. Baru melihat orang lain yang mengalami nafas tersengal-sengal saja hati terasa ciut. Terasa betul lemah dan fananya manusia. Terasa betul dunia ini 
sementara.

Kesombongan sebesar apapun akan luluh ketika mengingat kematian. Bukankah Fir'aun akhirnya mengakui dirinya bukan Tuhan, dan dia mengimani Tuhan yang diimani Musa dan Harun. 

Sayang sebuah keimanan yang terlambat. Keimanan itu hadir ketika sakaratul maut datang dan nyawa sudah ditarik Izrail sampai di tenggorokan.

Dalam diam, Heba terus mengingat Allah. Lisannya diam, tapi batinnya terus mengucapkan kalimat thayyibah. Laa ilaaha illallah. Brenda juga diam, dan Heba tidak tahu apa yang berkecamuk dalam pikiran Brenda.

Tepat seperti prediksi Heba, Fahri datang kira-kira tiga puluh menit kemudian ditemani Misbah dan Paman Hulusi. Brenda dan Heba langsung menunjukkan kamar di mana nenek Catarina ditangani. Dua perawat membuka pintu.

"Ada yang bernama Fahri?" Tanya perawat.

"Saya."

"Nenek itu terus menyebut nama Anda, kondisinya terus naik turun tidak stabil. Silakan Anda masuk."

"Boleh ditemani?"

"Anda boleh ditemani maksimal dua orang."
Fahri mengajak Misbah dan Brenda. Mereka bertiga masuk kedalam kamar. 

Begitu melihat Fahri datang, binar kebahagiaan terpancar dalam sorot mata nenek Catarina. 
Brenda minta Fahri mendekat sedekat-dekatnya dengan nenek Catarina.

"Kau datang juga, Anakku." Lirih nenek Catarina dengan kedua mata berkaca-kaca. Nenek itu kini memanggil Fahri sebagai anaknya.

"Iya nek, saya datang. Nenek akan sembuh dengan ijin Tuhan."

"Jatah hidupku di dunia sepertinya sudah mau habis. Ada banyak bayi lahir, harus ada yang pergi. Gantian."

"Nenek harus optimis sembuh."

"Sudahlah jangan memikirkan aku sembuh atau tidak. Kalau aku sembuh aku akan terus merepotkan kamu. Bagaimana caranya aku berterima kasih kepadamu, Anakku? Aku sudah tahu semuanya. 

Brenda sudah cerita semuanya. Bahkan rumah itu ternyata sudah kau beli. Kau beli agar aku bisa tetap tinggal disitu. Jadi selama ini aku tinggal disitu karena kemurahan hatimu." 

Agak bersusah payah nenek Catarina mengucapkan kalimat agak panjang itu. Begitu selesai mengucapkan itu, nenek Catarina tampak lega.

"Yang Maha Pemurah itu Tuhan, Nek."

"Anakku, apa tujuanmu sebenarnya sehingga kau begitu baik kepadaku? Apa yang bisa aku lakukan di sisa-sisa nafasku yang bisa membuatmu bahagia?"

"Asal melihatmu tersenyum aku bahagia, Nek."
Nenek Catarina berusaha tersenyum.

"Apakah tidak terdetik dalam hatimu aku mengimani ajaran agama yang kau imani?"
Fahri terhenyak mendengar pertanyaan nenek Catarina.

"Kalau nenek mau mengimani Allah sebagai Tuhan, dan Muhammad sebagai rasul Nya tentu saja aku sangat bahagia Nek. Jika itu nenek lakukan maka nenek berada di jalan yang sama dengan jalan yang ditempuh Ibrahim, Ishak, Ya‘kub, Yusuf, Musa, Daud, Sulaiman dan seluruh nabi yang diutus Allah."

"Maafkan aku Anakku. Aku tidak bisa. Aku telah berjanji dan bersumpah setia akan mati dengan keyakinan yang sama dengan suamiku tercinta." Nenek Catarina meneteskan air mata.

"Tak ada paksaan sama sekali dalam beragama Nek. Jika itu pilihan nenek, tentu nenek akan mempertanggung jawabkannya di akhirat kelak."

"Maafkan aku pernah menganggapmu Amalek yang rendah."

"Aku tahu itu Nek, dan aku sudah memaafkan sebelum nenek minta maaf."

"Terima kasih. Mana tanganmu? Ulurkan tanganmu!"

Fahri mengulurkan tangan kanannya. Pelan-pelan nenek Catarina memegang tangan Fahri dan menciuminya dengan kedua mata terpejam. Nafas nenek Catarina tersengal-sengal beberapa kali, lalu terdiam. Tangannya terkulai melepaskan tangan Fahri. Brenda terkejut. Demikian juga Fahri dan Misbah. Fahri memeriksa nafas dan denyut nadi.

"Inna lillahi wa inna ilaihi raaji‘un." Lirih Fahri.

"Dia sudah mati." Pekik Brenda dengan suara tertahan. Air matanya meleleh.

"Ya dia telah mati."

Fahri minta Brenda untuk membereskan urusan dengan pihak klinik. Sementara Misbah ia minta untuk menghubungi komunitas Yahudi di Edinburgh yang bermarkas di Edinburgh Hebrew Congregation, Salisbury Road. 

Karena nenek Catarina meninggal dalam keadaan memeluk Yahudi, Fahri ingin biar 
komunitas Yahudi yang mengurus proses pemakaman sesuai cara mereka.

"Kalau pihak komunitas Yahudi menanyakan biaya prosesi penguburan bagaimana Mas?" Tanya Misbah.

"Kalau ternyata mereka menanyakan hal itu, bilang saya tanggung semua biayanya."

Hari itu adalah hari berkabung bagi tetangga-tetangga nenek Catarina di Stoneyhill Grove. Fahri lega ketika jenazah nenek Catarina sudah diterima pihak Edinburgh Hebrew Congregation. 

Dua hari setelah nenek Catarina meninggal, Fahri minta kepada Paman Hulusi agar semua barang-barang nenek Catarina terutama yang terkait dengan simbol-simbol Yahudi dibersihkan dari rumah itu dan diserahkan kepada Edinburgh Hebrew Congregation. 

Adapun barang-barang pribadi yang lain yang masih layak pakai, juga perkakas dan perabotan yang masih bagus disumbangkan ke lembaga sosial. Fahri berniat menggantinya 
semuanya dengan yang baru.

Fahri lalu mendatangkan ahli interior untuk mendesain ulang interior rumah itu sehingga terasa berbeda dan lebih segar. Ruang tamu rumah itu sengaja dibiarkan kosong tanpa perabot apa-apa. 

Hanya ada karpet tebal yang menghampar memenuhi ruangan itu. Fahri ingin rumah itu bisa menjadi tempat pengajian masyarakat muslim di Edinburgh dan sekitarnya, khususnya adalah masyarakat Asia Tenggara. Lebih khusus lagi, masyarakat Indonesia di Edinburgh dan sekitarnya.


                             *****


Pukul setengah tiga dini hari Fahri terbangun dari tidurnya. Ia masih ingat betul mimpi yang baru saja dialaminya. Rasanya itu bukan seperti mimpi tapi betul-betul terjadi. Ada rasa bahagia luar biasa menyusup dalam batinnya. 

Sebuah kebahagiaan yang mengobati rindunya.
Kejadian dalam mimpinya itu nyaris persis kejadian nyata beberapa tahun yang lalu. Hanya isi pembicaraan dalam mimpi itu yang berbeda. 

Dalam mimpi itu ia seperti ada di tanah suci. Di kota Madinah. Waktunya senja hari menjelang shalat maghrib. Ia duduk bertiga dengan ibu kandungnya dan Aisha. Benar-benar ibunya, dan benar-benar Aisha yang ada dalam mimpinya itu.

Wajah ibunya begitu bahagia bercerita pengalaman shalat berdampingan dengan jama‘ah dari Kazakhstan yang sangat ramah. 

Dialog keduanya, katanya, sering pakai bahasa isyarat. Sebab ibu-ibu dari Kazakhstan itu hanya bisa bahasa lokal Kazakhstan. 

Sementara ibunya hanya bisa bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Aisha yang ada di samping ibunya saat itu yang bisa bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa Turki dan bahasa Jerman tetap tidak bisa banyak membantu. 

Juga ikut berdialog dengan bahasa perasaan dan bahasa isyarat. Ibunya memperlihatkan gelang cantik dari kayu pemberian ibu-ibu dari 
Khazakhstan. 

Sementara ibunya menghadiahkan kain syal yang dipakainya untuk ibu-ibu Khazakhstan.

Fahri mengingat, dulu ia memang pernah berangkat umroh bareng Aisha dan keluarganya. Berangkat dari Indonesia. Dan pernah bercengkerama seperti itu di pelataran masjid Nabawi. Tapi isi cerita dan dialognya lain.

Fahri kembali mengingat mimpi yang baru dialaminya. Setelah detail bercerita pengalamannya berkenalan dengan ibu-ibu dari Khazakhstan, ibunya bercerita pengalaman ruhaninya berada di Raudhah. 

Ibunya merasa seperti ada malaikat yang menjaganya. Yang lain baru shalat dua rakaat sudah diusir-usir, sementara ibunya shalat sampai delapan rakaat Dhuha dan berdoa panjang sambil menangis, sama sekali tidak ada yang mengganggu. Aisha membenarkan, sebab ia hanya bisa shalat empat rakaat saja dan diusir oleh asykar perempuan Masjid Nabawi. Ia ingin menarik ibu pergi, tapi 
tidak tega, ia biarkan ibunya terus shalat dan ia tunggu di pintu luar masjid. Agak lama ia menunggu.

Wajah ibunya tampak bahagia sekali. Dalam mimpi itu ia memandangi lekat-lekat wajah ibundanya. 

Seluruh derita dan kesedihan seperti lurus begitu memandang wajah ibunya. Memandang wajah ibu adalah obat segala susah dan gelisah.

Ibunya sampai bertanya kepadanya, 

"Kenapa memandangi wajah ibu seperti itu." Fahri tersenyum.

Aisha bertanya, 

"Cantik mana ibumu sama istrimu?"

Fahri menjawab, 

"Sama-sama cantik. Wajah ibu adalah barakah, wajah istri adalah mawaddah wa 
rahmah!"

Aisha tampak puas sekali dengan jawaban Fahri itu, ia lalu ijin ke toilet untuk mengambil air wudhu. 
Aisha mengajak sang ibu, tapi sang ibu menjawab masih punya wudhu.

"Yang aku khawatirkan itu kalau suatu ketika Aisha tidak ada di sisimu. Aku melihat kau begitu mencintai Aisha." Kata sang ibu. 

"Apa yang ibu khawatirkan?"

"Ibu khawatir kau berhenti dijalan dan tidak melanjutkan perjalanan. Kau merasa tidak bisa berjalan tanpa Aisha. Itu yang ibu khawatirkan."

"Apa yang harus Fahri lakukan kalau Aisha tidak ada disisiku?"

"Pertama mencarinya sampai ketemu. Kalau sudah segala cara kau gunakan untuk mencarinya tidak juga ketemu. Itu adalah takdir. Kau harus cari Aisha yang lain."

"Cari Aisha yang lain, maksud Ibu?"

"Kau pernah menyampaikan pengajian di masjid kampung kita. Katanya suami istri itu ibarat pakaian. Hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna. Istri itu pakaian bagi suami dan suami pakaian bagi istri. Maka kau harus tetap memiliki pakaian!"

Adzan maghrib berkumandang dengan indah. Payung-payung raksasa di halaman masjid pelan-pelan terlipat. Aisha datang dengan wajah segar. Mukanya yang anggun masih basah oleh air wudhu. 

Tiba-tiba Fahri ingin sekali mencium wajah istrinya itu. Ia ingin sekali menciumnya dengan sebenar-benar ciuman. Tapi adzan sedang berkumandang. Dan sebentar lagi harus shalat berjama‘ah. Tapi keinginan itu begitu membara, ia ingin menciumi istrinya dan memeluknya erat-erat. Ia tidak ingin Aisha pergi dari sisinya. Ia lalu shalat berjama‘ah. Dan malam itu ia tuntaskan keinginannya yang membara itu di kamar hotel Movenpick bersama Aisha.

Dan iapun terjaga dari mimpinya. Fahri duduk di bibir tempat tidurnya. Rasanya ia ingin kembai masuk ke dalam mimpinya. Fahri bangkit menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Masih ada waktu untuk shalat tahajjud. Di kamar mandi ia baru menyadari bahwa ia ternyata harus mandi dengan sempurna, tidak cukup hanya berwudhu.

Musselburgh masih gelap. Angin berhempus pelan seperti mengendap-endap, menyapa rumah demi rumah. Sebagian besar penduduk Musselburgh masih terlelap. Hanya sedikit dari sedikit yang telah bangun dan sujud kepada Sang Pencipta alam semesta. 

Dalam sujudnya Fahri meminta didekatkan 
dengan segala amal yang dicintai oleh Allah dan dijauhkan dari segala amal yang dibenci oleh Allah. 

Fahri minta diselimuti cinta-Nya yang tidak berpenghabisan di dunia dan di akhirat.



                           *****



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...