PANASNYA BUNGA MEKAR : 20-01
Tetapi ia sudah mapan, yang dilakukannya itu adalah sepenuhnya di bawah pengaruh kesadarannya. Kesadaran seseorang yang mempunyai kepribadian kuat. Namun dengan demikian Mahisa Bungalan dapat mengerti, pengaruh apakah sebenarnya yang sudah menguasai Ki Demung dan kawan-kawannya, sehingga seolah-olah mereka tidak dapat berpikir lama sekali.
“Apakah kau sudah mengetahuinya?” bertanya Mahisa Agni yang telah duduk kembali setelah meletakkan senjatanya.
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Namun dengan demikian ia menjadi semakin berhati-hati. Pada suatu saat ia harus mengambil satu sikap tertentu bersama Mahisa ‘Agni dan Witantra. Nampaknya Ki Demung dan Ki Perapat itu harus dibangunkannya untuk tetap berpegang pada niat kedatangannya.
Sejenak kemudian, orang-orang yang berada di pendapa itu telah duduk kembali sambil menundukkan kepalanya.
Diantara mereka duduk Ki Buyut sambil termangu-mangu. Bahkan kemudian terdengar suara tertawanya diantara kata2 nya “Nah, Ki Demung. Sekarang kita dapat berbicara dengan mapan. Katakan, kenapa kalian datang kemari bersama Ki Perapat dan beberapa orang lainnya? Apakah ada sesuatu yang penting yang ingin kau katakan?”
Ki Demung mengangkat wajahnya. Sekilas terpandang olehnya mata Ki Buyut yang seolah-olah mencengkam jantungnya. Sambil menunduk ia menjawab “Kami datang sekedar untuk menyatakan kesetiaan kami Ki Buyut. Kami mendengar beberapa orang bebahu telah datang meronda di rumah ini. Karena itulah, maka kami pun datang pula bersama beberapa orang untuk ikut berjaga-jaga.”
“O, begitu” berkata Ki Buyut, “terima kasih. Kami senang sekali menerima kedatangan kalian. Di rumah ini beberapa bebahu memang sedang berjaga-jaga. Lihatlah, itulah mereka.”
Orang-orang yang berada di pendapa itu pun berpaling. Betapapun juga nampak orang-orang itu terkejut. Di sekeliling pendapa itu nampak beberapa orang bebahu yang bersenjata berjalan keluar dari longkangan sebelah menyebelah. Kemudian mereka seolah-olah telah mengepung pendapa itu dari segala arah.
“Nah, itulah mereka” berkata Ki Buyut “namun nampaknya penjagaan itu harus di atur bergilir. Marilah, kalian akan mendapat giliran nanti. Karena itu, sebelum giliran bagi kalian tiba, kami persilahkan kalian beristirahat lebih dahulu di gandok.”
“Marilah Ki Demung dan Ki Perapat” berkata Ki Buyut, “kami persilahkan kalian beristirahat di gandok”
Ternyata Ki Demung dan Ki Perapat tidak membantah. Mereka pun kemudian bangkit dan mengikuti Ki Buyut menuju ke gandok sebelah kanan.
Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan pun mengikuti mereka pula. Dan mereka pun kemudian mengerti, apa yang sebenarnya dilakukan oleh Ki Buyut. Karena demikian mereka masuk ke dalam gandok, maka pintu gandok itu pun telah ditutup dan diselarak dari luar.
Yang terdengar kemudian adalah gelak tertawa di luar pintu. Terdengar suara Ki Buyut dan Ki Jagabaya berbincang. Tetapi orang-orang- yang berada di dalam gandok itu tidak mendengar jelas. Namun beberapa kalimat dapat ditangkap oleh telinga Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan yang tajam, ketika Ki Buyut berkata “Ternyata ketiga orang yang disebut memiliki kelebihan itu, sama sekali tidak berdaya menghadapi aku dengan langsung. Meskipun demikian mereka cukup berbahaya karena mereka berhasil menangkap kembali pemimpin itu.”
“Serahkan kepada orang-orang itu sendiri. Mereka dapat membunuhnya” berkata Ki Jagabaya.
Yang terdengar kemudian adalah suara tertawa. Selebihnya pembicaraan itu tidak dapat didengarnya lagi, betapapun mereka berusaha.
Namun kesadaran Ki Demung, Ki Perapat dan kawan kawannya ternyata sudah terlambat. Mereka telah terjebak dalam satu. ruangan yang kuat dan tertutup rapat. Gandok itu terdiri dari sebuah ruangan yang agak luas, dan dibatasi dengan dinding2 kayu yang tebal, sehingga sulit bagi orang-orang yang berada di dalamnya untuk dapat memaksa keluar. Apalagi di luar beberapa orang sedang berjaga-jaga.
Mahisa Agni. Witantra dan Mahisa Bungalan masih membiarkan orang-orang itu menjadi sibuk. Beberapa orang mencoba meraba-raba dinding untuk mencari kelemahannya.
Namun yang lain berkata, “Seandainya kita dapat keluar dari bilik ini, kita sudah tidak bersenjata lagi. Apakah artinya.”
“Ya. Kita memang terlalu dungu, sementara Ki Buyut terlalu licik.” sahut yang lain.
“Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang? Kita akan menyerah untuk dibantai di sini atau tindakan-tindakan lain yang akan dilakukan oleh Ki Buyut?” berkata yang lain, “sehingga kedatangan kita kemari semata-mata untuk menyerahkan leher kita.”
Tiba-tiba saja di luar dugaan seseorang berkata, “Ki Demung. Kita datang dengan harapan bahwa Ki Demung Ki Perapat akan dapat memberikan jalan bagi perubahan yang kita harapan di Kabuyutan ini. Tetapi tiba-tiba kita sudah dijebak, sementara Ki Demung dan Ki Perapat tidak berbuat apa-apa.”
“ Ya” sahut beberapa orang hampir bersamaan, “ya. Apa yang dapat kalian lakukan.”
Ki Demung dan Ki Perapat saling berpandangan. Tetapi apa yang dapat mereka lakukan, setelah mereka di dalam sebuah bilik yang tertutup rapat.
“Sekarang” berkata salah seorang “berbuatlah sesuatu Ki Demung atau Ki Perapat. Kita tidak akan terlepas dengan sendirinya dari tempat ini dan dari kelicikan Ki Buyut.”
“Ya, berbuatlah sesuatu “ sahut yang lain.
Ki Demung dan Ki Perapat benar-benar telah kehilangan, kepribadian mereka. Yang dilakukan sama sekali tidak sesuai dengan tekad mereka sejak mereka berangkat.
Demikian orang-orang lainnya pun nampaknya tidak dapat melawan sama sekali pengaruh Ki Buyut yang telah mencengkeram perasaan mereka.
Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan dengan sengaja telah menempatkan diri mereka bersama orang-orang itu. Mereka ingin tahu, betapa kemampuan Ki Buyut menguasai orang-orang itu, dan apa sajakah yang akan dilakukannya kemudian terhadap orang-orangnya yang diketahuinya akan melawannya dan bahkan serba sedikit telah mengetahui rahasianya melalui pemimpin perampok yang telah tertangkap itu. Karena itu, maka mereka pun telah bersikap, sebagaimana orang-orang lain bersikap.
“Ya. Carilah jalan yang manapun juga. Kita lebih baik mati dalam usaha daripada kita menunggu kematian itu sambil merenung disini.” berkata yang lain.
Orang-orang di dalam ruang itu pun menjadi gelisah. Ki Demung dan Ki Perapat pun menjadi bingung. Orang-orang itu ternyata marah dan menyalahkan mereka berdua.
Dalam kegelisahan itu, maka tiba-tiba saja Ki Demung berpaling kepada Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan Kemudian dengan serta merta ia mendekatinya sambil berkata, “Ki Sanak. Kenapa Ki Sanak hanya berdiam diri saja?”
“Kami merasa menyesal seperti orang-orang lain. Lalu apa gunanya kami datang kemari” jawab Mahisa Agni.
“Ya. Untuk apa kami datang. Sekedar menyerahkan leher?” sahut seseorang.
“Tetapi, katakan. Apa yang harus aku lakukan” Ki Demung hampir berteriak.
“Kenapa kita-telah meletakkan senjata kita?” bertanya Mahisa Agni.
“Ya. kenapa?” Ki Demung justru mengulang.
“Kami hanya mengikuti saja apa yang telah Ki Demung dan Ki Perapat lakukan” jawab Mahisa Agni, “karena Ki Demung dan Ki Perapat meletakkan senjata, kami kira bahwa itu adalah perintah yang harus kami lakukan pula.”
Ki Demung tiba-tiba saja telah terduduk dengan lemahnya sementara Ki Perapat berjalan hilir mudik dengan kepala tunduk.
“Ki Demung dan. Ki Perapat” berkata Mahisa Agni, “coba katakan, kenapa kita semuanya telah meletakkan senjata.?”
Ki Demung termangu-mangu sejenak. Kemudian jawabnya, “Aku tidak tahu Ki Sanak. Tiba-tiba saja aku telah melakukannya ketika Ki Buyut minta kita melakukannya.
“Tanpa disadari?” bertanya Mahisa Agni pula.
“Ya. Tanpa disadari.” jawab Ki Perapat.
“Nah, sekarang sudah waktunya untuk menyadari bahwa yang terjadi itu adalah satu kelemahan bagi kita. Kita sudah kehilangan diri kita sendiri demikian kita berhadapan dengan Ki Buyut. Ki Demung dan Ki Perapat, diikuti oleh kita semuanya, melakukan apa yang kita sendiri tidak menyadarinya.” desis Mahisa Agni.
“Ya. Tepat seperti itu.” jawab Ki Demung.
“Nah. Sebentar lagi, akan terjadi satu hal yang mungkin merupakan ulangan dari peristiwa itu. Tetapi lebih mengerikan lagi. Ki Buyut akan memasuki bilik ini bersama Ki Jagabaya. Ki Buyut akan menatap mata kalian dan dengan sorot matanya mempengaruhi kesadaran kalian sehingga kalian akan kehilangan diri kalian sendiri.” Mahisa Agni terdiam sejenak lalu, “Dengarlah. Kalian telah dipengaruhi oleh sorot mata Ki Buyut. Sebentar lagi dengan sorot matanya Ki Buyut akan memerintahkan kalian untuk membunuh kami bertiga. Jika kalian tidak mempersiapkan diri melawan pengaruh itu dengan kekuatan pribadi kalian masing-masing maka kalian tentu akan melakukannya.”
“Apakah benar begitu?” bertanya Ki Demung.
“Ya. Seperti yang telah kalian lakukan. Meletakkan senjata tanpa berpikir sama sekali bahwa ia adalah satu kebodohan yang sangat berbahaya.” sahut Mahisa Agni. Lalu, “Karena itu, aku ingin berpesan. Jika Ki Buyut berbuat demikian, maka cobalah melawan pengaruh itu dengan kekuatan pribadi kalian. Kemudian cobalah mengelabui mereka. Seolah-olah kalian ingin melakukannya. Mintalah senjata kalian kembali dengan kesanggupan untuk membunuh kami bertiga. Selebihnya, dengan senjata itu kita dapat berbuat sesuatu seperti yang kita rencanakan sejak kita berangkat dari pedukuhan itu.”
Orang-orang yang mendengarkan keterangan Mahisa Agni itu mengangguk, sementara Mahisa Agni berpesan, “Syaratnya, kalian harus menyadari diri sendiri dan berpijak pada sikap dan kepribadian kalian sendiri. Jika kalian gagal, maka akan terjadi sesuatu yang tidak kita kehendaki, karena kami pun tidak akan dengan suka rela menerima kematian.”
Orang-orang yang berada di dalam bilik tertutup itu pun mengangguk-angguk. Mereka sadar, bahwa mereka telah berhadapan dengan ilmu yang sangat berbahaya.
Karena itu, maka salah seorang dari mereka berkata, “Ya. Kita harus melakukannya. Jika tidak akan datang gilirannya, kita akan saling membunuh seperti yang mereka kehendaki tanpa dapat menentang sama sekali.”
“Baiklah” berkata Ki Demung, “marilah kita bersama-sama berusaha, agar kita tidak akan bertarung yang satu dengan yang lain.”
Demikianlah orang-orang itu telah berusaha untuk berpegang kepada kedirian masing-masing. Mereka bertekad, jika Ki Buyut itu datang lagi mereka tidak akan dengan mudah menyerahkan diri mereka dan tunduk alas segala perintah Ki Buyut tanpa berbuat sesuatu.
Dalam pada itu, Ki Demung dan Ki Perapat beserta orang-orang yang lain itu pun bagaikan orang yang kehilangan kesadarannya. Mereka duduk di sebuah amben bambu yang besar. Bahkan beberapa orang telah membaringkan dirinya, seolah-olah mereka benar-benar beristirahat sebelum melakukan tugas mereka berjaga-jaga di rumah Ki Buyut itu.
“Bukan main” berkata Mahisa Bungalan.
“Ya. Sampai kapan pengaruh itu akan mencengkam mereka” desis Witantra.
“Tetapi pengaruh itu akan lenyap dengan sendirinya. Kecuali jika sebentar lagi Ki Buyut itu datang mematuhi ruangan ini dan memberikan perintah-perintah khusus kepada mereka. seperti yang dikatakan oleh Ki Jagabaya, “jika benar terjadi demikian, kita akan mengalami kesulitan. Apakah kita harus melawan orang-orang yang tidak sadarkan diri itu, sementara mereka benar-benar ingin membunuh kita? “
“Sumber dari pengaruh itulah yang harus dipadamkan” sahut Witantra.
Mahisa Agni mengangguk-angguk, Kemudian katanya “Kita akan menunggu perkembangan apakah yang akan terjadi.”
Dalam pada itu, lambat laun tetapi nampak jelas. bahwa Ki Demung, Ki Perapat dan kawan-kawannya mulai menyadari apa yang terjadi. Karena itu, tiba-tiba saja Ki Demung berlari ke pintu dan mencoba membukanya.
“Gila. Pintu itu diselarak. Kita sudah tertipu geramnya.”
Ki Perapat pun melakukan hat yang serupa. Demikian pula kawan-kawannya, “Pintu diselarak. Kita sudah dijebak.”
“Gila. Licik.” Ki Demung mengumpat. Lalu, “sementara senjata kita sudah kita letakkan. Kita tidak mengira bahwa Ki Buyut akan selicik itu.”
Orang-orang di dalam ruangan itu menjadi ribut. Sementara itu terdengar suara tertawa di luar, suara tertawa yang sangat menyakitkan hati.
Untuk beberapa saat lamanya mereka berada di dalam bilik itu. Sementara itu, seorang dari para penjaga telah melaporkan kepada Ki Buyut bahwa orang-orang yang berada di dalam bilik itu telah memukul-mukul pintu dengan sekeras-kerasnya.
Ki Buyut tertawa, Katanya, “Mereka mulai menyadari keadaannya. Tetapi tidak apa. Sebentar lagi aku akan mempengaruhi mereka lagi, sehingga mereka akan beramai-ramai membunuh tiga orang dikatakan sebagai orang yang luar biasa itu, yang ternyata tidak lebih dari orang-orang padukuhan yang dungu itu.”
“Kita akan memanggil kawan-kawan kita untuk menyaksikan pembunuhan yang mengasyikkan itu Ki Buyut, sekaligus sebagai saksi bahwa merekalah yang melakukannya. Bukan kita” berkata Ki Jagabaya.
“Ya. Kemudian kita pun akan menyaksikan mereka bertengkar dan saling berbunuhan. Ki Demung dan Ki Perapat akan dibantai beramai-ramai oleh kawan-kawan mereka sendiri. Kita akan berpura-pura mencegah, tetapi kita tidak sempat. Dengan demikian, maka kita akan menyelesaikan pekerjaan ini dengan baik dan tidak berbekas. Tidak seorang pun akan dapat menuduh kita melakukan pembunuhan.”
Orang-orang itu tertawa. Dan sebenarnyalah mereka pun mulai mempersiapkan pertunjukkan yang akan sangat mengasyikkan itu.
Sejenak kemudian, maka Ki Buyut diiringi oleh beberapa orang telah pergi ke bilik tempat Ki Demung dan kawan-kawannya ditahan. Beberapa orang bersenjata telah berada di sebelah menyebelah pintu, untuk menjaga agar tidak terjadi sesuatu sebelum pengaruh Ki Buyut meresap ke dalam jantung mereka.
Demikian pintu bilik di gandok itu terbuka, maka Ki Demung lah yang pertama-tama muncul diikuti oleh Ki Perapat. Kemudian beberapa orang lainnya bersama Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan.
Ki Buyut sambil tersenyum berkata, “Marilah. Aku ingin berbicara dengan kalian.”
Keringat dingin mengalir di tubuh Ki Demung, Ki Perapat dan kawan-kawannya. Mereka merasa seolah-olah mereka sedang direnggut oleh satu pengaruh yang luar biasa. Rasa-rasanya seperti mimpi yang mencengkam, tetapi bukan mimpi.
Dalam keadaan yang sulit itu terdengar Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan yang memencar di antara orang-orang itu berdesis, “Pertahankan diri kalian masing-masing.”
Kata-kata itu benar-benar sangat berarti. Ki Demung dan Ki Perapat yang bagaikan mandi oleh keringat dinginnya, telah menemukan kekuatannya kembali. Karena itulah, maka mereka pun sadar, bahwa pengaruh kekuatan aneh Ki Buyut telah menyusup ke dalam diri mereka. Namun mereka harus berhasil merenggut diri mereka sendiri dari pengaruh itu.
Orang-orang yang lain benar-benar berada di antara sadar dan tidak sadar. Ada juga kadang-kadang kemauan untuk bertahan. Tetapi kekuatan pengaruh Ki Buyut terlalu kuat, sehingga mereka bagaikan terombang-ambing di antara dua kekuatan. Kekuatan ilmu Ki Buyut dan kekuatan kepribadian mereka sendiri.
Setiap kali Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan selalu berdesis, memberikan imbangan pengaruh kekuatan Ki Buyut. Meskipun orang-orang itu selain Ki Demung dan Ki Perapat tidak berhasil sepenuhnya melepaskan diri dari pengaruh Ki Buyut, namun setidak-tidaknya pengaruh itu dapat dibatasi.
Demikianlah, maka orang-orang itu telah dibawa ke halaman rumah Ki Buyut yang agak luas. Dalam pada itu, maka Ki Buyut pun telah berkata, “Baiklah. Barangkali Ki Sanak semuanya perlu menyadari, bahwa keadaan padukuhan kita sekarang ini sedang gawat. Agaknya ada juga pengertian itu, ternyata bahwa kalian telah bersenjata ketika kalian datang. Tetapi sebenarnyalah bahwa orang-orang yang mengacaukan padukuhan di antara padukuhan-padukuhan di Kabuyutan ini tidak ada lain kecuaii orang-orang yang sekarang ada di antara kalian. Orang-orang yang tidak kita kenal dan mengaku telah berhasil menangkap kembali pemimpin perampok yang melarikan diri itu. Ketahuilah Ki Sanak. Hal itu dapat dilakukannya karena sebenarnya, mereka telah bekerja bersama dengan pemimpin perampok itu.
Ki Buyut terdiam sejenak. Ki Demung dan Ki Perapat telah berjuang dengan segenap kemampuannya untuk menguasai diri. Sebenarnyalah ia selalu mencoba mengingat, bahwa Ki Buyut akan mempergunakan tangannya untuk membunuh Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan.
“Karena itu Ki Sanak” berkata Ki Buyut, “jika orang-orang itu tidak dilenyapkan, maka Kabuyutan ini tidak akan tenteram.
Tiba-tiba saja Ki Demung menyahut “Ya. Orang-orang itu harus dibinasakan. Ki Buyut tertawa, sementara Ki Demung terkejut mendengar kata-katanya sendiri. Namun justru karena itu, ia berjuang semakin gigih untuk bertahan. Ketika ia menyahut, rasa-rasanya ia tidak melakukannya dengan satu kesadaran seperti yang dimaksud oleh Mahisa Agni. Namun kemudian ia telah melakukannya dengan kesadarannya yang kadang-kadang kabur untuk berbuat seperti yang dikatakan itu oleh Mahisa Agni. Karena itu, sekali lagi ia berkata, “Orang-orang itu memang harus dibunuh”.
Ki Buyut tertawa semakin keras. Ia mengharap dapat melihat satu pertunjukkan yang menarik sekali. Karena itu, maka kemudian dipandanginya Mahisa Agni yang berdiri termangu-mangu. Katanya, “Ki Sanak yang memiliki kemampuan di atas kemampuan orang kebanyakan, cobalah mempertahankan diri. Orang-orang itu telah bersiap untuk membunuh kalian. Tetapi kami bukan orang-orang, licik yang akan membunuh orang yang tidak mampu melawan karena itu, jika kalian memang ingin selamat, lawanlah Kalian bertiga akan berhadapan dengan orang-orang yang datang bersamamu kemari.”
Mahisa Agni tidak menjawab. Dipandanginya orang itu sejenak, kemudian Ki Demung dan Ki Perapat.
“Nah, mulailah.” berkata Ki Buyut itu pula.
Ki Demung dan Ki Perapat benar-benar telah menjadi basah kuyup. “ Mereka berusaha bertahan atas kesadarannya sendiri. Mereka pun mendengar perintah Ki Buyut. Di antara sadar dan tidak, maka ia mendengar pula Ki Buyut Berkata, “Ambillah senjata kalian.”
Ki Demung dan Ki Perapat itu pun kemudian berlari-lari mengambil senjata mereka di sudut pendapa. Senjata-senjata itu masih berada di tempat mereka meletakkannya.
Ki Buyut dan beberapa orang bebahu menjadi gembira melihat orang-orang itu menjadi bahan permainannya. Namun demikian Ki Buyut tidak lengah. Beberapa orang bebahu dan pengawal pun masih tetap mengawasi mereka dengan senjata di tangan.
Bersama mereka, Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan pun telah mengambil senjata mereka pula.
Mereka berusaha agar Ki. Buyut yakin, bahwa mereka semuanya telah berada di dalam pengaruh kuasanya.
Mahisa Agni. Witantra dan Mahisa Bungalan justru dapat memainkan peranannya dengan sebaik-baiknya, karena justru mereka menyadarinya sepenuhnya. Mereka berjalan dengan tatapan mata kosong. Mengambil senjata dan kembali ke tempatnya dengan senjata yang tunduk.
Sementara itu, Ki Demung dan Ki Perapat pun telah menggenggam senjata masing-masing pula. Demikian pula beberapa orang kawan-kawannya. Sementara itu, Ki Demung dan Ki Perapat masih berada di dalam keadaan yang, kabur dan pengaruh yang bercampur baur, antara pengaruh kuasa, Ki Buyut dan pengaruh keadaan diri.
“Nah” berkata Ki Buyut, “semuanya sudah siap. Kalian adalah laki-laki yang terpilih. Mulailah. Gerakkan senjatamu. Hadapilah lawanmu. Lakukanlah apa yang aku katakan. Angkat senjatamu dan penggal leher lawanmu.
Kata-kata itu benar-benar telah mencengkam jantung. Kawan-kawan Ki Demung dun Ki Perapat tidak lagi dapat melawan pengaruh itu. Sementara Ki Demung dan Ki Perapat sendiri berusaha bertahan dengan sengit.
Dalam pada itu, Ki Buyut berkata, “Marilah. Lakukanlah. Dengarlah kata-kataku. Kalian adalah orang-orang yang perkasa. Tangan kalian adalah tangan-tangan yang haus akan darah. Merahilah tangan-tangan kalian agar menjadi pertanda bahwa kalian adalah laki-laki jantan. Melangkah maju dengan senjata teracu. Mulailah, mulailah.
Ki Demung dan Ki Perapat pun mulai melangkah maju diikuti oleh kawan-kawannya. Sementara Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan masih tetap berdiri di tempatnva. Dalam pada itu, Ki Buyut pun berkata, “Bertahanlah Ki Sanak. Kalian harus menyelamatkan diri sebagaimana orang-orang menyebut kalian sebagai orang-orang yang memiliki kelebihan. Angkatlah senjata kalian dan mulailah bertempur seperti seorang laki-laki.
Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan masih berdiri tegak. Mereka memandang Ki Demung, Ki Perapat dan kawan-kawannya melangkah semakin dekat.
Namun Mahisa Agni kemudian menjadi berdebar-debar. Ia tidak yakin bahwa Ki Demung dan Ki Perapat mampu bertahan. Karena itu, maka ia pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.
“Bagus.” Berkata Ki Buyut, “sebentar lagi senjata kalian akan berbenturan. Kalian akan bertempur sebagai pahlawan untuk mempertahankan hidup kalian masing-masing.-”
Ki Demung dan Ki Perapat diikuti oleh kawan-kawannya maju semakin dekat. Senjata mereka pun telah teracu. Namun dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa kesadaran Ki Demung dan Ki Perapat telah mulai larut.
Pada saat yang demikian Mahisa Agni menganggap bahwa saatnya sudah tepat. Ia tidak mau terlambat sehingga Ki Demung dan Ki Perapat benar-benar tidak mampu lagi mengendalikan diri.
Dalam ketegangan itu, tiba-tiba saja terdengar Mahisa Agni tertawa. Katanya, “Ki Buyut. Permainan apakah yang sedang Ki Buyut lakukan? Aku sudah mencoba untuk mengikuti segala kemauan Ki Buyut untuk memberikan kepuasan. Aku sudah bermain api dengan meletakkan senjata dan memasuki ruang-itu. Tetapi aku yakin, bahwa pada suatu saat senjata kami akan kembali ke tangan kami. Karena itu, permainan ini sudah cukup dan bagi kami sudah sangat memuakkan.
Ki Buyut terkejut. Barulah ia sadar, bahwa Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan itu sebenarnya lepas dari pengaruhnya. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia berteriak, “Ki Demung, Ki Perapat dan laki-laki padukuhan ini yang berhati jantan. Lakukanlah. Bunuhlah orang-orang ini.”
“Kau keliru Ki Buyut” sahut Mahisa Agni, “mereka pun menyadari apa yang terjadi.” Lalu katanya kepada Ki Demung dan Ki Perapat, “nah, sudah waktunya kalian menyatakan diri seperti yang kami lakukan. Kalian adalah laki-laki yang mempunyai pendirian yang teguh. Kalian mempunyai sikap dan keyakinan. Karena itulah maka kalian akan bertumpu kepada diri kalian sendiri. Tidak kepada pengaruh kuasa Ki Buyut yang sesat.”
“Kalian adalah orang Kebuyutan ini. Cepat, lakukan” Ki Buyut berteriak semakin keras.
“Kalian harus bangun” berkata Mahisa Agni. “Kalian datang tidak untuk membius diri. Tetapi kalian datang dengan keyakinan.”
Ki Demung dan Ki Perapat memejamkan matanya sejenak. Ternyata bahwa mereka masih berhasil menggapai diri mereka yang hampir terlepas.
Namun dalam pada itu, suara Ki Buyut dan suara Mahisa Agni seolah-olah saling berebut tempat. Seolah-olah mereka telah didesak ke arah yang berlawanan berganti-ganti.
Namun akhirnya Ki Demung dan Ki Perapat yang menggapai-gapai itu mendapat pegangan yang teguh, karena di telinga mereka terdengar pertanyaan Mahisa Agni, “Ki Demung dan Ki Perapat, apakah maksud kalian sebenar nya datang kemari?-”
Tiba-tiba saja dengan suara lantang Ki Demung yang sedang mencapai pegangan itu ingin memperkuat genggaman batinnya dengan berteriak, “Kami akan menuntut keadilan Ki Buyut, kau sudah menodai kedamaian di Kabuyutan ini. Kami sudah tahu semuanya.”
“Omong kosong” sahut Ki Buyut. Lalu, “Marilah Ki Demung. Kau sudah melangkah ke jalan yang sesat. Dengarlah kata-kataku. Mulailah. Gerakan senjatamu. Kau sudah berhadapan dengan lawan yang ingin membinasakanmu.-”
Tetapi terdengar suara Mahisa Agni, “Dengarlah kata nuranimu sendiri. Kau mempunyai sikap dan keyakinan. Katakanlah. Katakanlah.”
Ki Perapat yang juga ingin bertempur lebih kuat lagi itu pun berteriak pula “Jangan mencoba mempengaruhi kami lagi Ki Buyut. Kami tidak akan menundukkan kepala kami dan membiarkan tangan dan kaki kami terikat.”
“Jangan mencoba melepaskan diri dari pengaruh kuasaku. Dengar Aku adalah pemimpinmu,” desis Ki Buyut, “lihatlah. Lihatlah mataku. Aku berbicara dengan jujur.”
“’Sorot matamu mengandung racun Ki Buyut” sahut Mahisa Agni, “biarlah aku memandang sorot matamu. Pandanglah aku. Cobalah menanamkan pengaruh di hatiku. Kau tidak akan mampu melakukannya karena aku memiliki pegangan yang kokoh. Dan sekarang Ki Demung dan Ki Perapat pun memiliki pegangan yang kokoh pula seperti kami bertiga. Nah, cobalah, pandang aku. Pandang aku Ki Buyut.”
Ki Buyut menggeram. Dipandanginya wajah Mahisa Agni. Kemudian dengan sorot matanya Ki Buyut mencoba menembus dinding perasaan Mahisa Agni untuk menundukkannya.
Tetapi Mahisa Agni yang memiliki perbendaharaan pengalaman yang hampir lengkap itu sama sekali tidak dapat ditundukkannya, bahkan pada saat yang demikian Witantra dan Mahisa Bungalan telah menyusup di antara orang-orang padukuhan itu sambil berdesis membangunkan mereka dari cengkaman ilmu Ki Buyut.
Di saat Ki Buyut memusatkan ilmunya untuk menundukkan Mahisa Agni, maka Ki Demung dan Ki Perapat telah benar-benar memiliki kesadarannya sepenuhnya. Karena itu maka ia pun telah berkata kepada pengikutnya, “jangan biarkan diri kita terbius oleh ilmunya. Jangan tatap matanya, tetapi pandang senjatanya.”
Para pengikut Ki Demung dan Ki Perapat pun mulai menyadari diri mereka masing-masing. Mereka mulai menyadari apa yang terjadi, sementara Witantra berdesis, “Bukankah kalian ingat, bahwa kita semuanya telah dimasukkan ke dalam bilik tertutup dan kemudian kita akan diadu domba sekarang ini?”
Ternyata usaha Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan itu berhasil. Ki Buyut yang merasa gagal itu menjadi gelisah. Namun dalam pada itu, Ki Jagabaya lah yang. mendekatinya sambil berkata, “Jangan cemas Ki Buyut. Jika cara yang Ki Buyut pergunakan itu gagal, maka kita akan memakai cara terakhir. Apaboleh buat. Kita akan membunuh mereka seorang demi seorang.
Ki Buyut mengerutkan keningnya. Sementara terdengar Ki Jagabaya berteriak, “Jangan seorang pun keluar dari regol ini. Tutup semua pintu regol. Regol depan, dan semua regol butulan.”
Perintah itu telah menggerakkan orang-orang Ki Buyut dan para pengawalnya. mengepung orang-orang yang telah mulai sadar akan diri mereka sendiri. Dua orang setelah menyelarak regol telah maju pula mendekat.
“Nah” berkata Ki Jagabaya, “sekarang akulah yang akan berbicara. Caraku lain dengan cara yang ditempuh oleh Ki Buyut yang nampaknya dapat digagalkan oleh orang asing itu. Tetapi dengan caraku, tidak ada seorang pun yang akan dapat menggagalkannya meskipun kalian sudah bersenjata.”
Ki Demung lah yang menyahut, “Ki Jagabaya. Kenapa kau langsung menganggap kami adalah musuh yang harus dibinasakan. Kalian masih belum bertanya, kenapa kami datang kemari dan apakah yang sebenarnya kami kehendaki. Jika kalian tadi mendengar jawaban-jawaban kami maka yang kami katakan itu adalah diluar kesadaran kami.
“Tidak perlu” berkata Ki Jagabaya, “kalian datang dengan senjata di tangan. Itu sudah merupakan satu bukti bahwa kalian akan menentang kekuasaan yang sah di Kabuyutan ini.”
“Kalian terlalu berprasangka” berkata Ki Perapat, “kami sebenarnya ingin berbicara dengan baik”.
“Itu tidak perlu” berkata Ki Jagabaya, “demi ketenangan di kabuyutan ini, maka kalian harus tunduk kepada perintah kami. Menyerah atau kami binasakan.”
Ki Demung dan Ki Perapat menyadari, bahwa mereka tidak akan dapat berbicara lebih .banyak lagi. Karena itu, maka mereka segera mempersiapkan diri, untuk melakukan perlawanan apabila benar Ki Jagabaya akan menangkap dan membunuh mereka.
Ki Buyut yang merasa bahwa usahanya untuk mempengaruhi orang-orang itu tidak berhasil, maka ia telah menyesuaikan diri dengan perkembangan berikutnya. Ia sadar, bahwa orang-orang yang berada di halaman itu mengerti, sumber pengaruhnya adalah pada tatapan matanya, Karena itu, maka orang-orang itu sudah menghindar dan tidak lagi berusaha memandang matanya.
Karena itulah maka katanya kemudian, “Baiklah. Aku ulangi pertanyaan Ki Jagabaya. Menyerah atau binasa.”
“Kami tidak akan menyerah” jawab Ki Demung, “kami sudah bertekad untuk menyatakan sikap kami. Tetapi sebelum kami berbicara dengan baik, kalian sudah memperlakukan kami sebagai perampok-perampok. Dan bahkan sebaliknya, kalian memperlakukannya pemimpin perampok itu seperti keluarga sendiri.”
Wajah Ki Buyut menjadi merah. Ia sadar, bahwa pemimpin perampok yang telah tertangkap kembali itu tentu sudah berbicara banyak. Karena itu, maka ia tidak mau menunda lebih lama lagi. Sekejap kemudian jatuhlah perintah Ki Buyut, “Jangan menunggu mereka berkicau lagi. Tangkap mereka hidup atau mati. Kepada yang menyerah, aku akan memberikan pengampunan. Tetapi bagi yang melawan akan aku binasakan.”
Ki Jagabaya menanggapi perintah itu dengan sikap yang pasti. Dengan suara lantang ia bertanya, “Yang manakah yang disebut orang-orang berilmu tinggi? Jika mereka adalah ketiga orang yang mampu membebaskan diri dari pengaruh kuasa Ki Buyut, maka biarlah aku melawan mereka bertiga.”
Ki Demung, Ki Perapat dan orang-orangnya yang sudah bebas sama sekali dari pengaruh sorot mata Ki Buyut itu pun segera bersiap. Namun mereka pun menyadari bahwa di seputar mereka terdapat bahaya yang sama gawatnya seperti mata Ki Buyut. Beberapa orang bersenjata telah mulai bergerak memperkecil lingkaran kepungan mereka.
“’Kita menghadap ke segala arah” perintah Ki Demung, “mereka tidak dapat lagi diajak berbicara. Karena itu, biarlah senjata kita yang berbicara. Seandainya kita tidak kembali, dan bahkan tidak keluar dari halaman ini, maka orang-orang yang mengetahui bahwa kita memasuki halaman rumah ini akan mengetahui bahwa kita sudah mencoba berbuat sesuatu. Berbuat sesuatu atas keadaan Kabuyutan kita yang tidak sewajarnya ini.”
“Persetan” geram Ki Jagabaya, “jangan banyak bicara. Sebentar lagi kau akan mati.”
“Justru karena itu” jawab Ki Demung, “sebelum aku mati. Selagi aku masih sempat, maka aku akan berbicara apa saja yang ingin aku bicarakan.”
Ki Jagabaya menggeram. Katanya, “Bunuh orang itu lebih dahulu.”
Seorang bebahu pengikut Ki Buyut pun telah meloncat menyerang Ki Demung. Namun Ki Demung sudah siap menghadapinya, sehingga dengan sigapnya pula ia telah menangkis serangan itu.
Demikian, maka pertempuran itu pun telah pecah. Ternyata bahwa para pengikut Ki Buyut jumlahnya memang lebih banyak, sehingga karena itu, maka Ki Demung dan orang-orangnya memang menjadi agak cemas, Sementara itu, Ki Jagabaya yang terlalu yakin akan kemampuannya sekali lagi menantang, “He, orang-orang asing yang telah menyalakan api pertentangan di kalangan orang-orang Kabuyutan ini. Lawanlah aku. Kalian bertiga tidak akan mampu berbuat apa-apa di hadapanku, meskipun orang-orang mengira bahwa kalian memiliki ilmu yang tinggi, sehingga kalian dapat membantu menangkap para perampok itu.”
Mahisa Agni, Witantra dan terutama Mahisa Bungalan menjadi panas. Hampir saja Mahisa Bungalan kehilangan pengendalian dirinya. Namun Mahisa Agni menggamitnya sambil berkata, “Marilah, mumpung pertempuran ini- belum membakar seisi halaman. Kita beri pelajaran sedikit Ki Jagabaya yang sangat sombong itu.”
Mahisa Bungalan tidak segera menangkap maksud Mahisa Agni, namun ketika ia melihat Mahisa Agni dan Witantra bersama-sama mendekati Ki Jagabaya, maka mulailah Mahisa Bungalan mengetahui maksudnya. Karena itu, maka ia pun mengikutinya pula mendekati Ki Jagabaya yang telah menantang mereka bertiga.
“Kami bertiga siap menghadapi Ki Jagabaya” berkata Mahisa Agni.
“Bagus” teriak Ki Jagabaya yang ternyata bersenjata bindi, yang diberi gelang-gelang besi bergerigi, “Marilah Siapa yang ingin mati lebih dahulu.”
Ki Demung dan Ki Perapat menjadi berdebar-debar. Ternyata ketiga orang yang diharapkan akan dapat membantu mereka itu telah bertempur bersama hanya menghadapi seorang saja. Ki Jagabaya. Jika kemudian Ki Buyut pun turun ke arena, maka keadaan mereka tentu akan bertambah sulit pula.
Tetapi semuanya itu memang sudah diperhitungkan. Bahkan mereka pun sudah sampai pada pertimbangan, bahwa mereka tidak- akan dapat keluar lagi dari halaman rumah Ki Buyut. Sehingga mereka telah menganjurkan kepada orang-orang yang mempunyai kepentingan khusus untuk tidak ikut serta bersama mereka.
Ki Jagabaya yang bersenjata bindi itu pun kemudian telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Sementara itu, Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan masing-masing bersenjata pedang..
“Mahisa Agni lah yang mula-mula memancing serangan Ki Jagabaya dengan menjulurkan pedangnya. Namun dengan tangkasnya Ki Jagabaya telah bergeser menghindar. Namun pada saat yang pendek, Witantra lah yang menggerakkan pedangnya menyerang Ki Jagabaya. Namun serangan itu pun mampu dihindarinya pula. Tetapi demikian kakinya berjejak di tanah, pedang Mahisa Bungalan menyambar kakinya, sehingga ia pun harus meloncat lagi dengan tangkasnya.
Tetapi Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan telah dengan sengaja mempermainkan Ki Jagabaya, sehingga serangan mereka telah datang beruntun tanpa dapat dicegah lagi.
Ki Buyut yang sudah hampir turun ke arena melihat, betapa Ki Jagabaya hampir kehabisan akal. Serangan-serangan itu tidak melukainya. Namun hampir tidak dapat dihindari.
Dalam kemarahan yang memuncak, maka Ki Jagabaya pun telah mengayunkan bindinya yang berat. Tetapi ayunan2 bindi-ayunan itu pun hanya menambah keringatnya yang sudah membasahi seluruh tubuhnya.
Kemarahan Ki Jagabaya itu pun memuncak ketika ujung senjata ketiga orang itu mulai menyentuhnya. Sedikit sekali. Hanya seujung duri dan bahkan hanya goresan-goresan kecil. Namun sentuhan-sentuhan itu ternyata telah memerah oleh darah yang mengembun.
“Gila” Ki Buyut lah yang menggeram di dalam hatinya, ia melihat pertempuran telah berkobar, sementara ia terpukau melihat Ki Jagabaya yang menjadi seperti orang gila.
Namun dalam pada itu, Ki Demung, Ki Perapat dan kawan-kawannya pun mulai merasa tekanan yang berat dari lawan-lawan mereka yang jumlahnya memang lebih banyak.
Namun Ki Demung dan Ki Perapat sudah bertekad untuk bertempur dengan segenap tenaga dan kemampuan yang, ada. Karena itu, maka keduanya telah mengamuk sejadi-jadinya. Sementara kawan-kawannya pun telah berbuat serupa, meskipun lawan mereka lebih banyak.
Mereka masih merasa beruntung, bahwa tiga orang yang telah berhasil menangkap pemimpin perampok itu bersama mereka. Dengan demikian mereka telah berhasil menahan Ki Jagabaya dan nampaknya Ki Buyut juga tertarik untuk melawan mereka bertiga. Sehingga dua orang yang mewakili kekuatan yang luar biasa itu tidak bergabung dengan orang-orang yang telah bertempur melawan Ki Demung dan kawan-kawannya.
Sebenarnyalah bahwa Ki Buyut pun menjadi sangat marah melihat ketiga orang itu memperlakukan Ki Jagabaya. Karena itu, maka Ki Buyut pun berteriak lantang, “Aku akan membantumu Ki Jagabaya.”
“Mahisa Agni mundur selangkah sambil berkata” Jika demikian, maka aku akan bertempur wajar. Bukan sekedar bermain -main melayani keinginan Ki Jagabaya.”
“Apa maksudmu?” bertanya-Ki Buyut.
“Seorang lawan seorang.” jawab Mahisa Agni.
“Kau sombong sekali. Kau bertiga tidak mampu mengalahkan Ki Jagabaya.”
Mahisa Agni tertawa. Lalu katanya, “Baiklah, marilah kita mulai dengan satu permainan baru.”
Ki Buyut tidak menjawab lagi. Ia pun langsung meloncat menyerang Mahisa Agni. Ia terlalu yakin, bahwa kemampuannya akan dapat mengalahkan orang yang tidak dikenal sebelumnya di padukuhan itu.
Tetapi serangannya sama sekali tidak menyentuh Mahisa Agni. Dengan sigapnya Mahisa Agni meloncat menghindar.
Namun Ki Buyut itu pun memburunya. Kemanapun Mahisa Agni menghindar, Ki Buyut selalu memburunya.
Dengan demikian, akhirnya keduanya telah bertempur di tempat yang terpisah. Mahisa Agni sengaja telah memancingnya sehingga ia akan dapat berhadapan dengan Ki Buyut yang memiliki pengaruh pada sorot matanya itu.
Sementara itu, Witantra pun telah mengambil sikap tersendiri menghadapi keadaan itu. Ia melihat bahwa Ki Demung, Ki Perapat dan kawan-kawannya mengalami kesulitan. Karena itu, maka katanya kepada Ki Jagabaya, “Permainan ini agaknya tidak menyenangkan bagi Ki Jagabaya. Karena itu, cara ini pun akan kita akhiri. Hadapilah lawanmu yang paling muda ini. Aku akan bergabung dengan Ki Demung yang mengalami kesulitan karena jumlah lawannya yang banyak itu.”
“Persetan” geram Ki Jagabaya. Bindinya terayun dengan derasnya. Namun Witantra berhasil menghindarinya. Ia sama sekali tidak menghiraukan lagi Ki Jagabaya, karena -orang itu sudah diserahkannya kepada Mahisa Bungalan.
Ketika Witantra bergeser meninggalkan Ki Jagabaya, orang itu berusaha memburunya. Namun Mahisa Bungalan telah menyerangnya, sehingga langkah Ki Jagabaya pun telah tertegun. Ia harus berusaha menghindari serangan Mahisa Bungalan.
Dengan demikian maka Witantra telah terlepas daripadanya. Dengan seksama ia pun memperhatikan medan yang menjadi riuh oleh pertempuran yang terjadi antara para pengikut Ki Buyut melawan para pengikut Ki Demung.
Sekilas Witantra tidak dapat mengenali mereka dengan cepat. Namun akhirnya ia dapat melihat orang-orang yang datang bersamanya di halaman itu. Dengan demikian, maka ia pun berhasil membedakan, yang manakah lawan dan yang manakah kawan.
Sejenak kemudian Witantra telah melibatkan diri ke dalam pertempuran itu. Sebenarnya ia tidak perlu mencari lawan, karena lawan itu telah datang sendiri. Sebelum ia menyerang siapapun juga, maka seseorang telah menyerangnya dengan canggah yang terjulur lurus mengarah ke leher.
“Senjata yang berbahaya” desis Witantra.
Untuk sesaat Witantra masih tetap berdiam diri, sehingga orang yang menyerangnya itu merasa. bahwa lawannya itu akan mampu menghindar. Lehernya akan terjepit oleh dua mata canggah yang tajam dan bahkan leher itu akan tergores di kedua sisi.
Tetapi dugaan itu ternyata keliru. Witantra menghindar tepat pada saatnya. Ia sengaja berbuat demikian sambil menyilangkan sebelah kakinya. Karena itu, terdorong oleh kekuatan sendiri, sementara kakinya terantuk kaki lawan, maka orang itu telah jatuh terjerembab.
Tetapi yang tidak terduga oleh Witantra, bahwa dalam keadaan yang demikian, seorang pengikut Ki Demung telah mengajak kepala orang itu. Tetapi ketika orang itu mengangkat pedang dan siap untuk menusuk punggung, Witantra mencegahnya, “Jangan kau bunuh orang itu. Ia masih kadang sendiri.”
Orang itu termangu-mangu. Namun akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk membunuh, meskipun kakinya yang menginjak kepala itu justru dihentakkannya, sehingga wajah orang itu seakan akan telah menghunjam ke dalam tanah.
Orang yang menginjakkan kakinya itu tidak dapat bertahan terlalu lama, karena orang-orang lain yang saling menyerang dan menghindar. Namun Witantra masih sempat mengangkat orang itu meletakkannya di pinggir halaman. Hidung orang itu ternyata telah berdarah, sementara senjatanya tertinggal di arena.
Pertempuran selanjutnya, sangat menggelisahkan para pengikut Ki Buyut. Namun demikian ketika di kedua belah pihak, senjata sudah mulai menyentuh kulit, maka pertempuran itu pun menjadi semakin sengit.
Dalam pada itu, Ki Buyut yang marah itu pun telah berusaha untuk segera menguasai lawannya. Ia sadar, bahwa pengaruh matanya tidak dapat menundukkan orang yang menempatkan dirinya sebagai lawannya itu. Karena itu, maka senjatanyalah yang kemudian akan menjinakkannya.
Sejenak kemudian, Ki Buyut pun telah mengerahkan kemampuannya. Ia ingin dengan cepat menundukkan lawan nya yang dianggapnya telah sombong itu.
Namun dalam pada itu, Mahisa Agni lah yang justru berkata kepada Ki Buyut sambil menghindari serangan-serangan nya, “Ki Buyut. Sebaiknya kau hentikan tingkahmu yang sesat itu. Jika kau menyerah dan datang sendiri ke tempat Sang Akuwu dengan segala penyesalan, mungkin kau tidak akan mendapat hukuman terlalu berat. Bahkan mungkin dengan persetujuan orang-orang Kabuyutan ini, kau masih akan dapat diterima kembali. Namun, jika kami terpaksa memaksamu menyerah dan menghadap Akuwu, maka kesannya akan berbeda.”
“Persetan” geram Ki Buyut, “sebentar lagi kau akan mati. Mayatmu akan ditanam di halaman ini tanpa pertanda apapun juga. Demikian juga semua orang yang datang bersamamu. Dengan demikian akan lenyaplah segala keterangan tentang kalian.”
“Jangan mempermudah persoalan” jawab Mahisa Agni, “banyak orang yang mengetahui bahwa kami datang menghadap Ki Buyut. Jika kami tidak keluar dari halaman ini, mereka tentu akan mempersoalkannya.”
“Mudah sekali” berkata Ki Buyut, “mereka akan segera jatuh di bawah pengaruhku. Jika aku gagal, aku dapat mengancam mereka agar mereka tidak mengatakan sesuatu tentang kalian yang memasuki halaman ini dan tidak pernah keluar lagi. Aku akan dapat menakut-nakuti mereka dengan membunuh satu atau dua orang dan mengatakan kepada mereka, bahwa orang-orang itu telah berusaha berkhianat. Dengan demikian maka orang-orang lain pun akan menjadi ketakutan.
“Kau korbankan dua orang yang tidak bersalah?” bertanya Mahisa Agni. “
“Apaboleh buat” jawab Ki Buyut, “memang kebohongan yang pertama harus ditutup dengan kebohongan-kebohongan berikutnya. Kebohongan yang setengah-tengah dan ragu-ragu, akan segera dapat diketahui orang. Tetapi kebohongan yang mantap dan tegas, justru tidak akan menimbulkan kecurigaan orang lain.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Sambil menangkis serangan Ki Buyut itu masih sempat berkata, “Kau mendorong aku untuk bertindak lebih jauh.”
“Persetan” geram Ki Buyut sambil menyerang, .
Tetapi serangan-serangannya sama sekali tidak mengenai sasaran. Mahisa Agni selalu menghindar dan menangkis serangan Ki Buyut. Namun sikap Ki Buyut yang kasar itu, membuat Mahisa Agni berkeinginan untuk menangkapnya saja dan menyerahkannya kepada Akuwu; karena nampaknya tidak ada lagi jalan yang dapat ditempuh untuk memberi peringatan sekedarnya kepada Ki Buyut.
Dalam pada itu, Ki Jagabaya yang marah telah berusaha membinasakan Mahisa Bungalan. Dengan kekuatan yang besar ia yakin akan dapat mengalahkan lawannya yang muda itu. ‘
Namun ternyata ia harus kecewa. Mahisa Bungalan yang masih muda dan kadang-kadang masih dibayangi oleh perasaannya saja, kadang-kadang dengan sengaja tidak mau menghindari serangan Ki Jagabaya.”Ia justru berusaha membentur serangan itu dengan menangkisnya.”
Dalam benturan- benturan itulah Ki Jagabaya hampir tidak percaya pada kenyataan yang dihadapinya. Anak muda itu ternyata memiliki kekuatan raksasa. Bahkan- melampaui kekuatannya.
Namun dalam pada itu, rasa-rasanya Ki Jagabaya tidak dapat mengakuinya. Ia justru berpikir, bahwa mungkinkah ia sudah melakukan satu kesalahan sehingga kekuatan lawannya yang muda-muda itu rasa-rasanya tidak dapat diimbanginya.
Tetapi, setiap kali kenyataan itu telah terulang. Benturan senjata antara keduanya telah membuat tangan Ki Jagabaya itu merasa-pedih. –
“Anak iblis” geramnya, “aku harus berhasil mengalahkannya” berkata Ki Jagabaya dalam hatinya.
Karena itu, maka ia tidak lagi bertumpu pada kekuatannya. Namun ia mencoba dengan kecepatan bergerak. Ia menyerang sambil berloncatan. Kadang-kadang justru menjauh. Namun tiba-tiba kakinya telah terjulur panjang dengan senjata teracung.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar