Kamis, 04 Februari 2021

PANASNYA BUNGA MEKAR JILID 22-02

PANASNYA BUNGA MEKAR : 22-02
Tetapi mereka tidak akan dapat melakukannya dengan tergesa-gesa, karena beberapa macam pertimbangan.

Ken Padmi tidak akan mungkin menjadi seorang gadis yang pilih tanding, jika di padepokan itu tidak ada seorang guru yang mumpuni, yang jauh malampaui kemampuan Ki Selabajra.

Sementara itu, di padepokan Kenanga, Mahisa Agni dan Witantra sedang berbicara dengan Ki Watu Kendeng dan Ki Selabajra tentang Mahisa Bungalan yang menunggu di Watu Kendeng.

“Sebaiknya biarlah aku menjemputnya” berkata Ki Watu Kendeng, “Aku akan memberitahukan kepada Ken Padmi, agar ia tidak terkejut” berkata Ki Selabajra, “bahwa telah datang wakil dari orang tua Mahisa Bungalan untuk melanjutkan pembicaraan yang terputus”

“Ya, sebaiknya memang demikian. Biarlah ia sempat menimbang-nimbang setelah ia berhasil mengalahkan Marwantaka dan Wiranata” desis Ki Watu Kendeng.

Dalam pada itu, Ki Selabajra pun segera memanggil Ken Padmi untuk menghadap orang-orang tua yang berkumpul di ruang dalam. Karena itu, maka Ken Padmi pun menjadi berdebar-debar. Setelah ia memenangkan perang tanding dalam sayembara itu. maka apalagi yang akan dikatakan oleh ayahnya.

Demikianlah, dengan sangat hati-hati dan tidak langsung, Ki Selabajra memberi tahukan kepada Ken Padmi, bahwa seseorang sedang berada di Watu Kendeng. Ia tidak dapat datang, karena persoalan yang sedang terjadi di padepokan kenanga, agar ia tidak menjadi penghambatnya.

Wajah Ken Padmi menjadi tegang. Diluar sadarnya, ia langsung teringat kepada seseorang yang pernah berada di padepokan Kenanga dan selanjutnya berada di padepokan Watu Kendeng.

Karena itu, maka sebelum ia diberi tahu, siapakah yang dimaksud, maka Ken Padmi telah dapat menebaknya.

Sejenak gadis itu diam mematung. Jantungnya bagaikan bergejolak oleh berbagai macam perasaan. Ia rasa-rasanya memang menunggunya. Tetapi harga dirinya tiba-tiba saja telah menghentakkannya ke dalam sikap yang keras.

Adalah diluar dugaan sama sekali, bahwa tiba-tiba saja gadis itu berkata, “Ayah. Apakah maksud orang itu?”

“Ia merasa telah terikat dengan padepokan ini Ken Padmi. Justru karena di sini ada kau” jawab ayahnya.

Sekali lagi jawab Ken Padmi mengejutkan, karena ia langsung pada pokok persoalannya, “Orang itu ingin melamarku?”

Ki Selabajra menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya, “Ya. Agaknya memang demikian”

“Baik ayah. Aku tidak menolak siapapuh juga. Tetapi masih berlaku ketentuan. Hanya yang dapat mengalahkan aku sajalah yang akan aku terima menjadi suamiku” jawab Ken Padmi.

“Ken Padmi” desis ayahnya, “jangan terlanjur langkah. Pikirkan masak-masak sikapmu itu”

“Sudah aku pikirkan sejak semula. Bukankah ayah juga yang menganjurkan kepadaku, agar aku mengadakan sayembara tanding?” jawab Ken Padmi, “Nah, aku akan menunggunya. Kapan saja ia mau datang dan memasuki arena dengan ketentuan yang berlaku seperti yang telah terjadi”

Ki Selabajra menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mengerti watak anaknya. Jika ia sudah menentukan satu sikap, agaknya memang sulit untuk merubahnya. Karena itu, diluar sadarnya ia memandang Mahisa Agni dan Witantra. Ternyata kedua orang itupun tidak dapat bersikap lain kecuali mengangguk”

“Baiklah Ken Padmi” berkata Ki Selabajra, “biarlah pamanmu Watu Kendeng menjemputnya dan menyampaikan syarat itu kepadanya. Jika ia dapat menerima, maka perang tanding itu akan diadakan” Ki Selabajra berhenti sejenak, lalu, “tetapi bukankah kau pernah menjajagi ilmunya para saat ia datang? Akupun sama sekali tidak mampu mengalahkannya. Apakah itu bukan satu pertanda tanpa sayembara tanding?”

“Aku yang dahulu sudah lain dari aku yang sekarang” berkata Ken Padmi, “siapapun kedua orang yang baik hati itu, ternyata mereka telah merubah segala-galanya. Karena itu, maka sayembara tanding masih akan berlangsung terus sampai ada seseorang yang mengalahkan aku”

Dengan wajah ragu Ki Selabajra bertanya, “Bagaimana jika Ki Dukut Pakering mendengar dan datang melamarmu?”

Wajah Ken Padmi menjadi merah. Jawabnya, “Aku akan bertempur sampai mati atau membunuh diri”

Dalam pada itu, maka Ki Watu Kendeng pun berniat kembali ke padepokannya untuk menyampaikan persoalan yang sedang dibicarakannya di padepokan Kenanga. Namun dalam pada itu, karena keadaan yang gawat, maka Mahisa Agni lelah menemaninya di perjalanan, sementara Witantra tetap berada di padepokan Kenanga untuk mem bantu berjaga-jaga.

Namun ternyata bahwa Ki Watu Kendeng tidak mengalami gangguan apapun di perjalanan. Bersama Mahisa Agni dan pengawalnya ia selamat sampai kepadepokan Watu Kendeng.

Mahisa Bungalan rasa-rasanya tidak sabar lagi bertanya apakah hasil dari sayembara itu.

Dengan senyum jernih Ki Watu Kendeng menjawab, “Rencanamu memang berhasil ngger. Ken Padmi dapat mengalahkan keduanya berurutan”

“Syukurlah” desis Mahisa Bungalan, “apakah dengan demikian berarti bahwa Ken Padmi sudah bebas dari keduanya?”

“Dapat diartikan seperti itu. Tetapi nampaknya kedua anak muda itu belum menerima kekalahan mereka dengan iklas. Mungkin mereka masih akan berusaha untuk berbuat lain” jawab Ki Watu Kendeng.

“Padepokan Kenanga memang masih harus berhati-hati” desis Mahisa Bungalan.

Dalam pada itu, maka Ki Watu Kendeng pun mempersilahkan Mahisa Agni untuk memberitahukan keputus an terakhir yang diambil olah Ken Padmi tentang sayembara tanding.

“Bukan salahnya Mahisa Bungalan” berkata Mahisa Agni kemudian, “kita jugalah yang mengajarinya untuk berbuat demikian. Mungkin gadis itu tidak berniat berbuat demikian terhadapmu, tetapi tentu akan mengganggu hubungan padepokan Kenanga dengan pihak yang pernah dikalahkannya, karena ternyata ia menerima seorang laki-laki tanpa sayembara tanding”

Ternyata jawaban Mahisa Bungalan sangat mengejutkan. Katanya, “Tidak. Aku tidak akan memasuki sayembara tanding itu. Jika ia mencintai aku, biarlah ia mencintai aku. Jika tidak, apa artinya memenangkan sayembara tanding? Aku memang akan mendapat gadis itu. Tetapi tentu hanya wadagnya. Jika ia. tidak mencintai aku, maka gadis itu tidak akan berarti apa-apa bagiku”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mahisa Bungalan. Kau dan Ken Padmi memang berhati keras. Aku tahu, bahwa kalian saling mencintai. Tetapi harga diri kalian merupakan jurang pemisah yang sulit untuk diloncati. Tetapi jika kalian bersedia sedikit saja surut dari nilai-nilai harga dirimu yang berlebih-lebihan itu, maka kau dan Ken Padmi tentu akan menemukan kebahagiaan. Kau dan Ken Padmi akan dapat kawin dan hidup sewajarnya. Kau tidak lagi menjadi pengembara dari satu tempat ke tempat lain. Tetapi kau akan menetap di Singasari menjadi seorang prajurit yang mendapat kepercayaan dari Maharaja di Singasari”

Kata-kata Mahisa Agni itu ternyata dapat menyentuh perasaannya. Seolah-olah Mahisa Agni dapat menunjukkan kepadanya perasaannya yang sebenarnya terhadap gadis padepokan Kenanga itu.

Karena itu, maka dengan nada merendah ia bertanya, “Bagaimana menurut paman sebaiknya?”

“Datanglah” berkata Mahisa Agni, “kau dapat memasuki arena perang tanding. Gadis itu mencintaimu”

Tetapi karena pernah terjadi sesuatu ketegangan-perasaan, maka ia tidak akan dengan serta merta menerima kedatanganmu”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Jika paman berpendirian demikian, maka aku tinggal menjalaninya. Mudah-mudahan aku tidak dikalahkannya seperti kedua orang anak muda yang lain itu”

“Tergantung kepadamu” berkata Mahisa Agni, “kau dapat menentukan segala-galanya. Karena apapun yang dicapai oleh gadis itu hanya dalam waktu satu bulan, bagimu tidak berarti apa-apa. Tetapi ternyata bagi kedua anak muda itu, yang satu bulan itu telah menentukan akhir dari sayembara ini”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia merasa sangat segan berhadapan dengan Ken Padmi di arena. Bagaimanapun juga, tentu akan timbul kesan perkelahian.

Tetapi Mahisa Bungalan pun tidak mempunyai pilihan lain. Ken Padmi tentu tidak akan begitu saja menerimanya kembali setelah ia pernah menyatakan penolakannya, meskipun hanya karena gejolak perasaannya yang melonjak saat itu.

“Suatu perjalanan yang aneh” berkata Mahisa Bungalan di dalam hatinya, “beberapa saat yang lampau aku sampai ke padepokan Kenanga, bertemu dengan gadis itu. Namun kemudian aku harus menempuh perjalanan yang sangat panjang untuk dapat kembali lagi ke padepokan itu. Bahkan aku harus melintasi persoalan antara guru dan muridnya, antara Ki Dukut dan Pangeran Kuda Padmadata. Baru kemudian aku menentukan hubunganku dengan gadis padepokan Kenanga itu”

Namun Mahisa Bungalan sudah berniat untuk datang ke padepokan Kenanga. Atas persetujuan Mahisa Agni dan Ki Watu Kendeng, maka di keesokan harinya, mereka akan pergi ke padepokan Kenanga untuk membawa Mahisa Bungalan memasuki arena sayembara tanding.

Semalam-malaman Mahisa Bungalan hampir tidak dapat tidur sama sekali. Ia menjadi gelisah justru karena ia harus berhadapan dengan Ken Padmi di arena. Ia mulai menimbang-nimbang, cara yang paling baik untuk mengalahkannya, tetapi tidak menyakiti hatinya. Bagaimanapun juga, ia merasa, pernah menyakiti hati gadis itu beberapa saat yang lampau.

“Mudah-mudahan segalanya dapat berlangsung daegan baik dan tidak menumbuhkan akibat yang sebaliknya” berkata Mahisa Bungalan kepada diri sendiri.

Namun ketika menjelang dini hari. justru ia sempat tertidur beberapa saat. Tetapi ia tetap digelisahkan oleh mimpi-mimpi yang muram.

Ketika cahaya fajar mulai membayang di langit, maka padepokan Watu Kendengpun, telah terbangun. Mahisa Agni, Ki Watu Kendeng dan Mahisa Bungalan telah bersiap-siap untuk pergi ke padepokan Kenanga. Mereka merencanakan apabila mungkin, perang tanding dapat diselenggara kan pada hari itu juga. Kecuali jika Ken Padmi bermaksud lain.

Dalam pada itu, ternyata berita bahwa akan diselenggarakan sayembara tanding untuk yang ketiga kalinya itupun lelah tersebar. Kecuali gawar untuk batas arena masih juga terpancang di halaman, maka beberapa orang cantrik telah dengan sengaja menyiarkan kabar itu kepada orang-orang yang dijumpainya di pasar atau di tempat-tempat yang lain atas persetujuan Ken Padmi.

“Biarlah Marwantaka dan Wiranata mendengarnya” berkata Ken Padmi kepada para cantrik itu, “sehingga ia dapat mempertimbangkan, sikapku adalah sikap yang adil”

Sebenarnyalah Marwantaka dan Wiranata telah mendengar, bahwa akan berlangsung sayembara tanding untuk yang ketiga kalinya. Adapun anak muda yang akan memasuki arena adalah anak dari padepokan Watu Kendeng.

Betapa besar keinginan Marwantaka dan Wiranata untuk melihat sayembara tanding itu, namun mereka telah menahan diri untuk tidak pergi ke padepokan Kenanga, jika orang itu nanti dapat memenangkan sayembara itu, maka mereka tentu akan menjadi panas dan tidak dapat mengendalikan diri lagi. Sementara itu mereka belum siap untuk bertindak dengan tegas terhadap padepokan Kenanga dan apalagi padepokan Watu Kendeng yang jaraknya lebih jauh.

Meskipun demikian, kedua anak muda yang gagal itu telah berusaha mengirimkan orang-orangnya untuk datang dan melihat perang tanding yang akan berlangsung itu.

Sebenarnyalah, bahwa perang tanding yang akan berlangsung di padepokan Kenanga yang terakhir itu justru lebih banyak menarik perhatian karena nampaknya mempunyai latar belakang yang berbeda. Padepokan Watu Kendeng tidak datang dengan pasukan yang akan dapat membuat gaduh di padepokan Kenanga. Justru karena itu, maka orang-orang di sekitar padepokan itu merasa tidak takut untuk melihat perang tanding dalam sayembara itu.

“Perang tanding itu akan ditandai dengan bunyi kentongan apabila saatnya dimulai” berkata seorang seorang yang ingin menyaksikannya.

“Masih saja ada orang yang ingin mengambil gadis itu menjadi isterinya” jawab yang lain, “anak itu pun tentu akan dikalahkannya”

“Tetapi jika pada saatnya tidak ada juga anak muda yang dapat mengalahkannya, apakah ia tidak akan kawin seumur hidupnya?” bertanya orang pertama.

“Kau memang bodoh” jawab kawannya, “jika ada anak muda yang berkenan dihatinya, maka ia tentu akan dengan sengaja mengalah”

“Tetapi” orang yang pertama membantah lagi, “bagaimana jika terjadi sebaliknya. Orang tua yang kempong perot tetapi memiliki ilmu yang tinggi?”

“Ia dapat menolak sayembara tanding itu sendiri dengan seribu macam alasan” jawab kawannya.

“Kalau begitu, apapun yang dikehendaki gadis itu sajalah yang akan terjadi” jawab orang yang pertama.

“Belum tentu” jawab kawannya, “kita akan melihat siapa yang menang dalam sayembara tanding itu. Mungkin bukan orang yang dikehendaki. Tetapi karena Ken Padmi salah hitung, maka anak muda itu dapat mengalahkannya”

Demikianlah, maka rencana diselenggarakannya sayembara itu telah meluas, sehingga orang-orang yang ingin menyaksikannya menjadi jauh lebih banyak dari sayembara tanding yang pertama, yang diliputi oleh suasana amarah.

Dalam pada itu, iring-iringan dari Watu Kendeng pun akhirnya datang. Hanya sekelompok kecil. Ki Watu Kendeng, Mahisa Agni, Mahisa Bungalan dan dua orang cantrik. Tidak seperti kedatangan Marwantaka dan Wiranata, yang membawa pasukan seperti akan maju ke medan perang, menyerang Singasari.

Ketika Mahisa Bungalan naik pendapa, Ken Padmi yang melihatnya dari ruang dalam menjadi berdebar-debar. Tiba-tiba saja ia berlari masuk ke dalam biliknya. Hampir saja ia menjatuhkan dirinya dan menangis. Tetapi tiba-tiba ia menghentakkan kakinya sambil menggeram, “Aku sudah menantangnya dalam sayembara tanding”

Demikianlah, Mahisa Bungalan beristirahat sejenak di pendapa. Kemudian terdengar suara kentongan. Memang agak lain dengan upacara sayembara tanding sebelumnya. Nampaknya sayembara ini tidak dibayangi oleh nafsu dendam dan kebencian.

Namun sebenarnyalah, hati Ken Padmi sendiri yang bagaikan menyala oleh gejolak perasaannya. Bukan dendam, meskipun ia ingin melepaskan sakit hatinya.

“Aku akan menunjukkan kepadanya, bahwa aku mampu mengimbangi ilmunya” berkata Ken Padmi di dalam hatinya, “baru kemudian aku harus menunjukkan dengan sengaja di hadapan matanya, bahwa aku akan mengalah. Tetapi ia harus sadar, bahwa aku tidak kalah”

Sejenak kemudian, maka segala persiapan pun telah selesai. Seperti yang sudah, maka kedua orang yang akan bertanding telah memasuki arena. Ki Selabajra akan memimpin perang tanding itu, sementara dua orang lainnya akan mengamatinya, Mahisa Agni dan Witantra. Seorang lagi adalah Ki Watu Kendeng sendiri.

Ternyata bahwa orang-orang yang menyaksikan sayembara tanding itu jauh lebih banyak dari kedua pasukan Marwentaka dan Wiranata yang mengelilingi arena. Orang-orang yang menonton dan tidak berpihak itu hampir memenuhi halaman. Bahkan ada diantara mereka yang memanjat pepohonan.

Dalam pada itu, para cantriklah yang harus bekerja keras menjaga ketertiban, sementara mereka pun mendapat pesan untuk tetap berhati-hati.

Ki Selabajra tidak mengabaikan kemungkinan, bahwa Marwantaka dan Wiranata tidak dapat mengendalikan diri lagi dan berbuat sesuatu, justru ketika halaman padepokan Kenanga dipenuhi oleh orang-orang yang sedang menonton sayembara tanding.

Karena itu, maka selain para cantrik yang menjaga agar mereka yang ingin melihat sayembara tanding itu tidak mendesak gawar arena, sebagian dari mereka mengawasi keadaan di luar dinding padepokan.

Dalam pada itu. Ken Padmi dan Mahisa Bungalan sudah saling berhadapan. Sementara itu, arena pertandingan itu telah diliputi oleh suasana yang aneh. Ken Padmi hampir tidak pernah menatap wajah lawannya. Ia lebih banyak membuang pandangan matanya keluar arena, atau kepada ayahnya yang menjadi saksi dari sayembara tanding itu”

Sementara itu, Mahisa Bungalan rasa-rasanya ingin sekali menyembunyikan wajahnya dari tatapan sekian banyak pasang mata dari mereka yang menonton di pinggir arena. Seolah-olah mereka dengan wajah kecut telah me ngejeknya sebagai seorang laki-laki yang tidak tahu diri. Yang akan memaksakan kehendaknya atas seorang perempuan, sehingga ia memasuki arena perang tanding.

“Gila” geram Mahisa Bungalan. Rasa-rasanya ingin ia lari meninggalkan padepokan itu dan kembali saja ke Singasari atau melanjutkan perantauannya mencari Ki Dukut Pakering.

“Kenapa aku tidak memasuki arena perang tanding melawan Ki Dukut itu saja” Mahisa Bungalan menggeram.

Namun sejenak kemudian, ia mendengar Ki Selabajra memberikan sedikit penjelasan tentang sayembara tanding itu. Syarat-syaratnya dan ketentuan-ketentuan lainnya.

“Jika semua pihak sudah mendengar dengan jelas, maka sayembara ini dapat dimulai” berkata Ki Selabajra.

“Aku dapat menjadi gila” tiba-tiba saja Mahisa. Bungalan menggeram.

“Kenapa?” desis Ki Watu Kendeng.

“Semua mata memandang kepadaku, “ jawabnya.

Tidak hanya kepadamu, tetapi ke dalam arena ini” sahut Ki Watu Kendeng.

“Tetapi mereka tentu menganggap aku laki-laki tamak. Kenapa aku harus merampas cinta seorang perempuan dengan cara yang gila ini” Mahisa Bungalan hampir kehilangan pengendalian diri.

“Ini adalah syarat untuk mendapatkannya” jawab Ki Watu Kendeng.

“Jika aku menang, aku pun akan diejek sebagai seorang laki-laki yang telah memperkosa hak dan cinta seorang perempuan” berkata Mahisa Bungalan, “tetapi jika aku kalah, maka harga diriku sebagai seorang laki-laki tidak akan berarti apa-apa lagi”

“Jangan berpikir seperti itu Mahisa Bungalan” berkata Ki Watu Kendeng, “yang penting adalah masalah kalian berdua dapat terpecahkan. Jangan ingkari perasaan sendiri. Kalian berdua saling mencintai. Carilah jalan untuk melampaui batas yang menjadi jarak antara kalian berdua, yangan hiraukan kata orang lain. Yang penting kalian menemukan hari depan yang baik dan hidup saling mencinta”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam. Ketika ia memandang Ken Padmi, nampaknya gadis itu benar-benar telah siap menghadapinya.

“Lakukanlah. Kau memang harus menebusnya dengan pengorbanan. Pengorbanan itu adalah perasaan yang bergejolak di dalam hatimu sekarang ini” berkata Ki Watu Kendeng.

Alangkah segannya. Tetapi Mahisa Bungalan pun kemudian melangkah pula maju ke tengah arena. Ketika terpandang olehnya wajah Ken Padmi, hampir saja ia berteriak sekali lagi, kemudian lari dari arena.

Tetapi ia tidak dapat melakukannya, karena Ken Padmi telah bersiap menghadapinya.

Sikap Mahisa Bungalan yang penuh dengan kebimbangan itu ternyata mendapat penilaian yang salah dari Ken Padmi. Ken Padmi yang pernah merasa disakiti hatinya itu menganggap, bahwa Mahisa Bungalan justru dengan sengaja menganggapnya tidak berarti apa-apa di arena, sehingga ia pun sama sekali tidak bersiaga.

Karena itu, maka Ken Padmi lah yang mulai dengan jantung yang panas.

Sebelum Mahisa Bungalan benar-benar menguasai diri, Ken Padmi justru sudah mulai menyerangnya. Terlalu cepat dan tiba-tiba, sehingga Mahisa Bungalan yang tidak bersiaga itu sama sekali tidak dapat mengelak. Bahkan betapa terkejut ia medapat serangan yang tiba-tiba dan demikian cepatnya.

Ken Padmi yang ingin menunjukkan kemampuannya setelah ia menempa diri selama sebulan itu pun, telah mengerahkan segenap tenaga dan kemampuannya. Tenaga cadangannya telah dihentakkannya, sehingga serangan itu benar-benar merupakan serangan yang sangat dahsyat.

Mahisa Bungalan yang belum bersiap dan tidak menduga, bahwa kemajuan Ken Padmi sudah demikian pesatnya, terkejut bukan buatan. Serangan itu ternyata telah mampu melemparkan Mahisa Bungalan sehingga Mahisa Bungalan jatuh berguling di tanah.

Adalah diluar sadar, bahwa tiba-tiba saja penontonpun bersorak gemuruh. Penonton ini memang berbeda dengan orang-orang yang mengerumuni arena pada sayem bara tanding yang terdahulu.

Hentakan rasa sakit, kejutan dan sorak penonton itu telah membangunkan Mahisa Bungalan. Seolah-olah terdengar satu teriakan ditelinganya, bahwa ia berada di dalam arena perang tanding.

Karena itulah, maka tiba-tiba saja ia pun merasa harus menyesuaikan diri dengan keadaan itu.

Dengan demikian, maka Mahisa Bungalan pun mulai memperhitungkan geraknya. Ia sadar, bahwa lawannya akan mempergunakan segenap kesempatan. Demikian ia tegak, maka serangan berikutnya pun akan datang secepat serangan pertama.

Karena itu, maka Mahisa Bungalan pun segera menyesuaikan dirinya dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Perhitungan Mahisa Bungalan ternyata tepat. Demikian ia tegak, maka serangan Ken Padmipun telah meluncur dengan cepat dan kekuatan yang dahsyat, sebagaimana ia menyerang sebelumnya.

Tetapi yang kemudian terkejut adalah Ken Padmi. Serangannya sama sekali tidak menyentuh lawannya, karena Mahisa Bungalan telah bersiap sepenuhnya. Demikian ia tegak, maka demikian ia bergeser menghindar.

Justru karena serangan yang dilontarkan dengan sepenuh tenaga namun tidak mencapai sasarannya, maka Ken Padmi telah terdorong oleh tenaganya sendiri beberapa langkah.

Dengan gerak naluriah, Mahisa Bungalan hampir saja meloncat menyusulnya dengan serangan balasan. Tetapi untunglah ia sempat menahan diri, sehingga ia hanya berkisar saja justru mendekat.

Ternyata Ken Padmi pun mampu bergerak cepat. Demikian ia terdorong oleh kekuatannya sendiri, maka iapun segera memperbaiki keseimbangan dan meloncat tegak menghadapi serangan lawan.

Tetapi Mahisa Bungalan tidak menyerang, Ia pun justru sedang bersiap untuk menghadapi serangan.

Sejenak keduanya saling berdiri mematung. Namun Ken Padmi lah yang kemudian bergeser mendekat, siap untuk melancarkan serangan berikutnya, sementara Mahisa Bungalan lebih banyak menunggu.

Namun dalam pada itu, Mahisa Bungalan pun melihat kemajuan yang luar biasa pada gadis itu, hanya dalam waktu satu bulan. Di bawah asuhan kedua orang pamannya, yang termasuk orang-orang aneh dalam dunia kanuragan, maka Ken Padmi merupakan seorang gadis yang luar biasa.

Mahisa Bungalan tidak sempat merenung lebih panjang. Ken Padmi telah melontarkan serangan berikutnya. Serangan dengan kaki mengarah lambung. Tetapi ketika Mahisa Bungalan berkisar, maka Ken Padmi pun meloncat dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Dengan tangan kanan Ken Padmi menyerang kening, sementara tangan kirinya melindungi dadanya.

Mahisa Bungalan terkejut. Bukan karena ia tidak mampu bergerak secepat itu, tetapi ternyata Ken Padmi benar-benar seorang gadis yang lincah, cepat dan cerdas.

Namun demikian serangan-serangan Ken Padmi berikutnya seolah-olah sama sekali tidak berhasil menyentuh sasarannya. Bagaimanapun ia berusaha, dengan kecepatan yang tidak dapat diikuti oleh setiap penonton diseputar arena, namun serangan-serangan itu sama sekali tidak berhasil mengenai lawannya.

Jantung Ken Padmi mulai bergejolak. Ia belum merasakan lawannya menyerangnya. Ia sadar, bahwa Mahisa Bungalan baru berusaha mengelak terus betapapun dahsyatnya serangan yaiig datang kepadanya.

“Gila” geram Ken Padmi, “anak ini mampu mengimbangi kecepatan gerakku”

Dengan demikian Ken Padmi berusaha untuk meningkatkan kemampuannya sampai batas tertinggi. Dikerahkan segenap tenaganya untuk menekan lawannya yang ingin dipaksanya untuk melihat, bahwa Ken Padmi memiliki kelebihan daripadanya, meskipun kemudian dengan sengaja Ken Padmi akan mengalah. Dan ia harus yakin bahwa Mahisa Bungalan mengerti, bahwa Ken Padmi sengaja mengalah.

Namun ternyata, bahwa Ken Padmi tidak segera berhasil. Ternyata serangannya tidak mematahkan perlawanan Mahisa Bungalan yang justru lebih banyak mengelak dan mengelak.

Tetapi justru karena itu, perlawanan Mahisa Bungalan itu telah menimbulkan kejengkelan pada Ken Padmi, seolah-olah Mahisa Bungalan sekedar melayaninya tanpa berbuat sesuatu.

Demikianlah perkelahian itu berlangsung semakin cepat. Tetapi dengan demikian, jantung Ken Padmi pun menjadi semakin bergejolak. Kemarahannya telah menyala membakar perasaannya. Namun ia tidak dapat ingkar dari sifat seorang gadis. Ketika kemarahannya memuncak dan ia merasa tidak mampu berbuat lebih banyak, maka matanya menjadi panas. Maka rasanya Ken Padmi ingin berteriak dan menjerit sekuat-kuatnya untuk melepaskan pepat di dadanya.

Ki Selabajra menjadi gelisah melihat sikap Mahisa Bungalan Dengan demikian, maka Ken Padmi tentu akan terpanggang oleh api kemarahannya yang tertahan di dalam dadanya.

Untunglah Mahisa Agni dan Witantrapun melihat pula gejolak perasaan gadis itu. Meskipun mereka pun tahu, bahwa Mahisa Bungalan yang tersinggung oleh tantangan gadis itu ingin melepaskan kejengkelannya pula dengan sikapnya. Namun sikap itu tidak menguntungkannya.

Karena itu, maka pada kesempatan khusus, Witantra sempat berbisik, “Jangan kau sakiti lagi hatinya yang sudah terluka”

Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Namun nampaknya ia mengerti. Beberapa saat ia masih tetap bimbang. Ia ingin meihat Ken Padmi itu tidak lagi mampu berbuat sesuatu karena kehabisan tenaga, tanpa membalas serangan-serangannya. Seolah-olah dengan sangaja ia ingin menunjukkan, bahwa tanpa membalas dengan satu serang-anpun, ia dapat memenangkan sayembara tanding itu.

Namun akhirnya Mahisa Bungalan pun mempertimbangkan pendapat Witantra itu. Bahkan kemudian sambil menarik nafas panjang ia berdesis kepada diri sendiri, “Aku memang harus memberikan terlalu banyak pengorbanan bagi gadis bengal ini”

Dengan demikian, Mahisa Bungalan pun telah merubah caranya. Ketika Ken Padmi yang dibakar oleh kejengkelan yang memuncak, sehingga serangan-serangannya menjadi semakin tidak terarah, mulailah Mahisa Bungalan membalas serangan lawannya itu dengan serangan-serangan pula. Bahkan Mahisa Bungalan mulai menunjukkan, betapa ia mulai diganggu oleh keletihan sehingga kemampuannya mulai menjadi susut.

Keadaan dan sikap Mahisa Bungalan itu ternyata telah menarik perhatian Ken Padmi yang hampir menjadi putus asa dan berteriak untuk melepaskan kejengkelannya, justru karena ia seorang gadis.

Tiba-tiba saja ia melihat bahwa Mahisa Bungalan mulai terengah-engah, “Aku harus bertahan” berkata Ken Padmi di dalam hatinya.

Dengan demikian, maka Ken Padmi mulai mengatur tata geraknya yang sudah mulai tidak terarah itu. Ia berusaha untuk berlahan, sementara lawannya mulai kelelahan.

Namun dalam pada itu, serangan-serangan Mahisa Bungalan mulai mengejarnya. Meskipun gerak Mahisa Bungalan menjadi semakin lamban, tetapi ia tidak hanya sekedar menghindar saja, tetapi ia sudah mulai menyerang.

Tetapi dengan demikian. Ken Padmi tidak lagi merasa seolah-olah Mahisa Bungalan telah manghinanya. Seolah-olah Mahisa Bungalan akan dapat mengalahkannya tanpa berbuat apa-apa.

Tetapi sejenak kemudian. Ken Padmi pun tidak lagi dapat mengingkari kenyataan. Meskipun Mahisa Bungalan menjadi semakin lelah, tetapi Ken Padmi tidak dapat bertahan sambil menunggu Mahisa Bungalan kehabisan tenaga karena kelelahan. Sementara itu. Ken Padmi pun telah menjadi sangat letih, sehingga gerakannya menjadi sangat terbatas.

Meskipun demikian, harga diri gadis itu sama sekali tidak susut. Itulah sebabnya, maka Ken Padmi masih tetap berusaha untuk tegak dan memberikan perlawanan.

Namun akhirnya, Ki Selabajra yang melihat keadaan itu berkata, “Apakah aku sudah dapat menjatuhkan keputusan?”

“Tidak” Ken Padmilah yang berteriak, “aku belum kalah”

Ki Selabajra masih akan berkata lagi. Tetapi semua orang yang berdiri di seputar arena itu terkejut bukan buatan. Adalah diluar dugaan, bahwa tiba-tiba saja dengan kecepatan yang tarsisa, Ken Padmi telah menarik pedang di lambung Ki Watu Kendeng yang sama sekali tidak menyangkanya. Ia terlambat mencegahnya, sehingga semua orang menegang melihat pedang di tangan Ken Padmi.

“Aku akan bertempur dengan senjata” geram gadis itu.

“Ken Padmi” Ki Selabajra menjadi gemetar, “kau sudah gila”

“Aku akan berperang tanding sampai mati” teriak gadis itu.

“Itu di luar ketentuan” jawab Ki Selabajra, “kau tidak boleh melanggar ketentuan yang sudah saling disetujui. Itu namanya curang. Dan isi padepokan Kenanga sama sekali tidak boleh melakukan kecurangan”

“Aku tidak peduli” jawab Ken Padmi, “aku tantang orang itu untuk bertempur dengan senjata sampai mati”

Mahisa Bungalan menjadi berdebar-debar. Dipandanginya Witantra, Mahisa Agni dan orang-orang tua lainnya di pinggir arena itu dengan tatapan mata penuh kebimbangan.

“Ken Padmi” berkata Ki Selabajra kemudian, “apakah kau memaksa untuk melakukan hal itu?”

“Ya” jawab Ken Padmi singkat.

Ki Selabajra menarik nafas dalam-dalam. Tetapi nampak di sorot matanya kemarahan yang membara. Karena itu, maka ketika ia tidak dapat menahan hati lagi, katanya kepada Mahisa Bungalan, “Terserah kepadamu ngger. Ken Padmi sudah melanggar ketentuan yang berlaku. Ia sudah berbuat salah. Jika terjadi sesuatu atasnya, maka ia tidak lagi dilindungi oleh ketentuan yang manapun juga”

“Ayah” desis Ken Padmi

Namun demikian, ternyata gadis itu tidak melangkah surut Sejenak ia memandang ayahnya, namun kemudian katanya kepada Mahisa Bungalan, “Aku tantang kau berperang tanding sampai mati”

Namun jawaban Mahisa Bungalan mengejutkan sekali. Katanya, “Aku tidak akan melakukannya. Aku datang untuk memasuki sayembara. Itupun dengan hati yang berat, karena aku sebenarnya menolak sayembara tanding seperti ini. Perkawinan hanya dapat berlangsung dengan baik, apabila perkawinan itu dialasi dengan cinta yang mendalam. Bukan karena satu kebetulan kalah atau menang di arena. Karena itu, sebenarnya aku sudah tidak lagi bernafsu untuk memasuki sayembara tanding. Jika aku menang, maka aku mendapatkan seseorang karena kemenanganku, bukan karena kita saling mencintai. Apalagi dengan perang tanding sampai mati. Apalagi artinya bagiku. Sekedar membunuh atau dibunuh? Aku sudah terlalu banyak membunuh. Kematian seorang gadis di arena tidak akan menambah semarak namaku sebagai seorang kesatria”

“Sombong” bentak Ken Padmi sambil meloncat. Tiba-tiba saja ia sudah menjulurkan pedangnya den menyentuh pundak Mahisa Bungalan, sehingga pundak itu terluka.

Tetapi Mahisa Bungalan sama sekali tidak beranjak dari tempat. Sentuhan pedang itu sama sekdli tidak dihiraukannya.

Ken Padmi terkejut melihat luka itu. Tetapi sekali lagi ia didesak oleh harga dirinya sehingga ia membentak, “Cepat, cari senjata. Melawan atau tidak melawan, aku akan membunuhmu”

“Aku tidak peduli” jawab Mahisa Bungalan, “penonton yang meluap di halaman ini akan menjadi saksi. Yang terjadi di arena ini kematian atau pembunuhan yang licik. Betapa bodohnya mereka namun mereka akan dapat membedakannya”

“Cukup, cukup” teriak Ken Padmi yang sekali lagi mengacukan senjata ke leher Mahisa Bungalan, “ambil senjata apa saja. Lawan aku berperang tanding. Cepat. Jangan menjadi seorang pengecut yang takut melihat mayat terbujur di arena”

“Aku sudah berpuluh kali melihat mayat terbujur mati. Bahkan sudah berpuluh kali aku membunuh” jawab Mahisa Bungalan, “tetapi kedatanganku kemari bukan untuk membunuh meskipun untuk sayembara tanding pun sebenarnya aku sudah segan melakukannya. Karena itu, jika kau bernafsu untuk berbuat sesuatu lakukan. Aku tidak memerlukan apa-apa lagi disini. Semuanya sudah selesai bagiku”

Wajah Ken Padmi menjadi merah padam. Ternyata Mahisa Bungalan sama sekali tidak menanggapinya. Dibiarkannya kegilaannya membakar kepalanya sehingga akhirnya, Ken Padmi itu menjerit sekeras-kerasnya sambil membantingkan pedangnya. Kemudian iapun berlari memeluk ayahnya yang berdiri di tepi arena sambil menangis. Ia tidak menghiraukan penonton yang melimpah di halaman itu. Ia tidak menghiraukan siapapun juga.

Tetapi nampaknya penonton pun memakluminya. Seolah-olah penonton itu mengerti, perasaan yang bergejolak di dalam jantung gadis itu. Gadis yang sebenarnya mencintai anak muda yang mengalahkannya. Namun harga diri yang meronta di dalam dadanya menuntutnya untuk berbuat diluar nalarnya. Tetapi akhirnya gadis itu terbanting ke dalam perasaannya yang sejati. Ia mencintai Mahisa Bungalan.

Ki Selabajra pun kemudian memeluk anak gadisnya pula. Sambil mengusap rambutnya ia berkata, “Sudahlah Ken Padmi. Jangan menangis. Kau berada di arena. Sebaiknya kau berani melihat ke dalam hatimu sendiri. Jangan mencoba mengingkari perasaan yang sebenarnya sudah membelenggumu. Aku tahu, kau mencintai anak muda itu. Dan anak muda itu pun mencintaimu. Tetapi kalian berdua adalah anak-anak muda yang mempunyak harga diri yang berlebih-lebihan sehingga kalian tidak lagi dapat melihat perasaan sendiri dengan bening”

Ken Padmi masih menangis. Tetapi ia berusaha untuk menahannya, sehingga justru ia menjadi terisak. Nafasnya bagaikan menyumbat kerongkongannya.

Dalam pada itu, maka para penonton sayembara tanding itupun rasa-rasanya telah melihat satu penyelesaian. Justru sebagian besar dari mereka menarik nafas dalam-dalam. Mereka puas dengan penyelesaian yang baik, karena mereka yakin, bahwa keduanya akan dapat hidup berpasangan pada saat-saat mendatang.

Sebenarnyalah hubungan perasaan antara Ken Padmi dan Mahisa Bungalan melampaui masa-masa yang aneh. Keduanya sedang saling mencintai. Tetapi hubungan. merka justru terbentuk seolah-olah mereka adalah musuh bebuyutan.

Sementara itu Mahisa Agni pun kemudian mendekati Mahisa Bungalan dan berdesis, “Kau teriuka”

Mahisa Bungalan mengusap lukanya dengan tangannya. Terasa darah yang hangat masih mengalir.

Sambil memungut pedangnya yang dibanting oleh Ken Padmi Ki Watu Kendeng pun mendekati Mahisa Bungalan sambil berkata, “Meskipun tidak dalam, lukamu perlu diobati”

Mahisa Bungalan mengangguk. Sementara itu, Ki Selabajra sedang membujuk anaknya untuk masuk ke ruang dalam.

“Ki Watu Kendeng” berkata Ki Selabajra, “tolong, umumkan bahwa sayembara ini telah selesai”

Dengan demikian, secara resmi, Ki Watu Kendenglah yang kemudian menutup sayembara tanding itu. Katanya, “Gadis itu sudah tidak mampu melawan lagi, apapun alasannya. Karena itu, maka perang tanding ini sudah dinyatakan selesai. Anak muda ini telah memenangkan sayembara ini, dan ialah yang berhak untuk memetik akibat dari kemenangannya seperti yang sudah ditentukan”

Orang-orang yang merasa tegang selama menyaksikan pertempuran di arena itu rasa-rasanya sempat menarik nafas panjang. Dada mereka yang bagaikan menyesak itupun rasa-rasanya menjadi longgar dan mereka pun bergumam diantara mereka, “Sukurlah. bahwa sayembara ini akhirnya selesai dengan damai”

Dalam pada itu Kl Selabajrapun telah mengajak Ken Padmi masuk ke ruang dalam. Ia sama sekali tidak menyinggung tentang kekalahannya. Tetapi dibimbingnya Ken Padmi masuk ke dalam biliknya. Katanya, “Sudahlah. Bergantilah dengan pakaianmu sehari-hari. Semuanya sudah berlalu. Dan kau adalah seorang gadis yang menjadi dewasa”

Masih ada isak yang tersisa. Tetapi hati Ken Padmi sudah menjadi agak tenang, la tidak lagi dihentak-hentakkan oleh perasaannya yang sulit dikendalikan lagi.

Di bagian lain dari padepokan itu, Mahisa Agni, Witantra dan Ki Watu Kendeng duduk menunggui Mahisa Bungalan yang sedang membenahi pakaiannya, setelah luka-lukanya diobati. Ki Watu Kendeng yang kemudian memberikan semangkuk minuman kepadanya berkata, “Jalanmu memang agak terjal agger. Tetapi akhirnya kau sampai juga ke tujuan. Namun justru karena hubunganmu yang aneh dengan Ken Padmi ini, agaknya pada masa mendatang kau akan menemui masa-masa yang cukup cerah”

“Mudah-mudahan Ki Watu Kendeng” gumam Mahisa Bungalan. Sebenarnyalah ia masih belum tenang sepenuhnya. Masih ada tersisa penyesalan atas sikap Ken Padmi. Namun akhirnya, iapun berusaha untuk menganggapnya hal itu tidak pernah terjadi.

Namun dalam pada itu, selagi Mahisa Bungalan dan Ken Padmi menemukan ketenangannya kembali, beberapa orang yang keluar dari halaman padepokan setelah segalanya selesai, tengah berbicara dengan geram.

Seorang yang berwajah keras, berkumis lebih berkata, “Marwantaka tidak akan membiarkan segalanya ini terjadi. Ia tidak berdiri sendiri. Kawan-kawannya dari berbagai padepokan cukup banyak jika ia memang akan mengambil tindakan atas padepokan Kenanga yang nampaknya bekerja bersama padepokan Watu Kendeng”

Ternyata bukan saja para pengikut Marwantaka yang tidak puas dengan akhir dari sayembara tanding itu. Tetapi juga para pengikut Wiranata. Dengan demikian berarti bahwa baik Marwantaka atau pun Wiranata tidak lagi mendapat kesempatan untuk dapat mengambil Ken Padmi untuk dijadikan isteri salah seorang dari mereka.

Yang sama sekali tidak terduga-duga adalah justru ketika kedua kelompok itu bertemu. Mereka seolah-olah merasa bersama-sama terlempar ke dalam satu nasib yang buruk. Kedua, kelompok itu merasa, bahwa mereka sama-sama tidak mendapat tempat di padepokan Kenanga.

Karena itu, maka kedua kelompok itu justu menemukan sentuhan perasaan yang sama.

“Dendam Kami akan membuat Ki Selabajra menjadi menyesal” berkata seseorang pengikut Marwantaka, yang kemudian disahut oleh seorang pengikut Wiranata, “Kami pun akan berbuat demikian. Padepokan Kenanga akan menjadi karang abang”

“He” berkata pengikut Marwantaka, “kenapa hal ini tidak kita sampaikan saja kepada mereka yang berkepentingan. Marwantaka dan Wiranata. Biarlah keduanya mempertimbangkan untuk menebus kekecewaan mereka. Daripada mereka berdua tidak memilikinya, maka lebih baik bunga yang sedang mekar itu digugurkan saja sama sekali”

“Ya. Tentu keduanya akan sependapat” jawab pengikut Wiranata.

Ternyata pikiran itu telah dikembangkan. Kedua pihak telah menyampaikan persoalan itu kepada orang-orang yang berkepentingan. Kawan-kawan Marwantaka yang ingin menunjukkan kemampuan mereka setelah berguru beberapa lamanya, merasa mendapat jalur penyaluran. Sementara itu orang-orang di pihak Wiranata pun kecewa bahwa mereka tidak akan mendapat upah seperti yang dijanjikan jika mereka tidak berbuat apa-apa. Dengan usaha menghancurkan padepokan Kenanga, maka mereka akan tetap mendapat upah, meskipun tidak sebanyak janji Wiranata semula.

Kepentingan yang bertemu itu telah memungkinkan kedua belah pihak merencanakan untuk membuat padepokan Kenanga menjadi debu. Mereka merencanakan menghancurkan padepokan itu dan menggugurkan sama sekali bunga yang sedang mekar di taman padepokan Kenanga itu.

Namun dalam pada itu, secara naluriah, orang-orang di padepokan Kenanga pun merasa bahwa kemungkinan yang buruk itu akan dapat terjadi. Karena itu, maka mereka tidak tenggelam ke dalam keselarasan yang telah mereka ketemukan, justru setelah mereka mengalami ketegangan yang memuncak. Namun mereka tetap berbenah dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Sementara itu, ternyata peristiwa yang terjadi di padepokan Kenanga itu telah mendapat perhatian dari seseorang yang namanya semakin-lama menjadi semakin menggetarkan. Seseorang menjadi segan untuk mengucap-kannya, seolah-olah mereka telah menyebut nama hantu yang paling menakutkan. Orang itu adalah Ki Dukut Pakering.

Peristiwa yang terjadi di padepokan Kenanga itu telah menarik perhatiannya pula. Ia yang hampir melupakan padepokan itu, ketika mendengar berita tentang sayembara tanding, tiba-tiba telah teringat akan pengkhianatan Ki Selabajra yang ingkar akan janjinya di padepokan Ki Kasang Jati.

“Orang itu memang sombong” berkata Ki Dukut, “bagaimana mungkin seorang seperti Ki Selabajra berani menyelenggarakan sayembara tanding”

Apapun yang menjadi taruhan, rasa-rasanya Ki Dukut ingin memasuki arena sayembara tanding itu. Namun ia pun kemudian mendengar berita bahwa sayembara tanding itu sudah dimenangkan oleh seorang anak muda yang tidak banyak dikenal di sekitar padepokan Kenanga itu sendiri.

Bahkan akhirnya Ki Dukut yang seakan-akan diluar kemauannya sendiri telah mendekati padepokan Kenanga itu, telah mendengar pula buhwa dua orang anak muda menjadi sakit hati karenanya dan telah bersepakat untuk melepaskan sakit hatinya itu.

“Menyenangkan sekali” berkata Ki Dukut, “aku akan bergabung dengan mereka untuk membuat padepokan kecil itu menjadi debu. Aku akan mendapat sedikit hiburan atas kegagalan-kegagalan yang selama ini aku alami, sehingga untuk beberapa lama aku justru harus bersembunyi”

Karena itu, maka Ki Dukut pun segera berusaha mencari hubungan dengan dua orang anak muda yang sedang kecewa itu. Tetapi seperti yang pernah dilakukan, Ki Dukut ternyata mempunyai caranya tersendiri.

Ia berniat untuk membuat kejutan-kejutan, sehingga kedua anak muda itu mempercayainya, bahwa ia akan dapat membantu mereka, dan melumatkan semua kekuatan yang ada di padepokan itu.

“Tidak ada orang yang dapat menghalangi aku di daerah ini” berkata Ki Dukut di dalam hatinya.

Karena itu, maka ia pun telah berusaha untuk dapat bertemu dengan salah seorang dari kedua orang anak muda yang sedang kecewa dan berusaha untuk membalas dendam itu.

Alangkah gembira hati Ki Dukut ketika ia mendengar kabar bahwa kedua orang anak muda itu telah merencana kan satu pertemuan di sebuah ara-ara sempit di sebelah hutan kecil yang sering menjadi daerah perburuaan anak-anak muda. Kedua anak muda itu akan membicarakan, apakah yang paling baik mereka lakukan untuk melepaskan dendam mereka.

“Aku akan hadir di pertemuan itu” berkata Ki Dukut di dalam hatinya, “aku akan meyakinkan mereka, bahwa aku akan dapat berbuat apa saja yang aku ingini atas padepokan itu. Bahkan seandainya aku akan mengambil gadis yang sedang diperebutkan itu Tetapi nampaknya lebih senang melihat api yang menjilat langit memusnahkan seluruh isi padepokan itu. termasuk orang-orang yang sombong dan berkhianat itu.

Demikianlah seperti yang didengar oleh Ki Dukut, sebenarnyalah Marwantaka dan Wiranata atas dorongan dari kawan-kawan mereka telah bersepakat untuk bertemu. Mereka akan membicarakan satu rencana untuk menghancurkan padepokan Kenanga yang telah membuat hati mereka menjadi sangat pahit atas kekalahan yang pernah mereka alami dari seorang gadis yang bernama Ken Padmi, seorang gadis yang sebenarnya ingin mereka jadikan isteri dari salah seorang di antaranya.

Pada waktu yang sudah dijanjikan, maka Marwantaka dan Wiranata benar-benar telah hadir di ara-ara itu bersama dengan beberapa orang kawan-kawan mereka. Karena sebelumnya mereka telah bermusuhan, maka keduanya memerlukan waktu untuk saling menyesuaikan diri.....

Bersambung.... !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...