Kamis, 04 Februari 2021

PANASNYA BUNGA MEKAR JILID 29-03

PANASNYA BUNGA MEKAR : 29-03
Sikap gelar lawan itu memang agak membingungkan para Senopati pasukan Kabanaran. Apalagi agaknya jumlah pasukan Watu Mas menjadi bertambah besar dibanding dengan kemungkinan yang dapat mereka lakukan di hari sebelumnya.

(……? dari naskah aslinya memang demikian) ngan “ Senopati yang memimpin pasukan Kabanaran itu gumam kepada diri sendiri. Namun ia pun tidak mengingkari kemungkinan kedatangan pasukan baru dari Watu Mas.

Kelainan gelar lawan itu terasa menggoncangkan gelar pasukan Kabanaran. Namun untunglah Senopati yang terampil itu segara mengambil keputusan. Ia menarik sayap pasukan dari gelar Sapit Urang itu justru mendekati induk pasukan, sehingga gelar mereka menjadi sempit.

“Kita akan membuat perhitungan baru.” pesan Senopati itu kepada para pengapitnya lewat para penghubung.

Kesempatan untuk melingkari pasukan lawan memang menjadi semakin besar pada pasukan Watu Mas. Tetapi dengan perubahan gelar pada pasukan Kabanaran, mereka tidak dapat lagi berusaha memotong gelar lawan pada pangkal sayapnya.

Namun demikian, maka kelainan sikap gelar Garuda Nglayang itu telah berhasil menegangkan para pengawal dari Kabanaran. Suatu perhitungan yang memang dikehendaki oleh para Senopati di Watu Mas.

Dalam keadaan yang demikian itulah, maka sekelompok pengawal dari Watu mas yang memang mempunyai kelebihan dari pasukan Kabanaran, karena jumlah mereka yang lebih banyak, telah memisahkan diri dari gelar.

Sebagaimana mereka rencanakan, pasukan kecil itu akan menusuk langsung ke pusat pertahanan orang-orang Kabanaran untuk menghancurkan padukuhan yang menyimpan perbekalan dan menjadi induk pertahanan itu.

“Pasukan cadangan yang ada di padukuhan itu tidak akan mampu melawan kita.” berkata Senopati yang memimpin sekelompok pasukan pengawal dari Watu Mas itu.

Namun ternyata orang-orang Kabanaran melihat gerak yang sudah dapat mereka baca. Pasukan itu tentu akan menghancurkan dukungan kekuatan di belakang garis perang.

Karena itu, dua orang penghubung yang tidak sempat mendahului pasukan Watu Mas yang dengan cepat bergerak menuju ke padukuhan itu, telah mempergunakan isyarat. Mereka telah melontarkan panah sendaren ke arah padukuhan di belakang garis perang itu.

Dua buah panah sendaren telah mengaum di udara. Para pengawas di luar padukuhan induk pertahanan pasukan Kabanaran telah mendengar isyarat itu. Namun mereka tidak segera mengerti apa yang terjadi.

Meskipun demikian, maka para pengawas itu telah meneruskan isyarat itu ke padukuhan. Mereka pun telah melepaskan panah sendaren pula yang langsung jatuh ke dalam padukuhan induk pertahanan itu.

Isyarat itu telah mengejutkan para pengawal yang masih beristirahat karena mereka masih belum diikutsertakan dalam pertempuran di hari itu. Namun demikian mereka mendengar isyarat, maka mereka pun segera mempersiapkan diri bersama para pengawal dalam pasukan cadangan.

Sebenarnyalah bahwa pasukan cadangan yang tersisa menuang tidak begitu banyak. Tetapi orang-orang Watu Mas tidak memperhitungkan, bahwa Kabanaran telah memanggil pasukan baru untuk memperkuat kedudukan mereka.

Dengan cepat pasukan yang berada di induk pertahanan itu bersiap. Bukan saja para pengawal cadangan dan para pengawal yang masih belum dipersiapkan untuk bertempur hari itu, tetapi juga mereka yang bertugas di belakang garis perang. Mereka yang bertugas untuk menyediakan makan dan minum, mengurusi perbekalan dengan kegiatan-kegiatan yang lain. Namun sebenarnyalah mereka pun telah memiliki dasar-dasar ilmu perang.

Para pengawal dari Watu Mas pun telah mendengar isyarat yang dilontarkan oleh para penghubung pasukan Kabanaran. Tetapi mereka sama sekali tidak menghiraukan. Bahkan mereka telah mempercepat gerak mereka menuju ke padukuhan induk pertahanan pasukan Kabanaran.

Senopati yang memimpin seluruh pasukan Kabanaran yang juga berada di medan itu pun mengetahui gerak pasukan Watu Mas. Namun ketika para penghubung telah memberikan isyarat, maka Senopati itu menjadi agak tenang, karena ia tahu, bahwa di padukuhan itu terdapat Akuwu Suwelatama itu sendiri bersama sepasukan pengawal.

Meskipun pasukan pengawal itu menurut rencana masih belum dipersiapkan untuk turun ke medan pada hari itu, namun mereka tentu akan mempertahankan padukuhan itu sebaik-baiknya.

Akuwu Suwelatama yang berada di padukuhan itu pun langsung mengatur para pengawalnya. Meskipun ia tidak mempergunakan pertanda kebesaran seorang Akuwu, namun ia telah bertindak sebagai Senopati perang untuk mempertahankan padukuhan induk pertahanan yang berisi perlengkapan perang dan perbekalan itu.

Ternyata bahwa Akuwu Suwelatama tidak menunggu pasukan lawan memasuki regol padukuhan. Justru pasukan Kabanaranlah yang telah bersiap untuk menyongsongnya.

Kepada mereka yang bertugas menyiapkan makanan dan minuman Akuwu berpasan, “Siapkan senjata kalian. Mungkin satu dua orang akan menerobos memasuki padukuhan ini. Adalah tugas kalian untuk menghalau atau membinasakan mereka.”

Sementara itu, kepada beberapa orang, Akuwu memerintahkan untuk mengawasi semua lorong yang memasuki padukuhan, sedangkan pasukan cadangan dan pasukan yang baru datang yang seharusnya masih mendapat kesempatan untuk beristirahat, telah dibawanya keluar dari padukuhan.

Tetapi Akuwu ingin menjebak lawannya. Ia memerintahkan pasukan yang baru datang untuk tetap berada di dalam regol. Mereka harus bersiap untuk bertindak pada saat yang ditentukan. Sementara pasukan cadangan yang kecil akan keluar regol bersama Akuwu Suwelatama sendiri.

Demikian pasukan Watu Mas mendekati regol padukuhan, maka mereka sudah bersiap untuk menebar. Mereka akan menyerang dan memasuki padukuhan itu tidak lewat pintu gerbang saja. Tetapi beberapa kelompok kecil akan memasuki padukuhan dengan meloncat dinding.

Namun sebelum mereka sempat menebar, pasukan Kabanaran yang dipimpin oleh seorang Senopati muda telah menyongsong mereka. Tidak seorang pun di antara orang-orang Watu Mas yang mengetahui bahwa yang memimpin pasukan Kabanaran itu adalah Akuwu Suwelatama sendiri.

Tetapi menurut pengamatan orang-orang Watu Mas, jumlah pasukan cadangan itu terlalu kecil untuk melawan mereka, sehingga bagi mereka, padukuhan itu pasti akan dapat dihancurkannya.

Namun agaknya Senopati yang memimpin pasukan cadangan yang kecil itu sama sekali tidak mengenal takut. Bersama pasukannya mereka memencar dalam tebaran yang tidak terlalu luas.

“Orang-orang Kabanaran itu sedang membunuh diri.” berkata Senopati yang memimpin pasukan Watu Mas itu.

Sejenak kemudian, maka kedua pasukan itu pun telah berbenturan. Tetapi sebenarnyalah pasukan cadangan dari Kabanaran terlalu sedikit untuk melawan pasukan Watu Mas. Karena itu, maka dalam waktu yang pendek, mereka telah terdesak mundur ke regol padukuhan.

“Hancurkan mereka,” perintah Senopati dari Watu Mas, lalu, “atau desak mereka memasuki padukuhan yang akan kita jadikan karang abang. Padukuhan itu harus kita musnahkan dengan segala isinya. Jangan beri kesempatan mereka menyelamatkan perbekalan mereka.”

Akuwu Suwelatama yang memimpin pasukannya justru menarik diri dengan cepat. Sementara itu, pasukan lawan yang merasa pasti akan berhasil telah mendesak secepat orang-orang Kabanaran mengundurkan diri.

Dengan perlawanan yang kurang berarti, pasukan Kabanaran segera berusaha memasuki regol. Agaknya mereka ingin bersembunyi dan bertempur di antara dinding-dinding halaman di dalam padukuhan itu.

Tetapi ternyata bahwa orang-orang Watu Mas tidak telaten mendesak lawan mereka melalui regol padukuhan. Mereka yang tidak sempat melawan orang-orang Kabanaran dengan langsung karena medan yang sempit, tiba-tiba saja telah berusaha untuk meloncati dinding. Mereka menganggap bahwa di dalam dinding padukuhan mereka akan dapat langsung bertempur melawan orang-orang Kabanaran yang mengundurkan diri. Jika mereka segera berhasil membinasakan mereka, maka tugas mereka menghancurkan perbekalan akan segera dapat mereka lakukan.

Tetapi yang terjadi sungguh-sungguh di luar perhitungan mereka. Pada saat Akuwu Suwelatama melihat orang-orang Watu Mas berloncatan, maka ia pun segera memerintahkan penghubungnya untuk meneriakkan isyarat.

Meskipun penghubung itu sudah berada di mulut regol, namun sebagaimana telah disetujui bersama, maka penghubung itu telah melontarkan panah sendaren ke udara. Sambil melambung tinggi, panah sendaren itu bagaikan menjerit meneriakkan aba-aba, agar mereka yang berada di belakang regol bersiap menghadapi lawan yang datang.

Sebenarnyalah, suara panah sendaren itu telah menghentakkan orang-orang Kabanaran yang sedang menunggu dengan hati yang berdebar-debar. Karena itu, demikian mereka mendengar isyarat, maka mereka pun segera berloncatan. Justru hampir bersamaan dengan orang-orang Watu Mas yang meloncati dinding memasuki padukuhan.

Ternyata sebagian dari orang-orang Watu Mas itu bernasib buruk. Demikian mereka meloncat turun, ujung senjata orang Kabanaran telah menyambutnya.

Sementara itu, para pengawal dari Kabanaran yang mundur melalui gerbang pun seluruhnya telah melewati regol. Akuwu adalah orang terakhir yang berdiri di pintu gerbang yang terbuka. Dengan pedang ia menahan orang-orang Watu Mas yang mendesak. Tetapi demikian beratnya tekanan orang-orang Watu Mas, maka Akuwu pun telah menarik pasukannya dengan cepat memasuki padukuhan.

Orang-orang Watu Mas tidak mau melepaskan buruan mereka. Mereka pun telah berlari-lari mengejar. Namun Senopati Watu Mas yang berada di depan dengan cepat dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Pertempuran antara orang-orangnya yang meloncati dinding melawan para pengawal dari Kabanaran yang telah menunggu mereka. Apalagi ketika Senopati itu sempat melihat ujung-ujung senjata di balik dinding halaman dan pepohonan perdu.

Karena itu, maka ia pun memberikan isyarat agar orang-orangnya tidak dengan serta merta mengejar lawannya. Bahkan kemudian ia pun meneriakkan aba-aba, “Kita memasuki sebuah perangkap. Tetapi kita tidak akan mundur. Kita hancurkan orang-orang Kabanaran yang licik.”

Para pengawal yang memasuki padukuhan lewat regol itu pun telah menghentikan gerak majunya. Mereka kemudian menebar dekat dinding padukuhan. Di beberapa tempat, kawan-kawannya telah bertempur dengan orang-orang Kabanaran yang menunggu mereka di dalam dinding padukuhan.

Orang-orang Kabanaran mengumpat di dalam hati. Jika pasukan Watu Mas itu memburu lawannya di sepanjang lorong di induk pertahanan itu, maka dari sebelah menyebelah orang-orang Kabanaran akan dengan mudah menghancurkan mereka. Tetapi ternyata orang-orang Watu Mas itu tidak terlalu bodoh. Mereka sempat mengamati keadaan dan melakukan perlawanan sesuai dengan keadaan yang mereka hadapi.

Sejenak kemudian telah berkobar pertempuran yang sengit. Rencana orang-orang Kabanaran tidak dapat mereka lakukan sebagaimana mereka harapkan. Ternyata bahwa mereka harus bertempur dalam satu perang bubruh yang kisruh. Kedua pasukan itu seolah-olah telah berbaur menjadi satu. Saling menusuk, saling menyerang dan saling membunuh.

Namun dalam keadaan yang demikian, yang melawan orang-orang Watu Mas bukan saja sekelompok kecil pengawal yang dipimpin oleh seorang Senopati muda yang tidak lain adalah Akuwu Suwelatama sendiri, tetapi pasukan pengawal yang datang kemudian, yang dianggap belum sempat beristirahat itu, telah terlibat dalam pertempuran yang sengit.

Tetapi dengan demikian maka jumlah orang-orang Kabanaran ternyata lebih banyak dari orang-orang Watu Mas. Karena itu, maka sejenak kemudian, orang-orang Watu Mas segera merasa bahwa mereka telah salah langkah.

Tetapi orang-orang Watu Mas tidak berputus asa. Mereka telah bertempur dengan segenap kemampuan yang ada. Bahkan Senopati yang memimpin sekelompok pengawal dari Watu Mas itu telah mengambil satu langkah yang ternyata mempunyai pengaruh yang besar.

Kepada dua orang pengawal ia berkata, “Jika kita berhasil membakar satu dua rumah, maka tentu akan berpengaruh pada peperangan di luar padukuhan ini.”

”Tetapi kita belum menemukan rumah tempat penyimpanan perbekalan, atau rumah yang manapun juga.”

”Asapnya akan sama saja warnanya dari medan perang.” jawab Senopati itu.

Kedua pengawal itu mengangguk-angguk. Kemudian dengan diam-diam mereka pun telah meninggalkan arena pertempuran.

Keduanya pun kemudian memilih sebuah rumah yang besar yang telah kosong. Tidak ada seorang pengawal pun yang mengawasi rumah yang kosong itu. Penghuni padukuhan itu sudah lama dipindahkan sejak padukuhan itu menjadi pusat pertahanan pasukan Kabanaran.

Sejenak kemudian, maka api pun mulai menyala. Sebuah sudut yang terbuat dari anyaman bambu mulai mengepulkan asap. Api yang merambat perlahan-lahan mulai menelan seruas demi seruas.

Kedua pengawal itu tidak menunggu api berkobar lebih besar. Mereka pun segera berlari ke rumah di sebelah.

Rumah itu jauh lebih kecil. Tetapi hal itu memang tidak penting bagi orang-orang Watu Mas. Karena itu, maka sejenak kemudian rumah itupun telah dibakarnya pula.

Api ijuk dan dinding bambu membuat rumah-rumah itu cepat terbakar. Sejenak kemudian, ternyata api telah mulai menjilat atap, dan asap pun mulai berkobar.

Api itu memang sangat mengejutkan. Akuwu Suwelatama pun terkejut. Mereka mengira bahwa tempat penyimpanan perbekalan telah dibakar.

Dengan cepat, Akuwu memerintahkan penghubungnya untuk melihat apa yang telah terjadi. Mereka harus memberikan laporan segera, agar Akuwu dapat mengambil langkah.

Ternyata tempat penyimpanan perbekalan masih tetap utuh. Beberapa orang pengawal siap mengamankan rumah tempat penyimpanan itu. Bahkan di bagian dapur, orang-orang yang bekerja menyiapkan makan dan minum pun telah siap dengan senjata mereka.

”Gila,” desis Akuwu yang telah mendapat laporan, ”biarkan saja rumah kosong itu terbakar.”

“Tetapi bagaimana dengan para pengawal di medan?” bertanya penghubungnya.

“Aku mengerti,” jawab Akuwu, “asap dan api itu tentu akan berpengaruh. Tetapi jika api itu tidak meluas, maka mereka tentu akan membuat pertimbangan. Karena itu, beberapa orang pengawal harus mengadakan pengamatan keliling di seputar padukuhan ini. Bukan hanya tempat-tempat penting sajalah yang harus diawasi, karena orang-orang Watu Mas pun mempunyai banyak akal.”

Demikianlah, maka sekelompok orang-orang Kabanaran pun kemudian telah meninggalkan arena untuk meronda seluruh padukuhan. Kepada mereka yang berjaga-jaga di pintu-pintu lorong mendapat peringatan agar mereka pun berhati-hati.

Sementara itu, pertempuran di padukuhan itu pun mulai sampai pada tataran yang menentukan. Orang-orang Watu Mas yang jumlahnya lebih sedikit tidak lagi mampu bertahan terlalu lama. Ketika dua orang pengawal dari Watu Mas ingin membakar rumah yang lain, maka sekelompok peronda dari Kabanaran berhasil melihatnya, sehingga keduanya telah dapat ditangkap.

Akhirnya, betapapun juga orang-orang Watu Mas yang memasuki padukuhan itu bertempur dengan mengerahkan segenap kekuatan yang ada, namun ternyata bahwa mereka tidak mampu untuk tetap bertahan, sehingga untuk menghindari kemusnahan, maka mereka pun mulai menarik pasukannya. Bahkan ada di antara mereka yang dengan tergesa-gesa meloncati dinding dan berlari meninggalkan padukuhan. Orang-orang Watu Mas itu masih berharap untuk dapat lolos dari tangan orang-orang Kabanaran dan bergabung dengan induk pasukan mereka.

Dalam pada itu, api yang menyala, serta asap yang mengepul tinggi, membuat orang-orang Kabanaran menjadi bingung. Mereka mengira bahwa orang-orang Watu Mas berhasil menghancurkan perbekalan mereka. Sehingga justru karena itu, maka mereka pun telah terpengaruh karenanya.

Selain akibat kecemasan itu, maka orang-orang Watu Mas memang mempergunakan cara yang lain yang agak membingungkan orang-orang Kabanaran. Karena itu, maka untuk beberapa lamanya orang-orang Kabanaran masih harus berusaha menyesuaikan diri.

Hari itu, orang-orang Watu Mas berhasil mendesak orang-orang Kabanaran. Bahkan hampir saja gelar Sapit Urang orang-orang Kabanaran berhasil dipecah. Namun untunglah, bahwa ketangkasan dan kesigapan para Senopati gelar itu masih dapat bertahan.

Tetapi ketika asap membumbung sampai ke langit, rasa-rasanya ada sesuatu yang hilang dari orang-orang Kabanaran itu. Pasukan mereka pun justru semakin terdesak mundur. Gejolak perjuangan yang membakar jantung mereka rasa-rasanya menjadi surut.

Senopati yang memimpin seluruh pasukan Kabanaran itu dapat mengerti keadaan itu. Beberapa kali ia mencoba meneriakkan aba-aba yang disambung oleh para Senopati yang lain. Namun nampaknya kecemasan telah merayap di hati para pengawal di Kabanaran. Mereka merasa bahwa dukungan perbekalan dan peralatan telah musnah dimakan api, sementara para pengawal yang mempertahankannya telah binasa.

Sementara itu langit pun menjadi semakin merah. Matahari perlahan-lahan turun ke punggung bukit di arah Barat. Senopati yang memimpin pasukan Kabanaran masih berpengharapan, bahwa senja akan dapat menyelamatkan pasukannya. Sementara pada malam harinya, ia akan mendapat kesempatan untuk memberikan beberapa penjelasan.

Yang harus dilakukannya adalah bertahan agar pasukan lawan dalam perang gelar itu tidak mendekati padukuhan induk meskipun padukuhan itu sudah terbakar.

Tetapi pasukan Watu Mas mendesak dengan dahsyatnya. Cara mereka memecah pasukan Kabanaran dengan cara yang lain itu benar-benar telah menyulitkan kedudukan orang-orang Kabanaran yang hatinya seolah-olah telah patah.

“Kita harus mencapai padukuhan itu,” teriak Senopati yang memimpin pasukan Watu Mas, “beberapa rumah telah dibakar oleh para pengawal yang mendahului kita. Kita harus merebutnya dan menghancurkan semuanya, sehingga orang-orang Kabanaran tidak lagi mempunyai tempat untuk berpijak.”

Sorak gemuruh telah mengobarkan api perlawanan yang dahsyat di hati orang-orang Watu Mas. Bahkan Senopati yang memimpin pasukan Kabanaran mempunyai perhitungan, seandainya matahari turun dan tenggelam di balik bukit, namun jarak padukuhan induk pertahanan itu menjadi semakin dekat, maka pihak Watu Mas tidak akan menarik pengawalnya. Meskipun gelap turun mereka akan bertempur terus sampai mereka berhasil memasuki padukuhan yang sudah terbakar itu.

Namun yang terjadi kemudian, ternyata telah merubah segalanya. Di luar dugaan justru ketika perang gelar itu bergeser semakin dekat dengan padukuhan induk pertahanan orang-orang Kabanaran, telah terjadi sesuatu yang mengejutkan.

Dalam keburaman menjelang senja, orang-orang Watu Mas yang berada di padukuhan itu telah terdesak keluar. Bahkan ada di antara mereka yang berlari bercerai berai ke arah perang gelar untuk mencari perlindungan.

“Apa yang telah terjadi?” pertanyaan itu rasa-rasanya telah mengetuk setiap hati para pengawal dari kedua belah pihak.

Senopati yang memimpin pasukan Kabanaran melihat keadaan itu. Sebelum para pengawalnya mengambil kesimpulan yang berbeda-beda, maka ia pun telah berteriak, “Kita berhasil mengusir mereka. Para pengawal dari Kabanaran telah memenangkan perang di padukuhan itu.”

Orang-orang Kabanaran termangu-mangu sejenak. Ada sedikit harapan memercik di hati mereka. Apalagi ketika kemudian muncul pasukan Kabanaran yang mengejar orang-orang Watu Mas yang sedang menarik diri.

Sorak yang membahana telah menggetarkan langit di atas medan perang. Hati yang hampir patah, tiba-tiba telah bergejolak kembali. Orang-orang Kabanaran yang merasa kehilangan alas bagi pasukannya bagaikan terbangun dari sebuah mimpi yang menakutkan. Mereka seolah-olah telah melihat lagi cahaya harapan untuk mempertahankan diri dari orang-orang Watu Mas.

Sebaliknya orang-orang Watu Maslah yang kemudian menjadi bingung. Mereka melihat orang-orangnya yang memasuki padukuhan itu terdesak dengan dahsyatnya. Bahkan berhasil dicerai-beraikan.

Sebagian dari orang-orang Watu Mas yang berhasil lolos dari tangan orang-orang Kabanaran ternyata berhasil mencapai induk pasukannya. Apalagi gelar yang lain dari pasukan Watu Mas, yang memungkinkan orang-orangnya bergabung dengan para pengawal di Watu Mas yang berada di belakang garis perang.

Namun dalam pada itu, ternyata orang-orang Kabanaran yang mengejar orang-orang Watu Mas tidak berhenti sampai di luar regol padukuhan. Mereka justru maju menyatu dengan gelar pasukan mereka yang terdesak.

Dengan demikian, maka para pengawal dari Kabanaran yang sebenarnya masih belum saatnya turun ke medan itu telah dengan langsung melibatkan diri. Sehingga betapapun juga, kehadiran mereka telah mempengaruhi keseimbangan di peperangan itu.

Dalam keadaan yang demikian, maka hati orang-orang Kabanaran bagaikan berkembang di dalam dadanya. Mereka dengan dahsyatnya telah mengerahkan tenaga untuk menggempur orang-orang Watu Mas yang kebingungan melihat suasana. Mereka semula memastikan bahwa padukuhan itu berhasil dikuasai. Tetapi ternyata perhitungan itu salah.

Benturan antara kedua gelar itu telah bergeser ke arah yang sebaliknya. Orang-orang Kabanaran berhasil mendesak orang-orang Watu Mas. Bahkan dalam beberapa hal, pasukan Watu Mas telah menjadi goyah. Kelainan gelar yang semula menguntungkan itu, justru menjadi sebaliknya.

Tetapi ternyata bahwa nasib mereka masih tidak terlalu buruk. Semakin mereka terdesak, maka langit pun menjadi semakin buram, sehingga ketika matahari terbenam, terdengarlah orang-orang Watu Mas meniup sangkakala.

Orang-orang Kabanaran tidak ingin berbuat curang. Meskipun kesempatan mereka saat itu lebih baik, tetapi mereka pun telah menghentikan perang dan menarik pasukannya ke padukuhan yang mereka sangka telah jatuh ke tangan orang-orang Watu Mas dan langsung dihancurkan.

Ketika mereka memasuki padukuhan itu, barulah mereka melihat bahwa yang terbakar bukanlah tempat penyimpanan perbekalan dan peralatan. Tetapi yang terbakar adalah dua buah rumah yang kosong karena sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya dan tidak dipergunakan oleh para pengawal.

“Gila,” geram Senopati yang memimpin pasukan Kabanaran, “hampir saja kami menjadi korban perasaan kami yang tidak terkendali.”

Namun dalam pada itu, rasa-rasanya orang-orang Kabanaran itu justru telah mendapat tempaan batin sehingga seakan-akan mereka justru menjadi yakin, bahwa mereka tidak akan dapat dikalahkan oleh orang-orang Watu Mas.

Setelah para Senopati beristirahat sejenak dan makan serta minum, maka Akuwu Suwelatama telah memanggil mereka untuk membicarakan pertempuran di hari mendatang.

“Sudah waktunya kita mengerahkan segenap kekuatan,” berkata Akuwu Suwelatama, ”orang-orang Watu Mas pun telah mengerahkan segenap kekuatan mereka. Bahkan mereka telah melakukan serangan khusus untuk menghancurkan perbekalan dan perlengkapan kita di induk pertahanan ini.”

“Ya, Akuwu,” jawab Senopati tertingginya, “bahkan kami telah mendapat laporan sejak pertama, pasukan Pangeran Indrasunu yang didatangkannya dari padepokan, merupakan kekuatan yang tidak dapat diabaikan. Mereka secara pribadi mempunyai beberapa kelebihan.”

Di luar sadarnya Akuwu Suwelatama berpaling kepada Mahisa Bungalan. Namun Mahisa Bungalan hanya menundukkan kepalanya saja. Ia tidak akan dapat menjanjikan apa-apa dalam waktu dekat. Kecuali seperti yang dilakukan oleh Indrasunu. Sejak awal ia sudah membawa sepasukan pengawal atau bahkan prajurit dari Singasari.

Namun dalam waktu itu, Akuwu menjawab, “Tetapi dalam keseluruhan, kami masih mempunyai kelebihan. Karena itu, sebelum kita justru menjumpai persoalan-persoalan di luar kemampuan kita untuk menjawab, maka sebaiknya besok kita keluar dengan kekuatan penuh. Kita tidak akan bertempur terlalu jauh dari padukuhan ini, tetapi dengan penuh keyakinan, bahwa mereka tidak akan dapat mendesak kita. Kita masih akan tetap meninggalkan sekelompok kecil pasukan cadangan yang tinggal di padukuhan ini, tetapi juga sekelompok yang lain yang akan berada di dalam gelar, tetapi setiap saat akan dapat meninggalkan gelar untuk kepentingan khusus.”

Senopati yang memimpin pasukan Kabanaran itu mengangguk. Sementara itu, Akuwu bertanya kepada Mahisa Bungalan, “Bagaimana pertimbanganmu, Mahisa Bungalan?”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Aku sependapat. Tetapi sayang, bahwa aku tidak dapat membantu dengan pasukan, justru karena tidak ada waktu lagi.”

“Terima kasih,” sahut Akuwu, “bantuanmu sudah cukup besar. Mudah-mudahan kita akan cepat mengakhiri pertempuran. Aku sudah jemu bermain-main dengan cara ini.”

“Kita sudah mendapat gambaran dari perhitungan kita selama beberapa hari peperangan ini.” berkata Mahisa Bungalan.

“Asal tidak ada kekuatan baru datang, besok kita akan dapat mendesak mereka masuk hutan.” berkata Akuwu. Dan tiba-tiba saja ia berkata, “Kibarkan panji-panji kebesaranku. Akuwu Kabanaran sudah berada di medan pedang.”

Dada para Senopati rasa-rasanya telah mengembang. Besok mereka akan bertempur di bawah pimpinan langsung Akuwu Suwelatama dalam pertanda kebesarannya.

Dalam pada itu, Akuwu Watu Mas pun telah berbicara dengan para Senopatinya. Mereka membicarakan kegagalan yang mereka alami. Hampir saja rencana itu berhasil. Namun di luar perhitungan mereka, ternyata di padukuhan itu masih terdapat sepasukan pengawal yang menunggu kedatangan mereka.

“Besok kita akan kembali ke dalam gelar seutuhnya,” berkata Akuwu, “baru di hari berikutnya kita akan mengambil cara yang lebih baik lagi.”

Para Senopati pun sependapat. Mereka tidak dapat menemukan cara yang lebih baik dari cara yang telah mereka pergunakan tetapi tidak berhasil.

Karena itu, maka yang kemudian dilakukan adalah beristirahat sebaik-baiknya. Sebagaimana perintah Akuwu, maka sebagian besar pasukan cadangan besok akan turun pula ke medan.

Namun dalam pada itu, ternyata Pangeran Indrasunu sedang membuat pertimbangan-pertimbangan tersendiri. Ia masih akan ikut berperang di hari berikutnya. Namun kehadiran Mahisa Bungalan yang dilihatnya sekilas memberikan suatu pikiran bagi kepentingannya sendiri.

“Anak itu biasanya datang bersama paman-pamannya,” berkata Pangeran Indrasunu di dalam hatinya, “jika demikian, maka aku akan dapat berbicara tentang Ken Padmi. Gadis itu telah ditinggalkan tanpa pengawalan secukupnya. Mungkin aku akan mendapat kesempatan untuk mengambilnya bersama kedua orang pemimpin padepokan itu.”

Sebenarnyalah Pangeran Indrasunu teringat kedua orang Pangeran yang telah bersamanya memerangi Pakuwon Kabanaran. “Kedua orang itu tentu akan bersedia ikut bersamaku. Jika aku berhasil mengambil gadis itu, maka sakit hatiku sudah terbalas. Gadis itu akan cacat seumur hidupnya sehingga Mahisa Bungalan pun akan ikut menderitanya.”

Ketika Pangeran Indrasunu berbaring di perkemahannya, maka ia masih saja menimbang-nimbang. Seorang dari tiga orang Pangeran yang telah berbuat bersamanya atas Kabanaran agaknya telah kehilangan masa depannya sepeninggalan gurunya. Ia seakan-akan berputus asa.

Tetapi kedua orang Pangeran yang lain, pasti masih akan dengan senang hati melakukannya. Sebagian dari pasukan yang dibawanya ke Watu Mas adalah pasukan dari kedua padepokan, yang dipimpin oleh guru kedua pangeran itu.

Tiba-tiba Pangeran Indrasunu itu tersenyum sendiri. Katanya, “Kebanggaannya akan segera lenyap. Salahnya sendiri, bahwa ia ikut mencampuri persoalan yang timbul antara Watu Mas dan Kabanaran. Ia akan mengorbankan gadis yang paling berharga di dalam hidupnya.”

Malam itu Pangeran Indrasunu tidur dengan mimpi cerah. Pertempuran itu sudah tidak menarik lagi baginya. Meskipun ia masih juga ingin melihat pasukan Kabanaran hancur, tetapi ia lebih senang dapat mengambil Ken Padmi dan menghinakannya agar hati Mahisa Bungalan hancur karenanya.

Pangeran Indrasunu bangun agak lambat. Tetapi ia pun dengan cepat segera menyesuaikan diri. Dengan tergesa-gesa ia makan pagi sebelum berangkat ke medan. Kemudian ia pun segera berada di antara pasukannya yang diperbantukannya kepada Akuwu di Watu Mas. Pasukan yang sudah menjadi semakin susut dari hari ke hari. Namun sebenarnyalah pasukan yang dipimpin oleh Pangeran Indrasunu, adalah pasukan pilihan. Meskipun mereka bukan pengawal Watu Mas, namun justru karena mereka adalah para cantrik dari padepokan, maka mereka memiliki kemampuan secara pribadi cukup meyakinkan dibandingkan dengan para pengawal.

Ketika kedua pasukan sudah bersiap, maka tiba-tiba seorang pengawas dari Watu Mas telah menghadap Senopati tertinggi dari pasukan Watu Mas. Dengan sungguh-sungguh dilaporkannya, bahwa pada pasukan Kabanaran terdapat tunggul berwarna kuning emas dengan panji-panji kebesaran Akuwu di Kabanaran.

“Jadi Akuwu Suwelatama telah turun ke medan?” bertanya senopati dari Watu Mas itu.

“Ya. Panji-panji kebesarannya telah terpasang di antara segala macam panji-panji, rontek dan kelebet.” jawab pengawas itu.

Senopati itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah, aku akan menyampaikannya kepada Akuwu di Watu Mas.”

Akuwu di Watu Mas merasa seakan-akan jantungnya diguncang. Dengan serta merta maka ia pun memerintahkan, “Pasang panji-panji kebesaran Akuwu di Watu Mas.”

Demikianlah, ketika pada saatnya kedua belah pihak bersiap berhadapan di medan, maka kedua belah pihak pun telah melihat tunggul dan panji panji kebesaran Akuwu dari kedua belah pihak.

Karena itu, maka kedua Senopati dari masing-masing Pakuwon pun merasa bahwa perang antara kedua Pakuwon itu sudah akan sampai ke puncaknya. Mereka telah mengerahkan segenap kemampuannya dan tidak lagi berusaha untuk menahan diri. Bahkan kedua Akuwu dari masing-masing Pakuwon pun telah turun pula ke medan.

Sesaat kemudian, maka kedua pasukan dalam gelar yang lengkap pun telah saling mendekat. Hampir semua kekuatan telah dikerahkan. Namun di kedua belah pihak, pasukan cadangan masih selalu dipersiapkan untuk menjaga apabila lawan mempergunakan satu cara yang berbeda dari perang gelar pada umumnya.

Ternyata pada hari itu kedua belah pihak masih tetap mempergunakan gelar yang sama. Pasukan Watu Mas mempergunakan gelar Garuda Nglayang sementara orang-orang dari Kabanaran yang dipimpin oleh Akuwunya mempergunakan gelar Sapit Urang. Namun dalam pada itu, Akuwu Suwelatama telah meletakkan Senopati yang semula menjadi pemimpin tertinggi pasukan Kabanaran itu menjadi Senopati pengapit bersama Mahisa Bungalan dan bertanggung jawab atas pasukan yang berada di sayap gelar.

Demikianlah, ketika pasukan itu menjadi semakin dekat, maka mulai terdengar sorak gemuruh dari kedua belah pihak. Masing-masing hadir dengan segenap gairah perjuangan, karena mereka telah dipimpin oleh Akuwu masing-masing.

Pangeran Indrasunu masih tetap berada di induk pasukan bersama sebagian dari pasukan yang dibawanya. Sebagian lain dari pasukannya telah diserahkan kepada kelompok-kelompok yang berada di sayap pasukan untuk memberikan tekanan-tekanan kepada sayap lawan.

Sejenak kemudian, maka kedua pasukan yang dipimpin langsung oleh Akuwu dari kedua Pakuwon yang bertetangga itu telah berbenturan. Kedua kekuatan yang besar itu segera terlibat ke dalam satu pergumulan yang sengit.

Akuwu Suwelatama dan Akuwu di Watu Mas yang memimpin pasukan masing-masing pun ternyata tidak sekedar hadir saja di medan. Keduanya telah dengan penuh tanggung jawab hadir di pertempuran sebagai seorang Akuwu. Sebagai Senopati tertinggi dari pasukan pengawal Pakuwon masing-masing.

Karena itu, baik Akuwu di Kabanaran maupun Akuwu di Watu Mas telah bertempur dengan garangnya di induk pasukannya.

Sudah dapat diduga sebelumnya, bahwa dengan hadirnya kedua orang pemimpin tertinggi dari kedua Pakuwon itu, maka pertempuran pun menjadi bertambah garang.

Di sayap merupakan sapit dari gelar Sapit Urang pasukan Kabanaran, Senopati yang semula memimpin seluruh pasukan Kabanaran itu telah berjuang dengan serunya. Tugasnya yang menjadi lebih sempit, telah membuatnya lebih cermat. Ia tidak harus mengamati seluruh medan, tetapi yang paling penting baginya, adalah sayap yang dipimpinnya.

Sementara di sayap yang lain, Mahisa Bungalan, yang meskipun bukan seorang perwira pengawal dari Kabanaran, namun rasa-rasanya telah menjadi keluarga sendiri. Para pengawal pun telah mengetahui tingkat kemampuannya, sehingga karena itu, maka dengan senang hati mereka menerima Mahisa Bungalan sebagai Senopati pengapit yang bertanggung jawab atas sayap yang dipimpinnya.

Kecermatan Mahisa Bungalan dan Senopati pengapit yang seorang lagi, sangat berpengaruh atas tugas dari sayap gelar Sapit Urang itu.

Bahkan keduanya masih sangat sempat menunjuk dua orang pemimpin kelompok di sayap masing-masing untuk bertempur terpisah, seolah-olah sebuah sapit yang mengembang.

Gelar yang cermat itu belum pernah di jumpai oleh pasukan Watu Mas sebelumnya. Karena itu, maka mereka segera [hilang] menyesuaikan diri, bertempur dengan [hilang] pula. Namun ternyata pasukan Kabanaran telah [hilang] lebih mapan.

Dengan demikian, maka dalam pertempuran yang menjadi semakin sengit, di bawah pimpinan Akuwu masing-masing, maka pasukan Kabanaran benar-benar menunjukkan kelebihan. Dari ujung-ujung gelar, pasukan Kabanaran telah mendesak selangkah demi selangkah. Kekuatan ujung sayap gelar kedua pasukan itu pun semakin jelas, bahwa Kabanaran memang mempunyai kelebihan.

Akuwu di Watu Mas tidak dapat mengingkari kenyataan itu. Kemarahan yang menghendaki di dadanya, telah membuatnya semakin garang. Tetapi kegarangannya tidak banyak berpengaruh atas lawannya. Bahkan dengan demikian ia telah terlampau banyak menghentakkan tenaganya.

Dengan pesan yang keras Akuwu di Watu Mas telah memerintahkan penghubungnya, agar Senopati di kedua sayapnya berusaha untuk menahan desakan lawannya. Namun agaknya kekuatan yang saling berbenturan di ujung sayap itu memang berselisih meskipun hanya selapis. Tetapi pada pertempuran yang lama, selisih yang selapis itu nampak menjadi semakin jelas.

Akuwu di Watu Mas berusaha untuk mengimbangi tekanan lawan dengan kekuatannya di induk pasukan. Bersama pasukan Pangeran Indrasunu yang berada di induk pasukan itu, Akuwu di Watu Mas dengan segenap kekuatan yang ada telah menekan induk pasukan dari Kabanaran.

Tetapi pasukan Kabanaran yang kuat itu tidak dapat didesaknya. Semakin besar usaha orang-orang Watu Mas menekan lawannya yang mapan, maka semakin banyak korban yang jatuh di peperangan.

Beberapa orang Senopati dari Watu Mas tetap dalam kesadaran mereka, bahwa perang akan berlangsung lama. Setidaknya mereka akan bertempur sehari penuh. Dengan demikian maka mereka harus memperhitungkan kemampuan mereka, agar nafas mereka tidak patah di tengah, justru pada saat yang paling gawat.

Karena itu, beberapa orang Senopati dengan kelompoknya berusaha untuk bertempur dengan perhitungan tenaga bagi peperangan yang sehari penuh, sebelum mereka akan sempat beristirahat semalam suntuk.

Tetapi betapapun juga, pasukan Kabanaran di hari itu mempunyai kelebihan yang meyakinkan. Pasukannya yang sudah diturunkan hampir seluruhnya di medan perang memang berpengaruh. Jumlah yang lebih besar dan tenaga yang masih segar, ternyata tidak tertahan lagi oleh pasukan Watu Mas.

Dimulai dari kedua ujung sayap, maka pasukan Watu Mas perlahan-lahan telah terdesak Pertempuran di hari itu merupakan kebalikan dari pertempuran di hari pertama. Pasukan Kabanaran mendesak terus sejak matahari sampai ke puncak. Semakin rendah matahari turun ke Barat, maka semakin berat tekanan-tekanan yang diberikan oleh pasukan Kabanaran.

Dalam pada itu, maka Akuwu di Kabanaran telah memberikan perintah kepada kedua Senopati pengapitnya, “Kita harus mendesak pasukan Watu Mas keluar dari arena. Jika mereka ingin bertahan di hutan, biarlah ia berada di hutan perbatasan. Tetapi kita harus berhasil melampaui perkemahan mereka. Kita harus menghancurkannya, sehingga mereka tidak lagi mempunyai landasan perbekalan dan perlengkapan.”

Perintah itu yang diterima oleh kedua Senopati pengapit, telah diusahakan sekuat-kuatnya untuk dapat dilaksanakan. Senopati yang semula memimpin seluruh pasukan, sementara yang lain adalah Mahisa Bungalan, telah bertempur dengan gigihnya. Keduanya adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang mendebarkan.

Namun dalam pada itu, Mahisa Bungalan sendiri, yang menganggap bahwa perang itu sudah berkepanjangan dari hari ke hari, telah mengambil keputusan untuk membantu Akuwu Kabanaran, menyelesaikan secepatnya. Dalam keseimbangan di hari itu, Mahisa Bungalan memperhitungkan, apabila Kabanaran berhasil memanfaatkan keadaan, maka pertempuran akan berakhir. Tetapi jika Kabanaran gagal, maka Watu Mas akan sempat mengambil pasukan pengawalnya yang akan dapat memperkuat medan, sehingga dengan demikian, maka pertempuran akan menjadi semakin berlarut-larut. Arena pertempuran itu akan menjadi ajang pembantaian yang tidak berkeputusan.

Dengan demikian, maka Mahisa Bungalan telah bertekad untuk menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya. Ia sama sekali tidak bermaksud membunuh lawan sebanyak-banyaknya. Tetapi ia memang ingin mendesak lawan sejauh-jauhnya. Mungkin ia memang harus memakan dan menghentikan perlawanan orang-orang Watu Mas, tetapi itu tidak berarti harus membunuhnya.

Karena itulah, maka Mahisa Bungalan yang telah menerima pesan Akuwu Suwelatama untuk segera berusaha mengakhiri peperangan itu pun telah bertempur dengan garangnya.

Dengan kekuatan cadangannya yang tidak dapat diimbangi oleh orang-orang Watu Mas, maka Mahisa Bungalan telah berhasil memecah perlawanan orang-orang Watu Mas di sayap pasukan yang berhadapan dengan pasukannya. Sementara orang-orang Kabanaran yang menyaksikan kemampuan puncak Mahisa Bungalan, menjadi semakin bergairah untuk bertempur. Tenaga mereka yang terasa mulai susut, seolah-olah menjadi pulih kembali. Sorak yang membahana serasa akan membelah langit.

Senopati yang memimpin sayap gelar lawan dengan kemarahan yang memuncak telah berusaha untuk menghentikan Mahisa Bungalan. Namun dengan demikian Senopati itu telah terpancing dalam perang Senopati yang sangat berbahaya baginya. Kemampuan Mahisa Bungalan, ternyata tidak dapat diimbanginya.

Dua orang pengawal Watu Mas berusaha membantunya. Namun dalam keadaan yang gawat, kedua pengawal itu harus mempertahankan hidup mereka sendiri dari serangan pengawal pasukan Kabanaran.

Yang berhasil mendesak lawannya ternyata bukan saja di sayap yang dipimpin oleh Mahisa Bungalan. Di sayap yang lain, pasukan Kabanaran mendapat kemajuan yang mengejutkan pula. Sementara di induk pasukan, pasukan Watu Mas sulit untuk mengimbangi kekuatan pasukan Kabanaran yang telah menurunkan hampir semua pasukan yang berada, termasuk pasukan yang datang kemudian, yang ditarik dari beberapa daerah, termasuk pasukan yang telah menghancurkan sarang para perampok di hutan perbatasan.

Akuwu Suwelatama memang berharap bahwa perang agar segera berakhir. Pasukan Watu Mas harus segera terusir dari bumi Kabanaran.

Meskipun demikian, Akuwu di Kabanaran pun menyadari, seandainya saat itu ia berhasil mengusir pasukan Watu Mas, bukan berarti bahwa orang-orang Watu Mas akan menerima kenyataan itu. Mungkin pada suatu saat, mereka akan melakukan sesuatu yang lebih berbahaya bagi Kabanaran. Namun Kabanaran memang harus selalu bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Perlahan-lahan pasukan Kabanaran berhasil mendesak pasukan Watu Mas. Di kedua sayap pasukan, para pengawal dari Watu Mas mengalami kesulitan yang tidak teratasi, sehingga kedua sayap pasukan Watu Mas dalam gelar Garuda Nglayang itu telah terdesak bagaikan sayap yang tidak berdaya lagi.

Akuwu Watu Mas tidak dapat membiarkan kedua sayapnya patah. Untuk itu ia harus mengimbangi gerak mundur sayapnya. Sambil mengirimkan kelompok-kelompok kecil untuk membantu kedua sayapnya, Akuwu Watu Mas menarik pasukannya surut pada induk pasukan.

Kekuatan yang kecil itu berhasil membantu kesulitan pada kedua sayap gelar pasukan Watu Mas. Namun tidak dapat berlangsung lama, karena sebenarnyalah pasukan Kabanaran memiliki kelebihan. Terutama pada sayap yang dipimpin oleh Mahisa Bungalan. Ia sendiri bagaikan hantu yang mengerikan. Betapapun juga Senopati di sayap lawan itu mengerahkan kemampuannya, namun akhirnya ia harus mengakui keunggulan Mahisa Bungalan.

Pada saat-saat yang sangat berbahaya, maka senjata Mahisa Bungalan justru telah menyentuhnya. Sebuah goresan memanjang melintang di dadanya. Goresan itu tidak begitu dalam. Tetapi darah yang mengalir di sepanjang luka itu memberikan kesan yang mengerikan.

Tetapi Senopati itu juga justru mengamuk dengan sengitnya. Dengan lantang ia justru berteriak. “Amuk. Amuk. Hancurkan pasukan Kabanaran yang tamak dan sombong ini.” Tetapi suaranya justru terputus. Sekali lagi senjata Mahisa Bungalan menyentuhnya. Lengan Senopati itulah yang kemudian menjadi merah karena darah.

Meskipun demikian, Senopati itu sama sekali tidak melangkah surut. Senjatanya justru diputarnya seperti baling-baling. Dengan garang ia meloncat menyerang Mahisa Bungalan dengan ayunan mendatar.

Tetapi yang terjadi benar-benar mengejutkan. Senjatanya sama sekali tidak mengenai Mahisa Bungalan. Namun justru senjatanya telah terlempar dari tangannya. Sambil mengaduh maka Senopati itu memegangi pergelangan tangannya. Ternyata justru ujung senjata Mahisa Bungalan yang telah mengenai pergelangan tangan Senopati itu, sehingga senjatanya terlepas.

Darah mengalir dari nadinya bagaikan terperas dari tubuhnya. Dengan cemas, Senopati itu berusaha untuk menahan arus darahnya, sehingga ia tidak lagi sempat memberikan perlawanan kepada Mahisa Bungalan.

Dua orang pengawal berusaha untuk melindunginya, sementara seorang pengawal yang lain telah menariknya dari medan.

Mahisa Bungalan termangu-mangu sejenak. Ia sempat melihat Senopati itu meninggalkannya. Tetapi ia tidak memburunya. Ia tahu pasti bahwa Senopati itu akan memerlukan waktu untuk mengobati lukanya. Jika tidak, maka arus darah dari nadi pergelangan tangannya itu akan dapat membunuhnya.

Sementara itu, Senopati bawahannya yang tertua di antara mereka, telah mengambil alih pimpinan sayap pasukan Watu Mas. Tetapi, ketika ia harus berhadapan juga dengan Mahisa Bungalan, maka ia tidak dapat bertahan sepenginang. Senjata Mahisa Bungalan segera menyentuh kulitnya, sehingga darah pun mulai menetes dari luka.

Beberapa orang pengawal berusaha untuk membantunya. Namun orang-orang yang mengerumuni Mahisa Bungalan itu tidak memberikan banyak arti. Bukan saja karena para pengawal dari Kabanaran pun berdatangan untuk membebaskan Mahisa Bungalan dari kepungan, maka Mahisa Bungalan sendiri merupakan orang yang sangat berbahaya bagi mereka.

Karena itulah, maka sayap yang langsung berhadapan dengan pasukan Kabanaran yang dipimpin oleh Mahisa Bungalan itu sulit untuk diselamatkan. Kelemahan pada ujung sayap itu telah merambat di sepanjang tubuh sayap memanjang, sehingga akhirnya sayap itu tidak dapat diselamatkannya lagi.

Sekali lagi Akuwu di Watu Mas harus memperhitungkan keselamatan seluruh pasukannya. Ia tidak dapat membiarkan sayapnya patah dan hancur bercerai berai. Karena itulah, maka ia harus memilih jalan yang paling baik bagi seluruh pasukannya.
Sekali lagi ia memerintahkan menarik pasukannya mundur. Namun pasukan itu masih tetap utuh, sehingga dalam gerak surut, pasukan Watu Mas masih dapat memberikan perlawanan yang utuh.

Gerak mundur itu telah mencemaskan orang-orang yang berada di perkemahan. Senopati yang memimpin pasukan cadangan segera mendapat laporan dan mendapat perintah untuk turun ke medan dengan segenap orang yang ada.

Sejenak kemudian, maka beberapa kelompok pasukan cadangan telah bergerak menyusul ke medan yang menjadi semakin dekat, justru karena pasukan Watu Mas terdesak mundur.

Akuwu Suwelatama pun kemudian mendapat laporan, bahwa pasukan Watu Mas telah mengerahkan segenap pasukan cadangannya pada saat itu juga, sehingga dengan demikian maka jumlah pasukan Watu Mas akan bertambah.

“ Cepat. Kita harus menghancurkan pasukan itu. Sehingga jika pasukan cadangannya bergabung, maka kekuatan mereka tidak akan terasa bertambah. Kita tidak akan sempat memanggil pasukan cadangan kita yang tersisa. Jika kita terlambat mengambil sikap, maka kitalah yang akan terdesak.” perintah Akuwu Suwelatama.

Perintah itu sudah jelas. Perintah itu pun segera sampai ke ujung-ujung sayap. Karena itulah, maka setiap kelompok di dalam pasukan Kabanaran telah berusaha untuk dengan secepatnya memecah pertambahan lawan.

Terutama di ujung-ujung sayap. Mahisa Bungalan meningkatkan perlawanannya terhadap sayap lawan yang menjadi semakin lemah. Beberapa kali pasukan lawan menarik diri untuk menyelamatkan keutuhan gelarnya. Meskipun Mahisa Bungalan mengagumi kecepatan mengambil keputusan Akuwu di Watu Mas, namun Mahisa Bungalan tidak ingin membiarkan gelar lawan itu sempat diperbaiki. Karena itu, maka sebelum pasukan cadangan lawan berhasil menyatu dalam gelar, maka Mahisa Bungalan telah mengerahkan segenap kemampuan pasukannya untuk benar-benar memecahkan pasukan lawan.

Dengan demikian, maka betapapun juga sayap pasukan Watu Mas itu bertahan, namun mereka benar-benar mengalami kesulitan. Akuwu di Watu Mas telah memberikan perintah untuk dengan sisa-sisa tenaga yang ada berusaha untuk tetap utuh dalam gelar sampai saatnya pasukan cadangan memasuki arena. Namun sebenarnyalah, sayap pasukan Watu Mas yang berhadapan dengan pasukan Mahisa Bungalan tidak mampu lagi untuk tetap bertahan. Tetapi sayap itu tidak juga membiarkan dirinya berserakan. Dengan sisa-sisa orang yang ada, maka sayap itu pun seolah-olah telah melipat dirinya ke arah induk pasukan.

Pada saat yang gawat itulah, pasukan cadangan dari Watu Mas memasuki arena. Bukan saja pasukan cadangan, tetapi seakan-akan setiap orang yang ikut pergi ke medan telah turun dalam pertempuran. Mereka yang seharusnya menyiapkan perbekalan dan perlengkapan pun telah ikut pula memasuki gelar yang sudah kehilangan sebelah sayap.

Untuk beberapa saat, pasukan Akuwu di Watu Mas sempat bertahan. Pasukan Kabanaran tidak dapat mendorong maju lagi. Sejumlah pasukan cadangan yang segar telah membuat pasukan Watu Mas bertambah kuat.

Namun ternyata Mahisa Bungalan telah mengambil sikap sendiri sebelum Akuwu sempat menjatuhkan perintah. Sayapnya pun kemudian telah maju beberapa langkah mendahului pasukan induknya dan melipat menyerang lawan dari lambung yang telah kehilangan sayapnya.

Serangan pasukan yang dipimpin oleh Mahisa Bungalan itu benar-benar mengacaukan pertahanan lawan yang sedang berusaha untuk menyusun kembali gelarnya. Sayap yang sedang dipersiapkan itu sama sekali tidak sempat menyesuaikan diri dengan gelar seutuhnya. Tetapi mereka justru harus menghadapi pasukan Mahisa Bungalan.

Ternyata bahwa sikap Mahisa Bungalan itu dapat dimengerti oleh Akuwu Suwelatama. Bahkan Akuwulah yang kemudian berusaha untuk menyesuaikan seluruh pasukannya.

Senopati yang berada di sayap yang lainnya telah mengerahkan segenap pengawal yang ada. Tetapi ia agak terlambat. Pasukan cadangan dari Watu Mas sempat memperkuat pasukan pada sayap yang terdesak, tetapi masih belum pecah itu.

Untuk beberapa saat pasukan Watu Mas mampu bertahan. Namun bagaimanapun juga, gelarnya yang tidak utuh lagi telah membuat pasukan itu terdesak bukan saja mundur, tetapi juga menyamping. Pasukan Mahisa Bungalan yang menyerang lambung, benar-benar membuat Akuwu di Watu Mas menjadi cemas.

Sebenarnyalah, pasukan Watu Mas pada akhirnya harus mengakui, bahwa mereka tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi. Pasukan cadangan yang memasuki arena, hanya sempat membuat pasukan Watu Mas tidak bercerai berai. Namun mereka memang harus menarik pasukan itu mundur, justru sepanjang pasukan itu masih dapat dikuasai sebaik-baiknya.

Akhirnya Akuwu di Watu Mas memang tidak ada pilihan lain. Dengan sisa-sisa pasukannya, maka ia telah menarik diri perlahan-lahan. Bahkan ia pun telah memerintahkan kepada orang-orang yang tersisa di perkemahan. Mereka harus menyelamatkan, apa yang dapat diselamatkan. Yang tidak mungkin lagi diselamatkan, agar dihancurkannya sama sekali.

Pangeran Indrasunu yang berada di pasukan induknya tidak lagi bergairah untuk bertahan. Ia justru mempunyai pertimbangan tersendiri. Sebaliknya pasukan Watu Mas itu mundur dari medan dan menyusun kekuatan untuk satu kesempatan yang lain. Sementara itu, Mahisa Bungalan tentu masih akan tetap berada di Kabanaran untuk beberapa saat.

“Aku harus mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Aku harus mengambil gadis itu, dan memaksa Mahisa Bungalan menderita seumur hidupnya.” berkata Pangeran Indrasunu di dalam hati sambil mengikuti gerak mundur pasukan Watu Mas dalam keseluruhan.

Sebenarnyalah, semakin lama pasukan Kabanaran berhasil mendorong lawannya semakin cepat. Pasukan Watu Mas pun kemudian segera mempersiapkan diri untuk memasuki hutan perbatasan dalam gerak mundur mereka. Di antara pepohonan, mereka mendapat kesempatan berlindung lebih banyak lagi. Namun mereka harus menjaga, bahwa mereka tetap mundur dalam satu kesatuan. Jika pasukan itu pecah, maka keadaan akan menjadi semakin sulit bagi setiap pengawal dari Watu Mas.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...