PANASNYA BUNGA MEKAR : 17-01
Dengan penuh kewaspadaan iring-iringan itu pun melanjutkan perjalanan. Perjalanan yang masih panjang. Bahkan mereka masih harus menginap satu malam lagi di perjalanan, meskipun sudah tidak terlalu jauh dari Kediri. Namun mereka tidak akan memaksa diri untuk mencapai kota itu.
Tetapi, bahwa mereka harus bermalam lagi di perjalanan meskipun sudah tidak terlalu jauh dari Kediri, namun hal itu harus mereka perhitungkan sebaik-baiknya.
Dalam pada itu, ketiga orang pemimpin dari lingkungan hitam itupun telah berhasil melepaskan diri dari tangan lawan-lawannya yang garang. Namun demikian, terasa pada Ki Gampar Wulung, Ki Benda dan Ki Walikat, bahwa tubuh mereka yang tidak terluka itu bagaikan remuk di dalam. Tulang-tulang mereka bagaikan retak dan ruas-ruasnya bagaikan saling terlepas.
“Gila” geram Ki Walikat, “apakah orang itu anak iblis”
“Diluar dugaan” berkata Ki Benda, “orang-orang yang kita anggap sebagai sais itu justru orang yang berilmu iblis seperti yang kau katakan itu”
“Mereka dengan sengaja mengelabui kita” berkata Gampar Wulung, “aku sama sekali tidak terluka. Tetapi rasa-rasanya aku sudah memeras semua tenaga dan kemampuanku. Jika aku harus bertempur beberapa kejap lagi, mungkin aku tidak akan mampu bertahan sama sekali. Bahkan rasa-rasanya sais kereta yang langsung aku hadapi itu, masih belum sampai ke puncak ilmunya”
“Beruntunglah bahwa kita masih sempat melarikan diri” sahut Ki Benda, “kita harus cepat menghubungi Ki Macan Wahan”
“Untuk apa cepat-cepat?“ bertanya Ki Walikat, “rasa-rasanya malas aku berjalan”
“Bodoh” geram Ki Benda, “kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas dendam malam nanti. Jika dua orang di antara kita sempat menemui Macan Wahan dan minta ia datang bersama Ki Dukut dan sepuluh orang lagi, maka aku kira, kita akan berhasil”
Kedua orang kawannya mengerutkan keningnya. Nampaknya mereka sedang berpikir.
Tiba-tiba saja Gampar Wulung berkata, “Mungkin kau benar. Tetapi Macan Wahan dan Ki Dukut itulah yang penting”
“Juga yang sepuluh orang. Lihat, kawan-kawan kita sudah berkurang. Meskipun lawan juga berkurang, tetapi nempaknya setiap orang di dalam pasukan lawan memiliki-kelebihan. Karena itulah maka aku kira Macan Wahan dan Ki Dukut perlu membawa sepuluh orang lagi atau lebih. Sementara ketiga orang sais dan pembantu-pembantunya itu akan kita hadapi bersama Macan Wahan dan Ki Dukut sendiri”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Tetapi Ki Walikat berkata, “Aku sependapat. Tetapi jangan hanya sepuluh orang. Kita tidak boleh terjebak lagi. Meskipun kekuatan lawan sudah berkurang, tetapi mereka benar-benar memiliki ilmu iblis. Jika kita menyuruh dua orang di antara kita menemui Ki Macan Wahan, maka biarlah kita pesankan agar ia membawa orang sebanyak-banyaknya dan tidak kurang dari sepuluh di samping Macan Wahan dan Ki Dukut sendiri”
“Baiklah. Kita akan segera menyuruh dua orang di antara kita untuk menemui mereka. Berkuda dan secepatnya” desis Gampar Wulung.
“Bagaimana dengan kita?“ bertanya yang lain.
Gampar Wulung termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Ki Benda dan Ki Walikat berganti-ganti. Baru sejenak kemudian ia berkata, “Bukankah sebaiknya kita memperhitungkan kemungkinan, sampai dimana iring-iringan itu akan berhenti lagi nanti malam”
“Ya. Kita akan berada ditempat itu. Tengah malam kita menyerang mereka sekali lagi dengan kekuatan yang lebih besar, sementara kekuatan lawan telah berkurang. Apalagi di antara kita terdapat Macan Wahan dan Ki Dukut Pakering sendiri, selain sepuluh orang kawan atau lebih akan datang bersama mereka”
Demikianlah, maka mereka telah menunjuk dua orang yang harus berkuda secepatnya kembali ke padukuhan Macan Wahan. Keduanya harus melaporkan apa yang terjadi. Dan Mereka pun harus kembali bersama Macan Wahan dan Ki Dukut bersama paling sedikit sepuluh orang kawan lagi.
Setelah semua pesan diterima dengan jelas, maka dua orang di antara mereka telah berpacu kembali ke padepokan Macan Wahan. Keduanya pun mendapat pesan, dimana kira-kira pasukan yang gagal itu akan menunggu.
“Kegagalan ini bagikan membakar jantungku“ berkata Ki Benda, “aku benar-benar ingin mencincang orang yang menyebut dirinya pedagang besi betuah dan batu-batu ber harga itu”
“Bukan hanya orang itu” geram Ki Walikat, “semua orang di dalam kelompok itu. Mereka harus mengerti bahwa kita mempunyai kemampuan untuk melakukannya. Jika kita gagal itu semata hanya karena kelengahan kita saja”
Gampar Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Jangan cemas, Malam nanti kita akan dapat melepaskan dendam kita bersama Ki Dukut dan Mancan Wahan. Pasukan kecil yang membawa perempuan dari Singasari ke Kediri itu ten tu tidak akan mampu berbuat apa-apa”
“Kita akan melakukannya” sahut Ki Benda, “dan sekarang kita masih mempunyai waktu untuk beristirahat. Pedati-pedati itu merayap seperti siput. Sementara kita akan tidur barang sekejap untuk melupakan sakit hati sambil memberikan kesempatan orang-orang kita yang terluka, untuk sedikit mendapatkan kesegaran baru, sebelum kita bersama-sama melepaskan dendam yang membara di hati”
Demikianlah, maka orang-orang dari lingkungan ilmu hitam itu masih sempat beristirahat, yang terluka masih sempat mendapat perawatan dan pengobatan, sementara mereka harus bersiap-siap untuk bertempur lagi malam nanti. Namun dengan beberapa orang kawan yang masih segar dan dua orang yang pilih tanding.
“Tugasku tidak akan terlalu berat malam nanti” berkata salah seorang dari mereka yang terluka di lengan.
“Mudah-mudahan yang kita harapkan benar-benar akan datang” berkata yang lain, “jika benar, maka jumlah kita akan berlipat. Dan orang-orang Kediri itu sudah semakin surut. Apalagi mereka tentu akan ketakutan melihat Ki Dukut diantara kita”
“Kita pergunakan waktu ini sebaik-baiknya, “lewat tengah hari kita akan menyusul mereka, dan menemukan tempat yang kita harapkan dapat menjadi tempat persembunyian yang baik sebelum kita menyerang”
“Sebaiknya kita berangkat menjelang senja. Kita mempunyai waktu banyak. Berapa jarak yang dapat dicapai oleh pedati-pedati itu?” berkata yang lain pula.
Tetapi mereka tidak dapat mengatur segalanya. Mereka harus tunduk perintah pemimpin mereka. Apapun yang harus mereka lakukan, harus mereka lakukan.
Sementara itu, dua orang kawan mereka telah berpacu sekencang-kencangnya. Mereka berusaha untuk tidak terlambat, karena kesempatan mereka untuk menyerang iring-iringan itu memang tidak terlalu panjang lagi. Semalam mereka harus melakukannya sebelum iring-iringan itu memasuki tlatah Kediri.
Dalam pada itu, perlahan-lahan pedati-pedati yang diiringi oleh para pengawal itupun maju terus. Beberapa orang yang terluka mengerang di dalamnya. Sementara isteri Pangeran Kuda Padmadata yang terpaksa menunggang kuda dengan tubuh yang miring, cepat menjadi letih. Karena itu, maka kadang-kadang justru ia lebih senang berjalan bersama Pangeran Kuda Padmadata yang menyerahkan kudanya kepada orang lain.
Namun dalam pada itu, ketika perjalanan itu menjadi semakin jauh, maka Mahisa Agni pun kemudian mendapatkan Pangeran Kuda Padmadata untuk memberikan beberapa pertimbangan mengenai perjalanan yang gawat itu.
“Pangeran” berkata Mahisa Agni, “semalam kita masih akan bermalam diperjalanan”
“Ya” sahut Pangeran Kuda Padmadata.
“Bukankah dengan demikian masih akan dapat terjadi beberapa hal yang tidak kita inginkan” berkata Mahisa Agni lebih lanjut.
“Ya, agaknya memang demikian” jawab Pangeran Kuda Padmadata, “bukankah dengan demikian kita harus berhati-hati”
“Tidak cukup sekedar berhati-hati” berkata Mahisa Agni kemudian.
“Jadi?“
“Pangeran” berkata Mahisa Agni lebih lanjut, “orang yang gagal itu akan dapat menghimpun kekuatan lagi setelah mereka mengetahui kekuatan kita. Mereka akan dapat datang lagi dengan kekuatan yang jauh lebih besar untuk menghancurkan kita”
Pangeran Kuda Padmadata mengerutkan keningnya. Namun iapun mengangguk-angguk sambil menjawab, “Memang benar. Kemungkinan itu besar sekali”
“Nah, karena itu, kita harus berjaga-jaga” Mahisa Agni menambahkan.
“Apa yang baik kita lakukan?“ bertanya Pangeran Kuda Padmadata, “mempercepat perjananan ini, dan memaksa memasuki Kediri, meskipun lewat malam?“
Tetapi Mahisa Agni menggeleng sambil menjawab, “Tidak perlu Pangeran. Isteri Pangeran dan putera Pangeran akan terlalu letih.”
Pangeran Kuda Padamata mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya., “Jika kita tidak dapat memaksa diri memasuki kota, apa yang harus kita lakukan?”
“Pangeran sebaik mengutus dua atau tiga orang mendahului perjalanan ini dengan nama Pangeran Kuda Padmata, kedua atau tiga orang itu dapat memerintahkan sepasukan pengawal untuk menjemput atau menyongsong iring-iringan ini”
Pangeran Kuda Padmata mengangguk-angguk. katanya, “Tepat sekali, ternyata pikiranku tidak cukup jernih menanggapi keadaan seperti ini”
Dengan demikian maka Pangeran Kuda Padmata pun segera memerintahkan tiga orang pengawalnya untuk mendahului memasuki kota. Meraka dapat berkuda secara cepat. Mereka dapat berpacu sehingga mereka akan segera sampai ke kota. Dengan cepat pasukan pengawal akan disiapkan untuk segera menyongsong iring-iringan yang berjalan lambat, justru karena ada beberapa buah pedati di dalamnya.
Di perjalanan, keduanya tidak terlalu banyak yang dipercakapkan. Rasa-raanya mereka ingin segera sampai ke padepokan. Menyampaikan persoalannya, kemudian kembali dengan sekelompok kawan-kawannya yang kuat, yang akan sanggup mencincang para pengawal dari Kediri yang jumlahnya sudah susut, meskipun sedikit.
”Mereka terlalu sombong” geram yang seotang di dalam hatinya, ”Mereka harus mendapat hukuman setimpal”
Demikianlah, maka akhirnya mereka pun berhasil mencapai padepokan Macan Wahan. Dengan tergesa-gesa mereka memasuki regol tanpa meloncat turun dari kuda mereka. Baru ketika mereka sudah sampai ke seketeng, mereka baru menghentikan kuda mereka dan berloncatan turun.
Macan Wahann yang mendengar derap kaki kuda itu pun terkejut. Dengan tergesa-gesa, ia keluar dari ruang dalam. Di pendapa, ia berdiri termangu-mangu. Dilihatnya, dua orang yang datang itu dengan tergesa-gesa pula mendapatkannya.
Ketika mereka sudah duduk di pendapa, maka Macan Wahan pun segera bertanya, apakah yang telah terjadi.
Kedua orang itu kemudian berceritera berganti-ganti. Mereka menceriterakan kegagalan mereka. Karena itu, maka serangan itu harus diulangi.
Macan Wahan menggeretakkan giginya. Ia rasa-rasa nya ikut terjebak bersama ketiga orang kawannya itu.
“Untunglah, mereka bertiga selamat” berkata Ki Macan Wahan, “dengan demikian mereka masih mendapat kesempatan untuk melepaskan dendam mereka kepada orang-orang Kediri itu”
“Ya” jawab salah seorang yang datang menghubungi Macan Wahan, “ kita harus berangkat dengan pasukan yang kuat. Paling sedikit sepuluh orang ditambah Ki Macan Wahan dan Ki Dukut sendiri”
“Tidak hanya sepuluh” berkata Macan Wahan, “kita akan pergi dengan lima belas orang atau lebih. Semua orang yang sekarang ada di padepokan, akan aku bawa bersama kita”
“Bagus” geram salah seorang dari kedua penghubung itu, “kita akan dapat melepaskan dendam atas kematian kawan-kawan kita yang terjebak itu”
“Kita akan segera memberitahukan kepada Ki Dukut“ berkata Macan Wahan.
“Ya. Dan kita memang harus segera berangkat” berkata salah seorang dari kedua orang penghubung itu, “menjelang tengah malam kita akan sampai”
Macan Wahan itupun kemudian telah menyuruh seseorang memanggil Ki Dukut yang masih berada di padepokan itu untuk diberi tahu masalah yang sedang mereka hadapi.
Namun demikian Ki Dukut yang kemudian duduk di pendapa itu mendengar rencana Macan Wahan untuk mengirimkan beberapa orang itupun berkata, “Rencana itu sangat tergesa-gesa”
“Ya, Kita harus dengan cepat melakukannya” berkata Macan Wahan.
“Ya. Menurut perhitunganku, ia akan berbuat demikian” jawab Ki Dukut.
Macan Wahan menjadi tegang. Katanya, “Tetapi hal itu masih belum tentu. Kita dapat mencoba. Mungkin mereka tidak berbuat demikian, sehingga kita mendapat kesempatan yang baik untuk membinasakan seorang Pangeran dan merampas segala miliknya yang dibawanya. Bukankah sejalan dengan rencana Ki Dukut untuk mengguncang Kediri, agar mereka terbangun dari mimpi yang manis, sementara angin yang sejuk masih ditiupkan oleh orang-orang Singasari”
Ki Dukut tertawa. Katanya, “Kau sudah mulai menyadari, betapa rendahnya martabat Kediri dimata orang Singasari. Karena itu, maka kita harus menjaga diri, agar kita tidak terperosok kedalam kesalahan demi kesalahan. Percayalah kepadaku, menurut perhitunganku. Pangeran Kuda Padmadata pun akan berbuat seperti yang kita lakukan. Menjemput sepasukan pengawal. Jika kita akan terjebak dan hancur sama sekali, maka tidak akan ada orang yang masih bercita-cita untuk memulihkan kebesaran Kediri dan memaksa Singasari mempersempit kekuasaannya kembali menjadi Pakuwon seperti masa Tunggul Ametung menjadi seorang Akuwu”
Macan Wahan terdiam. Namun masih nampak di wajahnya. betapa dendam menyala dihatinya. Betapa ia ingin menumpahkan dendamnya dengan memusnahkan iring-iringan Pangeran Padmadata yang telah berhasil mengelabui kawan-kawannya dan menjebaknya. Untunglah bahwa tiga orang kawannya berhasil menyelamatkan diri.
Tetapi ia pun dapat mengerti, keterangan yang dikata kan oleh Ki Dukut. Kemungkinan itu memang dapat terjadi. Jika sekali lagi ia terjebak, maka mungkin sekali orang-orangnya akan benar-benar dihancurkan.
Meskipun demikian, Macan Wahan tidak ingin melepaskan kemungkinan yang baik itu. Maka katanya, “Kita Dukut, biarlah kita melihat kemungkinannya. Kita akan pergi. Tetapi kita pun akan melihat, apakah pasukan Kediri itu datang atau tidak. Jika pasukan Kediri itu datang, kita tidak akan berbuat apa-apa. Tetapi jika tidak, maka kita akan memusnahkan iring-iringan itu sampai lumat”
Ki Dukut tertawa. Katanya, “Baiklah. Mungkin hal ini memang dapat dicoba”
“Jika demikian, kita harus segera berangkat, semua orang yang ada akan kita bawa. Kita hanya perlu tiga orang untuk menunggui padepokan ini, disamping beberapa orang perempuan” berkata Macan Wahan.
Demikianlah, maka dengan tergesa-gesa padepokan itu bersiap-siap. Bagaimanapun juga, masih tersimpan harapan dihati Macan Wahan, bahwa ia akan dapat membalas sakit hati kawan-kawannya yang terjebak. Bahkan masih ada harapan Untuk dapat mencincang iring-iringan dari Singasari ke Kediri itu sampai lumat.
Sejenak kemudian, maka pasukan dari padepokan yang diselimuti oleh ilmu hitam itu sudah siap. Ternyata masih ada sembilan orang ditambah dengan sisa orang-orang Ki Benda, Ki Walikat dan Ki Gampar Wulung yang memang tidak dibawa, karena mereka telah membawa orang berlebihan dari padepokannya dan mereka harus mempersiapkan segala sesuatu jika diperlukan.
“Semua ada tigabelas orang” berkata Macan Wahan, “ditambah kita berdua. Nampaknya kita akan dapat berhasil”
“Apa yang berhasil?“ bertanya Ki Dukut.
Macan Wahan menegang. Namun iapun tersenyum pahit sambil menjawab, “Aku masih mengharap hal itu terjadi. Mencincang sampai lumat”
“Mudah-mudahan harapan itu akan dapat kita lakukan” sahut Ki Dukut, “tetapi kita tidak boleh terseret oleh arus perasaan. Kita harus mempertimbangkan tingkah laku kita dengan nalar. Sehingga kita tidak akan kehilangan perhitungan yang mapan”
Macan Wahan menarik nafas. Namun ia tetap berniat untuk melepaskan dendamnya. Apapun yang akan terjadi, jika orang-orang Kediri itu tidak memanggil pasukan yang kuat dari kota.
Demikian, maka iring-iringan sekelompok orang-orang berilmu hitam itupun kemudian berangkat dari padepokan Macan Wahan. Mereka langsung menuju tempat yang sudah ditunjuk lewat penghubung yang kembali ke padepokan itu.
Dalam pada itu, ternyata kawan-kawan Macan Wahan yang gagal, masih saja beristirahat di tempatnya. Mereka merasa tidak perlu tergesa-gesa, karena mereka masih mempunyai banyak waktu. Jika iring-iringan yang lebih lambat dari berjalan kaki, karena ada beberapa buah pedati bersama mereka itu menempuh satu hari perjalanan, maka mereka akan dapat menyusul jarak itu beberapa saat saja dengan kuda yang berpacu.
“Kita tidak usah membuang banyak waktu“ berkata Ki Benda, “kita sudah dapat memperhitungkan, sampai di mana kira-kira perjalanan pedati itu dalam satu hari”
Karena itulah, maka orang-orang berilmu hitam itu dapat tidur dengan nyenyak. Mereka benar-benar dapat beristirahat untuk pada malam harinya kembali mengerahkan kemam puan untuk bertempur melawan para pengawal dari Kediri. Tetapi kekuatan pengawal itu sudah berkurang, sementara kekuatan orang berilmu hitam itu tentu akan bertambah. Meskipun ada diantara mereka yang terbunuh atau terluka parah, tetapi yang akan datang, jumlahnya tentu akan lebih banyak.
Baru pada saat yang diperkirakan sudah cukup, maka orang-orang berilmu hitam itupun mulai mengemasi diri. Mereka membenahi pakaian dan senjata mereka. Kemudian mereka pun berusaha untuk mendapatkan air pada sebatang sungai untuk menyegarkan tubuh mereka.
Agar tidak menimbulkan kecurigaan di sepanjang jalan yang akan mereka lewati, maka orang-orang berilmu hitam itu pun telah membagi diri ke dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil. Mereka telah membagi pula arah yang akan mereka lalui. Sesuai dengan pengembaraan mereka dalam kehidupan mereka yang hitam, maka sebagian dari mereka telah dapat mengenali daerah itu dengan cukup baik, sehingga orang-orang itulah yang akan menjadi penunjuk jalan menuju ke tempat yang sudah mereka tentukan.
Ki Walikat tertawa. Katanya, “Kau benar. Mereka tentu lebih senang bermimpi indah daripada menjaga kemungkinan kedatangan kita, karena mereka mengira bahwa kita sudah berhasil mereka hancurkan”
“Kita akan sampai ke tempat itu menjelang tengah malam” berkata Ki Gampar Wulung, “dengan demikian maka kewaspadaan orang-orang Kediri itu sudah mulai susut. Seperti semalam, jika bukan karena mereka memiliki kemampuan yang jauh melampaui kemampuan kita, maka mereka sudah mulai menjadi lengah. Apalagi malam nanti. Mereka tentu mengira bahwa kita tidak akan kembali”
“Pasukan pengawal itu tentu akan dapat mencapai tempat kita bermalam sebelum tengah malam” berkata Mahisa Agni kemudian.
Pangeran Kuda Padmadata mengangguk-angguk. Beberapa orang yang kemudian mengetahui pula rencana itu, telah sependapat. Karena orang-orang yang menyerang itu akan dapat berbuat apa saja untuk kepentingan mereka yang tidak lagi mempertimbangkan martabat kemanusiaan mereka lagi.
Ketika tiga orang itu berpacu menuju ke Kediri, maka dua orang dari antara yang berilmu hitam itu pun telah berpacu pula menuju ke padepokan Macan Wahan. Dengan tangkasnya kuda-kuda mereka menyusup, di antara gerumbul-gerumbul dan hutan. Karena penjelajahan yang pernah mereka lakukan, maka mereka pun dapat memilih jalan memintas yang akan dapat memperpendek jarak.
“Kita harus sampai ke padepokan dan kemudian membawa sekelompok kawan-kawan kita dengan cepat. Kita harus sampai ketempat yang ditunjuk itu sebelum tengah malam. Beristirahat sejenak. Kemudian dia lewat tengah malam, menyerang iring-iringan yang tentu sedang beristirahat seperti semalam” berkata salah seorang dari mereka.
“Tentu” jawab yang lain, “Kita akan segera sampai dan kitapun akan segera berangkat lagi”
“Tetapi kita masih harus berpikir dengan bening. Apakah kau pikir rencana itu akan berhasil?“ bertanya Ki Dukut.
“Tentu. Kenapa tidak? Orang-orang Kediri itu telah susut, mungkin terbunuh, mungkin terluka. Sementara jumlah kita bertambah. Bahkan kita berdua pun ikut bersama mereka”
Ki Dukut merenungi kata-kata Macan Wahan itu sejenak. Namun rasa-rasanya ia tidak sependapat. Karena itu. maka katanya, “Sebaiknya kita berpikir dua tiga kali
lagi”
Jawaban itu mengejutkan. Dengan dahi yang berkerut, Macan Wahan bertanya kepada Ki Dukut, “Kenapa kita masih harus ragu-ragu. Persoalannya sudah jelas. Dan kita tidak dapat menunggu lagi”
Tetapi Ki Dukut masih menggeleng sambil berkata, “Persoalannya masih belum jelas”
“Yang mana yang belum jelas?“ bertanya Macan Wahan.
“Kau kira, bahwa Pangeran Kuda Padmadata tidak dapat minta bantuan ke Kediri, seperti kawan-kawan kita minta bantuan kepada kita?”
Macan Wahan tertegun sejenak. Namun kemudian katanya, “Apakah meraka sempat juga berpikir seperti itu?”
“Tentu. Ia tentu berpikir tangkas seperti kawan-kawan kita. Dua orang di antara mereka pergi ke Kediri untuk menjemput sekelompok pengawal, jika kita masih harus menghitung, berapa orang kawan kita yang dapat melakukan hal itu, maka di Kediri, Pangeran Kuda Padmadata tinggal menyebut, berapa orang pengawal yang diinginkannya. Sepuluh, dua puluh, tiga puluh, bahkan seratus. Meskipun yang seratus itu bukan pengawal pilihan seperti yang sepuluh orang dan para sais yang telah menjebak kawan-kawan kita itu, namun mereka adalah pengawal-pengawal yang terlatih baik” jawab Ki Dukut.
Macan Wahan menjadi tegang. Katanya, “Memang mungkin. Tetapi, apakah kira-kira Pangeran Kuda Padmadata akan berbuat demikian”
“Kita akan mencincang setiap orang dari para pengawal itu” sahut Ki Benda, “hatiku masih terlalu pedih melihat kesombongan Mahendra dengan pedangnya yang mampu mengimbangi pusakaku. Jika aku tidak mengingat nasib orang-orang kita yang seolah-olah kehilangan kesempatan sama sekali, maka aku tentu sudah berhasil membunuhnya”
Tetapi Ki Gampar Wungkul menyahut, “Bagaimana anggapan kita, tetapi ternyata kita telah gagal. Sebaiknya kita menjadi lebih berhati-hati dan berbuat lebih banyak lagi, agar kita akan dapat berhasil”
Ki Benda menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun mengangguk-angguk sambil berkata, “Kau benar. Dan aku akan menebus kegagalan itu”
Demikianlah maka kelompok-kelompok kecil itu pun segera berangkat menuju ke tempat yang telah mereka sepakati. Mereka telah menebar melalui jalan masing-masing. Justru mereka memilih jalan yang tidak banyak dilalui orang, dan jalan-jalan setapak. Meskipun kadang-kadang kuda mereka tidak dapat berlari kencang, namun perjalanan mereka tidak banyak bertemu dengan orang-orang yang bagaimanapun juga akan memperhatikan mereka.
Dalam pada itu, di Kediri, seorang perwira pengawal tengah sibuk menyiapkan sepasukan pengawal yang akan menjemput Pangeran Kuda Padmadata. Tiga orang utusan Pangeran Kuda Padmadata telah menghadap dan menyampaikan apa yang telah terjadi.
“Pangeran Kuda Padmadata telah bermain dengan api” berkata perwira itu, “kenapa Pangeran hanya membawa sepuluh orang pengawal. Untunglah, diantara mereka terdapat tiga orang Singasari yang bersedia membantu mereka, meskipun mereka hanya sais pedati”
“Mereka bukan sebenarnya sais” sahut seorang utusan.
“Aku tahu” jawab perwira itu. Lalu, “Aku siapkan sekarang sepuluh orang pengawal lagi. Tetapi bersama mereka akan ikut serta tiga orang perwira, sehingga jumlahnya akan menjadi tiga belas orang. Dan akupun masih mengirimkan pengganti kawan-kawanmu yang terluka sebanyak tiga orang. Dengan demikian, maka kami semuanya akan berjumlah enam belas orang. Kami akan bersamamu menyongsong Pangeran Kuda Padmadata”
“Marilah. Kita harus bertemu dengan iring-iringan itu tidak terlalu jauh memasuki malam hari” berkata salah seorang utusan itu.
Ternyata para pengawal itu pun segera dapat mempersiapkan diri. Dalam waktu yang pendek, maka iring-iringan itu pun telah siap untuk berangkat. Sepuluh orang pengawal pilihan, tiga orang perwira dan tiga orang pengawal lagi untuk meggantikan tiga pengawal yang terluka. Bersama dengan tiga orang utusan, maka mereka akan berjumlah sembilan belas orang”
“Apakah jumlah ini terlalu kecil?“ bertanya perwira pengawal itu.
“Aku kira tidak. Dan aku pun tidak pasti, apakah mereka masih akan mengganggu” berkata utusan itu.
“Siapa tahu. Mungkin mereka sempat memanggil kawan-kawannya yang lain. Tetapi pasukan yang aku bawa ini cukup kuat menghadapi jumlah orang berlipat dua” berkata perwira itu.
Demikianlah, maka sepasukan kecil pengawal dari Kediri itu pun segera berpacu menyongsong Pangeran Kuda Padmadata. Mereka tidak ingin terlambat, dan tinggal menemukan sisa-sisa pasukan dan iring-iringan Pangeran Kuda Padmadata. Karena itu, maka mereka pun telah berpacu secepat-cepatnya menyusuri jalan yang menghubung kan jarak yang cukup panjang, Kediri dan Singasari.
Dalam pada itu, Pangeran Kuda Padmadata masih merayapi jalan yang berdebu. Di siang hari matahari bagaikan membakar kulit. Pada keadaan yang terpaksa, maka isteri Pangeran Kuda Padmadata dan anak laki-lakinya telah berada di dalam pedati yang membawa bekal dan barang-barang yang lain. Lebih baik berada di dalam satu pedati meskipun berdesakan dengan barang-barang, daripada berada di dalam satu pedati dengan orang-orang yang terluka.
Ketika langit menjadi buram, maka isteri dan anak Pangeran Kuda Padmadata itu menjadi berdebar-debar kembali. Rasa-rasanya peristiwa semalam masih akan terulang lagi. Apalagi pengawal yang berada di antara mereka tinggal empat orang. Tiga orang terluka, dan tiga yang lain menghubungi pengawal di Kediri. Dalam keadaan yang demikian, maka kemungkinan yang paling pahit akan dapat terjadi.
Meskipun demikian, Pangeran Kuda Padmadata sempat juga menenangkan hati mereka. Bahwa orang-orang yang telah mencegat iring-iringan itu benar-benar telah dihancurkan.
“Seandainya mereka akan melakukannya lagi, mereka tentu memerlukan bantuan. Untuk mendapatkan bantuan itu mereka memerlukan waktu yang tidak kalah panjangnya dengan perjalanan pengawal-pengawal kita ke Kediri”
Isteri Pangeran itu pun mengangguk-angguk. Tentu ia percaya kepada suaminya. Suaminya adalah seorang Pangeran yang memiliki ilmu yang cukup dan pengetahuan serta pengalaman yang luas. Meskipun pada suatu saat, perempuan itu pernah berprasangka bahwa suaminya dianggapnya tidak setia. Namun ternyata bahwa dugaan itu salah. Suaminya pun telah terjerat ke dalam satu permainan yang hampir saja menelan nyawanya.
Waktu rasa-rasanya berjalan dengan lamban dan mendebarkan. Ketika malam turun, maka iring-iringan itupun segera mencari tempat yang paling baik untuk berhenti. Seperti malam sebelumnya mereka lebih senang berada di tempat yang terbuka dan dapat memandang ke arah yang jauh, sehingga mereka akan segera dapat melihat, jika ada orang-orang yang dengan maksud buruk mendekati mereka.
“Kita tidak dapat bersembunyi” berkata Pangeran Kuda padmadata, “karena itu, buatlah perapian. Biarlah malam menjadi sedikit hangat”
Ketika dingin malam mulai menyentuh kulit, maka di tengah-tengah lingkaran peristirahatan itu, terdapat sebuah perapian yang cukup besar, sehingga panasnya dapat menghangatkan keadaan di seputarnya. Bahkan pedati-pedati yang berada beberapa langkah dari perapian itu pun telah dihangatkan pula. Orang-orang yang terluka, yang berada di dalam pedati itu pun merasa, hangatnya perapian yang menyala cukup besar.
Para pengawal telah melemparkan beberapa potong kayu, ranting-ranting kering dan batang-batang perdu. Sehingga api itu dapat dipertahankan nyalanya.
Sementara itu, langit menjadi cerah. Bulan yang masih cukup bulat mulai menerangi alam yang terbentang dari ujung ke ujung cakrawala.
Anak laki-laki Pangeran Kuda Padmadata di saat-saat melupakan kegelisahannya berbicara juga tentang langit, bulan dan bintang-bintang. Bahkan rasa-rasanya tidak jemu-jemunya ia memandang cahaya bulan yang kekuningan jatuh di atas dedaunan dan rerumputan. Tetapi derik cengkerik dan belalang, terasa membuat kulitnya berkerut.
Karena para pengawal tinggal empat orang, maka mereka telah membagi tugas mereka dengan Mahisa Bungalan, Mahisa Pukat dan Mahisa Murti. Sementara Ki Wastupun telah menghitung dirinya sendiri untuk ikut serta berjaga-jaga.
“Setiap saat, empat orang harus siap mengamati empat arah” berkata Ki Wastu.
Mahisa Bungalan dan kedua adiknya sama sekali tidak berkeberatan. Bahkan kemudian Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra pun telah bersedia pula ikut berjaga-jaga.
“Biarlah, empat orang pengawal dan anak-anak muda itu berjaga-jaga bergantian bersama aku” berkata Ki Wastu.
Tetapi Mahisa Agni manjawab, “Kami akan membuat giliran tersendiri”
Ki Wastu tersenyum, jawabnya, “Terima kasih. Dengan demikian, kami akan merasa semakin tenang”
Namun dalam pada itu, Pangeran Kuda Padmadata menjadi gelisah, karena utusannya ke Kediri masih belum kembali. Apakah mereka selamat sampai ke Kediri atau tidak. Jika ketiganya sampai ke Kediri, maka para pemimpin pengawal di Kediri tentu tidak akan berkeberatan.
Tetapi kegelisahan itu tidak berlangsung terlalu lama. Ketika bulan naik sepenggalah, maka terdengar derap kaki kuda gemuruh dari arah Kediri.
“Apakah mereka datang?“ desis Mahisa Agni. Sementara itu, Pangeran Kuda Padmadata pun telah berdiri di dekat perapian. Ketika Mahisa Agni, Witantra dan Mehendra datang mendekatinya, ia berkata, “Agaknya mereka telah datang”
“Tetapi berhati-hatilah Pangeran” desis Ki Wastu, “mudah-mudahan mereka. Tetapi jika bukan kita jangan lengah”
Derap kaki kuda itu terdengar semakin lama menjadi semakin dekat. Dalam keremangan cahaya bulan, iring-iringan itu mulai nampak bergerak di sepanjang jalan dari arah Kediri.
Karena itu, maka para pengawal Kediri yang tinggal empat orang itupun rasa-rasanya menjadi semakin tenang. Mereka akan mendapat kawan-kawan baru yang akan dapat berbuat lebih banyak dari mereka sendiri.
Namun agaknya Pangeran Kuda Padmadata sendiri benar-benar tidak ingin terjebak. Karena itu, maka iapun kemudian melangkah mendekati seorang pengawalnya sambil berkata, “Hati-hatilah”
“Kami yakin” desis pengawal itu.
Sebenarnyalah, bahwa di dalam keremangan bulan, iring-iringan itu sudah nampak semakin jelas. Mereka-adalah para pengawal dari Kediri, yang datang lebih cepat yang diduga.
Para pengawal dari Kediri itu pun segera melihat perapian yang menyala tidak terlalu jauh dari jalan yang mereka lalui. Sesuai dengan perhitungan para pengawal menghubungi mereka, maka di sekitar daerah itulah, iring-iringan Pangeran Kuda Padmadata akan berhenti.
Kedatangan para pengawal itu telah disambut dengan gembira oleh setiap orang yang berada di dalam iring-iringan itu. Para perwira yang datang bersama para pengawal itupun segera diperkenalkan dengan orang-orang yang berada di dalam iring-iringan Pangeran Kuda Padmadata.
Namun seorang dari para perwira itupun tiba-tiba berdesis, “Aku sudah mengenal Senapati Agung dari Singasari yang pernah berada di Kediri ini”
“Sstt” desis Pangeran Kuda Padmadata, “jangan sebut itu. Ia tidak ingin hal itu diketahui banyak orang. Ada dua orang yang pernah mendapat kedudukan seperti itu di sini. Mahisa Agni dan Witantra”
“Ya” berkata Perwira itu, “tetapi bagaimana aku harus bersikap”
“Bersikaplah biasa saja seperti kalian bersikap dengan orang-orang lain yang pantas mendapat kehormatan sewajarnya, tidak berlebih-lebihan”
Perwira itu mengangguk-angguk. Namun rasa-rasanya segan juga ia menghadapi Mahisa Agni dan Witantra.
Dalam pada itu, maka para pengawal yang baru datang itupun dipersilahkan beristirahat barang sejenak. Para pengawal yang terdahulu ternyata sudah mempersiapkan air hangat dengan gula kelapa yang dapat membuat para pengawal yang baru datang itu menjadi segar.
“Beristirahatlah” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu. Sehingga kalian tidak perlu bersusah payah mempermainkan senjata kalian. Tetapi jika hal itu harus terjadi, maka kalian sudah mendapat kesempatan beristirahat barang sejenak”
Para pengawal itu pun kemudian berpencar setelah minum beberapa teguk. Mereka benar-benar ingin beristirahat. Bagaimanapun juga perjalanan mereka, memang perjalanan yang melelahkan karena mereka harus berpacu secepat-cepatnya agar mereka tidak terlambat. Ternyata yang mereka temukan, iring-iringan yang masih utuh.
Beberapa orang diantara pengawal itu pun telah berbaring di atas rerumputan di sebelah pedati yang berhenti dalam lingkaran. Orang-orang yang terluka, masih berada di dalamnya. Namun ada juga di antara mereka yang merasa dirinya masih mampu, merasa lebih senang turun dari pedati dan berbaring di atas rerumputan pula. Udara malam yang sejuk telah membuat tubuh mereka serasa bertambah segar.
Namun bagaimanapun juga. Orang-orang yang berilmu hitam itu masih juga perlu mendapat pengawasan, meskipun mereka terluka.
Dalam pada itu, Ki Benda, Ki Walikat dan Ki Gampar Wungkul semakin lama menjadi semakin dekat pula. Mereka benar-benar merasa tidak perlu tergesa-gesa. Mereka menganggap perlu untuk manghemat tenaga mereka, karena mereka masih akan mempergunakannya lewat tengah malam.
Ternyata perhitungan mereka tidak terlalu jauh meleset. Setelah berusaha menemukan tempat bagi mereka sesuai dengan pembicaraan di antara mereka, maka orang-orang berilmu hitam itupun mulai mengatur diri. Mereka menugaskan dua orang di antara mereka untuk meyakinkan, tempat peristirahatan iring-iringan Pangeran Kuda Padmadata.
Usaha itu tidak terlalu sulit. Perapian yang menyala di antara para pengawal itu segera menarik perhatian kedua orang itu. Karena itu, maka dengan hati-hati mereka pun merayap mendekat sedapat mereka capai. Karena merekapun sadar, bahwa di antara orang-orang yang berada di dalam iring-iringan itu adalah orang-orang berilmu tinggi.
“Nampaknya sepi-serpi saja” desis yang seorang.
“Aku tinggal di sini. Berikan laporan, bahwa kami telah menemukan tempat itu, tidak terlalu jauh dari tempat yang kita perkirakan. Aku akan mengawasi jika ada perubahan terjadi pada mereka” sahut yang seorang.
Yang lain pun segera memberikan laporan, sementara kawannya tetap mengawasinya.
Namun karena ternyata kedatangan para pengawal dari Kediri lebih dahulu dari mereka, maka orang berilmu hitam itu tidak sempat melihat, sebuah iring-iringan telah berada di dalam lingkungan iring-iringan dari Singasari itu pula.
Sementara itu. Macan Wahan dan Ki Dukut Pakering pun telah sampai ke tempat yang disebut-sebut oleh para penghubung. Mereka pun tidak terlalu sulit untuk menemukan kawan-kawan mereka, karena satu dua orarig di antara mereka telah mengenal daerah itu.
“Kita cukup kuat” desis Macan Wahan kemudian setelah ia mendengar laporan Ki Walikat.
“Sekali lagi aku peringatkan, apakah orang-orang Kediri itu tidak mendapat bantuan dari kawan-kawan mereka” berkata Ki Dukut.
Macan Wahan menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat ia berkata, “Ternyata Ki Dukut Pakering adalah orang yang sangat berhati-hati. He, apakah Kalian yang berada di sini dapat mengatakan, apakah orang-orang Kediri itu telah memanggil kawan-kawannya?“
Ki Benda, Ki Walikat dan Ki Gampar Wungkul termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Ki Walikat bertanya kepada orang yang telah melihat keadaan tempat peristirahatan Pangeran Kuda Padmadata itu, “Sepengetahuanku, keadaan di tempat itu terasa sangat sepi. Aku hanya melihat api yang menyala di antara tiga buah pedati yang melingkarinya”
“Agaknya Pangeran Kuda Padmadata menjadi ketakutan” berkata Ki Benda, “untuk membesarkan hatinya ia telah membuat perapian sebesar-besarnya”
Ki Gampar Wungkul mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat. Tetapi sebaiknya, biarlah kita melihat sekali lagi. Mungkin sepeninggal pengamat itu, pengawal dari Kediri telah berdatangan”
“Aku sependapat” desis Macan Wahan, “perintahkan kepada dua orang untuk melihat kembali di tempat itu”
“Aku akan berangkat” berkata Ki Dukut, “aku ingin melihat apakah kita akan mampu berbuat sesuatu”
Macan Wahan mengerutkan keningnya. Ia melihat kesungguhan pada Ki Dukut menghadapi orang-orang Kediri. Karena itu. maka katanya, “Aku akan pergi bersama Ki Dukut. Aku pun ingin melihat apakah kekuatan kita cukup memadai”
Ternyata bahwa Ki Dukut benar-benar telah pergi untuk meyakini segala keterangan yang didengarnya tentang orang-orang Kediri itu. Dangan diantar oleh pengawas yang semula telah datang bersama seorang kawannya, maka mereka pun menemui pengawas yang seorang lagi, yang ditinggalkannya untuk selalu mengamati keadaan.
“Apakah kau melihat satu peruhahan?“ bertanya pengawas yang melapor kepada para pemimpin orang-orang berilmu hitam itu.
“Tidak” jawab kawannya.
“Apakah tidak ada orang-orang Kediri yang datang?“ bertanya Macan Wahan.
“Tidak” jawab pengawas itu.
“Nah. Bukankah sudah pasti” berkata Macan Wahan, “apa lagi yang kita ragukan?“
Tetapi nampaknya Ki Dukut masih belum puas. Katanya, “Aku akan berusaha merayap lebih dekat”
“Berbahaya sekali” desis pengawas yang telah berada di tempat itu.
Ki Dukut pun menyadari, bahwa terlalu sulit untuk dapat merapat lebih dekat lagi. Namun ia tidak akan dapat mengambil satu sikap tanpa mengetahui keadaan yang agak lebih mantap tentang sasarannya.
Karena itu, maka ia pun berusaha untuk bergeser sambil menelengkup di balik batang rerumputan liar. Namun karena Ki Dukut juga seorang yang memiliki ilmu yang tinggi, maka ia pun cukup cermat memperhitungkan keadaan.
Meskipun Ki Dukut tidak dapat mendekat, tetapi dari jarak yang lebih dekat dari tempat para pengawas, maka ia dapat melihat kuda yang cukup-banyak. Karena itu, ia berkesimpulan, meskipun hanya sedikit, tetapi Kediri telah mengirimkan bantuan kepada Pangeran Kuda Padmadata.
“Kuda itu tidak hanya sepuluh atau dua belas. Tetapi lebih banyak dari itu” berkata Ki Dukut di dalam hatinya.
Karena itu, ketika ia kembali kepada Macan Wahan, ia berkata, “Macan Wahan, jika kau sempat memperhatikan jumlah kuda mereka, maka kau tentu akan mengambil kesimpulan yang sama dengan aku. Kediri telah mengirimkan pengawal-pengawalnya kepada Pangeran Kuda Padmadata”
“Tetapi berapa banyak? Seratus? Lima puluh?“ bertanya Macan Wahan.
“Tentu tidak sebanyak itu. Tetapi cobalah. Jika kau cukup berhati-hati, kau akan dapat mencapai jarak seperti yang dapat aku lakukan. Tahankan ilmumu sedikit sehingga kau tidak bertindak dengan kasar dan tergesa-gesa” berkata Ki Dukut.
Macan Wahan pun melakukannya. Ia pun merayap seperti yang dilakukan cleh Ki Dukut, dengan lindungan batang rumput liar yang cukup tinggi, maka ia dapat mendekat, meskipun tidak terlalu dekat. Dan seperti Ki Dukut, maka Macan Wahan pun dapat melihat kuda-kuda yang tertambat. Memang lebih banyak dari sepuluh atau duabelas ekor kuda.
Macan Wahan pun agaknya mengakui, tentu ada sekelompok pengawal baru yang datang. Tetapi menilik pengamatannya, jumlahnya tentu tidak terlalu banyak. Kuda-kuda itu pun tidak terlalu banyak.
Karena itu. ketika ia kembali kepada Ki Dukut, Ia pun berkata, “Tidak ada yang perlu dicemaskan Ki Dukut. jumlah mereka tidak terlalu banyak seandainya ada sekelompok pengawal yang baru dalang dari Kediri. Kedatangan pengawal itu tentu bukan karena peristiwa yang baru terjadi. Mungkin dalam rangka upacara atau dalam rangka apapun juga. Jika Kediri sengaja mengirimkan bantuan karena peristiwa yang baru terjadi semalam, maka yang datang tentu segelar sepapan. Agaknya pengawal-pengawal itu datang secara kebetulan dalam persoalan yang tidak ada hubungannya dengan peristiwa semalam, meskipun secara kebetulan pula mereka akan dapat membantu. Tetapi kekuatan mereka tidak akan berarti apa-apa bagi kami”
“Jangan mengabaikan peristiwa yang sedang kita hadapi ini Macan Wahan” berkata Ki Dukut, “lebih baik kita berhati-hati agar kita tidak terperosok ke dalam kegagalan lagi”
Ki Dukut masih selalu dibayangi oleh seribu kegagalan yang pernah dialami. Karena itu, ia menjadi semakin berhati-hati untuk bertindak lebih jauh lagi dalam persoalan dengan orang-orang Kediri itu.
Tetapi agaknya sikap Macan Wahan agak berbeda. Ia tidak lagi berpikir tentang rencananya seperti yang di katakan oleh Ki Dukut, ia tidak lagi berpijak kepada keinginannya untuk membantu Ki Dukut mengguncang Kediri agar Kediri terbangun dari tidurnya yang terlalu nyenyak dibuai oleh sejuknya kipas orang-orang Singasari. Meskipun makna yang paling dalam tentang hal itu pun tidak banyak dimengertinya.
Namun yang ada kemudian di dalam kepalanya adalah nyala api dengan semata-mata. Seakan-akan orang berilmu hitam menurut penilaian orang lain itu tidak mampu berbuat apa-apa menghadapi para pengawal di Kediri. Selebihnya, di pedati itu tentu terdapat barang-barang yang cukup berharga.
Karena jtu, maka katanya, “Ki Dukut. Jangan mengecilkan tekad kami yang sudah menyala sampai ke ubun-ubun. Biarlah kami menentukan sikap menghadapi orang-orang Kediri yang sombong itu. Kami tentu akan dapat menghancurkannya. Aku bukan anak-anak lagi yang hanya mampu berteriak tanpa arti. Tetapi tangan dan kakiku telah pernah aku parami dengan darah orang yang paling ditakuti oleh beberapa pihak”
“Kau terburu nafsu” desis Ki Dukut, “menurut pendapatku, niat ini harus ditunda. Kita mencari kesempatan lain. Mungkin kita justru akan datang ke istananya pada suatu saat, karena orang-orang yang memiliki kemampuan tinggi, yang telah menjebak kalian dengan berpura-pura menjadi sais itu pun tidak akan terlalu lama berada di Kediri”
“Aku sudah cukup bersabar. Aku akan berbicara dengan kawan-kawanku itu” desis Ki Macan Wahan.
Ki Dukut tidak dapat mencegah. Tetapi dihadapan Ki Benda, Walikat dan Gampar Wungkul ia ingin mencoba memberikan penjelasan tentang orang-orang Kediri itu.
Namun agaknya api dendam yang sudah menyala di hati orang-orang berilmu hitam itu sulit untuk disurutkan barang sedikit. Mereka menganggap bahwa mereka terlalu kuat untuk melakukan pembalasan. Apalagi menurut kesaksian Macan Wahan, jumlah orang-orang Kediri itu tidak cukup banyak menghadapi meraka.
“Jumlah kita berlipat. Betapapun tinggi ilmu para pengawal kebanyakan itu, orang-orang kita akan dapat menghancurkannya. Sementara kita akan menghadapi orang-orang yang menyebut dirinya sais pedati, sementara Ki Dukut akan Berurusan dengan Pangeran itu dan isteri serta anaknya laki-laki” berkata Macan Wahan.
Ki Dukut hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Namun ia benar-benar tidak berdaya lagi untuk mencegah orang-orang itu melepaskan dendamnya kepada orang-orang Kediri dengan tanpa perhitungan dan pertimbangan sebaik-baiknya.
Karena itu, maka ia pun hanya dapat menyerahkan segala sesuatunya kepada Macan Wahan yang juga sudah terbakar hatinya mendengar ceritera penghubung yang telah datang menjemputnya.....
Bersambunh....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar