Sebulan menjadi murid tak resmi. Bagian 21
Pengajian tafsir jalalain, orang-orang kampung yang ikut jiping pada ribut menunggu, sampai pengajian selesai, Asep belum muncul, jangan-jangan ikutan ngeraga sukma.
Hubbaibulloh cepat beranjak ke kamar Rusli, sampai di kamar, Rusli sedang duduk, sambil ngobrol dengan Asep.
"Lhoh kenapa malah ngobrol to Sep. Kok gak ngasih tau aku?" tanya Hubbaibulloh.
"Ya daripada saya ngasih tau kyai nanti Rusli ngraga sukma lagi, malah susah lagi dibangunkan, ya mending saya tunggui, kalau habis ngajar, kyai juga paling ke sini, ini tadi saya coba bangunin pakai dikolokin pakai bulu ayam, itu lihat ayamnya sampai tak punya bulu sama sekali." kata Asep nunjukin ayam yang di pojokan, nampak seperti ayam yang habis dibubuti, dan kedinginan.
"Tak usah seperti itu.., tapi ya udah., hm gimana Rus, kenapa kamu tidak ikut ngaji malah tidur?" tanya Hubbaibulloh.
"Aku ndak tidur kok mas kyai, aku pulang ke rumah ngraga sukma," jawab Rusli.
"La kamu ini niat nggak mondok? Nyari ilmu, belajar menghafal Alqur'an ya kalau gak niat mondok, ya di rumah saja, kan kasihan ayahmu di rumah, mungkin di sana ngejual kambing untuk membiayai kamu mondok, ee di sini malah kamu ndak mau ngaji."
"Di rumah saya ndak punya kambing kok mas kyai, punya saya sapi." jawab Rusli.
"Ya itu perumpamaan saja, maksudku orang tuamu kan sudah susah-susah nyari uang untuk dikirimkan agar kamu pinter, apalagi pakai alasan ngraga sukma segala."
"Ndak kok kyai, saya ngraga sukma sungguhan.."
"Sekalipun sungguhan juga tetap ndak bisa dibenarkan, la kamu di pesantren ini kan waktunya ngaji. Nanti mau ngeraga sukma, setahun gak balik ke tubuh juga gak masalah, kalau sudah tidak dalam keadaan ngaji, la kalau di sini kan tanggung jawab saya, waktunya ngaji, ngaji, waktunya makan, makan, jadi jangan dipindah-pindah gitu."
"Tapi saya membantu sapi saya melahirkan di rumah." jelas Rusli.
"Membantu sapi melahirkan? Memangnya kamu dukunnya? Bagaimana bisa tubuhmu kan di sini?"
"Saya minjam tubuh teman saya di sana bernama Nanang." jelas Rusli.
"Wah puyeng aku..., itu maksudnya bagaimana? Coba ceritakan, aku masih tak percaya, kalau ada ilmu kayak gitu, masak ganti-ganti tubuh segala, kayak ganti bungkus rokok aja."
"Ya iya, di sana kan temen saya Nanang keluar sukmanya, nanti aku masuk ke tubuhnya."
"Apa memang bisa seperti itu?" tanya Hubbaibulloh tak percaya.
"Kamu bisa menunjukkan bukti, kalau kamu bisa raga sukma? Kalau perjalanan dari sini ke rumahmu di Sumatra butuh waktu berapa jam?"
"Ya kira-kira sepuluh jam, pulang pergi." jelas Rusli,
"Bisa tidak kamu membuktikan kalau kamu bisa raga sukma?"
"Bisa." jawab Rusli singkat.
"Lalu bagaimana caranya? Kalau cuma tidur terus susah dibangunkan, banyak orang ndablek yang bisa, kamu mau membuktikan dengan apa?"
"Bagaimana kalau saya mengambil barang dari rumah?" tanya Rusli.
"Ya silahkan saja."
Rusli menerawang lalu katanya, "Aku akan mengambil pisang, keris, dan paku, bagaimana mas kyai?"
"Ya silahkan saja."
Maka Rusli pun tiduran lagi, dan sebentar kemudian tubuhnya sudah seperti tidur lelap, seperempat jam telah berlalu, Hubbaibulloh sudah tak sabar menunggu.
Dan Rusli pun bangun, tapi suaranya jadi kecil, dan aneh, logatnya logat Sunda, wah jangan-jangan kerasukan jin sunda???
"Siapa kamu?" tanya Hubbaibulloh.
"Abdi Nanang akang, kadiek..." kata Rusli.
"Bisa bahasa Indonesia tidak?" potong Hubbaibulloh.
"Bisa kang," jawab Rusli, dengan suara kecil, dan tidak dibuat-buat.
"Tadi kamu bilang bernama Nanang, benar?" tanya Hubbaibulloh.
"Iya kang." jawab Rusli.
"Hm.. lalu Rusli di mana?"
"Dia sedang memandikan sapi kecilnya yang baru lahir kang." jawab Nanang.
"Udah deh ndak ada yang bener kalau gini..." gerutu Hubbaibulloh, "Bikin masalah saja,"
"Ada apa kang?" tanya Nanang yang ada di tubuh Rusli.
"Ya Rusli itu kan mondok, mau belajar ilmu, la kalau sapi ngelahirin, terus pulang, mandiin tiap pagi dan sore, ada telur menetas lalu merawat anak ayamnya.. ya ndak bisa dibenarkan, mending pulang saja, nanti ndak bakal dapat ilmu kalau seperti itu."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar