Rabu, 03 Februari 2021

PANASNYA BUNGA MEKAR JILID 15-01

PANASNYA BUNGA MEKAR : 15-01
Setiap gerak maju ternyata telah dihalangi oleh batu batu padas yang berguguran dan sisa-sisa senjata para perampok itu yang kemudian dilemparkannya pula.

Namun dalam pada itu, para prajurit dan pengawal itu tidak membiarkan lawannya meninggalkan arena begitu saja. Karena itulah, maka yang bersenjata panah, segera mengambil busur dan anak panah. Seperti pada saat para perampok itu datang menyerang, maka anak panahpun kemudian meluncur seperi hujan.

Beberapa orang tidak berhasil mencapai bibir tebing Bahkan sebagian lagi terguling jatuh, meluncur kembali ke arah para pengawal.

Namun sejenak kemudian, maka para perampok itupun telah hilang di balik gerumbul-gerumbul di atas tebing.

Para prajurit dan pengawal itu pun segera menghenti usahanya ketika Senopati yang memimpin pasukan dari Kediri itu memberikan isyarat.

Dalam waktu yang pendek, para prajurit dan pengawal itu telah berkumpul dalam barisan memanjang. Beberapa orang dari mereka ternyata telah menjadi korban. Bukan saja luka-luka tetapi ada beberapa orang yang ternyata telah terbunuh.

Kemarahan yang sangat membayang di wajah Senopati itu. Tetapi ia menyadari, bahwa ia tidak boleh sekedar menuruti perasaannya saja. Ia harus mempergunakan nalarnya sepenuhnya menghadapi keadaan yang berkembang diluar dugaan.

“Kumpulkan kawan-kawan kita yang terluka dan yang telah gugur” berkata Senopati itu, “kita tidak dapat meneruskan perjalanan. Para tawanan telah terlepas, kecuali beberapa orang yang terluka parah. Tetapi mereka harus kita bawa sebagai bahan pengusutan lebih lanjut”

Para prajurit dan pengawal itu pun segera mengumpulkan kawan-kawan mereka yang terluka dan gugur. Dengan kemarahan yang menghentak di setiap dada, maka mereka pun kemudian mengambil satu sikap untuk membawa orang-orang yang terluka kembali ke padepokan kecil. Demikian juga para tawanan yang tidak sempat melarikan diri karena luka-lukanya.

Namun demikian, para prajurit itu masih menyempatkan diri untuk mengubur kawan-kawan mereka yang gugur, sementara di bagian lain, mereka pun telah mengubur para perampok dan penyamun yang terbunuh.

“Pada saatnya kita akan memindahkan kawan-kawan kita untuk dapat diselenggarakan sebagaimana seharusnya” berkata Senopati itu.

Demikianlah, pasukan yang parah itu pun kemudian mengambil keputusan untuk kembali saja ke padepokan kecil. Mereka akan melaporkan apa yang telah terjadi. Tetapi lebih dari itu, mereka akan memberikan sekedar laporan sebagai peringatan, bahwa memang ada kekuatan yang membayangi mereka yang sedang bertugas memburu orang yang dianggap berbahaya bagi Kediri.

Ternyata perjalanan kembali itu memerlukan waktu yang lebih panjang dari saat mereka berangkat. Pada saat matahari sepenggalah, mereka telah sampai ke tempat itu. Namun ternyata mereka memerlukan waktu jauh lebih lama ketika mereka kembali ke padepokan, setelah bertempur beberapa lama di lembah itu.

Kedatangan pasukan itu kembali ke padepokan kecil dalam keadaan yang parah itu benar-benar mengejutkan Dalam sekejap, seisi padepokan telah tertumpah di halaman, sementara mereka yang datang sibuk menempatkan para prajurit dan pengawal yang terluka.

“Masih ada beberapa tawanan yang tertinggal” berkata Senopati yang memimpin pasukan itu” terutama mereka yang terluka. Tetapi sebagian terbesar dari mereka telah terlepas atau justru terbunuh di saat mereka melarikan diri”

Pangeran Kuda Padmadata menggeretakkan giginya. Kemalangan itu benar-benar telah menyinggung kehormatannya.

“Bagaimana dengan kelompok yang kau tugaskan melawan pemimpin mereka?” bertanya Pangeran Kuda Padmadata.

“Tidak banyak gunanya” jawab Senopati itu, “meskipun pemimpin mereka yang bagaikan iblis itu tidak dapat mengalahkan ke empat orang itu, namun ke empat orang itu sama sekali tidak berhasil mengikatnya dalam satu lingkaran pertempuran. Pemimpin mereka yang tua itu sempat melepaskan diri dan bertempur di segala tempat di perang brubuh yang kasar itu.

Mahisa Bungalan yang masih muda itu menggeram, “Kita akan mencarinya sekarang”

Tetapi Mahisa Agni menggeleng, “Jangan. Kita memerlukan keterangan lebih banyak lagi tentang mereka”

Mahisa Bungalan hanya menarik nafas dalam-dalam Namun nampak betapa wajahnya menjadi kecewa, Sementara di dalam hatinya ia berkata, “Paman Mahisa Agni selalu terlambat bertindak”

Tetapi ternyata Witantra dan Mahendra serta Ki Wastupun sependapat, bahwa persoalannya memang harus dibicarakan lebih dahulu. Ternyata kekuatan yang tersembunyi itu mampu melawan sepasukan prajurit dan pengawal yang memang sudah dipersiapkan membawa para tawanan ke Kediri.

“Kalian akan beristirahat di sini untuk dua tiga hari” berkata Muhisa Agni, “jika sebagian besar kekuatan pasukanmu sudah pulih, maka kalian akan kembali ke Kediri. Tetapi dalam pada itu, kekuatan pasukan yang mencegat kalian itu pun telah pulih pula”

Senopati yang memimpin pasukan itu mengerti maksud Mahisa Agni, sehingga kerena itu, maka ia pun mengangguk angguk.

Demikianlah, maka pasukan yang telah dirobek oleh serangan, yang kuat dari para perampok dan penyamun itu untuk satu dua hari akan tetap tinggal di padepokan. Pasukan itu masih harus berusaha membenahi diri dan me ngobati luka-luka yang parah. Beberapa orang pengawal dan prajurit telah terluka parah. Mereka tidak akan mungkin dapat sembuh dalam waktu dua tiga hari saja.

Karena itulah, maka para pemimpin prajurit dan pengawal serta yang berada di padepokan itupun harus mengambil satu sikap bagi pasukan itu.

“Tinggalkan yang terluka di padepokan ini, termasuk para tawanan” berkata Mahisa Agni, “aku akan menunggui mereka bersama Witantra dan Pangeran Kuda Padmadata. Sementara perjalanan kalian ke Kediri akan diikuti oleh Mahisa Bungalan, Ki Wastu, Mahendra dan kedua anaknya yang lain”

“Aku akan melakukan apa saja yang baik menurut kalian” berkata Mahendra.

“Apakah tidak sebaiknya aku ikut kembali ke Kediri” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “aku harus mempertanggung jawabkan keadaan para prajurit dan pengawal. Bahkan ada di antara mereka yang ternyata telah gugur”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Jika Pangeran ingin kembali bersama pasukan itu, silahkan. Aku akan tinggal bersama Witantra. Mungkin dendam orang itu akan tertuju kembali kepada padepokan kecil ini”

“Baiklah” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “aku akan kembali ke Kediri. Biarlah Ki Wastu sajalah yang tinggal di sini”

Demikianlah, mereka pun mengambil keputusan, bahwa jika saatnya mereka akan kembali ke Kediri, maka Pangeran Kuda Padmadata, Mahisa Bungalan, Mahendra dan kedua anaknya yang lain akan ikut bersama mereka.

Namun karena keadaan pasukan yang masih parah itu, maka mereka tidak dapat tergesa-gesa kembali ke Kediri.

Sementara itu, Ki Dukut pun tidak kalah gelisah dari orang-orang Kediri yang berada di padepokan terpencil itu. Ternyata ketika Ki Dukut yang dikenal oleh para pangikutnya bernama Rajawali Penakluk itu berhasil mengumpulkan orang-orangnya, korban yang telah jatuh benar-benar membuatnya pening. Ia tidak mengira bahwa para prajurit dan pengawal itu memiliki kemampuan yang tinggi, sehingga mereka berhasil membunuh demikian banyak orang-orangnya.

“Yang menjadi korban, ternyata lebih banyak dari yang berhasil dibebaskan” berkata Rajawali Panakluk itu kepada diri sendiri. Namun kemudian, “Tetapi orang-orang yang dapat dibebaskan itu mempunyai kemampuan yang lebih baik dari kawan-kawannya yang menjadi korban”

Tetapi para pengikut Rajawali itu mempunyai penilaian yang lain dari pimpinan tertingginya. Mereka tidak sempat memperhitungkan jumlah kawan-kawannya yang terbunuh. Yang mereka lihat adalah justru kemenangan mereka, karena mereka berhasil membebaskan kawan-kawan mereka yang tertawan ketika mereka, menyerang padepokan kecil itu.

Ki Dukut membiarkan saja kesan itu. Dengan demikian maka para pengikutnya akan merasa berbesar hati dengan akhir yang mereka anggap sebagai satu kemenangan itu. Perasaan menang itu akan sangat berpengaruh pada mereka, karena perasaan itu akan mendorong mereka menjadi semakin.berani dan percaya kepada diri sendiri.

Untuk satu dua hari, Ki Dukut yang dikenal bernama Rajawali Penakluk itu membiarkan keadaan orang-orangnya. Seolah-olah ia memberi mereka kesempatan untuk beristirahat. Makan dan tidur. Ki Dukut sengaja tidak memberikan tugas apapun kepada mereka. Apalagi persediaan mereka masih cukup banyak, sehingga mereka tidak perlu tergesa-gesa merampok dan menyamun.

Namun, ketika keadaan orang-orangnya menjadi semakin baik, maka Ki Dukut pun mulai berpikir, apakah prajurit dan pengawal dari Kediri itu akan segera kembali ke Kediri atau masih lama berada di padepokan itu.

“Korban yang jatuh di antara mereka akan membuat mereka marah” berkata Ki Dukut, “tetapi hal itu akan memberikan peringatan kepada mereka, bahwa prajurit dan pengawal dari Kediri itu pun terdiri dari manusia biasa yang dapat juga mati karena tubuhnya luka tertusuk pedang”

Sekilas melintas di dalam pikirannya untuk berbuat sasuatu. Apakah terhadap pasukan yang akan kembali ke Kediri, atau mereka yang berada di padepokan itu.

“Apakah masih ada gunanya” pertanyaan itu timbul pula di dalam hatinya.

Tetapi menurut perhitungan Ki Dukut Pakering, orang-orangnya yang masih tertawan tentu tinggal sedikit. Itu pun mereka yang terluka, sehingga orang-orang itu tidak akan banyak berarti lagi.

Karena itu, jika ia akan menyerang pasukan Kediri yang kembali ke padepokan itu, yang pada saatnya akan kembali ke Kediri, bukan sekedar karena ia ingin membebaskan orang-orangnya. Tetapi niat itu harus dilambari dengan tujuan, untuk memusnahkan pasukan dari Kediri itu, atau seluruh isi padepokan yang sombong itu.

“Tetapi setiap langkah kini harus diperhitungkan lebih baik lagi” berkata Ki Dukut di dalam hatinya, “kegagalan berikutnya akan berakibat lebih parah lagi. Bahkan mungkin akan menghancurkan seluruh harapanku untuk membalas sakit hatiku”

Oleh karagu-raguan itu, maka Ki Dukut yang dikenal dengan gelar Rajawali Penakluk itu ingin mendengar bagai mana pendapat orang-orangnya. Karena itu, maka dengan sengaja ia memanggil beberapa orang dari kelompok yang barbeda

“Aku ingin mendengar pendapat kalian” berkata KiDukut.

“Tentang apa?” bertanya salah seorang dan mereka.

“Tentang orang-orang Kediri itu. Apakah kita sudah merasa puas satelah kita berhasil membebaskan sebagian dari kawan-kawan kita yang tertawan, meskipun ada juga korban yang jatuh di antara kita”

Seorang yang berwajah kasar, yang termasuk salah seorang yang telah dibebaskan berkata, “Mereka adalah orang-orang yang luar biasa. Mereka memiliki ilmu iblis yang tidak dapat dimengerti”

“Kau sudah jera?” bertanya Ki Dukut.

“Tetapi mereka tidak berada di dalam iring-iringan para prajurit dan pengawal yang membawa kami ke Kediri. Mereka semuanya tertinggal di padepokan itu” berkata orang itu, “jika mereka tetap tinggal di padepokan, maka iring-iringan itu sebaiknya kita hancurkan dengan kekuatan yang masih ada, karena pasukan itu pun telah mengalami luka-luka yang cukup parah. Tetapi jika orang-orang yang mempunyai ilmu iblis itu mengantar mereka ke Kediri, kita mempunyai peluang untuk menghancurkan isi padepokan kecil itu”

Ki Dukut mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian mengangguk-angguk. Katanya, “Pikiranmu baik sekali. Tetapi tentu hanya satu dua orang sajalah yang memiliki ilmu iblis itu. Sementara kita akan dapat mempersiapkan diri lebih baik. Beberapa orang yang telah mengalami tempaan yang keras telah dibebaskan. Bersama mereka, kekuatan kita sudah meningkat. Apalagi jika kita siapkan semuanya dengan lebih baik”

“Kita panggil kawan-kawan kita lebih banyak lagi” berkata seorang di antara mereka.

“Kita akan memanggil orang-orang terbaik yang tersisa. Tetapi bahwa mereka yang telah mendapat tempaan yang sungguh-sungguh itu ada di antara kita, maka kita pun sudah menjadi lebih kuat kedudukan kita” berkata Ki Dukut, “karena itu kita akan menyiapkan diri.

Dua orang akan mengawasi keadaan bersama aku. Mudah-mudahan aku akan mendapat beberapa pertanda dari mereka”

Demikianlah Ki Dukut mempersiapkan orang-orangnya yang masih saja dibakar oleh dendam. Tetapi, Ki Dukut harus benar-benar meyakini, bahwa orang-orang terpenting yang disebut berilmu iblis itu tidak berada di antara mereka.

Ketika di malam hari, Ki Dukut yang mendekati padepokan itu melihat bahwa para prajurit dan pengawal sudah mengatur diri dan disibukkan oleh persiapan-persiapan perjalanan yang panjang, maka untuk beberapa saat Ki Dukut berusaha untuk mendengarkan satu percakapan di antara mereka. Seperti yang pernah dilakukan, maka ia pun mengendap di luar pintu gerbang, mendengarkan para pengawal itu berbicara untuk melenyapkan kejemuan.

Ketika Ki Dukut sudah hampir menjadi jemu dan tidak sabar lagi, tiba-tiba saja ia mendengar penjaga itu berkata, “Mungkin orang-orang gila itu akan mencegat kita lagi”

“Justru kita mengharap demikian. Jika kali ini mereka melakukannya, maka mereka akan tertumpas habis” sahut yang lain.

“Kita berharap demikian. Di saat matahari sepenggalah, kita akan sampai di lembah itu lagi” desis kawannya.

Percakapan itu sudah cukup memberi tahukan kepada Ki Dukut Pakering, apa yang bakal dilakukan oleh para prajurit dan Pengawal. Mereka tentu akan kembali ke Kediri bersama dengan orang-orang yang disebut berilmu iblis itu.

Karena itu, maka Ki Dukut yeng disebut Rajawali Penakluk itu pun kemudian meninggalkan regol padepokan itu, kembali kepada orang-orangnya.

“Kita tidak akan dapat berbuat apa-apa terhadap para prajurit dan pengawal yang akan kembali ke Kediri, “barkata Ki Dukut kepada pengikut-pengikutnya” ternyata orang-orang yang kalian sebut berilmu iblis itu akan bersama mereka. Para prajurit dan pengawal itu justru berharap, agar kita besok mencegat mereka lagi, sehingga seperti saat kita depokan kecil itu maka kita bagaikan serangga masuk ke dalam api”

“Jadi kita tidak akan berbuat apa-apa?” bertanya salah seorang dari pengikutnya.

“Jangan bodoh. Dengan demikian, padepokan itu akan merupakan sasaran yang baik bagi kita. Kita akan menyerang padepokan itu dan menghancurkannya”

“Besok pagi?” bertanya yang lain.

“Sesudah para prajurit meninggalkan padepokan itu” Jawab Ki Dukut.

Para pengikutnya mengangguk-angguk. Mereka merasakan satu sentuhan harapan untuk dapat melepaskan dendam mereka. Di padepokan itu hanya akan ditunggui para cantrik yang pada umumnya belum memiliki kemampuan bertempur.

“Sekarang kalian dapat beristirahat” berkata Ki Dukut, “besok kita akan mengerahkan kemampuan kita. Padepokan kecil itu akan menjadi karang abang. Mayat para cantrik dan pemimpin padepokan yena sombong itu pun akan terbakar bersama padepokan mereka”

Seperti yang didengar Ki Dukut Pakering, maka prajurit aan para pangawal dari Kediri itu telah bersiap-siap untuk kembali ke Kediri pada pagi hari berikutnya bersama Pangeran Kuda Padmadata, Mahendra, Mahisa Bungalan dan kedua adik-adiknya.

Namun atas berbagai macam pertimbangan, karena masih ada beberapa prajurit yang terluka dan beberapa orang tawanan, maka Pangeran Kuda Padmadata memutuskan, ada beberapa orang prajurit dan pengawal yang akan tinggal melayani kawan-kawannya yang terluka sambil mengawasi tawanan yang masih ada di padepokan itu.

Ketika fajar menyingsing, padepokan itu telah menjadi sibuk. Ketika semua parsiapan telah selesai, maka iring-iringan itu pun siap meninggalkan padepokan itu menuju ke Kediri.

“Jangan lengah,” pesan Pangeran Kuda Padmadata meskipun ia sendiri ikut serta dalam iring-iringan itu, “Yang pernah terjadi menjadi pengalaman yang tidak boleh terulang lagi”

Demikianlah, maka Pangeran Kuda Padmadata serta mereka yang akan kembali ke Kediri itu pun segera minta diri. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sebenarnya tidak ingin segera kembali. Tetapi karena ayahnya menjanjikan bahwa setelah mereka sampai ke Kediri, maka akan kembali lagi untuk melakukan pemburuan yang besar, maka mereka pun telah bersedia ikut pula.

Dengan penuh kewaspadaan iring-iringan itu menyusuri jalan persawahan menjauhi padepokan kecil itu menuju ke Kediri. Seperti yang pernah dilakukan, maka iring-iringan itu pun semakin lama semakin mendekati lembah yang telah dipergunakan sebagai perangkap oleh Ki Dukut Pakering.

Tetapi iring-iringan yang dipimpin oleh Pangeran Kuda Padmadata itu tidak berjalan kaki seperti yang telah terjadi. Karena mereka tidak membawa tawanan, maka iring-iringan itu pun melaju di atas punggung kuda.

Ki Dukut Pakering dan beberapa pengiringnya, sengaja ingin membuktikan, apakah benar di dalam iring-iringan itu terdapat orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi, sehingga orang-orangnya menyebutnya memiliki ilmu iblis.

Dari jarak yang cukup, Ki Dukut pun melihat iring-iringan itu semakin lama menjadi semakin dekat.

“Mereka lebih cepat sampai ke tempat ini” desis Ki Dukut yang dikenal oleh orang-orangnya bergelar Rajawali Penakluk.

“Mereka berkuda” desis yang lain.

“Ya. Mereka tidak membawa seorang tawanan pun, karena mereka telah kita hebaskan. Mungkin masih ada satu dua orang yang tertawan dan luka-luka, tetapi itu sudah tidak berarti sama sekali”

Pengikutnya mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Dukut memperhatikan dengan seksama, siapakah orang-orang yang disebut memiliki ilmu iblis itu.

Jantungnya berdesir ketika ia melihat Pangeran Kuda Padmadata berada di dalam iring-iringan itu. Tahulah Ki. Dukut Pakering, bahwa permusuhannya dengan muridnya itu benar-benar telah mencengkam sampai kedasar jantung. Ia sendiri dan muridnya itu tidak akan dapat lagi menemukan jalan yang baik untuk menyelesaikan persoalan di antara mereka, karena pertentangan diantara mereka justru semakin lama menjadi semakin dalam.

Di sisi Pangeran Kuda Padmadata berkuda seorang anak muda yang pernah dikenal pula oleh Ki Dukut, telah membuat Ki Dukut semakin berdebar-debar. Bahkan diluar sadarnya ia mengumpat, “Gila. Agaknya iblis-iblis itulah yang telah menghancurkan orang-orangku. Kenapa tiba-tiba saja mereka berada di padepokan itu? Apakah mereka mengetahui bahwa aku berada di tempat ini?”

Namun Ki Dukut pun mengetahui, bahwa Pangeran Kuda Padmadata tentu mengenal pengikutnya yang paling setia, yang telah terbunuh di padepokan itu.

“Dengan demikian, maka Pangeran itu tentu mengetahui, bahwa aku berada di sekitar tempat ini. Dan agaknya Pangeran itu pun mengetanui bahwa akulah yang telah mencegat prajurit dan pengawal Kediri yang membawa tawanan melalui lembah itu” berkata Ki Dukut di hatinya pula.

Dalam pada itu, iring-iringan itu melaju tanpa mengalami gangguan apapun juga. Pangeran Kuda Padmadata yang mengharap dapat bertemu dengan gurunya, menjadi kecewa, bahwa pasukan yang mencegat itu tidak melakukannya lagi.

Tetapi Pangeran Kuda Padmadata tetap berhati-hati. Mungkin pasukan yang diduganya dipimpin oleh Ki Dukut itu telah mengambil tempat yang lain.

Namun ternyata bahwa Ki Dukut yang bergelar Rajawali Penakluk itu hanya memandangi saja pasukan yang lewat, karena ia telah mempunyai rencana yang lain.

Ketika iring-iringan itu menjadi semakin jauh. maka Ki Dukut itu pun tertawa sambil berkata, “Kita mendapat kesempatan untuk melakukan sesuatu atas padepokan kecil itu”

Para pengikutnya pun tertawa. Seseorang yang pernah tertawa di padepokan itu pun berkata, “Ada beberapa orang yang memiliki ilmu iblis. Selain yang disebut Pangeran itu ada pula beberapa anak muda yang gila diantara mereka dan seorang tua. Tetapi agaknya masih ada satu dua orang yang tertinggal di padepokan”

“Ada beberapa orang mereka semuanya?” bertanya Ki Dukut.

Orang itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku tidak tahu pasti”

“Yang lewat bersama mereka, para prajurit dan pengawal itu ada beberapa?” bertanya Ki Dukut pula.

“Lima atau enam. Aku kurang pasti” jawab orang itu, “Agaknya semuanya telah kembali ke Kediri. Mungkin masih ada satu dua orang prajurit dan pengawal yang mengawasi para tawanan yang terluka. Tetapi itu tidak akan berarti apa-apa” desis Ki Dukut Pakering.

Dengan demikian, maka Ki Dukut telah mengambil satu keputusan untuk menyerang padepokan kecil yang telah di tinggalkan oleh para prajurit dan pengawal dari Kediri. Beberapa orang yang telah mendapat tempaan yang keras telah dibebaskan. Bersama dengan pengikatnya dalam jumlah yang besar, maka Ki Dukut Pakering yang dikenal sebagai Rajawali Penakluk itu merencanakan untuk melumatkan sama sekali padepokan yang telah dianggapnya menantang dan bahkan berkhianat itu.

Ketika Ki Dukut kemudian kembali ke sarangnya, maka ia pun segera menghimpun orang-orangnya. Memilih yang terbaik diantara mereka. Namun ia tidak mengabaikan pula jumlah yang akan dibawanya, sehingga semuanya sudah meyakinkannya, bahwa ia akan dapat menghancurkan padepokan itu.

“Kita tidak tergesa-gesa seperti saat kita menjebak iring-iringan itu” berkata Ki Dukut, “padepokan itu tidak akan pergi kemana-mana. Sedangkan iring-iringan pasukan itu harus diperhitungkan tempat dan waktu yang tepat, agar kita tidak terlambat”

Para pengikutnya mengangguk-anggiik. Mereka pun mengerti, bahwa mereka dapat melangkah dengan perhitungan yang lebih cermat.

“Kita dapat berlaku sebagai seekor kucing terhadap seekor tikus” berkata Ki Dukut, “kita kepung padepokan itu. Kita akan menakut-nakuti mereka, sebelum kita berbuat sesuatu. Jika mereka semuanya telah menggigil ketakutan untuk beberapa lamanya, maka barulah kita memasuki padepokan itu. Mereka tentu akan mati membeku dengan sendirinya sebelum kita berbuat apa-apa”

Para pengikutnya tertawa. Agaknya memang menyenangkan. Setelah mereka dicengkam oleh ketegangan beberapa saat lamanya, maka mereka akan menyaksikan sesuatu yang akan sangat menyenangkan. Bermain-main dengan perasaan takut orang lain. Kemudian dengan sekehendak hati memperlakukan mereka yang sadang ketakutan itu.

“Kapan kita akan mulai” tiba-tiba seseorang tidak sabar lagi.

“Jangan tergesa-gesa” desis Ki Dukut.

“Sekarang kita dapat mulai” berkata yang lain.

Kita Dukut yang bergelar Rajawali Penakluk itu tertawa. Ia menemukan cara yang paling baik untuk membangkitkan kepercayaan kepada diri sendiri bagi anak buahnya yang hampir saja menjadi putus asa dan kehilangan harapan. Bahwa mereka merasa diri mereka menang ketika mereka berhasil membebaskan kawan-kawan mereka, meskipun dengan korban yang sangat banyak, Ki Dukut sudah mulai berharap bahwa orang-orangnya itu akan bangkit. Cara yang akan menyenangkan pengikutnya menghadapi padepokan itu pun akan dapat mempertebal gairah perjuangan mereka.

“Sasaran utamaku adalah Kasang Jati” gumam Ki Dukut Pakering.

Dalam pada itu, maka Ki Dukut Pakering pun telah mempersiapkan pasukan yang kuat. Mereka yang tidak terpilih untuk ikut serta, merasa sangat kecewa. Rasa-rasanya mereka tidak akan dapat ikut melihat satu pertunjukkan yang akan sangat mengesankan dan jarang kali dapat dijumpainya pada waktu mendatang.

“Tentu tidak semuanya” berkata Ki Dukut, “sebagian dari kalian harus menunggui kekayaan yang telah kita kumpulkan. Meskipun untuk daerah yang luas, kita telah bersatu dan tidak akan saling mengganggu, tetapi masih perlu ada pengawasan atas segalanya yang telah kita kumpulkan”

Betapa perasaan kecewa mencengkeram jantung, tetapi mereka harus patuh. Tinggal di barak bersama beberapa orang tanpa berbuat sesuatu.

Agaknya para pengikutnya tidak sabar untuk menunggu sampai hari berikutnya. Agar tidak mengecewakan, maka Ki Dukut pun kemudiain mempersiapkan pasukannya dan memberi tahukan kepada mereka, “Sebaiknya hal ini kita lakukan di siang hari. Mereka akan dapat melihat kekuatan kita. Mereka akan menjadi cemas dan ketakutan, sementara kita hanya duduk-duduk saja melingkari padepokan itu”

“Malam nanti kita berangkat” berkata seseorang, “ketika pagi-pagi mereka terbangun, maka mereka akan melihat bahwa padepokan mereka telah terkepung. Sebagian dari mereka tentu akan segera jatuh pingsan. Kita akan mengepung mereka tiga hari tiga malam, agar mereka merasakan ketakutan untuk waktu yang cukup sebelum jiwa mereka kita renggut dari batang tubuhnya”

Yang terdengar adalah suara tertawa berkepanjangan sambil teriak-teriakan gembira. Bahkan beberapa orang berteriak, “Setuju sekali dengan cara itu. Kita akan mendapat permainan yang menyenangkan”

Seperti yang direncanakan, maka Ki Dukut pun telah membawa pasukannya mendekati padepokan kecil itu, dan mereka pun segera mengatur diri, mengepung padepokan itu. Kini sebagian terbesar dari mereka berada di depan padepokan. Beberapa orang sudah mendapat tugas untuk mengawasi setiap pintu butulan dan sudut padepokan, agar tidak seorang pun yang sempat melarikan diri.

Dengan gembira para pengikut Ki Dukut itu berharap, agar pagi segera terbit. Mereka seolah-olah tidak sabar lagi menunggu, isi padepokan itu menjadi ketakutan dan menggigil sambil memohon ampun.

“Tetapi tidak ada ampun. Mereka akan mati dalam keadaan yang paling pahit” berkata salah seorang dari mereka.

“Kami akan membunuh mereka dengan perlahan-lahan” berkata yang lain.

“Apapun dapat kita lakukan. Jika kita mengepung mereka tiga hari tiga malam, maka sebagian mereka tentu sudah mati dengan sendiri dalam keadaan yang sangat ketakutan”

Orang-orang itu tertawa. Mereka sama sekali tidak mengekang diri, seperti sepasukan prajurit yang dengan diam-diam mengepung benteng lawan. Tetapi mereka seolah-olah telah dengan sengaja menunjukkan kepada orang-orang di dalam dinding padepokan itu, bahwa mereka telah datang.

Para penjaga regol di padepokan itu pun akhirnya mendengar kegaduhan di luar meskipun tidak terlalu dekat. Tetapi mereka tidak segera dapat mengetahui, apakah yang telah terjadi.

Seorang dari antara mereka telah memasang tangga, untuk melihat, siapakah yang berada di luar dinding.

Dari sisi gapura, seseorang menjenguk keluar. Tetapi gelapnya malam masih belum dapat ditembusnya dengan tatapan mata.

“Siapa?” bertanya kawannya., “Tidak tahu” jawab yang memanjat, “aku tidak melihat dengan jelas, tetapi aku kira sekelompok orang yang tidak kita kenal berada di depan padepokan ini”

“Sebentar lagi fajar akan menyingsing” sahut yang lain, “kita akan segara melihat. Namun mungkin sukali sebelum fajar telah terjadi sesuatu atas padepokan ini”

“Jadi, apakah yang akan Kita lakukan? Memukul tanda bahaya?” bertanya kawannya.

“Belum tentu. Aku akan melaporkan saja kepada kawan-kawan agar mareka bersiaga”

Salah seorang dari para cantrik yang berjaga-jaga di regol itu pun segera pergi ke barak. Ia membangunkan beberapa orang kawannya dan mengatakan apa yang diketahuinya.

“Kau sudah melaporkannya kepada pemimpin kita dan para tamu itu” bertanya seorang cantrik.

“Belum” jawab kawannya, “kukira masih belum perlu sebelum kita yakin, apa yang terjadi”

Beberapa orang cantrik itu pun telah bersiaga. Bahkan kemudian dua orang putut Yang memimpin para cantrik itu pun telah terbangun pula. Ternyata keduanya pun berpendapat, bahwa sebaiknya, mereka tidak usah melaporkannya lebih dahulu, karena mereka masih belum jelas mengetahui persoalannya.

“Kita sajalah yang berjaga-jaga” berkata kedua orang putut itu kepada para cantrik yang telah terbangun.

Para cantrik yang telah terbangun itu pun segera mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Mereka sadar, bahwa mereka masih belum memiliki dasar yang cukup. Tetapi kemenangan yang pernah mereka saksikan di padepokan itu, telah membuat hati mereka berkembang.

Beberapa orang di antara mereka pun kemudian berpencar. Namun mereka pun telah bersiap dengan tanda tanda siasat apabila keadaan menjadi semakin gawat.

Dengan diam-diam, para cantrik itu duduk bersandar dinding di beberapa bagian halaman padepokan mereka. Satiap kelompok telah tersedia sebuah kentongan kecil yang setiap saat dapat mereka bunyikan.

Tetapi ternyata menjelang pagi, tidak terjadi sesuatu atas padepokan itu. Namun demikian gelap malam terkuak maka seseorang di antara para cantrik yang memanjat tangga di sebelah regol itu pun segera melihat, bahwa padepokan mereka telah dikepung.

Cantrik itu memang benar-benar hampir saja menjadi pingsan. Namun dengan kata-kata gagap, ia masih sempat menceriterakan kepada kawan-kawannya, apa yang telah dilihatnya.

“Kau tidak bermimpi?” bertanya salah seorang putut.

“Kau lihatlah sendiri” berkata cantrik itu.

Seorang Putut yang terbaik di antara kawan-kawannya itu pun kemudian memanjat tangga di sebelah regol. Ternyata ia pun melihat, beberapa kelompok orang sedang duduk-duduk berpencar di depan padepokan. Sedang beberapa yang lain tersebar mengelilingi padepokan itu.

“Kita benar-benar menghadapi bahaya yang gawat” katanya bersungguh-sungguh.

“Lalu, apakah yang akan kita kerjakan?” bertanya seorang cantrik.

“Bukan kita yang mengambil keputusan. tetapi pimpinan padepokan ini” jawab putu itu.

Putut itu pun dengan tergesa-gesa telah menemui pemimpin padepokannya yang telah bangun pula dan membersihkan diri. Laporan itu memang mengejutkannya, Namun ia pun berusaha untuk tidak menjadi bingung dan kehilangan akal.

Ketika ia masuk ke ruang dalam, dilihatnya seorang cantrik yang lain sedang mencarinya.

“Ada apa?” bertanya pemimpin padepokan itu.

“Nampaknya mereka sedang bersiap sekarang. Mungkin mereka sudah akan mulai bergerak” berkata cantrik itu.

“Bersiaplah menghadapi segala kemungkinan” perintah pemimpin padepokan itu, “bagai manapun juga, kita harus mempertahankan padepokan ini sejauh dapat kita lakukan”

Para cantrik itu kembali kepada kawan-kawannya. Atas perintah pemimpin padepokan itu, maka semua orang yang berada di dalam lingkungan padepokan itu telah mempersiapkan diri.

Para cantrik, para pembantu yang setiap hari juga berada di padepokan itu, meskipun mereka bukan cantrik yang dengan sengaja menyadap ilmu kanuragan dan kajiwan.

“Dendam mereka telah membakar jantung” berkata pemimpin padepokan itu, “karena itu, kita justru harus bersikap jantan. Jika kita menyerah, maka leher kita akan mereka patahkan. Tetapi jika kita melawan, seandainya kita akan mati juga namun kematian kita adalah kemati seorang laki-laki”

Kata-kata itu telah menumbuhkan gairah perjuangan bagi para cantrik yang semula merasa cemas menghadapi perkembangan keadaan.

Dalam pada itu, pemimpin padepokan itu pun segera menemui Mahisa Agni, Witantra dan Ki Wastu yang masih tinggal. Ia pun segera menyampaikan, apa yang telah terjadi diluar dinding padepokan.

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Ia menyadari, betapa keadaan memang menjadi gawat. Karena itulah, maka ia pun segera memanggil beberapa orang prajurit yang masih tinggal untuk membantu kawan-kawan mereka yang terluka dan mengawasi beberapa orang tawanan yang tidak sempat melarikan diri, namun yang justru telah terluka pula.

“Kita menghadapi keadaan yang gawat” berkata Mahisa Agni.

Para prajurit itu mengangguk-angguk. Jumlah mereka memang terlalu kecil dibandingkan dengan orang-orang yang dilaporkan berada di luar dinding. Tetapi mereka mempunyai kemampuan untuk mempertahankan, diri. Sementara di antara mereka terdapat para cantrik yang jumlahnya tidak terlalu kecil.

“Bersiaplah” berkata Mahisa Agni, “sisihkan kawan-kawanmu yang terluka, dan simpanlah para tawanan baik-baik”

“Sebagian dari kawan-kawan yang terluka, masih mampu bertempur pula” berkata pemimpin prajurit dan pengawal yang ditinggal di padepokan itu.

“Jangan paksa mereka” berkata Mahisa Agni, “dengan demikian, maka luka-luka yang sudah akan berangsur baik akan menjadi parah lagi”

“Tetapi itu masih lebih baik daripada kita harus menyerahkan leher kita” jawab pemimpin prajurit itu.

“Meskipun demikian, kalian dapat memperhitungkan, siapakah yang akan dapat turun ke arena, dan siapa yang harus tetap tinggal diam” berkata Mahisa Agni kemudian.

Pemimpin prajurit dan pengawal itu mengangguk-angguk. Ia pun kemudian meninggalkan Mahisa Agni dan menemui kawan-kawannya untuk menyampaikan perintah agar mereka bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.

Agak berbeda dengan para cantrik, meskipun para prajurit dan pengawal itu menjadi berdebar-debar juga, namun mereka sudah cukup terlatih dan ditempa badani dan jiwani menghadapi segala kemungkinan. Karena itu, mereka masih nampak selalu tenang.

Beberapa orang yang terluka, yang merasa dirinya sudah berangsur baik, telah bertekad untuk ikut serta mempertahankan padepokan itu dengan senjata di tangan. Seperti yang dikatakan oleh pemimpin prajurit dan pengawal itu, bahwa bertempur akan jauh lebih baik dari pada menyerahkan leher tanpa perlawanan apapun.

“Aku akan membubuhkan obat yang cukup pada lukaku, agar darah tidak lagi mengalir dari luka itu meskipun aku harus bertempur sambil mengerahkan tenaga” berkata salah seorang dari antara mereka.

Demikianlah, maka para prajurit dan pengawal pun segera bersiap. Yang terluka telah mencoba untuk menjaga luka-luka mereka sebaik-baiknya. Sementara orang yang mereka anggap sebagai tawanan dan terluka pula, telah mereka singkirkan.

“Kami terpaksa mengikat kalian” berkata seorang pengawal.

Dalam pada itu, maka di dalam dinding padepokan itu, para putut, para cantrik, para pengawal dan prajurit pun telah bersiaga sepenuhnya. Mereka menunggu, orang-orang yang mengepung di luar dinding itu akan segera menyerang.

Tetapi ternyata Ki Dukut Pakering tidak segera memerintahkan orang-orangnya untuk menyerang. Mereka justru berada di luar dinding dengan tingkah laku yang aneh. Mereka makan, minum dan bergembira, seolah-olah mereka tidak sedang menghadapi dinding padepokan yang akan dihancurkannya.

“Tentu tikus-tikus itu menjadi gelisah dan ketakutan” berkata orang-orang itu, “kita akan menunggui mereka sampai tiga hari tiga malam. Pada hari keempat, mereka telah membeku karena ketakutan dan kecemasan”

Karena itu, di hari pertama itu, yang mereka lakukan justru sekedar menarik perhatian.

Kegelisahan orang-orang yang berada di dalam dinding padepokan menjadi semakin menghunjam ke dasar jantung. Satu dua di antara mereka yang sempat menjenguk mereka dari atas tangga merasa betapa orang-orang yang mengepung mereka itu telah memastikan, bahwa mereka akan dapat melakukan apa saja yang mereka kehendaki. Mereka dapat melakukan kapan saja sesuai dengan keinginan mereka.

Kadang-kadang terdengar suara tertawa meninggi di antara gurau yang kasar. Bahkan sekali-sekali satu dua orang yang berada di luar dinding itu telah melemparkan satu dua butir batu kearah padepokan diiringi suara tertawa berkepanjangan.

Tingkah laku mereka benar-benar membuat para cantrik menjadi kecut. Hati mereka kuncup semakin kecil. Setiap kali mereka bagaikan terhenyak ke dalam sebuah mimpi yang paling buruk.

“Tetapi bukan sekedar mimpi” desis seseorang, “ketika ia memanjat dinding dan melihat keluar, ternyata yang selalu mengelisahkan itu masih ada. Memang bukan sekedar mimpi yang akan segera hilang jika mereka terbangun.

Di hari pertama, para cantrik dengan gelisah mencoba untuk mendapatkan penjelasan dari putut yang lebih tua dari mereka. Namun putut-putut itu pun sama sekali tidak dapat memberikan penjelasan, selain pesan, agar mereka selalu bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Ketika matahari kemudian turun di ujung Barat, kegelisahan pun menjadi semakin memuncak. Seisi padepokan itu memperhitungkan,, bahwa apabila malam turun maka orang-orang itu akan menyerang padepokan yang mereka anggap terlalu lemah itu.

“Kita akan memasang obor di segala sudut, “berkata putut yang tertua, “dengan demikian, kita akan dapat mengamati keadaan sebaik-baiknya. Kita akan dapat mengamati keadaan orang yang memanjat dan meloncat turun di halaman”

“Itu akan menghahiskan minyak” desis seorang cantrik.

“Tetapi itu lebih baik” jawab Putut itu, “besok kalian akan memanjat kelapa sehanyak-banyaknya. Kita akan membuat minyak kelapa yang cukup selain kita harus mengumpulkan biji jarak, kelenteng randu dan apa pun yang dapat kita krengseng menjadi minyak”

Para cantrik tidak membantah. Bagaimanapun mereka menghargai minyak kelapa yang dapat mereka pergunakan untuk kepentingan dapur, namun dalam keadaan yang gawat mereka tidak dapat menyimpannya saja.

Karena itulah, maka para cantrik telah membuat obor-obor kecil yang akan mereka pasang dibeberapa tempat di sudut-sudul halaman. Dengan tangkai-tangkai panjang, mereka menempatkan obor-obor kecil itu di dekat dinding, agar mereka dapat mengawasi setiap kemungkinan seseorang meloncat masuk.

“Tidak perlu dengan obor-obor itu” desis Mahisa Agni yang melihat seorang cantrik memasang obor.

“Tetapi putut-putut itu memerintahkannya” jawah cantrik itu.

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Tetapi karena-perintah itu telah diberikan, maka ia tidak mencegahnya lagi.

Bagi Mahisa Agni dan para prajurit dan pengawal, lampu-lampu obor itu memang tidak perlu. Tetapi mereka harus langsung mengawasi setiap jengkal dinding padepokan semalam suntuk, meskipun berganti-ganti.

Demikianlah, ketika gelap malam mulai turun, maka beberapa obor telah dinyalakan. Meskipun tidak terlalu terang, tetapi cahaya obor itu memang dapat menerangi bibir dinding padepokan, sehingga jika ada satu dua orang yang meloncat turun ke halaman, maka orang itu akan segera dapat dilihat.

Sementara itu beberapa orang cantrik telah membagi diri dalam kelompok-kelompok yang dipimpin oleh para putut di padepokan itu. Selain daerah pengawasan, mereka pun telah menentukan saat-saat mereka berjaga-jaga.

Para cantrik telah membagi malam menjadi tiga kerat waktu. Namun meskipun mereka yang tidak sedang bertugas, para cantrik itu harus berada di tempat yang telah ditentukan dengan senjata masing-masing.

Selain para cantrik, maka para pengawal dan prajurit telah menentukan waktu dan tempat tersendiri. Dalam pada itu Mahisa Agni, Witantra dan Ki Wastu akan selalu berada di pendapa untuk melihat setiap perkembangan yang terjadi, sementara pemimpin padepokan itu akan selalu mengelilingi padepokannya untuk memberikan dorongan gairah perjuangan bagi para cantrik dan putut yang sedang diliputi oleh ketegangan yang semakin memuncak.

Namun dalam pada itu, justru karena para cantrik, para prajurit dan pengawal harus berjaga-jaga sepenuhnya, maka perapian di dapur pun tidak pernah padam. Petugas-petugas yang khusus di dapur telah menyediakan air panas semalam suntuk agar mereka yang bersiaga tetap segar.

Dengan hati yang berdebar-debar para cantrik menunggu. Obor-obor yang menyala di sudut-sudut halaman dan hampir di seputar padepokan itu nyalanya mulai redup. Satu dua di antara obor-obor itu telah padam. Namun yang lain telah diisi lagi dengan minyak tanah, atau diganti dengan biji-biji jarak kering yang dirangkai dengan lidi. Tetapi biji-biji jarak itu tidak dapat mencapai waktu terlalu lama, sehingga harus diganti yang baru pula.

Menjelang pagi, kegelisahan para cantrik hampir tidak dapat ditahan lagi. Meskipun mereka yang sebenarnya mendapat kesempatan untuk tidur, ternyata sama sekali tidak dapai memejamkan mata, karena mereka cemas, bahwa tiba-tiba saja di dalam tidurnya, sehelai pedang telah menghunjam keperutnya.

“Tidurlah” berkata Mahisa Agni yang kemudian, memutari halaman itu bersama pemimpin padepokan, “jangan cemas”

Para cantrik itu memandang Mahisa Agni dengan sorot mata penuh kebimbangan. Seolah-olah mereka ingin menyaksikan, apakah yang dikatakan oleh Mahisa Agni itu benar.

Mahisa Agni dapat menangkap keragu-raguan itu. Karena itu. maka katanya, “Beristirahatlah. Biarlah para pengawal dan prajurit sajalah yang berjaga-jaga menjelang pagi. jika orang-orang itu ingin bertempur di dalam kegelapan malam, mereka tentu sudah menyerang. Bukan saat seperti ini, karena sehentar lagi, matahari sudah akan terbit”

Para cantrik tidak menjawab. Dan Mahisa Agni pun meneruskan, “Tetapi jika kalian sama sekali tidak beristirahat, maka jika nanti matahari terbit, dan orang-orang itu datang menyerang, kalian sudah kehabisan tenaga untuk melawan”

Para cantrik itu saling berpandangan. Sementara Mahisa Agni berkata terus, “Para pengawal dan prajurit sudah terlatih untuk berjaga-jaga semalam suntuk. Meskipun demikian, mereka pun telah membagi diri pula, sehingga masing-masing akan sempat beristirahat, jika keadaan menjadi gawat, maka mereka akan memukul kentongan, dan kalian akan segera terbangun”

Para cantrik itu masih ragu-ragu. Namun pemimpin padepokan itu pun menegaskan, “Percayakan pengamatan padepokan ini kepada para prajurit, pengawal dan kami”

Penegasan itu membuat para cantrik agak tenang. Karena itu, mereka pun segera mencari tempat yang paling haik untuk beristirahat. Bahkan ada di antara mereka yang tidur di tempat yang tersembunyi.

“Kenapa kau tidur disitu?” bertanya kawannya.

“Disini aku merasa aman. Seandainya dengan cepat sekali orang-orang itu memasuki halaman padepokan, mereka tidak segera dapat menemukan aku. Dengan demikian, aku akan sempat terbangun dan memberikan perlawanan. Meskipun aku akan mati juga, tetapi aku sudah melawan” berkata cantrik itu.

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka pun kemudian berusaha, untuk mendapat tempat yang paling baik pula menurut perhitungan mereka.

Ternyata para cantrik itu tidak menyadari, berapa lamanya mereka tertidur oleh telah dan kantuk, justru karena tempat mereka tersembunyi, maka kawan-kawannya yang lain tidak segera melihat mereka dan membangun kan ketika matahari sudah memanjat naik tanpa terjadi sesuatu.

Baru ketika terasa udara menjadi semakin panas, mereka telah terhangun dengan sendirinya. Namun mereka mengumpat ketika mereka sadar, bahwa matahari telah naik sepenggalah.

“Kau tidak mau membangunkan aku” geramnya ketika ia bertemu dengan kawannya yang melintas dengan pedang dilamhung.

“Kau tidur di mana?” bertanya kawannya itu. Tetapi cantrik itu tidak menjawab. Ia pun kemudian langsung menuju kepakiwan. Namun agaknya ada juga satu dua orang yang baru saja terbangun pula.

Ternyata bahwa orang-orang yang berada di luar dinding itu sama sekali belum berbuat sesuatu. Mereka masih duduk-duduk saja sambil bergurau dan mengumpat- mengumpat. Dengan sengaja mereka berteriak-teriak agar suara mereka dapat di dengar dari dalam dinding.

Seorang cantrik yang menjenguk mereka dengan memanjat tangga melihat, bahwa mereka telah membuat perapian untuk merebus air dan menanak nasi.

“Gila” geram cantrik itu, “apakah-sebenarnya yang ingin mereka lakukan”

Kawan-kawannya tidak dapat menjawab. Namun setiap cantrik di dalam padepokan itu merasa, betapa kegelisahan semakin mencengkam dada mereka. Seolah-olah berada di ambang pintu bilik hantu yang sangat menakutkan.

“Mereka membuat kita di sini hampir gila” berkata seorang cantrik kepada kawannya.

“Ya. Agaknya mereka memang dengan sengaja berbuat demikian sehingga akhirnya mereka akan dengan sangat mudah membinasakan kita” desis seorang putut.

Para cantrik itu mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak dapat berbuat sesuatu untuk mengusir ketegangan yang mencengkam hati.

Meskipun para prajurit dan pengawal masih tetap tenang, tetapi sebenarnyalah hati mereka pun mulai dirayapi oleh kegelisahan yang semakin memuncak. Setiap kali mereka mendengar teriakan-teriakan dan suara tertawa yang meledak, jantung mereka rasa-rasanya akan pecah oleh kemarahan yang meluap.

Tetapi para prajurit dan pengawal masih dapat menahan diri. Mereka masih tetap tenang biarpun hati mereka bergejolak dan dengan seksama mengikuti perkembangan keadaan.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...