PANASNYA BUNGA MEKAR : 16-02
Kedua orang yang menurut pengamatan lahiriah adalah dua orang yang kaya itu, mendapat kehormatan, bermalam di sebuah banjar padukuhan, meskipun di tepi Kota Singasari. Namun dari tempat itu, mereka dapat mengetahui banyak hal tentang Kota Raja yang disebut Singasari itu.
Ternyata bahwa keduanya benar-benar telah membeli barang-barang berharga dari seorang pedagang. Mereka membeli barang-barang emas dan permata, meskipun tidak terlalu besar dan tidak terlalu mahal.
“Kami menginginkan permata yang lebih baik lagi, tetapi yang cocok dengan kepribadian kami” berkata salah seorang dari keduanya.
Dengan demikian, maka beberapa pedagang yang lain telah datang pula kepada mereka berdua. Di antara mereka yang datang itu adalah Mahendra.
Tetapi dari Mahendra mereka tidak membeli apapun juga. Barang-barang yang dibawa oleh Mahendra nampaknya tidak terlalu murah dan mereka, telah mengelak, bahwa barang-barang itu, terutama batu berharga, tidak cocok dengan kepribadian mereka.
Namun demikian, para pedagang itu sama sekali tidak menyadari, bahwa kedua orang itu hanya ingin mengetahui keadaan mereka seorang demi seorang. Rumah mereka dan kemungkinan-kemungkinan dapat mereka lakukan. Selebihnya, mereka ingin mendengar serba sedikit tentang seorang perempuan yang akan diambil oleh suaminya, seorang Pangeran dari Kediri.
Nampaknya tidak ada masalah yang timbul di antara kedua orang itu dengan para pedagang. Bahkan keduanya telah benar-benar membeli meskipun bukan barang yang sangat mahal. Namun sebenarnyalah, keduanya telah menarik perhatian Mahendra, bukan karena mereka telah berhubungan dengan para pedagang, tetapi justru karena keduanya telah berbicara tentang Pangeran Kuda Padma data.
Tetapi Mahendra tidak tergesa-gesa mempersoalkannya. Ia pun tidak berbuat sesuatu, ketika orang itu kemudian meninggalkan Singasari.
Namun demikian, Mehendra telah memperbincangkan hal itu dengan Mahisa Agni yang bersama-sama telah datang mendahului Pangeran Kuda Padmadata ke Singasari untuk mempersiapkan isteri Pangeran Kuda Padmadata yang akan dijemput oleh suaminya.
“Memang sangat menarik perhatian” berkata Mahisa Agni, “tetapi mungkin secara kebetulan, ia mendengarnya dan tanpa maksud apa-apa, mereka bertanya tentang Pangeran itu”
Mahendra mengangguk-angguk, jawabnya, “Salah satu kemungkinan dari sekian banyak kemungkinan”
Mahisa Agni mengangguk-angguk sambil tersenyum. Katanya, “Kita memang harus berhati-hati. Tetapi hal ini agaknya tidak perlu kita persoalkan. Pangeran Kuda Padmadata masih diliputi oleh kecemasan. Jika ia mendengar hal itu, mungkin ia akan menentukan sikap lain. Mungkin ia telah membuka padang perburuan baru di daerah yang sangat luas, bahkan tidak terbatas”
Mahendra mengangguk-angguk. Namun katanya, “Selain persoalan Pangeran Kuda Padmadata, yang menarik perhatian pada mereka adalah usahanya untuk berhubungan dengan pedagang sebanyak-banyaknya”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Katanya, “Itu pun harus mendapat perhatian. Tetapi mungkin pula ia sekedar ingin memperbandingkan harga”
Sambil tertawa Mahendra berkata, “Itu juga salah satu dari sekian banyak kemungkinan”
Mahisa Agni pun tertawa. Katanya, “Agaknya memang demikian. Mudah-mudahan”
“Mudah-mudahan apa?” bertanya Mehendra.
“Mudah-mudahan satu kemungkinan benar”
Mahendra masih tertawa. Lalu katanya, “Baiklah. Kita akan memperhitungkan segala kemungkinan. Tetapi kita tidak akan menunda lagi rencana Pangeran Kuda Padmadata mengambil isteri dan anaknya”
Keduanya pun sepakat, bahwa mereka tidak akan menelan lagi dengan alasan apapun juga. Perempuan dan anak laki-lakinya itu sudah cukup lama menderita. Yang terakhir, meskipun penderitaan jasmaniahnya telah berakhir, tetapi ia masih tetap menderita batiniah, karena ia masih tetap merupakan seorang perempuan titipan di Singasari.
Namun dalam pada itu, selagi Pangeran Kuda Padmadata mempersiapkan rencana penjemputan itu, kedua orang yang datang di Singasari sebagai dua orang kaya yang mencari batu-batu berharga dan barang-barang perhiasan itu telah berada di antara lingkungannya di padepokan yang dipimpin oleh Macan Wahan. Kecuali pengenalan mereka terhadap beberapa orang pedagang, ternyata mereka telah berbicara tentang rencana seorang Pangeran di Kediri bernama Kuda Padmadata untuk menjemput isterinya dari Singasari.
“Siapa?” bertanya Ki Dukut Pakering yang masih berada di padepokan Macan Wahan.
“Pangeran Kuda Padmadata” jawab kedua orang itu.
Ki Dukut menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Itu adalah contoh dan seorang Pangeran di Kediri yang tidak tahu diri. Ia adalah budak yang paling setia bagi orang-orang Singasari”
“Kenapa?” bertanya Macan Wahan.
“Bukankah Pangeran itu muridku?” desis Ki Dukut, “tetapi ia tidak pantas menjadi contoh sifat dan sikap seorang Pangeran. Kediri harus bangkit. Kediri tidak memerlukan lagi Pangeran seperti Kuda Padmadata”
“Jika demikian, kita tidak akan menghiraukannya” desis Macan Wahan.
Ki Dukut termangu-marigu sejenak. Terbayang sekilas, apa yang pernah dilakukannya pada saat-saat lampaunya. Ia telah menginginkan kematian Pangeran itu dengan cara yang khusus. Dengan memperalat adik kandungnya sendiri. Selain usahanya itu, ia pun telah berusaha pula mematahkan tunas keturunan. Pangeran Kuda Padmadata. Dengan demikian, maka segala harta warisan Pangeran itu akan jatuh kepada adik kandungnya, juga muridnya.
“Tetapi apa peduliku sekarang?” pertanyaan itu telah tumbuh di dalam hatinya, “jika aku membunuh Pangeran itu, apakah pamrihku? Juga jika aku membunuh isteri dan anaknya. Aku tidak akan dapat menerima apapun juga lewat satu-satunya adik kandungnya, karena adik kandungnya itu telah terbunuh”
Karena itu, maka untuk beberapa saat Ki Dukut termangu-mangu. Namun yang kemudian membayang di rongga matanya adalah tumpahan dendam yang membakar jantungnya. Meskipun ia tidak akan mendapatkan apapun juga, namun membunuh Pangeran Kuda Padmadata, isteri dan anaknya, akan dapat memberikan kepuasan tersendiri”
Tetapi setiap kali terbersit keragu-raguan di hatinya. Kematian itu tidak ada artinya sama sekali, selain pemuasan dendam yang membakar jantungnya.
Namun tiba-tiba menggeram, “Berita itu sangat menarik perhatian. Aku akan merenungkannya. Mungkin aku mempunyai kepentingan dengan muridku yang telah berkhianat itu. Setidak-tidaknya berkhianat terhadap Kediri. Tanah tumpah darahnya. Aliran darah keturunannya. Ia sama sekali tidak menghormatinya dengan merendahkan diri, berlutut di bawah kaki orang-orang Singasari”
“Terserah kepadamu” berkata Macan Wahan, “aku dan kawan-kawanku sudah menanamkan kepercayaan kami kepadamu. Mungkin masih ada juga timbul beberapa macam pertanyaan. Tetapi sebaiknya kau menentukan sikap. Biarlah kami mempertimbangkan untuk membantu”
Ki Dukut mengangguk-angguk. Meskipun keragu-raguan masih membayang, namun iu kemudian menentukan, “Memang aku ingin berbuat sesuatu. Aku akan mulai mengguncang Kediri dengan anak yang malang, yang telah menjual harga dirinya itu”
“Kita akan membunuhnya” geram Ki Dukut, “bersama dengan anak isterinya. Orang-orang yang mengiringinya akan kita biarkan hidup. Tetapi mereka harus mendengar sikap kami, kenapa Pangeran itu harus mati. Pangeran itu adalah satu contoh bahwa Pangeran-pangeran yang lain pun akan mengalami nasib yang sama jika mereka menjual harga dirinya kepada orang-orang Singasari”
“Dengan demikian kita akan mulai dengan perjuangan yang panjang” berkata Macan Wahan, “apakah dengan demikian kita sudah siap?”
“Baru langkah permulaan” berkata Ki Dukut, “kita tidak akan melakukannya dengan terbuka.
Kita hanya meninggalkan kesan yang akan disusul dengan kesan-kesan berikutnya”
Macan Wahan mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Ki Dukut. Bahwa yang akan dilakukannya itu baru sekedar permulaan dari perjuangan yang masih belum sebenarnya dimulai. Sehingga dengan demikian, maka peristiwa yang akan terjadi itu, tidak harus disusul dengan langkah-langkah berikutnya dalam waktu singkat dan beruntun. Tetapi dengan langkah itu, Ki Dukut sudah mulai melontarkan pertanyaan kepada para bangsawan di Kediri, apakah mereka akan tetap tertidur nyenyak.
“Kediri sudah lerlalu lama berada di bawah kekuasaan Singasari” berkata Ki Dukut kemudian.
“Jadi langkah apa yang akan kita ambil?” bertanya Macan Wahan.
“Mencegat iring-iringan yang akan berangkat dari Singasari menuju ke Kediri itu” berkata Ki Dukut.
“Kita akan pergi bersama-sama” berkata Macan Wahan.
“Itu tidak perlu. Serahkan kepada satu dua orang kepercayaanmu. Dua orang terbaik di lingkungan kita, meskipun bukan kau dan aku sendiri” berkata Ki Dukut, “namun mereka harus membawa pasukan secukupnya. Dalam iring-iringan itu, aku yakin, akan terdapat banyak harta dan benda yang dapat kau miliki di samping pesan yang akan kita lontarkan lewat orang-orang yang masih akan dibiarkan hidup”
“Bagaimana dengan Pangeran Kuda Padmadata, isteri dan anak laki-lakinya?” bertanya Macan Wahan.
“Mereka adalah sasaran utama. Mereka harus dibunuh, karena mereka adalah pengkhianat dengan keturunannya” jawab Ki Dukut.
“Menarik sekali” jawab Macan Wahan, “nampaknya dua ekor ikan akan sekaligus kita tangkap. Kematian Pangeran Kuda Padmadata, dan harta benda yang tentu dibawa oleh isteri Pangeran itu”
“Tetapi hati-hatilah. Kalian harus menyelidiki kekuatan para pengawal. Ada beberapa orang gila di sekitar Pangeran Kuda Padmadata. Dua atau tiga orang, termasuk ayah perempuan yang menjadi isteri Pangeran Kuda Padmadata itu”
“Jika demikian, kita akan mengirimkan tiga orang. Tentu cukup. Orang-orang kita adalah orang-orang yang pilih tanding. Sementara kita akan menyertakan pasukan pilihan pula. Dari setiap padepokan dapat diambil lima orang terbaik, sehingga dari tiga padepokan termasuk pimpinannya yang tiga orang itu, akan berjumlah delapan belas orang” berkata Macan Wahan.
Ki Dukut mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi perhitungkan kekuatan itu sebaik-baiknya. Mungkin pengawal perempuan itu tidak lebih dari sepuluh orang-orang berkuda yang terpilih termasuk Pangeran Kuda Padmadata dan ayah perempuan itu sendiri. Tetapi jika jumlahnya lebih banyak lagi, kalian pun harus mempertimbangkannya”
“Baiklah” jawab Macan Wahan, “aku akan memanggil mereka untuk memulai dengan tugas permulaan ini. Mungkin tugas ini baru akan menjadi pemanasan dari tugas-tugas yang akan kita sandang kemudian. Yang barangkali akan jauh lebih berat”
“Tentu” jawab ki Dukut, “tugas berikutnya adalah masalah yang jauh lebih berat. Bukan sekedar seorang Pangeran dengan isteri dan anaknya. Tetapi masalah Kediri dalam keseluruhan”
Demikianlah, seperti yang dikatakan oleh Ki Dukut, maka Macan Wahan pun telah memanggil beberapa orang kawan-kawannya yang berada di bawah pengaruhnya. Dengan jelas ia menyampaikan rencana yang diinginkan oleh Ki Dukut, untuk berbuat sesuatu yang akan dapat menarik perhatian para bangsawan di Kediri.
“Karena itu. kalian harus mengirimkan orang lagi ke Singasari untuk mengetahui, saat-saat yang lebih pasti dari rencana keberangkatan perempuan itu menuju ke Kediri” berkata Ki Dukut Pakering.
Kawan-kawan Macan Wahan pun nampaknya tidak berkeberatan untuk melakukan tugas itu. Bahkan mereka mulai berpengharapan, bahwa Ki Dukut akan dapat menjadi pengikat bagi padepokan-padepokan yang meskipun mempunyai hubungan, tetapi mereka sulit untuk melakukan kerja sama yang besar dalam usaha mereka untuk mendapatkan barang-barang rampasan. Bahkan kadang-kadang mereka bersaing sehingga tidak jarang timbul pertentangan di antara mereka sendiri.
Tetapi dengan tugas yang lain, mereka lelah mengikat diri dalam satu kerja yang rangkap. Membunuh seorang Pangeran yang telah menjual harga dirinya, sekaligus mengerahkan kekuatan untuk menghancurkan kekuatan yang cukup besar dan yang tentu membawa barang-barang rampasan yang bernilai tinggi.
“Kalian menyerahkan kekuatan seimbang” berkata Ki Dukut, “karena itu, bagaimanapun akhir dari keadaan kalian masing-masing namun apa yang kalian dapatkan merupakan hasil kalian bersama dan kalian akan mendapat bagian yang sama.
Dengan demikian, maka sekali lagi Macan Wahan telah mengirimkan orang-orangnya ke Singasari untuk mengetahui dengan pasti, saat-saat Pangeran Kuda Padmadata mengambil isteri dan anaknya, serta membawanya ke Kediri.
Pekerjaan itu pun bukan pekerjaan yang sulit. Ternyata bahwa berita itu pun telah banyak didengar orang. Bahwa pada satu saat yang telah ditentukan, Pangeran dari Kediri akan datang ke Singasari untuk menjemput isteri dan anaknya.
“Menjelang purnama” berkala seseorang ketika kawannya bertanya tentang keberangkatan isteri seorang Pangeran dari Kediri itu, “menjelang bulan bulat di langit mereka akan berangkat”
“Kenapa menjelang purnama?” bertanya kawannya pula.
“Jika mereka terpaksa menginap di perjalanan karena perjalanan yang sangat lambat, maka malam tidak terlalu kelam di tempat pemberhentian itu” jawab yang ditanyainya.
Kawannya mengangguk-angguk. Nampaknya saat itu memang sudah diperhitungkan sebaik-baiknya.
Ternyata bahwa saat yang ditentukan itu telan terdengar pula oleh pengikut Macan Wahan, sehingga saat itu pun segera dilaporkannya kepada pemimpin padepokannya itu.
“Baiklah, segala persiapan segera dilakukan. Jangan hanya delapan belas orang. Tetapi bawalah duapuluh orang ditambah dengan tiga orang pemimpin mereka” berkata Macan Wahan kemudian setelah ia mendengar laporan itu.
Dengan demikian, maka setiap kelompok dari tiga padepokan telah membawa tujuh orang terbaik ditambah seorang pemimpin mereka, sehingga dengan demikian, yang akan berangkat memenuhi tugas itu adalah duapuluh empat orang.
“Aku kira pengawalnya tidak akan sebanyak itu” berkata Ki Dukut, “mungkin sepuluh, mungkin lima belas orang”
“Tetapi mereka adalah prajurit-prajurit. Masih harus diperhitungkan orang-orang yang aneh itu, termasuk ayah dari perempuan itu sendiri” berkata Macan Wahan.
Ki Dukut mengangguk-angguk. Ia berpengharapan, bahwa usaha itu akan berhasil. Orang-orang padepokan yang berilmu hitam itu, jauh berbeda dari para penjahat kecil yang pernah dipergunakannya. Orang-orang padepokan yang berilmu hitam itu memiliki kemampuan yang jauh lebih tinggi, dan sangat mengerikan, sehingga meskipun Senopati terbaik dari Singasari, akan menjadi ngeri melihat tingkah laku mereka. Apalagi tiga orang di antara mereka adalah orang terbaik yang hampir setingkat dengan Macan Wahan sendiri.
“Jika kali ini aku berhasil” berkata Ki Dukut di dalam hatinya, “maka dendamku akan terobati. Tetapi lebih dari itu, agaknya aku telah benar-benar didorong untuk berbuat sesuatu bagi Kediri. Atau barangkali, yang lebih nampak adalah warna kebencianku kepada Singasari yang telah sekian lama berkuasa atas Kediri”
Namun kadang-kadang debar jantung Ki Dukut tidak dapat diungkiri, bahwa segalanya itu telah berpijak pada ketamakannya, sehingga seluruh hidupnya telah dibakar oleh dendam dan kebencian.
Demikianlah, pada saat yang ditentukan, maka orang-orang yang akan mencegat perjalanan Pangeran Kuda Padmadata itu pun telah mempersiapkan diri. Mereka telah memilih tempat yang paling baik yang akan dilalui oleh iring-iringan dari Singasari ke Kediri itu. Bahkan yang menurut perhitungan mereka iring-iringan yang mungkin sekali akan memper gunakan pedati itu, akan bermalam di sekitar tempat yang telah dipilih itu.
“Kita akan bertindak di malam hari” berkata salah seorang dari mereka.
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Perhitungan itu nampaknya sesuai dengan perhitungannya.
Sementara itu, dua orang yang lain telah pergi ke Singasari untuk mengetahui, berapakah jumlah para pengawal yang akan ikut serta mengantar puteri itu dari Singasari ke Kediri.
Dalam pada itu, Pangeran Kuda Padmadata memang telah menentukan, untuk membawa isterinya dari Singasari ke Kediri menjelang malam purnama, agar jika mereka bermalam di perjalanan, maka malam tidak nampak hitam pekat seperti selembar tirai hitam saja. Dengan demikian, maka isterinya itu tidak akan terlalu ketakutan setelah untuk beberapa saat ia mengalami tekanan jiwa yang menegangkan.
Menurut persiapan yang telah dilakukan, maka Pangeran Kuda Padmadata akan membawa pengawal seluruhnya dari Kediri, ia telah memilih sepuluh orang pengawal yang paling dipercaya. Mereka adalah pengawal yang memiliki ilmu yang tinggi, sementara kesepuluh orang itu adalah orang-orang yang telah menyerahkan dirinya ke dalam kesetiaan pengabdian kepada Kediri.
Namun disamping sepuluh orang pengawal terkuat itu. Pangeran Kuda Padmadata juga memperhitungkan dirinya sendiri dan Ki Wastu, sementara kemungkinan lain, terserah kepada Mahisa Agni yang sudah berada di Singasari.
Pada saat yang telah ditentukan, maka Pangeran dari Kediri itu pun telah datang ke Singasari bersama pengiringnya. Betapa gejolak hati Pangeran itu, ketika ia bertemu dengan isteri dan anaknya. Hampir saja Pangeran Kuda Padmadata itu tidak dapat membendung air matanya yang rasa-rasanya hampir pecah dipelupuknya. Apalagi jika teringat olehnya, apa saja yang telah dialami oleh isteri dan anaknya itu. Saat nyawanya hampir melayang. Saat-saat ia berada di hutan kayu cendana. Dan pada saat lain yang menegangkan.
“Semuanya sudah berlalu” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “kita akan memasuki hari-hari yang wajar dalam kehidupan keluarga”
Isterinyalah yang tidak dapat menahan air matanya yang tumpah tanpa dapat dikendalikan, seolah-olah justru diperasnya sampai kering.
“Kita akan segera kembali ke Kediri” berkata Pangeran Kuda Padmanya kepada isterinya” Kita akan mohon diri kepada Sri Rajasa di Singasari”
Pertemuan itu telah mambuat isteri Pangeran Kuda Padmadata itu merasa hidup kembali. Ia masih merasa seorang yang berasal dari sebuah pedukuhan kecil. Seandainya ia tidak usah dibawa ke istana kepangeranan, ia sama sekali tidak menyesal, asal ia dapat hidup sewajarnya. Selain perlindungan seorang suami, ia pun ingin ketenangan dan ketenteraman, agar ia dapat mengasuh anak laki-lakinya sebagaimana seharusnya.
“Istana itu adalah milikmu” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “kau adalah satu-satunya isteriku. Jika pernah ada orang yang disebut isteriku dari tataran yang sederajad, itu sama sekali tidak benar. Kehidupanku waktu itu dikuasai oleh kekuatan yang tidak dapat aku singkirkan, sehingga sebenarnyalah aku pun tidak dapat disebut sebagai seseorang yang hidup dalam kewajaran”
Isterinya hanya menundukkan kepalanya saja sambil menangis. Di dalam hatinya terbersit satu luapan perasaannya, bahwa yang dikehendakinya hanyalah kehidupan yang wajar, tenang dan tidak dibayangi oleh kedengkian dan apalagi dendam”
Tetapi, seperti apa yang dikatakan oleh suaminya, bahwa sebenarnyalah hubungan keluarga di antara mereka telah melalui saat-saat yang paling gawat dengan selamat. Badai dan topan telah menghembus dari segenap arah. Namun, beruntunglah, bahwa Tuhan Yang Maha Agung masih melindungi mereka, sehingga suami isteri dan seorang anak laki-lakinya itu dapat berkumpul kembali dalam kehidupan sewajarnya.
Dalam pada itu, apa yang diketahui oleh Mahendra tentang dua orang yang sibuk mencari permata dan batu-batu berharga yang sesuai, benar-benar telah menarik perhatian Mahisa Agni dan Witantra dalam hubungan keseluruhan setelah Pangeran itu berada di Singasari.
“Kita tidak akan mempersoalkannya dengan Pangeran Kuda Padmadata dalam tahap-tahap ini” berkata Mahisa Agni, “biarlah ia menikmati kebahagiaannya”
“Tetapi saat-saat ia kembali ke Kediri, maka hatinya harus sudah dibekali dengan pengertian ini” berkata Mahendra, “mudah-mudahan tidak ada apa-apa di perjalanan. Tetapi jika ada hubungan antara orang-orang yang mencari batu-batu berharga itu dengan rencana penjemputan isteri Pangeran Kuda Padmadata itu, maka sebaiknya ia sudah bersiaga. Namun sudah barang tentu, bahwa hal ini tidak akan diberitahukan kepada isterinya sebelumnya”
Tetapi Witantra berkata, “Jika isterinya sama sekali tidak mengetahui kemungkinan itu pun dapat menimbulkan bahaya bagi jiwanya. Ia sudah terlalu lama hidup dalam ketegangan jiwa. Jika pada suatu saat yang tidak terduga-duga, ia dihadapkan pada satu peristiwa yang dapat mengguncang jiwanya yang masih belum mapan, maka dapat terjadi peristiwa itu akan sangat berpengaruh pada perasaannya”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah sebaiknya dipertimbangkan kemungkinan untuk merubah rencana?”
Witantra mengerutkan keningnya. Katanya, “Mungkin ada juga baiknya. Kita akan berbicara dengan Pangeran Kuda Padmadata. Jika kita menyebut perubahan rencana itu, hanyalah penundaan untuk waktu yang pendek. Mungkin kita justru menghindari saat-saat yang sudah diperhitungkan oleh orang-orang yang bermaksud buruk”
Ketika Mahendra pun sependapat untuk membicarakan nya dengan Pangeran Kuda Padmadata, maka mereka pun segera menemui Pangeran itu dan diajaknya berbicara tanpa orang lain, kecuali Ki Wastu.
Namun sikap Pangeran itu benar-benar tidak tergoyahkan. Katanya, “lembaran sikapku adalah membelanya sampai kemungkinan terakhir” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “jika aku menundanya lagi, maka hatinya akan menjadi semakin pedih. Kepercayaannya kepadaku akan menjadi semakin susut, setelah untuk waktu yang lama ia meragukannya, karena ternyata aku tidak dapat melindunginya. Jika pada saat di perjalanan, Ki Dukut Pakering itu datang, biarlah aku menunjukkan kepada isteriku, jika aku sendiri hadir dalam kesulitan seperti itu, aku akan mengorbankan apa saja yang ada padaku bagi keselamatannya”
“Tetapi apakah hal itu tidak akan mengguncang ketenangan isteri Pangeran yang hampir pulih kembali?” bertanya Witantra.
“Semuanya akan aku selesaikan sama sekali. Kemudian, hidup kami tidak akan terganggu lagi” berkata Pangeran itu. Lalu, “untuk menjaga perasaannya, maka aku akan memberikan alas pada perasaannya, bahwa kemungkinan semacam itu masih mungkin terjadi. Tetapi ia pun harus mengerti, bahwa kini ia tidak seorang diri. Tetapi aku, suaminya dan sepuluh orang pengawal ditambah pengaruh kekuatan ilmu ayahnya yang tinggi, maka kami semuanya akan dapat mengatasinya. Tetapi jika gagal, biarlah kami semuanya tumpas tanpa sisa”
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Pangeran Kuda Padmadata yang masih muda itu memang mempunyai hati yang keras. Adalah sejalan jika Pangeran Kuda Padmadata itu berbincang dengan Mahisa Bungalan yang juga masih muda”
Karena itu, maka mahisa Agni pun kemudian berkata, “Baiklah Pangeran. Jika Pangeran bersikeras untuk berangkat sesuai dengan waktu yang sudah direncanakan, biarlah kami juga ikut dalam tamasya ini. Aku, Witantra, Mahendra dan anak-anaknya di samping Ki Wastu dan Pangeran sendiri”
Wajah Pangeran Kuda Padmadata menegang. Namun kemudian katanya, “Terima kasih paman, terima kasih. Dengan demikian, maka kami akan semakin yakin, bahwa Tuhan Yang Maha Agung akan tetap melindungi kita semuanya”
“Baiklah. Dengan demikian saat-saat mohon diri ke penghadapan Sri Maharaja pun tidak perlu mengalami perubahan” berkata Witantra kemudian.
Demikianlah, maka segala persiapan telah dilakukan seperti rencana. Setelah mohon diri dan mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak di Singasari, dari Maharaja Singasari sampai kepada para Senopati dan para prajurit yang telah dengan ikhlas melindungi isteri dan anaknya, maka Pangeran Kuda Padmadata pun telah berangkat meninggalkan Singasari menjelang bulan purnama.
Mereka berangkat di pagi yang cerah. Langit bersih dan lembaran-lembaran awan yang putih menggantung satu-satu diujung langit yang sangat jauh.
Jika mereka malam nanti harus bermalam dimanapun, maka bulan purnama akan menghiasi langit yang biru bersih itu.
Tidak terlalu banyak orang-orang Singasari yang memperhatikan keberangkatan Pangeran Kuda Padmadata. Ada beberapa orang yang mendengarnya dan menyebutkan ketika mereka berpapasan. Bahkan ada juga satu dua orang yang keluar dari regol rumahnya, ketika iring-iringan itu lewat dijalan di depan rumah. Tetapi dalam keseluruhan, kepergian isteri Pangeran Kuda Padmadata itu kembali ke Kediri, bukanlah satu peristiwa yang mengguncang Kota Raja.
Meskipun demikian, ada juga orang-orang yang memperhatikannya dengan sungguh-sungguh. Diluar gerbang Kota Raja dan orang telah menghitung iring-iringan itu dengan saksama.
“Sebuah pedati yang tentu ditumpangi isteri dan anak laki-laki Pangeran Kuda Padmadata” berkata salah seorang dari keduanya, “yang dua buah, untuk membawa bekal. Yang harus diperhitungkan adalah para pengawal. Sepuluh orang pengawal dan dua orang yang memimpin perjalanan itu. Mereka tentu Pangeran Kuda Padmadata sendiri, dan yang tua itulah agaknya yang bernama Ki Wastu, ayah dari isteri Pangeran Padmadata itu.
“Masih ada yang harus diperhitungkan” berkata yang lain.
“Perempuan dan anak laki-laki itu?” berkata kawannya.
“Bukan. Tetapi para sais pedati itu. Kau lihat, ada tiga orang sais pada tiga dan tiga orang yang agaknya membantunya. Mungkin mereka adalah pesuruh atau abdi atau apapun juga. Tetapi mereka juga laki-laki yang barangkali mampu juga berkelahi”
Kawannya tertawa. Katanya, “Kau sudah dibayangi oleh kecemasan yang berlebih-lebihan. Yang kau hitung justru para sais dan para abdi yang melayani pedati-pedati itu”
“Mungkin” jawab yang lain, “tetapi aku hanya ingin berbuat sebaik-baiknya dengan seteliti mungkin. Jangan sampai kesalahan yang kecil dan nampaknya tidak berarti itu membuat para pemimpin kita kehilangan kepercayaan.
“Baiklah. Kita akan menyampaikan kepada Macan Wahan. Kekuatan orang-orang Kediri itu terdiri dari sepuluh pengawal, dua orang pemimpin yang tentu Pangeran Kuda Padmadata dan Ki Wastu, enam orang termasuk sais dan mereka, para abdi yang melayani pedati yang membawa isteri Pangeran Padmadata dan anak laki-lakinya”
Yang seorang mengangguk-angguk. Tetapi jawabnya kemudian, “Kita tidak perlu menghadap Macan Wahan dan Ki Dukut. Kita akan langsung menemui mereka yang mendapat tugas untuk mencegat iring-iringan itu di tempat yang sudah di tentukan, yang diperkirakan akan menjadi tempat bermalam iring-iringan yang tentu akan sangat lambatnya, justru karena ada tiga buah pedati di dalamnya”
“Ya, Maksudku juga demikian. Kita akan mendahului iring-iringan itu. Mereka tentu tidak banyak menaruh perhatian terhadap kita berdua”
Dengan demikian, maka kedua orang itu pun kemudian berlari di atas punggung kudanya mendahului iring-iringan yang berjalan dengan lambat. Sekali lagi mereka menyaksikan hitungan mereka. Dan mereka pun kemudian merasa yakin, bahwa jumlah yang mereka sebutkan tidak akan salah lagi”
Laporan itu telah diterima dengan senang hati oleh tiga orang pemimpin padepokan dari mereka yang menyadap ilmu hitam. Mereka bertiga menganggap, bahwa pekerjaan mereka tidak akan terlalu berat.
“Betapapun tinggi kemampuan seorang prajurit, mereka tidak akan dapat melawan dua orang pengikut kita”
“Tetapi jangan abaikan mereka” berkata Ki Walikat yang bertubuh kurus, berwajah runcing, dengan mata yang bulat seperti mata burung hantu.
Yang seorang, yang berwajah kasar bertubuh tinggi kekar, bernama Gampar Wungkul menggegam, “Kenapa kita meributkan mereka yang akan lewat. Siapa pun akan kita binasakan. Kita memerlukan ketiga pedati yang tentu berisi bermacam-macam barang berharga. Tentu ada di antaranya perhiasan emas permata. Agaknya Pangeran Kuda Padmadata tentu membawa barang-barang berharga itu bagi isterinya”
“Kau benar” desis Ki Benda, “Kita akan menunggu”
“Menjemukan. Bagaimana jika kita menyongsong mereka?” bertanya Gampar Wungkul.
“Sebaiknya kita menunggu di sini. Mereka tentu akan bermalam di sekitar daerah ini. Maju atau mundur, tetapi tidak akan terlalu jauh. Di malam hari kita akan dapat bekerja dengan lebih tenang tanpa diganggu oleh orang-orang lewat” berkata Ki Walikat.
“Sebaiknya memang demikian” sahut Ki Benda. Gempar Wungkul pun tidak menjawab lagi. Bagaimanapun juga ia harus menyesuaikan diri dengan pendapat kedua orang kawannya yang dianggap membawa kekuatan yang sama besar.
Meskipun menunggu adalah pekerjaan yang paling menjemukan, namun mereka sudah sepakat untuk melakukannya. Orang-orang yang tidak berbuat apapun juga itu, telah berserakkan di hutan buruan. Sebagian besar mereka telah tidur dengan nyenyaknya untuk membuang kejemuan. Sementara satu dua orang telah mencoba mengejar binatang buruan. Dengan busur dan panah mereka mencoba menangkap seekor kijang.
“Buat apa kalian menangkap kijang?” bertanya Ki Walikat.
“Sekedar mengisi waktu. Dan bukankah dagingnya dapat dimakan?” jawab orang-orang yang sedang mencoba berburu itu.
“Jika kau menyalakan perapian, asap perapian itu akan menarik perhatian iring-iringan yang sedang kita tunggu. Mungkin ada di antara mereka orang yang memiliki pengalaman yang luas, sehingga asap itu akan merupakan isyarat bahaya bagi mereka” Ki Walikat memperingatkan.
Orang-orang yang sedang mengejar binatang buruan itu pun kemudian berhenti. Karena tidak ada satu pun yang akan dikerjakan, maka mereka pun telah berbaring di antara kawan-kawan mereka yang telah tidur nyenyak.
Ternyata hanya mereka yang bertugas mengawasi kedatangan iring-iringan dari Singasari ke Kediri sajalah yang tidak tertidur. Mereka dengan penuh kewaspadaan menunggu, meskipun mereka mengerti, bahwa kedatangan iring-iringan itu tentu masih terlalu lama.
Tetapi tugas mereka selain mengawasi iring-iringan itu juga memastikan, di mana iring-iringan itu akan bermalam.
Ketika matahari sudah turun ke Barat, maka orang-orang yang menunggu itu masih sempat makan bekal yang mereka bawa masing-masing kemudian menggenggam segumpal pondoh beras dengan lauknya.
Namun mulut-mulut yang sedang mengunyah itu pun seolah-oleh telah terhenti ketika seorang pengawas datang melaporkan kepada Ki Benda, “Iring-iringan itu telah nampak”
Ki Benda mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Kita harus bersembunyi dan membiarkan iring-iringan itu lewat untuk mencari tempat yang mereka anggap baik untuk bermalam. Mereka tidak akan meneruskan perjalanan setelah matahari terbenam”
Demikianlah, maka para pemimpin dari setiap kelompok itu telah memerintahkan orang-orangnya untuk bersembunyi sebaik-baiknya di dalam hutan. Hanya satu dua orang yang bertugas sajalah yang harus dengan sangat hati-hati mengawasi iring-iringan itu dan memastikan di mana mereka akan bermalam.
Ketika iring-iringan itu lewat, langit telah menjadi kelam. Namun seperti yang diperhitungkan olen Pangeran Kuda Padmadata, bahwa bulan pun segera terbit, sehingga malam rasa-rasanya tidak terlalu kelam.
Namun bagaimanapun juga, ada kegelisahan di hati isteri Pangeran Kuda Padmadata itu. Apalagi Pangeran Kuda Padmadata tidak menyembunyikan kemungkinan terjadinya sesuatu, agar isterinya tidak akan menjadi sangat terkejut, apabila sesuatu itu benar-benar terjadi seperti yang pernah diisyaratkan oleh Mehendra.
Seperti yang sudah diperhitungkan, maka ketika bulan menjadi semakin tinggi, iring-iringan itu pun akhirnya berhenti. Mereka telah memilih sebuah padang rumput yang tidak terlalu luas. beberapa puluh tonggak melalui hutan perburuan.
“Di sini kita dapat melihat ke arah yang agak luas di sekitar kita” berkata Pangeran Kuda Parimadata, “sehingga jika ada sesuatu yang tidak kita kehendaki, akan dapat kita lihat sebelumnya”
Demikianlah, maka tiga buah pedati yang dibawa oleh iring-iringan itu pun segera ditempatkan dalam lingkaran, sementara di tengah-tengah telah dipergunakan untuk beristirahat isteri dan anak laki-laki Pangeran Kuda Padmadata.
Para sais pedati dan pembantunya tatah melepaskan sapi penarik pedati dan memberinya makan dan minum secukupnya. Kemudian ditambatkannya sapi-sapi itu beberapa langkah menepi tidak jauh dari kuda-kuda para pengawal.
Namun ternyata firasat yang mendebarkan telah menyentuh perasaan Pangeran Kuda Padmadata dan Ki Wastu. Peringatan Mahendra bahwa ada orang-orang yang menaruh perhatian yang besar terhadap rencana Pangeran itu untuk membawa isterinya ke Kediri, telah memberikan dorongan kepada Pangeran itu untuk selalu bersiaga.
“Jangan ada yang lengah” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “kalian harus mengawasi segala arah. Lima dari sepuluh orang harus tetap berjaga-jaga dan mengamati keadaan sekitar kita”
Demikianlah, seperti yang diperintahkan oleh Pangeran Kuda Padmadata, maka lima orang dari sepuluh orang pengawal telah bersiaga sepenuhnya. Mereka sama sekali tidak sempat untuk bermalas-malas. Bahkan kelima orang itu telah berjalan mengitari tempat mereka beristirahat, berurutan dalam lingkaran seperti anak-anak sedang bermain jamuran dengan lingkaran yang besar, memutari pedati dan tempat kuda dan sapi ditambatkan. Hanya kadang-kadang saja mereka duduk menghadap ke segala arah.
Sementara itu, tiga orang pemimpin padepokan dari aliran hitam itupun. telah mempersiapkan orang-orangnya. Ternyata iring-iringan dari Singasari itu terhenti beberapa puluh tonggak dari tempat mereka menunggu. Karena itu, maka mereka pun harus merayap mendekati mereka dan pada saat yang tepat menyerang mereka dan menghancurkannya.
Dalam pada itu, selain kelima orang pengawal yang berjaga-jaga itu, Pangeran Kuda Padmadata sendiri sama sekali tidak meninggalkan isteri dan anaknya yang disuruhnya berbaring di atas tikar yang mereka bawa.
“Tidurlah” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “para pengawal akan selalu bersiaga mengawasi keadaan”
Isteri dan anaknya sama sekali tidak menunjukkan kegelisahan yang sebenarnya mulai merayapi jantung. Namun keduanya pun kemudian berbaring, berselimut kain panjang sambil memandang taburan bintang di langit, di antara cahaya bulan yang sedang bulat.
Sementara Pangeran Kuda Padmadata menunggui anak isterinya yang sudah mulai berbaring sambil mencoba menceriterakan ceritera-ceritera yang menarik bagi anak laki-lakinya yang sudah terlalu lama berpisah itu, Ki Wastu pun tidak sempat berbaring sama sekali. Bagaimanapun juga, hatinya meresa gelisah. Dan seolah-olah ia mendapat firasat, hahwa sesuatu akan terjadi.
Ketika Ki Wastu itu berdiri di sebelah salah satu dari ketiga pedati yang berada di dalam iring-iringan itu, maka dilihatnya cahaya bulan yang terang bergerak diatas dedaunan. Tidak terlalu jauh terdapat sebuah hutan perburuan yang tidak terlalu lebat, meskipun cukup rimbun.
Di dalam pedati itu terdapat barang-barang yang cukup berharga yang akan dibawa ke Kediri. Barang-barang yang semula memang dibawa oleh Pangeran Kuda Padmadata dari Kediri sebagai hadiah bagi isterinya.
Sementara itu, orang-orang yang menurut pengamatan dua orang petugas yang dikirim oleh Macan Wahan ke Singasari sebagai tiga orang sais dan pembantunya-pembantunyanya, masih duduk bersandar roda pedati mereka sambil memandang kekejauhan.
“Beristirahatlah” berkata Ki Wastu.
Tetapi orang-orang itu tersenyum sambil berkata, “Senangnya duduk di bawah terang bulan. Di padesan, anak-anak tentu sedang bermain-main. Mungkin bermain sembunyi-sembunyian, mungkin gobag atau kejar-kejaran”
Ki Wastu pun kemudian tersenyum. Katanya, “Rasa-rasanya malam terlampau sepi”
Orang-orang yang bersandar roda pedati itu tidak menjawab. Mereka pun kemudian melihat Ki Wastu berjalan mendekati salah seorang pengawal yang duduk di atas batu memandang kekejauhan.
“Tentu terasa dingin” desis Ki Wastu. Pengawal itu beringsut. Katanya, “Marilah, silahkan duduk Kiai”
Ki Wastu pun duduk pula disebelah pengawal itu sambil bertanya, “Kau masih harus berjaga-jaga sampai tengah malam, sebelum kawan-kawanmu menggantikanmu”
Pengawal itu tersenyum. Katanya, “Aku sudah mulai kantuk. Tetapi aku akan dapat bertahan sampai tengah malam. Sudah terbisa. Kawan-kawanku akan berjaga-jaga. dari tengah malam sampai Pagi”
Ki Wastu mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Hati-hatilah. Rasa-rasanya malam terlampau sepi”
“Ada firasat buruk agaknya” desis pengawal itu.
“Hanya sekedar kekhawatiran orang tua saja, “jawab Ki Wastu, “tetapi tidak ada buruknya untuk berhati-hati”
Ki Wastu yang kemudian bangkit melangkah mendekati pengawal yang lain. berturut-turut ia memberi peringatan kepada para pengawal agar mereka berhati-hati.
Ketika ia sampai kepada pengawal yang terakhir, maka pengawal itu pun berkata, “Lintang gubug penceng itu hampir tegak. Sebentar lagi, malam sudah lewat separo. Dan aku akan segera mendapat kesempatan untuk tidur dibawah sinar bulan yang manis.
Ki Wastu tertawa pnndek. Katanya, “Kau masih cukup muda untuk menikmati sinar bulan purnama. Silahkan. Tetapi jangan lengah”
Ki Wastu pun kemudian berjalan mendekati Pangeran Kuda Padmadata yang masih duduk menunggui anak isterinya. Tetapi ia sudah tidak berceritera lagi. Agaknya anak laki-lakinya sudah tidur. Sementara isterinya pun telah mulai memejamkan matanya.
Sambil duduk di sebelah Pangeran Kuda Padmadata, Ki Wastu itu pun berkata, “Silahkan Pangeran beristirahat. Aku akan berjaga-jaga sampai saatnya aku akan membangunkan Pangeran, jika aku akan ganti beristirahat”
Pangeran Kuda Padmadata mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Ki Wastu sajalah dahulu beristirahat. Aku sama sekali belum mengantuk”
“Tetapi beristirahatlah” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “meskipun hanya berbaring”
Ki Wastu pun kemudian melangkah mendekati sebuah pedati yang lain. Di sebelah roda pedati itu terbentang sehelai tikar. Dua orang pengawal yang sedang tidak bertugas, telah tertidur dengan nyenyaknya, sementara yang tiga orang lainnya tidur di tempat yang lain.
Ki Wastu pun kemudian telah membaringkan dirinya setelah ia melepas perisainya yang targantung pada ikat pinggangnya dan kemudian meletakkan di dadanya. Tetapi mata orang tua itu pun rasa-rasanya tidak mau terpejam juga.
Dalam pada itu, ketiga orang pemimpin padepokan yang beraliran hitam itu telah merayap semakin dekat. Mereka berusaha untuk mendekati orang-orang Kediri itu dari arah yang paling aman. Mereka merayap dari balik gerumbul perdu yang satu kebalik gerumbul yang lain. Berurutan. Duapuluh satu orang ditambah dengan tiga orang pemimpin mereka yang dapat mereka banggakan.
“Kita akan memusnahkan mereka” berkata Ki Benda.
“Barang-barang itu tentu berada di salah satu pedati itu” desis Ki Walikat, “sementara pedati yang lain tentu berisi bekal makanan atau pakaian”
“Apakah perempuan dan anak itu tidur di salah satu dari ketiga pedati itu?” desis Gampar Wungkul.
“Mungkin. Tetapi aku kira perempuan dan anak laki-lakinya itu lebih senang tidur diluar pedati yang sempit meskipun agak dingin” sahut Ki Benda.
“Hampir tengah malam” berkata Ki Walikat tiba-tiba, “apakah kita masih akan menunggu?”
“Aku kira kita cukup bersabar. Tetapi baiklah kita menunggu sejenak, sehingga mereka menjadi lengah. Jika lewat tengah malam tidak terjadi sesuatu, mereka tentu mengira, bahwa untuk selanjutnya tidak akan terjadi apa-apa” desis Ki Gampar Wulung.
Kawan-kawannya sependapat. Mereka menunggu lewat tengah malam. Demikianlah bintang Gubug Penceng tegak dilangit, maka mereka pun segera mempersiapkan orang-orangnya.
Sebenarnya, bahwa setelah lewat tengah malam tidak terjadi sesuatu, maka Pangeran Kuda Padmadata pun menganggap bahwa kemungkinan untuk terjadi sesuatu menjadi semakin kecil. Meskipun demikian. Pangeran Kuda Padmadata itu memerintahkan kepada pengawalnya yang bertugas di tengah malam kedua, agar mereka tidak lengah menghadapi segala kemungkinan yang dapat saja terjadi.
Seperti para pengawal yang terdahulu, maka kelima orang pengawal itu berusaha untuk mengawasi segala arah. Untuk mengusir perasaan kantuk yang tersisa, maka mereka telah berjalan mengelilingi tempat pemberhentian itu seperti yang dilakukan oleh para pengawal sebelumnya.
Dalam pada itu, ternyata bahwa Ki Wastu pun masih belum dapat tidur sekejappun, ketika yang berbaring di tikar bersamanya berganti orang, maka ia pun justru duduk sambil bersandar pedati.
“Apalah isteri dan putera Pangeran Kuda Padmadata itu sudah tidur?” bertanya Ki Wastu ketika Pangeran Kuda Padmadata mendekatinya.
“Mereka tidur dengan nyenyak” jawab Pangeran Kuda Padmadata.
“Syukurlah” berkata Ki Wastu, “sebaiknya Pangeran juga beristirahat, besok kita masih akan menempuh perjalanan yang sangat panjang, justru karena perjalanan kita sangat lambat”
Pangeran itu tersenyum, katanya, “Baiklah, aku akan mencoba untuk beristirahat”
Namun demikian, Pangeran Kuda Padmadata masih melihat orang-orang yang berada di sekitar pedati-pedati itu.
“Kalian tidak tidur?” bertanya Pangeran Kuda Padmadata.
“Anak-anak itu sedang tidur” jawab salah seorang dari mereka.
Ternyata bahwa, dua di antara mereka sudah tertidur telah tidur.
Namun dalam pada itu, beberapa saat lewat tengah malam, maka orang-orang yang bersembunyi tidak terlalu jauh dari tempat pemberhentian iring-iringan itu pun mulai bergerak.
Ki Benda, Ki Walikat dan Ki Gampar Wungkul telah membagi diri bersama orang mereka masing-masing. Mereka sepakat untuk menyerang dari tiga jurusan. Masing-masing dengan delapan orang termasuk pimpinan kelompok itu sendiri.
“Aku akan berputar” berkata Ki Benda.
“Kau ke sebelah kiri, aku ke sebelah kanan” desis Ki Walikat.
“Beri aku isyarat” berkata Ki Gampar Wungkul, “kapan aku harus maju jika kalian sudah mencapai arah yang kalian kehendaki”
“Aku akan memberikan isyarat itu” berkata Ki Walikat, “suara burung hantu”
Dengan demikian, maka Ki Benda dan Ki Walikat pun segara merayap dibalik lindungan bayangan perdu, timan diiangu memang harus diperhitungkan, meskipun sudah mulai menurun di Barat.
Beberapa saat lamanya, Ki Gampar Wungkul menunggu. Sehingga akhirnya, di kejauhan didengarnya suara burung hantu yang ngelangut.
Suara burung hantu itu ternyata telah menarik perhatian para pengawal. Sejak sore mereka sama sekali tidak mendengar suara burung hantu. Yang mereka dengar adalah suara binatang buas di hutan yang tidak terlalu dekat. Dan sekali-kali mereka mendengar suara burung bence yang terbang melintas dilangit.
Namun tiba-tiba mereka telah mendengar suara yang lain, burung hantu.
Dalam pada itu, selagi pengawal itu dicengkam kebimbangan, maka salah seorang sais pedati itu berdesis, “Berhati-hatilah. Itu bukan suara burung yang sebenarnya”
Para pengawal itu pun menyadarinya pula, bahwa suara itu memang bukan suara burung hantu.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar