*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 37-03*
Karya. : SH Mintardja
Itulah agaknya yang sudah menumbuhkan perhitungan pada Mahisa Bungalan, bahwa lawannya mulai memikirkan daya tahan dirinya menghadapi pertempuran yang panjang.
Dalam keadaan demikian itulah, maka Mahisa Bungalan berusaha untuk meyakinkan dirinya. Dengan serta merta ia pun segera menyerang lawannya tanpa senjata.
Mahisa Bungalan menyusun serangan-serangannya bagaikan badai. Susul menyusul dengan dahsyatnya.
Linggapati masih cukup tangkas untuk menglak, dan bahkan menyerang kembali. Namun ia sudah mulai berusaha urtuk menghemat tenaganya. Ia tidak mengimbangi sikap Mahisa Bungalan yang garang. Namun Linggapati masih tetap berbahaya dengan sikapnya, yang diam. Ia hanya kadang-kadang saja berputar jika Mahisa Bungalan melingkar. Kemudian kembali tegak pada kedua kakinya.
Mahisa Bungalan mulai yakin akan keadaan lawannya. Namun ia tidak boleh lengah. Dan ia pun tidak boleh terjebak, justru dirinya sendirilah yang akan segera kehabisan tenaga.
Dengan perhitungan-perhitungan yang cermat itulah maka Mahisa Bungalan telah banyak mengambil kesempatan. Kadang-kadang ia berhasil memancing Linggapati untuk bertempur dengan kasar dan banyak mengerahkan tenaga. Namun kemudian, ia pun sempat dengan sengaja membenturkan kekuatan ilmunya dengan kekuatan ilmu Linggapati.
“Linggapati memiliki ilmu yang dapat menahan serangan-serangan lawan yang mengenai dirinya.” gumam Mahisa Bungalan di dalam dirinya. “Bukan saja benturan ilmu yang seimbang, tetapi selapis perisai telah melindunginya.”
Namun demikian, Mahisa Bungalan masih merasa mampu untuk menembus selapis perisai itu. Serangannya yang dilambari ilmu tertingginya, masih juga berhasil menyentuh lawannya sehingga Linggapati harus menyeringai menahan sakit.
“Aku harus mengimbanginya dengan kecepatan bergerak.” berkala Mahisa Bungalan kepada diri sendiri.
Ternyata bahwa Mahisa Bungalan masih selalu berhasil memancing lawannya. Karena itulah, maka ia pun menjadi semakin cermat. Linggapati adalah seorang yang cerdik. Tetapi ia harus menyesuaikan diri dengan sikap lawannya didalam pertempuran itu.
Karena itulah maka setiap kali terdengar Linggapati mengumpat, “Anak iblis ini agaknya memiliki otak yang tajam. Ia berusaha memancing aku dalam sikap yang kasar dan banyak mengerahkan tenaga dan kemampuan.”
Namun jika serangan Mahisa Bungalan datang bagaikan prahara, maka Linggapati terpaksa mengimbanginya, meskipun ia harus memeras segenap tenaganya.
Benturan-benturan ilmu pun banyak menyerap kemampuannya. Keringat semakin banyak mengalir di seluruh permukaan tubuhnya, sementara nafasnya pun mulai terasa mengganggu.
“Aneh.” desis Linggapati, “Anak muda ini benar-benar anak iblis.”
Namun pertempuran pun masih berjalan terus. Meskipun Linggapati mampu bertahan dalam batas-batas tertentu, namun dengan memeras segenap kemampuan dan tenaganya, maka seolah-olah waktu yang sudah ditelan oleh pertempuran itu menjadi berlipat lima.
Dalam pada itu, pasukan Mahibit benar-benar sudah dicengkam oleh kesulitan yang tidak akan teratasi. Para prajurit perlahan-lahan mendesak mereka semakin rapat, seoIah-oIah mereka telah terhimpit oleh kekuatan yang tidak terlawan. Sementara itu, di tengah-tengah arena pertempuran masih terdapat arena perang tanding yang sangat dahsyat.
Matahari di langit rasa-rasanya berjalan terlampau cepat. Tidak seorang pun yang sempat menghiraukannya. Namun matahari itu pun telah menjadi semakin rendah di sebelah Barat.
Mahisa Bungalan dan Linggapati telah berada dalam saat-saat yang menentukan dalam pertempuran tanpa senjata. Mereka tidak dapat lagi saling mengelakkan. Sehingga akhirnya keduanya telah banyak terlibat dalam benturan-benturan ilmu dan kekuatan.
Dengan lambaran ilmu pamungkasnya, Linggapati berhasil menangkap pergelangan tangan Mahisa Bungalan. Dengan sekuat tenaga ia menghentakkannya sementara kakinya telah terjulur menghantam lambung.
Mahisa Bungalan menyeringai menahan sakit. Sementara itu, Linggapati masih belum melepaskan pergelangan tangan Mahisa Bungalan.
Namun Mahisa Bungalan tidak mau membiarkan lambungnya sekali lagi dihantam oleh kaki Linggapati. Dengan serta merta ia menjatuhkan dirinya dengan hentakkan yang kuat, sehingga justru Linggapati lah yang terdorong ke depan karena ia tidak mau melepaskan tangan lawannya. Namun pada saat itulah, kaki Mahisa Bungalan telah mengangkat; tubuh Linggapati sehingga ia terlempar ke udara.
Hentakkan itu telah melepaskan pegangan tangan Linggapati, karena ia harus berusaha agar tidak terbanting sehingga punggangnya patah. Dengan tangkasnya Linggapati menggeliat, sehingga ia justru jatuh pada kedua kakinya tegak di atas tanah.
Pada saat itu, Mahisa Bungalan pun telah meloncat bangkit, sehingga keduanya kemudian telah berdiri berhadapan dalam kesiagaan masing-masing.
Adalah diluar perhitungan masing-masing, bahwa tiba-tiba saja mereka dalam waktu bersamaan telah meloncat menyerang dengan sepenuh tenaga, sehingga benturan kekuatan tidak dapat dihindarkan lagi.
Ternyata akibat dari benturan itu benar-benar mendebarkan jantung. Mahisa Agni yang menyaksikannya harus menahan nafasnya.
Dengan tegang ia melihat Mahisa Bungalan terlempar beberapa langkah surut dan kemudian jatuh terbanting di atas tanah. Dengan susah payah ia berusaha bangkit dan berdiri untuk menghadapi segala kemungkinan, meskipun dengan terhuyung-huyung dan mata yang berkunang- kunang.
Namun dalam paa itu, Linggapati pun mengalami keadaan yang sama. Ia pun terlempar beberapa langkah dan jatuh berguling. Seperti Mahisa Bungalan ia pun segera berusaha bangkit meskipun keseimbangannya agak terganggu.
Untuk beberapa saat kedua saling berdiam diri. Masing-masing berusaha untuk memperbaiki keadaan. Mengatur pernafasan dan keseimbangan.
Agaknya Mahisa Bungalan yang muda itu dapat mengusai pernafasannya lebih cepat. Beberapa saat kemudian, maka nafasnya sudah nampak teratur. Meskipun perasaan nyeri masih mengganggunya, namun ia merasa sudah siap menghadapi kemungkinan yang bagaimanapun juga.
Sementara itu, Linggapati pun telah dapat menguasai diri. Tetapi dadanya masih terasa sesak dan pernafasannya masih belum mengalir teratur. Sekali-sekali ia menarik nafas dan memusatkan segenap daya dan kemampuannya untuk mengatasi kesulitan di dalam dirinya.
Mahisa Bungalan melihat kelemahan yang terdapat pada lawannya. Namun ia tidak tergesa-gesa mengambil sikap. Ia masih membuat beberapa pertimbangan dan mencari kesempatan untuk memulihkan dirinya sendiri.
Sejenak kemudian, ternyata bahwa Linggapati pun telah berhasil menyesuaikan pernafasannya meskipun masih terasa timpang. Namun ia sudah bersiap kembali memasuki pertempuran yang dahsyat melawan anak muda yang luar biasa itu.
Mahisa Bungalan yang berhati-hati itu pun kemudian mempersiapkan diri. Selangkah ia bergeser seperti juga Linggapati. Mereka masing-masing telah memusatkan segenap perhatian masing-masing yang satu terhadap yang lain, sehingga dengan demikian mereka tidak lagi menghiraukan apa yang telah terjadi di sekitar mereka. Mereka tidak melihat bahwa pertempuran antara para pengikut Linggapati melawan para prajurit Singasari dan para pengikut Empu Sanggadaru itu telah hampir mencapai akhirnya.
Para pengikut Linggapati hampir tidak berdaya lagi untuk melawan tekanan yang semakin berat. Apalagi setelah Mahendra, Lembu Ampal, Witantra dan dua anak muda putera Mahendra ikut pula di dalam Pertempuran itu.
Namun demikian, tidak seorang pun beruasaha mengganggu perang tanding itu. Mahisa Agni masih berdiri bagaikan membeku dicengkam oleh dahsyatnya pertempuran antara Mahisa Bungalan dan Linggapati.
Linggapati yang tidak sabar, meskipun nafasnya terasa masih belum pulih kembali, telah menyerang dengan dahsyatnya. Kecepatannya bergerak masih mendebarkan hati, sehingga Mahisa Bungalan masih harus meloncat menghindar. Sambaran tangan Linggapati bagaikan ayunan sebatang besi baja sebesar batang kelapa menghantam kepala Mahisa Bungalan. Tetapi Mahisa Bungalan masih sempat mengelak. Kekuatan ilmu puncak Linggapati benar-benar mendebarkan jantung.
Namun sambil merendahkan diri, Mahisa Bungalan berkisar pada sebelah kakinya, sementara kakinya yang lain telah terjulur menyambar lambung.
Tetapi Linggapati masih sempat melihat serangan itu. Ia sadar, bahwa sentuhan kaki Mahisa Bungalan itu dapat mengguncang bukit. Karena itu, maka ia pun segera menggeliat mengelakkan diri dari kaki lawannya meskipun ia harus terhuyung-huyung sejenak. Namun ketika Mahisa Bungalan melancarkan serangan berikutnya dengan satu putaran, maka Linggapati telah berhasil mengelak dengan meloncat mundur sambil menyentuh kaki Mahisa Bungalan.
Sentuhan tangan itu telah mengguncang keseimbangan Mahisa Bungalan. Ia terdorong selangkah kesamping. Namun kemudian mengikuti arah lontaran kakinya, ia pun meloncat tegak di atas kedua kakinya. Namun pada saat itu, ia melihat Linggapati telah meloncat menghantam dadanya dengan tangannya.
Sekali lagi Linggapati telah menyerangnya dengan sepenuh kekuatan yang dilambari ilmu puncaknya. Jika tangan ini menghantam dada Mahisa Bungalan, maka iga-iganya tentu akan retak. Bahkan bagi kebanyakan orang akan dapat meruntuhkan segenap isi dadanya dan mematahkan semua tulang iganya.
Mahisa Bungalan melihat serangan itu. Tetapi ia tidak sempat mengelakkannya. Sekali lagi ia harus membentur kekuatan lawannya dengan segenap kekuatannya pula. Melawan ilmu puncak lawannya dengan ilmu puncaknya pula.
Medan itu pun telah dikejutkan lagi oleh benturan yang dahsyat antara serangan dan pertahanan kedua orang yang sedang, bertempur seperti guruh yang sedang berlaga.
Sekali lagi Mahisa Bungalan terdorong beberapa langkah dan bahkan ia tidak berhasil untuk menjaga keseimbangannya., sehingga ia pun jatuh terguling, meskipun dengan susah payah ia segera dapat bangkit lagi berdiri di atas kedua kakinya. Tetapi rasa-rasanya kepalanya menjadi pening dan pandangan matanya berkunang-kunang. Namun perlahan-lahan ia berhasil menguasai dirinya dan mengatur pernafasannya. Keseimbangannya segera pulih kembali dan ia pun telah siap menghadapi segala kemungkinan.
Sementara itu, Linggapati yang melontarkan kekuatannya namun membentur kekuatan yang seimbang itu pun telah terlempar surut. Rasa-rasanya hentakan kekuatannya telah mengguncangkan dadanya sendiri. Beberapa langkah ia terdorong dan kemudian terbanting jatuh.
Seperti Mahisa Bungalan ja segera berusaha untuk bangkit. Sambil mengerahkan segenap tenaganya, ia bersandar kedua tangannya. Kemudian terhuyung-huyung ia berdiri di atas kedua kakinya.
Meskipun Linggapati berhasil tegak berdiri dengan kaki merenggang, namun rasa-rasanya dadanya masih tetap tersumbat oleh pernafasannya yang menyesak.
Usahanya untuk mengatasi kesulitan pernafasannya itu agaknya dapat diketahui oleh Mahisa Bungalan. Dalam ketegangan menghadapi kemampuan ilmu yang seimbang, maka Mahisa Bungalan harus memperhitungkan setiap kemungkinan yang dapat ditembusnya.
Kesulitan yang dapat dilihatnya itu, merupakan suatu peluang bagi Mahisa Bungalan. Meskipun keadaannya sendiri masih belum jernih benar, namun ia tidak mau terlambat.
Sejenak Mahisa Bungalan mengerahkan ilmunya tertinggi. Ilmu yang luluh di dalam dirinya, bersumber dari ilmu yang diajarkan ayahnya dan pamannya, serta ilmu yang bersumber pada ilmu Mahisa Agni. Bahkan Mahisa Bungalan telah memiliki kekuatan ilmu Gundala Sasra yang lebih mantap, justru karena ilmu-ilmu yang telah luluh di dalam dirinya.
Sebelum Linggapati berhasil menguasai pernafasannya yang menyesak, tiba-tiba saja ia melihat Mahisa Bungalan telah siap menyerangnya. Karena itu, maka Linggapati tidak dapat memilih. Ia pun segera mempersiapkan diri meskipun nafasnya masih ter sengal-sengal.
Sejenak kemudian maka benturan yang, dahsyat itu pun telah terulang sekali lagi. Hentakkan dua kekuatan raksasa yang menggetarkan seluruh medan. Seolah-olah tanah pun menjadi goncang dan medan telah bergetar.
Benturan kekuatan itu benar-benar telah mendebarkan jantung. Mahisa Agni melihat benturan itu dengan dada yang tegang. Ia melihat Mahisa Bungalan yang telah mendahului menyerang di saat-saat keduanya baru saja berhasil menguasai diri. Tetapi Mahisa Agni pun melihat, bahwa Mahisa Bungalan lebih cepat berhasil menguasai pernafasannya daripada Linggapati.
“Ia cukup cerdik.” gumam Mahisa Agni.
Namun itu belum berarti bahwa usaha Mahisa Bungalan itu berhasil. Ia masih harus menunggu dengan dada yang berdebar.
Sejenak kemudian ia melihat Mahisa Bungalan terlempar sekali lagi dan terbanting di tanah. Dengan menyeringai menahan sakit yang menghentak di dadanya, terdengar Mahisa Bungalan berdesis pendek. Dengan susah payah ia berusaha untuk bangkit. Tetapi ia pun kemudian jatuh terduduk.
Sementara itu, Mahisa Agni pun melihat, Linggapati terpelanting beberapa langkah. Ia masih menggeliat. Bahkan ia masih berusaha untuk mengangkat kepalanya. Namun matanya menjadi gelap, dan. dadanya bagaikan tersumbat.
Linggapati tidak berhasil untuk bangkit. Dadanya bagaikan pecah oleh pernafasannya yang menyesak.
Beberapa orang pengawalnya dengan tergesa-gesa mendekatinya tanpa menghiraukan lawan. Mereka berjongkok sambil mengangkat kepala Linggapati dan meletakkan di atas pangkuan salah seorang pengawalnya.
Namun nafas Linggapati benar-benar telah tersendat-sendat. Hentakkan kekuatan yang susul menyusul itu ternyata tidak dapat diatasinya lagi.
Dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba pertempuran itu pun bagaikan terhenti. Mahisa Bungalan terduduk lemah. Disilangkannya tangannya, dan dipejamkannya matanya. Setitik darah melelah di bibirnya.
Ternyata ia telah mendapat luka di dalam dadanya.
Perlahan-lahan Mahisa Agni mendekatinya. Ia pun kemudian berjongkok di sampingnya sambil berbisik, “ Usahankan agar pernafasanmulah yang pertama-tama menjadi baik.”
Mahisa Bungalan tidak merubah sikapnya. Ia mendengar kata-kata Mahisa Agni. Dan ia pun telah mencoba melakukannya.
Dengan cemas, Mahendra pun kemudian berjongkok pula di sisi anaknya, diikuti oleh Witantra dan Lembu Ampal. Sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan wajah tegang berdiri beberapa langkah di samping mereka.
Dalam pada itu, agaknya Linggapati benar-benar mengalami kesulitan, karena dadanya rasa-rasanya telah pecah. Pernafasannya tidak lagi dapat diatasi. Bahkan setiap tarikan nafas rasanya bagaikan tusukan-tusukan pedang di dalam rongga dadanya yang menyesak.
Ternyata bahwa keadaan Linggapati benar-benar menyulitkan. Meskipun demikian masih tetap sadar. Karena itulah maka ia mencoba untuk membaringkan dirinya sambil memperbaiki pernafasannya.
Tetapi agaknya ia tidak berhasil. Dadanya bagaikan semakin panas. seolah-olah api yang membakar jantungnya kian menjadi bertambah besar.
Akhrinya, sebagai seorang yang berilmu tinggi, Linggapati benar-benar telah melihat bayangan yang suram di depan matanya. Semula ia masih ingin meronta. Tetapi kemudian ia harus mengakui kenyataan yang dihadapinya.
Karena itulah, maka ia pun kemudian sadar, bahwa ia harus menghadapinya dengan jantan, seperti saat-saat ia maju kemedan perang.
Sambil menggeretakkan giginya ia melihat beberapa macam warna bermain di matanya. Warna-warna yang tajam bagaikan menusuk mata hatinya. Kemudian warna yang lebih lemah. Perlahan-lahan warna itu pun berubah menjadi warna yang suram. Akhirnya sambil menarik nafas dalam-dalam Linggapati melihat warna hitam bagaikan selimut yang luas, seluas langit telah menyelubunginya perlahan-lahan.
Karena itu, dengan sisa kekuatan yang ada padanya ia bergumam tanpa mengetahui siapakah yang mendengarnya “Aku akan pergi untuk selamanya. Jalanku kelam. Tetapi mudah-mudahan akan terdapat cahaya meskipun hanya sepercik di hadapanku sebagai penunjuk jalan untuk menuju ke dalam dunia yeng abadi.”
Ternyata kata-kata itu masih ada yang mendengar. Seorang pengawal kepercayaannya menahan nafasnya. Ia mencoba mendekatkan mulutnya di telinga Linggapati untuk berbisiki. Tetapi terlambat. Linggapati telah memejamkan matanya tepat saat selimut hitam seluas langit itu turun menyelubungi dirinya.
Pengawalnya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kata-kata terakhir Linggapati itu bagaikan menggugah hatinya. Jalan hidupnya yang hitam ternyata membawa pengaruh sampai saat terakhirnya. Bahkan mempengaruhi jalannya menuju keabadian. Jalan yang kelam. Meskipun Linggapati masih mengharap sepercik sinar yang dapat menerangi jalan yang kelam itu.
Tetapi tidak seorang pun yang mengetahuinya, apakah yang sepercik itu ternyata ada di hadapan kaki Linggapati yang telah melukis warna baginya sendiri dimasa hidupnya.
“Jika Linggapati melukis warna putih cerah, maka jalan itu pun akan berwarna putih dan cerah.” berkata pengawalnya kepada diri sendiri. Namun agaknya ia sendiri telah dihantui oleh perbuatannya sepanjang hidupnya, sehingga tiba-tiba saja timbul pertanyaan di dalam dirinya, “Warna apakah yang telah aku lukis menjelang saat-saat terakhir dari hidupku?”
Tetapi pengawal Linggapati itu tidak sempat merenung lebih lama lagi. Ketika ia mengangkat wajahnya, maka ia pun terkejut. Beberapa ujung senjata telah mencuat di sekelilingnya.
Ternyata para prajurit Singasari telah mengepungnya dengan senjata telanjang.
Pengawal itu berdiri perlahan-lahan. Tetapi ia sudah meletakkan senjatanya sambil berkata, “Aku tidak akan melawan lagi.”
Para prajurit Singasari pun menarik nafas dalam-dalam. Dengan demikian maka pertempuran itu benar-benar sudah selesai. Seluruh pengikut Linggapati telah menyerah, apalagi ketika mereka melihat, Linggapati sudah tidak bernafas lagi.
Sementara para Senapati menyelesaikan tugas masing-masing, serta dua orang penghubung menyampaikan berita akhir dari pertempuran itu atas perintah Mahisa Agni kepada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, maka perlahan-perlahan Mahisa Bungalan mulai berhasil menguasai pernafasannya.
Betapa sulitnya, namun ia mulai dapat merasakan jalan nafasnya mulai teratur dan merasuk sampai ke paru-paru.
Karena itu, maka wajahnya yang putih pun perlahan-lahan mulai menjadi kemerah-merahan. Sejalan dengan arus nafasnya yeng teratur, maka darahnya pun mulai mengalir dengan wajar.
Sesaat kemudian, maka semua kesulitan telah lampau, Mahisa Bungalan dapat menarik nafas panjang, seakan-akan udara di seluruh Singasari akan dihirupnya.
Ternyata bukan saja Mahisa Bungalan. Mahendra pun menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa bahwa anaknya sudah bebas dari kesulitan yang, dapat menyeretnya ke dalam keadaan seperti yang dialami oleh Linggapati.
Diam-diam Mahendra merasa bersukur kepada Yang Maha Agung, seperti juga Mahisa Bungalan sendiri dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Mereka telah dapat menyelesaikan tugas yang berat dan mendebarkan jantung, karena pada mulanya mereka masih belum yakin, bahwa semuanya akan berakhir dengan baik bagi Singasari. Seperti pada saat mereka menghadapi pasukan Empu Baladatu, maka hanya karena pertolongan Yang Maha Agung sajalah pasukan Singasari mendapat cara yang sebaik-baiknya untuk menghancurkan lawan.
“Kita akan segera menghadap.” berkata Mahisa Agni kepada Mahisa Bungalan, “Yang telah kau lakukan, cukup meyakinkan.”
Mahisa Bungalan tidak menjawab. Badannya masih terasa sangat lemah, meskipun ada sepercik kebanggaan di dalam hatinya.
Yang dilakukan oleh Singasari kemudian adalah berbenah diri. Kota Raja benar-benar telah hancur akibal peperangan yang seakan-akan bersusun dua kali.
Para prajurit Singasari ternyata masih belum dapat langsung beristirahat saat-saat Mahisa Bungalan mengikut Mahisa Agni menghadap Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Mereka masih harus mengumpulkan para korban. Menyisihkan mayat yang berserakkan. Memilih, mana yang kawan dan mana yang lawan di antara mereka. Sementara yang lain harus mengumpulkan mereka yang terluka.
Baik kawan maupun lawan dari mereka yang terluka, memerlukan perawatan dan pengobatan, Empu Sanggadaru yang kemudian dengan hati yang pedih menyaksikan banyaknya korban, telah membantu memberikan, pertolongan kepada mereka yang terluka.
“Ketamakan orang-orang Mahibit memberikan akibat yang sangat parah bagi Singasari.” gumam Empu Sanggadaru.
Witantra yang membantunya pula menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Empu Baladatu dan Linggapati mempunyai keinginan yang sama. Tetapi nampaknya mereka tidak dapat menemukan kesepakatan.”
“Itu adalah Karya Yang Maha Agung di dalam hati mereka. Jika mereka dibiarkan menemukan persamaan pendapat maka aku kira Singasari sudah benar-benar hancur. Kekuatan Baladatu dan Linggapati yang bergabung akan merupakan kekuataan yang barangkali tidak terlawan oleh pasukan Singasari yang tersedia. Apalagi jika mereka dengan tiba-tiba datang ke Kota Raja. aku kira, Singasari sudah tidak ada lagi sekarang.” berkata Empu Sanggadaru.
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Mungkin sekali. Kota Raja ini sudah menjadi debu. Semuanya akan hancur, karena jika Empu Baladatu dan Linggapati berhasil menghancurkan Kota Raja dan mendudukinya, mereka kemudian tentu akan terlibat kedalam perang di antara mereka, sehingga Kota Raja ini tidak akan tersisa lagi.”
“Yang menang di antara mereka akan membangun suatu pemerintahan di Singasari baru.” desis Empu Sanggadaru.
Tetapi Witantra menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak. Akan segera datang kekuatan dari Kediri atau dari arah lain yang termasuk wilayah Singasari. Mereka akan menginjak bara api yang memang tinggal abunya oleh perselisihan antara kedua kekuatan yang menang atas Singasari. Yang, akan timbul adalah suatu kekuasaan baru di atas pulau ini. Bukan Empu Baladatu dan bukan pula Linggapati.”
Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Ia menyadari, betapa luasnya langit. Jika nampak kabut yang gelap, maka di seberang kabut, langit terbuka sejauh mata dapat menggapainya.
Dalam pada itu, Empu Sanggadaru masih diminta untuk tetap berada di Kota Raja. Pengikut-pengikutnya masih diperlukan untuk membantu mengatasi kesulitan yang timbul karena peperangan. Setelah para korban diselenggarakan seperti seharusnya, maka mulailah Singasari dengan menatap wajahnya sendiri yang suram.
Pintu gerbang yang rusak di segala arah. Rumah-rumah yang roboh dan terbakar. Dinding halaman yang hancur dan halaman yang bagaikan dibajak.
Singasari memerlukan tenaga untuk membangunkannya kembali.
Untuk itulah maka tenaga yang ada masih diperlukan, termasuk para pengikut Empu Baladatu.
Sementara itu, Mahisa Bungalan mendapat perhatian khusus dari Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Mereka masih sama-sama muda dan memiliki jiwa yang menggelora. Mereka sama-sama mencintai Singasari seperti mencintai diri mereka sendiri.
Karena itulah, maka Ranggawuni dan Mahisa Cempaka mempunyai pertimbangan-pertimbangan khusus bagi Mahisa Bungalan.
Ketika Singasari sedang sibuk membangun kembali dirinya, Ranggawuni, Mahisa Cempaka dan Mahisa Agni sedang sibuk pula mempersiapkan tempat bagi Mahisa Bungalan. la telah memberikan jasa kepada Singasari, sehingga Singasari tidak luluh menjadi debu. Bukan hanya sekedar pada saat Empu Baladatu dan Linggapati menyerang Singasari, tetapi sejak saat-saat sebelumnya Mahisa Bungalan telah bannyak memberikan jasanya.
“Singasari memerlukan anak-anak muda seperti Mahisa Bungalan.” berkata Lembu Ampal yang ikut berbincang tentang anak muda itu.
“Ia akan mendapat tempat yang baik di dalam pemerintahanku.” berkata Ranggawuni.
“Terserahlah kepada tuanku.” sahut Mahisa Agni, “Tetapi kemudannya masih harus dipertimbangkan jika tuanku bermurah hati untuk memberikan anugerah kedudukan kepadanya.”
Ranggawuni tersenyum. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Aku pun masih muda. Mungkin apa yang akan aku putuskan masih harus mendapat pertimbangan Itulah sebabnya aku memerlukan orang-orang yang, memiliki pengetahuan dan pengalaman yang jauh lebih baik daripadaku.”
“Pandangan tuanku cukup luas untuk menilai setiap masalah yang timbul di Singasari.” sahut Mahisa Agni.
Ranggawuni masih mengangguk-angguk. Namun sudah pasti baginya bahwa Mahisa Bungalan akan dapat diangkat menjadi seorang Panglima yang mumpuni. Seorang Panglima muda yang akan menjadi pendamping Lembu Ampal yang semakin tua.
“Ayahnya bukan seorang prajurit.” berkala Mahisa Agni, “Tetapi ia telah berbuat tidak kalah sebagaimana dilakukan oleh seorang Senapati.”
“Aku mengerti.” berkata Ranggawuni, “Dan aku pun mengerti pula, bahwa paman Mahendra tidak akan bersedia diangkat menjadi seorang prajurit. Apalagi kini ia sudah menjadi semakin tua. Pada masa mudanya pun ia akan berkeberatan. Tetapi aku kira tidak bagi Mahisa Bungalan. Bahkan mungkin juga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.”
“Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih terlalu muda. Barlah mereka menempa diri sendiri, sehingga memiliki ilmu kanuragan yang cukup, sehingga pada saatnya, ia pun akan menjadi seorang prajurit yang tidak mengecewakan.” berkata Mahisa Agni.
Ranggawuni dan Mahisa Cempaka mengangguk-angguk. Namun kemudian Mahisa Cempaka berkata, “Paman Mahisa Agni. Sudah barang tentu bahwa jika paman Mahendra tidak berkeberatan, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan mendapatkan tempat yang khusus. Baru kemudian selelah ia menyempurnakan ilmunya, kedudukannya akan ditingkatkan setapak demi setapak.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mungkin hal itu dapat juga dilakukan tuanku. Tetapi untuk saat-saat tertentu Mahendra memerlukan kawan dalam perjalanannya yang panjang. Ia selalu mengelilingi tlatah Singasari untuk barang-barang yang, diperdagangkannya.”
Mahisa Cempaka mengerutkan keningnya. Namun kemudian ja pun mengangguk-angguk. Katanya, “Kedudukan paman Mahendra justru akan menjadi sangat penting, juga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Mereka akan dapat memberikan gambaran keadaan di seluruh Singasari. Selain petugas-petugas resmi, maka paman Mahendra akan dapat melihat keadaan beberapa daerah dalam keadaan sewajarnya.”
“Hamba tuanku.” sahut Mahisa Agni, “Ia akan dapat melihat sebagai bahan banding dari laporan-laporan yang datang dari para petugas di daerah-daerah. Mungkin para petugas memberikan laporan yang tidak benar tentang daerahnya. Mungkin mereka hanya memberikan gambaran tentang yang selalu baik. Tetapi Mahendra akan dapat melihat yang sesungguhnya. Dan aku yakin bahwa Mahendra akan mengatakan yang sesungguhnya itu. Bukan sekedar yang baik untuk mendapatkan pujian.”
Ranggawuni dan Mahisa Cempaka mengangguk-angguk. Di hadapan mereka telah terbentang masa-masa yang cerah. Kehancuran Empu Baladatu dan Linggapati, bagaikan berhembusnya angin yang menyapu bersih kabut yang menyelebungi Singasari. Hari yang sudah membayang.
“Yang bergejolak hanyakah permukaannya saja.” berkata Mahisa Agni, “Ternyata setelah Empu Baladatu dan Linggapati tidak ada lagi, keadaan benar-benar menjadi tenang.”
“Tetapi yang permukaan itu benar hampir menenggelamkan Singasari.” desis Ranggawauni.
Demikianlah, maka Ranggawuni dan Mahisa Cempaka yang memerintah Singasari sebagai sepasang. Ular dari satu Sarang, telah menemukan orang-orang yang diperlukan.
Saat-saat Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra menjadi semakin tua. maka hadirnya Mahisa Bungalan merupakan jalur kelanjutan bagi pengabdian mereka. Mahisa Bungalan akan dapat menjadi pendamping Lembu Ampal, dalam tata keprajuritan Singasari.
Ketika Empu Sanggadaru kemudian mohon diri untuk kembali ke padepokannya, maka Mahisa Agni pun berbisik di telinganya, “Sebentar lagi, aku pun berhasrat untuk tinggal di padepokan, menyepi dan menyerahkan sisa hidupku bagi kebesaran Yang Maha Agung.”
Empu Sanggadaru mengerutkan keningnya. Katanya, “Tetapi Senapati. Pada dasarnya Senapati Mahisa Agni adalah seorang kesatria. Darmanya akan berbeda dengan darma seorang pertapa di padepokan-padepokan yang sepi.”
Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Di hadapan Yang Maha Agung, kesempatan untuk mengagungkan namanya ada berbeda.”
Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Katanya, “Semua darma hanyalah untuk memuliakan namanya, cara yang manapun yang kita jalani.”
Maka, kemudian datanglah saat-saat yang cerah itu. Singasari menjadi semakin semarak di bumi yang gemah ripah.
Ketika orang-orang tua mulai menepi dari jalan yang memanjat ke ujung keagungannya, maka yang muda pun mulai tampil untuk menggantikannya.
Dan Sepasang Ular di satu Sarang itu pun kemudian menjadi semakin semarak meski pun mereka tidak dapat melepaskan diri dari pengamatan perkembangan wilayahnya yang khusus. Kediri. Karena Kediri tetap masih saja dibayangi kebesaran masa lampaunya.
Namun dalam tataran pemerintahan seterusnya, Singasari memancar di seluruh bumi Nusantara menjelang hari- hari yang cerah.
Akan tetapi persoalan-persoalan yang kemudian tumbuh adalah justru karena kemudaan mereka. Seperti umumnya usia muda seorang laki-laki akan selalu tersangkut masalah sisihan. Dan masalah wanita kadang kala akan membawa persoalan yang tersendiri.....
TAMAT
Silahkan baca seri berikutnya. !
*PANASNYA BUNGA MEKAR*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar