*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 36-02*
Karya. : SH Mintardja
Ternyata bukan anak-anak muda sajalah yang telah turun ke jalan-jalan. Orang-orang tuapun telah bersenjata pula. Apalagi mereka yang pernah menjadi seorang prajurit. Meskipun umur mereka telah bertambah tua, tetapi dalam keadaan yang gawat mereka masih siap untuk bertempur.
Orang-orang di Kota Raja itupun menjadi gelisah. Perempuan dan anak-anak menutup diri di dalam rumah mereka. Sementara setiap laki-laki memperhitungkan, bahwa medan peperangan akan tersebar di seluruh Kota Raja tanpa memilih tempat.
Tetapi setiap orangpun sadar, bahwa pusar dari arah lawan, tentu istana Singasari. Empu Baladatu tentu akan mencapai istana itu dan menghancurkannya.
Mahisa Agni dengan sepasukan kecil pengawal berdiri di tangga pendapa istana Singasari. Hatinya menjadi berdebar-debar melihat kegelisahan para prajurit dan penduduk kota Raja. Ada sepercik penyesalan, bahwa seakan-akan ia telah mendesak agar Ranggawuni dan Mahisa Cemaka memasuki Kota Raja. Jika keduanya berada di medan, maka keadaannya tentu akan berbeda.
Tetapi yang telah terjadi adalah berbeda. Kedua orang pemegang, pimpinan tertinggi itu kini berada di dalam istana yang telah dikepung oleh bahaya.
Namun Mahisa Agni tidak menunjukkan kegelisahan yang mencengkam jantungnya. Di hadapan para pengawal ia nampak tetap tenang dan meyakinkan.
Dalam pada itu, Witantra dan Mahendrapun telah mendengar apa yang telah terjadi. Mereka tidak sabar lagi berjalan lambat bersama pasukannya menuju ke dinding kota. Karena itu, mereka tanpa berjanji dari tempatnya masing-masing telah berlari mendahului.
Tanpa berjanji pula keduanya di tempat yang terpisah, memperhatikan orang-orang yang mengepung dinding. Bahkan tanpa berjanji pula, keduanya telah melakukan tindakan yang berbahaya hampir bersamaan waktunya.
Dengan serta merta keduanya berlari seperti angin langsung menuju kedinding Kota Raja.
Ketika ujung-ujung senjata yang dilontarkan mematuknya, keduanya telah hilang, seolah-olah terbang meloncati dinding kota Raja itu.
Beberapa orang saling berpandangan. Salah seorang berdesis, “Apakah benar aku melihat sesuatu?”
“Ya.” sahut kawannya, “Seseorang telah meloncati dinding.”
Yang lain menarik nafas dalam-dalam. Mereka hampir tidak percaya atas penglihatannya diremangnya malam. Namun beberapa orang telah melihatnya, dan bahkan ada di antara mereka yang yang telah melemparkan senjatanya.
Ternyata Witantra dan Mahendra langsung menuju ke istana. Mereka mencemaskan keadaan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.
Mahisa Agni terkejut melihat kehadiran mereka yang berturut-turut hanya berselisihan waktu sekejap. Mahisa Agni menyangka bahwa keduanya telah datang bersama-sama menembus kepungan orang-orang Empu Baladatu.
“Kami tidak berjanji.” desis Witantra, “Tetapi agaknya kami mempunyai naluri yang sejalan.”
“Terima kasih. Meskipun kalian hanya berdua, tetapi dengan demikian, pertahanan di istana ini akan bertambah kuat.”
“Mahisa Bungalan telah mengetahui bahwa Empu Baladatu menyerang istana. Mereka bersama pasukannya telah mendekati pintu gerbang. Semua pasukan telah ditarik, kecuali beberapa kelompok yang harus menghadapi sebagian kecil pasukan lawan yang memancing perhatian, seolah-olah hendak melarikan diri.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Keterangan itu membuat hatinya agak sejuk. Namun ia masih juga gelisah, jika Mahisa Bungalan dan pasukannya datang terlambat.
Ternyata bahwa bukan hanya Witantra dan Mahendra Sajalah yang telah dihinggapi oleh pertimbangan yang sama. Beberapa orang Senapati yang mengetahui keadaan Kota Raja, tidak dapat menahan hati. Mereka sadar, jika Empu Baladatu sempat masuk dan menembus jantung kota, maka Kota Raja benar-benar akan menjadi karang, abang. Setiap rumah akan menjadi abu, dan setiap orang akan menjadi mayat. Termasuk istana Singasari dan penghuninya.
Karena itulah, maka beberapa orang Senapati yang memiliki kelebihan telah berlari-lari mendekati dinding kota mendahului pasukannya. Seperti Witantra dan Mahendra, mereka telah berusaha untuk meloncati dinding meskipun mereka mengetahui, bahwa Kota Raja itu telah terkepung. Namun mereka dapat menemukan tempat-tempat yang paling lemah dari kepungan itu, dan berhasil menembusnya dengan berlari kencang-kencang kemudian meloncati dinding Kota Raja yang tinggi.
Para prajurit Singasari yang berada di dalam dinding Kota segera dapat mengenal mereka dari pakaian dan ucapan-ucapan sandi yang telah mereka sepakati, sehingga dengan demikian, maka para Senapati itu telah memberikan sedikit ketenangan kepada para prajurit, yang ada di dalam.
Kehadiran mereka seorang demi seorang, membuat pertahanan di istana menjadi semakin teguh. Meskipun mereka sadar, bahwa lawan akan datang bagaikan banjir bandang.
Para pengikut Empu Baladatu yang menyadari kemungkin dari orang-orang yang meloncat masuk, telah memperketat kepungan mereka, sehingga orang-orang yang datang kemudian menjadi sulit untuk dapat menembus penjagaan di sekitar dinding Kota Raja itu.
Sementara itu para prajurit menjadi semakin banyak memanjat dinding, di sekitar pintu gerbang. Mereka meloncari orang-orang yang berusaha memecah pintu dengan senjata tajam. Bukan saja anak panah, tetapi tombak-tombakpun meluncur seperti hujan yang dicurahkan dari langit.
Dengan perisai-perisai yang memayungi mereka, maka para pengikut Empu Baladatu itu berusaha untuk bekerja lebih cepat, sehingga korban tidak menjadi semakin banyak.
Akhirnya palang pintu yang besar itu benar-benar retak dan bahkan kemudian orang-orang yang ada di dalam tidak berhasil menahannya, sehingga palang pintu itu patah.
Sejenak kemudian, pintu gerbang itupun bagaikan berderak. Perlahan-lahan pintu itu terbuka oleh desakan yang tidak tertahankan lagi.
Dengan satu isyarat, maka orang-orang Singasari pun justru berlari meninggalkan pintu gerbang itu, sementara sekelompok prajurit telah siap dengan anak panah yang sudah melekat di busurnya.
Demikian pintu itu terbuka, maka busurpun segera menggeliat, dan anak panah pun meluncur dengan derasnya.
Para pengikut Empu Baladatu yang mendesak pintu gerbang itu bagaikan air yang memecahkan bendungan. Namun demikian mereka mulai merambat masuk, maka anak panah yang terlepas dari busur telah mengupas lapisan pertama dari orang-orang yang menyerang itu.
Ketika mereka berjatuhan tertembus anak panah di dadanya, maka lapisan berikutnya telah meloncati mayat-mayat yang berguling dan terinjak-injak kaki. Namun, selapis orang-orang berpanah telah menggeser lapisan yang pertama, dan untuk kedua kalinya anak panah telah terlepas dari busurnya.
Namun arus kekuatan Empu Baladatu benar-benar bagaikan banjir bandang. Usaha untuk menahan dengan lontaran anak penah dan rombak hanya berhasil menghambat kemajuan mereka dan mengurangi jumlah, karena merekapun kemudian segera memencar di sekitar pintu gerbang, dan menguasai tempat-tempat yang paling penting.
Dibagian lain, sekelompok pasukan Empu Baladatu telah berusaha memasuki Kota Raja dengan memanjat dinding. Namun mereka mengalami kesulitan, karena prajurit Singasari pun bertahan di atas dinding pula pada bagian-bagian tertentu.
Dengan pecahnya pintu gerbang, maka pasukan Empu Baladatu mengalir memasuki Kota Raja. Demikian mereka menyebar maka pertempuran yang meratapun telah dimulai. Arus pasukan Empu Baladatu bagaikan arus air bah yang menyusup lewat jalan-jalan raya menuju ke pusat kota.
Tetapi di sepanjang jalan, mereka telah menemukan perlawanan yang dapat menghambat perjalanan mereka. Anak-anak muda dan prajurit-prajurit yang menyebar telah menyerang mereka dari segala arah.
Namun jumlah pengikut Empu Baladatu terlalu banyak. Arus pasukannya benar-benar tidak terbendung lagi. Sebagian dari mereka langsung, menuju ke istana, yang lain memencar menghancurkan yang di jumpainya di sepanjang serangan mereka.
Kota Raja Singasari bagaikan terbenam ke dalam neraka. Dentang senjata dan pekik kesakitan memenuhi jalan-jalan raya dan halaman-halaman yang menjadi ajang pertempuran. Dengan buas dan liar, pasukan Empu Baladatu memuaskan nafsu hitam mereka dengan pembunuhan-pembunuhan.
Laporan tentang pecahnya pintu gerbang segera sampai ketelinga Mahisa Agni. Ia memang sudah menduga, bahwa prajurit Singasari yang ada tidak dapat bertahan. Namun demikian, para prajurit bertekat untuk mempertahankan istana itu sampai kemungkinan yang penghabisan.
Apalagi ketika Ranggawuni dan Mahisa Cempaka telah berada di tangga istana, tidak mengenakan pakaian kebesaran seorang Maharaja, tetapi dalam pakaian seorang panglima perang.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dengan wajah yang buram ia mendekati Ranggawuni sambil berdesis, “Salah hamba tuanku. Jika tuanku tetap berada di pasukan itu, maka keadaannya tentu akan lebih baik.”
Ranggawuni tersenyum. Katanya, “Bukan salah Paman Aku bangga melihat apa yang sudah dilakukan oleh prajurit-prajurit Singasari. Seandainya aku tidak dapat keluar dari Kota Raja, maka aku sudah puas.”
Mahisa Agni membungkukkan kepalanya dalam-dalam sambil berkata, “Tuanku adalah seorang yang berjiwa besar.”
Ranggawuni menepuk bahu Mahisa Agni sambil berkata, “Jangan bersikap berlebih-lebihan paman. Aku adalah anak-anak yang berada di balik sayap paman Mahisa Agni selama ini bersama Adinda Mahisa Cempaka.”
Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Kita semuanya akan tetap berada di atas bumi, Singasari. Hidup atau mati.”
Ranggawuni tertawa. Ketika ia berpaling kepada Mahisa Cempaka, maka anak muda itupun tertawa pula.
Dalam para itu pertempuran menjadi semakin dahsyat. Prajurit. Singasari benar-benar telah terdesak ke pusat Kota Raja. Jalan-jalan menjadi merah oleh darah dan pintu-pintupun bagaikan digores dengan lukisan-lukisan maut.
Sementara itu, prajurit Singasari bagaikan dikejar hantu menuju kepintu gerbang. Mereka tidak menyadari keadaan, merasa sangat cemas, bahwa Kota Raja benar-benar akan menjadi karang abang. Mayat akan berserakan seperti tebasan ilalang di padang yang kering.
Beberapa orang yang tidak sabar berlari-lari sekuat tenaga mencari jalan memintas, keluar dari pasukannya. Karena hampir semua orang yang mengepung kota sudah masuk ke dalam dinding Kota, maka orang-orang yang berdatangan itu dapat langsung meloncat ke atas dinding.
Beberapa orang di antara mereka sempat meloncat turun. Dengan tergesa-gesa mereka mencari jalan menuju ke halaman istana yang telah dipagari dengan prajurit Singasari.
Ternyata prajurit Singasari yang berada di halaman istana itu selalu bertambah-tambah. Meskipun mereka terlepas dari ikatan kelompok mereka, namun mereka akan berguna untuk ikut serta mempertahankan istana Singasari.
Banjir bandang itu akhirnya mengalir sampai ke jalan induk yang langsung menuju ke pintu gerbang, istana. Empu Baladatu sendiri yang, memimpin pasukannya telah menelusur jalan itu. Mereka bagaikan menjadi gila karena putus asa. Yang mereka lakukan adalah sekedar menghancurkan. Menghancur kan apa saja, termasuk istana dengan isinya.
Sementara itu, pasukan induk Singasaripun telah mendekati pintu gerbang. Para pemimpinnya seakan-akan sudah tidak sabar lagi. Namun mereka masih tetap berusaha mempertahankan kelompok-kelompok meskipun beberapa di antaranya sudah tidak utuh lagi.
Ketika mereka mendekati pintu gerbang, maka setiap Senapati bagaikan tersentak jantungnya. Mereka sadar, bahwa pintu gerbang itu telah pecah, dan pasukan lawan seluruhnya telah hanyut ke dalam Kota Raja.
“Kita akan memasuki Kota Raja. Kita akan memecah pasukan kita.” berkata Senapati tertinggi.
Sejenak kemudian beberapa orang Senapati masih sempat membagi tugas. Mereka akan memasuki Kota Raja, dan berpencar melalui jalan yang berbeda-beda. Sementara itu. Senapati yang memimpin pasukan induk itu akan langsung membawa pasukannya ke istana bersama Mahisa Bungalan.
Sejenak kemudian maka prajurit Singasari itupun telah berjejalan masuk. Mereka sama sekali tidak menemukan hambatan apapun, karena tidak seorangpun lagi yang berada di sekitar pintu gerbang yang telah pecah itu.
Setiap prajurit menjadi berdebar-debar melihat korban yang berjatuhan. Meskipun sebagian besar adalah para pengikut Empu Baladatu pada lapisan pertama yang terkelupas karena serangan anak panah yang bagaikan hujan.
Namun kemudian pasukan Empu Baladatu itu berhasil mendesak prajurit .Singasari masuk kedalam Kota Raja.
Sejenak kemudian, terdengar sorak para prajurit Singasari bagaikan memecahkn langit. Mereka sengaja menarik perhatian, agar setiap orang yang mendengarnya mengerti, bahwa prajurit Singasari telah datang untuk membendung arus yang gila dari para pengikut Empu Baladatu.
Di simpang-simpang jalan yang saling melintang, maka tiba-tiba saja kedua pasukan itu bertemu. Di simpang-simpang empat, di simpang tiga dan ditikungan.
Dengan demikian, maka pertempuran benar-benar telah memenuhi seluruh Kota Raja.
Namun, kehadiran prajurit Singasari benar-benar telah merubah suasana. Prajurit-prajurit yang bertahan di dalam Kota Raja, yang sudah hampir menjadi berputus itu, tiba-tiba telah mendapatkan gairah baru. Seolah-olah kekuatan mereka yang semakin susut itupun telah pulih kembali.
Tidak ada batas lagi antara para prajurit Singasari dan para pengikut Empu Baladatu. Hanya karena pengenalan mereka masing-masing dan ciri-ciri yang nampak pada para prajurit dan orang-orang Singasari sajalah, mereka dapat membedakan, siapakah lawan di antara mereka.
Yang masih nampak batas yang melingkar adalah halaman istana. Pintu gerbang telah ditutup dan selarak yang besar telah dipasang. Namun masih saja ada beberapa orang yang berloncatan masuk dan menggabungkan diri dengan pasukan pengawal istana yang menjadi semakin banyak memutari halaman istana.
Kehadiran pasukan Singasari itu terlalu cepat menurut perhitungan Empu Baladatu, sehingga ketika ia menerima laporan, maka ia pun mengumpat tidak ada habisnya.
Tetapi jalan menuju ke istana sudah terlalu dekat, sehingga ia pun berteriak, “Kita pecahkan pintu istana. Kita akan masuk dan pertama-tama yang kita lakukan adalah membakar istana itu sehingga menjadi abu. Baru kemudian kita memikirkan, apa yang akan kita lakukan.”
Berlari-larian pasukan Empu Baladatu menempuh jalan lurus yang langsung menuju ke pintu gerbang. Seperti yang sudah mereka lakukan, maka para pengikut, Empu Baladatu itu sudah siap memecahkan pintu gerbang yang diselarak dari dalam itu.
Peristiwa yang telah lerjadi di muka gerbang Kota Raja itu pun terulang. Beberapa orang prajurit Singasari segera memanjat dinding dan menghujani lawannya dengan anak panah.
Tetapi seperti arus banjir, maka pasukan lawan tidak terbendung, lagi. Selarak itupun retak pula seperti pintu gerbang Kota Raja.
Mahisa Agni berdiri di tangga pendapa istana. Hatinya menjadi berdebar-debar. Ia melihat beberapa orang Senapati bertebaran di halaman. Witantra berdiri di sebelah kiri tangga pendapa, sementara Mahendra di sebelah kanan. Sedangkan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka yang bepakaian seorang Senapati perang, berdiri di belakang Mahisa Agni, siap dengan senjata masing-masing. Sementara para prajurit berjejalan siap di belakang pintu gerbang.
Juga seperti di belakang gerbang Kota Raja yang pecah, di lapis pertama adalah mereka yang bersenjatakan anak panah yang sudah siap di busurnya, sehingga demikian pintu itu pecah dan lawan menghambur masuk, anak panah itu akan meluncur dan melumpuhkan orang-orang dilapis pertama.
Tetapi korban sudah mulai berjatuhan sejak para pengikut itu masih berada di luar pintu gerbang. Beberapa orang jatuh terkapar karena anak panah para prajurit di atas dinding. Tetapi satu dua orang prajuritpun terlempar jatuh oleh tombak lawannya yang dilontarkannya kepada mereka,
Ketika hentakkan pada pintu gerbang itu berulang, maka setiap kali retak selarak pintu itupun menjadi semakin besar, sehingga akhirnya, pintu itu tidak dapat ditahan lagi.
Sejenak kemudian maka pintu itupun berderak. Ketika selaraknya patah, maka dengan serta merta pintu itupun terdorong oleh kekuatan yang berjejalan.
Tetapi orang yang berjejalan itupun kemudian tertahan ketika kawan-kawan mereka di lapis pertama berjatuhan oleh anak panah yang bagaikan ditaburkan. Disusul dengan taburan yang kedua sementara yang lain telah menyiapkan anak panah di busurnya.
Tetapi para pengikut Empu Baladatu telah menyadari kemungkinan itu, sehingga merekapun telah siap untuk mengatasinya. Beberapa bagian dari pasukan merekapun segera menebar di sepanjang dinding untuk mengambil jarak medan yang lebih panjang.
Namun para prajuritpun telah siap menunggunya, sehingga sejenak kemudian, maka pertempuran di halaman istana yang luas itupun telah menyala dengan dahsyatnya.
Mahisa Agni masih berdiri ditangga pendapa. Beberapa orang Senapati pun masih berdiri tegak di tempatnya. Mereka memandang para prajurit yang sudah mulai terlihat dalam pertempuran yang sengit.
Terasa dada Mahisa Agni pun telah retak seperti pintu gerbang istana itu. Banyak persoalan yang pernah dialaminya. Baik yang menyangkut masalah pribadinya, maupun yang menyangkut masalah pemerintahan. Sejak ia mengenal Akuwu Tunggul Ametung, tidak langsung ia sudah terlibat dalam banyak persoalan pemerintah, apalagi setelah Ken Dedes berada di istana.
Namun kini, sekelompok orang-orang berilmu hitam yang telah berhasil mempengaruhi beberapa pihak justru merupakan persoalan yang paling parah baginya disaat-saat umurnya menjelang masa-masa tuanya.
Dalam kerisauan itu, hampir diluar sadarnya, Mahisa Agni benar-benar telah mempersiapkan diri dalam puncak kemampuannya. Sudah cukup lama ia tidak mempergunakan kekuatan ilmu puncaknya. Namun dalam keadaan yang sangat gawat itu. maka sebuah getaran yang merambat di seluruh tubuhnya, telah mengantarkan kekuatan Aji Gundala Sasra keseluruh tubuhnya dan seakan-akan telah menjalar pula di senjatanya.
Karena itulah, maka seolah-olah tubuh Mahisa Agni itu dilapisi oleh kekuatan yang tidak kasat mata tetapi mempunyai daya kemampuan yang tidak ada taranya.
Namun agaknya, bukan saja Mahisa Agni. Hampir setiap orang yang menghadapi persoalan yang paling gawat, yang akan langsung menyangkut persoalan maut, akan berusaha untuk mempergunakan segenap kemampuannya untuk mengelakkannya. Witantra, Mahendra, para Senapati yang lainpun agaknya telah siap pula pada puncak ilmu masing-masing. Ilmu yang jarang sekali diperguakan dalam kehidupan wajar sehari-hari.
Dengan demikian, maka setiap sentuhan senjata, akan merupakan bahaya yang tidak terelakkan oleh lawan-lawan mereka. Sentuhan-sentuhan kecil akan dapat memecahkan perisai mereka, dan apalagi jika sentuhan itu telah mengenai tubuh mereka.
Dalam pada itu, lawanpun bagaikan air yang mulai mengalir kesegenap arah. Betapapun juga para prajurit menahan mereka, namun arus itu agaknya memang terlalu kuat, sehingga para prajurit itupun telah terdesak mundur.
Sekilas Mahisa Agni berpaling ke arah kedua anak muda yang memegang pemerintahan di Singasari. Keduanya nampak dengan sungguh-sungguh memperhatikan para prajurit yang mulai terdesak. Sekali-sekali Ranggawuni dan Mahisa Cempaka menggeletakkan giginya.
Namun ternyata keduanya tidak dapat tinggal diam melihat kesulitan prajurit-prajuritnya.
Karena itulah, maka merekapun kemudian mendekati Mahisa Agni sambil berkata, “Apa kita masih akan menunggu.”
Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Kemudian katanya, “Tidak. Hendaklah tuanku tetap di sini. Hamba dan para Senapati akan turun ke medan.”
“Paman.” suara Ranggawuni bersungguh-sungguh, “Paman adalah pemomongku sejak aku kanak-kanak. Tetapi sikap paman kini keliru. Aku bukan anak-anak lagi yang harus menepi jika ada kuda lewat di jalan raya.”
“Tuanku.” jawab Mahisa Agni, “Persoalannya bukannya apakah tuanku masih kanak-anak atau sudah dewasa. Tetapi tuanku adalah tumpuan segenap rakyat Singasari, sehingga karena itu, tuanku seharusnya agak menahan diri sedikit. Hamba sadar, betapa darah seorang Senapati muda seperti tuanku akan mengelegak. Jika sekiranya tuanku bukan seorang Maharaja dan Ratu Angabhaya, maka hamba tidak akan mencoba mencegahnya.”
“Kami berdua sekarang adalah prajurit.” potong Ma hisa Cempaka.
“Tetapi tuanku tidak dapat menanggalkan tanggung jawab tuanku dalam keadaan yang paling gawat, hanya karena arus perasaan. Tuanku harus memimpin seluruh Singasari dalam arti sebuah negara. Bukan medan peperangan di halaman istana ini betapapun luasnya.”
Wajah kedua anak muda itu menjadi tegang. Tetapi mereka merasa tersinggung apabila mereka disangka meninggalkan tanggung jawab karena dorongan perasaan.
“Karena itu tuanku.” Mahisa Agni melanjutkan, “Hamba berharap tuanku ada disini. Terserahlah apa yang. akan tuanku lakukan pada saat terakhir jika orang-orang berilmu hitam itu sudah mulai menjamah lantai istana.”
Ranggawuni dan Mahisa Cempaka menahan gejolak hatinya yang bergelora.
“Hamba mohon diri. Mungkin hamba akan menjadi seorang pembunuh yang tidak berperi kemanusiaan di medan yang garang ini. Tetapi hamba tidak mempunyai pilihan lain Agaknya demikian pula dengan Witantra dan Mahendra.”
Ranggawuni dan Mahisa Cempaka tidak menjawab. Mereka sudah mengenal Mahisa Agni sebaik-baiknya, sehingga dalam sikapnya itu, keduanya tidak lagi membantah. Masih ada perasaan segan terhadap orang tua itu, karena Mahisa Agni adalah tetap mereka anggap sebagai guru dan orang tua.
Sejenak kemudian, Mahisa Agni yang sudah dilandasi oleh kekuatan Aji Gundala Sasra itupun mulai melangkah. Perlahan-lahan ia melintasi halaman tanpa berpaling.
Namun dengan demikian, sikapnya adalah perintah bagi semua Senapati yang ada di halaman. Senapati yang sebagian tidak lagi bersama pasukannya, karena didesak oleh kerisauan hati oleh keadaan yang sama sekali di luar perhitungan mereka.
Witantra dan Mahendra melihat Mahisa Agni mulai bergerak, sehingga keduanyapun melangkah pula medekati medan yang semakin gawat.
Sebenarnyalah masih ada keragu-raguan di dalam hati Mahisa Agni. Ia sadar, bahwa jika ia turun kemedan, maka ia benar-benar akan menjadi seorang pembunuh yang paling kejam. Tetapi jika ia menghindar, maka istana itu benar-benar akan menjadi neraka yang, paling jahanam.
Mahisa Agni merasa berdiri di tempat yang paling sulit. Tidak ada pilihan yang melepaskannya dari kemungkinan yang paling buruk.
Namun akhirnya Mahisa Agni menghentakkan tangannya seakan-akan ia telah menemukan pilihan yang tiba-tiba saja mencuat dari dasar hati. Lebih baik baginya membinasakan yang jahat betapapun berat membebani perasaannya daripada mengorbankan yang baik ditelan oleh yang jahat.
Dengan demikian, maka ketetapan hatinya telah mendesaknya untuk bergerak lebih cepat. Sehingga tiba-tiba saja Mahisa Agni telah meloncat berlari ke arena yang semakin parah bagi prajurit Singasari yang jumlahnya tidak seimbang dengan jumlah orang-orang berilmu hitam dan pengikut Empu Baladatu yang lain.
Kehadiran Mahisa Agni dimedan disambut dengan sorai yang membahana. Rasa-rasanya langit akan runtuh ketika Witantra, Mahendra dan para Senapati telah dengan langsung mengangkat senjata mereka.
Seperti yang diduga semula, maka Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra beserta para Senapati benar-benar merupakan pembunuh-pembunuh yang paling dahsyat. Dengan landasan ilmu mereka yang sulit dicari bandingnya, mereka telah mengamuk bagaikan seekor banteng teluka.
Namun dalam pada itu, lawan mereka benar-benar seperti air yang memecahkan bendungan. Sepuluh terbunuh, yang seratus telah mendesak maju.
Karena itu, betapapun kemampuan yang tidak ada taranyapun masih tetap berada di dalam keterbatasan manusia. Desakan para pengikut Empu Baladatu ternyata masih lebih cepat dari pembunuh-pembunuh yang dilakukan oleh Mahisa Agni dan para Senapati yang lain, sehinggga pasukan Singasari masih tetap terdesak surut.
Dari jarak yang tidak terlalu dekat, Ranggawuni dan Mahisa Cempaka menyaksikan pertempuran itu. Wajah mereka menjadi tegang ketika mereka melihat arus yang seolah-olah tidak terbendung. Meskipun kemudian arus itu menjadi lambat. tetapi pasti para pengikut Empu Baladatu mendekati istana Singasari.
Betapa malam itu bagaikan malam andrawina bagi maut. Di arena Mahisa Agni, Witantra, Mahendra dan para Senapa ti tidak lagi menahan diri. Kematian tidak lagi dapat dibatasi jumlahnya oleh rasa kemanusiaan.
Ranggawuni dan Mahisa Cempaka pun kemudian mempersiapkan diri. Ia masih dikelilingi oleh beberapa pengawal terpilih. Tetapi jumlahnya terlalu sedikit untuk ikut menentukan keseimbngan, sehingga jika para pengikut Empu Baladatu itu mencapai tangga pendapa istana, maka berarti istana Singasari akan musnah bersama seluruh isinya.
Namun dalam pada itu, dalam ketegangan yang memuncak karena arus lawan yang tidak terbendung, tiba-tiba saja terdengar sorai bagaikan memecahkan dinding halaman.
Ternyata prajurit Singasari yang telah memasuki Kota Raja, sebagian telah mencapai istana meskipun jumlahnya masih belum terlalu banyak.
Sorai itu telah mengejutkan orang-orang yang sedang bertempur. Orang-orang yang menyerang merasa kemungkinan yang sudah di genggam itu akan dapat terlepas, sehingga kemarahan yang tiada taranya telah membakar jantung.
Ternyata Empu Baladatu sendiri yang terdapat di antara pasukannya berusaha untuk dapat, tampil di lapisan terdepan. Kematian yang disebarkan oleh tangan dan senjata para Senapati Singasari membuatnya sangat, marah. Namun sorak para prajurit itu membuatnya menjadi semakin marah lagi.
Dengan lantang maka ia pun kemudian berteriak, “Kita maju terus. Kita bakar istana seisinya.”
Namun sementara itu, pasukannya yang berada di belakang, yang masih belum dapat memasuki pintu gerbang karena mereka masih berdesakan, sementara ujung pasukannya masih tertahan oleh prajurit Singasari, harus memalingkan arah pertempuran. Dari arah belakang, prajurit Singasari yang bersorak-sorak itu telah datang menyerang.
Bukan saja sekedar menyerang ekor pasukan Empu Baladatu, tetapi oleh ketidak sabaran, maka sebagian dari mereka telah memanjat dinding dan memasuki halaman dari sebelah menyebelah.
Ranggawuni dan Mahisa Cempaka yang berdiri di pendapa istananya menarik nafas dalam-dalam. Di halaman istana itu kemudian telah mengalir meloncati dinding, prajurit-prajurit Singasari yang segera terjun karena pertempuran yang semakin sengit itu. Mereka tidak lagi mengikat diri dalam kelompok-kelompok masing-masing, sehingga pertempuran itu benar-benar merupakan perang brubuh. Setiap orang berada di antara kawan dan lawan. Batas medan semakin lama menjadi semakin kabur.
Namun prajurit-prajurit Singasari yang kemudian memenuhi halaman itu kemudian membuat selapis pertahanan yang tidak akan tertembus oleh pasukan Empu Baladatu, sementara para Senapati masih saja bertempur menyebar maut.
Tetapi kehadiran prajurit-prajurit Singasari itu agaknya benar-benar telah merubah keseimbangan pertempuran di halaman itu. Para prajurit yang menyerang pasukan Empu Baladatu di luar pintu gerbang istana telah memancing mereka menyebar di luar halaman sementara yang berada di dalam halamanpun telah tertahan oleh pertahanan yang berlapis-lapis dari prajurit-prajurit Singasari yang telah memasuki halaman itu.
Empu Baladatu yang semula menyangka bahwa ia akan dapat mencapai istana dan membakarnya menjadi abu menjadi sangat cemas menghadapi perkembangan keadaan. Prajurit Singasari baginya terlalu cepat hadir, sehingga rencananya telah rusak karenanya.
Meskipun demikian, dengan suara yang menggelegar ia masih meneriakkan aba-aba untuk membakar istana yang tinggal beberapa puluh langkah saja.
“Kalian dapat memaksa diri menjangkau istana itu.” teriak Empu Baladatu.
Namun pasukannya benar-benar sudah tertahan. Mereka tidak dapat lagi memaksakan diri untuk menggeser medan, karena prajurit Singasari justru mulai mendesak mereka surut kembali ke pintu gerbang, sementara prajurit Singasari yang berada di luar telah menekan pasukan yang tersisa di depan pintu gerbang dengan kekuatan yang semakin lama semakin besar.
Dalama pada itu, selagi pertempuran bagaikan membakar Kota Raja. Mahisa Bungalan tidak sabar lagi menunggu perkembangan keadaan di luar pintu gerbang. Ia pun kemudian meloncat memasuki halaman dan berada di antara para pra jurit yang berlapis-lapis.
Tetapi Mahisa Bungalan tidak mau sekedar menunggu. Ia pun kemudian menyusuri arena dan mencoba menyusup masuk mendekati Empu Baladatu yang mulai mengamuk.
Ketika ia melihat Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra beserta para Senapati yang lain mengamuk seperti orang yang sedang wuru, maka ia pun segera menempatkan dirinya sehingga pada geseran berikutnya, ia menjadi semakin dekat dengan Empu Baladatu.
“Anak setan itu sudah berada di sana.” geram Empu Baladatu. Namun ia sadar, bahwa, ia memang harus berdiri berhadapan dengan anak muda yang seakan-akan sedang menyongsongnya itu.
Mahisa Bungalan tidak dapat ditahan lagi oleh siapapun juga. Dengan marah ia meyibak kawan, dan menyingkirkan lawan dengan senjatanya untuk dapat mencapai Empu Baladatu di antara mereka.
“Anak iblis. Kapan kau mendengar bahwa pasukanku telah berhasil memasuki Kota Raja?” teriak Empu Baladatu.
“Kelicikanmu telah tercium oleh seluruh medan.” sahut Mahisa Bungalan, “Dan aku berusaha menyongsongmu. Ternyata aku hampir terlambat.”
“Persetan dengan ingauanmu. Kau kira prajurit Singasari tidak licik dengan menyembunyikan diri di padukuhan-padukuhan sehingga megaburkan penilaianku atas kekuatan kalian. Padukuhan-padukuhan yang dihuni oleh para petani itu telah kalian kosongkan dan kalian isi dengan prajurit-prajurit yang tersamar, itu, bukankah itu juga licik? Manakah yang lebih licik dari sikap kami yang jantan memasuki Kota Raja dari pintu gerbang.”
Mahisa Bungalan yang marah menjadi semakin marah. Dengan mengacukan senjata ia menjawab, “Tetapi kau harus menebus kebodohanmu ini dengan taruhan yang sangat mahal. Seluruh pasukanmu akan musna, dan kau sendiri tidak akan dapat ke luar dari halaman istana ini.”
“Kau memang banyak bicara. Sadarilah, bahwa mumpung kau masih hidup, aku ingin membuktikan, bahwa aku benar-benar akan menyobek mulutmu dengan senjata.”
Mahisa Bungalan tidak menjawab. Ia sudah berhadapan dengan Empu Baladatu, sehingga senjata merekapun mulai berputaran.
Sejenak kemudian keduanya telah terlibat dalam pertempuran yang sengit. Mahisa Bungalan yang dilandasi oleh kemarahan itu segera telah meningkatkan pertempuran itu sampai tataran ilmunya yang tertinggi.
Meskipun demikian, ia melakukan dengan penuh kesadaran. Ia tidak segera kehilangan akal, betapapun kemarahan bagaikan mencekik lehernya sehingga dadanya menjadi sesak. Tetapi ia tetap mempunyai perhitungan dan pertimbangan yang bening menghadapi lawannya yang kuat, tangguh namun kadang-kadang licik.
Pertempuran antara Mahisa Bungalan dan Empu Baladatu itupun segera meningkat semakin seru, sejalan dengan keadaan medan seluruhnya. Semakin lama prajurit Singasari pun julahnya menjadi semakin bertambah. Yang memasuki halaman istana dengan memanjat dindingpun menjadi semakin banyak pula, sehingga akhirnya pasukan Empu Baladatu benar-benar telah membentur bendungan yang kokoh dan tidak tergoyahkan.
Pertempuran antara Mahisa Bungalan dan Empu Baladatu itupun segera meningkat semakin seru, sejalan dengan keadaan medan seluruhnya. Semakin lama prajurit Singasari jumlahnya menjadi semakin bertambah.
Namun dengan demikian, maka halaman istana Singasari yang luas itu. menjadi tempat perbantaian yang mengerikan. Mayat berserakan membujur lintang.
Jika dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang menghormati mayat dimanapun mereka menjumpainya, maka di medan perang mayat yang bertebaran telah terinjak-injak kaki.
Bahkan mereka tidak sempat menolong kawan dan apalagi lawan yang terluka, yang masih mempunyai harapan untuk hidup meskipun sudah tidak berdaya. Dan suasana kacau di pertempuran itu agaknya telah mempercepat kematian yang sebenarnya masih mungkin dihindarkan.
Ranggawuni dan Mahisa Cempaka menyasikan pertempuran itu dengan hati yang pedih. Ia melihat dua pihak yang saling berbunuhan. Dan kedua belah pihak adalah rakyat Singasari sendiri.
“Pengkhianatan itu telah menuntut tebusan yang mahal sekali.” desis Mahisa Cempaka.
Ranggawuni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ini adalah satu pengalaman yang paling pahit dalam hidup kita. Bagaimanapun juga, kita tidak dapat melontarkan kesalahan seluruhnya kepada Empu Baladatu. Jika pemerintahan berjalan tanpa cacat, maka pengaruhnya tidak akan dapat meluas dengan cepat. Karena itu, kita harus melihat kepada kekurangan itu.”
Mahisa Cempaka mengangguk. Ia pun menyadari, bahwa pengaruh buruk itu tidak akan dapat berkembang pesat, jika rakyat Singasari tidak dikecewakan oleh beberapa kepincangan yang tidak disadari oleh para pemimpin pemerintahan.
Namun sementara di halaman istana yang luas itu terjadi pertempuran sengit, dua orang telah berpacu dengan kencangnya meninggalkan daerah yang sedang di bakar oleh peperangan. Dengan dada yang berdebar-debar keduanya berusaha untuk segera menghadap Linggapati di Mahibit.
Perjalanan yang cukup panjang itu harus segera mereka lewati. Mahibit tidak boleh terlambat. Justru pada saat yang paling parah bagi prajurit Singasari. Pertempuran di Kota Raja itu telah menelan banyak sekali korban. Bukan saja dipihak Empu Baladatu. tetapi juga dipihak prajurit Singasari sendiri.
“Jika pertempuran itu berakhir, siapapun yang, menang, maka keadaanya tentu sudah parah sekali. Kedatangan pasukan Mahibit dengan darah yang masih segar, akan mendapatkan kemenangan dengan mudah atas siapapun yang berada di Kota Raja.” berkata salah seorang dari kedua orang yang sedang berpacu itu.
Kawannya tertawa Katannya, “Adalah menyenangkan sekali hadir di Singasari bersama pasukan dalam keadaan seperti sekarang ini. Pada saat sisa-sisa prajurit yang masih hidup sedang mengumpulkan mayat yang tindih menindih tidak terhitung jumlahnya, kita datang untuk membuat mayat itu semakin menggunung.”
Kawanyapun tertawa pula. Seolah-olah mereka akan mendapat kesempatan melihat suatu pertunjukkan yang sangat menarik. Bahkan mereka akan ikut terlibat dalam pembunuhan yang akan memberi banyak kepuasan.
“Tentu tidak akan ada perlawanan yang berarti.” desis salah seorang.
Yang lain mengangguk-angguk. Ia pun membayangkan pula, betapa mudahnya merebut Kota Raja.
“Kita lidak boleh terlambat. Kita harus menyiapkan pasukan dalam waktu singkat. Pertempuran itu akan selesai selambat-lambatnya sehari lagi. Kemudian di hari berikutnya, siapa pun yang menang akan berusaha menyingkirkan mayat-mayat yang berserakkan. Baru di hari berikutnya mereka akan beristirahat. Nah, saat itu adalah saat yang paling baik untuk membantai orang-orang yang tersisa.”
Dengan harapan dan kegembiraan atas kemenangan yang akan dengan mudah dicapainya maka keduanya berpacu terus tanpa mengenal lelah, sehingga perjalanan merekapun rasa-rasanya menjadi semakin pendek.
Dalam pada itu, pertempuran yang menyala di halaman istana menjadi semakin dahsyat. Namun sejenak kemudian, akhir dari pertempuran itu sudah mulai membayang.
Mahisa Agni yang melihat kehadiran Mahisa Bungalan, dan bahkan sudah berhasil menghentikan Empu Baladatu merasa bahwa tugasnya menjadi semakin ringan.
Ketika teringat olehnya, keadaan Singasari dalam keseluruhan, maka perlahan-lahan ia berusaha menghindar dari pertempuran. Agaknya keadaan tidak lagi terlalu gawat. Prajurit Singasari yang telah menyelesaikan lawan-lawannya di luar halaman, sempat, meloncat masuk, karena mereka tidak mendapat tempat lagi di arena di luar pintu gerbang halaman istana itu.
Dengan tubuh yang basah oleh keringat, Mahisa Agni melangkah mendekati Ranggawuni dan Mahisa Cempaka yang masih berdiri bagaikan membeku di tempatnya.
“Tuanku.” sapa Mahisa Agni.
Ranggawuni menarik nafas dalam-dalam.
“Kematian telah mencengkam korbannya tanpa dapat dihitung lagi.”
Ranggawuni mengangguk.
“Hamba juga telah terlibat ke dalamnya, karena hamba tidak dapat membiarkan kematian itu justru menerkam para prajurit Singasari.”
Sekali lagi Ranggawuni mengangguk.
“Tetapi ini belum akhir dari segalanya tuanku.” berkata Mahisa Agni kemudian.
“Apa maksudmu paman? Apalagi yang kira-kira akan terjadi atas Singasari?”
Mahisa Agnilah yang kemudian menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara rendah ia berkata, “Kita masih selalu diintip oleh Linggapati di Mahibit.”
Ranggawuni dan Mahisa Cempaka menjadi tegang.
“Bukankah sejak semula kita sudah memperhitungkannya tuanku.” berkata Mahisa Agni.
“Sekarang, kekuatan kita benar-benar telah lumpuh.” desis Mahisa Cempaka, “Jika pada saat seperti ini mereka datang, maka kita tidak akan mampu berbuat banyak.”
“Tidak seburuk itu tuanku.” jawab Mahisa Agni, “Diluar masih ada pasukan Empu Sanggadaru. “Jika keadaan memaksa, pada saat inipun pasukan itu akan datang. Kesalahan kita kali ini adalah, bahwa kita tidak siap menghadapi keadaan, sehingga, pasukan Empu Baladatu dapat menerobos masuk.”
“Dan korban jatuh tanpa batas.”
“Kita semuanya berprihatin.” jawab Mahisa Agni, “Namun justru karena itu, maka hamba mohon, agar beberapa penghubung dapat diperintahkan untuk memanggil prajurit-prajurit yang tersisa di daerah-daerah terpencil. Kekalahan Empu Baladatu yang sudah membayang, akan menghentikan semua perlawanan di daerah-daerah terpencil jika masih ada pengikut-pengikutnya.”
Ranggawuni dan Mahisa Cempaka saling berpandangan sejenak.
“Tuanku.” berkata Mahisa Agni, “Menurut perhitungan hamba, pasukan Empu Baladatu tentu akan segera dapat dikuasai. Ia sudah mengerahkan segenap kekuatannya untuk menghancurkan Kota Raja. Tetapi ia gagal. Prajurit Singasari berhasil menguasai keadaan meskipun agak terlambat.”
“Apakah menurut perhitunganmu daerah-daerah terpencil itu sudah tidak akan berbahaya lagi?”
“Untuk waktu yang singkat tidak tuanku. Namun seterusnya masih harus ada penilaian lagi. Namun sementara ini, hamba mohon, agar mereka dapat menyegarkan kekuatan kita jika Linggapati benar-benar akan memanfaatkan keadaan ini. Adalah kurang wajar, jika kita sepenuhnya menggantungkan diri kepada pasukan Empu Sanggadaru meskipun ia adalah orang yang dapat dipercaya.” berkata Mahisa Agni.
“Baiklah.” berkata Ranggawuni, “Jika pertempuran ini selesai, dan prajurit Singasari benar-benar dapat menguasai keadaan, kita, akan menyiapkan diri. Pasukan yang masih ada akan dikumpulkan untuk mendapat keterangan tentang tugas baru yang mungkin akan segera menyusul.”
Mahisa Agni tidak menjawab. Namun yang nampak di halaman itu telah membenarkan perhitungannya. Pasukan Empu Baladatu telah jauh susut. Perlawanan mereka tidak lagi banyak berarti, sehingga pertempuran itu agaknya tidak akan berlangsung lama lagi.
Ternyata bahwa perhitungan Mahisa Agni tidak jauh menyimpang. Meskipun pasukan Empu Baladatu masih berusaha melawan, tetapi kekuatan mereka tidak banyak berarti lagi. Di luar halaman istana, maupun di luar halaman. Bahkan yang bertebaran di jalan-jalan Kota Rajapun telah dapat dikuasai seluruhnya oleh para prajurit Singasari. Juga pasukan kecil yang berusaha memancing perhatian prajurit Singasari di luar Kota Raja, telah seluruhnya dapat diatasi oleh Lembu Ampal.
Karena itu. maka pertempuranpun kemudian tinggal berkobar di sekitar pintu gerbang. Mahisa Bungalan masih berhadapan dengan Empu Baladatu tanpa menghiraukan orang lain, sehingga keduanya seakan-akan sedang terlibat dalam perang tanding.
Pada saat-saat yang gawat bagi pasukannya itulah, Empu Baladatu telah mendapatkan lawan yang tidak dapat diabaikannya. Bahkan kemudian terasa olehnya, bahwa anak muda itu memiliki tenaga yang kuat dan tidak segera susut betapapun ia mengerahkan kekuatannya.
Dengan demikian, maka Empu Baladatu tidak dapat mengingkari lagi, bahwa umurnyapun ikut serta menentukan akhir pertempuran itu. Betapapun ia memiliki ilmu yang semakin meningkat, tetapi berhadapan dengan kemampuan yang seimbang maka ia merasa bahwa umurnya tidak lagi dapat diajak bicara.
Di saat-saat Mahisa Bungalan masih segar, meskipun keringat mengalir di seluruh tubuhnya, Empu Baladatu merasa bahwa kekuatannya mulai susut.
Ketika warna cerah membayang semakin jelas di langit, terasa, bahwa tenaga benar-benar telah terperas habis, la mulai dapat memandang wajah lawannya dengan jelas. Wajah anak muda yang keras seperti batu padas yang basah karena keringat.
Namun dengan demikian, maka jelas pulalah nampak oleh Empu Baladatu mayat yang terbujur lintang berserakan di halaman.
Matahari yang mulai memanjat langit masih menyaksikan, betapa Mahisa Bungalan dan Empu Baladatu bertempur dengan sengitnya, sementara para prajurit sudah hampir menguasai lawan mereka sepenuhnya.....
Bersambung... !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar