PANASNYA BUNGA MEKAR : 19-03
Dalam pada itu, setelah ia mendapat kesempatan untuk melihat arena perkelahian itu dengan seksama, maka tahulah ia bahwa kedua pamannya sama sekali tidak menemui kesulitan. Bahkan Mahisa Agni yang bertempur melawan pemimpin perampok dan tiga orang pengawal terpilihnya ternyata sama sekali tidak mengalami tekanan yang terasa terlalu berat.
Dengan kemampuan ilmunya yang tinggi, Mahisa Agni berhasil memaksa keempat orang lawannya untuk memeras segenap kemampuan dan tenaganya. Namun ternyata bahwa Mahisa Agni memang seorang yang sulit dicari bandingnya. Ketika Mahisa Agni meningkatkan ilmunya selapis lagi, ternyata bahwa lawannya benar-benar mengalami kesulitan yang parah. Meskipun keempat orang itu memiliki pengalaman dibanyak medan dan berbagai macam ilmu, tetapi berhadapan dengan Mahisa Agni, mereka merasa bahwa mereka tidak akan dapat mengatasinya.
Terbersit niat dari pemimpin perampok itu untuk melarikan diri. Ia menjadi cemas, bukan saja karena ia akan tertangkap lagi, tetapi jika ada kecurigaan bahwa ia dapat melarikan diri, maka mungkin sekali ketiga orang itu akan memaksanya dengan segala macam cara umtul berbicara.
Sementara itu, Mahisa Bungalan yang sudah kehabisan lawan, karena mereka telah terikat, bergeser dari arena pertempuran Witantra ke arena pertempuran Mahisa Agni. Dalam pada itu, ia mulai melihat cara yang tidak wajar dari pemimpin perampok itu. Nampaknya ia sedang berusaha untuk mengumpankan ketiga orang pengawalnya, sementara ia mengambil ancang-ancang.
“Licik” geram Mahisa Bungalan di dalam hati
Sebenarnyalah, bahwa ketiga pengawalnya yang bersenjata tombak menyerang berbareng, dan selagi Mahisa Agni berusaha mengindar, maka yang bersenjata bindi pun menyerang pula, pemimpin perampok itu seolah-olah mendapat kesempatan. Selagi Mahisa Agni sibuk menghindar dan menangkis, maka tiba-tiba saja pemimpin perampok itu meloncat dari arena.
Tetapi, agaknya ia kurang memperhatikan kemmungkinan yang lain. Ternyata Mahisa Bungalan tidak membiarkannya. Demikian pemimpin perampok itu melarikan diri, maka Mahisa Bungalan telah mengejarnya.
Pemimpin perampok itu tidak sempat berlari sampai ke lebatnya pepohonan perdu di hutan, karena Mahisa Bungalan segera menyusulnya. Yang terjadi kemudian adalah perkelahian yang seru diantara keduanya.
Tetapi pemimpin perampok itu tidak banyak memperoleh kesempatan. Sejenak kemudian, maka ia pun mulai terdesak.
Sementara itu Witantra pun merasa perlu untuk segera mengakhiri pertempuran. Dengan menghentakkan kemampuannya, maka ia telah mengejutkan lawan-lawannya. Sementara itu, maka dengan tangkasnya Witantra menyerang mereka justru hanya dengan jari-jarinya pada pangkal pundak mereka.
Dengan dua tahap, maka keempat lawannya telah terdorong surut. Mereka pun kemudian terhuyung-huyung jatuh di tanah. Untuk beberapa saat mereka menjadi seolah-olah tertidur dengan nyenyaknya.
Demikian pula yang dilakukan Mahisa Agni. Meskipun cara Mahisa Agni agak berbeda. Karena lawannya cukup cekatan dengan senjata yang berbahaya, maka Mahisa Agni telah mempergunakan cara yang cukup keras
Ketika lawan-lawannya sibuk menangkis serangan senjatanya yang berputaran seperti angin pusaran, maka Mahisa Agni telah berloncatan di antara mereka. Dengan pukulan sisi telapak tangan kirinya maka ia telah membuat ketiga orang lawannya menjadi pingsan. Meskipun nampaknya tidak berbeda, tetapi ternyata bahwa keadaan lawan Witantra tidak sama dengan keadaan lawan Mahisa Agni, meskipun pada saatnya mereka akan terbangun pula.
Sementara lawan Witantra masih tertidur dan lawan Mahisa Agni masih pingsan, maka merekapun telah diikat pula kaki dan tangannya dengan mempergunakan ikat kepalanya. Dengan menyobek melintang, maka ikat kepala itu merupakan tali pengikat yang cukup kuat.
Dalam pada itu, Witantra dan Mahisa Agnipun segera mendekati arena pertempuran antara Mahisa Bungalan dan pemimpin perampok yang gagal melarikan diri itu.
Tetapi ternyata kemudian, dalam beberapa saat yang pendek, pemimpin perampok itu sudah tidak mampu bertahan. Betapa ia mengerahkan kemampuannya, namun akhirnya ia harus mengakui bahwa ia memang tidak akan dapat lolos lagi. Meskipun ia berhasil melarikan diri dari rumah Ki Buyut, tetapi ketiga orang itu berhasil memburunya. Dan apakah sekali lagi ia harus menyerah untuk ditangkap?.
Namun akhirnya, perampok itu tidak lagi berusaha untuk melawan. Ketika Mahisa Bungalan mendesaknya semakin berat, maka pemimpin perampok itu telah menyerah dengan melemparkan senjatanya.
“Aku menyerah” katanya.
Mahisa Bungalan tertegun. Iapun tetap menyadari, bahwa pemimpin perampok itu harus ditangkapnya hidup-hidup. Dengan demikian ia akan dapat menanyakan kepadanya, bagaimana mungkin ia dapat meloloskan diri dari rumah Ki Buyut.
Pemimpin perampok itupun sadar bahwa ia akan diperas keterangannya, kenapa ia berhasil lari. Tetapi ia tidak menghiraukannya lagi. Ia lebih senang hidup dan berkata terus terang daripada harus mati di dalam pertempuran itu atau tubuhnya akan menjadi luka arang kranjang hanya karena ia ingin membungkam dan melindungi orang lain.
Karena itulah, maka ketika pemimpin perampok itu kemudian dihadapkan kepada Mahisa Agni dan Witantra, ia sama sekali tidak mempersulit diri untuk menjawab semua pertanyaan. Dengan lancar ia berbicara tentang Ki Buyut yang sebenarnya sudah lama dikenalnya, karena di masa mudanya Ki Buyut adalah kawan pemimpin perampok itu. dan bahkan untuk beberapa saat lamanya, Ki Buyut telah melakukannya pula.
Namun akhirnya ia berhasil menempuh cara hidup yang lebih baik. Ia berhasil memikat hati seorang gadis anak Ki Buyut yang tua. Ketika Ki Buyut yang tidak mempunyai seorang anak laki-laki itu, tidak lagi mampu melakukan tugasnya, maka ialah yang mendapat limpahan tugas menjadi Buyut di Kabuyutannya.
“Bagaimana mungkin ia berhubungan dengan kau lagi?” bertanya Mahisa Agni.
“Aku memang datang menemuinya” jawab pemimpin perampok itu.
“Kau bujuk orang itu untuk membantumu melakukan niat jahatmu di Kabuyutannya?” bertanya Witantra.
“Ternyata ia tidak melupakan pekerjaannya itu. Nampaknya masih ada minatnya untuk mendapatkan harta benda banyak tanpa kesulitan. Sebagai seorang Buyut, ia tidak akan dapat memperoleh kekayaan yang melimpah. Justru beberapa orang saudagar yang tinggal di Kabuyutan nya memiliki kekayaan yang jauh lebih banyak dari kekayaannya sendiri” jawab pemimpin perampok itu.
“Dan, kau berhasil mengangkat perasaan irinya terhadap orang yang memiliki kekayaan melebihi kekayaannya, dan kau berhasil memancing bekerja bersamanya untuk melakukan kejahatan itu?” bertanya Mahisa Bungalan.
Pemimpin perampok itu mengangguk. Jawabnya “Ki Buyut itu ternyata masih ingin memiliki kekayaan jauh lebih banyak dari yang ia miliki sekarang”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Kau ikut kami. Kita akan bertemu dengan Ki Buyut dan membuat perhitungan. Jika tidak, maka hal yang demikian akan terjadi berlarut-larut, semakin lama menjadi semakin parah”
Pemimpin perampok itu sama sekali tidak membantah. Ia menyadari, bahwa demikianlah yang akan dilakukan oleh ketiga orang itu. Tetapi itu akan lebih baik baginya daripada ketiga orang itu harus memaksanya. Betapapun ia bertahan, namun akhirnya mulutnya harus mengatakannya juga, bahwa demikianlah yang sudah teradi, semantara tubuhnya sudah menjadi semakin kesakitan apabila ketiga orang itu memaksanya dengan kekerasan.
Demikanlah, maka Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan telah bersiap membawa pemimpin perampok itu bersamanya. Namun dalam pada itu, ia tidak akan dapat membawa semua orang yang ada di barak itu. Dengan demikian, maka orang-orang yang tertidur pun telah dibangunkan, yang pingsan sudah sadar, demikian pula kedua orang peronda yang pertama sekali bertemu dengan Mahisa Agni.
“Kalian tidak akan kami bawa” berkata Mahisa Agno, “Tetapi kalian harus tetap tinggal di barak ini, karena kemanapun kalian akan lari, kami akan dapat mencari kalian bersama pemimpin kalian ini”
Tidak seorangpun yang menjawab.
Sebenarnyalah bahwa Mahisa Agnipun menyadari, bahwa mereka akan dapat melarikan diri. Tetapi orang-orang itu bukanlah orang-orang yang penting.
Dengan demikian, maka Mahisa Bungalan akan berkuda bersama orang itu di depan sambil menuntun kuda yang lain yang membawa beberapa jenis barang-barang yang tersimpan di barak itu berupa perhiasan yang bernilai tinggi, yang dapat mereka bawa. Sementara Mahisa Agni dan Witantra berkuda di belakang mereka sambil membawa dua ekor kuda lainnya yang terdapat di barak itu, sebelum mereka akan mengambil kuda meraka sendiri.
Karena itulah, maka perjalanan mereka bukannya perjalanan yang cepat. Kuda-kuda itu tidak dapat berpacu dengan kecepatan tinggi. Apalagi ketika mereka masih berada di hutan meskipun mereka melalui sebuah jalan yang tidak terhalang karena seolah-olah sebuah terowongan yang panjang diantara pepohon hutan.
Namun, demikian mereka sampai di dekat sepasang pohon cangkring maka pemimpin perampok itu pun berkata, “Kita melalui jalan samping”
“Kenapa?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Di bawah sepasang pohon cangkring itu terdapat jebakan” jawab pemimpin perampok “siapapun yang lewat di antara sepasang pohon cangkring itu akan terperosok ke dalam sumur yang dalam dan tidak akan sempat keluar lagi, karena di dalamnya terdapat sejumlah ular-ular berbisa.
Witantra, Mahisa Agni dan Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Untunglah, bahwa ketika mereka memasuki sarang para perampok itu, mereka tidak melalui jalan diantara kedua pohon cangkring yang disebut gerbang pertama itu.
“Agaknya perampok yang menunjukkan arah perjalanan ini dengan sengaja tidak memberitahukan” geram Mahisa Bungalan.
Tetapi Mahisa Agni dan Witantra mengganggap bahwa perampok itu demikian gelisahnya, sehingga ia tidak ingat untuk memberi tahukan akan hal itu.
Dengan demikian, maka Mahisa Agni pun telah memerintahkan kepada pemimpin perampok itu untuk berkuda di paling depan, diikuti oleh Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan.
Ternyata mereka memang harus menyibakkan dedaunan. Tetapi, karena pemimpin perampok itu sudah terbiasa, maka dengan mudah ia dapat memilih jalan di antara timbunan gerumbul perdu diantara pepohonan yang besar.
Demikian mereka meninggalkan hutan itu, maka mereka pun segera masuki hutan ilalang, yang diseling dengan hutan perdu. Yang pertama mereka lakukan adalah mengambil kuda mereka yang mereka simpan di antara gerumbul-gerumbul yang rapat.
Dalam pada itu, maka mereka berempatpun segera melanjutkan perjalanan, Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan ternyata lebih senang mempergunakan kuda mereka sendiri. Namun kuda-kuda yang mereka ambil, dari barak itu pun telah mereka bawa pula.
Sementara Mahisa Agni dan iring-iringan kecilnya masih berada di perjalanan, maka Ki Buyut telah mendengar laporan, bahwa ketiga orang itu ternyata telah berusaha menemukan sarang perampok yang telah mereka tangkap. Ternyata ada juga seseorang yang dapat melaporkan, bahwa ketiga orang itu telah bertanya dengan sungguh-sungguh letak sarang gerombolan mereka.
“Apakah mereka mencari pemimpin perampok yang hilang itu?” bertanya Ki Buyut.
“Aku tidak tahu Ki Buyut. Tetapi nampaknya memang demikian. Mereka telah pergi dengan tergesa-gesa” jawab orang yang melaporkan itu.
“Orang-orang gila” geram Ki Buyut. Lalu, “Nampaknya orang itu memang sedang mencari perkara”
“Terserahlah kepada Ki Buyut, apakah yang dilakukan itu akan mengganggu atau tidak” sahut orang itu pula
Ki Buyut termangu-mangu. Namun kemudian ia bertanya “He, kenapa hal ini tiba-tiba saja kau laporkan. Bukankah tidak ada sangkut pautnya dengan kita?”
“Tetapi Ki Buyut” jawab orang itu “bukankah pemimpin perampok itu telah melarikan diri”
“Ya. Bukankah kebetulan jika ketiga orang itu berhasil menangkapnya?” desak Ki Buyut.
Orang itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Jika demikian, nampaknya memang tidak penting untuk dilaporkan”
“Bagaimana menurut pendapatmu?” bertanya Ki Buyut itu pula.
Orang itu menjadi semakin ragu-ragu. Namun, akhirnya ia pun berkata, “Semula aku cemas. Bahwa orang itu tidak melepaskan diri karena memang ia ingin melarikan diri dan atas usahanya sendiri”
Ki Buyut menjadi tegang. Dipandangainya wajah orang itu dengan tajamnya sambil berkata “Jangan mengigau. Kenapa kau berprasangka demikian?”
“Aku mengenal Ki Buyut sejak lama dan akupun mengenal orang itu meskipun sudah lama sekali aku tidak berrhubungan” jawab orang itu, “aku salah seorang pengikut Ki Buyut sejak Ki Buyut masih muda”
“Gila. Aku sudah tahu. Dan aku pun masih ingat. Tetapi, kenapa kau menduga, bahwa aku telah tersangkut dalam usaha orang itu untuk melepaskan diri?” bertanya Ki Buyut.
“Karena hal itu mustahil dapat dilakukannya sendiri” jawab orang itu.
Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Akupun sedang memikirkannya. Jika benar ketiga orang itu berhasil menangkap kembali pemimpin perampok yang melarikan diri itu, maka aku pun akan mengalami kesulitan. Karena itu, aku minta tolong kepadamu. Panggillah orang-orang yang pernah berada dalam satu lingkungan dengan kita. Orang-orang yang memiliki kemampuan tidak sekedar seperti perampok-perampok gila, yang dengan petunjukku tidak berbuat sesuatu saat padukuhan itu dirampok, termasuk kau sendiri. Meskipun semula kau aku anggap tidak masuk hitungan. Tetapi karena penggraitamu tajam, maka kau pun akan terlibat pula”
“Aku bersedia terlibat Ki Buyut” jawab orang itu.
“Aku tahu. Karena itulah kau datang kemari. Tetapi akupun tahu, bahwa sawahmu telah habis kau gadaikan. dengan tingkah lakumu ini, bukankah kau mempunyai pamrih untuk mendapatkan sawah lagi?” geram Ki Buyut.
Orang itu tersenyum sambil menundukkan kepalanya.
“Panggil sepuluh orang terbaik yang pernah kau kenal. He, bukankah kau masih tahu benar, siapa saja yang dahulu pernah bekerja bersama dengan kita, dan yang kemudian menjadi bebahu dikabuyutan ini, termasuk Ki Jagabaya?” bertanya Ki Buyut.
“Ya, aku ingat Ki Buyut” jawab orang itu.
“Panggil sepuluh orang itu. Mungkin kita masin harus berbuat sesuatu. Sudah lama aku menggantungkan pedangku. Sekali-kali jika ada perampokan kecil-kecilan aku mengenakannya. Tetapi barangkali sebentar lagi aku harus mempergunakannya untuk menghadapi tiga orang gila itu”
“Tetapi ketiganya adalah orang-orang luar biasa” jawab orang yang melapor itu.
“Siapa yang mengatakannya?” bentak Ki Buyut.
“Mereka telah berhasil menangkap para perampok itu?” jawab orang itu.
“Bukan karena mereka bertiga. Karena orang-orang seluruh padukuhan ikut pula. Meskipun mereka tidak berbuat banyak, tetapi kahadiran mereka, membuat para perampok itu menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, selain menyerah saja.” Jawab Ki Buyut.
Orang itu mengangguk-angguk. Namun ia masih tetap menganggap bahwa ketiga orang itu memiliki kelebihan dari orang-orang kebanyakan. Namun dihadapkan kepada sepuluh orang yang dimaksudkan oleh Ki Buyut, agaknya akan terjadi suatu benturan kekuatan yang dahsyat sekali, karena orang itu tahu pasti, siapa saja yang dimaksud dengan sepuluh orang itu.
Tetapi orang itu tidak mempunyai terlalu banyak waktu, ia pun kemudian minta kepada Ki Buyut untuk menghubungi sepuluh orang di seluruh padukuhan yang terpencar di Kabuyutan itu. Orang-orang yang sudah mendapat kedudukan paling baik di antara orang-orang lain di seluruh Kabuyutan. Namun karena ternyata ada orang lain yang berhasil memiliki kekayaan melampui mereka, maka ada juga rasa iri yang menggelitik jantung. Karena itulah, maka telah terjadi persoalan yang rumit di Kabuyutan itu, yang akan mengancam beberapa orang saudara yang berhasil.
Demikianlah, maka orang yang membawa pesan Ki Buyut bagi sepuluh kepercayaannya itu pun telah menghubungi mereka seorang demi seorang. Dan seorang demi seorang pula mereka telah datang ke rumah Ki Buyut dan langsung diterima di ruang dalam.
“Ki Buyut mencemaskan ketiga orang yang sudahi aku dengar memiliki kemampuan yang luar biasa itu?” bertanya Ki Jagabaya.
“Ya” Jawab Ki Buyut.
“Ki Buyut mengenal aku dengan baik. Dan meskipun sudah beberapa lama aku tidak membawa senjata, namun aku masih menyimpan canggah itu dengan sebaik-baiknya” berkata Ki Jagabaya.
“Hanya kau simpan saja? Sekarang saatnya senjata itu kau pergunakan” berkata Ki Buyut.
“Sebenarnya aku segan membawa senjata itu di siang hari. Seolah-olah akan terjadi sesuatu yang dapat menggemparkan Kabuyutan ini” jawab Ki Buyut.
“Tetapi, itu lebih baik daripada lehermu dipenggal oleh ketiga orang itu” geram Ki Buyut.
Ki Jagabaya tertawa. Katanya, “Jangan cemas. Aku sudah mendapat kedudukan baik Kabuyutan ini. Aku kira demikian juga kawan-kawanku yang lain ini. Kami tentu akan membantu Ki Buyut dengan cara apapun juga. Bahkan dengan mempergunakan senjata sekalipun”
“Jangan hanya berbicaya saja. Persiapkan dirimu menghadapi keadaan ini” berkata Ki Buyut.
“Baiklah” berkata Ki Jagabaya, “kita sudah mengenal satu dengan yang lain. Kita tentu akan segera dapat menyesuaikan diri. Aku tahu, bahwa di antara kita terdapat pula orang-orang yang memiliki kekuatan dan kemampuan raksasa. Karena itu, tidak ada yang perlu dicemaskan sekarang ini. Tiga orang, dan katakanlah semua laki-laki di Kabuyutan ini, biarlah datang. Satu dua dari mereka terkapar mati, maka yang lain akan lari tunggang langgang Apalagi menghadapi Ki Buyut dan para bebahu sendiri”
Demikianlah, maka Ki Jagabaya dan sepuluh orang yang telah di panggil oleh Ki Buyut itu pun segera mengambil senjata masing-masing. Meskipun senjata-senjata itu menarik perhatian orang-orang yang berpapasan dengan mereka, tetapi mereka masih dapat menenangkan kegelisahan orang-orang itu.
Ketika seseorang bertanya, maka Ki Jagabaya menjawab, “Tidak ada apa-apa Aku hanya bersiap-siap saja. Bukankah baru saja kita dikejutkan oleh perampokan yang kasar? Apa salahnya kita bersiap-siap”
Ternyata orang-orang lain pun selalu menjawab serupa jika ada satu dua orang yang bertanya kepada mereka.
Sejenak kemudian, maka sepuluh orang itu telah bersiap-siap di rumah Ki Buyut. Selebihnya adalah orang yang telah memanggil mereka dan Ki Buyut sendiri. Tiga orang pengawal khusus Ki Buyut pun telah diberitahukan, bahwa mungkin sekali akan terjadi peristiwa yang tidak dikehendaki, meskipun Ki Buyut juga yakin bahwa mereka akan setia kepadanya apapun yang terjadi.
Dengan demikian, maka orang-orang yang berada di rumah Ki Buyut itu pun telah siap menghadapi apa saja yang bakal terjadi.
Dalam pada itu, maka Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan telah memasuki padukuhan yang telah digemparkan oleh perampokan itu. Kedatangan mereka bersama pemimpin perampok yang telah melarikan diri itu ternyata telah menarik perhatian. Karena itu maka dalam sekejap, beberapa orang laki-laki telah berkerumun di halaman banjar padukuhan.
Dalam pada itu, Mahisa Agni pun telah menyerahkan pemimpin perampok itu kepada Mahisa Bungalan, sementara ia akan berbicara dengan para pemimpin padukuhan itu.
Sejenak kemudian telah terjadi pembicaraan yang sungguh-sungguh antara Mahisa Agni dan Witantra di satu pihak serta para pemimpin padukuhan itu, termasuk orang yang mewakili Ki Buyut di padukuhan itu.
“Tidak ada gejala yang dapat menunjukkan kepada kami, bahwa Ki Buyut telah berbuat seperti yang dikatakan itu” berkata salah seorang dari pemimpin-pemimpin padukuhan itu.
“Tetapi, ada sesuatu yang menarik” berkata yang lain, “sejak Ki Buyut diangkat, menggantikan mertuanya yang menjadi semakin tua dan tidak dapat menjalankan kewajibannya lagi, maka ia sudah mengangkat beberapa orang pembantunya. Bebahu Kabuyutan lajer, telah terdesak oleh tenaga-tenaga baru yang diangkat oleh Ki Buyut yang sekarang, yang nampaknya memang lebih baik dan lebih cakap”
“Ya” sahut yang lain “aku masih ingat. Dengan demikian maka semua kekuasaan berada ditangan Ki Buyut dan kawan-kawannya itu. Yang seingatku, mereka adalah orang-orang baru di Kabuyutan ini. Meskipun nampaknya mereka memang lebih gairah bekerja bagi kemajuan padukuhan ini”
“Jadi bagaimana menurut pendapat kalian?” bertanya Mahisa Agni.
Para pemimpin padukuhan itupun mulai menimbang-nimbang, apakah yang sebaiknya mereka lakukan. Mereka selama itu tidak melihat kekurangan yang dilakukan oleh Ki Buyut, apalagi satu tindak kejahatan seperti yang dengan tiba-tiba saja dipersoalkan.
“Mungkin pada suatu saat Ki Buyut telah benar-benar ingin memperbaiki keadaan dan pandangan hidupnya” berkata salah seorang dari pemimpin padepokan itu, “namun ketika hubungan dengan pemimpin perampok itu terjadi, maka kambuhlah sifat-sifatnya yang kurang baik itu. Meskipun nampaknya ia hanya memberi kesempatan saja, namun agaknya yang terjadi ini adalah satu permulaan dari masa yang suram bagi Kabuyutan ini”
Mahisa Agni dan Witantra kemudian mendengarkan beberapa pendapat dari para pemimpin padukuhan itu. Namun ternyata bahwa pada umumnya, mereka menginginkan hal yang terjadi itu diselesaikan sampai tuntas.
“Kita belum dapat mempercayai sepenuhnya apa yang dikatakan oleh pemimpin perampok itu” berkata Mahisa Agni “tetapi memang masuk akal, bahwa ia hanya dapat melepaskan diri karena pertolongan seseorang. Dalam hal ini adalah Ki Buyut sendiri”
“Baiklah” berkata orang yang dianggap wakil Ki Buyut di padukuhan itu, “aku termasuk bebahu Kabuyutan ini. Tetapi aku termasuk orang lama, sehingga barangkali aku bukan orang yang dekat sekali dengan Ki Buyut. Namun iku ingin bertemu dan bertanya apakah yang dikatakan oleh pemimpin perampok itu benar”
“Itu berbahaya sekali bagimu” cegah seorang yang lebih muda “mungkin Ki Buyut akan mengambil sikap yang tegas dan pendek terhadapmu”
“Lalu, apakah yang pantas kita lakukan” bertanya orang itu.
“Aku akan mencari keterangan tentang hal ini” desis seseorang di antara mereka.
“Terlalu lama. Berapa hari keterangan itu akan kau dapatkan sehingga persoalan ini akan segera dapat di tangani” bertanya orang yang dianggap mewakili Ki Buyut di padukuhan itu.
Ternyata pembicaraan itu masih berkepanjangan. Tidak ada jalan yang dapat dipergunakan untuk menentukan sikap tertentu. Pendapat Mahisa Agni dan Witantra untuk langsung mempersoalkannya dengan Ki Buyutpun agaknya kurang dapat mereka terima, karena seperti yang sudah mereka katakan, hal itu akan dapat berbahaya.
Namun dalam pada itu, selagi mereka berbincang panjang lebar dan bahkan yang nampaknya tidak akan dapat menemukan jalan keluar, seseorang telah datang menemui orang yang dianggap mewakili Ki Buyut di padukuhan itu.
“Ada apa?” bertanya orang itu.
“Ki Buyut telah mengumpulkan para bebahu di Kabuyutan” berkata orang yang baru datang, “mereka telah mempersenjatai diri dan nampaknya mereka berjaga-jaga”
“Darimana kau tahu?” bertanya orang yang mewakili Ki Buyut.
“Aku baru datang dari padukuhan induk Kabuyutan. “Aku menengok menantuku yang sedang sakit. Dalam pada itu, aku melihat para bebahu yang termasuk orang-orang baru itu berkumpul di Kabuyutan dengan senjata masing-masing”
“Kenapa mereka berkumpul dan membawa senjata?” bertanya Mahisa Agni.
“Menurut keterangan mereka, kabuyutan ini sedang disentuh oleh kejahatan, sehingga mereka perlu bersiaga dengan senjata mereka masing-masing” jawab orang yang datang melaporkan itu.
“Berapa orang menurut penglihatanmu” bertanya orang yang mewakili Ki Buyut di padukuhan itu.
“Aku tidak tahu pasti” jawab orang itu, “tetapi aku tidak melihat bebahu lajer yang masih ada, seperti Ki Demung dan Ki Perapat”
Orang yang mewakili Ki Buyut di padukuhan itu pun mengangguk-angguk. Iapun merasa tidak tahu menahu dengan pertemuan dan bahkan kesiagaan para bebahu lainnya dengan senjata masing-masing.
“Baiklah, terima kasih atas keteranganmu” berkata orang yang mewakili Ki Buyut itu “kami akan membicarakannya di sini”
Demikian orang itu meninggalkan pertemuan antara para pemimpin padukuhan itu dengan Mahisa Agni dan Witantra, maka mereka pun mulai lagi dengan pembicaraan yang bersungguh-sungguh.
“Memang mencurigakan” akhirnya orang-orang yang berbincang itu mengambil kesimpulan.
Mahisa Agni dan Witantra tidak dapat menentukan sikapnya tanpa persetujuan orang-orang itu. Bahkan akhirnya ia tidak dapat menentang ketika orang yang mewakili Ki Buyut itu memutuskan untuk mengundang beberapa orang penting lainnya di Kabuyutan itu.
“Kita akan berbicara dengan sejumlah orang lain yang aku anggap akan dapat memberikan petunjuk” berkata orang yang mewakili Ki Buyut itu.
Demikianlah, maka beberapa orang telah memencar untuk mengundang orang-orang penting di Kabuyutan itu, kecuali para bebahu yang menurut ingatan mereka diangkat oleh Ki Buyut itu secara langsung.
Beberapa saat mereka menunggu. Akhirnya yang diundang itupun seorang demi seorang telah datang. Termasuk Ki Demung dan Ki Perapat.
Setelah mendapat penjelasan secukupnya, maka orang yang mewakili Ki Buyut di padukuhan itu mohon pendapat orang-orang yang dianggapnya memiliki pandangan yang lebih luas dari dirinya.
“Aku tetap mencurigainya” berkata Ki Demung “bukan karena kedudukanku sebagai bebahu terdesak, tetapi Ki Buyut telah mengambil tindakan yang kurang wajar sebelumnya. Mungkin hal itu tidak segera terasa akibatnya. Tetapi pada suatu saat, kita akan menyesal jika kita berdiam diri saja”
“Kita mendapat kesempatan sekarang untuk bertanya kepadanya” sambung Ki Perapat.
“Tetapi siapakah yang akan datang kepadanya?” bertanya orang yang mewakili Ki Buyut di padukuhan itu.
Ki Demung dan Ki Perapat saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Ki Demung berkata “Aku akan menghadap Ki Buyut. Aku akan bertanya terus terang”
“Apakah hal itu tidak akan berbahaya bagi Ki Demung?” bertanya salah seorang yang ikut dalam pembicaraan itu.
“Mungkin memang berbahaya. Tetapi kita tidak mempunyai kesempatan seperti sekarang ini” jawab Ki Demung.
“Tetapi jika benar Ki Buyut sudah mempersiapkan orang-orangnya, maka kita pun tidak boleh sekedar menghadap untuk mohon kebaikan hatinya. Kitapun harus bersiap. Meskipun mungkin sekali orang-orang yang berpihak kepadanya cukup kuat, tetapi kita akan dapat menghimpun jumlah yang lebih banyak” berkata Ki Perapat.
Semua orang yang berada di tempat itu setuju. Mereka telah menunjuk beberapa orang terkuat di antara mereka. Namun mereka pun sadar, bahwa sepuluh orang berbahu, termasuk Ki Jagabaya adalah orang yang memiliki kelebihan di Kabuyutan itu.
“Kita tidak akan datang ke rumah Ki Buyut dengan semua laki-laki yang sependapat dengan kita. Dengan demikian akan memancing kemungkinan orang-orang lain yang pernah merasa berhutang budi kepada Ki Buyut untuk berpihak kepadanya” berkata Ki Demung, “karena itu, maka kita akan menunjuk beberapa orang yang bersedia mempertaruhkan segala-galanya untuk memulihkan tata pemerintahan di Kabuyutan ini Apalagi jika benar Ki Buyut telah terlibat dalam kejahatan yang justru merupakan permulaan dari kejahatan-kejahatan yang tertentu akan berkembang”
“Aku sependapat” berkata Ki Perapat “kita akan mengumpulkan beberapa orang yang bertekad untuk menghadapi kelaliman ini”
“Kita akan memilih, siapakah di antara kita yang bersedia” berkata Ki Demung, “karena kita tidak memiliki kelebihan yang dapat kita banggakan, maka kita akan berdiri dalam pertanggungan jawab yang sama”
Ternyata di luar dugaan Ki Demung dan Ki Perapat, Orang-orang yang hadir itu telah menyatakan kesediaan mereka, meskipun mereka sadar, bahwa yang akan terjadi adalah pertaruhan nyawa. Mungkin mereka akan bertempur melawan Ki Buyut bersama orang-orangnya yang telah berkumpul di Kabuyutan. Dengan demikian, maka ada kemungkinan bahwa mereka tidak akan dapat kembali kepada keluarga mereka.
“Tetapi jika bukan kita, siapa lagi” berkata seorang yang berkumis lebat, “meskipun aku hanya memutar pedang, namun aku bersedia untuk melakukan kewajiban ini. Aku tidak berkeberatan jika aku harus berhadapan dengan Ki Jagabaya yang disegani itu, apabila ternyata Ki Jagabaya berpihak kepada Ki Buyut”
Ki Demung dan Ki Perapat pun kemudian menyusun orang-orangnya. Ada tiga belas orang yang bersedia untuk pergi ke rumah Ki Buyut. Namun karena lima orang di antara mereka dianggap mempunyai keadaan yang khusus, Ki Demung menasehatkan, agar mereka tidak usah ikut bersama mereka. Tiga orang di antara mereka, isterinya sedang mengandung tua. Seorang yang lain, ibunya sedang sakit keras, sedang seorang lagi adalah anak tunggal.
“Biarlah kita datang dengan delapan orang. Aku tidak dapat menduga, berapa orang yang sudah bersiap-siap di rumah Ki Buyut. Jika mereka ternyata memiliki kekuatan yang tidak terlawan, maka pembicaraan kita akan mengarah kepada masalah-masalah yang tidak akan menyulit kan kita pada saat itu, meskipun kita tidak boleh berhenti dan menyerah apabila menurut keyakinan kita, kita memang ingin merubah keadaan” berkata Ki Demung.
“Tetapi jika Ki Buyut justru akan bertindak atas kita dengan tuduhan yang bukan-bukan” bertanya salah seorang.
“Apaboleh buat” jawab Ki Demung “karena itu, aku menasehatkan mereka yang memiliki keadaan khusus tidak usah mengikuti kita pergi ke rumah Ki Buyut. Kita mempunyai dugaan, bahwa ada di antara kita, bahkan mungkin semuanya, tidak akan keluar lagi dari halaman rumah itu. Namun kita sudah mulai menyalakan api kesadaran kepada orang-orang kebuyutan ini, bahwa sikap Ki Buyut harus mendapat pengamatan yang lebih cermat. Bahkan mungkin, jika kita tidak mampu berbuat apa-apa, kita akan menyampaikannya kepada Akuwu”
Orang-orang yang ada di tempat itu mengangguk-angguk. Sementara itu, Mahisa Agni pun telah berkata, “Akupun bersedia untuk ikut bersama kalian”
“Kalian berdua?” bertanya Ki Demung.
“Kami bertiga” jawab Mahisa Agni.
“Bagus” orang-orang yang hadir itupun menyambut hampir berbareng, “bersama kalian, usaha kita akan berhasil”
Ki Demung menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah mendengar bahwa ketiga orang yang berada di padukuhan itu, telah membantu menangkap para perampok. Tetapi Ki Demung dan Ki Perapat belum melihat sendiri, apa saja yang mampu mereka lakukan.
“Baiklah” berkata Ki Demung, “kami mengucapkan terima kasih. Tetapi di mana kawan kalian yang seorang”
“Menunggui pemimpin perampok itu” jawab Mahisa Agni.
“Biarlah pemimpin perampok itu terikat kaki dan tangannya dan dijaga sebaik-baiknya, sehingga tidak mungkin lagi baginya untuk melarikan diri” berkata Ki Demung.
Sejenak kemudian, maka orang-orang itu pun segera mempersiapkan diri. Meskipun agak segan, tetapi mereka pun terpaksa membawa senjata, karena orang-orang yang berada di rumah Ki Buyut menurut penglihatan seseorang telah bersiap-siap dengan senjata pula.
Dalam pada itu, para pemimpin perampok itu pun telah diikat kaki dan tangannya, serta dijaga oleh beberapa orang bersenjata agar tidak lepas lagi. Sekali lagi Mahisa Agni menegaskan, bahwa apa yang dikatakan oleh pemimpin perampok tentang Ki Buyut itu bukan sekedar fitnah.
“Apakah kau bersedia, aku hadapkan kepada Ki Buyut dan memberikan keterangan seperti yang kau katakan” bertanya Mahisa Agni.
“Asal keselamatanku dijamin, aku tidak berkeberatan” jawab pemimpin perampok itu.
Tetapi Mahisa Agni tidak ingin membawanya, la hanya ingin mendengar orang itu berkata sebenarnya. Dan agaknya Mahisa Agni pun percaya bahwa orang itu berkata sebenarnya.
Demikianlah, maka delapan orang telah pergi ke rumah Ki Buyut bersama Mahisa Agni, Witantra dan Bungalan. Mereka bertekad untuk bertanya kepada Ki Buyut, apakah ia benar-benar telah berhubungan dengan pemimpin perampok itu, selebihnya bahwa apa yang sudah ia lakukan selama ini, nampaknya telah menyalahi ketentuan yang berlaku turun temurun di Kebuyutan itu.
Seperti orang-orang yang berkumpul di rumah Ki Buyut, jika ada orang yang bertanya dengan cemas di sepanjang jalan, bahwa mereka membawa senjata, maka jawab mereka selalu dihubungkan dengan perampokan yang baru saja terjadi.
“Kita hanya sekedar berhati-hati” jawab Ki Demung.
Orang-orang yang bertanya di sepanjang jalan itu, tidak mempersoalkannya lagi. Mereka percaya bahwa beberapa orang bebahu merasa wajib menjaga keamanan Kabuyutan itu dalam keseluruhan.
Meskipun demikian, semakin dekat mereka dengan rumah Ki Buyut, mereka pun menjadi semakin berdebar-debar. Rasa-rasanya telah tergetar di dalam jantung mereka, bahwa sesuatu nampaknya memang akan terjadi.
Ketika mereka memasuki padukuhan induk, maka beberapa orang menjadi cemas. Mereka sudah melihat beberapa orang berkumpul di rumah Ki Buyut. Dan mereka kemudian melihat beberapa orang lagi telah datang pula menuju ke rumah Ki Buyut itu pula. Meskipun mereka mendengar jawaban Ki Demung seperti yang selalu diucapkan, namun beberapa orang di padukuhan induk itu mengerti, bahwa hubungan Ki Demung dan Ki Perapat agak kurang baik dengan Ki Buyut serta beberapa orang bebahu yang telah diangkatnya menurut keinginan Ki Buyut sendiri. Termasuk orang yang paling disegani disamping Ki Buyut, adalah Ki Jagabaya.
Karena itu, maka kedatangan Ki Demung segera di ketahui oleh orang-orang diseluruh padukuhan induk, Mereka mulai mempercakapkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.
“Apakah Ki Demung marah, karena pemimpin perampok itu telah terlepas?” bertanya seseorang.
“Entahlah” jawab yang lain, “tetapi sungguh mendebarkan. Ki Demung termasuk orang yang memiliki pengaruh di samping Ki Perapat”
Orang-orang itu hanya dapat menebak-nebak. Namun dalam pada itu, terutama laki-laki dan anak-anak muda telah berkumpul di mulut lorong, di gardu-gardu dan di tikungan jalan padukuhan Dalam pada itu, iring-iringan yang dipimpin oleh Ki Demung dan Ki Perapat itu sudah sampai di rumah Ki Buyut. Mereka tertegun melihat regol halaman yang tertutup rapat. Karena itu, maka Ki Demung pun segera mengetuknya.
“Siapa?” bertanya orang yang berada di dalam regol.
“Aku, Demung” jawab Ki Demung, “kenapa regol itu ditutup? Satu hal yang tidak biasa terjadi di sini”
“Ki Buyut sedang berbincang dengan para bebahu terpenting di Kabuyutan ini” jawab suara di dalam.
“Aku ingin bertemu dengan Ki Buyut” bertanya Ki Demung.
“Hanya bebahu Kabuyutan” terdengar jawaban pula.
“Aku bebahu Kabuyutan” jawab Ki Demung.
“Jika demikian, kau sendirilah yang boleh masuk ke halaman dan seterusnya bertemu dengan Ki Buyut. Yang lain tinggal diluar”
“Aku juga bebahu” sahut Ki Perapat “aku Ki Perapat”
“Berdua aku persilahkan masuk” jawab penjaga regol itu.
“Baik. Bukakah pintu” jawab Ki Demung sambil memberikan isyarat kepada orang-orangnya.
Orang-orang yang mengikutinya, menjadi semakin curiga. Tidak biasa regol rumah Ki Buyut itu ditutup dan dijaga. Tentu telah terjadi sesuatu, yang justru memaksa Ki Buyut untuk berjaga-jaga. Dan satu kemungkinan yang paling dekat adalah, karena Ki Buyut itu merasa bersalah.
Dalam pada itu, terdengar selarak pintu dibuka. Kemudian perlahan-lahan pintu itupun berderit. Namun nampaknya Ki Demung sudah tidak sabar lagi. Bahkan ia justru telah yakin, bahwa Ki Buyut terlibat dalam perampokan yang telah terjadi, seperti yang dikatakan oleh pemimpin perampok yang melarikan diri itu.
Karena itu, maka demikian pintu terbuka sedikit, Ki Demung telah mendorongnya sekuat tenaga, sehingga dua orang yang berada di dalam telah terlempar beberapa langkah dan bahkan hampir jatuh terbanting.
Keduanya mengumpat. Tetapi Ki Demung, Ki Perapat dan orang-orang yang mengikutinya telah masuk ke dalam. termasuk Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan.
“Gila” geram kedua penjaga regol itu, “kalian telah memaksa membuka pintu dan masuk bersama orang-orang yang tidak seharusnya”
“Aku ingin bertemu dengan Ki Buyut” geram Ki Demung.
“Hanya para bebahu” bentak penjaga regol itu.
“Kami semuanya ingin bertemu dan berbicara dengan Ki Buyut” Ki Demungpun mulai membentak.
“Tidak” penjaga regol yang marah itu hampir berteriak.
Namun dalam pada itu, terdengar suara Ki Buyut dipintu pringgitan “Biarlah ia masuk bersama orang-orangnya”
Ki Demung berpaling. Dilihatnya Ki Buyut seorang diri berdiri dipintu pringgitan. Justru karena itu, jantung Ki Demung menjadi berdebar-debar. Seolah-olah Ki Buyut itu sama sekali tidak mengerti, apa yang akan dilakukannya bersama beberapa orang itu.
“Marilah Ki Demung” berkata Ki Buyut, “nampaknya ada masalah yang penting yang akan kau katakan. Silahkan naik ke pendapa”
Ki Demung termangu-mangu sejenak. Namun terasa betapa wibawa Ki Buyut itu telah mendorongnya untuk melangkah ke pendapa.
“Naiklah, dan silahkan duduk” Ki Buyut mempersilahkan.
Ki Demung berpaling kearah Ki Perapat. Namun agaknya Ki Perapat pun tidak mempunyai pilihan yang lain. Seperti Ki Demung, nampaknya ia pun telah terpengaruh oleh wibawa Ki Buyut, sehingga karena itu, maka keduanya pun kemudian melangkah ke pendapa. Dengan demikian, maka orang-orang lain yang menyertainya pun tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka pun kemudian berjalan di belakang Ki Demung dan Ki Perapat, naik ke pendapa dan duduk di atas tikar pandan yang telah terbentang.
“Silahkan duduk sebentar” berkata Ki Buyut “aku akan membenahi pakaianku. Nampaknya tidak sopan untuk dalam keadaan seperti ini menemui Ki Demung. Ki Perapat dan beberapa orang tamu yang lain”
Ki Demung dan Ki Perapat tidak menjawab. Tetapi mereka menganggukkan kepala mereka.
Demikian Ki Buyut masuk keruang dalam, maka suasana di pendapa itu menjadi hening. Rasa-rasanya tidak seorang pun yang berani mengucapkan sepatah kata pun.
Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan saling berpandangan sejenak. Merekapun merasa, betapa pengaruh Ki Buyut itu telah mencengkam orang-orang yang datang menghadapnya. Namun dalam pada itu, Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan masih membiarkan mereka, karena ketiganya ingin mengetahui, apa saja yang dapat dilakukan oleh orang-orang itu dihadapan Ki Buyut.
Sejenak kemudian Ki Buyut telah keluar dari ruang dalam. Sambil tersenyum ia berkata, “sangat mengagetkan. Ki Demung dan Ki Perapat telah datang bersama orang. Tetapi yang lebih mengagetkan adalah karena kalian semuanya bersenjata”
Ki Demung termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menjawab “Ya Ki Buyut Nampaknya suasana di Kabuyutan ini agak merisaukan sehingga kami memandang perlu untuk membawa senjata”
“Karena perampokan itu?” bertanya Ki Buyut.
“Ya, Ki Buyut” jawab Ki Demung.
Ki Buyut tertawa. Katanya, “Tentu mereka tidak akan datang di siang hari. Apakah Ki Demung merasa perlu untuk bersenjata disiang hari? Perampok biasanya melakukan pekerjaanya di malam hari”
“Ya Ki Buyut” jawab Ki Demung.
“Karena itu, kita tidak perlu cemas bahwa sesuatu asan terjadi di siang hari” berkata Ki Buyut, “dengan demikian, maka bukankah lebih baik bagi kita untuk berbicara tanpa diganggu oleh senjata-senjata itu Aku kira, senjata senjata itu lebih baik diletakkan saja disudut pendapa. Percayalah, perampok-perampok itu tidak akan datang. Jika mereka datang disiang hari, pengawal-pengawalku sudah siap. Dan bahkan apabila perlu, kalian akan dapat mengambil senjata-senjata itu dengan cepat”
Ki Demung menjadi bingung. Sementara Ki Buyut pun berkata selanjutnya “Silahkan. Letakkan senjata kalian di sudut pendapa itu. Kita akan dapat duduk enak dan berbicara lebih laras. Dengan senjata di lambung, kita duduk dengan punggung yang pegal dan seolah-olah kita adalah sekelompok pengecut di kandang sendiri”
Ki Demung dan Ki Perapat menjadi semakin bingung. Sementara itu ketika Mahisa Bungalan menggamit Mahisa Agni, ternyata Mahisa Agni memberi isyarat, biarlah segalanya itu berlangsung.
Sebenarnyalah bahwa Ki Demung dan Ki Perapat tidak dapat melawan wibawa Ki Buyut itu, ketika Ki Buyut yang masih tersenyum itu mempersilahkan sekali lagi, maka Ki Demung tidak dapat menolaknya lagi
“Silahkan. Letakkan di sudut pendapa. Jangan terlalu jauh. Meskipun sekali lagi, tidak akan ada perampok di siang hari. Dan seandainya mereka datang juga, para pengawal akan menahan para perampok itu dan kalian akan mendapat kesempatan untuk mengambil senjata-senjata kalian”
Ki Demung dan Ki Perapat saling berpandangan pula untuk beberapa saat. Namun merekapun kemudian beringsut dan kemudian bangkit diikuti oleh orang-orangnya untuk meletakkan senjata mereka di sudut pendapa, yang memang tidak terlalu jauh dari tempat duduk mereka.
“Gila” pikir Mahisa Bungalan “pangaruh apakah sebenarnya yang telah mencengkam orang-orang itu.
Namun dalam pada itu, Mahisa Agni berbisik di telinga Mahisa Bungalan “Cobalah pandang mata Ki Buyut sebaik-baiknya. Tetapi kau harus menjaga, agar pribadimu tidak dikuasai oleh pengaruh tatapan mata Ki Buyut itu. Meskipun demikian, biarlah kita berpura-pura untuk mengikuti saja apa yang dikatakannya”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti maksud Mahisa Agni, sementara ketika ia memandang Witantra, maka Witantra pun telah tersenyum pula kepadanya.
Demikianlah, maka orang-orang itu pun telah berdiri dan meletakkan senjata masing-masing. Mahisa Agni, Mahisa Bungalan dan Witantra yang juga membawa pedang telah meletakkan pedang mereka di antara senjata Ki Demung dan kawan-kawannya.
Ketika Mahisa Bungalan kemudian memperhatikan tatapan mata Ki Buyut itu, sebenarnyalah, terasa di jantungnya getaran-getaran yang aneh. Semula kepribadiannya yang kuat telah membebaskannya dari pengaruh wibawa Ki Buyut yang sangat besar yang memancar dari matanya. Namun kemudian, ketika dengan sengaja Mahisa Bungalan berusaha mengerti arti dari peristiwa itu, maka ia pun mulai merasa sentuhan-sentuhan yang mempengaruhi perasaannya.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar