CAHAYA SEJATI bagian 6
Saat itu Kyai Sepuh tengah mengajar santri dan orang desa memberi kabar,
"Kyai maaf kyai.." kata orang itu tergopoh-gopoh.
"Ada apa mang?" tanya kyai.
"Itu kyai..., Bagus Cilik menghambur-hamburkan uang, dan membuat geger orang kampung."
"Dimana?"
"Di kebun singkong sana kyai."
"Ayo kita kesana." kata Kyai Sepuh, sambil beranjak dan diikuti semua yang ikut mengaji.
Bagus masih menghambur-hamburkan tanah yang menjadi uang, ketika Kyai Sepuh sampai.
"Bagus... jangan ngger, ndak baik." kata Kyai Sepuh halus.
"Ndak apa-apa Bah, kasihan orang kampung yang miskin, mereka tidak sanggup membeli kebutuhan hidupnya." jawab Bagus.
"Ndak boleh begitu ngger, dalam kemiskinan itu ada pahalanya, biar mereka mencari pahala dalam bekerja mencari nafkah untuk keluarganya, Nabi saja miskin, dan para penghuni surga itu kebanyakan orang miskin." jelas Kyai Sepuh dengan nada halus. Lalu menggendong Bagus Cilik. meninggalkan semua orang yang sibuk menghitung uang yang barusan didapat.
Hari masih pagi, Kyai Sepuh baru kembali dari mengimami masjid, tapi dia tidak nampak melihat Bagus yang biasanya membaca Qur'an di waktu pagi, lalu dia melihat ke kamar Bagus, ternyata masih tidur, kyai Sepuh pun mendekati dan mau membangunkan, tapi tubuh Bagus amat panas, sampai Kyai Sepuh amat kaget, karena ketika memegang tubuh Bagus rasanya tangan seperti memegang bara,
"Nyai... Nyai... ini anakmu kenapa?" panggil Kyai Sepuh pada istrinya.
Ibunya Bagus keluar dari pintu dapur, "Lha kenapa kyai?"
"Ndak tau, tubuhnya panas sekali." jawab Kyai Sepuh.
"Waduh...!" jerit istri Kyai Sepuh, ketika memegang tubuh Bagus Cilik.
"Panasnya seperti wajan penggorengan, bagaimana ini kyai, apa yang terjadi pada anak kita?"
"Bagus... ngger, bangun ngger..." kata kyai Sepuh memanggil, tapi tak berani memegang tubuh Bagus karena teramat panas. Tapi Bagus hanya diam, matanya terbuka, dan sayu, hanya matanya yang terbuka memandang sayu, dan tubuhnya sama sekali tidak bergerak, malah samar-samar seperti ada asap yang keluar dari tubuh Bagus, yang membuat Kyai Sepuh dan istrinya makin kawatir, tak terbayangkan bagaimana Bagus kepanasan.
"Bagaimana ini kyai..., anak kita?" kata istri kyai Sepuh kawatir.
"Biar ku sediakan air di gentong, kita rendam saja dia di gentong." kata Kyai Sepuh sambil berangkat mengambil gentong air dan mengisinya dengan air.
Lalu dengan dilapisi kain, Kyai Sepuh pun mengangkat tubuh Bagus dan diceburkan ke dalam gentong berisi air, tapi sebentar kemudian air dalam gentong mendidih, mengeluarkan asap, dan mengeluarkan gelembung panas seperti air yang masak di tungku api, tapi Bagus tetap diam, hanya matanya yang menatap sayu, Kyai Sepuh pun mengganti air, dengan air yang baru, tapi tetap saja sebentar kemudian air itu pun mendidih lagi, dan berulang kali air diganti, tapi tetap saja mendidih.
"Nyai... nyai tunggui Bagus, biar aku mencari tabib yang bisa mengobati." kata Kyai Sepuh,
"Iya kyai, jangan lama.." jawab nyai Sepuh, yang dibantu santri mengganti air, bila air telah mendidih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar