*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 32-03*
Karya. : SH Mintardja
Itulah sebabnya, maka para pemimpin padepokan itu jus tru mengajukan, agar perbuatan mereka dapat menjadi selubung. Namun jangan terjerat justru karena persoalan itu.
Sementara itu, selain hubungan yang terus menerus antara orang-orang yang terpengaruh oleh Empu Baladatu, ternyata hubungan yang serupa telah terjadi pula di antara orang-orang yang terpengaruh oleh kekuasaan yang samar dari Linggapati. Seperti Empu Baladatu, maka Linggapati pun secara terus menerus melihat perkembangan keadaan di beberapa bagian dari Singasari. Namun yang mereka lakukan justru pengawasan atas segala kegiatan Empu Baladatu
Namun di beberapa bagian Linggapati mengalami kesulitan. Ia tidak selalu mengetahui letak padepokan yang sedang mengadakan kegiatan untuk mempersiapkan kekuatan mereka. Juga Linggapati tidak selalu mengetahui, siapa saja yang telah dihubungi oleh Empu Baladatu.
Meskipun demikian, sebagian dari kekuatan Empu Baladatu telah terawasi oleh orang-orang Linggapati, justru karena kesalahan Empu Baladatu sendiri, yang tidak dapat menahan kebanggaannya dan mengatakannya kepada Linggapati.
Kesadaran akan kesalahan itu baru datang kemudian. Ia mulai merasa seakan-akan setiap saat ada berpuluh pasang mata yang sedang mengintainya dan mengintai seluruh gerakannya.
“Gila” katanya kepada diri sendiri, “agaknya Linggapati tidak sejujur yang aku sangka.”
Namun Empu Baladatu pun harus menyalahkan kepada dirinya pula. Tentu ia tidak akan dapat mengharapkan orang-orang yang jujur di dalam tindakan-tindakan yang tidak sejalan dengan ketentuan darma seorang kesatria itu.
Untuk mengurangi kemungkinan yang tidak dikehendaki, maka Empu Baladatu telah memerintahkan kepada orang-orang yang berada di bawah pengaruhnya untuk menjauhkan diri dari pengawasan siapapun juga. Mereka harus benar-benar menilik setiap orang yang ikut serta di dalamnya.
“Untuk mencapai cita-cita yang luhur, maka setiap orang harus diuji kesetiaannya” pesan Empu Baladatu kepada setiap pemimpin padepokan yang berpihak kepadanya.
Tetapi dalam pada itu, sejalan dengan usaha orang-orang Empu Baladatu untuk menghilangkan jejak mereka, maka prajurit Singasari mulai mencium usaha peningkatan ilmu dari beberapa kelompok anak-anak muda untuk tujuan yang kurang sewajarnya.
Beberapa orang prajurit Singasari telah menerima beberapa petunjuk dari orang-orang yang tidak dikenal, bahwa di beberapa bagian dari wilayah Singasari sedang diancam oleh bahaya yang akan dapat meledak setiap saat.
Mula-mula prajurit Singasari tidak terlalu mudah untuk mempercayainya. Namun setelah para petugas sandi mengadakan beberapa pengamatan yang lebih cermat dari sebelumnya, maka berita yang sampai kepada para prajurit atu bukannya berita bohong semata-mata.
Meskipun demikian, prajurit sandi Singasari harus bertindak dengan hati-hati. Laporan yang tidak diketahui asalnya itu pun telah menumbuhkan kecurigaan bagi mereka, sehingga kesimpulan para pemimpin prajurit Singasari untuk sementara adalah, tentu ada pihak-pihak yang sedang bersaing. Apapun tujuan mereka dengan peningkatan ilmu itu.
Pihak yang merasa cemas melihat perkembangan ilmu pihak yang lain telah dengan sengaja menyampaikan laporan itu kepada prajurit Singasari, agar para prajurit dapat mengambil tindakan terhadap mereka.
Ternyata bahwa laporan itu akhirnya merambat dan menjadi pembicaraan yang penting bagi para pemimpin puncak para prajurit di Singasari.
Mahisa Agni yang ikut pula membicarakan masalahnya, segera menghubungkan hal itu dengan kegiatan Empu Baladatu. Laporan dari padepokan Empu Sanggadaru memberikan imbangan atas laporan yang telah sampai kepimpinan puncak prajurit Singasari itu.
“Masih harus diselidiki, pihak yang manakah yang telah memberikan laporan itu. Aku berpendapat, bahwa Empu Baladatu dan Linggapati tidak lagi dapat berjalan seiring setelah kegagalan mereka di padepokan Empu Sanggadaru itu.” berkata Mahisa Agni
Para pemimpin yang lain pun sependapat. Tentu salah satu pihak dari keduanya telah menyampaikan laporan itu dengan terselubung kepada prajurit Singasari.
“Kita tidak boleh memusatkan perhatian kita kepada salah satu pihak. Sementara ini kita, seoah-olah menerima laporan itu dengan wantah, sehingga pihak yang lain, yang memberikan laporan itu mengira bahwa kita telah terjebak kedalam perangkapnya, dan kita telah memusatkan perhatian kita kepada satu pihak saja, sementara kita harus dengan bersungguh-sungguh menilai pihak yang lain.” Mahisa Agni meneruskan.
Prajurit Singasari untuk sementara bersepakat, bahwa pihak-pihak yang harus mendapat pengawasan yang paling tajam adalah Empu Baladatu dan Linggapati.
“Tetapi kegiatan yang meningkat itu terjadi di beberapa bagian dari wilayah ini dan tersebar di tempat yang nampaknya satu sama lain berjauhan dan tidak mempunyai hubungan.” berkata seorang perwira yang menerima laporan langsung dari pihak yang tidak dikenal.
“Semuanya perlu penyelidikan yang saksama” sahut seorang Senapati, “namun justru tempat tersebar dalam hubungan kegiatan yang serupa itulah yang menarik perhatian “
Perwira itu niengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa penilaiannya harus dilihat dari beberapa segi yang nampaknya tidak berkaitan sama sekali.
Dengan demikian, maka jalur ketiga telah tersalur antara, pimpinan prajurit Singasari dengan petugas-petugasnya yang tersebar. Dengan cermat dan rahasia, para petugas sandi prajurit Singasari sedang menyelidiki, apakah sebenarnya yang telah terjadi.
Demikian cermatnya tugas yang dilakukan, sehingga pihak-pihak yang bersangkutan sama sekali tidak dapat melihat, bahwa kegiatan petugas-petugas sandi Singasari telah meningkat.
Linggapati yang merasa pernah mengirimkan laporan tersembunyi tentang kegiatan Empu Baladatu pun merasa heran, bahwa seakan-akan tidak ada perhatian sama sekali. Ia tidak melihat petugas-petugas yang hilir mudik dan peronda-peronda prajurit Singasari yang bertambah.
“Apakah laporanku tidak sampai ketelinga pimpinan prajurit Singasari atau pimpinan prajurit Singasari menganggap laporan itu sekedar sebuah ceritera ngaya wara.” gumam Linggapati setiap kali.
Tetapi laporan terakhir dari orang-orang Linggapati membuatnya agak berdebar hati. Dibeberapa tempat ia melibat, prajurit Singasari telah membuka pemusatan-pemusatan baru bagi prajuritprajuritnya meskipun kelihatannya jauh lebih kecil dari yang diharapkannya.
“Namun agaknya perhatian itu mulai tumbuh di dalam lingkungan mereka” berkata Linggapati kepada seorang pengawalnya
“Mudah-mudahan mata mereka segera terbuka, bahwa telah tumbuh sebuah kekuatan yang akan dapat mengganggu ketenteraman Singasari.” berkata pengawalnya.
Dengan hati-hati Linggapati mengamati perkembangan kesiagaan prajurit-prajurit Singasari. Meskipun kesiagaan itu masih dianggap jauh dari mencukupi, namun ia menganggap bahwa keterangannya yang dibisikkan lewar jalur tertutup kepada prajurit Singasari telah menyentuh pendengaran mereka.
“Mungkin mereka masih belum percaya “
Dalam pada itu, Singasari memang telah meningkatkan kesiagaan prajuritnya di beberapa tempat, tetapi tanpa menumbuhkan kegelisahan. Tidak banyak orang yang memperhatikannya. Hanya orang-orang yang berkepentingan seperti Linggapati dan anak buahnya sajalah yang dengan tajam melihat dan mengikuti perkembangan itu dengan saksama.
Tetapi ada satu yang lepas dari pengamatan Linggapati. Justru karena Linggapati terlalu mengharap bahwa prajurit Singasari mempertajam pengawasannya terhadap padepokan-padepokan yang tersebar di daerah yang luas, maka ia sendiri menjadi lengah, bahwa petugas-petugas sandi semakin banyak berkeliaran di Mahibit.
Sampai saat-saat terakhir Linggapati masih merasa bahwa pengawasan prajurit Singasari semata-mata ditujukan kepada kegiatan yang meningkat dari orang-orang yang berpihak kepada Empu Baladatu
Tetapi ternyata bahwa Linggapati adalah orang yang dapat menahan diri dan bersabar hati untuk melakukan rencananya. Meskipun ia merasa berpacu dengan Empu Baladatu, namun ia tidak tergesa-gesa memerintahkan orang-orang yang berada dibawah pengaruhnya untuk memperkuat diri. Yang dilakukan dengan diam-diam adalah memperluas pengaruhnya terhadap beberapa orang pemimpin. Beberapa orang Buyut yang sudah memiliki kekuatan pengawalan pada padukuhannya. Seandainya para pengawal itu meningkatkan latihan-latihan mereka, maka kegiatan itu tidak akan begitu menyolok, karena yang dilakukan seolah-olah memang sudah seharusnya demikian. Bahkan dengan licik ia berhasil menghubungi beberapa orang Akuwu yang sudah siap dengan prajuritnya.
Meskipun demikian, maka Linggapati pun selalu melakukan pembinaan yang mantap. Dalam kemungkinan masing-masing, Linggapati juga menganjurkan peningkatan anak buahnya. Para pengawal padukuhan dan prajurit-prajurit dari para Akuwu.
“Jangan melakukan kegiatan di luar kegiatan yang sewajarnya dan harus tidak menarik perhatian” perintah Linggapati.
Sementara itu, petugas-petugas sandi Singasari telah mulai melihar perkembangan seperti yang memang sedang mereka cari. Beberapa padukuhan memang melakukan kegiatan yang meningkat, bahkan di luar kegiatan yang wajar.
Tetapi prajurit Singasari tidak segera mengambil tindakan yang langsung terhadap mereka. Yang mereka lakukan justru pengawasan sandi. Mereka ingin melihat perkembangan kegiatan mereka.
Dengan demikian maka prajurit-prajurit Singasari yang bertugas di daerah-daerah itu nampaknya tidak meningkatkan pengamatan mereka terhadap daerah pengawasan mereka. Mereka hanya duduk dan bergurau saja di dalam barak-barak mereka setiap hari. Hanya sekelompok kecil dari mereka yang bertugas di depan regol halaman dengan senjata di tangan.
“Mereka hanya menghabiskan beras saja” gumam beberapa orang anak buah dari sebuah padepokan yang berada di bawah pengaruh Empu Baladatu.
“Tidak ada yang mereka lakukan di sini. Pada suatu saat kita akan menyerang dan menumpas mereka” sahut yang lain.
Setiap saat mereka memperbincangkan prajurit Singasari itu, mereka selalu mentertawakan dengan sikap sombong dan yakin, hahwa pada suatu saat prajurit-prajurit itu akan mereka binasakan tanpa dapat memberikan banyak perlawanan.
Tetapi yang tidak mereka lihat, justru prajurit-prajurit sandi lah yang banyak bekerja dan memberikan laporan-laporan kepada pemimpin prajurit di barak-barak yang baru dibuka, yang nampak nya hanya berisi beberapa kelompok kecil prajurit Singasari yang tidak berbuat apa-apa selain tidur dan bergurau saja.
Justru karena perhatian orang-orang itu sebagian besar tertuju kepada prajurit-prajurit yang malas itulah, maka mereka tidak memperhatikan bahwa orang-orang yang sama sekali tidak mereka duga, adalah justru orang-orang yang sangat berbahaya.
Sementara itu, salah seorang kepercayaan Empu Baladatu yang berada di padepokan Empu Purung. di ujung daerah Alas Pandan dengan sungguh-sungguh mengamati sebuah barak baru dari prajurit Singasari di seberang lembah yang berhadapan dengan padepokan itu
“Mereka sengaja mengamat-amati kita” berkata Empu Purung.
“Mungkin sekali” jawab kepercayaan Empu Baladatu yang sedang berada di padepokan itu.
“Kau harus melaporkannya kepada Empu Baladatu jika kau kembali kepadanya. Sebenarnya kita sudah siap untuk bertindak. Barak itu tidak terlalu kuat. Tetapi tentunya tidak akan di bangun di sana jika prajurit Singasari tidak mencium jejak kita.”
Kepercayaan Empu Baladatu mengangguk-angguk. Katanya Kita tidak boleh bertindak sendiri-sendiri, lepas dari hubungan dalam keseluruhan “
“Tetapi agaknya waktunya memang sudah masak. Jika kita menunggu terlalu lama, maka pada suatu saat, merekalah yang akan mendahului kita.”
“Tetapi tidak tergesa-gesa.”
Empu Purung di ujung Alas Pandan itu terpaksa menahan diri Namun ia mulai khawatir bahwa prajurit-prajurit Singasari itu akan mencium seluruh kegiatannya sehingga mereka sempat memperkuat diri.
“Prajurit yang ada di barak itu tidak lebih dari duapuluh orang.” berkata Empu Purung, “aku tidak tahu, apakah barak-barak kecil itu ada gunanya. Apalagi dengan prajurit yang malas. Aku sudah memerintahkan dua orang untuk melihat-lihat dari dekat sambil berbelanja di pasar yang terletak tidak jauh dari barak itu. Ternyata hanya ada tiga atau empat orang sajalah di antara mereka yang setiap hari bersiaga di depan regol, sementara yang lain hampir setiap hari kerjanya hanya berkeliaran di pasar. Makan dan minum tuak. Namun dengan demikian pasar itu kini menjadi bertambah ramai.“
Kepercayaan Empu Baladatu itu mengangguk-angguk. Katanya, “Memang kesempatan itu terbuka sekarang. Tetapi jika kita datang dan menumpas mereka, maka Singasari akan mengarahkan kekuatannya kepada daerah ini semata-mata, karena mereka belum melihat bahaya di tempat lain. Tetapi jika pada suatu saat kita semua bergerak bersama-sama, maka prajurit Singasari akan terpecah sehingga kekuatannya akan terbagi. Saat yang demikian itulah yang kita harapkan. Sementara pasukan induk kita akan memasuki Kota Raja dan menguasainya.”
Empu Purung mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sudah memahami. Tetapi kapan waktu itu datang. Aku harap, kita tidak akan terlalu lama menunggu.”
“Kita masih harus melakukan penilaian sekali lagi. Mungkin di padepokan Empu di sini, semuanya sudah siap. Empu sudah melatih lebih dari lima orang anak-anak muda yang siap digerakkan, ditambah dengan beberapa kelompok orang laki-laki yang meskipun tidak dapat disebut anak muda lagi, tetapi mereka memiliki tenaga yang masih utuh. Karena itu, maka duapuluh atau duapuluh lima orang prajrit itu tidak akan dapat bertahan terlalu lama “
“Pengaruhku sampai kepadukuhan yang jauh. Mereka menganggap aku seorang yang memiliki kekuatan gaib dan dapat berbuat apa saja. Dan aku memang dapat membuktikan, bahwa aku mmpunyai kekuatan melampaui kekuatan manusia biasa, bukan saja jasmaniah tetapi juga kekuatan yang tidak kasat mata.”
“Aku percaya.”
“Dan kau akan dapat melihat sendiri, jika aku kehendaki, maka kekuatan itu akan bertambah-tambah. Tetapi untuk sementara aku tidak ingin menarik perhatian orang-orang yang barangkali menaruh dengki. Ternyata di hadapan padepokanku, meskipun agak jauh, telah berdiri sebuah barak prajurit Singasari. Yang dalam keadaan sewajarnya tidak akan berada di tempat itu.”
“Mungkin pada suatu saat Empu benar-benar perlu mengerahkan orang-orang itu “
“Tidak akan sulit. Aku akan memukul isyarat, dan mereka akan berkumpul. Tidak seorang pun menghendaki gempa yang dahsyat akan meruntuhkan tebing-tebing jurang dan menimbuni padukuhan mereka. Dan itu akan terjadi jika mereka tidak tunduk kepadaku dan melakukan perintahku meskipun akan berarti bahaya bagi jiwa mereka.”
Kepercayaan Empu Baladatu mengangguk-angguk. Meskipun ia lebih hanyak mempergunakan pedang daripada kekuatan-kekuatan yang gaib, namun dasar dari ilmu hitamnya pun gaib pula. Bahkan hampir setiap orang di dalam padepokan Empu Baladatu menganggap hahwa ada semacam kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Empu Baladatu. Aji yang sampai saat terakhir belum pernah diunjukkan kepada murid-muridnya, tetapi yang dengan isyarat pernah dibayangkannya.
“Empu Baladatu tentu mempunyai kekuatan melampaui Empu Purung” berkata kepercayaan Empu Baladatu itu dalam hatinya.
Namun dalam pada itu Empu Purung seolah-olah sudah tidak sabar lagi menunggu saat yang ditentukan. Tetapi ia harus menunggu lagi ketika kepercayaan Empu Baladatu itu meninggalkan padepokannya untuk menentukan saat-saat yang ditunggu itu.
Saat-saat menunggu itu bagi Empu Purung adalah benar-benar saat yang menenggangkan. Untuk mengisi waktu, maka ia pun kemudian mempertebal dasar ilmu anak-anak muda yang telah dapat dipengaruhinya. Bahkan kemudian menjalar kepada setiap laki-laki yang tinggal di padukuhan di sekitar padepokannya.
Tidak seorang pun di antara mereka yang berani menentang Empu Purung. Setiap kata yang diucapkan baginya merupakan hukum yang tidak boleh dilanggar.
“Jika Empu Purung, marah, maka ia akan dapat memanggil wabah yanp paling dahsyat. Seluruh isi bumi akan terbunuh oleh penyakit selain orang-orang yang dikehendakinya.” berkata salah seorang dari padukuhan yang berada di bawah pengaruhnya.
Karena itulah, maka apapun yang harus mereka lakukan, tanpa dapat mengemukakan alasan apapun, pasti mereka lakukan, meskipun hal itu dapat mengancam nyawanya
Ketika Empu Purung memanggil setiap laki-laki di sekitar padepokannya untuk berlatih mempergunakan senjata, maka berduyun-duyun mereka datang ke padepokan. Satu dua pembantu Empu Purung yang terpercaya, ikut serta memberikan latihan-latihan pada kelompok-kelompok kecil di antara Laki-laki itu.
Tetapi anak-anak muda yang berlatih, berada di tangan Empu Purung sendiri. Merekalah yang akan menjadi inti kekuatan nya apabila saat yang ditunggunya itu tiba.
Sementara itu, menurut pengamatan Empu Purung, prajurit-prajurit Singasari yang bertugas di daerah Alas Pandan itu sama sekali tidak berbuat apa-apa. Mereka sekedar berada di tempat itu tanpa melakukan apa-apa.
Namun dalam pada itu, laporan yang terperinci tentang padepokan Empu Purung di ujung Alas Pandan itu telah berada di Singasari. Padepokan itu , memiliki kekuatan yang agak menarik perhatian dibandingkan dengan keadaan di tempat-tempat yang lain yang juga nampak meningkatkan kegiatannya.
Karena itulah maka Singasari menganggap perlu untuk mengirimkan prajurit yang lebih kuat, tetapi yang tidak segera dapat dilihat oleh orang-orang di padepokan itu. Sendangkan tingkah laku para prajurit di barak itu harus dipertahankan seolah-olah mereka tidak menghiraukan keadaan di sekitarnya
Dalam tugas itulah maka Mahisa Agni telah mengikut sertakan Mahisa Bungalan yang telah dipanggilnya dari padukuhan Empu Sanggadaru.
“Tidak banyak lagi yang harus dilakukan di padepokan itu” berkata Mahisa Agni, “biarlah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tetap berada di sana. Jika kau ingin ikut serta dalam tugas berikutnya melawan Empu Baladatu atau kekuatan dari Mahibit, maka ikutlah pergi ke Alas Pandan. Mungkin kau akan mendapatkan pengalaman baru. Tetapi hati-hatilah, bahwa yang kau hadapi bukannya kanak-anak. Empu Baladatu pun telah mendapatkan pengalaman pahit, sedangkan Linggapati telah kehilangan adiknya.”
Mahisa Bungalan mengangguk. Jawabnya, “Terima kasih atas kesempatan ini paman.”
“Kau telah menjadi bagian dari kekuatan prajurit Singasari. Kedudukanmu telah menggantikan kedudukan ayahmu yang semakin tua. Meskipun kau bukan seorang prajurit, tetapi kau telah berbuat seperti dan bahkan melampaui seorang prajurit.”
Karena itulah, maka Mahisa Bungalan pun kemudian merupakan salah seorang dari mereka yang berangsur-angsur dikirim ke Alas Pandan. Tetapi mereka tidak langsung berada di dalam lingkungan para prajurit. Hanya lima orang sajalah di antara mereka yang dengan diam-diam telah berada didalam barak itu pula, tennasuk Mahisa Bungalan, sehingga dengan demikian bertambahnya jumlah itu tidak nampak dari mereka yang berada di luar barak.
Namun dalam pada itu, beberapa orang yang lain telah terpencar di sekitar padukuhan itu, meskipun mereka harus berada di tempat-tempat tersembunyi.
Sekelompok kecil prajurit Singasari itu telah membuat semacam perkemahan di hutan kecil yang terletak di seberang lain dari sebuah bukit kecil. Perkemahan yang dapat dicapai dengan lontaran panah sendaren. Jika sesuatu terjadi, maka yang suaranya dapat didengar dari perkemahan yang tersembunyi itu.
Untuk menghilangkan kejemuan mereka yang berada di hutan kecil itu, setiap kali di luar penglihatan orang lain, maka prajurit-prajurit itu selalu bergantian. Beberapa hari mereka berada di hutan kecil itu, sedangkan beberapa hari kemudian mereka tinggal di barak. Hanya beberapa orang sajalah yang tidak mengalami pergantian itu. Pemimpin prajurit di Alas Pandan, dua orang pengawal kepercayaannya, dan tiga orang yang mempunyai banyak hubungan dengan orang-orang luar. Mereka adalah prajurit-prajurit yang melayani kebutuhan kawan-kawannya, dan selalu berkeliaran di pasar dan padukuhan-padukuhan. Sementara Mahisa Bungalan ternyata lebih senang ikut pula berpindah dari baraknya ketempat yang tersembunyi itu. Tetapi ia tidak mengikuti pembagian waktu tertentu seperti kawan-kawannya. Ia di perkenankan berada di mana saja menurut keinginannya sesuai dengan waktu yang dikehendakinya sendiri.
Ternyata cara yang dipergunakan oleh para prajurit, itu dapat terlepas dari pengamatan Empu Purung. Ia tidak mengetahui bahwa Singasari sedang mengamatinya dengan tajamnya.
Yang dilihat oleh Empu Purung adalah jumlah prajurit yang terbatas di dalam barak, yang setiap hari hanyalah duduk memeluk lutut di gerbang halaman barak mereka, selain yang bertugas. Bahkan kadang-kadang yang sedang bertugas ikut pula meletakkan senjata mereka dan duduk sambil bergurau menunggu saatnya mereka dipanggil untuk makan. , “Menjemukan sekali” berkata Empu Purung kepada pengawalnya, , “meskipun demikian, pada suatu saat mereka dapat membahayakan kita semuanya.”
“Kenapa mereka tidak kita hancurkan saja Empu?” bertanya pengawalnya.
“Petugas yang dikirim Empu Baladatu itu terlalu berhati-hati. Ia sedang menghadap Empu Baladatu untuk minta petunjuk apa yang sebaiknya kita lakukan di sini.”
“Kita dapat menyerang dan memusnakan mereka, sehingga tidak seorang pun yang akan kita biarkan hidup untuk melaporkan apa yang terjadi. Dengan demikian, maka tidak akan ada yang mengetahui bahwa kita sudah mulai.”
“Tetapi setiap saat tentu ada petugas dari Singasari menghubungi mereka, atau dalam saat-saat tertentu ada petugas dari barak itu yang pergi ke Kota Raja untuk memberikan laporan. Jika mereka tidak datang, maka Singasari akan membuat suatu perhitungan.”
“Jadi kita akan membiarkan saja mereka di barak itu?”
“Kita menunggu perintah Empu Baladatu. Kita akan bersama-sama bergerak di beberapa tempat, agar kekuatan Singasari terbagi.”
Tetapi pengawal-pengawalnya menganggap bahwa menunggu perintah itu terlalu menjemukan. Mereka sudah terlalu muak melihat sikap para prajurit itu.
Ternyata beberapa orang anak buah Empu Purung sulit untuk menjaga diri. Setiap mereka lewat dan berpapasan dengan satu atau dua orang prajurit di sepanjang jalan padukuhan, rasa-rasanya mereka tidak tahan lagi.
“Kenapa kita tidak membunuh mereka saja? Jumlah mereka terlalu sedikit. Dua puluh atau sebanyak-banyaknya dua puluh lima orang.”
“Empu Purung masih menunggu perintah Empu Baladatu “
“Kita sebenarnya tidak usah memperdulikannya.” Tetapi seorang yang agak mampu berpikir berkata “Kita tidak boleh merusak rencana Empu Baladatu dalam keseluruhan “
Kawan-kawannya tidak menjawab. Tetapi sebagai pribadi mereka sulit untuk mengendalikan diri.
Anak muda yang merasa dirinya mempunyai kelebihan dari kawan-kawannya, dan mendapat kepercayaan tertinggi dari Empu Purung di antara kawannya, justru merasa tangannya sudah terlalu gatal. Dengan nada tinggi ia berkata kepada kawahnya, “Apa salahnya jika terjadi sentuhan antara pribiadi, Persoalannya adalah persoalan seorang dengan seorang Prajurit Singasari tentu menyangka, bahwa persoalannya sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan-persoalan lain kecuali sekedar perkelahian.”
“Tetapi Empu Purung akan marah jika terjadi sesuatu di luar rencananya.”
“Kalau masalahnya adalah masalah pribadi, ia tidak akan berbuat apa-apa.”
Kawan-kawannya tidak dapat mencegahnya. Anak muda ilu ingin sekali-kali berkelahi dengan prajurit Singasari dalam soal pribadi.
“Besok aku akan pergi ke pasar di seberang lembah, dekat barak itu” berkata anak muda itu.
“Untuk apa?” bertanya kawannya.
“Lihat sajalah. Aku akan berkelahi dengan prajurit Singasari. Tetapi masalahnya adalah masalah pribadi Aku akan membuat soal apa pun sehingga melibatkan aku dalam perkelahian itu. Aku akan menjajagi, sampai berapa jauh kemampuan prajurit-prajurit Singasari “
Kawan-kawannya menjadi ragu-ragu. Tetapi sebagian dari mereka justru ingin melihat, apakah yang terjadi dengan perkelahian itu.
“Bagaimana jika prajurit-prajurit yang lain, dan mereka beramai-ramai memukulimu?”
“Biarkan saja. Itu akan menjadi alasan kita untuk menyerang mereka di luar persoalan yang dicemaskan oleh Empu Purung dan Empu Baladatu. Pemimpin prajurit Singasari akan mengira bahwa yang terjadi adalah benturan pribadi-pribadi. tidak menyangkut masalah pemerintahan.”
Kawan-kawanya mengangguk-angguk. Bahkan mereka seakan-akan tidak sabar lagi menunggu sampai esok pagi
Seperti yang dikatakan, maka di keesokan harinya anak muda itu benar-benar pergi ke pasar. Beberapa orang kawannya yang ingin melihat peristiwa itu pun pergi juga meskipun terpisah-pisah.
Dengan tidak menduga sama sekali, maka beberapa orang prajurit Singasari pun pergi juga kepasar. Mereka memerlukan bahan makan dan kebutuhan mereka sehari-hari. Dan adalah kebetulan sekali bahwa di antara mereka terdapat Mahisa Bungalan yang berpakaian seperti prajurit Singasari.
Seperti biasanya prajurit-prajurit itu membeli bahan-bahan dan keperluan yang lain. Selanjurnya seperti biasa mereka kadang-kadang melepaskan haus di sebuah warung kecil di pinggir pasar itu.
Di tempat itulah anak muda, murid Empu Purung itu sudah menunggu untuk menimbulkan persoalan pribadi.
Yang duduk di paling dekat dengan anak muda itu adalah Mahisa Bungalan yang sama sekali tidak berprasangka.
Minum dan makan di warung kecil, di pinggir di sebuah padukuhan kecil, mempunyai kenikmatan tersendiri. Kenikmatan yang tidak dapat ditemui jika mereka berada di sebuah warung yang besar di Kota Raja.
Itulah sebabnya, prajurit-prajurit itu seakan-akan tidak melewatkan waktunya untuk singgah barang sebentar, duduk sambil menghirup minuman hangat di mangkuk.
Namun dalam pada itu, selagi Mahisa Bungalan mengangkat mangkuknya yang berisi minuman panas, tiba-tiba saja siku orang yang duduk di sebelahnya telah menyentuh tangannya. Demikian tiba-tiba dan kerasnya, sehingga minuman panas itu tumpah di pakaian Mahisa Bungalan.
Mahisa Bungalan terkejut. Dengan serta merta ia meloncat berdiri sambil mengibaskan pakaiannya yang basah.
Orang yang duduk di sampingnya memandanginya dengan wajah tegang. Tiba-tiba saja justru orang itu berkala, “Kau terlalu banyak tingkah. Untunglah bahwa pakaianmu sendiri yang basah oleh minuman panas itu.”
Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Ia sama seka li tidak menyangka bahwa anak muda yang duduk di sampingnya itu justru marah kepadanya.
Tetapi Mahisa Bungalan tidak ingin terjadi perselisihan sehingga karena itu, maka ia pun menyahut, “Maaf Ki Sanak, aku tidak sengaja. Dan bukankah kau tidak terpercik oleh air panas dalam mangkuk itu.”
“Sekarang tidak. Tetapi nanti kau akan menumpahkan lebih banyak lagi. Dan kau tentu akan membasahi pakaianku “
“Tentu tidak Ki Sanak. Betapa bodohnya seseorang, ia tidak akan melakukan kesalahan serupa dalam waktu yang terlalu pendek.”
“Persetan” bentak anak muda itu, “jika kau akan minum lagi, menyingkirlah. Jangan dekat-dekat aku.”
Bentaknya itu membuat dada Mahisa Bungalan berdebar-debar. Tetapi ketajaman tangkapan perasaannya membuat seakan-akan melihat sesuatu yang lain dari sikap kasar itu saja.
Namun justru karena itulah, maka Mahisa Bungalan yang muda itu berusaha untuk menahan hati dan berkata, “Baiklah. Aku akan duduk di ujung yang lain.”
Kawan-kawannya, para prajurit Singasari tidak mengerti akan sikap itu. Hampir saja mereka meloncat menerkam anak muda yang sombong dan deksura itu. Namun sikap Mahisa Bungalan itu telah mencegahnya, karena mereka pun mengetahui, siapakah Mahisa Bungalan itu. Sikap itu tentu bukannya karena Mahisa Bungalan ketakutan. Tetapi tentu ada sebab yang lain.
Ternyata sikap Mahisa Bungalan itu membuat anak muda yang memancing kemarahanya itu menjadi kecewa dan bahkan marah. Dengan wajah yang tegang ia berkata, “Kau jangan mencoba menghina aku. Kau mencoba menumpahkan minumanmu kepakaianku. Kemudian begitu saja pergi tanpa minta maaf kepadaku?”
Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Namun ia masih mencoba menyabarkan hatinya, “Baiklah Ki Sanak. Akulah yang minta maaf.”
Sikap itu sama sekali tidak diduga oleh anak muda murid Empu Purung itu, sehingga karena itu, justru ia terbungkam beberapa saat, sementara Mahisa Bungalan telah bergeser sambil membawa mangkuknya.
“Gila” geram anak muda itu. Ternyata usahanya memancing kemarahan prajurit Singasari itu tidak berhasil.
Namun dengan demikian ia menyangka bahwa prajurit Singasari itu secara pribadi takut kepadanya. Itulah sebabnya maka keinginannya untuk berkelahi justru menjadi semakin besar.
“Aku harus membuatnya marah dan memancing perkelahian” desisnya di dalam hati.
Ternyata anak muda itu adalah anak muda yang kasar. Ia tidak sempat memikirkan cara yang lebih baik. Dengan serta merta, demikian Mahisa Bungalan duduk di tempatnya yaug baru, anak muda itu langsung menyiramkan minuman di mangkuknya sendiri ke arah Mahisa Bungalan.
“Kau memuakkan sekali” geram anak muda itu.
Mahisa Bungalan benar-benar terkejut mendapat perlakuan itu. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia menggeretakkan giginya sambil tegak berdiri.
Namun sekali lagi ia menyadari, bahwa tingkah laku anak muda yang tidak sewajarnya itu harus mendapat penilaian tersendiri.
Karena itulah, maka ketiga kawan-kawan Mahisa Bungalan hampir saja melangkah kearah anak muda itu, Mahisa Bungalan berkata, “Persoalan ini adalah persoalanku. Persoalan pribadi.”
Anak muda itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menjadi semakin kasar, “Anak gila. Kehadiranmu di warung ini sudah sangat memuakkan. Sekarang sikapmu menambah kebencianku kepadamu meskipun aku belum mengenalmu.”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa anak muda itu sengaja memancing perkelahian. Tetapi ia masih belum tahu pasti, apakah sebabnya.
“Ki Sanak.” berkata Mahisa Bungalan, “kenapa kau tiba-tiba saja marah. Kita berada di tempat yang terbuka bagi siapapun. Termasuk aku.”
“Tetapi kau teramat sombong. Kau sangka, bahwa kau Laki-laki seorang di seluruh Singasari.”
“Aku tidak mengerti” desis Mahisa Bungalan. Sikap Mahisa Bungalan menambah kemarahan orang itu.
Ia sama sekali tidak membayangkan bahwa prajurit Singasari itu tidak segera berbuat sesuatu yang dapat menimbulkan benturan kekuatan.
Tetapi ia tidak berhenti berusaha. Bahkan kata-katanya menjadi semakin kasar, “Pengecut. Apakah kau bukan laki-laki?”
Pertanyaan itu benar-benar telah menyinggung perasaan. Kawan Mahisa Bungalan yang tidak dapat menahan hati lagi, telah bersiap untuk berbuat sesuatu. Tetapi Mahisa Bungalan menggamitnya dan berkata, “Itu adalah persoalanku.”
Prajurit itu termangu-mangu. Ia kenal siapakah Mahisa Bungalan. Namun karena itu pulalah ia kemudian menyadari, bahwa Mahisa Bungalan hatinya sudah mengendap meskipun ia masih cukup muda untuk berbuat sekasar anak muda yang tidak tahu diri itu.
“Ki Sanak” berkata Mahisa Bungalan, “ternyata sikapmu sudah berlebih-lebihan. Tetapi aku tahu, bahwa kau bukannya orang yang berbuat kasar kepada setiap orang. Tetapi kau justru berbuat demikian kepadaku.”
Anak muda itu terkejut mendengar kata-kata Mahisa Bungalan. Rasa-rasanya dadanya tidak tahan lagi melihat sikap anak muda yang nampaknya tenang sekali itu.
“Ki Sanak” Mahisa Bungalan meneruskan, “ada semacam kesengajaan yang kau lakukan terhadapku untuk menimbulkan perselisihan. Kenapa kau mempergunakan cara yang kasar dan tidak terhormat ini. Jika kau berbisik di telingaku mengatakan bahwa kau menantangku berkelahi, aku akan melayanimu. Tetapi kau lebih senang mempergunakan cara seorang berandal yang liar dan buas“
Justru anak muda itulah yang kemudian tidak dapat menahan diri. Tangannya segera menyambar gendi berisi air. Hampir saja gendi itu dilemparkannya kearah Mahisa Bungalan. Tetapi Mahsa Bungalan, mendahuluinya, “Jangan kau lemparkan gendi itu. Aku sudah memutuskan untuk berkelahi. Tetapi tidak di sini.”
“Persetan” geram anak muda itu
Mahisa Bungalan berpaling kepada pemilik warung yang berdiri dengan gemetar. Tidak sepatah kata pun yang dapat diucapkannya.
“Ki Sanak” berkata Mahisa Bungalan kepada pemilik warung itu, “aku tidak akan berbuat sesuatu di dalam warungmu ini. Aku akan keluar dan melayani anak yang ingin berkelahi tanpa sebab itu di luar.”
Dengan tenang Mahisa Bungalan pun kemudian melangkah keluar dan berdiri tegak di muka warung itu.
Beberapa orang yang berada di tempat itu dengan berdebar berusaha untuk menjauh. Mereka tidak mau terlihat dalam kesulitan.
Anak muda murid Empu Purung itu pun dengan wajah yang tegang melangkah keluar. Ia sudah berpesan kepada kawan-kawannya agar mereka tidak ikut berbuat sesuatu. Jika ia menang akan perkelahian itu, dan prajurit-prajurit Singasari kemudian mengeroyoknya, ia pun minta agar kawan-kawannya jangan membantunya,
“Itu akan menjadi sebab, jika pada suatu saat anak-muda di Alas Pandan ini datang menyerang barak itu” berkata anak muda itu kepada kawan-kawannya.
Sejenak anak muda itu berdiri dengan bertolak pingang di hadapan Mahisa Bungalan. Dengan garangnya ia berkata, “Jika kau berjongkok dan minta maaf kepadaku, aku tidak akan berbuat apa-apa.”
Mahisa Bungalan sadar sepenuhnya akan persoalan yang dihadapinya. Tetapi bagaimanapun juga, kemudaannya masih juga sangat berpengaruh terhadap keputusan yang diambilnya.
“Ki Sanak” berkata Mahisa Bungalan, “baiklah kau berterus terang. Kenapa kau menghendaki perselisihan ini? Agaknya aku lebih senang mendengar alasanmu yang sebenarnya daripada sekedar sebab yang dicari-cari seperi i ini.”
Anak muda itu menjadi semakin tegang. Namun kemudian ia membentak, “Kau memuakkan sekali “
“Hanya itu? Atau barangkali kau mempunyai sebab lain yang memaksamu berbuat demikian?”
Orang itu menggeram” Hanya itu.”
Mahisa Bungalan lah yang kemudian menggeretakkan giginya. Katanya, “Aku tahu. Kau ingin tahu dan menjajagi. Apakah secara pribadi prajurit Singasari mempunyai kemampuan berkelahi. Baiklah. Apapun alasanmu, tetapi aku yakin bahwa itulah tujuanmu. Dan aku tidak berkeberatan melayanimu. Kau akan melihat imbangan kekuatan antara kita.
“Ya” teriak anak muda itu, “aku memang ingin melihat. apakah kau mampu melawan aku.”
Mahisa Bungalan justru tersenyum sambil berkata, “Kita akan mulai. Biarlah kawan-kawanku menjadi saksi, apakah aku dapat mengimbangi kemampuanmu. Jika tidak, maka kawan-kawanku tidak akan ikut terlibat dalam perkelahian ini.”
“Persetan. Bersiaplah” anak muda itu menggeretakkan giginya.
Mahisa Bungalan pun segera mempersiapkan dirinya. Anak muda yang berdiri dihadapannya sudah siap untuk menyerangnya
Dengan penuh perhitungan Mahisa Bungalan mencoba menilai lawannya. Bagaimanapun juga, ia tidak mau terperosok ke dalam kelengahan yang dapat membuatnya menyesal. Karena menurut pertimbangannya, dimanapun juga, terdapat orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi, apakah ia mempergunakan dengan baik atau sebaliknya.
Sejenak keduanya berdiri saling berhadapan. Beberapa orang prajurit yang datang bersama Mahisa Bungalan herdiri beberapa langkah daripadanya untuk menyaksikan perkelahian itu. sementara beberapa orang yang lain berdiri agak jauh daripadanya.
Beberapa orang anak muda murid Empu Purung yang lain pun memperhatikan peristiswa itu dari jarak yang agak jauh Mereka mendapat pesan untuk membiarkan saja apa yang akan terjadi, kecuali jika para prajurit itu hendak membunuh anak muda yang dengan sengaja ingin menjajagi kemampuan prajurit-prajurit Singasari itu.
“Jika mereka sekedar memukuli aku, meskipun bersama-sama, biarkan sajalah. Itu akan dapat dijadikan alasan., kawan-kawanku datang kebarak membela aku. Tetapi jika mereka akan membunuhku, terserah kepada kalian.” berkata murid Empu Purung yang ingin menjajagi kemampuan prajurit Singasari itu.
Dalam pada itu, Mahisa Bungalan pun telah bersiap menghadapi kemungkinan yang akan datang. Sejenak ia memandang anak muda yang berdiri di hadapannya. Namu sejenak kemudian ia sudah harus meloncat menghindar karena anak muda itu sudah mulai menyerangnya dengan garang.
Mahisa Bungalan sempat menilai serangan itu. Sebagai seorang yang memiliki pengalaman dan kemampuan yang tinggi maka ia pun segera mengetahui, bahwa sebenarnyalah anak muda itu adalah anak muda yang baru saja mendapatkan beberapa jenis ilmu kanuragan.
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Namun jika anak muda itu menghadapi prajurit Singasari yang baru saja menyelesaikan pendadaran, mungkin ia masih akan dapat tertawa. Tetapi yang dihadapi adalah kebetulan sekali seseorang yang bernama Mahisa Bungalan, anak Mahendra.
Karena serangannya yang pertama gagal, maka anak muda itu pun segera mengulangi serangannya. Lebih cepat dan lebih keras. Namun Mahisa Bungalan masih berusaha untuk. menghindar, agar tidak terjadi benturan kekuatan.
Tetapi sikap Mahisa Bungalan itu telah membuat anak muda itu semakin marah. Geraknya menjadi semakin cepat dan mantap, karena ia menyangka bahwa prajurit Singasari itu hanya mampu meloncat menghindar serangannya
Namun pada serangan ketiga, Mahisa Bungalan bersikap lain. Ketika anak muda itu meloncat sambil memukul ke arah dadanya, maka Mahisa Bungalan pun bergeser ke samping. Ia berhasil menangkap tangan anak muda itu, dan dengan dorongan kekuatan serangannya sendiri, Mahisa Bungalan menariknya dalam sebuah putaran. Tetapi pada putaran berikutnya Mahisa Bungalan telah melepaskan tangan itu, sehingga anak muda itu pun terlempar beberapa langkah.
Bahkan, putaran itu telah mengganggu perasaan keseimbangan anak muda itu, sehingga karena itu, maka ia pun telah terhuyung-huyung dan kemudian terjatuh beberapa langkah dari Mahisa Bungalan.
Cara Mahisa Bungalan melemparkan lawannya ternyata telah meledakkan tertawa beberapa orang prajurit Singasari yang melihat perkelahian itu, meskipun mereka berusaha menahannya. Apalagi kemudian ternyata Mahisa Bungalan tidak bersikap sebagai seseorang yang benar-benar berkelahi dalam permusuhan. Mahisa Bungalan tidak memburu lawannya yang tertatih-tatih berdiri dan mempergunakan kesempatan itu untuk menghantamnya dan menjauhkannya lagi. Ia hanya melangkah perlahan-lahan mendekat dan kemudian berdiri dengan tenang menunggu lawannya berdiri tegak.
Wajah anak muda itu menjadi merah padam. Kemarahannya benar-benar telah melonjak sampai ke ubun-ubun. Karena itulah maka ia pun segera tegak berdiri dan siap untuk bertempur dengan segenap kemampuan yang ada padanya.
Mahisa Bungalan telah berdiri tegak, menghadapinya. Dalam sentuhan-sentuhan yang telah terjadi, maka Mahisa Bungalan pun segera mengetahui bahwa ia tidak perlu bersungguh-sungguh menghadapi anak muda itu. Apalagi Mahisa Bungalan tidak mengetahui latar belakang yang sesungguhnya, kenapa anak muda itu telah menyerangnya
Sesaat anak muda itu memperbaiki kedudukannya. Kemudian ia mulai dengan serangan-angannya kembali. Namun ia sama sekali tidak berhasil menyentuh lawannya. Bahkan pakaiannya pun tidak.
Mahisa Bungalan dengan sengaja hanya menghindari serangan anak muda itu saja tanpa membalas menyerang, ia ingin membiarkan anak muda itu kelelahan dan menghentikan perlawanannya atas kehendak sendiri.
Seperti yang diperhitungkan Mahisa Bungalan, semakin lama orang itu pun menjadi semakin lemah. Tetapi sejalan dengan itu, kemarahanya pun menjadi semakin membakar hatinya.
Ketika tenaganya sudah menjadi jauh susut, sementara Mahisa Bungalan seakan-akan berkeringat pun belum, apalagi beberapa orang prajurit Singasari yang menonton perkelahian itu setiap kali mentertawakannya, maka ia pun telah kehilangan pengamatan diri. Hampir di luar sadarnya, maka ia pun telah mencabut pisau helati yang terselip di dalam sarungnya di punggung.
Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Dengan nada datar ia berkata, “Kau sudah kesurupan. Apakah kau akan mempergunakan senjata.?”
“Persetan. Aku akan membunuh” geram anak muda itu.
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Anak muda itu. Benar-benar telah menjadi marah sekali.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar