PANASNYA BUNGA MEKAR : 21-01
“Tidak Ki Sanak” jawab Mahisa Agni, “kami benar-benar ingin menghadap Akuwu untuk memberikan penjelasan seperti yang sudah aku katakan”
“Terima kasih. Marilah kita berangkat. Silahkan Ki Sanak bertiga berada di depan” jawab Senapati itu.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan isyarat ia mengajak Witantra dan Mahisa Bungalan mengikutinya.
Keduanya pun segera mengerti apa yang dimaksud oleh Mahisa Agni sehingga keduanya pun segera mengikutinya.
Para pengawal itu pun menyibak ketika Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan melewati mereka menuju ke istana Akuwu.
“Aku belum pernah melihat istana Akuwu” berkata Mahisa Agni.
Senapati itu tersenyum. Katanya,, “Marilah. Aku akan berada di samping kalian”
Demikianlah Senapati itu lelah mengambil tempat di samping Mahisa Agni. Di belakang mereka adalah Witantra dan Mahisa Bungalan. Baru kemudian di belakang mereka, para pengawal yang selalu bersiaga. Namun melihat sikap dan tingkah laku ketiga orang itu, maka mereka pun mulai ragu-tagu dengan laporan yang pernah mereka dengar.
Meskipun demikian, mereka tidak boleh lengah. Ketiga orang itu dapat saja bersikap dan berlaku pura-pura. Namun yang pada suatu saat akan berbuat sesuatu yang sangat mengejutkan.
Tetapi Mahisa Agni Witantra dan Mahisa Bungalan sudah bertekad untuk tidak berbuat apa-apa dan menghadap Akuwu. Karena itu maka mereka pun sama sekali tidak menumbuhkan kecurigaan apapun juga. Mereka dengan tenang duduk di atas punggung kuda, sementara kuda mereka berjalan dengan kecepatan sedang di atas jalan yang menuju ke istana Akuwu.
Perjalanan itu tidak terlalu panjang. Sesat kemudian mereka sudah melihat istana Akuwu yang cukup megah. Di pintu gerbang terdapat dua orang pengawal yang berjaga-jaga di sebelah menyebelah.
Namun ketiga orang itu nampaknya dengan patuh mengikuti perintah Senapati yang membawanya. Bukan karena ketiganya diperlakukan dengan kasar. Nampaknya Sanapati yang membawanya itu cukup berlaku baik terhadap ketiga orang itu. Tidak ada kesan sama sekali bahwa ketiganya telah melakukan perlawanan.
“Mungkin mereka tidak berani berbuat sesuatu melihat sekelompok pengawal yang kuat. sehingga mereka terpaksa bersikap seperti seekor tikus di hadapan seekor kucing yang garang“ desis beberapa orang.
Kedatangan Senapati yang membawa ketiga orang itu pun sempal membuat para pengawal di halaman istana Akuwu itu bersiap-siap. Namun seperti pengawal yang mengiringi ketiga orang itu, maka sama sekali tidak terdapat kesan yang mencurigakan pada ketiga orang itu. Ketiganya duduk di atas punggung kuda dengan kepala tunduk. Wajah mereka tidak membayangkan kekasaran dan apalagi keliaran.
Tetapi juga seperti para pengawal yang mengiringi ketiga orang itu, bahwa mereka tidak boleh lengah. Sesuatu yang tidak mereka, duga sebelumnya akan dapat terjadi dan akibatnya sangat menyakitkan hati.
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka pun menduga, bahwa sikap itu adalah sekedar sikap pura-pura, atau suatu cara untuk maksud tertentu.
Dalam pada itu, demikian iring-iringan itu memasuki halaman, mereka pun segera berloncatan turun. Bukan saja ketiga orang yang dibawa untuk di hadapkan Akuwu, tetapi juga para pengawal itu sendiri.
Para pengawal yang berada di sebelah menyebalah pintu gerbang, maupun para pengamal yang berada di gardu di dalam lingkungan dinding halaman itu pun telah bersiaga sepenuhnya.
Namun dalam pada itu, baik para pengawal yang membawa ketiga orang itu, maupun para pengawal yang berada di halaman, bahkan Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalah sendiri pun terkejut pula. Ternyata Akuwu yang berdiri di tangan depan istananya berkata lantang, “Biarkan mereka. Kenapa ketiga orang itu harus dikawal dan dijaga seperti sekelompok perampok yang menggemparkan Pakuwon?”
Tidak seorang pun yang mengetahui maksud Akuwu. Apalagi ketika Akuwu itu berkata, “Biarkan mereka bertiga menghadap. Kalian para pengawal tidak perlu menganggap ketiganya sebagai orang yang menakutkan. Mereka bagiku adalah orang-orang kebanyakan. Jika mereka mempunyai sekedar ilmu, bukan berarti bahwa kalian harus menjaganya dengan pasukan segelar sepapan”
Para pengawal itu pun termangu-mangu. Namun, justru Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan lah yang mulai mengerti maksud Akuwu itu. Namun mereka masih tetap menunggu, apakah yang akan dikatakan oleh Akuwu itu selanjutnya.
Dalam pada itu, Akuwu pun berkata, “Lakukanlah tugas kalian sebagaimana seharusnya. Biarkan ketiga orang ini. Mereka tidak akan berbuat apa-apa. Aku ada disini”
Dengan demikian, barulah para pengawal itu mengerti. Akuwu sendiri telah mengawasi mereka bertiga, sehingga mereka bertiga tidak akan sempat berbuat apa-apa di depan Akuwu yang masih muda itu.
“Meskipun demikian, para pengawal itu tidak meninggalkan halaman. Meskipun mereka menepi dan di antara mereka masuk kembali ke dalam gardu pengawal yang bertugas di halaman, namun sebagian dari mereka masih tetap mengawasi ketiga orang yang berdiri di halaman itu.
“Terimalah kuda mereka” berkata Akuwu lantang.
Tiga orang pengawal telah mendekati Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan. Mereka menerima kendali kuda mereka dan menambatkan di pinggir halaman istana Akuwu yang cukup luas itu.
“Ki Sanak” berkata Akuwu kepada ketiga orang yang berdiri termangu-mangu di halaman, “aku sudah mendengar segala sesuatu mengenai Ki Sanak. Aku pun telah menerima laporan, bahwa Ki Sanak adalah orang-orang yang pilih tanding”
“Ketiga orang yang berdiri dihalaman itu pun menjadi semakin menyadari sikap Akuwu itu, sehingga dengan demikian, maka mereka pun mulai dapat menduga, apa yang akan dilakukan oleh Akuwu yang masih muda itu.
Sejenak ketiga orang dihalaman itu menilai Akuwu yang sedang berdiri tegak di tangga istananya. Mahisa Agni dan Witantra mulai memperbandingkan Akuwu itu dengan Akuwu Tumapel pada masa mudanya. Akuwu Tunggul Ametung yang dianggap sebagai seorang yang tidak ada duanya di Tumapel. Namun akhirnya ia terbunuh oleh Ken Arok. Ken Arok yang disebut sebagai kekasih dewa-dewa. Tetapi Ken Arok pun bukannya manusia yang tidak terkalahkan. Pada suatu saat Ken Arok pun telah terbunuh.
“Memang mungkin sekali bahwa seorang Akuwu memiliki kemampuan yang tidak ada bandingnya“ berkata Mahisa Agni di dalam-hatinya.
Namun, Mahisa Agni, dan Witantra itu pun meyakini, bahwa Mahisa Bungalan yang masih semuda Akuwu itu, juga memiliki kemampuan yang sulit dicari bandingnya”
“Ki Sanak” berkata Akuwu itu kemudian, “menurut laporan yang aku terima, kalian telah berhasil menangkap sekelompok merampok yang merampok di sebelah padukuhan”
“Bukan begitu Sang Akuwu” jawab Mahisa Agni, “yang hamba ketahui, hamba sekedar membantu, apa yang telah dilakukan oleh rakyat padukuhan itu sendiri. Sama sekali hamba dan kedua kadang hamba ini tidak merasa menangkap perampok-perampok itu”
Akuwu mengerutkan keningnya. Namun katanya kemudian, “Baiklah. Jika kalian merasa bahwa kalian tidak menangkap para perampok itu, karena mereka telah ditangkap oleh rakyat padukuhan itu sendiri, namun bukankah kalian berhasil menangkap pemimpin perampok yang telah melarikan diri?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Hamba Akuwu. Tetapi itu pun satu kebetulan”
“Ternyata kalian adalah orang-orang yang suka merendahkan diri. Aku tidak tahu, apakah kalian benar-benar orang yang rendah hati, atau sekedar berusaha mengurangi-kesalahan yang pernah kalian lakukan” berkata Akuwu kemudian, “He Ki Sanak. Kau ternyata telah menghindarkan seorang Senapati yang sedang mengemban tugas. Kau telah melawannya dan bahkan mengalahkannya. Luar biasa. Bukankah itu satu pameran kekuatan yang mengagumkan? Aku yang tidak melihat bagaimana kau melakukannya menjadi kagum”
“Hamba mohon maaf, Sang Akuwu” jawab Mahisa Agni, “bukan maksud kami untuk menentang perintah Sang Akuwu. Tetapi sebenarnyalah, bahwa kami merasa tidak bersalah. Dengan demikian maka tidak sepantas nya kami ditangkap dan dibawa menghadap Akuwu”
“Salah atau tidak salah, perintahku harus ditaati, “ bentak Akuwu muda itu.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia berhadapan dengan Akuwu yang masih muda, yang baru seumur Mahisa Bungalan. Karena itu, maka ia pun berusaha untuk menjaga, agar jawaban-jawabannya tidak menyinggung perasaannya.
Dalam pada itu, maka Mahisa Bungalan menjawab, “Sekarang hamba telah menghadap Akuwu”.
“Sudah terlambat” jawab Akuwu, “kau sudah dianggap bersalah karena telah menolak perintahku yang pertama, yang aku limpahkan lewat seorang Senapatiku”
Sementara itu, Mahisa Bungalan berdesis, “Apa boleh buat.“
“Tunggulah” bisik Witantra.
Tetapi rasa-rasanya Mahisa Bungalan sudah tidak sabar lagi. Meskipun seandainya ia harus bertempur melawan pengawal di seluruh pakuwon, agaknya akan lebih baik daripada menyerah begitu saja. Bahkan dengan akibat apapun juga.
Sementara itu, maka Mahisa Agni pun bertanya, “Jadi, apakah yang seharusnya kami lakukan Sang Akuwu?, “
“Kalian harus dihukum sesuai dengan kesalahan kalian” jawab Akuwu, “kesalahan kalian adalah kesalahan yang berat, karena kalian telah melawan perintahku.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dengan dada tengadah ia berkata, “Hukuman apakah yang akan kami terima?”
“Seharusnya kalian menerima hukuman yang paling berat yang dapat dibebankan kepada seseorang. Kalian harus dihukum mati karena kalian telah memberontak.”
Sekali lagi Witantra menggamit Mahisa Bungalan yang bergerak setapak maju. Sementara Mahisa Agni berkata, “Hukuman mati adalah hukuman bagi seorang pengkhianat. Tetapi kami bukan pengkhianat. Jika kami menentang perintah Sang Akuwu, bukan berarti kami berkhianat, karena kami memang bukan penghuni Pakuwon ini.”
“Cukup” geram Akuwu muda itu, “siapa pun kalian, ternyata kalian berada di daerahku sekarang ini. Yang kau lakukan terjadi di daerah kekuasaanku.”
“Tetapi Akuwu tidak memikirkan akibatnya” jawab Mahisa Agni, “bahwa kami bukan orang kabur kanginan. Kami adalah orang yang memiliki tempat tinggal. Kami adalah orang yang berada di bawah satu kekuasaan seperti kekuasaan Akuwu di sini. Kami adalah orang-orang yang berada di bawah satu sayap perlindungan. Jika kami mati di sini, maka itu bukan satu penyelesaian yang baik bagi Pakuwon ini. Aku yakin, bahwa aku tidak berdiri sendiri. Aku yakin, bahwa akan timbul perselisihan yang menuntut korban demi korban. Kematian demi kematian karena peperangan.”
“Aku tidak peduli” teriak Akuwu itu.
“Kecuali jika kita bersikap jantan” berkata Mahisa Agni kemudian.
Akuwu itu mengerutkan keningnya. Dengan nada datar ia bertanya, “apa maksudmu?”
“Jika Akuwu menghukum mati kami bertiga, maka hal itu akan memberikan kesan ketidak adilan. Terutama bagi lingkungan kami. Bagi orang-orang yang merasa mempunyai kewajiban untuk melindungi kami. Tetapi jika kami mati dalam arena perang tanding, maka tidak seorang pun yang akan merasa tersinggung karenanya. Karena kami mati sebagai seorang laki-laki., “
“Gila. Kau menantang aku, he?” teriak Akuwu yang masih muda itu, “aku akan membuka arena perang tanding. Siapa yang akan maju di antara kalian. Aku akan melawan kalian seorang demi seorang. Membunuh orang yang pertama sebagai pelaksanaan hukuman mati yang harus kalian alami. Namun aku akan melakukannya dengan sikap jantan. Kemudian orang yang kedua dan yang ketiga. Jangan kalian sangka, bahwa karena kalian dapat mengelabui seorang Senapatiku, maka kalian merasa bahwa kalian memiliki ilmu yang linuwih di hadapanku.”
“Bagus” Mahisa Bungalan sudah tidak dapat dicegah lagi. Sambil melangkah maju ia berkata, “Kita masih sama-sama muda. Biarlah aku orang yang pertama melayani perang tanding”
“Persetan” geram Akuwu. Lalu katanya kepada para pengawalnya, “Aku akan melakukan perang tanding. Tidak seorang pun di antara kalian yang aku perkenankan untuk mencampurinya”
Para Senapati yang berada di halaman itu saling berpandangan. Namun mereka pun mengerti, bahwa Akuwu benar-benar akan melakukan perang tanding. Sementara itu, maka para Senapati dan pengawal pun menganggap bahwa ketiga orang itu telah melakukan langkah yang salah. Jika mereka menanggapi jatuhnya hukuman itu dengan cara yang lain, maka Akuwu pun tentu akan bersikap lain. Jika ketiga orang itu bersedia mohon ampun, maka biasanya Akuwu akan mengampuninya. Meskipun masih juga ada hukuman yang harus mereka jalani, tetapi hukuman itu tentu akan jauh lebih ringan dari hukuman mati.
Namun ketiga orang itu ternyata justru telah menantang Akuwu, sehingga Akuwu benar-benar menjadi marah. Dalam perang tanding, Akuwu mungkin akan benar-benar membunuh lawannya. Karena bagi mereka, Akuwu adalah seorang yang tidak dapat dikalahkan. Apalagi pada saat itu, guru Akuwu yang luar biasa itu, berada di istana itu juga.
Sebenarnyalah, seorang tua yang berambut putih, berdiri di pintu seketheng sambil menahan nafasnya. Ia melihat suasana yang panas di halaman. Namun ia pun melihat, bahwa ketiga orang yang berdiri di halaman itu memang bukannya orang kebanyakan, sehingga perang tanding itu telah mendebarkannya pula.
Tetapi ia. tidak dapat mancegahnya. Akuwu sudah menjatuhkan keputusan untuk melakukan perang tanding. Dan apa yang dikatakan olah Akuwu itu, tentu harus dilaksanakan”
Dalam pada itu, Para pengawal pun telah berada dalam satu lingkaran yang luas di halaman. Di tengah-tengah lingkaran itu, Akuwu akan melakukan perang tanding. Yang pertama-tama akan memasuki arena dari ketiga orang yang telah ditangkap itu adalah orang yang paling muda.
Sejenak kemudian Akuwu telah turun pula ke arena. Ia sama sekali tidak memegang senjata apapun, namun ketika Mahisa Bungalan memasuki arena itu pula, ia berkata, “Ambillah senjata apapun yang kau kehendaki”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. dengan, demikian ia sadar, bahwa ia berhadapan dengan orang yang memiliki ilmu yang tinggi dengan ilmu puncaknya yang pantas di banggakan.
Tetapi sebagai murid Mahisa Agni, dan sekaligus Witantra dan ayahnya pula, maka Mahisa Bungalan pun memiliki ilmu pamungkas. Ia akan dapat melepaskan ilmu itu dalam saat yang paling gawat.
Sejenak kemudian, kedua orang-orang muda itu sudah berhadapan. Akuwu yang dengan dada tengadah berdiri di bawah tangga istananya berkata, “Nah, kau masih mempunyai kesempatan. Apakah kau akan terus, atau mundur”
Tetapi jawab Mahisa Bungalan, “Kau kira aku lebih senang berjongkok untuk menjalani hukuman mati daripada aku harus berada di tengah-tengah arena ini? Jika aku mati di arena, mana aku mati sebagai laki-laki. Bukan sebagai seorang perampok yang dipenggal kepalanya. Tetapi lebih parah dari itu. Pakuwon ini tentu akan dilanda banjir bandang. Kematian demi kematian akan datang. Kau sangka kekuatan pengawal di Pakuwon mu ini tidak terbatas sehingga akan dapat melawan siapapun?
“Jangan mengigau” desis Akuwu itu, “ambil senjata dan lawan aku”
“Aku bukan pengecut” jawab Mahisa Bungalan, “jika kau tidak bersenjata, aku pun tidak akan bersenjata”
“Tanganku melampaui jenis senjata apapun” jawab Akuwu.
“Tetapi tidak akan mampu melukai kulitku“ jawab Mahisa Bungatan yang menjadi panas. Akuwu yang masih muda itu menggeram. Katanya, “Bersiaplah. Aku akan mulai”
Mahisa Bungalan tidak menjawab. Ia pun kemudian mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.
Ketika Akuwu itu bergeser, maka Mahisa Bungalan pun bergeser. Mahisa Buugalan sadar sepenuhnya, bahwa Akuwu itu bukan sekedar seperti Ki Buyut yang memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain yang tidak berpribadi kuat. dengan sorot matanya. Bukan pula Sanapati yang sombong. tetapi tidak mempunyai bekal ilmu. Tetapi agaknya Akuwu benar-benar memiliki kemampuan yang tinggi.
Sejenak kemudian, Akuwu itu pun mulai bergerak. Tangannya mulai terjulur, sementara Mahisa Bungalan pun telah bergeser setapak surut.
Demikianlah, maka sesaat kemudian, perang tanding di antara keduanya pun telah mulai menyala di halaman itu. Ternyata Akuwu itu pun menyadari, bahwa lawannya memiliki kekuatan yang cukup membekali keberaniannya.
Namun Akuwu tidak menduga, bahwa kemampuan anak muda yang telah memasuki arena itu, benar-benar ilmu pada tingkatan yang tinggi.
Sejenak kemudian, Akuwu mulai merasa betapa langkah-langkah anak muda itu kadang-kadang mengejutkannya. Kecepatannya bergerak melampaui perhitungannya. Sehingga karena itulah, maka Akuwu itu pun telah meningkatkan kamampuannya pada tataran tertinggi. Ia mulai menambah tenaga cadangannya untuk berusaha menekan lawarnya. Namun ia menjadi berdebar-debar, bahwa ilmu yang telah sampai pada tataran tertinggi itu sama sekali tidak menggetarkan lawannya. Bahkan lawannya itu seolah-olah menjadi semakin gairah.
“Anak gila” geram Akuwu, “apakah ia tidak menyadari keadaannya. Atau akulah yang tidak menyadarinya”
Dalam pada itu, Akuwu pun telah meningkatkan pula tenaga cadangannya. Dengan demikian maka kecepatannya bergerak pun menjadi semakin bertambah. Karena seolah-olah tidak lagi berjejak di atas tanah, sehingga para pengawalnya menjadi semakin kagum.
Namun, yang dilakukan itu sama sekali tidak membingungkan Mahisa Bungalan. Ia masih mampu mengimbangi kecepatan gerak dan kekuatan lawannya. Bahkan ketika Akuwu itu sempat menyerangnya dengan ayunan tangan mendatar menyamping, Mahisa Bungalan tidak mengelak. Bahkan dengan sengaja ia telah menangkis serangan itu, sehingga telah terjadi benturan kekuatan di antara keduanya.
Namun Mahisa Bungalan pun terkejut karenanya. Tangannya merasa sakit. Ternyata Akuwu itu telah meningkatkan pula tenaga cadangannya, sehingga ia hampir mengerahkan segenap kekuatannya.
Tetapi Akuwu pun terkejut pula mengalami benturan itu. Ternyata perasaan pedih yang sangat telah menggigit tangannya yang membentur tangan Mahisa Bungalan. Bahkan rasa-rasanya dagingnya menjadi lumat karenanya dan tulangnya bagaikan menjadi retak.
“Luar biasa” geram Akuwu itu di dalam hatinya.
Dengan demikian Akuwu pun semakin menyadari, bahwa ia benar-benar berhadapan dengan seorang anak muda yang berilmu tinggi. Namun demikian Akuwu masih mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri.
Sejenak kemudian, perang tanding itu pun menjadi semakin sengit. Keduanya telah meningkatkan ilmu mereka sampai pada tataran yang menentukan. Akuwu yang ternyata terbentur pada lawan yang kuat itu, tidak lagi mengekang dirinya. Bahkan ia telah bergumam kepada diri sendiri, “Orang ini memang pantas dihukum mati”
Oleh pikiran itu, maka Akuwu itu pun telah sampai kepada satu keputusan untuk menyelesaikan pertempuran itu. Ia tidak lagi ragu-ragu untuk menghantam lawannya dengan ilmu pemungkasnya meskipun dengan demikian lawannya akan menjadi lumat. Apalagi ia memang sudah mengatakan, bahwa orang itu harus dihukum mati.
Karena Akuwu yang masih muda itu tidak melihat kesempatan lain, maka ia pun menentukan sikap. Sesaat ia menghentakkan tenaga cadangannya dan berusaha mendesak lawannya. Namun sejenak kemudian, Akuwu itu meloncat surut.
Mahisa Bungalan terkejut melihat sikapnya. Bahkan kemudian jantungnya menjadi berguncang ketika ia melihat Akuwu itu bersikap.
Mahisa Bungalan sadar, bahwa Akuwu itu akan melepaskan ilmu pamungkasnya. Ilmu yang tentu jarang ada bandingnya. Sehingga karena itu maka Mahisa Bungalan tidak akan membiarkan dirinya menjadi lumat. Ia adalah seorang anak muda yang memiliki lambaran ilmu dari orang-orang tua yang menuntunnya. Meskipun ilmu itu belum sempurna, namun ilmu itu akan dapat melindungi dari kehancuran mutlak.
Mahisa Agni, Witantra dan orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu menjadi semakin tegang. Mahisa Agni dan Witantra segera mengetahui, bahwa Akuwu itu telah sampai ke puncak ilmunya. Sementara orang-orang yang mengelilingi arena, para pengawal dan Senapati, telah mengenal, bahwa tidak seorang pun yang pernah berhasil menyelamatkan diri dari sentuhan ilmu yang dahsyat itu. Hanya dalam keadaan yang tidak terkendali saja Akuwu itu mempergunakan ilmunya. Karena itu, maka Akuwu jarang sekali mempergunakannya.
Jika ia mempergunakan untuk menghadapi Mahisa Bungalan, adalah karena ia tidak mampu lagi untuk mengalahkan dengan kemampuan ilmunya sewajarnya.
Dalam pada itu, orang tua yang menyaksikan pertempuran itu di belakang para pengawal itu pun menjadi tegang. Tetapi ia tidak sempat berbuat apa-apa. Dalam waktu yang singkat, Akuwu telah mangetrapkan ilmu pamungkasnya, sementara Mahisa Bungalan yang tidak mau menjadi lumat itu pun telah melakukan hal yang serupa.
Sejenak kemudian, arena itu telah dicengkam oleh ketegangan yang memuncak. Seperti petir meloncat di langit. Akuwu itu menyambar lawannya dengan ilmu puncaknya. Namun dalam pada itu, Mahisa Bungalan pun telah merendahkan dirinya pada lututnya, menyilangkan tangannya didadanya. Ketika tangan Akuwu itu terayun, maka Mahisa Bungalan mengangkat kedua tangannya yang bersilang, menangkis-serangan Akuwu yang mempergunakan segenap kekuatan ilmu puncaknya.
Yang terjadi adalah benturan yang dahsyat. Mahisa Bungalan telah terlempar beberapa langkah surut. Bahkan ia telah tidak berhasil mempertahankan keseimbangan. Meskipun ia masih dapat menguasai dirinya, namun ia telah terhuyung-huyung dan jatuh pada lututnya. Dengan susah payah berusaha agar ia tetap menyadari keadaannya. Ia tidak mau kehilangan pengamatan diri, sehingga ia kehilangan kesempatan untuk mempertahankan diri. Yang terjadi adalah benar-benar pertempuran antara hidup dan mati. Jika ia kehilangan kesadarannya, maka lawannya tentu akan dengan mudah membunuhnya. Namun jika ia masih tetap berhasil menguasai dirinya, betapapun lemahnya, ia masih akan mampu membela diri.
Karena itu, meskipun Mahisa Bungalan tidak tergesa-gesa meloncat berdiri, namun ia tetap menyadari keadaannya. Bahkan ia justru sempat beristirahat untuk mengatur pernafasannya.
Namun ketika ia mengangkat kepalanya, dilihatnya lawannya tidak lagi berdiri di arena. Baru kemudian ia mengerti, bahwa Akuwu yang membentur kekuatannya itu pun telah terlempar beberapa langkah surut. Bahkan ternyata keadaannya lebih parah dari Mahisa Bungalan yang masih sempat bertahan pada lututnya.
Dalam pada itu, Akuwu yang masih muda itu telah terbaring di tanah. Pingsan.
Sementara itu, orang tua berambut putih yang memperhatikan pertempuran itu dengan saksama, telah menyibak beberapa orang pengawal. Dengan langkah yang tenang, orang tua itu mendekati Akuwu yang terbaring diam. Kemudian ia pun berjongkok disisi Akuwu yang sedang pingsan itu.
Beberapa orang Senapati telah mengerumuninya dan berjongkok pula di seputarnya. Sejenak mereka memperhatikan, apa yang dilakukan oleh orang tua itu, Dengan sebuah bubuk yang dicairkan dengan air yang diambil oleh salah seorang pengawal, orang tua itu mengusap kening dan dahi Akuwu, Kemudian setitik air bersih telah diteteskan ke bibirnya pula.
“Ia akan segera sadar” desis orang tua itu.
Dalam pada itu, beberapa orang Senapati pun telah berbisik yang satu dengan yang lain, “Kita tangkap, orang itu”
“Ya. Kita tangkap orang itu” sahut yang lain. Dalam pada itu, beberapa orang Senapati pun telah melangkah maju kearena, sementara Mahisa Agni dan Witantra telah membantu Mahisa Bungalan membenahi dirinya dan mengatur pernafasannya. Agaknya anak muda itu tidak mengalami kesulitan meskipun ia menjadi sangat letih.
“Kalian harus kami tangkap” desis seorang Senapati.
Namun sebelum Muhisa Agni menjawab, orang tua berambut putih itu mencegah para Senapati. Katanya, “Jangan berlaku licik. Yang terjadi adalah perang tanding sehingga akhir dari perang tanding ini harus kalian terima sebagai satu kenyataan.
“Dan orang-orang itu tidak menerima hukumannya?” bertanya para Senapati.
Orang tua itu pun kemudian bangkit sambil berdesis, “Layani Akuwu yang pingsan itu. Ia akan segera sadar. Biarlah aku menyelesaikan persoalan ini dengan orang-orang itu. Mereka bukannya tidak dihukum. Tetapi kjta harus mempergunakan cara yang sudah disepakati untuk menghukum mereka. Aku pun akan melakukan perang tanding”
Mahisa Bungalan yang masih dalam keadaan letih itu pun sempat menjawab, “Bagus. Beri kesempatan aku mengatur pernafasanku. Aku akan memasuki arena perang tanding”
Tetapi Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Beristirahatlah. Biarlah Orang tua yang bermain-main dengan orang tua pula”
Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Sementara itu Mahisa Agni berkata, “Biarlah aku melawannya”
“Kau atau aku?“ bertanya Witantra. Percakapan itu ternyata telah menyinggung perasaan orang berambut putih yang menantang perang tanding itu Dengan suara lantang ia berkata, “Majulah berdua. Aku adalah guru Akuwu yang dapat dikalahkan anak muda itu, meskipun ia sendiri sudah tidak mampu lagi berbuat sesuatu”
Mahisa Bungalan akan menjawab. Tetapi Witantra menggamitnya. Sementara Mahisa Agni lah yang kemudian menjawab, “Jangan begitu Ki Sanak. Jika kita setuju untuk melakukan perang tanding, maka yang akan berlangsung adalah perang tanding apapun akibatnya”
“Bagus” jawab orang berambut putih itu, “kita akan melakukan perang tanding. Tantanganmu itu adalah satu kesalahan besar bagimu, sehingga menjerumuskan kalian bertiga kedalam keadaan yang paling parah. Sebenarnya Akuwu bukan orang yang sangat kejam untuk membunuh orang-orang yang telah pasrah. Mungkin kau akan mendapat pengampunan jika kau memohonnya. Tetapi dengan sombong kau menantang perang tanding”
“Akuwu sudah aku kalahkan” geram Mahisa Bungalan.
“Belum” jawab orang itu.
“Sudah. Jika tidak ada batas dalam perang tanding ini, aku sekarang dapat mendekatinya dan mencekiknya sampai mati, apa bila perang tanding ini dinyatakan sampai mati. Jika keadaan yang terjadi sebaliknya, mungkin Akuwu akan membunuhnya. Tetapi yang terjadi sekarang aku tidak membunuhnya. Tetapi aku menang atas Akuwu itu. Jika kau jujur, kau akan mengakuinya”
Orang tua itu menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak dapat ingkar, karena yang dikatakan oleh Mahisa Bungalan itu memang sebenarnya demikian. Namun dalam pada itu, dengan gigi gemeretak orang tua itu berkata, “Aku akan menebus kekalahan ini. Aku akan bertempur sampai mati”
“Jangan begitu Ki Sanak” sahut Mahisa Agni dengan serta merta, “kita akan bertempur dengan jantan. Kita akan mengakui, kekalahan yang mungkin akan kita derita. Tetapi bukan berarti bahwa kita akan membunuh diri”
“Terserah kepada kalian” jawab orang berambut putih itu, “tetapi aku adalah guru Akuwu yang telah menjatuhkan hukuman mati atas kalian tanpa mendapat kesempatan untuk memberikan pengampunan. Karena itu, maka dalam perang tanding ini, aku sekaligus akan melaksanakan hukuman mati itu, Aku akan membunuh lawan-lawanku seperti yang dimaksud oleh Akuwu”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau terlalu terpengaruh oleh perasaanmu Ki Sanak. Seharusnya orang-orang yang sudah setua kita, akan dapat berpikir dengan lebih mengendap. Namun agaknya kau mempunyai sedikit kelainan dengan orang-orang yang aku maksudkan”
“jangan banyak berbicara“ potong orang berambut putih itu, “cepat, siapakah yang akan mati lebih dahulu. Tentu bukan anak muda itu. Ia terlalu cepat mati. Karena itu, ia akan mandapat giliran yang terakhir”
“Baiklah” jawab Mahisa Agni, “jika kau berkeras untuk melakukannya, aku tidak berkeberatan. Marilah aku layani kau bermain-main”
Orang berambut putih itu pun kemudian maju beberapa langkah. Namun dalam pada itu, ia sempat berpaling ketika ia mendengar desah Akuwu yang mulai menyadari keadaannya.
“Minggirlah” berkata orang berambut putih itu, “aku akan melaksanakan hukuman yang sudah Akuwu jatuhkan atas orang-orang ini. Aku akan mempergunakan cara yang telah dipilihnya”
“Terserahlah kepada guru” desis Akuwu. itu, yang kemudian dibantu oleh beberapa orang pengawal menepi.
Sejenak kemudian orang berambut putih itu sudah berhadapan dengan Mahisa Agni, sementara Witantra berdiri di sebelah Mahisa Bungalan yang masih letih. Namun kekuatannya berangsur-angsur telah pulih kembali.
“Ki Sanak” berkata orang berambut putih, “kita akan segera mulai. Jangan menyesal, bahwa kalian telah menjadi korban kesombongan kalian sendiri”
“Aku tidak akan menyesal” jawab Mahisa Agni, “aku sudah memasuki daerah ini dengan maksud baik, dan kami bertiga sudah berusaha membantu orang-orangmu yang mengalami kesulitan. Tetapi inilah hadiah yang aku terima. Karena itu, maka biarlah kami bukan saja mempertahankan diri, tetapi kami berhak mempertahankan sikap adil yang telah kalian korbankan sekedar karena harga diri”
“Cukup“ geram orang berambut putih itu ”apakah kau akan mempergunakan senjata?”
”Sebagaimana yang kau lakukan. Jika kau yakin dengan tanganmu, aku pun akan mempergunakan tanganku. Aku mengerti bahwa kau akan mempergunakan ilmu pamungkasnya, seperti yang nampak pada Akuwu itu, tetapi dalam tataran yang lebih tinggi”
Orang berambut putih itu menggeram. Tetapi ia pun mengerti bahwa orang yang menghadapinya diarena itu dengan penuh kesadaran menghadapinya.
Sejenak kemudian, maka kedua orang tua itu sudah barhadapan. Mahisa Agni yang tidak bermimpi untuk berhadapan dengan seseorang dalam perang tanding, merasa dirinya tidak mempunyai pilihan laia Karena ia tidak akan menyerahkan lawannya kepada Witantra yang tentu dalam keadaan yang serupa dengan dirinya.
Karena itu, maka betapapun rasa segan membayanginya, ia harus menghadapi orang berambut putih itu dalam satu perang tanding.
Namun ternyata orang berambut putih itu masih merasa perlu menjajagi kemampuan lawannya. Tidak seperti yang diduga oleh Mahisa Agni, bahwa ia akan langsung mempergunakan ilmu pamungkasnya. Namun orang berrambut putih itu telah menyerang Mahisa Agni dengan kemampuan wajarnya. .
Keduanya pun kemudian mulai bertempur dengan ketrampilan jasmaniah mereka. Ternyata kedua orang, tua itu masih mampu bergerak cepat sehingga para pengawal yang menyaksikannya menjadi heran dan kadang-kadang bingung. Mereka kadang-kadang kehilangan pengamatan atas kedua lawannya. Tiba-tiba saja pada saat-saat yang tidak terduga, keduanya berada di tempat yang justru berlawanan dari penglihatan orang-orang yang berdiri di pinggir arena itu.
Demikianlah pertempuran itii semakin lama menjadi semakin seru. Keduanya bergerak semakin cepat. Namun kemudian keduanya tidak saja mempergunakan tenaga wantah, tetapi keduanya mulai mempergunakan tenaga cadangan masing-masing, sehingga pertempuran itu menjadi semakin dahsyat. Benturan-benturan yang terjadi menjadi semakin seru, sehingga orang-orang yang menyaksikan itu mulai melihat benturan-benturan kekuatan yang tidak mereka mengerti.
Meskipun keduanya tidak bersenjata, namun kedua tangan mereka ternyata memiliki kemampuan melampaui senjata yang betapapun kuatnya. Agaknya bindi sebesar paha sekalipun tidak akan dapat mematahkan kekuatan tangan mereka.
Dalam pada itu, orang berembut putih itu telah mengerahkan segenap tenaganya. Bahkan tenaga cadangannya. Karena itu, maka ia pun menjadi semakin cepat bergerak dan semakin kuat. Tetapi ia tidak berhasil mendesak Mahisa Agni, karena Mahisa Agni pun telah meningkatkan kemampuannya pula. Bahkan akhirnya Mahisa Agni pun sempat menilai kekuatan dan kemampuan lawannya. Ketika orang berambut putih itu tidak lagi meningkatkan serangan-serangannya pada kekuatan dan kecepatan gerak, tahulah Mahisa Agni bahwa orang itu sudah sampai dipuncak.
“Jika ia akan meningkat lagi, ia akan mempergunakan ilmu puncaknya” berkata Mahisa Agni didalafil hatinya.
Karena itulah, maka ia pun harus berhati-hati. Setiap saat orang itu akan dapat melontarkan ilmu puncaknya. Namun dalam pada itu, yang semula tidak begitu jelas nampak di saat Akuwu bertempur melawan Mahisa Bungalan, maka pada tata gerak orang berambut putih itu pun mulai nampak semakin jelas. Menurut penilaian Mahisa Agni dan juga penilaian Witantra yang berdiri di luar arena, Akuwu adalah murid orang berambut putih itu yang telah menerima segala macam ilmunya dengan tuntas. Meskipun kematangan ilmu Akuwu itu masih harus dikembangkan, tetapi menurut penglihatan Mahisa Agni dan Witantra. Akuwu itu sudah mencerminkan kemampuan gurunya.
Namun demikian, Mahisa Agni masih belum sampai hati melepaskan Mahisa Bungalan melawan orang itu, seandainya sejak semula ilmu itu sudah dapat dijajaginya. Dalam pada itu, yang nampak pada Mahisa Agni dan Witantra adalah beberapa persamaan antara tata gerak orang berambut putih itu dengan ilmu seseorang yang pernah dikenalnya.
“Ilmu ini tentu satu keturunan dengan ilmu Ki Dukut Pakering” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “meskipun ada beberapa perkembangan yang agak lain”
Pada murid-murid Ki Dukut, tata gerak ini masih nampak jelas. Tetapi agaknya tidak pada Akuwu yang pingsan itu. Meskipun Mahisa Agni tidak tahu sebabnya, namun pada Akuwu itu tata gerak itu mulai kabur, meskipun setelah diamati dengan seksama, tata gerak itu masih nampak juga pada jiwanya. Tetapi jika Mahisa Agni tidak melihat tata gerak orang berambut putih itu, maka sulit untuk mencari hubungan tata gerak Akuwu itu dengan murid-murid Ki Dukut Pakering.
Justru karena itu, maka Mahisa Agni pun menjadi semakin tertarik melihat kemampuan lawannya. Ketika batas kemampuan orang berambut putih itu sudah tidak meningkat lagi, sementara orang itu masih belum dapat menguasai lawannya, seperti yang diduga oleh Mahisa Agni, maka orang itu pun segera mempersiapkan ilmu pamungkasnya.
Mahisa Agni tidak terkejut melihatnya. Ia pun akan dapat melawan ilmu itu dengan ilmunya, dan Mahisa Agni pun yakin, bahwa ia akan dapat mengatasinya, setidak-tidaknya mengimbanginya. Namun sebelum orang itu sampai kepada ilmu puncaknya, Mahisa Agni berkata, “Sudahlah Ki Sanak. Yang akan terjadi telah tercermin pada muridmu. Jika kau mempergunakan ilmu Puncakmu, dan aku pun akan melawan dengan ilmuku. Benturan akan terjadi. Kita masing-masing akan terlempar dan menjadi-sangat letih. Setelah itu, perlahan-lahan kita berusaha memulihkan kekuatan kita masing-masing. Jika kita masih belum puas, benturan yang serupa akan terjadi, meskipun lebih lemah”
“Kau tidak akan dapat menahan ilmu pamungkasku” geram orang berambut putih.
“Muridku dapat melakukannya atas muridmu. Bahkan kau dapat melihat keseimbangan di antara keduanya” jawab Mahisa Agni.
“Apakah kau takut melawan ilmuku?“ bertanya orang itu.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Sebelumnya ia menduga bahwa orang tua itu tidak akan sekeras Akuwu yang masih muda. Namun ia masih harus membuktikannya. Karena itu, maka Mahisa Agni masih mencobanya lagi. Katanya, “Ki Sanak. Kita adalah orang-orang tua” Apakah kita masih juga tidak mampu melihat kenyataan, bahwa jika kita masing-masing harus melepaskan ilmu pamungkas, semuanya itu tidak akan ada artinya selain membuang-buang tenaga, waktu dan barangkali kita akan mengalami luka-luka dan kesakitan. Sementara persoalan kita tidak akan dapat diselesaikan dengan cara itu, karena masalahnya adalah harga diri. Kadang-kadang kita menilai harga diri kita satria dengan nyawa kita”
Ternyata orang berambut putih itu mulai merenung. Karena itu Mahisa Agni mulai berharap bahwa orang itu akan mendengarkannya.
“Ki Sanak. Seumur kita ini sudah bukan waktunya lagi untuk berlagak dihadapan banyak orang, apakah Ilmu kita dikagumi orang lain atau tidak. Jika mereka sudah melihat, kita melepaskan ilmunya, maka mereka tentu akan dapat menduga, betapa kemampuan gurunya, meskipun bukan mutlak bahwa jika muridnya mempunyai kemampuan selapis lebih tinggi, maka gurunya pun demikian pula”
Orang berambut putih itu mulai mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Aku sependapat Ki Sanak. Tidak ada gunanya kita melepaskan ilmu pamungkas kita masing-masing. Kau benar, bahwa hal itu tidak akan ada gunanya” berkata orang berambut putih itu.
Dalam pada itu, Akuwu terkejut mendengar keputusan gurunya. Karena itu, maka dengan nada tinggi ia bertanya, “Guru akan membiarkan mereka?”
“Bukan maksudku. Tetapi apakah kita akan dapat mengingkari kenyataan? Kita bertempur untuk mempertahankan harga diri. Apakah kita akan mengorbankan harga diri dengan memerintahkan semua pengawal di Pakuwon ini untuk bergerak?“ bertanya gurunya.
“Apakah guru tidak dapat membunuhnya saja?“ bertanya Akuwu.
Ternyata gurunya menggeleng. Katanya, “Aku tidak akan dapat membunuhnya meskipun dengan ilmu puncak yang ada padaku. Ia pun memiliki kemampuan yang akan dapat mengimbangi kemampuanku sehingga yang akan terjadi, adalah satu benturan yang tidak ada artinya”
“Jadi bagaimana dengan mereka Guru?“ bertanya Akuwu.
“Mereka tidak dapat kita kalahkan dalam perang tanding” jawab gurunya, “karena itu. maka kita tidak akari dapat menghukumnya dengan cara lain apabila kita tetap berpegang pada harga diri kita”
Akuwu menarik nafas dalam-dalam. Tubuhnya masih terasa sakit. Namun selangkah ia maju mendekati gurunya sambil bertanya, “Jadi, persoalan ini sudah selesai sampai disini?”
“Ya” jawab gurunya, “aku kira demikian”
“Tetapi aku Akuwu di sini” berkata Akuwu itu.
“Justru karena itu, pakailah kebijaksanaan. Berikan contoh sikap perwira kepada para pengawalmu” jawab gurunya.
Wajah Akuwu menjadi tegang. Ia merasa tersinggung oleh keadaan itu. Namun ia tidak dapat menentang gurunya. Bahkan hatinya pun mulai mengerti dan merasa arti kata-kata gurunya. Namun kedudukannya sebagai Akuwu telah mempersulit keadaannya di hadapan para pengawalnya, seolah-olah ia tidak mampu menjatuhkah hukuman terhadap orang yang bersalah.
Agaknya Mahisa Agni dapat melihat gejolak perasaan Akuwu itu. Karena itu, maka berusaha untuk membantunya mengatasi perasaannya.
“Akuwu” berkata Mahisa Agni kemudian, “mungkin yang terjadi ini tidak sesuai dengan tuntunan keadilan bagi Akuwu yang menganggap kami bersalah. Tetapi Akuwu pun tidak akan dapat ingkar akan kesediaan Akuwu untuk berperang tanding. Mungkin Akuwu dapat mengambil keputusan lain, tetapi itu pun akan kurang bijaksana.
“Kebijaksanaan Akuwu tidak dapat digugat“ geram Akuwu.
“Jika demikian, baiklah Akuwu“ jawab Mahisa Agni, “jika Akuwu masih merasa belum memenuhi kewajiban keadilan Akuwu atas orang yang bersalah, sementara Akuwu sudah terikat kepada kesediaan Akuwu untuk berperang tanding, maka cobalah Akuwu menuntut pada peradilan yang lebih tinggi”
“Apa maksudmu?“ bertanya Akuwu.
“Jika Akuwu mengakui kekuasaan Singasari, ajukan masalah ini kepada peradilan di Singasari, karena aku adalah orang yang pantas mendapat peradilan di Singasari” jawab Mahisa Agni.
Akuwu itu menjadi tegang sejenak. Tiba-tiba saja ia berdesis, “Siapa kau sebenarnya?”
“Aku adalah salah satu dari hamba istana Singasari. Kami berdua yang tua-tua ini adalah wulu cumbu Mahaprabu di Singasari” jawab Mahisa Agni.
Wajah Akuwu, menjadi semakin tegang. Terdengar suaranya bergetar, “Sapakah kau berkata sebenarnya?”
“Bertanyalah kepada para tetua di Singasari” sahut Mahisa Agni. Namun tiba-tiba, “Tetapi Akuwu, apakah Akuwu tidak pernah datang menghadap ke Singasari?”
“Ia belum lama menjabat Akuwu” jawab gurunya, “ayahandanya baru saja meninggal. Kemudian ia pun diangkat menjadi penggantinya sambil menunggu pengesahan dari Singasari”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Pada suatu saat, di hari pasowanan, kau dapat mencari aku di Singasari. Aku yang sudah tua, jarang sekali, hadir dipaseban. Tetapi di waktu-waktu khusus Maha Prabu di Singasari memanggil kami berdua”
Orang tua berambut putih itu menjadi berdebar-debar. Jika kedua orang itu adalah benar-benar orang-orang yang dekat dengan Maha Prabu di Singasari, maka persoalan akan dapat berkembang jika keduanya merasa terhina dengan perlakukan Akuwu terhadap mereka.
Namun dalam pada itu, Mahisa Agni berkata, “Lupakan apa yang telah terjadi, jika kalian mengakui apa yang aku katakan”
Tetapi nampaknya Akuwu yang muda itu tidak segera dapat mempercayainya. Masih nampak keragu-raguan memancar pada sorot matanya.
Namun orang berambut putih itu kemudian berkata, “Jika demikian, kami mengucapkan terima kasih. Karena itulah agaknya maka agaknya tuan-tuan dapat berlaku bijaksana. Kami mohon maaf atas segala tingkah laku kami. Beruntunglah bahwa aku masih mendengar peringatan tuan. Jika tidak, dan aku memaksa diri untuk membenturkan ilmuku, maka aku kira aku tidak akan dapat bangkit lagi selama-lamanya”
“Mungkin yang terjadi sebaliknya” jawab Mahisa Agni ”karena itu, aku aku kira perbuatan yang demikian akan menyia-nyiakan segalanya”’
“Tentu akulah yang akan menjadi debu” desis orang berambut putih itu. Lalu katanya, “Jika demikian. perkenankanlah kami mempersilahkan tuan naik ke pendapa”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya para pengawal yang berdiri termangu-mangu. Senapati yang pernah dikalahkan oleh Mahisa Bungalan, yang juga berada dihalaman itu, berusaha untuk bersembunyi dibalik punggung kawannya.
“Pantas aku dianggapnya sebagai permainan saja” berkata Senapati itu di dalam hatinya, “ternyata mereka adalah orang-orang dalam istana Singasari”
Akuwu yang muda itu pun tidak dapat berbuat lain. Gurunya telah menentukan satu sikap terhadap ketiga orang itu. Karena itu, maka ia pun tidak dapat mengelak lagi.
Sejenak kemudian ketiga orang itu telah berada di pendapa Agung istana Akuwu yang tidak siap untuk menerima mereka. Suasana yang canggung dan kaku mewarnai pertemuan itu.
Namun orang berambut putih itu agaknya berusaha untuk mengisi kekosongan dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah.
“Apakah tuan-tuan telah lama berada di istana Singasari?” bertanya orang berambut putih itu pula.
Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Saudaraku ini mengabdi bukan saja setelah Singasari berdiri, Tetapi sejak Akuwu Tunggul Ametung memerintah Pakuwon Tumapel”
“Sejak Akuwu Tunggul Ametung?“ orang berambut putih itu merasa heran, “sudah lama sekali”
“Kami pun sudah terlalu tua sekarang” jawab Witantra, “sudah tentu waktu aku menghamba di Tumapel aku masih sangat muda”
Orang berambut putih itu mengangguk-angguk. Sementara Witantra pun kemudian berkata, “Karena itu. Ki Sanak, jangan terlalu berprihatin atas keadaan ini. Aku percaya. Bahwa Akuwu yang masih muda itu, masih belum dapat mengendalikan dirinya sebagaimana orang-orang tua. Tetapi jangan merasa direndahkan dengan sikap kami. Bukan maksud kami menyombongkan diri, tetapi jika kami mengaku bahwa kami orang-orang dalam istana Singasari semata-mata untuk memberitahukan kepada Ki Sanak, terutama kepada Akuwu yang masih muda itu, bahwa yang kalian alami bukannya satu penghinaan”
Akuwu yang masih muda itu menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah bahwa setelah ia sempat merenungi apa yang telah terjadi, dan orang-orang sedang dihadapinya, maka mulailah ia menyadari keadaannya.....
Bersambung.... !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar