PANASNYA BUNGA MEKAR : 18-03
“Mereka memang gila” berkata laki-laki yang lain, “mereka sengaja melempari kami dengan batu. Mereka sengaja menyatakan dirinya”
“Kalau begitu kita semuanya harus berhati-hati” berkata ayah Genuk. Lalu, “Anak perempuanku ada di tangan mereka. Aku ingin mendapatkannya kembali. Tanpa cidera
Laki-laki yang berkumpul di halaman itupun segera mempersiapkan diri. Dua orang di antara mereka, akan menjaga rumah itu. Mereka tidak akan berada di luar, tetapi mereka akan berada di dalam dengan menyiapkan sebuah kentongan. Jika keadaan menjadi gawat mereka akan memukul kentongan itu. Sementara suara kentongan di padukuhan itu masih bergema. Tetapi kentongan di rumah itu akan berbunyi dengan nada yang berbeda, yang telah sama-sama disepakati.
“Orang-orang di gardu itu akan diberitahu” berkata salah seorang dari mereka, “isyaratmu yang khusus tentu akan segera diketahui”
Demikianlah, maka orang-orang yang berkerumun itu pun segera meninggalkan halaman itu. Dua di antara mereka tinggal menunggui kedua perempuan yang ketakutan itu dengan kentongan kecil ditangan. Pada saat-saat yang gawat, kentongan itu akan berbunyi dengan irama yang khusus. Gardu yang tidak terlalu jauh dari rumah itu tentu akan mendengar, dan orang-orang di gardu itu tentu akan dapat mengambil satu tindakan khusus. Apalagi dalam keadaan yang gawat, banyak orang yang berjalan hilir mudik di lorong-lorong di seluruh padukuhan itu sambil mencari dimana para perampok itu bersembunyi.
Dalam pada itu, para perampok itu pun masih berkumpul di kebun yang kosong, yang penuh dengan belukar perdu dan rumpun-rumpun bambu yang liar. Mereka menunggu sambil bersiaga. Bagaimanapun juga, orang-orang padukuhan itu tentu akan menemukan mereka. Namun kemarahan yang memuncak dari pemimpin gerombolan perampok itu nampaknya telah membakar jantungnya, sehingga ia bertekad untuk menghukum orang-orang padukuhan yang telah meneriaki mereka dengan suara kantongan.
Beberapa orang peronda memang telah berkeliaran di lorong di sebelah halaman kosong itu. Namun mereka masih belum berusaha menerobos kebun yang menjadi liar itu. Beberapa orang laki-laki telah berjalan dengan obor di tangan, sementara yang lain membawa berbagai macam senjata.
“Kelinci-kelinci yang malang” desis para perampok, “mereka akan mati”
Sementara itu, laki-laki kasar yang menguasai gadis yang bagaikan membeku itupun masih iuga memegangi lengan gadis itu. Sekali-kali tangan itu dihentakkannya. Sementara gadis itu sama sekali sudah tidak berdaya.
“Aku akan mengikatnya” tiba-tiba saja laki-laki kasar itu berdesis
“Kenapa?” bertanya pemimpinnya.
“Aku akan berkelahi. Baru setelah orang-orang bodoh itu lari meninggalkan kita, maka kita akan pergi dengan tenang. Aku akan membawa gadis ini” berkata laki-laki kasar itu. Lalu, “ Tanpa mengikatnya, ia akan selalu mengganggu saja. Apalagi jika aku harus berkelahi”
“Gadis itu akan dilepas oleh orang-orang padukuhan” desis kawannya.
“Bodoh. Aku akan mempertahankannya sekaligus membunuh siapapun juga yang telah berani menganggu pekerjaan kita. Sementara itu, aku dapat juga mengikatnya di tempat yang kecil sekali kemungkinannya untuk didatangi oleh orang-orang padukuhan ini”
“Gadis itu dapat berteriak” berkata kawannya yang lain.
“Aku dapat menyumbat mulutnya” jawab laki-laki itu.
Gadis itu mendengar semua pembicaraan. Tetapi perasaannya seolah-olah sudah mati. Ia tidak mengerti, apa yang harus dilakukannya. Karena itu, ia pun memang tidak akan berbuat apa-apa.
Ketika laki-laki kasar itu kemudian menarik lengannya dan membawanya ke dalam gerumbul yang rimbun, ia sama sekali tidak berusaha melawan. Ia menurut saja seperti seekor kerbau yang dilarik dengan sehelai tali.
Gadis itu pun tidak berbuat apa-apa ketika tangan yang kasar itu mendorongnya sehingga ia pun melekat pada sebatang pohon. Dan gadis itu pun sama sekali tidak meronta ketika laki-laki kasar itu kemudian mengikatnya.
Kedua tangan gadis itu ditariknya ke belakang melingkari sebatang pohon yang tidak begitu besar. Kemudian dengan ikat kepalanya, laki-laki kasar itu mengikat kedua tangan gadis itu di pergelangannya. Ia yakin bahwa gadis yang ketakutan itu tidak akan berbuat apa-apa. Bahkan menggerakkan jari-jarinya pun ia tidak akan berani.
Meskipun demikian, laki-laki kasar itu masih juga menyumbat mulutnya. Dengan menyayat ujung baju gadis itu sendiri, maka ia telah membungkam gadis yang ketakutan itu.
“Kau jangan mencoba untuk berbuat sesuatu” laki laki kasar itu masih berpesan, “jika kau berteriak atau berbuat sesuatu, apalagi mencoba melarikan diri, maka nasibmu akan menjadi sangat buruk. Kau tidak akan aku bunuh. Tetapi kau akan menyesal sepanjang umurmu yang akan datang”
Gadis itu tidak menjawab. Tetapi tubuhnya benar-benar lelah menjadi gemetar oleh ketakutan.
Sejenak kemudian, laki-laki kasar itupun beringsut. Sekali lagi ia berpesan, “Tinggallah dengan tenang di situ sampai pekerjaanku selesai. Nasibmu akan ditentukan kemudian, tergantung atas sikapmu”
Laki-laki itu pun kemudian melangkah pergi. Laki-laki itu kembali ke dalam lingkungan para perampok. Sementara orang-orang padukuhan yang mencarinya terasa menjadi semakin dekat. Obor-obor pun nampak berkeliaran di lorong sebelah.
“Mereka akan segera menemukan kita” berkata pemimpin perampok itu.
“Nasib mereka memang sangat buruk” desis orang berjambang lebat. Lalu tiba-tiba ia bertanya, “Bukankah kita boleh membunuh?”
“Aku tidak ingin lari karena aku ingin membunuh” berkata pemimpin perampok itu.
“Jika demikian” berkata laki-laki kasar yang mengikat gadis itu, “kenapa kita harus bersembunyi? Kawan-kawan kita cukup banyak. Kita akan dapat dengan leluasa berbuat apa saja sesuai dengan keinginan kita. Jika dua tiga orang yang pertama terbunuh, maka akan lari ketakutan. Dan menurut pendapatku, kita tidak akan dengan tergesa-gesa lari. Kita akan mengambil apa saja yang terdapat di dalam padukuhan ini”
“Jangan kehilangan nalar. Di sekitar padukuhan ini tentu ada orang-orang yang dapat berbuat sesuatu yang akan dapat mengganggu kita. Jika orang-orang padukuhan ini merasa dirinya tidak mampu lagu melawan kita, maka akan berlari berpencaran. Mungkin mereka akan sampai ke padukuhan di sebelah menyebelah. Dengan demikian, maka kita akan menghadapi lawan yang semakin banyak”
“Mereka pun tidak lebih dari orang-orang padukuhan ini” geram laki-laki kasar itu.
“Mungkin. Tetapi jika jumlah mereka tidak terhitung, maka kita akan menghadapi kesulitan. Selebihnya, kita jangan terlalu berani mempertaruhkan nyawa. Seperti yang sudah aku katakan, jika membawa hasil yang cukup banyak, maka tidak mustahil bahwa tiba-tiba saja Rajawali Penakluk itu muncul kembali dengan tiba-tiba untuk merampas harta yang kita kumpulkan dengan mampertaruh kan nyawa itu. Padahal kita harus mengakui, bahwa kita tidak akan dapat melawannya. Apalagi jika ia datang berdua, bertiga atau beberapa orang pengawalnya yang terpilih” jawab pemimpin perampok itu.
Kawan-kawannya tidak memaksanya lagi. Mereka hanya ingin melepaskan sakit hati karena irama kentongan dan usaha orang-orang di padukuhan itu menutup semua jalan keluar, seolah-olah usaha mereka itu akan berhasil.
Sebenarnyalah dalam pada itu, orang-orang padukuhan yang mencari Genuk semakin lama menjadi semakin mendekati tempat persembunyian itu. Bahkan satu dua orang yang membawa obor telah berteriak, “Dimana-mana kami tidak menemukannya. Mungkin di kebun kosong ini”
“Kawan-kawan kita sedang mencari di kebun kosong di-ujung Barat padukuhan ini” jawab yang lain.
“Tetapi di sana tidak ada apa-apa. Kebun kosong di dekat gardu itu pun tidak terdapat seekor kelinci pun” jawab yang lain.
“Tetapi apakah hanya di kebun kosong saja yang dapat mereka pergunakan untuk bersembunyi. Justru di halaman yang bersih, mereka pun dapat bersembunyi. Mereka dapat berada di antara pepohonan di kebun dan di balik pohon bunga yang sengaja ditanam di kebun dan halaman samping. Mungkin pohon soka, mungkin ceplok piring atau pohon kemuning” sahut yang lain.
“Memang mungkin. Tetapi kita akan mencarinya lebih dahulu di kebun kosong ini” jawab satu suara yang bergetar, Suara itu adalah suara ayah Genuk.
“Aku harus menemukannya” geramnya. Tetapi justru suaranya tidak banyak didengar oleh orang lain. Namun akhirnya ia berkata lantang, “Anakku harus aku ketemukan dengan selamat”
“O, itu tentu ayahnya” desis pemimpin gerombolan itu.
“Aku akan membunuhnya dan merampas anaknya” geram laki-laki kasar.
“Kita akan menunggu mereka datang kemari” geram pemimpin perampok itu.
Witantra dan Mahisa Bungalan melihat semuanya yang terjadi atas gadis yang malang itu. Sementara di tempat lain, Mahisa Agni pun sempat mengintip dan melihat dengan ketajaman penglihatannya, bahwa gadis yang ditangkap itu telah dibawa pergi untuk disembunyikan.
“Satu kesempatan” desis Mahisa Agni yang kemudian menyelinap menyusul laki-laki yang telah membawa Genuk.
Namun ternyata kemudian, ketika Mahisa Agni mendekati tempat gadis itu diikat, ia melihat bayangan lain yang mendekatinya pula. Namun Mahisa Agni pun segera mengenalinya, bahwa yang sedang merayap mendekat itu adalah Mahisa Bungalan.
Karena itu, maka Mahisa Agni yang lebih dahulu mengetahui memanggilnya perlahan, “Mahisa Bungalan”
Mahisa Bungalan tertegun. Namun ia pun kemudian melihat Mahisa Agni mendekatinya sambil bertanya “Dimana pamanmu Witantra sekarang?”
“Ia menunggu dibalik gerumbul itu” desis Mahisa Bungalan, “aku diperintahkannya melepaskan gadis itu”
“Bagus” Sahut Mahisa Agni, “cepatlah sedikit. Sebentar lagi akan terjadi perekelahian yang sengit. Dan Sudah tentu kita tidak akan dapat tinggal diam melihat para perampok itu membantai orang-orang padukuhan yang tidak terbiasa berkelahi ini”
Mahisa Bungalan pun kemudian beringsut maju dengan hati-hati. Ketika ia yakin, bahwa tidak ada seorang pun yang melihatnya, maka ia pun mendekati gadis yang terikat itu sambil berdesis, “Jangan takut Aku akan menolongmu”
Gadis itu terkejut. Ketika dilihatnya bayangan seseorang berdiri di sampingnya, jantungnya justru merasa bagaikan terhenti. Ia tidak tahu, apakah yang akan terjadi lagi atas dirinya.
“Jangan takut” Mahisa Bungalan mengulang, “aku kembalikan kepada orang tuamu”
Kata-kata itu didengar oleh Genuk. Tetapi rasa-rasanya ia tidak mengerti maknanya. Karena itu, ia hanya memandangi saja wajah Mahisa Bungalan yang tidak jelas di dalam keremangan malam. Namun Genuk itu masih sempat membedakan antara orang yang akan menolongnya itu dengan orang yang telah mengikatnya.
Tetapi bagi Genuk hampir tidak ada bedanya. Siapa pun yang akan menguasainya. Ia tidak lagi mempunyai sikap karena putus asa.
Sementara itu, Mahisa Bungalan telah berusaha melepaskan tali yang mengikat tangannya. Nampaknya sebuah ikat kepala. Namun agaknya tidak terlalu mudah untuk mengurai ikatan itu, sehingga Mahisa Bungalan telah mempergunakan pisau belatinya untuk memotong ikatan itu.
“Marilah, ikut aku” berkata Mahisa Bungalan kepada gadis itu. Dan agaknya gadis itu seolah-olah memang Sudah tidak berjiwa lagi. Dengan langkah kosong ia berjalar mengikuti Mahisa Bungalan menyusup ke balik gerumbul menemui Witantra, Di belakangnya Mahisa Agni mengikutinya sambil mengamati keadaan sebaik-baiknya.
Mahisa Agni yang telah bertemu dengan Witantra itupun segera menentukan sikap. Keduanya sepakat untuk menyerahkan kembali, gadis itu kepada ayahnya yang sudah berada di sekitar tempat itu. Dengan demikian, maka mereka bertiga akan mendapat kepercayaan untuk ikut serta bersama para penghuni padukuhan itu untuk menangkap para perampok.
“Kita akan menemui mereka” berkata Mahisa Agni.
Demikianlah, maka mereka pun segera berusaha keluar dari kebun yang kosong itu. Dengan hati-hati mereka merayap mendekati orang-orang padukuhan yang sudah bersiap-siap untuk memasuki kebun yang kosong itu dengan obor-obor dan senjata ditangan.
“Kita harus menyerahkan gadis ini lebih dahulu sebelum mereka melihat kita dan menganggap kita adalah perampok-perampok yang melarikan gadis itu” berkata Mahisa Agni.
“Aku akan menghubungi mereka” berkata Witantra.
“Cobalah” sahut Mahisa Agni.
Dalam pada itu, Witantra pun kemudian turun ke jalan dan dengan hati mendekati orang-orang yang sudah bersiap-siap itu. Namun bagaimanapun juga, kehadirannya cukup mengejutkan, karena Witantra adalah orang yang tidak dikenal di padukuhan itu.
“Aku membawa seorang gadis yang terikat di kebun kosong itu” berkata Witantra.
Kata-katanya itu sangat menarik perhatian. Dengan serta merta ayah Genuk itu meloncat mendekat. Sambil mengacukan senjatanya ia berkata, “Kau yang telah melarikan anak perempuanku”
“Bukan aku” jawab Witantra, “justru akulah yang menemukannya terikat di sebatang pohon di kebun kosong itu”
“Bohong” laki-laki itu hampir berteriak, “dimana anakku sekarang”
“Aku akan menyerahkannya kepadamu. Tetapi jangan salah paham. Bukan aku dan bukan kawan-kawankulah yang telah mengambilnya. Aku justru ingin membantu kalian dalam kesulitan ini” berkata Witantra.
“Omong kosong” teriak beberapa orang lainnya, “dimana gadis itu sekarang”
“Aku akan mengambilnya. Tetapi sekali lagi aku minta, jangan salah paham. Aku bukan orang yang telah mengambilnya. Aku justru dapat menunjukkan kepada kalian, siapakah yang telah melakukannya” ulang Witantra.
“Jangan bicara saja” ayah Genuk itu tidak sabar lagi “bawa anak itu kemari”
Witantrapun kemudian beringsut untuk mengambil Genuk yang berada dibalik gerumbul bersama Mahisa Agni dan Mahisa Bungalan.
Demikian gadis itu muncul, maka ayahnya pun lelah berlari memeluknya sambil berkata, “Kau selamat ngger?
Terasa tubuh gadis itu masih gemetar. Ketakutan yang mencengkam jiwanya rasa-rasanya membuatnya bagaikan membeku. Genuk mendengar pertanyaan ayahnya, tetapi mulutnya tidak dapat dibukanya untuk menjawabnya.
“Kau tidak apa-apa?” bertanya ayahnya sekali lagi sambil melepaskan pelukannya dan berjongkok di hadapan anak itu.
Namun Genuk masih juga membisu.
“Kau tenung anak gadisku” orang itu berteriak.
“Ia masih dalam ketakutan” berkata Witantra, “kawan-kawanku telah menemukannya terikat dan mulutnya tersumbat”
“Bohong” kemarahan ayah Genuk itu telah memuncak.
Genuk melihat kemarahan ayahnya yang menggelegak. Iapun mengerti, bahwa orang-orang yang melepaskannya itu bukan orang-orang yang mengambilnya. Tetapi mulutnya masih tetap membeku.
“Jangan biarkan orang-orang ini melarikan diri” berkata ayah Genuk, “mereka mengembalikan anakku karena mereka tidak melihat lagi jalan keluar”
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling kepada Mahisa Agni, dilihatnya Mahisa Agni sedang menepuk pundak Mahisa Bungalan. Agaknya Mahisa Bungalan yang muda itu tidak mau diperlakukan demikian.
Namun dalam pada itu, selagi mereka ribut dengan tuduhan ayah Genuk atas Witantra dan kedua orang kawannya, para perampok itupun mendengar bahwa gadis itu telah diserahkan kembali kepada ayahnya. Karena itu, laki-laki kasar yang mengikatnya itu pun menggeram, “Gila. Apa benar yang dikatakannya bahwa seseorang telah menyerahkan gadis itu kepada ayahnya”
“Jangan bicara saja. Lihat, apakah gadis itu masih ada di tempatnya atau tidak” geram pemimpinnya.
Laki-laki kasar itu pun kemudian dengan hati-hati merayap menuju ke balik gerumbul tempat ia menyembunyikan Genuk. Namun betapa ia menjadi terkejut, bahwa gadis itu benar-benar sudah tidak ada di tempatnya.
“Setan alas, gendruwo, anak iblis” ia mengumpat sejadi-jadinya.
Dengan tergesa-gesa ia kembali kepada pemimpinnya. Dengan nafas memburu dikerongkonggan ia memberitahukan bahwa gadis itu memang sudah hilang.
“Aku akan mengambilnya kembali” geram laki-laki kasar itu.
“Jangan bodoh” jawab pemimpinnya, “mereka menuduh orang yang telah melepaskan gadis itu dengan mengembalikannya kepada orang tuanya”
“Tetapi itu tidak akan berlangsung lama. Orang itu tentu akan menunjukkan tempat gadis itu terikat. Dalam pada itu, maka peronda itu akan memasuki kebun kosong ini”
“Baru jika mereka datang, kita akan melawannya” jawab pemimpinnya.
“Tetapi gadis itu” geramnya. Lalu, “Bukankah kita sudah berniat untuk membunuh? Kenapa kita tidak mulai saja membunuh mereka?”
Pemimpinnya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Biarlah orang-orang yang telah mangambil gadis itu dibunuh lebih dahulu. Baru kemudian kita akan bertindak”
“Apakah gadis itu tidak dapat mengatakan tentang orang-orang yang telah mengambilnya dari rumahnya dan kemudian tentang orang-orang yang membebaskannya” geram laki-laki kasar itu.
“Tetapi dengarlah. Jangan bicara saja” bentak pemimpin perampok itu.
Laki-laki itu diam. Ia pun kemudian mendengar meskipun tidak begitu jelas, ayah Genuk itu membentak, “Jangan mancoba membohongi kami. Kau tenung anakku sehingga ia menjadi bisu, kemudian kau mengaku telah membebaskannya”
“Jangan salah paham” jawab Witantra, “Jika kami yang mengambilnya, lebih baik melarikan diri tanpa menyerahkan gadis itu. Atau barangkali kami dapat menjadikannya perisai demi kebebasan kami”
“Omong kosong” ayah Genuk telah benar-benar menjadi marah, lalu, “tangkap ketiganya”
Orang-orang padukuhan itu pun segera mengepung ketiga orang itu. Sementara Mahisa Bungalan rasa-rasanya sudah kehabisan kesabaran. Ia berusaha menolong gadis itu, tetapi ternyata orang-orang padukuhan itu justru menuduhnya melakukan kejahatan.
Karena setiap kali Mahisa Agni selalu menghalanginya, maka tiba-tiba saja Mahisa Bungalan berteriak, “He, orang-orang yang bodoh tetapi keras kepala. Lihat, apa yang ada di dalam kebun kosong itu. Ujung senjata telah mengintip kalian. Sebentar lagi mereka akan tampil dengan senjata telanjang. Sebentar lagi kalian tidak akan dapat melihat bintang-bintang di langit”
Ayah Genuk menjadi termangu-mangu sejenak, semen tara Mahisa Bungalan melanjutkan, “jika kalian tidak percaya, cobalah. Siapa yang berani lebih dahulu menginjakkan kakinya di dalam belukar itu. Di belakang rimbunnya dedaunan itu adalah daun pedang dan batang-batang bindi yang bergigi tajam”
“Kau mengingau” geram ayah Genuk. Namun terasa nadanya di warnai oleh keragu-raguan. Namun ke mudian ia membentak, “Jika benar, maka orang-orang itu tentu kawan-kawanmu. Kau memang ingin menjebak kami”
“Kalau mereka kawan kami, apa gunanya kami mambawa gadis ini dan menyerahkannya kepada kalian” Mahisa Bungalan pun membentak.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja seorang laki maju setapak sambil berkata, “Laki-laki inilah yang siang tadi berada di kedaiku. Mereka adalah orang-orang berkuda yang aku katakan kepada kalian”
“He?” wajah ayah Genuk menjadi tegang, “jadi orang-orang inilah yang telah kita curigai sejak siang tadi? Pantas. Dan sekarang mereka tidak akan dapat lari lagi”
Wajah Mahisa Bungalan menjadi semakin tegang. Ia tidak mau berlama-lama lagi. Jika pertolongannya itu dianggap sebagai satu usaha untuk mengelabui orang-orang bodoh itu, maka Mahisa Bungalan akan lebih senang mempergunakan cara lain.
Namun Witantra masih tetap bersabar. Katanya, “Jangan tergesa-gesa mengambil keputusan Ki Sanak. Anak gadis itu telah dicengkeram oleh ketakutan, sehingga ia masih belum dapat berbicara. Jika kalian mau menunggu sebentar, aku yakin, gadis itu akan sempat mengatakan apa yang telah terjadi atas dirinya Sementara itu, malam akan segera berakhir, dan orang-orang yang bersembunyi itu akan keluar dengan sendirinya. Kalian tidak perlu memasuki daerah belukar yang berbahaya, karena setiap saat kalian akan dapat terantuk ujung tombak di balik setiap lembar daun di kebun yang kosong itu”
“Jangan banyak bicara lagi” bentak ayah Genuk, “telah banyak petunjuk tentang kalian. Karena itu, menyerah sajalah. Jika tidak maka kalian akan kami cincang di sini”
“Persetan” Mahisa Bungalan benar-benar tidak dapat manahan diri, “orang-orang bodoh yang tidak tahu diri. Jika aku biarkan saja gadis itu di dalam ikatannya, maka kalian akan menyesal tujuh keturunan. Tetapi sekarang kalian dengan bodoh telah menyia-nyiakan pertolongan kami”
“Cukup” ayah Genuk itu berteriak. Lalu tiba-tiba saja seorang yang bertubuh tinggi pun berteriak, “Orang-orang inilah orang-orang yang telah kita curigai sejak siang tadi. Tangkap dan jika mereka melawan, apa boleh buat. Bukan salah kita jika senjata kita akan menyayat kulit dagingnya”
Ketika orang-orang. itu mulai bergerak, Mahisa Bungalan pun segera bersiaga. Namun Witantra dan Mahisa Agni nampaknya tidak akan memberikan perlawanan sama sekali. Bahkan Mahisa Agni masih sempat menggamit Mahisa Bungalan sambil berdesis, “Kau cepat sekali mengambil sikap”
Mahisa Bungalan menggeram. Namun ia tidak akan menyerahkan dirinya diperlakukan sangat tidak adil.
Namun dalam pada itu, ketika orang-orang yang marah itu mulai bergerak, tiba-tiba saja Genuk yang membeku itu berhasil mengucapkan satu patah kata, “Jangan”
Ayahnya tersentak. Tiba-tiba saja ia menjatuhkan diri dan berjongkok lagi di hadapan anaknya sambil bertanya “Kau sudah dapat berbicara. Berbicaralah. Katakanlah apa yang kau ketahui. Jika orang-orang inilah yang telah mengambilmu, maka tidak akan ada ampun lagi bagi mereka”
Ternyata Genuk sudah berbasil mengatur perasaannya serba sedikit. Karena itu, maka ia pun menggelengkan kepalanya sainbil berkata dengan gemetar, “Tidak. Jangan”
“Berkatalah” desak ayahnya yang menjadi semakin gembira, “berkatalah”
Genuk berusaha untuk menguasai perasaannya. Akhirnya terloncat dari mulutnya, “Ayah. Bukan mereka”
“He” ayahnya mengguncang lengan anaknya sambil bertanya, “Apa maksudmu?”
“Bukan mereka” Genuk mengulang, “maksudku, yang mengambil aku dari biyung, bukan orang-orang itu”
“O, jadi siapa?” bertanya ayahnya mendesak.
“Di kebun kosong itu” jawab Genuk yang menjadi semakin lancar.
“Jadi siapakah orang-orang ini?” bertanya ayahnya pula.
“Mereka melepaskan aku” jawab Genuk.
Ayah Genuk mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja ia berdesis, “Apakah ini hanya satu siasat saja? Mereka membuat satu permainan yang tidak kami mengerti maksudnya. Mungkin mereka akan menjebak kita semuanya”
Tetapi Genuk menggeleng, “Tidak ayah. Mereka nampaknya bermaksud baik”
Ayah Ganuk itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Orang-orang yang kita cari ada di dalam kebun kosong ini. Kita akan mengepungnya dan menangkap mereka. Jika mereka melawan, maka apa boleh buat. Kita akan bertindak tegas”
“Kita akan memanggil semua orang untuk berkumpul di sini” berkata yang lain.
“Ya. Tetapi tiga orang ini pun harus selalu diawasi. Siapa tahu, mereka adalah orang-orang yang termasuk ke dalam satu permainan yang tidak kita mangerti” berkata ayah Genuk. Lalu, “Perintahkan mereka ke gardu di sudut jalan itu. Tiga orang akan menjaga mereka. Jika mereka berbuat sesuatu yang tidak sewajarnya, tiga orang itu kami beri wewenang untuk mengambil tindakan yang paling baik”
Mahisa Bungalan menggeletakkan giginya. Namun Witantra berbisik, “Biarlah. Kita akan melihat, apa yang akan terjadi”
Demikianlah, Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan pun kemudian dibawa oleh tiga orang laki-laki ke gardu yang tidak terlalu jauh dari tempat itu, sementara beberapa orang telah memanggil sebagian besar laki-laki di padukuhan itu untuk berkumpul.
Hanya beberapa orang sajalah yang tinggal di regol-regol padukuhan dan di gardu-gardu yang memencar. Namun sebagian besar dari mereka telah dipanggil untuk menangkap para perampok yang bersembunyi di kebun kosong itu.
Sejenak kemudian, sebagian besar laki-laki di padukuhan itu sudah berkumpul. Orang yang dianggap paling berpengaruh dan yang dianggap mewakili ke Buyut yang tinggal di padukuhan lain dalam Kebuyutan itu, segera mengatur orang-orangnya. Kebun kosong itu benar-benar telah di kepung. Beberapa orang diantara mereka telah menyalakan obor sementara yang lain telah merundukkan senjata mereka.
“Apakah kita akan memasuki kebun kosong itu?” bertanya salah seorang dari mereka.
Namun orang-orang yang mendengar keterangan Mahisa Bungalan tentang para perampok yang berada di balik dedaunan di kebun kosong itu menjadi ragu-ragu. Mereka membayangkan, bahwa di balik setiap lembar daun terdapat sepucuk senjata yang siap mematuk siapa saja yang mendekat
Karena itu, maka salah seorang dari mereka berkata “Mereka mendapat kesempatan lebih banyak untuk menyerang dengan diam-diam dan tiba-tiba daripada kita”
“Lalu, apakah kita akan membiarkan mereka tanpa berbuat sesuatu” bertanya yang lain.
Seorang yang lain lagi berkata, “Kita akan mengepungnya sampai mereka menyerah. Mereka harus melepaskan senjata mereka dan keluar dari gerumbul-gerumbul itu dengan tangan terangkat”
“Jika mereka tidak keluar?” bertanya kawannya.
“Kita tunggu sampai besok, sampai lusa, sampai tiga atau empat hari. Mereka memerlukan makan dan minum. Tanpa makan dan minum mereka akan mati kelaparan” jawab yang mengusulkan untuk mengepung sampai orang-orang di kebun kosong itu menyerah.
Ternyata pendapat itu sangat menarik. Seorang laki-laki yang sudah separo baya berkata, “Pendapat yang bagus. Kita berada di rumah kita sendiri. Kita dapat mengambil makan dan minum kapan pun kita kehendaki. Tetapi mereka akan kelaparan. Sementara kita tidak melakukan satu pekerjaan yang sangat berbahaya. Memasuki kebun kosong dalum gelapnya malam, meskipun dengan obor di tangan, adalah sangat tidak menguntungkan. Mereka dapat setiap saat berloncatan sambil menusuk lambung dan dada kita dengan senjata-senjata mereka”
“Jika demikian, baiklah” berkata orang yang mewakili Ki Buyut di padukuhan itu, “kita akan mengepung mereka sampai mereka menyerah dan melepaskan senjata mereka”
Dalam pada itu, ternyata pembicaraan itu telah didengar oleh para perampok yang bersembunyi. Dengan nada marah salah seorang dari mereka berkata kepada pemimpin perampok itu, “Apakah kita mau diperlakukan seperti itu?”
Pemimpin perampok itu menggeram. Katanya, “Mereka memang gila. Jika demikian, kita akan menyerang mereka. Kita akan membunuh dan meninggalkan mayat yang terbujur lintang. Yang masih tersisa akan tahu, bahwa mereka telah melakukan satu kesalahan yang paling berat justru karena tingkah ibu gadis yang malang itu”
“Ya, gadis itu akan jatuh lagi ke tanganku dan aku akan membawanya menurut kehendakku” geram laki-laki kasar yang semula membawanya.
“Persetan” kawannya mengumpat, “kau ribut saja dengan gadis itu. Aku tidak peduli. Aku akan membunuh siapa saja yang mendekati aku. Tua muda besar atau kecil”
Laki-laki kasar yang telah kehilangan gadis itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab lagi, karena pemimpinnya berkata, “Bersiaplah. Kita akan segera keluar dari liang yang pengab ini dan segera akan membunuh orang-orang bodoh yang tamak itu”
Para perampok itupun segera mempersiapkan diri. Mereka hanya tinggal menunggu perintah dari pemimpin mereka. Demikian perintah itu jatuh, mereka akan segera menghambur keluar dan bertempur seperti harimau lapar.
Dalam pada itu, orang-orang yang mengepung para perampok itu justru tidak lagi bersiap-siap menghadapi kemungkinan yang paling berbahaya. Hanya beberapa orang sajalah yang tetap bersiaga dengan senjata di tangan, sementara yang lain telah memasuki kebun dan halaman di seberang lorong. Beberapa di antara mereka justru telah duduk di tlundak regol dan di atas batu-batu padas, sementara yang lain berdiri bersandar dinding halaman.
Bagi mereka, beberapa orang yang tetap bersiaga itu telah cukup. Beberapa orang itu berjalan hilir mudik di seputar kebun yang kosong itu. Sementara yang lain tersebar di lorong dan halaman di seputar kebun kosong itu.
“Suruh membawa minuman kemari” justru salah seorang berteriak, “kita menunggu semut yang kita tuang air itu keluar dari sarang, sementara kami akan minum air sereh yang hangat dengan gula gelapa”
Yang lainpun berteriak, “Tidak hanya air sereh hangat, tetapi ketela pohon rebus itu pula”
Nampaknya orang-orang itu sengaja menyebut beberapa jenis makanan dan minuman untuk sekedar mengganggu orang-orang yang sedang bersembunyi di kebun kosong itu.
Dengan demikian mereka berharap bahwa orang-orang bersembunyi itu akan terpengaruh, sehingga mereka merasa dirinya haus dan lapar.
Tetapi mereka tidak menyadari, bahwa orang-orang di dalam kebun itu justru sedang merayap mendekati lorong. Mereka merayap dari balik gerumbul yang satu ke gerumbul yang lain, sehingga pada satu saat mereka berada di depan hidung orang-orang padukuhan yang bodoh itu tanpa disadari.
“Dengan satu loncatan, kita bunuh semua orang yang berada di lorong itu,” geram pemimpin perampok itu, “baru kemudian yang lain, yang masih ingin menyerahkan nyawanya”
Kawan-kawannya tidak menyahut. Tetapi mereka merayap semakin dekat dengan lorong kecil yang dihamburi oleh orang-orang padukuhan yang sedang berjaga-jaga itu.
Namun dalam pada itu, meskipun tidak terlalu dekat, terasa sesuatu menggelitik hati Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan. Karena itu, maka Mahisa Agni dan Witantra, tanpa berjanji berusaha untuk memperhatikan kebun yang kosong itu.
“Jangan lari” geram orang-orang yang menjaganya itu.
“Ki Sanak” berkata Witantra, “beri aku kesempatan untuk memperhatikan kebun kosong itu. Beri kesempatan aku mendekat sedikit. Kalian dapat mengawal kami dengan ujung pedang di punggung. Kami memang tidak akan lari”
Tetapi ketiga orang yang mengawasinya itu berkeras untuk memaksanya mereka tetap berada di tempatnya. Dua orang yang sudah berada digardu itu, justru telah pergi dan berkumpul bersama orang-orang yang mengepung kebun kosong itu.
Sejenak Mahisa Bungalan termangu-mangu. Namun kemudian ia berdesis, “Apakah kita akan memaksa?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya ia tidak akan dapat membiarkan melihat sikap orang-orang pedukuhan itu. Mereka sama sekali tidak menyadari, bahwa nyawa mereka sedang terancam Sementara Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan tahu. bahwa para perampok itu tentu tidak akan tinggal diam dan membiarkan diri mereka terkurung. Sehingga menurut perhitungan mereka, orang-orang itu pada saatnya tentu akan berloncatan dengan pedang ditangan seperti yang memang akan dilakukan oleh, para perampok itu.
Namun dalam pada itu, Mahisa Agni masih mencoba berkata dengan sabar, “Ki Sanak, jika aku diperkenankan mendekat sedikit saja, rasa-rasanya aku sudah puas. Aku ingin melihat apa yang terjadi di kebun kosong itu”
“Kau mau apa?” bertanya salah seorang yang mengawasinya itu”
“Tidak apa-apa, hanya ingin mendekat dan melihat sedikit saja” jawab Mahisa Agni.
“Kau akan menipuku ya? Kau akan bergabung dengan kawan-kawanmu yang berada di gerumbul itu” bentak yang lain.
Mahisa Bungalan menggeretakkan giginya. Tetapi Witantra mendahuluinya, “Sudah kami katakan Ki Sanak. Kami tidak ada hubungan apa-apa dangan mereka. Bukankah kau juga mendengar apa yang dikatakan gadis yang telah kami bebaskan?”
“Tentu ada satu permainan yang tidak aku ketahui tentang hubungan kalian dengan orang-orang itu” bentak salah seorang dari keempat orang itu, justru sambil mengacukan pedangnya.
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia merasa gelisah terhadap orang-orang yang menurut perhitungannya agak lengah, sehingga kesempatan para perampok itu akan cukup besar untuk membinasakan mereka dalam sekejap.
Karena itu, maka tiba-tiba saja Witantra melangkah mendekati orang yang mengacukan senjatanya itu. Tanpa berkata sepatah kata pun lagi, ia mendorong senjata itu ke samping. Kemudian memijit pundak orang itu dengan tiba-tiba sehingga orang itu tidak dapat mencegahnya sama sekali.
Mahisa Agni dan Mahisa Bungalan melihat hal itu. Karena itu, mereka pun telah berbuat serupa terhadap orang-orang yang mengawasi mereka masing-masing.
Tanpa berdesah sama sekali, mereka seolah-olah telah tertidur nyenyak, sehingga karena itulah, maka Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan telah mengangkat mereka dan meletakkan mereka di dalam gardu.
Namun karena itulah, maka mereka tidak dapat berbuat sekehendak hati. Jika mereka bertiga mendekati orang-orang yang sedang berjaga-jaga itu, akan dapat menimbulkan pertanyaan, bahwa mereka tidak lagi bersama para pengawalnya.
Karena itu, maka ketiganya telah mengambil satu cara yang lain. Seperti orang-orang yang berada di kebun kosong itu, maka ketiga orang itu pun mendekat dengan diam-diam. Mereka memasuki kebun disebelah kebun kosong itu dan merayap diantara tanaman-tanaman di kebun itu.
Meskipun ketiga orang itu berada tidak jauh dari orang-orang padukuhan yang berada di lorong-lorong, namun tidak seorangpun yang mengetahuinya.
Ternyata kegelisahan mereka bertiga, benar-benar terjadi Mereka melihat di antara pepohonan yang sudah membelukar itu bergerak-gerak, sementara angin sama sekali tidak bertiup.
“Mereka memang sudah bergerak” bisik Mahisa Bungalan.
“Ya” sahut Mahisa Agni, “nampaknya orang-orang yang mengepung mereka itu tidak menyadari”
“Kita harus memperingatkan mereka” sahut Mahisa Bungalan.
“Caranya?” bertanya Witantra.
Mahisa Bungalan terdiam. Memang sulit bagi mereka untuk memberitahukan bahwa orang-orang di dalam gerumbul-gerumbul perdu di kebun kosong itu telah bergerak.
Namun tiba-tiba Witantra berdesis, “Kita lempari mereka dengan batu. Mereka tentu akan segera menampakkan diri sebelum mereka sampai di ke bibir kebun kosong itu”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Bagus. Kita lempari saja mereka dengan batu agar mereka menampakkan diri dari balik dedaunan”
Ketiga orang itu pun kemudian dengan hati-hati mencari batu diantara tanaman di kebun itu. Setelah mereka mendapatkan beberapa butir, maka merekapun mencari arah yang baik, sehingga batu yang mereka lemparkan tidak akan menyentuh dedaunan dan apalagi ranting dan dahan, sehingga akan menimbulkan suara.
Sejenak kemudian, maka batu-batu itu pun telah dilemparkan. Demikian batu-batu itu mamasuki kebun kosong dan menyentuh batang-batang dan dedaunan belukar yang tumbuh di kebun itu, terdengar suaranya gemerasak. Namun lebih dari itu, ternyata satu dua dari batu-batu yang terlempar itu telah itu lelah mengenai orang-orang yang sedang merayap mendekati lorong yang ditunggui oleh orang-orang padukuhan itu,
“Gila” geram salah seorang dari perampok-perampok itu “siapakah yang telah melempari batu?”
“Anak iblis” yang lain mengumpat, “aku juga kena”
Namun dalam pada itu, beberapa buah batu masih saja dilontarkan oleh Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan. Bahkan ada di antara batu-batu itu yang cukup besar, sehingga mereka yang telah dikenainya menyeringai menahan sakit.
“Keparat” yang lain hampir saja berteriak, “apakah kami masih harus menunggu dengan merayap-merayap dibawah hujan batu ini?”
Kemarahan yang membara telah membakar jantung pemimpin gerombolan itu. Dengan demikian, maka ia telah melupakan satu perhitungan. Sebenarnya mereka akan merayap sampai kepagar halaman kosong itu. Dengan satu loncatan, mereka akan merenggut beberapa korban sekaligus. Korban-korban itu akan dapat menakut-nakuti kawan-kawannya sehingga orang-orang padukuhan itu akan menjadi gentar.
Tetapi karena batu yang dilontarkan itu telah mengenainya pula, maka tiba-tiba saja iapun berteriak “Bunuh semuanya”
Teriakan itu benar-benar telah menggetarkan malam yang kelam di padukuhan itu. Demikian aba-aba itu diteriakkan, maka para perampok itu pun segera berloncatan dengan senjata di tangan. Sambil berteriak seolah-olah menggetarkan langit, mereka pun Kemudian berlari-lari menyerang orang-orang padukuhan yang mengepungnya. Namun arah serangan mereka justru kepada kelompok yang paling banyak di lorong sebelah.
Orang-orang yang mengepung kebun kosong itu pun terkejut bukan buatan. Apalagi ketika mereka mendengar orang-orang yang bersembunyi di kebun kosong itu berloncat sambil berteriak. Rasa-rasanya jantung merekapun telah berhenti berdenyut.
Namun sejenak kemudian, mereka menyadari, bahwa para perampok itulah yang akan datang menyerang karena mereka tidak lagi melihat kemungkinan untuk lari. Karena itu. maka orang yang dianggap mewakili Ki Buyut itu pun berteriak pula, “Jangan biarkan mereka melarikan diri”
Orang-orang yang mengepung itupun segera bersiap. Yang duduk di atas batu-batu padas, atau yang berbaring di tangga pendapa rumah sebelah, segera berloncatan bangun, dengan senjata di tangan mereka pun segera berlari-larian ke lorong tempat kawan-kawan mereka bersiap.
Ternyata bahwa rencana pemimpin perampok untuk mengejutkan orang-orang padukuhan itu pada serangan pertama telah gagal. Demikian para perampok itu berlari-lari menyerang, maka orang padukuhan itupun telah siap dengan senjata di tangan.
Namun dalam pada itu, tidak semua orang laki-laki di padukuhan itu mempunyai keberanian yang sama. Orang-orang yang berdiri di lorong itupun seakan-akan telah disaring menurut keberanian mereka. Yang paling berani berdiri di depan dengan senjata teracung siap menerima para perampok yang akan meloncati dinding halaman. Di lapisan berikutnya adalah orang-orang yang kurang berani menghadapi keadaan yang mengejutkan itu. Sementara itu, ada beberapa orang yang justru berada di tempat-tempat yang gelap dengan jantung yang berdebaran.
Orang-orang padukuhan yang mengepung di kebun dan halaman dan sekitarnya pun kemudian menyadari, bahwa para perampok itu telah menyerang ke satu sasaran. Karena itu, maka merekapun segera menyesuaikan diri. Laki-laki yang berani dan sedikit mempunyai pengalaman dengan segera berlari-lari menggabungkan diri dengan sisi yang langsung mendapat serangan para perampok itu.
Dalam pada itu, Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan memperhatikan segala peristiwa itu dengan jantung yang berdebar-debar. Ternyata bahwa perampok-perampok itu cukup banyak untuk benar-benar melakukan pembunuhan atas orang-orang padukuhan yang sebagian sama sekali belum berpengalaman menggenggam senjata. Meskipun jumlah mereka jauh lebih banyak. Namun hal itu bukan satu kepastian bahwa mereka akan berhasil menangkap para perampok itu.
Demikianlah, maka sejenak kemudian para perampok itupun telah meloncati dinding kebun kosong tempat mereka bersembunyi. Namun demikian mereka meloncat, maka ujung-ujung senjata sudah siap menerima mereka.
Tetapi, perampok-perampok itu ternyata memiliki kemampuan yang cukup untuk menghadapi keadaan yang demikian. Mereka masih sempat menangkis dan memukul ujung-ujung senjata itu ke samping sebelum mereka meloncat turun ke lorong.
Sejenak kemudian, pertempuran pun telah terjadi. Ada juga beberapa orang padukuhan itu yang mampu mempermainkan senjata, sehingga untuk sesaat mereka berhasil menahan serangan para perampok itu. Namun sejenak kemudian, kekasaran dan keliaran para perampok itu telah membuat mereka menjadi bingung. Apalagi sejenak kemudian, para perampok itu telah berusaha untuk menebar, sehingga pertempuran itu pun telah terjadi di halaman-halaman rumah di sekitarnya.
“Kita tidak dapat tinggal diam” berkata Mahisa Bungalan.
“Baiklah” berkata Mahisa Agni, “kita akan ikut serta. Sebaiknya kita juga membawa senjata seperti yang mereka pergunakan agar tidak terlalu menarik perhatian”
“Tetapi kita tidak mempunyainya” desis Mahisa Bungalan.
“Tiga orang tertidur nyenyak di gardu” jawab Mahisa Agni.
Ketiganya pun kemudian mengambil pedang dari ketiga orang yang masih tidur di gardu. Kemudian dengan tergesa-gesa ketiganya berlari-lari menuju ke daerah pertempuran.
“Kitapun berpencar” berkata Witantra.
Ketiga orang itupun kemudian berpencar. Mahisa Agni memasuki halaman di seberang lorong yang menjadi ajang perkelahian yang sengit. Di halaman itu pula, Genuk disingkirkan. Namun agaknya laki-laki kasar yang pernah menyembunyikannya, berusaha untuk merampasnya lagi.
Sementara itu, Mahisa Bungalan dan Witantra berada di lorong yang menjadi arena yang riuh. Keduanya berada di ujung sebelah menyebelah.
Dalam keadaan yang kacau itu, kehadiran mereka tidak banyak diketahui. Baik oleh para perampok, maupun oleh orang-orang padukuhan itu sendiri.
Para perampok itu memang sudah mempunyai pendirian yang tegas. Mereka ingin melepaskan sakit hati mereka dengan membunuh orang-orang yang ingin menghalangi mereka. Bahkan mereka tidak akan lagi memilih, siapapun yang akan menjadi korban mereka.
Namun dalam pada itu, dalam hiruk pikuknya pertempuran, para perampok telah dikejutkan oleh putaran senjata yang terasa lain dari kewajaran putaran senjata orang-orang padukuhan itu. Rasa-rasanya dengan tiba-tiba saja senjata mereka telah membentur kekuatan yang tidak ada taranya. Dalam beberapa saat saja, dua tiga senjata telah terlepas dari tangan.
“Gila” geram para perampok yang kehilangan senjatanya. Tetapi mereka tidak dapat sekedar mengumpati saja. Dalam pada itu, orang-orang padukuhan itupun telah menyerang mereka, sehingga mereka harus melawan dengan tanpa senjata. Namun karena mereka memiliki pengalaman bertempur lebih baik, maka meskipun-mereka tidak bersenjata, tetapi mereka mampu memberikan perlawanan yang gigih.
Orang padukuhan itu sendiri, akhirnya melihat juga sesuatu yang bagi mereka terasa aneh. Seseorang dalam keremangan malam dan dalam jangkauan cahaya obor yang lemah, yang ditancapkan di pinggir jalan dan di sudut halaman, telah bertempur dengan tangkas dan cepat.
“Apakah ada hantu penunggu padukuhan ini yang telah membantu kami” timbul pertanyaan pada beberapa orang yang melihat keanehan yang terjadi itu.
Sebenarnyalah bahwa Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan telah bertempur dengan kecepatan yang mengagumkan. Mereka berusaha untuk menarik perhatian lawan, dan bahkan Mahisa Bungalan telah berusaha untuk menjatuhkan setiap senjata dari tangan para perampok itu.....
Bersambung.....!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar