13
TANTANGAN DARI OXFOR
Dadanya terasa sesak. Ulu hatinya ngilu. Sakit hati dan keperihan itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia duduk di serambi rumahnya dengan pandangan kosong. Air mata meleleh di pipinya. Ia belum pernah merasakan sakit hati seperti itu. Ia adalah pemilik sah rumah itu, tapi ia diancam akan diusir. Ia akan diseret paksa mengosongkan rumah itu. Dan yang sangat menyakitkan yang mengancamnya itu adalah anak tirinya. Anak yang dulu pernah ia sayang-sayang.
Apa dosanya sampai ia harus mengalami kepedihan di usia senjanya itu? Apakah masih kurang dia dulu memberikan kasih sayang kepada anak tirinya itu?. Kenapa kebaikannya tidak berbekas sama sekali? Ia sudah sangat renta dan sering sakit, tak lama lagi juga mati. Kenapa anak tirinya itu tidak sabar menunggu dia mati dulu? Jika ia mati pastilah rumah itu akan jadi milik anak tirinya itu. Kenapa ia tega
mengancamnya? Tega mengusirnya dari rumah yang selama ini jadi tempat tinggalnya. Rumah yang sangat ia cintai. Rumah yang jadi saksi lebih tiga puluh tahun hidupnya.
Nenek Catarina mengusap kedua matanya. Ia tidak kuasa menghentikan air matanya yang terus mengalir. Tiba-tiba ia merasa alangkah bahagianya kalau ia meninggal bersama suaminya. Ia tidak akan mengalami kesepian. Ia tidak akan mengalami keperihan seperti yang saat ini ia rasakan.
Tiba-tiba ia ingin mengakhiri saja hidupnya. Toh, tak lama lagi ia akan mati. Masih mau menunggu apa?
Ia tidak punya siapa-siapa lagi yang bisa ia sayangi di dunia. Anak tirinya seperti itu perlakuannya padanya. Apa gunanya hidup tanpa cinta lagi, tanpa kasih sayang lagi? Ia sudah renta, namun ia tetap perlu kasih sayang. Mungkin maut lebih sayang kepada dirinya dibanding anak tirinya.
Namun kehormatan dirinya berbicara, alangkah memprihatinkan dirinya meninggal dengan penuh kepedihan seperti itu. Alangkah nelangsanya dirinya meninggal dengan cara tidak terhormat sama sekali seperti itu. Mana keimanannya kepada Elohim yang selama ini ia pegang kukuh? Apakah kebesaran jiwanya kalah oleh kekerdilan perilaku anak tirinya itu?
Air matanya kembali meleleh. Batinnya benar-benar merana. Pandangan kedua matanya kosong tanpa makna. Pagi yang segar seperti
gulita yang sumpek dan menguapkan bencana. Ia masih tidak percaya bahwa ia mengalami nestapa itu, ia diusir oleh anak tirinya dari rumah kesayangannya. Tanpa belas kasihan sedikitpun. Tanpa ada tawar menawar.
Pilihannya ia keluar secara sukarela dan mencari panti jompo, atau diusir dengan paksa dan lalu dilempar ke panti jompo. Sangat tegas anak tirinya itu berbicara kepadanya.Tiba-tiba ia membenci anak tirinya itu jadi tentara
Israel. Apakah itu hasil didikan yang didapat anak tirinya di Israel? Kasih sayang pada orang tua yang pernah merawatnya hilang sama sekali tanpa bekas. Masih terbayang jelas wajah dingin anak tirinya itu ketika berbicara kepadanya,
"Surat legal kepemilikan itu ada ditanganku. Kau kemasi barangmu pergi dan silakan kau pilih panti jompo yang kau sukai. Atau aku keluarkan dengan paksa dari rumah ini dan kumasukkan ke panti jompo terdekat. Tenggat waktunya satu minggu!"
Tegas, menekan, mengancam, dan tanpa belas kasihan.Ia merasa menjadi manusia paling sengsara di atas muka bumi ini. Sebuah tangan memegang pundaknya. Namun pandanganya tetap ke depan. Kosong. Air matanya meleleh.
"Nenek Catarina! Nenek Catarina! Ada apa Nek?!"
Fahri mengguncang pundak tetangganya itu. Namun nenek Catarina seperti mati rasa, ia seperti tidak mendengar suara Fahri dan tidak merasakan kehadiran Fahri sama sekali. Fahri khawatir melihat keadaan nenek Catarina itu. Fahri duduk di kursi yang ada di depan nenek Catarina. Fahri mengusap air mata nenek Catarina yang meleleh dengan sapu tangan lalu memegang kepala nenek Catarina dengan
kedua tangannya. Dengan penuh kasih sayang seumpama memegang kepala ibundanya sendiri dengan penuh cinta,
"Nenek Catarina ini Fahri, Nek! lni Fahri Nek!"
Barulah nenek Catarina tarsadar dan tergagap. Fahri memandangi kedua mata nenek Catarina. Nenek itu memandangi wajah Fahri sesaat, lalu memeluk Fahri dengan erat dan menangis. Nenek Catarina menangis tersedu-sedu dibahu Fahri.
"Ada apa Nek? Apa yang bisa Fahri bantu? Kenapa nenek terlihat sangat sedih?"
Nenek Catarina masih belum menjawab. Ia masih menangis dan tidak melepaskan pelukannya pada Fahri. Dengan penuh belas kasih Fahri membiarkan nenek tua tetangganya itu menumpahkan segala
sedihnya. Ia merasakan nenek Catarina pasti sangat kesepian. Nenek itu perlu teman bicara dan menumpahkan isi hatinya. Namun ia tidak tahu pasti apa yang membuat nenek Catarina itu sedemikian sedih.
Paman Hulusi dan Misbah melihat kejadian itu dari mobil. Paman Hulusi merasa pasti majikannya akan lama menemani nenek itu. Maka Paman Hulusi memundurkan mobilnya yang sebenarnya sudah berada di depan beranda rumah nenek Catarina. Paman Hulusi membawa mobil itu kembali ke halaman rumah Fahri.
Sementara itu, dari jendela rumahnya Brenda menyaksikan semua itu dengan penuh takjub dan penasaran. Ia terus mengamati dan ingin tahu apa selanjutnya yang akan terjadi. Apa yang akan dilakukan oleh tetangganya yang muslim itu.
Fahri membiarkan nenek Catarina mengeluarkan semua tangisnya. Sepuluh menit kemudian nenek Catarina melepaskan pelukannya. Ia menyeka mukanya yang keriput dengan tangan kanannya. Fahri memberikan sapu tangannya. Nenek Catarina menerima lalu mengelap muka dan bagian matanya yang
basah oleh air mata dengan sapu tangan.
"Jadi ada apa Nek? Apa yang bisa saya bantu?"
"A..aku sangat sedih sekali."
"Kenapa?"
"Aku diusir oleh Baruch dari rumah ini. Aku diminta harus segera meninggalkan rumah ini. Rumah ini mau dia jual. Jika aku tidak meninggalkan rumah ini aku akan diusir paksa."
"Siapa Baruch itu?"
"Anak tiriku."
Nenek Catarina kembali menangis. Fahri menenangkan. Sambil terisak-isak Nenek Catarina bercerita ketika ia menikah yang kedua dengan suaminya yaitu almarhum Mark Bowman. Suaminya itu sudah punya anak satu bernama Baruch. Sedangkan ia sendiri punya anak Tohorot. Ia membesarkan Baruch seperti anak kandungnya sendiri, tidak ia bedakan dengan Tohorot. Baruch tumbuh besar dan kuliah di Bristol. Di sana ia bertemu dengan Zehava, gadis dari Tel Aviv. Baruch lalu mengikuti Zehava kembali ke negaranya dan menikah di sana. Menjadi warga negara Israel, bahkan masuk militer Israel. Sejak itu
hubungannya dengan Baruch seperti terputus.
Dan ia tidak menduga sama sekali ternyata suaminya Mark Bowman diam-diam telah membuat wasiat bahwa rumah ini telah ia berikan kepada Baruch. Surat wasiat itu dikirim ke Tel Aviv. Ia baru tahu ketika Baruch datang dan memintanya segera meninggalkan rumah itu sebab rumah itu akan ia jual.
"Nenek tidak usah khawatir. Baruch kan anak tiri Nenek, pasti dia bisa diajak berbicara. Nenek adalah ibunya."
Nenek Catarina terisak dan menangis.
"Itu yang aku harapkan. Aku berharap ia memanggil aku sebagai ibunya dan memperlakukan aku sebagai ibunya. Tetapi kenyataannya sungguh menyakitkan. Kemarin ia berkata, 'Kau istri ayahku, tapi bukan ibuku!"
"Apakah nenek punya nomor dia yang bisa aku hubungi. Biar aku bicara padanya?"
"Aku lupa minta nomor kontaknya."
"Apakah ia akan datang lagi?!"
"Pasti, ia akan datang untuk mengusirku!"
"Nenek tenang saja, selama saya masih tinggal di sini, tidak akan saya biarkan ada orang yang mengusir nenek dari rumah nenek. Nenek tenang saja. Nenek bahagiakan diri nenek. Kalau nenek merasa kesepian tidak punya siapa-siapa, anggap saja saya ini teman nenek, tetangga nenek, atau kalau mau keluarga nenek."
"Kau baik sekali Fahri, terima kasih." Ucap nenek Catarina dengan bibir bergetar dan mata berkaca-kaca.
"Kalau dia datang lagi, nenek telpon saya ya. Saya akan urus masalah ini. Nenek tenang saja. Nikmati masa tua nenek dengan hidup tenang dan bahagia. Ini kartu nama saya."
Fahri memberikan kartu namanya yang tertuliskan sebagai pemilik minimarket dan restauran Agnina. Nenek Catarina menerima
kartu nama itu dan menciuminya dengan terisak-isak.
"Saya harus pergi Nek."
Fahri beranjak pergi dan melihat jam tangannya. Waktu untuk sampai ke stasiun Waverly sangat mepet. Fahri berjalan cepat menuju mobilnya. Paman Hulusi dan Misbah sudah menunggu disana.
Wajah Misbah sedikit tegang.
"Mepet banget Mas. Terkejar nggak ya keretanya?" Seloroh Misbah begitu Fahri masuk mobil.
"Kita meluncur kesana secepat mungkin, Bah. Kalau tidak terkejar, aku belikan kau tiket kereta berikutnya. Paman. maaf, terpaksa harus sedikit ngebut.Tapi tetap waspada dan hati-hati."
"Baik Hoca."
Mobil bergerak pelan meninggalkan halaman rumah Fahri. Sampai di depan rumah nenek Catarina, Fahri menyapa dan melambaikan tangan pada orangtua itu. Nenek Catarina membalas melambaikan tangan dengan bibir dipaksakan untuk tersenyum. Aura kesedihan masih menempel pada wajah keriputnya.
Begitu meninggalkan kawasan Stoneyhill Grove, Paman Hulusi memacu mobil SUV BMW itu lebih cepat. Begitu memasuki jalan utama menuju Edinburgh dari Musselburgh, mobil itu dipacu diatas 100 km perjam. Dengan lihat Paman Hulusi meliuk-liukkan mobil itu menyalip mobil-mobil yang ada didepannya. Fahri tidak khawatir sama sekali. Ia sangat percaya dengan kehandalan dan kemampuan
Paman Hulusi mengendarai mobil.
Lima menit sebelum kereta Virgin Trains itu berangkat, Fahri, Misbah dan Paman Hulusi sampai di pintu masuk stasiun Waverly.
Dengan setengah berlari Fahri mengikuti Misbah menuju kereta. Fahri dan Paman Hulusi mengantar Misbah sampai ditempat duduknya. Kabin kereta itu begitu nyaman. Beberapa
penumpang sudah duduk dengan tenang. Ada yang masih masuk. Ada yang baru meletakkan tasnya di bagasi. Dua orang bule tak jauh dari tempat Misbah duduk malah sudah asyik bekerja dengan laptopnya.
"Kalau sudah sampai di stasiun Gwynedd Bangor kasih kabar ya Bah?"
"Insya Allah Mas. Sungguh Mas saya mengucapkan terimakasih tiada terkira atas segalanya. Jazakumullah khaira. Syukran jazilan."
"La syukra 'alal wajib, Bah. Selesaikan urusanmu di Bangor secepatnya. Kalau nanti barangmu ternyata banyak, dari Bangor ke Edinburgh sewa mobil saja Bah. Saya yang bayar."
"Iya Mas."
"Tiga menit lagi kereta berangkat. Kami tinggal ya."
"Iya Mas."
Kedua sabahat itu berpelukan. Paman Hulusi juga memeluk Misbah dan mendoakan semoga selamat sampai Bangor, urusannya lancar dan tiba kembali di Edinburgh juga dengan selamat. Misbah mengamini.
Fahri dan Paman Hulusi keluar dari Virgin Trains.
"Paman kita ke AFO Boutique, ada yang mau saya bicarakan dengan Nyonya Suzan Brent."
"Iya Hoca. Kita mau jalan kaki saja atau mau pakai mobil?"
"Jalan kaki boleh paman."
"Queen Street dari sini agak jauh."
"Tak apa, tidak jauh sekali, hanya lima atau enam blok."
Paman Hulusi mengangguk. Keduanya berjalan agak cepat meninggalkan stasiun Waverly. Fahri berjalan sedikit lebih cepat dari Paman Hulusi. Pria setengah baya dari Turki itu berjalan sedikit pincang. Namun pincangnya itu sama sekali tidak mengganggu langkahnya.
Dengan sigap ia mengikuti langkah majikannya. Fahri menyeberangi Princess Street dan terus ke utara menyusuri trotoar St.
Andrew Street. Sebuah trem melaju pelan melewati Fahri. Sepuluh menit kemudian Fahri melewati St. Andrew Square.
Sebuah tugu kehitaman berdiri ditengah square. Rerumputan yang mulai merangas menghampar. Orang-orang berjalan hilir mudik melewati jalanan yang membelah square. Di pinggir trotoar sepasang muda mudi duduk memadu kasih.
Fahri melewali halte tram dan terus berjalan ke utara. Tiba-tiba matanya menangkap pemandangan yang berbeda. Sosok perempuan mengenakan gamis dan jilbab serba hitam sedang rukuk menghadap kiblat diatas rerumputan di pinggir square. Fahri memelankan langkahnya. Ia melihat jam tangannya.
Masih waktu dhuha. Waktu dhuhur masih lama. Perempuan itu bangkit dari rukuknya. Fahri melihat wajahnya. Fahri terkesiap. Itu adalah perempuan yang gambarnya ada di halaman depan The Edinburgh Morning.
Perempuan peminta minta yang buruk rupa. Perempuan itu tampak begitu khusyuk tidak mempedulikan lalu lalang orang-orang di sekitarnya. Ia sujud dua kali lalu berdiri lagi. Kedua matanya memandang rerumputan
tempat ia meletakkan keningnya ketika sujud.
Udara dingin berhembus. Matahari membias di langit pucat dan pias kelabu.
Fahri menghentikan langkahnya ketika tiba-tiba tubuh perempuan berjilbab itu ambruk. Dua orang perempuan bule yang melihat langsung berlari memeriksa. Fahri dan Paman Hulusi juga berlari melihat.
"Masih hidup." Kata perempuan bule berambut pirang yang memeriksa nafas dan nadi perempuan berjilbab hitam itu.
"Harus dibawa ke hospital, agar mendapat pertolongan medis. Demamnya tinggi sekali!" Ujar perempuan bule satunya.
"Kau saja yang urus ya? Saya ada meeting penting."
"Panggil 999 saja. Saya juga ada urusan."
"Excuse me, biar kami yang urus perempuan ini." Kata Fahri.
"Anda yakin?"
"Iya. Biar kami yang urus."
"Terima kasih. Saran saya kalau Anda juga ada kesibukan serahkan saja pada 999. Perempuan ini sepertinya homeless.
Saya sepertinya pernah beberapa kali melihatnya meminta-minta di dekat Scott Monument." Ujar perempuan bule berambut pirang.
"Tenang saja, kami bisa mengurusnya."
"Baiklah terima kasih."
Dua perempuan bule itu bangkit dan bergegas pergi. Fahri minta paman Hulusi mencari taksi. Beberapa orang yang lewat ada yang hanya melihat, dan ada juga yang menanyakan apa yang terjadi. Seorang Ibu-Ibu separo baya dengan penuh perhatian menanyakan apa yang bisa dia bantu. Fahri tersenyum dan
mengucapkan terima kasih. Paman Hulusi datang bersama supir taksi yang berhenti di depan halte tram. Dengan dibantu sopir taksi, Paman Hulusi dan Fahri menggotong tubuh perempuan itu dan memasukkan ke dalam taksi. Fahri duduk di depan di samping sopir taksi sementara Paman Hulusi duduk di belakang bersama perempuan yang didudukkan dalam posisi masih belum sadar itu.
"Di bawa ke mana?" Tanya sopir taksi.
"Klinik, rumah sakit terdekat atau dokter terdekat." Jawab Fahri.
"Baik."
Sopir itu memacu mobilnya sedikit cepat. Mula-mula ia ke selatan, lalu ke barat mengitari St Andrew Square. lalu memasuki George Street dan terus meluncur ke arah barat dengan cepat. Sopir itu menghentikan taksinya dua puluh meter sebelum sampai toko pakaian Slaters. Sopir taksi menunjukkan kepada Fahri sebuah klinik yang terletak di lantai dua bangunan tua. Dengan sedikit susah payah
mereka bertiga menggotong perempuan berjilbab hitam itu memasuki klinik. Fahri minta agar sopir taksi menunggu, begitu perempuan itu masuk klinik.
Pihak klinik menanyakan asuransi dan lain sebagainya. Fahri menjawab bahwa dirinya akan membayar semua biaya yang diperlukan.
Dengan sigap pihak klinik melakukan penanganan medis.
Setelah melihat perempuan berjilbab itu ditangani dengan baik, Fahri meminta Paman Hulusi tetap diklinik itu. Ia minta kunci mobil pada Paman Hulusi lalu naik taksi menuju stasiun Waverly. Fahri mengambil mobilnya yang diparkir di kawasan Waverly. Siang itu Fahri batal menjumpai Nyonya Suzan Brent yang bertanggung jawab mengelola AFO Boutique. Fahri justru membawa mobilnya ke kampus The University of Edinburgh. Ia ada janji menerima Ju Se. mahasiswi asal China yang dibimbingnya itu.
"Saya suka dengan caramu berpakaian hari ini." Kata Fahri begitu mahasiswi China itu memasuki ruang kerjanya dan duduk di kursi yang ada dihadapannya.
"Terima kasih."
"Pada pertemuan yang lalu saya minta Ju Se membaca minimal dua buku dari tujuh buku yang daftarnya saya berikan. Berapa buku yang sudah Ju Se baca?" Ju Se tergagap.
"Eh, maaf, baru satu buku."
"Baru satu?"
"Iya."
"Kalau begitu mohon maaf, saya tidak bisa membimbing Anda. Silakan Anda temui Professor Stevens agar dicarikan pembimbing yang lain. Mohon maaf saya tidak bisa membimbing mahasiswa pemalas."
Muka Ju Se memerah mendengar kata-kata Fahri yang pelan namun tegas itu.
"Maafkan saya, beri saya satu kesempatan lagi. Saya janji pekan depan seluruh buku dalam daftar itu akan selesai saya baca."
"Maaf saya tidak bisa. Lebih baik cari pembimbing yang lain saja."
Tiba-tiba Ju Se turun dari kursinya dan bersimpuh dihadapan Fahri dengan kedua mata berkaca.
"Saya tahu Anda bisa memaafkan kesalahan kecil saya ini. Memang saya salah. Saya akan merasa malu jika minta pembimbing lain karena kesalahan saya. Tolonglah saya. Saya tidak mengatakan saya mahasiswa pekerja keras, tapi saya berani mengatakan saya bukan pemalas. Beri saya kesempatan."
"Baik. Saya beri kesempatan. Pertemuan kita sampai disini saja. Kita jumpa pekan yang akan datang.
Jika pekan yang akan datang kau belum selesai membaca enam buku yang belum kau baca itu, tidak usah menemui saya. Langsung saja temui Prof Stevens untuk minta pembimbing pengganti. Mengerti?"
"Saya mengerti. Terima kasih atas kesempatan keduanya. Sekali lagi terima kasih."
Ju Se meninggalkan ruang kerja Fahri dengan kepala menunduk penuh takzim. Begitu Ju Se
menghilang, Fahri menghela nafas. Dalam hati ia minta maaf kepada Ju Se karena berlaku tegas seperti itu. la harus melakukan hal itu untuk mendidik mahasiswanya agar tahan banting dan mengeluarkan kemampuan terbaiknya.
Fahri lalu bersiap untuk meninggalkan ruang kantornya itu, ia hendak kembali ke klinik menjemput Paman Hulusi. Saat ia hendak melangkah keluar, telepon di meja kantornya
berdering. Ia mengurungkan langkah keluar dan balik mengambil gagang telepon. Ternyata dari Profesor Charlotte.
"Ada yang ingin saya bicarakan dengan Anda. Mendesak dan penting. Bisakah ketemu siang ini sambil makan siang di The Mosque Kitchen."
"Bisa. Profesor suka masakan muslim?"
"Bukan masakan muslimnya, saya suka bumbu Pakistannya."
"Okay. Jam berapa kita jumpa?"
"Satu jam lagi?"
"Baik."
*****
"Bagaimana kondisinya, Paman Hulusi?"
"Dia sudah siuman, Hoca. Alhamdulillah bisa diselamatkan."
"Sakit apa dia Paman?"
"Tadi dokter sempat menyebutkan dia pingsan karena dehidrasi serius dan hipoglikemi. Demamnya yang tinggi itu karena gejala thypus. Tapi ada sedikit masalah Hoca."
"Apa itu?"
"Setelah siuman, dia inginnya keluar dan pergi meninggalkan klinik ini."
"Terus bagaimana? Dia masih disini kan?"
"Masih Hoca. Saya bujuk-bujuk dia untuk diobati dulu. Mungkin ada baiknya Hoca bicara pada dia juga. Dia seperti cemas dan ketakutan Hoca."
"Baik Paman. Saya akan bicara padanya. Ayo."
Paman Hulusi mengantar Fahri ke kamar di mana perempuan berjilbab hitam bermuka buruk itu dirawat. Klinik itu tidak terlalu besar, namun peralatannya lengkap. Tidak memiliki banyak kamar untuk menginap, hanya belasan kamar saja. Klinik itu menempati bangunan tua dan kuno yang dirawat dengan baik, Paman Hulusi membawa Fahri ke sebuah kamar dilantai dua. Setelah mengetuk pintu dan
tendengar suara agak serak mempersilakan masuk, maka Paman Hulusi pun memasuki kamar itu diikuti Fahri.
Perempuan berjilbab hitam itu berbaring diatas ranjang perawatan. Cairan infus dialirkan ketangan kirinya. Melihat Paman Hulusi dan Fahri yang datang, perempuan berjilbab hitam itu agak sedikit terkejut. Dengan tenang Fahri mendekat. Ia memandang sekilas wajah perempuan berjilbab hitam itu lalu menunduk.
"Sister, kalau boleh tahu, siapa nama Anda, dan Anda berasal dari mana sebenarnya?" Tanya Fahri pelan.
Perempuan berjilbab hitam itu diam tidak menjawab.
"Saya tidak bermaksud jahat atau tidak baik kepada Anda. Kalau Anda keberatan menyebut nama Anda tidak apa-apa. Saya berniat membantu Anda, Sister."
"Hoca, saya sudah menanyakan. Dia bilang namanya Sabina. Dia mengaku berasal dari Bulgaria."
Fahri mengangguk mendengar penjelasan Paman Hulusi.
"Sister, saya dengar Anda tidak mau dirawat di sini, Anda ingin pergi dari sini."
"Biayanya pasti mahal. Saya tidak punya apa-apa." Jawab perempuan berjilbab hitam bernama Sabina dengan suara serak.
"Sudah berulang kali saya katakan, Hoca Fahri akan bayar semuanya. Sabina tidak usah khawatir."
"Ya saya akan bayar semuanya."
"Saya jadi merepotkan dan menjadi beban Anda."
"Sama sekali tidak. Itu adalah kewajibanku sebagai sesama saudara seakidah." Jawab Fahri.
"Saya takut polisi akan datang menangkapku. Saya ilegal di sini."
"Tenang saja, Sister. Klinik disini bertugas menyembuhkan sakit Anda, bukan menyerahkan Anda ke polisi atau petugas imigrasi. Anda tidak usah khawatir. Setelah sembuh, saya ingin Anda tinggal bersama kami, kami akan urus semua masalah Anda sehingga keberadaan Anda disini legal."
Perempuan berjilbab itu menggelengkan kepala, mengisyaratkan tidak mau.
"Kenapa?"
"Aku tidak pantas menerima kebaikan itu, itu terlalu baik untuk manusia jalanan seperti aku."
"Jangan berkata begitu, Sister. Perkenankan saya melakukan itu demi ibadah kepada Allah. Jangan kau tolak orang yang ingin beribadah kepada Allah."
Kedua mata Sabina berkaca-kaca. Air matanya meleleh dipipinya. Ia terdiam sesaat, namun ia kembali menggeleng,
"Aku tidak bisa."
"Kenapa?"
"Jangan tanya kenapa? Aku tidak bisa."
"Sister Sabrina kasihanilah kami dan kasihanilah seluruh komunitas muslim di Edinburgh ini. Sebentar, Anda harus melihat ini."
Fahri mengeluarkan smartphonenya dari saku jasnya. Ia lalu membuka koran yang pernah diberitahukan oleh Tuan Taher. Setelah halaman koran yang memuat foto perempuan berjilbab hitam yang tak lain adalah Sabina tampak di layar, Fahri menyodorkan pada Sabina.
"Sister, ini gambar Anda ada di koran beberapa hari yang lalu. Beritanya membuat buruk citra umat Islam di sini. Saya sama sekali tidak menyalahkan Anda. Saya dan orang-orang muslim yang mampu di kota inilah yang salah karena tidak memperhatikan Anda dengan baik. Kasihanilah kami.
Biarkan kami beribadah. Biarkan kami terlepas dari pertanyaan Allah di akhirat kelak. Bantu kami berdakwah dengan membuat citra positif umat Islam disini."
Sabina mendengarkan kata-kata Fahri dengan seksama sembari membaca berita yang ada dalam website The Edinburgh Morning itu. Sabina tiba-tiba menangis tersedu-sedu seraya minta maaf sebesar-besarnya kepada Fahri. la juga minta agar dimintakan maaf kepada seluruh komunitas muslim yang ada di Edinburgh.
"Aku sama sekali tidak punya maksud membuat kalian jadi bahan cibiran. Maafkan aku."
"Yang paling penting. Sister mau ya tinggal bersama kami untuk sementara setelah keluar dari klinik ini. Kalau sister tidak betah nanti kami usahakan mencarikan tempat tinggal yang layak. Ini demi kebaikan kita semua."
Sabina mengangguk pelan. Fahri tampak lega.
"Sister Sabina akan berada di klinik ini sampai benar-benar sembuh. Setiap hari Paman Hulusi nanti akan menjenguk. Kalau ada keperluan apa saja, sampaikan kepada Paman Hulusi. Okay?"
Sabina kembali mengangguk. Air matanya mengambang dipelupuk matanya. Ia tidak mengira bahwa di dunia ini masih ada orang yang perhatian kepadanya.
*****
Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam lebih lima menit. Usai shalat witir Fahri merebahkan tubuhnya di kasur. Tubuhnya benar-benar letih. Ia merasa jika telah tertidur maka ia akan susah bangun malam, karena tenaganya telah terforsir seharian.
Seluruh tubuhnya lelah, namun otaknya belum mau istirahat. Akibatnya kedua matanya tidak juga terpejam. Bukan masalah perempuan berjilbab hitam itu yang jadi pikiran. Bukan masalah bisnisnya, bukan masalah nenek Catarina, bukan masalah Jason dan keluarganya, bukan Ju Se dan tesisnya, juga
bukan kerinduannya pada Aisha yang menyesaki pikirannya.
Apa yang tadi siang diminta Professor Charlotte sambil makan siang itulah yang kini terus menyalakan pikirannya. Bagaimana tidak? Permintaan Professor Charlotte itu bukanlah sesuatu yang ringan, namun ia begitu saja menyanggupinya. Ia sendiri sedikit heran, kenapa waktu itu langsung begitu saja
mengiyakan.
Meskipun itu adalah hal yang tidak ringan, namun ia merasakan jawabannya itu telah membuat hidupnya begitu bergairah. Ada gairah yang menyala ketika ia menghadapi sebuah tantangan.
Dulu, saat menghadapi ujian agar bisa menjadi murid talaqqi Syaikh Utsman Abdul Fatah di Mesir, ia begitu bergairah dan membara. Siang malam ia memuraja‘ah hafalan Qur'annya. Ia juga menghafal Matan Asy Syatibiyah hingga tuntas di luar kepala. Dan hasilnya, ia satu-satunya orang asing yang terpilih untuk
menjadi muridnya dari sepuluh orang yang dipilih tahun itu. Sembilan lainnya adalah orang Mesir.Tantangan itu membuatnya bergairah, dan dengan kerja keras dan taufiq dari Allah, ia berhasil.
Begitu pula ketika ia hendak menulis Ph.D di Uni-Freiburgh, ia mensyaratkan dirinya selain bahasa Inggrisnya harus mencapai IELT 7.0 . untuk bahasa Jerman ia mensyaratkan dirinya sendiri harus mencapai minimal B2.3. Dan dengan kerja keras serta dibantu Aisha istrinya yang menguasai dua bahasa itu dengan sangat fluent, Ia akhirnya meraih apa yang ia targetkan.
Dan sekarang, tantangan besar yang menggairahkan itu datang. Kesanggupannya memenuhi permintaan Professor Charlotte adalah tantangan besar yang begitu menggairahkannya. Tubuhnya telah lelah dan
letih. Namun gairah besar itu menggebu-gebu dalam otaknya, sehingga kedua matanya tidak juga terpejam.
Tadi siang ia menyanggupi permintaan tidak ringan itu. Professor Charlotte memintanya mewakili ilmuwan sosial dari IMES, The University of Edinburgh untuk berdebat di Oxford Debating Union.
"Oxford Debating Union minta seorang pakar Islam, Timur Tengah dan Asia Tenggara untuk berdebat.
Awalnya saya minta Professor Ted Stevens. Tapi dia tidak bisa. Saya langsung tak ada pilihan lain selain kamu, Fahri. Saya sangat yakin kamu bisa berdebat di forum debat paling prestisius di Britania Raya ini. Bagaimana, kamu sanggup?"
Ucap Professor Charlotte sambil memandang tajam wajahnya.
Dada Fahri bergemuruh. Permintaan Professor Charlotte itu adalah sebuah kehormatan dan kesempatan yang tidak boleh disia-siakan, sekaligus tantangan yang tidak ringan. Namun tantangan berat itu selalu menggairahkan jiwanya.
"Dengan senang hati, saya sanggup." Jawabnya tegas.
"Sudah kuduga kau akan mengucapkan itu." Senyum Prof.Charlotte.
Satu bulan lagi ia akan berdiri di panggung debat legendaris itu. Berdebat di Oxford. Ia telah lama mendengar reputasi forum debat prestisius itu. Oxford Debating Union paling getol mengadakan debat kelas berat, diantaranya adalah debat antar agama. Yang diundang berbicara dan berdebat adalah para
pakar kelas suhu.Ilmuwan dengan kemampuan logika dan cara kritis yang pas-pasan jangan harap bisa survive di panggung itu. Logika debat Oxford dikenal angker dan berwibawa.
Jiwa Fahri begitu bergairah. Tantangan dari Oxford itu begitu membara. Akankah ia bisa membela agamanya, membela keyakinannya dan tetap survive dalam arena perang tanding Oxford Debating Union itu? Satu bulan lagi
jawabannya. Dan untuk menang ia harus melakukan persiapan layaknya seorang pemenang. Bismillah, tawakkaltu 'alallah!
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar