06
Jamuan Pagi di Inveresk
Alarm itu terus berdencit-dencit. Fahri berada dalam titik antara sadar dan tidak. Tubuhnya yang masih lelah, membuatnya berat untuk bangun. Ujung-ujung jari dan telapak kakinya yang hangat dalam balutan selimut tebal membuatnya enggan meninggalkan tempat tidur.
Tangannya meraih ponsel untuk mematikan alarmnya. Ia tahu itu adalah tanda satu jam sebelum waktu Shubuh tiba.Di luar, udara dingin tiga derajat Celsius mendesau. Ia berusaha mematikan alarm itu namun tidak juga mati. Tubuhnya yang terdiri dari materi yang sama dengan materi tanah menahannya untuk menggapai kemuliaan langit. Namun ruh Al-Qur'an yang mengeram dalam dada dan jiwanya membangkitkan kesadarannya. Kalau tidak bisa delapan rakaat dan witir tiga rakaat, cukuplah dua rakaat dan witir satu rakaat.
Apa bedanya Ahlul Qur'an dengan yang
bukan jika Ahlul Qur‘an tidak berdiri di sepertiga malam terakhir mengabsenkan diri kepada Sang Pemilik Al-Qur‘an, Tuhan seru sekalian alam?
Perjuangan untuk bangun menegakkan shalat malam ketika tubuh sangat lelah sungguh tidak ringan.
Berjuang mengalahkan ego dan nafsu diri sendiri sunguh berlipat-lipat beratnya. Fahri teringat nasihat Syaikh Utsman, guru talaqqi-nya di Mesir.
"Sekali nafsu itu kau manjakan, maka nafsu itu akan semakin kurangajar dan tidak tahu diri! Jangan pernah berdamai dengan nafsu! Sekali kau berdamai, maka nafsu itu akan menginjak harga dirimu dan menjajahmu! Jangan beri kehormatan sedikitpun pada nafsumu. Perlakukan dia sebagai makhluk hina, pengkhianat yang tidak boleh diberi ampun!"
Demi mengingat nasihat itu, Fahri langsung bangkit. Ia matikan alarm dan bergegas ke kamar mandi untuk wudhu. Sejurus kemudian Fahri sudah tegak menghadap kiblat dan membaca Surat Al-Mu'minun dengan khusyu‘.
Selesai tahajud, Fahri turun ke bawah. Ia memeriksa kamar dimana Misbah tidur. Kamar itu tertutup rapat. Misbah pasti sangat kelelahan, pikirnya. Fahri lalu melihat kamar Paman Hulusi. Kamar itu dibiarkan terbuka tapi gelap. Fahri berniat membangunkan Paman Hulusi. Fahri melongok ke kamar itu.
"Paman Hulusi, bangun, sebentar lagi Shubuh!" kata Fahri pelan.
"Saya sudah bangun sejak tadi, bahkan saya tidak tidur, Hoca!" jawab Paman Hulusi dari kegelapan.
Fahri tidak bisa melihat Paman Hulusi. la nyalakan lampu. Tampaklah Paman Hulusi duduk di kursi yang dihadapkan ke jendela.
"Ssst... tolong matikan lagi lampunya, Hoca !"
"Kau sedang apa, paman?"
"Sengaja saya tidak tidur. Saya penasaran. Saya ingin tahu seperti apa orang yang meneror kita dengan mencoret-coret kaca mobil dan memasang tulisan penghinaan di pintu rumah kita. Aku ingin tahu siapa dia? Ternyata sampai menjelang Shubuh dia tidak muncul sama sekali!"
"Mungkin dia tahu kalau ditunggu, paman."
"Tidak tahulah. Yang pasti, saya sangat penasaran. Saya ingin sekali bisa menangkap basah orang itu."
"Lima belas menit lagi Shubuh, paman. Ayo, siap-siap kita ke Masjid. Nanti terlambat."
"Baik, Hoca. Teman Hoca, bagaimana, dibangunkan apa dibiarkan saja?"
"Biar saya bangunkan, paman. Kita tidak boleh meninggalkan saudara kita ketinggalan keutamaan sebuah ibadah. Itulah makna iyyaka na'budu, paman!"
*****
"La haula walaa quwwata illa billah... La haula walaa quwwata illa billah ..."
"Hoca, mungkin kila akan terlambat sampai di Masjid."
"Kita berangkat tepat waktu."
"Iya. Tapi, ini hari Sabtu. Biasanya imamnya yang agak tua itu. Dia selalu minta iqamatnya dimajukan beberapa menit dan baca suratnya pilih yang pendek. Kemungkinan kita sampai di Masjid shalat jamaahnya sudah selesai, atau dapat tahiyyat akhir. Itu pola yang aku amati dari imam yang agak tua itu."
"Tidak apa, kalau terlambat nanti kita shalat berjamaah sendiri di Masjid."
Mobil SUV putih itu telah melewati depan Nicolson Square Garden. Jalan-jalan Edinburgh masih sepi.
Kota itu begitu cantik, seumpama pengantin yang masih terlelap tidur dengan pakaian pengantinnya. Fahri terus berdzikir.
"La haula walaa quwwata illa billah... La haula walaa quwwata illa billah ..."
Ketika mereka memasuki masjid, jamaah tampak sedang duduk khusyuk tidak dalam sebuah barisan shaf. Fahri mengira bahwa mereka telah usai shalat berjamaah. Fahri melihat Tuan Taher Khan yang bertemu usai shalat Jumat kemarin. Tampak Tuan Taher Khan tersenyum padanya. Ia mendekati lelaki
setengah baya dari India itu.
"Sudah selesai shalat jamaah?" tanya Fahri.
"Belum. Seharusnya sudah dimulai dan sudah selesai, tapi imam belum juga datang." Fahri mengangguk.
Paman Hulusi dan Misbah jadi mengerti. "Kalau begitu, sambil menunggu imam, saya
shalat sunah dulu."
"Silakan."
Fahri mengambil tempat yang tepat lalu takbir. Misbah dan Paman Hulusi juga melakukan hal yang sama. Sampai Fahri selesai shalat sunah, imam belum juga datang. Tuan Taher Khan dan seorang lelaki gemuk dari Afrika mendekati Fahri.
"Mungkin imam sedang berhalangan, sudah lewat lima belas menit dari jadwal iqamat, sebaiknya kita mulai saja shalat jamaahnya dan Anda yang menjadi imam," kata lelaki dari Afrika itu.
"Jangan saya, silakan Tuan Taher saja," jawab Fahri.
"Waduh, saya masih belajar membaca Al-Qur‘an, bacaan saya jelek. Anda yang jelas hafal banyak ayat, kemarin Anda yang meluruskan imam muda." Sahut Tuan Taher.
"O ya, imam muda mana?" tanya Fahri.
"Mungkin juga berhalangan. Sudahlah jangan saling berbantahan nanti waktu Shubuh keburu hilang."
Pria gemuk dari Afrika mengingatkan.
"Ayolah. Brother Fahri," desak Tuan Taher.
Fahri melihat jam di Masjid dan jadwal syuruqnya. Masih ada waktu cukup lama.
"Kita tunggu lima menit lagi. Jika imam tidak juga datang, kita mulai insya Allah."
Mereka menunggu lima menit berikutnya.
Ketika lima menit lewat, imam belum juga tampak, Tuan Taher minta dikumandangkan iqamat. Fahri bersiap melangkah ke tempat imam, namun Paman Hulusi menahannya.
"Kenapa?" tanya Fahri.
Paman Hulusi mengisyaratkan Fahri agar melihat ke pintu masjid. Tampak imam tua datang dengan wajah pucat. Saat itu shaf mulai tertata dengan sendirinya. Sang imam tua datang dengan terbatuk-batuk.
"Jadi kalian belum juga shalat? huk.. huk..." kata sang imam.
"Kami menunggu Anda."
"Masya Allah, maaf, saya, huk huk... terlambat! hmm huk huk saya tidak bisa mengimami, saya sedang flu dan batuk berat, huk... huk Silakan yang lain boleh mengimami!" kata sang imam.
Spontan Tuan Taher mendorong Fahri yang ada disampingnya untuk maju. Fahri pun maju. Seorang Arab muda yang baru datang bersama imam memberi isyarat kurang puas seolah berkata, "Kenapa dia yang jadi imam?"
Fahri mengingatkan agar merapatkan shaf dalam bahasa Arab yang fasih dan bahasa Inggris yang juga fasih. Ia lalu mengucapkan takbiratul ihram dengan berwibawa dan merdu. Ia membaca Fatihah dengan sangat indah.
Suaranya menyerupai Syaikh Mathrud. Ia lalu membaca surat Shaf ayat satu sampai
sembilan. Rakaat kedua ia membaca Surat Shaf ayat sepuluh sampai selesai.
Usai salam dan dzikir, Fahri bangkit dan hendak melangkah ke luar Masjid. Sang imam dengan terbatuk-batuk mendekati Fahri.
"Masya Allah... huk .. huk bacaanmu tartil, bagus, dan indah didengar. Huk... huk... Siapa namamu, anakku? Dari mana asalmu?"
"Nama saya, Fahri Abdullah. Saya dari Indonesia."
"Kamu... huk.. huk.. belajar baca Al-Qur‘an di Indonesia?" Fahri mengangguk.
Tiba-tiba batuk sang imam menjadi-jadi. Imam itu berusaha mengendalikan batuknya. Wajahnya tampak menderita.
"Syafakallah, imam," gumam Fahri.
"Huk... huk... astaghfirullah...saya harus segera pulang... maaf...huk.. huk..." ujar sang imam sambil cepat-cepat pergi keluar masjid diikuti pemuda Arab.
Fahri melangkah keluar diikuti Misbah dan Paman Hulusi. Tuan Taher mengejar. Tepat di depan pintu, Tuan Taher menghentikan Fahri.
"Apakah Brother ada acara pagi ini? Setelah dari Masjid ini."
Mendengar pertanyaan itu Fahri memandang Paman Hulusi, seperti minta pertimbangan tanpa kata-kata. Paman Hulusi mengisyaratkan dengan mimik muka seolah mengatakan,
"Terserah, Hoca, saya ikut saja."
"Dari Masjid ini acara kami pulang ke rumah dan minum teh di pagi hari," jawab Fahri.
"Bagaimana kalau saya undang kalian minum teh di rumah saya sambil menikmati ScotchPie dan roti Bridie buatan putri saya? Rasanya sedap sekali. Saya tinggal di kawasan Inveresk, tak jauh dari Stoneyhill."
"Tapi kami tidak bisa lama."
"Tidak masalah. Setengah jam pun cukup. Kalau bisa satu jam lebih baik. Mari, kalian mengikuti mobil saya. Atau ada yang mau menemani saya?"
"Biar kami mengikuti Tuan Taher saja."
"Baik."
Mereka keluar dari Masjid. Di halaman Masjid. Tampak ada sedikit keributan. Seorang jamaah mengusir seorang perempuan peminta-minta berjilbab hitam. Fahri merasa kasihan pada perempuan itu. Dengan suara serak, perempuan itu minta dibelas kasihi. Itu adalah perempuan bermuka agak buruk yang mengetuk mobilnya kemarin, dan telah ia beri 100 Euro. Apakah uang sebanyak itu telah habis?
"Haram minta-minta! Jangan sering minta-minta di Masjid ini dan di tempat lain! Lihat wajah kamu, jelek, pakai hijab, mangemis lagi! Apa kata orang-orang,huh? Nanti orang-orang bilang Islam kayak monster dan sampah! Kayak kamu!"
Mendengar hal itu Fahri tidak diam.
"Brother, tolong jaga lisan Anda! Jika tidak bisa berkata yang baik, lebih baik diam!"
"Jadi kamu membela pengemis ini? Kamu setuju umat Islam mengemis, bah?! Apa kamu tidak pernah belajar hadist? Tidak pernah mendengar Rasulullah SAW. melarang umatnya meminta-minta, melarang umatnya jadi pengemis?" Jama‘ah yang tampaknya dari salah satu negara Arab itu naik pitam ditegur
Fahri dan langsung membrondong Fahri dengan ceramahnya.
"Brother, Anda jangan salah paham Saya sepakat dengan Anda bahwa umat Islam tidak boleh mengemis. Itu yang diajarkan Baginda Nabi. Saya hanya tidak setuju dengan ucapan kasar Anda kepada sister kita ini. Anda tidak boleh mencela fisiknya, tidak boleh menghina wajahnya! Sama sekali tidak boleh!"
"Kita tidak cukup hanya melarang saudara-saudara kita mengemis. Kita semua umat Islam, bertanggung jawab atas nasib mereka. Kita harus introspeksi, sudah genapkah zakat kita? Ada hak mereka dalam harta kita. Apakah kita yang nasibnya lebih baik telah membuat program riil perbaikan nasib mereka?
Di mana kita letakkan hadits Nabi, man la yahtam bi amril Muslimin fa laisa minhum. Siapa yang tidak peduli pada urusan kaum Muslimin maka tidak termasuk golongan mereka?"
"Dimana hadits itu kita letakkan ketika melihat sister kita ini menderita hingga meminta-minta, lalu kita tidak peduli? Malah menghardik dan membentaknya. Masih beruntung dalam deritanya dia masih teguh memakai jilbab, artinya masih teguh memegang Islam. Masih beruntung dia minta-minta dihalaman Masjid artinya minta kepada keluarganya sendiri?
Bagaimana kalau dia minta-minta di pintu
gerbang gereja, lalu masuk gereja dan menanggalkan jilbabnya? Itukah yang Anda inginkan?"
Lelaki yang tadinya naik pitam itu kini diam dan merenungi kata-kata yang baru saja diucapkan Fahri.
Dia insaf tindakannya tidak benar.
"Astaghfirullah. Saya salah. Maafkan saya."
"Lebih tepat kalau minta maaf kepada sister itu, bukan saya. Kata-kata Anda yang menghina dia, mungkin telah melukai hatinya."
Lelaki itu mengambil sepuluh Euro dan memberikan kepada perempuan bermuka agak buruk dan berjilbab hitam itu.
"Maafkan ketajaman lisan saya, sister. Maafkan."
Perempuan itu mengangguk dengan kedua mata berkaca-kaca menerima uang sepuluh Euro. Fahri mendekati perempuan itu dan memberikan lima puluh Euro. Perempuan itu memandangi Fahri dengan saksama.
"Itu sedekah atas nama istri saya. Doakan dia sehat dan selalu dilindungi Allah," kata Fahri.
"Thank you very much. Amin." lirih perempuan itu dengan suara serak dan air mata meleleh di pipi. Tiba-tiba perempuan itu menutupi mulutnya dan lari menjauh. Fahri agak kaget, demikian juga Paman Hulusi, Misbah dan Taher Khan.
"Ada apa dengan dia? Apa saya salah?" heran Fahri.
"Biarkan, dia mungkin terharu atas pembelaan Anda. Kata-kata Anda tadi juga menyadarkan saya akan kepedulian kita kepada saudara-saudara kita yang kurang beruntung nasibnya di Eropa ini.
Rasanya itu harus jadi pembicaraan pengurus Masjid dan para tokoh Muslim di daratan ini," kata Tuan Taher Khan.
"Iya."
"Kalau begitu, Brother Fahri harus banyak terlibat. Apalagi ternyata Brother Fahri ini jebolan Al-Azhar.
Tidak boleh menyembunyikan ilmu. Apa tidak malu dengan tokoh seperti Syaikh Izzuddin bin
Abdissalam? Syaikh Mustafa Siba‘i? Syaikh Mahmud Syaltut? Mereka semua orang-orang Al-Azhar yang mencurahkan pikiran dan tenaganya untuk umat."
"Bagaimana Anda tahu, saya jebolan Al-Azhar?"
"Tidak susah untuk mengetahuinya. Ayo kita lanjutkan perbincangan kita di rumah saya sambil minum teh."
Mereka bergegas ke tempat parkir. Tuan Taher memasuki sedan Peugeotnya. Ketika Paman Hulusi membuka pintu mobil SUV BMW putih dan hendak duduk di belakang kemudi, Fahri menahannya.
"Ada apa, Hoca?"
"Aku lihat Paman mengantuk dan sedang menahan kantuk. Biar saya yang pegang kemudi."
"Saya tidak apa-apa, Hoca,tidak masalah."
"Sudah sana duduk dibelakang. Saya yang pegang setir. Biar Misbah di depan samping saya."
Paman Hulusi mau tidak mau menuruti perintah majikannya. Fahri mengendarai mobil dengan tenang membuntuti mobil Tuan Taher. Agak kencang Tuan Taher melajukan mobilnya menuju Musselburgh lalu menyusuri kasawan Inveresk. Rumah-rumah yang tampak lebih kuno, namun lebih artistik dan juga lebih gagah dari rumah-rumah Stoneyhill tertata rapi di kawasan itu. Mobil Tuan Taher memasuki
halaman rumah berbatu dengan atap runcing segitiga dan cerobong asap persegi empat cukup besar.
Rumah itu tampak gagah berdiri dua lantai. Sedikit lebih besar dari rumah Fahri di Stoneyhill. Sebuah mobil sedan merah terparkir di situ.
Fahri terkesiap, dadanya berdesir. Itu adalah sedan Porsche 911 model klasik yang bertahan sejak tahun 1963 sampai sekarang. Yang membuat Fahri berdesir bukan model mobil itu atau warna merah mobil itu. Yang membuatnya berdesir karena mobil itu adalah mobil yang juga dimiliki Aisha saat hidup
bersamanya di Freiburg.
Aisha suka mobil jenis SUV, tapi khusus Porsche 911 merah, entah kenapa Aisha sangat menyukainya. Setiap kali melihat mobil jenis itu dan warna itu, hati Fahri berdesir.
Fahri langsung membayangkan Aisha ada di dekat situ, atau kalau mobil itu sedang berjalan, maka Aisha yang mengendarainya. Terkadang ia meraba-raba dirinya, jangan-jangan ia sudah tidak waras lagi.
"La haula wa la quwwata illa billah ..."
Fahri mengajak Misbah dan Paman Hulusi turun. Misbah telah turun, namun Paman Hulusi tidak juga turun. Tuan Taher sudah membuka pintu rumahnya dan mempersilakan masuk, Fahri kembali memanggil Paman Hulusi, namun tidak juga turun.
Fahri menengok. Ternyata Paman Hulusi sudah terlelap di kursi belakang. Tampaknya ia didera rasa kantuk luar biasa yang tidak bisa ditahan lagi, karena semalaman tidak tidur. Fahri membiarkan Paman Hulusi tidur.
"Teman satunya ke mana?" tanya Tuan Taher ketika melihat Fahri hanya berdua masuk.
"Dia tertidur di mobil."
"Bangunkan saja. Suruh dia masuk!"
"Tidak usah. Biarkan dia tidur. Dia semalam suntuk tidak tidur. Di rumah nanti juga ada teh."
"Tapi belum tentu ada Scotch Pie dan roti Bridie. Iya, kan?! Apalagi yang seenak buatan putri saya dan dijamin halal."
"Kalau begitu nanti boleh dibungkuskan untuk dibawa pulang."
"Ha ha ha, boleh, boleh."
Ruang tamu itu tampak klasik dan tertata sangat artistik. Ada lukisan tangan Taj Mahal yang indah.
Sebuah rak penuh buku menjadi pemanis ruangan itu. Di atas bufet tampak berjajar dua foto keluarga.
Satu berlatar belakang patung Liberty New York. Dan satunya berlatar belakang kubah hijau Masjid Nabawi Madinah. Tampak Tuan Taher dengan istri dan dua anaknya. Satu anak lelaki yang lebih mirip Pak Taher yang berkulit agak hitam. Sedangkan anak putrinya berkulit putih seperti ibunya yang tampak menguratkan muka kearab-araban. Anak putrinya itu tidak tampak jelas mukanya sebab memakai kaca mata riben besar.
"Ya, inilah tempat tinggal kami. Kalau kamu dikompleks yang mana Stoneyhill-nya?"
"Saya di Stoneyhill Grove. Nomor sepuluh. Mudah dicari, rumah saya berada di pojok. Rumah dengan cat merah tua kecokelatan dan putih. Stoneyhill Grove hanya berisi belasan rumah saja. Mudah mencari rumah saya."
"Saya berjanji suatu saat akan mengunjungi rumah Anda."
"Silakan, saya sangal senang menerima kedatangan Tuan Taher."
"Sebentar."
Tuan Taher bangkit dan melongok ke dapur yang ada di balik ruang tamu.
"Tehnya sudah siap?"
"Sudah, Dad," suara halus perempuan menjawab.
"Gulanya jangan dicampur ya!"
"lya, Dad."
Tuan Taher kembali duduk. Tak lama kemudian seorang anak perempuan cantik berwajah Arab muncul sambil membawa nampan berisi empat cangkir yang penuh oleh teh yang panas. Uapnya mengepul dan bau wangi tehnya menyebar ke seantero ruang tamu itu.
Fahri masih menunduk ketika gadis itu meletakkan cangkir satu persatu di atas meja.
"Silakan diminum, Doktor Fahri!" suara merdu mempersilakan Fahri. Fahri mendongak ke asal suara. Fahri terkesiap.
"Anda... m.. m .. Heba?"
"Benar, saya Heba yang kemarin mengajak Anda diskusi di The Kitchin bersama dua teman saya."
"Bagaimana Anda bisa di sini? Bukankah Anda bilang tinggal di apartemen bersama mereka?"
"Biar ayah saya yang cerita. Saya siapkan Scotch Pie dan roti Bridie-nya," kata Heba sambil tersenyum dan membalikkan badan menuju dapur.
"Heba sudah cerita panjang lebar tentang diskusi itu. Dia sangat suka dengan argumentasi Anda. Dua temannya kini punya pandangan yang lebih positif tentang Islam, meskipun mereka masih menyimpan banyak pertanyaan katanya. Ya, Heba memang sehari-hari tinggal di apartemen. Itu apartemen saya
yang sepuluh tahun lalu saya pakai untuk liburan ke sini. Kebetulan saya sering kunjungan kerja kesini.
Saya dan anak-anak saya punya dua kewarganegaraan. Amerika dan Inggris. Saya lahir di India. Tepatnya di Aligarh. Kecil di India. Namun menghabiskan masa remaja dan dewasa di Inggris, ikut ayah yang berimigrasi ke lnggris.
Dulu kami tinggal di New York. Setelah menamatkan B.A., saya merantau ke Seattle, Amerika. Mengambil master dan Ph.D bidang physiotherapy di sana. Lalu bekerja disana.
Saya berjumpa istri saya di San Fransisco, saat saya mengisi seminar di Stanford. Dia salah satu mahasiswi psikologi yang mengajukan pertanyaan kepada saya. Selesai sesi saya, kami berbincang singkat saat coffee break. Saya beri dia kartu nama. Ah, entah bagaimana ceritanya. Malamnya saya bisa mengajaknya makan malam. Kami saling jatuh cinta. Lalu menikah di Masjid di Seattle.
Dia asli Lebanon, lahir di Beirut, dan sejak kecil hidup di Amerika. Kami Muslim, namun kurang
mengamalkan Islam. Sampai kami kedatangan imam muda dari Mesir beberapa tahun lalu. Dan bisa mengubah cara hidup kami. Alhamdulillah."
"Bagaimana bisa pindah mengajar di Queen Margaret University?"
"Kontrak saya di Seattle University habis, pada saat yang sama, saya ditawari mengajar di QMU. Istri saya memang sejak lama ingin hidup di sini. Dia katanya suka dengan Edinburgh. Ia pernah ikut pertukaran pelajar saat SMA disini. Ya sudah, akhirnya sejak tiga tahun lalu kami pindah. Tapi rumah kami di Seattle masih tetap ada. Kami masih sering kesana juga. Hanya apartemen di New York kami jual dan kami belikan rumah ini. Heba sedang menyelesaikan Ph.D nya. Ia memilih tinggal diapartemen, katanya suasana belajarnya lebih terasa.
Di sana ada tiga kamar. Yang dua kamar disewa dua orang yang kemarin ikut diskusi dengan Anda. Kalau weekend, Heba menginap dan istirahat di sini.
Tapi tidak pasti jika dia mengejar paper, ya sering tidak pulang. Dia lebih suka tidur di perpustakaan." jelas Tuan Taher.
"Jadi sudah jelas semua kan?" kata Heba, datang membawa nampan berisi Scotch Pie.
"Ini asli buatan tangan saya. Bulan lalu saya selesai kursus memasak membuat kue-kue dan roti-roti asli Scotland. Saya mendapatkan nilai terbaik dari semua peserta kursus. Lalu saya membuat untuk konsumsi keluarga harus terjamin halalnya. Saya otak-atik bahan bahannya, supaya seratus persen halal," terang Heba sambil meletakkan Scotch Pie di atas meja.
"Wah, bisa buat toko roti halal nih!"
"Kalau ada modal, saya mau itu. Hobi saya memang memasak. Kenapa saya suka ke The Kitchin, saya ingin tahu bagaimana restoran itu dapat bintang tiga Michelin," Heba tampak antusias.
"Wah, saya juga suka bisnis. Suatu ketika semoga bisa kerjasama."
Wajah Heba tampak cerah. Sambil mendekap nampan kedada ia berniat duduk di sofa, disamping ayahnya. Namun sang ayah mengingatkan, "Masih ada yang kurang, roti Bridienya mana?"
"Yup, betul. Sebentar," Heba langsung beranjak cepat ke dapur.
"Saya sudah cerita tentang keluarga saya. Sekarang gantian kalian. Oh ya, ini saya belum kenal."
"Saya Misbah. Teman lama Brother Fahri. Dulu kami sama-sama belajar di Al-Azhar, Kairo. Kebetulan saya sedang berkunjung di Edinburgh dan sungguh besar karunia Allah, tanpa disengaja setelah kira-kira delapan tahun berpisah bisa bertemu disini." Tuan Taher mengangguk-angguk.
"Brother Misbah ini sedang mengambil Ph.D di Bangor, Wales. Supervisornya pindah ke Heriot-Watt University. Dan minta dia ikut pindah agar tesisnya lancar."
"Jadi ini dalam rangka mengurus kepindahan itu?"
"lya. Insya Allah. Dan nanti dia akan tinggal di rumah saya selama merampungkan Ph.Dnya."
"Keberadaan kalian ini aset bagi umat Islam di Edinburgh. Kalian harus dimaksimalkan potensinya. Para ilmuwan dan cendekiawan yang ada di sini harus benar-benar berkolaborasi tanpa melihat dari mana
asalnya. Saya agak kurang suka melihat ada grup antara Muslim asal Asia Selatan dengan Muslim asal Arab disini. Ini harus dicairkan.
Bahkan saya menemukan, ada di UK ini pengurus Masjid yang pecah. Di Amerika juga saya menemukan hal serupa."
"Fenomena itu terjadi di mana-mana. Itulah tantangan terbesar umat Islam saat ini. Menjaga persatuan dan kekompakan dirinya sendiri. Tantangan internal jauh lebih besar dari tantangan eksternal."
"Tepat sekali yang kau katakan itu, Brother Fahri."
"Lha, ini roti Bridienya!" ujar Heba.
Heba yang berwajah Arab itu tidak seperti gadis Arab yang sangat kaku dan sangat menjaga jarak. Heba tampak supel, santai dan ceria. Mungkin karena ia sejak kecil lahir dan besar di Amerika.
"Silakan dimakan! Sampai kenyang! Dad, ayo!"
Tuan Taher tersenyum. Ia mengambil sepotong roti Bridie dan melahapnya.
"It's very delicious!"
"Thank you, Dad!"
Fahri ikut mencomot sepotong roti Bridie itu, diikuti Misbah. Fahri mengunyahnya dan mencoba merasakan apa kandungannya. Ia mengangguk-angguk.
"Ada daging sapi cincangnya, benar?" gumam Fahri"
"Yup."
"Ada bawangnya?"
"Yup"
"Ada beberapa bumbu, saya tak yakin itu apa, tapi yang membuat pie daging ini terasa renyah dan gurih, saya rasa karena ada semacam shortcrust kuenya."
"Yup, tepat. Bagaimana Anda tahu? Anda pernah merasakan sebelumnya?"
"Ini kali pertama saya mencicipi roti ini. Rasanya gurih."
"Saya gunakan semua bahan yang halal. lni disebut juga Forfar Bridie karena berasal dari Kota Forfar.
Bridie buatan saya ini rasanya tidak berbeda dengan yang dibuat tukang roti forfar tradisional asli Skotlandia. Chef yang menjadi mentor saya yang mengatakan itu."
"Anda tampaknya sangat berbakat memasak."
"Hobinya sama dengan ibunya. Suka memasak," sahut Tuan Taher.
"Di mana ibunya?"
"Kebetulan sedang di Paris. Menjenguk sepupunya yang sakit."
"O, begitu."
"Brother Fahri, Anda tinggal di Stoneyhill bersama keluarga?"
"Hmm... ah susah menjawabnya."
"Kenapa susah? Anda sudah beristri?"
"Sudah."
"Jadi kenapa susah menjawabnya?"
"Ceritanya panjang."
"Jika ada waktu saya mau mendengarnya jika tidak keberatan."
"Ah, itu cerita yang saya rasa tidak perlu orang lain mendengarnya."
"Jadi, Aisha sekarang tidak tinggal di sini?"
Misbah menyela.
"Aisha ya namanya?"
Fahri menunduk. Kedua matanya berkaca-kaca. Raut mukanya langsung sedih. Tuan Taher merasa tidak enak.
"Maafkan saya. Sungguh saya tidak bermaksud menyinggung atau membuat Anda sedih."
"Tidak apa. Ah, rasanya kunjungan pagi ini sudah cukup. Saya mohon diri. Lain waktu insya Allah saya berkunjung lagi. Atau silakan kalau ada waktu gantian berkunjung ke tempat saya." Fahri bangkit. Tuan Taher kaget. Demikian juga Heba. Suasana jadi kikuk.
"Kenapa tergesa? Apa karena pertanyaan saya ?"
"Ah, sama sekali bukan. Seperti yang saya sampaikan di Masjid. Saya punya waktu sekitar setengah jam. Ini sudah lewat. Terima kasih atas jamuan teh hangat dan rotinya yang lezat."
"Terima kasih sudah berkenan datang. Sekali lagi mohon maaf kalau saya salah bicara."
"Tidak masalah. Assalamu'alaikum."
Fahri melangkah keluar diikuti Misbah. Heba melihat punggung Fahri dengan penuh tanda tanya.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar