Selasa, 02 Februari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 37-01

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 37-01*

Karya.   : SH Mintardja

Para pemimpin dari kelompok-kelompok kecil itu merasa sangat berterima kasih kepada petugas-petugas yang dengan sabar menunggu kedatangan kawan-kawannya yang tidak menyadari bahwa bahaya tengah mengancam di sepanjang jalan.

“Jadi, apakah yang harus kami lakukan?” bertanya pemimpin kelompok itu.

“Melingkari bulak panjang dan langsung pergi ke dinding Kota Raja. Baru kalian merayap sepanjang dinding samping untuk mencapai pintu gerbang. Itu pun harus kalian lakukan dengan sangat hati-hati. Jika kalian terlalu dekat dengan padukuhan itu dan diketahui oleh pengawas-pengawas mereka, maka nasib kalian akan menjadi sangat buruk.”

Para pemimpin kelompok itu kemudian membawa pasukan kecil mereka melingkari agak jauh dari padukuhan-padukuhan yang diketahui sebagai tempat peristirahatan pasukan dari Mahibit yang siap menerkam Kota Raja.

Ternyata kehadiran satu dua kelompok itu dapat diketahui oleh para pengawas dari Mahibit. Ternyata mereka telah mengadakan gerakan di malam hari. Mereka menebar semakin luas untuk mencegah kehadiran kelompok-kelompok baru masuk ke pintu gerbang Kota Raja.

Petugas-petugas sandi Singasari segera melaporkan gerakan itu. Namun dengan demikian petugas-petugas sandi yang harus bertebaran justru menjadi semakin banyak.

“Keadaan sangat gawat” berkata seorang Senapati, “Karena itu, biarlah kelompok-kelompok kecil itu berada di belakang pasukan Mahibit. Pada suatu saat mereka tentu akam diperlukan. Jika orang-orang Mahibit berhasil memecahkan pintu gerbang, maka mereka justru akan menyergap dari belakang sisa-sisa pasukan Mahibit yang tentu akan berdesakan memasuki Kota Raja.”

Dengan perintah itu, maka kelompok-kelompok kecil yang berdatangan kemudian, tetap berada di belakang pasukan Linggapati, sampai saatnya mereka mendapat perintah untuk mendekat.

“Pasukan ini teramat kecil.” berkata seorang pemimpin kelompok, “Apa yang dapat kami lakukan.”

“Sekedar mengganggu ekor pasukan Linggapati yang memasuki Kota. Namun yang sekedar itu tentu akan mempunyai arti, karena yang berada di belakang pasukan Mahibit ini tentu tidak hanya satu dua kelompok. Tetapi. mungkin ada sepuluh, bahkan lebih.”

Para pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Meskipun jumlah mereka tidak seberapa, tetapi mereka memang akan dapat membuat kejutan bagi ekor pasukan Mahibit.

Dalam pada itu, malam pun berjalan betapapun lambannya. Seperti para prajurit Singasari, maka sebagian dari pasukan Mahibit sempat juga beristirahat barang sejenak menjelang fajar menyingsing.

Agaknya Linggapati mempergunakan bintang-bintang sebagai isyarat. Ketika bintang panjer wengi tenggelam di ujung Barat dan bintang penjer rima mulai nampak di Timur dengan cahaya yang putih kebiru-biruan, maka pasukannya pun mulai bersiap-siap tanpa aba-aba. Setiap kelompok yang ada di padukuhan yang terpisah telah mengetahui bahwa saat bintang panjerina mulai nampak, mereka harus mempersiapkan diri dan kemudian berangkat menuju ke medan.

Karena itulah, maka tanpa ada bunyi isyarat apapun, ternyata bahwa pasukan Mahibit itu sudah mulai bergerak. Dalam gelapnya sisa malam menjelang fajar, mereka merayap di tengah-tengah bulak mendekati dinding Kota Raja.

Agak berbeda dengan pasukan Empu Baladatu, ternyata orang-orang Mahibit tidak memusatkan kekuatan pasukannya pada pintu gerbang, meskipun mereka telah mempersiapkan pula macam-macam alat untuk memecahkan pintu. Diantaranya seperti yang pernah dilakukan oleh pasukan Empu Baladatu. Sepotong kayu yang panjang dan cukup besar untuk menghentak pintu itu dari luar.

Ternyata bahwa untuk beberapa saat mereka berhasil mendekati dinding tanpa diketahui oleh pasukan Singasari karena sama sekali tidak ada tanda-tanda dan isyarat yang nampak atau terdengar.

Karena itulah, maka prajurit peronda yang berada di atas dinding telah terkejut ketika melihat dalam gelapnya malam seakan-akan, batang-batang jagung itulah yang bergerak bagaikan hanyut mendekati dinding.

“He, kau lihat dalam gelap itu?”

“Aku memang melihat sesuatu? He, apakah mataku sudah rabun?”

“Tidak. Kita memang melihat gerakan. Lihat, dari ujung bulak sampai ke ujung bulak.”

Peronda itu memanggil beberapa orang kawannya. Anak-anak muda yang jemu menunggu di pintu gerbang, nampaknya tertidur diluar sadar. Tetapi mereka terbangun juga oleh kegelisahan para penjaga.

“Apa yang kalian lihat?”

Tiba-tiba saja peronda yang tertua terpekik, “Pasukan. Lihat dengan tajam. Yang datang itu bukannya betang-betang jagung yang hanyut didorong angin. Tetapi pasukan Mahibit datang dalam gelar yang panjang sekali hampir mengelilingi dinding Kota Raja.”

Sejenak kemudian telah terdengar suara kentongan yang memang disediakan di atas pintu gerbang, yang ternyata telah mengejutkan penjaga di dalam gardu. Tanpa bertanya lagi mereka menyadari, bahwa bahaya sudah mendekati. itulah sebabnya mereka pun segera memukul kentongan yang besar di gardu itu dengan irama titir.

Sekejap kemudian maka suara kentongan itu pun telah memenuhi seluruh Kota Raja. Di setiap gardu telah tersedia kentongan, sehingga seluruh Kota Raja pun kemudian dipenuhi oleh suara kentongan yang berbunyi di gardu-gardu.

Para prajurit yang sedang beristirahat terkejut mendengar suara titir. Dengan serta merta mereka membenahi diri meskipun terasa badan mereka masih belum segar setelah dengan terkejut bangun dari tidur.

Beberapa orang yang bertugas di atas dinding pun segera memanjat. Betapapun tergesa-gesa. mereka tidak lupa busur dan anak panah.

Ternyata prajurit-prajurit Simgasari tidak mendapat banyak kesempatan untuk mengatur diri Demikian suara kentongan meledak, maka Linggapati telah berteriak memerintahkan agar pasukannya menyerbu Kota Raja.

Sejenak kemudian, maka bayangan yang, bergerak-gerak di dalam keremangan sisa-sisa malam itupun bagaikan bergetar. Sejenak kemudian seperti banjir mereka pun berlarian menyerang.

Dengan mata yang masih berat, pasukan Singasari telah mempersiapkan diri pula. Mereka yang berada di atas dinding adalah mereka yang bersenjata panah dan tombak panjang.

Ketika para prajurit mulai hadir di tempat masing-masing, orang-orang Mahibit telah menjadi semakin dekat. Mereka mulai berteriak memekakkan telinga.

Namun demikian mereka memasuki jarak jangkau anak-anak panah yang di lontarkan dengan busur dari atas dinding, maka di sekitar dinding Kota Raja itu pun seakan-akan telah turun hujan anak panah yang bagaikan dicurahkan.

Pasukan yang maju itu terhenti. Bahkan mereka pun segera bergerak mundur. Mereka mencoba melindungi diri mereka dengan perisai-perisai baja dan kayu.

Di muka pintu gerbang, keadaannya juga serupa. Mereka yang memakai perisai sajalah yang kemudian mendekat dengan berlindung di bawah perisai masing-masing.

Namun ketika mereka menyadari bahwa pintu gerbang harus dipecahkan, maka pemimpin kelompok yang bertugas memecah pintu gerbang itu berteriak, “Lindungi kami. Kami akan membuka pintu itu.”

Maka orang-orang Mahibit pun telah membalas serangan itu dengan anak panah pula. Tetapi jumlah mereka yang bersenjata panah terlalu sedikit untuk menyerang Kota Raja dari segala jurusan. Itulah sebabnya mereka sebagian telah berkumpul di semua pintu gerbang.”

Beberapa puluh perisai segera melindungi para pengikut Linggapati yang sedang berusaha memecah daun pintu. Mula-mula mereka mengangkat balok, tidak di atas pundak, tetapi ditinting dengan tangan. Kemudian mereka berlari sekencang-kencangnya sambil membenturkan balok yang panjang itu pada pintu gerbang.

Anak panah yang dilontarkan oleh para prajurit yang berada di atas pintu gerbang telah membentur perisai yang bagaikan payung di atas kepala para pengikut Linggapati itu, sehingga anak panah itu tidak dapat menyentuh tubuh mereka.

Anak-anak muda yang berada di atas pintu gerbang itu mengerutkan keningnya ketika mereka melihat, bagaimana orang-orang Mahibit melindungi diri dan kawan-kawannya dari serangan anak panah.

“Saatnya sudah tiba.” berkata seorang anak muda.

“Ya. Kita menyerang sekarang.”

Demikianlah maka anak-anak muda yang mengenakan kantong-kantong kulit di tangannya segera mempergunakan bumbung penyemprot mereka. Dengan geram mereka pun kemudian menghisap air yang sudah mereka sediakan. Air rawe dan air cabe yang panas.

Ketika para pengikut Linggapati ilu membenturkan balok panjang itu pada pintu gerbang, maka anak-anak muda itu pun segera melontarkan air di dalam bumbung-bumbung mereka.

Di depan pintu gerbang itu pun kemudian bagaikan hujan turun dari atas dinding. Mula-mula mereka tidak mengerti, apakah artinya air yang disemprotkan itu.

Namun sejenak kemudian, akibatnya mulai mereka rasakan. Para pengikut Linggapati yang terkena air rawe pun bagaikan gila menggaruk tubuhnya yang gatal, sementara yang dikenai air cabe, menjadi bingung oleh panas dan pedih. Terutama di mata mereka.

Ternyata serangan-serangan anak-anak muda itu sangat berpengaruh. Terutama mereka yang terkena air rawe, sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa lagi selain menggaruk tubuh mereka sendiri yang menjadi panas dan gatal tanpa banding.

“Apa yang terjadi?” bertanya seorang pemimpin kelompok mereka yang segera mendekati mereka.

“Air rawe. Tubuhku menjadi gatal-gatal seluruhnya.”

“Tubuhku menjadi panas seperti tersentuh api.” sementara yang lain lagi berteriak, “Aku tidak dapat melihat lagi.”

Anak-anak muda itu pun kemudian dengan gigihnya telah melakukan tugas mereka dari atas dinding. Satu dua di antara mereka ternyata telah sampai pada batas hidup mereka. Anak panah orang Mahibit yang tidak banyak jumlahnya itu pun telah mematuk korban dari para prajurit dan mereka yang telah menyiapkan diri untuk bertempur.

Dalam pada itu, ketika ternyata pintu gerbang tidak segera terbuka, maka para pengikut Linggapati tidak lagi memberatkan serangan mereka pada pintu gerbang yang dijaga oleh anak-anak muda yang rusuh itu.

Beberapa orang pengikut Linggapati telah memindahkan perhatian mereka pada dinding Kota Raja. Mereka mulai memikirkan, apakah mereka akan dapat memanjat dinding itu dengan tangga.

Sementara itu, maka orang-orang Mahibit pun tidak henti-hentinya menyerang para prajurit Singasari dengan anak panah dan bahkan kadang-kadang mereka telah melontarkan tombak mereka. Namun serangan dari atas dinding Kota Raja agaknya lebih banyak memberikan hasil. Sedangkan jarak jangkaunya pun jauh lebih panjang dari lontaran dari luar dinding Kota Raja itu.

Tetapi orang-orang Mahibit tidak berputus asa. Karena anak muda yang berada di atas pintu gerbang itulah yang telah menyebabkan para pengikut dari Mahibit itu mengalami hambatan yang lebih besar dari serangan anak panah, maka mereka mulai mengarahkan perhatian mereka kepada anak-anak muda itu.

“Arahkan serangan kalian kepada mereka.” perintah Linggapati.

Para prajurit yang bersenjata panah pun kemudian berkumpul di muka pintu gerbang. Mereka dengan serentak telah menghujani para prajurit dan anak-anak muda yang berada di atas pintu gerbang itu dengan anak panah.

Tetapi dalam pada itu, serangan dari atas pintu gerbang pun bagaikan hujan yang, tercurah dari langit.

“Apa yang dapat kita lakukan?” bertanya para pemimpin kelompok kepada Linggapati.

“Kita pecahkan pintu butulan.” desis Linggapati.

Para pemimpin kelompok pun mulai mempertimbangkannya. Mereka mencoba untuk melakukannya. Dikirimkannya beberapa orang unjuk menemukan gerbang butulan di bagian samping dari Kota Raja.

Ternyata bahwa pintu butulan itu pun dijaga rapat. Di atas pintu butulan itu pun terdapat beberapa orang prajurit. Namun para pengikut Linggapati tidak melihat anak-anak muda di atas gerbang pintu butulan.

“Kita tetap di sini” perintah Linggapati, “Biarlah dengan diam-diam beberapa orang pergi ke pintu butulan itu dan berusaha memecahkannya. Mereka harus memasuki pintu itu sementara kita berusaha membuka pintu-pintu butulan yang berada di sisi yang lain.”

Para pemimpin kelompok lelah melaksanakannya sebaik-baiknya. Tidak ada kesan bahwa Linggapati akan memindahkan serangan mereka pada gerbang butulan di sisi dinding Kota Raja itu.

Sekelompok-kelompok kecil dari para pengikutnya yang banyak itu telah mempersiapkan diri dengan perintah khusus. Para pengikut Linggapati yang bertebar panjang itu terhenti di luar jarak jangkau anak panah para prajurit Singasari kecuali mereka yang berada di muka pintu gerbang, yang melindungi diri dengan perisai. Tetapi mereka pun telah berusaha untuk tidak dapat disentuh oleh air yang disemprotkan oleh anak-anak muda yang berada di atas pintu gerbang.

Dalam pada itu, beberapa orang pengikut Linggapati telah bergeser. Mereka mendapat tugas untuk memecahkan pintu butulan, sementara bagian dari pasukan mereka yang paling dekat dengan butulan itu pun telah mendapat perintah untuk segera memasuki pintu butulan itu jika pintu itu berhasil dipecahkan.

Gerakan itu tidak banyak menarik perhatian. Namun mereka telah benar-benar mempersiapkan diri untuk melakukan tugas mereka.

Seperti yang diperintahkan oleh Linggapati, maka setelah persiapan mereka selesai, maka tiba-tiba saja sekelompok pengikut Linggapati itu pun telah berlari menuju ke pintu gerbang butulan. Tetapi mereka tidak mempergunakan sebatang kayu yang panjang dan besar, tetapi agar persiapan mereka tidak segera diketahui para prajurit Singasari, maka mereka pun mempergunakan tangga-tangga kayu yang memang sudah mereka bawa untuk memanjat dinding.

Serangan itu memang mengejutkan. Para prajurit yang berada di atas dinding di sekitar pintu gerbang butulan itu tidak menyangka bahwa para pengikut Linggapati akan menyerang gerbang butulan.

Namun mereka pun telah bersiaga menghadapi segala kemungkinan, sehingga mereka pun segera menghujani anak panah pula kepada orang-orang yang berlari-lari menyerang.

Tetapi anak panah itu dapat di tahan dengan perisai-perisai. Tidak ada anak-anak muda di atas pintu gerbang butulan itu yang mempergunakan rawe dan cabe yang dicairkan untuk menyerang.

Dengan sekuat tenaga beberapa orang telah menghantam pintu gerbang samping itu dengan tangga kayu. Tidak hanya sebuah tangga, tetapi berganti-ganti mereka melakukannya sehingga kemudian selarak pintu itu pun menjadi retak.

Laporan tentang serangan pada pintu gerbang samping itu pun telah sampai ke pimpinan prajurit Singasari. Untuk melawan kemungkinan itu, maka sepasukan prajurit telah di kirim untuk memperkuat pertahanan di belakang pintu gerbang butulan itu.

Linggapati sendiri masih berada di muka pintu gerbang induk. Ia menunggu laporan dari pengikutnya yang telah berusaha memecahkan pintu gerbang butulan. Jika mereka berhasil, maka perhatian sebagian prajurit Singasari tentu akan berpaling ke pintu butulan itu.

Tetapi pasukan Singasari tetap menjaga keseimbangan dan kekuatan yang ada. Selama pasukan Mahibit masih berkumpul di muka pintu gerbang, maka prajurit Singasari pun sangat berhati-hati membagi kekuatannya.

Dalam pada itu, pasukan Linggapati yang menebar masih belum mendekati dinding, selain pasukan khususnya yang, bertugas memecah gerbang. Namun pasukan itu pun tidak terlepas ciari pengamatan pasukan Singasari, sehingga pasukan Singasari yang ada di dalam dinding pun menyesuaikan diri dengan kemungkinan arus kekuatan pasukan Linggapati.

Sementara itu, selarak pintu gerbang butulan pun tidak lagi mampu bertahan. Hentakan dari luar yang datang bagaikan ombak yang memecah pantai, akhirnya berhasil mematahkan selarak pintu itu.

Seperti bendungan pecah, maka pasukan Linggapati pun kemudian mengalir memasuki pintu gerbang. Tetapi karena pintu gerbang butulan tidak selebar pintu gerbang induk, maka arus pasukan itu pun telah tertahan karena justru mereka saling berdesakan.

Sementara pasukan itu berusaha berhimpitan memasuki pintu gerbang, maka pada saat itu, berpuluh-puluh anak panah telah meluncur mematuk lawan yang berdiri di depan pintu gerbang itu.

Seperti yang pernah terjadi saat-saat pasukan Empu Baladatu memasuki pintu gerbang, maka selapis pasukan lawan pun telah jatuh tertelungkup, sementara selapis di belakangnya berusaha mendesak maju. Namun sekali lagi anak panah prajurit Singasari lelah meluncur bagaikan ditaburkan dari busurnya. Dan sekali lagi lapisan-lapisan itu bagaikan terkelupas.

Agaknya pasukan para pengikut Linggapati itu menyadari keadaan mereka, sehingga karena itulah, maka kemudian mereka pun mulai mengatur diri. Mereka yang berperisai telah mengambil tempat dipaling depan.

Namun sementara itu, para prajurit yang berada di atas dinding pun masih terus menghujani mereka dengan panah dan tombak.

Melihat pintu gerbang butulan yang pecah, maka pasukan yang semula masih mengambil jarak sejauh jarak jangkau anak panah itu pun segera mendesak maju. Mereka langsung menempatkan diri pada jalur pasukan yang akan memasuki pintu butulan yang sudah pecah itu.

Ternyata pasukan Singasari tidak dapat menahan arus lawan yang berdesakan memasuki pintu gerbang sambil berlindung di balik perisai. Karena itu, maka pasukan Singasari pun segera melingkar mengepung separo lingkaran gerbang yang sudah terbuka dengan pasukan berlapis.

Sejenak kemudian maka arus pasukan lawan itu pun mengalir memenuhi setengah lingkaran yang dipagari oleh pasukan Singasari.

Pertempuran yang dahsyat pun tidak dapat dihindarkan lagi. Pada benturan pertama, senjata mereka pun telah mulai dilumuri oleh darah.

Demikian pasukan Linggapati menghantam pertahanan pasukan Singasari, maka pasukan Singasari pun segera membuat gelar Jurang Grawah. Pasukan pada lapis pertama seolah-olah telah tersibak oleh pasukan lawan. Namun ternyata bahwa di belakang lapisan pertama telah menunggu pasukan dari lapis kedua yang kuat, sehingga ketika lapis pertama itu menutup, maka pasukan yang sudah terperosok ke dalam jebakan itu pun satu demi satu dibinasakan.

Tetapi semakin lama pasukan Linggapati pun menjadi semakin banyak, sehingga prajurit Singasari mulai terdesak mundur, sehingga dengan demikian maka kepungan itu pun menjadi semakin luas.

Desakan itu pun tidak dibiarkan saja oleh para prajurit Singasari. Setiap peristiwa yang terjadi, para penghubung, selalu menyampaikan laporan terperinci, sehingga karena itu, para Senapati dapat mengambil sikap yang tepat untuk menanggapi keadaan.

Dalam pada itu, pasukan yang ada di pertahanan yang berlapis pun selalu siap menghadapi segala kemungkinan. Di sudut tikungan, di simpang empat dan di simpang tiga.

Sementara itu pasukan Empu Sanggadaru pun telah memencar pula di antara pasukan Singasari. Bahkan bekas pengikut Empu Baladatu pun telah berada di segala tempat, berbaur dengan para prajurit dan para pengikut Empu Sanggadaru, sehingga jumlah mereka pun akhirnya menjadi cukup banyak untuk mengimbangi pasukan Linggapati. Apalagi di antara mereka, setiap laki-laki telah keluar pula menggabungkan diri dengan para prajurit di sudut-sudut tikungan. Mereka siap melawan orang-orang Mahibit yang berhasil menerobos pertahanan pada lapis sebelumnya dan membinasakannya.

Tetapi orang-orang Mahibit tidak puas dengan pecahnya sebuah pintu gerbang butulan. Mereka pun mulai berusaha memecahkan butulan yang lain dengan cara yang, sama.

“Gila.” geram seorang Senapati, “Akhirnya mereka tidak memasuki Kota Raja lewat gerbang utama.”

Namun di muka pintu gerbang utama masih berkumpul sekelompok pasukan Lingapati. Bahkan di belakangnya masih nampak seleret pasukan yang siap memasuki pintu gerbang itu jika pintu itu pecah.

Tetapi ternyata bahwa usaha memasuki Kota Raja itu memang sudah berpindah dari gerbang utama ke pintu-pintu butulan.

Dalam pada itu, prajurit Singasari pun segera menyesuaikan diri dengan menempatkan pasukan di muka pintu-pintu butulan yang menjadi sasaran lawan.

Dalam pada itu Linggapati masih berada di luar dinding halaman, masih belum dapat menyaksikan pertempuran yang telah terjadi. Ketika seorang pengawalnya menerima laporan bahwa pasukan Singasari ternyata masih cukup kuat menahan arus pasukannya, Linggapati hanya tersenyum saja. Ia yakin, bahwa pasukan Singasari telah menjadi sangat lemah, apalagi ketika ia berpaling. Sebagian pasukannya masih tetap menunggu perintahnya.

Ketika hari menjadi semakin cerah oleh sinar matahari, maka peluh yang kemerah-merahan karena darah yang meleleh dari luka, membuat kedua belah pihak menjadi semakin garang. Mereka tidak lagi sempat berpikir mengenai diri mereka berhadapan dengan sesama. Yang ada di dalam hati adalah kemarahan dendam dan kebencian yang memuncak.

Di halaman istana Singasari, Ranggawuni dan Mahisa Cempaka berada di antara para Senapati dan para pemimpin pemerintahan Mereka selalu mengikuti setiap perkembangan yang terjadi, lewat laporan-laporan para penghubung yang berada di medan.

“Kita harus segera mengikuti perkembangan itu langsung.” berkata Lembu Ampal.

Mahisa Agni mengangguk. Kemudian katanya kepada Ranggawuni, “Tuanku. Apakah hamba dapat memerintahkan para Senapati untuk membagi diri. Lawan kini berada di pintu-pintu gerbang samping. Mereka sudah mulai memasuki Kota Raja dan mengalir lewat jalan-jalan raya menuju ke halaman istana. Berbeda dengan jalan yang ditempuh oleh Empu Baladatu, karena ia mengambil satu jalan kemudian membelah diri dan akhirnya menuju ke halaman istana ini. Sedangkan Linggapati memasuki Kota Raja lewat beberapa pintu butulan, dan mengalir langsung menuju ke halaman istana.”

Ranggawuni mengangguk sambil menjawab, “Terserahlah kepada paman. Mana yang baik menurut perhitungan paman, dapat paman perintahkan kepada para Senapati.”

Mahisa Agni pun kemudian membagi para Senapati untuk menghadapi pasukan Linggapati yang memasuki Kota Raja lewat beberapa pintu gerbang. Lembu Ampal akan memimpin sepasukan prajurit dan akan hadir di pintu gerbang samping, sedang di pintu gerbang samping yang lain akan bertugas Witantra bersama seorang Senapati muda disertai sepasukan prajurit. Sementara seorang Senapati yang berpengalaman akan berada di gerbang butulan sebelah belakang, disertai Mahendra dan kedua anaknya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Sementara itu Mahisa Agni berkata kepada Mahisa Bungalan, “Kau akan tetap berada di depan gerbang, utama. Aku yakin, bahwa Linggapati menunggu kesempatan untuk memasuki pintu gerbang itu dengan pasukannya yang kuat.”

“Baik paman.” jawab Mahisa Bungalan, “Aku akan berada di pintu gerbang utama.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Namun kemudian ia berpaling kepada Empu Sanggadaru yang berdiri termangu-mangu. Katanya, “Empu. Aku minta Empu berada di istana ini bersamaku.” Bukankah Empu tidak perlu berada di antara pasukan Empu yang tersebar itu?”

Empu Sanggadaru tersenyum. Katanya, “Aku akan melakukan segala perintah. Aku sudah menempatkan diri di bawah perintah pimpinan prajurit Singasari.”

Mahisa Agni tersenyum. Jawabnya, “Terima kasih Empu. Biarlah yang lain melakukan tugasnya di luar halaman istana. Tetapi menurut perhitunganku, pasukan yang ada di halaman inipun harus bersiap menghadapi segala kemungkinan.”

Demikianlah, maka para Senapati itu pun segera mulai berpencar dengan sekelompok prajurit kepercayaan. Mereka harus mengatasi kesulitan yang timbul di medan. Karena keadaan yang tiba-tiba masih mungkin sekali terjadi.

Dalam pada itu, pintu-pintu butulan sebelah menyebelah, dan bahkan pintu butulan di arah belakang istana, memang sudah berhasil dipecahkan oleh pasukan Mahibit. Tetapi mereka harus bertempur mati-matian untuk dapat menembus pasukan lawan yang telah memagari jalan menuju ke halaman istana.

Tetapi pasukan Mahibit yang memecahkan pintu samping, ternyata telah melakukan usaha yang semula agak membingungkan. Sepasukan pengikut Linggapati yang berhasil menerobos kepungan, tidak dengan tergesa-gesa menuju ke halaman. Tetapi mereka berlari-lari menyusuri dinding.

“Hentikan mereka.” teriak seorang Senapati.

Tetapi mereka berusaha untuk dengan segenap kemampuan mereka, mendekati pintu gerbang utama.

“Mereka membuka pintu gerbang dari dalam.” teriak seorang pengawal.

Seorang Senapati muda yang mendengar teriakan-teriakan itu berkata, “Perbuatan gila. Mereka tidak akan berhasil mendekati gerbang. Di dalam gerbang pasukan Singasari berdiri berjejal-jejal.”

Tetapi ternyata mereka sekedar memancing perhatian. Selagi para prajurit sibuk memperhatikan sekelompok pengikut yang menuju ke pintu gerbang utama, maka serangan yang tiba-tiba pun telah diulang oleh pasukan Linggapati. Agaknya salah seorang pengikui yang mendekati pintu gerbang itu telah melontarkan tengara bagi induk pasukannya.

Ternyata bahwa sikap itu tidak hanya dilakukan oleh sekelompok pengikut Linggapati itu. Beberapa kelompok yang lain pun telah melakukan perbuatan serupa. Bahkan mereka yang berhasil memasuki pintu gerbang butulan dari arah lain pun telah berusaha menyerang para prajurit yang berada di pintu gerbang utama itu.

Dengan demikian maka para prajurit Singasari pun sadar bahwa agaknya para pengikut Linggapati akan membuka gerbang utama itu dengan segala macam cara.

Karena itulah, maka pertahanan utama masih tetap mengarah ke pintu gerbang induk. Beberapa kelompok prajurit berusaha memotong para pengikut Linggapati yang menuju ke pintu gerbang setelah mereka berada di Kota Raja.

Tetapi karena hal itu kurang diperhitungkan sejak semula, maka usaha mereka tidak banyak memberikan hasil, sehingga kelompok-kelompok pasukan yang menyusup lewat pintu-pintu gerbang butulan akhirnya dapat juga menganggu para prajurit yang berada di pintu gerbang.

Ternyata bahwa anak-anak muda yang bermain-main dengan air batang rawe dan cabe itu terpengaruh juga oleh anak panah yang datang, dari dua arah, sehingga sebagian dari mereka mulai menjadi gelisah.

Pada saat-saat yang demikian, maka Linggapati yang agaknya tidak cepat menjadi putus asa itu, telah mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Sekali lagi mereka menghantam pintu gerbang itu dengan batang kayu yang, besar. Sementara pasukannya melindungi dengan anak panah. Bukan saja dari luar, tetapi yang sudah berada di dalamnya melakukannya pula.

Sementara itu, prajurit Singasari dengan mudah dapat menghalau kelompok-kelompok kecil yang menyerang mereka dari dalam. Namun dengan demikian, maka perhatian mereka benar-benar terpecah. Prajurit yang berada di atas dinding harus memperhatikan lontaran senjata dari dalam pula. karena anak panah dan bandil telah menimbulkan korban pula di antara mereka.

Ternyata bahwa selarak pintu yang sudah diperkuat itu pun akhirnya retak juga. Anak-anak muda yang berada di atas pintu gerbang itu, sebagian masih juga sempat bukan saja menyemprotkan dengan bumbung-bumbung bambu tetapi tanpa mengingat diri mereka sendiri, mereka telah menuangkan belanga yang mereka bawa naik ke atas dinding.

Namun betapapun juga, akhirnya serangan dari dua arah itu telah berhasil mematahkan selarak pintu gerbang induk itu, sehingga pintu gerbang itu pun telah pecah.

Ternyata bahwa para prajurit Singasari tidak melawan mereka di muka pintu gerbang. Mereka masih sempat memberi kesempatan anak-anak muda di atas dinding untuk menuangkan sisa-sisa air mereka yang gatal yang panas, sementara para prajurit pun kemudian melindungi mereka dengan senjata jarak jauh, untuk memberi kesempatan mereka meninggalkan pintu gerbang itu dan berlari sepanjang dinding.

Satu dua diantara mereka, tidak dapat meloloskan diri dari ujung anak panah lawan. Namun sebagian dari mereka berhasil mencapai batas yang tidak terlalu gawat lagi meskipun mereka masih harus berhati-hati karena di luar lawan nampak semakin melekat dinding dan memencar sambil menunggu kesempatan untuk memasuki pintu gerbang.

Prajurit Singasari tidak berusaha menahan lawan mereka di pintu gerbang, karena arus mereka agaknya terlalu deras, sementara lawan yang sudah berada di dalam dinding pun selalu mengganggu.

Karena itulah, maka Singasari telah menarik prajuritnya mundur sehingga perlahan-lahan pasukan lawan pun mengalir memasuki pintu gerbang induk.

Mahisa Bungalan yang berada di hadapan pintu gerbang itu pun menyesuaikan diri dengan perimbangan pertempuran. Ia pun menarik diri di antara para prajurit. Namun kemudian Mahisa Bungalan mencoba untuk bertahan pada sandaran lapisan ketiga, menghadap jalan lurus menuju ke halaman istana.

Ternyata bahwa jalan-jalan yang memencar pun telah tertutup rapat oleh pasukan Singasari yang bertahan dalam lapisan demi lapisan. Tidak saja di jalan-jalan tetapi di halaman dan dinding-dinding baru yang menyekat halaman dengan halaman.

Pasukan Linggapati yang semula merasa mendapat jalan lapang menuju ke halaman istana, ternyata telah membentur pertahanan yang kuat di segala medan. Pasukan Singasari yang berlapis-lapis ternyata tidak segera dapat tertembus semudah yang mereka duga.

“Setan manakah yang masih membantu Singasari sehingga mereka masih mampu menahan arus kekuatanku.” geram Linggapati di antara pasukannya yang tertahan.

Namun dalam pada itu, Linggapati masih mengharap hubungan dengan pasukannya yang sudah memasuki Kota Raja lewat gerbang butulan, dan yang tentu sudah berpencaran. Mereka merupakan kekuatan yang harus diperhitungkan, baik oleh Linggapati sendiri terlebih lagi oleh Singasari.

Dalam pada itu, prajurit Singasari yang ternyata masih dihinggapi perasaan dendam dan kebencian karena pertempuran melawan Empu Baladatu yang belum lama, sehingga seolah-olah peluh yang meleleh di tubuh mereka masih belum kering, erang kesakitan kawan-kawan mereka masih terngiang di telinga, kini mereka telah menghadapi musuh baru.

Dengan demikian, maka para prajurit Singasari rasa-rasanya bertempur dengan garangnya tanpa menghiraukan kemungkinan yang akan dapat menimpa diri mereka.

Sejenak kemudian maka pertempuran di Kota Raja itu pun telah menyala dengan dahsyatnya. Singasari yang disangka telah terlalu lemah, ternyata masih dapat bertahan dengan kuatnya. Karena Linggapati tidak memperhitungkan sama sekali kehadiran kelompok- kelompok kecil yang tersebar, pasukan Empu Sanggadaru yang kuat dan bekas pengikut Empu Baladatu.

Itulah sebabnya, maka pasukannya kemudian telah terbentur pada pertahanan yang kuat. Bahkan induk pasukannya pun hanya dapat maju bergeser setapak demi setapak.

Tetapi Linggapati tetap berpengharapan untuk dapat menguasai Kota Raja. Betapapun lambatnya, tetapi ia berhasil mendesak terus. Bahkan dengan perhitungan, bahwa pasukan-pasukannya yang menembus gerbang-gerbang butulan akan segera menusuk ke tengah-tengah kota dan memecah perhatian pasukan Singasari yang berlapis-lapis.

Namun ternyata bahwa pasukan yang memecah pintu butulan di arah belakang, segera tertahan oleh pasukan Singasari. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang bertempur bersama ayahnya, ternyata telah membingungkan lawannya. Orang-orang Mahibit yang memasuki pintu gerbang butulan di arah belakang itu, benar-benar kehilangan akal jika mereka herhadapan dengan kedua anak-anak muda yang nakal itu.

Sementara itu pasukan yang membelah pintu gerbang samping, sebagian justru telah bergabung dengan pasukan induk mereka karena mereka telah menyelusur jalan di seputar bagian dalam Kota Raja saat-saat mereka berusaha membantu kawan-kawan mereka yang ingin menerobos lewat gerbang induk.

Namun sementara itu, Witantra ternyata mempunyai perhitungan lain. Pasukan Mahibit yang memasuki pintu butulan itu ternyata tidak terlalu kuat setelah sebagian dari mereka bergabung dengan induk pasukannya yang tersisa itu menurut perhitungan Witantra, akan dapat ditahan oleh lapisan berikutnya, apabila ia melepaskannya.

Tetapi Witantra tidak bertindak berdasarkan atas perhitungannya sendiri, ia telah mengirimkan penghubungnya untuk menyatakan pertimbangannya kepada Senapati yang berada di lapisan berikutnya bersama para pengikut Empu Sanggadaru dan bekas pengikut Empu Baladatu.

“Lepaskan mereka.” berkata Senapati itu setelah ia mendapat keterangan tentang jumlah lawan.

Witantra pun kemudian membiarkan mereka menerobos pasukannya. Seolah-olah pasukannya memang menyibak dan memberikan jalan kepada lawan.

Beberapa orang pemimpin kelompok melakukan perintah itu dengan pertanyaan yang menyumbat dada. Sebagian dari mereka sebenarnya tidak rela melepaskan mereka lewat. Dengan demikian mereka akan dapat menumbuhkan korban di lapisan berikutnya dan bahkan barangkali dapat memecahkan pertahanan itu.

Tetapi mereka mengangguk-angguk ketika Witantra kemudian memberi penjelasan, apa yang harus mereka lakukan menghadapi lawan yang mempunyai banyak akal.

“Bagus.” tiba-tiba seorang prajurit muda yang memimpin sekelompok kawan-kawannya berteriak, “Menyenangkan sekali.”

Witantra mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Tetapi jangan lengah. Setiap saat, keseimbangan pertempuran yang belum mantap ini akan dapat berubah.”

Para prajurit dan orang-orang yang berada di dalam pasukan itu pun mengangguk-angguk. Mereka menyadari, bahwa lawan mereka adalah lawan yang cerdik.

Sejenak kemudian, maka Witantra justru membawa pasukannya keluar pintu butulan yang sudah ditinggalkan oleh para pengikut Linggapati, yang kemudian telah membentur pertahanan di lapis berikutnya.

Dengan mengirimkan beberapa orang penghubung, untuk menyampaikan pesan kepada kelompok yang lain yang terpencar Witantra telah mengambil kebijaksanaan lain. Ia tidak melawan pasukan yang memasuki pintu butulan itu, tetapi ia justru telah keluar dari Kota Raja, melingkari dinding dan kemudian mendekati pintu gerbang.

“Mereka akan terkejut.” desis seorang prajurit muda.

“Ya. Mereka tentu tidak akan mengira.” sahut kawannya.

Sebenarnyalah bahwa yang dilakukan oleh Witantra itu benar-benar telah mengejutkan lawan. Dengan serta merta ia telah menyerang pasukan Mahibit justru dari arah belakang. Sambil bersorak pasukan Witantra memasuki pintu gerbang induk, dan menyerang pasukan Mahibit yang masih belum berhasil maju terlalu jauh.

Kejutan itu benar-benar telah membuat pasukan lawan agak bingung. Sebagian dari mereka segera berpaling dan bertempur melawan pasukan Witantra yang telah melingkar keluar lewat pintu butulan.

Serangan itu berhasil menghambat kemajuan lawan yang memang sudah sangat lambat Sebagian dari mereka harus berputar dan melawan pasukan Witantra yang garang.

Witantra sendiri merupakan orang yang aneh di mata lawannya. Meskipun Mahibit mengenal Linggapati, namun kehadiran Witantra telah membuat mereka menjadi berdebar-debar.

“Jika saja ia dapat bertemu dengan Linggapati.” desis salah seorang pengikutnya.

“Ada berapa orang sekarang orang itu?” bertanya orang yang lain.

Tidak ada yang dapat memberikan jawaban. Tetapi mereka mulai menyadari, bahwa di dalam dinding Kota Raja terdapat kekuatan jauh diluar perhitungan mereka. Mereka terlanjur menyangka bahwa Singasari telah menjadi sangat lemah setelah Empu Baladatu berhasil memasuki Kota Raja dan membuatnya menjadi karang abang meskipun pasukannya kemudian berhasil dihancurkan oleh para prajurit Singasari.

Namun adalah suatu kenyataan yang dihadapi oleh Linggapati, bahwa Singasari masih cukup kuat menahan arus pasukannya.

Sementara itu, pasukan yang dilepaskan oleh Witantra telah tertahan oleh pertahanan berikutnya. Meskipun pertahanan itu tidak terlampau kuat, namun prajurit Singasari yang bergabung dengan para pengikut Empu Sanggadaru dengan bekas pengikut Empu Baladatu berhasil menghambat arus lawan. Apalagi ketika beberapa orang yang berada di belakang garis perang datang membantu mereka. Bukan saja prajurit Singasari, tetapi anak-anak muda yang baru sekedar mendapat pengetahuan tata kanuragan, telah maju pula ke medan, meskipun mereka tidak berada dibagian yang terlalu berat.

Di bagian lain, para pengikut Linggapati telah dikejutkan oleh seorang Senapati Singasari yang bernama Lembu Ampal. Meskipun ia tidak banyak melakukan sesuatu di medan. namun geraknya yang sedikit itu selalu mengguncangkan lawan. Karena itu, maka pasukannyalah yang kemudian berhasil mendesak pasukan Mahibit, sehingga pasukan Mahibit yang memasuki regol samping, tidak sempat maju lagi. Apalagi sebagian dari mereka telah menerobos pasukan Singasari untuk bergabung dengan pasukan induk di gerbang utama.

Yang sama sekali kehilangan kesempatan untuk bertahan adalah pasukan Mahibit yang langsung berhadapan dengan Mahendra. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak dapat mengekang dirinya lagi. Bagaikan dua ekor burung srikatan berburu bilalang, keduanya terbang menyambar-nyambar. Senjata mereka telah mematuk lawannya dari segala arah, .seolah-olah telah berubah menjadi berpuluh-puluh senjata di berpuluh-puluh tangan.

Hanya pasukan induk dari Mahibit sajalah yang telah berhasil maju betapa lambatnya. Meskipun sebagian dari mereka harus menghadapi pasukan Witantra Namun karena jumlah mereka cukup besar, maka mereka pun masih tetap merupakan bahaya yang mengancam jalan lurus menuju ke gerbang istana.

Tetapi di pasukan induk Singasari sudah menunggu Mahisa Bungalan. Ia merasa Mahisa Agni sedang memperhatikannya. Agaknya Mahisa Agni ingin mengetahui kemampuannya yang sebenarnya menghadapi bahaya yang mengancam Singasari.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...