PANASNYA BUNGA MEKAR : 16-01
Karena itulah maka sambaran-sambaran Ki Dukut sudah mendebarkan jantung lawannya. Betapapun juga ia berusaha menghindar, namun tangan Ki Dukut berhasil menggapainya pula.
Selain kemampuan untuk menyobek kulit dan daging, maka serangan-serangan Ki Dukut pun berhasil mematuk langsung ke bagian tubuh lawannya yang berbahaya. Ketika lawannya menyerang Ki Dukut dengan sambaran jari-jarinya yang mengembang ke arah kening, Ki Dukut telah menghindar dengan merendahkan dirinya. Namun sekaligus tangannya sempat terjulur lurus dengan ujung jari-jarinya menghentak dada.
Terdengar lawannya berdesis sambil meloncat surut. Rasa-rasanya nafasnya telah terhenti sesaat. Namun lawannya itu pun segera berhasil mengatur jalur pernafasannya kembali.
Tetapi Ki Dukut tidak membiarkannya. Dengan serta merta ia meloncat memburu. Tangannya tidak lagi mematuk tubuh lawannya, tetapi terayun menyambar pundaknya.
Karena lawannya berusaha menghindar, maka sentuhan jari Ki Dukut hanya menyinggung kulitnya saja. Tetapi kulit itu pun telah koyak seleret panjang.
“Gila” geram lawannya. Ia pun telah bertekad untuk bertempur sampai kemungkinan terakhir. Karena itu, maka ketika Ki Dukut kemudian menyerangnya, ia sama sekali tidak mengelak. Tetapi ia justru membentur serangan Ki Dukut dengan jari-jarinya yang mengembang.
Benturan itu ternyata sangat mengejutkan kedua belah pihak. Jari-jari orang- berjambang dari berkumis lebat itu rasa-rasanya bagaikan berpatahan. tulangnya bagaikan terlepas dari sendi-sendinya.
Namun, akibatnya bagi Ki Dukut pun terasa sangat menyakitkan. Bukan saja tangannya yang bagikan terperosok ke dalam perapian yang sedang menyala. Namun dorongan kekuatan lawannya telah mendesaknya beberapa langkah surut.
Sejenak kedua orang yang sedang bertempur itu justru berloncatan surut untuk mengambil jarak. Rasa-rasanya keduanya memerlukan waktu sekejap untuk memperbaiki keadaannya.
Sementara itu, orang yang berjambang dan berkumis lebat itu mengumpat sejadi-jadinya. Jari-jarinya, andalan kekuatannya, rasanya menjadi terlalu lemah untuk dapat dipergunakannya lagi, sementara tangan Ki Dukut pun seakan-akan telah terluka bakar.
Tetapi keduanya tidak ingin menghentikan perkelahian ilu. Bagaimanapun juga, mereka ingin menyelesaikan pertempuran itu.
Yang dilakukan Ki Dukut kemudian adalah sangat mengejutkan. Tiba-tiba saja ia meloncat menyerang dengan kakinya. Ketika lawannya menghindar, maka demikian kaki Ki Dukut menyentuh tanah, maka tubuhnya telah melenting lagi dengan serangan kaki yang gawat.
Lawannya terpaksa berloncatan menghindar. Serangan Ki Dukut yang cepat itu memaksanya untuk setiap kali menghindarinya. Ki Dukut bagaikan berterbangan mengitarinya dengan serangan-serangan kaki yang gawat.
Apalagi betapapun tangannya terasa sakit, Ki Dukut masih juga mencoba mempergunakannya untuk menyerang. Ia tidak lagi mempergunakan ujung jari-jarinya yang serasa hangus. Tetapi ia kemudian mempergunakan sisi telapak tangannya dan sikunya.
Serangan-serangan Ki Dukut masih juga membingungkan lawannya. Meskipun jari-jarinya terasa berpatahan. Namun, ketika sekali tubuh Ki Dukut tersentuh telapak tangannya, maka rasa-rasanya kulitnya masih juga terbakar.
“Benar-benar anak iblis” geram Ki Dukut. Serangan-serangannya pun menjadi semakin cepat. Dan ia pun semakin sering mengenai tubuh, lawannya dengan tumit dan sisi telapak tangannya.
Meskipun sisi telapak tangannya tidak mampu merobek kulit, tetapi rasa-rasanya bagaikan meremukkan tulang belulang orang yang berjambang dan berkumis lebat itu.
Macan Wahan yang menyaksikan pertempuran itu menarik nafas dalam-dalam. Kawan-kawannya tidak lagi dapat menyalahkannya, bahwa ia sudah bersedia berbicara dalam kedudukan setataran dengan orang yang di sebut Ki Dukut Pakering itu. Ternyata kemampuannya benar-benar dahsyat, sedahsyat kemampuan kawannya yang berjambang dan berkumis labat itu. Bahkan kadang-kadang Macan Wahan dikejutkan oleh kemampuan Ki Dukut yang tidak diduganya sama sekali. Sehingga dengan demikian, maka pertempuran itu benar-benar telah memukaunya bersama orang yang bertubuh gemuk dan orang yang cacat di bawah telinganya itu.
Pertempuran itupun berlangsung dengan dahsyatnya. Ki Dukut yang sudah terluka bakar di beberapa bagian tubuhnya, seakan-akan telah kehilangan pertimbangan-pertimbangan yang jernih. Yang nampak dihadapannya adalah seseorang yang dianggapnya berilmu iblis yang yang hanya pantas dimusnakan.
“Jika aku tidak berbuat seperti yang akan diperbuat nya, maka aku tidak akan mandapat tempat di dalam lingkungannya” berkata Ki Dukut di dalam hatinya.
Karena itu, ia sudah bertekad untuk membinasakan lawannya dengan cara yang mungkin dipergunakan pula oleh lawannya itu, meskipun dengan demikian akan sangat mengerikan.
“Mereka tidak berperasaan sama sekali” geram Ki Dukut di dalam hatinya, “karena itu aku harus benar-benar dapat melakukan sesuatu yang dapat menggetarkan jantung mereka”
Dengan tekad yang demikian itulah, maka Ki Dukut telah mengerahkan segenap sisa kemampuannya. Ia masih mampu bergerak dengan cepat, menghantam lawannya dengan sisi telapak tangannya, dengan sikunya dan dengar kakinya.
Semakin lama kecepatan gerak Ki Dukut semakin membingungkan lawannya yang mulai susut kemampuannya. Tubuhnya telah dicengkam oleh perasaan sakit. Jari-jarinya serasa berpatahan dan tulang-tulangnya bagaikan menjadi retak.
Tetapi ia tidak akan menyerah. Ia masih belum percaya bahwa Ki Dukut yang tua itu akan dapat mengalahkannya. Sehingga dengan demikian, maka orang berjambang dan berkumis lebat itu masih juga bertempur dengan gigihnya. Dengan segenap sisa tenaga yang ada padanya.
Tetapi, jari-jarinya tidak lagi mampu mengembang untuk menerkam lawan dengan panasnya api. Yang dapat dilakukan kemudian adalah menyerang lawan dengan telapak tangan dan kakinya.
Namun setiap kali tubuhnya tersentuh kekuatan Ki Dukut, maka ia telah terhuyung-huyung. Demikian, ia berusaha untuk tetap tegak, maka serangan-serangan, berikutnya datang beruntun.
“Setan alasan” orang itu mengumpat. Tetapi ia telah terdorong dua langkah surut. Namun ketika Ki Dukut memburunya sambil menyerang, ia masih sempat mengelak Tetapi, serangan berikutnya oleh putaran kaki Ki Dukut, orang berjambang itu tidak lagi dapat beringsut. Dengan sikunya ia berusaha menangkis serangan itu. Ketika terjadi benturan, maka ia masih sempat menghantam kaki Ki Dukut dengan telapak tangannya yang lain.
Ki Dukut terlonjak. Kakinya bagaikan disengat bara. Namun ia pun segera menyadari keadaannya, ia meloncat selangkah surut. Namun ia tidak mau terlambat. Dengan serta merta ia meloncat dengan kaki terjulur, ia sudah memperhitungkan, bahwa orang berjambang dan berkumis lebat itu lidak akan sempat menghindar lagi. Mungkin ia dapat menepuk kakinya dengan telapak tangannya yang panas seperti api, tetapi Ki Dukut benar-benar telah memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang lain.
Sebenarnyalah, orang berjambang itu terkejut melihat serangan yang datang demikian cepat, tiba-tiba dan demikian derasnya Karena itu, ia tidak sempat iagi mengelak. Namun ia berusaha untuk menangkis serangan iiu. Dengan telapak tangannya ia memukul kaki Ki Dukut yaag terjulur itu, sehingga rasa-rasanya kaki itu benar-benar telah terbakar.
Tetapi seperti yang telah diperhitungkannya pula. maka kaki Ki Dukut yang terjulur itu tidak berubah arah, meskipun disentuh oleh tangan lawannya, karena serangannya itu datang dengan kecepatan yang tinggi, dan dengan sepenuh sisa tenaganya.
Karena itu, maka kaki Ki Dukut itu pun telah menghantam dada orang berjambang dan berkumis lebat itu demikian kerasnya sehingga orang itu terlempar beberapa langkah dan jatuh terbanting di tanah.
Terasa dada orang berjambang itu bagaikan pecah. Nafasnya tiba-tiba saja seolah-olah telah terhenti. Namun demikian ia masih berusaha untuk meloncat bangkit.
Ki Dukut yang sudah merasa tenaganya susut, tidak mau memberinya kesempatan. Jika bertempuran itu berkepanjangan, maka ia pun akan menjadi lelah dan kehabisan tenaga.
Karena itu, maka Ki Dukut pun telah memutuskan untuk menyelesaikan pertempuran itu.
Ketika lawannya masih sedang berusaha untuk menemukan keseimbangannya, maka tiba-tiba Ki Dukut talah meloncat maju mendekat. Dengan sekuat tenaganya ia menghantam kedua pundak lawannya sebelah menyebelah dengan kedua sisi telapak tangannya.
Lawannya menggeliat oleh perasaan sakit yang luar biasa. Tetapi tangannya masih sempat menggapai dada Ki Dukut. Telapak tangannya yang membara telah membakar dada Ki Dukut, sehingga Ki Dukut terpaksa bergeser setapak. Tetapi tiba-tiba saja ia telah menyerang lawannya dengan pangkal telapak tangannya tepat pada dagu lawannya. Demikian lawannya terangkat kepalanya maka Ki Dukut meloncat mendekat. Dengan sepenuh tenaganya Ki Dukut sekali lagi manghantam perut lawannya denga sikunya. Demikian lawannya tertunduk oleh perasaan sakit yang sangat, maka satu pukulan yang dahsyat dengan sikunya telah menghantam tengkuk orang berjambang dan berkumis lebat itu.
Yang terdengar adalah keluhan tertahan. Tetapi orang itu tidak sempat mengeluh lagi, ketika sekali lagi sisi telapak tangan Ki Dukut telah mengenai tengkuk orang yang sedang terhuyung-huyung itu.
Orang itu pun kemudian jatuh terjerembab. Tetapi ia masih menggeliat. Ketika kemudian ia berguling menengadah, maka satu pukulan yang dahsyat telah menghantam lehernya.
Leher itu bagaikan tercekik. Sesaat mata orang itu terbelalak, namun kemudian nafasnya yang terakhir menghentak pendek.
Ki Dukut Pakering pun tiba-tiba telah terduduk. Ia telah mengerahkan segenap kemampuannya, sehingga seakan-akan tenaganya telah terhisap habis di saat ia menghentakkan kekuatannya yang tersisa.
Macan Wahan, kedua orang kawannya, dan para cantrik yang melihat perkelahian itu sampai saat-saat terakhir, telah dicengkam oleh ketegangan. Meskipun mereka termasuk orang-orang yang berilmu hitam, namun kematian seorang kawannya dengan cara yang dahsyat itu, telah menggetarkan jantung mereka.
Namun sementara itu, Ki Dukut Pakering, seakan-akan sudah tidak berdaya lagi. Tenaganya telah dihentakkan sekuat-kuatnya, sementara perasaan sakit dan pedih mulai mencengkamnya. Luka-luka di tubuhnya, yang bagaikan luka-luka api itu benar-benar telah menggigit sampai ke tulang.
Tetapi dengan demikian ketiga orang yang menyaksikan pertempuran dengan hati yang berdebar-debar itu benar-benar telah mengaguminya. Ia tidak terlalu kasar seperti orang-orang di antara mereka. Namun disaat-saat terakhir, ia benar-benar telah menunjukkan kemampuan dan kekuatannya. Tanpa ragu-ragu ia membunuh lawannya, seperti ia melakukan pekerjaannya yang lain-lain.
Sejenak Ki Dukut mengatur pernafasannya dan menahan rasa sakit. Namun kemudian iapun mencoba untuk berdiri.
Meskipun ia masih harus bertahan atas keseimbangan yang goyah, namun Ki Dukut yang menahan rasa sakit itu berkata, “Aku telah membunuhnya. Bukan kebiasaanku mempergunakan cara yang kasar dan garang untuk membunuh lawan. Tetapi sengaja aku melakukannya kali ini. Aku mengerti, bahwa perasaan kalian yang mati itu tentu tidak akan tersentuh sama sekali, jika aku tidak mempergunakan cara seperti yang kalian pergunakan. Karena itulah, aku telah membunuhnya seperti jika kalian melakukannya”
Ketiga orang berilmu hitam itu masih berdiri termangu-mangu. Namun kemudian Macan Wahan berkata, “Luar biasa. Kau telah melakukan sesuatu yang luar biasa Ki Dukut. Dengan demikian kau telah membuktikan kebesaran namamu. Lawan yang kau bunuh itu termasuk seseorang yang memiliki beberapa kalebihan dari kami, kawan-kawannya”
“Aku sengaja ingin membuktikan kepada kalian, bahwa aku bukan orang yang hanya pandai berbicara” jawab Ki Dukut, “dan aku telah bersikap sebagaimana seharusnya menghadapi orang-orang berilmu hitam. Jika aku berkata akan membunuhnya, maka aku benar-benar akan membunuh”
“Sudahlah” berkata Macan Wahan, “kita menjadi saksi. Kematiannya. Tidak ada akibat yang akan terjadi atas kematiannya. Kalian melakukan perang tanding. Dan perang tanding itu sudah selesai dengan tuntas. Biarlah orang-orangku menyelenggarakan mayatnya.”
Ki Dukut menarik nafas dalam-dalam, dipandanginya orang yang bertubuh gemuk dan orang yang cacat di bawah telinga kirinya.
Agaknya mereka pun dengan rela menerima kemalian seorang kawannya yang bernasib buruk.
Bahkan, keduanya telah berkata di dalam hatinya, “Jika akulah yang mendapat kesempatan bertempur, aku pun akan mengalami akibat yang serupa”
Ki Dukut Pakering pun kemudian telah dibawa ke pendapa oleh Macan Wahan bersama kedua orang kawannya. Sejenak mereka duduk merenungi luka-luka di tubuh Ki Dukut Pakering.
“Orang itu memang luar biasa” berkata Ki Dukut sambil mengusap tubuhnya yang terluka, bagaikan tersentuh bara api. Juga jari-jarinya yang serasa terbakar karena benturan yang terjadi, namun dengan benturan itu, jari-jari lawannya seakan-akan telah berpatahan.
“Apakah pendapat kalian?” bertanya Ki Dukut kepada Macan Wahan dan kedua kawannya.
“Luar biasa” jawab orang yang bertubuh gemuk, “ternyata aku salah menilaimu. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa kau memiliki kemampuan melampaui kemampuan kami, bahkan telah mengherankan kami”
Ki Dukut Pakering tersenyum. Namun kemudian katanya, “Tetapi lihatlah, tubuhku yang hangus ini. Sebenarnyalah kawanmu itu benar-benar memiliki kemampuan yang jarang ada duanya. Namun ia terlalu sombong dan tidak dapat menilai, siapakah yang dilawannya. Jika ia tidak menjadi gila atas kemampuannya, maka ia tidak akan bertindak terlalu bodoh untuk menyelesaikan pertempuran itu sebagaimana dengan perang tanding yang sebenarnya. Jika ia bersedia menghentikan perkelahian sebelum aku kehilangan kesabaran, maka aku akan memanfaatkannya”
Macan Wahan dan kedua kawannya mengangguk-angguk. Mereka percaya bahwa sebenarnyalah Ki Dukut tidak ingin membunuh jika bukan karena tingkah laku lawannya itu sendiri. Yang penting bagi Ki Dukut jika lawannya itu tidak terbunuh, akan dapat dipergunakannya untuk membantu rencananya.
Tetapi Ki Dukut Pakering merasa perlu untuk menunjukkan kemampuannya di hadapan orang-orang yang akan dibawanya bekerja bersama, agar mereka mempercayainya bahwa iapun seorang yang memiliki ilmu yang mumpuni.
Meskipun yang seorang itu telah terbunuh, tetapi masih ada tiga orang yang akan dapat diajaknya untuk melakukan rencananya. Bahkan ia masih yakin, bahwa kekuatan itu masih akan dapat perkembangan, karena yang tiga orang itu adalah orang-orang yang berpengaruh di antara golongannya.
“Aku memerlukan beberapa hari untuk berobat” berkata Ki Dukut kemudian kepada orang-orang itu, “dengan demikian aku sudah kehilangan lagi waktu tanpa arti sama sekali. Tetapi setelah itu, aku harus mengejar ketinggalan ini”
Ketiga orang berilmu hitam itu mengangguk-angguk. Mereka sudah terjerat untuk mempercayai Ki Dukut itu sepenuhnya.
Kepada Macan Wahan Ki Dukut minta ijin untuk tinggal di padepokannya sambil menyembuhkan luka-luka tubuhnya, sementara orang-orang Macan Wahan telah sibuk dengan mayat seorang pemimpin yang disegani dari golongan orang-orang berilmu litam.
Demikianlah, maka Ki Dukut telah menunda segala macam pembicaraan karena ia memusatkan segala perhatiannya kepada penyembuhan luka-lukanya. Atas bantuan Macan Wahan dan kedua orang kawannya, maka Ki Dukut berhasil mendapatkan dedaunan dan jenis akar-akaran yang dapat dipergunakannya untuk mengobati luka-lukanya.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Ki Dukut Pakering sendiri telah hanyut di dalam angan-angannya yang semula hanyalah sekedar untuk memancing kesediaan Macan Wahan dan kawan-kawannya membantunya melepaskan dendam atas orang-orang yang pernah menyakiti hatinya.
Tetapi setelah ia berhasil mengalahkan salah seorang dari pemimpin orang-orang berilmu hitam itu, maka timbullah desakan di dalam dirinya, bahwa yang diucapkannya sekedar untuk memancing kesediaan orang-orang berilmu hitam itu benar-benar dapat dilaksanakan.
“Apa salahnya, jika rencana itu benar-benar aku jalankan” katanya di dalam hati.
Ternyata bahwa angan-angan itu benar-benar telah mencengkam jantungnya. Selama ia menunggu kesembuhan luka-lukanya, maka, ia telah mengancam kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan.
Semakin lama, maka keinginan itu justru semakin jelas membayang di dalam rongga mata angan-angannya.
Namun kadang-kadang ia dikejutkan oleh pertanyaan yang tumbuh dari dasar hatinya, “Apakah sebenarnya yang aku kehendaki? jika aku berhasil membuat Kediri berguncang, dan kemudian membangunkan beberapa orang bangsawan yang masih mampu berpikir tentang harga diri, lalu apakah yang akan aku dapatkan buat diriku sendiri? Menjadi raja? Menjadi Akuwu atau menjadi apapun yang memiliki kemukten? Setelah aku mendapat kamukten, apa lagi?”
Ki Dukut menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian telah terlempar ke dalam kenyataan, bahwa dirinya adalah sendiri. Kesendiriannya itulah yang kemudian mencengkamnya sebagai kesepian yang pedih.
“Aku tidak akan dapat membagi hasil perjuanganku itu dengan siapapun juga” katanya di dalam hati.
Terasa betapa keringnya hidupnya. Ia tidak mempunyai sanak kadang. Tidak mempunyai seorang murid pun yang akan dapat menerima kemukten yang seandainya lelah berada di tangannya.
“Pangeran itu memang gila” geram Ki Dukul Pakering.
Namun iapun tidak dapal mengelabui dirinya sendiri. Siapakah sumber dari malapetaka yang kemudian dialaminya itu.
Untuk waktu-waktu yang kosong selama ia mengobati luka-lukanya, ternyata Ki Dukut lelah diombang-ambingkan oleh sikap batinnya yang goyah.
Tetapi jika teringat olehnya, dendam yang menyala dihatinya, maka iapun menggeram, “Aku harus melepaskan dendam yang membakar jantung. Apapun yang akan aku lakukan kemudian, terserah kepada perkembangan yang timbul di dalam hati ini. Tetapi orang-orang yang pernah menyakiti hatiku, harus aku musnahkan. Aku mendapat kawan-kawan yang tangguh, yang memiliki kemampuan malampaui orang-orang yang pernah bekerja bersama selama ini. Pemimpin-pemimpin padepokan yang berjiwa kerdil, dan sama sekali tidak berilmu. Atau pemimpin-pemimpin perampok kecil yang hanya dapat berteriak-teriak dan menakut-nakuti perempuan yang pergi ke pasar. Semua itu tidak ada artinya. Baru sekarang aku menemukan kekuatan yang sebenarnya”
Demikianlah, maka Ki Dukut pun kamudian telah tersekap ke dalam satu lingkungan, yang selama itu disebutnya sebagai lingkungan hitam. Namun lingkungan yang baru itu agaknya akan dapat memberikan dukungan kepadanya, atas satu angan-angan yang semula hanya sekedar satu cara untuk memancing dukungan orang-orang berilmu hitam, namun yang kemudian telah tumbuh dan berkembang di dalam hatinya.
Meskipun kadang-kadang timbul pertentangan di dalam dirinya, namun ia masih saja berangan-angan tentang Kediri.
“Kenapa aku tidak berusaha untuk menjadi seorang pahlawan, meskipun tidak akan memberikan apa-apa lagi kepadaku selain bagi aku sendiri, dan sama sekali tidak berkelanjutan?” pertanyaan itupun selalu timbul di dalam hatinya.
Persoalan-persoalan itulah yang di hari-hari berikutnya telah bergumul di dalam hati Ki Dukut Pakering.
Sementara itu, Macan Wahan dan kawan-kawannya, meskipun belum mematangkan pembicaraan mereka dengan Ki Dukut, namun mereka sudah menganggap bahwa segala akan berjalan dengan persiapan yang harus memadai. Tidak ada gambaran lain yang akan mereka lakukan, selain mempergunakan kekerasan.
Karena itulah, maka Macan Wahan dan kawan-kawannya pun telah menemui Ki Dukut untuk menyatakan kesediaan mereka memulai segala rencana yang akan di susun oleh Ki Dukut.
“Silahkan Ki Dukut beristirahat di sini” berkata Macan Wahan, “sementara kami akan mempersiapkan diri. Kedua kawanku akan kambali ke padepokannya dan, menyusun kekuatannya sampai ke puncak kemampuannya”
Ki Dukut yang masih belum sembuh benar itupun setuju. Biarlah orang-orang dari padepokan hitam itu mempersiapkan diri mereka dengan cara mereka yang barangkali terlalu mengerikan bagi Ki Dukut. Namun demikian, ada niat di hati Ki Dukut untuk berbuat sesuatu setelah keadaannya menjadi baik. Orang-orang berilmu hitam itu akan dapat berbuat lebih baik tanpa perbuatan-perbuatan yang dapat menggetarkan jantung.
“Bersiaplah” berkata Ki Dukut, “pada satu saat yang pendek kita akan segera mulai”
Kedua kawan Macan Wahan itu pun segera minta diri. Mereka akan kembali ke padepokan masing-masing, mereka akan menempa para murid dan para cantrik untuk menghadapi tugas yang berat.
“Tidak ada keterbatasan” berkata Ki Dukut Pakering, “kalian dapat menghubungi kawan-kawan kalian yang dapat dipercaya untuk tugas besar ini. Kita akan mengguncang Kediri dan membangunkan para bangsawan yang lelap. Kediri harus bangkit menjadi satu negara besar seperti saat Singasari masih sebuah Pakuwon yang bernama Tumapel”
Demikianlah, kalau-kalau Macan Wahan itu meninggalkan padepokan itu dengan tugas yang membebani hati. Meskipun mereka masih juga di bayangi oleh satu pertanyaan, apakah yang akan terjadi jika para bangsawan di Kediri telah terbangun dan mengambil kembali kebesaran nama Kediri dari bayangan pemerintahan Singasari.
“Apakah kami tidak justru akan terjerumus kedalam kesulitan?” pertanyaan itu pun selalu menganggu mereka. Namun mereka pun akhirnya mengambil kesimpulan, “Jika kami memiliki kekuatan yang cukup, maka tidak ada satu pihak pun yang akan berani mengorbankan kami. Ki Dukut Pakering pun tidak. Bahkan kami harus dapat mengambil keuntungan dari keadaan itu. Mungkin kami akan memiliki tanah perdikan yang luas untuk mengembangkan padepokan kami dengan terbuka karena hak kami sudah diakui. Atau mungkin daerah yang lebih luas sebagai satu Pakuwon atau hak apapun juga”
Dengan bekal sikap itulah, maka mereka pun bertekad untuk menyusun kekuatan. “Kami bukan sekedar alat yang akan dapat dipergunakan dimana diperlukan oleh Ki Dukut” berkata kawan-kawan Macan Wahan itu di antara mereka, “tetapi kami pada suatu saat akan menentukan. Menentukan diri kami sendiri pada satu keadaan yang kami kehendaki”
Sementara itu, Ki Dukut masih tetap berada di padepokan Macan Wahan. Dari hari kehari, maka luka-lukanya pun segera nampak berangsur membaik. Bekas-bekas luka bakar itu pun kemudian mengelupas dan tumbuhlah kulit yang baru meskipun warnya agak berbeda. Tetapi lambat laun, segala bekas itu pun akan terhapus.
Dalam pada itu, selagi Ki Dukut berada di padepokan Macan Wahan, maka Mahisa Bungalan dengan pasukannya dan Pangeran Kuda Padmadata dengan pasukannya pula masih melanjutkan perburuan. Namun mereka sama sekali tidak menemukan jejak orang yang mereka cari. Tidak seorang pun yang dapat mengatakan, dimanakah orang yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk. Setiap gerombolan yang mereka datangi, sama sekali tidak terdapat jejak Rajawali Penakluk yang sedang mereka buru.
“Kita harus menemukan cara lain yang lebih baik” berkata Witantra pada suatu saat ketika mereka sedang berkumpul di padepokan kecil yang mereka pergunakan sebagai tempat pancadan perburuan mereka.
Mahisa Agni, Ki Wastu, Mahendra dan orang-orang yang bersama-sama berbincang itu sependapat. Tetapi cara baru itu tidak segera dapat mereka ketemukan.
“Orang itu bagaikan hilang ditelan padang belantara” berkata Mahisa Bungalan.
“Tidak sulit bagi seseorang yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk itu” desis Mahisa Agni, “jika ia berada di satu tempat tanpa berbuat apa-apa, kita tidak akan dapat menemukannya. Baru apabila ia melakukan sesuatu kita akan dapat mencium jejaknya”
“Jadi, apa yang harus kita lakukan?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Aku kira untuk waktu yang dekat, orang itu tidak akan banyak berbuat” berkata Mahisa Agni, “tetapi itu bukan berarti, bahwa ia tidak akan dapat muncul disetiap waktu. Karena itu, maka setiapnya padepokan harus mempersiapkan diri”
Pemimpin padepokan kecil itu menjadi berdebar-debar. Tetapi itu sudah menjadi kewajibannya. Apapun yang akan terjadi namun ia harus bertanggung jawab.
Karena itu, maka pemimpin padepokan itupun berkata, “Kami akan mencoba menempa diri sebaik-baiknya Betapapun tinggi ilmu dan kemampuannya, jika kami dengan sepenuh hati, tekad dan kemampuan mempertahankan padepokan itu, maka kami yakin, bahwa kami akan tetap dapat bertahan”
“Ya” desis Witantra, “memang tidak ada kekuatan yang tidak terlawan. Kalian harus menyusun kekuatan. Kalian harus menunjuk patut yang sudah memiliki kelebihan dari kawan-kawannya agar mereka menempa diri lebih baik dan tekun. Mungkin dengan demikian, maka kalian akan dapat menghadapi kelebihan dari seseorang yang datang dengan maksud buruk di padepokan ini. Karena sudah pasti, bahwa kami tidak akan dapat berada padepokan ini untuk waktu yang terlalu lama”
“Tetapi bagaimana dengan perburuan ini?” bertanya Pangeran Kuda Padmadata, “jika masih belum dapat menangkap orang yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk itu, maka rasa-rasanya keadaan di daerah yang luas ini masih akan selalu terganggu”
“Mungkin demikian” sahut Mahendra, “tetapi padepokan-padepokan terpencar ini akan dapat mengadakan hubungan yang satu dengan yang lain untuk saling membantu. Bagaimanapun caranya, mereka akan dapat membangun satu jaringan isyarat dari padepokan yang satu dengan padepokan lain yang berdekatan”
Pangeran Kuda Padmadata pun mengangguk-angguk. Namun rasa-rasanya bagi dirinya sendiri, Rajawali Penakluk itu akan tetap menjadi bayangan yang buram. Apalagi jika ia mengingat isteri dan anaknya yang masih dititipkannya di Singasari.
“Apakah aku dapat mengambilnya dan membawanya ke Kediri di bawah bayangan kekejaman orang itu?”
Tetapi persoalan Pangeran Kuda Padmadata itu adalah persoalan yang sangat khusus. Persoalan diri pribadinya, meskipun dalam keseluruhan tidak dapat dipisahkan dari persoalan yang menyeluruh, karena sebenarnyalah sumber dari dorongan sikap Ki Dukut adalah karena persoalan pribadinya pula, meskipun kemudian berkembang menjadi pamrih atas harta kekayaannya.
Karena itu, maka akhirnya Pangeran Kuda Padmadata tidak dapat lagi menghindari pembicaraan tentang dirinya sendiri bersama Mahisa Agni, Witantra, Mehendra dan apalagi dengan Ki Wastu.
“Sebaiknya isteri Pangeran itu dibawa saja ke Kediri. Ia sudah terlalu lama mengalami tekanan batin. Meskipun, kini ia merasa aman di bawah perlindungan para prajurit di Singasari, tetapi kesejahteraan jiwanya masih juga belum didapatinya. Ia tentu masih merasa kesepian meskipun ada seorang puteranya yang dapat mengisi hari-harinya yang tentu terasa sangat panjang” berkata Mahendra.
“Tetapi bagaimana dengan Ki Dukut” desis Pangeran itu.
“Sebenarnya Pangeran tidak usah terlalu mencemaskan” sahut Witantra, “Ki Wastu tentu akan berada di istana Pangeran di Kediri. Tentu ia akan mengawasi anak perempuannya sebaik-baiknya”
Sepercik kecerahan memancar di wajah Pangeran Kuda Padmadata. Katanya, “Jika bapa bersedia tinggal bersama kami, tentu tidak akan ada masalah lagi yang perlu kami gelisahkan”
Ki Wastu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Aku memang merasa mempunyai kewajiban atas anak perempuanku. Sebelum keadaan yang pasti dapat kita ketahui tentang Ki Dukut Pakaring, aku akan berada di istana Pangeran”
“Terima kasih” desis Pangeran Kuda Padmadata, “dengan demikian, aku sudah mendapatkan pemecahan tentang keadaan keluargaku. Tetapi itu bukan berarti, bahwa persoalan guru dapat dilupakan begi tu saja”
“Kita akan tetap berusaha menemukannya” berkata Mahisa Agni, “tetapi tentu tidak akan dapat melanjutkan perburuan dengan cara ini. Kita tidak pernah berhasil menemukan meskipun hanya jejaknya. Apalagi orangnya”
Pangeran Kuda Padmadata mengangguk-angguk. Di luar sadarnya dipandanginya Mahisa Bungalan. Anak muda itu rasa-rasanya tidak akan dapat bersabar menunggu.
Namun diluar dugaan, Mahisa Bungalan pun kemudian berkata, “Kita memang harus menemukan cara lain. Kita akan kembali ke Kediri untuk mengambil sikap yang lebih baik dari sikap kita selama ini terhadap Ki Dukut. Sementara Pangeran akan dapat menyusun kehidupan keluarga sewajarnya, sebagaimana layaknya sebuah keluarga. Tentu dengan harapan, bahwa Ki Wastu akan memberikan perlindungan kepada keluarga Pangeran. Sementara itu, biarlah kami melanjutkan perburuan dengan cara yang akan kami bicarakan kemudian”
“Tentu aku tidak akan dapat tenang duduk di serambi dengan anak isteriku, sementara kalian menyusup hutan dan melintasi padang-padang yang gersang untuk mencari orang yang akan dapat mengganggu ketenangan keluargaku” gumam Pangeran Kuda Padmadata.
“Tidak seperli yang pangeran katakan” jawab Mahisa Bungalan, “semuanya masih harus dituuggu. Mungkin ada perkembangan keadaan yang akan ikut menentukan, apakah yang sebaiknya kila lakukan kemudian”
Pangeran Kuda Padmadata hanya dapal mengangguk-angguk, ia memang belum melihat, cara yang manakah yang dapat ditempuh dalam keadaan seperti itu.
Karena itulah, maka akhirnya, sekelompok orang yang sedang memburu Ki Dukut itu pun memutuskan untuk kembali ke Kediri membawa semua pasukan dan tawanan. Tetapi mereka sudah memberikan beberapa petunjuk yang dapat dilakukan oleh padepokan-padepokan kecil yang mungkin akan dapat menjadi sasaran dendam.
“Kalian harus berlatih dengan sungguh-sungguh” berkata Mahisa Bungalan, “aku tahu. bahwa di setiap padepokan tentu ada satu atau dua orang yang memiliki kelebihan. Orang itulah yang harus menempa kawan-kawannya, para cantrik dan pengikut-pengikutnya sejauh-jauh dapat dilakukan, agar orang-orang yang berada di sekitarnya akan dapat membantunya jika mereka mengalami kesulitan”
Atas pesetujuan para pemimpin prajurit dan pengawal, maka mereka telah meninggalkan beberapa jenis senjata yang akan dapat dipergunakan untuk melengkapi senjata-senjata yang telah ada di padepokan kecil itu.
Pada hari-hari yang tersisa, sebelum pasukan itu meninggalkan padepokan, maka para prajurit dan pengawal telah memberikan latihan sebaik-baiknya. Karena jumlah para prajurit dan pengawal cukup banyak, maka mereka dapat membagi diri, langsung menjadi pasangan setiap cantrik dalam latihan-latihan yang berat dan mengarah.
Dengan sungguh-sungguh para cantrik itu berlatih mempergunakan jenis-jenis senjata yang ada pada pasukan dari Kediri itu, di samping mereka berlatih dengan sungguh-sungguh mempergunakan senjata-senjata mereka sendiri.
Karena latihan-latihan yang bersungguh-sungguh, meskipun waktunya tidak terlalu banyak, namun mereka telah mendapat pengetahuan yang cukup bagi diri mereka sendiri dan bagi kawan-kawan mereka.
Akhirnya, sampailah saatnya Pangeran Kuda Padmadata dan para prajurit serta pengawal meninggalkan padepokan itu bersama beberapa orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Ternyata kehadiran mereka beberapa lama benar-benar telah merubah tata kehidupan di padepokan kecil itu. Padepokan itu telah menerima petunjuk bukan saja dalam olah kanuragan, tetapi juga cara-cara yang lebih baik bagi kesejahteraan hidup mereka.
Demikianlah pada suatu pagi yang cerah, pasukan Singasari dan Kediri itu pun berangkat dalam iringan yang paniang, karena di samping para praiurit dan pengawai, terdapat juga beberapa orang tawanan. Di antara iring-iringan itu terdapat pula beberapa pedati yang membawa beberapa orang prajurit, pengawal dan bahkan tawanan yang masih belum sembuh benar dari luka-luka mereka di pertempuran-pertempuran yang terjadi selama pasukan itu menjelajahi padepokan dan sarang-sarang penjahat.
Namun di sepanjang jalan, beberapa orang telah di cengkam oleh perasaan yang pahit. Seolah-olah apa yang telah mereka kerjakan dengan korban jiwa dan raga itu, sama seiali tidak memberikan hasil yang memadai. Yang mereka lakukan tidak lebih dari berjalan beriringan menyerang sarang-sarang penjahat yang kemudian menyerah. Meskipun kekuatan para penjahat itu tidak rnemdadai, namun kadang-kadang ada juga diantara para prajurit dan pengawal yang menjadi korban.
“Yang aku temui hanyalah kesia-siaan belaka” berkata Pangeran Kuda Padmadata di dalam hatinya.
Namun perasaan yang sama tumbuh juga di dalam hati Mahisa Bungalan. Bahkan rasa-rasanya jantungnya menjadi panas karena kegagalannya menemukan buruannya.
Ternyata di perjalanan pasukan itu sama sekali tidak menemukan hambatan apa pun juga. Ketika di malam hari mereka terpaksa berhenti dan bermalam di pinggir hutan, maka dengan penuh kewaspadaan para prajurit dan pengawal selalu berjaga-jaga.
Tetapi malam itu mereka lalui dengan tenang. Hanya sekali-sekali terdengar geram binatang buas yang berkeliaran di hutan yang lebat.
Demikianlah maka pasukan itu pun akhirnya sampai ke Kediri dengan selamat. Para tawanan itu pun segera dibawa ke barak-barak yang tersedia, sementara para prajurit dan pengawal pun telah ditempatkan di kesatuan-kesatuan mereka kembali.
Dalam pada itu. Pangeran Kuda Padmadata telah mengundang Mahisa Bungalan, Mahisa Agni, Witantra, Mahendra dan anak-anaknya yang lain dan terutama Ki Wastu untuk berada di istananya.
Mereka masih akan membicarakan beberapa hal yang menyangkut keluarga Pangeran Kuda Padmadata.
Seperti yang sudah dibicarakan, maka akhirnya Pangeran itu memutuskan untuk mengambil isteri dan anaknya seperti seharusnya. Isteri dan anaknya itu akan tinggal bersama mereka di dalam istana itu, di bawah pengawasan Ki Wastu. Bagaimanapun juga, mereka tidak akan dapat mengabaikan kehadiran Ki Dukut Pakering pada saat-saat yang tidak diduga-duga.
Setelah niat itu bulat di hati Pangeran Kuda Padmadata, maka mereka pun menentukan saat-saat mereka akan menjemput isteri dan anak Pangeran Kuda Padmadata itu untuk dibawa ke Kediri dari tempat mereka dilindungi oleh prajurit Singasari.
Namun demikian, Pangeran Kuda Padmadata pun tidak akan dapat mengabaikan pandangan dan sikap beberapa orang di Kediri atas keputusannya itu. Terutama para bangsawan. Mereka mengira bahwa Pangeran Kuda Padmadata benar-benar telah beristeri seorang yang memiliki derajad yang pantas. Karena tidak seorang pun yang mengerti, apa yang sebenarnya telah terjadi di lingkungan dinding istana Pangeran Kuda Padmadata. Tidak seorang pun yang tahu, betapa adik Pangeran Kuda Padmadata itu telah berkhianat bersama seorang perempuan yang disebut isteri dari Pangeran Kuda Padamadata itu. Bahkan ternyata semuanya itu telah berlangsung sesuai dengan rencana yang dibuat oleh Ki Dukut Pakering, guru Pangeran Kuda Padmadata sendiri.
“Segalanya memang harus mendapat perhatian sebaik-baiknya” berkata Mahisa Agni, “memang tidak mustahil, akan timbul masalah. Bagaimana mungkin Pangeran lebih mementingkan isteri Pangeran yang Pangeran ambil dari lingkungan rakyat daripada seorang isteri yang memiliki derajad yang pantas”
Pangeran Kuda Padmadata memang menjadi bingung. Ia tidak sampai hati untuk menyatakan dengan terbuka, apa yang pernah dilakukan oleh adik dan perempuan yang disebut isterinya itu. Bagaimanapun juga, jika mungkin. Pangeran itu masih ingin melindungi nama baik adik kandungnya.
Sementara ia pun tidak akan dapat mengorbankan nama perempuan yang ternyata telah diperalat pula oleh gurunya. Bagaimanapun juga, ia masih berharap bahwa perempuan itu akan memiliki hari depannya sendiri.
“Aku akan berbicara dengan perempuan itu” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “bagaimana sebaiknya aku mengatakan tentang dirinya, justru untuk kepentingannya”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Tetapi Pangeran harus tetap berhati-hati. Mungkin sakil hati dan dendam yang tersimpan dihatinya tidak kalah berbahaya dari sakit hati dan dendam di dalam hati Ki Dukut Pakering itu sendiri”
Pangeran Kuda Padmadata mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Mahisa Agni. Karena itu, maka katanya, “Aku akan berusaha. Mudah-mudahan aku tidak salah langkah”
Tetapi sementara itu, ternyata Pangeran Kuda Padmadata cenderung untuk mengambil isteri dan anaknya itu lebih dahulu dari segala macam langkah yang akan diambil.
“Ia akan dapat berada di istana ini tanpa, menimbulkan persoalan sebelum aku menyatakan dengan terbuka, bahwa isteri dan anakku yang sebenarnya sudah berada di sini” berkata Pangeran Kuda Padmadata.
Ternyata pendapat itu disepakati. Sehingga dengan demikian maka Pangeran Kuda Padmadata akan segera pergi ke Kediri menjemput isteri dan anaknya, meskipun hal itu tidak akan segera diberitahukan kepada siapa pun juga di Kediri, sebelum Pangeran Kuda Padmadata menghubungi beberapa pihak yang akan langsung bersentuhan dengan persoalan itu.
Dalam pada itu, maka untuk beberapa saat lamanya, Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra tidak akan disibukkan dengan perburuan yang gagal dipandang yang sangat luas. Tetapi mereka akan terlibat ke alam kesibukan yang lain, membawa isteri dan anak Pangeran Kuda Padmadata dari Singasari ke Kediri.
Untuk beberapa saat Pangeran Kuda Padmadata telah mengadakan persiapan-persiapan seperlunya. Rumahnya telah diatur sebaik-baiknya. Yang mengalami kerusakan telah diperbaikinya. Sementara para abdi disana itu pun mulai berteka-teki.
“Pangeran Kuda Padmadata akan kawin lagi” berkata seorang hamba di istananya.
“Tentu tidak” sahut yang lain, “jika demikian, bagaimana dengan isterinya itu?”
“Uh. Lagaknya kau tidak tahu apa yang pernah terjadi” desis yang lain.
Kawannya tidak menjawab. Bagaimanapun juga, mereka tidak akan dapat melupakan, apa yang pernah terjadi di istana itu. Meskipun demikian, mereka berusaha untuk tidak menceriterakan kepada siapapun, apa yang sebenarnya telah terjadi. Untunglah bahwa sebagian besar dari mereka, memang tidak mengerti peristiwa itu di dalam keseluruhan, sehingga ceritera yang pernah merembes keluar dinding istana itu pun tidak jelas pula.
Namun adalah satu kenyataan, bahwa setelah peristiwa yang menggetarkan istana itu, isteri Pangeran Kuda Padmadata yang dianggap mempunyai derajad yang memadai itu telah dikembalikan kepada ayahandanya.
Memang ada beberapa orang yang bertanya-tanya di dalam hati. Setelah istana itu dirampok orang, sehingga adik Pangeran Kuda Padmadata itu menjadi korban, kenapa justru puteri itu telah diserahkan kembali kepada ayahandanya.
“Bukan diserahkan” seseorang berusaha menduga-duga tetapi agaknya puteri itu sudah diambil kembali oleh ayahandanya karena kemungkinan buruk yang dapat terjadi di istana itu sepeninggal adik Pangeran Kuda Padma data”
Orang yang lain mengangguk-angguk. Katanya, “Pangeran Kuda Rukmasanti adalah seorang Pangeran yang pilih tanding. Tetapi ia terbunuh. Karena itu, maka mungkin sekali ayahanda puteri itu benar-benar mencemaskan nasib puterinya, sehingga puteri itu telah diambilnya. Telapi untuk menjaga kewibawaan Pangeran Kuda Padmadata, maka dikatakannya, seolah-olah puteri itu telah di kembalikan”
Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi sebenarnyalah banyak ceritera telah terjadi tentang istana Pangeran itu. Bahkan ketika Pangeran Kuda Padmadata untuk beberapa saat lamanya tidak nampak di Kediri pun, timbul pula dugaan-dugaan yang bersimpang siur.
“Pangeran Kuda Padmadata telah membawa pasukan segelar sepapan” berkata orang-orang yang sedang duduk mengaso di pematang sawahnya.
Kawannya segera menyahut, “Itu adalah tugasnya. Ia adalah seorang Pangeran, tetapi juga seorang Senopati pengawal di Kediri. Ia sedang mengejar sekelompok penjahat yang membuat daerah yang jauh dari kota menjadi tidak aman. Banyak korban yang telah jatuh, sehingga Pangeran itu merasa perlu untuk memburunya, dan menumpas mereka sampai kepusat sarangnya”
Demikianlah, ketika semua persiapan sudah selesai, maka Mahisa Agni dan Mahendra telah mendahului Pangeran Kuda Padmadata ke Singasari untuk memberitahukan, bahwa Pangeran Kuda Padmadata akan datang mengambil isteri dan anak laki-lakinya.
Para prajurit Singasari itu pun merasa laga. Dengan demikian mereka merasa terbebas dari satu tanggung jawab yang tidak ringan. Selama isteri Pangeran ilu masih berada di Singasari, maka para prajurit yang diserahi untuk menjaganya, harus selalu berjaga-jaga. Apalagi di malam hari. Mungkin seseorang dengan diam-diam merunduk keselamatan perempuan itu lewat kemungkinan yang tidak terduga sebelumnya.
Tetapi ternyata bahwa berita itu pun segera tersebar di antara para prajurit di Singasari. Bahkan kemudian hal itu telah didengar oleh keluarga para prajurit itu. Karena mereka menganggap bahwa hal itu bukan satu rahasia yang perlu disembunyikan, akhirnya berita itu pun telah tersebar. Seorang Pangeran dari Kediri akan mengambil perempuan yang berada di Singasari, yang ternyata adalah isterinya.
Meskipun berita itu tidak meluas keseluruh kota, dan bukan merupakan berita terpenting pada satu saat, namun berita itu ternyata sampai juga ketelinga seseorang yang berada di Singasari untuk satu tujuan yang khusus.
Orang itu adalah anak buah Macan Wahan yang sedang mencari kemungkinan untuk mendapatkan daerah jelajah yang lebih luas bagi gerombolannya.
“Pangeran Kuda Padmadata dari Kediri akan mengambil isterinya di Singasari” desis orang itu.
“Apa pedulimu” desis kawannya, “yang penting, kita harus mengetahui, apakah ada tempat-tempat yang memungkinkan untuk mencari sumber baru. Ada berapa pedagang barang-barang berharga di Singasari. Mungkin satu dua di antara mereka mempunyai simpanan emas dan permata yang cukup untuk menutup perjalanan kita yang panjang ini”
Tetapi kawannya nampaknya tidak tertarik sama sekali. Ia lebih mementingkan kemungkinan-kemungkinan yang baik bagi gerombolannya. Karena itu, maka katanya, “Nampaknya kau tidak bekerja dengan sungguh-sungguh sehingga perhatianmu ternyata telah terpecah belah. Buat apa kau memperhatikan isteri orang?”
“Orang itu mempunyai sangkut paut dengan Ki Lurah Macan Wahan” desis kawannya.
“Tetapi tidak penting. Yang penting bagi kita, kita harus mengetahui, apakah kita dapat berbuat sesuatu di tempat yang gawat seperti ini. Di tempat yang dibayangi oleh prajurit-prajurit yang pilih tanding. Di tempat yang memiliki sejuta Senapati pilihan” sahut yang lain, “Coba, kau ingat. Sudah berapa kali, kawan-kawan kita, mencoba untuk menembus daerah ini. Tetapi tidak seorang pun yang pernah berhasil. Mereka segan berbuat sesuatu di antara para prajurit dan Senapati yang siap untuk memenggal leher mereka”
Kawannya mengerutkan keningnya. Dan orang itu pun meneruskan kata-katanya, “Kita akan merupakan orang pertama yang akan berhasil di daerah ini”
“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya yang lain.
“Kita adalah pedagang-pedagang kaya yang akan berbicara tentang emas dan permata. Dengan demikian kita akan dapat berhubungan dengan pedagang-pedagang terpenting di Singasari,” sahut kawannya.
Tapi kawannya tertawa kecut, jawabnya, “Kau terlalu bodoh untuk memahami seseorang. Pedagang-pedagang itu sudah saling mengenal dengan baik. Hampir setiap pekan atau bulan mereka saling berhubungan. Jika tiba-tiba datang orang yang sama sekali belum dikenalnya, maka mereka tentu akan meniadi curiga.”
Yang lain mengerutkan kening. Lalu katanya, “Kau benar. Para pedagang itu tentu akan bertanya kepadaku. dari mana asalku dan kenapa tiba-tiba saja aku datang ke Singasari sebagai orang baru di dalam lingkungan mereka”
“Aku mempunyai cara” desis kawannya.
“Apa?”
“Kita bukan pedagang. Tetapi kita adalah orang-orang kaya yang akan membeli perhiasan emas dan permata. Sekali-kali kita memang harus menawar. Kalau terpaksa, kita benar-benar akan membelinya. Narnun kemudian, kita akan mengambil uang kita kembali, dan sekaligus dengan bunganya yang berlimpah-limpah”
Yang lain mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil menepuk pundak kawannya ia berkata, “Kau memang cerdas. Terima kasih. Kita akan memakai cara itu”
“Aku tidak merasa keberatan” jawab kawannya. Namun tiba-tiba, “Tetapi kita pun harus memperhatikan berita tentang Pangeran Kuda Padmadata. Mungkin kita memerlukannya”
“Maksudmu?”
“Sekaligus kita menangkap berita itu. Bagaimana Pangeran itu akan mengambil isterinya”
“Ahhh” desah yang lainnya, “kau selalu memikirkan perempuan itu. Apakah sebenarnya kepentinganmu”
“Bukan apa-apa. Tetapi aku hanya ingin membawa satu ceritera yang menarik buat Ki Lurah Macan Wahan dan tamunya, orang tua yang memiliki kemampuan iblis yang paling garang itu”
Kawannya termangu-mangu sejenak. Tiba-tiba saja ia berkata, “Ya. Aku pun mendengar ia menyebut nama Pangeran Kuda Padmadata. Mungkin ada juga hubungannya dengan keinginannya untuk membangunkan Kediri yang sedang tertidur itu”
“Bagus. Kita akan mencari keterangan tentang kedua-duanya” berkata yang lain.
Demikianlah, maka kedua orang itu pun mulai dengan peranannya sebagai dua orang kaya yang sedang mengadakan perjalanan ke Singasari. Mereka berusaha menghubungi para pedagang. Tetapi mereka pun seolah-olah tidak dengan sengaja, menangkap berita tentang perempuan yang disebut sebagai isteri Pangeran Kuda Padmadata itu.....
Bersambung.... !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar