Rabu, 03 Februari 2021

PANASNYA BUNGA MEKAR JILID 14-03

PANASNYA BUNGA MEKAR : 14-03
Karena itu, maka iapun mencoba menjajagi, “Menurut pendapatmu. apakah aku telah berdusta?“

“Aku tidak mengatakan demikian. Tetapi kau dapat saja membuat ceritera yang sangat menarik tentang dirimu sendiri dan murid-muridmu itu” jawab Macan Wahan.

Ki Dukut tidak segera menjawab. Ia masih tetap bimbang, apakah sebenarnya Macan Wahan sudah mengetahui keadaan dirinya yang sebenarnya.

Namun Ki Dukut Pakering itu menarik nafas dalam-dalam ketika Macan Wahan itu berkata, “Ki Dukut. Tentu aku tidak akan dapat mempercayai ceritera yang tersebar di Kediri, bahwa kematian Pangeran Kuda Rukmasanti itu karena satu kecelakaan. Karena ada perampok yang memasuki istana. Bahkan ada di antara mereka yang terbunuh. Tetapi sudah tentu bahwa aku pun tidak dapat langsung mempercayai segala macan ceriteramu tentang kedua murid-muridmu itu”

Ki Dukut pun kemudian tertawa. Katanya, “Memang aneh. Aku sudah barang tentu akan tertawa mendengar ceritera tentang perampok-perampok itu. Tetapi sebenarnyalah, bahwa Pangeran Kuda Padmadata memiliki kecakapan yang licik untuk membunuh adiknya. Ada beberapa alasan. Ia merasa iri, bahwa adiknya memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari Pangeran Kuda Padmadata. Tetapi yang lebih parah adalah perasaan cemburu yang membakar jantungnya. Namun ada pula perselisihan pendapat di antara mereka tentang masa depan Kediri”

“Kau kira aku berkepentingan dengan masa depan Kediri dan Singasari” bertanya Macan Wahan.

“Ada atau tidak ada, tetapi apakah kira-kira sama sekali tidak ada rasa tanggung jawabmu barang setitik terhadap tanah kelahiranmu?“ bertanya Ki Dukut.

“He, kau kira aku lahir dimana?“ tiba-tiba Macan Wahan tertawa, “aku tidak lahir di tlatah Kediri atau Singasari”

“Dimana kau lahir?“ bertanya Ki Dukut.

“Aku lahir diatas tanah perdikan. Seperti sekarang aku merasa tidak berada di bawah pemerintahan Kediri maupun Singasari” jawab Macan Wahan.

Ki Dukut menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Tetapi bagaimanapun juga. sebenarnya kau dapat berbuat sesuatu. Aku masih akan selalu berusaha, agar Kediri dapat bangkit untuk melepaskan diri dari Singasari. Bahkan aku ingin mengembahkan kebesaran Kediri dengan Menghapuskan arti Singasari dan menjadikan kembali sebagai Tanah Pakuwon. dibawah pimpinan seorang Akuwu”

“Kau sedang bermimpi” desis Macan Wahan.

“Tidak. Orang-orang Kediri sekarang sedang tidur nyenyak. Soalnya, bagaimana membangunkan mereka. Aku sama sekali tidak mempunyai satu keinginan intuk mendapatkan derajad atau pangkat apapun juga, selain didorong oleh satu perasaan tanggung jawab terhadap bumi kelahiranku” berkata Ki Dukut., “orang yang akan bangkit untuk mengedalikan pemerintahan di Kediri. Semula aku telah mempersiapkan kakak beradik Kuda Padmadata dan Kuda Rukmasanti untuk mengimbangi dua orang saudara sepupu yang memerintah di Singasari. Aku yakin, kedua Pangeran dari Kediri itu akan mempunyai Pengaruh jauh lebih besar di Kediri itu sendiri, sehingga kekuatan di Kediri akan bangkit. Tetapi sayang, salah seorang dari kedua Pangeran itu ternyata tidak jujur” desis Ki Dukut.

“Apakah kau masih mungkin dapat berhubungan dengan para bangsawan di Kediri?“ bertanya Macan Wahan.

“Aku yang tidak percaya lagi kepada para bangsawan. Mereka masih tetap hidup senang dalam keadaan yang seperti sekarang ini. Itulah kelicikan orang-orang Singasari, sehingga para bangsawan di Kediri seolah-olah telah tertidur karenanya di atas alas keresahan rakyatnya.

Macan Wahan mengerutkan keningnya. Ia tidak segera mengetahui arah pembicaraan Ki Dukut Pakering, Meskipun ia tidak segera bertanya, tetapi terasa oleh Ki Dukut, bahwa pertanyaan itu telah menyangkut di hatinya,

“Kita harus lebih teliti melihat kenyataan yang terjadi di daerah Kediri” berkata Ki Dukut kemudian, “karena itu aku menganggap bahwa kekuatan yang terbaik tidak terletak pada para bangsawan yang telah dibius dengan hidup bermewah-mewah oleh orang-orang Singasari. Tetapi kita harus menggerakkan rakyat yang hampir kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya oleh penderitaan yang tidak tertanggungkan.”

Macan Wahan mengerutkan keningnya. Namun katanya kemudian, “Aku menjadi semakin bingung. Apakah keresahan di antara rakyat Kediri itu terasa ditumbuhkan oleh sikap para bangsawan. He, apakah kau tidak mendengar, betapa para perampok-perampok kerdil telah menggelisahkan rakyat di padesan. Bukankah Kediri justru merasa wajib untuk menindas para perampok di tlatah Kediri seperti yang terjadi akhir-akhir ini?“

Jantung Ki Dukut berdesir. Ia mengerti, bahwa Singasari dan Kediri agaknya sudah mengambil sikap tegas terlalu, ”kenapa kau datang kemari” bertanya Macan Wahan.

“Kita dapat berbicara tentang masa depan Kediri” jawab Ki Dukut.

Macan Wahan tertawa pula. Katanya, “Kau memang orang aneh. Sudah aku katakan, bahwa aku tidak mempunyai kepentingan apa-apa dengan Kediri”

“Aku sudah tidak mempunyai pamrih apapun bagi diriku sendiri” sahut Ki Dukut.

“Terserah kepadamu” gumam Macan Wahan, “tetapi agaknya aku memang berbeda. Jika aku berbuat sesuatu, tentu aku mempunyai pamrih”

“Untuk perbuatan yang lain dari ungkapan rasa tanggung jawab terhadap bumi kelahiran, terserah. Tetapi apakah kau juga mempunyai pamrih pribadi jika kau berbuat sesuatu atas Kediri” bertanya Ki Dukut.

“Tentu. Apalagi aku memang merasa bukan orang yang lahir dalam lingkup kekuasaan Kediri” jawab Macan Wahan.

“Jika pamrih pribadi itu ada, apakah kau dapat menyebutkannya?” bertanya Ki Dukut.

“Tentu. Misalnya, bahwa aku akan dikukuhkan kedudukanku sebagai pemimpin atas tanah yang aku anggap tanah perdikan ini. Bahwa dengan daerah yang dua tiga kali lebih luas dari yang aku kuasai sekarang. Mungkin seluas Tanah Pakuwon atau mendekati kekuasaan seorang Akuwu di atas tanah yang tidak di bawah perintah” berkata Macan Wahan.

“Itu berlebih-lebihan. Kekuasaanmu akan melampaui kekuasaan-seorang Akuwu” desis Ki Dukut.

“Apa pedulimu? Tetapi sudahlah, jangan bermimpi. Aku juga tidak ingin mimpi. Marilah kita berbicara tentang persoalan-persoalan yang sewajarnya kita hadapi”

“Persoalan Kediri itupun persoalan wajar. Tetapi aku kira yang kau katakan itu pun tidak mustahil, asal kita sendiri dapat ikut menentukan jalannya pemerintahan kelak” berkata Ki Dukut.

“Maksudmu?“ bertanya Macan Wahan.

”Kita harus mempunyai pengaruh yang kuat terhadap para perampok yang telah digerakkannya dengan nama Rajawali Penakluk”

Namun ia berkata, “Perampok-perampok yang malang, tetapi kau tahu, apakah sebenarnya yang telah memaksa mereka menjadi perampok? Memang agak berbeda dengan apa yang kau lakukan. Kau tidak dapat disebut perampok seperti mereka, karena kau memang tidak merampok dan menyamun dalam pengertian sewajarnya”

“Jangan menyinggung perasaanku” potong Macan Wahan.

“Bukan maksudku. Aku hanya ingin mengatakan, bahwa perampok-perampok kerdil yang tumbuh dimana-mana di tlatah Kediri itu adalah gambaran keresahan rakyat. Mereka tidak lagi mengerti apa yang sebaiknya mereka lakukan. Karena itulah, maka mereka pun dengan mudah dipengaruhi oleh beberapa orang penjahat kecil. Mereka telah dibakar dengan keterangan-keterangan yang memang dapat membangkitkan kedengkian dan iri hati. Perampok-perampok kecil itu dengan tajam telah memberikan gambaran yang tajam tentang perbedaan tataran kehidupan rakyat Kediri. Karena itu maka mereka yang Kehilangan nalar, akan dengan cepat mengambil keputusan, benar atau salah”

“Lalu, apakah kau akan berbuat serupa?“ beritanya Macan Wahan.

“Ya. Tetapi untuk kepentingan yang besar bagi kejayaan Kediri” jawab Ki Dukut, “kita harus menggerakkan mereka”

“Mereka siapa?“ bertanya Macan Wahan.

“Rakyat Kediri yang malang” jawab Ki Dukut.

Macan Wahan termangu-mangu sejenak. Sementara Ki Dukutpun melanjutkannya, “Rakyat harus berbuat sesuatu tidak sebagai perampok-perampok kecil yang justru merugikan rakyat Kediri sendiri. Bukan harus saling memeras, saling menghisap dan saling merampas. Tetapi mereka harus bangkit untuk membangunkan para bangsawan yang telah tertidur. Barulah, jika para bangsawan itu telah terbangun dari mimpi mereka yang nikmat, maka Kediri akan bangkit kembali untuk menghancurkan Singasari yang semula tidak lebih dari sebuah Pakuwon, yang dipimpin oleh Tunggul Ametung, dan yang kemudian direbut oleh anak perampok bernama Ken Arok itu”

“Lalu apa keuntungannya?“ bertanya Macan Wahan.

“Kau ikut menjadi penentu. Karena itu, marilah kita berdiri di depan. Kita akan dapat menentukan ujud yang paling baik dari Kediri mendatang. Para bangsawan yang terbangun dari mimpi itu, akan terterima kasih kepada kita jika kelak mereka berhasil. Dengan demikian, meskipun kita tidak berdiri di paling depan, juga tidak mungkin untuk berada di atas tahta, namun kita telah ikut membuat pola dari satu pemerintahan yang besar di Kediri. Kita akan dapat ikut menantukan, siapakah yang sudah dianggap berjasa, dan mendapat imbalan yang sepadan. Mungkin tanah perdikan yang luas. Mungkin pangkat dan derajad, sebagai Akuwu misalnya. Atau imbalan-imbalan lain yang memadai”

“Apakah modal kita? Padepokan kecilku ini?“ bertanya Macan Wahan.

“Ya. Tetapi sudah barang tentu kita tidak akan berbuat bodoh. Kita akan mulai dengan perbuatan-perbuatan kecil yang akan dapat menarik perhatian. Mungkin kita akan dapat menghimpun orang-orang sesat yang menjadi perampok-perampok kerdil itu”

“Untuk apa?“ bertanya Macan Wahan.

“Ada dua keuntungan” jawab Ki Dukut, “Pertama kita akan mendapat kekuatan. Kedua, rakyat akan berterima kasih kepada kita, karena kita berhasil menghentikan kelakuan mereka”

Macan Wahan tertawa. Katanya, “Orang-orang Kediri telah melakukannya lebih dahulu. Mereka telah menyapu para penjahat kecil itu”

“Tidak apa. Biarlah mereka melakukannya sekarang. Tetapi kita akan dapat melakukannya dengan cara lain. Kekerasan akan menumbuhkan dendam. Dan orang-orang yang mendendam itu akan kita pergunakan. Selebihnya, bukankah kita mempunyai beberapa orang kawan yang tinggal di padepokan-padepokan yang terpencar?“ bertanya Ki Dukut.

“Padepokan yang mana?“ bertanya Macan Wahan.

“Hanya mereka yang mampu berpikir” jawab Ki Dukut, “aku sudah mencoba berhubungan dengan beberapa padepokan. Ternyata mereka lebih senang tidur mendekur seperti para bangsawan”

Macan Wahan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun tertawa sambil berkata, “Kau nampaknya tidak berhasil mempengaruhi beberapa orang pemimpin padepokan. He, bukankah pendengaranku tidak salah? Kau pernah berusaha melakukannya sebelum kau datang kemari?“

“Ya. Aku telah menghubungi beberapa orang pemimpin padepokan untuk memulai dengan rencana besarku sebelum orang-orang Kediri membersihkan para perampok yang menurut pendengaranku dipimpin oleh orang yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk itu” berkata Ki Dukut kemudian, “tetapi aku gagal, karena tidak ada keberanian sama sekali di antara pemimpin padepokan yang berjiwa kerdil itu”

“Kaulah yang bodoh” berkata Macan Wahan sambil tertawa, “siapa yang telah kau datangi? Dan kenapa kau tidak lebih dahulu datang kepadaku?“

“Aku masih memilih. Aku ingin bekerja bersama dengan pemimpin padepokan yang tidak berhaluan hitam seperti kau. Tetapi ternyata aku tidak mendapatkan apa-apa” berkata Ki Dukut Pakering.

Macan Wahan menegang sejenak. Namun ia pun kemudian tertawa. Katanya, “Sekarang kau datang juga kepadaku. He, apakah kau baru melihat, bahwa kekuasaan ilmuku memiliki banyak kelebihan dari orang yang mengatakan dirinya bersumber pada ilmu putih. Siapakah yang menyebut ilmu hitam dan ilmu putih itu? Mungkin cara kita meneguk ilmu berbeda. Tetapi jika yang putih itu yang baik dan yang hitam itu yang buruk, maka sekarang kau ternyata telah datang kepada yang buruk”

“Semula aku memang menganggap begitu” jawab Ki Dukut, “menurut pendengaranku, cara yang kalian pergunakan untuk menyadap ilmu sangat mengerikan. Bahkan kadang-kadang tidak menghiraukan lagi nilai dan martabat manusia”

“Itu hanya dugaan. Mungkin menurut pendapat orang yang tidak menyukai perkembangan cabang ilmu dari perguruanku dan kawan-kawanku yang disebutnya berilmu hitam” berkata Macan Wahan. Lalu, “Tetapi kami memang mempunyai batasan dan ketentuan yang berat dan ketat. Ada beberapa keharusan yang tidak dapat disingkirkan dari perguruan kami. Tetapi maksudnya adalah, bahwa setiap orang yang menyelesaikan penyadapan ilmu di perguruan ini, benar-benar memiliki ilmu yang berbobot. Dan barangkali cara dan keharusan- keharusan itulah yang menyebabkan orang lain menilai cara-cara yang kami tempuh melanggar nilai dan peradaban manusia”

Ki Dukut menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mungkin begitu. Tetapi aku tidak peduli cara yang kau tempuh. Aku hanya ingin kau bekerja bersama aku menegakkan kewibawaan Kediri kembali. Aku mempunyai cara dan jalan yang dapat ditempuh. Kau mempunyai kekuatan yang dapat disusun berdasarkan hubungan kita yang luas”

“Aku akan melihat, apa yang akan kau lakukan. Untuk sementara aku akan memberikan tempat kepadamu di padepokan ini. Mungkin aku dapat membantumu dalam beberapa hal. Aku dapat berhubungan dengan kawan-kawanku. Tetapi aku belum menentukan dengan pasti, apa yang akan aku lakukan” berkata Macan Wahan.

“Terserah kepadamu. Tetapi kita tidak boleh terlambat. Apakah kau tidak dapat mencium kelicikan orang-orang Singasari pada saat-saat terakhir? Mereka telah mengikut sertakan beberapa orang prajurit untuk membantu para pengawal dari Kediri melakukan tugasnya, terutama atas orang-orang yang tidak dikehendaki. Bukankah dengan demikian akan berarti kekuatan Singasari di Kediri akan semakin bertambah-tambah” berkata Ki Dukut, “tetapi yang lebih parah bukannya jumlah pasukan Singasari yang semakin banyak di Kediri. Tetapi bahwa rakyat Kediri akan merasa berterima kasih kepada orang-orang Singasari. Dengan demikian maka Kediri akan semakin lelap tertidur”

Macan Wahan tertawa. Katanya, “Aku akan memikirkannya bersama beberapa orang kawan. He, Ki Dukut. Jika semula kau curiga terhadap kami, sehingga kau lebih senang memilih orang-orang yang kau anggap berilmu putih, apakah tidak sewajarnya jika akupun mencurigaimu. Mungkin kau sekarang dapat bekerja bersama dengan kami yang kau sebut berilmu hitam. Tetapi jika Kediri telah tegak, dan kau berhasil menghimpun kekuatan dan membangunkan para bangsawan yang kau katakan tidur lelap itu, maka kaupun mulai bergerak. Tidak untuk memulihkan kebesaran Kediri dengan menggulung semua pengaruh Singasari, tetapi kau mulai dengan melenyapkan pengaruh kekuatan yang kau sebut ilmu hitam”

“Kau berprasangka” desis Ki Dukut.

“Tentu, seperti juga kau berprasangka” jawab Macan Wahan.

“Terserahlah atas penilaianmu. Aku bersedia menunggu di sini, meskipun akupun sadar, bahwa mungkin satu dua orang kawan-kawanmu akan berpendapat lain. Mungkin satu dua orang kawanmu justru ingin menangkap aku, memeras darahku untuk mencuci tangan mereka, agar kekuatan mereka bertambah-tambah karena mereka menganggap kemampuanku dan kesempurnaan ilmuku akan berpengaruh terhadap mereka” desis Ki Dukut.

Tetapi Macan Wahan tertawa. Katanya, “Itu adalah pengertian yang salah. Agaknya pengertian yang demikianlah, maka orang-orang diluar lingkungan kami menganggap bahwa ilmu kami adalah ilmu hitam”

“Apakah hal itu tidak pernah terjadi? Korban darah?“ bertanya Ki Dukut.

“He, kau ingin berbicara tentang Kediri atau tentang korban darah yang kau salah artikan itu?“ bertanya Macan Wahan yang masih juga tertawa.

Ki Dukut terdiam sejenak. Namun wajahnya nampak tegang. Sesaat ia memandang Macan Wahan yang tertawa. Sebenarnyalah, bahwa mungkin saja dapat terjadi seperti yang dikatakannya sendiri hampir diluar sadarnya itu.

“Tetapi aku bukan golek kayu yang dapat diperlakukan menurut kehendak mereka” berkata Ki Dukut yang merasa juga mempunyai kemampuan yang tidak kalah dari orang-orang yang berilmu hitam itu, “jika mereka memaksa aku berkelahi, maka aku akan mati bersama sedikitnya tiga atau empat orang di antara mereka”

Demikianlah, atas persetujuan Ki Dukut sendiri, maka ia telah berada di padepokan Macan Wahan. Sementara itu Macan Wahan telah memanggil beberapa orang kawannya yang terpilih untuk membicarakan persoalan yang dihadapi oleh Ki Dukut Pakering.

Ketika satu-satu mereka berdatangan, maka Ki Dukut itu pun menjadi cemas. Jika ada satu saja di antara mereka yang mengetahui dengan pasti persoalan yang tumbuh antara dirinya dengan muridnya yang kini tentu sedang memburunya itu, atau ada seorang di antara mereka yang mengetahui bahwa Ki Dukut adalah juga orang yang bernama Rajawali Penakluk, maka pembicaraannya dengan Macan Wahan yang nampaknya sudah mulai mengena itu, tentu akan pecah lagi. Bahkan mungkin nasibnya akan menjadi lebih buruk lagi daripada apabila ia jatuh ke tangan muridnya.

“Apapun yang akan terjadi” berkata Ki Dukut. Sebenarnyalah, ketika empat orang telah berkumpul maka Macan Wahan telah mempersilahkan Ki Dukut hadir di antara mereka. Melihat wajah-wajah yang buram dan kelam, ada juga sedikit keragu-raguan di hati Ki Dukut.

“Jika hati mereka benar-benar tercermin pade wajah-wajah itu, sebenarnya mereka orang-orang berhati hitam” berkata Ki Dukut di dalam hatinya, “ternyata Macan Wahan yang garang itu termasuk wajah yang paling jernih di antara mereka”

Tetapi Ki Dukut agak merasa lega, ketika ia melihat pengaruh Macan Wahan yang besar atas keempat orang kawan-kawannya. Ia telah memberikan penjelasan menurut pendengarannya dari Ki Dukut. Dan selebihnya, ia telah mempersilahkan Ki Dukut untuk berbicara langsung kepada mereka.

Namun tanggapan yang pertama sangat mengecewakan. Seorang berwajah cacat dibawah telinga kirinya berkata dengan nada kasar, “jangan umpankan kami. Kami mempunyai cara tersendiri untuk mempertahankan hidup kami”

Macan Wahan tertawa. Katanya, “Kami sudah memilih dunia kami sendiri. Tetapi kadang-kadang kami terpaksa berpikir juga tentang anak cucu. Apakah kita akan tetap menimangi mereka di dalam dunia kita ini, atau memberikan nafas yang lebih baik bagi kehidupan mereka kelak”

“Kau mulai menjadi cengeng Macan Wahan“ berkata seorang yang berkumis dan barjambang lebat hampir menutupi mulutnya yang besar. Matanya nampak liar dan kemerah-merahan. sementara keningnya digores oleh bekas luka yang menyilang sampai ke dahi.

“Mungkin aku sudah menjadi cengeng” sahut Macan Wahan, “tetapi cobalah renungkan”

“Aku tidak sempat merenungi masalah-masalah cengeng seperti itu” sahut orang yang cacat dibawah telinga kirinya.

“Baiklah” berkata Macan Wahan, “terserah kepada kalian. Tetapi aku mempunyai anak dan cucu. He, siapakah di antara kalian tidak mempunyai anak dan cucu?”

“Anakku laki-laki telah memiliki kemampuan tingkat keenam belas dari perguruan kami” geram orang yang berbekas luka di kening.

“Apakah ukuran tingkat di dalam perguruanmu” bertanya Ki Dukut tiba-tiba.

Macan Wahanlah yang menyahut, “Kau akan dapat menafsirkan lain. Seperti yang kau sebut dengan korban darah itu”

“Aku ingin tahu, bagaimanapun juga aku menafsirkan” jawab Ki Dukut.

“Sulit untuk mengatakannya tanpa memberikan peragaan” jawab orang yang wajahnya berbekas luka itu., “Tetapi sebagai gambaran kasar. Baiklah aku sebutkan saja, bahwa ia telah berhasil membunuh dengan cara tertentu sesuai dengan tingkatannya”

“Bagaimana?“ desak Ki Dukut.

Macan Wahan tertawa. Katanya, “Kau mencari perkara Ki Dukut”

“Aku akan mengatakannya” sahut orang itu, “anakku telah berhasil membunuh lawannya dengan jari-jarinya langsung menusuk sampai ke jantungnya dan mengambilnya dari dadanya”

Terasa bulu tengkuk Ki Dukut meremang. Tetapi ia masih bertanya, “Siapa yang dibunuh dalam pendadaran untuk menentukan tingkat seperti itu?“

Orang yang terluka di kening itu tertawa berkepanjang an. Katanya, “Dapat terjadi pada setiap orang yang kami tangkap sengaja atau tidak. Mungkin seorang yang nasibnya memang sangat buruk. Dalam kesempatan yang pendek karena didesak oleh waktu, kami bertemu dengan seseorang, siapapun mereka. Laki-laki atau perempuan”

”Mungkin dapat terjadi atasmu“ tiba-tiba seorang yang bertubuh gemuk menyambung sambil tertawa pula.

Ki Dukut mengerutkan keningnya. Dengan nada berat ia bertanya, “Kau memakai cara yang sama?“

Orang bertubuh gemuk itu menggeleng. Jawabnya, “Tidak. Aku tidak mau mempergunakan cara yang setengah-tengah seperti itu. Aku memilih cara yang pasti, menyakinkan dan akan diterima dengan baik oleh sesembahan kami”

Jantung Ki Dukut serasa berdenyut semakin cepat. Yang dihadapinya saat itu adalah benar-benar orang yang tidak dapat dikatakan lain, kecuali disebut orang-orang gila yang berhasil memiliki ilmu yang tinggi. Dengan demikian, maka mereka justru adalah orang-orang yang sangat berbahaya.

Bagi Ki Dukut, di antara mereka. Macan Wahan adalah orang yang paling jernih nalarnya. Yang masih sempat berpikir bagi masa yang lebih panjang.

Dalam pada itu, Macan Wahan pun berkata, “Sebaiknya kita berbicara tentang Kediri. Tidak tentang cara kita menyadap ilmu kita masing-masing. Kita mempunyai cara yang berbeda-beda. Kita tidak usah mencampurinya. Apapun yang kita lakukan, sepenuhnya adalah hak kita”

“Berbicaralah tentang Kediri” berkata orang yang bertubuh gemuk, “aku sudah puas dengan kebanggaanku sendiri”

“Apakah tidak sebaiknya kita berbicara tentang satu masa yang lebih panjang dari umur kita sendiri” berkata Macan Wahan.

“Sudah aku katakan” desis orang yang wajahnya terluka dan berkumis dan berjambang lebat, “aku tidak mau berbicara tentang masalah-masalah cengeng seperti itu. jika aku tahu, bahwa di sini kita hanya disuguhi dengan masalah-masalah yang tidak berarti, kami tidak akan datang”

“Kalian orang-orang yang tidak mau berpikir” berkata Macan Wahan, “masalahnya bukan tidak berarti, tetapi justru sebaliknya. Mungkin bagi kalian terlalu berarti, sehingga kalian tidak mampu menjangkau jarak waktu yang diperlukan untuk memperhitungkan persoalan ini. Karena hidup kalian adalah masa kini. Tanpa masa depan.

“Sudah cukup” potong orang yang bertubuh gemuk, “sebenarnya apa yang terjadi atasmu Macan Wahan. Kau seperti orang yang sedang kesurupan. He, apakah orang ini yang telah berhasil merubah caramu berpikir?”

“Aku berpikir sejak semula. Terasa di hatiku sejak aku belum bertemu dengan Ki Dukut, bahwa hidup kita tidak terbatas pada batas umur kita sendiri” berkata Macan Wahan.

“Macan Wahan” berkata orang yang cacat dibawah telinga kirinya, “kau agaknya sudah terbius oleh bujukan orang ini. Apakah sebenarnya yang dikehendakinya? Buat apa kita berbincang dengan orang yang tidak tahu diri itu? Sebaiknya orang yang demikian itu hanyalah sekedar untuk menjajagi ilmu murid-muridku, sampai ditingkat mana ia berhasil menyadap ilmu diperguruanku. Ternyata disini. ia mendapat tempat yang agaknya sangat terhormat. He, apakah ia pamanmu, kakakmu atau siapa dan dalam hubungan yang bagaimana?”

“Ia bukan sanak bukan kadangku. Ia termasuk orang yang berilmu meskipun cara penyadapannya agak berbeda dengan kita. Dalam hubungan itulah kita berbicara“ jawab Macan Wahan.

Orang yang cacat dibawah telinga kirinya itu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Aku tidak yakin bahwa ia memiliki ilmu yang memadai untuk berbicara dengan kita. Sebaiknya kita pergi saja daripada membuang waktu. Jika kami tidak menghormatimu Macan Wahan. maka orang ini tentu sudah aku tangkap dan aku hadapkan kepada murid-muridku untuk melihat tingkat kemampuan anak-anak itu”

“Kau salah menilai orang ini” jawab Macan Wahan, “tetapi jika kau perlu meyakinkannya, terserah kepada Ki Dukut. Apakah ia bersedia untuk memberikan keyakinan kepada kalian, bahwa ia mempunyai hak untuk berbicara dengan kita dalam tataran ilmu yang setingkat”

“Jangan mencelakai tamumu yang nampaknya sangat kau hormati itu Macan Wahan. Biarlah kami pulang meskipun sambil mengumpat di dalam hati” berkata orang yang cacat itu.

Tetapi orang yang berkumis dan berjambang lebat serta segores bekas luka dikeningnya itu berkata, “Aku sudah terlanjur bernafsu untuk menjajagi ilmunya. Mungkin ia memiliki sesuatu yang menarik. Aku kira aku memerlukannya. Tentu saja jika Macan Wahan mengijinkannya”

“Jawablah Ki Dukut” berkata Macan Wahan.

Ki Dukut lah yang mengumpat di dalam hatinya. Tetapi ia pun seorang yang yakin akan ilmunya. Meskipun ia merasa ngeri melihat wajah-wajah itu, serta ngeri mendengar apa saja yang pernah mereka lakukan, namun berhadapan dangan mereka. Ki Dukut sama sekali tidak menjadi gentar.

Karena itu, Ki Dukut pun kemudian berkata, “Baiklah Ki Sanak. Aku akan memenuhi keinginan kalian. Siapa yang ingin menjajagi kemampuanku agar kalian yakin bahwa aku dapat berbicara sesuai dengan tingkat kemampuanku di antara kalian. Siapa yang harus berdiri menjadi lawanku? Kalian dapat mengajukan diri, tetapi dengan keikhlasan untuk mati tanpa dendam”

“Gila” geram orang yang bertubuh gemuk, “ternyata orang ini sangat sombong”

“Sombong atau tidak sombong, tetapi kita harus berjanji. Janji jantan. Siapa yang memasuki arena, bersedia untuk mati. Kematian itu sudah disepakati bersama dibawah saksi kita semua yang masih sempat hidup, bahwa kematian itu tidak akan menyeret persoalan-persoalan lain. Sementara kita yang masih hidup akan berbicara tentang Kediri” jawab Ki Dukut.

“Aku akan memilin lehernya sampai putus” geram orang bertubuh gemuk itu.

“Serahkan kepadaku” berkata orang yang cacat dibawah telinga kirinya, “aku ingin memeras darahnya sampai kering. Mungkin darahnya akan bermanfaat bagiku”

“Tidak akan berharga sama sekali” geram yang berkumis dan berjambang lebat serta segores bekas luka dikening, “tetapi biarlah aku mencincang dengan tanganku”

Dalam pada itu, Ki Dukut dengan-hati yang berdebar-debar menunggu, siapakah di antara mereka yang di sepakati untuk berperang tanding.

Sementara itu, ketiga orang kawan Macan Wahan itu masih berebut untuk menjadi lawan Ki Dukut. Mereka menganggap bahwa dengan membunuh orang yang juga memiliki ilmu, akan dapat menambah ilmu mereka sendiri. Bahkan kadang-kadang dengan cara yang aneh, yang mengerikan, sehingga mereka disebut orang berilmu hitam. Akhirnya ketiga orang itu menemukah satu cara untuk menentukan, siapakah yang akan bertempur melawan Ki Dukut. Orang yang bertubuh gemuk itu kemudian mengajak kedua orang kawannya berdiri saling berhadapan.

“Kita akan mengangkat tangan kita dan mengucapkannya kedepan. Terlentang atau menelungkup” berkata orang yang gemuk itu, “siapa yang paling berbeda dari yang lain, maka ialah yang menang dan berhak untuk membunuh dan menghisap darah orang dungu itu”

“Baik” desis orang yang cacat dibawah telinga kirinya, “kita akan segera mulai. Waktuku sudah tersia-sia. He, bagaimana dengan kau Macan Wahan?”

Macan Wahan menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak ragu-ragu lagi atas orang yang memang sudah aku kenal ini. Ia memiliki ilmu yang pantas, sehingga ia akan dapat berbicara diantara kita. Jika ada diantara kalian yang masih ingin menjajaginya, silahkan. Tetapi aku setuju, bahwa siapa yang turun kegelanggang akan mengikhlaskan kematiannya. Apakah Itu Ki Dukut Pakering, atau salah seorang dari kalian bertiga yang beruntung mendapat kesempatan berperang tanding”

“Bagus. Agaknya kau benar-benar sudah menjadi cengeng. Tetapi baiklah jika kau tidak ingin ikut dalam kegembiraan ini” berkata orang yang berjambang dan berkumis lebat serta segords bekas luka dikening.

“Terserah. Tetapi aku sebagai tuan rumah memang tidak ingin merebut kegembiraan tamu-tamuku. Jika dengan membunuh orang itu kalian mendapat kegembiraan, maka silahkan. Lakukanlah. Aku akan ikut bergembira jika tamu-tamuku bergembira” jawab Macan Wahan.

“Gila, jangan hiraukan orang itu“ geram orang yang gemuk, “marilah kita mulai”

Ketiganya pun kemudian berdiri melingkar. Orang yang gemuk itupun mulai menghitung, “Satu, dua, tiga”

Orang bertubuh gemuk itu mengumpat. Ternyata telapak tangannya menelungkup seperti tangan orang yang cacat dibawah telinga kirinya.

“Kau bodoh. Kenapa kau samai aku, sehingga dengan demikian aku kehilangan kesempatan untuk melumatkan perut orang tua yang dungu itu” geram orang yang gemuk itu.

“Kau yang bodoh” sahut orang yang cacat dibawah telinganya itu.

“Jangan ribut” berkata orang yang berjambang dan berkumis lebat serta segores bekas luka menyilang di kening, “akulah yang mendapat kesempatan. Aku akan membunuhnya dengan caraku. Aku ingin mambuktikan, bahwa aku memiliki ilmu yang sempurna. Macan Wahan boleh percaya atau tidak. Tetapi segalanya akan tergantung kepada orang tua yang malang itu. Semakin tinggi kemampuannya mengimbangi ilmuku, maka ilmuku itupun akan nampak semakin sempurna. Tetapi jika ilmu orang itu hanya setataran alas dari ilmu pamungkasku, maka ilmuku tidak akan sempat nampak betapa agung dan angkernya”

Ki Dukut menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kalian sudah menentukan. Marilah. Kita akan melihat, apakah aku akan mati, atau aku akan mendapat kesempatan berbicara tentang Kediri. Akupun sadar, tanpa membuktikah, bahwa aku memiliki kemampuan yang cukup untuk menempatkan diriku dijajaran orang-orang seperti kalian, aku memang harus membuktikan”

“Kita akan turun ke halaman” berkata orang berjambang dan berkumis lebat, “biarlah murid-muridmu menjadi saksi Macan Wahan. Tetapi mereka yang belum sampai pada tataran yang memungkinkan, jangan kau beri kesempatan untuk melihat. Mareka tentu akan pingsan karena aku akan menunjukkan satu ungkapan ilmuku yang paling dahsyat”

Macan Wahan tertawa. Katanya, “Mulailah. Aku mengenalmu seperti kau juga mangenal aku. Yang belum kau kenal adalah bakal lawanmu itu”

“Persetan” geram orang berkumis dan berjambang lebat itu.

“Apakah kita akan bersenjata atau tidak?“ bertanya Ki Dukut tiba-tiba.

Orang berjambang lebat itu tertawa. Katanya, “Itulah ukuranmu? Kau masih bertanya tentang senjata? Jika kau mau memakai senjata, pakailah segala jenis senjata. Tanganku lebih berbahaya dari senjata apapun juga”

Ki Dukut mengerutkan keningnya. Orang itu terlalu yakin akan dirinya. Namun dengan demikian Ki Dukut memang harus berhati-hati menghadapinya. Mungkin orang itu memang memiliki ilmu iblis yang menggetarkan.

“Bilkiah” berkata Ki Dukut kemudian, “kita berjanji, bahwa kita masing-masing tidak akan mempergunakan senjata apapun juga kecuali tangan kita. Marilah. Aku sudah siap untuk mulai dengan permainan ini. Sekali lagi aku katakan, kita akan bertempur sampai kematian merenggut salah seorang di antara kita dari arena perang tanding. Tanpa dendam, tanpa persoalan samping yang akan dapat tumbuh. Yang berada diluar arena akan menjadi saksi”

Orang berjambang dan berkumis lebat itu tertawa berkepanjangan. Diantara suara tertawanya terdengar Orang itu berkata, “Kau tidak ubahnya seperti orang yang menggapai-menggapai menjelang tenggelam di dalam arus putaran. Tetapi baiklah katakan apa yang ingin kau katakan. Mungkin kau tidak akan mempunyai kesempatan lagi”

Ki Dukut menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak menjawab lagi.

Sejenak kemudian, keduanya telah bersiap sepenuhnya. Meskipun lawan Ki Dukut itu masih saja tertawa, namun ia sudah mulai bersungguh-sungguh mengamati sikap Ki Dukut.

Ki Dukut pun segera bersikap. Ia berdiri tegak menghadap lawannya. Kemudian satu kakinya melangkah setengah langkah ke depan. Baru kemudian ia merendah sambil memiringkan tubuhnya. Kedua tangannya pun terangkat dan bersilang di dadanya.

Lawannyapun telah bersiap pula. Sambil berteriak nyaring ia meloncat menyerang Ki Dukut Pakering.

Ki Dukut bergeser sedikit. Ia mengerti bahwa lawannya masih belum bersungguh-sungguh. Namun demikian ia tidak boleh lengah. Kekalahan dalam perang tanding itu berarti mati.

Karenanya serangannya tidak mengenai sasarannya, maka lawan Ki Dukut itu pun segera meloncat berbalik. Tetapi ternyata Ki Dukut bersikap sangat berhati-hati. Ia tidak segera menyerang, tetapi bersiap-siap untuk menerima serangan berikutnya.

Sebenarnyalah orang itu pun telah sekali lagi menyerang. Kakinya terjulur lurus menyamping, Ketika Ki Dukut menghindar setengah langkah, tiba-tiba saja lawannya berputar. Sekali lagi kakinya yang lain terjulur lurus mengarah lambung.

Hampir saja tumit orang itu menyentuhnya. Namun Ki Dukut masih sempat menarik tubuhnya selangkah surut. Bahkan kemudian dengan serta merta ia menghantam kaki lawannya yang terjulur.

Tetapi lawannya cepat menarik kakinya. Setengah langkah ia meloncat. Terdengar ia berteriak nyaring sambil merendah pada lututnya. Kedua kakinya yang renggang seakan-akan menggeletar. Sementara jari-jari kedua tangannya tiba-tiba saja telah mengembang, seperti jari-jari seekor harimau yang siap menerkam dan merobek tubuh mangsanya.

Ki Dukut mengerutkan keningnya, ia melihat satu tingkat perkembangan ilmu lawannya. Ia pun mulai melihat kegarangan ilmu orang berkumis dan berjambang lebat itu.

“Jari-jari tangannya itu tentu berbahaya” berkata Ki Dukut.

Sebenarnyalah bahwa orang itu telah berteriak sekali lagi. Dengan garangnya ia meloncat menerkam dengan jari-jari tangannya yang mengembang.

Ketika Ki Dukut mengelak, maka lawannya itu pun segera memburunya. Menerkamnya pula dengan loncatan panjang.

Beberapa kali Ki Dukut memang harus berloncatan menghindar. Ia masih ingin melihat, apakah yang dapat dilakukan oleh lawannya yang garang itu. Loncatan-loncatan dan teriakan-teriakan panjang dengan jari-jari tangan yang mengembang.

Dalam pada itu, orang-orang yang menyaksikan perang tanding itu mulai menjadi berdebar-debar. Namun orang yang bertubuh gemuk dan orang yang cacat di bawah telinga kirinya itupun mengumpat. Yang gemuk berteriak, “Tikus kecil. Nasibnya sangat malang. Ia hanya mampu berloncatan menghindar. He, jangan segera bunuh orang tua sombong itu. Biarlah ia mengetahui, bagaimana perasaan seseorang yang menjadi sangat ketakutan menghadapi maut”

Sementara kawannya berkata lantang, “Nasibkulah yang buruk. Kenapa aku tidak mendapat kesempatan dengan permainan yang mengasikkan ini. Tentu senang sekali dapat melubangi dadanya dengan tangan dan mengambil jantungnya yang masih basah”

Macan Wahan lah yang berdiri diam sambil mengerutkan keningnya. Iapun menjadi kecewa. Ia ingin melihat Ki Dukut bertempur dengan garang. Meskipun seandainya ia akan kalah dan mati dibantai lawannya, namun perlawanannya yang kuat akan menyelamatkan tanggapan kawan-kawannya terhadap dirinya. Karena dengan demikian, ia tidak dapat dianggap mengotori diri berhubungan dengan orang yang tidak berarti sama sekali itu.

Tetapi perhatian orang-orang yang mengitari arena itu tersentak ketika mereka melihat, tiba-tiba saja Ki Dukut lah yang menyerang. Tidak terlampau garang, tetapi kecepatannya bergerak benar-benar mengejutkan.

Dengan jantung yang berdebaran, lawannya berusaha mengelakkan serangan itu. Bahkan sambil berteriak nyaring, lawannya telah membalas menyerang dengan jari-jarinya yang mengembang itu.

Ki Dukut yang gagal mengenai lawannya berputar. Ia tidak mengelakkan serangan lawannya. Tetapi dengan kakinya ia justru menghantam siku tangan lawannya yang sedang terjulur.

Sekali lagi lawannya terkejut. Dan sekali lagi terdengar teriakan nyaring. Lawannya tidak sempat mengelak lagi. Tetapi ia berusaha untuk menarik serangannya dan menghentakkan sikunya melawan serangan lawannya.

Ketika terjadi sebuah benturan, maka keduanya menyeringai menahan sakit. Namun ternyata Ki Dukut lebih cepat menguasai diri. Satu putaran kaki telah menyambar lawannya yang sedang berusaha menahan sakit pada sikunya.

Orang yang berkumis dan berjambang lebat itu mengumpat sambil meloncat surut. Namun Ki Dukut cepat memburu dan mengayunkan tangannya.

Serangan Ki Dukut tidak dapat mengenai sasarannya karena lawannya masih sempat bergeser. Bahkan orang berjambang dan berkumis lebat itulah yang kemudian menyerang Ki Dukut dengan garangnya. Seolah-olah jari-jarinya yang mengembang ingin mencengkam isi dada Ki Dukut Pakering dan meremasnya sampai lumat.

Ki Dukut menyadari, jari-jari itu tentu akan sangat berbahaya baginya. Karena itu, maka ia pun berusaha untuk selalu menghindari. Bahkan kemudian iapun telah memutuskan untuk mempergunakan jari-jarinya. Namun cara Ki Dukut agak berbeda. Keempat jari-jari Ki Dukut merapat dengan ibu jari yang agak ditekuk ke dalam.

Dengan ujung jari-jarinya itulah maka Ki Dukut lah yang kemudian meloncat menyerang dengan kecepatan yang mengejutkan. Ujung jari-jarinya langsung menusuk, menghantam pundak lawannya.

Ternyata kecepatan yang tidak terduga-duga itu tidak dapat diimbangi oleh lawannya. Karena lawannya tidak sempat mengelak, maka ia berusaha menangkis serangan itu. Tetapi ia tidak dapat membebaskan diri seluruhnya dari ujung jari Ki Dukut Pakering. Karena itulah, maka ujung keempat jari yang merapat itu meskipun tidak mengenai sasarannya, namun telah menyentuh lengan orang berjambang dan berkumis lebat itu.

Akibatnya sangat mengejutkan. Lengan orang berjambang itu bagaikan terkelupas. Perasaan pedih telah menyengat ketika darah mulai meleleh dari luka itu.

“Gila” geram orang berjambang dan berkumis lebat itu, “kau telah menitikkan darah dari tubuhku. Itu akan berakibat gawat bagimu”

Tetapi Ki Dukut justru tertawa. Katanya, “Sejak perkelahian ini dimulai, aku sudah bersiap menghadapi keadaan yang paling gawat sekalipun. Marilah, kau sudah mulai terluka. Titik darah yang mengalir dari lukamu, berarti susutnya ilmu iblis yang kau miliki dengan cara yang sebaliknya. Setitik darah yang kau hisap dari korbanmu, telah menambah kekuatan ilmu iblismu. Dan sebaliknya, setitik darah yang keluar dari tubuhmu, akan berakibat berkurangnya kemampuan dan kekuatanmu”

“Tutup mulutmu” teriak lawannya.

Tetapi Ki Dukut masih tertawa. Katanya, “Agaknya memang demikian anggapan orang-orang dungu seperti kau. Tetapi ketahuilah, bahwa titik darah itu tentu akan melepaskan kekuatan dan ketahanan seseorang. Dengan atau tidak dengan ilmu iblis”

Orang berjambang dan berkumis lebat itu berteriak keras-keras. Satu loncatan panjang yang tiba-tiba telah melontarkannya menyerang Ki Dukut. Tetapi Ki Dukut sempat mengelak. Namun lawannya yang bagaikan gila itu memburunya dengan jari-jari tangannya yang mengembang.

Ki Dukut menjadi semakin berdebar-debar. Lawannya benar-benar telah menjadi wuru. Agaknya ia sudah menggapai ilmu puncaknya yang diwarnai dengan kekuatan hitam kelam.

Sebenarnyalah bahwa orang berjambang dan berkumis lebat itu menjadi semakin liar. Matanya menjadi merah membara, sementara mulutnya nampak membusa, Namun yang mendebarkan jantung Ki Dukut adalah bahwa seolah-olah dari hidung orang itu telah membayang semacam asap yang kekuning-kuningan.

“Itu adalah kekuatan iblisnya” berkata Ki Dukut di dalam hatinya.

Namun Ki Dukut pun mempunyai andalan ilmu puncaknya. Keempat jari-jarinya yang merapat itulah yang ke mudian bergetar. Seolah-olah tangannya itu mampu menentukan arah geraknya sendiri, sementara keempat jari-jarinya yang merapat menjadi sedikit lengkung pada ruas-ruasnya.

Ketiga orang yang memiliki kemampuan tertinggi dalam ilmu hitam yang menyaksikan pertempuran itu benar-benar menjadi berdebar-debar. Beberapa orang cantrik padepokan Macan Wahan pun sempat menyaksikan pertempuran itu. Mereka menjadi bingung, bagaimana mereka harus menilai kemampuan masing-masing.

Orang yang bertubuh gemuk itu mengerutkan keningnya. Wajahnya menjadi berkeringat. Ternyata bahwa orang yang bernama Ki Dukut itu memiliki ilmu yang cukup untuk melawan ilmu kawannya yang dianggapnya sebagai seorang diantara mereka yang memiliki ilmu terbaik, setingkat dengan Macan Wahan.

Kawannya, yang cacat dibawah telinga kirinya pun setiap kali menggeram. Ki Dukut benar-benar jauh melampaui dugaannya.

Sementara itu, pertempuran pun berlangsung semakin sengit. Masing2 telah mencapai puncak ilmu yang jarang ada bandingnya. Orang yang berkumis dan berjambang lebat itu telah mengerahkan segenap kekuatan cadangannya dialasi dengan ilmu iblisnya. Kekasaran dan kebuasan nya menjadi semakin nampak pada puncak kemarahannya.

Sementara itu Ki Dukut pun. telah memutuskan untuk bertempur dengan segenap kemampuannya. Lawannya benar-benar seorang yang memiliki ilmu iblis yang berbahaya. Ketika tubuh Ki Dukut berhasil disentuh jari-jari lawannya yang mengembang, betapa perasaan panas telah menyengat kulitnya. Ujung jari-jari lawannya itu bagaikan bara api yang panasnya tidak terkira. Bekas sentuhan jari-jari itu pun kemudian menjadi hangus seperti benar-benar tersentuh api.

”Inilah ilmu iblisnya itu” geram Ki Dukut di dalam hatinya.

Karena itulah, maka Ki Dukut benar-benar bertempur dengan segenap kemampuan ilmu dan nalarnya. Ia mempergunakan perhitungan yang cermat. Kekasaran lawannya telah diperhitungkannya sebaik baiknya, karena bagaimanapun juga, kemampuan tenaga seseorang akan sampai ke batasnya.

Tetapi daya tahan orang berjambang dan berkumis lebat itu memang luar biasa, sehingga seolah-olah tenaganya sama sekali tidak menjadi susut.

Semuanya itu telah diperhitungkan sebaik-baiknya oleh Ki Dukut Pakering. Karena itu, maka ia pun bertempur dengan mantap dan tenang. Kekasaran dan kekerasan Lawannya sama sekali tidak mengejutkannya, dan apalagi membuatnya bingung.

Kecepatan bergerak. Ki Dukut lah yang membuat lawannya kadang-kadang menjadi bingung. Ki Dukut Pakering yang pernah disegani di Kediri, karena ia adalah guru sepasang kakak beradik trah bangsawan tertinggi di Kediri, benar-benar seorang yang pilih tanding.

Dengan kecepatan geraknya ia dapat menghindari hampir setiap serangan lawannya. Namun satu dua kali, ujung jari-jari tangan lawannya itu pun sempat juga membakar kulitnya, sehingga di beberapa tempat di tubuh Ki Dukut nampak luka-luka bakar yang kehitam-hitaman.

”Setan ini harus segera dimusnahkan” geram Ki Dukut didalam hatinya.

Dengan demikian, maka geraknya pun semakin bertambah cepat. Meskipun jari-jarinya tidak dapat membakar kulit seperti lawannya, namun setiap sentuhan jari tangan Ki Dukut yang merapat itu, seolah-olah sentuhan ujung senjata tajam yang dapat merobek kulit.....

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...