12
PERSAHABATAN
"Anda baca berita di The Edinburgh Morning hari ini?"
"Belum. Saya baca The Guardian." Fahri menjawab panggilan telpon Tuan Taher dengan memakai earphone. Kedua tangannya dengan tenang memegang kemudi. Hari itu Paman Hulusi ia minta berjaga di rumah. Ia khawatir Keira tidak hanya memecahkan kaca rumahnya tapi juga kaca rumah tetangganya. Ia tidak tahu persis apa yang sesungguhnya terjadi pada Keira. Apakah Keira gadis remaja
yang normal atau ada sesuatu yang mengganggu pikirannya? Misbah duduk di sampingnya. Mereka meninggalkan Stoneyhill dan terus ke utara menuju pusat Musselburgh.
"Mohon sempatkan membaca The Edinburgh Morning. Lihat websitenya. Ada berita yang pernah Anda khawatirkan ? Saya ingin bicara dengan Anda, jika berkenan saya traktir makan siang."
"Boleh. Tapi mohon maaf Tuan Taher, saya ada waktu setelah shalat ashar."
"Oh okay. Itu pas sekali. Jam 16.30 saya tunggu di Eastfield Restaurant ya?"
"Di mana itu Tuan Taher."
"Ada di The Rockville Hotel, Midlothian. Tepat di pinggir pantai."
"Baik. Insya Allah saya kesana."
"Kita jumpa di sana, insyaAllah."
Mobil SUV yang dikendarai Fahri sampai di Bundaran Madisons Musselburgh. Biasanya Fahri terus ke utara menyusuri Newhailes Road. Di pojok Newhailes itulah berdiri bangunan minimarket dan resto Agnina miliknya. Namun kali ini Fahri memilih membelokkan mobilnya ke selatan hingga menyeberangi sungai Esk. Lalu menyusuri Olive Bank Road yang memanjang disebelah selatan sungai Esk.
Misbah begitu menikmati pemandangan kota Musselburgh itu.
"Ini kita jalan-jalan Mas,nggak ke Agnina?"
"Untukmu anggap saja jalan-jalan Bah. Untukku ini cari lokasi untuk membuka bisnis baru."
"Mau bisnis apa lagi Mas? Bikin cabang Agnina?"
"Bukan. Mau bikin restaurant khas Skotlandia tapi yang halal."
Hampir satu jam Fahri menjelajah jalan-jalan kota Musselburgh. Kini Fahri menyusuri New Street dari arah timur ke barat. Ia mengemudikan mobilnya dengan pelan dan santai. Mobil putih itu melewati Harbour Cafe yang menghadap Fisherrow Harbour, Fahri terus melanjutkan mobilnya ke barat hingga
belok dan bertemu Edinburgh Road. Kali ini Fahri kembali ke timur menyusuri Edinburgh Road hingga masuk New High Street.
"Lihat Bah di jalanan ini, ada berapa banyak resto dan cafenya?" Gumam Fahri. Misbah jadi
memperhatikan dengan seksama resto dan cafe yang ada di sepanjang jalan itu. Fahri melihat Resto Dominos.
"Bah tolong foto resto itu berikut gedung di sampingnya!"
"Baik Mas."
Mobil terus melaju hingga sampai Bridge Street ketika mau sampai sungai Esk lagi, Fahri belok kanan menyusuri jalanan Eskside. Ketika melihat ada bangunan dijual atau disewakan, Fahri memelankan mobilnya dan meminta Misbah memfotonya dengan smartphonenya. Sampai di New Street Fahri belok
kiri.
"Kita balik lagi ke jalan ini Mas. Tadi jalan ini perasaan sudah kita lalui."
"Benar. Sekali lagi tadi aku lihat sebuah lokasi yang kelihatannya bagus. Untuk meyakinkan Iagi saja."
Mereka terus ke barat. Setelah melewati persimpangan Lonchend Road Fahri melihat ke kiri dan mengamati sebuah bangunan yang dijual. Fahri minta Misbah memfotonya. Fahri lalu menambah kecepatan laju mobilnya.
"Sudah lapar ya Bah?"
"Banget."
"Semakin lapar kita akan semakin nikmat makannya, Bah."
"Coba tulis kalimat itu dan pasang didinding restonya Mas Fahri. Akan bikin pengunjung pada lari."
"Ha ha ha. Bisa saja kamu Bah."
Tiba-tiba Fahri menyimpangi anak remaja yang berjalan sendirian. Fahri seperti kenal. Fahri menepi dan menghentikan mobilnya dan menunggu anak remaja itu berjalan ke arah mobilnya. Dari spion iabisa melihat anak remaja yang semakin mendekat. Wajahnya tampak cuek. Itu adalah Jason.
"Hei Jason!" Sapa Fahri ketika anak itu berada tepat disamping mobilnya. Jason menghentikan langkahnya dan melihat ke arah orang yang menyapa.
"Hai!" Jawab Jason dengan muka cuek.
"Mau ke mana?"
"Pulang."
"Bukannya biasanya kamu pulang sore?"
"Ini bukan urusanmu!"
"Mau aku traktir makan siang lalu aku antar pulang?"
"Jangan ganggu aku!"
"Ok. Maaf kalau ini mengganggumu. Bye!"
Fahri menjalankan kembali mobilnya dan kali ini ia langsung fokus menuju gedung bercat cokelat di pojok Newhailes Road. Seperti biasa, Fahri langsung keruang rapat. Mose Abdelkerim langsung menemui Fahri dan menanyakan apa yang bisa dia bantu. Fahri minta disiapkan makan dua porsi. Mose
Abdulkerim mengangguk dan pergi. Misbah melihat bagaimana anak buah Fahri begitu takzim sama Fahri.
Fahri langsung membuka smartphonenya dan membuka The Edinburgh Morning. Fahri langsung menemukan berita yang dimaksud Tuan Taher. Fahri mengerutkan kening membaca berita itu. Foto dibawah judul besar yang memojokkan komunitas muslim itu adalah seorang perempuan berjilbab bermuka buruk berdiri di pinggir jalan dengan selembar tulisan di dada: I‟m homeless! Help me! Itu
adalah foto perempuan yang sering meminta-minta di depan Edinburgh Central Mosque.
"Bah baca ini! Ada panggilan dakwah untuk kita!" Fahri mengulurkan smartphone pada Misbah yang duduk di depannya. Misbah menerima smartphone itu dan membacanya.
"Ajaran Nabi kan jelas, yaitu melarang umatnya mengemis. Ini yang sebagian umat kita belum faham" Kata Fahri.
"Memahamkan mereka tidak cukup hanya dengan ceramah di masjid Bah. Mereka mungkin sudah berkali-kali dengar. Yang paling penting adalah menunjukkan jalan kepada mereka bagaimana caranya mendapatkan rizki melimpah dan barokah sehingga tidak jadi peminta-minta. Jiwa seperti Abdurrahman bin Auf harus dihidupkan dalam diri umat Bah."
"Tahun lalu saya keliling Eropa. Dari Perancis, Belgia, Belanda, dan Jerman. Saya miris mas. Di kota-kota besar seperti Paris, Brussel, Amsterdam, Cologne, Muenchen, Itu saya menemui banyak pengemis yang boleh saya katakan sepanjang yang sama temui kok hampir semuanya muslim. Mereka pakai jilbab
tapi minta-minta di Paris. Katanya mereka banyak dari Eropa Timur dan Balkan. Ada juga imigran dari Maroko dan Tunisia. Malah banyak diantara mereka adalah imigran gelap."
"Ini memang realita yang memprihatinkan Bah. Maka kukatakan; ada panggilan dakwah untuk kita.
Bagaimana caranya dan apa yang harus kita lakukan untuk membantu saudara-saudara kita yang sekarang masih kesusahan dan entah terpaksa entah tidak jadi pengemis itu. Kalau bukan orang-orang seperti kita yang dianggap berpendidikan siapa lagi? Kita akan sangat malu kalau saudara kita yang homeless itu terus diberitakan. Aku khawatir, kita di sini dianggap sampah sosial nantinya."
"Dengan sisa waktuku yang ada sekarang ini, yang mungkin hanya tersisa satu atau satu setengah tahun, saya siap membantu Mas Fahri, sebisa saya."
"Nanti sore kau akan aku ajak rapat dengan Tuan Taher membincangkan masalah ini."
"Siap Mas."
Mosa Abdulkerim dan Nona Ruth datang membawa dua porsi makan siang dan minuman. Keduanya meletakkan di atas meja, tepat di hadapan Fahri dan Misbah.
"Thank you very much Brother Mosa and Miss Ruth." Ucap Fahri sambil tersenyum.
Kedua anak buah Fahri itu membalas ucapan Fahri dengan tersenyum lebih lebar lalu mempersilakan Fahri menikmati makan siangnya. Misbah langsung menyesap jus mangga di hadapannya. Fahri juga melakukan hal yang sama. Keduanya lalu makan dengan lahapnya.
"Kita shalat Ashar di sini setelah itu kita meluncur menjumpai Tuan Taher di The Rockville Hotel." Ujar Fahri kepada Misbah selesai makan.
"Iya Mas. Keluarganya Tuan Taher ramah dan baik ya Mas. Terasa banget saat makan malam. Sepurane ya Mas, ngomong-ngomong Si Heba, anak Tuan Taher itu boleh juga lho. Mungkin kalau Mas Fahri lamar, mau dia."
"Bah, jangan ngomong seperti itu lagi dan tema seperti itu lagi! Bagiku cukup Aisha, nggak ada yang lain!" Nada Fahri agak marah, mukanya memerah. Misbah tahu seniornya itu sangat tidak berkenan dengan kata-katanya.
"Iya Mas, sepurane."
Tiba-tiba Madam Barbara masuk. Dengan akses Inggris Scotlandia ia memberi laporan kepada Fahri,
"Anak nakal itu masuk lagi ke minimarket ini. Tuan mau lihat apa yang dilakukannya?"
"Boleh."
"Mari ikut saya ke ruang monitor."
Fahri mengajak Misbah untuk ikut. Keduanya mengikuti Madam Barbara ke ruang monitor. Di layar monitor yang berjumlah enam itu tampak suasana di dalam minimarket. Lima kamera menangkap apa yang terjadi di dalam minimarket. Satu monitor fokus pada kasir. Empat lainnya memantau suasana minimarket dari sudut yang berbeda-beda. Sementara satu monitor menyorot sisi luar minimarket,
terutama bagian pintu masuk. Fahri mengamati dengan seksama monitor-monitor itu.
"Lihat monitor nomor dua itu Tuan." Gumam Madam Barbara. Fahri langsung melihat monitor nomor dua. Tampak seorang anak remaja sedang berada di lorong makanan kecil. Itu adalah Jason. Ia tampak melihat-lihat biscuit. Ia lalu menuju bagian cokelat batangan. Ia memegang-megang coklat itu. Fahri dan Misbah menyaksikan dengan seksama dan hati sedikit bergetar. Apa yang akan dilakukan Jason?
Apakah ia akan mengambil cokelat batangan itu dan memasukkan kedalam saku celananya lalu keluar tanpa membayar?
Jason mencium cokelat itu. Ia masukkan ke dalam celana. Fahri menggeleng seolah mengingkari apa yang dilakukan Jason.
Tiba-tiba Jason mengeluarkan kembali cokelat itu dan meletakkan pada tempatnya. Jason lalu pindah ke bagian permen. Ia mengambil permen mint dan memasukkannya ke
dalam celana. Lalu menuju bagian roti sandwich dan mengambil sepotong. Setelah itu Jason ke kasir dan hanya membayar roti sandwich.
Fahri mengontak Mosa Abdelkerim agar menangkap Jason. Di saat yang sama Fahri minta Madam Barbara untuk mengambilkan lima batang cokelat yang biasa diambil Jason.
Jason sudah keluar dengan santai meninggalkan minimarket Agnina. Seorang sekuriti diam-diam mengejarnya. Dengan tenang Jason berjalan sambil menikmati roti sandwichnya. Kira-kira 50 meter dari minimarket itu, sang sekuriti meringkus Jason.
Dengan sekuat tenaga Jason melawan tapi ia kalah tenaga. Jason mengumpat habis sekuriti itu dan mengatakan ia tidak bersalah.
"Kami akan buktikan kamu bersalah!"
"Fuck you! Aku tidak bersalah apa-apa. Aku beli sandwich dan sudah aku bayar!"
"Diam atau kami jebloskan kau ke penjara!"
Sekuriti yang bertubuh kekar itu memiting Jason dan membawanya masuk minimarket. Mosa Abdulkerim memerintahkan Jason dibawa menghadap Fahri.
"Kau harus bertemu orang paling berkuasa di minimarket ini. Biar dia yang putuskan, memaafkan kesalahanmu atau memproses kamu secara hukum!" Hardik sekuriti itu sambil membawa Jason naik ke lantai tiga.
"Dasar bodoh, aku tidak salah apa-apa! Kau salah tangkap orang!"
"Jaga mulutmu, jangan paksa aku menutup paksa mulut busukmu itu!' Balas sang sekuriti geram.
Fahri di dampingi Misbah telah menunggu di ruang rapat. Madam Barbara telah menyiapkan segalanya.
Begitu Jason sampai, Madam Barbara pergi. Jason kaget bukan main ketika yang ada di situ adalah Fahri.
"Hai Jason apa kabar?" Sapa Fahri ramah.
"Apa-apaan ini ? Jadi kau pemilik minimarket ini? Aku tidak percaya!" Jawab Jason ketus.
"Jaga mulutmu! Dia Tuan Fahri, pemilik minimarket ini. Berani bicara lancang lagi aku rontokkan gigimu!" Bentak sang sekuriti.
"Jangan main-main dengan saya ya. Saya tidak bersalah. Saya akan adukan ke polisi perlakuan sewenang-wenang ini!" Berontak Jason setengah berteriak.
"Tenang Jason. Silakan duduk. Saya tidak ada maksud sewenang-wenang sama kamu. Justru saya ini sangat sayang sama kamu. Walau bagaimana pun, kamu adalah tetangga saya. Rumah kita bersebelahan.
Apa gunanya saya sewenang-wenang sama kamu. Apa yang kamu punya yang membuat saya iri sehingga saya harus menindasmu. Nggak ada kan? Justru saya meminta sekuriti membawamu kemari karena saya akan memberimu hadiah. Duduklah dengan tenang." Ucap Fahri dengan tersenyum.
Jason duduk sambil kedua matanya melototi Fahri dengan penuh ketidaksukaan. Fahri sudah berlatih sabar menghadapai pandangan permusuhan Jason.
"Mau minum apa Jason? Tea? Coffe? Orange juice?"
"Orange juice!"
Fahri meraih telpon di dekat ia duduk dan meminta kepada Madam Barbara membawakan orange juice.
"Sama, selera kita sama. Saya juga ingin orange juice."Jason diam.
Sejurus kemudian Madam Barbara datang membawa tiga gelas orange juice. Untuk Fahri, Misbah dan Jason.
"Silakan diminum Jason."
Jason meneguk orange juice itu sampai setengah gelas.
"Sudah. Sekarang katakan apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa saya dibawa kemari? Apa salah saya?"
"Bagiku, sebagai tetangga, kamu tidak salah Jason. Seperti aku katakan tadi. Aku meminta sekuriti membawamu kemari karena aku ingin memberimu hadiah."
"Hadiah apa itu?"
"Sesuatu yang kelihatannya sangat kamu sukai. Tapi kali ini kamu mungkin lupa tidak mengambilnya."
Fahri mengambil tas plastik yang ia taruh di lantai dekat kakinya, lalu mengeluarkan isinya.
"lni Jason. Kamu mungkin lupa tidak mengambilnya hari ini. Biasanya kamu selalu mengambilnya."
Tangan Fahri mengeluarkan lima cokelat batangan dari tas plastik putih itu. Begitu melihat cokelat itu, muka Jason langsung pucat.
"Silakan diambil Jason. Ini hadiah dari saya untukmu. Silakan diambil dan kau boleh pulang. Saya minta maaf kalau ada kesalah pahaman. Saya tidak bermaksud mengganggumu apalagi menyakitimu."
"Ja...ja..jadi kamu tahu selama ini apa yang aku lakukan?" Ujar Jason dengan gemetar.
Kali ini nadanya ada rasa takut. Jason tidak segarang ketika dia tadi masuk ke ruangan itu.
"Saya tidak tahu Jason. Teknologi yang membantu saya. Tapi kamu tidak usah khawatir, itu sudah aku maafkan."
Fahri mengambil remote control. Ia menyalakan televisi yang ada di situ. Lalu ia menyalakan video.
Sejurus kemudian tampaklah hasil rekaman CCTV. Madam Barbara sudah menyiapkannya dengan baik.
Beberapa kali Jason mencuri cokelat kini dilihat sendiri oleh Jason.
"Saya tidak menghitung sudah berapa kali. ltu tidak penting sebab sudah saya maafkan. Sekarang pulanglah!"
"Apakah Anda akan melaporkan saya kepada mama saya, atau kepala sekolah saya?"
"Apakah kau menginginkan saya melaporkannya?"
"Tidak, jangan! Tolong jangan laporkan ini pada mama saya. Jangan laporkan kepada kepala sekolah saya. Saya bisa dikeluarkan dari sekolah. Tolonglah!" Fahri tersenyum.
"Saya tidak akan memberi tahu mereka dengan dua syarat."
"Apa itu?"
"Satu kau mau jadi sahabatku. Dan kedua kau tidak melakukan tindakan tidak terpuji itu lagi
selamanya. Di mana saja. Mau?" Jason berpikir sejenak.
"Baik. Saya mau. Saya penuhi syarat itu."
"Jadi sekarang kita bersahabat?"
"Ya kita bersahabat."
"Give your five!" Jason mengangkat telapak tangannya dan Fahri memukul telapak tangan Jason dengan telapak tangannya.
"Okay Jason, kau sekarang jadi sahabatku. Jadi jika kau perlu bantuanku jangan segan-segan. Jika kau ingin cokelat satu dua batang. Datanglah ke minimarket. Bilang baik-baik pada kasir, kau akan mendapatkannya gratis. Aku yang bayar! Okay. Silakan pulang!"
Kedua mata Jason berkaca-kaca. Ia hendak meninggalkan ruangan itu.
" Jason, tolong jangan lupa bawa
hadiah ini!"
Jason menerima tas plastik berisi cokelat itu,
"Thank you very much for your kindness."
"Don't mention it!" Jawab Fahri sambil tersenyum.
"Jason, smile please!"
Jason berusaha tersenyum meskipun tampak kaku dan terpaksa.
*****
Hotel itu tepat di pinggir pantai. Fahri dan Misbah memasuki lobby lalu mencari Eastfield Restaurant.
Petugas hotel dengan ramah mengantarkan keduanya sampai di pintu Eastfield Restaurant. Fahri mengitarkan pandangannya. Di kursi dekat jendela, tampak Tuan Taher dan Heba telah duduk menunggu. Tuan Taher berdiri menyambut Fahri dan mempersilakan duduk di kursi yang ada dihadapannya. Fahri duduk berhadapan dengan Tuan Taher yang berada tepat disamping jendela, dan Misbah duduk berhadapan dengan Heba.
"Hanya kita berempat, tidak ada yang lain?" Tanya Fahri.
"Ya sementara hanya kita berempat. Nanti ide-ide dari pertemuan ini akan saya sampaikan pada rapat komunitas muslim se-Edinburgh. Oh ya kalian makan apa?" Jawab Tuan Taher.
"Kami masih kenyang." Jawab Fahri.
"Tidak, kalian harus makan. Saya pesankan soup seafood ya."
"Boleh."
"Minumnya?"
"Mint tea. Kamu apa Bah minumnya?"
"Lemon tea."
Tuan Taher memanggil pelayan restaurant dan memesan tambahan makanan dan minuman.
"Jadi teman saya Juu Suh dibawah bimbingan Anda?" Tanya Heba.
"Iya benar. Bacanya Juu Suh. Tulisannya Ju Se. Saya tidak mengira kalau itu dia. Saya kira itu
mahasiswa lelaki."
"Dia banyak memuji Anda. Tampaknya dia suka bahwa yang menjadi supervisornya adalah Anda."
"Semoga dia tidak kecewa."
"Saya yakin tidak."
"Jadi kita kembali ke tujuan kita bertemu di sini. Saya sudah membaca berita itu Tuan Taher, dan sungguh saya prihatin. Kita tidak perlu menyalahkan wartawan yang mengangkat masalah itu. Karena memang pada kenyataannya itu ada. Ya meskipun kalau saya baca beritanya bahasanya tampak
tendensius dan ingin membuat citra komunitas muslim disini buruk."
"Harus ada perencanaan yang matang dan sistematis untuk mengangkat nasib saudara-saudara kita seiman seaqidah yang belum beruntung di Edinburgh ini, bahkan di UK ini secara lebih luas."
"Saya sepakat Tuan Taher. Harus matang, sistematis, terukur, dan iringi action yang nyata. Lembaga-lembaga sosial dan lembaga zakat yang kita miliki bisa kita dorong untuk ambil bagian. Umat Islam di UK kita sentuh kesadarannya. Selain itu saudara-saudara kita yang mengerti legal hukum perlu kita
libatkan. Tujuannya agar jika ada diantara homeless itu ada yang illegal bagaimana menanganinya secara hukum. Perlu dibuat pokja sehingga kerja dan perkembangannya terus terpantau. Itu menurut saya."
"Saya sangat sepakat dengan apa yang disampaikan Tuan Fahri."
"Berikutnya, untuk action nyata, sebisa mungkin kita mulai secepatnya semampu kita. Saya akan mulai dari saya sendiri. Perempuan yang tercetak fotonya di koran itu, tak lain adalah perempuan yang sering meminta-minta di masjid kita. Saya akan mulai mencari dia, dan untuk sementara akan saya tawarkan
tinggal dibasement rumah saya. Jika dia mau. Kalau dia tidak punya kerjaan akan saya usahakan mencarikan dia kerjaan. Kalau dia illegal saya akan cari pakar hukum yang bisa menyelesaikan aspek legal keberadaannya disini.' Lanjut Fahri.
Tuan Taher dan Heba mengangguk-angguk.
"Jika Tuan Fahri sudah menemukan dia, saya siap membantu. Minimal membantu memberikan penguatan dan motivasi bagi dia. Agar hidup dia bisa bangkit dan tidak berhenti hanya sebagai peminta-minta."
"Terima kasih Nona Heba."
"Heba tolong kamu tulis point-point penting dalam perbincangan kita di sini." Pinta Tuan Taher pada putrinya.
"Baik Papa."
Misbah memberi usul agar diadakan pendataan yang valid jumlah orang Islam yang menjadi pengemis di Edinburgh berapa. Lalu kota lain, hingga seluruh Inggris raya. Juga pendataan sebab musabab mereka homeless.
Dari sini akan bisa ketahuan akar masalah. Selain memberikan obat untuk masalah, tindak pencegahan agar masalah itu tidak muncul lagi atau bisa diminimalisir munculnya lagi itu sangat penting.
Usul Misbah sangat bagus dan jadi catatan sangat penting.Dari jendela restaurant itu panorama pantai dan laut sangat menakjubkan. Matahari yang perlahan
tenggelam di ufuk barat membuat ombak di lautan berkilat-kilat kuning kemerahan. Pelayan restaurant datang membawa hidangan dan minuman. Fahri menikmati soup sea food sambil menikmati panorama laut. Di kejauhan tampak Firth of Forth, jembatan kereta sepanjang empat belas kilometer di atas laut
yang sangat terkenal di Edinburgh.
"Tuan Fahri, maaf, saya ada satu pertanyaan diluar tema diskusi. Kalau boleh?" Gumam Heba sambil menyeruput cokelat panasnya.
"Silakan."
"Sekali lagi maaf. Kalau misalnya istri Tuan, yaitu Aisha, memang benar-benar telah wafat. Apakah Anda akan hidup terus tanpa beristri lagi?"
Fahri agak kaget. Ia nyaris berhenti mengunyah cacahan udang di mulutnya. Heba melihat kekagetan Fahri itu.
"Sekali lagi maaf jika tidak berkenan."
"Tidak apa. Baiklah saya jawab. Sementara ini, saya jawab ya. Sementara ini saya belum terpikirkan untuk mencari pengganti Aisha. Seandainya Aisha memang sudah wafat, kemungkinan besar saya tidak akan menikah lagi. Ada banyak hal yang bisa dilakukan selain memikirkan pengganti Aisha."
"Bukankah hidup membujang itu kata ulama tidak baik?"
"Saya Alhamdulillah tidak membujang. Saya memiliki istri, hanya saja nasibnya sampai sekarang tidak ketahuan. Sudahlah, mohon tidak membahas itu lagi. Silakan bertanya apa saja tapi mohon tidak bertanya hal terkait itu. Saya akan sangat menghargainya."
"Maaf jika tidak berkenan."
*****
Senja itu begitu mempesona. Mendung yang kemerahan manghiasi langit Edinburgh. Lampu-lampu kota mulai menyala. Gedung-gedung tua semakin cantik disorot cahaya. Malam perlahan datang, namun tidak seolah tidak bisa menutupi indahnya kota itu. Namun segala keindahan itu tidak seindah hati
Jason yang sedang sumpek.
Jason duduk termenung didepan The Queen's Gallery kawasan Istana Holyroodhouse. Orang-orang masih ramai menikmati jalur The Royal Mile yang terkenal itu. Jason memandang kearah Arbeyhill dengan tatapan kosong.
Beberapa mobil melintas dibundaran yang ada tak jauh dari Jason duduk. Serombongan turis baru saja keluar dari gedung tempat penjualan souvenir khas Skotlandia yang ada diseberang bundaran.
Jason merasa letih, dan sumpek. Ia baru saja sedikit bahagia dan lega ada orang yang terang-terangan mengajak dirinya menjadi sahabatnya. Ia merasa bahagia. Tetangganya yang selama ini ia benci ternyata pemilik minimarket dan restaurant. Orang kaya. Dan baik. Semua kesalahannya yang berulang
kali mencuri cokelat di minimarket itu dimaafkan. Bahkan ia diminta jadi sahabat.
Sementara teman-temannya di sekolah seolah mengucilkan dirinya. Guru-gurunya seperti memandang rendah dirinya setelah ia berkali-kali membuat ulah. Ia membuat ulah sesungguhnya menginginkan ada orang yang
memperhatikan dirinya.Tapi tidak ada. Bahkan mamanya. Satu-satunya orang yang selama ini bisa ia jadikan tempat mencurahkan isi hatinya adalah kakaknya yaitu Keira. Meskipun Keira juga menghadapi masalah yang ia rasa lebih rumit darinya.
Tapi kepada Keira-lah ia biasa bicara. Dan kini Keira telah diusir mamanya. Keira pergi entah ke mana? Ia telah menelpon James, tapi James tidak tahu. Ia mencoba mencari Keira ditengah kota Edinburgh, ke tempat-tempat biasa Keira berada jika ingin menyegarkan pikiran, tapi juga tidak ada. Biasanya Keira
suka duduk di kursi yang ada didalam Princes Street Gardens tak jauh dari Scott Monument, namun tidak ia temukan di sana. Ia lalu berjalan kaki menyusuri jalur The Royal Mile, tapi tidak juga ia temukan Keira.
Ia tahu Keira tidak boleh melakukan itu. Keira tidak boleh merusak barang-barang yang ada di rumah dan memecah kaca. Tetapi ia tahu Keira sangat kecewa dan marah. Selama ini Keira seperti tidak punya gairah hidup karena merasa keinginannya menjadi pemain biola professional tidak kesampaian.
Meskipun sebenarnya ia sangat berbakat. Keira ingin bisa kuliah di sekolah music terkemuka di Inggris Raya yang masuk dalam jajaran sekolah musik terbaik di dunia seperti London‘s Royal College of Music atau The Yehudi Menuhin School di Surrey. Dua sekolah itu telah melahirkan musikus-musikus kelas
dunia. Keira ingin sekolah di sana, dan mimpinya pupus dan berantakan ketika ayah kandungnya mati karena Bom London yang menurut berita itu diledakkan oleh teroris muslim.
Karena itulah Keira sangat membenci orang-orang Islam. Jason yang bukan satu ayah dengan Keira tapi satu ibu, ikut-ikutan membenci orang-orang Islam. Sebab kematian ayah kandung Keira juga ia rasakan dampaknya. Ya, ia memang tidak satu ayah dengan Keira.
Awalnya Nyonya Janet, ibunya, menikah dengan Tuan Brad dan lahirlah Keira. Lalu keduanya bercerai saat Keira masih kecil. Setelah itu Nyonya Janet menikah lagi dengan William, dan lahirlah Jason.Tak lama setelah itu William pergi tidak kembali. Tuan Brad yang sudah menikah lagi tetap perhatian pada Keira. Bahkan juga perhatian kepadanya. Ia ingat betul, Tuan Brad pernah menjanjikan akan membantu mensukseskan cita-citanya menjadi pemain bola seperti Gary Lineker pujaannya. Sejak kecil ia memang ingin jadi pemain bola. Dan keinginannya itu tidak jadi kenyataan karena tidak ada yang membiayai dirinya belajar di sekolah bola.
Mamanya hanya mau menyekolahkan dirinya di sekolah pemerintah yang gratis.Ia berpikir sama dengan Keira, jika Tuan Brad ayah Keira itu masih hidup mungkin ia sudah bermain
bola di salah satu klub yunior, baik di Skotlandia atau di Inggris.
Ah, sementara ayah kandungnya sendiri yang bernama William ia tidak tahu ada dimana persisnya sekarang. Mamanya hanya cerita ayah kandungnya pergi kerja berlayar ke Australia ketika umurnya baru dua tahun dan tidak pernah kembali. Teman-teman kerja ayahnya di kapal pesiar bilang kalau ayahnya itu menetap di Australia dan tidak mau kembali ke Edinburgh.
Mamanya yang hanya lulusan sekolah menengah hanya bisa bekerja sebagai pelayan sebuah supermarket. Hidup serba pas, karena sebagian gaji mamanya digunakan untuk mencicil rumah yang kini mereka tempati.
Kini, Keira tidak ada. Padahal ia ingin mengabarkan kepada Keira bahwa tetangga di samping rumah itu tidaklah seperti anggapan Keira. Ia ingin mengabarkan tetangganya itu baik dan mengajaknya menjadi sahabat. Ia ingin Keira juga bersahabat dengan tetangga itu. la ingin berbagi cokelat hadiah dari
tetangga itu.
Ia tidak tahu harus membela siapa. Membela Keira atau membela mamanya. Mamanya, menurutnya ada benarnya meminta Keira mencari uang dengan kemampuannya bermain biola saat ini. Keira lulusan terbaik St. Marys Music School, sekolah musik tingkat high school terbaik di Edinburgh. Mamanya
memintanya mencari uang semampunya. Kalau perlu mengamen di jalur The Royal Mile.
Tapi Keira tidak mau. Alasannya ia tidak mau jadi pemain biola kacangan seperti itu. Ia ingin seperti Julia Fischer atau Olga Kivaeva yang bermain biola di konser-konser bermartabat.
Kenyataan bahwa hidup mereka pas-pasan maka Keira menurutnya harus mengikuti saran mamanya. .
Tetapi Keira tidak mau, ia bahkan menuntut mamanya bisa menyekolahkan dirinya ke London. Tentu saja mamanya menolak. Mamanya mempersilakan Keira berusaha bagaimana caranya bisa sekolah ke
London. Mencari beasiswa atau bagaimana terserah. Tapi Keira yang kecewa hanya diam dirumah.
Namun kejadian pagi itu menurutnya Keira tidak sepenuhnya salah. Wajar bagi Keira marah besar dan mengamuk karena dua barang paling berharganya yaitu dua biola. Biola lama dan biola yang baru dibeli dijual oleh mamanya. Yang kata mamanya untuk membayar cicilan rumah. Buat apa ada biola kalau tidak digunakan cari uang. Lebih baik dijual saja bisa dapat uang. Dan dua biola itu pun dijual. Keira tahu dan marah besar. Keira ngamuk. Mamanya lalu marah besar melihat Keira merusak rumah. Keira diusir.
Jason masih duduk di depan The Queenie Gallery. Angin bertiup agak kencang membelai rambut jagungnya. Jason mengusap mukanya dan kembali berpikir..
Jika Tuan Brad, ayah Keira masih hidup, mungkin ini semua tidak akan terjadi. Mungkin Tuan Brad akan kembali bersatu dengan ibunya dan mereka punya keluarga yang utuh. Meskipun Tuan Brad bukan ayah kandungnya, tapi ia baik dan memperlakukan dirinya seperti memperlakukan Keira. Ia masih ingat setiap kali Keira dan dirinya berjumpa Tuan Brad, Keira diberi uang, ia pun juga diberi uang.
Dan orang baik itu telah tiada.
Tuan Brad harus mati dengan cara yang tragis, yaitu jadi korban bom yang diledakkan di kereta bawah tanah di London. Dan pelaku peledakan bom itu katanya adalah orang Islam. Kebenciannya kepada orang Islam kembali berkelebat. Tapi kejadian siang tadi, juga ketulusan senyum tetangganya yang bernama Fahri telah membuat cara pandangnya kepada orang-orang Islam berbeda.
Orang baik kembali muncul dihadapannya.
Kini, paling tidak ia berpikiran tidak semua orang Islam seperti pengebom yang jahat itu. Buktinya tetangganya yang muslim itu baik. Ia mengingat-ingat selama ini kepada tetangganya itu ia bersikap memusuhi dan menghina, tapi selama ini ia belum pernah melihat reaksi tetangganya yang marah
kepadanya atau membalas hinaannya. Dan kejadian tadi siang adalah pembuka bagi matanya yang selama ini seperti tertutup oleh kebencian bahwa tetangganya tidak seperti yang ia sangka.
Keramahan dan senyum Fahri kepadanya terus berkelebat. Sikapnya begitu bersahabat tak ada sorot kebencian kepadanya sedikitpun. Kesadaran terdalamnya tiba-tiba seperti muncul, bahwa pada dasarnya bersahabat itu jauh lebih membahagiakan daripada terus membenci dan buruk sangka.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar