Kamis, 04 Februari 2021

PANASNYA BUNGA MEKAR JILID 24-03

PANASNYA BUNGA MEKAR : 24-03
Dengan demikian maka Wasi Sambuja yang menjadi semakin kehilangan pengamatan diri karena desakan Witantra yang semakin berat itu, telah mengambil satu keputusan, untuk membenturkan ilmunya.

“Jika bukan orang itu, biar aku sajalah yang mati dalam perang tanding ini. Rasa-rasanya aku tidak akan dapat menanggung tekanan batin karena kekalahan yang beruntun ini, seandainya aku tidak berhasil.” berkata Wasi Sambuja di dalam hati. Ketika ia berangkat dari padepokannya, ia sama sekali tidak menduga bahwa ia akan bertemu dengan orang-orang yang memiliki kemampuan seperti itu.

Namun Wasi Sambuja masih tetap berpengharapan. Pangeran Indrasunu bukan muridnya sejak kanak-kanak. Ia datang kepadanya setelah ia menjadi anak muda dewasa dengan bekal ilmu yang kurang mapan. Dalam waktu singkat ia berhasil membentuk Pangeran Indrasunu menjadi seorang yang mulai mapan dengan ilmunya, meskipun sifat dan wataknya sama sekali tidak dapat berubah.

Karena itulah, maka akhirnya Wasi Sambuja itu pun benar-benar telah mempersiapkan diri untuk melepaskan ilmu puncaknya.

Witantra memang sudah menduganya. Dan ia pun telah bersiap pula menghadapinya. Ketika ia melihat Wasi Sambuja siap untuk menyerangnya dengan ilmu puncaknya, maka Witantra pun telah mengerahkan segenap kemampuannya. Dipusatkannya segenap daya ilmunya untuk menghadapi benturan dengan ilmu Wasi Sambuja.

Witantra tidak mau menyesal. Karena itu, maka ia pun telah mengerahkan segenap ilmu yang ada padanya.

Sejenak kemudian, orang-orang yang berada di pinggir arena itu menjadi semakin tegang. Mereka melihat sikap Wasi Sambuja dan Witantra. Apalagi Pangeran Indrasunu yang melihat gurunya sudah sampai kepada ilmu puncaknya.

Mahisa Agni, Mahendra dan Mahisa Bungalan pun telah menahan nafasnya. Benturan itu tentu akan merupakan benturan yang sangat dahsyat. Namun mereka pun menyadari, bahwa taruhannya adalah harga diri sebuah perguruan.

Dalam pada itu, maka sejenak kemudian, Wasi Sambuja itu pun telah meloncat menyerang dengan lambaran ilmu puncaknya yang tiada taranya.

Namun dalam pada itu, Witantra pun tidak hanya sekedar bertahan. Ia ingin mendapat kesempatan yang sama dengan lawannya, sehingga karena itu, maka Witantra pun telah meloncat pula, membentur ilmu lawannya dengan ilmunya.

Sebenarnyalah benturan yang terjadi bagaikan mengguncang seluruh isi istana Pangeran Wirapaksi. Getarannya telah menghantam setiap dada, sehingga rasa-rasanya benturan yang dahsyat itu telah terjadi di dalam dada orang-orang yang menyaksikannya itu.

Karena itu, mereka yang daya tahannya tidak mampu mengatasinya, maka mereka pun telah terduduk di tanah sambil menahan guncangan dada mereka dengan tangannya.

Sebenarnyalah bahwa benturan itu benar-benar merupakan benturan kekuatan dan ilmu yang sulit ditangkap dengan nalar. Namun kedua orang yang telah membenturkan ilmunya itu pun merupakan orang yang luar biasa. Keduanya tidak lumat menjadi debu meskipun keduanya mengalami keadaan yang parah.

Witantra telah terlempar beberapa langkah dan jatuh terbanting di tanah. Ternyata bahwa benturan ilmu itu telah benar-benar mengguncang isi dadanya.

Sekali Witantra menggeliat. Kemudian ia pun menjulurkan kakinya lurus-lurus. Ia tidak dapat lagi bangkit seperti yang dilakukan oleh Mahisa Bungalan, karena rasa-rasanya tulang-tulangnya berpatahan.

Namun kemudian Witantra telah berbaring sambil memusatkan segenap daya tahan tubuhnya. Mengatur pernafasannya dan mempergunakan segenap sisa kekuatan yang ada padanya untuk mengatasi kesulitan di dalam dirinya, karena sebenarnya, ia telah terluka di bagian dalam tubuhnya.

Namun dalam pada itu, Wasi Sambuja pun telah terbaring di tanah. Matanya terpejam, dan nafasnya menjadi terputus-putus.

Pangeran Indrasunu menjadi bingung. Demikian pula Pangeran Wirapaksi. Sementara itu, Mahisa Agni yang kemudian mendekat dan berjongkok di samping Witantra yang dengan tenang berusaha mengatasi kesulitan di dalam dirinya itu, telah berkata kepada Mahendra, “Lihatlah, apa yang telah terjadi dengan Wasi Sambuja.”

Mahendra pun kemudian melangkah mendekati Wasi Sambuja. Namun langkahnya terhenti ketika tiba-tiba saja Pangeran Indrasunu merebut tombak seorang pengawalnya sambil berteriak, “Jangan berbuat curang. Jika kau melangkah selangkah lagi, aku bunuh kau dengan tombak ini.”

Mahendra tertegun. Ia mengerti perasaan Pangeran Indrasunu, karena Pangeran itu adalah muridnya. Namun dalam pada itu, keadaan Wasi Sambuja sebenarnyalah sangat gawat.

Sejenak Mahendra termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Pangeran. Sebenarnyalah aku tidak ingin berbuat jahat. Aku justru ingin melihat, apa yang terjadi atas guru Pangeran itu. Dengan demikian, jika ada kemungkinan yang dapat aku lakukan, biarlah aku mencoba menolongnya.”

“Jangan menipu aku,” Pangeran Indrasunu masih saja berteriak, “mundur atau aku bunuh kau.”

“Tenanglah, Pangeran.” berkata Mahendra, “Keadaan gurumu sangat gawat. Jika kau berkeras, dan ternyata terjadi sesuatu atas gurumu itu, maka kesalahannya ada padamu.”

“Aku bukan anak dungu yang dapat kau tipu dengan cara yang licik itu.” geram Pangeran yang masih muda itu, “Mundurlah. Cepat.”

Tetapi Mahendra masih berusaha meyakinkan, katanya, “Berpikirlah. Jangan terlalu hanyut pada perasaan semata-mata.”

Tetapi agaknya Pangeran Indrasunu sama sekali sudah tidak dapat berpikir bening. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia telah meloncat menikam Mahendra tepat ke arah dada.

Namun Mahendra telah menduganya. Karena itu, maka ia pun bergeser setapak. Kemudian diraihnya tangkai tombak itu dan justru ia telah meraba tengkuk Pangeran yang masih muda itu.

Tidak seorang pun yang melihat, apa yang telah dilakukan oleh Mahendra. Namun ternyata Pangeran itu seolah-olah telah kehilangan segenap tenaganya. Ketika ia menjadi terhuyung-huyung maka Mahendra pun cepat menangkapnya dan membaringkannya di tanah.

Namun dalam pada itu, para pengawalnya telah berloncatan berdiri. Mereka telah bersiap melakukan apa saja sebagai pernyataan bakti mereka kepada Pangeran Indrasunu.

Tetapi sekali lagi Mahendra berkata, “Kalian pun jangan kehilangan akal. Jika pada saatnya Pangeran Indrasunu tidak terbangun lagi, maka kalian dapat membunuhku.”

Para pengawal itu termangu-mangu. Apalagi ketika Pangeran Wirapaksi yang percaya kepada kata-kata Mahendra itu pun menyambung, “Minggirlah. Percayalah kepadaku. Pangeran Indrasunu adalah adik iparku.”

Para pengawal itu ragu-ragu. Tetapi ketika para pengawal istana Pangeran Wirapaksi mulai bergeser, maka mereka pun telah melangkah surut.

Dalam pada itu, Mahendra pun dengan tergesa-gesa mendekati Wasi Sambuja yang dalam keadaan parah. Namun rasa-rasanya Wasi Sambuja masih dapat mengatasi keadaannya. Sementara itu Mahendra pun telah memberi isyarat kepada Mahisa Agni untuk mendekatinya.

Setelah berpesan kepada Mahisa Bungalan untuk menunggui Witantra yang sedang berusaha mengatur pernafasannya dan mengatasi kesulitan di bagian dalam dadanya, maka Mahisa Agni pun telah dengan tergesa-gesa mendekatinya.

Mahisa Agni dan Mahendra pun kemudian berjongkok di sebelah Wasi Sambuja yang terbujur diam. Keduanya pun kemudian berusaha untuk membantu mengatur pernafasan mereka. Mahendra telah mengangkat kedua tangan Wasi Sambuja dan kemudian meletakkannya membentang. Sementara Mahisa Agni pun kemudian duduk diam sambil meletakkan tangannya di dada Wasi Sambuja.

Masih terasa nafas Wasi Sambuja bergerak. Tetapi sama sekali tidak teratur dan bahkan kadang-kadang hampir tidak terasa.

Karena itu, maka Mahendra pun telah mengambil sejenis obat yang selalu dibawanya. Dengan beberapa tetes air, obat itu dicairkannya dan kemudian dituangkannya ke dalam mulut Wasi Sambuja.

“Mudah-mudahan dapat membantunya.” berkata Mahendra sambil mengendorkan ikat pinggang kulit Wasi Sambuja yang tebal dan lebar.

“Bawa Wasi Sambuja ke serambi.” minta Mahendra kemudian kepada para pengawal Pangeran Indrasunu.

Oleh beberapa orang maka Wasi Sambuja itu pun kemudian dibaringkan di amben kayu di serambi samping istana Pangeran Wirapaksi. Sementara itu, justru Witantra masih tetap berbaring di sisi arena.

“Apakah Ki Witantra tidak dibawa ke serambi pula?” bertanya Pangeran Wirapaksi.

Tetapi Mahisa menggeleng. Katanya, “Ia sedang berusaha dengan kekuatan sendiri untuk memperbaiki pernafasan dan berusaha menyembuhkan guncangan di dalam dadanya karena benturan itu. Aku masih berharap bahwa ia dapat melakukannya bagi dirinya sendiri tanpa bantuan sejenis obat-obatan, karena dengan kekuatan sendiri, segalanya akan berjalan lebih baik dan wajar bagi tubuhnya.”

Pangeran Wirapaksi mengangguk-angguk. Tetapi ia pun melihat bahwa pernafasan Witantra yang terbaring di sisi arena itu, semakin lama menjadi semakin teratur.

Dalam pada itu, setelah Wasi Sambuja terbaring di amben kayu, maka Mahisa Agni dan Mahendra pun meninggalkannya dan mereka pun mendekati Witantra yang terbaring sambil berkata kepada para pengawal Indrasunu, agar Pangeran Indrasunu yang tertidur itu pun dibawa ke serambi pula.

Ketika Mahisa Agni dan Mahendra berjongkok di sisi tubuh Witantra, ternyata bahwa Witantra sudah berhasil mengatasi segala kesulitan di dalam dirinya. Meskipun tubuhnya masih sangat lemah, namun pernafasannya sudah menjadi teratur. Dadanya tidak lagi terasa pepat bagaikan ditindih gunung.

Dibantu oleh Mahisa Bungalan, maka perlahan-lahan Witantra pun berusaha untuk duduk. Sambil menarik nafas dalam-dalam, ia bergumam, “Wasi itu memiliki ilmu yang sangat tinggi. Dimana ia sekarang?”

Mahisa Agni memandang ke serambi sambil berkata, “Ia telah dibaringkan di amben kayu.”

Wajah Witantra menegang. Dengan terbata-bata ia bertanya, “Tetapi bukankah aku tidak membunuhnya?”

“Tidak,” jawab Mahendra, “ia tidak mati. Tetapi keadaannya sangat parah. Tetapi aku sudah memberikan obat baginya. Mudah-mudahan ia berhasil mengatasi keadaannya.”

Witantra mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan melihatnya.”

Dengan tubuh yang masih lemah, Witantra itu pun berdiri dibantu oleh Mahisa Bungalan. Ia pun kemudian diikuti oleh Mahisa Agni dan Mahendra melangkah menuju ke serambi pula untuk melihat keadaan Wasi Sambuja.

Ketika Witantra sampai di serambi, Wasi Sambuja masih terbaring diam. Nampaknya keadaannya memang parah. Namun setelah obat yang diberikan oleh Mahendra dituangkan ke dalam mulutnya dan mengalir melalui tenggorokannya, maka pernafasannya menjadi berangsur baik dan mulai teratur. Namun demikian matanya masih tetap terpejam.

Witantra yang lemah itu pun kemudian duduk di bibir amben tempat Wasi Sambuja terbaring. Ketika ia memandang ke amben yang lain, dilihatnya Pangeran Indrasunu pun terbaring pula.

“Kenapa anak itu?” bertanya Witantra.

“Aku telah membuatnya tidur sebentar.” jawab Mahendra yang kemudian menceriterakan apa yang telah diperbuat oleh Pangeran Indrasunu.

Dalam pada itu, ketika angin yang silir menyentuh tubuh Pangeran Indrasunu, maka ia pun mulai sadar perlahan-lahan. Akhirnya ia pun teringat segalanya yang telah terjadi, sehingga karena itu, maka ia pun segera meloncat bangun.

“Dimana guru?” Pangeran Indrasunu itu pun kemudian bertanya dengan tegang.

“Tenanglah,” berkata Mahendra, “gurumu sedang berusaha untuk memperbaiki pernafasannya.”

“Omong kosong. Kalian telah membunuhnya.” Pangeran itu membentak.

“Ia dalam keadaan yang semakin baik.” jawab Mahendra.

“Omong kosong. Jika kalian membunuh guru, bunuh aku sama sekali. Guru datang kemari karena aku memanggilnya. Karena itu, maka kematiannya harus aku tuntut sampai akhir hidupku pula.”

“Gurumu masih hidup,” jawab Mahisa Agni, “ia akan berangsur baik jika kau tidak mengganggunya. Tetapi jika kau tidak mau mengerti usaha kami, maka kematiannya adalah karena pokalmu. Itu berarti bahwa kaulah yang membunuhnya.”

Pangeran Indrasunu termangu-mangu sejenak. Namun katanya kemudian, “Kalian berusaha menipu aku.”

“Tunggulah barang sejenak. Kau akan melihat satu kenyataan tentang keadaan gurumu ini. Lihat, pernafasannya telah menjadi lebih lancar dan lebih teratur.” jawab Mahendra.

Pangeran Wirapaksilah yang kemudian mendekati adik iparnya. Dibimbingnya adik iparnya untuk duduk. Dengan kata-kata sareh Pangeran Wirapaksi berkata, “Adimas Indrasunu. Jika orang-orang itu bermaksud jahat, maka alangkah mudahnya untuk membunuh Wasi Sambuja dalam keadaan itu. Tetapi kau harus percaya bahwa mereka tidak akan melakukannya.”

Pangeran Indrasunu menarik nafas dalam-dalam. Tubuhnya sendiri rasa-rasanya masih terlalu letih. Bukan saja karena perang tanding. Tetapi benturan ilmu yang telah terjadi, membuatnya hampir tidak bertenaga lagi.

Sebenarnyalah seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang mengerumuni Wasi Sambuja termasuk Witantra, bahwa pernafasannya menjadi semakin baik. Beberapa kali Wasi Sambuja menarik nafas dalam-dalam meskipun matanya masih terpejam. Namun perlahan-lahan pula ia mulai menggerakkan pelupuk matanya itu.

Ketika matanya terbuka, ia melihat beberapa orang duduk di bibir amben kayu tempat ia terbaring. Semula bayangan-bayangan itu nampak baur. Namun semakin lama menjadi semakin jelas, sehingga akhirnya ia melihat seorang demi seorang. Di antara mereka nampak Witantra, orang yang melawannya dalam perang tanding, dan Pangeran Wirapaksi sendiri.

Wasi Sambuja menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia melihat Pangeran Indrasunu maka ia pun berdesis, “Pangeran.”

Pangeran Indrasunu mendekatinya. Dengan penuh harap ia berkata, “Apakah guru menjadi semakin baik?”

Wasi Sambuja tersenyum. Katanya, “Aku berangsur semakin baik.”

Pangeran Indrasunu mengangguk-angguk. Katanya, “Syukurlah. Sebentar lagi guru akan pulih kembali.”

Sesaat Wasi Sambuja masih tetap berbaring. Namun pernafasannya tidak lagi terasa sesak. Dan ia pun merasa pada bibir dan lidahnya, bahwa ia telah minum obat yang membantunya mempercepat kesadarannya.

Namun ketika tubuhnya terasa menjadi semakin baik, maka Wasi Sambuja itu pun berusaha untuk bangkit.

“Jangan memaksa diri,” desis Pangeran Wirapaksi, “berbaring sajalah.”

Tetapi Wasi Sambuja berusaha untuk tersenyum dan menjawab, “Aku sudah berangsur baik.”

Dibantu oleh Pangeran Indrasunu, maka Wasi Sambuja pun segera duduk bersandar dinding kayu serambi. Sementara itu, beberapa orang masih tetap mengerumuni mereka.

“Sungguh di luar dugaan,” desis Wasi Sambuja, “bahwa aku telah dikalahkan oleh orang-orang yang tidak aku kenal sebelumnya. Tetapi sudah tentu bahwa yang terjadi ini bukan akhir dari segala-galanya. Meskipun aku tahu, bahwa kalian adalah orang-orang jantan yang menghargai keluhuran budi, sehingga kalian tidak membunuh aku pada saat aku tidak berdaya.”

“Apakah Wasi Sambuja masih mendendam?” bertanya Pangeran Wirapaksi.

“Tidak, Pangeran. Persoalannya bukan dendam dan benci. Tetapi sekedar harga diri sebuah perguruan.” jawab Wasi Sambuja.

“Jadi paman Wasi Sambuja merasa terhina karena pimpinan tertinggi perguruan paman, dikalahkan oleh orang-orang yang sebelumnya tidak pernah dikenal? Begitu?” bertanya Pangeran Wirapaksi.

“Ya. Begitulah kira-kira.” jawab Wasi Sambuja.

“Bagaimana jika yang telah mengalahkan paman Wasi Sambuja itu orang-orang yang telah punya nama?” bertanya Pangeran Wirapaksi.

“Jika tatarannya cukup tinggi untuk mengalahkan aku, maka itu adalah wajar sekali. Tetapi kekalahan yang terjadi ini sebenarnya tidak boleh dipakai sebagai ukuran betapa rendahnya derajad perguruan Wasi Sambuja.”

“Paman menilai diri sendiri terlalu besar.” berkata Pangeran Wirapaksi. “Tetapi baiklah. Jika paman ingin persoalan ini selesai, maka aku ingin memperkenalkan paman. Mungkin paman pun telah mengenalnya, tetapi paman kurang memperhatikan, dan tidak sempat mengingat, kembali apa yang pernah terjadi di Kediri.”

“Apa yang telah terjadi?” bertanya Wasi Sambuja.

“Sampai saat ini masih ada wakil kekuasaan Singasari di Kediri.” berkata Pangeran Wirapaksi.

“Ya.” jawab Wasi Sambuja.

“Nah, menurut paman, bagaimana dengan orang yang mendapat tugas seperti itu? Maksudku, apakah orang-orang yang demikian itu dapat disebut orang-orang yang telah mempunyai nama?” bertanya Pangeran Wirapaksi.

“Ah, apa hubungannya persoalan ini dengan wakil kekuasaan Singasari di Kediri?” bertanya Wasi Sambuja.

“Apakah paman Wasi Sambuja merasa diri seorang yang pilih tanding sehingga mampu mengalahkan seorang Senopati Agung Singasari yang berada di Kediri?” bertanya Pangeran Wirapaksi itu pula.

“Jangan berkata begitu, Pangeran. Dengan demikian maka Pangeran telah menuduh aku memberontak melawan kekuasaan Singasari. Padahal masalahnya adalah masalah yang sangat pribadi.” jawab Wasi Sambuja.

“Tidak. Aku sama sekali tidak akan mengaitkan hal ini dengan hubungan antara paman Wasi Sambuja dengan Singasari. Tetapi aku ingin paman menjawab pertanyaanku.” desak Pangeran Wirapaksi.

“Aku tidak dapat menjawab, Pangeran.” berkata Wasi Sambuja, “Tetapi sudah barang tentu, bahwa Senopati Agung itu memiliki kemampuan yang sangat tinggi.”

“Apalagi pada saat-saat permulaan kekuasaan Singasari atas Kediri. Maka orang yang ditugaskan di Kediri tentu orang-orang yang memiliki bekal yang mapan.” berkata Pangeran Wirapaksi.

Wasi Sambuja menjadi semakin heran. Tetapi ia justru menjadi semakin bingung ketika Pangeran Wirapaksi berkata, “Bagaimanakah sikap paman Wasi Sambuja jika pada suatu saat paman dapat dikalahkan oleh Senopati Agung Singasari yang berada di Kediri? Apakah paman masih juga berbicara tentang harga diri sebuah perguruan?”

Wasi Sambuja menarik nafas dalam-dalam. Namun setelah berpikir sejenak ia menjawab, “Pangeran Wirapaksi, pertanyaan Pangeran memang terdengar aneh di telingaku. Tetapi baiklah aku mencoba menjawabnya. Jika yang mengalahkan aku adalah seorang Senopati Agung, sudah tentu aku tidak akan berbicara tentang harga diri, karena wajar sekali bagiku, jika aku dikalahkan oleh seorang Senopati Agung Singasari. Bukan sekedar Senopati kebanyakan.”

“Apalagi Senopati Agung itu adalah wakil kekuasaan Singasari di Kediri.” Pangeran Wirapaksi melanjutkan.

“Ya.” jawab Wasi Sambuja.

“Jika demikian, sebenarnyalah bahwa sudah tidak ada masalah lagi bagi paman Wasi Sambuja.” berkata Pangeran Wirapaksi.

Wasi Sambuja termangu-mangu. Katanya kemudian, “Aku tidak mengerti, Pangeran.”

“Sebenarnyalah, bahwa paman tentu mengenal seseorang yang pernah bergelar Panji Pati-pati, Senopati Agung Singasari yang bertugas di Kediri. Tidak jauh setelah kekuasaan Ken Arok yang bergelar Sri Ranggah Rajasa di Singasari temurun kepada puteranya Pangeran Tohjaya, setelah disisipi oleh kekuasaan Pangeran Anusapati.” berkata Pangeran Wirapaksi.

Wasi Sambuja mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti.”

“Bagaimana penilaian paman Wasi Sambuja terhadap Panji Pati-pati itu?” bertanya Pangeran Wirapaksi.

Wasi Sambuja menjadi semakin bingung. Namun dalam pada itu Pangeran Wirapaksi pun menjelaskan, “Paman Wasi Sambuja. Ketika Ken Arok yang bergelar Sri Ranggah Rajasa berkuasa atas Singasari setelah mengalahkan Kediri, maka yang menjadi Senopati Agung dari Singasari di Kediri adalah paman Mahisa Agni. Setelah itu, pada suatu saat, paman Panji Pati-pati juga pernah menjalankan tugas serupa. Dan orang yang bergelar Panji Pati-pati itu adalah paman Witantra.”

“O.” wajah Wasi Sambuja menjadi tegang.

“Nah, bukankah tidak ada persoalan lagi? Paman Witantra adalah Senopati Agung sejak Ken Arok berada di Singasari yang masih berujud Pakuwon. Ia adalah Senopati Agung Akuwu Tunggul Ametung. Kemudian masa kekuasaan Ken Arok di Singasari dan Kediri, yang pada suatu saat telah melemparkan paman Witantra ke Kediri.” berkata Pangeran Wirapaksi.

“Jadi orang inikah Senopati Agung itu?” suara Wasi Sambuja merendah.

“Ya. Paman Mahisa Agni dan paman Witantra, keduanya pernah memegang kedudukan Senopati Agung itu.”

Wasi Sambuja menarik nafas dalam-dalam. Tetapi masih terpercik keragu-raguanriya atas keterangan Pangeran Wirapaksi itu sehingga Pangeran itu berkata, “Kau tentu sudah pernah mendengar namanya, tetapi belum pernah melihat orangnya. Tetapi jika kau ragu, bertanyalah kepada siapapun juga yang langsung berada di Kota Raja Kediri saat itu.”

Akhirnya Wasi Sambuja mengangguk kecil. Katanya, “Baiklah. Aku memang harus mengaku, bahwa aku telah dikalahkan. Apalagi setelah aku mendapat keterangan dari Pangeran Wirapaksi, maka aku pun harus menilai kembali perasaan harga diri tentang sebuah perguruan.”

“Sudahlah, paman,” berkata Pangeran Wirapaksi, lalu, “sebenarnyalah kita dapat menganggap bahwa persoalannya telah selesai. Biarlah adimas Indrasunu tidak lagi menyebut-nyebut gadis yang bernama Ken Padmi itu. Kemanakan paman Mahisa Agni dan paman Witantra.”

Wasi Sambuja menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Pangeran Indrasunu yang menundukkan kepalanya. Namun kemudian Wasi Sambuja itu pun berkata, “Sebelumnya, Pangeran Indrasunu tidak pernah gagal. Tetapi kali ini, biarlah kami mengakui, bahwa kami pada suatu saat telah membentur kekuatan yang tidak terlawan. Dan apalagi ternyata bahwa kami telah berhadapan dengan kekuatan yang memang tidak sepantasnya kita lawan.”

Pangeran Indrasunu masih tetap menunduk. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Jika gurunya telah menyerah kepada keadaan, maka apa yang akan dapat dilakukannya.

Karena itulah, maka ia harus menerima keadaan itu. Untuk pertama kali ia gagal mengambil seorang gadis yang diingininya, justru di Singasari.

“Memang Singasari mempunyai suasana yang lain.” berkata Pangeran Indrasunu di dalam hatinya. Di Singasari ia melihat, bahwa Pangeran Wirapaksi tidak berpihak kepadanya meskipun Pangeran Wirapaksi itu adalah kakak iparnya dan juga seorang bangsawan seperti dirinya.

“Jika kakangmas mau mempergunakan kekuasaannya maka segalanya akan selesai. Tetapi nampaknya ia justru berpihak kepada orang-orang yang bukan dari tataran bangsawan.” berkata Pangeran Indrasunu di dalam hatinya. Sehingga karena itu, maka Pangeran Wirapaksi sama sekali tidak mau mempergunakan kekuasaannya untuk memenuhi keinginannya.

Dalam pada itu, maka Pangeran Indrasunu itu pun harus menerima segalanya dengan hati yang geram. Namun akhirnya ia pun telah berusaha untuk melihatnya sebagai satu kenyataan meskipun ia merasa sangat kecewa terhadap kakak iparnya.

Tetapi kenyataan itu memang tidak dapat ditolaknya. Yang harus dilakukannya kemudian adalah melupakan seorang gadis padepokan yang bernama Ken Padmi, yang kini tinggal di rumah Mahendra.

Tetapi Pangeran Indrasunu ragu-ragu akan dirinya. Apakah ia benar-benar akan dapat melupakannya. Mungkin ia dapat melupakan gadis yang bernama Ken Padmi itu dengan mengambil sepuluh orang gadis di Kediri. Gadis-gadis padesan yang lain akan merasa sangat berbahagia apabila mereka mendapat kesempatan untuk diangkat menjadi selir seorang bangsawan, karena dengan demikian, mereka berharap bahwa di antara keturunan yang akan lahir adalah keturunan bangsawan.

Tetapi kekalahan yang dialaminya dan bahkan dialami oleh gurunya tentu akan tetap menyiksanya. Meskipun nampaknya gurunya justru telah menerima kekalahan itu dengan ikhlas, tetapi Pangeran Indrasunu berpendirian lain.

Meskipun demikian segala getar di dadanya itu disimpannya saja. Ia tidak dapat mengatakannya kepada siapapun. Tidak kepada kakak iparnya, dan bahkan tidak kepada gurunya.

Dalam pada itu, maka permusuhan itu pada gelar kelahirannya sudah dihentikan. Wasi Sambuja sama sekali tidak ingin berusaha untuk berbuat apa pun juga. Bahkan Wasi Sambuja sebenarnyalah telah menerima keadaan itu dengan ikhlas, setelah ia menyadari dengan siapa ia berhadapan.

Namun agaknya berbeda dengan Pangeran Indrasunu.

Karena itu, maka arena yang dibuat di halaman Pangeran Wirapaksi itu pun telah dihilangkan. Gawarnya pun telah digulung, sementara para pengawal telah meninggalkan halaman. Baik pengawal istana Pangeran Wirapaksi, maupun para pengawal Pangeran Indrasunu. Mereka telah berada di serambi gandok, sementara para Pengawal istana itu telah berkumpul di regol halaman.

Demikianlah, maka yang ada di halaman itu pun kemudian oleh Pangeran Wirapaksi telah diterima sebagai tamu-tamu mereka. Namun beberapa orang masih juga nampak letih. Witantra pun ternyata lebih senang meneguk minuman daripada mengunyah makanan. Rasa-rasanya badannya masih lungkrah sehingga yang paling segar baginya adalah minum sebanyak-banyaknya. Demikian pula Wasi Sambuja, Mahisa Bungalan dan Pangeran Indrasunu.

Namun sementara itu, ternyata Wasi Sambuja tidak dapat terlalu lama berada di istana Pangeran Wirapaksi. Meskipun tubuhnya masih belum pulih, maka ia benar-benar berhasrat ingin segera kembali ke padepokannya.

“Pangeran Indrasunu akan tetap berada di sini sampai keadaannya menjadi baik dan kekuatannya pulih kembali.” berkata gurunya.

Ternyata Wasi Sambuja benar-benar tidak dapat ditahan lagi. Ia pun segera mohon diri setelah dengan ikhlas ia minta maaf atas segala perbuatannya.

“Aku mohon kelancangan kami dapat dilupakan.” berkata Wasi Sambuja. Kemudian katanya pula, “Sebenarnyalah tidak ada gunanya kami mengingkari kenyataan ini. Seandainya aku mendendam, dan merencanakan bertemu dalam waktu satu dua tahun lagi, maka akhirnya tidak akan berubah. Aku mungkin justru akan dibinasakan karena aku sudah mengulangi kesalahan yang serupa.”

“Kami sudah melupakannya,” jawab Witantra, “tetapi aku mohon bahwa yang kau ucapkan benar-benar keluar dari nuranimu.”

“Aku berkata dengan jujur. Aku sudah cukup tua untuk mengerti keadaan diri sendiri.” jawab Wasi Sambuja.

Ternyata Wasi Sambuja benar-benar meninggalkan istana itu dan kembali ke padepokannya. Rasa-rasanya ia benar-benar ingin beristirahat tanpa segan. Ia ingin tidur tanpa diganggu dan makan yang dikehendaki untuk memulihkan tubuhnya. Di padepokan ia akan mendapat reramuan berbagai jenis akar dan dedaunan bagi makanannya sekaligus obat yang akan dapat memulihkan keadaannya dengan cepat.

Sebenarnyalah sepeninggal Wasi Sambuja, maka Mahendra pun telah mohon diri pula. Demikian juga Mahisa Agni dan Witantra yang akan membawa Mahisa Bungalan kembali ke istana. Mereka masih belum melaporkan bahwa mereka telah siap untuk menghadap. Terlebih-lebih adalah Mahisa Bungalan, setelah petualangannya yang sebelum ia berangkat disebutnya yang terakhir.

Pangeran Wirapaksi tidak dapat menahan mereka. Mahendra kembali ke kampung halamannya, sementara Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan masuk ke dalam istana Maharaja Singasari.

Dalam pada itu, ketika istana Pangeran Wirapaksi sudah sepi, maka Pangeran Indrasunu duduk termenung di serambi samping. Betapapun juga, ia masih tetap merenungi apa yang telah terjadi. Ternyata ia tidak seikhlas gurunya menerima kenyataan itu. Bukan karena Ken Padmi, tetapi justru karena kekalahan-kekalahan yang memalukan.

Pangeran Indrasunu terkejut ketika ia mendengar desir lembut mendekatinya. Ketika ia berpaling, dilihatnya isteri Pangeran Wirapaksi yang juga kakak perempuan Pangeran Indrasunu, mendekatinya.

“Kakangmbok.” desis Pangeran Indrasunu.

Pangeran Indrasunu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian bergeser ketika isteri Pangeran Wirapaksi itu duduk di sampingnya.

“Aku sudah mengetahui segalanya yang terjadi.” berkata kakak perempuan Pangeran Indrasunu itu.

“Aku telah dihinakan di sini,” desis Pangeran yang masih muda itu, “sementara itu kakangmas Wirapaksi sama sekali tidak berusaha untuk membantuku.”

“Ia sudah dijangkiti penyakit para bangsawan di Singasari.” jawab kakak perempuannya.

“Penyakit apa?” bertanya Pangeran Indrasunu.

“Kehilangan kewibawaan dan tidak percaya lagi akan kekuasaan yang ada di tangannya. Karena itu, kakangmasmu selalu bertindak ragu-ragu dan tidak tuntas. Bahkan kadang-kadang merugikan dirinya sendiri.” jawab kakak perempuannya.

Pangeran Indrasunu memandang kakak perempuannya dengan kerut merut di dahinya. Dengan suara bernada tinggi ia bertanya, “Jadi kakangmbok juga berpendapat demikian?”

Kakak perempuannya mengangguk kecil. Jawabnya, “Ya. Aku berpendapat demikian.”

“Dan kakangmbok tidak pernah menegurnya?” bertanya adiknya.

“Aku sudah berusaha memperingatkannya,” berkata kakak perempuannya, “justru Pangeran Wirapaksi mempunyai kewajiban untuk menegakkan kewibawaan para bangsawan. Sejak anak padesan yang pernah menjadi buruan Akuwu Tunggul Ametung di hutan Karautan itu memegang pemerintahan di Singasari dan bahkan kemudian berhasil mengalahkan Kediri, maka telah terjadi sungsang buwana balik. Seolah-olah para bangsawan sudah tidak berharga lagi. Dan bangkitlah satu trah rakyat jelata yang memegang kekuasaan. Bukankah Ken Dedes yang terkenal sebagai bunga di lereng Gunung Kawi itu pun hanya anak padepokan Palawijen?”

“Ya. Ya. Aku mengerti kakangmbok. Yang berkuasa sekarang di Singasari adalah keturunan Ken Dedes itu. Baik dari suaminya Tunggul Ametung, maupun dari anak brandal yang bernama Ken Arok.” jawab Pangeran Indrasunu.

“Ya. Dan sekarang kakangmasmu sudah terpengaruh jalan kehidupan dan cara berpikir orang-orang Singasari yang tidak lagi menarik batas antara para bangsawan dan rakyat jelata meskipun ia memegang jabatan setinggi apapun juga.” berkata isteri Pangeran Wirapaksi itu.

“Dan kakangmas Pangeran dengan rela melihat kenyataan itu. Bahkan mendukungnya.” geram Pangeran Indrasunu. Tiba-tiba anak muda itu berkata, “Kakangmas harus bangkit. Para bangsawan harus mengerti tentang dirinya sendiri. Termasuk para bangsawan di Singasari yang lahir sebagai keturunan para Raja dan Maharaja, meskipun mereka berasal dari keturunan rakyat jelata.”

“Itulah yang akan tetap membaurkan hak para bangsawan.” berkata kakak perempuannya.

“Jadi?” bertanya adiknya.

“Aku seorang perempuan yang tidak banyak mengetahui seluk beluk pemerintahan. Tetapi ada semacam ketidakrelaan di dalam hatiku, seperti apa yang baru saja terjadi, bahwa kau harus memasuki arena perang tanding melawan seorang anak muda petualang yang tidak sederajat dengan kau. Apalagi dengan demikian kau telah gagal mengambil seorang gadis padesan itu.” berkata kakak perempuannya.

“Jadi bagaimana menurut kakangmbok?” bertanya Pangeran Indrasunu.

“Aku tidak mengerti. Tetapi keadaan ini membuat aku menjadi sangat prihatin dan kadang-kadang sakit hati.” jawab isteri Pangeran Wirapaksi, “Hampir setiap hari aku melihat, bagaimana Pangeran Wirapaksi harus melayani orang-orang berkedudukan rendah seperti ia melayani Pangeran-pangeran di Kediri.”

Pangeran Indrasunu mengangguk-angguk. Katanya, “Ternyata tata kehidupan di Kediri masih lebih baik meskipun Kediri saat ini dibawahi perintah Singasari. Aku akan berbicara dengan beberapa orang bangsawan di Kediri, bahwa tata kehidupan di Singasari telah menjadi kalut dan tidak terdapat lagi tataran-tataran yang jelas.”

“Cobalah berbicara dengan orang-orang tua.” berkata kakak perempuannya, “Bagaimana pun juga Kediri harus tetap teguh dengan tata kehidupannya.”

Pangeran Indrasunu mengangguk kecil. Kemudian katanya, “Jika aku kembali, aku akan melakukannya. Aku masih tetap merasa terhina oleh kekalahanku. Guru-pun nampaknya telah pasrah dan tidak berupaya apa pun juga.”

“Jangan kau sangka begitu. Bukankah gurumu dengan tergesa-gesa meninggalkan tempat ini? Ia tidak dapat terlalu lama menanggung malu di sini. Namun ia tidak dapat mengingkari satu kenyataan, bahwa ia tidak dapat memenangkan perang tanding itu.” jawab kakak perempuannya.

“Tetapi tidak nampak pada sikap dan kata-kata guru bahwa ia akan kembali untuk menuntut kemenangan.” berkata Pangeran Indrasunu.

“Tetapi jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan tentang gurumu.” berkata isteri Pangeran Wirapaksi. Lalu, “Sebaiknya kau melihat dan menilai keadaan yang bakal berkembang. Aku akan tetap mendampingi Pangeran Wirapaksi untuk berusaha dapat mengarahkan pandangan hidupnya yang telah berubah itu.”

“Baiklah, kakangmbok. Aku akan melakukannya,” jawab Pangeran Indrasunu, “aku akan segera kembali ke Kediri dan bertemu dengan beberapa orang. Tetapi aku curiga terhadap Pangeran Kuda Padmadata. Ia ternyata telah menodai dirinya sendiri dengan mengambil seorang gadis padesan menjadi isterinya. Justru isterinya yang diambilnya dari tataran para bangsawan telah tidak berada di istananya sepeninggal adiknya yang terbunuh itu.”

“Tinggalkan orang itu,” berkata kakak perempuannya, “jika Pangeran Kuda Padmadata memang meragukan, kau tidak usah berbicara dengannya. Masih banyak orang-yang akan dapat mengerti tentang sikapmu itu. Dan tentu masih banyak orang yang ikut prihatin atas peristiwa yang baru saja terjadi di halaman istana ini.”

Pangeran Indrasunu mengangguk-angguk. Ternyata bahwa kakak perempuan mempunyai sikap yang berbeda dengan kakak iparnya. Dengan sikap itu, maka ia masih berpengharapan, bahwa pada suatu saat, ia akan dapat menebus kekalahannya yang berarti bukan saja kekecewaan karena ia tidak dapat membawa gadis cantik itu, tetapi juga harga dirinya.

Menurut pengamatan Pangeran Indrasunu dan kakak iparnya, Pangeran Wirapaksi sudah tidak berdiri di atas tatarannya. Bahkan agaknya para pemimpin pemerintahan di Singasari pun menganggap bahwa orang-orang dari tataran yang paling rendah pun akan mendapat perlakuan yang sama dengan para Pangeran.

Karena itu, maka Pangeran Indrasunu pun akan melakukan sesuatu untuk merubah tataran hidup khususnya kakak iparnya.

Dengan bekal sikap itulah, maka di hari berikutnya Pangeran Indrasunu mohon diri kepada kakak iparnya untuk kembali ke Kediri setelah beberapa waktu ia berada di Singasari.

Dalam pada itu, niatnya yang dilambari oleh dendam dan kekecewaan pribadi itu, benar-benar akan dilaksanakannya. Karena itu, demikian ia sampai di Kediri, ia pun mulai mencari kemungkinan untuk melakukan niatnya.

Tetapi pada saat ia menjajagi sikap beberpa orang Pangeran yang masih terikat hubungan keluarga dan di antara mereka adalah saudara sepupunya, maka pangeran Indrasunu menjadi kecewa. Beberapa orang Pangeran, yang bukan Pangeran Kuda Padmadata justru telah menasehatinya, bahwa sebenarnyalah jarak antara orang-orang yang disebut orang kecil dan para bangsawan memang sudah sepatutnya diperkecil.

“Bukan karena kami takut terhadap tindakan orang-orang Singasari, tetapi ternyata bahwa kami sependapat dengan sikap itu.” berkata seorang Pangeran yang lebih tua dari Pangeran Indrasunu.

Betapa kecewanya Pangeran Indrasunu mendengar jawaban beberapa orang yang dihubunginya. Seolah-olah ia telah tersisih pada satu sikap yang berbeda dengan orang-orang di sekitarnya.

Tetapi Pangeran Indrasunu tidak putus asa. Ia masih tetap berusaha untuk mendapatkan dukungan atas sikapnya itu. Karena usahanya yang tidak mengenal lelah, maka akhirnya, Pangeran Indrasunu bertemu juga pendiriannya dengan beberapa orang Pangeran muda.

“Kediri sudah benar-benar lumpuh.” geram Pangeran Indrasunu. “Jika sikap para bangsawannya masih tetap seperti budak-budak belian, maka Kediri untuk selamanya tidak akan pernah bangkit.”

“Kitalah yang wajib berbuat sesuatu,” jawab seorang pangeran muda yang lain, “aku mempunyai sepasukan pengawal yang setia. Demikian pula agaknya setiap orang di antara kita. Karena itu, jika kita benar-benar bertekad, maka kita akan mampu berbuat sesuatu.”

“Tentu tidak cukup.” desis seorang Pangeran yang lebih tua. Bertubuh kecil, tidak terlalu tinggi. Namun hatinya bergejolak seperti kawah gunung berapi, “Aku mempunyai seorang kakak yang mempunyai kesempatan paling baik melakukannya.”

“Siapa?” bertanya Pangeran Indrasunu.

“Pangeran Suwelatama. Kakangmas Suwelatama yang menjadi Akuwu di Kabanaran.” jawab Pangeran yang bertubuh kecil.

Wajah pangeran Indrasunu tiba-tiba menjadi cerah. Sambil mengangguk-angguk berkata, “Bagus. Bagus sekali. Kita akan membangunkan satu tata kehidupan yang paling baik di daerah Pakuwon itu. Kita akan melakukan yang bertentangan sepenuhnya dengan apa yang pernah dilakukan oleh Ken Arok. Anak pidak pedarakan yang pernah menjadi orang buruan di padang Karautan. Orang itulah yang mula-mula telah merusak tatanan hidup di Tumapel, karena ia sendiri orang pidak pedarakan. Isterinya, bekas isteri Tunggul Ametung seorang gadis padepokan, sehingga mereka ingin mengangkat derajad tataran yang paling rendah.”

“Kakangmas Suwelatama tentu akan berbuat sebaliknya. Kabanaran akan menjadi landasan tatanan kehidupan yang mapan dengan tataran-tataran yang seharusnya,” berkata Pangeran Indrasunu, “dengan landasan Akuwu Suwelatama aku akan memberi peringatan kepada kakangmas Wirapaksi, bahwa tatanan kehidupan di Singasari dan Kediri sudah rusak.”

“Siapa tahu, bahwa kakangmas Suwelatama akan mendapat dukungan cukup setelah ia berhasil menunjukkan sesuatu yang berharga. Bukankah Ken Arok pun mulai dari Pakuwon Tumapel, kemudian mengalahkan Kediri dan menyebut negerinya Singasari?”

“Kabanaran akan bangkit. Kediri dan Singasari pada saatnya akan tunduk di bawah kaki Akuwu Suwelatama.” berkata Pangeran Indrasunu pula. Lalu, “Tentu Akuwu Suwelatama tidak akan lebih buruk dari Akuwu Ken Arok pada waktu itu.”

Dengan demikian maka beberapa orang Pangeran telah sepakat untuk menemui Akuwu Kabanaran, yang sebenarnya juga seorang Pangeran. Tetapi nampaknya ia merasa lebih bebas dan lebih dapat merasakan kekuasaan yang ada di tangannya sebagai seorang Akuwu.

Para Pangeran yang merasa memiliki kekuatan masing-masing akan dapat mendukung kekuatan yang ada di Kabanaran. Sehingga dengan demikian, maka yang akan dilakukan oleh Akuwu Suwelatama akan lebih mudah daripada yang dilakukan oleh Ken Arok.

Demikianlah, maka para Pangeran itu telah bersepakat untuk pergi ke Kabanaran untuk menemui Pangeran Suwelatama. Menurut pendapat mereka, semakin cepat akan semakin baik.

“Tetapi aku harus berbicara pula dengan guru,” berkata Pangeran Indrasunu, “guru Wasi Sambuja harus mengetahui rencana ini. Mungkin dengan beberapa orang saudara seperguruannya, ia akan dapat membantu kami, karena sebenarnyalah di Singasari terdapat orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi di antara para prajurit dan Senopati.”

“Kau sangka di Kediri tidak ada orang-orang yang sakti?” bertanya seorang Pangeran.

“Tetapi apakah orang itu bersedia bekerja bersama kita, itulah soalnya.” jawab Pangeran Indrasunu.

Para Pangeran yang lain pun mengangguk-angguk. Mereka sependapat dengan pikiran Pangeran Indrasunu.

Namun dalam pada itu, maka para Pangeran itu pun benar-benar telah mengambil satu sikap. Mereka telah menentukan, di keesokan harinya, mereka akan pergi menemui Akuwu Suwelatama.

Ampat orang Pangeran yang masih muda, telah pergi menemui Akuwu Suwelatama. Di antara mereka adalah Pangeran Indrasunu dan Pangeran yang bertubuh kecil, adik Akuwu Suwelatama, yang lebih senang tinggal di Pakuwon daripada di dalam istana di Kota Raja Kediri.

Kedatangan mereka telah mengejutkan Akuwu Suwelatama. Sudah agak lama adiknya tidak berkunjung ke istananya yang terpisah dari Kota Raja. Tiba-tiba adiknya yang bertubuh kecil itu telah datang bersama beberapa orang Pangeran yang lain.

“Nampaknya ada sesuatu yang penting.” bertanya Pangeran Suwelatama yang lebih senang menjadi Akuwu itu setelah ia menanyakan keselamatan tamu-tamunya.

“Tidak, kakangmas,” jawab Pangeran yang bertubuh kecil itu, “kami hanya ingin mengunjungi kakangmas. Kami merasa terlalu pepat dan terkurung di Kota Raja. Di sini kami menghirup udara yang segar, dan yang seakan-akan bebas menghisap udara seberapa pun kami ingini.”

Akuwu Suwelatama tertawa. Katanya, “Syukurlah. Jika kalian kerasan di sini, tinggallah di sini. Sebenarnyalah bahwa hidup di Pakuwon jauh lebih senang daripada hidup berjejal di Kota Raja dengan segenap bentuk kehidupan yang memuakkan. Di sini aku dapat berbuat segalanya yang sesuai dengan sikap dan pandangan hidupku. Meskipun itu bukan berarti bahwa Pakuwon ini melepaskan diri dari kuasa Kediri dan bahkan Singasari, tetapi aku dapat mengatur tata kehidupan sehari-hari sesuai dengan tata cara yang paling baik menurut pendapatku.”

“Benar, kakangmas,” jawab Pangeran yang bertubuh kecil itu, “apalagi pada saat-saat Kediri sudah kehilangan kewibawaannya. Seolah-olah Kediri sudah tidak lagi mempunyai tatanan kehidupan sesuai dengan adat yang berlaku dari abad ke abad.”

“Apa yang kau maksud adimas?” bertanya Akuwu Suwelatama.

Pangeran bertubuh kecil itu tertawa. Jawabnya, “Tidak apa-apa. Tetapi barangkali kakangmas juga mengetahui, bahwa ada perubahan di dalam tatanan kehidupan di Kediri, terlebih-lebih lagi di Singasari. Tataran kehidupan tidak lagi dihormati, dan bahkan para Pangeran dan para bangsawan telah lupa akan dirinya.”

Akuwu Suwelatama tertawa. Katanya, “Jadi baru sekarang kau sadari hal itu?”

“Ya.” jawab adiknya. Lalu, “Saudara-saudara kita ini pun terlambat menyadari keadaan.”

“Karena itu, aku lebih senang berada di sini.” jawab Akuwu Suwelatama, “Di sini aku bagaikan seorang Maharaja. Semua orang menghormati aku dan keluargaku sebagaimana mereka harus hormat kepada junjungannya.”

Pangeran-pangeran muda yang datang ke Pakuwon itu pun mengangguk-angguk. Pangeran Indrasunu kemudian berkata, “Tataran yang demikian sudah dihinakan di Singasari. Mungkin maksudnya bukan saja menghina tataran itu sendiri, tetapi justru karena aku seorang bangsawan dari Kediri.”

Akuwu Suwelatama mengerutkan keningnya. Dengan nada dalam ia bertanya, “Apa yang sudah terjadi Adimas Indrasunu?”

Pangeran Indrasunu menarik nafas dalam-dalam. Setelah memandang Pangeran bertubuh kecil itu sekilas, maka ia pun kemudian menceriterakan apa yang telah terjadi atas dirinya.

Wajah Akuwu Suwelatama pun nampak berkerut. Demikian Pangeran Indrasunu selesai berceritera dengan menambah di beberapa bagian dari peristiwa-peristiwa yang sebenarnya terjadi, Akuwu itu pun bertanya, “Jadi kau gagal mengambil gadis itu?”

“Ya, kakangmas.” jawab Indrasunu.

“Dan Pangeran Wirapaksi sama sekali tidak berusaha mempergunakan kekuasaan untuk menolong adimas?” bertanya Akuwu itu pula.

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...