PANASNYA BUNGA MEKAR : 15-03
Namun dalam pada itu, yang dilakukan oleh Witantra, Mahisa Agni, Ki Wastu dan pemimpin padepokan itu adalah berusaha untuk menenangkan para cantrik yang merasa telah memenangkan pertempuran itu. Mereka mengejar para perampok dan penyamun pengikut Rajawali Penakluk itu dengan senjata teracu. Bahkan kadang-kadang mereka benar-benar telah mengayunkan senjata mereka kearah lawannya yang sedang berusaha untuk melarikan diri itu.
Tetapi Mahisa Agni. Witantra, Ki Wastu dan Pemimpin padepokan itu pun menjadi cemas, bahwa apabila para cantrik itu mengejar lawannya semakin jauh terpisah dari kawan-kawannya, maka jika orang yang dikejarnya itu kemudian berbalik dan melawannya, maka cantrik itu tentu akan mengalami kesulitan.
Karena itulah, maka pemimpin padepokan itu pun segera berlari ke pintu gerbang padepokannya. Setelah pintu gerbang itu terbuka, maka ia pun segera memerintahkan untuk memukul kentongan seperti yang biasa mereka lakukan untuk mengumpulkan para cantrik.
Sejenak kemudian, maka suara kentongan itu pun bergema. Dengan demikian, para cantrik yang sudah menebar tanpa perhitungan itu pun segera menyadari keadaannya. Mereka pun kemudian bergegas untuk berkumpul di halaman luar padepokannya.
Sementara itu, para prajurit, pengawal dan para cantrik termasuk putut-pututnya telah berkumpul. Para prajurit dan pengawal yang dengan sadar menghadapi keadaan terakhir, telah berhasil menawan beberapa orang lawan. Selebihnya mereka yang terluka parah dan tidak mampu lagi melarikan diri akan menjadi tawanan pula. Bahkan akan menjadi beban bagi padepokan kecil itu.
Selintas terbayang kembali peristiwa yang telah terjadi. Di saat para prajurit dan pengawal membawa para tawanan ke Kediri. Tiba-tiba saja mereka telah disergap oleh pasukan yang dipimpin orang yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk.
Tetapi para prajurit dan pengawal itu tidak akan dapat mengambil kesimpulan, bahwa sebaiknya setiap orang yang tertangkap akan dibinasakan saja untuk menghindari persoalan yang pernah terjadi. Namun mereka harus berpegangan kepada martabat kemanusiaan mereka dalam hubungan mereka dengan sesama.
Karena itulah, maka sekali lagi padepokan itu dihuni oleh beberapa orang yang dapat mereka tawan dalam pertempuran yang terjadi di luar dinding padepokan itu. Dalam keadaan terluka maupun yang sama sekali tidak tergores seujung duri pun oleh senjata lawan di medan pertempuran itu.
Demikianlah, maka para prajurit, pengawal dan para cantrik lalu membenahi padepokan yang baru saja dibakar oleh api pertempuran itu. Pertempurah yang bagi Ki Dukut dan para pengikutnya telah sangat mengejutkan. Yang tidak mereka sangka sama sekali telah terjadi. Justru orang-orang dari dalam dinding padepokan, yang mereka sangka sedang menggigil ketakutan itu, telah menyerang mereka dengan tiba-tiba.
Namun dalam pada itu, sekali lagi Ki Dukut Pakering berhasil melepaskan diri. Pada jarak yang cukup jauh, ia masih sempat berusaha mengumpulkan sisa orang-orangnya yang sudah tekoyak dan tercerai berai.
“Kita akan kembali” berkata Ki Dukut, “aku yakin, mereka belum mengetahui tempat kita. Kita akan melakukan segala macam usaha dalam waktu yang sangat singkat” Beberapa orang pengikutnya pun segera dengan tergesa-gesa kembali bersama Ki Dukut. Bahkan beberapa orang yang tercerai berai telah langsung menuju ke persembunyian mereka tanpa menghiraukan orang-orang lain di antara mereka.
“Orang-orang yang tertawan tentu dapat menunjukkan persembunyian kita” berkata Ki Dukut Pakering yang dikenal bergelar Rajawali Penakluk, “karena itu, kita harus segera mengambil langkah. Meskipun aku tahu, mereka tidak akan dengan serta merta menyusul kita, karena sebenarnya kekuatan mereka pun tidak cukup besar untuk melakukannya. Yang mereka lakukan sebenarnya adalah sekedar mengejutkan kita, sehingga kita telah kehilangan pengamatan diri”
Pengikut tidak menjawab. Mereka masih dengan tergesa-gesa kembali ke sarang mereka.
Tetapi seperti yang diperhitungkan oleh Ki Dukut, meskipun orang-orang di padepokan itu berusaha untuk mengetahui sarang orang yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk itu, namun mereka pun tidak dapat dengan serta merta menelusuri jejak lawan mereka. Karena mereka pun harus bertindak dengan hati-hati, dan tidak terjebak oleh perhitungan yang salah seperti yang dilakukan oleh Ki Dukut Pakering.
Karena itu, ketika Ki Dukut yang bergelar Rajawali Penakluk itu sampai ke sarangnya, maka ia masih sempat memerintahkan orang-orangnya untuk bersiap-siap memindahkan sarang mereka dengan segala isinya, ke sarang gerombolan yang lain. Bahkan jika mungkin ke tempat yang baru sama sekali.
Ada beberapa orang yang sebenarnya agak berkeberatan dengan keputusan Rajawali Panakluk itu. Apalagi mereka yang berasal dari gerombolan yang memiliki sarang dan sebagian besar dari barang-barang yang ditimbun di tempat itu. Jika barang-barang itu dipindahkan, mungkin barang-barang itu akan lebur dengan milik gerombolan yang semula berbeda sumbernya.
Tetapi Ki Dukut yang bergelar Rajawali Penakluk itu pun kemudian menjelaskan, “Jika kita bertahan di tempat ini, maka kita akan mengalami kesulitan. Seperti yang aku katakan, bahwa orang-orang kita yang tertawan akan dapat menunjukkan tempat kita. Mungkin setelah mereka berhasil mengumpulkan kekuatan mereka, maka mereka akan datang kemari. Jika mereka datang dengan pasukan yang ada di padepokan itu beserta para cantrik, maka mereka akan binasa di sini. Tetapi jika mereka sempat memanggil beberapa orang prajurit dan pengawal dari Kediri dan Singasari, maka kitalah yang akan binasa. Sementara milik kita akan mereka rampas”
Orang-orang yang semula berkeberatan, akhirnya harus menerimanya pula. Namun mereka berpendapat, bahwa lebih baik mereka mencari tempat yang baru sama sekali.
“Jika kita hanya berpindah tempat dari sarang ini ke sarang yang lain, maka kemungkinan besar, orang-orang itu akan menelusuri jejak kita. Orang-orang yang mereka tawan tentu akan menunjukkan satu demi satu tempat-tempat yang mungkin kita pergunakan sebagai tempat persembunyian. Karena itu, sebaiknya kita mencari tempat yang baru sama sekali. Kita dapat Mempergunakan goa di lereng bukit di tebing-tebing sungai, yang justru dekat dengan air. Atau di tengah hutan yang lebat, sehingga jika kita inginkan binatang buruan, kita tinggal duduk di muka barak sambil menarik busur” berkata salah seorang dari pengikutnya.
Ki Dukut yang bergelar Rajawali Penakluk itu pun mengangguk-angguk. Sebenarnyalah bahwa ia pun mengerti, ada beberapa keberatan bagi salah satu gerombolan yang telah menjadi pengikutnya untuk menggabungkan milik mereka dengan milik gerombolan yang semula terpisah itu.
“Baiklah” berkata Rajawali Penakluk, “masih ada waktu untuk mencari tempat. Aku kira kita mempunyai waktu sekitar dua tiga hari. Orang-orang padepokan itu tentu akan membenahi diri lebih dahulu. Baru kemudian, jika menurut perhitungan mereka, mereka akan dapat mengatasi, mereka akan datang kemari. Tetapi jika mereka tidak yakin untuk melakukannya, maka barulah pada saat lain mereka akan datang bersama orang-orang Kediri dan Singasari”
Orang-orangnya pun mengangguk-angguk. Mereka mengerti sepenuhnya apa yang, dikatakan oleh Ki Dukut yang bergelar Rajawali Penakluk itu. Namun seperti yang dikatakan oleh KiDukut, mereka tidak perlu terlalu tergesa-gesa.
Di hari berikutnya, setelah orang-orangnya berkumpul seluruhnya, termasuk mereka yang terluka tetapi sempat melarikan diri, mulailah Ki Dukut membagi tugas. Beberapa orang yang sama sekali tidak cidera di dalam pertempuran yang baru saja terjadi, telah diperintahkannya untuk mencari tempat yang penting bagi pusat kekuasaannya di antara para perampok dan penyamun itu.
Mereka dipecah menjadi empat kelompok yang akan berjalan ke arah empat mata angin.
“Aku beri kalian waktu empat hari perjalanan berangkat dan kembali” berkata Ki Dukut, “dapat atau tidak dapat, kalian harus kembali pada hari keempat. Dua hari kalian berjalan mencari, dan dua hari kemudian perjalanan kalian kembali. Jarak itu sudah cukup jauh dari tempat ini, sementara menurut perhitunganku, selama empat hari, masih belum terjadi sesuatu di tempat ini”
Meskipun demikian, ketika orang-orang itu telah berangkat ke arah empat mata angin dengan bekal secukupnya, maka Ki Dukut pun telah memerintahkan penjagaan di segala arah pula.
“Kita harus mengawasi keadaan. Kita harus membagi diri selama sehari semalam terus menerus. Mungkin orang-orang gila itu akan menyergap kita, seperti yang dilakukannya tanpa kita duga-duga sebelumnya itu” berkata Rajawali Penakluk itu kepada orang-orangnya.
Demikianlah, maka para pengikut Ki Dukut itu telah membagi tugas dengan cepat. Mereka harus mengawasi setiap arah di setiap saat, agar mereka tidak lagi dapat disergap dengan tiba-tiba. Karena itu, maka para pengawas itu pun telah dilengkapi dengan alat dan tanda-tanda untuk mengirimkan isyarat. Mereka membawa panah api atau panah sendaren. Tetapi mereka pun telah membawa kentongan pula.
Dalam pada itu, Ki Dukut sendiri menjadi semakin berprihatin mengalami kegagalan yang langsung terjadi di depan hidungnya. Kepercayaannya kepada para perampok dan penyamun pun telah hampir lenyap sama sekali. Para perampok yeng kasar itu ternyata tidak banyak dapat membantunya. Mereka masih belum memiliki kemampuan yang memadai, jika mereka berhadapan dengan prajurit Singasari dan apalagi dengan para Senapatinya.
Prihatin dan dendam yang bercampur baur di dalam dirinya, telah mendorongnya untuk mencari jalan lain. Meskipun ia tidak melepaskan para perampok dan penyamun itu, namun ia mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang lain. Jika saja ia menempuh satu perjalanan panjang, menemui orang-orang yang dikenalnya meskipun dari golongan hitam sekalipun.
“Apa boleh buat” geramnya, “dendamku tidak akan dapat lenyap sebelum aku masih sempat merenunginya. Dendam itu akan hilang bersama pecatnya nyawaku, atau sasaran dendam itu sendiri”
Dalam pada itu, maka di padepokan kecil, yang telah ditinggalkan oleh Ki Dukut dan pengikutnya, yang telah mengalami sergapan yang tiba-tiba, sedang sibuk membenahi keadaan padepokan itu. Ternyata bahwa di antara para prajurit dan pengawal, ada juga yang terluka. Bahkan terluka parah. Sementara para cantrik pun tidak dapat, menghindarkan korban. Yang terluka parah dan bahkan ada dua orang cantrik yang telah gugur selama pertempuran itu. Yang ternyata jumlahnya jauh lebih sedikit dari jumlah para perampok dan penyamun yang dengan tiba-tiba telah disergap sebelum mereka bersiap untuk melawan.
Dengan demikian maka peristiwanya bagaikan terulang kembali. Mereka yang tidak cidera apapun juga segera tenggelam dalam kesibukan mengurus kawan-kawannya yang terluka dan yang telah gugur.
Namun dalam pada itu, ternyata bahwa Ki Dukut Pakering adalah orang yang memang sangat berbahaya. Ia sama sekali tidak menghiraukan, apakah yang bakal terjadi atas diri orang-orang yang telah dipergunakan olehnya.
Sementara itu, orang-orang yang telah dikirim oleh Ki Dukut untuk mencari tempat persembunyian yang baru, telah berusaha sejauh dapat mereka lakukan Yang pergi kesebelan Barat, telah menemukan satu tempat yang bagus sekali di lereng bukit, di tengah-tengah hutan. Pada lereng itu terdapat dataran yang cukup luas bagi sebuah padepokan kecil.
Tempat itu akan dapat dibangun menjadi tempat persembunyian Rajawali Penakluk. Bukan saja untuk sementara, tetapi untuk waktu yang panjang.
Untuk memenuhi waktu yang diberikan, orang itu masih melanjutkan sisa waktunya yang tinggal sedikit. Tetapi ia tidak menemukan tempat yang lebih baik dari tempat yang telah ditemukannya.
“Tempat itu cukup terlindung” katanya di dalam hati, “namun cukup menyenangkan. Di lereng bukit itu dapat dibuat tangga untuk memanjat sampai ke dataran itu. Namun dapat juga dibuat tangga untuk turun dari atas bukit itu”
Dalam pada itu, pada saatnya mereka kembali, maka mereka pun kembali dengan keyakinan, bahwa tempat yang diketemukannya adalah tempat yang paling baik.
Sementara itu, yang pergi ke Selatan, telah menemukan sebuah bukit kecil. Tidak mudah untuk memanjat. Di beberapa bagian terdapat lereng-lereng terjal. Namun dengan sedikit ketekunan, akan dapat dibuat tangga yang bersusun beberapa tingkat mendaki sampai kepuncak. Di puncak bukit itu terdapat sebuah dataran yang tidak terlalu luas, yang nampaknya akan dapat ditanami dengan beberapa jenis pepohonan. Yang lebih meyakinkan bagi mereka adalah sebuah mata air yang cukup besar dan jernih.
“Rajawali Penakluk itu tentu akan berkenan di hati” berkata orang itu.
Karena itulah, maka mereka pun dengan tergesa-gesa telah kembali. Mereka berpendapat, bahwa semakin cepat mereka meninggalkan sarang mereka yang lama, akan menjadi semakin baik.
Yang pergi kearah Timur, telah menemukan sebuah belumbang dicelah-celah lereng yang terjal. Memang agak sulit untuk mencapai tempat itu. Tetapi tempat yang agak. tersembunyi itu akan memberikan perlindungan yang mapan. Untuk mencapai tempat itu, seolah-olah telah dibuat dua buah pintu ke dua arah yang berlawanan. Dalam keadaan bahaya, maka kedua pintu itu akan dapat ditutup. Tetapi jika perlu,, maka satu pintu akan dapat dijadikan pintu rahasia untuk melarikan diri apabila tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh.
“Tidak ada tempat yang lebih tenang dan aman dari tempat ini” berkata orang-orang yang menemukannya, “sementara itu belumbang itu akan memberikan lauk yang tidak akan ada habisnya”
Sementara mereka menghabiskan waktunya di tempat itu, ternyata mereka sempat menangkap ikan belumbang yang tersembunyi itu. Belumbang yang tidak pernah dijamah oleh tangan manusia. Namun dalam pada itu, di belumbang itu terdapat ikan yang tidak terhitung jumlahnya dari segala macam jenis ikan air tawar.
“Seluruh permukaan bumi, tidak ada pilihan yang akan melampaui tempat ini” berkata orang-orang yang nenemukannya itu diantara mereka.
Karena itu, maka pada saatnya mereka telah kembali dengan bangga, karena mereka menganggap, bahwa pilihan Rajawali Penakluk tentu akan jatuh kepada penemuan mereka.
Kelompok yang keempat adalah mereka yang pergi ke arah Utara. Semula kelompok ini merasa ragu-ragu, apakah mereka akan dapat menemukan tempat yang baik, karena mereka berjalan di sebuah padang rumput. Sejenak kemudian mereka memasuki hutan perdu yang kering, sehingga tempat itu tidak mungkin akan dapat dijadikan persembunyian yang baik.
Namun akhirnya, mereka sampai kesebuah sungai, sungai yang nampaknya tidak terlampau besar, tetapi juga tidak terlampau kecil.
“Marilah, kita selusuri sungai ini” berkata pemimpin kelompok itu.
Adalah diluar dugaan mereka, bahwa akhirnya meeka menemukan sebuah goa di lereng sebuah bukit di pinggir sungai itu. Di muka goa itu terdapat sebuah halaman yang ukup luas.
Penemuan itu ternyata telah membuat mereka berbangga. Mereka yakin, tidak ada tempat yang lebih baik ari penemuan mereka itu. Tempat yang tersembunyi, memadai dan di hadapannya air mengalir tanpa kering di musim kemarau.
Demikianlah maka orang-orang yang bertugas untuk menemukan tempat terbaik itu, berusaha kembali tepat pada waktu yang telah disediakan oleh pimpinan mereka, Rajawali Penakluk yang bagi mereka merupakan orang ajaib yang tidak ada bandingnya.
Jika pada suatu saat Rajawali Penakluk itu harus menghindar dari medan pertempuran, itu karena ia mempunyai pertimbangan-pertimbangan tersendiri yang tidak dapat dimengerti oleh pengikut-pengikutnya.
Namun, ketika orang-orang yang merasa dirinya berjasa itu kembali ke tempat mereka yang akan mereka tinggalkan, mereka menjadi kecewa. Dari orang yang dianggap tertua di antara mereka, orang-orang itu mendapat keterangan, bahwa Rajawali Penakluk itu telah pergi meninggalkan mereka.
“Jangan bergurau” berkata salah seorang dari mereka yang menemukan lembah dengan belumbang yang panuh dengan ikan air tawar.
“Aku tidak bergurau. Sebenarnyalah bahwa Rajawali Penakluk sudah pergi” jawab orang tertua itu.
“Gila. Apakah maksudnya? Apakah ia tidak percaya lagi kepada kami dan mencari tempat itu sendiri?” bertanya yang lain.
“Tidak” jawab orang tertua itu, “ia sama sekali tidak berpesan tentang tempat. Bahkan ia berkata, agar kita menentukan tempat itu menurut pendapat dan pertimbangan kita bersama”
“Jadi apa maksudnya?” bertanya yang lain tidak sabar.
“Ia telah pergi untuk waktu yang tidak ditentukan. Bukan karena ia takut menghadapi pasukan Singasari atau Kediri, tetapi ia merasa wajib untuk melakukan sesuatu karena dendamnya masih belum dapat ditumpahkannya” jawab orang tertua itu.
“Aku menjadi bingung” potong salah seorang dari mereka yang menemukan goa di lereng pinggir sungai itu, “apa maksudnya sebenarnya”
“Rajawali Penakluk nampak menjadi sangat gelisah, Tiba-tiba saja ia memanggil kami dan berpesan, agar kami menentukan tempat itu tanpa menunggunya” jawab orang tertua itu.
“Jika ia kembali?” bertanya yang lain.
“Ia akan mencarinya. Dan aku pun yakin, hal itu tidak akan merupakan kesulitan baginya” jawab, orang tertua itu.
Sejenak suasana menjadi tegang. Namun tiba-tiba orang yang menganggap sebuah lereng yang dilindungi oleh hutan itu tempat terbaik, berkata lantang, “Kita pindahkan semuanya ke tempat yang telah aku ketemukan. Tempat yang tidak ada duanya didunia ini”
“Omong kosong” berkata seorang yang lain, “aku menemukan sebuah bukit yang paling pantas kita pergunakan sebagai padepokan kita. Bukit yang mempunyai sebuah dataran yang rata dan subur, karena di atas bukit itu terdapat sebuah mata air”
Tetapi yang lain memotong kata-kata itu. Mereka berusaha untuk menjelaskan penemuan mereka masing-masing. Mereka menganggap bahwa yang mereka ketemukan masing-masing adalah tempat yang paling baik bagi mereka.
Karena itu, maka mereka tidak segera menemukan kesepakatan. Masing-masing berusaha bertahan. Sehingga akhirnya seseorang yang bertubuh tinggi, kekar dan berwajah kasar berteriak, “Persetan dengan semuanya itu. Aku akan kembali ke kelompokku semula. Aku akan melakukan pekerjaanku seperti yang selalu aku lakukan. Aku tidak peduli lagi dengan tempat-tempat yang tidak dikenal itu. Tetapi, karena aku sudah berada di tempat ini, maka aku akan pergi dengan membawa bekal secukupnya”
“Persetan” seorang bertubuh tinggi dan berkumis lebat menyahut, “bekal apa yang dapat kau bawa? Yang ada di sini adalah milik kelompok kami. Kalian datang untuk mengikuti perintah Rajawali Penakluk. Bukan untuk mendapat warisan dari kelompok kami”
“Semua yang ada di sini harus dipindahkan” tiba-tiba seorang bertubuh kecil berteriak melengking, “kalian jangan gila. Semuanya harus dibawa kesuatu tempat yang tidak dikenal, karena semua yang ada disini akan dapat dirampas oleh orang-orang Singasari dan orang-orang Kediri jika pada suatu saat mereka datang kemari”
“Biarlah kami sendiri yang memindahkannya” geram orang bertubuh tinggi itu, “Persetan. Persetan. Kami akan kembali ke tempat kami. Tetapi barang-barang ini lebih baik kita bagi” teriak orang bertubuh gemuk, “apapun yang kalian katakan, kami sudah berada di sini”
Tetapi orang bertubuh tinggi itu pun segera meloncat memisahkan diri. Sementara orang-orang yang sekelompok dengan orang itu pun segera berloncatan pula. Karena tempat itu adalah tempat mereka, maka jumlah merekalah yang terbanyak. Tetapi agaknya orang-orang yang berada di tempat itu, yang terdiri dari beberapa kelompok itu, jumlahnya masih lebih banyak lagi apabila mereka akan bergabung.
Namun dalam pada itu, orang tertua itu pun berdiri pula sambil berkata, “Kalian sudah gila. Kalian sudah dijangkiti oleh kegilaan kalian yang lama. He, apa kalian mengira bahwa Rajawali Penakluk itu tidak akan kembali sama sekali? Jika ia mendengar apa yang telah kalian lakukan disini, maka ia tentu akan marah. Meskipun kalian merasa, bahwa daam satu kelompok kalian akan dapat melawannya, tetapi kalian harus memikirkan, apakah jadinya, jika kalian seorang demi seorang akan mati tanpa diketahui sebabnya, Kapan dan dimana. Karena Rajawali itu akan dapat berbuat sesuatu diluar kemampuan nalar kita”
Kata-kata orang tertua itu ternyata telah menyentuh perasaan orang-orang kasar itu. Bagaimanapun juga mereka masih juga dijalari oleh perasaan takut dan ngeri. Mereka mengakui, bahwa Rajawali Penakluk memang orang yang luar biasa. Ia dapat berbuat sesuatu yang sama sekali tidak pernah mereka bayangkan.
Karena itu, maka oreng bertubuh tinggi itu pun bertanya, “Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan”
“Seperti yang dipesankan oleh Rajawali Penakluk itu”
“Berpindah tempat?” bertanya orang yang bertubuh gemuk.
“Kita akan memilih salah satu dari keempat tempat yang nampaknya sama-sama baik. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangannya” jawab orang tertua itu.
“Jadi, yang manakah yang akan kita pilih” bertanya orang bertubuh tinggi.
Orang tertua itu termangu-mangu sejenak. Namun ke mudian katanya, “Kita akan membicarakan bersama”
Tetapi karena kita masing-masing belum melihatnya, kecuali yang menemukannya, maka memang sulit bagi kita untuk membuat perbandingan. Yang sudah melihatpun, baru melihat satu dari yang empat”
“Kau sajalah yang menentukan” berkata seorang yang bertubuh tinggi kekar dan berwajah kasar.
“Ya, kau sajalah” sahut yeng bertubuh tinggi. Beberapa orang pun sepakat untuk memberi kesempatan kepada orang itu untuk memilih tempat. Tetapi orang itu pun kemudian berkata, “Sulit bagiku untuk memilih. Marilah, kita akan mengadakan pilihan sesuai dengan keinginan kalian. Aku akan menyebut satu demi satu tempat yang sudah kita dengar sesuai dengan laporan mereka yang menemukannya. Kalianlah yeng akan memilih. Yang berkenan di hati kalian atau sebagian dari kalian, maka orang itu harus menyatakannya. Kita akan menghitung. Jumlah yang paling banyaklah yang akan kita taati. Dengan demikian kita tidak akan saling menyalahkan apabila ternyata pilihan itu salah. Tetapi satu hal yang harus kita lakukan, kita harus meninggalkan tempat ini”
Orang-orang yang berkumpul itu mengangguk-angguk. Mereka semuanya belum melihat tempat yang akan mereka bicarakan. Karena itu, semuanya hanya berdasarkan pada bayangan dan angan-angan, sesuai dengan pendengaran mereka dari penjelasan masing-masing kelompok yang menemukan tempat-tempat itu.
Sejenak kemudian, orang tertua itu sudah mulai. Disebutnya satu demi satu. Dan dihitungnya jumlah orang yang menyatakan perasaannya dan tanggapannya atas tempat-tempat yang disebutnya.
Setelah semuanya menyatakan pendapatnya, dan dari hasil pernyataan itu, maka orang tertua itu berhasil menentukan tempat ke mana mereka harus pindah.
“Kita akan memindahkan sarang ini ke sebuan lembah yang diapit oleh lereng yang tinggi, yang hanya mempunyai dua pintu di ujung dan ujung. Tetapi kita akan mempunyai sebuah belumbang yang akan sangat penting artinya. Bukan karena ikan tawarnya, tetapi air itu agaknya memang tidak akan dapat dipisahkan dari kehidupan kita”
Demikianlah, maka telah menjadi Keputusan mereka, bahwa sarang mereka akan mereka pindahkan ke tempat yang baru, yang terlindung dari kemungkinan pelacakan jejak oleh para prajurit Singasari atau oleh para pengawal di Kediri.
Tetapi ternyata bahwa tidak semua orang akan ikut serta menempati tempat tinggal mereka yang baru. Yang terutama akan tinggal di tempat itu adalah kelompok yang berada di sarang mereka yang mungkin sekali akan menjadi pusat perhatian para prajurit dan pengawal, karena untuk terakhir kalinya Rajawali Penakluk berada di tempat itu, dan mempergunakan tempat itu sebagai tempat untuk memberikan perintah terakhir dalam perlawanannya terhadap prajurit Singasari dan para pengawal Kediri.
“Kami akan kembali ke dalam kelompok kami” berkata beberapa orang di antara mereka.
“Kami datang bersama banyak orang. Tetapi kami akan kembali dalam jumlah yang susut hampir separo” berkata yang lain.
“Tetapi kalian tidak akan dapat memisahkan diri” berkata orang tertua, “pada satu saat Rajawali Penakluk itu akan datang. Mungkin ia akan memerlukan kalian, seningga kalian akan dipanggil. Mungkin kalian, tetapi mungkin orang-orang baru dari kelompok kalian masing-masing”
Tidak ada yang akan dapat ingkar. Semua orang hanya dapat mengangguk-angguk kecil.
Demikianlah, maka pada satu malam yang ditentukan, seisi sarang yang sebenarnya sudah cukup tersembunyi itu telah berpindah tempat. Mereka membawa apa saja yag ada di dalam simpanan mereka. Hasil dalam malam-malam perampokan dan saat-saat mereka menyamun di bulak-bulak panjang.
Namun setelah semuanya itu disimpan dalam tempat mereka yang baru. dalam barak-barak yang mereka dirikan dengan tergesa-gesa, maka sebagian dari orang-orang itu telah kembali ke kelompok masing-masing.
“Jika Rajawali Penakluk datang kepada kelompok kalian masing-masing, maka kalian akan dapat menunjukkan, di mana kami menunggu” berkata orang tertua.
“Tetapi mungkin pula pada suatu saat, sarang kamilah yang akan didatangi oleh prajurit-prajurit Singasari” berkata orang berwajah kasar dan bertubuh tinggi tegap.
“Kemungkinan itu memang ada, tetapi kecil sekali. Mungkin kawanmu yang tertangkap akan dipaksa untuk menyebut tempatnya. Tetapi aku kira perhatian utama adalah tempat tinggal Rajawali Penakluk itu sendiri” jawab orang tertua.
Orang berwajah kasar itu mengangguk-angguk. Namun orang tertua itu berpesan, “Meskipun demikian, kalian jangan meninggalkan kewaspadaan”
Demikianlah, orang-orang yang berasal dari kelompok-kelompok lain telah kembali. Namun mereka masih tetap menunggu kedatangan Rajawali Penakluk.
Dalam pada itu, di padepokan kecil yang baru saja berhasil mengusir orang-orang yang mengepung padepokan mereka, masih saja selalu sibuk dengan orang-orang mereka yang terluka. Suasana suram masih meliputi padepokan itu, karena terpaksa melepaskan beberapa orang cantrik yang tidak dapat tertolong lagi. Sementara itu, mereka masih harus mengurus orang-orang yang dapat mereka tangkap. Tetapi juga mereka yang tidak dapat lagi meninggalkan medan karena luka-luka yang parah.
Ada semacam dendam di hati para cantrik. Jika mereka harus melepaskan dua tiga orang kawan mereka yang gugur, alangkah pedih hati mereka, bahwa mereka harus mengobati lawan mereka yang luka parah.
“Kenapa mereka tidak dibiarkan saja mati seperti kawan-kawanku itu” berkata para cantrik di dalam hatinya.
Namun mereka pun mendapat ajaran dari pemimpin padepokan mereka, bahwa tidak seharusnya mereka dengan sengaja membiarkannyawa seseqrang hilang selagi masih ada kesempatan untuk menolongnya, siapa pun mereka, “Peperangan adalah salah satu ujud betapa manusia ini mempunyai tabiat aneh” berkata pemimpin padepokan itu.
Karena itu, maka para cantrik itu pun telah berbuat seperti yang diajarkan oleh pemimpin padepokan mereka. Betapa anehnya perasaan mereka, namun mereka berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya atas orang-orang yang terluka dan para tawanan dalam keseluruhan.
Namun dalam pada itu, Mahisa Agni, Witantra dan Ki Wastu telah bersepakat untuk tidak dengan tergesa-gesa meninggalkan padepokan itu. Masih banyak kemungkinan dapat terjadi. Dendam yang menyala di hati Rajawali Penakluk, yang ternyata adalah Ki Dukut Pakering itu tentu bagaikan api yang disiram minyak. Kegagalan-kegagalan yang dialaminya rasa-rasanya tidak tertanggungkan lagi.
Karena itu, maka Mahisa Agni, Witantra dan Ki Wastu masih merasa wajib untuk melindungi padepokan kecil itu.
Namun dalam pada itu, terhadap orang-orang yang dapat ditawannya Mahisa Agni telah berhasil mengetahui dimanakah sarang orang yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk itu. Dari mereka yang tertawan Mahisa Agni mendapat gambaran, bagaimana Rajawali Penakluk itu mendapatkan banyak pengikut. Namun yang ternyata tidak dapat memenuhi harapannya. Orang-orang yang di angkatnya dari daerah hitam itu tidak berhasil dibentuk untuk memenuhi keinginannya. Adalah justru karena mereka harus berhadapan dengan beberapa orang prajurit Singasari dan Kediri.
Pada suatu saat, kita akan mencarinya” berkata Mahisa Agni.
“Kita harus membuat perhitungan yang mapan” berkata Witantra, “kita sudah mengenal, bahwa orang yang semula mempunyai nama yang agung itu. kini telah berubah sama sekali, ia tidak lebih dari seorang yang licik dan tidak mempunyai harga diri”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Dengan nada dalam ia berkata, “Orang tua itu hampir menjadi putus asa. Itulah sebabnya, maka perubahan-perubahan itu terjadi demikian cepat pada dirinya”
“Ia akan menjadi orang yang sangat berbahaya” desis Ki Wastu.
“Benar” sahut Witantra, “dalam keputusasaan, ia akan dapat berbuat apa saja, yang kadang-kadang tidak dapat dimengertinya sendiri”
“Tetapi untuk beberapa saat, ia tentu tidak akan bergerak lagi” berkata Ki Wastu, “ia sudah kehilangan banyak pengikutnya. Ia memerlukan waktu untuk membentuk satu pasukan yang dianggapnya cukup kuat”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Tetapi ia kemudian bergumam, “Mungkin ia akan berbuat demikian. Tetapi selama ia menyiapkan satu pasukan yang cukup kuat menurut perhitungannya, maka ia dapat berbuat apa saja di antara lingkungan hidup yang kemudian dibencinya”
Witantra dan Ki Wastu mengangguk-angguk. Bagi mereka sendiri, mungkin Ki Dukut yang putus asa itu tidak akan berbahaya. Mereka masing-masing akan dapat menolong diri mereka sendiri, jika mereka pada satu saat bertemu dengan Ki Dukut dimanapun. Tetapi ada lingkungan lain yang akan dapat menjadi sasaran dendamnya, meskipun lingkungan itu sama sekali tidak mengerti ujung-dan pangkalnya.
“Orang itu harus dapat dibatasi geraknya” desis Mahisa Agni tiba-tiba.
“Lebih baik jika kita dapat menangkapnya” sahut Ki Wastu.
“Sulit sekali” sahut Witantra, “betapapun orang itu kehilangan harga dirinya, maka untuk menangkapnya tentu akan mengalami kesulitan. Orang itu tentu akan memilih melarikan diri atau mati, daripada harus tertangkap hidup-hidup”
“Apa boleh buat” tiba-tiba saja Ki Wastu berdesis lambat.
Mahisa Agni dan Witantra menarik nafas dalam-lalam. Mereka mengerti arti kata-kata itu. Memang tidak da pilihan lain. Apalagi bagi Ki Wastu yang tentu saja nasih terasa betapa pedihnya peristiwa yang menimpa anak perempuannya, justru karena sikap Ki Dukut Pakering. Hampir saja anak dan cucunya menjadi korban dengki dan ketamakannya.
Nampaknya sikap itulah yang akan diambil menghadapi Ki Dukut Pakering. Perburuan di padang yang sangat luas dan samar akan segera dilanjutkan, meskipun tidak dalam waktu yang terlalu pendek, karena rasa-rasanya nasih belum sampai hati meninggalkan padepokan yang nenjadi sasaran Ki Dukut Pakering yang bergelar Rajawali Penakluk itu.
Karena itulah, selain untuk melindungi langsung, maka Mahisa Agni pun memerintahkan para prajurit untuk memberikan latihan olah kanuragan kepada para cantrik.
Tetapi Mahisa Agni tidak dapat berada untuk waktu yang tidak terbatas di padepokan itu. Ia pun harus berbuat sesuatu dalam perburuan yang harus dilakukannya.
Karena itu, maka Mahisa Agni pun segera mengatur diri. Ia harus segera menghubungi Pangeran Kuda Padmadata di Kediri agar rencana perburuan itu segera dapat dilanjutkan.
Akhirnya Mahisa Agni memutuskan untuk pergi ke Kediri bersama Witantra dan tidak lebih dari dua orang pengawal. Mereka harus dapat berhubungan dengan orang yang telah mendahului mereka ke Kediri. Segalanya akan diatur kemudian apabila Mahisa Agni telah bertemu dengan Pangeran Kuda Padmadata.
Mahisa Agni tidak menunggu lebih lama. Meskipun kemungkinan yang pahit dapat terjadi di perjalanan, namun tidak ada pilihan lain yang dapat dilakukannya. Sementara Ki Wastu akan tetap berada di padepokan itu bersama beberapa orang prajurit dan Pengawal.
“Menurut perhitunganku, satu-satunya orang orang yang harus diperhitungkan adalah Ki Dukut Pakering itu seorang diri saja. Karena itu, kehadiran Ki Wastu di padepokan itu. akan dapat akan dapat melawan Ki Dukut pakering, apabila orang itu akan datang kembali.
Demikianlah, pada hari yang ditentukan Mahisa Agni dan Witantra sudah meninggalkan padepokan itu. Dengan laju mereka berkuda menuju Kediri. Bagaimanapun juga, mereka harus bersiap menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi di sepanjang jalan.
Namun ternyata bahwa perjalanan mereka sama sekali tidak terganggu. Mereka sampai di Kediri dengan selamat.
Ternyata bahwa di Kediri, Pangeran Kuda Padmadata pun telah menyiapkan sepasukan pengawal. Tidak terlalu banyak, tetapi mereka adalah orang-orang pilihan yang akan dilibatkan dalam perburuan di padang yang sangati luas.
“Ayah masih akan ikut serta” berkata Mahisa Bungalan kepada Mahisa Agni.
“Baiklah, Bagaimana dengan adik-adikmu?” bertanya Mahisa Agni.
“Mereka tidak mau ditinggalkan. Sebenarnya ayah ingin mengantar mereka kembali ke Singasari. Tetapi mereka lebih senang ikut dalam perburuan ini” jawab Mahisa Bungalan yang seolah-olah merasa tidak sabar lagi.
Ketika Mahisa Agni bertemu dengan Mahendra yang masih sempat mengurusi barang-barang dagangannya di Kediri, maka katanya. Kau masih sempat mempergunakan setiap waktu yang bagimu sangat berharga”
Mahendra tertawa. Katanya, “Aku tidak dapat duduk terkantuk-kantuk saja di Kediri. Aku mempunyai beberapa orang yang dapat bekerja bersama dengan aku disini. Hubungan kami sudah lama. jika aku datang ke Kediri dengan jenis-jenis batu akik dan wesi aji, maka orang-orang itulah yang aku hubungi mula-mula.
“Itu adalah ujud dari seorang pedagang yang sebenarnya desis Mahisa Bungalan.
Mahisa Agni pun tersenyum. Sementara Mahendra berkata, “Aku memang sudah terbiasa menggunakan setiap waktu yang terluang. Ah, apakah salahnya jika aku memanfaatkan waktu yang berlebihan disini?”
Mahisa Agni pun menjawab, “Tentu tidak ada salahnya. Agaknya Mahisa Bungalan sama sekali tidak mewarisi sifat-sifat seorang pedagang”
“Ya” jawab Mahendra, “mudah-mudahan adik-adiknya kelak dapat membantu aku”
Mahisa Bungalan sama sekali tidak menyahut. Ia tidak tertarik untuk berbicara tentang jual beli batu akik dan wesi aji. Ia lebih tertarik berbicara tentang Ki Dukut Pakering yang hilang dari pengamatan mereka. Yang mungkin telah keluar dari medan yang diduga sebelumnya oleh mereka yang memburunya.
Demikianlah, pada akhirnya Mahisa Agni, Witantra, Mahendra telah berbicara dengan Mahisa Bungalan dan pangeran Kuda Padmadata tentang perburuan yang akan mereka teruskan. Mereka bersepakat untuk bertemu lebih dahulu dengan Ki Wastu dan para prajurit serta pengawal yang mereka tinggalkan. Mereka akan mempergunakan segala macam petunjuk dan keterangan dari orang-orang yang dapat mereka tawan untuk mencari jejak Ki Dukut Pakering yang bergelar Rajawali Penakluk itu.
Seperti yang dikatakan oleh Mahisa Bungalan, ternyata kedua adiknya tidak mau ketinggalan. Mereka telah ikut pula bersama ayahnya kembali ke padepokan kecil yang menjadi sasaran pertama dari serangan Ki Dukut Pakering. Dari sanalah perburuan itu akan diatur lebih jauh.
Kehadiran kembali Pangeran Kuda Padmadata telah memberikan kegembiraan bagi para prajurit dan pengawal. Mereka merasa kawan-kawan mereka lebih banyak sehingga mereka akan dapat bergantian mengawasi orang-orang yang tertawan.
Sebenarnya Mahisa Bungalan rasa-rasanya sudah tidak sabar lagi. Ialah yang bergerak lebih, cepat dari orang-orang yang dianggapnya sudah terlalu lamban karena umur mereka yang semakin tua.
Kepada para tawanan Mahisa Bungalan mendapat keterengan dimana Ki Dukut bersembunyi dan mengatur pasukannya.
“Besok aku akan pergi” berkata Mahisa Bungalan.
Orang-orang yang dianggapnya terlalu tua dan lamban itu tidak dapat mencegah. Bersama dengan Pangeran Kuda Padmadata ia telah menyiapkan pasukannya untuk pergi ke tempat persembunyian Ki Dukut Pakering.
“Jangan hanya berdua” berkata Witantra, yang kemudian menyatakan diri untuk ikut bersama kedua anak-anak muda yang ingin dengan segera menemukan tempat Ki Dukut mengatur pasukannya.
Ketika matahari terbit dipagi hari berikutnya, maka Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Padmadata telah bersiap untuk berangkat. Di antara mereka terdapat Witantra yang tidak sampai hati melepas keduanya menghadapi Ki Dukut.
Mahisa Agni hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Mahendra pun tidak akan dapat menundanya. Sehingga karena itu, maka Mahisa Agni, Mahendra, Ki Wastu dan kedua adik Mahisa Bungalan itu melepas pasukan itu sampai kedepan regol padepokan. Pemimpin padepokan itu bersama para putut dan cantrik pun mengantar mereka sampai di luar regol.
“Mudah-mudahan mereka berhasil” desis pemimpin padepokan itu. Dengan demikian, maka ia tidak akan selalu dibayangi oleh kemungkinan-kemungkinan yang pahit jika Ki Dukut datang, kepada mereka.
Mahisa Bungalan dan Pangeran Kuda Padmadata yang tidak sabar lagi itu pun langsung membawa pasukannya sesuai dengan petunjuk orang-orang yang telah tertawan. Di antara pasukan itu terdapat dua orang dari mereka. Orang itu harus menunjukkan, dimanakah tempat Ki Dukut bersembunyi.
“Jangan mencoba mengelabui kami” berkata Mahisa Bungalan kepada kedua orang itu.
Kedua orang itu tidak menjawab. Namun mereka selalu dibayangi oleh kecemasan. Mereka tidak tahu, apa yang akan terjadi setelah pasukan itu sampai ke tempat Ki Dukut yang mereka kenal bergelar Rajawali Penakluk itu tinggal.
“Pasukan Rajawali Penakluk itu pun cukup banyak” berkata orang-orang itu di dalam hatinya. Tetapi mereka pun mengakui, bahwa para prajurit itu memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari kawan-kawannya. Meskipun kawan-kawannya berjumlah lebih banyak, namun agaknya mereka tidak akan dapat melawan sepasukan prajurit dan pengawal yang dipimpin langsung oleh Pangeran Kuda Padmadata itu.
“Apakah yang aku lakukan ini bukan pengkhianatan” pertanyaan itu timbul pula di hati orang-orang yang tertawan itu. Namun ternyata mereka memilih untuk melakukan perintah para prajurit daripada mereka harus mengalami perlakuan yang mendebarkan jantung.
Dalam pada itu, perjalanan pasukan itu semakin lama menjadi semakin dekat. Mereka beristirahat sejenak ketika matahari bagaikan membakar kulit setelah melampaui puncaknya. Namun mereka tidak menghiraukan lagi keringat yang bagaikan terperas dari tubuh mereka.
“Apakah kita akan mendekati sarang mereka esok pagi?” bertanya Witantra.
“Sekarang” jawab Mahisa Bungalan.
“Ya, sekarang” desis Pangeran Kuda Padmadata.
“Menjelang gelap?” bertanya Witantra pula.
“Apa salahnya? Kita akan bertempur malam hari” sahut Pangeran Kuda Padmadata.
Witantra mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Aku sendiri tidak keberatan. Aku mampu bertempur tiga hari tiga malam demikian aku sampai diserang mereka. Tetapi entahlah dengan anak-anak itu”
Pangeran Kuda Padmadata dan Mahisa Bungalan tertegun, mereka mengerti maksud Witantra yang melanjutkan, “Tenaga mereka telah terperas di perjalanan yang terik. Mereka mendaki tebing dan menuruni jurang. Kalian dapat saja memaksa mereka untuk bertempur. Tetapi aku tidak yakin, bahwa mereka masih memiliki tiga perempat dari kemampuan mereka”
Mahisa Bungalan menarik nafas panjang. Sambil menatap Pangeran Kuda Padmadata itu berkata, “Apakah kita akan mulai dengan besok pagi-pagi benar Pangeran?”
Pangeran Kuda Padmadata mengangguk. Jawabnya, “Baiklah. Malam ini kita beristirahat di depan sarang mereka, tetapi jangan terjadi seperti yang kita dengar dan mereka yang bernasil menyergap lawan mereka justru sedang menunggui mereka di depan padepokan”
“Kita akan sempat melihat-lihat, apakah yang sebenarnya kita hadapi” berkata Witantra.
Dengan demikian, maka ketika mereka mendekati sarang Ki Dukut yang bergelar Rajawali Penakluk itu, maka pasukan itu pun segera menebar. Mereka tidak mau kehilangan lawan mereka. Karena itu, mereka pun mengawasi sarang itu dari segala arah.
Namun, menjelang senja, mereka masih sempat melihat, bahwa sarang itu nampaknya terlampau sepi. Mereka tidak melihat tanda-tanda apapun di muka barak yang terlindung bukit-bukit kecil. Namun yang justru dapat dilihat jelas dari bukit-bukit itu.
“Sepi sekali” desis Mahisa Bungalan.
“Ya. Tetapi apakah memang demikian” sahut Pangeran Kuda Padmadata yang mengawasi tempat itu dari atas bukit kecil.
“Kita panggil kedua orang itu” gumam Witantra hampir kepada diri sendiri.
Mahisa Bungalan pun kemudian memerintahkan memanggil kedua orang tawanan yang mereka bawa bersama pasukan itu. Dengan hati-hati keduanya pun mendekati Mahisa Bungalan. Namun seperti orang-orang lain, ia pun merasa bahwa barak itu terlampau sepi.
“Biasanya tidak demikian” berkata kedua orang itu, “Apakah kau ingin menjebak kami?” geram Mahisa Bungalan.
“Tidak. Sama sekali tidak. Aku mengatakan yang benarnya. Barak itu tidak seperti biasanya”
Mahisa Bungalan yang tidak sabar lagi itu pun berata, “Marilah. Kita akan melihat”
“Berhati-hatilah” berkata Witantra, “siapkan pasukanmu. Beberapa orang akan bersama kita”
“Paman juga akan melihat barak itu?” berkata ahisa Bungalan”
“Ya. Aku juga akan pergi” jawab Witantra.
Demikianlah, maka Mahisa Bungalan, Pangeran Kuda Padmadata dan Witantra, diantar oleh beberapa orang ngawal, dengan hati-hati mendekati barak yang nampaknya sepi itu.
Sementara, Mahisa Bungalan mendekati barak, kedua orang tawanan itu pun berada di dalam pengawasan yang ketat. Sedangkan pasukan yang dibawanya pun telah bersiap. Setiap saat diperlukan, mereka akan segera dapat bertindak.
Mahisa Bungalan, Pangeran Kuda Padmadata, Witantra dan beberapa orang pengawal, dengan hati-hati mendekati barak itu. Selangkah demi selangkah mereka maju. Tangan-tangan mereka sudah siap mencabut senjata apabila diperlukan.
Tetapi barak itu memang terlalu sepi. Nampaknya tidak ada seorang pun yang tinggal lagi di dalam barak itu. Pintu regol barak itu tampak terbuka. Pagar yang rapat dan tinggi yang mengelilingi barak itu pun nampaknya tidak terjaga sama sekali.
Dengan hati-hati, mereka pun kemudian memasuki regol yang terbuka. Demikian mereka menginjakkan kakinya ke halaman dalam barak itu, mereka merasa, bahwa barak itu memang sudah sepi.
“Gila” geram Mahisa Bungalan, “mereka sempat meninggalkan barak ini”
Wajah Pangeran Kuda Padmadata pun menjadi tegang. Meskipun demikian ia berkata, “Marilah, kita akan melihat isi barak itu”
Mahisa Bungalan mengangguk kecil. Ketika ia memandang Witantra, orang itu pun mengangguk pula.
Demikianlah mereka pun kemudian mendekati pintu barak yang terbuka. Perlahan-lahan mereka melangkah masuk. Seperti ketika mereka memasuki halaman barak itu, mereka pun semakin yakin, barak itu memang sudah kosong.
Sebenarnyalah, ketika mereka berada di dalam setiap barak yang ada dilingkungan sarang itu, mereka sama, kali tidak menemukan apapun juga. Mereka pun dapat menduga, bahwa orang-orang di dalam barak itu telah memindahkan sarang mereka, karena mereka yakin, bahwa pada suatu saat, pasukan Singasari dan Kediri akan datang untuk menangkap mereka.
“Tetapi mereka berhasil lolos” geram Mahisa Bungalan keterlambatan yang sangat mengecewakan”
Witantra tidak manjawab. Sementara Pangeran Kuda Padmadata pun nampaknya sangat kecewa, bahwa kehadirannya di tempat itu sama sekali tidak memberikan hasil apapun juga.
“Paman” berkata Mahisa Bungalan kemudian kepada Witantra, “yang terjadi adalah satu pangalaman. Betapa lambatnya kami bertindak”
Witantra mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Yang terjadi atas Ki Dukut itu pun satu pengalaman, bagaimana cepatnya ia bertindak. Tetapi tanpa perhitungan yang mapan”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang wajah Pangeran yang masih muda itu, ia pun melihat Pangeran itu menjadi sangat kecewa, namun kepalanya pun terangguk-angguk kecil mendengar jawaban Witantra itu.
“Baiklah” berkata Witantra kemudian, “kita datang setelah sarang ini menjadi kosong. Kita tidak dapat menyalahkan siapapun juga. Tetapi ini bukan akhir dari perburuan kita”
Mahisa Bungalan mengangguk. Jawabnya, “Malam ini kita akan berada di dalam lingkungan halaman barak ini. Besok kita akan kembali ke padepokan itu tanpa membawa hasil apapun juga”
Witantra hanya dapat mengangguk-angguk kecil. Ia mengerti bahwa anak-anak muda itu menjadi kecewa. Namun ia pun merasa wajib untuk kadang-kadang meredakan gejolak kemudaan mereka itu.
Mahisa Bungalan pun kemudian memerintahkan pasukan yang dibawanya untuk memasuki halaman barak dan beristirahat semalam.
“Tetapi jangan lengah” berkata Pangeran Kuda Padmadata kepada para pemimpin kelompok, “mungkin terjadi sesuatu yang tidak kita duga-duga sebelumnya. Jika orang-orang itu menyingkir tidak terlalu jauh dengan perhitungan tertentu, maka mungkin sekali malam nanti, merekalah yang akan manjebak kami.”
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar