Selasa, 02 Februari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 36-03

* SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 36-03*

Karya : SH Mintardja

Tetapi ketika beberapa orang prajurit mengepung Empu Baladatu, maka Mahisa Bungalan berkata lantang, “Aku sedang perang tanding.”

Tidak seorangpun yang berani membantunya. Setiap bantuan, tentu dianggap sebagai suatu penghinaan bagi Mahisa Bungalan yang sedang bertempur melawan Empu Baladatu dipanasnya cahaya matahari pagi.

Namun ternyata bahwa tenaga Empu Baladatu benar-benar telah terperas habis, sehingga ia merasa semakin sulit untuk mengimbangi serangan-serangan Mahisa Bungalan yang datang membadai.

Tetapi bagaimanapun juga Empu Baladatu adalah orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Itulah sebabnya, maka ia masih juga menunjukkan, bahwa ia mampu bergerak cepat, dan mempunyai tenaga serangan yang mematikan.

Mahisa Bungalan yang, masih lebih muda, mempergunakan keadaan itu sebaik-baiknya. Nafasnya yang masih teratur dan tenaganya yang masih lebih segar dari lawannya, betapapun ia sudah memerasnya, memberikan lebih banyak kemungkinan dari Empu Baladatu.

Selagi pertempuran seorang melawan seorang itu masih berlangsung dengan sengitnya, para prajurit Singasari benar-benar telah menguasai keadaan. Para pengikut Empu Baladatu benar-benar telah dapat dikalahkan. Selain yang terbunuh, maka sebagian dari mereka telah melepaskan senjata mereka dan menyerah.

“Anak buahmu telah habis Empu.” terdengar suara dari luar medan.

“Jangan ganggu orang tua itu.” Mahisa Bungalan lah yang menyahut.

Tetapi jawaban itu telah menghina Empu Baladatu. Maka ia pun berteriak, “Apa peduliku dengan orang-orang licik dan pengecut itu.”

Tetapi ternyata yang muncul di pinggir arena adalah Mahisa Agni. Dengan wajah yang berkerut-kerut ia mendekati kedua orang yang sedang bertempur itu. Bahkan seolah-olah tidak menghiraukan bahwa kedua orang itu adalah orang-orang yang pilih tanding, Mahisa. Agni berdiri dengan tenangnya.

Sekali lagi ia berkata, “Apakah tidak sepantasnya pertempuran ini diakhiri? Anak buah Empu Baladatu sudah tidak ada seorangpun lagi.”

Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Tetapi setelah ia mengetahui bahwa yang mengucapkan kata-kata itu adalah Mahisa Agni, ia tidak berani menyahut. Apalagi membentak.

Empu Baladatu memandang Mahisa Agni sejenak. Dengan geram ia berkata, “Kau akan ikut bertempur bersamanya? Cepat, aku bunuh kalian berdua bersama-sama.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kadang-kadang orang tua. masih saja merindukan masa lampaunya. Masa kejayaannya. Tetapi masa itu sudah lewat Empu. Umurmu tidak lebih muda dari Mahisa Bungalan, sehingga karena itu. maka kesempatanmu pun tidak sama dengan lawanmu yang masih muda itu.”

“Persetan.” Empu Baladatu berteriak sambil menghentakkan senjatanya.

Tetapi serangannya itu bukannya serangan yang. dapat memberikan tekanan pada kata-katanya. Empu Baladatu benar-benar telah mengerahkan segenap tenaganya.

Namun demikan, Empu Baladatu benar-benar seorang yang keras hati. Tidak terpikir sama sekali olehnya untuk menyerah. Betapapun keadaannyan, maka ia sudah bertekad untuk bertempur.

Itulah sebabnya, maka Mahisa Bungalan pun masih harus melayaninya. Ternyata bahwa pertempuran di dalam halaman dan di luar halaman istana sudah seluruhnya berakhir. Hanya tinggal Empu Baladatu seorang diri yang masih mempertahankan harga dirinya.

“Kau tidak punya kawan lagi Empu.” Mahisa Agni ma sih berusaha untuk mendapat perhatian.

Tetapi Empu Baladatu benar-benar tidak mau mendengarkan. Ia bertempur semakin bernafsu. Kadang-kadang liar dan kasar, meskipun tenaganya benar-benar semakin susut.

Empu Baladatu ternyata tidak mau sedikitpun menghiraukan kenyataan tentang dirinya dan pasukannya. Ia bahkan mempergunakan setiap kesempatan dengan licik, justru pada saat-saat Mahisa Bungalan memberikan kesempatan itu kepadanya untuk mendengarkan keterangan Mahisa Agni.

Akhirnya Mahisa Bungalan yang muda itu tidak lagi melihat, sepercik niat baik pada diri Empu Baiadatu. Orang itu benar-benar telah membeku hatinya. Meskipun di halaman itu mayat seolah-olah telah bertimbun, namun Empu Baladatu tidak mempunyai niat untuk menghentikan peperangan. Bahkan ia mengumpat tidak habis-habisnya melihat orang-orangnya yang sama sekali sudah tidak berdaya.

Dengan demikian, maka Mahisa Bungalan itu menjadi muak melihat lawannya. Ia sudah cukup lama bertempur. Tidak ada tanda-tanda bahwa Empu Baladatu akan menghentikan pertempuran.

Karena itulah, maka ia merasa wajib untuk berusaha menghentikan pertempuran itu. Apapun akibatnya, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi lawannya.

Sedangkan satu-satunya cara adalah melumpuhkan lawannya.

Karena itulah maka Mahisa Bungalanpun kemudian menyerang lawannya semakin dahsyat. Kemudaannya ternyata sangat menguntungkan menghadapi Empu Baladatu. Ketahanan tubuhnya dan gelegak darah mudanya di dada. kemudian telah menentukan akhir dari pertempuran itu.

Empu Baladatu yang semakin susut tenaganya, akhirnya menjadi lengah. Ia tidak mampu lagi berusaha untuk melingkari lawannya, justru karena nafasnya menjadi semakin memburu. Apalagi Mahisa Bungalan dengan sengaja telah bertempur dengan loncatan-loncatan panjang, untuk memancing agar lawannya benar-benar memeras tenaganya yang tersisa.

Empu Baladatu masih sempat mengumpat. Tetapi senjata Mahisa Bungalan ternyata mulai menyentuh tubuhnya, sehingga darahnya mulai mengalir di antara keringatnya yang membasahi tubuh.

“Gila.” teriak Empu Baladatu.

Mahisa Bungalan tidak menyahut. Ia sadar, bahwa Empu Baladatu masih mengerahkan puncak ilmunya di saat-saat nafasnya sudah hampir terputus, sehingga orang itu tetap sangat berbahaya baginya.

Namun darah yang mulai meleleh dari luka itu, membuat tenaganya semakin susut. la tidak dapat melawan keharusan pada wadagnya, bahwa luka-lukanya dapat mengganggunya justru pada saat yang gawat.

Tetapi semakin ia mengerahkan kemampuannya, maka rasa-rasanya darah menjadi semakin banyak mengalir dari lukanya.

“Empu.” berkata Mahisa Agni, “Masih ada kesempatan untuk menghentikan pertempuran.”

Tetapi Empu Baladatu sama sekali tidak menghiraukannya. Dengan buasnya ia menyerang Mahisa Bungalan. Serangannya yang sudah tidak mapan lagi justru telah membuat Mahisa Bungalan menjadi ngeri. Wajah orang tua berilmu hitam itu bagaikan wajah hantu yang mengerikan.

Kengerian itulah yang membuat Mahisa Bungalan pun menjadi semakin kasar. Rasa-rasanya ia bagaikan dikejar-kejar oleh wajah hantu yang bangkit dari dasar bumi.

Karena itulah, tidak ada cara lain untuk menghindarkan diri dari pertempuran itu selain menghentikan perlawanan Empu Baladalu itu sama sekali. Meskipun itu akan berarti membunuhnya, jika senjatanya mematuk terlalu keras dari sekedar melumpuhkan.

Dengan demikian maka serangan Mahisa Bungalan tidak lagi tertahan-tahan. Bagaikan banjir bandang ia menyerang dengan senjatanya, Semakin lama semakin sengit, justru saat-saat Empu Baladatu menjadi semakin lemah.

Ketika darah Empu Baladatu bagaikan memerahi tubuhnya bercampur keringat, maka tikaman Mahisa Bungalan tidak dapat dielakkannya lagi. Sebuah luka telah menganga di dadanya.

Terdengar Empu Baladatu mengeluh. Terhuyung-huyung ia terdorong surut. Namun wajahnya masih saja seperti wajah hantu yang memandang Mahisa Bungalan dengan sorot mata yang mengerikan.

Mahisa Bungalan benar-benar menjadi bingung menghadapi tatapan mata itu. Karena itulah, seolah-olah diluar sadarnya, ia meloncat sekali lagi. Ia harus memusnakan wajah yang memandangnya dengan sangat mengerikan itu.

Itulah sebabnya, maka tusukan berikutnya telah menghempaskan Empu Baladatu. Orang itu terjatuh di tanah dengan semburan darah dari luka-lukanya.

Ketika Mahisa Bungalan siap untuk menghunjamkan senjata sekali lagi justru oleh kengerian yang mencekam jantung, Mahisa Agni sempat mencegahnya. Selangkah ia maju sambil memanggilnya, “Mahisa Bungalan. Hentikan kekacauan nalarmu. Kau adalah seorang kesatria yang menghadapi lawan sudah tidak berdaya.”

Mahisa Bungalan bagaikan tersadar dari mimpi yang sangat buruk. Ia menghentikan langkahnya. Ketika terpandang olehnya wajah Mahisa Agni yang lembut tetapi bagaikan tajamnya sembilu menusuk hati, anak muda itu melangkah surut sambil menundukkan kepalanya.

Sesaat Mahisa Agni memandang anak muda itu. Namun kemudian Perlahan-lahan ia mendekati Empu Baladatu, disusul oleh Witantra dan Mahendra.

Empu Baladatu yang terbaring di tanah masih sempat memandang orang-orang yang mengerumuninya dengan sorot dendam yang menyala di dalam hati. Tetapi ia sudah tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Bahkan menarik nafaspun rasa-rasanya dadanya sudah terlalu lemah.

Masih terdengar orang itu mengumpat. Namun kemudian wajahnya bagaikan menjadi beku ketika matanya perlahan-lahan telah terpejam.

Empu Baladatu yang garang itu akhirnya terbunuh di medan oleh Mahisa Bungalan. Anak muda yang tumbuh dengan cepatnya di antara mereka memiliki ilmu yang tinggi di dalam oleh kanuragan.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kematian Empu Baladatu merupakan pertanda akhir dari pertempuran yang terjadi di halaman istana dan di seluruh Kota Raja. Ia mati di antara korban-korban lain yang berjatuhan dari kedua belah pihak.

Ketika Mahisa Agni kemudian memandang berkeliling, nampak wajah-wajah yang tegang dari para prajurit Singsari dan wajah-wajah murung dari para pengikut Empu Baladatu yang terpaksa menyerah karena mereka tidak berpengharapan lagi untuk berbuat apapun juga.

“Semuanya telah terselesaikan.” berkata Mahisa Agni, “Kini kita semuanya menghadapi tugas baru. Kita harus menyelenggarakan para korban.”

Para prajurit Singasari menarik nafas dalam-dalam. Mereka adalah termasuk orang-orang yang lolos dari kematian. Namun terasa dada merekapun bergetar ketika terpandang oleh mereka mayat yang berserakan di halaman dan bahkan di jalan-jalan Kota Raja.

“Mumpung kalian masih basah oleh keringat.” berkata Mahisa Agni, “Lakukanlah. Kemudian kalian akan dapat beristirahat dengan tenang.”

Betapapun lelahnya, tetapi para prajurit memang merasa sebaiknya semua pekerjaan diselesaikan sama sekali. Sehingga kemudian mereka akan dapat beristirahat tanpa kegelisahan oleh tugas-tugas yang masih merasa menjadi beban mereka.

Dengan demikian, maka merekapun segera mengumpulkan mayat yang berserakan. Para pengikut Empu Baladatu yang telah menyerahpun harus melakukannya pula di bawah pengawasan para prajurit.

Sementara itu, seperti yang dikatakan oleh Mahisa Agni, Singasari telah mengirimkan penghubung ke tempat-tempat yang tidak terlalu jauh, untuk menarik para prajurit yang sedang bertugas di daerah-daerah terpencil. Mereka harus segera berada di Kota Raja menghadapi perkembangan keadaan.

Namun di antara para penghubung, dua orang harus menjumpai Empu Sanggadaru yang berada di padukuhan yang tidak jauh dari gerbang Kota Raja. Keduanya membawa kabar, bahwa Empu Baladatu, adik Empu Sanggadaru telah terbunuh dalam perang tanding melawan Mahisa Bungalan.

Berita itu diterima oleh Empu Sanggadaru dengan hati yang pedih. Bagaimanapun juga, Baladatu adalah adiknya.

“Aku akan segera datang.” berkata Empu Sanggadaru. Dengan beberapa orang pengawalnya, Empu Sanggadaru pun kemudian memasuki pintu gerbang Kota Raja.

Ketika terpandang olehnya korban yang sedang, dikumpulkan, maka terasa betapa jantungnya bergejolak. Diluar sadarnya ia mengusap dadanya dengan telapak tangannya sambil berdesis, “Manusia memang merupakan bahaya yang paling garang bagi sesamanya.”

Namun Empu Sanggadaru dapat mengerti, bahwa bagi Singasari memang tidak ada pilihan lain, jika Singasari masih ingin tetap berdiri.

Dengan wajah yang suram Empu Sanggadaru memandang mayat adiknya yang. terbujur di antara jajaran mayat pengikutnya. Tetapi orang tua itu harus mengikhlaskannya.

“Ia sudah memetik buah dari tanamannya sendiri.” gumam Empu Sanggadaru, “Betapapun juga aku mencoba mencegahnya, namun sia-sia. Dan akhir yang demikianlah agaknya memang sudah menjadi pola hidupnya.”

Mahisa Agni yang berdiri di sampingnva memandangnya sejenak. Namun kemudian katanya, “Marilah Empu. Naiklah kepaseban. Tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka akan mengadakan sidang untuk menanggapi keadaan yang berkembang dengan cepatnya.”

“Apakah aku diperkenankan hadir?” bertanya Empu Sanggadaru.

“Kita akan berbicara tentang persoalan yang sangat luas.” jawab Mahisa Agni.

Empu Sanggadaru masih ragu-ragu. Tetapi Mahisa Agni mendesaknya agar ia ikut hadir dalam pembicaraan tentang masa depan Singasari.

“Baiklah.” berkata Empu Sanggadaru, “Mungkin ada sesuatu yang penting aku dengar.”

Demikianlah, maka Empu Sanggadaru telah hadir dalam pembicaraan di pasehan mengenai nasib Singasari.

“Aku sudah mengirimkan penghubung untuk menarik para prajurit yang tersebar di daerah-daerah terpencil.” berkata Ranggawuni.

“Mudah-mudahan mereka akan dapat segera datang.” Desis Mahisa Agni.

“Mudah-mudahan. Kita masih menghadapi persoalana yang gawat.” sahut Ranggawuni. Kemudian, “Kita berterima kasih kepada Empu Sanggadaru yang sudah siap membantu kita jika sesuatu terjadi.”

“Itu adalah kewajiban kami.” sahut Sanggadaru.

Dengan tandas Ranggawuni menjelaskan apa yang sudah terjadi sampai saat kematian Empu Baladatu. Namun ia pun memberitahukan kemungkinan yang dapat terjadi atas Singasari karena sikap orang-orang Mahibit.

“Kemenangan yang baru saja kita capai jaganlah membuat kita lengah. Setiap saat bahaya yang lain akan datang menerkam Kota Raja. Justru pada saat kita sedang parah.” berkata Ranggawuni, “Karena itulah, maka aku berharap agar dalam kelelahan ini, kita akan tetap sadar bahwa kita masih harus tetap berjaga-jaga.”

Empu Sanggadaru yang segar- itupun berkata, “Tuanku. Dalam pertempuran yang baru lalu ternyata kami tidak mendapat kesempatan untuk ikut serta. Karena itu, maka kami akan melakukan setiap perintah tuanku menghadapi setiap kemungkinan yang bakal datang.”

“Terima kasih Empu. Tetapi sudah tentu bahwa kami tidak akan dapat membebankan segalanya kepada Empu Sanggadaru.”

“Kami akan berbuat sejauh dapat kami lakukan.”

Ranggawuni meng-angguk-angguk. Ia percaya bahwa Empu Sanggadaru bukan sekedar mencari pujian. Tetapi dengan tulus ia telah mengerahkan kekuatan yang ada padanya untuk membantu kesulitan yang dialami oleh Singasari. Orang-orang yang pernah menyebut dirinya gerombolan Serigala Putih dan Macan Kumbang, kini merupakan kekuatan yang besar yang dapat digerakkan untuk kepentingan yang berlawanan dengan kegiatan kedua gerombolan itu pada masa lampau.

Dalam pada itu, selagi para pemimpin di paseban membicarakan masalah-masalah pokok yang akan dihadapi oleh Singasari, maka di halaman dan di Kota Raja, para prajurit dan para tawanan sedang sibuk mengumpulkan mayat yang berserakkan.

Namun sementara itu, di Mahibit, Linggapati sedang mendengar laporan penghubungnya yang baru datang dari Singasari. Dengan yakin penghubung itu mengatakan, bahwa Singasari kini telah lumpuh. Siapapun yang menang, dalam pertempuran yang telah terjadi, mereka tidak akan mampu bertahan jika badai berikutnya datang menghantam Kota Raja.

“Kita akan bersiap-siap.” berkata Linggapati.

“Bukan sekedar bersiap-siap.” sahut penghubung itu, “Tetapi kita akan segera berangkat.”

“Tentu tidak sekarang.” jawab Linggapati, “Tetapi kita harus mengumpulkan semua kekuatan untuk menghantam Kota Raja.”

“Kota Raja sudah terlalu lemah.”

Linggapati termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Jika demikian kita tidak perlu mengadakan gerakan di daerah-daerah terpencil. Kita akan langsung memasuki Kota Raja dan menghancurkannya.”

“Ya. Kita akan banyak kehilangan waktu untuk menunggu kekalutan yang terjadi di mana-mana. Sebelum para prajurit siap menghimpun diri, kita akan datang untuk menghancurkannya.”

“Baiklah. Tetapi itu memerlukan satu dua hari. Kekuatan kita tidak berkumpul di bawah satu atap. Bahkan tidak berada di satu padepokan. Tetapi kita akan memanggil mereka. Menyusun dalam satu barisan dan kemudian membawa mereka ke Kota Raja.”

“Jangan terlalu lama.”

“Kita memerlukan satu hari untuk memanggil mereka. Hari berikutnya kita berkumpul. Kemudian di hari berikutnya lagi kita sudah berada di perjalanan. jika benar katamu, luka Kota Raja Singasari itu cukup parah, maka dalam tiga hari luka itu belum akan sembuh benar, siapapun yang menang. Apakah itu Ranggawuni dengan pasukannya atau Empu Baladatu.”

Penghubung itu tidak dapat mengatasinya. Ia sadar, bahwa memang diperlukan waktu untuk mengumpulkan seluruh kekuatan yang ada, menyusun dalam satu barisan yang kuat untuk memasuki Kota Raja Singasari siapapun yang, menguasainya.

Ketika di hari berikutnya, oranga Mahibit bersiap-siap, maka persiapan itu tidak luput dari pengamatan petugas-petugas sandi yang memang sudah dipasang oleh Mahisa Agni. Itulah sebabnya, maka laporan itu pun segera sampai ke istana.

Dengan, dada yang berdebar-debar Mahisa Agni mendengarkan laporan itu.

“Mereka telah berkumpul di Mahibit.” berkata petugas sandi itu.

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Ia dapat membayangkan bahwa kekuatan Mahibit tentu lebih besar dari kekuatan Empu Baladatu. setidak-tidaknya seimbang. Sementara prajurit Singasari yang. kelelahan masih belum sempat beristirahat, sedangkan jumlah merekapun jauh susut.

“Tetapi kita harus berbuat sesuatu.” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.

Karena itu, maka katanya kepada penghubung itu, “Baiklah. Aku akan memperbincangkannya.”

“Nampaknya mereka ingin bergerak cepat.” berkata petugas sandi itu.

“Aku mengerti. Dan aku akan mengimbangi kecepatan mereka bergerak.”

Mahisa Agni pun kemudian membawa persoalan itu dalam sidang yang segera diselenggarakan, termasuk Empu Sanggadaru.

“Pasukanku sudah siap.” berkata Empu Sanggadaru, “Jika dalam pertempuran yang baru saja terjadi, kami telah diasingkan, maka kami akan menebusnya dalam kegawatan yang bakal datang di Kota Raja.”

“Terima kasih Empu. Sementara kami masih menunggu kehadiran para prajurit yang dalam kelompok-kelompok kecil akan memasuki Kota Raja.”

“Jika keadaan memaksa, aku akan bertahan sampai mereka datang.” berkata Empu Sanggadaru.

“Baiklah Empu. Tetapi sesuai dengan perkembangan keadaan dan keadaan pasukan, maka kita akan bertahan di dalam dinding Kota Raja. Kita akan memperbaiki selarak pintu dan menjaganya dengan segenap kekuatan. Jika mereka memasuki Kota Raja, kita siap menyongsong. Namun menurut pertimbangan kekuatan kita sebaiknya berada di dalam dinding. Untuk melampaui dinding mereka tentu akan memberikan korban yang tidak sedikit, sebelum pertempuran campuh terjadi di dalam Kota Raja.” sahut Mahisa Agni.

“Tetapi Kota Raja akan menjadi semakin parah. Rumah-rumah akan menjadi bara dan jalan-jalan akan menjadi saluran arus darah yang tertumpah dari para korban. Pertempuran yang baru lalu telah merusakkan sebagian dari Kota Raja. Yang rusak itu belum sempat diperbaiki, akan datang bencana baru yang akan menambah kerusakan itu.” jawab Empu Sanggadaru.

“Tetapi kita memang harus memilih. Kita akan mengurangi korban sampai sekecil-kecilnya atau kita lebih senang menyelamatkan Kota Raja dari kerusakan. Jika yang baru saja kita lakukan adalah bertahan di luar dinding, maka menurut perhitungan kita, kita tidak akan mengalami banyak kesulitan untuk bertahan dan menyelamatkan Kota Raja. Tetapi karena kelengahan kita, maka Empu Baladatu telah berhasil memasuki Kota Raja dan menghancurkannya.” berkata Mahisa Agni.

Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan membawa pasukanku ke dalam Kota Raja dan bertahan di belakang dinding.”

“Kami akan memperbanyak senjata jarak jauh. Kami akan menyiapkan busur dan anak panah.” berkata Mahisa Agni kemudian.

Empu Sanggadaru tidak dapat berpendirian lain. Para Senapatipun sependapat, bahwa dalam keadaan yang lelah, prajurit Singasari lebih baik bertahan di belakang dinding Kota Raja meskipun pasukan Empu Sanggadaru masih segar.

Karena itu, maka Empu Sanggadaru segera ditarik masuk ke dalam kota, sementara beberapa orang telah memperbaiki selarak. Bahkan tidak hanya satu. Tetapi pintu gerbang itu telah diselarak rangkap.

Sementara beberapa orang lain telah mempersiapkan busur sebanyak-banyaknya beserta anak panahnya. Mereka harus menyediakan bagi para prajurit dan pasukan Empu Sanggadaru yang akan menghujani lawan dengan anak panah.

Sebagian dari mereka telah membuat busur dengan bambu. Meskipun kurang baik, tetapi cukup untuk melontarkan anak panah dan melukai dada.

Sementara para prajurit dan pasukan Empu Sanggadaru bersiap-siap setelah mereka melakukan tugas yang membuat mereka pening, yaitu mengubur mayat-mayat yang berserakan, maka para penghubung telah menyampaikan perintah bagi para prajurit yang tersebar untuk kembali ke Kota Raja secepatnya.

“Tidak ada waktu untuk pertimbangan- pertimbangan.” berkata para pemimpin kelompok kepada pasukan mereka.

Maka mereka pun segera minta diri kepada anak-anak muda yang selama itu telah mereka persiapkan. Bahkan dengan pesan, bahwa jika perlu mereka tentu akan dipanggil pula ke Kota Raja.

Sekelompok demi sekelompok dari daerah yang terpencar, prajurit-prajurit Singasari telah mendekati Kota Kaja. Para penghubung telah memberikan pesan, bahwa mereka harus segera berada di dalam Kota Raja, karena bahaya nampaknya tidak akan tertunda-tunda lagi.

Kedatangan mereka disambut dengan penuh harapan, bahwa Kota Raja akan dapat diselamatkan dari serangan Linggapati yang cerdik.

Namun mereka digelisahkan oleh kedatangan seorang petugas sandi yang lain, yang memberitahukan, bahwa jumlah pasukan Mahibit ternyata sangat besar. Jauh lebih besar dari pasukan Empu Baladatu.

Para pemimpin prajurit di Singasari menjadi berdebar-debar mendengar laporan itu. Namun Mahisa Agni masih mencoba menenangkan mereka. Meskipun pasukan Empu Sanggadaru belum sebesar seperempat pasukan Empu Baladatu, tetapi masih ada harapan bahwa prajurit Singasari akan bertambah semakin banyak, sehingga pada saat orang-orang Mahibit itu memasuki Kota Raja, pasukan Singasari telah siap menghancurkan lawan.

“Tetapi lawan itu jauh lebih besar.” setiap kali terdengar para Senapati bergumam.

Tiba-tiba saja Mahisa Agni berpaling kepada para Senapati. Ada sesuatu yang terbesit di dalam hatinya. Namun nampaknya ia masih ragu-ragu mengatakannya.

Ranggawuni agaknya melihat gejolak hati Mahisa Agni, sehingga ia pun kemudian bertanya, “Paman, apakah ada sesuatu yang terpikir oleh paman menghadapi keadaan yang gawat ini?”

Mahisa Agni menarik nafas. Kemudian dengan ragu-ragu ia berkata, “Hamba mempunyai suatu pendapat yang barangkali masih memerlukan pertimbangan.”

“Katakan paman, apapun yang sedang paman pikirkan Jika para Senapati berpendapat pikiran itu baik, kita tentu akan melaksanakan. Jika tidak, kami akan memberikan penilaian atas pendapat paman.”

Mahisa Agni rnengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Tuanku. jika sekiranya hamba diperkenankan, hamba ingin menyusun pasukan yang terdiri dari para tawanan yang baru saja kita kalahkan dari pasukan Empu Baladatu. Hamba akan memberikan penjelasan tentang keadaan yang sebenarnya kita hadapi. Kita akan menjajakan pengampunan, jika mereka dengan sungguh-sungguh membantu kita.”

Raggawuni mengerutkan keningnya. Seorang Senapati muda dengan serta merta bertanya, “Bagaimanakah jika mereka ternyata berpihak kepada Linggapati?”

“Kita harus memberikan penjelasan bahwa linggapati tidak akan dapat dipercaya. Jika benar-benar Linggapati tidak bermaksud mengkhianati Empu Baladatu. maka ia tidak akan menunggu sampai pasukannya hancur. Tentu mereka akan dapat menilai sikap itu.”

“Apakah kita yakin bahwa mereka lebih percaya kepada kita daripada kepada Linggapati?” bertanya Senapati yang lain.

“Aku memang menganggap demikian. Kita tidak membunuhnya meskipun kita dapat mengalahkan mereka. Kita menawan mereka dengan sikap yang wajar.”

Ranggawuni yang mendengarkan pembicaraan itu mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu ia pun bertanya, “Tetapi apakah paman yakin?”

“Hamba yakin terhadap sikap mereka. Yang hamba ragukan apakah pendapat ini akan dapat disetujui.”

Ranggawuni mengangguk-angguk. Sementara Mahisa Cempaka bertanya, “Apkah paman pernah berbicara dengan satu dua orang di antara mereka?”

“Hamba tuanku. Dan hamba mendapat kesimpulan, bahwa sebagian dari mereka sama sekali tidak mengerti dan tidak menyadari apakah yang sebenarnya telah mereka lakukan.”

Mahisa Cempaka memandang Ranggawuni sesaat. Kemudian katanya, “Jika paman yakin, bahwa paman dapat memberikan penjelasan, aku kira pendapat paman dapat dicoba dengan memilih di antara mereka, orang-orang yang nampaknya tidak terlalu liar.”

“Aku sependapat.” sahut Ranggawuni, “Cobalah paman bersama beberapa orang mengamati sekali lagi. Apakah kita akan dapat, mempercayai mereka.”

Mahisa Agni mengangguk sambil menjawab, “Hamba akan menjajagi lebih dalam lagi tuanku. Mudah-mudahan hamba mendapatkan kenyataan seperti yang hamba duga.”

Setelah pembicaraan itu selesai maka Mahisa Agni pun segera menemui orang-orang yang berada dalam tahanan bersama Witantra, Mahendra, Lembu Ampal dan Mahisa Bungalan. Dengan berbagai cara mereka berusaha untuk menjajagi pendapat para tawanan itu.

Dengan hati-hati Mahisa Agni berbicara di hadapan mereka tentang keadaan yang sedang dihadapi oleh Singasari. Sikap Linggapati terhadap Empu Baladatu dan kemudian janji pengampunan terhadap mereka yang bersedia dan kemudian membuktikan, bahwa mereka telah menyesali sikapnya.

“Mungkin ada di antara kalian yang terbunuh sebelum menikmati pembebasan yang kami janjikan. Tetapi mayat kalian akan dikubur bersama para pahlawan dari Singasari. Tidak disisihkan sebagai pengkhianat yang telah memberontak terhadap negara.”

Para tawanan itu mendengarkan keterangan Mahisa Agni dengan saksama. Keterangan yang cukup panjang dan meyakinkan.

“Akhirnya, terserah kepada kalian. Pintu ruangan ini akan dibuka. Demikian pula pintu ruangan-ruangan lain. Siapa yang bersedia menerima tawaran pembebasan dan kesempatan untuk menebus kesalahan yang pernah kalian lakukan, aku persilahkan keluar dan berkumpul di halaman depan. Sedangkan yang tidak bersedia, kami tidak akan memaksanya. Mereka dipersilahkan tetap berada di dalam ruangan ini.”

Mahisa Agni tidak menunggu jawaban. Ia pun segera meninggalkan ruangan itu dan memasuki ruangan berikutnya sehingga ia telah berbicara dibeberapa ruangan bergantian dengan Witantra, Mahendra, dan Lembu Ampal.

Setiap ruangan yang dimasuki oleh pemimpin-pemimpin Singasari itu, telah menjadi gelisah. Beberapa orang diburu keragu-raguan. Mereka dibayangi oleh kecurigaan, bahwa mereka akan ditipu oleh prajurit Singasari. Namun timbul juga kepercayaan mereka melihat kesungguhan sikap para pemimpin Singasari yarg telah datang kesetiap ruangan itu.

“Kesempatan seperti ini jarang sekali didapat oleh tawanan yang manapun juga.” desis salah seorang dari mereka.

“Setelah perang melawan Mahibit selesai, kita akan di bantai. Siapapun yang menang.” sahut yang lain.

“Aku percaya kepada Mahisa Agni. Ia bukan termasuk orang yang licik. Aku kira ia benar-benar akan menepati janjinya. Aku lebih percaya kepada Mahisa Agni daripada orang-orang Mahibit. Termasuk Linggapati.” berkata seorang yang telah agak lanjut usia tetapi badannya masih nampak kuat dan gagah.

Sejenak mereka saling berbincang. Namun akhirnya di setiap ruangan telah tumbuh kepercayaan, bahwa Mahisa Agni dan kawan-kawannya tidak termasuk orang yang licik dan pendusta. Mereka adalah kesatria yang dapat dipercaya kata-katanya.

Karena itulah, maka meskipun ragu-ragu, beberapa orang telah menjenguk ke luar pintu yang tetap terbuka. Beberapa, saat masih nampak keragu-raguan yang mencengkam. Namun ketika seorang dari mereka melangkah ke luar, maka yang lainpun segera menyusul seorang demi seorang. Tetapi akhirnya ruangan-ruangan itu telah menjadi kosong.

Kehadiran mereka di halaman depan telah disambut oleh para prajurit Singasari seperti keluarga sendiri. Mereka kemudian disusun dalam satu barisan. Namun kemudian kelompok-kelompok kecil mereka telah dilebur dengan pasukan Singasari.

“Mereka tetap curiga terhadap kita.” seseorang di antara mereka berbisik.

“Itu wajar sekali.” jawab yang lain.

“Dengan begini, kita tidak akan dapat berbuat apa-apa. Pasukan kita telah dipecah dalam kelompok-kelompok dan dibaurkan dengan prajurit Singasari di tempat yang terpisah-pisah.”

“Justru kita harus membuktikan bahwa kita tidak sekedar berbohong dengan licik. Kita harus membuktikan bahwa kita benar-benar ingin menebus kesalahan yang pernah kita buat. Jika kita tetap hidup, maka kita akan dapat menikmati kebebasan seperti kebanyakan orang. Sedangkan kemungkinan kita untuk mati, tidak lebih buruk dari prajurit-prajurit Singasari sendiri.”

Demikianlah maka bekas pengikut Empu Baladatu itu hampir seluruhnya yang tertawan hidup telah menyatakan diri ikut serta dalam perjuangan melawan orang-orang Mahibit. Mereka telah mempertaruhkan jiwa mereka untuk mendapatkan kebebasan seperti kebanyakan orang-orang Singasari yang lain. Rasa-rasanya mereka telah dicengkam oleh kerinduan untuk hidup tanpa dikejar-kejar oleh kewajiban-kewajiban yang kemudian mereka sadari, seolah-olah telah mengikat mereka pada jantung dan hati. Hidup sebagai orang-orang yang menghirup ilmu hitam dengan segaIa macam tata cara yang mengerikan, maupun hidup sebagai tawanan di dalam batas dinding-dinding yang kuat.

Kesempatan yang terbuka itu memang harus dipertaruhkan dengan segenap hidup mereka. Dan orang-orang bekas pengikut Empu Baladatu itu telah memilih untuk menebus kebebasan itu dengan jiwa mereka.

Demikianlah, maka pasukan Singasari telah bertambah kuat. Di antara mereka terdapat pasukan Empu Sanggadaru dan bekas para pengikut Empu Baladatu. Sementara itu prajurit Singasari yang terpencar sekelompok demi sekelompok telah memasuki pintu gerbang Kota Raja.

Sementara itu, Linggapati telah siap dengan seluruh pasukannya. Laporan terakhir yang sampai kepadanya, mengatakan bahwa prajurit Singasari telah berhasil menghancurkan pasukan Empu Baladatu. Tetapi prajurit Singasari harus menebus kemenangan itu dengan korban yang tidak terhitung jumlahnya, karena Empu Baladatu berhasil memasuki halaman istana setelah mereka menghancurkan Kota Raja.

“Bukan main.” desis Linggapati, “Empu Baladatu benar-benar membuktikan bahwa ia memiliki kekuatan cukup untuk menghancurkan Singasari meskipun ia sendiri akhirnya juga menjadi hancur.”

“Kita harus segera menguasai keadaan.” berkata seorang kepercayaannya.

“Ya. Kita akan berangkat dengan kekuatan kita sepenuhnya. Kita tidak mau gagal oleh kesombongan, bahwa Singasari tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi.”

“Kita akan memasuki Kota Raja dan akan berbaris di sepanjang jalan Kota menuju ke halaman istana. Mungkin Kota Raja telah hancur dan rata dengan tanah. Mungkin istana Singasari pun telah rusak. Tetapi lambang kekuasaan itu akan jatuh ketangan kita. Kita akan membangunkannya kembali dengan kemegahan yang melampaui Kota Raja Singasari yang lama.”

Dengan penuh harapan, Linggapati membawa pasukannya menuju ke Kota Raja. Di sepajang jalan, setiap orang di dalam pasukannya, telah memperbincangkan kemungkinan yang akan mereka hadapi.

“Kita akan menemukan sebuah Kota yang sudah hancur. Kita tidak akan dapat merampas harta benda maupun membawa puteri yang telah kita taklukkan. Semuanya sudah dihanguskan oleh Empu Baladatu meskipun akhirnya Empu Baladatu sendiri menjadi hangus.”

Ternyata bahwa Linggapati tidak dapat menghapuskan perasaan bangganya terhadap pasukannya yang kuat. Kesalahan yang pertama dibuatnya, adalah bahwa ia menganggap prajurit Singasari benar-benar telah lumpuh.

Itulah sebabnya, maka Linggapati yang sampai saat terakhir berhasil merahasiakan seluruh kekuatannya, maka kini ia sama sekali tidak menyamarkan pasukannya. Pasukan itu berjalan dengan tenang di sepanjang jalan menuju ke Kota Raja.

Penghuni padepokan yang dilalui oleh pasukan itu menjadi gempar. Mereka melihat sepasukan pengawal lengkap dengan senjata di tangan.

“Apakah yang akan mereka lakukan?” pertanyaan itu timbul pada setiap orang.

Tetapi tidak seorang pun yang dapat memberikan jawaban. Sebagian dari mereka memang berprasangka buruk terhadap pasukan itu. Namun yang lain sama sekali tidak dapat menyebutkan sama sekali.

Namun dalam pada itu. Singasari telah siap menyambut pasukan yang baru datang. Bahkan hampir setiap saat, para pengawas datang melaporkan apa yang mereka lihat pada pasukan Linggapati yang semakin mendekati Kota Raja.

“Pasukan ini lebih kuat dan lebih gila dari pasukan Empu Baladatu.” seorang pengawas melaporkan.

“Apa yang kau lihat?”

“Mereka berjalan dengan tenang di sepanjang jalan raya. Bahkan sekali-sekali mereka bersorak-sorak seolah-olah mereka telah mendapatkan kemenangan di suatu medan. Mereka mengacukan senjata mereka dan membentak orang-orang padukuhan yang karena ketidak tahuan mereka, berusaha untuk melihat, iring-iringan apakah yang sedang lewat itu.”

Para Senapati di Singasari termangu-mangu mendengar laporan itu. Mereka telah membayangkan, bahwa pertempuran yang bakal datang, tidak akan kalah dahsyatnya dengan pertempuran yang baru diselesaikan oleh prajurit-prajurit Singasari.

Dengan hati yang berdebar-debar para prajurit Singasari telah mempersiapkan perlawanan dari atas dinding Kota Raja Di belakang dinding, pasukan yang besar telah bersiaga pula. Di antara mereka terdapat bekas para pengikut Empu Baladatu yang telah menemukan keyakinan baru di dalam hidupnya.

Sementara di lapisan yang terakhir. anak-anak muda Singasari telah memegang senjata pula. Bukan saja anak-anak muda dari dalam Kota Raja. Tetapi anak-anak muda dari sekitar Kota Raja yang keluarganya mengungsi masuk ke dalam dinding, telah ikut bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Bahkan bukan saja anak-anak muda. Tetapi di setiap halaman, setiap orang laki-laki telah bersiap-siap pula untuk melakukan perlawanan dengan cara masing-masing.

Sementara itu, segerombolan anak-anak muda yang nakal seakan-akan telah mendapat kesempatan untuk menyalurkan kenakalannya tanpa dihalau orang. Mereka telah mempersiapkan perlawanan yang khusus, sesuai dengan kenakalan mereka.

Beberapa orang anak muda telah membuat semprotan dari bumbung yang, berlubang-lubang pada ruasnya, sementara dari lubang batangnya di susupkan galah yang dibalui dengan sobekan-sobekan kain.

Sementara itu anak-anak muda yang lain telah menumbuk batang dan akar pohon rawe yang sangat gatal, sedang yang lain lagi telah memetik buah cabe sebanyak-banyak di sawah dan ditumbuk pula.

Cairan batang rawe dan cabe itulah yang mereka persiapkan di atas dinding Kota Raja, di atas pintu gerbang. Mereka tidak bersiap dengan busur dan anak panah, tetapi mereka siap dengan bumbung-bumbung semprotan di tangan.

Prajurit-prajurit Singasari tidak mencegah mereka. Bahkan mereka telah siap melindungi anak-anak nakal itu dengan busur dan anak panah. Jika orang-orang Mahibit berusaha memecah pintu dengan cara yang dipergunakan oleh para pengikut Empu Baladatu, dan mereka dilindungi dengan perisai, maka semprotan air rawe dan cabe yang gatal dan panas itu akan dapat, membantu menghambat usaha mereka, karena titik-titik air yang terlontar dari semprotan itu akan didorong oleh angin, menyusup sela-sela perisai yang betapapun rapatnya.

Rasa-rasanya terlalu lama bagi anak-anak muda itu untuk menunggu. Mereka sudah tidak sabar lagi ketika malam mulai turun. Namun merekapun sadar, bahwa di malam hari, pasukan Mahibit tentu tidak akan menyerang. Kecuali dalam keadaan yang khusus seperti yang dilakukan oleh Empu Baladatu.

Namun di tengah malam, dua pengawas dengan tergesa-gesa melaporkan, bahwa pasukan lawan yang sedang beristirahal agak jauh di luar Kota Raja, telah mulai bergerak.

Anak-anak muda yang telah mempersiapkan senjata mereka yang aneh itupun segera mengenakan kantong-kantong yang terbuat dari kulit yang tipis dan lemas untuk melindungi tangan mereka dari cairan yang gatal dan panas itu Di atas dinding mereka telah bersiap dengan semprotan-semprotan bumbung mereka.

Tetapi agaknya Linggapati hanya mendekat saja pada pintu gerbang. Mereka ternyata berhenti dan beristirahat di padukuhan terdekat.

Ternyata pasukan Mahibit itu benar-benar menggetarkan jantung. Selain jumlah mereka yang besar, nampaknya mereka mempunyai ikatan dan kemampuan yang lebih besar dari pasukan Empu Baladatu.

“Mereka akan datang besok pagi-pagi benar-benar.” desis seorang anak muda.

Prajurit Singasari menjadi berdebar-debar. Tetapi di antara mereka masih ada yang sempat membenamkan diri di bawah selimut sambil bersandar dinding gardu.

“Mereka tidak akan menyerang malam ini.” desisnya sambil menguap.

Kawannya mengangguk. Ia pun mencoba untuk memejamkan matanya pula. Tetapi kegelisahannya telah membuatnya sama sekali tidak dapat tidur lagi.

Para Senapati Singasari memang, masih memberi kesempatan kepada para prajuritnya untuk beristirahat. Mereka akan terlibat dalam perang yang dahsyat, yang mungkin akan memerlukan waktu yang lama.

Tetapi sebagian dari para prajurit itu memang tidak dapat beristirahat dengan tenang. Sebagian dari mereka justru berjalan mondar mandir dengan senjata dalam pelukan.

Dalam pada itu, masih ada satu dua kelompok pajurit Singasari yang mendekati gerbang. Tetapi mereka tidak berani langsung, menuju ke dinding kota. Dengan hati-hati mereka mengirimkan satu dua orang penghubung melalui jalan-jalan sepi dan terpencil dari jalur jalan padukuhan. Bahkan kadang-kadang merayap di pematang di sela-sela tanaman yang mulai rimbun.

Di muka pintu gerbang mereka mengacukan tangan mereka sebagai isyarat, bahwa mereka adalah prajurit-prajurit Singasari.

“Dimana kelompok kalian?”

“Berhenti di seberang jalan silang.”

“Bodoh. Orang-orang Mahibit berada di padukuhan di sebelah simpang empat dan di padukuhan kecil antara simpang empat dan bukit kecil itu.”

“Kami tidak tahu.”

“Kau lewat jalan itu?”

“Tidak. Kami memang sudah berprasangka berdasarkan naluri keprajuritan kami. Kami menyusur pematang yang menyilang bulak panjang itu. Kemudian menyusuri parit.”

“Bagus. Bawa kelompokmu mendekat. Tetapi hindari sejauh mungkin orang-orang Mahibit itu. Kau sudah berada di dekat padukuhan tempat mereka beristirahat menunggu fajar, cepatlah. Tetapi melingkarlah, agar kau tidak dicincang di perempatan itu.”

Petugas itu dengan tergesa-gesa kembali ke dalam kelompoknya. Tetapi mereka benar-benar mengambil jalan melingkar. Dengan cemas mereka melaporkan bahwa mereka justru berada di belakang pasukan Mahibit.

“Untunglah kita berhenti di sini dan mencari hubungan dengan Kota Raja. Jika kita berjalan terus, maka kita akan masuk kekandang harimau di padukuhan itu.” berkata pemimpin kelompok kecil itu.

Dengan tergesa-gesa kelompok kecil itupun kemudian berjalan melingkari menuju ke pintu gerbang.

Ketika terdengar pintu itu berderak, maka merekapun seolah-olah berloncatan masuk didorong oleh kecemasan bahwa lawan-lawan mereka berada di punggung mereka.

Tetapi ternyata bahwa diantara kelompok-kelompok kecil itu ada juga yang terjebak memasuki padukuhan tempat orang-orang Mahibit beristirahat. Sehingga dengan demikian, maka nasib mereka benar-benar merupakan nasib yang sangat buruk.

Satu dua orang yang berhasil melarikan diri, sempat mencapai pintu gerbang dan melaporkan apa yang terjadi pada kelompok kecil mereka itu.

Tetapi prajurit-prajurit Singasari tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka tidak dapat merusak semua persiapan yang telah mereka lakukan untuk melawan orang-orang Mahibit dari balik dinding Kota Raja.

“Mereka adalah korban-korban yang pertama.” desis seorang Senapati yang memandang ke dalam kegelapan malam dengan kelopak mata yang panas, “Sementara kami tidak dapat berbuat apa-apa.”

Beberapa orang yang berdiri di dinding Kota Raja menggeretakkan giginya. Korban masih akan berjatuhan. Tetapi bahwa sekelompok kecil telah terjebak di luar sadarnya, masuk ke dalam lingkungan pasukan lawan, adalah peristiwa yang sannat mendebarkan.

“Besok kita akan membalas.” geram seorang prajurit muda, “Jika mereka memasuki pintu gerbang ini kita akan mencincang mereka.”

Sementara yang lain mengatakan, “Kita perlu menebarkan petugas-petugas sandi, agar peristiwa itu tidak terulang. Kita akan menunggu agak jauh di belakang pasukan Mahibit, karena menurut perhitungan, masih akan ada kelompok-kelompok kecil yang datang.”

Pendapat itu akhirnya sampai ketelinga para Senapati, sehingga merekapun kemudian benar-benar menunjuk beberapa orang untuk tugas yang berbahaya itu. Tetapi ternyata bahwa setiap orang yang menerima tugas itu, telah melakukannya dengan penuh tanggung jawab, karena mereka merasa bahwa dengan demikian mereka akan dapat menyelamatkan kawan-kawan mereka yang tidak mengetahui, apa yang telah terjardi sebenarnya.

Dan ternyata bahwa beberapa orang petugas benar-benar telah menjumpai kelompok-kelompok kecil yang ingin dengan tergesa-gesa sampai ke kota raja, sehingga mereka tetap berjalan di malam hari.

“Kalian jangan memasuki tempat-tempat yang berbahaya itu.” setiap petugas yang, menjumpai kelompok-kelompok kacil itu memperingatkan dan memberikan petunjuka yang diperlukan.....

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...