PANASNYA BUNGA MEKAR : 22-03
Namun dalam pada itu, selagi mereka sedang mulai dengan pembicaraan-pembicaraan yang mengarah, tiba-tiba saja hutan telah bagaikan terguncang. Mereka telah dikejutkan oleh suara tertawa dari hutan di sebelah. Suara tertawa yang semakin lama terdengar semakin keras. Pepohonan bagaikan terguncang. Daun-daun yang kuning berguguran jatuh di tanah.
Anak-anak muda dan para pengikutnya yang sedang berkumpul itupun menjadi terkejut. Suara tertawa itu rasa-rasanya telah menghentak-hentak dada mereka. Jantung merekapun bagaikan akan runtuh dari tangkainya di dalam dadanya.
Baik Marwantaka maupun Wiranata menjadi cemas. Keduanya adalah pemimpin-pemimpin dari kelompok-kelompok yang ada di tempat itu, sehingga jika kehadiran mereka harus dipertanggung-jawabkan, maka keduanyalah yang harus bertanggung jawab.
Suara tertawa itu semakin lama menjadi semakin keras. Dengan demikian maka goncangan-angan di dalam dada merekapun rasa-rasanya menjadi semakin keras pula, sehingga bukan saja para pengikut kedua anak muda itu yang menjadi sesak nafas, tetapi Marwantaka dan Wiranatapun harus berjuang untuk mengatasi hentakan- hentakan di dalam dadanya yang bahkan kemudian seolah-olah jalur pernafasan merekapun menjadi tersumbat karenanya.
Orang-orang yang berada di ara-ara kecil itu berusaha untuk menyumbat telinga mereka. Namun ternyata gelaran suara tertawa itu tidak saja menyusup melalui telinga, tetapi rasa-rasanya langsung menghentak-hentak di dalam dada mereka.
Namun dalam pada itu, sebelum jantung mereka benar-benar runtuh dan pernafasan mereka tersumbat karenanya, suara tertawa itu semakin lama menjadi semakin susut. Goncangan yang ditimbulkanpun menjadi semakin berkurang, sehingga akhirnya berhenti sama sekali. Pepohonan tidak lagi bagaikan diguncang dan dedaunan tidak lagi runtuh di atas tanah.
Demikian suara tertawa itu berhenti, maka seseorang telah muncul dari dalam hutan. Seorang yang berwajah dalam, keras dan seolah-olah memancarkan bayangan kemampuan yang tidak dapat dijajagi.
Demikian orang itu muncul, maka terdengar Marwantaka berdesis lemah, “Ki Dukut Pakering”
Orang itu mengerutkan keningnya. Dengan nada rendah ia berkata, “Kau sudah mengenal aku”
“Ya Ki Dukut” jawab Marwantaka, “aku ikut serta dengan Ki Dukut ketika Ki Dukut pergi ke padepokan Ki Kasang Jati.
“O” Ki Dukut mengangguk-angguk, “jadi kau ikut juga berkhianat waktu itu?”
“Tidak Ki Dukut” jawab Marwantaka cepat-cepat, “aku berusaha untuk tetap mempertahankan sikapku. Tetapi aku dipaksa oleh Ki Selabajra untuk berkhianat. Ialah yang sebenarnya berkhianat”
“Selabajra yang mana?” bertanya Ki Dukut.
“Pemimpin dari padepokan Kenanga yang baru saja mengadakan sayembara tanding” jawab Marwantaka.
“O, jadi padepokan Kenanga waktu itu berkhianat”
“Ya. Aku ingat apa yang dilakukan oleh orang itu” jawab Ki Dukut yang kemudian bertanya, “Sekarang, apakah persoalan kalian berkumpul di sini? Apakah kalian akan menangkap aku?”
“Tidak. Tentu tidak. Bagaimana mungkin aku dapat menangkap Ki Dukut” jawab Marwantaka dengan serta merta.
Marwantaka pun segera berceritera serba sedikit tentang keadaannya, hubungannya dengan padepokan Kenanga dan rencananya untuk menghancurkan padepokan itu.
Ki Dukut mengangguk-angguk sambil tertawa. Tetapi suara tertawanya tidak lagi menghentak jantung.
“Jadi kalian mendendam pula kepada Ki Selabajra itu?” bertanya Ki Dukut kemudian, “Baiklah. Aku akan membantu kalian. Apakah kalian percaya kepadaku, bahwa aku akan dapat menyapu padepokan itu”
“Ya, ya Ki Dukut. Yang baru saja terjadi. benar-benar telah mengguncangkan jantungku. Apakah dengan demikian aku tidak akan percaya kepada Ki Dukut” sahut Wiranata pula.
“Jika demikian, baiklah. Kita akan pergi ke padepokan itu. Aku akan menghancurkan semuanya. Terserah apakah kalian akan ikut bersama aku bermain-main dengan padepokan itu, atau serahkan saja seluruhnya kepadaku”
“Jika Ki Dukut tidak berkeberatan, aku ingin ikut serta” berkata Wiranata.
“Aku juga” sambung Marwantaka.
Ki Dukut mengangguk-angguk. Katanya, “Terserah kepada kalian. Jika kalian mau ikut, marilah. Aku akan pergi ke padepokan itu”
“Sekarang?” bertanya Marwantaka.
“Bukankah kalian telah berkumpul?” bertanya Ki Dukut.
“Belum seluruhnya” sahut Wiranata.
“Panggil mereka sekarang. Aku menunggu di sini Kita akan pergi ke padepokan Kenanga sekarang”
Marwantaka dan Wiranata menjadi ragu-ragu. Namun jika mereka menolak kesempatan itu, mungkin Ki Dukut tidak lagi akan bersedia membantu, atau ia akan melakukannya sendiri, sehingga mereka tidak akan ikut serta mendapatkan kepuasan dengan hancurnya padepokan Kenanga.
Karena itu, maka selolah berpikir sejenak, keduanyapun menyatakan kesediaan mereka memanggil kawan-kawannya.
“Silahkan Ki Dukut menunggu sebentar” berkata Wiranata.
“Sebenarnya aku tidak perlu kawan seorang pun” berkata Ki Dukdut, “tetapi agaknya kalian demikian bernafsu untuk berbuat sesuatu atas padepokan itu, karena dendam yang bergejolak di dalam hali kalian, jika aku bertindak sendiri, maka dendam kalian akan membakar jantung kalian sendiri. Karena itu, pergilah dan panggil kawan-kawanmu agar mereka ikut menikmati hancurnya padepokan kecil yang sombong itu”
Marwantaka dan Wiranata pun kemudian meninggalkan beberapa orang pengikutnya untuk memanggil kawan-kawannya lebih banyak lagi. Mereka akan menjadi gembira jika mereka bersama-sama mendapat kesempatan, untuk berbuat sesuatu atas orang-orang yang mereka anggap sangat sombong itu.
Ternyata Ki Dukut tidak menunggu terlalu lama. Meskipun ia hampir saja menjadi jemu, namun kemudian orang-orang yang ditunggunya itu pun berdatangan. Marwantaka telah membawa kawan-kawannya, sementara Wiranata lelah membawa orang-orang upahannya.
Sejenak kemudian, mereka pun telah bersiap. Ki Dukut yang melihat dendam yang membara di hati mereka, tersenyum di dalam hati. Sebenarnya ia telah hampir melupakan padepokan Kenanga yang pernah berkhianat kepadanya. Tetapi kegagalan-kegagalan, berita tentang sayembara tanding yang menarik, serta keterangan-keterangan yang didengarnya telah menggelitiknya untuk melakukan sesuatu.
“Aku akan menonton” berkata Ki Dukut di dalam hatinya karena ia yakin, bahwa orang-orang itu akan dapal melakukan apa saja yang mereka kehendaki. Padepokan kecil itu tidak akan dapal menahan kekuatan Marwantaka dan Wiranata.
“Jika pemimpin padepokan itu memang tidak dapat dikalahkan, karena ternyata anak perempuan saja telah mengejutkan lawan-lawannya di arena sayembara landing, maka aku akan memaksanya untuk berlutut di hadapan kedua anak-anak muda ilu” berkata Ki Dukut di dalam hati. Lalu, “Tentu lucu sekali bahwa gadis itu pun tidak akan dapat lagi membantah keinginan kedua anak muda yang pernah dikalahkannya, Jika ia masih menghendaki ayahnya hidup. Namun akhirnya semuanya akan musnah. Api akan menyala, dan padepokan itu akan menjadi abu. Termasuk Selabajra dan barangkali gadis itu sendiri”
Bayangan yang ganas telah bermain di angan-angan Ki Dukut. Pengalaman pahit, kegagalan- kegagalan serta kesadarannya bahwa ia merupakan seorang buruan, telah membuatnya menjadi seorang yang garang. Tekanan-tekanan yang dialaminya ini telah menghunjam langsung sampai ke pusat syaratnya, sehingga perlahan-lahan tetapi pasti, telah menumbuhkan sifat dan watak yang hampir melenyapkan segala unsur-unsur kemanusiaannya.
Yang tersisa di dalam angan-angan hanyalah dendam dan kebencian.
Karena itu, maka ia akan merasa gembira sekali jika ia dapat melihat bagaimana anak-anak muda yang mendendam itu menggerakkan para pengikutnya untuk membuat padepokan Kenanga menjadi abu.
Api yang menyala, jerit, tangis dan keluhan kesakitan merupakan paduan penglihatan dan pendengaran yang sangat mengasikkan bagi Ki Dukut Pakering yang telah mengalami gangguan pada syarafnya karena peristiwa-peristiwa yang menyangkut dirinya.
Demikianlah, maka sejenak kemudian, sepasukan yang kuat itu pun telah mulai merayap mendekati padepokan Kenanga. Mereka tidak lagi mempunyai gambaran lain kecuali menghancurkan padepokan itu dengan segala isinya.
Namun, sebenarnyalah hal itu telah mengejutkan orang-orang yang melihatnya. Bagaimanapun juga, orang-orang di sekitar padepokan itu pun mengerti, bahwa ada dendam yang menyala di hati Marwantaka dan Wiranata. Karena itu, diantara orang-orang yang tidak berani ikut mencampuri persoalan itu, ada juga seseorang yang dengan mengendap-endap telah mendahului memasuki padepokan Kenanga.
Dengan nafas terengah-engah ia menceriterakan apa yang dilihatnya. Namun demikian ia selesai berceritera, maka ia pun segera minta diri.
“Tunggu” cegah Ki Selabajra, “apakah kau dapat menceriterakan dengan terperinci?”
“Aku tidak mau terlibat. Aku harus keluar dari padepokan ini sebelum mereka sampai di sini, “ minta orang itu.
Ki Selabajra tidak menahannya lagi. Orang itu telah berusaha berbuat baik. Karena itu, ia tidak sampai hati menahannya dan apalagi jika benar-benar terjadi bencana atasnya.
Namun dalam pada itu, pemberitahuan itu telah memberikan kesempatan kepada Ki Selabajra untuk mengatur orang-orangnya. Sementara itu Ki Watu Kendeng dan pengawal-pengawalnya masih juga berada di padepokan Kenanga.
“Kedua cantrik tua itu akan dapat membantu” berkata Ki Watu Kendeng sambil memandang kepada Mahisa Agni dan Witantra.
“Kami tidak akan berkeberatan” berkata Mahisa Agni.
“Mereka membawa pasukan yang besar” geram Ki Selabajra.
“Kita akan menghadapinya” desis Mahisa Bungalan.
Demikianlah padepokan kecil itu pun mulai bersiap-siap. Semua cantrik yang adapun telah bersiaga dengan senjata masing-masing. Regol depan telah ditutup dan diselarak. Sementara beberapa orang cantrik mengawasi keadaan di atas dinding padepokan.
Untuk melawan kekuatan yang besar, maka Ki Selabajra telah membenarkan para cantriknya untuk mempergunakan anak panah dan busur. Meskipun para cantrik itu tidak dibenarkan untuk membunuh dengan semena-mena, tetapi mereka memang wajib menahan gerak maju orang-orang yang menyerang padepokan kecil itu.
“Bukan maksud kami untuk berperang” berkata Ki Selabajra, “tetapi sudah barang tentu, bukan maksud kami pula untuk membiarkan padepokan ini menjadi debu”
Dalam pada itu, Ki Selabajra telah menempatkan cantrik-cantriknya pada tempat-tempat yang penting di seputar padepokannya. Bukan saja di halaman depan, tetapi juga di halaman samping dan di kebun belakang. Sementara itu Ki Selabajra sendiri, Ki Watu Kendeng dan anak gadisnya, Ken Padmi, berada di pendapa.
Mahisa Bungalan yang telah menyatakan diri menjadi keluarga dari padepokan itu, berdiri tegak di halaman bersama dua orang cantrik padepokan itu. Sementara Mahisa Agni dan Witantra, yang menyala dengan para cantrik, berada di sebelah menyebelah pendapa.
Menurut perhitungan Ki Selabajra, para cantrik tidak akan dapat menahan pasukan yang menyerbu padepokannya itu di luar gerbang dan dinding halaman. Mereka tentu akan memecahkan pintu, sementara yang lain akan meloncati dinding. Karena itu, maka mereka telah siap bertempur di halaman depan, halaman samping dan di kebun belakang.
Sebenarnyalah, seperti yang dikatakan oleh orang yang memberikan kabar tentang gerakan itu, maka sepasukan yang besar telah datang mendekati padepokan itu.
“Mereka datang” berkata seorang cantrik yang mengawasi keadaan di luar padepokan dari atas dinding.
Ki Selabajra pun kemudian turun dari pendapa. Ia pun kemudian naik ke atas sebuah panggungan kecil di sebelah regol bersama Ki Watu Kendeng. Dari tempatnya Ki Selabajra melihat pasukan yang datang itu semakin lama menjadi semakin dekat.
Sambil menarik nafas dalam-dalam Ki Selabajra berkata, “Ternyata masalahnya menjadi berkepanjangan”
“Mereka kehilangan akal” jawab Ki Watu Kendeng.
“Tetapi cepat atau lambat, hal ini memang sudah aku duga. Jika sayembara tanding itu tidak diadakan, mungkin persoalannya justru akan menjadi semakin rumit, karena ada tiga pihak yang akan berhadapan. Mungkin justru benturan-benturan yang tidak menentu akan terjadi” berkata Ki Selabajra, “tetapi dengan keadaan ini, kita menghadapi masalah yang jelas, sementara kedua paman Mahisa Bungalan itu kebetulan ada di sini”
Ki Watu Kendeng menarik nafas dalam-dalam. Iapun yakin, bahwa orang yang bernama Mahisa Agni dan Witantra itu memiliki kemampuan yang luar biasa.
Demikianlah, iring-iringan itupun menjadi semakin dekat. Ketika mereka melihat pintu regol yang tertutup, serta beberapa orang di atas dinding dan di sebuah panggung kecil, maka orang-orang di dalam iring-iringan itupun telah menyadari, bahwa kedatangan mereka telah ditunggu.
Dalam pada itu, beberapa orang terpenting dari iring-iringan, “itupun berada di paling depan. Beberapa puluh langkah dari regol, iring-iringan itupun berhenti.
Marwantaka dan Wiranata, yang merasa memimpin pasukan itu pun melangkah maju mendekati regol. Sambil bertolak pinggang Marwantaka pun berkata, “Ki Selabajra, apakah ada gunanya kau menutup pintu regolmu?”
“Angger Marwantaka” sahut Ki Selabajra, “seharusnya aku menyambut tamuku dengan cara lain. Dengan cara yang lebih baik dan hormat. Tetapi terpaksa aku melakukannya seperti sekarang ini, karena aku tidak mempunyai pilihan. Apakah sebenarnya maksud kedatangan angger bersama pasukan segelar-sepapan.
“Aku tidak perlu berbicara panjang lebar” jawab Wiranata, “dengan singkat aku katakan, bahwa-kami ingin membakar padepokan Kenanga bersama semua isinya, termasuk gadis yang diperebutkan itu. Kalian telah menghina kami, sehingga tidak ada lagi ampun bagi kalian”
“Kami, para penghungi padepokan ini sama sekali tidak merasa bersalah. Apalagi untuk menerima hukuman seberat itu” jawab Ki Selabajra.
“Sudahlah” potong Marwantaka, “jangan merajuk. Segalanya sudah terlanjur. Aku datang untuk menghapus sama sekali padepokan yang telah dengan sombong memberikan kenangan sangat pahit kepadaku. Dan sebagai imbalan dari pengkhianatan kalian, maka telah hadir pula di sini, seseorang yang memiliki nama yang tidak ada bandingnya”
Wajah Ki Selabajra menegang.
“Kalian telah berkhianat atas kesediaan kalian bekerja bersama dengan Ki Dukut Pakering. Pengkhianatan itu harus dihukum. Nah, kecuali kami berdua, telah hadir pula di sini, Ki Dukut Pakering. Karena itu, jangan membuat diri kalian sendiri menjadi bertambah sulit dengan perlawanan yang tidak berarti”
Keterangan itu benar-benar mengejutkan. Ki Selabajra. Sehingga karena itu, maka diluar sadarnya ia mengulangi, “Ki Dukut Pakering”
“Ya. Ki Dukut Pakering akan menghukum kalian” geram Wiranata.
Ki Selabajra benar-benar menjadi tegang. Namun dalam pada itu ternyata Mahisa Agni, Witantra serta Mahisa Bungalan pun mendengar pula nama itu disebut. Karena itu, di luar sadar mereka telah bergeser mendekati Ki Selabajra untuk mendengarkan pembicaraan berikutnya.
Karena Ki Selabajra tidak segera menyahut, maka Wiranatapun berkata seterusnya, “Semuanya sudah terlambat. Juga seandainya kau berikan anak gadismu itu kepadaku, aku tidak akan dapat menerimanya dan menukarnya dengan keselamatanmu. Yang akan terjadi kemudian sudah jelas kalian akan dibantai di halaman padepokan kalian sendiri, sementara padepokan ini akan hancur menjadi karang abang”
Ki Selabajra yang termangu-mangu itu akhirnya tidak dapat menolak kenyataan yang dihadapinya. Biarpun Ki Dukut Pakering itu datang namun ia tidak akan ingkar akan kewajibannya sebagai pemimpin padepokan kecil itu.
Karena itu, maka katanya, “Bukan maksud kami untuk menumpahkan darah. Baik itu para cantrik di padepokan ini, maupun darah kalian semuanya, tetapi jika kami disudutkan pada keadaan yang tanpa pilihan, apa boleh buat. Juga seandainya Ki Dukut benar-benar ada dlsini”
“Aku benar-benar ada di sini Ki Selabajra” berkata seorang tua yang melangkah maju mendekati regol, “aku tidak berpura-pura lagi. Sebenarnya aku ingin memasuki sayembara tandingmu untuk mendapatkan seorang isteri muda yang cantik. Tetapi menurut keterangan yang aku dengar, anakmu sudah ada yang berhasil mengalahkannya. Nah, karena itu, maka aku lebih baik melakukan rencanaku yang hampir aku lupakan. Menghukum orang-orang yang telah mengkhianati aku. sehingga usahaku membunuh Kasangjati, musuh bebuyutan itu gagal”
Wajah Ki Selabajra dan Ki Watu Kendeng menjadi tegang, Ki Dukut benar-benar telah hadir dalam keadaan yang gawat itu, sehingga membuat kedua orang pemimpin padepokan itu menjadi berdebar-tiebar.
Namun seperti semula. Ki Selabajra telah menempatkan dirinya sebagai seorang penanggung jawab dari padepokannya. Apapun yang akan teriadi, ia tidak akan ingkar dari tanggung jawabnya.
Karena itu, maka katanya, “Ki Dukut Pakering. Aku tahu, bahwa tidak ada orang yang dapat mengalahkanmu Tetapi aku pun menyadari kewajibanku sebagai pimpinan atas padepokan ini. Karena itu, apapun yang akan terjadi, maka aku akan menempatkan diriku dalam kedudukanku untuk melawan kau dan pasukanmu yang akan datang memasuki padepokanku”
Ki Dukut tertawa. Katanya, “Kedengarannya lucu. sekali, bahwa kau akan melawan aku dan kedua anak muda yang kau sakiti hatinya ini. Mereka membawa pasukan yang kuat, sementara kau tidak akan dapat berbuat apa-apa di hadapanku. Tetapi agaknya aku harus bersabar, sehingga memberikan kesempatan kepadamu untuk melihat padepokanmu musnah dimakan api. Baru kemudian kau harus dibunuh. Atau dilemparkan ke dalam api hidup-hidup”
“Apapun yang dapat kau lakukan atas aku Ki Dukut” jawab Ki Selabajra, “tidak akan dapat mengendorkan tekadku untuk mempertahankan padepokan ini sampai kemungkinan terakhir”
Ki Dukut tertawa. Katanya, “Kau memang sombong sekali” Lalu katanya kepada Marwantaka dan Wiranata, “Anak muda, aku kira, tidak ada lagi yang pantas ditunggu. Kita akan memasuki padepokan itu lewat segala penjuru. Meskipun regol itu sudah ditutup, tetapi membuka regol itu bukan pekerjaan yang terlalu sulit bagi kalian. Dua tiga orang akan dapat memecahkan pintu regol itu. Tetapi jika kalian mengalami kesukaran, biarlah aku yang membukanya”
Jantung Ki Selabajra dan Ki Watu Kendeng menjadi semakin berdebar-debar. Diluar sadarnya ia berpaling kepada Mahisa Bungalan. Bagi Ki Selabajra Mahisa Bungalan adalah orang yang luar biasa. Tetapi apakah ia dapat mengimbangi kemampuan Ki Dukut Pakering. Di padepokan Ki Kasang Jati, ternyata tersimpan kekuatan lain yang dapat mengimbangi kekuatan Ki Dukut Pakering.
Namun tiba-tiba telah timbul niatnya untuk menyelamatkan kedua orang anak muda yang baru saja menemukan diri mereka di dalam hubungan yang aneh. Karena itu, maka-iapun berbisik di telinga Ki Watu Kendeng, “Aku harus berusaha untuk menyelamatkan anak keturunanku Mahisa Bungalan dan Ken Padmi baru saja membuka hati masing-masing yang selama ini tertutup oleh harta diri yang berlebih-lebihan. Apakah tidak sebaiknya aku menganjurkan kepada keduanya untuk berusaha melepaskan diri dari keadaan yang tentu akan sangat gawat ini”
“Aku sependapat” desis Ki Watu Kendeng, “aku akan membujuknya”
“Silahkan Ki Watu Kendeng, aku akan tetap di sini mengawasi orang-orang yang ingin memasuki halaman padepokan ini” berkata Ki Selabajra.
Ki Watu Kendeng pun kemudian turun dari panggung kecil di sebelah regol halaman padepokan Ki Selabajra itu. Dengan tergesa-gesa ia mendekati Mahisa Bungalan yang kemudaan berdiri di sebelah Ken Padmi yang berada di tangga pendapa.
Sejenak Ki Walu Kendeng itu termangu-mangu. Namun kemudian dipaksanya untuk berkata, “Aku minta maaf ngger. Bukan maksudku memperkecil arti kehadiranmu di padepokan ini justru pada saat yang gawat seperti ini. Tetapi Ki Selabajra mempunyai pertimbangan tersendiri. Karena yang datang itu adalah Ki Dukut Pakering, maka Ki Selabajra berpikir, bahwa kesempatan untuk dapat melawannya sedikit sekali. Karena itu, agar masa depannya masih tetap disebut namanya, ia berharap agar angger Mahisa Bungalan dan Ken Padmi dapat menghindarkan diri dari keadaan yang sangat gawat ini”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya Ken Padmi yang termangu-mangu. Namun kemudian jawabnya, “Aku tetap berada di sini Ki Watu Kendeng”
Ki Watu Kendeng mengerutkan keningnya. Ia memang sudah menduga, bahwa Mahisa Bungalan akan merasa wajib untuk tetap berada di padepokan itu. Namun demikian ia masih berusaha membujuknya, “Angger Mahisa Bungalan. Aku mengerti perasaanmu. Mungkin Ken Padmi pun akan bersikap seperti sikapmu. Tetapi jika benar padepokan inj akan hancur menjadi abu, siapakah yang akan melanjutkan nama Ki Selabajra jika Ken Padmi tidak diselamatkan. Tidak ada orang lain yang akan dapat menyelamatkannya selain kau”
Mahisa Bungalan menjadi tegang. Ia dapat mengerti yang dikatakan oleh Ki Watu Kendeng itu. Tetapi apa benar bahwa padepokan ini akan hancur. Karena itu dengan ragu-ragu-ia bertanya, “Ki Watu Kendeng. Apakah Ki Watu Kendeng yakin, bahwa padepok an ini akan hancur menjadi abu?”
“Aku sudah melihat ngger, berapa banyak orang yang siap mengepung padepokan ini. Dan terlebih lagi diantara mereka terdapat Ki Dukut Pakering” jawab Ki Watu Kendeng.
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk, ia mengerti, betapa menakutkan nama Ki Dukut Pakering. Namun di halaman padepokan itu ada kedua orang pamannya, Mahisa Agni dan Witantra.
Tetapi selama ini ia memang belum mengatakan bahwa kedua pamannya itu akan dapat mengimbangi kemampuan Ki Dukut. Yang diketahui oleh Ki Watu Kendeng, kedua orang pamannya itu memang mempunyai kelebihan yang dapat membentuk Ken Padmi menjadi seorang gadis yang luar biasa. Tetapi untuk menghadapi Ki Dukut tentu-masih agak meragukan bagi Ki Watu Kendeng.
Namun demikian Mahisa Bungalan itu pun berkata, “Ki Watu Kendeng, aku menurut apa yang dikehendaki oleh Ken Padmi. Jika ia menganggap perlu untuk menghindar, aku akan pergi bersamanya. Tetapi jika ia bersikap lain, aku pun akan mengikutinya”
“Aku tetap di sini” berkata Ken Padmi yang sudah siap dalam pakaian tempurnya, “aku merasa mampu untuk melawan salah seorang dari kedua anak. muda itu. Kakang mahisa Bungalan akan dapat melawan seorang yang lain, sementara ayah, Ki Watu Kendeng, bersama kedua orang yang disebut cantrik tua dari Watu Kendeng itu harus menghadapi Ki Dukut Pakering. Apakah berempat Ki Watu Kendeng masih ragu-ragu untuk dapat mengimbanginya? Ki Watu Kendeng, kedua orang cantri tua dari Watu Kendeng itu menyimpan rahasia di dalam dirinya. Sejak semula aku sudah meragukannya. Tetapi aku belum sempat bertanya tentang diri keduanya. Aku kira keduanya memiliki kemampuan melampaui ayah dan entahlah dengan Ki Watu Kendeng”
Ki Watu Kendeng menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu diluar padepokan telah terdengar sorak bagaikan membelah langit. Wiranata dan Marwantaka telah menjatuhkan perintah untuk menyerang padepokan itu.
“Cepat ambil keputusan” berkata Ki Watu Kendeng.
Sekali lagi terdengar jawab Ken Padmi tegas, “Aku tetap di sini”
Dalam keadaan yang semakin gawat, Ki Watu Kendeng tidak dapat membuang waktu terlalu banyak, ia yakin, bahwa Ken Padmi memang tidak akan dapat dipaksa untuk meninggalkan padepokan itu, sementara Ki Watu Kendeng pun mulai meragukan, apakah jika keduanya keluar dari padepokan itu lewat jalan manapun juga akan menjamin, bahwa keduanya tidak akan mengalami bencana.
Karena itu, maka Ki Watu Kendeng pun dengan tergesa-gesa telah kembali ke panggung kecil di samping regol. Ia melihat pasukan yang berada di luar halaman padepokan mulai menebar. Nampaknya mereka tidak memusatkan serangannya pada regol padepokan, namun mereka berusaha untuk mengepung padepokan itu, agar tidak seorangpun yang dapat meloloskan diri.
“Bagaimana?” bertanya Ki Selabajra.
“Mereka sudah menentukan sikap. Mereka tidak mau meninggalkan padepokan ini” jawab Ki Watu Kendeng.
Ki Selabajra menarik nafas dalam-dalam. Ia pun sudah mengira bahwa keduanya tentu akan tetap tinggal.
Sementara itu, Ki Watu Kendeng berkata, “Ki Selabajra. Menurut Ken Padmi, kedua orang paman Mahisa Bungalan itu memiliki ilmu yang tinggi”
“Tetapi apakah ilmunya setingkat dengan Ki Dukut Pakering yang luar biasa itu” desis Ki Selabajra.
“Ki Dukut juga manusia kebanyakan” jawab Ki Watu Kendeng. Lalu, “Ken Padmi memperhitungkan, kita berempat akan dapal mengimbangi kemampuan Ki Dukut Pakering”
Ki Selabajra menarik naf as dalam-dalam. Katanya, “Jumlah mereka jauh lebih banyak dari jumlah isi padepokan ini”
“Kita masih mempunyai harapan” berkata Ki Watu Kendeng.
“Ya” desis Ki Selabajra meskipun dengan nada rendah, “baiklah. Kita akan bertempur”
Ki Selabajra sebenarnya sudah tidak mempunyai harapan lagi. Tetapi ia sendiri sama sekali tidak menghiraukan dirinya, ia lebih banyak memikirkan anak gadisnya. Namun agaknya Ken Padmi sama sekali tidak berniat untuk melarikan diri dari medan.
Sejenak kemudian, maka Ki Selabajra pun telah memberikan isyarat kepada cantrik-cantriknya agar bersiap dengan busur dan anak panah. Mereka terpaksa mempergunakan senjata itu, karena jumlah lawan yang terlalu banyak, sehingga seakan-akan tidak ada harapan lagi bagi isi padepokan itu untuk bertahan.
Namun dengan anak panah, mereka berharap untuk mengurangi jumlah lawan, sebelum mereka berhasil memanjat dinding dan memasuki halaman.
Namun dalam pada itu terdengar Ki Dukut berkata, “Kau sangat licik Ki Selabajra. Kau mempergunakan busur dan anak panah, seolah-olah yang terjadi adalah perang besar”
Ki Selabajra memandang lawan yang semakin menebar. Mereka telah benar-benar mengepung padepokan kecil itu. Mereka akan memasuki padepokan dari segala arah.
Dalam pada itu, maka Ki Selabajra itu pun menjawab, “Ki Dukut. Bagi kami, padepokan kecil ini, yang terjadi memang sebuah perang yang besar. Perang antara hidup dan mati. Aku sudah mendengar kalian mengancam untuk membakar padepokan ini dan membunuh isinya. Bukankah yang terjadi ini berarti perang habis-habisan. Dan kami pun akan berbuat tanpa ragu-ragu. Bukan kebiasaan kami membunuh tanpa pertimbangan. Kali ini pun kami mempunyai pertimbangan yang mapan. Kami tidak ingin musnah dibantai di padepokan kami sendiri. Karena itu, maka kami akan membunuh sebanyak-banyaknya agar kami dapat tetap hidup”
“Gila” geram Ki Dukut, “apakah kau tidak mempertimbangkan kemungkinan bahwa tingkah lakumu itu akan mempersulit jalan kematianmu. Jika aku berhasil menangkapmu Ki Selabajra. maka cara matimu pun akan aku pertimbangkan sebaik-baiknya”
“Apapun yang akan terjadi, kami ingin menyelamatkan diri. Jika cara satu-satunya adalah membunuh sebanyak-banyaknya, maka apaboleh buat” jawab Ki Selabajra.
Ki Dukut tidak berbicara lagi. Dipandanginya Marwantaka dan Wiranata yang berdiri di sebelah menyebelah. Mereka membawa pasukan masing-masing pada sisi yang berbeda, sementara Ki Dukut masih tetap berada di depan regol. Ketika pasukan lawan itu menjadi semakin dekat maka Ki Selabajra pun melambaikan tangannya. Para cantrik yang terdekat, yang sudah siap dengan busur dan anak panah, melihat isyarat itu. Karena itu maka anak panah yang pertama pun mulai meluncur dari busurnya, disusul dengan yang kedua, ketiga, dan akhirnya merambat sekeliling dinding halaman. Setiap orang yang membawa busur dah anak panah pun telah melepaskan anak panah mereka, meskipun mereka harus memperhitungkan jarak capai dan lawan yang semakin mendesak maju
Ternyata anak panah itu mempengaruhi orang-orang yang datang menyerang itu. Orang-orang yang berdiri di paling depanpun telah tertegun.
Namun dalam pada itu, Marwantaka berteriak, “Siapa yang membawa perisai, ambil tempat di paling depan. Anak panah yang tidak lebih dari permainan anak-anak itu tidak akan banyak berarti bagi kalian. Pedang kalian, tombak dan parang akan dapat menangkis lontaran anak panah mainan itu”
Beberapa orang yang membawa perisai pun segera mengambil alih tempat di paling depan. Mereka bergerak mendekati dinding dengan berlindung di belakang perisai.
Tetapi perisai mereka itu tidak cukup luas untuk melindungi semua orang dalam pasukan yang menebar itu. Karena itu, maka satu dua orang telah mulai tersentuh oleh anak panah yang terlontar dari busurnya.
Ternyata tidak seperti yang dikatakan oleh Ki Dukut Pakering. Anak panah itu bukan sekedar anak panah mainan. Meskipun anak panah itu terbuat dari ruas-ruas bambu yang panjang, namun pada ujungnya terdapat bedor baja yang tajam.
Karena itu, satu dua orang yang terkena anak panah itu mulai merasa betapa luka itu menjadi pedih, dan darah bercucuran semakin deras dari luka,
“Gila” geram Wiranata. Lalu katanya, “Usahakan. melindungi diri dengan putaran senjata. Cepat lari ke dinding dan meloncat masuk. Atau bertempur langsung di atas dinding pada jarak pendek”
Namun demikian orang-orangnya masih juga ragu-ragu. Dibagian lain para cantrik dari padepokan yang dipimpin oleh kawan-kawan Marwantaka, berusaha dengan hati-hati mendekati dinding. Jumlah perisai yang sedikit itu telah mereka pergunakan sebaik-baiknya.
Tetapi anak panah yang meluncur dari atas dinding itu benar-benar mencemaskan. Karena itu, maka kemajuan pasukan itu pun menjadi terhenti.
Karena itu, maka Ki Dukut telah memanggil Marwantaka dan Wiranata. Sejenak mereka berbincang. Kemudian, kedua anak muda itu telah memberikan isyarat kepada para pengikutnya untuk surut.
Para pengikut Wiranata yang terdiri dari orang-orang upahan dengan anak buah mereka, dan pengikut Marwantaka yang terdiri dari kawan-kawannya yang membawa para cantrik dari padepokan masing-masing, itupun telah, mendapat penjelasan dari kedua anak muda. itu. Karena itu, maka tiba-tiba saja mereka telah menghambur berlari-lari ke padukuhan terdekat.
“Apa yang akan mereka lakukan?” bertanya Ki Selabajra di dalam hati.
“Kita menunggu dengan hati-hati” sahut Ki Watu Kendeng, “mungkin mereka berusaha untuk mengatasi anak panah itu”
Karena itu, maka Ki Selabajra pun segera memberikan perintah kepada cantrik-cantriknya, “Sediakan lembing-lembing bambu itu. Kalian akan melontarkan lembing-lembing itu jika anak panah kalian tidak banyak berpengaruh. Mereka tentu bukannya lari, karena masih ada beberapa orang yang mengawasi kita”
Para cantrik pun segera mempersiapkan lembing-lembing bambu yang ujungnya pun diberi bedor-bedor yang lebih besar dari bedor anak panah. Meskipun tidak terlalu banyak, tetapi lembing-lembing bambu yang sederhana itu akan dapat menjadi senjata yang berarti bagi pertahankan mereka.
Apa yang mereka duga, ternyata benar-benar terjadi. Orang-orang yang berlari-larian ke padukuhan terdekat itupun kemudian nampak telah datang kembali sambil membawa potongan-potongan alap ijuk dan ilalang, yang ternyata dapat mereka manfaatkan sebagai perisai untuk melawan anak panah.
“Gila” geram Ki Watu Kendeng, “tentu akal Ki Dukut”
Ki Selabajra menggeram pula. Mereka melihat orang-orang itu merangkap dua atau tiga potongan atap ijuk atau ilalang. Mereka ikat dengan bingkai bambu yang mereka ambil dari pagar pategalan dan sekat-sekat pagar.
Mahisa Agni yang berada di sebelah pendapa itu pun menjadi gelisah melihat sikap dan mendengar pembicaraan Ki Watu Kendeng dengan Ki Selabajra. Karena itu, maka ia pun menjadi tidak sabar lagi. Sejenak kemudian, maka iapun telah berada di antara para cantrik yang berada di dinding halaman. Dilayangkannya tatapan matanya menebar diantara orang-orang yang mengepung padepokan itu.
Mahisa Agni menariknafas dalam-dalam. Ia melihat orang-orang itu membawa perisai yang memang dapat melindungi mereka dari anak panah yang dilontarkan dari atas dinding. Bahkan ada diantara mereka yang membawa tangga bambu dan galah-galah panjang yang mereka runcingkan.
Mendahului Ki Selabajra, Mahisa Agni berkata kepada para cantrik di sebelah menyebelahnya, “Jangan menunggu kalian terpatuk galah itu. jika mereka semakin dekat, maka kalian dapat meloncal masuk. Kalian menunggu di halaman dengan lembing-lembing kalian sebelum kalian mencabut pedang”
Para cantrik itu mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Agni pun merasa perlu untuk memberikan beberapa pesan kepada Ki Selabajra, sehingga karena itu, maka ia pun telah meloncat turun dan mendekali panggung kecil di sebelah regol. Tanpa memanjat naik ia berkata, “Jangan memaksa diri bertahan di atas dinding. Mereka nampaknya cukup berbahaya. Pada saat yang tidak memungkinkan lagi, biarlah para cantrik bertahan di belakang dinding halaman dengan lembing-lembing mereka”
“Ya” sahui Ki Selabajra, “aku akan memberikah, perintah pada saatnya”
Ternyata Witantra pun sependapat ketika Mahisa Agni mendekatinya. Bahkan iapun berdesis, “Jika keadaan gawat, maka kita benar-benar harus bertempur untuk mengurangi jumlah lawan yang jauh lebih banyak”
“Kita dapat melumpuhkan mereka” berkata Witantra, “pada satu kesempatan, Ki Dukut itu memerlukan perhatian”
“Kita akan berbuat sesuatu” berkata Mahisa Agni, “agaknya Ki Selabajra masih mencemaskan kehadiran Ki Dukut”
“Itulah sebabnya kita harus mengurangi lawan sebanyak-banyaknya meskipun tidak membunuhnya” desis Mahisa Agni.
Witantra mengangguk-angguk. Sementara itu, terdengar sorak meledak di luar dinding halaman. Agaknya orang-orang yang mengepung halaman itu merasa, bahwa mereka telah berhasil melindungi diri mereka dari anak panah para cantrik padepokan Kenanga.
Namun seperti Mahisa Agni, maka Witantrapun merasa perlu untuk bertindak lebih tegas menghadapi orang-orang yang menyerang padepokan Kenanga itu, apalagi di antara mereka terdapat Ki Dukut Pakering.
Dalam pada itu, maka para cantrik pun telah bersiap menghadapi orang-orang yang mendekati dinding padepokan itu dengan perisai mereka. Ijuk dan anyaman ilalang yang mereka rangkap, sementara dua tiga orang sekaligus berlindung di belakangnya.
Namun para cantrik itupun tidak berputus asa. Mahisa Agni dan Witantra yang kemudian berada di antara para cantrik itu pula, telah membantu mereka. Tetapi tidak dengan anak panah dan busur. Tetapi dengan lembing-lernbing bambu.
“Aku akan mencoba, apakah lembing ini dapat menembus anyaman ijuk dan ilalang yang mereka ambil dari atap rumah orang-orang padukuhan itu” berkata Mahisa Agni.
Dalam pada itu, maka Mahisa Agni yang berada di antara para cantrik itupun telah mencoba melontarkan lembing-lembing bambu. Namun ternyata bahwa lontarannya benar-benar mengejutkan. Lembing itu bagaikan menembus udara saja. Bahkan langsung mematuk mereka yang berada dibalik perisai-perisai yang mereka buat.
Yang terdengar adalah keluhan kesakitan. Satu dua orang telah terjatuh oleh luka di tubuh mereka.
Namun sementara itu, para cantrik yang lain tidak berhasil berbuat seperti yang dilakukan oleh Mahisa Agni. Ketika seseorang mencoba melontarkan lembingnya, maka lembingnya itu pun tidak mampu menembus anyaman ijuk yang berlapis.
Karena itu, maka Mahisa Agni pun berkata, “Berikan lembing-lembing itu kepadaku”
Dengan lembing-lembing itu Mahisa Agni telah berhasil mengurangi jumlah lawan. Tidak terlalu banyak. Namun yang dilakukan itu telah menggetarkan jantung beberapa orang yang mengepung padepokan itu.
Di bagian lain, Witantra pun telah berbuat serupa. Meskipun ia tidak berjanji lebih dahulu dengan Mahisa Agni, namun mereka telah melakukan tindakan serupa untuk mengurangi jumlah lawan sebelum mereka berhasil mencapai dinding.
Tetapi dibagian lain, beberapa orang telah sampai ke dinding padepokan. Bahkan ada di antara mereka, yang telah mencoba untuk menyerang cantrik dengan galah-galah yang ditajamkan ujungnya.
Dalam pada itu, maka Ki Selabajra pun kemudian-memberikan isyarat agar para cantrik turun dari atas dinding dan menunggu lawan di dalam dinding halaman.
Seperti yang sudah dipesankan oleh Mahisa Agni dan Witantra, maka para cantrik itu telah siap menunggu di, balik dinding dengan lembing-lembing yang tajam. Yang lain siap dengan busur dan anak panah. Mereka yang sedang meloncati dinding, tentu tidak sempat mengenakan perisai mereka yang besar itu.
Dalam pada itu, ketika orang-orang yang mengepung padepokan itu melihat para cantrik berloncatan turun, maka merekapun segera bersiap untuk memanjat naik. Mereka yang membawa tanggapun segera menyandarkannya pada dinding padepokan itu Sementara yang lainpun telah berusaha dengan memanjat dan saling memanggul di atas pundak, berusaha untuk meloncati dinding.
Namun dalam pada itu, para cantrik yang berada di dalam telah siap menyambut mereka. Demikian orang-orang itu bermunculan, maka mereka pun lelah melepaskan anak panah dan melemparkan lembing-lembing bambu yang tajam.
Beberapa orang tidak sempat mengelak dan berbuat sesuatu Demikian mereka sampai di atas dinding, maka merekapun segera terjatuh dengan luka di tubuh mereka.
Namun dakam pada itu, ternyata jumlah mereka cukup banyak. Sementara satu dua orang terjatuh di tanah, beberapa orang lain sempat meloncat turun dengan senjata di tangan. Dengan serta merta mereka pun telah menyerang para cantrik sehingga dalam pada itu, maka sebagian para cantrik itu harus melepaskan busur dan anak panahnya, kemudian menarik pedangnya untuk melawan orang-orang yang menyerangnya.
Meskipun demikian usaha orang-orang yang menyerang padepokan itu untuk memasuki halaman, ternyata harus ditebus dengan korban demi korban. Orang-orang yang terluka karena anak panah dan lembing-lembing bambu itu tidak dapat segera masuk ke medan pertempuran. Bahkan ada beberapa orang diantara mereka, tidak mungkin lagi untuk dapat melibatkan diri ke dalam pertempuran yang segera berlangsung.
Sementara itu, ketika benturan pertama telah terjadi, maka para cantrik dari padepokan itu sudah tidak mungkin lagi membendung orang-orang yang berloncatan memasuki halaman. Bahkan beberapa orang di antara mereka segera berlari-larian menuju ke pintu gerbang. Mereka bertugas untuk membuka selarak dan dengan demikian orang-orang yang berada di depan pintu gerbang itu pun dapat segera masuk tanpa memanjat dinding.
“Tetapi ternyata bahwa usaha untuk membuka pintu itu terlalu sulit. Ki Selabajra dan Ki Watu Kendeng telah meloncat bersama beberapa orang cantrik untuk mencegah orang-orang yang berusaha untuk membuka pintu itu.
Sementara itu, orang-orang yang berada di luar gerbang itupun menjadi tidak sabar lagi. Mereka telah memukul pintu itu sekeras-kerasnya. Namun pintu itu masih belum terbuka.
Sementara itu, pertempuran sudah menebar ke seganap sudut halaman. Mahisa Bungalan dan Ken Padmi yang berada di depan pendapa telah bersiap pula. Mereka telah bertekad untuk bertahan sampai kemungkinan yang terakhir.
Ki Dukut yang masih berada di luar dinding padepokan itu akhirnya tidak sabar lagi. Dengan kekuatannya yang luar biasa maka ia pun telah menghantam pintu regol itu, sehingga akibatnya telah mengejutkan semua orang yang berada di halaman itu.
Ternyata dengan suara berderak yang memekakkan telinga pintu regol yang besar dan tebal itu telah pecah. Selarak pintu yang menyilang itu patah di tengah.
Papan-papan kayu pun bertebaran, sehingga gerbang itupun telah terbuka lebar.
Ketika semua orang memandang ke regol yang terbuka itu, mereka melihat seorang tua yang berdiri tegak dengan tatapan mata yang membara.
“Ha” tiba-tiba saja Ki Dukut itu menggeram sambil memandang Mahisa Bungalan, “aku pernah bertemu anak muda. Di mana dan kapan? Barangkali aku sudah pikun. Tetapi di sini tidak ada orang-orang yang dapat melindungimu. Ki Selabajra dan Ki Watu Kendeng, tidak, akan berarti apa-apa bagiku. Memang agak berbeda dengan Ki Wastu atau Ki Kasang Jati”
Mahisa Bungalan menggeram. Agaknya orang tua itu telah teringat di mana ia melihat Mahisa Bungalan”
Namun orang itu kemudian berdesis, “Tetapi mungkin aku bertemu dengan anak muda itu di tempat yang lain. Aku sudah terlalu banyak mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Aku sudah membunuh orang-orang yang tidak terhitung jumlahnya, sehingga sulit bagiku untuk mengingat, siapa yang sedang kuhadapi”
Jantung Mahisa Bungalan menjadi berdebar-debar. Tetapi ia sama sekali lidak beringsut dari tempatnya.
Dalam pada itu, Ki Dukut pun kemudian berkata, “Kenapa kalian berhenti. Sebaiknya kalian lanjutkan kerja kalian. Selesaikan orang-orang padepokan ini. Aku akan memilih lawan. Mungkin dua atau tiga orang sekaligus. He, apakah anak muda itu akan melawan aku bersama Ki Watu Kendeng dan Ki Selabajra? Atau barangkali gadis itu pula akan bersama bertempur melawan aku?”
Jantung Mahisa Bungalan menjadi semakin berdebar-debar. Sementara itu, orang-orang, yang menyerang padepokan itupun mulai lagi menggerakkan senjata mereka. Dengan berteriak-teriak nyaring mereka menyerang para cantrik yang jumlahnya lebih kecil dari jumlah mereka.
Namun dalam pada itu, di luar dugaan mereka, di sebelah menyebelah pendapa, jumlah lawan cepat sekali susut. Beberapa orang sekaligus terlempar dengan luka di tubuh mereka. Bahkan ada satu dua orang yang tidak nampak terluka sama sekali, tetapi orang itu hanya dapat merangkak menepi. Kemudian sambil mengerang bersandar dinding.
Tetapi Ki Dukut belum melihat keadaan itu. Ketika sekilas ia memandang arena pertempuran yang menebar, ia melihat beberapa orang cantrik padepokan itu bertempur dengan gigihnya. Sekilas ia juga melihat dua orang cantrik tua di sebelah pendapa. Tetapi Ki Dukut tidak begitu menghiraukannya. Iapun tidak memperhatikan bahwa jumlah para pengikut Marwantaka dan Wiranata cepat sekali berkurang di sekitar cantrik tua itu.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar