CAHAYA SEJATI bagian 3
Antara kelebatan golok sampai mengenai leher Mang Hasan mungkin hanya secepat kedipan mata, tapi waktu yang pendek itu berbagai bayangan telah terlintas di angan-angan mang Hasan, jika dia mati bagaimana anak semata wayangnya Mila, bagaimana jika ditinggalkan orang tuanya? Lalu istrinya si Eis, yang baru tiga tahun dinikahi pasti akan menjadi janda, dan menangis sepanjang waktu, bayangan itu melintas cepat, dan semua pemuda Cipacung pun tak ada yang berani membuka mata, semua memejam, tak sanggup melihat kepala mang Hasan menggelinding, dengan mata yang masih terbuka, dan BUK...! terdengar suara golok menghantam leher mang Hasan dari belakang, tapi tak ada jerit kesakitan, semua mata terbuka dan melihat, mang Kelik melotot sambil melihat goloknya, sedang mang Hasan juga terpaku di tempat, golok telah mengenai telak di leher belakangnya, tapi sedikitpun tidak dia rasakan rasa sakit, leher masih di tempatnya, kepala masih ada dan tidak lepas, mang Kelik gemetar, mang Hasan mencabut golok dari sarung yang terselip di pinggangnya, mang Kelik mundur, dia amat takut.
"Sekarang giliranku," kata mang Hasan kikuk, air liurnya serasa kering, bagaimanapun dia tidak biasa membunuh orang, malah tak pernah membunuh ayam sekalipun, tiap motong ayam saja dibawa ke tukang potong ayam yang menjadi imam masjid kampung. Jadi jika harus menumpahkan darah, maka dia lebih suka memakan bakso, tapi dia tetap maju, dan mang Kelik mundur-mundur terus.
"Sekarang kan giliranku...?" kata Mang hasan lagi.
"Tidak, jangan, aku tak punya ilmu kebal.." kata mang Kelik sambil terus mundur, dan lari, mang Hasan mengejar, sampai di jembatan bambu, golok dilempar, dan golok melesat dan mengenai sedikit pinggang mang Kelik, dan golok menancap di bambu tiang pancang jembatan, darah mengucur dari luka di pinggang mang Kelik, sementara mang Kelik tersungkur jatuh, dan mencoba lari menyebrangi jembatan.
Mang Hasan menghampiri goloknya, dan mencabutnya, lalu menghampiri mang Kelik, semua orang tegang, tiba-tiba di dekat mang Kelik tak tau dari mana datangnya, seseorang berjubah putih, wajahnya teduh berwibawa, dan dipenuhi kearifan dan keagungan, jenggotnya putih melambai, dan kumis tipisnya sebagian memutih,
Mang Hasan berdiri terpaku dan gemetar, tangan lelaki itu diulurkan ke depan, mang Hasan seperti terhipnotis, dia menyerahkan goloknya kepada lelaki tua itu, dan lelaki itu memegang golok dengan tangan kirinya, lalu tangan kanannya disentilkan ke golok, dan begitu saja, golok dari besi pilihan itu, seperti meletup menjadi debu dan rontok.
"Disudahi saja perkelahian yang tiada manfaatnya ini," kata lelaki itu lembut, dan semua orang diam, suara lelaki tua itu seperti merasuk ke hati siapa saja, semua wajah menunduk, semua orang dari Cipacung, juga dari Cigandu, semua seperti tertindih kewibawaan yang tiada tara.
"Siapa yang mau meneruskan pertikaian ini? Kalian mau tidak menghentikan pertikaian ini sampai di sini?" kata lelaki itu lemah lembut, tapi kata itu serasa menyusup ke hati siapa saja, dan semua orang yang hadir mengangguk..
Lalu lelaki tua itu mendekati mang Hasan yang masih tergeletak mengaduh, dan darah mengalir terus dari pinggangnya yang terluka, lelaki itu jongkok dan mengusap luka di pinggang mang Kelik, dan seketika mang Kelik tidak mengadu-aduh lagi.
Karena lukanya sudah hilang, lelaki itu melangkah pelan ke arah kumpulan pemuda Cipacung, lalu melambaikan tangan ke arah Bagus Cilik yang sudah bangun dan berdiri di dekat Mun.
"Ayo ikut.." kata lelaki tua itu. Dan Bagus Cilik pun melangkah ke arah lelaki itu, dan digandeng lelaki itu,
"Kyai... kalau kyai Sepuh menanyakan tentang Bagus Cilik, kami harus menjelaskan bagaimana?" tanya Mun yang merasa bertanggung jawab atas Bagus Cilik.
"Katakan saja Bagus Cilik dibawa Tubagus Qodim." kata lelaki tua itu, dan tubuhnya seketika melayang, bersama Bagus Cilik digandengannya, melewati rumput dan pagar nanas hutan, dan hilang entah kemana, diiringi tatapan bengong semua orang yang hadir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar