Rabu, 03 Februari 2021

PANASNYA BUNGA MEKAR JILID 15-02

PANASNYA BUNGA MEKAR : 15-02
Satu dua di antara mereka pun sudah menjenguk lewat tangga di sebelah gerbang untuk mengamati apa yang dilakukan oleh-orang-Orang yang herada diluar dinding. Di siang hari yang terik, orang-orang yang mengepung padepokari itu telah berkerumun di bawah bayangan pohon rindang. Mereka berbaring sambil berkelakar. Ada yang berdendang dengan suara parau, dan bahkan ada yang berteriak-teriak tanpa arti.

“Nampaknya ada juga kejemuan di hati mereka” desis seorang prajurit.

“Tentu. Mereka pun tentu akan merasa jemu. Namun jantung mereka tidak terasa setegang kita di sini, karena mereka dapat menentukan, apa yang akan mereka lakukan. Agak berbeda dengan kita. Kejemuan yang paling mencengkam adalah, bahwa kita harus menunggu, apa yang akan mereka lakukan atas kita” jawab kawannya.

Yang lain mengangguk-angguk. Mereka benar-benar menjadi tegang, gelisah dan juga kamarahan yang tertahan. Tetapi tidak ada yang dapat mereka lakukan kecuali menunggu dengan jantung yang berdentangan semakin cepat.

Para cantrik yang gelisah, setiap kali telah memanjat tangga dan manjenguk orang-orang yang berada di luar dinding. Mereka masih saja berpencar dan berteduh di bawah bayangan pepohonan.

“Beruntunglah bahwa mereka tidak menyerang kita sekarang” seorang prajurit yang terluka berdesis

“Kenapa?” bertanya kawannya.

“Jika mereka menyerang kemarin saat matahari terbit, atau pagi-pagi tadi, maka lukaku tentu masih terasa sakit. Tetapi ternyata aku masih mempunyai waktu untuk menyembuhkan luka-lukaku. Kini lukaku sudah berangsur baik. Malam nanti, dan besok pagi, aku sudah dapat bertempur seperti sebelum aku terluka” jawab prajurit yang terluka itu.

Para prajurit dan pengawal yang lain pun mengiakannya. Seorang yang terluka di lambung berkata, “Jika aku mendapat kesempatan sampai besok saja. maka aku sudah siap untuk bertempur dengan sepenuh tenaga. Lukaku tidak akan mengganggu aku lagi”

“Ternyata mereka bodoh” berkata yang terluka di pundak dan punggung, “aku pun merasa sudah sembuh sama sekali sekarang. Apa lagi waktu yang satu malam lagi”

Para pemimpin dan prajurit yang tidak terluka dan di tinggalkan untuk mengawasi dan melayani mereka tidak membantah. Mereka pun sadar, bahwa para prajurit yang terluka itu sekedar menghibur diri dalam kejemuan yang mencengkam, meskipun sebenarnyalah bahwa waktu satu dua hari akan sangat berarti bagi mereka yang terluka itu.

Hari-hari yang menjemukan itu berlangsung sangat lamban. Para cantrik mengisi kejemuan itu dengan tingkah laku yang kadang-kadang nampak aneh. Namun para prajurit yang juga ingin mengisi waktunya telah mengajak para cantrik itu untuk berlatih olah kanuragan.

“Satu dua hari ini dapat kalian pergunakan sebaik-baiknya” berkata para prajurit, “kau akan dapat memperdalam cara kalian mempergunakan senjata. Meskipun hampir tidak berarti, tetapi daripada kalian duduk dengan gelisah”

Para cantrik dan putut itu pun melakukannya dengan penuh minat. Kecuali untuk mengisi waktu, mereka pun menganggap bahwa hal itu akan dapat beguna bagi mereka.

Dalam kelompok-kelompok kecil para cantrik itu pun berlatih dengan sungguh-sungguh. Mereka ingin memperdalam pengetahuan mereka tentang jenis-jenis senjata mereka masing-masing.

Ternyata cara mereka mengisi waktu itu benar-benar dapat mengurangi kejemuan dan kegelisahan. Bahkan mereka mulai mengharap, agar orang-orang yang mengepung padepokan itu tidak segera menyerang, sehingga mereka akan mendapat kesempatan lebih banyak lagi untuk melatih diri.

Meskipun kemudian malam turun menyelubungi padepokan itu, namun para cantrik itu masih tetap berlatih dengan sungguh-sungguh. Menjelang malam mereka beristirahat sebentar untuk makan. Namun kemudian mereka pun mulai lagi dengan latihan-latihan meskipun para prajurit telah mendapat pesan, agar mereka tidak menghabiskan tenaga mereka dalam latihan-latihan itu.

“Jika kalian telah menjadi sangat letih, maka untuk benar-benar turun ke arena pertempuran, kalian telah kehabisan tenaga” berkata Mahisa Agni.

Dengan demikian, maka baik para prajurit, maupun para cantrik telah mematuhinya. Mereka berlatih sekedar untuk membiasakan gerak tangan dan kaki mereka tanpa memeras tenaga.

Ketika obor-obor sudah dipasang, maka latihan-latihan pun menjadi semakin susut. Beberapa orang mulai mengatur diri dalam kelompok-kelompok seperti malam sebelumnya. Mereka mulai lagi dengan pengawasan yang teliti di seputar padepokan. Tidak seorang pun boleh meloncat masuk.

Di saat keringat sudah kering, maka kegelisahan pun telah mulai merayapi hati para cantrik itu lagi. Sebenarnya mereka lebih senang berlatih menggerakkan senjata. Tetapi mereka pun menyadari, bahwa mereka tidak sebaiknya memeras tenaga mereka, sehingga mereka menjadi letih.

Dalam pada itu, kegelisahan pemimpin padepokan itu bukan saja karena mereka, harus menunggu saat-saat yang mendebarkan, apabila orang-orang yang mengepung padepokan itu datang menyerang. Namun pada satu saat, maka persediaan bahan mentah di padepokan itu akan menjadi semakin tipis, sehingga akhirnya habis sama sekali. Meskipun di lumbung masih ada padi, tetapi jika persediaan garam dan kepentingan-kepentingan lain sudah habis, maka mereka akan mengalami kesulitan.

“Itu pun harus mendapat perhatian” berkata Mahisa Agni kepada pemimpin padepokan itu.

“Kita masih akan dapat bertahan dua hari lagi” berkata pemimpin padepokan itu, “selebihnya kita akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan garam”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Hal itu harus mereka perhatikan karena pada suatu saat pertempuran akan berkobar, mereka pun merasa gelisah pula setiap kali mereka masak di dapur, karena persediaan yang semakin tipis.

“Kita harus membicarakannya dengan sungguh-sungguh” berkata Mahisa Agni, “sebaiknyalah kita mengumpulkan para prajurit, pengawal dan para putut di padepokan ini. Aku akan memberikan sedikit persoalan yang akan dapat mereka pecahkan bersama”

Pemimpin padepokan itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan berbicara di pendapa sekarang juga”

Sejenak kemudian, maka para putut, prajurit dan pengawal telah berkumpul di pendapa. Yang tersisa di halaman adalah mereka yang bertugas dan para cantrik padepok an itu.

Mahisa Agni yang kemudian berbicara kepada para prajurit, pengawal dan putut itu pun menjelaskan, bahwa keadaan mereka akan menjadi semakin gawat.

“Bukan maksudku membuat kalian bertambah gelisah” berkata Mahisa Agni, “tetapi hal ini memerlukan pemecahan”

Para prajurit, pengawal dan putut di padepokan itu mendengarkan penjelasan itu dengan sungguh-sungguh. Namun mereka pun tidak melihat, jalan manakah yang paling baik dilalui untuk mengatasi kesulitan yang sungguh-sungguh itu.

Karena tidak ada seorang pun yang memberikan tanggapan, maka Mahisa Agni pun berkata, “Bagaimanakah jika aku mencoba untuk mencari jalan keluar”

Pemimpin padepokan itu memandanginya dengan tajamnya. Kemudian katanya, “Bukankah itu yang kami tunggu-tunggu”

“Baiklah” berkata Mahisa Agni, “sudah sekian lama kami dicengkam oleh kegelisahan, kecemasan dan barangkali perasaan-perasaan lain di dalam hati kita karena orang-orang itu tiba-tiba saja telah mengepung kita. Kita tentu tahu pasti, siapakah mereka. Dan kita pun dapat membayangkan betapa besarnya kekuatan mereka. Tetapi kita pun bukan anak-anak yang hanya mampu merengek. Kita dapat berbuat sesuatu. Nah, kenapa kita tidak berbuat sesuatu untuk menghadapi mereka”

“Apakah yang kau maksud?” bertanya pemimpin padepokan.

“Selama ini kita dicengkam oleh ketegangan sambil menunggu, kapan orang-orang itu datang menyerang. Kenapa kita tidak mengambil sikap lain daripada sekedar menunggu. Misalnya, kenapa bukan kita saja yang menyerang mereka”

Pertanyaan itu bagaikan menghentak di setiap hati. Seorang perwira prajurit yang bertugas tinggal bersama beberapa orang kawannya dan para pengawal dengan serta merta menyahut, “Kita dapat melakukannya. Kita akan menyerang mereka justru di saat yang tidak mereka duga”

Kemungkinan itu ternyata telah menggerakkan hati setiap orang di pendapa itu. Karena itu, maka pemimpin padepokan itu pun berkata, “Aku kira hal itu dapat dipertimbangkan. Aku kira itu akan lebih baik daripada kita menunggu kelaparan di sini”

“Apakah ada yang menyatakan keberatan dengan pertimbangan yang lain?” bertanya Mahisa Agni.

“Kami sependapat” desis beberapa orang bersama-sama.

Mahisa Agni pun kemudian berpaling kepada Witantra dan Ki Wastu. Namun agaknya keduanya pun sependapat dengan rencana itu, sehingga keduanya mengangguk-angguk kecil.

Dalam pada itu, Mahisa Agni pun berkata, “Jika semuanya telah setuju, maka biarlah kita segera bertindak. Kita tidak akan melangkah dengan lamban sekali seperti orang-orang itu. Tetapi kita akan melangkah dengan cepat”

“Kapan kita akan melakukannya?” bertanya pemimpin padepokan itu.

“Sebagian dari para cantrik memang kurang berlatih” berkata Mahisa Agni, “karena itu, maka lebih baik bagi kita untuk bertempur di siang hari. Karena itu, kita akan menunggu, apakah malam ini mereka akan menyerang atau tidak. Jika tidak, maka besok pagi-pagi menjelang matahari terbit, kitalah yang akan menyerang”

“Kenapa tidak sekarang?” bertanya perwira prajurit, yang tinggal di padepokan itu.

“Sebagian besar dari para cantrik belum terbiasa bertempur di malam hari. Bahkan di siang hari pun mereka masih akan banyak mengalami kesulitan” jawab Mahisa Agni.

Perwira itu mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan mereka tidak mendahului kita. Kitalah yang akan menyerang mereka”

“Karena itu, biarlah para cantrik malam ini lebih banyak beristirahat. Kitalah yang akan mengawasi keadaan terus menerus. Kita akan dapat mengetahui, apakah persiapan mereka sudah sampai tingkat terakhir” berkata Mahisa Agni.

“Baiklah” berkata pemimpin para prajurit dan pengawal yang tinggal itu, “aku akan mengatur penjagaan malam ini”

Demikianlah, maka para prajurit dan pengawal sudah mendapat perintah untuk, bersiap-sebaik-baiknya. Sementara itu, maka para cantrik pun diperintahkan untuk beristirahat seluruhnya.

“Meskipun demikian, jangan lengah. Kalian harus mendengarkan tanda sebaik-baiknya dengan cirinya masing-masing” berkata para putut, “nah, carilah tempat yang paling baik untuk tidur. Percayakan penjagaan malam ini kepada para prajurit dan pengawal.

Para cantrik itu menjadi ragu-ragu. Tetapi karena perintah itu nampaknya meyakinkan, maka mereka pun kemudian mencari tempat yang paling baik untuk tidur. Ada satu dua di antara mereka yang tidur di sebelah dapur. Tetapi ada pula yang tidur di bagian atas kandang.

Para prajurit dan pengawallah yang mengambil alih tugas penjagaan. Mereka pun harus membagi diri, sehingga mereka pun sempat beristirahat. Menjelang pagi mereka harus sudah bersiap untuk bertempur.

Justru karena pengawasan langsung dari sebelah regol, maka seisi padepokan itu merasa tenang untuk beristirahat. Orang-orang yang mengepung padepokan itu tidur berserakan, sementara beberapa orang di antara mereka sajalah yang berjaga-jaga di dekat perapian-perapian yang merekanyalakah untuk penghangat tubuh.

“Pasti bahwa mereka tidak akan menyerang malam ini” berkata seorang prajurit yang mengawasi mereka dari atas tangga.

Para prajurit dan pengawal yang lain pun percaya, seperti yang dikatakan oleh prajurit itu. Seseorang pengawal yang kemudian menjenguk pula, telah yakin, bahwa orang-orang itu justru tidak menghiraukan lagi kedudukan mereka yang sedang mengepung tempat lawan.

“Mereka menjadi lengah karena mereka merasa terlalu kuat” berkata seorang prajurit, “mudah-mudahan keadaan itu sampai pagi hari”

Ketika hal itu dilaporkan kepada pimpinan padepokan dan kepada Mahisa Agni, maka Mahisa Agni pun telah memerlukan pula menjenguk mereka. Agaknya ia pun berkesimpulan serupa. Orang-orang itu menganggap bahwa di padepokan kecil itu sama sekali tidak ada lagi kekuatan yang akan dapat melindungi para penghuninya.

“Mereka menganggap kita terlalu lemah” berkata Mahisa Agni kemudian, “karena itu, beristirahatlah sebaik-baiknya sebelum pagi. Meskipun demikian, pengawasan harus berjalan terus”

Mahisa Agni, Witantra, Ki Wastu dan pemimpin di padepokan itu pun ternyata sempat pula beristirahat. Mereka sempat tidur di ruang dalam. Namun mereka telah berpesan, bahwa para petugas jangan sampai lengah

“Meskipun nampaknya mereka tidur berserakan, tetapi dalam sekejap mereka telah mampu mempersiapkan diri untuk menyerang” berkata Mahisa Agni, “karena itu, jika kalian mendengar aba-aba yang dapat diartikan sebagai satu gerakan untuk menyerang, maka kalian harus segera melihat, apakah yang terjadi di luar. Seterusnya memberikan isyarat dengan kentongan”

Namun ternyata bahwa di luar padepokan itu tidak terjadi sesuatu. Orang yang mengepung padepokan itu masih saja tidur berserakan, sementara beberapa kelompok masih mengerumuni perapian yang menyala. Satu dua orang di antara mereka berjalan hilir mudik dari satu perapian keperapian yang lain. Betapapun juga, ternyata mereka pun masih merasa perlu untuk mengawasi keadaan.

Menjelang dini hari, maka Mahisa Agni, Witantra, Ki Wastu dan pemimpin padepokan kecil itu telah bersiap-siap untuk melakukan rencana mereka. Mereka tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Dengan demikian, maka para cantrik akan menjadi semakin cemas dan ketegangan yang setiap hari mencengkam mereka, akan sangat mempengaruhi perasaan mereka.

Dengan hati-hati, Mahisa Agni memanggil pemimpin prajurit dan pengawal yang tinggal di padepokan itu. Bersamanya, telah dipanggil pula para putut padepokan itu. Dengan cermat mereka telah mendapat perintah dan pesan, apa yang harus mereka lakukan tanpa menimbulkan kegaduhan dan suara yang dapat menarik perhatian.

Demikianlah, dengan diam-diam maka para putut itu telah membangunkan para cantrik. Mereka telah diperintahkan untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Satu dua diantara mereka telah sempat mencuci muka di pakiwan untuk menghilangkan kantuk yang masih tersisa. Namun ketika mereka sadar, bahwa mereka akan bertempur, maka mereka pun telah menjadi berdebar-debar. Satu dua diantara mereka hampir menyatakan diri untuk menghindarinya dengan alasan apapun juga, karena bertempur itu akan dapat berakibat kematian.

Namun ketika mereka melihat para prajurit dan pengawal yang dengan penuh tekad telah bersiap pula. hati mereka menjadi kembang. Para prajurit dan pengawal itu bukan orang-orang yang paling berkepentingan dengan padepokan itu. Tetapi mereka tidak segan untuk melibatkan diri langsung ke dalam arena pertempuran.

Seperti yang diharapkan, persiapan itu sama sekali tidak menimbulkan keributan dan sama sekali tidak menarik perhatian. Semua pesan disampaikan kepada setiap pemimpin kelompok yang akan meneruskan kepada kelompok masing-masing.

“Dengan doa di dalam hati, kita akan melakukan kewajiban kita” berkata Mahisa Agni kepada para pemimpin kelompok yang akan meneruskan kepada kelompok masing-masing.

Dengan tertib Mahisa Agni pun kemudian mengatur jalan yang akan mereka lalui. Mereka semuanya tidak akan mengambil jalan pada pintu gerbang. Sebagian dari mereka akan keluar dari pintu-pintu butulan.

Para cantrik itu menjadi berdebar-debar. Namun setelah melihat kesiagaan sepenuhnya, ternyata mereka lebih senang untuk ikut bertempur di luar padepokan dari pada harus tinggal sambil menunggu kemungkinan yang belum pasti akan terjadi.

“Sebagian dari para cantrik akan tinggal” berkata Mahisa Agni, “mereka harus menjaga padepokan ini. Adalah tugas kalian yang tinggal untuk melawan mereka. Kalian akan dibantu oleh para prajurit dan pengawal yang karena luka-lukanya tidak akan dapat bertempur di luar padepokan”

Tetapi mereka yang kemudian ditunjuk, tidak dapat ingkar lagi. Mereka harus tinggal bersama prajurit dan pengawal yang lukanya masih terlalu parah untuk ikut serta dalam pertempuran di luar padepokan.

Setelah semuanya selesai, maka para prajurit dan pengawal yang akan menjadi ujung pasukan, telah bersiap di beberapa pintu butulan dan pintu gerbang. Para cantrik yang sudah berada di dalam kelompoknya masing-masing itu pun telah bersiap pula di belakang para prajurit dan pengawal.

“Semua senjata harus telah disiapkan” para pemimpin kelompok masih memperingatkan.

Demikianlah ketika matahari mulai membayang di langit, Mahisa Agni sendiri telah menjenguk dari tangga di sebelah regol. Ia melihat, orang-orang yang berada di sekeliling padepokan itu sebagian tersebar telah bangun pula, meskipun masih ada satu dua di antara mereka yang berbaring dengan malasnya. Beberapa di antara mereka telah pergi ke sebuah mata air yang tidak terlalu jauh untuk mandi, sementara yang lain telah sibuk menanak nasi di atas perapian.

Di antara mereka, masih nampak beberapa orang yang bersiaga berjalan hilir mudik dengan senjata telanjang. Namun agaknya mereka sama sekali tidak menduga, bahwa orang-orang di padepokan itu sedang merencanakan sesuatu yang akan sangat mengejutkan.

Setelah yakin akan keadaan lawan, maka Mahisa Agni pun kemudian membagi diri dengan Witantra dan Ki Wastu. menurut pendengarannya di antara orang-orang yang mengepung itu terdapat seorang yang disebut Rajawali Penakluk. Tetapi menurut Pangeran Kuda Padmadata, maka besar kemungkinannya, bahwa orang itu adalah Ki Dukut Pakering.

Sejenak kemudian, setelah semuanya siap, Mahisa Agni pun segera memberikan isyarat. Seseorang dengan cepat telah menarik selarak pintu regol dan pintu-pintu butulan. Serentak para prajurit yang ada di paling depan bersama para pengawal pun segera berlari menuju sasaran diikuti oleh para cantrik di belakang.

Ternyata hal itu benar-benar telah mengejutkan orang orang yang sedang mengepung padepokan itu. Mereka sama sekali tidak menduga, bahwa justru orang-orang di padepokan itulah yang keluar menyerang. Mereka menyangka, bahwa setelah hari-hari yang tegang itu, orang-orang di dalam padepokan kecil itu akan menjadi bingung, cemas, ketakutan dan akhirnya mereka akan menjadi putus-asa. Namun tiba-tiba mereka melihat satu kenyataan yang berlawanan sama sekali.

Para penjaga yang siap dengan senjata di tangan, segera berteriak memberikan isyarat kepada kawan-kawannya. Namun justru teriakan itu telah mengejutkan dan membuat mereka menjadi kebingungan.

Namun, akhirnya mereka pun menyadari, bahwa mereka harus berbuat sesuatu. Berlari-larian mereka segera menempatkan diri. Yang sedang berada di perapian, segera meloncat meraih senjata masing-masing dan menariknya dari sarungnya. Sementara yang sedang mandi pun dengan tergesa-gesa telah mempersiapkan dirinya dan menggapai senjata masing-masing pula.

Tetapi kesiagaan yang tergesa-gesa itu ternyata mempengaruhi sikap dan ketahanan hati mereka. Ketika para prajurit dan pengawal mencapai tempat mereka, maka masih belum siap seluruhnya, sehingga pada benturan pertama, orang-orang yang mengepung padepokan itu telah terdesak.

Para penjaga yang sudah bersiap sajalah yang dapat menyongsong para penyerang itu. Tetapi jumlah para penjaga itu tidak cukup banyak, sehingga mereka pun tidak banyak dapat berbuat.

Para cantrik yang berlari-larian di belakang para prajurit dan pengawal pun segera menyerang dengan senjata-senjata telanjang. Adalah satu kebetulan bahwa lawan mereka masih belum bersiap seluruhnya.

Pada benturan pertama, ternyata para penjaga telah dikejutkan oleh kesigapan para prajurit dan pengawal. Mereka tidak menyangka, bahwa mereka akan berhadapan dengan orang-orang yang memiliki kemampuan yang cukup dalam olah senjata, sehingga karena itu, maka mereka pun segera terdesak pula. Bahkan karena mereka sebagian.masih diliputi oleh kebingungan, maka satu dua telah jatuh korban di antara mereka yang mengepung padepokan itu”

Para cantrik yang sebenarnya merasa kekurangannya, justru ingin mempergunakan saat-saat lawan mereka masih lemah. Itulah sebabnya, mereka justru berbuat lebih garang. semata-mata karena usaha mereka untuk memperkecil kemungkinan yang paling pahit. Kecemasan merekalah yang telah mendorong mereka untuk bertingkah laku lebih garang dari para prajurit dan pengawal.

Tetapi, sebenarnyalah jumlah orang-orang yang mengepung padepokan itu lebih banyak dari para prajurit, pengawal dan para cantrik. Karena perhitungan itulah, maka para prajurit dan pengawal pun harus bergerak secepat-cepatnya. Jika lawan mereka sempat mengatur diri, maka kemungkinan yang sulit akan segera terjadi. Apalagi para prajurit dan pengawal itu mengerti, bahwa para cantrik masih belum memiliki kemampuan yang cukup untuk menghadapi lawan yang ganas dan kasar itu.

Dalam pada itu, ternyata usaha para prajurit itu nampaknya akan berhasil. Mereka sempat membuat lawan mereka menjadi bingung. Mereka yang sedang dengan tergesa-gesa meninggalkan mata air telah disergap dengan tiba-tiba oleh para prajurit dan pengawal. Meskipun jumlah para prajurit dan pengawal itu jauh lebih sedikit, tetapi mereka lebih mapan sikap, sehingga karena itu, maka orang-orang yang sedang mandi pun menjadi kebingungan meskipun mereka telah berhasil menggapai senjata masing-masing.

Dalam saat yang pendek, maka para perampok dan penyamun yang menjadi pengikut Ki Dukut Pakering itu telah berjatuhan. Mereka kehilangan kesempatan untuk melawan. Mereka sadar akan keadaan ketika mereka telah terkapar dengan luka di tubuh mereka.

Sejenak kemudian, tubuh-tubuh yang terluka telah berserakkan terbujur lintang. Meskipun para prajurit dan pengawal bukannya pembunuh-pembunuh yang kejam, namun meraka tidak dapat menghindarkan diri dari kemungkinan menghabisi jiwa lawannya di dalam pertempuran brubuh itu.

Tetapi lambat laun, para perampok dan penyamun itu pun sedikit demi sedikit mampu menyusun diri. Meskipun sebagian dari mereka telah terluka, tetapi jumlah mereka masih cukup memadai untuk bertempur melawan orang-orang padepokan kecil itu.

Dengan demikian, maka pertempuran itu pun menjadi semakin sengit. Para perampok yang penyamun yang marah itu pun kemudian bertempur sambil berteriak-teriak dengan kasarnya. Mereka mengayunkan senjata mereka dengan sepenuh tenaga, serta mengacung-acung-kannya dengan garang.

Tetapi kemenangan-kemenangan kecil pada benturan pertama itu telah membuat hati para cantrik menjadi berkembang. Mereka tidak lagi dicengkam oleh ketakutan. Ternyata bahwa lawan mereka itu pun dengan mudah dapat dilukai dengan senjata.

Karena itu, maka gairah mereka pun segera meningkat semakin tinggi. Apalagi serba sedikit mereka telah memiliki kemampuan menggerakkan senjata, sehingga mereka pun kemudian telah memutar senjata mereka pula di bawah pimpinan beberapa orang putut yang memang memiliki ilmu yang cukup.

Sementara itu, para prajurit dan pengawal yang terpencar di antara para cantrik telah mengambil tempat yang menguntungkan. Mereka tidak saja berada pada garis perang yang datar, tetapi beberapa orang diantara mereka justru berada di antara lawan mereka. Namun tidak kehilangan kesempatan mendapat jalan segera mendesak maju mengikuti jejak mereka.

Di antara para prajurit, pengawal putut dan cantrik terdapat orang-orang yang memiliki kemampuan yang tidak dapat dibandingkan dengan mareka, maupun lawan-lawan mereka. Mahisa Agni, Witantra, Ki Wastu dan pemimpin padepokan kecil itu telah mengambil tempatnya masing-masing. Mereka tidak hanya tinggal diam melihat pertempuran yang semakin seru itu. Tetapi mereka pun telah melibatkan diri mereka di dalamnya.

Tetapi mereka bukannya orang yang termasuk haus akan kematian. Karena itu, apa yang mereka lakukan pun bukannya sekedar tindakan pembunuhan. Mereka tidak berniat membunuh lawan sebanyak-banyaknya tanpa mengingat akibatnya.

Meskipun demikian, mereka pun bukannya tinggal diam melihat para perampok dan penjahat itu membunuh para cantrik. Karena itu, maka mereka pun telah berusaha untuk melindungi para cantrik dengan mendorong lawan-lawan mereka surut, bahkan kadang-kadang mereka terpaksa melukai dan menitikkan darah satu dua orang lawan, sakedar untuk memperlemah tekanan mereka.

Karena itu, maka Mahisa Agni, Witantra, Ki Wastu dan pemimpin padepokan itu pun seolah-olah telah mengitari daerah pertempuran itu. Mereka bergeser dari satu tempat ke tempat yang lain. Jika mereka melihat beberapa orang cantrik yang terdesak, sementara para prajurit dan pengawal masih sibuk melayani lawan mereka masing masing, maka mereka pun telah mendekat dan membantu para cantrik itu untuk mendesak lawannya.

Namun kematian-kematian memang sulit dihindarkan dalam pertempuran seperti itu. Mahisa Agni, Witantra dari Ki Wastu pun tidak dapat menghindarkan diri sepenuhnya dari langkah yang dapat mengakibatkan kematian.

Dalam pada itu, ternyata di antara para perampok dan penyamun itu terdapat seorang tua yang memperhatikan pertempuran itu dengan saksama. Orang itu berusaha untuk dapat memperhatikan setiap sudut arena pertempuran. Karena itu, maka dengan diam-diam, ia bergeser dari satu sisi kesisi yang lain dari padepokan itu. Tetapi karena pertempuran yang paling seru terjadi di bagian depan dari padepokan itu, maka ia pun berada di tempat itu.

Sekilas ia melihat beberapa orang prajurit dan pengawal dari Singasari dan Kediri. Meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak, tetapi mereka ternyata mampu menggetarkan jantung para perampok dan penyamun yang garang itu.

“Gila” geram Ki Dukut, “aku ternyata masih tertipu juga. Masih ada beberapa prajurit Singasari dan pengawal dari Kediri yang berada di padepokan ini. Jumlah mereka ternyata masih cukup banyak untuk mempengaruhi keadaan. Tanpa mereka, maka para cantrik itu tentu akan segera menjadi bagaikan tebasan batang ilalang”

Ki Dukut itu pun menggeretakkan giginya. Dengan suara yang dalam ia berdesis kepada diri sendiri, “Aku harus memusnahkannya tanpa belas kasihan”

Namun sebelum Ki Dukut berbuat sesuatu, ia melihat pemimpin padepokan kecil itu. Dengan tangkasnya ia bertempur di antara para cantriknya. Bersama dua orang prajurit, ia berhasil menahan pengikut Ki Dukut yang siap menyapu para cantrik.

“Orang inilah yang lebih dahulu harus dimusnahkan” berkata Ki Dukut di dalam hatinya.

Dengan cermat ia melihat dua orang prajurit Singasari yang bertempur bersama pemimpin padepokan itu untuk melindungi para cantrik. Dengan tersenyum hambar ia berkata, “Bersama dua orang prajurit itu, mereka tidak akan berdaya. Aku dapat membunuhnya tidak sampai sepenginang”

Tetapi sebelum ia bertindak, ternyata Ki Dukut itu terkejut. Ia melihat bayangan yang sepintas menyusup di antara dentang senjata. Seperti pemimpin padepokan itu, maka ketika Orang itu berhenti di satu sudut pertempuran, maka ia pun telah bertempur untuk melindungi para cantrik. Dengan sebilah pedang pendek, ia mampu berbuat terlalu banyak di antara para cantrik.

“Siapakah orang itu” desis Ki Dukut di dalam hatinya.

Tetapi orang itu benar-benar telah mendebarkan jantung Ki Dukut. Orang itu mampu bertempur dengan sikap yang aneh. Sekali-sekali ia mendesak lawannya, namun kemudian ia seakan-akan telah menahan senjatanya.

“Apakah ia orang gila?” bertanya Ki Dukut di dalam hatinya, “ia mampu membunuh berapa orang saja yang dikehendakinya. Tetapi ia tidak melakukannya”

Ki Dukut memandang orang itu dengan debar di dadanya, orang itu lebih berbahaya dari pemimpin padepokan kecil itu. Dengan demikian, maka Ki Dukut pun berkata di dalam hatinya, “Aku akan menyelesaikan orang itu lebih dahulu”

Karena itulah maka Ki Dukut pun kemudian dengan diam-diam mendekati orang itu, menyusup di antara orang-orangnya. Ketika orang itu bergeser ia pun mengikuti pula, sehingga akhirnya orang itu telah berada di arena pertempuran di sisi padepokan itu.

Sejenak Ki Dukut menanti. Kemudian ia pun bergeser lagi. Ia ingin memancing perhatian orang itu. Katanya kepada diri sendiri, “Jika aku membunuh cantrik sebanyak-banyaknya, maka orang itu tentu akan datang kepadaku”

Karena itulah Ki Dukut pun menggeram. Dengan lantang ia berteriak sambil meloncat ke arena. Pada tangannya sudah tergenggam sebilah pedang yang siap untuk membantai cantrik-cantrik yang masih belum memiliki kemampuan yang cukup, apalagi berhadapan dengan orang yang bernama Ki Dukut Pakering.

Suaranya memang telah menarik perhatian. Orang yang diikuti oleh Ki Dukut itu pun masih berjarak beberapa puluh langkah. Sementara Ki Dukut sempat untuk melakukan pembantaian agar lawan-lawannya menjadi ngeri dan terpengaruh.

Namun demikian ia tampil di arena, maka tiba-tiba saja seorang yang juga bersenjata pedang telah menghampirinya. Bukan orang yang diharapkannya.

“Jangan menakut-nakuti anak-anak” desis orang itu, “’apakah kau sebenarnya? Apakah kau yang disebut Rajawali Penakluk?”

Pertanyaan itu datang beruntun, sehingga Ki Dukut tidak sempat untuk menjawab.

“Katakan, siapa kau sebenarnya” bertanya orang itu.

Ki Dukut menggeram. Dengan marah ia berkata, “Apakah kau sudah jemu hidup? Akulah Rajawali Penakluk, aku akan membunuh siapa pun yang berdiri di hadapanku. Jika kau tidak minggir, maka kau adalah orang yang pertama akan mati”

Tetapi orang itu tertawa. Pertempuran di sekitarnya tidak dihiraukannya lagi.

“Bailah” berkata Ki. Dukut, “kau akan mati. Para cantrik di sekitarmu akan mati. Aku ingin mengundang orang yang bersenjata pedang pendek itu. Agaknya ia memiliki kelebihan dari kawan-kawannya. Aku ingin menunjukkan kepada orang-orangku, bagaimana aku akan membunuhnya”

Orang itu tersenyum. Katanya, “Ia akan menangkapmu. Bukan kau yang akan membunuhnya”

“Persetan. Kalian belum mengenal, siapakah aku” geram Rajawali Penakluk itu.

Akan tetapi sambil tertawa orang yang berdiri di hadapannya itu menjawab, “Tentu kami mengenalmu. Kau adalah Rajawali Penakluk. Tetapi apakah bukan lebih menggetarkan jika kau sebut namamu, Ki Dukut Pakering”

Kata-kata itu memang menggetarkan jantung Ki Dukut Pakering. Dengan suara bergetar ia berkata, “Siapa kau, bahwa kau tahu siapakah sebenarnya aku”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Aku adalah orang yang sama sekali tidak banyak dikenal. Aku bernama Witantra. Sedangkan orang yang ingin kau tarik perhatiannya itu bernama Mahisa Agni”

Ki Dukut mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba ia bergumam, “Kalian orang-orang Singasari?”

“Ya. Apakah kau pernah mendengar namaku?” bertanya Witantra.

“Persetan dengan orang-orang Singasari” Apakah kepentinganmu dengan padepokan ini sehingga kalian berada di sini?” bertanya Ki Dukut dengan geram.

“Tidak ada kepentingan khusus. Tetapi seperti orang-orang lain di tlatah Singasari, kita akan saling menolong” jawab Witantra.

Ki Dukut itu pun menggeram. Lalu katanya, “Baiklah. Aku justru berterima kasih bahwa aku akan dapat menunjukkan bahwa orang-orang Singasari bukannya orang-orang yang pinunjul tanpa dapat dikalahkan, seolah-olah Singasari adalah pengejawantahan dari istana para dewata yang memiliki kelebihan tanpa batas”

“Ah, kau keliru. Orang-orang Singasari tidak pernah merasa dirinya seperti itu. Kami adalah orang-orang biasa. Tidak lebih, tetapi juga tidak kurang. Karena itu, berhadapan dengan orang-orang lain, kami merasa diri kami sederajad dalam banyak hal. Juga dengan seorang yang bernama Ki Dukut Pakering”

“Gila” geram Ki Dukut, “ternyata bahwa aku akan membunuh orang-orang Singasari yang berada di sini, seorang demi seorang. Tetapi jika kau keberatan, ajaklah kawan-kawanmu yang ada di sini untuk bertempur berpasangan melawan Ki Dukut Pakering”

Witantra menggeleng sambil menjawab, “Tidak usah orang lain. Kita akan berhadapan hanya berdua saja”

“Jangan sombong orang Singasari. Kau bukan apa-apa bagi Ki Dukut Pakering” jawab Ki Dukut.

Witantra tidak menyahut. Ia pun kemudian bersiap menghadapi segala kemungkinan, sementara, pertempuran masih berlangsung dengan sengitnya. Para prajurit dan pengawal sibuk melayani para perampok dan penyamun yang semakin terdesak. Sementara beberapa orang yang lain masih harus bertempur bersama para cantrik yang belum memiliki bekal cukup. Namun, ternyata bahwa para cantrik itu pun sudah mampu untuk melindungi diri sendiri terhadap serangan para penyamun yang kasar. Untunglah, bahwa di padepokan gambaran tentang kekasaran itu telah pernah mereka dengar. Para prajurit pun pernah mengajari mereka dengan laku yang kasar, agar para cantrik tidak terkejut apabila mereka harus berhadapan dengan perampok dan penyamun.

Sejanak kemudian, maka Ki Dukut yang marah itu pun tidak mengendalikan dirinya lagi. Dengan garangnya ia pun segera meloncat menyerang orang yang menyebut dirinya Witantra itu.

Demikianlah, maka pertempuran yang dahsyat pun tidak dapat dihindarkan lagi. Dua orang yang memiliki kemampuan raksasa tauh bertemu di arena pertempuran.

Ki Dukut Pakering yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk itu adalah orang yang luar biasa. Ia telah menggetarkan hati Pangeran Kuda Padmadata dan adiknya, sehingga keduanya telah menyatakan kesediaan mereka untuk menjadi muridnya. Dan ternyata kemudian bahwa kedua Pangeran itu berkembang dengan pesatnya. Ki Dukut memang memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menempa kedua Pangeran kakak beradik itu, sehingga keduanya telah menjadi dua orang yang pilih tanding di antara para bangsawan di Kediri.

Namun dalam pada itu, Ki Dukut yang jarang sekali terbentur pada ilmu yang setingkat itu, terkejut ketika benturan-benturan ilmu kemudian meningkat semakin seru. Ternyata orang Singasari yang bernama Witantra itu benar-benar memiliki bekal yang cukup untuk menghadapinya. Bukan saja dalam ketrampilan dan kecepatan gerak, tetapi ketika ilmu mereka saling berbenturan, maka mereka pun saling menyadari, bahwa pertempuran yang terjadi itu adalah pertempuran yang akan berlangsung sangat seru.

Meski pada benturan pertama keduanya masih belum mengerahkan seluruh kemampuan mereka, namun setingkat demi setingkat ilmu mereka pun segera berkembang.

Ki Dukut yang dibakar oleh dendam karena kegagalan-kegagalan yang pernah dialaminya itu pun segera berusaha untuk menumpahkan segala sakit hatinya kepada orang yang bernama Witantra itu. Setelah ia menyelesaikannya, maka Ki Dukut akan segera membunuh orang-orang lain, sehingga orang terakhir dari padepokan itu pun akan dibantainya.

Tetapi ternyata ilmunya telah membentur kemampuan ilmu yang tak mudah ditembusnya. Witantra yang menjadi tegang juga mengalami tekanan orang yang bernama Ki Dukut dan menyebut diriya Rajawali Penakluk itu, segera berusaha untuk menyesuaikan ilmunya. Ia tidak dapat ingkar, bahwa lawannya adalah benar-benar orang yang pilih tanding. Guru dari dua orang Pangeran kakak beradik yang mumpuni.

Karena itulah, maka pertempuran di antara keduanya elah menggetarkan padepokan kecil itu. Para pengikut Ki Dukut dan para prajurit serta pengawal, apalagi para antrik telah bergeser menjauhinya. Meskipun pertempuran di seluruh halaman itu masih berlangsung, tetapi mereka seolah-olah telah menjauhi arena pertempuran antara lua kekuatan raksasa yang sulit dicari bandingnya itu.

Ki Dukut yang semula merasa tidak terlampau sulit untuk mengakhiri pertempuran itu, ternyata menjadi semakin panas ketika ilmunya selapis demi selapis dapat diimbangi oleh lawannya. Bahkan ketika kemudian Ki Dukut telah mengerahkan segenap ilmunya, ternyata bahwa lawannya masih mampu mengimbanginya.

“Gila orang Singasari ini” geram Ki Dukut.

Namun Witantra pun harus mengerahkan kemampuan iya. Ia tidak boleh lengah, karena Ki Dukut memiliki kemampuan yang dapat meningkatkan getar geraknya, sehingga orang itu seakan-akan tidak berjejak di atas tanah.

Tetapi Witantra pun memiliki ilmu yang luar biasa. Ilmu yang berkembang pada dirinya sehingga sulit untuk diimbangi dengan ilmu yang manapun juga. Hanya orang-orang mg memiliki tataran ilmu tertinggi sejalah yang akan apat melawan ilmu Witantra yang dahsyat.

Dengan demikian, maka kedua orang itu seakan-akan telah terpisah dari arena pertempuran dalam keseluruhan. Keduanya saling menyerang, saling mendesak dengan keuatan yang sulit dimengerti oleh para cantrik di padepokan itu.

Di tempat yang lain, beberapa orang telah tertarik perhatian mereka melihat pertempuran yang dahsyat itu. mereka pun segera mengerti, bahwa yang bertempur itu tentu pimpinan dari orang-orang yang menyerang padepokan yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk itu.

Tetapi, baik Mahisa Agni maupun Ki Wastu serta pemimpin padepokan itu, tidak segera dapat meninggalkan empat mereka untuk menyaksikan pertempuran yang dahsyat itu, karena pertempuran masih menyala di halaman padepokan itu. Para perampok dan penyamun yang melihat bahwa Rajawali Penakluk itu telah terjun pula ke dalam arena pertempuran, seakan-akan menjadi mabuk. Merekapun tiba-tiba meningkatkan serangan-serangan mereka dengan kasar dan buas. Mereka berteriak-teriak tanpa terkendali lagi.

Para cantrik mulai dirayapi lagi oleh kengerian lihat sikap orang-orang yang menyerang padepokan. Tetapi jika mereka melihat para prajurit dan pengawal yang bertempur dengan gigihnya, maka gairah mereka segera timbul kembali. Mereka sadar, bahwa mereka adalah orang-orang yang lebih berkepentingan untuk mempertahankan padepokan itu daripada para prajurit dan pengawal.

Sementara itu, Mahisa Agni, Ki Wastu dan pemimpin padepokan yang ingin segera menyelesaikan pertempuran itu, agar mereka berkesempatan untuk menyaksikan pertempuran yang sengit antara Witantra dan Ki Dukut, segera meningkatkan ilmu mereka. Meskipun mereka masih membatasi diri untuk melumpuhkan lawannya tanpa membunuhnya, namun yang mereka lakukan telah cukup mengagetkan hati para pengikut Ki Dukut.

Mahisa Agni yang bukan saja melindungi para cantrik itu, bagaikan menjelajahi satu sisi daerah pertempuran itu. Seakan-akan setiap ayunan tangan dan kakinya, ia telah melemparkan satu orang pengikut Ki Dukut keluar arena dengan luka yang parah

Di bagian lain, Ki Wastu telah banyak membungkam para perampok, penyamun dan pengikut-pengikut yang kasar dari Ki Dukut itu.

Sebenarnyalah, yang dilakukan oleh Mahisa Agni, Ki Wastu dan pemimpin padepokan itu telah sangat mempengaruhi pertempuran yang berlangsung di seputar padepokan itu. Beberapa orang pengikut Ki Dukut yang bergelar Rajawali itu telah terdesak sampai ke tempat yang semakin jauh dari padepokan, sementara yang lain justru terdorong ke dinding.

Dengan demikian, maka pertempuran itu telah menyebar. Tidak dapat lagi ditarik batas antara kedua pasukan yang sedang bertempur itu. Di halaman luar padepokan itu telah berserak, lawan dan kawan dari kedua belah pihak.

Beberapa orang yang tinggal di dalam lingkungan dinding padepokan, masih sempat menjenguk pertempuran yang terjadi diluar dinding padepokan itu. Sejenak mereka telah terpukau melihat arena yang menebar. Namun mereka pun kemudian melihat, betapa dua orang yang memiliki kamampuan yang luar biasa telah terlibat dalam pertempuran yang dahsyat.

Tetapi orang-orang yang mendapat perintah untuk tetap tinggal di dalam itu, tidak dapat meninggalkan tugas mereka. Beberapa orang cantrik dan prajurit serta pengawal yang dianggap masih terlalu lemah untuk bertempur di arena yang kasar dan buas.

Namun, akhirnya para pengikut Ki Dukut itu pun menjadi semakin cemas. Mereka mulai merasa terdesak dan mengalami kesulitan untuk mempertahankan diri.

Tetapi karena pemimpin mereka masih bertempur dengan sengitnya, maka mereka pun masih tetap berusaha untuk bertahan. Meskipun pertempuran itu sudah menebar semakin luas, namun ternyata kekasaran dan keliaran para perampok dan penyamun itu masih mampu membuat para cantrik menjadi ngeri.

Dalam pada itu, Ki Dukut Pakering masih bertempur dengan garangnya melawan Witantra yang harus menjadi sangat berhati-hati Ki Dukut ternyata memiliki ilmu yang luar biasa. Ia mampu bergerak secepat tatit. Namun getar tangannya seakan-akan memiliki pancaran kekuatan yang tiada taranya.

“Luar biasa” desis Witantra. Tetapi Witantra pun bukan orang kebanyakan. Dalam keadaan yang gawat, maka tangannya mampu melepaskan aji pamungkas, yang dapat meremukkan bukit dan dapat memecahkan batu karang. Dengan demikian, maka dua ilmu yang dahsyat itu benar-benar telah mengguncangkan arena. Pepohonan bagaikan dihembus angin prahara, sementara bebatuan telah terlempar ke segenap penjuru.

Mahisa Agni yang masih belum berhasil menyelesaikan tugasnya, karena jumlah lawan yang cukup banyak masih saja berkeliaran di arena pertempuran. Namun daerah pertempuran yang menebar itu seakan-akan telar memperluas daerah yang harus dijelajahinya untuk melindungi para cantrik dari kekasaran para perampok dan penyamun itu.

Dalam pada itu, apa yang terjadi di arena itu, ternyata sempat pula diamati oleh Ki Dukut Pakering. Betapa dendam dan kemarahan menghentak-hentak di dadanya, namun ia tidak dapat mengingkari kenyataan, apa yang telah terjadi di halaman luar padepokan itu.

Di dalam hati ia telah mengumpat-umpat, betapa ia sendiri telah menjadi lengah. Justru orang-orang di dalam dinding padepokan itulah yang telah keluar menyerang pada saat-saat yang tidak diduganya. Dengan demikian, maka pada benturan pertama, isi padepokan itu telah berhasil mendesak orang-orangnya dan menjatuhkan korban yang menentukan bagi pertempuran-pertempuran berikutnya.

Sambil bertempur, Ki Dukut sempat membuat pertimbangan. Agaknya ia masih belum ingin mati atau terhenti, sebelum ia berhasil melepaskan dendamnya atas lawan bebuyutannya. Apalagi setelah muridnya yang berhasil dipengaruhinya dan berdiri dipihaknya telah terbunuh, sementara muridnya yang lain, bagi Ki Dukut, ternyata telah berkhianat.

Sejenak Ki Dukut masih bertempur terus. Namun ia sudah mulai membuat perhitungan-perhitungan lain. Ia berusaha menggeser arena pertempuran itu semakin jauh dari dinding padepokan, mendekati pategalan dan padang perdu yang berada di sekitar padepokan itu.

Mula-mula Witantra sama sekali tidak menduga, apakah yang akan dilakukan oleh Ki Dukut. Karena ia harus memusatkan perlawanannya kepada orang yang memiliki ilmu yang tinggi itu, maka ia tidak melihat kemungkinan yang dapat dilakukan oleh lawannya. Bahkan Witantra sama sekali tidak menduga, bahwa orang yang berilmu tinggi itu akan berbuat licik dan merendahkan harga dirinya.

Tetapi Ki Dukut tidak menghiraukan harga diri lagi. Yang menjadi tujuannya adalah lepasnya dendam yang justru semakin bertimbun di dalam hatinya.

“Aku tidak mau mati dalam timbunan dendam seperti ini” geram Ki Dukut Pakering di dalam hatinya. Karena itulah, maka ia telah menyusun satu kesempatan untuk melepaskan diri dari arena pertempuran.

Adalah tidak diduga sama sekali oleh Witantra yang masih menghargai lawannya sebagai seorang jantan yang berilmu tinggi, bahwa tiba-tiba saja Ki Dukut Pakering itu telah meneriakkan aba-aba yang melengking memenuhi arena pertempuran. Bahkan orang-orang yang berada di dalam lingkungan dinding padepokan pun dapat mendengarnya.

Karena itulah, maka sejenak kemudian, arena itu pun menjadi kisruh. Para pengikutnya tidak lagi memikirkan, bagaimana sebaiknya yang mereka lakukan. Tetapi mereka pun segera mencoba untuk melepaskan diri dari arena pertempuran yang sangat mendebarkan itu.

Ternyata suasana itulah yang memang dikehendaki oleh Ki Dukut Pakering. Dalam keadaan yang kisruh dan tidak menentu itulah, maka ia pun telah meninggalkan lawannya dan berbaur dalam suasana itu, Apalagi sejenak kemudian mereka telah terbenam dalam rimbunnya pepohonan di hutan perdu dan pategalan.

Kalau saja yang melarikan diri itu bukan Ki Dukut Pakering, maka Witantra dan apalagi bersama-sama dengan Mahisa Agni dan Ki Wastu, tentu tidak akan mengalami kesulitan untuk menangkapnya. Akan tetapi yang melarikan diri itu adalah orang yang mempunyai ilmu yang tinggi, yang mumpuni dan berlindung dibalik suasana yang kisruh dan diantara pepohonan pategalan dan perdu. Dengan demikian maka Witantra merasa bahwa tidak akan ada gunanya untuk mengejarnya.....

Bersambung... !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...