Selasa, 02 Februari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 32-02

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 32-02*

Karya.   : SH Mintardja

Linggapati mengangguk-angguk. Katanya, “Maaf Empu. Kau memang seorang perasa. Seperti seorang perempuan, kau mudah tersinggung. Tetapi baiklah. Aku tidak akan menyinggung perasaanmu lagi. Tetapi aku minta maaf, bahwa aku tidak dapat memberikan banyak keterangan kepadamu tentang diriku dan tentang Mahibit. Pada saatnya, jika aku sudah merasa kuat dan benar-benar akan bangkit, aku akan memberitahukan kepadamu. Bukan karena aku tidak percaya kepadamu, tetapi Singasari mempunyai sejuta telinga. Seolah-olah di setiap dinding rumah, di setiap lembar daun terdapat telinganya.”

Empu Baladatu tidak dapat memaksa. Namun ia berkata, “Terserah kepadamu. Tetapi sementara ini, aku pun menyusun, kekuatanku. Jika kau mencari dukungan kekuatan pada segi pemerintahan, aku berhubungan dengan padepokan-padepokan yang tersebar di seluruh daerah Singasari.”

“Bagus sekali. Pada suatu saat kekuatan kita akan bergabung. Namun sementara ini, biarlah kita bekerja sendiri-sendiri. Mungkin hasilnya akan menjadi jauh lebih baik dari pada jika kita mulai sekarang sudah saling memperhitungkan kekuatan di antara kita.”

Empu Baladatu mengangguk-angguk. Namun katanya, “Tetapi aku hampir tidak telaten mengikuti caramu. Mungkin kau meletakkan batas keberhasilanmu pada anakmu.”

Linggapati tertawa. Dipandanginya Empu Baladatu sejenak. Lalu jawabnya, “Tepat Empu. Bahkan aku tidak membatasi keberhasilan pada keturunan pertama. Mungkin kedua atau ketiga. Jika mungkin aku berhasil dalam segi penguasaan lahiriah. Namun masih diperlukan waktu untuk menguasai Singasari keseluruhan dalam arti mutlak. Lahir dan batinnya. Kekuasaan pemerintahannya dan penguasaan jiwanya.”

Empu Baladatu menarik nafas dalam-dalam. la sama sekali tidak mempunyai cara untuk mendesakuya. Bahkan seakan-akan ia sudah diharapkan pada suatu sikap, bahwa Linggapati akan terjalan sendiri. Jika Empu Baladatu ingin mengikutnya di belakang, maka Linggapati tidak berkeberatan. Tetapi ia sama sekali tidak memberi kesempatan kepada Empu Baladatu untuk berjalan bersama di sisinya.

Tetapi Empu Baladatu bukannya orang lemah hati. Justru karena itu, maka telah bangkit semacam janji di dalam hatinya, “Jika aku dapat menunjukkan kekuatan, maka Linggapati tidak akan dapat menganggap aku sekedar sebagai seorang yang tidak berdaya, sekedar ingin menumpang mukti pada usahanya yang besar. Aku harus menunjukkan kepadanya, bahwa aku adalah Empu Baladatu yang Agung dan dihormati.”

Namun Empu Baladatu tidak mendesak lagi. Bahkan ketika kemudian Linggapati berbicara tentang hal yang lain, ia pun menanggapinya. Ia tidak ingin dianggap seolah-olah dengan merintih mohon dibelas kasihani.

“Aku harus tidak mengacuhkannya lagi, apa saja yang dilakukan oleh Linggapati, seperti Linggapati tidak mengacuhkan aku lagi” berkata Empu Baladatu di dalam hatinya.

Sebenarnyalah karena Empu Baladatu tidak mendesak sama sekali, Linggapati pun justru mulai membuat pertimbangan tersendiri. Ia mengharap Empu Baladatu dengan gelisah mendesaknya dan memaksanya untuk mengatakan sesuatu. Sementara ia harus tetap bertahan sambil tersenyum.

Namun Linggapati pun mencoba untuk tidak menghiraukannya. Dicobanya untuk seakan-akan tidak ada sesuatu di dalam hatinya, berbicara tentang bermacam-macam hal yang tidak ada hubungannya dengan kunjungan Empu Baladatu.

“Kedatanganku sama sekali tidak ada artinya” berkata Empu Baladatu di dalam hati. Tetapi ia bertekad untuk melanjutkan perjalanannya menemui beherapa orang yang di kenalnya. Tanpa menghiraukan lagi, apakah ia seorang penjahat atau bukan.

Empu Baladatu yang sudah terlanjur menyatakan untuk bermalam itu pun benar-benar telah bermalam di rumah itu, meski pun ia terpaksa tidak dapat melepaskan diri dari kesiagaan. Dengan curiga ia memeriksa biliknya, pintunya dan setiap sudutnya.

Dengan hati-hati pula ia memasang selarak dan memperhatikan apakah selarak itu benar-benar dapat menanahan pintu itu jika dibuka dari luar.

Ketika, ia yakin bahwa tidak ada yang mencurigakan, ia pun kemudian meneliti pembaringannya.

Sambil menarik nafas dalam-dalam, Empu Baladatu pun kemudian membaringkan diri. Tetapi senjatanya tidak juga terpisah dari sisinya.

Empu Baladatu bermalam tidak lebih dari semalam. Ia pun minta diri kepada Linggapati, ketika matahari mulai terbit

“Sepagi ini Empu?” bertanya Linggapati.

“Ya. Aku tidak boleh terlalu lama berada di sini.”

“Kenapa?” bertanya Linggapati.

“Aku membuat kau sibuk. Semalam kau harus kembali kepersembunyianmu. Pagi-pagi ini kau harus datang lagi karena kau mempunyai seorang tamu di sini “

Linggapati tertawa. Jawabnya, “Itu sudah menjadi kewajibanku. Sebenarnya aku dapat saja tidur di sini tanpa rasa takut dan cemas, justru di sini ada Empu Baladatu. Tidak ada orang yang akan dapat menggangguku karena aku mempunyai seorang kawan yang dapat dipercaya.”

Empu Baladatu tertawa. Jawabnya, “Ceritera yang menarik. Tetapi ternyata bahwa kau tidak ada di rumah ini semalam.”

“Ya. Dan bukankah Empu dapat tidur nyenyak.”

“Ya. Meskipun aku harus tetap berhati-hati, jika pada suatu saat ada orang yang salah duga. Orang yang sebenarnya mencarimu, tetapi menemukan aku di sini.”

Linggapati tertawa. Katanya kemudian, “Sebenarnya aku berharap Empu lebih lama berada di rumah ini.”

Suatu permintaan yang menyenangkan meskipun sekedar memenuhi kelajiman., “Maaf, aku harus meneruskan perjalanan.”

Linggapati tidak menahan Empu baladatu lebih lama. Ia tahu bahwa Empu Baladatu telah menjadi kecewa. Tetapi ia tidak tahu pasti, apakah yang sebenarnya tersimpan di dalam hatinya. Nampaknya Empu Baladatu tidak mengacuhkannya lagi. Tidak mengacuhkan persiapan-persiapan yang telah dilakukan.

“Apakah ia yakin pula akan kekuatannya.” pertanyaan itu pun mulai mengganggu Linggapati.

Maka dalam pada itu, Linggapati pun mulai berpikir untuk mengetahui kekuatan Empu Baladatu yang sebenarnya sebelum ia memperhitungkan langkah selanjutnya.

Tetapi Linggapati memang tidak tergesa-gesa. Ia memperhitungkan semua langkahnya dengan hati-hati dan hati yang jernih. Kematian adiknya merupakan pelajaran yang sangat berharga baginya dan suatu noda hitam bagi perjuangannya yang panjang.

Sementara itu Empu Baladatu mulai perjalanannya yang panjang mengunjungi beberapa orang yang dikenalnya dalam dunia perguruan. Orang-orang yang tinggal di padepokan terpencil dan seakan-akan telah menyediakan hidupnya bagi ilmu yang dibinanya. Ilmu yang dianggap memiliki kemampuan yang dapat merubah tataran hidup manusia menghadapi alam di sekitarnya, dan menghadapi manusia sendiri.

Bagi mereka, ilmu kanuragan adalah segala-galanya.

Mula-mula Empu Baladatu agak bimbang, kemana ia harus pergi lebih dahulu. Namun kemudian ia memutuskan untuk pergi ke tempat yang jauh, pergi ke ujung sebelah Timur dari tanah ini.

Empu Baladatu mempunyai seorang kawan yang dikenalnya dengan baik di saat-saat lampaunya. Meskipun Empu Baladatu tidak mengetahui dengan pasti, apa yang dilakukannya di saat terakhir, tetapi ia masih mempunyai harapan bahwa kedatangannya akan disambut baik.

Namun sekilas terbayang, tingkah laku kakaknya yang sama sekali tidak dapat diharapkannya.

“Tetapi Ajar Srenti tentu bersikap lain. Ia seorang yang sangat baik kepadaku. Memiliki kemampuan yang. tidak kalah dengan kakang Empu Sanggadaru dan sudah tentu memiliki jumlah murid dan pengikut yang cukup banyak.” berkata Empu Baladatu kepada diri sendiri. Lalu, “Apalagi letak padepokannya yang jauh, memungkinkan untuk bergerak lebih leluasa, sehingga pada saatnya tentu akan mengejutkan Mahibit dan Singasari.”

Empu Baladatu pun kemudian memacu kudanya. Perjalanannya cukup panjang. Tetapi sebagai seorang yang sudah terlalu sering merantau maka ia sama sekali tidak merasa canggung. Apalagi ia cukup membawa bekal bagi perjalanannya. Meskipun bekalnya itu berasal dari usahanya yang mempergunakan cara-cara yang kurang baik.

“Setelah Ajar Srenti aku akan singgah di padepokan Empu Driyasana. Orang kasar itu tentu senang sekali mengalami peristiwa-peristiwa yang dapat memanaskan darahnya. Dan salah satu usaha yang akan dapat memberikan harapan bagi masa depan sekaligus dapat mendidihkan darah adalah menyingkirkan kedua anak muda yang menguasai tahta sekarang ini.”

[Demikianlah, Empu Baladatu sudah menyusun beberapa orang yang sudah dikenalnya dalam urutan kunjungannya. Memang mungkin satu dua di antara mereka akan menolak. Teapi sebagian besar tentu akan sependapat. Ia dapat menyusun kalimat yang mungkin akan dapat menyentuh hati, sekaligus menghadapkan mereka kepada Mahibit yang sudah bersiap-siap lebih dahulu.

Linggapati tentu akan merasa wajib untuk memperhatikan kegiatanku di hari-hari mendatang. Ialah yang akan datang kepadaku dan minta untuk membuat imbangan kekuatan sebelum bersama-sama menghancurkan Singasari. Tetapi jika ia tetap keras kepala, maka aku tidak akan bekerja bersama dengan orang-orang Mahibit. Bahkan jika perlu, Mahibit harus dibersihkan lebih dahulu sebelum Singasari.”

Namun Empu Baladatu kemudian menundukkan kepalanya. Ia tidak dapat ingkar akan kekuatan Mahibit yang masih di selubungi oleh rahasia itu. Dalam suatu saat, Mahibit dapat mengirimkan sejumlah orang kepadanya, meskipun nampaknya di padepokan Linggapati tidak terdapat seorang pun.

Apalagi kini, pengaruhnya di kalangan para pemimpin di daerah di sekitarnya menjadi semakin maju.

Namun dalam pada itu, semua tingkah laku dari kedua golongan itu tidak lepas dari pengawasan para petugas sandi dari Singasari. Meskipun kadang-kadang mereka kehilangan jejak pemimpin-pemimpinnya, tetapi setiap perkembangan dapat mereka ikuti sebaik-baiknya.

Tetapi agaknya kepergian Empu Baladatu yang hanya seorang diri itu dapat lolos dari pengawasan para petugas sandi di sekitar padepokannya, sehingga para petugas itu tidak membuat perhitungan kemana perginya, dan memberitahukan lebih dahulu kedaerah yang akan dituju.

Itulah sebabnya, maka ia dapat pergi ke ujung Timur tanah ini tanpa pengawasan, sedangkan para petugas sandi sama sekali tidak menduganya.

Perjalanan Empu Baladatu merupakan perjalanan yang cukup makan waktu. Tetapi ia tidak peduli. Ia ingin bertemu dengan kawannya di paling ujung. Kemudian di perjalanan kembali ia akan singgah pula di beberapa orang yang dikenalnya dengan baik tetapi yang sudah agak lama tidak bertemu.

“Mudahkan perjalananku tidak sia-sia seperti kedatanganku di Mahibit” berkata Empu Baladatu kepada diri sendiri.

Tanpa canggung sama sekali ia bermalam di sepanjang perjalanannya dimanapun juga. Ditengah hutan, di ujung bulak, atau di lapangan rumput sekalipun.

Akhirnya Empu Baladatu pun mulai mendekati daerah ujung Timur yang masih lebih tipis penghuninya dari daerah di sekitar Kota Raja. Padukuhannya tersebar agak jauh dan penghuninya nampak lebih jarang. Namun demikian, karena daerah itu sangat luas, maka sekelompok lingkungan meliputi daerah yang luas pula.

Demikian pula padepokan yang dihuni oleh Ajar Srenti. Meskipun padepokan itu agak terpisah dari padukuhan yang tersebar agak jauh, namun pengaruhnya pun meliputi putaran yang jauh pula, sehingga jumlah orang yang berada di bawah pengaruhnya pun cukup banyak.

Empu Baladatu yang sudah sering merantau sejak usia mudanya, seolah-olah mempunyai ingatan pengenalan yang sangar tajam, sehingga ia tidak akan melupakan apa yang pernah dilihatnya walaupun hanya sekali dan sudah terjadi di saat yang lama sekali.

Demikian pula Empu Baladatu tidak melupakan jalur jalan menuju kepadepokan Ajar Srenti. Meskipun setiap kali ia harus mengingat-ingat, namun pepohonan hutan yang masih belum pernah disentuh tangan, masih dapat dikenalnya dengan baik sehingga ia dapat menemukan jalan sempit menuju kepadepokan yang dicarinya.

Dengan demikian, perjalanan Empu Baladatu itu merupakan permulaan dari goncangan yang akan terasa di beberapa tempat yang dikunjunginya kemudian. Ia mulai menyebarkan racun yang akan menggoncang ketenangan dan keteguhan pemerintahan yang dipimpin oleh kedua anak-anak muda yang seakan-akan lahir dibekali oleh kebijaksanaan dari kandungan.

Kedatangan Empu Baladatu di padepokan Ajar Srenti benar-benar telah mengejutkannya. Hampir di luar dugaan, bahwa Empu Baladatu akan berkunjung di padepokan yang terpencil di tempat yang jauh itu.

Karena itulah, maka dengan tergesa-gesa Ajar Srenti sendiri menyambut kedatangan Empu Baladatu. Seorang cantriknya berlari-lari menerima kendali kudanya dan mengikatnya di halaman.

“Bukankah yang datang Empu Baladatu?” bertanya Ajar Srenti dengan nada suaranya yang tinggi.

Empu Baladatu tersenyum. Yang berdiri di hadapannya adalah seorang yang bertubuh tinggi, tidak terlalu besar dan mulai ditumbuhi oleh rambut yang ke-putih-putihan di kepalanya.

“Apakah kau tidak dapat mengenal aku lagi dengan baik?” bertanya Empu Baladatu.

“Tentu aku masih mengenalmu meskipun ada perubahan yang mulai membayang di wajahmu. Kau mulai meningkat menjadi tua seperti aku.”

“Ya. Dan setiap orang akan mengalaminya “

Ajar Srenti tertawa. Katanya kemudian, “Marilah. Kedatanganmu tidak terduga-duga. Jika sehari ini burung prenjak berkicau di sisi kanan pendapa padepokanku, aku sama sekali tidak teringat kepadamu. Aku kira, aku akan menerima tamu orang lain. Tetapi ternyata yang datang adalah sahabat lama yang berasal dari tempat yang jauh sekali.”

Kedunya pun kemudian segera naik kependapa. Mereka saling menanyakan keselamatan masing-masing selama mereka tidak bertemu.

Agaknya Empu Baladatu cukup bersabar untuk tidak segera menyampaikan niat kedatangannya. Ia masih harus mengamati, apakah kira-kira Ajar Srenti dapat mengerti maksudnya, atau justru bersikap lain sama sekali

Ajar Srenti yang tidak tahu tentang maksud kunjungan Empu Baladatu itu pun sebenarnya bertanya-tanya pula di dalam hati. Ia sudah menduga bahwa tentu ada maksud yang penting Karena Empu Baladatu yang berasal dari jauh itu, telah memerlukan menempuh perjalanan yang. panjang unruk menjumpainya.

Tetapi Ajar Srenti tidak menanyakannya, ia menunggu saja sampai saatnya Empu Baladatu mengatakan maksudnya.

Di hari yang pertama Empu Baladatu berada di padepokan Ajar Srenti, ia sama sekali tidak menyinggung-nyinggung kepentingannya. Ia masih dapat menahan diri untuk berbincang tentang beberapa soal yang menyangkut perkembangan padepokan terpencil itu.

“Jadi sudah berapa tahun kau berada di sini “ bertanya Empu Baladatu, “bukankah saat aku datang kemari lima tahun yang lalu, kau baru membuka padepokan ini?”

Ajar Srenti mengerutkan keningnya. Sementara Empu Baladatu berkata selanjutnya, “Maksudku, bahwa lima tahun yang lalu, kau berhasil mendesak pengaruh orang yang menguasai padepokan ini.”

Ajar Srenti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sudahlah. Jangan kau sebut-sebut yang telah lampau. Kadang-kadang aku jadi ragu-ragu, apakah aku akan dapat menerima kenangan itu sebagai masa lampauku “

“O, kenapa tidak? Kau sekarang telah berhasil membangun padepokan ini menjadi jauh lebih baik dari masa-masa yang lampau, apalagi sebelum kau berada di tempat ini.”

“Ya.”

“Sejak kau mulai memanjat ke jenjang keberhasilanmu sekarang, maka yang lampau itu akan selalu menjadi pendorong bagimu. Tidak semua orang yang tersisih selalu akan hidup dalam keterasingan.” Empu Baladatu berhenti sejenak, lalu, “kau dapat berbangga, bahwa kau, seorang buruan yang akan mengalami hukuman pancung, berhasil sampai di suatu tempat yang jauh dan memegang pengaruh sebesar pengaruh mu sekarang “

“Ah” desis Ajar Srenti, “apakah kenangan itu merupakan kenangan yang baik? Lima tahun yang lalu, ketika kau datang ketempat ini, kau masih meragukan, bahwa pada suatu saat aku akan kambuh lagi dan hidup seperti masa lalu Itu. Namun aku berusaha untuk menghindar dari keadaan itu meskipun aku bukan orang yang benar-benar dapat menjadi orang yang bersih sarna sekali.”

Empu Baladatu tertawa. Katanya, “Aku keliru. Waktu lima tahun banyak membawa perubahan. Tetapi tidak dengan prajurit-prajurit Singasari. Mereka akan selalu mengingatmu sebagai seorang buruan. Kejahatan yang kau lakukan, mungkin tidak akan terlalu nampak jelas jika itu justru terjadi di Kota Raja Tetapi di tempat lain, justru nampak terlampau besar.”

Ajar Srenti mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah Empu Baladatu dengan tajamnya. Dengan nada yang, dalam ia bertanya, “Apakah maksudmu sebenarnya Empu “

Empu Baladatu tertawa. Katanya, “Tidak apa-apa. Aku hanya akan mengagumimu. Sekarang kedudukanmu menjadi kuat dan orang-orang Singasari tidak akan berani dengan begitu saja datang memburumu di tempat ini.”

“Katakan. Kau tentu mempunyai maksud tertentu Kau mengenal aku sebagai seorang buruan yang seharusnya menjalani hukuman pancung karena aku telah membunuh suami isteri terkutuk, yang kebetulan adalah keluarga seorang bangsawan. Apakah kau sekarang menjadi seorang petugas sandi yang dengan sengaja datang untuk menangkapku? Kenapa tidak kau lakukan lima tahun yang lalu, ketika kau datang ke tempat ini,dan kedudukanku belum sekuat sekarang?”

“Ah, jangan salah sangka. Apakah tampangku sekarang seperti tampang seorang prajurit?” Empu Baladatu memotong, “sebenarnyalah bahwa aku kini mengalami nasib yang sama seperti yang kau alami. Aku pun seorang buruan, karena aku telah melakukan kejahatan. Aku telah bertengkar dengan kakak kandungku. Teapi dalam pertengkaran itu terlibat anak buahku dan cantrik kakang Sanggadaru. Tetapi prajurit Singasari tidak adil. Akulah yang dianggapnya bersalah, dan akulah yang kemudian menjadi seorang buruan.”

Ajar Srenti memandangnya dengan curiga., “Apakah kau tidak percaya?” bertanya Empu Baladatu.

“Aku tidak tahu” jawab Ajar Srenti, “apakah aku harus mempercayaimu atau tidak.”

Empu Baladatu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku minta kau percaya. Aku sudah berjalan sangat jauh.”

“Kau akan bersembunyi di sini?”

“Tidak. Aku tidak sedang bersembunyi.”

“Jadi, kenapa kau datang kepadepokanku yang sangat jauh ini?”

“Aku akan membalas dendam. Aku akan menghancurkan prajurit Singasari “

Ajar Srenti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mana mungkin hal itu dapat dilakukan. Singasari mempunyai pasukan yang kuat. Bukan saja di kota Raja, tetapi di setiap tempat, prajurit Singasari selalu dapat menguasai keadaan “

“Mungkin jika aku berdiri sendiri. Kau berdiri sendiri. Kebo Ranu berdiri sendiri. Dan yang lain-lain berdiri sendiri “

“Maksudmu?”

“Kita dapat bergabung dalam satu kekuatan. Kita akan dapat melepaskan diri dari himpitan perasaan, bahwa kita adalah orang buruan “

Ajar Srenti termangu-mangu sejenak Namun katanya kemudian, “Apakah aku sekarang di sini masih harus juga merasa diriku orang buruan?”

“Mungkin dalam saat-saat seperti ini kau dapat melupakan bahwa kau adalah orang buruan. Tetapi pada suatu saat kau akan merasa bahwa kau memang seorang yang masih di cari “

Ajar Srenti memandang Empu Baladatu dengan tajamnya. Lalu katanya, “Kau ingin melibatkan aku ke dalam persoalanmu?”

Empu Baladatu mengerutkan, keningnya. Namun ia pun kemudian tertawa, “Kau berprasangka. Tetapi baiklah. Aku memang harus mengakui bahwa aku ingin melibatkan bukan saja kau. Tetapi juga orang-orang lain yang mempunyai kedudukan yang, sulit seperti aku. Bahkan mereka yang tidak pun akan aku coba untuk mengajak mereka menumbangkan pemerintahan Singasari yang sekarang dengan segala macam cara.”

“Kenapa kau berkeinginan untuk menumbangkan kekuasaan kedua anak-anak muda itu Empu?” bertanya Ajar Srenti.

“Keduanya sama sekali tidak dapat menempatkan diri dalam kedudukannya. Apakah kau merasakan keadilan itu?”

Ajar Srenti tiba-tiba saja tersenyum. Katanya, “Memang aneh. Kadang-kadang kita didorong oleh suatu keinginan tanpa menghiraukan pengamatan kita atas keadaan di sekeliling kita. Aku menyadari bahwa kau merasa terancam karena kau orang buruan seperti aku. Itulah yang benar.”

“Kau menanggap begitu?”

”Ya. Tetapi aku juga tidak menutup kemungkinan, bahwa kadang-kadang kita diterbangkan oleh angan-angan yang melambung. Seperti angan-anganmu untuk mengalahkan Singasari “

“Sikapmu asing bagiku.”

Ajar Srenti menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Katakan saja bahwa kau telah didera oleh suatu keinginan untuk mendesak kamukten Kerajaan Singasari sekarang. Suatu keinginan yang sebenarnya gila. Aku tidak dapat membayangkan jalan pikiranmu, bahwa pada suatu saat kau ingin menjadi raja di Singasari.”

“Sama sekali bukan sesuatu yang mustahil. Sri Rajasa adalah seorang Akuwu Tumapel sebelum ia menjadi seorang Maharaja. Dan ia seorang petualang dan bahkan seorang buruan sebelum ia menjadi seorang Akuwu.”

“Mimpimu terlalu buram. Kau kira bahwa semuanya itu terjadi dengan sendirinya? Ken Arok adalah keturunan Dewa Brahma, Itulah soalnya.”

Empu Baladatu tertawa. Jawabnya, “Kau percaya bahwa Ken Arok itu putera Dewa Brahma yang mencegat ibunya saat ia pergi kesawah menyusul suaminya?”

Ajar Srenti ragu-ragu.

Empu Baladatu masih tertawa. Ia memandang Ajar Srenti yang termangu-mangu. Katanya kemudian, “Sudahlah. Jangan kau pikirkan lagi Ken Arok. Aku hanya memberikan sekedar bandingan, bahwa kita pun akan dapat menjadi seorang, Maharaja jika kita menginginkannya.”

Tetapi Ajar Srenti masih menggeleng, “Bukan sekedar menginginkannya. Tetapi masih banyak persoalan-persoalan yang diselesaikan.”

“Kita sedang mencari jalan untuk menyelesaikan persoalan itu “

Ajar Srenti termangu-mangu.

“Aku tidak tergesa-gesa. Pikirkanlah. Selama itu aku akan tinggal di padepokanmu. Setiap pagi aku dapat melihat pantai di ujung Timur. Melihat matahari terbit di atas gelombang yang lembut.”

Ajar Srenti tidak menjawab.

Seperti yang dikatakannya, maka Empu Baladatu pun tinggal untuk beberapa hari di padepokan Ajar Srenti. Hampir setiap hari ia mempersoalkan Singasari meskipun ia selalu menjaga agar kata-katanya justru tidak menjemukan.

Dengan demikian, maka seolah-olah Empu Baladatu dapat memberikan keyakinan bahwa usahanya bukannya usaha yang mustahil. Perjuangan yang panjang akan dapat memberikan hasil yang diharapkan.

“Empu” berkata Ajar Srenti akhirnya,, “ceriteramu dapat mempengaruhi aku. Juga ancaman-ancamanmu bahwa pada suatu saat padepokan ini tentu dikepung dan dihancurkan oleh prajurit-prajurit Singasari, meskipun aku curiga bahwa kaulah yang akan menyampaikan keterangan tentang aku kepada mereka.”

“Ah. Aku tidak gila” jawab Empu Baladatu, “tentu aku tidak akan melakukannya meskipun seandainya kau tidak sependapat dengan aku dalam hal perjuangan ini “

“Ya. Mungkin tidak. Tetapi baiklah aku mempersiapkan diri. Pengaruhku cukup luas di daerah terpencil ini. Aku dapat mengadakan persiapan-persiapan yang matang. Sementara aku mulai bermimpi untuk menjadi seorang Akuwu di daerah ini. atau bahkan menjadi seorang raja yang berkuasa di daerah Timur. Meskipun sebenarnya aku akan menjadi segan untuk memanggilmu Sri Maharaja di Singasari.”

Empu Baladatu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tertawa, “Bukan kedudukan sebagai seorang Maharaja yang terpenting bagiku. Tetapi pemerintahan Singasari yang berwajah lain dari sekarang.”

“Yang prajurit-prajuritnya semuanya memiliki ilmu yang bersumber pada kekuatan hitam seperti orang-orang di padepokanmu yang kini jumlahnya tentu menjadi semakin bertambah-tambah.”

Empu Baladatu tersenyum. Jawabnya, “Terima kasih Tetapi kelak akan terbukti bahwa aku tidak sebodoh yang kau sangka. Juga bukan seorang yang sekedar didorong oleh ketamakan dan kekerdilan sikap.”

“Baiklah Empu. Aku akan membantumu. Aku akan mempersiapkan padepokan ini. Namun kelanjutannya, aku akan menunggu semua pesan-pesanmu.”

Ternyata bahwa perjalanan Empu Baladatu yang jauh itu tidak sia-sia. Setelah Empu Baladatu yakin bahwa Ajar Srenti tidak sekedar berpura-pura, maka Empu Baladatu pun merasa bahwa yang dicarinya di tempat itu sudah didapatkannya.

Karena itulah, maka ia pun minta diri untuk melanjutkan perjalanannya, menemui kawan-kawannya yang lain.

Dari ujung sebelah Timur, Empu Baladatu merambat ke Barat. Satu-satu kawan-kawannya dihubunginya. Namun tidak semuanya memberikan hasil seperti yang diharapkan

Meskipun demikian, Empu Baladatu menilai bahwa perjalanannya bukan berarti tidak berhasil. Beberapa orang kawan kawannya menyatakan bersedia bekerja bersamanya, meskipun sebagian dari mereka adalah orang-orang yang berdunia hitam seperti Empu Baladatu.

“Pada suatu saat aku akan mengirimkan orang-orangku serentak kepada mereka yang dapat mengerti perjuanganku” berkata Empu Baladatu, “kita bersama-sama di tempat kita masing-masing akan mengadakan suatu gerakan serentak. Dengan demikian maka Singasari akan merasa bahwa seluruh negeri telah menjadi goyah. Jika di mana-mana terjadi kekacauan, maka orang-orang Singasari akan merasa memerlukan perlindungan. Singasari tentu tidak akan mempunyai orang yang cukup untuk mengatasi semua goncangan sekaligus. Selama itu kita dapat mempermainkan mereka dengan gerakan yang berpindah-pindah.

“Kami menunggu rencanamu” hampir semuanya menyerahkan persolannya kepada Empu Baladatu

Dengan bangga maka Empu Baladatu pun kemudian menempuh perjalanan kembali. Ia tidak dapat menahan keinginannya untuk menyombongkan diri kepada Linggapati, bahwa sebenarnyalah ia sudah memiliki kekuatan yang seimbang, bahkan melampaui kekuatan Linggapati.

Dengan cara yang sama pada saat ia berangkat, maka ia pun berhasil menjumpai orang Mahibit itu. Dan seperti saat ia berangkat, maka ia pun mendapat tempat yang sama.

“Menarik sekali” berkata Linggapati ketika Empu Baladatu bahwa perjalanannya membuat hubungan dengan kawan-kawannya telah berhasil tanpa menyebutkan siapa saja yang pernah di hubunginya, “pada saatnya kita akan dapat bergerak hersama-sama.”

Empu Baladatu tersenyum. Katanya, “Aku sedang mempersiapkan diri. Aku berharap bahwa kau menyesuaikan diri dengan perkembangan sikapku.”

Linggapati mengerutkan keningnya. Bahkan wajahnya kemudian menjadi tegang. Dengan nada datar ia bertanya, “Jadi maksudmu, kau menentukan segala-galanya, dan aku harus menyesuaikan semua rencana dan kegiatanku?

“Ya. Karena kekuatankulah yang akan menentukan masa depan Singasari.”

Linggapati kemudian justru tertawa. Katanya, “Menggelikan sekali. Empu memang pandai bergurau, sehingga Empu telah bergurau dengan rencana Empu sendiri.”

“Aku berkata sesungguhnya. Bahwa akulah yang kelak akan menentukan segala-galanya.”

“Jadi Empu yakin sekali?”

“Tentu. Aku yakin sekali.”

Linggapati pun tertawa pula. Semakin keras. Katanya, “Baiklah Empu. Kita akan melihat, siapakah sebenarnya yang berkuasa untuk menentukan masa depan. Mungkin Empu Baladatu. Tetapi mungkin juga aku. Meskipun demikian, baiklah sekarang kita tidak usah mempersoalkannya lebih dahulu. Biarlah perkembangan keadaan nanti membuktikan, siapakah yang akan berkuasa kelak. Namun bukankah kita tidak melupakan bahwa kita akan bekerja bersama?”

Empu Baladalu mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya. Kita akan bekerja bersama. Aku hanya sekedar memberikan gambaran, kekuatan tersebar dari ujung sampai keujung.”

“Ujung jangkauanmu. Bukankah begitu Empu?

Empu Baladatu mengerutkan keningnya- Tetapi kemudian ia menjawab, “Begitulah setidak-tidaknya. Tetapi yang paling baik bagi kita, seperti yang kau katakan, kita akan melihat perkembangan keadaan “

“Ya.” Sahut Linggapati, “agaknya Empu memang harus melihat keadaan. Bukan saja keadaan di dalam lingkungan Singasari sendiri. Tetapi juga hubungan Singasari dengan kekuatan-kekuatan di sekitarnya “

“Maksudmu?”

“Kau sangka bahwa yang akan kita hadapi hanyalah sekedar kekuatan Singasari?”

“Jadi apa?”

“Kita harus memperhitungkan perkembangan hubungan Singasari dengan dunia di luar kita. Kita harus mulai melihat kenyataan, bahwa kita pernah melihat sebuah kapal yang tidak kita kenal merapat di pesisir.”

“Kau melihat?”

“Aku sendiri tidak Tetapi aku pernah mendengar berita dari orang yang melihatnya dan orang yang dapat aku percaya. Di lain kesempatan, kapal yang lain telah berlabuh. Sementara beberapa orang raja yang termasuk kekuasaan Singasari telah mulai berhubungan dengan dunia luar, maka Kediri pun sudah berbenah pula.”

“Kediri? Apakah Kediri masih mempunyai kekuatan untuk bangkit?”

“Itulah kelemahanmu. Kau hanya melihat dirimu sendiri dan aku. Tetapi seharusnya kau melihat segala-galanya. Kediri agaknya mempunyai perhitungan yang sama dengan kita. Mereka tidak akan bertindak tergesa-gesa. Tetapi Kediri akan menunggu satu dua keturunan lagi.”

“Persetan. Kau hanya mencoba menakut-nakuti aku.” Linggapati tersenyum. Jawabnya, “Sebenarnya aku sama sekali tidak ingin menakut-nakuti. Tetapi ketahuilah, bahwa jalan pikiranmu memang terlalu sempit. Kau tidak memperhatikan apapun juga kecuali nafsumu untuk merebut kekuasaan di Singasari. Seandainya kau berhasil, maka yang akan kau capai bukannya apa-apa. Tetapi sekedar saling berbunuhan di antara kita, karena kekuasaanmu sebentar lagi tentu akan segera pudar. Apakah itu karena bangkitnya Kediri, atau bangkitnya kekuasaan di pesisir dan hadirnya orang asing, atau karena kekuatanmu yang kau hentakkan sekaligus untuk merebut Kota Raja telah menjadi rapuh, sementara pengaruhmu sama sekali tidak berakar.”

Empu Baladatu mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia berkata, “Pikiranmu terlampau berbelit-belit. Itulah agaknya kau bergerak terlalu lambat. Kau memperhitungkan hal-hal yang tidak akan terjadi. Kemungkinan-kemungkinan yang kecil sekali telah kau lihat berlipat kali besarnya. Namun semuanya itu hanya sekedar menunjukkan kekerdilanmu.”

Linggapati menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya, “Kau memang seorang yang berani. Berilmu dan mempunyai kekuatan yang besar. Tetapi kau adalah orang yang picik. Hubungan kenegaraan bukannya sekedar bubungan kekuatan antara dua belah pihak di sekitar Kota Raja.”

“Kekuatanku tersebar di seluruh Singasari. Aku mengerti bahwa Kota Raja tidak menentukan segala-galanya. .”

“Bagus. Tetapi huhungan Singasari dengan lingkungan pemerintahan di bawahnya. Raja-raja yang berada di bawah pengaruhnya dan hubungan Singasari dengan kekuatan di luar lingkungannya.”

“Aku tidak peduli. Aku sudah mempunyai gambaran tersendiri tentang Singasari dan kekuatannya di daerah-daerah terpencil. Aku akan menguasainya dan menggoncangkannya sehingga pada suatu saat, kekuasaan itu akan roboh. Jika kau tidak berusaha menyesuaikan diri, maka kau pun akan tergilas oleh kekuasaan baru yang akan tumbuh di atas negeri ini. Demikian juga Kediri dan raja-raja kecil yang tersebar di daerah-daerah kecil pula sampai pada kekuasaan para Akuwu.”

“Mimpimu indah sekali, seperti mimpi seorang anak muda di malam purnama.”

“Persetan.”

Linggapati mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tertawa sambil berkata, “Kau bukan seorang pemimpin pemerintahan. Tetapi kau adalah seorang pemimpin sekelompok orang yang haus akan darah dan kekuasaan, “

“Apapun yang kau sebut bagiku, aku tidak akan ingkar. Tetapi lihatlah, jika kau tidak berusaha menyesuaikan dirimu, maka kau akan tergilas oleh kekuasaanku kelak.”

Linggapati tertawa semakin keras. Katanya, “Baiklah Empu. Aku akan berusaha untuk menyesuaikan diri.”

Jawaban itu benar-benar telah membingungkan Empu Baladatu. Namun, ia tidak bertanya lebih banyak. Ia mengerti, meskipun kurang pasti, bahwa Linggapati adalah orang yang licik. Orang, yang dapat mengatakan apa saja yang sama sekali tidak sesuai dengan kehendaknya yang sebenarnya, bahkan bertentangan dengan yang sebenarnya akan dilakukannya.

Senyum dan tertawanya bagi Empu Baladatu mengandung seribu macam arti. Kadang-kadang memberikan harapan, namun kadang-kadang terasa mencekik lehernya sehingga nafasnya bagaikan tersumbat. Bahkan kadang-kadang dirasakannya bagaikan tusukan racun ular yang paling berbahaya.

Karena itulah, Empu Baladatu menjadi sangat sulit untuk menilai Linggapati dan kekuatan Mahibit yang sebenarnya. Namun demikian, ia sudah berketetapan hati untuk melangkah terus, apapun yang akan dilakukan oleh Linggapati.

Setelah bermalam lagi semalam di tempat itu, maka Empu Baladatu pun kemudian minta diri untnk kembali kepadepokannya. Ia harus segera mulai menyusun diri. Bukan ia yang harus menyesuaikan diri dengan rencana Linggapati, tetapi Linggapati lah yang harus menyesuaikan diri dengan rencananya.

Di perjalanan kembali, Empu Baladatu selalu mencoba melihat apakah yang sebaiknya dilakukan. Baginya, Empu Sanggadaru masih tetap merupakan duri di dalam daging. Apalagi ternyata bahwa orang-orang dari padepokan Serigala Putih dan Macan Kumbang telah berada di bawah pengaruh Empu Sanggadaru dan prajurit dari Singasari-

“Mereka sudah mendapatkan latihan-latihan yang nampaknya semakin lama akan menjadi semakin baik” berkata Empu Baladatu kepada diri sendiri. Namun kemudian terbayang kekuatan yang tersebar yang sudah berjanji untuk ikut serta membantunya jika saatnya sudah tiba.

Ternyata bahwa Empu Baladatu tidak puas dengan perjalanannya yang searah. Ia masih ingin melanjutkan perjalanannya ke arah yang lain untuk menghubungi beberapa nama yang sudah dikenalnya, untuk meyakinkan dirinya sendiri, bahwa kedudukannya semakin bertambah kuat.

Sepeninggal Empu Baladatu, Linggapati pun mempunyai rencananya sendiri. Seperti yang dikatkannya, maka sambil tersenyum ia bergumam kepada diri sendiri, “Aku memang harus menyesuaikan diri “

Linggapati benar-benar berusaha untuk menyesuaikan diri. Ia justru mengambil keuntungan dengan tingkah laku Empu Baladatu. Setelah membicarakannya dengan beberapa orang pemimpin pasukannya, maka Linggapati mengambil kesimpulan untuk menyampaikan rencana Empu Baladatu kepada semua pengikutnya.

Tetapi bunyi pesan Linggapati ternyata berbeda sekali dengan tanggapan Empu Baladatu, atas kesediaan Linggapati untuk menyesuaikan diri.

Linggapati ternyata telah memberikan pesan kepada semua pengikutnya di beberapa tempat yang berpencar agar mereka justru berdiam diri menghadapi pergolakan keadaan yang mungkin akan ditimbulkan oleb Empu Baladatu. Bahkan Linggapati memberikan perintah kepada semua pengikutnya agar mereka melaporkan kepada prajurit Singasari atau para Akuwu dan pemimpin pemerintahan yang ada. Dengan demikian maka akan terjadi benturan-benturan kekerasan antara kekuatan yang berpihak kepada Empu Baladatu dan kekuatan Singasari, sehingga keduanya akan mengalami susutnya kekuatan. Selebihnya, Singasari tidak akan mencurigainya bergerak lagi sepeninggal adiknya jika yang nampak oleh mereka adalah kekuatan Empu Baladatu.

Pesan Linggapati itu tersebar sejalan dengan pesan Empu Baladatu yang isinya justru berlawanan. Empu Baladatu berpesan agar orang-orang yang sudah bersedia membantunya segera menyiapkan kekuatan. Mereka harus menghimpun pasukan sebanyak-banyaknya. Mengadakan latihan-latihan tersembunyi dan bila saatnya datang, mereka harus menumbuhkan pergolakan-, sehingga kekuatan Singasari akan, terpencar.

“Pada saat yang demikian, maka Kota Raja akan menjadi lemah. Aku akan datang dan merebut tahta dari tangan kedua anak-anak muda yang masih belum hilang ingusnya.” berkata Empu Baladata kepada diri sendiri.

Ternyata bahwa kedua pesan lewat jalur yang berbeda itu pun telah diterima dengan. sungguh-sungguh. Orang-orang yang ternyata telah menyediakan diri bekerja bersama Empu Baladatu pun segera mulai mempersiapkan orang-orangnya. Mereka menghimpun anak-anak muda yang berada di bawah pengaruhnya, dan memberikan latihan-latihan kepada mereka, bagaimana mereka harus mempergunakan pedang.

“Ilmu semacam itu perlu bagi kalian. Latihan-latihan yang sudah kalian terima ternyata maju selambat siput merambat di atas batu. Kalian harus lebih bersungguh-sungguh, agar perkembangan ilmu itu menjadi semakin cepat, meskipun seandainya ilmu itu tidak akan kalian pergunakan sama sekali.” Berkata para pemimpin padepokan yang telah bersedia menerima pengaruh Empu Baladatu.

Hampir serentak maka beberapa padepokan yang tersebar telah seakan-akan bangkit dari tidurnya yang panjang. Mereka memanggil anak-anak muda dari padukuhan di sekitarnya. Padukuhan yang berada di bawah pengaruhnya.

Dengan berbagai macam janji mereka telah memberikan banyak harapan bagi masa depan anak-anak muda itu, sehingga dengan demikian, banyak di antara mereka yang tidak mengerti apa yang sebaliknya harus mereka lakukan.

“Kita harus membangun masa depan sesuai dengan keinginan kita sendiri” berkata salah seorang pemimpin padepokan kepada anak-anak muda itu.

Namun dalam pada itu, di luar sadar mereka, beberapa orang dengan teliti sedang mengamati berkembangan mereka. Orang-orang yang berada di bawah jalur perintah Linggapati.

“Pada saatnya mereka mulai dengan rencana mereka maka kita harus memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas kepada para prajurit Singasari” berkata salah seorang dari mereka kepada kawannya.

Kawannya tersenyum. Jawabnya, “Kita melihat dua ke kuatan yang akan saling menggempur. Meskipun prajurit Singasari tentu akan dapat mengatasi mereka, tetapi prajurit Singasari itu tentu akan memberikan korban yang banyak sekali “

Yang lain tertawa. Katanya, “Rencana yang manis sekali. Setelah prajurit Singasari itu seolah-olah terluka parah, kita akan datang dengan kekuatan yang segar menggulung mereka dari satu tempat ketempat yang lain.”

Mereka tertawa seolah-olah mereka relah mulai meraih kemenangan demi kemenangan.

Untuk meyakinkan diri, maka Empu Baladatu pun setiap kali memerlukan untuk melihat-lihat kekuatan yang berkembang di padepokan-padepokan yang berpencaran. Dengan bangga ia melihat anak-anak muda telah meningkatkan kemampuan mereka setapak demi setapak.

“Kita harus memelihara hubungan terus menerus” ber kata Empu Baladatu, “jika kalian ragu-ragu karena petugas-petugasku belum datang dalam saat-saat yang kalian perlukan, maka kalian wajib mengirimkan orang-orang terpercaya kepadaku. Ketempat yang sudah aku tentukan.”

Dan para pemimpin padepokan itu pun mentaatinya. Pada saat-saat tertentu mereka mengirimkan orang-orangnya ke tempat yang ditunjuk oleh Empu Baladatu. Namun seperti Linggapati, ia tetap merahasiakan tempatnya yang sebenarnya.

“Tetapi orang-orang yang datang ke tempat itu haruslah orang-orang yang sudah menyediakan diri untuk mati” berkata Empu Baladatu kepada para pemimpin kelompok, “siapa yang tertangkap dalam perjalanan menuju ke tempat yang sudah ditentukan itu, harus membunuh dirinya. Jika tekanan beberapa orang yang menangkap mereka dari pihak manapun juga tidak teratasi, sehingga mulut sudah akan mengucapkan pengakuan, maka dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran, maka racun yang tersedia harus ditelannya. ,”

Meskipun kemungkinan itu terjadi, tetapi ada juga di antara orang-orang padukuhan yang bersedia melakukan tugas untuk menghubungi induk mereka di tempat yang sudah ditentukan oleh Empu Baladatu dengan beberapa butir racun di dalam kantong ikat pinggang mereka. Mereka seolah-olah menjadi bangga dengan tugas itu. Kematian merupakan sesuatu yang sama sekali tidak menakutkan lagi.

Tetapi di samping tugas-tugas mereka yang telah ditentukan, maka sebagian dari mereka, adalah orang-orang yang berjalan, di jalan yang sesat di kehidupan mereka sehari-hari. Dalam tugas-tugas tertentu, mereka pun sama sekali tidak meninggalkan pekerjaan mereka. Merampok dan menyamun.

“Kalian akan menjadi prajurit-prajurit pilihan dengan pangkat dan jabatan yang tinggi” pemimpin-pemimpin mereka selalu memberikan janji.,

Tetapi yang terbayang di angan-angan para perampok itu bukannya kewajiban seorang pemimpin prajurit yang bertanggung jawab, tetapi yang mereka dambakan adalah kesempatan untuk menyalah gunakan wewenang mereka. Dengan kekuasaan yang ada mereka dapat lebih banyak berbuat sesuai dengan kebiasaan mereka. Merampok dan menyamun dengan cara yang lebih terhormat, karena kemenangan yang akan mereka capai dengan melawan pemerintahan Singasari akan memberikan hak kepada mereka untuk memangku pangkat dan jabatan yang tinggi.

Ternyata Empu Baladatu sama sekali tidak berkeberatan terhadap sikap dan perbuatan orang-orangnya. Bahkan kadang-kadang ia justru membenarkan perbuatan itu.

Para prajurit Singasari yang mencium jejak mereka akan menganggap bahwa mereka adalah perampok-perampok dan penyamun-penyamun yang tidak memiliki kepentingan lain kecuali mendapatkan harta kekayaan orang lain dengan cara yang paling keji.

“Lebih baik mereka ditangkap dan diadili sebagai para perampok daripada mereka harus diperas keterangannya mengenai rencana mereka yang dikaitkan dengan rencana besar dalam keseluruhan,” kata Empu Baladatu kepada para pemimpin padepokan yang berada di hawah pengaruhnya.

Para pemimpin padepokan itu dapat menerima jalan pikiran Empu Baladatu dan sekaligus mendapat bekal bagi usaha mereka yang bakal datang. Usaha yang akan memberikan kesempatan yang menyenangkan sekali di masa depan.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...