PANASNYA BUNGA MEKAR : 16-03
Salah seorang dari para pengawal itu pun segera melaporkannya kepada Pangeran Kuda Padmadata, sementara yang lain telah bersiap menghadap keempat arah.
“Semuanya bersiap” terdengar perintah Pangeran, “Kuda Padmadata”
Para pengawal yang baru saja tertidur itu pun telah dibangunkan. Mereka segera bangkit sambil meraba senjata masing-masing.
Pada saat itulah, tiba-tiba dari beberapa arah terdengar teriakan-teriakan yang bagaikan memecah langit. Beberapa orang berlari-larian dengan senjata terhunus menyerang sekelompok orang yang sedang bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.
Para pengawal yang telah bersiap seluruhnya itu pun segera menarik senjata masing-masing, sementara orang-orang yang dianggap sebagai sais pembantu-pembantunya itu pun telah berdiri pula di sekitar pedati masing-masing.
“Pangeran” berkata Ki Wastu, “ambillah seorang dari para pengawal. Jagalah isteri dan putera Pangeran itu sebaik-baiknya. Mereka adalah sasaran utama dari, orang-orang yang tentu mempunyai sangkut paut dengan Ki Dukut Pakering.
Namun dalam pada itu, salah seorang dari sais pedati itu berkata, “Biarlah kedua anak-anak ini membantu Pangeran”
“Terima kasih” berkata Pangeran Kuda Padmadata.
Dalam pada itu, suara hiruk pikuk itu telah mengejutkan isteri dan anak Pangeran Kuda Padmadata itu. Namun Pangeran itu segera mendekatinya sambil berkata, “Jangan takut. Aku ada disini”
Namun bagaimanapun juga, perasaan takut itu telah menjalari jantung kedua ibu dan anak laki-laki itu.
Dalam waktu yang pendek, maka para pengawal, sais dan pembantunya telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Mereka pun segera membagi diri, sesuai dengan arah para penyerang itu datang.
Tiga orang sais pedati itu pun telah berdiri di tiga arah bersama para pengawal. Sementara Ki Wastu masih berdiri termangu-mangu. Rasa-rasanya kakinya menjadi berat untuk meninggalkan anak perempuan dan cucunya yang telah dipertahankannya mati-matian untuk waktu yang lama.
“Tetapi kini ia berada disisi suaminya” berkata Ki Wastu di dalam hatinya, “apa yang akan terjadi, bukan merupakan tanggung jawabku semata-mata. Nampaknya Pangeran Kuda Padmadata itu pun telah siap mengorbankan apa saja yang ada padanya”
Dengan demikian, maka yang berdiri di dalam lingkaran, dekat disisi anak dan cucu Ki Wastu itu adalah Pangeran Kuda Padmadata, seorang pengawal dan dua orang anak muda yang semula berada bersama para sais pedati itu.
Dalam pada itu, maka ketiga orang sais, seorang pembantunya dan para pengawalnya pun segera menyongsong para penyerang. Dengan senjata ditangan mereka segera menebar.
Sejenak kemudian, terjadilah benturan yang sengit antara kedua pasukan. Pasukan yang menyerang, yang terdiri dari orang-orang padepokan yang berilmu hitam, melawan para pengawal dari Kediri. Pengawal yang benar-benar terpilih untuk melaksanakan tugas yang berat itu.
Pada benturan pertama, maka masing-masing masih berusaha menjajagi kemampuan lawan. Para pengawal telah menunjukkan kesigapannya, membendung serangan dari kelompok yang lebih banyak jumlahnya.
Namun dalam pada itu, mereka pun segera melihat, seorang yang memiliki kelebihan dari yang lain. Dan mereka itu adalah pemimpin padepokan dari orang-orang yang berilmu hitam itu.
Dalam pada itu, ketiga orang sais itu pun segera menempatkan diri diantara para pengawal. Setelah mereka pasti, siapakah yang menjadi pemimpin dari setiap kelompok penyerang itu. maka ketiga orang sais itu telah bergeser mendekati mereka di arena masing-masing, sesuai dengan arah mereka.
Ki Gampar Wulung yang melihat serangan seorang yang nampak agak lain dari para pengawal itu pun terkejut Sambil melangkah surut ia bertanya, “He, apakah kau bukan termasuk para pengawal?”
“Bukan. Aku bukan salah seorang dari para pengawal” jawab orang itu, “aku adalah sais salah satu dari pedati-pedati itu”
Orang itu menggeram. Katanya, “minggirlah. Jangan ganggu aku. Tidak seorang pun dapat melawan aku. Biarlah Pangeran Kuda Padmadata sendiri datang kepadaku, agar ia mengetahui, bahwa ia berhadapan dengan orang yang memiliki kemampuan setingkat gurunya”
“Aku akan melawanmu” jawab sais itu
Gampar Wulung tertawa berkepanjangan. Ketika sekilas ia melihat pertempuran yang terjadi disekitarnya, maka ia pun berkata, “lihatlah. Para pengawal itu sudah mulai terdesak. Apakah kau akan membunuh diri? Kau adalah sais pedati. Jagalah pedatimu. Jagalah lembumu agar tidak lepas dan lari. Jangan ikut campur di peperangan ini”
“Aku laki-laki seperti para pengawal. Karena itu, aku pun berhak bertempur bersama para pengawal” jawab sais itu.
“Kau sudah gila. Tetapi jika kau memang ingin membunuh diri, apaboleh buat. He, siapa namamu, agar aku dapat berceritera kepada orang-orangku, bahwa ada seorang sais yang membunuh diri diantara para pengawal Kediri. Mungkin kau seorang abdi yang amat setia dari Pangeran Kuda Padmadata, sehingga kau telah dengan suka rela menyerahkan hidupmu sebelum Pangeran itu sendiri terbunuh disini. Apakah kau tidak sampai hati melihat Pangeran itu bersama anak dan isterinya terbantai disini, sehingga kau ingin mati lebih dahulu daripada mereka”
“Aku tidak sedang membunuh diri” jawab sais itu.
“Siapa namamu?” desak Gampar Wulung.
Sais itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menjawab, “Namaku Mahisa Agni”
Gampar Wulung mengerutkan keningnya. Rasa-rasanya ia pernah mendengar nama itu. Tetapi ia tidak begitu jelas, dimana dan kapan ia pernah mendengar nama itu.
“Siapa kau” sais itulah yang bertanya kemudian. Gampar Wulung memandang sais itu sekilas. Namun ia pun mulai menyadari, bahwa sais itu tentu bukan sais kebanyakan. Karena itu, maka ia pun mulai menyadari, bahwa ia berhadapan dengan seseorang yang dengan sengaja telah menunggunya.
“Baiklah” berkata Gampar Wulung, “kau tentu memiliki kelebihan. Karena itu, kau berhak mendengar namaku. Namaku adalah Gampar Wulung”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Sebaiknya kau menyadari, bahwa yang kau lakukan ini tentu akan sia-sia. Kau terjebak kedalam kekuatan para pengawal yang tidak mungkin dapat kau kalahkan meskipun jumlahmu berlipat”
“Jangan mencoba menakut-nakuti aku seperti anak kecil. Lihat para pengawal mulai terdesak. Sekarang datang giliranku untuk membunuhmu” berkata Gampar Wulung sambil maju setapak.
Mahisa Agni yang menyebut dirinya sais pedati itu pun telah bersiaga sepenuhnya. Ia pun sadar, bahwa lawannya tentu orang pilihan, meskipun menilik sikap dan ujudnya, ia tentu dari lingkungan yang kelam. Namun justru karena itu, maka ia harus berhati-hati. Dan bahkan setiap pengawal pun harus berhati-hati.
Selangkah Gampar Wulung itu pun beringsut. Dilihatnya Mahisa Agni pun telah bersiaga sepenuhnya. Karena itu, maka ia tidak menunggu lebih lama lagi. Tiba-tiba saja ia pun telah meloncat menyerang dengan garangnya.
Mahisa Agni melihat, betapa kegarangan ilmu terpancar pada serangan yang pertama. Tetapi seperti pada umumnya, serangan yang pertama tidak akan banyak menentukan. Karena itu, maka ia pun bergeser selangkah.
Namun serangan-serangan berikutnyalah yang datang beruntun, seolah-olah mengejarnya kemana ia bergeser. Orang yang menyebut dirinya Gampar Wulung itu berusaha untuk menekannya dan dalam waktu yang singkat mengalahkannya.
Tetapi Mahisa Agni seolah-olah dengan sengaja membiarkan lawannya mendesaknya. Sekali ia meloncat menghindar. Sekali ia menangkis sambil berkisar surut.
Dengan demikian ia berhasil menjajagi kemampuan lawannya yang garang itu, meskipun ia pun sadar, bahwa kemampuan itu tentu belum merupakan puncak kemampuannya.
Meskipun demikian, serba sedikit Mahisa Agni sudah mempunyai takaran dari kekuatan dan kemampuan lawannya. Dengan demikian ia dapat menilai, apakah yang harus dilakukannya kemudian menghadapi lawannya yang garang itu.
Di sekitar Mahisa Agni dan Gampar Wulung yang bertempur semakin seru, para pengawal pun telah bertahan dengan sekuat kemampuan mereka. Jumlah lawan ternyata lebih banyak dari jumlah mereka. Tetapi para pengawal itu masih mampu untuk bertahan. Meskipun kadang-kadang terasa, betapa kasar dan garangnya orang-orang yang datang menyerbu itu.
Tetapi para pengawal itu adalah pengawal terpilih dari tataran terbaik para pengawal di Kediri. Karena itu, maka mereka pun telah bertempur dengan dahsyatnya pula menghadapi lawan yang bagaimanapun juga.
Ternyata ada beberapa orang pengawal yang harus bertempur sekaligus melawan dua orang lawan. Namun mereka sama sekali tidak menjadi gentar. Meskipun kadang-kadang mereka harus berloncatan surut, namun mereka merasa, bahwa mereka akan dapat mengatasi kesulitan mereka.
Dalam pada itu, di lingkaran pertempuran yang lain, Ki Benda terkejut bahwa di hadapannya berdiri seorang yang nampaknya dengan sengaja menunggunya. Apalagi ketika orang itu dengan tegas menyebut dirinya sebagai sais pedati yang membawa perlengkapan iring-iringan dari Singasari menuju ke Kediri.
“Kau jangan berbuat aneh-aneh sais yang malang” berkata Ki Benda, “darahmu tidak berarti apa-apa bagi pusakaku. Hanya darah orang-orang penting dan memiliki kemampuan sajalah yang akan memberikan arti bagi pusakaku ini. Setiap titik darah orang berilmu akan merupakan lapisan-lapisan kekuatan yang membuat pusakaku ini semakin bertuah. Tetapi darah orang-orang dungu hanya akan mengotori nya saja”
Orang yang berdiri di hadapannya itu pun tersenyum. Katanya, “Jika pusakamu itu pantang dikotori darah orang-orang tidak berarti, maka sarungkan saja. Kita akan bertempur dengan tangan”
Ki Benda mengerutkan keningnya. Orang yang menyebut dirinya sais itu agaknya memiliki kepercayaan yang tinggi kepada dirinya sendiri. Karena itu pengamatannya yang tajam segera menangkap kemungkinan yang tersimpan di dalam orang yang semula dianggapnya tidak berarti itu.
“Jadi kau tetap pada niatmu untuk melawan aku?” bertanya Ki Benda.
“Ya” jawab sais itu.
“Baiklah. Sebut namamu. Mungkin aku pernah mendengarnya. Barulah aku yakin, bahwa kamu memang berhak melawan aku dan darahmu akan berguna bagi pusakaku” berkata Ki Benda.
“Namaku Mahendra” jawab sais itu.
“O” Ki Benda mengerutkan keningnya. Kemudian diingatnya keterangan orang yang pernah datang ke Singasari dan menyebut salah satu dari nama-nama para pedagang yang pernah dihubungi.
“Kau pedagang besi bertuah dan batu-batu berharga” bertanya Ki Benda lebih lanjut.
“Ya. Darimana kau pernah mendengar namaku?” bertanya Mahendra.
“Itu tidak penting. Marilah kita menyelesaikan persoalan kita sekarang. Aku akan membunuhmu. Mudah-mudahan kebiasaanmu dengan wesi aji itu akan berpengaruh pada pusakaku ini”
Mahendra mengerutkan keningnya. Di dalam keremangan sinar bulan ia melihat sebilah keris yang besar dan panjang.
“Kerisku luk sebelas” berkata Ki Benda.
“Menggetarkan. Kerismu terlalu besar dan terlalu panjang menurut ukuranku. Tetapi agaknya kerismu benar-benar keris yang bertuah. Aku terbiasa dengan berbagai jenis senjata yang memiliki tuah seperti kerismu. Namun karena itu, maka aku pun memiliki kekuatan yang mantap untuk menguasai setiap tuah dari pusaka siapa pun juga” berkata Mahendra.
“Gila” geram Ki Benda, “kau belum tahu arti dan kuasa pusakaku”
“Tidak akan lebih baik dari luwukku ini” sahut Mahendra yang menggenggam sebilah pedang yang tidak terlalu panjang.
Ki Benda memandang senjata Mahendra sejenak. Ia melihat jenis pedang yang memang agak lain dari pedang kebanyakan. Hulunya yang berukir dihias dengan anyaman rambut yang khusus. Pamor yang bagaikan berkeredipan di bawah cahaya bulan yang kekuning-kuningan.
“Jarang sekali aku melihat sebilah pedang memakai pamor seperti itu” berkata Ki Benda di dalam hatinya.
Karena itu, meskipun yang digenggam oleh sais yang menyebut dirinya Mahendra itu bukan sebilah keris, tetapi besi dan buatannya tidak ubahnya dengan sebilah keris.
Karena orang yang memimpin sekelompok penyerang itu nampaknya mengagumi pedangnya, maka Mahendra pun berkata, “Nah, bukankah seperti yang aku katakan? Baiklah. Nampaknya kau tertarik kepada pedangku. Apakah kau akan membelinya?”
“Gila” geram Ki Benda, “aku tahu sifat seorang pedagang. Baiklah aku akan membelinya jika pedang itu dapat aku pergunakan untuk memenggal lehermu”
Mahendra tertawa. Katanya, “Nampaknya senjata di tanganku saat ini memang tidak untuk aku tawarkan. Tetapi pedangku ini akan melawan kerismu yang besar dan berat itu”
“Sais yang gila. Aku mengerti, bahwa kau bukan sais yang sebenarnya. Tetapi baiklah, aku akan membunuhmu. Aku akan mendapatkan pusakamu tanpa membelinya sama sekali”
Mahendra tidak menjawab, la melihat Ki Benda itu sudah bergerak. Karena itu, maka ia pun segera mempersiapkan diri menghadapinya.
Namun sesaat kemudian Ki Benda itu masih berkata, “Serahkan sajalah Pangeran Kuda Padmadata itu beserta isteri dan anaknya. Kau akan bebas. Dan barangkali aku benar-benar akan membeli senjatamu itu”
“Siapa kau sebenarnya?” bertanya Mahendra.
“Itu tidak penting” jawab Ki Benda.
Mahendra tidak menjawab lagi. Ia bergeser setapak maju sambil menggerakkan ujung pedangnya.
Ki Benda bergeser pula. Namun tiba-tiba saja ia telah meloncat sambil memutar kerisnya menyerang lambung.
Mahendra menggeliat sambil menangkis serangan itu. Tetapi ketika ia memukul keris lawannya, maka lawannya telah menarik serangannya. Dengan putaran mendatar Ki Benda telah menyerangnya sekali lagi.
Mahendra meloncat surut, ia sudah siap menghadapi serangan berikutnya. Karena itu, ketika Ki Benda siap untuk meloncat, maka Mahendra lah yang justru telah mendahuluinya, menjulurkan pedangnya lurus mengarah dada.
Tetapi Ki Benda pun sempat menghindar. Dengan cepat ia berputar. Ternyata ia mampu bergerak cepat dan kekuatannya pun dapat dibanggakannya. Dalam benturan yang kemudian terjadi, Mahendra segera mengetahui, bahwa lawannya mempunyai tenaga raksasa yang berbahaya baginya.
Apalagi sejenak kemudian, Ki Benda yang berilmu hitam itu telah mengerahkan kemampuannya. Karena itu, maka ilmunya pun segera mulai nampak. Geraknya semakin lama menjadi semakin kasar dan liar. Demikian ia menyadari, dengan siapa ia berhadapan, maka ia pun telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk dengan cepat mengakhiri pertempuran.
Tetapi ternyata bahwa ilmu lawannya pun meningkat dengan cepat, dan berhasil mengimbangi ilmunya. Sehingga dengan demikian, Ki Benda merasa, bahwa ia tidak akan segera dapat berhasil.
“Gila” geram Ki Benda, “apakah hubungan dengan Pangeran Kuda Padmadata, sehingga kau bersedia menjadi sais pedatinya dan bahkan mempertaruhkan nyawamu baginya?”
“Pangeran Kuda Padmadata adalah seorang Pangeran dari Kediri yang banyak mengambil barang-barangku meskipun aku jarang mengunjunginya karena aku tinggal di Singasari” jawab Mahendra, “dengan demikian, maka Pangeran Kuda Padmadata telah banyak memberikan keuntungan kepadaku”
“Gila” Ki Benda mengumpat, “ternyata harga dirimu tidak lebih tinggi dari keuntungan yang kau dapat dari barang-barang daganganmu”
Mahendra tertawa. Jawabnya, “Jangan ribut siapa aku dan apa hubunganku dengan Pangeran itu. Tetapi adalah kewajiban setiap orang untuk membantu seseorang yang mengalami perlakuan yang tidak adil dan tidak berperi-kemanusiaan”
“Persetan” Ki Benda menggeretakkan giginya. Dengan garang ia menyerang sambil berteriak nyaring.
Mahendra mengerutkan keningnya. Teriakan itu meng getarkan jatungnya. Ia pun semakin menyadari, bahwa lawannya adalah seseorang dari lingkungan hitam. Dan ternyata pula di dalam sikap dan tandangnya kemudian.
Keris Ki Benda terayun-ayun mengerikan. Setiap kali terdengar ia berteriak dan menggeram. Bahkan kadang-kadang suaranya mirip dengan aum seekor harimau yang kelaparan.
Dengan demikian maka Mahendra pun merasa bahwa ia harus lebih berhati-hati menghadapi lawannya. Bukan saja kerisnya yang berbahaya baginya, namun melihat jari-jari tangan kirinya yang mengembang, agaknya orang itu pun akan dapat menerkamnya jika ia gagal menikam dengan kerisnya.
Pertempuran di antara keduanya pun menjadi semakin seru. Masing-masing telah meningkatkan ilmunya. Kekasaran dan kekerasan telah mewarnai tata gerak Ki Benda Bahkan hampir menjadi buas dan liar.
Di tempat lain, Witantra yang melihat seseorang yang memiliki kelebihan tidak membiarkannya. Ia pun segera menempatkan diri untuk melawannya. Kemarahan orang itu tidak tertahankan ketika ia mendengar bahwa orang yang berdiri dihadapannya adalah salah seorang dari ketiga sais pedati yang di dalam iring-iringan itu.
Namun seperti kedua kawannya yang lain, maka Ki Walikat harus melihat kenyataan, bahwa sebenarnya orang yang menyebut dirinya sais itu adalah justru orang-orang yang memiliki ilmu yang mengagumkan.
“Kenapa kau menempatkan dirimu sebagai seorang sais?” bertanya Ki Walikat.
Witantra tidak dapat menjawab seperti yang diharapkan oleh lawannya. Katanya, “Aku memang seorang sais”
“Gila. Kau berpura-pura. Agaknya kau sengaja mengelabuhi kami, agar kami terjebak kedalam kekuatan pengawal Pangeran Kuda Padmadata” geram Ki Walikat.
Sebenarnyalah, ketakutan yang sangat telah mencengkam isteri dan anak laki-laki Pangeran Kuda Padmadata itu. Peristiwa masa lampau mereka, tetapi membayang kembali. Ketakutan demi ketakutan telah mereka lalui, sehingga akhirnya mereka bertemu dengan orang yang akan dapat memberikan perlindungan kepada mereka. Namun kini ketakutan itu telah terulang kembali.
Meskipun demikian, kini laki-laki yang bernama Kuda Padmadata itu ada diantara isteri dan anaknya dengan pedang terhunus. Laki-laki itu telah siap memberikan pengorbanan yang paling tinggi bagi isteri dan anaknya.
Pertempuran yang terjadi itu pun semakin lama menjadi semakin sangit. Orang-orang berilmu hitam itu bertempur dengan kasar, liar dan buas. Mereka berteriak-berteriak sambil mengumpat-umpat dengan kata-kata yang paling kotor.
Tetapi ternyata mereka telah membentur dinding pertahanan yang kuat dan berlapis. Mereka yang menyusup diantara para pengawal telah membentur kekuatan Mahisa Bungalan, Ki Wastu dan dua orang adik Mahisa Bungalan. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, yang meskipun masih sangat muda, tetapi keduanya ternyata telah memiliki ketrampilan ayahnya.
Karena itulah, maka mereka yang telah berhadapan dengan Ki Wastu dan Mahisa Bungalan lah yang mengalami nasib yang buruk. Mereka segera terdesak oleh kemampuan ilmu yang tidak mereka perhitungkan sebelumnya.
Namun dalam pada itu, seorang diantara mereka yang telah dirangsang oleh nafsu kebencian dan dendam yang memang dinyalakan disetiap hati orang-orang berilmu hitam, telah berhasil menyusup langsung menyerang orang orang yang berada dipusat lingkaran pertempuran.
Tetapi, ia pun telah tertahan. Justru oleh Pangeran Kuda Padmadata sendiri. Lindungi mereka” geram Pangeran Kuda Padmadata kepada pengawalnya yang terpilih, “aku akan membunuh orang ini”
Kemarahan dan kebencian Pangeran itu ternyata tidak dapat dikekangnya lagi. Ia pun segera meloncat menyerang dengan garangnya, sementara pengawalnya itu telah berdiri selangkah dari isteri dan anak laki-laki Pangeran yang ketakutan itu, dengan senjata telanjang di tangan.
Demikian panasnya jantung Pangeran Kuda Padmadata, maka ia sudah tidak mempunyai pertimbangan lagi. Beberapa langkah ia mendesak lawannya. Namun kemudian tanpa ampun lagi, senjatanya telah menggores tubuh lawannya yang liar.
Tetapi kemarahan Pangeran itu telah mendorongnya untuk bertempur dengan keras pula mengimbangi kekasaran lawannya. Tetapi, sejenak kemudian yang terdengar adalah keluhan tertahan. Senjata Pangeran Kuda Padmadata telah menyobek kulitnya lagi. Semakin dalam.
Witantra tertawa. Katanya kemudian, “Bagaimana mungkin kami menjebakmu. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi di sepanjang perjalanan. Kaulah yang telah dengan senjata bagaikan sulung masuk ke dalam api. Dan itu bukan salah kami”
Ki Walikat menggeram, “Persetan. Kalianlah yang akan tumpas malam ini, termasuk Pangeran Kuda Padmadata dengan anak dan isterinya”
Witantra tidak menjawab. Tetapi ia pun segera bersiaga. Agaknya lawannya sudah siap untuk bertempur semakin garang.
Dengan demikian maka pertempuran di segala arah itu pun menjadi semakin seru. Orang-orang yang berilmu hitam itu benar-benar tidak mempunyai pertimbangan apapun juga. Bahkan mereka telah dibekali satu sikap, bahwa jika senjata mereka basah oleh darah seseorang yang berilmu, maka senjata itu akan bertambah tuah dan bobotnya.
Karena itulah, maka setiap orang dari mereka yang berilmu hitam itu pun bernafsu untuk membunuh sebanyak-banyak agar senjata mereka basah oleh darah lawan.
Tetapi para pengawal itu adalah pengawal pilihan. Apalagi di antara mereka terdapat Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra yang telah melibatkan dirinya.
Namun dalam pada itu, orang berilmu hitam itu pun mengerti, bahwa yang terlindung dibalik pedati-pedati itu, tentu perempuan dan anak laki-laki yang termasuk mereka dan yang harus mereka bunuh. Karena itu, maka beberapa orang di antara mereka dengan sengaja telah menyusup di antara para pengawal, karena jumlah mereka memang lebih banyak, langsung mencari isteri dan anak laki-laki Pangeran Kuda Padmadata itu.
Tetapi di sela-sela pedati-pedati itu, ternyata mereka telah bertemu dengan beberapa orang yang telah menunggu. Mereka adalah Mahisa Bungalan, yang berada di antara para pembantu sais pedati-pedati yang berada di dalam iring-iringan itu, Ki Wastu dan di dalam lingkaran itu pula terdapat Pangeran Kuda Padamadata, Mahisa Pukat. Mahisa Murti dan seorang pengawal.
Karena itulah, maka orang-orang berilmu hitam yang menyusup masuk ke dalam jantung lingkaran itu telah membentur selapis kekuatan yang sebenarnyalah tidak mudah untuk ditembus.
Dalam pada itu. Ki Wastu yang selalu mengamati tingkah laku Pangeran Kuda Padmadata masih sempat berbisik, “Jangan terpancing sehingga Pangeran meninggalkan isteri dan anak Pangeran. Dekatilah. Biarlah kami menyelesaikan orang-orang ini. Jika Pangeran terlibat langsung kedalam pertempuran ini, maka satu dua orang yang terlepas dari pengamatan kami akan dapat dengan mudah melakukan perbuatan kejinya atas orang-orang yang tidak berdaya itu”
Karena itulah, betapa darah Pangeran itu mendidih, maka ia berusaha menahan diri, berdiri di antara isteri dan anaknya dibayangi oleh seorang pengawalnya yang terpilih.
Lawan Pangeran Kuda Padmadata itu pun kemudian terhuyung-huyung. Sesaat ia masih mencoba bertahan. Namun kemudian ia pun terjatuh di tanah dengan nafas yang tersendat-sendat.
Dalam pada itu, selagi Pangeran Kuda Padmadata merenungi orang yang terbaring itu, terdengar pengawalnya berdesis, “Pangeran”
Pangeran Kuda Padmadata berpaling. Ternyata pengawalnya telah bertempur pula melawan seseorang yang berhasil menyusup pula diantara pertempuran dan langsung berusaha membunuh isteri dan anak laki-laki Pangeran Kuda Padmadata.
Pangeran Kuda Padmadata menggeram. Dengan darah yang mendidih dijantungnya ia berkata, “Biarlah aku membunuhnya pula”
Pengawal itu tidak menjawab. Tetapi ia mendesak lawannya menjauhi isteri dan anak laki-laki Pangeran Kuda Padmadata. Karena itu, maka Pangeran Kuda Padmadata lah yang kemudian berdiri mengawasi keadaan serta melindungi isteri dan anak laki-lakinya.
Ternyata pengawal itu benar-benar pengawal terpilih dari para pengawal pilihan. Karena itu, maka ia pun segera dapat menguasai keadaan Dengan kecepatannya bergerak, maka pengawal itu segera berhasil mengimbangi kegarangan lawannya yang bertempur sambil berteriak-teriak.
Dalam pada itu, pertempuran di sekitar tempat itu pun berlangsung dengan sengitnya. Jumlah para penyerang yang berilmu hitam itu lebih banyak. Namun mereka telah membentur kekuatan yang sulit ditembusnya. Bahkan kemudian mulai terasa, bahwa para pengawal akan dapat menguasai keadaan.
Dengan demikian, maka tiga orang pemimpin padepokan yang berilmu hitam itu rasa-rasanya bagaikan dibakar oleh kemarahan yang tidak terkendali. Dengan segenap kemampuan, mereka berusaha untuk segera dapat membunuh lawan masing-masing, agar mereka segera dapat membantu para pengikutnya.
Tetapi lawan mereka pun ternyata orang-orang yang berilmu tinggi. Gampar Wulung yang dengan kasarnya berusaha mendesak Mahisa Agni ternyata sama sekali tidak berhasil. Betapapun ia berusaha, namun, Mahisa Agni selalu dapat mengimbanginya. Rasa-rasanya Gampar Wulung telah berhadapan dengan perlawanan yang selalu selapis lebih tinggi dari kemampuannya. Setiap ia berusaha menghentakkan kekuatannya, maka kekuatan lawannya itu pun seolah-olah dengan sendirinya telah meningkat pula.
Demikian pula dengan para pemimpin golongan hitam itu yang lain. Ki Benda berteriak-teriak seperti orang gila. Kemarahan yang membakar jantungnya telah membuatnya seakan-akan menjadi kehilangan pengamatan diri.
Namun bagaimanapun juga, ia sama sekali tidak berhasil mendesak lawannya, yang semula menyebut dirinya seorang sais pedati, namun kemudian mengakuinya sebagai seorang pedagang batu-batu berharga dan besi bertuah.
Bahkan semakin lama semakin terasa, bahwa lawannya itu memiliki kemampuan yang melampauinya. Namun demikian, Ki Benda masih berusaha untuk membunuhnya dengan ilmunya yang garang. Dalam keadaan yang terdesak itulah, maka kekuatan hitamnya seolah-olah telah diperasnya. Matanya seolah-olah telah membara, sementara tata geraknya menjadi semakin cepat dan liar. Senjatanya terayun-ayun dengan ganasnya dengan hentakan kekuatan yang luar biasa dilambari dengan tenaga cadangannya. Bahkan kekuatan ilmunya yang ditumpahkan ke dalam kemampuan senjatanya yang dianggapnya bertuah itu, telah membuat senjata bagaikan menyala.
Mahendra yang mengenal berbagai macam senjata dan besi bertuah telah melihat keris Ki Benda yang besar itu berbahaya. Karena itu, maka ia pun mengerti, bahwa Ki Benda telah sampai kepada ilmu pamungkasnya yang seolah-olah telah tertuang dan terungkap pada pusakanya.
“Jangan takut” geram Ki Benda, “pusakaku adalah benar-benar pusaka yang akan dapat membunuhmu, betapapun tinggi ilmumu. Pedangmu itu akan segera luluh menjadi lumpur jika bersentuhan dengan senjataku yang bertuah ini”
Mahendra yang melangkah surut justru tertawa. Katanya, “Ki Sanak. Aku mengenal berbagai macam jenis besi bertuah. Aku melihat dengan mata hatiku, bahwa kerismu yang besar itu berwarna merah kehitam-hitaman. Itu adalah pertanda betapa buramnya nilai pusakamu dan betapa kotornya tuah yang ada di dalamnya”
“Persetan” bentak Ki Benda, “aku tidak ingkar. Pusakaku selalu bermandikan darah. Tetapi setiap titik darah berarti lapisan tuah yang melekat padanya. Karena itu jangan mengingkari perasaanmu. Kau menjadi ketakutan, karena kau tidak akan dapat melawan pusakaku. Betapapun tebal kulitmu, bahkan seandainya kau mempunyai ilmu kebal, maka kau tidak akan dapat bertahan dari patukan kerisku ini”
Mahendra mengerutkan keningnya. Tetapi ia sadar, bahwa kemampuan puncak ilmu Ki Banda benar-benar berbahaya baginya. Karena itulah maka ia pun telah mengerah kan segenap ilmu yang ada padanya. Ia tidak memusatkan ilmunya pada genggaman tangannya dan memukul lawan nya sampai lumat. Dengan demikian, maka sentuhan senjata lawannya akan dapat berbahaya baginya. Karena itu. maka ia pun telah mengimbangi lawannya dengan memusatkan kemampuan ilmunya pada tangannya yang seakan-akan telah menjalari senjatanya pula.
Pedang Mahendra pun bukan sembarang pedang. Karena itu, maka dengan lembaran kekuatan ilmunya, pe dang itu pun seolah-olah telah bercahaya pula.
“Lihatlah” berkata Mahendra kemudian, “seandainya kau membeli besi-besi bertuah itu daripadaku, aku akan memberitahukan kepadamu, bahwa pusaka yang berarti adalah pusaka yang bercahaya kebiru-biruan seperti pedangku ini”
Sebenarnyalah, Ki Benda pun berhasil melihat, bahwa pedang Mahendra seolah-olah telah bercahaya kebiru-biruan.
Wajah Ki Benda telah menegang. Urat-uratnya bagaikan telah melonjak keluar dari keningnya. Ia pun melihat, seolah-olah pedang lawannya itu telah menyala putih kebiru-biruan.
“Gila” geramnya. Warna itu telah menyilaukannya. Jauh lebih silau dari warna nyala kerisnya.
Meskipun demikian, Ki Benda menganggap bahwa warna besi pusaka itu tidak banyak mempengaruhi kemampuan pusaka-pusaka itu. Ia sudah mengakui bahwa ilmunya sering disebut ilmu hitam. Dan ia tidak mengingkarinya. Karena itulah, maka nyala pusakanya berwarna merah kehitam-hitaman Tetapi bahwa ilmu hitam itu pun tidak perlu merasa selapis di bawah ilmu putih.
Karena itulah maka Ki Benda kemudian telah menyerang dengan garangnya. Kerisnya yang besar dan yang menyala merah kehitam-hitaman itu berputar seperti baling-baling. Kadang-kadang menyambar mendatar. Namun kemudian mematuk lurus kedepan mengarah dada.
Tetapi, pedang Mahendra yang berwarna putih kebiru-biruan itu mampu mengimbangi kecepatan gerak keris lawannya. Karena itu, maka setiap kali ayunan pusaka Ki Benda itu telah membentur pedang Mahendra. Di setiap benturan, telah terpercik bunga-bunga api yang berwarna merah kehitam-hitaman dan yang berwarna putih kebiru-biruan. Benturan-benturan itu pun telah mendebarkan jantung kedua orang yang sedang bertempur itu. Namun yang menjadi cemas kemudian adalah Ki Benda yang harus melihat kenyataan yang telah terjadi. Kekuatan Mahendra ternyata melampaui kekuatannya. Dan kecepatan gerak Mahendra pun melampaui kecepatan geraknya.
Sementara itu, maka pertempuran di sekitar tempat itu pun berlangsung dengan sengitnya. Ternyata orang-orang berilmu hitam yang menyerang iring-iringan dari Singasari yang akan pergi keKediri itu telah menemui kesulitan. Mereka telah membentur kekuatan yang meskipun lebih kecil jumlahnya tetapi tidak mampu dipatahkannya.
Setiap orang yang berilmu hitam itu, yang bertempur melawan setiap orang pengawal dari Kediri, harus mengakui, bahwa pengawal terpilih itu memiliki kemampuan yang lebih besar dari kemampuan mereka. Sementara beberapa orang di antara para pengawal itu, yang justru dikira benar-benar sais dan pembantu-pembantunya, ternyata justru orang-orang yang memiliki kelebihan dari para pengawal, sehingga mereka langsung menempatkan diri berhadapan dengan para pemimpin mereka yang selama itu mereka banggakan sebagai orang-orang yang tidak terkalahkan.
Dalam pada itu, Ki Walikat yang berhadapan dengan Witantra itu pun harus mengakui, bahwa Witantra memiliki kemampuan ilmu yang luar biasa. Ketika Ki Walikat itu sampai kepada puncak ilmunya, maka ia pun telah menghadapi ilmu Witantra yang jarang ada duanya.
Sementara itu Ki Wastu dan Mahisa Bungalan telah bertempur pula dengan serunya. Namun lawan mereka ternyata tidak dapat mengimbangi kemampuan mereka seorang melawan seorang. Karena itu, maka beberapa orang telah bersama-sama melawan mereka.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Manisa Pukat pun bertempur dengan sengitnya. Mereka bertempur seperti seekor burung, melonjak-lonjak, melayang, kemudian menukik menyerang, Sehingga dengan demikian lawan mereka pun menjadi semakin lama semakin kebingungan.
Namun kehadiran kedua anak-anak muda itu di dalam lingkaran pertemuan, benar-benar telah merupakan selapis bendungan yang dapat menahan para penyerang yang berhasil menyusup pada lingkaran pertempuran yang pertama. Sementara itu, isteri dan anak laki-laki Pangeran Kuda Padmadata yang ketakutan itu saling berpelukan. Mereka berdua merasa diri mereka sebagai orang-orang yang sangat lemah diantara benturan senjata. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa. selain pasrah kepada Tuhan Yang Maha Agung.
Namun justru karena di tempat itu ada Pangeran Kuda Padmadata, ada pula ayahnya Ki Wastu dan ada pula seorang muda yang telah berbuat terlalu banyak baginya, bagi keselamatannya, maka hatinya serasa lebih tenang dari masa-masa yang pernah dialaminya. Ketika ia seorang diri di dalam lingkungan orang-orang kasar yang dapat berbuat apa saja padanya, maka ia sama sekali tidak berpengharapan. Untunglah bahwa Tuhan Yang Maha Agung masih selalu melindunginya, sehingga ia dapat terlepas dari tangan orang-orang kasar itu dengan selamat. Bukan saja nyawanya, tetapi ia masih tetap utuh seperti saat ia ditinggalkan oleh suaminya.
Sementara itu, walaupun menjadi semakin malam, bintang-bintang sudah bergeser semakin ke Barat. Bahkan sejenak kemudian mulai membayang cahaya bintang panjer esuk yang bagaikan menyala di Timur.
Orang-orang yang dapat mengenal bintang sebagai pertanda waktu akan segera mengetahui, bahwa sebentar lagi fajar akan segera menyingsing. Di Selatan, Bintang Gubug Penceng seakan-akan telah hampir datar menyentuh cakrawala di sebelah Barat.
Kegelisahan telah merayapi jantung ketiga orang pemimpin dari orang-orang berilmu hitam itu. Apalagi setelah satu demi satu orang-orang mereka tergores oleh tajamnya senjata. Bahkan satu demi satu orang-orang mereka pun mulai berjatuhan. Apalagi mereka sendiri merasa, bahwa mereka tidak akan mampu menghadapi lawan mereka yang ternyata memiliki ilmu yang luar biasa.
Ki Gampar Wulung yang telah sampai kepuncak ilmunya menyadari, bahwa ia tidak akan dapat melepaskan diri dari kemampuan ilmu lawannya. Meskipun Mahisa Agni masih belum sampai kepada ilmu pamungkasnya sepenuhnya, namun sudah terasa oleh lawannya, bahwa tekanan ilmu Mahisa Agni itu tidak akan dapat dihindarinya.
Demikian pula kawan-kawannya. Ki Benda yang berbangga dengan pusakanya, tidak dapat berbuat banyak melawan pedang Mahendra yang putih kebiru-biruan.
Orang-orang berilmu hitam yang semula berharap untuk dapat berbuat sesuatu bagi Ki Dukut Pakering, yang sedang berusaha untuk mengguncang Kediri, ternyata harus mengakui kenyataan yang mereka hadapi. Satu demi satu orang-orang mereka pun telah jatuh. Luka-luka yang parah telah tergores di tubuh mereka, sehingga mereka tidak dapat lagi bangkit untuk melawan. Bahkan sebagian dari mereka telah terbunuh karenanya.
Kenyataan itu benar-benar telah menggelisahkan para pemimpin mereka. Maka sebelum sampai kepada orang terakhir, maka pemimpin mereka itu pun harus mengambil satu sikap. Sikap itu adalah sikap yang paling mungkin mereka lakukan. Melarikan diri.
Justru ketiga orang pemimpin yang bertempur melawan orang-orang yang tidak disangka sama sekali itu, telah mempunyai pertimbangan yang sama di dalam hati mereka. Karena itu, selagi masih ada kesempatan, maka Ki Gempur Wulung pun tiba-tiba telah melontarkan satu isyarat bagi kawan-kawannya.
Isyarat itu tidak perlu diulang. Dengan serta merta, maka orang-orang berilmu hitam itu pun segera berusaha menarik diri. Mereka telah berusaha membaurkan diri dengan gerak yang membingungkan sambil berlari meninggalkan arena.
Mahisa Agni, Mahendra dan Witantra, sebenarnya agak terkejut melihat sikap lawannya yang garang itu. Mereka tidak menyangka, bahwa jalan itu ternyata terlalu pendek, sehingga apa yang terjadi itu benar-benar tidak mereka duga. Orang-orang yang garang itu, tiba-tiba saja telah meninggalkan arena dengan sikap yang licik.
Tetapi Mahisa Agni, Mahendra dan Witantra tidak dapat mengejar mereka. Kecuali karena orang-orang itu telah berbaur, maka ketiganya masih dibayangi oleh kecurigaan, bahwa jika mereka meninggalkan Pangeran Kuda Padmadata terlalu jauh, maka kelicikan dapat saja terjadi. Jika masih ada orang-orang yang tersembunyi di dalam gelapnya malam, dan tiba-tiba saja datang menyergap, apalagi orang itu Ki Dukut Pakering sendiri dengan orang-orang yang justru terpilih, maka keadaan akan menjadi gawat.
Para pengawal dari Kediri pun ternyata tidak mengejar mereka pula. Para pengawal itu pun tidak ingin meninggalkan Pangeran Kuda Padmadata, isteri dan anak luki-lakinya. Karena merekalah sebenarnya yang harus mereka lindungi.
Namun dalam pada itu Mahisa Bungalan lah yang bertanya kepada ayahnya, “Kita tidak menangkap pemimpin-pemimpin mereka?”
“Mereka telah melarikan diri” jawab Mahendra.
“Ya. Dan kita tidak mengejarnya?” sahut Mahisa Bungalan.
Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tidak ada gunanya. Mereka dapat melarikan diri secepat kita mengejarnya, sehingga belum tentu kita akan dapat menangkap mereka. Mereka mempunyai peluang beberapa kejap sebelum kita menyadari langkah mereka. Karena itu, maka menurut pertimbanganku, mereka akan dapat mencapai hutan itu beberapa langkah di depan kita, karena merekapun, terutama para pemimpinnya adalah orang-orang berilmu, justru ilmu hitam. Karena itu, mengejar mereka adalah sia-sia. Mereka dapat berlari secepat kita lari, sementara kemungkinan lain masih dapat terjadi jika kita meninggalkan tempat ini. Mungkin orang yang paling kita perlukan selama ini, sehingga kita telah membuka padang perburuan yang luas itu, akan datang selama kita berlari-larian mengejar orang-orang berilmu hitam itu”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian mengerti, bahwa mengejar orang-orang yang tidak berarti. Pemimpin-pemimpin mereka, seperti yang di katakan oleh ayahnya, tentu memiliki kesempatan yang paling besar untuk menyelamatkan diri.
“Tidak ada gunanya membantai mereka semakin banyak” berkata Mahisa Bungalan di dalam hatinya, “dan tidak ada pula gunanya menangkap mereka. Kecuali hanya akan menjadi beban perjalanan, mereka tidak akan dapat memberikan keterangan apapun juga yang dapat memberikan kejelasan melampaui orang-orang yang terluka yang akan dapat menjadi sumber keterangan”
Karena itu, maka Mahisa Bungalan pun segera berkumpul bersama para pengawal dan orang-orang yang semula dianggap sais pedati-pedati oleh orang-orang dari golongan hitam itu.
Dalam pada itu, Pangeran Kuda Padmadata yang melihat orang-orang yang menyerang iring-iringan dari Singasari ke Kediri itu telah meninggalkan arena, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Ternyata Tuhan Yang Maha Agung masih melindungi kita semuanya. Agaknya mereka telah pergi”
Isterinya yang masih memeluk anak laki-lakinya itu pun menahan isak yang hampir meledak. Namun bagaimanapun juga, terasa pipinya menjadi basah oleh air mata yang-meluap dari pelupuknya.
“Kita selamat anakku” desis perempuan itu. Anak laki-lakinya masih melekatkan kepalanya di dada ibunya. Namun kemudian ia pun menyadari, bahwa pertempuran itu sudah selesai.
Dalam pada itu, Ki Wastu berdiri tegak dengan hati yang bergetar melihat anak perempuan dan cucunya yang sudah berhasil diselamatkan. Seakan-akan ia telah diguncang oleh satu pertanyaan yang melingkar-lingkar di rongga dadanya, “Kenapa semuanya itu harus terjadi atas anak perempuannya.”
Namun seperti Pangeran Kuda Padmadata, seperti artak perempuannya dan seperti orang-orang yang lain. ia mengucap sukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, bahwa malapetaka itu telah dapat dicegah.
Ketika Pangeran Kuda Padmadata dan Ki Wastu kemudian berusaha menenangkan ibu dan anak itu, para pengawal telah dihadapkan pada tugas-tugas baru. Mereka harus mengumpulkan orang-orang yang lerluka dan kemui iiau mereka yang telah terbunuh. Beruntunglah, bahwa korban diantara pengawal yang paling parah, tidak sampai merenggut nyawanya, meskipun tiga orang tidak lagi dapat bangkit. Tetapi karena perawatan yang cepat, maka nyawa mereka masih dapat diharapkan untuk dipertahankan.
Sebelum matahari terbit, para pengawal telah menguburkan empat orang lawan yang terbunuh. Kemudian mengumpulkan dua orang yang terluka berat, dan dua orang lagi yang tidak membahayakan jiwanya, meskipun mereka tidak sempat melarikan diri.
“Gila” geram seorang pengawal, “mereka benar-benar menjadi beban diperjalanan. Kitalah yang harus merawat mereka. Menyediakan makan dan minum. Mengobati dan melayani”
“Apaboleh buat” desis yang lain.
“Sementara kawan-kawan kita sendiri pun telah terluka pula berkata yang pertama.
“Ada dua orang yang dapat melayani kawan-kawannya yang parah” berkata yang lain.
“Yang dua itu pun memerlukan pelayanan” geram yang lain lagi.
Tetapi mereka tidak dapat mengingkari tugas-tugas itu. Mereka tidak dapat membunuh orang-orang yang lelah menjadi tawanan mereka.
Ketika matahari terbit, maka mereka pun mulai berbenah. Dua pedati telah dipergunakan untuk mengangkut orang-orang yang terluka. Satu pedati untuk tiga orang pengawal dan satu pedati untuk orang-orang yang tertawan. Namun dengan demikian, maka semua perlengkapan telah dipindahkan kepedati yang satu lagi, sehingga dengan demikian isteri Pangeran Kuda Padmadata dan anak laki-lakinya, tidak lagi dapat duduk di dalam pedati. Tetapi mereka telah dipersilahkan untuk duduk dipunggung kuda dengan seorang pengawal yang membantu menuntun kuda itu. Karena sebenarnyalah bahwa perjalanan itu tidak dapat lebih cepat dari orang yang berjalan kaki karena diantara iring-iringan itu terdapat juga tiga buah pedati.
Para pengawal akan bergantian berjalan menuntun dua ekor kuda. Tetapi anak laki-laki Pangeran Kuda Padmadata, telah berani duduk bersama seorang pengawal. Bahkan diperjalanan berikutnya, pengawal itu kadang-kadang melarikan kudanya mendahului meskipun tidak terlalu cepat. Kemudian kembali menyongsong iring-iringan itu.
“Jangan terlalu jauh mendahului kami” berkata Mahisa Bungalan kemudian.
Pengawal itu mengerti. Meskipun jarak itu hanya beberapa tombak, namun akan dapat terjadi sesuatu, justru anak laki-laki itu menjadi sasaran utama dari setiap usaha pembunuhan.
Ketika iring-iringan itu melewati sebuah sungai yang jernih, maka mereka pun berhenti sejenak. Mereka sempat memberi minum kuda dan lembu penarik pedati, sementara mereka pun sempat menyegarkan tubuh mereka.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar