Selasa, 02 Februari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 32-01

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 32-01*

Karya.  : SH Mintardja

Namun perkelahian itu telah dimulai. Tidak ada gunanya lagi untuk memikirkan, apakah mereka akan menghindar atau akan mati. Apapun yang akan mereka lakukan, Empu Baladatu telah mengambil keputusan untuk membunuh semua orang yang datang kepadanya dan pengawalnya.

Dengan garangnya Empu Baladatu mendesak lawannya. Namun ia tidak segera mulai membunuh. Ia ingin memperlihatkan betapa ngerinya bertempur melawannya. Baru setelah lawan-lawannya menjadi cemas dan menyesal ia mulai akan membunuh mereka seorang demi seorang.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba Empu Baladatu teringat kepada anak panah sendaren yang dilontarkan oleh salah seorang dari orang-orang padukuhan itu. Karena itu maka dengan suara yang dalam ia mengeram, “Salah seorang dari kalian telah melontarkan anak panah sendaren. Sayang, bahwa hal itu telah mempercepat saat mati kalian, karena jika ada orang yang mendengarnya, maka mereka akan segera mempersiapkan bantuan. Mungkin sepasukan prajurit akan datang atau justru seisi padepokan kakang Sanggadaru. Karena itu aku harus mempercepat kerjaku.”

Lawan-lawannya masih tetap berdiam diri. Mereka telah menjadi basah oleh keringat di segenap tubuhnya. Bahkan tangan-tangan mereka yang menggenggam pedang pun menjadi basah oleh keringat pula.

Tetapi pada saat mereka terdesak seakan-akan tidak melihat lagi jalan keluar dari kematian, arena itu telah dikejutkan oleh derap beberapa ekor kuda.

Dari kejauhan nampak empat ekor kuda berpacu dengan kencangnya mendekati arena, perkelahian di pinggir hutan itu.

“Gila” teriak Empu Baladatu. Namun ketika ia melihat hanya empat orang yang datang, maka ia pun segera berteriak, “Marilah anak-anak, jika kalian memang ingin mengantarkan nyawa kalian “

Belum lagi gema suaranya terputus, maka terdengar seseorang mengeluh. Pundaknya telah tertusuk oleh ujung pisau belati Empu Baladatu. Bahkan terdengar keluhan yang menyusul hampir di saat yang bersamaan. Dua orang lawannya ternyata telah terluka.

Empu Baladatu yang marah melihat kedatangan empat ekor kuda itu, dalam sekejap telah melukai dua orang lawannya. Meskipun luka itu tidak merenggut nyawa mereka, tetapi dengan demikian, maka tangan mereka serasa telah menjadi lumpuh dan tidak berdaya lagi untuk melawan.

Empu Baladatu tidak terhenti dengan keluhan-keluhan itu. Ia pun segera bersiap untuk menjatuhkan korbannya yang, lain. Untuk melawan jumlah yang jauh lebih banyak, maka ia harus menjatuhkan dan melumpuhkannya dahulu sebanyak-banyaknya sebelum ia mulai mengelupas kulit lawannya seorang, demi seorang.

Namun ternyata bahwa lawan-lawannya tidak menjadi gemetar ketakutan dan membiarkan senjatanya menghunjam di dada mereka. Meskipun lawan-lawannya tidak akan mungkin melukai nya meskipun banya segores, tetapi mereka masih sempat mengambil jarak untuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan yang akan datang dengan kesadaran sepenuhnya bahwa Empu Baladatu memang tidak akan dapat mereka lawan. Namun derap kaki kuda itu telah memberikan harapan kepada mereka untuk menyelamatkan diri.

Kedua prajurit Singasari serta kedua kakak beradik itu sempat melihat, bagaimana Empu Baladatu melukai lawannya. Karena itu mereka melecut kuda mereka untuk lebih cepat mencapai arena perkelahian.

Tetapi sebelum mereka meloncat turun, terdengar lagi keluhan tertahan dan desah kesakitan. Seorang lawannya lagi telah terluka cukup parah.

Ketiga lawan Empu Baladatu yang terluka itu tinggal dapat berdiri sambil menyeringai kesakitan. Mereka hanya dapat menunggu, dan mungkin menghindar jika Empu Baladatu menyerang dan membunuh mereka seorang demi seorang.

Namun dalam saat yang gawat itu keempat orang berkuda itu telah berdiri di sekitar arena perkelahian itu. Mereka masih sempat mengikat kendali kuda mereka, dan berlari-lari mendekati Empu Baladatu yang mengeram oleh kemarahan yang tidak tertahankan.

Adalah diluar dugaan, bahwa belum lagi keempat orang itu mendekat, Empu Baladatu lah yang melenting seperti bilalang, langsung menyongsong salah seorang prajurit Singasari yang mendekatinya.

Serangan itu benar-benar tidak terduga. Itulah sebabnya, maka prajurit itu tidak sempat melepaskan diri dari terkaman Empu Baladatu. Meskipun ia masih sempat berusaha mengelak, tetapi pisau Empu Baladatu telah berhasil menyobek kulit, lengannya.

“Gila” teriak Empu Baladatu “kau dapat mengelak he?”

Empu Baladatu kemudian harus bertempur melawan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dibantu oleh kedua prajurit Singasari. Ternyata yang memegang peranan dalam perkelahian itu justru Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, bukan kedua prajurit itu.

Dalam pada itu, perkelahian di lingkaran pertempuran yang lain pun masih terjadi dengan serunya. Melawan tiga orang yang sudah mendapat latihan dari prajurit-prajurit Singasari pengawal Empu Baladatu memang agak mengalami kesulitan. Apalagi lawannya yang tiga orang itu, dalam keadaan terdesak segera menampakkan dasar ilmu kanuragan yang sudah dimiliki sebelum ia mempelajari ilmu yang lebih mapan dari para prajurit. Mereka pada saat-saat tertentu menjadi kasar dan bahkan liar, seperti juga pengawal Empu Baladatu.

Hanya karena kesadarannya untuk tetap mempertahankan keseimbangan tata geraknya sajalah, maka ketiga orang itu tidak bertempur dengan buasnya.

Meskipun demikian, pada saat tertentu pengawal Empu Baladatu itu terkejut, bahwa kekasaran ilmu hitam masih juga nampak pada ketiga orang lawannya.

Orang-orang yang terluka oleh senjata Empu Baladatu ternyata sudah tidak mampu lagi untuk berbuat sesuatu. Mereka terduduk di rerumputan dengan wajah yang tegang. Sekali-kali mereka menyeringai menahan pedih. Dengan kain panjangnya mereka berusaha menahan darah yang mengalir dari luka-lukanya itu.

Sementara itu, Mahisa Murti dan. Mahisa Pukat berkelahi dengan lincahnya dibantu oleh dua orang prajurit Singasari. Kedua anak muda ternyata mampu bergerak secepat anak kijang. Mereka berputaran di sekeliling Empu Baladatu, seolah-olah ingin mengejeknya, bahwa mereka pun mampu bertempur dengan cara yang selalu dipergunakan oleh orang-orang berilmu hitam.

“Gila” Empu Baladatu menggeram.

Tetapi kedua anak-anak muda itu memang sangat lincah. Apalagi di samping mereka masih ada dua orang prajurit yang memiliki ilmu yang harus diperhitungkan pula.

Karena itulah, maka Empu Baladatu yang dikagumi itu tidak segera mampu mendesak lawannya. Bahkan kedua anak Mahendra itu mampu membuat Empu Baladatu kadang-kadang menjadi bingung dan tegang, sementara kedua prajuril Singasari yang lebih tua dan lebih berpengalaman itu berusaha menyesuaikan diri meskipun kedua anak muda itu ternyata mampu bergerak lebih lincah dan cepat.

Dalam pada itu, pengawalnya semakin lama ternyata menjadi semakin sulit menghadapi tiga orang itu. Sekali-kali ia harus meloncat jauh-jauh untuk memperbaiki kedudukannya. Bahkan kadang-kadang ia harus berlari beberapa langkah berputaran.

Empu Baladatu melihat kesulitan yang dialami oleh pengawalnya. Namun ia juga merasa, bahwa tekanan keempat orang lawannya itu semakin lama menjadi semakin berat

Karena itu, maka tidak ada jalan lain baginya kecuali dengan secepatnya ia harus berhasil mengurangi jumlah lawannya.

Sambil menggeram Empu Baladatu kemudian mengerahkan segenap kemampuannya. Jika ia berhasil mengurangi seorang saja di antara lawannya dengan sebuah hentakan, maka ia akan segera dapat mengurangi lawan berikutnya dengan leb ih mudah lagi

Tetapi ternyata bahwa keempat lawannya telah mempersiapkan diri menghadapi saat-saat yang menentukan. Itulah sebabnya, sesaat setelah mereka melihat perubahan tata gerak Empu Baladatu, mereka pun telah memencar dan menyerang, berurutan dari keempat penjuru.

Dengan demikian Empu Baladatu justru menjadi semakin sibuk. Ternyata Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan kedua prajurit Singasari itu pun telah menghentakkan kekuatan mereka pula untuk segera mengalahkan Empu Baladatu.

Betapapun Empu Baladatu mengerahkan segenap kekuatannya, namun ternyata bahwa kemampuannya benar-benar terbatas. Ia tidak dapat memaksakan kehendaknya atas kedua anak anak muda dan kedua prajurit Singasari itu. Mereka berempat sama sekali tidak menjadi gentar dan terdesak, justru merekalah yang dengan menghentakkan kekuatan pula dapat mendesak Empu Baladatu seperti ketiga orang yang melawan pengawalnya itu.

Empu Baladatu menjadi semakin marah. Tetapi ia dihadapkan pada suatu kenyataan. Itulah sebabnya, maka ia tidak dapat ingkar. Kenyataan itu terjadi, bahwa ia tidak mampu mengimbangi kekuatan keempat lawannya, sedang pengawalnya tidak juga berhasil melawan ketiga orang padukuhan yang telah menempa diri di bawah pimpinan prajurit-prajurit dari Singasari.

Untuk beberapa saat lamanya Empu Baladatu masih berusaha apa yang harus dilakukan untuk mengatasi keempat lawan-lawannya. Terutama anak-anak muda yang dapat bergerak selincah burung sikatan itu, sementara pengawalnya benar-benar telah terdesak dan mengalami kesulitan untuk mendapatkan jalan keluar.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ternyata tidak sempat lagi ber-main-main dengan lawan yang garang itu. Mereka benar-beanr harus mengerahkan segenap kemampuannya. Sekejap mereka lengah, maka nyawanya akan menjadi tebusan.

Dalam pada itu, kedua prajurit yarig bertempur bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun menjadi semakin heran melihat kedua anak-anak muda itu. Jika semula mereka menjadi cemas bahwa anak-anak muda itu akan menjadi beban mereka, ternyata bahwa kedua anak muda itulah yang lebih banyak menentukan daripada kedua prajurit itu.

Akhirnya sampailah pertempuran itu pada puncaknya. Saat-saat yang semakin gawat telah benar-benar mengguncangkan dada Empu Baladatu.

“Gila” geram Empu Baladatu “jika aku membawa semua pengawalku kemari, maka mereka akan segera dapat aku binasakan “

Tetapi yang terjadi bahwa Empu Baladatu tidak membawa pengawal-pengawalnya, sehingga Empu Baladatu tidak akan dapat berbuat seperti yang di angan-angankannya.

Sejenak Empu Baladatu sempat membuat perhitungan. Ke empat orang yang datang membantu karena mereka mendengar atau mendapat laporan bahwa sesorang telah mendengar panah sendaren itu mungkin akan disusul oleh orang lain pula.

Karena itu, maka menurut pertimbangannya, maka tidak akan ada gunanya lagi ia bertahan. Betapapun juga ia mengerahkan kemampuannya, ia tidak akan mampu untuk mengalahkan kedua orang anak muda dan kedua prajurit Singasari yang bertempur ber-sama-sama itu, meskipun sebelumnya ia sudah melukai tiga orang lawannya.

Itulah sebabnya, maka tidak ada jalan lain bagi Empu Baladatu selain menghindarkan diri dari pertempuran, karena semakin lama ia bertahan, maka keadaan akan menjadi semakin gawat baginya.

Dengan perhitungan yang cermat, maka Empu Baladatupun kemudian justru mengadakan persiapan untuk menghindar dari perkelahian.

Ketika terdengar ia berteriak nyaring sambil mempersiapkan sebuah serangan, maka lawan-lawannya menjadi termangu-mangu. Mereka menduga bahwa Empu Baladatu akan melakukan sesuatu yang mengejutkan dengan mengerahkan segenap kemampuannya.

Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Demikian keempat lawannya bersiaga sepenuhnya, maka Empu Baladatu itupun segera meloncat, tidak menyerang, tetapi dengan serta merta memasuki hutan bersama pengawalnya.

Ketika lawan-lawannya menyadari keadaan, maka merekapun segera berusaha mengejarnya.

Tetapi Empu Baladatu dan pengawalnya itu seakan telah hilang di balik dedaunan yang lebat.

Dalam pada itu, ketika lawan-lawan Empu Baladatu sedang termangu-mangu, terdengar derap kaki dua ekor kuda sehingga merekapun terkejut karenanya. Dengan serta merta mereka berlari memburu. Tetapi yang mereka lihat kemudian adalah Empu Baladatu dengan pengawalnya telah berlari di atas punggung kudanya meninggalkan arena perkelahian.

“Pengecut” geram Mahisa Pukat.

Tetapi Mahisa Murti menyahut, “Itu adalah sifatnya. Tanpa sifat itu, maka ia bukannya Empu Baladatu lagi.”

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling kepada kedua orang prajurit Singasari yang berdiri di sebelahnya, nampaklah wajah-wajah yang tegang kemarah-marahan.

“Mereka terlepas dari tangan kita” desis salah seorang prajurit itu,

“Itu adalah wajar sekali” jawab Mahisa Murti, “Empu Baladatu adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Meskipun barangkali kita dapat bertahan dan melindungi diri sendiri, namun ia tetap memiliki kelebihan. Ternyata ia mampu menghindarkan diri dari kemungkinan yang paling buruk meskipun keadaannya sudah sangat sulit seperti juga pengawalnya.

Kedua prajurit itu tidak menyahut. Namun seakan-akan mereka berjanji untuk berpaling kepada ketiga orang padukuhan yang berdiri tegak dengan senjata masing-masing di tangan.

“Tolonglah kawan-kawanmu yang terluka” perintah prajurit yang seorang.

Ketiga orang itu seakan-akan baru menyadari bahwa ketiga kawannya telah terluka parah.

“Kita akan segera membawanya kembali” berkata salah seorang dari ketiga orang prajurit itu.

Demikianlah, maka ketiga orang yang terluka itu pun segera mendapat perawatan sementara. Kedua kakak beradik anak Mahendra itu dengan kedua orang prajurit Singasari telah memberikan kuda-kuda mereka untuk membawa orang-orang yang terluka itu.

“Pakailah kuda kami” berkata Mahisa Murti, “bawalah kawan-kawanmu yang terluka. Kami akan berjalan kaki kembali kepadukuhan.

Demikianlah, maka setiap ekor kuda membawa dua beban di punggungnya. Seorang terluka dan seorang yang menjagainya Tetapi ternyata kuda-kuda yang legar itu tidak merasa terlampau berat.

Sementara itu, salah seorang dari kedua prajurit itupun telah mengawal orang-orang itu mendahului kembali kepadukuhan.

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan seorang prajurit Singasari masih tetap berada di bekas arena pertempuran itu. Mereka seakan-akan masih ingin melihat, apa saja yang baru terjadi dan terutama sebelum mereka datang ketempat itu.

Namun mereka tidak menemukan tanda-tanda lain yang menarik perhatian.

“Marilah” berkata prajurit yang seorang, “kita belum terlepas sama sekali dari bahaya. Mungkin Empu Baladatu akan segera kembali dengan, kawan yang lebih banyak.”

“Padepokan Empu Baladatu jauh sekali dari tempat ini. Bagaimana mungkin ia mendapatkan kawan baru untuk melawan kita di sini?” sahut Mahisa Pukat.

“Siapa tahu. Mungkin kedatangan Empu Baladatu ke daerah ini tidak hanya berdua saja.”

“Jika demikian, dimanakah kawan-kawannya yang lain?” bertanya Mahisa Murti

Prajurit itu mengeleng. Jawabnya, “Kita tidak tahu. Tetapi kita tidak boleh lengah “

Mahisa Pukat dan Mahisa Murti mengangguk-angguk. Mereka pun kemudian bersiap-siap untuk meninggalkan tempat itu.

Namun merekapun segera mengangkat wajahnya ketika mereka mendengar derap kaki kuda mendekat Tetapi mereka segera menarik nafas panjang, ketika mereka melihat dari kejauhan beberapa orang prajurit Singasari berpacu mendekati daerah itu.

“Mereka datang” desis Prajurit Singasari yang berada. bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

“Kenapa mereka datang kemari? bertanya Mahisa Murti.

“Panah sendaren itu. Seperti aku juga datang kemari setelah mendengar laporan.”

Tetapi mereka sangat terlambat.

“Ketika pemimpin petugas hari ini mendengar laporan tentang panah sendaren itu, ia telah mengirim kami berdua untuk mencari arah. Sedangkan orang lain harus segera melaporkannya kepada pemimpin induk pasukan. Itulah agaknya maka beberapa orang prajurit langsung dari induk pasukan mendapat tugas kemari.”

“Tetapi mereka telah terlambat “

“Ya” jawab prajurit itu, “seandainya kami berdua di tengah jalan tidak kebetulan bertemu dengan kalian, maka aku kira akhir dari pertempuran ini akan sangat jauh berbeda “

“Itu perlu mendapat perhatian. Peristiwa kebetulan tidak dapat dijadikan pegangan. Seharusnya prajurit-prajurit itu datang agak awal, sehingga seandainya kami berdua tidak hadir di tempat ini, kalian, berdua masih tetap hidup.”

Prajurit itu mengangguk-angguk. Desisnya, “Suatu peringatan yang sungguh-sungguh bagi kesiagaan kami.”

Sejenak kemudian, maka Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan seorang prajurit itupun menyongsong kedatangan lima orang prajurit berkuda yang dengan tenang mendekat.

“Mereka tidak nampak tergesa-gesa” berkata Mahisa Murti.

“Mereka tentu sudah berjumpa dengan prajurit yang mengawal orang-orang yang terluka itu. sehingga mereka sudah mengetahui apa yang terjadi di sini.” sahut Mahisa Pukat.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Tetapi ia nampak kecewa.

Sejenak kemudian kelima orang prajurit itupun segera meloncat turun dan mendekati kawannya yang termangu-mangu.

“Aku mengucapkan selamat atas keberhasilanmu” berkata pemimpin kelompok prajurit itu.

Tetapi prajurit yang baru saja bertempur itu menggeleng. Jawabnya, “Bukan aku, tetapi kedua anak-anak muda ini.”

Pemimpin prajurit itu memandang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sambil tersenyum. Mereka mengenal keduanya adalah anak-anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi.

“Kalian juga ikut bersama prajurit Singasari? bertanya pemimpin kelompok itu “

“Suatu kebetulan” jawab Mahisa Pukat, “dan kalian tidak boleh mengharapkan kebetulan yang serupa akan selalu terjadi.”

Pemimpin kelopok itu mengerutkan keningnya.

“Kau sudah mendengar apa yang terjadi di sini?” bertanya Mahisa Pukat

“Ya. Kami telah bertemu dengan orang-orang yang terluka itu.”

“Nah, kalian tentu dapat membayangkan, seandainya kami berdua tidak ikut serta dengan kedua prajurit itu.”

Pemimpin kelompok itu menjadi bingung.

“Nah, pelajarilah keadaan ini. Kelambatan kalian dapat berarti maut bagi petugas-petugas yang terdahulu.”

“Aku tidak mengerti.” Jawab pemimpin prajurit itu.

“Aku akan menjelaskan nanti” sahut prajurit yang telah bertempur melawan Empu Baladatu itu.

Demikianlah setelah mereka berbincang sebentar tentang arena pertempuran itu dan tentang Empu Baladatu, maka pemimpin kelompok itupun berkata, “Marilah. Kita Kembali kepadepokan Empu Sanggadaru Kita dapat membicarakan persoalannya lebih panjang dan mendalam bersama Empu Sanggadaru dan Mahisa Bungalan. Juga aku ingin mendengar penjelasan tentang kelambatanku dan peristiwa yang di sebut kebetulan itu.

Demikianlah maka sekelompok prajurit bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun segera meninggakan tempat itu. Karena kuda ketiga orang yang terdahulu sudah tidak ada lagi, maka mereka harus kembali kepadukuhan dengan berjalan kaki.”

“Pergilah dahulu” berkata Mahisa Pukat kepada prajurit-prajurit berkuda yang datang kemudian.

Pemimpin prajurit itu ragu-ragu. Namun ketika Mahisa Murti juga mempersilahkannya, maka mereka pun meninggalkan tempat itu berkuda mendahului, tetapi mereka tidak memacu kuda mereka karena mereka mempunyai pertimbangani tersendiri. Mungkin Empu Baladatu memang masih akan kembali dengan jumlah orang yang lebih banyak, meskipun Mahisa Pukat dan Mahisa Murti tidak sependapat.

Ternyata bahwa perhitungan Mahisa Pukat dan Mahisa Murti itulah yang benar. Empu Baladatu tidak kembali lagi dengan jumlah orang yang lebih banyak, sehingga dengan demikian maka perjalanan mereka kembali kepadukuhan tidak mendapat gangguan.

Namun peristiwa itu telah menumbuhkan persoalan yang perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari para prajurit di Singasari yang mendapat laporan selengkapnya dari peristiwa yang baru saja terjadi itu.

“Persoalannya tidak terbatas pada padepokan Empu Sanggadaru” berkata seorang perwira prajurit Singasari, “pada saatnya persoalan itu tentu akan berkembang.”

”Ya” jawab kawannya, “karena itu maka masalah Empu Baladatu dan orang-orang Mahibit harus ditangani dengan sungguh-sungguh.

Dengan demikian maka persoalan itu telah menjadi salah satu perhatian dari para pemimpin prajurit di Singasari sebagai suatu persoalan yang tidak dapat dianggap ringan dengan sekedar menempatkan sepasukan prajurit di padepokan Empu Sangggadaru.

Untuk mengetahui peristiwa itu dari dekat, maka Mahisa Agni telah memerlukan datang kepadepokan Empu Sanggadaru. Dengan demikian ia akan mendapatkan bahan yang lengkap untuk menentukan sikap berikutnya.

“Ternyata Empu Baladatu masih tetap menyimpan cita-citanya yang barangkali akan dapat meledakkan daerah Singasari” berkata Mahisa Agni.

“Persoalannya memang tidak begitu sederhana paman” sahut Mahisa Bungalan, “bukan sekedar terbatas di daerah ini. jika terjadi sesuatu di sini, agaknya Empu Baladatu hanyalah mencari kesempatan untuk memperluas daerah pengaruhnya, sementara rencananya yang besar di hari mendatang akan berjalan seperti yang dikehendakinya.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Ia pun menyadari persoalan yang sedang dihadapinya. Yang nampaknya kecil itu tentu akan mempunyai kaitan yang panjang.

Sementara itu, selagi beberapa orang pemimpin prajurit berada di padepokan Empu Sanggadaru, Empu Baladatu telah meninggalkan bekas padepokan orang-orang yang menyebut dirinya gerombolan Serigala Purih dan Macan Kumbang, yang pada saat terakhir telah menemukan jalan hidup yang lebih baik.

Perjalanan yang gagal itu merupakan pelajaran bagi Empu Baladatu, bahwa usaha yang akan ditempuhnya itu bukannya usaha yang, mudah dan dapat dilakukan seperti yang dikehendakinya.

“Mahibit telah bersiap semakin jauh” berkata Empu Baladatu kepada pengawalnya.

Pengawalnya tidak menyahut. Mereka menyadari, bahwa Empu Baladatu yang kecewa itu akan mudah sekali tersinggung jika mereka salah mengucapkan tanggapan.

“Aku harus melihat Mahibit” tiba-tiba saja Empu Baladatu menggeram.

Pengawalnya menjadi cemas. Jika benar-benar demikian, maka mungkin mereka harus menempuh perjalanan yang sama berbahayanya. Salah paham antara Empu Baladatu dan Linggapati dapat terjadi setiap saat. Apalagi nampaknya Linggapati sudah melangkah lebih jauh dari yang dilakukan oleh Empu Baladatu.

Namun Empu Baladatu kemudian berkata, “Tetapi aku tidak akan membawa pengawal seorang pun. Satu orang saja di antara kalian datang bersama kami, maka perjalananku akan segera diketahui. Apalagi aku tidak akan langsung masuk ke Mahibit. Aku akan berada di daerah yang agak jauh untuk mendapatkan sekedar bahan-bahan tentang perkembangan Mahibit. Mungkin Mahibit dan kita akan maju bersama-sama meskipun jalan yang ditempuhnya berbeda. Linggapati akan mempengaruhi beberapa orang pemimpin pemerintahan. Yang sudah jelas berada di bawah pengaruhnya adalah orang-orang yang memimpin pemerintahan di Mahibit dan daerah di sekitarnya dan seorang Akuwu di tlatah Kabonang. Sekarang mungkin pengaruhnya sudah semakin luas, sehingga aku perlu menilainya.”

Pengawalnya hanya mengangguk-angguk saja Dan Empu Baladatu pun berkata terus, “Sementara itu aku akan menempuh cara lain. Aku akan menghubungi beberapa perguruan. Aku akan mengharapkan bantuan mereka, meskipun dengan demikian mereka harus mendapatkan imbalan yang cukup. Setidak-tidaknya janji bahwa mereka akan mendapatkan kekuasaan dan tanah perdikan yang luas dan memberikan harapan yang memuaskan di hari depan.”

Pengawalnya sama sekali tidak dapat mencegah niat Empu Baladatu. Jika ia mengatakan sesuatu yang lebih banyak didorong oleh perasaannya sesaat, seharusnya orang lain hanya sekedar mendengarkannya saja. Baru jika ia sudah mendapat kesempatan untuk memikirkan niatnya, ia dapat mendengar pendapat dan pertimbangan orang lain.

Karena itulah maka para pengawal itu akan menunggu sampai suatu saat Empu Baladatu memperhitungkan lagi rencananya itu.

Tetapi ternyata kali ini Empu Baladatu berpendirian tetap seperti yang dikatakannya. Ketika mereka kemudian menempuh jalan kembali kepadukuhannya, Empu Baladatu seolah-olah telah melupakan niat yang dikatakannya itu, karena ia tidak menyinggungnya lagi. Bahkan ketika mereka bermalam di perjalanan, perhatian Empu Baladatu lebih banyak tertuju kepada binatang buruan untuk makan malam mereka.

Namun ketika mereka sudah sampai di padukuhan, ternyata Empu Baladatu mengulangi niatnya untuk pergi ke Mahibit seorang diri.

“Apakah itu perlu sekali Empu?” bertanya salah seorang pengawalnya.

“Bagaimana menurut pertimbanganmu.”

“Aku menganggap bahwa lebih baik Empu memperkuat kedudukan lebih dahulu. Jika Empu berniat menghubungi beberapa buah perguruan yang dapat diajak berbicara tentang hal ini maka itu sajalah yang dilakukannya lebih dahulu.”

Tetapi Empu Baladatu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku akan melakukan keduanya bersama-sama. Aku akan pergi ke Mahibit untuk mengetahui dan penilai perkembangannya sekaligus menghubungi beberapa perguruan yang aku kenal, meskpun perguruan-perguruan itu mempunyai cacat dan celanya masing-masing. Namun kita akan dapat memanfaatkan tenaga yang ada pada mereka untuk mengimbangi usaha Linggapati yang mencari kekuatan pada orang-orang yang berkuasa di daerah di sekitarnya.”

Tidak seorang pun yang dapat menahan Empu Baladatu Setelah mengadakan beberapa persiapan, maka ia pun benar-benar berniat meninggalkan padepokannya.

“Jagalah padepokan ini baik-baik. Seperti yang pernah kalian lakukan, jangan tinggal di padepokan induk selama aku tidak ada. Bersihkan dan pelihara pedukuhan induk itu dengan tenaga yang tidak menentukan.” pesan Empu Baladatu kepada murid-muridnya.

“Kenapa Empu?” bertanya salah seorang muridnya.

“Kau memang dungu. Bertanyalah kepada orang yang ikut bersamaku. Orang-orang Singasari mungkin akan datang setiap saat. Mereka tentu cemas melihat perkembangan padepokan ini. Apalagi mereka seolah-olah telah digelitik oleh peristiwa yang baru saja terjadi di padepokan Empu Sanggadaru.“

Para pengawal padepokan itu mengangguk-angguk. Seperti yang pernah mereka lakukan, maka mereka berada, di tempat terpencar, sementara orang-orang yang tidak menentukan sajalah yang tetap berada di padepokan.

Setelah memberikan beberapa pesan, maka Empu Baladatu pun segera meninggalkan padepokannya. Untuk memberikan kesan lain rentang dirinya, maka Empu Baladatu sama sekali tidak mempergunakan pakaian dan kelengkapan seorang pemimpin sebuah padepokan apalagi yang berilmu hitam. Tetapi ia mengenakan pakaian sebagai seorang saudagar yang sedang melakukan perjalanan untuk mengurus kesibukan jual belinya.

Ketika Empu Baladatu meninggalkan padepokannya, Ia sudah mempunyai beberapa rencana siapa-siapa yang akan dikunjunginya. Namun seperti yang dikatakannya, sekaligus ia akan pergi ke Mahibit untuk melihat perkembangan persiapan Linggapati di saat-saat terakhir.

“Aku tidak akan bersembunyi-sembunyi di Mahibit” berkata Empu Baladatu kepada diri sendiri, “aku akan muncul di jalan-jalan kota. Aku adalah saudagar yang kaya, yang sedang melihat-melihat apakah di Mahibit ada barang-barang yang, dapat aku ambil dan aku perdagangkan. Jika sikapku cukup menyolok, maka Linggapati tentu akan segera mengenalku lewat orang-orangnya yang aku yakin, tentu bertebaran di segala sudut “

Namun Empu Baladatu pun masih juga harus memperhitungkan, bahwa ia akan bertemu dengan pihak lain yang tentu ada juga di Mahibit. Para petugas sandi dari Singasari.

Tetapi Empu Baladatu sudah mempunyai rencana, Ia akan berada selalu di sekitar tempat-tempat yang pernah dipergunakan oleh Linggapati. Padepokan tanpa pintu yang sudah ditinggalkan akan merupakan tempat yang paling baik untuk menarik perhatian orang-orang Linggapati yang tentu masih selalu mengawasinya.

Namun Empu Baladatu pun menyadari bahaya yang dapat terjadi atas dirinya. Jika Linggapati menentukan sikap lain, maka mungkin akan merupakan bencana baginya.

Tetapi setiap kali Empu Baladatu menggeleng sambil berkata kepada diri sendiri, “Linggapati tidak akan mengambil sikap yang dapat mengganggu rencananya. Ia lebih senang melihat suasana seakan-akan tenang dan damai, sementara ia berhasil menyusun kekuatan betapapun lambatnya.

Agaknya perjuangan Linggapati benar-benar diperhitungkan sampai dua keturunan, sampai saatnya anaknya dapat mengambil alih pimpinan dan kemudian sekaligus mengambil alih kekuasaan Singasari.”

Demikianlah Empu Baladatu berniat untuk pertama-tama pergi ke Mahibit sebelum ia menghubungi beberapa buah perguruan. Ia ingin mengetahui apakah yang sudah dilakukan oleh Linggapati sampai saat terakhir, karena menurut perhitungan Empu Baladatu, meskipun nampaknya Linggapati tidak berbuat apa-apa, namun ia pasti sudah menambah kekuatannya sesuai dengan caranya. Kegagalannya untuk bersama Empu Baladatu menghancurkan padepokan Empu Sanggadaru, merupakan pengalaman yang harus selalu diperhitungkan untuk setiap langkahnya kemudian.

Seperti yang direncanakan maka Empu Baladatu pun berusaha untuk menarik perhatian orang-yang dianggapnya sedang mengawasinya, terutama di sekitar bekas padepokan Linggapati. Bekas padepokannya yang tertua, dan bekas padepokannya yang baru, yang ditinggalkannya setelah ia gagal menghancurkan padepokan Empu Sanggadaru.

“Para petugas sandi dari Singasari tentu tidak akan berkeliaran di tempat-tempat yang sudah tidak dipergunakan lagi ini” berkata Empu Baladatu kepada diri sendiri

Ternyata bahwa usahanya itu berhasil. Agaknya salah seorang petugas sandi dari Mahibit telah melihatnya dan menyampaikan kepada Linggapati yang tempatnya tidak diketahui oleh Empu Baladatu.

Linggapati yang mendapat laporan bahwa Empu Baladatu berada di Mahibit segera mengambil sikap. Sebelum ia menjumpainya, maka seperti yang pernah dilakukannya, maka tanpa setahu Empu Baladatu, Linggapati sendiri telah mengamatinya.

“Ia kali ini seorang diri” berkata Linggapati kepada pengawalnya yang melihatnya Empu Baladatu pertama kali.

“Ya. Sejak aku menjumpainya, ia memang hanya seorang diri.”

“Ia tentu ingin bertemu dengan aku”

“Ya.”

“Bawalah ia ke bangsal tiga. Aku akan berada di sana. Aku tidak akan menerimanya di padepokan, karena aku masih belum dapat mempercayainya sepenuhnya. Ia sampai hati menghancurkan saudara kandungnya sendiri meskipun gagal. Apalagi terhadap orang lain.”

Pengawal Linggapati mengangguk. Ia pun minta diri untuk membawa Empu Baladatu ke bangsal yang ditandainya dengan urutan tiga.

Empu Baladatu sama sekali tidak menunjukkan keragu-raguan. Ia pun segera mengikuti orang yang mengajaknya menuju Ke pinggir kota, ke sebuah rumah yang tidak begitu besar meskipun nampak terawat rapi.

“Bagus sekali” desis Empu Baladatu, “rumah siapakah ini?”

“Salah sebuah rumah Linggapati “

Empu Baladatu mengangguk-angguk. Ia tidak bertanya lebih jauh. Jawaban orang itu tentu jawaban yang sebenarnya, meskipun ia iahu pasti, bahwa rumah Linggapati tentu lebih dari sepuluh buah. Tidak seorang pun mengetahui, di suatu saat ia sedang berada di mana. Belum lagi terhitung padepokanannya.

“Silahkan Empu menunggu. Sebentar lagi Linggapati tentu akan datang.”

Empu Baladatu mengangguk.

Seperti yang dikatakan oleh orang yang membawanya, maka sejenak kemudian seseorang dalam pakaian sederhana memasuki halaman rumah itu. Ketika ia melihat Empu Baladatu sudah duduk di pendapa, maka ia pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Apakah Empu sudah lama menunggu?”

Empu Baladatu pun tersenyum pula. Ketika Linggapati naik kependapa maka Empu Baladatu menjawah, “Kau tentu tahu pasti, kapan aku naik ke pendapa bangsalmu ini.”

“Sebuah pondok yang sederhana. Sekedar untuk mencukupi kebutuhan. Melindungi panas di siang hari, menghindari hujan di musim basah.”

“Jangan menyebutnya seperti kebanyakan orang yang selalu lamis. Katakan saja, rumah ini adalah salah satu tempat untuk mengelabui orang-orang yang mencarimu. Mungkin prajurit Singasari. Tetapi mungkin juga petugas-petugas sandi kakang Sanggadaru.”

Linggapati tertawa. Katanya, “Baiklah. Sebut saja seperti sebutan yang kau kehendaki itu. Aku tidak berkeberatan. Tetapi lebih dari itu, Empu dapat tinggal di rumah ini menurut kebutuhan. Aku tahu bahwa Empu tidak begitu senang berbicara di tengah sawah, di simpang tiga atau di pojok padukuhan. Karena itu, aku sekarang menerima Empu di rumah ini betapapun sederhananya.”

“Terima kasih. Sikapmu menunjukkan, bahwa kau menjadi semakin mempercayai aku “

Linggapati tertawa. Katanya, “Bahkan kau datang seorang diri itu pun suatu sikap yang menguntungkan, bagimu sekarang. Kau tidak terlalu mencurigakan aku seperti aku tidak terlalu mencurigai kau lagi.”

“Mudahkan selanjutnya hubungan di antara kita menjadi bertambah baik. Jarak yang ada akan menjadi semakin sempit “

Linggapati tertawa semakin keras. Katanya, “Kita akan berbicara besok atau nanti, setelah kau beristirahat. Sekarang, lepaskan lelahmu dan tinggallah seperti di rumah sendiri.”

Empu Baladatu tersenyum. Tetapi ia tidak tenggelam dalam sikap yang baik dan ramah. Bagaimanapun juga ia harus tetap berhati-hati, karena Linggapati bukannya seorang yang dapat dipercaya sepenuhnya.

Namun kemudian ternyata bahwa Linggapati tidak bersedia untuk mengadakan pembicaraan segera. Ia masih mempersilahkan tamunya

“Beristirahatlah. Marilah aku antarkan kau memasuki rumah ini.”

Empu Baladatu tidak menolak. Ia pun kemudian masuk ke dalam rumah itu dan oleh Linggapati ia pun diantar langsung ke dalam biliknya.

“Inilah bilikmu Beristirahatlah. Di sini ada beberepa orang pelayan. Jika kau memerlukani sesuatu, mintalah kepada pelayan-pelayan itu.”

“Terima kasih.”

“Sekarang aku akan pergi dahulu. Nanti aku akan datang lagi dan berbicara tentang hubungan kita. Bukankah kita tidak tergesa-gesa.”

Empu Baladatu terpaksa mengangguk. Jawabnya, “Ya. Aku tidak tergesa-gesa.”

Ketika kemudian Linggapati meninggalkannya, Empu Baladatu duduk termangu-mangu di dalam rumah itu. Rumah yang baginya cukup baik dan memberikan suasana yang segar. Di halaman pohon bunga tumbuh dengan suburnya. Sementara beberapa buah sangkar tergantung di batang pohon-pohon yang rendah.

Empu Baladatu mengerutkan keningnya ketika seorang pelayan datang kepadanya sambil membawa minuman panas dan beberapa potong makanan. Sambil meletakkan minuman dan makanan itu di amben ruang tengah pelayan itu berkata, “Silahkan Empu mencicipinya.”

“Terima kasih” jawab Empu Baladatu. Sepeninggal pelayan itu, maka Empu Baladatu pun kemudian menghadapi minuman dan makanan itu dengan ragu-ragu. Tetapi ia adalah orang yang memiliki ilmu yang cukup untuk mengetahui, apakah minuman dan makanan itu beracun. Sehingga karena itulah, maka ia pun kemudian mengangkat mangkuk minumannya dan mencium asapnya. Demikian juga beberapa potong makanan itu.

Ia menarik nafas dalam-dalam. Menurut pengamatannya, makanan dan minuman itu sama sekali tidak membahayakannya, sehingga ia pun kemudian minum dan makan secukupya.

“Penerimaan yang sangat ramah” katanya kepada diri sendiri, “aku tidak tahu, apakah Linggapati benar-benar seramah ini. Menerima aku di rumah yang baik, memberikan jamuan dan bahkan beberapa orang pelayan untuk melayani aku di rumah ini. Mudah-mudahan setelah melampaui malam pertama aku masih akan dapat bangun dan melihat matahari terbit.

Oleh berbagai macam pikiran itulah maka ketika kemudian malam tiba, Empu Baladatu justru menjadi semakin berhati-hati. Ia tidak segera melepaskan pakaiannya dan berbaring di pembaringan di dalam biliknya

“Apakah Linggapati tidak akan datang berbicara malam ini?” ia bertanya kepada diri sendiri.

Namun ternyata bahwa lewat sirep lare, Linggapati memasuki ruang tengah rumah itu.

“Apakah kau belum tidur?” ia bertanya.

Empu Baladatu yang keluar dari biliknya pun kemudian duduk di amben di ruang tengah bersama Linggapati.

“Aku menunggumu. Aku ingin berbicara tentang masa depan perjuanganmu. >“

“Kenapa?”

“Aku ingin menyesuaikan diri “

Linggapati tertawa Katanya, “Apakah kau masih ingin melanjutkan niatmu.? Aku mengira bahwa kau akhir-akhir ini sudah menarik diri. Kegagalan mutlak itu agaknya telah membuatmu menjadi jera.”

“Aku akan berjalan terus sampai saatnya maut menghentikannya” jawab Empu Baladatu.

Linggapati tertawa semakin keras. Katanya, “Kau memang keras hati. Tetapi hanya orang-orang yang keras hati sajalah yang pada suatu saat dapat mencapai cita-citanya. Mereka yang mudah patah di tengah tidak akan dapat berbuat sesuatu bagi masa depan.”

“Jangan memuji. Aku ingin bertanya, bagaimanakah dengan kau sekarang.”

“Empu Baladatu” jawah Linggapati, “sejak semula aku sudah memutuskan untuk tidak terlalu tergesa-gesa. Aku ingin sampai pada suatu saat, dimana aku yakin bahwa perjuanganku pasti berhasil.”

“Aku tahu. Agaknya kau akan menumpukan keberhasilanmu pada keturunanmu. Dan itu pun tidak keliru. Aku juga mempertimbangkannya demikian. Anakku yang ada di padukuhan kakeknya akan menjadi pewaris dari perjuanganku yang barangkali tidak akan selesai sepanjang umurku.”

Linggapati mengerutkan kerungnya. Lalu, “Kau dapat melihat rencana perjuangan yang akan aku tempuh dalam jangka yang panjang.”

“Ya. Tetapi aku pun tahu bahwa kau maju terus. Nah, aku ingin mengetahui, sampai dimanakah langkahmu sekarang. Jika kau bersikap jujur, maka aku akan dapat menyesuaikan diriku dengan jujur pula “

Tetapi sekali lagi Linggapati tertawa. Bahkan ia bertanya, “Sampai dimanakah pengertian, jujur menurut kau?”

Pertanyaan Linggapati itu mengejutkan Empu Baladatu. Ia sama sekali tidak mengira, bahwa Linggapati akan bertanya demikian kepadanya.

Namun Empu Baladatu itu pun kemudian tertawa pula sambil menjawab, “Kau Memang penuh prasangka. Tetapi baiklah aku mengartikannya dengan pengertian yang aku kehendaki. Jujur maksudku, mengatakan sesuai dengan kenyataannya.”

Linggapati tertawa semakin keras. Jawabnya, “Jadi aku harus mengatakan kepadamu, bahwa aku mempunyai kekuatan yang besarnya hampir sebesar kekuatan Singasari di Kota Rajanya. Ditambah dengan empat daerah yang diperintah oleh empat orang Akuwu. Pengaruh yang besar dari salah seorang pendukungku di seluruh daerah pantai Utara. Dan yang mulai aku rintis adalah pengaruh yang tidak dapat dicegah lagi di istana Singasari sendiri.”

Empu Baladatu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tertawa. Katanya, “Apakah kau sudah mengatakannya dengan jujur?”

Linggapati tidak dapat menahan gelak ketawanya. Jawabnya, “Aku sudah mengatakan jujur. Sejujurnya. Tinggal hatimu sendiri. Jika kau percaya kepadaku, kau tentu tidak akan curiga. Dan kau akan menganggap aku benar-benar jujur. Tetapi jika kau menaruh curiga dan tidak percaya, kau akan menganggapku tidak jujur.”

Empu Baladatu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Agaknya perjalananku tidak berhasil. Kau masih tetap menganggap penting untuk merahasiakan kekuatanmu yang sebenarnya. Meskipun demikian, aku pernah mendapat keterangan, bahwa kau memang sudah berhasil mempengaruhi seorang Akuwu untuk ikut serta dalam gerakanmu.”

“Tidak hanya seorang” jawah Linggapati, “tetapi itu tergantung tanggapanmu “

Empu Baladatu menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar bahwa Linggapati sengaja membuatnya kebingungan sehingga ia tidak akan dapat mengambil kesimpulan yang benar terhadap ceriteranya.

“Tetapi Empu” berkata Linggapati, “Jangan marah.Aku memang tidak dapat memberimu kepuasan. Aku sudah mengatakan sesuai dengan kebenaran. Tetapi agaknya kau tidak percaya. Meskipun demikian, kau jangan marah Aku masih mengharap kau tinggal untuk beberapa saat lamanya di rumah ini “

“Terima kasih. Aku memang masih akan minta ijin, agar aku dapat tinggal untuk beberapa lamanya. Aku sedang dalam perjalanan dagangku. Aku sedang mencari barang-barang besi aji.”

“He?” Linggapati mengerutkan keningnya, “kau berkata sebenarnya?”

“Ya. Itulah penghidupanku sekarang di samping bertani. Murid-muridku bertambah banyak, sedang tanah persawahan tidak memberikan hasil yang baik. Dengan memperdagangkan pusaka berupa apapun juga, ternyata aku mendapat keuntungan yang baik.”

Linggapati tertawa pula. Justru semakin keras. Jawabnya, “Tentu kau mendapat keuntungan yang pantas, karena kau mendapatkan barang-barang itu dengan tanpa membayar, dan kau minta orang lain membeli dengan harga yang sangat tinggi

“Bagaimana mungkin?” bertanya Empu Baladatu

“Kau datang kepada seseorang yang memiliki pusaka yang berharga. Kau membelalakan matamu sambil mengancam. Maka kau berhasil memiliki pusaka itu. Sedangkan di saat lain, kau hentikan seorang saudagar di tengah jalan. Kau tunjukkan pusaka itu dan kau memberikan harga di luar perhitungan nalar. Jika ia tidak mau membayar, kali juga membelalakkan matamu. Maka jual beli itu pun jadilah “

Wajah Empu Baladatu menjadi merah sesaat. Tetapi ia masih mencoba tersenyum sambil berkata, “Sudahlah Linggapati. Berhentilah menyinggung perasaanku. Meskipun aku tidak akan berbuat apa-apa, karena aku sekarang seorang diri, tetapi sebaliknya kita berbicara dengan baik.”

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...