*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 37-02*
Karya. : SH Mintardja
Teringang di telinga Mahisa Bungalan bahwa Mahisa Agni pernah berbisik di telinganya, “Singasari memerlukan seorang Senapati sesudah kami yang tua-tua ini akan kehilangan kemampuan karena batas umur kami.”
Dengan demikian maka di saat-saat terakhir agaknya Mahisa Agni benar-benar sedang mengujinya, meskipun ia pun sadar, bahwa kegagalan dalam ujian itu dapat berarti maut.
Dengan demikian, Mahisa Bungalan benar-benar menempatkan diri sesuai dengan keinginan Mahisa Agni. Ia telah mempersiapan diri untuk menghadapi pemimpin tertinggi dari Mahibit, Linggapati.
Mahisa Bungalan ingat, bahwa ia telah berhasil mengalahkan orang kedua dari Mahibit Adik Linggapati yang bernama Linggadadi. Tetapi ia masih harus menjajagi lebih dahulu jika ia berhasil bertemu dengan Linggapati, apakah Linggapati jauh lebih tinggi ilmunya daripada adiknya yang telah terbunuh.
Tetapi Mahisa Bungalan tidak dapat memaksa pasukan induk itu untuk tidak bergeser dari tempatnya. Kekuatan lawan yang memang cukup besar masih saja mendesaknya. Pertempuran yang terjadi tidak saja di jalan menuju ke gerbang istana, tetapi juga di halaman-halaman rumah dan di kebun-kebun yang luas, masih saja menunjukkan bahwa pasukan Mahibit adalah pasukan yang sangat kuat.
Namun sejalan dengan kemajuan pasukan Mahibit, Witantra pun bergerak pula mengikutinya. Agaknya Mahibit tidak mengerahkan bagian dari kekuatannya untuk melawan Witantra. Karena itulah, maka Witantra masih tetap dapat, mengikuti gerak maju pasukan Linggapati sambil bertempur di belakang garis perang.
Kegagalan pasukan, Mahibit di bagian-bagian lain dari Kota Raja itu sama sekali tidak terasa akibatnya bagi induk pasukan, karena betapapun juga, mereka masih tetap dapat mengikat sebagian dari kekuatan Singasari di tempatnya.
Namun laporan-laporan yang terperinci telah banyak memberikan keseimbangan perhitungan bagi para pemimpin yang masih berada di istana.
“Pasukan induk dari Linggapati menjadi semakin dekat dengan halaman istana ini.” seorang penghubung melaporkan.
Mahisa Agni yang menerima laporan itu termangu-mangu sejenak. Agaknya Mahibit benar-benar meletakkan kekuatannya pada induk pasukannya.
Namun Mahisa Agni masih sempat membuat perhitungan bahwa jika kekuatan itu tidak tertahankan, pasukan-pasukan yang berada di bagian lain dari Kota Raja itu akan dapat ditarik.
Namun demikian Mahisa Agni masih belum membuat perubahan-perubahan yang berarti.
Dalam pada itu, Empu Sanggadaru yang berada di halaman itu pula berbisik di telinga Mahisa Agni, “Senapati, perintahkan aku membawa pengawal-pengawalmu di halaman istana ini untuk membantu Mahisa Bungalan. Mungkin kekuatan ini dapat merubah keseimbangan yang hanya berselisih selapis tipis itu.”
Tetapi Mahisa Agni menggeleng. Jawabnya, “Belum perlu Empu. Tetapi bersiaplah, jika keadaan memaksa Empu akan aku persilahkan tampil di medan.”
Demikianlah maka untuk kedua kalinya Kota Raja dalam waktu singkat telah ditimpa bencana. Dalam pertempuran yang terjadi, maka kerusakan tidak dapat dihindarkan lagi. Rumah-rumah yang masih tetap utuh pada saat Empu Baladatu menyerang Kota Raja, kini mendapat giliran untuk dirusakkan oleh orang-orang Mahibit yang tidak kalah garangnya.
Namun dalam pada itu, perlawanan prajurit Singasari pun semakin lama menjadi semakin garang. Pada saat benturan pasukan telah mapan di segala medan, maka lapisan-lapisan di belakang garis pertempuran pun mulai mendekati medan dan terlibat dalam pertempuran itu pula.
Dengan demikian, maka pertahanan pasukan Singasari-pun rasa-rasanya menjadi semakin tebal. Mereka menempatkan dari pada celah-celah pertahanan yang telah ada, sehingga garis pertempuran itu pun menjadi semakin rapat.
Linggapati yang berada di induk pasukannya mulai merasa bahwa pasukannya benar-benar telah tertahan, jika sebelumnya ia masih dapat maju betapapun lambatnya, ternyata kemudian bahwa pasukannya telah terhenti sama sekali. Dengan ketajaman nalurinya, ia mengetahui bahwa pertahanan lawan menjadi semakin rapat dan semakin kuat.
“Gila.” geram Linggapati, “Iblis manakah yang telah membantu pasukan Singasari itu?”
Namun bagaimanapun juga ia berusaha, pasukannya benar-benar telah berhenti.
Jantung Linggapati yang marah itu bagaikan berdentangan. Apalagi ketika ia melihat, bahwa pasukan lawannya tidak saja terdiri dari para prajurit. Menilik pakaian dan kelengkapan perang mereka, maka di antara lawannya telah berbaur kekuatan yang tidak diperhitungkan sebelumnya, meskipun Linggapati tetap tidak dapat digertak karenanya.
Meskipun demikian Linggapati pun tidak dapat mengingkari kenyataan yang dihadapinya, bahwa pasukan Singasari yang terdiri dari bukan saja para prajurit itu, telah berhasil menghentikan gerak maju pasukannya.
Karena itulah, maka oleh kemarahan yang membakar dadanya, maka Linggapati pun kemudian telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk menghancurkan lawan sebaNyak-baNyaknya.
Seperti seekor elang ia menyambar-nyambar dengan senjatanya. Satu-satu lawan yang berani menahannya telah dibinasakan. Senjatanya yang telah menjadi merah oleh darah, seolah-olah mempunyai mata yang melihat korban-korbannya yang telah menunggunya.
Ternyata Linggapati yang mengamuk oleh kemarahan yang memuncak itu telah mempengaruhi keadaan medan. Beberapa orang segera menyibak jika melihat kehadirannya. Mereka hanya berani melawan Linggapati dalam kelompok-kelompok kecil. Namun para pengawal Linggapati pun segera menyerang dan memecahkan kelompok itu bercerai berai.
Gejolak-gejolak kecil di medan itu telah menarik perhatian Mahisa Bungalan. Sebagai seorang yang memiliki pengalaman yang luas, maka ia pun segera mengetahui, bahwa gejolak-gejolak kecil itu tentu disebabkan oleh sebuah kekuatan yang melampaui kekuatan di sekitarnya.
Karena itulah, maka ia pun segera mempersiapkan dirinya untuk mengetahui, siapakah yang telah berada di medan, di antara pasukan lawannya.
“Mungkin orang itulah yang bernama Linggapati.” desisnya kepada seorang pengawal, “Aku akan mencoba menahannya. Mudah-mudahan aku berhasil.”
Linggapati yang sedang mengamuk seperti seekor elang yang lapar itu, tertegun ketika ia melihat kehadiran seorang anak muda yang langsung menghampirinya.
“Anak muda yang perkasa.” ia bergumam di dalam hati melihat sikap dan tatapan mata Mahisa Bungalan.
Mahisa Bungalan langsung mendekati Linggapati yang kemudian memusatkan perhatiannya kepadanya.
“Luar biasa.” geram Mahisa Bungalan, “Agaknya kaulah yang telah menimbulkan goncangan-goncangan di medan ini.”
“Jangan banyak bicara.” potong Linggapati. Agaknya ia memang tidak ingin berbicara apapun. Dengan serta merta ia pun langsung menyerang Mahisa Bungalan yang termangu-mangu.
Tetapi Mahisa Bungalan memang sudah bersiap menghadapinya. Ia pun segera mengelak dan bahkan ia pun telah menyerang kembali lawannya yang menggelarkan itu.
Sejenak kemudian, keduanya telah terlibat dalam pertempuran yang sengit. Linggapati benar-benar menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang memiliki ilmu yang luar biasa, sementara Mahisa Bungalan pun harus langsung mempergunakan ilmunya yang paling tinggi tatarannya untuk melawan orang Mahibit itu.
Sementara itu, seorang pengawal yang melihat bahwa Mahisa Bungalan telah terlibat dalam pertempuran melawan pemimpin tertinggi dari Mahibit itu pun segera menyampaikan laporan kepada Mahisa Agni seperti yang dimintanya.
“Terima kasih.” berkata Mahisa Agni kepada penghubung itu. “Ia telah mulai dengan ujiannya yang terberat.”
Namun dengan demikian, Mahisa Agni telah dapat membayangkan apa yang telah terjadi di seluruh medan di dalam Kota Raja itu. Ia pun mengerti sikap yang, telah diambil oleh Witantra bersama pasukannya.
Karena itulah, maka ia pun kemudian menghadap Ranggawuni dan Mahisa Cempaka yang telah mengenakan pakaian Senapati perang dan berkata, “Tuanku. Hamba mohon diri untuk turun ke medan yang agaknya telah terhenti oleh lapisan-lapisan pertahanan Singasari.”
Ranggawuni menatap Mahisa Agni dengan tajamnya. Ada semacam kecemasan di dalam hatinya, bahwa keadaan meningkat menjadi sangat gawat sehingga Mahisa Agni harus turun langsung ke medan.
Agaknya Mahisa Agni melihat kecemasan itu, sehingga sambil tersenyum ia berkata selanjutnya, “Tuanku. Jika hamba kali ini turun ke medan, bukan karena hamba meragukan pertahanan Singasari. Tetapi semata-mata karena hamba ingin melihat, apakah yang akan dilakukan oleh Mahisa Bungalan. Ia sudah terlibat dalam pertempuran langsung melawan Linggapati.”
Ranggawuni menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya Mahisa Cempaka seakan-akan minta pertimbangan daripadanya.
Baru kemudian ia menjawab. “Baiklah paman. Tetapi paman harus tetap melihat medan dalam keseluruhan. Laporan yang datang akan tetap harus sampai kepada paman.”
“Baiklah tuanku. Hamba akan tetap berusaha mengamati pertempuran dalam keseluruhan.”
Dengan beberapa orang pengawal Mahisa Agni pun kemudian meninggalkan halaman istana setelah ia minta diri kepada para pemimpin yang tetap berada di samping Ranggawuni dan Mahisa Cempaka beserta sejumlah pengawal lerpilih.
Dengan hati-hati Mahisa Agni pun kemudian mendekati medan. Ia masih melewati beberapa kelompok prajurit yang bersiaga di jalan-jalan. Di simpang empat, simpang tiga dan tikungan-tikungan. Meskipun jumlah mereka tidak banyak, tetapi mereka merupakan lapisan-lapisan yang harus ditembus jika orang-orang Mahibit ingin memasuki halaman istana.
“Agaknya Linggapati tidak akan dapat maju lagi.” berkata Mahisa Agni kepada diri sendiri. “Apalagi dengan melalui lapisan-lapisan pertahanan yang berlapis.”
Sebenarnyalah bahwa pasukan Linggapati tidak dapat bergeser lagi. Pertahanan Singasari ternyata cukup kuat menahan pasukannya, sementara pasukannya yang lain, yang terpencar, sama sekali sudah tidak berdaya lagi.
Linggapati yang melihat keadaan yang lain dari perhitungan pun menjadi sangat marah, ia pun sadar, bahwa Singasari memiliki kemampuan untuk merahasiakan dirinya.
“Ternyata Empu Baladatu pun telah terjebak seperti yang aku alami.” berkata Linggapati di dalam hatinya.
Namun Linggapati masih belum berputus asa. Pasukannya masih cukup besar dan kuat. Dan ia pun masih mempunyai banyak harapan, karena pasukannya mempunyai ketahanan yang dapat dibanggakan.
“Tidak semua orang di dalam pasukan Singasari adalah prajurit.” berkata Linggapati kepada diri sendiri, “Jika matahari mulai turun, maka mereka akan kelelahan.”
Dengan perhitungan itulah maka Linggapati bertempur terus. Para pengikutnya pun ternyata tidak juga menjadi cemas karena pertahanan lawan yang rapat. Beberapa orang pemimpin kelompok dengan sengaja menyebarkan keterangan, bahwa lawan mereka tidak semuanya terdiri dari prajurit-prajurit. yang akan mampu bertempur sebagaimana seorang prajurit.
“Mereka akan segera lelah, jika keringat telah membasahi telapak tangan mereka, maka senjata mereka akan segera terlepas.” berkata salah seorang dari mereka kepada orang- orangnya.
Sebenarnyalah ada di antara mereka yang berada di dalam pasukan Singasari, orang-orang yang tidak memiliki ketahanan bertempur. Mereka adalah anak-anak muda yang hanya pada saat terakhir mulai mempelajari olah kanuragan, sehingga mereka hanya sekedar dapat mempergunakan senjata, tetapi daya tahan jasmaniah mereka sama sekali belum terbiasa.
Merekalah yang pertama-tama mulai nampak letih. Satu dua orang di antara mereka seolah-olah telah kehilangan kekuatan, sehingga ayunan senjata mereka sama sekali tidak berarti apa-apa lagi.
Para prajurit yang ada disekitar merekalah yang kemudian mendorong mereka mundur dari medan.
“Lalu, apakah pertahanan ini tidak akan goyah.” bertanya seorang anak muda gemuk.
“Pergilah. Kau sangka, kaulah yang telah menahan orang-orang Mahibit itu?” jawab seorang prajurit.
Anak muda itu termangu-mangu di belakang para prajurit yang bertempur, la mengerutkan keningnya ketika seorang dengan bergesa-gesa berbisik di telinganya, “Pergilah. Beristirahat di lapis berikutnya. Diantara mereka akan datang menggantikan kau dan kawanamu.”
Anak muda itu pun kemudian meninggalkan medan. Ternyata ada beberapa orang lagi yang dengan tergesa-gesa ke pertahanan di lapis berikutnya.
Seperti yang dikatakan, maka beberapa orang prajurit dan pengikut Empu Sanggadaru telah menggantikan mereka pergi ke medan.
“Tinggallah di sini.” pesan prajurit-prajurit itu, “Setelan kau beristirahat, akan dalang giliran kawan-kawanmu yang lain yang harus kau gantikan kedudukannya di medan.”
Namun ternyata bahwa anak-anak muda itu lebih senang menunggu di lapis berikutnya daripada kembali ke medan. Baru setelah mereka sempat merenungkan pertempuran itu. mereka menjadi ngeri.
Tetapi agaknya medan pertempuran itu tidak sangat memerlukan mereka lagi. Prajurit yang ada di lapisan berikutnya sekelompok demi sekelompok ditarik ke medan, setelah pimpinan mereka yakin, lawan tidak akan dapat menembus dari arah manapun.
Dengan demikian maka pasukan Mahibit itu telah benar-benar berada di dalam lingkarang pasukan Singasari. Mereka seolah-olah telah terjebak dalam dinding Kota Raja yang kemudian mengungkungnya.
Namun demikian pasukan Linggapati yang kuat itu masih bertempur dengan sengitnya. Bahkan dalam hentakan-hentakan kekuatan kadang-kadang pasukan Mahibit itu dapat mendorong lawannya surut.
Namun karena kekuatan Singasari semakin lama menjadi semakin mapan, maka Linggapati pun mulai merasakan, bahwa tekanan menjadi semakin berat disegala sisi pasukannya.
Ia sudah mendapat laporan bahwa pasukan yang tidak begitu kuat telah menyerang justru dari arah belakang, sehingga pasukan itu seolah-olah telah menyumbat jalan keluar. Sementara pasukannya yang berada di bagian lain dari Kota Raja telah terbendung sama sekali.
“Gila.” geram Lingapati di dalam hati, sementara ia masih belum berhasil menguasai lawannya yang masih muda itu.
Dalam pada itu, Mahisa Agni yang telah berada di medan bersama beberapa pengawalnya berusaha untuk dapat mengamati Mahisa Bungalan meskipun dari jarak yang tidak terlalu dekat. Mahisa Agni sendiri berusaha agar ia tidak terlibat dalam pertempuran, agar ia dapat menyaksikan pertempuran antara Mahisa Bungalan dengan Linggapati sebaik-baiknya.
Dibawah perlindungan para pengawalnya yang terpercaya Mahisa Agni berdiri termangu-mangu. Ia melihat pertempuran yang mendebarkan. Meskipun pertempuran itu terjadi di tengah-tengah perang yang riuh, namun seolah-olah keduanya telah bertempur di arena yang terpisah, karena tidak ada orang dari pihak manapun yang berani melihatkan diri dalam benturan ilmu yang tinggi itu.
Karena itulah maka Mahisa Agni dapat menyaksikan pertempuran itu agak jelas.
Mahisa Agni lidak merasa cemas melepaskan Mahisa Bungalan mengembara. Bahkan telah terjadi benturan ilmu antara Mahisa Bungalan dengan Linggadadi, dengan Empu Baladatu dan dengan yang lain-lain. Tetapi saat ia bertemu dengan Linggapati, maka hal itu agak mendebarkan jantung Mahisa Agni.
Sebenarnyalah Linggapati adalah seorang yang pilih tanding. Ia memiliki kemampuan ilmu yang tinggi. Kecepatannya bergerak bagaikan kecepatan petir yang meloncat di udara, sedangkan kekuatannya bagaikan dorongan gunung yang runtuh.
Namun Mahisa Bungalan pun memiliki ilmu yang hampir sempurna, la mampu melawan benturan prahara dan angin pusaran. Sentuhan tangannya bagaikan panasnya api, sementara hentakkan kekuatannya seperti benturan alun yang dahsyat di samodera.
Karena itulah maka pertempuran antara keduanya benar-benar merupakan pertempuran yang dahsyat. Lontaran-lontaran kekuatan yang saling menghantam dari keduanya, bagaikan mengguncang seluruh Kota Raja dan menimbulkan badai di medan perang.
“Luar biasa.” desis Mahisa Agni, “Mahisa Bungalan akan menjadi seorang yang memiliki kemampuan yang jarang bandingnya.”
Karena itulah maka Mahisa Agni justru merasa perlu mengamati pertempuran itu. Pengalaman dan sikap Linggapati yang lebih tua itu akan dapat mempengaruhi keseimbangan seandainya keduanya memiliki tingkat ilmu yang sama.
Namun agaknya Mahisa Bungalan yang muda itu pun tidak saja bertempur mempergunakan ilmunya, tetapi juga otaknya. Ia berpikir dengan cermat menghadapi lawannya yang kuat. Dengan perhitungan dan pertimbangan yang mapan ia berhasil menempatkan diri sebagai lawan yang sulit untuk dikalahkan.
Setiap kali Linggapati menggeram oleh kemarahan yang, menghentak dadanya. Lawannya yang muda itu benar-benar membuatnya sangat marah. Ia merasa bahwa tidak banyak orang yang memiliki ilmu setingkat dirinya. Namun anak muda itu ternyata telah dapat mengimbanginya.
“Apakah kau anak iblis.” geram Linggapati.
Mahisa Bungalan mendengar geram itu. Tetapi ia tidak menjawab. Ia pun justru menyerang lebih dahsyat, sehingga Linggapati harus melangkah surut.
Para pengikut Linggapati maupun prajurit Singasari telah menyibak semakin jauh. Namun mereka pun sibuk dalam arena pertempuran mereka masing-masing. Mereka saling mendesak dan saling menekan. Dentang senjata beradu di sela-sela keluhan tertahan, kadang-kadang membuat pertempuran itu menjadi semakin mengerikan.
Dibeberapa bagian beberapa, orang bersorak oleh kemenangan kecil. Namun sorak itu telah memberikan pengaruh pada kawan dan lawan. Tetapi sorak yang mengguruh itu kadang-kadang memang dapat membakar kemarahan, namun juga memhuat hati menjadi kecut.
Demikianlah maka pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin dahsyat. Masing-masing telah mengerahkan segenap kemampuan yang ada untuk berusaha dengan secepatnya mengalahkan lawannya. Bahkan jika mugkin membunuh sebanyak-banyaknya di medan perang yang semakin mengerikan.
Seperti yang diperhitungkan oleh Linggapati, maka semakin banyak di antara anak-anak muda yang mulai kelelahan di pihak Singasari. Mereka satu-satu didesak oleh lawan-lawannya untuk meninggalkan medan, karena keadaan mereka menjadi gawat. Diantaranya telah terluka bahkan ada yang parah. Bahkan ada di antara mereka yang tidak dapat lagi meninggalkan medan, karena dada mereka telah berlubang oleh senjata.
Tetapi pada umumnya anak-anak muda yang hanya berlatih untuk waktu yang singkat itu tidak mendapat tempat di benturan pertama. Namun demikian, susupan-susupan lawan membuat mereka kadang-kadang menjadi korban.
Karena itu, maka anak-anak muda itu semakin banyak yang kemudian menarik diri di garis pertahanan berikutnya yang menjadi semakin sepi, sementara para prajurit dan para pengikut Empu Sanggadaru mengambil alih tempat mereka di medan, karena di lapisan-lapisan berikutnya keadaannya menjadi semakin tenang. Para pengikut Linggapati tidak berhasil menyusup lebih jauh lagi ke belakang garis perang, dari arah manapun juga.
Namun kelelahan yang mulai mengganggu di teriknya matahari yang, merayap di langit terasa mulai mengganggu. Beberapa orang tidak lagi mampu mengatasi keringnya tenggorokan, sementara yang lain merasa keringatnya bagaikan terperas kering.
Tetapi pasukan Singasari tidak menjadi susut. Jika mereka yang kelelahan meninggalkan medan, maka yang tampil kemudian adalah justru para prajurit dan para pengikut Empu Sanggadaru dan bekas pengikut Empu Baladatu yang juga sudah terlatih menghadapi medan yang bertapapun beratnya.
Karena itu, pasukan Singasari rasa-rasanya justru menjadi semakin kuat meskipun jumlahnya tidak bertambah. Dan hal itulah yang ternyata telah menggelisahkan Linggapati.
Dalam pada itu, Mahisa Bungalan masih saja bertempur melawan Linggapati. Keduanya memiliki kemungkinan yang sama untuk menang dan untuk kalah. Meskipun Linggapati memiliki pengalaman yang lebih luas, namun kemudian Mahisa Bungalan nampak pada kemampuannya menguasai tenaga dan badannya. Bahkan semakin lama kekuatan Mahisa Bungalan seakan-akan telah bertambah-tambah.
Namun Linggapati tetap berkeyakinan bahwa ia akan dapat menundukkan lawannya. Bahkan ia sudah mulai memperhitungkan, bahwa kematian Mahisa Bungalan akan melumpuhkan gairah perjuangan para prajurit di Singasari. Sementara itu, beberapa orang kepercayaannya yang berpencar telah ditugaskannya untuk bersama-sama dengan dua tiga otang lainnya, melawan para Senapati yang memiliki kemampuan yang hampir sempurna.
Salah seorang dari mereka, telah bergerak ke bagian belakang dari pasukannya, karena menurut laporan yang diterimanya, pasukan Singasari yang justru menyerang dari belakang itu dipimpin oleh seorang Senapati yang luar biasa.
Namun perlawanan itu tidak banyak memberikan pengaruh. Witantra tetap merupakan seorang yang menghantui medan, meskipun kadang-kadang ia memang tertahan oleh sekelompok kecil lawan yang mengepungnya. Namun pada saat-saat berikutnya maka kepungan itu sudah tidak mampu lagi menahannya, karena Witantra berhasil memecahkan kepungan kecil itu dan kembali bertempur bersama para prajurit.
Di bagian lain dari arena pertempuran itu, Mahendra telah berhasil mendesak lawannya mundur sampai ke pintu gerbang. Bahkan semakin lama, lawan itu pun menjadi semakin kehilangan kemampuan perlawanannya.
Bahkan ternyata mereka telah mengambil kebijaksanaan tersendiri. Pemimpin kelompok yang bertempur melawan pasukan Singasari yang disertai oleh Mahendra dan kedua anaknya itu telah memerintahkan kelompoknya untuk menarik diri dan melingkari dinding Kota Raja, berusaha bergabung dengan induk pasukan.
Mahendra membiarkan sebagian dari pasukan Singasari untuk mengejarnya. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah ikut di dalam pasukan itu dengan pesan, agar setiap perkembangan segera dilaporkan, agar Senapati yang bertugas di kelompok itu dapat mengambil keputusan unluk mengatasinya.
Dibagian lain, Lembu Ampal pun hampir menyelesaikan tugasnya pula. Seorang yang dianggap paling mumpuni di antara lawannya bersama dengan sekelompok kecil sama sekali tidak berhasil menempatkan diri sebagai lawan yang mengikat Lembu Ampal, karena kecepatan bergerak Lembu Ampal tidak dapat mereka imbangi. Sehingga dengan demikian maka Lembu Ampal tetap merupakan lawan yang bagaikan seekor burung elang yang terbang di udara. Sekali-sekali ia menukik dan menyambar mangsanya.
Kehadiran sepasukan kecil pengikut Linggapati yang dengan berlari-lari melingkari dinding Kota telah menimbulkan perubahan di arena pasukan induk. Witantra harus memperhatikan kehadiran mereka yang memasuki pintu gerbang utama.
Mula-mula pasukan itu terkejut karena mereka menjumpai pasukan Singasari di belakang pasukan Linggapati. Namun mereka pun segera melibatkan diri dan bertempur melawan pasukan Witantra yang kecil. Namun perubahan berikutnya segera terjadi ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah hadir pula di arena Pertempuran itu.
“He, paman.” Mahisa Murti berteriak ketika ia melihat Witantra, disambung oleh Mahisa Pukat “Aku disini paman.”
Witantra menarik nafas panjang. Ia melihat kedua anak muda itu. Tetapi ia tidak melihat Mahendra.
“Kedua anak itu telah dilepaskannya.” berkata Wintantra kepada diri sendiri.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bertempur seperti sepasang burung lawet. Dengan lincahnya mereka menyambar-nyambar. Senjata mereka mematuk dengan cepatnya, seolah-olah telah berubah menjadi berpuluh-puluh senjata serupa.
Namun beberapa orang di antara lawan pun memiliki kemampuan yang memadai. Mereka pun segera menempatkan diri untuk melawan kedua anak muda itu, meskipun mereka harus berjumlah lebih banyak.
Sementara itu, pasukan Singasari lambat laun berhasil menguasai medan dalam keseluruhan. Pasukan Linggapati yang kuat itu seakan-akan telah terkepung. Gerak mereka dapat dibatasi pada suatu daerah yang meskipun cukup luas, tetapi tidak lagi akan dapat menebar.
Beberapa bagian halaman kedua dan jalan-jalan Kota Raja merupakan ajang dari pertempuran yang dahsyat itu. Namun seakan-akan segala pintu sudah ditutup. Kepungan prajurit Singasari cukup rapat.
Linggapati menyadari keadaannya. Tetapi ia pun masih percaya akan kekuatan pasukannya. Betapapun rapatnya kepungan prajurit Singasari, namun pada suatu saat Linggapati yakin, bahwa ia akan dapat memecahkan kepungan itu dan membawa pasukannya menduduki istana dan seluruh Kota Raja, dan menghancurkan kekuatan Singasari.
Tetapi Linggapati benar-benar heran melihat kemampuan Mahisa Bungalan. Ia merasa bahwa ilmu kanuragan yang dipelajarinya seolah-olah telah tuntas, sehingga tidak banyak orang yang akan dapat menyamainya. Bahkan Linggapati yakin, bahwa ia akan dapat melawan orang yang paling banyak dikenal di Singasari sebagai seorang Senapati Agung yang disegani oleh semua prajurit, Mahisa Agni.
Namun ternyata bahwa Mahisa Bungalan yang muda itu masih mampu mengimbanginya. Bahkan semakin lama justru menjadi semakin berat.
Mahisa Agni yang mengawasi pertempuran itu dari kejauhan masih harus menahan nafas. Ujian itu merupakan ujian yang sangat berat bagi Mahisa Bungalan. Namun setelah beberapa kali Mahisa Bungalan dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik, maka Mahisa Agni pun mengharap bahwa kali ini Mahisa Bungalan akan dapat berhasil pula.
Tetapi agaknya Linggapati memang memiliki kelebihan dari Empu Baladatu. Kekuatan yang terlontar dari serangan-serangannya yang cepat, kadang-kadang sangat mendebarkan jantung.
Namun Mahisa Bungalan pun telah mengerahkan segenap kemampuannya. Ia pun ternyata menyadari, bahwa lawannya yang bernama Linggapati itu memiliki kemampuan yang luar biasa. Kecepatannya bergerak hampir tidak dapai diikutinya. Hanya dengan hentakan kekuatan dan kemampuannya sajalah maka ia berhasil mengimbanginya. Sementara itu kekuatan tenaganya pun merupakan kekuatan tenaga raksasa.
Dengan demikian, maka pertempuran di antara kedua orang itu pun kian menjadi bertambah seru. Sementara para pengikut Linggapati dan para prajurit Singasari telah menyibak semakin jauh, seperti dahsyatnya dua ekor gajah yang sedang berlaga, sementara binatang-binatang kecil pun telah menghambur menjauhinya.
Mahisa Agni masih tetap di tempatnya. Disaat-saat terakhir ia benar-benar menjadi tegang. Linggapati agaknya telah mempergunakan segenap ilmu yang dimilikinya. Ilmu yang dapat mendorong kecepatan geraknya, dan ilmu yang dapat menjadikan kekuatan badannya berlipat-lipat.
Mahisa Bungalan tidak mau menjadi lumat oleh dera ilmu lawannya. Ia pun telah mempergunakan segala macam ilmu yang ada padanya. Ilmu yang pernah dipelajarinya dari ayahnya dan pamannya Witantra yang bersumber dari guru yang sama, dan ilmu yang diberikan oleh Mahisa Agni atas ijin ayahnya.
Ilmu yang tersalur dari dua cabang perguruan itu telah luluh di dalam dirinya, sehingga Mahisa Bungalan benar-benar menjadi seorang anak muda yang pilih tanding.
Meskipun demikian, kadang-kadang sambaran kecepatan ilmu Linggapati telah terlambat dihindarinya. Linggapati mampu menyerang beruntun dalam beberapa tingkatan, sehingga senjatanya kadang-kadang bagaikan terbang mengitari lawannya, sehingga sekali-sekali tubuh Mahisa Bungalan telah disengatnya.
Namun Mahisa Bungalan pun segera menyusul kekalahannya. Dengan tangkasnya ia memburu lawannya yang sedang mencoba menyusun serangan.
Tetapi Linggapati selalu berhasil menghindar. Serangan senjata Mahisa Bungalan kadang-kadang sekedar lewat saja di samping telinganya. Bahkan kadang-kadang di sela-sela lambung dan tangannya.
Namun Mahisa Bungalan mampu berpikir di dalam kesibukan pertempuran. Ia tidak mempergunakan unsur-unsur gerak yeng murni lagi. Ilmunya yang telah luluh memungkinkannya untuk mengatur susunan unsur-unsur geraknya dengan bentuk yang lebih rumit dan bersusun.
Meskipun titik darah lebih dahulu mengembun dari kulit Mahisa Bungalan yang tersentuh senjata lawan, namun Mahisa Bungalan yang muda itu sama sekali tidak terpengaruh olehnya. Hentakan-hentakan kekuatannya, masih mampu mengejutkan dan bahkan sekali-sekali mendesak lawannya yang tangguh.
Semakin lama Mahisa Agni menjadi semakin tegang. Ia pun kemudian melihat kemudaan Mahisa Bungalan yang masih dikuasai oleh perasaannya, sehingga kadang-kadang kemarahannya nampak menggelora di antara tata gerak ilmunya.
Namun Mahisa Agni masih juga mempunyai harapan, bahwa Mahisa Bungalan akan menemukan keseimbangan yang sebaik-baiknya menghadapi lawannya yang tangguh.
Serangan Linggapati semakin lama menjadi semakin cepat. Senjatanya berputar seperti baling-baling ditiup angin. Bahkan kadang-kadang bagaikan melibat lawannya seperti segumpal awan.
Mahisa Bungalan harus menghindar dengan hati-hati. Tetapi setiap kali ia berhasil mematahkan serangan lawannya dengan kekuatannya. Kadang-kadang Mahisa Bungalan memaksa diri dengan lambaran kekuatannya sepenuhnya, menghantam putaran senjata lawannya yang bagaikan segulung asap.
Setiap terjadi benturan, maka keduanya selalu terkejut meskipun hai itu sudah berulang kali. Masing-masing seakan-akan masih belum meyakini kekuatan lawan sepenuhnya, sehingga kadang-kadang mereka masih ragu-ragu dan kejutan-kejutan masih saja terjadi.
Dentang senjata kedua raksasa yang bertempur itu bagaikan teriakan aba-aba yang mengguncangkan setiap jantung dari setiap orang di dalam kedua pasukan yang sedang bertempur itu.
Mahisa Agni yang, bagaikan terikat kepada pertempuran yang dahsyat antara Mahisa Bungalan dan Linggapati itu, sekali-sekali sempat juga menyaksikan seluruh arena pertempuran. Ternyata bahwa keseimbangan pertempuran itu telah berubah perlahan-lahan. Prajurit-prajurit Singasari yang dilengkapi oleh para pengikut Empu Sanggadaru dan bekas pengikut Empu Baladatu, ternyata memiliki kekuatan yang cukup untuk menekan pasukan Mahibit yang sudah dipersiapkan masak-masak oleh Linggapati.
Tetapi ada sesuatu yang ternyata berada diluar perhitungannya. Ikut sertanya pengikut Empu Sanggadaru yang jumlahnya cukup banyak, setelah orang-orang yang pernah menamakan dirinya kelompok Serigala Putih dan Macan Kumbang bergabung kepadanya. Apalagi karena para pengikut Empu Baladatu yang tertawan berusaha untuk menebus kebebasan mereka dengan melibatkan diri di medan perang.
Memang ada yang terbunuh diantara mereka. Tetapi yang masih hidup mulai berpengharapan, karena pasukan Mahibit semakin lama menjadi semakin terhimpit oleh kekuatan yang cukup besar.
Apalagi akhirnya Mahendra telah hadir pula di dalam pertempuran itu bersama sebagian pasukannya. Disusui oleh Lembu Ampal yang telah menyelesaikan pertempuran karena lawannya telah menyerah, sementara sebagian berusaha untuk bergabung dengan induk pasukannya seperti yang terjadi atas lawan yang bertempur melawan pasukan Mahendra.
Dengan demikian, maka pasukan Singasari menjadi semakin besar. Senapatinya pun menjadi semakin lengkap di medan yang sama, sementara dibagian lain telah diserahkan kepada beberapa kelompok untuk sekedar mengawasi keadaan dan memberikan laporan jika terjadi sesuatu yang gawat.
Akhirnya Linggapati tidak dapat mengingkari kenyataan. Ia mempunyai beberapa orang Senapati pilihan yang diperhitungkan akan dapat melawan beberapa orang terpenting di Singasari bersama beberapa orang terpilih dalam kelompok-kelompok kecil. Namun ternyata bahwa perhitungan itu tidak sepenuhnya dapat dilakukan. Prajurit-prajurit Singasari yang mengetahui cara itu pun selalu berusaha untuk memecah setiap kelompok yang tersusun. Prajurit-prajurit Singasari selalu berhasil memancing mereka seorang demi seorang untuk memberikan perlawanan, sehingga kelompoka kecil itu tidak pernah dapat dengan bulat dihadapkan kepada Lembu Ampal, Mahendra atau Witantra.
Itulah sebabnya, maka semakin lama, pasukan Mahibit menjadi semakin terhimpit. Mahendra telah mengambil tempat di sayap sebelah menyebelah dengan Lembu Ampal, sementara Witantra bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru berada diseberang pasukan Linggapati.
Akhirnya, pasukan Mahibit itu tidak mempunyai jalan lagi untuk membebaskan diri. Mereka sudah berusaha mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk memecahkan kepungan. Tetapi rasa-rasanya kepungan itu justru menjadi semakin rapat dan semakin sempit. Apalagi pintu gerbang utama pun telah tersumbat oleh pasukan Witantra dan pasukan Mahisa Murti serta Mabisa Pukat.
Linggapati menggeretakkan giginya ketika ia menyadari kesulitan yang sedang dihadapi. Namun ia sudah bertekad untuk membunuh lawannya itu lebih dahulu sebelum ia mengambil sikap yang lain.
Karena itu, maka ia pun bertempur semakin sengit. Serangannya datang membadai dengan dahsyatnya. Namun Mahisa Bungalan pun telah mengerahkan segenap ilmunya. Ia pun bertekad untuk membinasakan Linggapati sebelum pasukan Mahibit lebih banyak menimbulkan bencana.
Dengan hentakan kekuatan, maka masing-masing telah berusaha membunuh lawannya. Senjata Mahisa Bungalan yang meronta-ronta di tangannya, masih belum berhasil menyentuh lawannya, sedang kulitnya sendiri telah menitikkan darah. Namun darah itulah agaknya yang telah membuatnya menjadi semakin garang. Serangan- serangannya datang bagaikan prahara menghantam wajah lautan sehingga menumbuhkan gelombang yang semakin lama menjadi semakin dahsyat.
Dengan demikian, maka Mahisa Bungalan dan Linggapati yang berdiri berhadapan itu seolah-olah sedang melakukan perang tanding tanpa ada seoorang pun yang. mengganggunya. Bahkan seakan-akan peperangan itu tergantung pada keduanya. Meskipun tidak berjanji, tetapi seakan-akan keduanya telah mempertaruhkan segenap medan. Siapakah yang menang, maka ialah yang akan berkuasa di seluruh medan pertempuran itu.
Linggapati yang merasa dirinya terjebak seperti yang telah terjadi pada Empu Baladatu. sekali-sekali juga disentuh oleh kegelisahan. Namun ia pun berusaha untuk membebaskan dirinya dan memusatkan segenap kemampuannya untuk melawan Mahisa Bungalan.
Namun ternyata ketahanan tubuh Mahisa Bungalan yang masih muda itu benar-benar mengagumkan. Setelah memeras tenaga dan segenap kemampuan serta ilmunya beberapa lamanya, namun nampaknya Mahisa Bungalan masih tetap segar. Bahkan titik darah dari tubuhnya, membuatnya semakin garang seperti banteng yang terluka.
Sementara Linggapati telah mulai merasakan licinnya keringat di telapak tangannya. Bahkan kadang-kadang nafasnya mulai terasa melonjak di dadanya.
“Persetan.” ia menggeram.
Namun ia tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa lawannya benar-benar seorang yang luar biasa.
Ketika Mahisa Bungalan semakin mendesaknya, maka Linggapati benar-benar telah sampai kepuncak ilmunya. Perlahan-lahan namun pasti, tenaganya justru semakin berkembang. Bukan tenaga wadagnya, tetapi tenaga cadangannya telah tersalur pada senjatanya.
Mahisa Bungalan merasakan tekanan yang tidak sewajarnya itu. Ia pun merasa, bahwa Linggapati memang sudah tidak mempunyai pilihan lain. Senjata pamungkas itu memang disimpannya untuk memberikan pukulan terakhir.
Tetapi Mahisa Bungalan pun masih sempat memberikan imbangan. Ilmu yang tersalur dari cabang perguruan yang berbeda yang telah luluh di dalam dirinya itu pun seakan-akan dengan sendirinya telah tergugah dalam desakan ilmu lawannya.
Dengan demikian, maka pertempuran itu pun menjadi semakin dahsyat. Keduanya mulai mempergunakan tenaga cadangan yang ada di dalam diri masing-masing, sehingga benturan-benturan senjata mereka pun menjadi semakin dahsyat.
Namun agaknya kemampuan tenaga yang tuntas tertuang dalam benturan senjata masinga telah melampaui kekuatan senjata mereka. Ketika Linggapati mengayunkan senjatanya menghantam kening Mahisa Bungalan, maka dengan lambaran ilmu puncaknya Mahisa Bungalan yang tidak sempat mengelak itu pun telah menangkis dengan senjatanya pula.
Benturan itu telah terjadi dengan dahsyatnya. Benturan kekuatan yang tidak sewajarnya itu telah menumbuhkan ledakan yang mengejutkan. Loncatan bunga api yang, kemerah-merahan memercik dari sentuhan kedua senjata itu. Namun yang telah mengejutkan setiap orang yang sempat melihat, ternyata kedua senjata yang merupakan senjata pilihan itu tidak kuat mengalami tekanan benturan kekuatan dari dua ilmu raksasa itu.
Mahisa Bungalan dan Linggapati sendiri terkejut ketika mereka merasakan, bahwa senjata mereka masing-masing telah retak dan bahkan kemudian patah.
Hampir bersamaan kedua orang itu pun meloncal mundur. Jika semula mereka mengira bahwa hanya senjatanya sajalah yang patah, maka kemudian mereka pun menyadari, bahwa senjata keduanya telah patah.
“Gila.” geram Linggapati.
Mahisa Bungalan tidak menjawab, ia sadar sepenuhnya bahwa kekuatan ilmu puncaknya ternyata seimbang dengan kekuatan Linggapati. Demikian dahsyatnya sehingga kedua senjata yang beradu dengan lambaran ilmu itu telah patah bersama-sama.
Linggapati kemudian melemparkan senjatanya yang telah patah. Mahisa Bungalan pun melakukannya pula, sehingga keduanya telah berhadapan dengan tanpa senjata di tangan.
Dengan demikian keduanya sadar, bahwa pertempuran itu masih akan berlangsung lama. Masing-masing masih harus menguji daya tahannya, agar tidak jatuh ke dalam kesulitan karena kelemahannya.
Namun dalam pada itu. Linggapati mulai menjajagi kemampuan dirinya. Ia setiap kali berusaha untuk menguasai pernafasannya yang mulai mengganggu. Tetapi sampai pada saat mereka harus bertempur tanpa senjata, Mahisa Bungalan masih belum melihat kelemahan pada lawannya itu.
Tetapi dengan demikian, maka Linggapati mengambil keputusan untuk dengan cepat menyelesaikan pertempuran itu sebelum ia terganggu oleh nafasnya. Dengan cermat ia mempelajari kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilaksakannya dalam pertempuran tanpa senjata itu.
Namun ia tidak segera dapat menemukannya.
Karena itulah, maka kegelisahannya pun menjadi semakin menjalar di dalam dirinya, sejalan dengan meningkatnya gangguan pernafasannya. Meskipun untuk beberapa saat ia masih dapat mengatasinya, tetapi Linggapati sadar, bahwa jika ia tidak segera dapat menyelesaikan pertempuran itu, maka kesulitan itu pun akan datang. Apalagi jika lawannya menyadari kesulitannya itu.
Untuk beberapa saat Linggapati masih berusaha untuk mengatur diri. Jika semula ia merasa yakin akan dapat membinasakan anak muda itu, maka kini ia harus berhadapan dengan kenyataan tentang lawannya itu.
Ternyata bahwa perhitungan Mahisa Bungalan pun cukup cermat. Ia melihat beberapa kemungkinan dari pertempuran itu, termasuk pertimbangan tentang ketahanan tubuh.
Keragu-raguan yang tampak disorot mata Linggapati telah menumbuhkan kesan tersendiri pada Mahisa Bungalan. Juga sikap ragu-ragu lawannya.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar